Tuhan Wahhabi Ternyata Tidak Betah Bersemayam di Atas Arsynya

Kaum Wahhâbiyah Mujassimah telah bersusah payah membuktikan bahwa tuhan mereka bersemayam di atas Arsynya… sampai-sampai mereka tidak segan-segan mengafirkan yang tidak meyakininya.

Arys/singasananya berbentuk seperti qubah… ia singgasana berpayung… ia berada di atas langit-langit, dan karena beratnya bobot tuhan maka ia berbunyi seperti kendaraan/kereta yang keberatan muatan, kriet…. kriet!![1]

Kata kaum Mujassimah, di atas langit ke tujuh terdapat lautan yang jarak antara bawah dan atasnya seperti jarak antara langit dan bumi… Allah berada di atasnya….[2]

Ketika duduk/bersemayam di atas Arsynya, Allah sambil meletakkan kedua kakinya di atas al kursi. Al kursi adalah tempat untuk meletakkan kaki ketika tuhan sedang duduk di atas singgasana! Demikian kaum Mujassimah memperkenalkan tuhan mereka kepada kita melalui riwayat yang mereka yakini, misalnya riwayat dari Ibnu Abbas ra.:

كرسيه موضع قدميه، و العرش لا يقدر قدره.

‘Kursinya adalah tempat kedua kakinya. Adapun arsy, ia tidak dapat diperkirakan.”

Al Kursi/tempat tuhan kaum Mujassimah meletakkan kakinya itu meliputi langit-langit dan bumi… dan ia juga seperti nasib Arsynya, mengalami kelebihan bobot muatan sehingga mengeluarkan suara “kriet… kriet”, athîth… Kaum Mujassimah meriwayatkan bahwa Nabi saw. bersabda:

إنّ كرسيَّه وسع السماوات و الأرض، و إنَّ له أطيطًا كأطيطِ الرحلِ الجديد إذا رُكِبَ من ثقلِهِ.

“Sesungguhnya Kursi tuhan meliputi langit-langit dan bumi. Dan ia memiliki bunyi “kriet” seperti bunyi kendaraan yang baru apabila dinaiki karena beratnya beban muatan.”

Dalam hadis lain mereka juga meriwayat:

إذا جلس تبارك و تعالَى على الكرسي سُمِعَ له أطيطٌ كأطيطِ الرحلِ.

“Apabila tuhan yang maha berkah dan maha tinggi duduk di atas kursi maka terdengar suara athith (kriet) seperti suara krietnya kendaraan.”

Setelah kaum Wahhâbiyah; agen Mujassimah Modern bersusah-payah untuk membuktikan bahwa tuhan mereka bersemayam di atas Arsynya dengan memperkosa pemaknaan ayat-ayat suci Al Qur’an dan menjungkir-balikkan pengertian hadis-hadis bahkan juga tidak jarang dengan terpaksa mereka memalsu hadis atau pernyatan para ulama Salaf… setelah mereka memaksa tuhan agar bersemayam dan mau duduk manis di atas Arsynya sambil meletakkan kedua kaki di atas al Kursi dengan sopan… setelah semua itu, ternyata tuhan kaum Wahhâbiyah Mujassimah tidak betah bersemayam di atas Arsynya! Sebab banyak pekerjaan yang harus diselesaikannya… untuk mengurus urusan hamba-hambanya!!

Tuhan kaum Wahhhabiyah lebih memilih turun untuk menabur pesona ampunan untuk hamba-hambanya… di setiap malam, tuhan Wahhâbiyah ronda keliling bumi sampai sepertiga malam sambil berseru, “Adakah hamba yang menyeruku, lalu aku akan penuhi permintaanya.”

