Pujian Ulama Untuk Sibthu Ibn Jauzi

Sebuah Tanggapan Balik Atas Saudara Anshari Taslim dalam artikelnya yang berjudul: Meluruskan Kesesatan Abu Salafy 4 (Tidak bisa Membedakan antara Ibnu Al-Jauzi dengan cucunya)

Dalam bantahan saya atas tuduhan yang dilontarkan saudara saya Anshari Taslim atas artikel saya bahwa sebagian ahli hadis itu dungu…. Ia begitu keberatan atas apa yang saya katakan saat itu dengan mengutip keterangan dari kitab Daf’u Syubah at Tasybîh, yang saya katakana (secara keliru) bahwa kitab itu adalah karangan Sibthu Ibnu Jauzi.. maka dengan serta merta saudara Anshari Taslim menghujat saya dengan mengatakan bagaimana saya mengandalkan keterangan seorang Rafidhi (sambi mengutip keterangan adz Dzahabi)…

Sebenarnya dalam polemik itu kita harus mengakui sama-sama terjebak dalam kesalahan (entah apakah saudara Anshari mau mengakui atau tidak ya?). Sebab ketika saya katakan bahwa kitab itu karya Sibthu Ibn Jauzi semestinya saudara Anshar Taslim langsung menghujat saya dengan mengatakan, misalnya: “Bodoh  sekali kamu hai Abu Salafy tidak bisa mengenali pengarang sebuah kitab yang kamu jadikan rujukan! Pengarangnya bukan Sibthu Ibn Jauzi, tetapi Ibnu Jauzi!” Tapi sayangnya bantahan seperti itu tidak ia lakukan, namun justru ia langung menghujat Sibthu Ibnu Jauzi dengan menuduhnya sebagai Rafidhah! Mungkin saat itu ia juga belum tau kalau pengarangnya ternyata bukan  Sibthu Ibnu Jauzi, tetapi kakeknya: yaitu Abul Faraj Ibnu Jauzi.

Karenanya, saya, dalam bantahan saya membuktikan bahwa Sibthu Ibnu Jauzi bukan seorang Syi’ah apalagi Rafidhah seperti yang dituduhkan secara keji oleh adz Dzahabi dan lainnya, dengan menyebutkan pujian para ulama dan juga berbagai bukti lainnya. Tetapi ternyata pujian yang saya muat saat itu salah, ia adalah pujian untuk si Ibnu Jauzi (kakek) bukan cucu, Sibthu Ibn Jauzi yang bernama Yusuf ibn Quz Ghuli.

Setelahnya saudara Anshar Taslim menghajar saya habis-habisan atas kesalahan saya itu (dan sudah saya akui kesalahan itu, tanpa malu dalam mengakuinya, sebab bukan kemenangan berbedat yang menjadi tujuan saya) dengan meluapkan emosinya (dan itupun sudah biasa saya terima dari lawan diskusi saya)..

Tetapi terus terang, saya masih menanti bantahan saudara Anshari Taslim yang lebih mengena ke inti permasalahan yaitu pembuktikan bahwa Sibthu Ibn Jauzi memang benar seorang Rafidhah. Hal mana telah saya sampaikan berbagai bukti bahwa tuduhan itu hanya fitnahan belaka dan hanya keluar dari mereka yang membenci keluarga Nabi Saw.

Dan untuk menanggapi bantahan akhi Anshari Taslim terhadap saya, saya tulis artikel ini sambil menanti bantahannya atas bukti-bukti yang saya ajukan sebelumnya.

Abu Salafy berkata:

Banyak sekali pujian para ulama atas Sibthu Ibn Jauzi; Yusuf ibn Quz Ghuli. Hanya saja aya akan batasi dengan menyebutkan beberapa darinya, khususnya pujian dan sanjungan yang disampaikan adz Dzahabi dalam banyak kitabnya.

  • Pujian Quthbuddîn an Yûnîni (w. 726 H)

.

