Kitab Kasyfu asy Syubuhat Doktrin Takfir Wahhabi Paling Ganas (16)

Setelah pembicaraan panjang ini mari kita kembali membicarakan masalah syafa’at yang menjadi bahasan inti dan dasar kunci vonis musyrik yang dijatuhkan Ibnu Abdil Wahhab atas sesiapa yang memintanya kepada Nabi saw. atau seorang hamba pilihan Allah.

Syafa’at Antara Faham Sekte Wahhabiyah Dan Islam

Di antara syubhat Sekte Wahhabiyah yang dengannya mereka menvonis kafir dan musyrik seluruh umat Islam (selain kelompok mereka) dan menghalalkan darah-darah dan harta-harta mereka adalah tuduhan bahwa kaum Muslimin menyembah kuburan dengan mengagungkan, menghormati, menciuam batu nisan atau menggusapnya, berdoa di sisinya, meminta syafa’at kepada mereka dll. Dan ini semua (kata kaum Wahhabiyah) adalah kemusyrikan dan penyembahan selain Allah SWT…

Anggapan mereka itu sebenarnya tidak berdasar, para ulama Islam baik Ahlusunnah maupun Syi’ah telah menjelasakan dasar-dasar praktik dan keyakinan mereka yang tidak sedikitpun mengandun unsur kemusyrikan seperti yang dutuduhkan Ibnu Abdil Wahhab dan para pengikutnya; kaum Wahhabi.

Akan tetapi, kali ini mari kita telaah keyakinan mereka tentang syafa’at dan dasar-dasar syubhat yang dengannya mereka memvonis kafir dan musyrik sesiapa yang meminta syafa’at kepada Nabi Muhammad saw. atau kepada seorang dari hamba pilihan dan kekasih Allah SWT. dengan mengatakan, misalnya, ‘Wahai Rasulullah, berilah aku syafa’atmu’ atau ‘Wahai Rasulullah jadilah engkau sebagai pemberi syafa’atmu’. Sebab dalam angapan Sekte Wahhabiyah, yang demikian itu sama dengan menyekutukan Allah, dalam permohonan dan penyembahan, du’a’un wa ibadatun. Yang benar dan sesuai dengan kemurnian Tauhid adalah kita memohon kepada Allah agar Dia menjadikan atau memperkenankan Nabi Muhammad saw. menjadi pemberi syafa’at untuk kita, dengan menggakata, ‘Ya Allah, jadikan Muhammad sebagai syafî’an (pemberi syafa’at) untukku’!

Hakikat Syafa’at

Meminta Syafa’at dari para nabi dan kaum Shalih atau para malaikat yang dikabarkan Allah bahwa mereka itu mempunyai kedudukan di sisi-Nya adalah hal terlarang dalam keyakinan kaum Wahhabiyah dan dikategorikan syirik. Demikian ditegaskan Ibnu Abdil Wahhabi dalam banyak kesempatan, di antaranya dalam Risalah Arba’u al Qawâid-nya dan juga pada beberapa tempat dalam kitab Kasyfu asy Syubuhât-nya, seperti Anda dapat baca sebelumnya.

Dan mereka yang meminta-minta syafa’at dari nabi atau malaikat atau seorang yang shaleh sama dengan kaum musyirkun yang menyembah berhala dan arca…. Apa yang mereka lakukan itu sama dengan praktik kaum Musyrikun yang karenanya Rasulullah saw. memerangi dan menghalalkan darah-darah mereka. Maka demikian juga dengan kaum muslimin yang melakukan praktik yang sama dengan kaum Musyirkun, halah darah-darah mereka untuk dicucurkan dan harta-harta mereka untuk dirampas, sawâan bisawâin.

Dengan keterangan lain bahwa: Meminta syafa’at kepada Nabi saw.adalah ibadah,penyembahan kepadanya! Dan setiap pnyembahan kepada selain Allah adlah syirik!

Adapun keharusan menghindarkan diri dari syirik ialah dikarenakan kita harus mentauhidkan Allah dalam penyembahan sebagaimana wajib mentauhidkan Allah dalam penciptaan, Khâliqiyyah dan Râziqiyah (pemberian rizki). Adapaun alasan untuk poin pertama, ialah bahwa kemusyrikan kaum kafir yang dihadapi Nabi saw.adalah dikarenakan mereka meminta-minta syafa’at kepada acra dan berhala dengan dalil firman Allah:

وَ الَّذينَ اتَّخَذُوا مِنْ دُونِهِ أَوْلِياءَ ما نَعْبُدُهُمْ إِلاَّ لِيُقَرِّبُونا إِلَى اللَّهِ زُلْفى

Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah (berkata):” Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya”. (QS. Az-Zumar: 3).

