Hadis-hadis Kaum Nashibi yang Dishahihkan oleh Ahli Hadis [Bagian Kedua]

Hadis-hadis Kaum Nashiibi yang Dishahihkan oleh Ahli Hadis [Bagian Kedua]

.

Oleh: Syeikh Hasan bin Farhan al Maliky

Sumber: http://almaliky.org/news.php?action=view&id=1683

Bagi yang belum membaca bagian pertama (mukadimah) pembahasan/kajian ini silahkan membacanya disini: https://abusalafy.wordpress.com/2017/04/28/hadis-hadis-nasibi-yang-ditashih-bag-1/

Hadis pertama: Hadis Mu’adz bin Jabal, diriwayatkan oleh Ahmad, Ibn Hibban, Ibn Abi Ashim, ath-Thabrani dan lainnya, dan redaksinya dari Mu’adz; saya akan sebutkan beserta sanadnya supaya jelas keberadaan nashibi di dalamnya.

.

.

رووا الحديث من طريق أبي المغيرة الحمصي (عبد القدوس بن صالح): حدثني صفوان بن عمرو حدثني راشد بن سعد عن عاصم بن حميد السكوني عن معاذ بن جبل قال؛ لما بعثه رسول الله صلى الله عليه واله وسلم إلى اليمن، خرج معه رسول الله يوصيه، معاذ راكب، ورسول الله تحت راحلته؛ فلما فرغ قال: (يا معاذ إنك عسى أن لا تلقاني بعد عامي هذا، لعلك أن تمر بمسجدي وقبري، فبكى معاذ خشعاً لفراق رسول الله ثم التفت رسول الله نحو المدينة فقال – وهنا الشاهد -) إن أهل بيتي هؤلاء يرون أنهم أولى الناس بي! وإن أولى الناس بي المتقون! من حيث كانوا، اللهم إني لا أحلُّ لهم فسادَ ما أصلحتُ وَايْمُ اللَّهِ لَيَكْفَؤُونَ أُمَّتِي عَنْ دِينِهَا كَمَا يُكْفَأُ الْإِنَاءُ فِي الْبَطْحَاءِ» اهـ !!!

.

Mereka meriwayatkan sebuah hadis dari jalur Abu Mughirah al-Himshi (Abdul Qudus bin Shalih) : Telah bercerita kepadaku Shafwan bin Amr, telah bercerita kepadaku Rasyid bin Sa’ad dari Ashim bin Humaid as-Sukuni dari Mu’adz bin Jabal, ia berkata: Ketika Rasulullah saw mengutusnya ke Yaman, Rasulullah keluar bersamanya dan berwasiat kepadanya, ketika itu Mu’adz sedang menunggangi kuda sementara Rasulullah saw. berada di bawah tunggangannya, dan saat ia berhenti, beliau berkata: (Wahai Mu’adz mungkin engkau tidak akan berjumpa denganku setelah tahun ini, semoga engkau melewati masjid dan kuburanku, lalu Mu’adz menangis dengan tertunduk karena akan berpisah dengan Rasulullah saw., setelah itu Rasul saw. menoleh ke arah Madinah dan berkata – dan di sini ada saksinya) Sesungguhnya Ahlul Baitku memandang bahwa mereka adalah manusia paling utama bagiku! Sesungguhnya manusia paling utama di sisiku adalah orang-orang yang bertakwa! Darimanapun mereka. Ya Allah sungguh aku tidak menghalalkan bagi mereka keburukan yang telah aku perbaiki, Dan demi Allah mereka telah memalingkan umatku dari agamanya seperti wadah yg terbalik di sungai.

.

Ini adalah redaksi Ibn Hibban dalam Shahihnya, sedangkan Ahmad tidak berani meriwayatkannya secara utuh, sehingga ia memotongnya karena takut; Ibn Hibban, Ibn Abi Ashim dan selainnya meriwayatkannya secara utuh, dan sanadnya bersambung dengan nashibi. Sangat jelas bahwa hadis ini dibuat-buat; perhatikan bagaimana mereka menggambarkan Nabi saw. yang keluar bersama Mu’ad, menyampaikan salam perpisahan dengannya dan memperingatkan tentang Ahlul Baitnya -di mana mereka (ahlul bait) adalah orang-orang yang lebih utama dari Mu’adz – bahwa mereka akan memalingkan agama! Dan dalam sebuah hadis disebutkan keluarnya Ali, Fatimah Hasan dan Husain dari golongan orang-orang bertakwa; seakan-akan Nabi saw. hidup bersama orang-orang biadab dari Ahlul Baitnya, tidak ada yang baik dan bertakwa dari mereka; seakan-akan Ahlul Bait beliau tidak masuk Islam 13 tahun sebelum Mu’adz;  dan mereka tidak mengalami kelaparan, kemiskinan, pengingkaran dan blokade oleh rakyat; seakan-akan merekalah yang memalingkan agama!!

