Syekh Hasan bin Farhan Al Maliky: Hadis Palsu Dengan Sanad Yang Shahih, Kok Bisa?

Syekh Hasan bin Farhan Al Maliky: Hadis Palsu Dengan Sanad Yang Shahih, Kok Bisa?

SUMBER: http://almaliky.org/subject.php?id=1305

Oleh: Syeikh Hasan bin Farhan al Maliky

KEBOHONGAN DENGAN SANAD YANG SHAHIH!

Yang paling berbahaya bagi kita adalah kebohongan-kebohongan yang sampai kepada kita melalui sanad-sanad yang shahih, dan yang lebih kita sesalkan lagi adalah kebenaran-kebenaran yang sampai pada kita dengan sanad yang dha’if!

Dua perkara ini adalah hasil dari opini umum yang mendominasi di masa lalu, kemudian ini menghasilkan fitnah, menghasilkan budaya di mana seorang pengkhianat diakui sebagai seorang yang terpercaya/jujur, dan sebaliknya seorang yang jujur dianggap pengkhianat, seorang pembohong dipercaya sedangkan seorang yang jujur dianggap pembohong.

Jangan kalian tanyakan padaku tentang contoh-contohnya, karena begitu banyak hadis-hadis dan riwayat-riwayat yang berkaitan dengan sejarah dan selainnya (yang palsu_red).. Kita telah dipermainkan oleh riwayat yang tidak patuh pada standar atau kriteria-kriteria ilmiah secara umum.

Permasalahan masyarakat umum adalah satu hal, mulanya dalam berbincang mereka mengatakan “berilah satu contoh pada kami”, mereka mengira bahwa bersikap adil/jujur itu adalah hal yang sederhana, seribu contoh pun tidak akan bisa mengubah kepercayaan mereka terhadap hal-hal palsu yang sudah terpatri dalam pikiran mereka, (karena) kebohongan-kebohongan yang diriwayatkan dengan sanad-sanad yang shahih itu telah memenuhi banyak kitab (kitab-kitab rujukan_red),

Karena penshahihan (maksudnya penshahihan hadis_red) adalah cabang dari pen-tsiqahan/tautsiq (tautsiq dari kata “tsiqah”, Dalam ilmu hadis orang/perawi yang disebut tsiqah artinya orang/perawi yang terpercaya), dan pen-tsiqah-an kebanyakan adalah “pen-tsiqah-an karena motif kemazhaban” demi untuk menjaga mazhab, golongan dan pendapat mazhab, dan hal ini masih berlanjut sampai sekarang. (maksudnya para ulama dalam menilai keshahihan hadis, atau kejujuran/tsiqah-nya seorang perawi hadis sangat banyak dipengaruhi oleh sentimen kemazhaban (tidak obyektif) dan sikap ini tetap berjalan sampai sekarang _red).

Seperti halnya jarah/pencacatan (dalam ilmu hadis ada istilah “jarah dan Ta’dil”, yang menilai cacat, kelemamahan dan kekurangan perawi disebut “jarah” sementara yang menilai kebaikan, kejujuran atau keutamaan seorang perawi disebut “ta’dil” _red) sangat kental pengaruh mazhab dalam menilai cacatnya seorang perawi, di mana seorang ahli hadis mencacat seorang perawi dari golongan lain dan meninggalkan riwayat-riwayatnya (jadi tidak melihat jujur tidaknya seorang perawi tersebut atau baik buruknya perawi tersebut, melainkan mereka melihat dari sudut mazhab/golongan perwai tersebut, mereka menolak/mencacat perawi tersebut jika didapati mazhabnya atau akidahnya berbeda _red) sampai terjadilah persilangan besar antar madzhab dan golongan pada abad ke-4.

Saya tidak akan berpanjang-panjang, saya akan menyebutkan satu atau dua contoh, yang jelas orang pada umumnya tidak akan merasa cukup walau kita sajikan seribu contoh, sementara untuk mendhaifkan/melemahkan lawan (yang dimaksud mendhaifkan hadis-hadis dari perawi yang berbeda mazhab_red) mereka cukup hanya dengan setengah kebohongan atau setengah contoh.