Dan Firman Allah yang lain:

وَ يَقُولُونَ هؤُلاءِ شُفَعاؤُنا عِنْدَ اللَّهِ

Dan mereka berkata:” Mereka itu adalah pemberi syafaat kepada kami di sisi Allah”. (QS. Yunus: 18)

*****

Dan ketika mengajarkan para pengikutnya cara berdebat, Ibnu Abdil Wahhab mendoktrinkan demikian:

Maka jawablah sanggahan semacam ini dengan yang telah kami sebutkan yaitu; orang-orang yang diperangi oleh Rasul Saw juga mengakui hal yang sama dan mengakui bahwa arca-arca mereka tidak berfaedah apa-apa dan mereka hanya bermaksud kedudukan dan syafaat, lalu bacakanlah kepadanya kitab Allah dan jelaskanlah. (Kasyf asy Syubuhât:49) kemudian ia mengajarkan beberapa ayat yang diarahkannya untuk menyamakan praktik kaum Musyrikun dalam penyembahan terhadap sesembahan mereka dengan praktik kaum Mulsimin dalam memohon syafa’at kepada para nabi as., misalnya.

Di sini, kita perlu menyelami makna ayat-ayat tersebut agar tidak terjatuh dalam keselah-pahaman seperti yang dialami Ibnu Abdil Wahhab dan para pengikutnya.

Dua Ayat Syubhat Kaum Wahhabiyah

Ayat Pertama: Ayat 18 Surah Yunus:

Allah SWT berfiman:

وَ يَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ ما لا يَضُرُّهُمْ وَ لا يَنْفَعُهُمْ وَ يَقُولُونَ هؤُلاءِ شُفَعاؤُنا عِنْدَ اللَّهِ قُلْ أَ تُنَبِّئُونَ اللَّهَ بِما لا يَعْلَمُ فِي السَّماواتِ وَ لا فِي الْأَرْضِ سُبْحانَهُ وَ تَعالى‏ عَمَّا يُشْرِكُونَ.

“Dan mereka menyembah selain dari pada Allah apa yang tidak dapat mendatangkan kemudaratan kepada mereka dan tidak(pula) kemanfaatan, dan mereka berkata:”Mereka itu adalah pemberi syafaat kepada kami di sisi Allah”. Katakanlah:” Apakah kamu mengabarkan kepada Allah apa yang tidak diketahui-Nya baik di langit dan tidak(pula)di bumi” Maha Suci Allah dan Maha Tinggi dari apa yang mereka mempersekutukan (itu).

Ketarangan:

Pertama: Jelas sekali bahwa ayat di atas tidak dapat dijadikan dasar atas sybuhat mereka, sebab ia telah menegaskan bahwa yang menyebebkan kemusyrikan mereka bukanlah tasyaffu’ (meminta syafa’at). Dan penyembahan (ibadah) mereka bukanlah tasyaffu’ mereka. Ayat di atas menerangkan kepada kita bahwa ada dua praktik yang dijalankan kaum Musyrikun yang tidak boleh kita campur adukkan antara keduannya:

Pertama, penyembahan terhadap berhala-berhala dan acra-arca, yang Allah sebutkan dengan firman-Nya:

وَ يَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ……

Dan mereka menyembah selain daripada Allah…. “

kedua, beratasyaffu’ dan meyakini bahwa mereka (sesembahan selain Allah itu) adalah pemberi syafa’at untuk mereka. Dan praktik atau keyakinan kedua ini yang disebutkan dengan friman-Nya:

يَقُولُونَ هؤُلاءِ شُفَعاؤُنا عِنْدَ اللَّهِ

“Mereka itu adalah pemberi syafaat kepada kami di sisi Allah”.

Kalimat kedua yang menunjukkan keyakinan tersebut: َيَقُولُونَ هؤُلاءِ يَقُولُونَ هؤُلاءِ شُفَعاؤُنا عِنْدَ اللَّهِ di’athafkan (digandengkan) dengan kalimat sebelumnya: وَ يَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ……dengan huruf ’athaf waw (وَ). Dan hal ini bukti nyata bahwa ia adalah dua hal yang berbeda, sebab seperti ditetapkan dalam kaidah bahasa Arab. Setiap kata atau kalimat yang di’athafkan kepada kata atau kalimat lain itu berarti keduanya berbeda. Ia adalah dua hal yang berbeda!

Maka dengan demikian dapat dimengerti bahwa penyembahan mereka bukan dalam bentuk permohonan syafa’at (tasyaffu’),akan tetapi dengan bersujud kepadanya, dan menyekutukannya dengan Allah dalam penyembahan/ibadah. Kenyataan ini sangat jelas sekali dari pembukaan ayat:

وَ يَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ

Dan mereka menyembah selain daripada Allah…

Mereka benar-benar menyembahnya dam menyekutukan Allah SWT dengannya.