Mungkin, ketika berkeliling itu, tuhan kaum Wahhâbiyah Mujassimah Taimiyah mengendari seekor nyamuk kecil yang siaap membawanya terbang ke manapun tujuan yang dikehandakinya…. Tentunya hal demikian jika dikehadaki Allah…

Ibnu Taimiyah –Bapak kaum Mujassimah Wahhâbiyah- berkata:

ولو قد شاء لاستقر على ظهر بعوضة فاستقلت به بقدرته ولطف ربوبيته .

“Jika Allah berkehendak, pastilah Dia bersemayaam di atas punggung seekor nyamuk lalu ia terbang membawa-Nya dengan kekuasan dan kelembutan pengaturan-Nya.”[3]

Dan ketika malam memasuki bagian akhir (sepertiga malam terakhir), tuhan Wahhâbiyah hendak kembali brsemayam di Asyrnya… tapi niatan untuk kembali bersemayam itu terpaksa ia batalkan, karena di eblaajan bumi sebelah sana matahari mulai terbenam pertanda malam telah tiba, dan ia pun harus turun ke sana untuk menabur pesona maghfirah dan pemenuhan hajat setiap hamba yang menyeru!

Demikianlah seterusnya setiap malam… tuhan kaum Wahhâbiyah Mujassimah hanya berkeliling tanpa sempat bersemayam di atas Arysnya yang telah disiapkan kaum Wahhâbiyah dalam ilustrasi sesat mereka! Sebab di setip sejengkal bumi tertentu pada setiap sa’atnya pasti sedang berada di waktu malam…. Malam di sini, di sana siang…. Siang di sini, di sana malam…. Jadi keberadaan malam tidak pernah kosong dari bola bumi yang kita tingggali ini… jadi apabila tuhan Wahhâbiyah setiaap malamm keliling, itu artinya jelas, tuhan merka tidak pernah berhenti berkeliling tanpa sempat bersemayam di Arsynya.

Sungguh sia-sia segenap usaha kaum Wahhâbiyah Mujassimah untuk memaksa tuhan mereka bersemayaam di atas Arysnya.

Demikian mereka hendak memperkenalkan Allah SWT kepada umat manusia… inilah Allah, Tuhan yang diserukan Muhammad saw. agar diesakan dalam penyembahan!

Dan jika apa yang saya sebutkan tentang tuhan kaum Wahhâbiyah Mujassimah ini dianggap mengada-ngada maka saya persilahkan para pembaca ke buku-buku yang mereka tulis… Dan bagi kaum Wahhâbiyah yang sedang dipermalukan di sini… jika kalian keberatan, tolong buktikan bahwa akidah kalian tidak demikian! Dari pernyatan-pernyatan imam-imam besar kalian, Ibnu Taimiyah, Ibnu al Qayyim, Ibnu Abdil Wahhab, Ben Baz (Si alim tuna-netra yang dianugerahi kecerdasan menghafal 9 kitab hadis Ahlusunnah, seperti dibanggakan para pengultusnya) atau Syeikh al Albani “Ahli Hadis Linglung”!!

Dan sebelum saya akhiri makalah ini, saya berharap kaum Mujassimah Modern (Wahhabiyah)mau memaknai hadis di bawah ini, khususnya kata ينزل ربنا:

ينزل ربنا كل ليلة إلى سماء الدنيا حتى يبقى ثلث الليل الأخير، يقول: {من يدعوني فأستجيب له.

Saya berharap teman-teman Wahhâbiyah tidak malu membawakan pemaknaan yang diberikan oleh salah satu saja dari “tokoh-tokoh suci” mereka; mulai Ibnu Taimyah hingga al Albani.

Kami sungguh menantinya untuk kami muat dalam blog kami!

Semoga kita semua diselamatkan dari ksesataan akidah. Amîn Yâ Rabbal ‘Âlamîn.


[1]Demikian digambarkan dalam sebuah hadis yang mereka riwayatkan dari sahabat Jubair ibn Muth’im dalam riwayat Adu Daud,4/232 hadis no.4726 dan Ibnu Abi ‘Âshim dalam kitab as Sunnah:252.