Yusuf ibn Quz Ghuli … pemberi nasihat yang sangat diekenal; Sibthu Abul Faraj Abdurrahman ibn Jauzi (rh) …

Dia tiada tara di zamannya dalam penyampaian nasihat, bagus penyampaiannya, hati menjadi lembut dengan memandangnya, mata meneteskan air mata kerena mendengar wejangannya. Ia menyendiri dengan seni ini. Ia diterima secara penuh oleh masyarakat. Ia mengungguli rekan-rekan se zamannya bahwa banyak dari kalangan pendahulu. Sampai-sampai ia bercicara dalam sebuah majlis dengan kata-kata yang singkat atau membacakan satu bait syair saja maka seluruh yang hadir di majlis tersebut menjadi khusyu’, dan menangis dengan tangisan yang luar biasa, lau beliau pun mencukupkan dengannya dan turun dari mimbar….

Beliau lembut perangainya, menawan tindakannya, bagus pergaulannya dengan semua orang, sangat mereka cintai dan mereka agungkan. Beliau memiliki keutamaan yang sempurna dan keiukut sertaan dalam berbagai disiplin ilmu. Andai ia tidak memiliki karya selain kitab sejarah yang beliau karang dan namakan dengan Mirâtuz Zamân pastilah cukup. Ia tulis dengan tulisannya sendiri sebanyak 37 jilid. Di dalamnya ia merangkum banyak keterangan indah sekali…

Beliau salah seorang ulama terkenal yang terpuji perangainya…

Beliau adalah seorang Imam, Alim, Utama. Beliau jarang bergaul dengan kebanyakan orang. Beliau rendah hati, lembut tutur katanya.. sederhana pakaiannya, rajin menelaah, sibuk mengarang. Menghormati dan berlaku adil terhadap para ulama. Anti terhadap para penyimpang dan kaum jahil…[1]

.

  • Pujian Adz Dzahabi (w.748 H)

.

Adz Dzahabi telah memujinya dalam banyak kitabnya,di antaranya dalam Tarîkh al Islam, pada peristiwa tahun 651-660. ia berkata,

“ Beliau adalah seorang Imam, Faqîh (ahli fikih), Wâidhan (penasihat) tunggal dalam keahlian memberikan wejangan. Sangat pandai dalam sejarah umum dan sejarah Nabi. Banyak keutamaannya, sangat dicintai manusia, manis tutur katanya dalam menasihati, lembut perangainya. Beliau diterima secara mutlak.

… “

adapun pujian lengkapnya atas Sibthu Ibn Jauzi dapat Anda baca dalam Siyar A’lam an Nubalâ’ juz: 23/296-297 dengan nomer keterangan 203:

203 – Ibnu Quz Ghuli

Syeikh Alim, yang menguasai banyak disiplin ilmu, al Wâidz (pemberi wejangan) yang luar biasa, seorang ahli sejarah yang mendalam dalam riwayat, penasihat negeri Syam; Syamsuddîn Abul Mudhaffar Yusuf ibn Quz Ghuli ibn Abdullah  at Turki al ‘Auni al Hibairi al Baghdadi al Hanafi, cucu Abul Faraj Ibnu Jauzi.

Beliau lahir tahun lima tarus delapan puluh sekian.

Setelah nmeyebutkan nama-nama guru beliau dan murid-murid yang menimba ilmu darinya, adz Dzahabi melanjutkan:

Telah sampai kepada beliau kepemimpinan dalam memnerikan wejangan dan bagusnya nasihat serta dalam mengenal sejarah. Beliau manis penyampaiannya, lembut perangainya, indah penampilannya, lengkap kehormatannya. Ia diterima masyarakat..

Beliau wafat di rumahnya di  desa Safah Qâsiyûn dan dikebumikan dalam upacara yang dihadiri oleh Sultan dan para jaksa. Beliau sangat cerdas, rendah hati, banyak hafalannya, dan tiada tandingannya. Beliau menulis kitab tafsir yang sangat besar sebanyak dua puluh sembilan jilid. Belia wafat pada bulan Dzul Hijjah tahun 654 H.

Inilah sekelumit catatan atas bantahan akhi Anshar Taslim. Semoga bermanfaat bagi kita semua. Wa Mâ Taufiqi Illâ Billah.