Jadi apa yang mereka praktikkan buklan sekedar menjadikan sesembahan mereka itu sebagai syfa’â’ (pembei syafa’at).

Adapun firman:

ما لا يَضُرُّهُمْ وَ لا يَنْفَعُهُمْ

“…apa yang tidak dapat mendatangkan kemudaratan kepada mereka dan tidak(pula) kemanfaatan… “ adalah bukti kuat bahwa mereka menjadikan bebetuan dan patung sebagai sesembahan dan meyakininya maampu memberikan apa yang mereka minta, berupa pertolongaan, syafa’at, sementara Allah tidak memberikaannya hak dan kemampuan untuk itu!

Kedua: Adalah berbeda antara dua model praktik dam keyakinan dalam beristisyfâ’ (permohonan syafa’at)antara yang dijalankan kaum Musyrik dengan yang diyakini dan dipraktikkan kaum Muslimin… Ketika beristisyfâ’, kaum Musyrik itu meyakini bahwa aasesembahan (arca) mereka itu adalah rabb (tuhan) mâlik (pemilik muthlak) hak memberi syafa’at… mereka meyakini bahwa sesembahan mereka itu mampu memberikan syafa’at untuk sesiapa yang mereka kehendaki dan kapankun mereka kehendaki, dengan atau tanpa restu dan izin Allah SWT. karena itu Allah mengecam akidah seperti itu!

Allah berfirman:

قُلْ لِلَّهِ الشَّفاعَةُ جَميعاً .

“Katakanlah:” Hanya kepunyaan Allah syafaat itu semuanya.” (QS. Az Zumar [39];44(

Sementara itu, kaum Muslimin tidak meyakini kayakinan seperti itu terhadap para nabi, para wali yang diyakini memiliki hak syafa’at. Semua dengan seizin Allah ddan atas ketentuan Allah dan restu-Nya…. Kaum Muslimin yang bertasyaffu’ tidak sebodoh kaum Musyirik, sementara mereka membaca ayat-ayat Al Qur’an siang malam:

مَن ذَا الَّذِيْ يَشْفَعُ عِنْدَهُ إِلاَّ بِإِذْنِهِ

“Tidak ada orang yang dapat memberi syafaat di sisi-Nya tanpa seizin-Nya.’ (QS. Al Baqaraah [2];255)

dan dengan perbedaan yang mendasar ini bagaimana Imam besar Waahhabiyah menyaamakan antara kaum Muslimin yang mengesakan Allah dengn kaum Msuyrik yang menyekutukan Alllah dengan selain-Nya?!

Bukti bahwa kaum Musyrikun berkeyakinan bahwa arca dan sesembahan mereka memiliki haak syafa’at dengan tanpa seizin Allah adalah:

A) Adanya penekanan yang begitu besar dalam Al Qur’an melalui ayat-ayatnya bahwa pmberiaan syafa’at oleh para pemberinya itu disyaratkan harus adanya izin dan restu dari Allah SWT.

Coba perhatikan ayat-ayat di bawah ini:

1) Ayat 255 surah al Baqarah:

مَن ذَا الَّذِيْ يَشْفَعُ عِنْدَهُ إِلاَّ بِإِذْنِهِ

“Tidak ada orang yang dapat memberi syafaat di sisi-Nya tanpa seizin-Nya.’

2) Ayat 3 surah Yunus:

ما مِنْ شَفيعٍ إِلاَّ مِنْ بَعْدِ إِذْنِهِ .

“Tiada seorang pun yang akan memberi syafaat kecuali sesudah ada izin- Nya.”

3) Ayat 109 surah Thâha:

يَوْمَئِذٍ لا تَنْفَعُ الشَّفاعَةُ إِلاَّ مَنْ أَذِنَ لَهُ الرَّحْمنُ وَ رَضِيَ لَهُ قَوْلاً.

 

“Pada hari itu tidak berguna syafaat, kecuali ( syafaat ) orang yang Allah Maha Pemurah telah memberi izin kepadanya, dan Dia telah meridai perkataannya.”

4) Ayat 26 surah an Najm:

وَ كَمْ مِنْ مَلَكٍ فِي السَّماواتِ لا تُغْني‏ شَفاعَتُهُمْ شَيْئاً إِلاَّ مِنْ بَعْدِ أَنْ يَأْذَنَ اللَّهُ لِمَنْ يَشاءُ وَ يَرْضى‏.

“Dan berapa banyaknya malaikat di langit, syafa’at mereka sedikit pun tidak berguna kecuali sesudah Allah mengizinkan bagi orang yang dikehendaki dan diridai (Nya).”