[2]Seperti disebutkan dalam riwayat mereka dari sahabat Ibnu Abbbas ra.

[3] Baca dan buktikan ucapan Ibnu Taimiyah ini dalam kitabnya at Ta’sîs Fi ar Raddi ‘Alâ Asâs at Taqdîs:1/568. Kitab Asâs at Taqdîs adalah karya Imam Fakhruddîn ar Râzi, seorang ulama Ahlusunnah yang sedang dibantah Ibnu Taimiyah.

Abu Salafy berkaata:Saya tidak bisa membayangkan beban berat yang akan dipikul oleh seekor nyamuk malang itu… kalau Arsynya saja mengeluarkan suara athîth seperti yang mereka riwayatkan dan yakini… lalu kira-kira suara apa yang keluar dari mulut mungil nyamuk setelah punggul rapuhnya diduduki tuhannya kaum Wahhabiyah… saya bayangkan mungkin ia menjerit-jerit kesakitan sambil minta tolong dan berkata; ampun tuhan… ampun tuhan, tulang punggunku terasa akan patah. Tolong! Tolong turun segera! Maha suci Allah dari ocehan kaum zindiq yang mengatas-namakan Islam!

37 Tanggapan

  1. masak tuhannya wahabi kalo malem keliling ngojek pake nyamuk. yang benar aja lu abu salep.
    wahai…! kaum wahabi apa betul TUHAN kalian seperti yang digambarkan abu salep itu ?


  2. ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
    ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

    KALO MAU BIKIN BLOG, JANGAN LUPA MASUK SINI: leoxa.com
    (Themenya Keren Abiss & Bisa Pake Adsense)

    ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
    ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
    rame yang udah berpindah daripada blog-blog lainnya ke blog Leoxa.com karena theme yang keren

  3. salam.
    wah Tuhannya kaum wahabi mulai masuk dunia hewan.
    nyamuk sekecil itu dinaiki Tuhan jadi Tuhannya wahabi lebih kecil daripada nyamu

  4. ================
    ================
    NOW AVAILABLE CHRISTIANITY MADE IN MALAYSIA!!!
    ================
    ================
    EVERY CHRISTIAN NOW MUST LEARN ARABIC. THE FIRST LESSON IS SAY “ALLAH” AND NOT “GOD”.
    This is because English language not suitable anymore because the original Bible is in Arabic.

    Get the full story here: http://ckasih.blogspot.com

  5. pak abu_salafy, ini di jogja jam 13.45, berarti tuhannya wahabi sedang ada di langit yang mana????

  6. keren emang Abu Salafy neh….bisa sebegitu detailnya

  7. @udin

    udin gak ngerti maksudte ..

  8. Salam berkenalan mas
    Saya sangat tertarik dg tulisan and diatas. dan saya orang baru. Mungkin setelah topik ini saya akan berkeliling ke-topik2 yg lain ( kendaraannya jauh lbh ringan}.
    Maaf mas klu anda katakan hadis yg di sampaikan oleh kaum Wahabi palsu yakni berpostur sbg kita manusia(walaupun tdk sama) dan mempunyai bobot dan bisa berkeliling (inti dr hadis mereka) dan klu duduk kursinya berbunyi athith. Maka saya ingin tanya.
    1. Dari mana datangnya bunyi gemuruhnya halilintar
    klu bukan dari bunyi athith
    2. Dari mana Tuhannya bisa ketemu ibunda Maria (bukan siti Mariaam lho saya orang islam)

  9. sambungan yg sebelumnya krn salah pencet dan blm dikoreksi.
    – klu tdk berkeliling dipunggung. Krn berkeliling maka
    Tuhan Wahabi ketemu Maria dan jatuh cinta. Lalu kawin tapa nikah dan mendpt anak bernama yesus

  10. Salam to semua…
    Tafakkaru fi kholqillah walaa tafakkaru fi dzatillah…
    Mohon penjelasannya mas Abu…?
    Thanx.