Kita serahkan permasalahan ini pada Allah.

Diantara kebohongan-kebohongan yang diriwayatkan dengan sanad-sanad yang shahih tersebut adalah apa yang diriwayatkan oleh Imam Abu Bakar bin Abi Syaibah dalam Musnaf-nya (7 – 529):

“Telah menceritakan kepada kami Ghundar dari Syu’bah dari Sa’ad bin Ibrahim bahwa ia mendengar ayahnya berkata: “Aku melihat Abdurrahman bin Auf dicukur rambutnya di Mina dan ia menangis, ia berkata: Aku tidak pernah khawatir untuk menetap sampai Usman terbunuh!

Sanad riwayat ini shahih dengan syarat Syaikhain (Bukahri dan Muslim)! Namun riwayat ini palsu, karena Abdurrahman bin Auf meninggal beberapa tahun sebelum Utsman dan ini berdasarkan ijma’, tujuan riwayat ini adalah untuk membuktikan bahwa tidak terjadi perselisihan antara Utsman dengan Abdurrahman! Dan orang yang membaca sejarah tentu mengetahui bahwa antara Abdurrahman bin Auf dengan Utsman bin Affan telah terjadi perselisihan yang begitu besar, karena Abdurrahman memandang bahwa Utsman telah melanggar persyaratan baiat Syura (waktu pengangkatan Utsman _red). Dan banyak orang memprotes dan mencela Abdurrahman bin Auf karena dia pimpinan yang mengatur jalannya Syura (pembaitan Khalifah _red) dan menetapkan syarat kepada Utsman (yang terpilih sebagai khalifa _red) agar mengikuti sunnah (jalan) Syaikhain (Abu Bakar dan Umar), dari sinilah keduanya kemudian berselisih.

Perselisihan antara Abdurrahman bin Auf dengan Utsman bin Affan dicatat oleh banyak ulama yang berhati-hati dalam periwayatan, seperti Imam Ahmad misalnya, ia dalam Musnadnya meriwayatkan tentang tuduhan Abdurrahman terhadap Utsman bahwa ia telah meninggalkan sunnah Umar, dan Utsman mengakuinya,  maksudnya di sini adalah bahwa perselisihan antara Utsman dan Abdurrahman bin Auf di enam tahun terakhir dari kepemimpinan Utsman adalah perselisihan yang besar.

Mungkin sebagian keturunan Abdurrahman butuh bekerja dengan Bani Umayyah maka dibuatlah cerita palsu ini (untuk menarik simpati Bani Umayah, karena Utsman dari Bani Umayah _red), dan ketika salah satu keturunannya telah memegang kekuasaan dan menjadi pimpinan maka sulitlah untuk mendhaifkan cerita-cerita palsu ini (yang terlanjur di shahihkan_red), karena orang besar tidak bisa didha’ifkan, khususnya jika mereka kebetulan berjalan sesuai dengan pendapat umum, maka sanadnya menjadi shahih! Ini adalah contoh kasus/kisah yang sederhana.

Percayalah kepadaku, yang bicara dengan sederhana ini, atau mungkin berlebihan, “jarah”/cacat ada di depan kedua mata bagi seseorang yang berani menentang opini umum, dan sangat jarang sekali ada penyelidikan tentang hal yang sudah disepakati bersama (muttafaq alaih).

Contoh lainnya:

Kelompok Zaidiyah memiliki pandangan yang buruk terhadap Utsman, dan mereka memiliki kekuasaan di Kufah pada abad ke-2 dan ke-3, lalu apa penyelesaiannya dari para ahli sanad yang shahih? penyelesaiannya mudah! Mereka hanya perlu membuat riwayat dengan sanad yang shahih bahwa Zaid bin Ali yang lahir empat puluh lima tahun setelah Utsman adalah salah satu dari orang yang meratapi Utsman di hari pembunuhannya!

