Penipuan Gelar Sektarian (1): Jahmiyah Adalah Khurafat!

Penipuan Gelar Sektarian (1)

Jahmiyah Adalah Khurafat!

Sumber: http://almaliky.org/news.php?action=view&id=321

Oleh: Syaikh Hasan bin Farhan Al Maliky

.

Hasan FarhanKeterherananku tak berakhir ketika aku menemukan para sarjana sekarang ini tidak pernah mau meneliti dalam memahami gelar-gelar sektarian, padahal tidak sulit untuk melakukan penelitian itu, seperti gelar: Sunni, Syi’ah, Jahmi, Rafidhi, Salafi, Murji’i, Qadari dsb.

Sebagai contoh gamblang kita ambil saja gelar Jahmiyah, sekarang kamu tidak memasuki sebuah perpustakaan manapun kecuali kamu menemukan di dalamnya puluhan buku yang mengecam (sekte) Jahmiyah, sementara tidak ada seorang pun di muka bumi ini sejak (Nabi) Adam hingga hari ini yang berkata: “saya seorang Jahmi” (yang beraliran Jahmiyah)! Baca lebih lanjut

Iklan

Jangan Jadikan Kaum Buta Agama Sebagai Rujukan Akidahmu!

Jangan Jadikan Kaum Buta Agama Sebagai Rujukan Akidahmu!

bin baz_1Dusta dan kebodohan adalah ciri khas pada mufti dan masyâikh Salafy Wahhâbi… Klaim-klaim palsu adalah senjata unggulan para pengawal mazhab kejahilan dan haus darah yang satu ini. Dan yang tidak kalah khasnya adalah “suci dan bersihnya” muka mereka dari rasa malu, sehingga tidak sedikit pun masuk dalam pertimbangan mereka bahwa dusta dan kepalsuan klaim mereka kelak akan terbongkar dan mereka akan dipermalukan. Rasa malu, al hayâ’u minal îmân/rasa malu itu sebagian dari iman. Tapi sayangnya, kata yang satu ini telah terhapus dari kamus besar mereka…. Sehingga sulit bagi mereka mengerti apa itu malu?

Mufti Besar Kerajaan Wahhâbi Arab Saudi; Abdul Aziz bin al Bâz adalah salah satu dari masyâikh Salafy Wahhâbi binbaz2yang laling berani memamerkan kejahilan dan tidak pernah melek menatap cahaya kebenaran… Ia hanya hidup dalam gelapnya kebutaan akidah dan pemikiran!

Dalam salah satu fatwanya yang sangat memalukan karena ia memamerkan puncak kejahilan dan kebutaan pemikirannya, di samping juga membuktikan kedegilan dan pengingkarannya kepada fakta-fakta akidah tak terbantahkan, Bin Bâz berfatwa demikian tentang Ta’wil: Baca lebih lanjut

Kajian Ilmu Hadis (Bag. 5): Pengaruh Ahlul Kitab Terhadap Ahli Hadis!

Pengaruh Ahlul Kitab Terhadap Ahli Hadis!

Membaca artikel Syeikh Hasan bin Farhan Al Maliky yang tersebut dibawah ini, mesti mempunyai pengetahuan ilmu dasar tentang sifat-sifat Allah, mesti mempunyai pengetahuan tentang akidah dan perbedaan pandangan para ahli didalamnya. Namun misi yang ingin disampaikan oleh Syeikh Hasan Farhan pada artikelnya ini adalah agar ummat Islam kembali mengkaji dan mendalami Al-Qur’an secara serius dan mereferensi seluruh ilmu-ilmu Islam seperti ilmu hadis dsb kembali kepada Al-Qur’an.   Al-Qur’an adalah tolok ukur semua aturan kebenaran didalam Islam. Segala aturan dan hukum dalam Islam tidak boleh bertentangan dengan Al-Qur’an. (Abu Salafy)

SUMBER: http://almaliky.org/news.php?action=view&id=826

oleh Syaikh Hasan bin Farhan Al Maliky

Hasan FarhanSeperti berulang kami katakan bahwa Ahli Hadis telah mewarisi pikiran dan warisan intelektual produk Bani Umayyah yang mana Ahlul Kitab (khususnya Yahudi) sangat besar andilnya dalam pembentukan pola pikiran itu…

Dan pikiran Ahlul Kitab akan Anda temukan terfokus pada terma-terma berikut ini:

1) Menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya dan menggambarkan-Nya dengan gambaran yang jelek.