Tentu kami tidak akan mengatakan apa yang dikatakan oleh para perawi syiah bahwa Mu’adz bin Jabal termasuk peserta baiat Aqabah; dan bahwa ahlussunnah memperindah karakternya karena kebenciannya pada ahlul bait; yang akan kami soroti adalah dari sisi lain; yakni  yang meriwayatkan darinya adalah Ashim bin Humaid As-Sukuni adalah seorang nashibi, mereka berbeda pendapat terkait dengan ketsiqahannya, dan yang mentsiqahkannya adalah adDaruquthni sedangkan Ibn Qathan mendhaifkannya, tapi orang-orang yang mendhaifkannya tidak pula menyebutnya sebagai nashibi; dan yang meriwayatkan dari Ashim yakni Rasyid bin Sa’ad Al-Hibrani Al-Maqra’i adalah seorang nashibi besar, ia telah menunjukkannya bersama Muawiyah pada perang Siffin. Sedangkan yang meriwayatkan dari Rasyid bin Sa’ad yaitu Shafwan bin Amr Al*** ki al-Himshi juga seorang nashibi, ia termasuk sejarawan nashibi terdahulu!  Maka ketiga orang tersebut adalah nashibi yang tidak diperhatikan kenashibiannya, dan Abu Al-Mughirah (Abdul Qudus bin Al-Hujaj al-Himshi) adalah seorang nashibi juga, kendati tidak sejelas orang-orang sebelumnya, dan dari Abu Al-Mughirah lah hadis ini tersebar, ia adalah hadis tunggal produk Syami (orang dari syam) seorang nashibi.

Hadis ini juga diriwayatkan oleh Ahmad namun ia tidak berani menyebutkannya secara utuh karena buruknya hadis ini, redaksinya adalah sebagaimana yang tertera dalam musnad Ahmad cetakan “Risalah” (36/376):

(Wahai Mu’adz mungkin engkau tidak akan berjumpa denganku setelah tahun ini, semoga engkau melewati masjid dan kuburanku, lalu Mu’adz menangis dengan tertunduk karena akan berpisah dengan Rasulullah saw., setelah itu Rasul saw. menoleh ke arah Madinah dan berkata (Sesungguhnya manusia paling utama bagiku adalah orang-orang yang bertakwa siapapun mereka dan di mana pun mereka).

Ahmad tidak berani menyebutkan cacian kepada Ahlul Bait di sini, namun saya kontra dengan metode Ahmad di sini; seharusnya dia memilih untuk menyebutkannya secara utuh atau tidak meriwayatkannya sama sekali; karena pemotongan hadis akan memperindah wajah-wajah para nashibi yang mengada-ada atas nama Rasulullah itu.

Saya tidak membenarkan perbuatan Ahmad pada hadis-hadis semacam ini, demikian juga dengan Bukhari, mereka telah banyak membuang matan hadis, dan menghapus apa yang tidak mereka sukai, ini bisa dianggap sebagai pengkhianatan ilmiyah oleh ahli tahqiq.

Kesimpulan: Hadis ini adalah produk  Syami Himshi (Umawi) ia adalah hadis produk antek/kroni Muawiyah, dan Fiah Baghiyah (kelompok pembangkang/bughot pimpinan Muawiyah) adalah cacat berdasarkan nash (sabda Nabi saw). Dan pencacatan Nabi saw. lebih utama untuk diberlakukan ketimbang pencacatan Yahya bin Ma’in dan Ibnu Madini. Artinya: Jika Ahmad dan Bukhari berkata: Aku tidak mau meriwayatkan dari kelompok Mu’tazilah karena mereka adalah kaum pembid’ah maka semestinya ia menolak meriwayatkan dari orang-orang yang Nabi saw telah bersabda bahwa mereka adalah kelompok baghiyah dan penganjur kepada neraka.[1]