5) Ayat 28 surah al Anbiyâ’:

وَ لا يَشْفَعُونَ إِلاَّ لِمَنِ ارْتَضى‏ .

“… dan mereka tiada memberi syafaat melainkan kepada orang yang diridai Allah… “

B) Penekanan Al Qur’an bahwa arca-arcaa yang mereka sembah itu tidak memiliki hak syafa’at… Allah lah pemilik syafa’at itu!

Perhatikan ayat-ayat di bawah ini:

1) Ayat 86 surah az Zukhruf:

وَ لا يَمْلِكُ الَّذينَ يَدْعُونَ مِنْ دُونِهِ الشَّفاعَةَ إِلاَّ مَنْ شَهِدَ بِالْحَقِّ وَ هُمْ يَعْلَمُونَ.

Dan sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah tidak dapat memberi syafaat; akan tetapi (orang yang dapat memberi syafa’at ialah) orang yang mengakui yang hak (tauhid) dan mereka meyakini (nya) .

2) Ayat 87 surah Maryam:

لا يَمْلِكُونَ الشَّفاعَةَ إِلاَّ مَنِ اتَّخَذَ عِنْدَ الرَّحْمنِ عَهْدا.

“Mereka tidak berhak mendapat syafaat kecuali orang yang telah mengadakan perjanjian di sisi Tuhan Yang Maha Pemurah.”

Dari ayat-ayat di atas tampak jelas bahwa syafa’at adalah hak murni Allah SWT dalam mengertian bahwa Allah pemiliknya, dan siapapun yang telah diberi hak Allah untuk memberlakukan hak syafa’at tersebut haruslah memberlakukannya dengan izin dan restu/ridha Allah! Berdeba dengan keyakinan kaum Musyrikun, di mana mereka meyakini bahwa sesembahan mereka dapat memberikan syafa’at tanpa seizing Allah SWT.

Jadi tanpa penganugrahan hak tersebut kepada seseorang, tidak mungkin ia memiliki hak syafa’at. Dan tanpa seizin Allah, pemilik syafa’at itu tidak akan diperbolahkan memberlakuakan dan memberikan syafa’at untuk siapapun!

Adapun angapaan yang diyaakini Ibnu Abdil Wahhab, bahwa Allah telah memberikan kepada nabi-Nya hak syafa’at akan tetapi Dia melarang kita untuk meminta syafa’at darinya adalah sangat aneh! Sebab tidak ada satu ayat atau hadis shshih pun yang menyebutkan adanya larangan itu! Selain itu, anggapan seperti itu persis dengan seorang raja yang memberikan air minum di musim kekeringan kepada seoraang kepercayaannya akan tetapi ia melarang warganya yang kehausan untuk meminta setetes air darinya! Atau seperi Allah SWT memberikan telaga Kautsar tetapi Allah melarang kita untuk meminta dari Nabi saw. agar berkenan memberikan minum untuk kita dari telaga tersebut!

Adapun anggapan Ibnu Abdil Wahhab bahwa dengan meminta syafa’at dari Nabi saw. atau para kekasih Allah itu sama dengan menyeru selain Allah dan menodai kemurnian tauhid, maka akan kita bahas nanti ketika meneliti ayat ketiga yang ia jadikan dalil.

Ayat Kedua: Ayat 3 surah az Zumar:

وَ الَّذينَ اتَّخَذُوا مِنْ دُونِهِ أَوْلِياءَ ما نَعْبُدُهُمْ إِلاَّ لِيُقَرِّبُونا إِلَى اللَّهِ زُلْفى

Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah (berkata):” Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya”.

(Bersambung)

 

2 Tanggapan

  1. Dari penjelasan bapak dapat saya simpulkan pada dasarnya syafaat itu mutlak milik allah tapi allah memberikan hak pada nabi muhamad saw buat memberikan pada umatnya. gitu ya pak?

    _____________________
    Abu Salafy:

    Benar! Dan selanjutnya ikuti terus ulasan kami tentang syafa’at dan kenaifan Imam Besar Wahhabi.

  2. @abu salafy

    Tulisan dan analisa yang bagus, saya puas membaca ulasan bapak diatas.

    matur nuwun yang banyak pak abu atas penecerahannya, semoga Allah SWT membalasmu. Amin

    pesan saya, yang sabar aja melayani pembaca yang berkomentar kasar dan dan tidak islami. jangan terpancing emosi, teladani dakwah Nabi pembawa rahmat, yang walaupun diolok-olok dan dikurangajari kuffar quraisy tetap sabar.

    __________________
    Abu Salafy:

    Terima kasih mas atas dukungannya. Mudah-mudahan kami diberi kesabaran dan taufiq untuk terus berjuang demi agama.
    Jangan lupa ikuti terus ulasan di sini.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s