2) Konsep Jabr (fatalisme)…

3) Irja’ (Keyakinan bahwa keimanan cukup dengan mengucapkan dua kalimat syahadat, setelahnya manusia tidak akan disiksa karena dosa dan kejahatannya_red)

4) Perincian tentang kisah-kisah para nabi dan hari kiamat.

Pengaruh ini telah merasuk sejak dini …sejak masa para sahabat. Ini yang tidak terpantau jeli oleh Ahli Hadis karena mereka telah merancang kaidah yang menggelembungkan posisi sahabat dan riwayat-riwayat yang mereka sampaikan. Padahal sebagian sahabat muktsirin (yang banyak meriwayatkan hadis) telah banyak terpengaruh dengannya. Dan mereka terpengaruh dengan Ahlul Kitab akibat mereka meremehkan peringatan Tuhan akan bahaya mereka. Dan meremehkan peringatan Tuhan pasti berakibat terjatuh dalam bahaya. Allah telah memperingatkan akan bahaya Ahlul Kitab sebagaimana dalam ayat di bawah ini:  Baca lebih lanjut

Kajian Ibnu Taimiyyah (Bag. 1): Pemikiran Ibnu Taimiyah Dan Salafy Wahhâbi

 Kajian Ibnu Taimiyyah (Bag. 1): Pemikiran Ibnu Taimiyah Dan Salafy Wahhâbi

SUMBER: http://almaliky.org/news.php?action=view&id=892

Hasan FarhanPada pembahasan yang lalu telah kami sebutkan bahwa harus dikenalkan kepada si dungu siapa Salaf-nya agar ia mengenalinya. Dan apabila ia sudah mengenalnya maka di hadapkannya ada dua opsi; mengikuti mereka atau meninggalkan “menyembah” mereka. Dan dalam kedua keadaan itu kamu menang dan dia yang kalah… Karena apabila ia “menyembah” mereka pada apa-apa yang mereka tulis tentang akidah-akidah maka ia akan dipermalukan di hadapan dirinya sendiri dan di hadapan masyarakat, dan apabila ia meninggalkan mereka maka kemenanganmu berlipat ganda.

Problem orang yang tidak mengenali kaum Dungu (ekstrimis salafy wahhabi _red) ia mengira bahwa mereka bersikap ekstrim itu atas dasar pengetahuan tentang apa yang ada dalam kitab-kitab Salaf mereka…

Tida! Tidak!

Ini adalah salah duga. Mereka sebenarnya sedang meyakini apa-apa yang dipilihkan para penipu dan ahli makar untuk mereka belaka.

Andai kaum dungu itu beriman dengan apa yang ditulis dan yang dibakukan oleh Salaf mereka sebagai akidah pasti mereka sudah MENGKAFIRKAN ABU HANIFAH, dan meyakini bahwa ALLAH ITU BERPARAS SEPERTI SEORANG REMAJA… niscaya mereka MENDHA’IFKAN DAN MENGGOLONGKAN (Imam) BUKHARI SEBAGAI PENYANDANG FAHAM BID’AH… dan pasti mereka akan sibuk saling mengganggu satu sama lain… Kerena itu, tugas pentingmu adalah membaca literatur-literatur akidah klasik mereka (Salaf kebanggaan dan rujukan utama kaum dungu Salafy _red).  Baca lebih lanjut

Keterangan Untuk Memahamkan Si “Dungu Salafy”! (3)

Keterangan Untuk Memahamkan Si “Dungu Salafy”! (3)

SUMBER: http://almaliky.org/news.php?action=view&id=890

oleh Syaikh Hasan bin Farhan Al Maliky

Penjelasan Gamblang Untuk Mengobati Kedunguan Kaum Dungu!

Hasan FarhanTidak akan mengenali pengobatan kedunguan kaum DUNGU sebelum kita mengenali dari mana kedunguan itu datang… Sumber kedunguan mereka. Kemudian sumber dari sumber itu sendiri kemudian setan!