Dan salah satu metode ahli hadis juga adalah bahwa mereka memberlakukan ucapan-ucapan ahli hadis walaupun ia adalah pendha’ifan komunitas mereka terhadap golongan atau kelompok yang berlawanan dengan mereka; namun mereka tidak memberlakukan ucapan-ucapan Nabi saw. yang berlawanan dengan suatu golongan. Para ahli hadis ini seharusnya mengembalikan (pendha’ifan Allah dan Rasul-Nya) terhadap  orang-orang zalim dan para penganjur ke api neraka serta kelompok pembangkang (ahlil bughot) dan agresor, seharusnya ini lebih bernilai dari pada pendha’ifan ulama’-ulama’ mereka terhadap kelompok-kelompok lain. Bahkan Allah melarang untuk cenderung kepada orang-orang yang berbuat zalim, dan menjadikannya sebagai penyebab siksa neraka

وَلَا تَرْكَنُوا إِلَى الَّذِينَ ظَلَمُوا فَتَمَسَّكُمُ النَّارُ

Dan janganlah kamu cenderung kepada orang yang zalim yang menyebabkan kamu disentuh api neraka (S. Hud: 113)

cenderung di sini adalah umum, baik secara fisik, maknawi ataupun ilmiyah.

.

Pembaharuan bagi ahli hadis dimulai dari sini (jika mereka mau): bersandar pada pendha’ifan Allah dan Rasul-Nya adalah lebih agung dari pada bersandar pada pendhai’fan Ahmad, Waki’, ats Tsauri atau syu’bah [2]... Allah dan Rasul-Nya lebih utama (dari mereka); Seandainya ahli hadis (tidak cenderung kepada orang-orang yang zalim) – baik dalam fiqih, riwayat, hadis maupun Dirayah – tentu agama kita tidak akan ternoda sampai pada batas ini, hingga ia benar-benar menyimpang dari tujuan-tujuan Allah.

Bencana ini sudah sangat lama sekali, penyebabnya adalah karena kita terlalu meremehkan Al-Quran dan kenabian, padahal Allah telah menasehati bani Israil dengan firman-nya (Pegang teguhlah apa yang telah Kami berikan kepadamu) dan kita kembali menapaki jalan mereka!

Ringkasan: Yang memalingkan agama seperti terbaliknya wadah di sungai adalah orang-orang munafik dan nashibi bukan keluarga Muhammad; orang-orang munafik dan nashibi, merekalah yang memalingkan agama Allah; mereka memperbudak rakyat dengan nama Allah; mereka menciptakan hukuman-hukuman yang berat – melebihi hukaman Allah dan Rasul-Nya – mereka mengekang kebebasan, menghapus pemikiran dan meninggalkan Al-Quran serta menghapus riwayat; orang-orang munafik beserta anak-anak angkat mereka orang-orang nashibi, merekalah bencana yang telah lama yang telah memalingkan agama dari jalur dan tujuannya dan dari Rahmat, keadilan dan berkahnya, merekalah yang menjerat kita.

Ahlul bait nabi,… mereka adalah ahlul kisa’, hanya ada empat orang, mereka tidak memiliki pemerintahan maupun pengaruh.. Dan barang siapa mengambil hukum dari mereka akan dibunuh karena keadilannya dan dilaknat karena takut padanya, Dan siapa Yang melakukan pemberontakan Akan dibunuh dan badannya Akan diremukkan oleh sekawanan kuda.

.

Hadis kedua:

حديث عمرو بن العاص في صحيح البخاري (8/ 6) حدثنا عمرو بن عباس، حدثنا محمد بن جعفر حدثنا شعبة عن إسماعيل بن أبي خالد عن قيس ابن أبي حازم أن عمرو بن العاص قال: سمعت النبي صلى الله عليه وسلم جهاراً غير سر يقول (إن آل أبي فلان ليسوا لي بأولياء إنما وليي المتقون) اهـ.