    ___________
    Abu Salafy:

    Dzat Allah SWT tidak mungkin kita bayang-bayangkan…. makanya yang perlu direnungkan adalah ciptaanNya… dengannya kita dapat mengetahui kemaha-Agungan dan kemaha-Besaran Allah.

  11. Mungkin di dunia malaikat gak ada yang jadi pemborong. kalo ada pasti sudah bikin lift…

  12. komentku d delete…dikira melanggar aturan..

    ____________
    -abusalafy-

    Komen yang mana mas? tidak ada komen yang di delete
    tunggu aja semua akan kami tampilkan, kami tidak online
    tiap hari. jadi Mungkin begitu komen anda tidak muncul anda sudah
    berprasangka kami men-delete !

  13. sttingannya d ubah sekarang….d moderasi…
    saya tau..anda lebih paham tentang kebenaran Ahlus Sunnah…

  14. memang sejarah berulang agar bisa menjadi pelajaran bagi orang yg datang sesudahnya

  15. Allah berhirman ” Tdk ada yg setara dg DIA. Ini berarti Allah tdk bisa disamakan dg apa saja S.112. ayat 4
    Kemudian Firman yg lain: Dan kami lebih dekat dari urat leharnya S52 ayat 16. Ini berarti Allah meliputi segala ciptaannya Sekarang mari kita bandingkan apa yg diriwayatkan oleh Imam2 Wahabi. Allah berjisim, punya tempat duduk dan punya tangan. Dg riwayat ini saja berarti Tuhan mereka bukan Allah yg disampaikan oleh rasul. Apakah 2 kalimat syahadah mereka benar. Pertanyaan saya apakah mereka orang2 ISLAM? Saya jd ragu krn tuhan mereka lain dr Tuhan yg disampaikan Rasulullah Khatamin Nabi

  16. kang abu kalau semua yang dibilang wahabi cs itu keliru trus yg benar bagaimana? agar kita dapat penjelasn. seperti dimana allah? arsy itu apa? nuzul itu seperti apa? jadi kita ASWAJA ini tidak jadi bulan2andengan bid’ah dan kafir yang dituduhkan mereka?
    matur uwun sanget sederengipun

  17. makna nuzul didalam hadist menurut para ulama ahlussunnah:

    Abu usman asshobuni (449 h) berkata “”Para ulama ahli hadist telah bersepakat menetapkan TURUNNYA ALLAH KELANGIT DUNIA PAD TIAP MALAMNYA tanpa menyerupakan turunnya dengan mahluk,tanpa perumpamaan, tanpa tanya bagaimana turunnya,tapi justru menetapkan sesuai dengan apa yang diberitakan rasulullahdan memperlakukan kabar shahih dari nabi dengan apa adanya(dzahir hadist) dan menyerahkan ilmunya(serta pertanyaan tentang bagaimananya) kepada allah saja.

    Ibnu Khuzaimah (331 H) berkata: “Pembahasan ttg khabar shahih dari nabi saw tentang TURUNNYA ALLAH SWT KELANGIT DUNIA PADA TIAP MALAM Kami akui dg pengakuan orang yang membenarkan dg hatinya dan mengakui dg lidahnya serta meyakini kabar yang datang dari nabi saw tanpa menggambarkan bagaimana, karena nabi juga tidak menggambarkan segala sesuatu yang berkenaan dengan TURUNNYA ALLAH KELANGIT DUNIA Oleh karena itu kita mengatakan dan membenarkan tanpa memaksakan diri membicarakan tentang kaifiyat dan sifatnya karena Allah dan Rasulnya juga tidak membicarakan hal tsb.