Pengobatan keimanan harus dilakukan dengan mengingatkan adanya musuh seluruh anak cucu Adam… Yaitu setan. “Sesungguhnya setan itu adalah musuh kalian, maka jadikan ia musuh.” … Tetapi mari kita tangani secara bertahap secara berurutan…

Di Mana Mereka Belajar?

Kaum DUNGU yang negeri ini dipenuhi dengan mereka… Kaum DUNGU -di sepanjang negeri-… Mereka tidak datang begitu saja… Mereka adalah hasil pengajaran. Ini yang pertama!  Baca lebih lanjut

Konsep “Faham Salaf Shaleh” Adalah Bid’ah!

Konsep “Faham Salaf Shaleh” Adalah Bid’ah!

SUMBER: http://almaliky.org/news.php?action=view&id=744

.

oleh Syaikh Hasan bin Farhan Al Maliky

hasan_Farhan(Syaikh Hasan bin Farhan  Al Maliky adalah ulama moderat Arab Saudi. Beliau seorang Ahli hadis, hukum Islam dan peneliti sejarah, serta seorang  peduli HAM, beliau anti sektarian, ekstrimisme dan kekerasan, lebih-lebih atas nama agama, Anda bisa berinteraksi dengan beliau lewat halaman facebook dan Twitter-nya. juga bisa mendowload buku-bukunya lewat situs resminya http://almaliky.org/index.php atau mendengar ceramah-ceramahnya lewat halaman youtube-nya)

.

Allah dan Rasul Nya tidak pernah mensyaratkan atas Anda untuk memahami agama-Nya sesuai pemahaman orang lain. Ini adalah bid’ah produk Ekstrimis Salafy atau boleh jadi ini adalah kejahilan mereka.

Saya akan menyajikan beberapa contoh tentangnya.

Kritik pertama atas konsep ini (harus sesuai pemahaman Salaf) adalah bahwa keshalehan itu menurut mereka ditetapkan berdasarkan Mazhab bukan berdasarkan kacamata Qur’ani. Syarat ini sendiri adalah BID’AH. ALLAH DAN RASULNYA TIDAK PERNAH MEMERINTAHKANNYA.

Misalnya:

Di kalangan Salaf Shaleh ada yang menolak sebagian teks suci Al Qur’an, ia tidak menganggap dua surah Mu’awwidzatain (surah al Falaq dan surah an Nas) sebagai bagian dari Al Qur’an. Ini adalah pemahaman mereka. Sebagian lainnya menolak ayat BASMALAH sebagai bagian dari al Qur’an, demikian mereka memahaminya berdasarkan hadis-hadis yang diriwayatkan Qatadah.

Kritik kedua: Bahwa ayat-ayat yang diperselisihkan tafsirnya oleh Salaf jauh lebih banyak. Mereka tidak memiliki pemahaman yang satu, lalu bagaimana mereka menuntut kita kembali kepada pemahaman mereka?!

Bacalah tafsir ath Thabari dan selainnya, kamu pasti akan menyaksikannya.

Contoh:

1. Tafsiran mereka bahwa “Orang-orang yang dimurkai Allah” ( المغضوب عليهم ) adalah Yahudi dan Nasrani!

Mengapa mereka tidak mengatakan bahwa yang dimaksud dengannya adalah: Setiap orang yang dikabarkan Allah bahwa Ia murka atasnya maka ia termasuk yang maghdhub ‘alaihim?!

Tidak seorng Salafy pun mengatakannya.. Baca lebih lanjut

Latar Belakang Ideologis ISIS, Al Qaeda dan Sejenisnya (Bag. 2)

Latar Belakang Ideologis ISIS, Al Qaeda dan Sejenisnya (Bag. 2)

SUMBER: http://almaliky.org/news.php?action=view&id=780

.

oleh Syaikh Hasan bin Farhan Al Maliky

hasan_Farhan(Syaikh Hasan bin Farhan  Al Maliki adalah ulama moderat Arab Saudi. Beliau seorang Pakar dan Ahli hadis, peneliti sejarah, dan  peduli HAM, beliau anti sektarian, ekstrimisme dan kekerasan, lebih-lebih atas nama agama, Anda bisa berinteraksi dengan beliau lewat halaman facebook dan Twitter-nya. juga bisamendowload buku-bukunya lewat situs resminya http://almaliky.org/index.php atau mendengar ceramah-ceramahnya lewat halaman youtube-nya)

.