Hadis Amr bin Ash dalam Shahih Bukhari (6/8), telah bercerita kepada kami Amr bin Abbas, telah bercerita kepada kami Muhammad bin Ja’far, telah bercerita kepada kami Syu’bah dari Ismail bin Abi Khalid dari Qais Ibn Abi Hazim bahwa Amr bin Ash berkata: Aku mendengar Nabi saw. secara terang-terangan tidak sembunyi-sembunyi berkata: Sesungguhnya keluarga Abu Fulan bukanlah wali bagiku, sesungguhnya waliku hanyalah orang-orang yang bertakwa

Dan Bukhari berkata dari gurunya Amr (dalam kitab Muhammad bin Ja’far – yakni Ghundur yang meriwayatkan dari Syu’bah – kosong!) maksudnya ditulis (keluarga Abu…..  Kemudian kosong) [bukanlah waliku; sesungguhnya waliku adalah Allah dan orang-orang mukmin yang Soleh]  dan ada yang menyebutkan sebagai ganti dari keluarga Abu Fulan di sini adalah (keluarga Abu Thalib)! Inilah yang mereka maksud, sebagian mereka menganggap bahwa yang dimaksud adalah keluarga al Hakam! Hal ini adalah untuk memberikan kesan baik bagi para nashibi.  . . .

Berkaitan dengan hadis ini ada juga yang sanadnya dari orang-orang yang memerangi ahlul bait, yang pertama dari mereka adalah Amr bin Ash, berdasarkan ijma’ dia bersama Mu’awiyah dan kelompok pembangkang (dalam perang Shiffin _red), bahkan ia adalah pendukung yang paling getol, tidak ada seorangpun yang bisa mengingkarinya, dan yang meriwayatkan darinya – Qais bin Abi Hazim – adalah seorang nashibi yang terkenal;  Ahli hadis telah menuduhnya sebagai Utsmani;  inilah salah satu redaksi yang mereka gunakan sebagai ganti nasibhi untuk menyembunyikannya, ia berasal dari Ahmas yang merupakan salah satu kabilah nashibi, ia dari Bajilah yang juga nashibi, bahkan Ahmas, Bajilah, Ghani, Bahilah, Sukun, Hadharim, Lakhm, Jadzam semuanya adalah nashibi, seperti halnya dengan Madzhaj, Abdu Qais, sebagian besar dari Rabi’ah dan Hamdan Syiah…  Qabilah-qabilah terdahulu yang terkenal seperti Quraisy, Tsaqif dan Bani Salim; sebagian besarnya adalah kaum nashibi; sementara Khuza’ah, Anshar dan Bani Hasyim adalah orang-orang syiah[3]; dan ini merupakan persoalan-persoalan yang mesti diperhatikan oleh para ahli hadis, tentang atmosfer pemerintahan dan kabilah, bahkan kota-kotanya, seperti Syam dan Basrah adalah tempat domisili kaum nashibi, sementara Kufah adalah tempat tinggal orang-orang syiah, ini secara umum, kemudian Syam dan Basrah mendirikan Baghdad, Baghdad didirikan oleh Abu Ja’far Al-Mansur, ia membawa ulama’-ulama’ Basrah ke sana bukan ulama-ulama Kufah, sementara Mesir adalah Alawi kemudian menjadi Umawi; sedangkan Andalus adalah Umawi; dan Ishfahan adalah nashibi kemudian berubah menjadi syiah pada abad ke-3, sementara Harran adalah nashibi kuat, kota ini memelihara kenashibiannya setelah tumbangnya bani Umayyah  pada lima abad berikutnya! Kenasibiannya berakhir pada abad ke-6,  mereka melaknat Ali hingga abad ke-6, darinya muncul Ibnu Taymiyah Dan Komunitasnya.

Setiap kota atau kabilah memiliki ciri khasnya masing-masing, terkadang ada satu golongan yang keluar dari ciri khasnya, misalnya Kufah memiliki ciri khas sebagai syiah alawiyah, namun banyak orang-orang nashibi yang muncul darinya dikarenakan pengaruh dari dinasti umawiyah, sementara Basrah ciri khasnya adalah sebagai kota nashibi – sebagian orang Syam yang dapat ditemui di Iraq – berdasarkan penjelasan ahli hadis, namun darinya muncul orang-orang syiah seperti bani Abdu Qais, Ja’far bin Sulaiman adh-Dhab’i dan lainnya.

Dengan demikian jika kami mengatakan bahwa penduduk Syam adalah nashibi, itu adalah secara umum, terkadang dari mereka muncul orang-orang seperti Abdurrahman bin Ghanam Al-Asy’ari, seorang yang Soleh pecinta Ali; demikian juga dengan Kufah; di sana ada banyak nashibi; Ismail bin Abi Khalid murid dari Qais adalah seorang nashibi juga; namun kenasibiannya samar dan tak tampak kecuali dalam hadis-hadis-nya, ia seperti Humadain, Malik dan Ibn Aun, kenasibian mereka tampak pada hadis-hadisnya bukan dalam pandangan mereka.