Penutup

Ada sebuah  keberanian yang patut saya hargai dari akhi Anshari Taslim dalam hujatannya atas saya itu. di mana kalau pada bantahan sebelumnya ia ngotot keberatan ketika saya katakan bahwa sebagian ahli hadis itu ada yang dungu. tapi kini ia telah berani mengakui bahwa bukan hanya ada di antara ahli hadis itu yang dungu (seperti yang dahulu saya  buktikan dan ia bantah habis-habisan).. kini ia malah mengatakan bahwa di antara ahli hadis itu ada yang memalsu hadis….

ia berkata:

Saya sendiri tidak pernah mengingkari bahwa ada sebagian ahli hadits yang bukan hanya dungu tapi juga memalsukan hadits,

Semoga kita semua dijauhkan dari kedegilan sikap dan fanatisme buta dan membutakan. Amin.


[1] Dzail Mirâtuz Zamân,1/39-43.

16 Tanggapan

  1. mantap…..! maju terus pantang mudur…!

  2. Wah Mas Abu sudah mulai mau mengalihkan persoalan. Saya tidak mau memaki-maki, kenapa anda minta saya memaki-maki diri anda memberikan contoh kalimat berwarna merah itu.
    Apakah setiap orang yg berusaha meluruskan kesalahan anda, maka langsung anda angap menghujat diri Anda, wah maaf Bung saya tidak tertarik untuk hujat menghujat.
    Satu hal lagi, saya tidak menghujat Sibth Ibnu Al jauzi, saya hanya menukil dari Adz Dzahabi. Jadi kalau mau menyalahkan, ya silahkan Adz Dzahabi sana. Yang bilang Sibth Ibnu Al Jauzi itu menjadi rafidhah dan berbohong dalam bukunya adalah Adz Dzahabi lantaran dia sudah melihat buku Tadzkiratul Khawash. Coba baca baik-baik pernyataan Adz Dzahabi dalam Al Mizan maupun dalam As-Siyar.

    Sekarang gini deh, kalau memang benar sebagian ahli hadits itu dungu, lalu siapa yg anda maksud. Sampai saat ini anda belum menjawab pertanyaan penting saya, apakah Imam Ahmad yg menyatakan Allah istiwa` di atas arsy itu juga dungu, Imam Malik, Sufyan, Ibnu Al Mubarak dan lain-lain. Apakah mereka orang-orang dungu?
    Kalau bukan, lalu apa korelasinya dgn makalah-makalah anda sebelumnya yg berbicara masalah sifat-sifat Allah, bukankah lantaran itu anda mengatakan sebagian ahli hadits itu dungu?

    __________________

    Abu Salafy:

    Akhi Anshari, inti dari polemik kita adalah berawal ketika saya mengutip sebuah pernyataan dan menegasan (yang saat itu saya nisbatkan kepasa Sibthu Ibn Jauzi, padahal itu salah, yang benar adalah Ibnu Jauzi) lalu Anda kecem beliau dengan mengutip kecaman adz Dzahabi bahwa Sibthu Ibn Jauzi itu serorang Rafidhah…. Anda mengkritik saya karena mengandalkan keterangan seorang Rafidhah… Nah setelah itu, saya terpaksa berpanjang-panjang menjelasakan dan membutkikan bahwa Sibthu Ibn Jauzi itu itu bukan serorang Rafidhah…. Jadi saya pikir agar diskusi kita terarah, tolong bantah bukti-bukti yang saya ajukan itu! Jangan mengelak bahwa Anda tidak mengecam Sibthu Ibn Jauzi (dan hanya mengutip), sebab jika Anda tidak setuju dengan kecaman adz Dzahabi, mengapa Anda mengutipnya tanpa koreksian?!
    Korelasi antara apa yang saya sebutkan bahwa di antara ahli hadis ada yang dungu ialah bahwa banyak di antara mereka yang hanya pandai memaknai hadis secara lahiriah saja! Atau menshahihkan hadis tanpa dasar!
    Kaum mujassimah adalah contoh nyata dari mereka itu!

  3. Penjelasan Akhina Abu Salafy ini sangat tertib dan mengena sasaran. Kami banyak belajar dari blog dahsyat ini. Syukron katsiro.