Doktrin Ideologis ISIS, Al Qaedah dan afiliasinya yang Wahhabi Salafy

Al Qaeda, ISIS  dan sejenisnya = Neo Bani Umayah

Pertama: Meremehkan pribadi Nabi Saw dan mengutamakan Bani Umayyah atas beliau saw.  seperti Mu’awiyah, Yazid dan Abdul Malik bin Marwan.

Semua orang fasik itu dalam pandangan mereka lebih mulia dan lebih utama dari Nabi Muhammad Saw. Dan Ini bukan rahasia lagi. Data tentangnya tidak hanya diriwayatkan oleh al Baladzuri (sejarawan Sunni) dan al Isbahani (yang berbau Syiah). Tetapi ia telah diriwayatkan oleh para ahli hadis dari kalangan kelompok Hanbali dan Salafi sendiri!

Demi menyingkat kami akan sajikan bukti tentangnya:

Bukti:

Sunan Abu Daud,13/365 hadis no.4644:

روى من طريقين عن جَرِيرٌ عَنِ الْمُغِيرَةِ عَنِ الرَّبِيعِ بْنِ خَالِدٍ الضَّبِّىِّ قَالَ: سَمِعْتُ الْحَجَّاجَ يَخْطُبُ فَقَالَ فِى خُطْبَتِهِ رَسُولُ أَحَدِكُمْ فِى حَاجَتِهِ أَكْرَمُ عَلَيْهِ أَمْ خَلِيفَتُهُ فِى أَهْلِهِ؟؟

Beliau meriwayatkan dari dua jalur dari Jarir dari Mughirah bin Rabi’ bin Khalid adh Dhabbi, ia berkata: “Aku mendengar Hajjaj berpidato lalu ia berkata dalam pidatonya: ‘Rasul/pesuruh seorang dari kalian untuk sebuah keperluan lebih mulia atau Khalifahnya/orang yang dipercaya menggantikan poisisnya??

.

Tahukan kalian apa yang dikatakan al Hajjaj?

Ia tidak merahasiakan keyakinan ini… Ia berpidato di atas mimbar..

Kesimpulannya:
Yazid bin Mu’awiyah, Mu’awiyah dan Abdul Malik dan para khalifah Bani Umayyah itu lebih mulia di sisi Allah atas Nabi Muhammad Saw!!

Ini tidak hanya dari al Hajjaj seorang!

Apakah kalian lupa bait-bait syair Yazid: Bani Hasyim bermain-main dengan kerajaan… ?

Apakah kalian lupa kata-kata Mu’awiyah (ketika mendengar nama Muhammad dikumandangkan dalam pasal adzan):

(إلا دفناً دفناً لابن أبي كبشة)

“Aku tidak akan biarkan nama anak Abu Kabsyah itu disebut-sebut. Ia harus dipendam! Harus dipendam”!! (jadi Nabi Muhammad saw di ejek dengan sebutan anak Abu Kabsyah/Kambing oleh Muawiyah wal iyadh billah _red)

Apakah kalian lupa bagaimana Abu Sufyan menendang-nendang kuburan Hamzah (sambil mengejek dan berkata bahwa kekuasaan yang dahulu kita perebutkan itu sekarang sudah kami -Bani Umayyah- rebut dan kami kuasai)?!
Dan lain sebagianya?  Baca lebih lanjut

Ibnu Taimiyyah Dan Doktrin Ideologi Bengis Ekstrimis Salafi Wahabi (Bag: 1)

Persembahan Buat Salafi Wahhabi Taimi Takfiri

.

SUMBER: http://almaliky.org/news.php?action=view&id=638

.

Oleh Syeikh Hasan bin Farhan al Maliky

Pengantar

hasan_FarhanArtikel ini akan menyoroti dasar-dasar ideologis sikap bengis dan haus darah yang ditampakkan kaum Salafi Wahabi di sepanjang fase perjalanan keberadaan mereka, khususnya ketika mereka Berjaya dan berkesempatan menjalankan secara harfiyah ajaran bengis yang didoktrinkan oleh para arsitek ajaran haus darah ini.