Kemudian betapa mengherankan! Kabilah-kabilah nashibi, orang-orang asing dan para diktator yang tak terkendali melampiaskan kemarahannya kepada keluarga Muhammad apakah mereka bisa menjadi orang-orang bertakwa dan mukmin yang Soleh? Apakah Nabi saw berlindung kepada mereka dari keluarganya? Mengapa orang-orang yang memerangi Muhammad di perang Badar, Uhud dan Khandaq ingin menyebarkan budaya mewaspadai keluarga Muhammad dan Ahlul Baitnya yang suci dengan mengatakan bahwa mereka bukanlah orang-orang bertakwa dan bukan orang-orang Soleh?

Penyebabnya adalah kemunafikan!

Di sini perlu membawakan hadis (Tidak mencintai Ali kecuali seorang mukmin dan tidak membencinya kecuali seorang munafik); dan hadis (Barang siapa yang aku adalah pemimpin/walinya maka Ali lah pemimpin/walinyanya); yang seharusnya diangkat oleh para ahli hadis,  sehingga mereka dapat melihat kemunafikan. Nabi saw. mengetahui kemunafikan lebih banyak dari kita; oleh karenanya beliau meletakkan tanda yang paling dekat untuk kita, seperti buah yang paling dekat, yang beliau berikan kepada kita yakni bahwa barang siapa yang membenci Ahlul Bait beliau maka dia adalah seorang munafik dan ini cukup (sebagai tandanya). Ahlul Bait beliau bukanlah seluruh bani Hasyim; karena di antara mereka ada juga yang kafir seperti Abu Lahab; ada pula orang-orang zalim seperti bani Abbas; tidak! Beliau saw. tidak akan pernah memerintahkan kita untuk bersolawat kepada orang-orang kafir dan tidak pula kepada orang-orang zalim.

Ahlul Bait beliau hanya sedikit dan orang-orang khusus; karenanya kaum munafik tidak membenci kezaliman bani Hasyim seperti Al-Manshur, Ar-Rasyid, Al-Mutawakkil dan Al-Amin. Mereka hanya membenci dan dengki kepada orang-orang saleh dari bani Hasyim; seperti Ali, Fatimah, Hasan dan Husain; dan sampai saat ini; jika orang-orang munafik menemui seorang Hasyimi  membenci keluarga Muhammad maka mereka akan mencintainya, meminta pertolongan kepadanya, berbisnis dengannya dan mensuportnya dengan Harta, Sedangkan jika mereka menemui seorang bani Hasyim yang mencintai Ahlul Bait dengan tulus mereka membencinya Dan menuduhnya telah melakukan bid’ah, maka budaya kemunafikan tidak memusuhi Bani Hasyim, ia hanya memusuhi orang-orang Soleh dari mereka, Dan orang-orang yang dikhawatirkan akan mengembalikan Islam seperti dahulu dan menghilangkan kebohongan dalam agama.

Inilah musuh besar mereka.

Sehingga orang-orang seperti Abbas, Aqil Dan orang-orang bani hasyim lainnya yang terlambat masuk Islam, orang-orang nashibi tidak membenci mereka; namun mereka mencintainya dan bersedia menerima mereka!

Sungguh makar yang besar!

Musuh kaum munafik adalah orang-orang yang paling spesial dan dekat dengan Nabi saw, orang-orang yang paling banyak mengerjakan sunnah beliau, mereka yang banyak menderita bersama beliau dan dididik oleh tangan beliau; orang-orang-orang inilah yang mereka bunuh dan laknat, serta yang mereka cacat dalam riwayat-riwayat mereka, tidak semua bani Hasyim bisa disebut sebagai keluarga Muhammad, tidak ada pemerintahan hasyimi yang bisa mewakili mereka dan tidak pula para pemimpinnya; kebanyakan mereka bahkan tumbuh dalam budaya nashibi.

