Imam Ali Antara Sunni Dan Syi’ah

Imam Ali Antara Sunni Dan Syi’ah

Oleh: Syaikh Hasan bin Farhan Al Maliky

Sumber:  http://almaliky.org/news.php?action=view&id=359

hasan_Farhan

Imam Ali adalah sebuah makna dan bukan sekedar kepribadian historis yang menonjol.

Ia merangkum seluruh makna yang indah….

Ia adalah jalan di antara jalan-jalan mengenal Alah.

Di sini, dalam kesempatan ini saya akan menyebutkan kebaikan-kebaikan Ahlusunnah dan kebaikan-kebaikan Syi’ah tentang tema Imam Ali dan sekaligus mengkritisi Syi’ah dan juga Ahlusunnah tentangnya. Dan dalam hemat saya kedua kelompok Muslim ini telah berbuat baik dari satu sisi dan telah berbuat buruk dari sisi lain.

Pertama: Pertama yang wajib saya katakan adalah bahwa Imam Ali adalah seorang hamba Allah. Status kehambaan kepada Allah adalah puncak capaian termulia yang dapat diraih seorang hamba. Tiada baginya melainkan apa yang diberikan dan dianugerahkan Allah kepadanya.

Kedua: Sesungguhnya Imam Ali adalah sosok pribadi yang tidak bisa disalah-gunakan [dimanfaatkan untuk kepentingan pihak manapun], tidak oleh Ahlusunnah tidak pula oleh Syi’ah, bahkan tidak pula oleh kaum Muslimin. Sosok beliau hanya akan bisa digunakan untuk norma-norma, hakikat-hakikat dan hak-hak azazi kemanusiaan.

Ketiga: Sesungguhnya Ahlusunnah dengan pengertiannya yang luas telah memiliki uhasa nyata yang patut diucapkan terima kasih dalam menetapkan fadhâil, keutamaan Sang Imam ini. Mereka telah menetapkan keutamaan-keutamaan terbesar beliau secara mutawâtir. Dan ini adalah hujjah atas kaum Ghulât [Ekstrimis Salafi_red].

Keempat: Imam Ali –dalam kebanyakan kasus- telah menjaga kekokohan akidah dari ilhâd. Siapa yang mengenalnya dengan dasar pengetahuan pasti konsep kenabian tidak akan terguncang dalam pikirannya. Adapun yang tidak mengenalnya boleh jadi akan meragukan kenabian atau menjadi ateis/mulhid. Jadi beliau adalah sebuah makna dan bukan sekedar pribadi.

Di Antara Kebaikan Ahlusunnah Dan Syi’ah

  • Di antara kebaikan Ahlusunnah adalah bahwa kamu tidak akan yakin terhadap fadhâil, keutamaan-keutamaan Imam Ali kecuali dari jalur mereka.
  • Di antara kebaikan Ahlusunnah adalah bahwa mereka telah menancapkan panji keagungan Imam Ali agar tetap berkibar kendati berbagai kesulitan dan musibah, ujian, dan penekanan demi penekanan menghadang mereka. Tentu akan terjadi perbedaan sikap seputar Imam Ali, ada yang berlebihan terhadapnya dan ada pula yang teledor terhadapnya. Kaum Syi’ah –pada banyak kaum awamnya- membela Imam Ali hanya pada dimensi politisnya saja, mereka melupakan dimensi-dimensi lain seperti dimensi keimanan, hak azazi manusia, pengetahuan dan sosial yang terjelma pada diri Imam Ali. Dimensi-dimensi ini kurang mendapat perhatian yang layak dan kajian yang seksama. Dimensi politis yang disayangkan bukan sekedar hilangnya kekuasaan/ pemerintahan semata. Tidak!

Tetapi yang sangat disayangkan oleh beliau adalah tersingkirkannya hidayah, pengetahua, keimanan dll dari norma-norma yang kian mengurang. Persis seperti penyesalan yang dialami oleh orang-orang yang berkemampuan prima dalam mengatur/memenej sebuah sekolahan atas hilangnya kesempatan dari mereka, bukan karena kecintaannya kepada kedudukan dan merasa di atas. Ia beriman/percaya dan mengetahui akan bahaya/madharrat rakus kedudukan, tetapi penyesalannya atas apa yang akan hilang … Dari sisi inilah kekecewaan Imam Ali atas hilangnya kesempatan dalam kekhalifahan,  … bukan karena ingin berkuasa. Hal inilah yang tidak disajikan dengan baik oleh Ahlusunnah maupun Syi’ah. Analisa mereka seringkali bernuansa jahiliah kecuali sesekali. Yang demikian itu karena Imam Ali –seperti telah saya katakan- adalah sebuah kisah besar di atas Kesunnian dan Kesyi’ahan. Benar, mereka memahami dari Imam Ali dimensi-dimensi tertentu dengan disertai sedikit pendalaman, dan mereka tidak mengetahui dari beliau dimensi-dimensi lain yang lebih agung dan lebih tinggi.