Abu Bakar bin Hilal Al-Hanbali Jami’ Ulum Ahmad (Jilid 1/465) ia berkata:

Telah menceritakan kepada kami Abdul Malik, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Hanbal, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Waki’ dari Fithr, dari Zaid bin Ali, ia berkata: “Zaid menangisi Utsman pada hari pembunuhannya.”

Dan demikianlah puluhan, ratusan, bahkan ribuan riwayat tersebar dengan bentuk yang sama.
Seandainya jika bukan karena berdasarkan ijma’ Abdurrahman (bin Auf) meninggal sebelum Utsman, dan Zaid bin Ali tidak lahir setelah Usman, tentu kita tidak akan bisa mendha’ifkan kebohongan-kebohongan (riwayat ini) yang diriwayatkan dengan sanad yang shahih.

Pertanyaannya: Betapa banyak kebohongan yang diriwayatkan dengan sanad yang shahih yang tidak mampu kita dha’ifkan dikarenakan zaman tidak membantu kita untuk mendha’ifkannya dengan mudah seperti yang kita lakukan sekarang? Lalu apa solusinya? Solusinya ada dalam pengkajian ulang terhadap orang-orang yang diakui tsiqah (jujur) dan orang-orang yang didhaifkan (dianggap tidak tsiqah) sampai kita letakkan standar atau kriteria-kriteria untuk menguji ketetapan para ahli hadis atasnya, apakah ia shahih atau tidak?

Ini adalah proyek budaya yang besar, ini proyek buat umat, namun umat sudah puas dengan khayalan/ilusi mereka, dan mereka tidak akan sampai pada khayalan menyenangkan ini kecuali dengan keletihan yang besar, dan tidak akan pernah mencari sesuatu yang mengganggu perangainya.

Kesenangan terhadap ketidak-tahuan (kejahilan) -menurut ustadz Ibrahim Al-Bulaihi adalah selama ia berada dalam titik terkuatnya; umat akan merasa puas dan senang sekali dengan kelesuan yang mendalam ini!