Benar, anda bisa mengatakan bahwa Ahlul Bait yang paling khusus ada 4, kemudian ada cakupan lain dari Ahlul Bait, mereka adalah orang-orang Soleh dari bani Hasyim, ibu-ibu kaum mukmin, dan yang berwilayah pada mereka serta Bani Muthalib, dan seterusnya; budaya kemunafikan memusuhi Muhammad secara personal, dan Allah telah menunjukkan hal itu kepada Rasul-Nya (Mereka itulah musuh [yang sebenarnya], maka waspadalah terhadap mereka) dengan menggunakan kata ganti tunggal, mereka membenci Muhammad, kemudian orang yang paling spesial dan paling menyerupainya yakni keluarganya.

Budaya kemunafikan adalah anak dari budaya kafir Quraisy; kemudian ia menghasilkan budaya nashibi, kemudian ia menghasilkan kaum ghulat salafi dan budayanya; membentuk sebuah pohon seperti pohon keturunan; benar ia merupakan budaya yang tumpang tindih dan rumit, namun isyaratnya pertama kali sudah Ada dalam Al-Quran; ketahuilah  budaya kemunafikan melalui Al-Quran, ia merupakan anak dari budaya syirik Qurais; pengganti Firman Allah SWT (Kabarkanlah kepada orang-orang munafik bahwa mereka akan mendapat siksa yang pedih (Qs. An-Nisa’:138) Siapakah orang-orang munafik ini? Simaklah penyingkapan Al-Quran yang kritis ini (yaitu) orang-orang yang menjadikan orang-orang kafir sebagai pemimpin dengan meninggalkan orang-orang mukmin, apakah mereka mencari kekuatan di sisi orang-orang kafir itu?); maka kemunafikan adalah anak dari kafir Quraisy; dan Allah telah banyak menjelaskan hubungan antara ayah dan anak yang dijalin oleh kafir Quraisy Mekkah dengan orang-orang munafik Madinah; Allah juga menyebutkan tentang bagaimana orang-orang munafik ini berwilayah kepada mereka, serta kecintaan orang-orang ini kepada mereka.

Budaya kemunafikan memulai misinya dengan menutup-nutupi hubungan ini, seakan-akan orang-orang munafik tidak ada hubungannya dengan Quraisy; dan bahwa mereka hanya punya urusan dengan Anshar, dan bahwa mereka tidak punya pengaruh apa-apa… Dan bahwa begini dan begitu.

Makar yang besar!

Sementara budaya nashibi juga berjalan di jalan ini, mereka berpura-pura tidak memiliki hubungan dengan orang-orang munafik, dan bahwa kebencian kepada orang-orang tercinta Rasulullah saw. tidak ada hubungannya dengan kebencian kepada Rasulullah saw., dan seterusnya; kemudian giliran kaum ghulat salafy yang berusaha meyakinkan kita bahwa mereka tidak memiliki hubungan dengan nashibi, dan bahwa mereka tidak memiliki hubungan dengan Bani Umayyah serta hadis-hadis nya; dan bahwa mereka menghindarkan diri dari hadis-hadis nashibi.. Dan seterusnya.

Pengingkaran yang sama!

Bahkan kaum ghulat tidak membenarkan bahwa orang-orang munafik Madinah dan Anshar menjadikan orang-orang kafir Quraisy sebagai pemimpin; pengetahuan ini walaupun ada dalam Al-Quran namun seakan-akan ia tidak ada! Jika mereka tidak mengakui sesuatu yang  disebutkan dalam Al-Quran -tentang hubungan kuat antara budaya kemunafikan dan kekufuran- maka kita tidak perlu berdebat untuk menetapkan hubungan erat antara budaya kemunafikan dan nashibi; pertama wajib mengakui hubungan erat yang ditulis oleh Al-Quran, dan pada saat itu orang yang sudah mengakui kebenaran tersebut akan terdorong untuk mengakui hubungan orang-orang nashibi dengan orang-orang munafik, kemudian hubungan kaum ghulat dengan nashibi; kemudian  bencana seluruhnya dengan semua ini!

Pada bagian ketiga kami akan paparkan tambahan hadis-hadis nashibi yang disahahihkan oleh ahli hadis pada umumnya, dan penshahihan mereka ini adalah hasil dari sangat kurangnya pengetahuan mereka tentang nashibi dan orang-orang nya.

Sebagai penekanan; materinya adalah ilmiyah dan berdasarkan pada Al-Quran, hadis dan sejarah; tidak ada kaitannya dengan politik atau madzhab; makan janganlah kalian mematuhi setan dan pengikutnya yang suka mengacau, setan sangat suka dengan kemunafikan, gangguan setani adalah hubungan paling tersembunyi antara orang-orang munafik dengan orang-orang kafir Quraisy; ia juga merupakan hubungan tersembunyi antara nashibi dengan kemunafikan, ia akan terus menakut-nakuti dan berbohong bahwa Fulan berniat begini dan begitu, kekosongan kalian dalam ilmu.