Penguasaan sisi politis atas Ahlusunnah dan Syi’ah dalam tema Imam Ali telah berandil dalam hilangnya Ali sebagai nilai. Dan kedua golongan ini merugi kehilangan kekayaan intelektual dan keimanan yang sangat berharga, yang boleh jadi sulit dimengerti kecuali apabila direlasikan dengan Sunnatullah dalam ciptaan-Nya. Boleh jadi Nabi Muhammad saw. beradai-andai jika Ali itu bukan dari suku bani Hasyim, tetapi hikmah dan ujian Allah menetapkan demikian. Allah tidak maukan kecuali Ali dari suku bani Hasyim sebagai bahan ujian bagi rasa fanatisme kesukuan Quraisy, kemudian bagi bangsa Arab. Allah memberinya keistimewaan pendidikan, ilmu dan hidayah. Kemudian menguji suku Quraisy –yang kelak akan memimpin perjalanan politik dan makrifat Islam hingga hari kebangkitan.. di sini ada hikmah Allah mengapa menjadikan Ali dari keluarga bani Hasyim, setelah Nabi-Nya juga dari keluarga bani Hasyim. Semua itu agar bahan ujian ini lengkap.

Kita tidak memahami Sunnatullah. Ali lah yang akan memahamkan kepada kita Sunnatullah andai suku Quraisy khususnya dan bangsa Arab pada umumnya rela menerima orang yang dipilih Allah.. Di sini letak ujiannya, mau rela atau tidak?! Agama itu harus diambil dengan penuh kepatuhan dan kepasrahan, dan setelah itu bergembiralah… Adapun Anda mengambil agama dengan bersyarat sesuai syarat yang kamu maukan, maka rasakan akibat pensyaratan kamu itu, sehingga kamu mau sadar dan kembali!

Memahami Sunnatullah adalah pangkal, dan ia telah mengalami pengacauan konsep oleh setan agar kita tetap berada dalam kubangan pertikaian tentang siapa yang lebih berhak menjabat sebagai Khalifah dan siapa yang lebih afdhal dan … dan …? Seakan masalahnya adalah sebuah kekuasaan yag akan segera berakhir.. Ini adalah anggapan yang salah… apa penyebab kesengsaraan, kejahilan, pembantaian dan kebencian yang terjadi di antara kaum Muslimin sendiri? Siapa yang mengenal Imam Ali dengan benar dan apa yang dimaukan Allah dari Ali dan apa yang terjadi setelah itu pastilah ia mengetahui rahasia-rahasia ini…

Alakullihal, saya tidak akan bercabang ke sana dan kemari, karena saya khawatir semua akan rusak hatinya sebagaimana aku dahulu rusak hatiku. Ujian Allah ini berat, tidak akan sanggup bangkit memikulnya kecuali orang yang telah Allah uji dan dimurnikan hatinya untuk keimanan.

Kembali ke tema inti:

Ahlusunnah dan Ahli Hadis memiliki jasa yang besar dalam menetapkan hadis-hadis keutamaan Imam Ali … dan ini keutamaan yang Allah anugerahkan dan beri mereka taufiq untuknya.. andai bukan karena taufiq Allah, bagaimana mungkin, sedangkan mereka itu hidup di bawah naungan negeri-negeri yang menyimpang dari Imam Ali. Keutamaan/jasa semuanya milik Allah yang telah memberi taufiq mereka untuk bangkit menetapkan keutamaan Imam Ali. Bahkan kaum Nawashib pun mengakui fakta ini. Allah mengitari mereka dengan keutamaan Imam Ali dan menanamkan keutamaan-keutamaan besar Imam Ali dalam kitab-kitab standar mereka, persis seperti Allah meletakkan Musa di istana Fir’aun.

Perbedaan antara Ahlusunnah dan kaum Nawashib butuh kepada keterangan yang panjang, hanya saja saya tidak bermaksud dengan kata Nawashib kecuali mereka para penentang keutamaan-keutamaan Imam Ali dan mereka yang sangat mencintai orang-orang yang memerangi Imam Ali, melaknati beliau dan membantai keturunan beliau.