  4. ust abu salafy :
    antum, fair lah dlm mengutip nukilan dr ‘lawan’ diskusi antum.
    misal :
    Saya sendiri tidak pernah mengingkari bahwa ada sebagian ahli hadits yang bukan hanya dungu tapi juga memalsukan hadits,

    pdhl setelah itu ‘lawan’ diskusi antm menjelaskan dg jelas di kalimat selanjutnya.

    sepertinya ada ketidak sinkronan antum dlm menukil, agar opini publik (utamanya para ‘pengikut setia’ blog antum) dpt ber euphoria dgn argumen antum, walaupn argumen antum itu sangat tidak nyambung.

  5. Perkara yang Haq akan datang dan Perkara yang bathil akan Sirna,.. Salut utk Akhi Abu Salafy yang selalu istiqamah dalam perjuangan menegakkan Ahlu Sunnah, Akan lebih salut jika teman2 salafy segera kembali sadar dan mengakui atas kelemahan sebagian besar hujah2nya. >>>

  6. Naaa……
    paragraf terakhir (Quote berwarna merah) itu sudah lebih dari cukup.

    Akhi Anshari Taslim, anda tak perlu lagi membuktikan BAHWA TAK ADA SATUPUN AHLI HADITS YG DUNGU

  7. @ Pak Abu Salafy,
    kita tinggal menunggu pernyataan resmi Anshari taslim di blog anda ini, dengan sedikit kebesaran jiwa ( kalau punya) dan sedikit kerendahan hati (kalau ada). Saya siap mentraktir pengunjung blog ini di “kafe maya”…. siapa mauuu….????

  8. Mantabz…..saya tunggu tulisan kang abu selanjutnya…smg kang abu sll diberikesehatan olehNYA…amin.

  9. mas, mobk yao komentar saya di approve. iu khan tanggal 8 Februari tuh dah buat artikel lagi tanggal 15 Februari (^_^)

  10. AT ini sepertinya senang menggunakan argumen penyesatan berfikir dalam berdebat…

    dia kelihatan lebih suka membahas sesuatu yg bisa dia serang titik lemahnya… daripada kembali ke jalur inti permasalahan….

  11. Abu Rekse, anda itu seolah tidak mengerti persoalan. Kalau nukil aja Abu Salafy sudah tidak jujur dan suka asal, bagaimana kita bisa percaya dgn dia dalam hal penetapan akidah.

    Sedari awal saya bertanya kepada Abu Salafy apakah, Malik bin Anas, Ahmad bin Hanbal, Abdullah bin Al Mubarak dan lain-lain yg menetapkan bahwa Allah itu ada di langit adalah ahli hadits yg dungu?

    Itu yg sampai sekarang tak sanggup dijawab Abu Salafy. Mungkin anda ingin membantu silahkan saja.

  12. @ anshari
    kalau abu salafy pemuja ba’alwy degil ini antum jgn kaget….urusan mencla mencle gaya rafidahah sdh dikuasainya sampai jurus paling akhir…..
    hahahahahah…….kira2 gitu gambaran singkatnya..

  13. Tanggapan atas beragam hujatan kepada pengasuh forum :

    Luar Biasa apa yang tengah terjadi saat ini. Mereka menuding suatu kebinasaan terhadap saudaranya. Apakah ini yang dinamakan sikap seorang Muslim yang benar? Ataukah selama ini kumpulan dalil-dalil beserta penjelasannya hanya dijadikan sebagai tameng perang opini sesama? mari mengoreksi agar kesantunan menjadi prioritas.
    Ego diutamakan kebenaran diacuhkan, jika memang ada kebenaran yang anda sekalian bawa, bantahlah tiap argumentasi Abu Salafy dengan cara yang benar dan tepat..

  14. @orang bijak : ente perhatikan lagi deh komen2 di atas, siapa yg menuding dan siapa yang bijak ngasih komennya. Jelas banget si ABU ini ga bisa jwb pertanyaan pak Anshari

  15. bikin tulisan itu yang santun dikit, bahasa tukang becak jangan dimunculkan, sebab milis ini dibaca banyak orang, belajarlah untuk untuk menghormati orang lain dengan bahasa sopan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s