Hubungan yang ditulis oleh Al-Quran adalah

بَشِّرِ الْمُنَافِقِينَ بِأَنَّ لَهُمْ عَذَابًا أَلِيمًا (138) الَّذِينَ يَتَّخِذُونَ الْكَافِرِينَ أَوْلِيَاءَ ….. (139)

Kabarkanlah kepada orang-orang munafik bahwa mereka akan mendapat siksa yang pedih, yaitu  orang-orang yang menjadikan orang-orang kafir sebagai pemimpin (penolong)….. [An-Nisa’: 138-139]

__________

[1]. Istilah “penganjur ke neraka” yang dimaksud penulis adalah kelompok bughot (pembangkang) pimpinan Muawiyah yang memerangi Khalifa syah Ali bin Abi Thalib … istilah ini merujuk kepada hadis mutawatir yang juga diriwayatkan Imam Bukhari, kami nukilkan hadis tersebut dibawah ini dimana  Rasulullah saw  menjuluki mereka dengan Duatun-Naar (penganjur/dai-dai ke api neraka):

حَدَّثَنَا مُسَدَّدٌ قَالَ حَدَّثَنَا عَبْدُ الْعَزِيزِ بْنُ مُخْتَارٍ قَالَ حَدَّثَنَا خَالِدٌ الْحَذَّاءُ عَنْ عِكْرِمَةَ قَالَ لِي ابْنُ عَبَّاسٍ وَلِابْنِهِ عَلِيٍّ انْطَلِقَا إِلَى أَبِي سَعِيدٍ فَاسْمَعَا مِنْ حَدِيثِهِ فَانْطَلَقْنَا فَإِذَا هُوَ فِي حَائِطٍ يُصْلِحُهُ فَأَخَذَ رِدَاءَهُ فَاحْتَبَى ثُمَّ أَنْشَأَ يُحَدِّثُنَا حَتَّى أَتَى ذِكْرُ بِنَاءِ الْمَسْجِدِ فَقَالَ كُنَّا نَحْمِلُ لَبِنَةً لَبِنَةً وَعَمَّارٌ لَبِنَتَيْنِ لَبِنَتَيْنِ فَرَآهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَيَنْفُضُ التُّرَابَ عَنْهُ وَيَقُولُ وَيْحَ عَمَّارٍ تَقْتُلُهُ الْفِئَةُ الْبَاغِيَةُ يَدْعُوهُمْ إِلَى الْجَنَّةِ وَيَدْعُونَهُ إِلَى النَّارِ قَالَ يَقُولُ عَمَّارٌ أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ الْفِتَنِ

……….. telah menceritakan kepada kami Khalid Al Hidzaa’ dari Ikrimah yang berkata Ibnu Abbas berkata kepadaku dan kepada anaknya Ali, pergilah kalian kepada Abu Sa’id dan dengarkanlah hadis darinya maka kami menemuinya. Ketika itu ia sedang memperbaiki dinding miliknya, ia mengambil kain dan duduk kemudian ia mulai menceritakan kepada kami sampai ia menyebutkan tentang pembangunan masjid. Ia berkata “kami membawa batu satu persatu sedangkan Ammar membawa dua batu sekaligus, Nabi saw. melihatnya, kemudian Beliau saw. berkata sambil membersihkan tanah yang ada padanya “kasihan ‘Ammar, dia akan dibunuh oleh kelompok (al fi’ah) baaghiyah [pembangkang], ia [Ammar] mengajak mereka ke surga dan mereka mengajaknya ke neraka. ‘Ammar berkata “aku berlindung kepada Allah dari fitnah” (Shahih Bukhari )

[2]. (Imam) Ahmad, waki’, ats Tsauri atau Syu’bah, adalah nama-nama ahli hadis yang biasa dijadikan sandaran/rujukan oleh para ahli hadis (Abu Salafy)

[3]. Yang dimaksud syiah disini bukan seperti pemahaman syiah mazhabi sekarang, tapi syiah dalam arti pecinta atau penolong Ali bin Abi Thalib/keluarga Nabi

 

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s