Tidak ada celaan atas Ahlusunnah kecuali dinginnya mereka dalam mengecam kaum Nawashib dan membantah mereka, sehingga memberi peluang bagi kaum Nawashib kadang-kadang untuk berbicara atas nama Ahlusunnah, seperti celaan atas kaum moderat dari Syi’ah karena mereka bersikap dingin terhadap kaum Ekstrimis/Ghulat sehingga mereka berbicara atas nama Syi’ah, sementara itu kita menyaksikan darah-darah mengalir…

Tetapi mari kita perbaiki kondisi kita ini dan mari kita menyebut sebagian usaha Ahlusunnah [dan tentu mereka bukanlah kaum Nawashib; kelompok minoritas yang mencoreng nama Ahlusunnah] … usaha mereka dalam menetapkan keutamaan-keutamaan Imam Ali…

Ahlusunnah itu terzalimi bukan oleh Syi’ah saja tetapi juga oleh kaum Nawashib yang mengelompokkan mereka di belakang musuh-musuh Imam Ali. Oleh karena itu keberadaan kaum merdeka di antara Ahlusunnah adalah sebuah keharusan demi meluruskan… kaum merdeka dari Ahlusunnah –walaupun di antara mereka ada yang meragukan agak kelewat batas-, akan tetapi perbaikan yang mereka lakukan untuk mencegah dari terseret di belakang barisan kaum Nawashib dan mengingatkan mereka akan bahaya itu dan kritikan mereka atasnya adalah sebuah nikmat. Mereka adalah nikmat bagi semua. Mereka telah mengingatkan kaum mereka [Ahlusunnah] akan urgensi makrifat dan bersikap obyektif serta menghindari dampak perseteruan.. dan juga meminta dari Syiah tindakan serupa dalam mengkritik diri sendiri.

Di antara usaha-usaha Ahlusunnah yang harus diucapkan terima kasih adalah mereka telah meriwayatkan keutamaan Imam Ali dan menshahihkan hadis-hadis tentangnya, di antaranya hadis Ghadir, hadis Manzailah, hadis tentang perang Khaibar [dimana Nabi saw. menegaskan bahwa Imam Ali adalah hamba yang mencintai Allah dan Rasul-Nya dan dicintai keduanya_red], hadis dipersaudarakannya Imam Ali dengan Rasulullah saw. sendiri [bukan dengan sabahat lain]… mereka tidak teledor dalam menetapkan keutamaan yang penting bagi Imam Ali, dan mereka menutup jalan di hadapan kaum Nawashib sehingga tidak ada jalan bagi mereka kecuali mengada-ngada takwil palsu yang menentangnya, membantah dan menghina-hina …

Kaum Nawashib telah teledor terhadap warisan intelektual Ahlusunnah.. bukan kaum Syi’ah yang teledor… tetapi datanglah sebuah situasi digambarkan bahwa kaum Nawashib adalah Ahlusunah, maka Allah bangkitkan di antara kalangan Ahlsunnah yang menentangnya dan berkata: TIDAK!

Kemari dan baca… Terima kasih kepada Ahlusunnah yang tunduk kepada nash … Ahli Sunnah Nash bukan Ahlusunnah mazhab!

Ini yang harus difahami dan dimengerti oleh saudara-saudara kita, khususnya para pemuda jika benar kalian ingin menjadi Ahlusunnah… kalian harus berpegang dengan nash-nash… bukan tertipu oleh Chanel-chanel TV atau pidato-pidato. Kemudian berimanlah kepada nash-nash dengan apa adanya… nash-nash itu sangat jelas… dahulukan yang paling shahih… baru yang di bawahnya … dahulukan yang gamblang lagi jelas bukan yang samar.. dengan demikian kalian akan menyaksikan sebenarnya di mana Sunnah itu berada…

Sebagaimana saya tidak ingin mengkritik saudara-saudara kami Syi’ah karena metode saya berdiri di atas pentingnya mengkritik diri sendiri. Namun demikian saya katakan kepada mereka, lakukan reformasi dari dalam… kurangi melibatkan Syiaisme politis… Imam Ali bukan untuk komoditi politik… Imam Ali adalah MAKRIFAT, IMAN, PRILAKU SUCI, REFORMASI, ILMU QURANI… Bacalah pidato Imam Ali tentang Iblis dan kecongkakannya agar kamu mengetahuinya.

Untuk Syi’ah Juga

Imam Ali tidak dapat dimanfaatkan dalam reaksi.. beliau adalah kekal sekekal pengetahuan dan keimanan … Imam Ali adalah milik setiap orang yang arif dan pecinta, dari mazhab mana pun ia!