    Imam Syafi’i berkata: “Bahwa ALLAH TURUN KELANGIT DUNIA PADA TIAP MALAMNYA berdasarkan kabar dari rasulullah saw. (minhajul imam syafi’i fil aqidah)

    Saya tidak akan membawakan pendapat dari Imam2 ahlussunnah seperti ibnu taimiyah, ibnu wahhab, dan ibnu alqoyyim karena anda yakin tidak ada imam lain yang berpendapat demikian kecuali mereka (bentuk kedangkalan Abu Salafy dalam beragama)

    Kalimat KEKUFURAN yang di ucapkan abu salafy
    “Dan ketika malam memasuki bagian akhir (sepertiga malam terakhir), tuhan Wahhâbiyah hendak kembali brsemayam di Asyrnya… tapi niatan untuk kembali bersemayam itu terpaksa ia batalkan, karena di eblaajan bumi sebelah sana matahari mulai terbenam pertanda malam telah tiba, dan ia pun harus turun ke sana untuk menabur pesona maghfirah dan pemenuhan hajat setiap hamba yang menyeru! (dan banyak yang semisal pada artikel diatas)
    Ini merupakan lelucon yang tidak lucu yang menjadikan allah sebagai obyek lelucon yang dapat menjadikan pelakunya kafir, karena jika ada orang yang berkata PARA HABAIB MENEBAR PESONA UNTUK MENDAPATKAN AMPLOP DILIPAT DENGAN GAYA SEPERTI JIDDI2 PAKAI JENGGOT LALU DENGAN GAYA KHUSYU’ MENDOAKAN PARA PEMBERI AMPLOP (DAN INI BANYAK TERJADI DIDAERAH SAYA) tentulah abu salafy akan mencak2 bagaimana halnya dengan jika allah yang abu salafy jadikan obyek lelucon? Sungguh ini adalah perkataan kekafiran yang nyata!!! Allah berfirman:
    انما كنا نخوض و نلعب قل ابالله وءاياته و رسوله كنتم تستهزءون. لا تعتدروا قد كفرتم بعد ايمانكم
    “sesungguhnya kami cuma brcanda dan bermain2 Katakan (wahai Nabi) Apakah dg Allah, Ayat2nya,dan Rasulnya kamu selalu berolok-olok (lelucon)? Tidak usah minta maaf, karena kamu telah kafir setelah beriman.”(Attaubah)

    _________________________
    Abu Salafy:

    Alangkah indahnya jika sebelum berbicara tentang agama menadalami terlebih dahulu ajaran agama! Agar tidak sesat dan menyesatkan… setuju kan akhi benthaleb?!

    Anda perlu pahami bagaimana mazhab dan aliran kaum Salaf dalam menyikapi ayat/hadis shifat baru Anda bicara tentangnya!

    Menyebut komentar para ulama Ahlusunnah tidak akan mendukung keyakinan Anda jika tidak Anda fahami dengan benar… tentunya setelah mendapat kepastian bahwa memang benar mereka berkata begitu!

    Ya benthaleb… saya harap jangan lari jauh-jauh menyimpang, jawab dahulu pertanyaan saya dalam tanggapan atas komentar Anda di:

    https://abusalafy.wordpress.com/2008/04/28/membongkar-syubhat-kaum-mujassimah-1/

    sebab kerancuan pehaman Anda bahwa Allah turun adalah far’u (cabang) dari kesalahan Anda dalam masalah yang saya pertanyakan itu! Jadi jawab dulu baru kita lanjutkan berdiskusi.

    Sedangkan kedengkian Anda atas keturunan Nabi saw. itu bukan urusan saya untuk menanggapinya…. sudah tidak perlu ditanggapi lagi, sebab lidah-lidah beracum memang sering menjulur ke jasad-jasad suci untuk menularkan kenajisannya… (ma’af bukan maksud saya menyamakan!!!)