Tulisan ini akan menghadirkan paparan seorang Salafi Moderat yang paling tahu apa dan bagaimana dakwah dan kaum Salafi, karena selain ia sendiri seorang Salafi yang telah menyelami doktrin para Masyâikh Salafi Wahabi di negeri kemunculan sekte sempalan ini… ia juga hidup di tengah-tengah dan bersama mereka… menyaksikan langsung tingkah para Salafi dan mengetahui langsung isi pikiran dan cita-cita mulia mereka dalam mengkafirkan dan kemudian menghalalkan darah-darah kaum Muslimin selain mereka!

Demi singkatnya waktu saya akan sajikan tulisan Syeikh Hasan bin Farhan al Maliki –seorang Pemikir Salafi Moderat yang banyak mengkritisi doktrin dan sikap ghuluw/Ekstrim para Salafi Wahabi.

Syeikh Hasan bin Farhan  Al Maliki Berkata:

Ibnu Taimiyyah Memfatwakan Kaum Asy’ari Harus Dibunuh!

Ibnu Taimiyyah menukil pernyataan sikap Ibnu Khuzaimah dan sekaligus menjadikan dasar pandangannya:  Baca lebih lanjut

Membongkar Kepalsuan Syubhat Ustadz Firanda Dalam Buku “Ketinggian Allah Di Atas Makhluk-Nya” (9)

Membongkar Kepalsuan Syubhat Salafi Wahhâbi Tentang Ketinggian Fisikal Allah SWT Di Atas Makhluk-Nya

Menyoroti Pendalilan Kesebelas-Keempat belas Ustadz Firanda

Pendahuluan

Setiap kali Ahlul Batil berbicara mencecer dalil yang mereka anggap mendukung kesesatan akidah Tajsîm dan Tasybîh mereka maka kesesatan dan kajahilan mereka kian terlihat nyata dan kejahilan serta kedunguan mereka menjadi bahan tertawaan kaum uqalâ’/yang berkala sehat! Itulah yang kita saksikan dari para sarjana Salafi Wahhâbi, utamanya Firanda, Ustadz kebanggaan kaum awam Salafi Indonesia. Semakin mereka mencecer apa yang mereka banggakan sebagai dalil kesesatan akidah mereka, maka kejahilan dan kedunguan mereka semakin tanpak nyata!

Pada dalil-dalil lanjutannya, Ustadz Firanda makin mengukuhkan bukti keawaman pemahaman agamanya lebih dari yang telah ia pamerkan melalui syubhat-syubhat sebelumnya.

Untuk menyingkat waktu, saya ajak sobat abusalafy yang cerdas lagi kritis untuk menyimak pendalilan-pendalilan Ustadz Firanda di bawah ini.

Ustadz Firanda berkata:

“Kesebelas: Nabi saw. mengisyaratkan ke atas saat meminta kesaksian kepada Allah SWT. … (kemudian ia menyebutkan penggalan sebuah hadis riwayat Muslim).” (Lihat: Ketinggian Allah Di Atas makhluk-Nya:23) Baca lebih lanjut

Membongkar Kepalsuan Syubhat Ustadz Firanda Dalam Buku “Ketinggian Allah Di Atas Makhluk-Nya” (8)

Membongkar Kepalsuan Syubhat Salafi Wahhâbi Tentang Ketinggian Fisikal Allah SWT Di Atas Makhluk-Nya

Menyoroti Pendalilan Kesembilan dan Kesepuluh Ustadz Firanda: Hadis Jâriyah Dan Masalah Istiwâ’ Allah SWT,

Setelah kurang lebih sebulan tidak ada artikel baru karena kesibukan mudik dan lebaran, saya ajak kembali sobat cerdas abusalafy untuk melanjutkan tanggapan saya atas bantahan Ustadz Firanda terhadap saya dalam bukunya KETINGGIAN ALLAH SWT DI ATAS MAKHLUK-NYA.