3 Tanggapan

  1. Syaikh benar sngat berat perjuangan Ahli Hadis-Ahlussunnah dikarenakan mereka berada dibawah naungan raja-raja yang memimpin negeri-negeri, kisah perjuangan Imam Nasa’i, Semoga Allah Ta’ala senantiasa merahmati beliau dalam upaya beliau membela kehormatan Ahlul bait Nabi saw adalah salah satunya

    Tapi jangan lupa, perjuangan yang tidak kalah beratnya juga dialami oleh ulama-ulama Syiah dalam mempertahankan berlakunya syiar. Saya tidak tahu berapa banyak alim Syiah yang telah dibunuh dan dikejar-dikejar di negeri-negeri Islam pada masa lalu. Bahkan bila semua itu tidak cukup yang lebih menyakitkan hati keturunan Nabi saw yaitu para Imam as mengalami tekanan yang sedemikian dahsyatnya.

    Menurut pendapat saya keduanya baik Ahlussunnah maupun Syiah secara definisi adalah korban.

    Memisahkan pribadi Imam ali dengan segala konflik yang melingkupi beliau tidak mudah karena bagaimana kita mampu memahami benih akar persoalan secara seimbang ketika

    History is always written by “the winner”

    sengaja kata winner saya kasih tanda petik

    Akan tetapi seperti yang syaikh katakan ketetapan Allah telah berlalu atasnya tidak ada gunanya lagi kita berandai-andai sekarang

    Terima kasih untuk tulisan pencerahanya ustadz.

    Abusalafy:
    Alhamdulillah…
    Semoga bermanfaat bagi kita semua…
    Barakallahu fikum ya akhi

  2. Menurut sy tulisan syaikh Hasan ini diantaranya mengandung isyarat. Diantaranya bagian ini :

    “…….kalian harus berpegang dengan nash-nash… bukan tertipu oleh Chanel-chanel TV atau pidato-pidato. Kemudian berimanlah kepada nash-nash dengan apa adanya… nash-nash itu sangat jelas… dahulukan yang paling shahih… baru yang di bawahnya … dahulukan yang gamblang lagi jelas bukan yang samar.. dengan demikian kalian akan menyaksikan sebenarnya di mana Sunnah itu berada. ”

    Pertanyaannya manakah nash yg paling shahih/mutawatir ttg imam Ali?. Ini penting dijawab krn dari sinilah akar utk memahami ke-Syiah-an. Ada banyak Syiah disana, yg dimaksud disini tentu Syiah “syar’iy” atau apapun istilahnya bukan Syiah madzhaby. Maksud saya mungkin ada orang yg syafi’i atau hambali tulen tapi dia seorang mutasyayyi’. Karena jelas Ali bukan milik madzhab tertentu,Jadi ” Imam Ali adalah MAKRIFAT, IMAN, PRILAKU SUCI, REFORMASI, ILMU QURANI…”.

    Tapi memang madzhab Syiah lah yg patut berbangga dgn imam Ali as krn mereka sanggup memikul beban berat mengusung nama besar Ahlul Bait meski harus menanggung derita (terberatnya ya ditumpahkan darahnya) hingga detik ini. Sebuah kesabaran yang sangat2 panjang.

    Sementara untuk mengenal Hadist Ghadir sj rasanya baru kemarin, itupun masih harus menghadapi takwil2 yg mensamarkan dan melemahkan seputar kata “maula”.

  3. Perjalanan masih panjang betul tidak hanya sampai kepada mengenal nash2 tentang imam Ali as. namun bagaimana mengamalkan ajarannya yang diterima dari Rasulullah SAW (yang diwariskan kepada para imam ahl Bait Nabi sesuai hadits 12 pemimpin)

    Mengapa mesti malu-malu mengakui dengan hati ikhlas bahwa mereka syia-lah (12 imam) dari masa kemasa yang benar-benar mengikuti para imam setelah Nabi SAW. dengan segala pengorbanan yang sulit diuraikan dengan kata-kata. Selain mereka Syiah hanya berkata kami cinta juga kepada Ahl bait !!??

    Apa makna cinta jika hanya dimulut tanpa perbuatan/amal, begitu juga apa makna cinta kepada Allah SWT dan Nabi SAW

    sabda Nabi: Cinta kepada Ahl Baitku berarti cinta kepadaku, cinta kepadaku berarti cinta kepada AllahSWT,

    Bagaimana bisa cinta kepada Ahl bait !!? yang termasuk ahl bait saja masih diperdebatkan sampai disamarkan sehingga dilupakan walaupun selalu diucapkan dalam shalawat, tapi siapa mereka????

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s