__________________

أكاذيب بأسانيد صحيحة

المصدر

http://almaliky.org/subject.php?id=1305

بقلم الشيخ حسن بن فرحان المالكي

أكثر ما يضرنا هي تلك الأكاذيب التي تصلنا بأسانيد صحيحة؛ وأكثر ما نخسره هي تلك الحقائق التي تصلنا بأسانيد ضعيفة! والأمران جاءا نتيجة رأي عام ساد في الماضي؛ ثم أحدث فتنة؛ وهي أنتجت ثقافة يُؤتمن فيها الخائن ويُخون الأمين، ويُصدّق الكاذب ويُكذّب الصادق.
لا تسألوني عن الأمثلة؛ فهي ملء السمع والبصر، من أحاديث وروايات تاريخية وغيرها..
لعبت بنا الرواية التي لم تخضع لمعايير علمية في الغالب.
العامة مشكلتهم مشكلة؛ ففي بداية أي حوار يقولون اعطنا مثالاً واحداً،! يظنون الإنصاف سهلاً؛ ثم لا يزعزع ثقتهم بالأوهام التي في عقولهم ألف مثال؛ الأكاذيب المروية بأسانيد صحيحة تملأ الكتب؛ لأن التصحيح فرع التوثيق؛ والتوثيق – في معظمه – توثيق مذهبي يراعي الجماعة وآراءها؛ وهو باق إلى اليوم؛ كما أن الجرح فرع مذهبي أيضاً. جرح رجال الجماعات الأخرى وهجر مروياتها حتى أصبح الانقطاع التام بين المذاهب والجماعات مع القرن الرابع.
لن أطيل؛ سأذكر مثالاً أو مثالين واضحين، وإن كانت العامة لا يكفيها ألف مثال؛ بينما يكفيها في تضعيف الخصوم نصف كذبة أو نصف مثال.
أمرنا لله.
من تلك الأكاذيب المروية بأسانيد صحيحة؛ ما رواه الإمام أبو بكر بن أبي شيبة في مصنفه [ 7 – 529 ] : حدثنا غندر عن شعبة عن سعد بن إبراهيم أنه سمع أباه قال رأيت عبد الرحمن بن عوف بمنى محلوقا رأسه يبكي؛ يقول ما كنت أخشى أن أبقى حتى يقتل عثمان)!
فالسند صحيح على شرط الشيخين! ولكن الرواية باطلة منكرة، لأن عبد الرحمن بن عوف مات قبل عثمان بسنوات؛ وبالإجماع؛ والهدف منها إثبات أنه لم يحدث خلاف بين عثمان وعبد الرحمن! ومن قرأ التاريخ يعرف أن الخلاف بين عبد الرحمن بن عوف وعثمان بن عفان كان شديداً، لأن عبد الرحمن رأى أن عثمان قد نقض شرط بيعة الشورى. وكان الناس يحرجون عبد الرحمن بن عوف بكثرة معاتبتهم له لأنه كان هو الذي أدار الشورى واشترط على عثمان السيرة بسيرة الشيخين، ومن هنا اختلفا.
واختلاف عبد الرحمن بن عوف وعثمان أثبته أكثر المتحرجون، كالإمام أحمد مثلاً؛ فروى في المسند اتهام عبد الرحمن لعثمان بترك سنة عمر وأقر عثمان؛ المقصود هنا؛ أن خلاف عثمان وعبد الرحمن بن عوف في آخر ست سنوات من خلافة عثمان كان كبيراً، فربما احتاج بعض أحفاده للعمل مع بني أمية فوضع هذا؛ وبما أن ذلك الحفيد قد تولى القضاء وصار له زعامة وأصبح من الصعب تضعيفه، فالكبار لا يُضعفون، وخاصة إذا ساروا مع الرأي العام، فصح الإسناد!
هذه هي القصة ببساطة.
صدقوني تحدث بهذه البساطة، وربما أكثر. فالجرح مفتوح العينين على من خالف الرأي العام، ومن النادر جداً فحص المتفق معه.
مثال آخر:
بما أن الزيدية كان لهم رأي سيء في عثمان، وكان لهم صولة في الكوفة في القرن الثاني والثالث، فما الحل عند أهل الأسانيد الصحيحة؟
الحل سهل!
أن يضعوا رواية بإسناد صحيح بأن زيد بن علي المولود بعد عثمان بخمس وأربعين سنة كان من الباكين على عثمان يوم الدار! أي يوم مقتله!
اقرأ: في السنة لأبي بكر بن الخلال الحنبلي جامع علوم أحمد – (ج 1 / 465) قال: حدثنا عبد الملك ، قال : ثنا أحمد بن حنبل ، قال : ثنا وكيع عن فطر ، عن زيد بن علي ، قال : « كان زيد يوم الدار يبكي على عثمان » انتهى.
وهكذا؛ عشرات بل مئات بل آلاف الروايات تسير على هذا النحو.
لو لم يمت عبد الرحمن قبل عثمان – إجماعاً – ولو لم يولد زيد بن علي بعد عثمان- إجماعاً – لما استطعنا تضعيف هذه الأكاذيب المروية بأسانيد صحيحة. والسؤال:
كم من الأكاذيب المروية بأسانيد صحيحة لا نستطيع تضعيفها لأننا تورطنا بأن زمنها لا يساعدنا على تضعيفها براحة تامة كما أفعل الآن؟
الحل ما هو؟
الحل في البحث؛ في الشك في صدق الموثقين؛ والشك في ضعف الضعفاء؛ حتى نضع معايير لاختبار أحكام أهل الحديث عليهم؛ هل هي صحيحة أم لا؟
وهذا مشروع ثقافي كبير؛ هو مشروع أمة؛ ولكن الأمة مغتبطة بالأوهام، ولم تحصل على هذه الأوهام المريحة إلا بتعب شديد؛ ولن تبحث عما يعكر مزاجها.
الغبطة بالجهل – حسب تعبير أستاذنا إبرهيم البليهي – مازال على أشده؛ الأمة مرتاحة جداً من هذا السبات العميق

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s