Seperti bantahannya yang telah saya sanggah dan bantah kembali dan saya buktikan kenaifan dan kelemahan pendalilannya… dalil dema dalil atau lebih tepatnya syubhat demi syubhat satu persatu, pendalilannya berikut ini juga tidak kalah lemah dan naifnya. Sebagaimana telah berulang kali saya singgung bahwa Ustadz Firanda terlihat menghindar dari membantah inti tulisan saya Ternyata Tuhan Tidak Di Langit, seri 1-8, dan hanya mencecer pembicaraan yang sebagian besar darinya tidak sedikit pun mengkritisi argumentasi dan hujjah-hujjah ulama Islam yang saya paparkan, khususnya tentang Hadis Jâriyah yang menjadi poin inti dalam artikel-artikel saya tersebut… karenanya Ustadz Firanda masih saja mengangkat Hadis Jâriyah sebagai dalil andalannya. Kenyataan ini membuat kita berkesimpulan, jangan-jangan Ustadz Firanda tidak pernah membaca kritikan yang saya jelaskan atas hadis tersebut! Atau jangan-jangan ia sengaja melompatinya… mendiamkannya dengan tanpa kritik sebab ia sedang BANGKRUT tidak memiliki sesuatu untuk membantahnya… sehingga ia hanya menantikan keluguan dan keawaman kaum awam Salafi untuk mengacungkan jempol penghormatan atas kehebatannya dalam berdalil… atau jangan-jangan –seperti analisa sebagian pengamat- bahwa sebenarnya dengan membantah abusalafy, Ustadz Firanda hanya mencari sensasi dan ketenaran semata. Biar dianggap hebat karena telah membantah abusalafy walaupun bantahannya memalukan! Baca lebih lanjut

Membongkar Kepalsuan Syubhat Ustadz Firanda Dalam Buku: Ketinggian Allah Di Atas Makhluk-Nya (7)

Membongkar Kepalsuan Syubhat Salafi Wahhâbi Tentang Ketinggian Fisikal Allah SWT Di Atas Makhluk-Nya

Menyoroti Pendalilan Kedelapan Ustadz Firanda

Setelah istirahat beberapa hari, saya ajak sobat abusalafy yang cerdas untuk melanjutkan kembali menyoroti pendalilan Ustadz Firanda atas akidah tajsîm tasybîh menyimpangnya bahwa Allah berada di atas langit. Seperti tujuh pendalilan sebelumnya, pendalilan berikut ini juga tidak kalah mengggelikannya. Ia mencerminkan keawaman dan pikiran penuh virus kaum Mujassimah Musyabbihah yang ditularkan kepada para mahasiswa oleh para Masyâikh Wahhâbi di Arab Saudi sana. Kendati ia menulis bukunya untuk membantah apa yang ia sebut sebagai: Akidah Abu Salafy, namun sayang, ia tidak menanggapi berbagai dalil yang saya ajukan, tetapi malah mengulang apa yang telah saya bantah! Ia hanya menanggapi edisi ke: 8 tulisan saya, sementara tujuh edisi sebelumnya dan beberapa artikel lainnya ia lompati. Tapi tak mengapalah. Yang penting kita akan melihat sejauh mana pendalilan Firanda, Ustadz kebanggaan para awam Salafi Wahhabi di tanah air itu dapat dipertahankan. Baca lebih lanjut

Membongkar Kepalsuan Syubhat Ustadz Firanda Dalam Buku “Ketinggian Allah Di Atas Makhluk-Nya” (6)

Membongkar Kepalsuan Syubhat Salafi Wahhâbi Tentang Ketinggian Fisikal Allah SWT Di Atas Makhluk-Nya

Menyoroti Pendalilan Keenam Ustadz Firanda

Dai antara hal lucu yang dibanggakan Ustadz Firanda dalam usaha ngototnya untuk menanamkan kepada para pengagumnya (yang tentunya rata-rata awam) bahwa Allah SWT di atas langit sana, adalah apa yang ia sebutkan sebagai dalil keenam sebagai di bawah ini.