  18. pertanyan kamu tentang ayat2 yang kamu sebutkan tsb juga tidak menunjukkan bahwa allah ada dimana2 karena ayat2 tsb tdk secara tegas menyatakan ttg tempat allah, tapi mungkin karena otak kotor kamuy menjadikan itu hujjah buat menolak ayat yang secara tegas menyatakan bahwa Allah bersemayam diatas arsynya dilangit. Jadi mana mungkin ayat yang telah jelas hendak kamu batalkan dengan ayat yang masih perlu perincian? Seandainya ulama ahlussunnah yang membuat perincian tentu tdk akan menjadi bertentangan sebagaimana jika kamu yang mengedepankan hawa nafsu merincinya!!

    Kamu ngotot saya harus menjawab ini sedangkan ketika kamu saya minta untuk menjelaskan ttg riwayat hakim dan tirmidzi serta para ulama tabi’in ttg hadis yang menurut otak kotor kamu adalah pengkafiran adam as sampai sekarangpun kamu tidak juga menjawabnya??

    Perkataan abu hanifah saya juga sudah bilang ada pada kitab yang kamu pakai rujukan buat menebar fitnah (bukqn kaya habaib yang menebar pesona) tinggal kamu aja mau atau tidak membuka dan membongkarnya !!
    Kamu selalu bilang saya dengki pada turunan nabi, ini juga tebaran fitnah kamu pada saya….yang saya tidak percaya adalah para habib itu adalah turunan nabi dan ketika mereka mendakwakan keturunannya tsb ini yang saya tidak percaya jadi jika kamu tidak mau dibilang bodoh harus bisa menyimak apa yang jadi perkataan orang, atau mungkin memanag kamu hobinya mlintir omongan (sbgmana keahlian kaum syi’ah laknatullah alaihim) sehingga perkataan selalu kamu maknai dengan hawa nafsumu

    ______________
    -Abu Salafy-

    Masalah terbesar yang terjadi di tengah-tengah umat Islam adalah adanya kelompok yang mengaku berpegang teguh dengan Al Qur’an sementara pemahaman mereka tentangnya tidak dapat dipertanggung jawabkan! Contohnya kaum Khawarij yang karena kejahilan mereka (yang ngakunya juga berpegang dengan Al Qur’an) akhirnya mengafirkan Sayyidina Ali (karramallahu wajhahu)… begitu juga dengan kaum Mujassimah yang menggambarkan Allah berpostur sehingga harus butuh ruang untuk tempatnya, sementara tempat itu adalah makhluk-Nya. Jadi apa mungkin Allah harus bertempat di atas atau di dalam tempat yang Dia ciptakan sendiri?! Lalu sebelum Allah SWT menciptakan tempat itu dimana Allah bertempat? Inilah yang harus direnungkan kaum Wahhabiyah?!
    Jadi karena kesalahan berfikir mereka dan karena kedangkalan pemahaman mereka, mereka terjebak dalam kesesatan akidah tentang Allah!!!

    Wan benthaleb, problem Anda terletak pada pemaknaan kata nazala-yanzilu ketika dikaitakan dengan Allah SWT.

    Masalah kaum Mujassimah (seperti juga kaum Wahhabiyah) adalah mereka berusaha memahami setiap teks/kata dalam Al Qur’an dengan arti dzahir apa adanya seperti biasa digunakan dalam bahasa!

    seperti berulang kali saya katakan dan sekarang saya ulangi lagi, kalian mengartikan kataوجه ketika dikaitakn dengan Allah SWT kalian artikan wajah dalam bahawa Indonesia walaupun kemudian kalian embel-embeli dengan tetapi tidak seperti wajah apapun dan siapapaun!

    Yang perlu kalian fahami ialah bahwa tidak semua kata وجه harus diartikan wajah dalam bahasa kita. coba sebagai contoh aja ya benthaleb Anda artikan ayat yang mengatakan kata وجه dengan kata نهار dalam ayat: وجه النهار apa makna kata وجه dalam ayat itu? demikian juga dengan kata ينزل atau إستوى .

    Masalah kedengkian kepada dzurriyah Nabi saw. yang kamu sangkal ya tidak apa-apa! itu hak kamu untuk menyangkal! Tapi ketika menyangkal kamu justru pamer kedengkian dengan meragukan nasab kaum habib alawiyyin keturunan Sayyidina Ali al Uraidhi melalui Sayyidina Ahmad al Muhajir bin Isa an Naqib bin Muhammad ar Rumi bin Ali bin Ja’far ash Shadiq ra.

    Masalah sanad pernyataan Abu Hanifah saya tidak akan memaksa Anda menyebutkannya jika hanya akan membuat malu kelompok Anda saja, sebab Anda telah menyadari kelemahannya kan?!
    Wassalam.

  19. @benthalib
    Anda ini asal ngomong. Anda berbicara mengenai kesepakatan Ulama. Sebutkan bukunya dan periwayatnya secara lengkap.Klu asbun orang atheispun bisa. Anda mengatakan para Habaib membaca doa dan mendpt amplop. Benar tp tdk memaksakan krn kebiasaan disana. Msh lebih baik dpd menipu. Anda sangka saya tdk kenal Bin Thalib Banjar apa. Walaupun tdk semua

  20. nah….. nt ngaku juga akhirnya ya abu salafi tentang kata dalam bahasa arab وجه tidak selalu diartikan wajah. tidak selalu…berarti ada yang diartikan wajah dan tidak. Jika berkaitan dengan allah tentu juga ada yang harus diarikan wajah ada juga yang berarti رضي dll. demikian juga kata استوي atau ينزل jika berkaitan dengan sifat dan perbuatan allah swt kita imani sebagaimana adanya hal ini saya kira yang bisa difahami dari perkataan para ulama diatas.

    @ abu rahat

    ana bukan asal ngomong jal…. pakai rujukan kalau nt mau tahu nt tanya ke abu salafy insya allah dia mau menjelaskan. Terus kalau tidak dapat ANG PAUW kalau diundang baca manakib ya gak mau datang lagi gitu…!

    Ohhhhh….nt kenal ben thaleb banjar ya…? Ana aja yang ben thaleb gak kenal semua malah nt yang bukan benthaleb bis kenal…hebat……hebat…..hebat…. nt pernah jadi gubernurnya jamaah banjar ya???

  21. wahai Abu Salafy al-Mutakallim al-Jahmi al-Mu’athil

    tidakkah kau membaca kitab “Khalqu ‘Af’al ‘Ibad wa ar-Raddu ‘ala al-Jahmiyah wa Ashab at-Ta’thil”, hal. 15, bahwasanya Imam al-Bukhari Rahimahullah berkata: Muhammad bin Yusuf rahimahullah berkata:
    من قال إن الله ليس على عرسه فهو كافر
    barang siapa yang mengatakan: sesungguhnya Allah tidak berada diatas arsy-Nya maka ia kafir

    beliau Muhammad bin Yusuf al-Bukhari adalah Syaikhnya Imam al-Bukhari, beliau adalah orang yang Tsiqah sebagaimana dikatakan al-Hafidz dalam “at-Taqrib” dan al-Bukhari menjadikan hujjah dalam shahihnya.

    kalau ana menukil perkataan para Shahabat, Tabi’in dan pengikut mereka dengan baik niscaya berjumlah ratusan pernyataan tentang masalah ini, baik sanad shahih maupun dha’if.

    sebaiknya anta banyak membaca kitab-kitab aqidah para Aimmah, seperti
    “Khalqu Af’al ‘Ibad – Imam al-Bukhari
    “Raddu ad-Darimi ‘ala Bisyr al-Marisi” – Imam ad-Darimi
    “ar-Raddu ala al-Jahmiyah wal Zanadiqah” – Imam Ahmad bin Hanbal”
    “Kitab at-Tauhid” – Imam Ibnu Khuzaimah
    Ushul as-Sunnah – Imam al-Humaidi
    Syarah UShul I’tiqad Ahlus Sunnah wa al-Jama’ah – Imam al-Lalika-i

    apa mereka ini ulama mujassimah????

    jadi jangan cuma menukil pernyataan imam al-Bukhari dan Imam Ahmad tapi anta tidak membaca tulisan mereka, gimana niihhhh!!!!

    lumayan lho buat nambah ilmu yang bermanfa’at.