Ustad Firanda berkata: Keenam: Penjelasan bahwa Al-Qur’an ‘diturunkan’ dari Allah SWT. Ini jelas menunjukkan bahwa Allah SWT berada di atas, sehingga Ia menyebutkan bahwa Al-Qur’an diturunkan dari-Nya. Tidaklah diucapkan kata ‘diturunkan’ kecuali berasal dari yang di atas.” Baca lebih lanjut

Membongkar Kepalsuan Syubhat Ustadz Firanda Dalam Buku “Ketinggian Allah Di Atas Makhluk-Nya” (5)

Membongkar Kepalsuan Syubhat Salafi Wahhâbi Tentang Ketinggian Fisikal Allah SWT Di Atas Makhluk-Nya

Menyoroti Pendalilan Keempat Ustadz Firanda

Untuk mendukung akidah menyimpangnya bahwa Allah SWT berada di posisi atas, Ustadz Firanda juga berdalil dengan beberapa ayat yang menyebutkan bahwa sebagian makhluk diangkat menuju Allah SWT

Ia berkata:

Keempat: Penjelasan tentang diangkatnya sebagian makhluk menuju Allah SWT.

Sebagaimana dijelaskan dalam Al-Qur’an:

بَلْ رَفَعَهُ اللَّهُ إِلَيْهِ

Bahkan Allah mengangkat-nya kepada- Nya. (QS. An Nisaa’:158)

‏ إِنِّي مُتَوَفِّيكَ وَ رافِعُكَ إِلَيَّ

Sesungguhnya Aku akan mewafatkanmu dan mengangkatmu kepada-Ku. (QS. Ali Imran:55)

Abu Salafy Berkata:

Tidak ada penjelasan apapun yang ia bumbuhkan di sini. Ia sama sekali tidak menjelaskan apa yang dimaksud dengan kata: mengangkat kepada-Nya atau kepada-Ku dalam dua ayat di atas. Baca lebih lanjut

Membongkar Kepalsuan Syubhat Ustadz Firanda Dalam Buku “Ketinggian Allah Di Atas Makhluk-Nya” (4)

Membongkar Kepalsuan Syubhat Salafi Wahhâbi Tentang Ketinggian Fisikal Allah SWT Di Atas Makhluk-Nya

Menyoroti Pendalilan Ketiga Ustadz Firanda

Ustadz Firanda berkata, “Penjelasan adanya sesuatu yang naik (malaikat dan amal sholih) menuju Allah SWT. lafadz ‘naik’ yang disebutkan dalam Al-Qur’an dan Hadits bias berupa Al-‘Uruuj atau as-Shu’uud.

Seperti dalam firman Allah SWT:

مِنَ اللَّهِ ذِي الْمَعارِجِ  *  تَعْرُجُ الْمَلائِكَةُ وَ الرُّوحُ إِلَيْهِ

Dari Allah yang memiliki al-Ma’aarij. Malaikat dan ar-Ruuh naik menuju kepada-Nya. (QS. Al-Ma’aarij;3-4)

Mujahid rahimahullah (murid sahabat Nabi Ibnu Abbas) menafsirkan (yang dimaksud) dzil Ma’aarij adalah para Malaikat naik menuju Allah (Lihat dalam Shahih Bukhari) Baca lebih lanjut

Membongkar Kepalsuan Syubhat Ustadz Firanda Dalam Buku “Ketinggian Allah Di Atas Makhluk-Nya” (3)

Membongkar Kepalsuan Syubhat Salafi Wahhâbi Tentang Ketinggian Fisikal Allah SWT Di Atas Makhluk-Nya

Dua ayat yang dibanggakan Ustadz Firanda sebagai dalil bahwa Allah berada di atas … dan bahwa posisi Allah di atas langit ia dukung dengan sebuah hadis yang juga sangat ia banggakan. Tetapi naasnya hadis itu adalah lemah bahkan tambahan redaksi yang dengannya ia membangun akidah menyimpangnya adalah batil, ziyâdah munkarah! Yang demikian tidak mengherankan karena memang demikian kualitas hadis-hadis kebanggan kaum Mujasimah yang akidah sesat mereka telah merasuki pikiran Ustadz Firanda sehingga ia tidak melihat Islam kecuali yang disajikan kaum Mujassimah dan para masyâikh Wahhâbi agen-agen kaum Mujassimah!

Sungguh mengenaskan nasib akidah Ustadz Firanda! Baca lebih lanjut