    __________________
    -Abu Salafy-

    Kaum Wahhabi sungguh aneh…. mereka yang paling keras menyuarakan kembali kepada Al Qur’an dan Sunnah…. eh sekarang malah bangga bertaqlid dengan manusia…. konsekuen donk!

    Tentang cemoohan kaum Mujassim bahwa kami (pengikut Asy’ariyah & Al maturidiyah) sebagai mu’aththil jahmi dll. cemooahan seperti itu dilontarkan tanpa memahami makna dan maksudnya…. sebab menurut kaum Mujassim siapa yang tidak meyakini ALlah bersemayam di atas Arsy-Nya maka ia mu’aththil (menafikan pensifatan bagi Allah) di sinilah letak kekeliruan itu!

    Apakah jika Ahlusunnah mensifati Allah dengan sifat yang Allah sebutkan dalam Al Qur’an-Nya itu harus sesuai dengan pemahaman kaum Mujassim yang dangkal?!

    Tidaklah salah orang yang mengatakan bahwa siapa yang mengingkari bahwa:
    الله استوى على العرش
    seperti yang difirmankan dalam Al Qur’an-Nya maka ia telah membohongkan Al Qur’an!! Tetapi apakah makna firman itu harus seperti yang kalian fahami?? Di sini masalahnya mas!!

    Akar permasalah penyimpangan kaum Mujassim ialah terletak pada ketidak fahaman mereka terhadap ayat-ayat Al Qur’an dan apa yang diucapkan para imam! Sehingga semua difahami dalam frame tajsim! tanpa melibatkan akal sehat yang Allah anugrahkan kepada manusia untuk mengenal kebenaran dan menimbang masalah ketuhanan!

    Ketika akal telah dinonaktifkan maka penyimpangan pemahaman yang akan terjadi.
    kami telah baca dan teliti ucapan-ucapan para ulama dan salaf…. alhamdulillah. dan ternyata mereka tidak seperti kaum Mujassimah (wahabi)!

    • Al-Hafizh al-Bayhaqi dalam karyanya berjudul al-Asma‟ Wa ash-Shifat, dengan sanad yang baik
      (jayyid), -sebagaimana penilaian al-Hafizh Ibn Hajar al-Asqalani dalam Fath al-Bari-,
      meriwayatkan dari al-Imam Malik dari jalur Abdullah ibn Wahb, bahwa ia -Abdullah ibn Wahb-,
      berkata:
      “Suatu ketika kami berada di majelis al-Imam Malik, tiba-tiba seseorang datang menghadap al-
      Imam, seraya berkata: Wahai Abu Abdillah, ar-Rahman „Ala al-arsy Istawa, bagaimanakah
      Istawa Allah?. Abdullah ibn Wahab berkata: Ketika al-Imam Malik mendengar perkataan orang
      tersebut maka beliau menundukan kepala dengan badan bergetar dengan mengeluarkan keringat.
      Lalu beliau mengangkat kepala menjawab perkataan orang itu: “ar-Rahman „Ala al-arsy Istawa
      sebagaimana Dia mensifati diri-Nya sendiri, tidak boleh dikatakan bagi-Nya bagaimana, karena
      “bagaimana” (sifat benda) tidak ada bagi-Nya. Engkau ini adalah seorang yang berkeyakinan
      buruk, ahli bid‟ah, keluarkan orang ini dari sini”. Lalu kemudian orang tersebut dikeluarkan dari
      majelis al-Imam Malik (Al-Asma‟ Wa ash-Shifat, h. 408)”.
      Anda perhatikan; Perkataan al-Imam Malik: “Engkau ini adalah seorang yang berkeyakinan
      buruk, ahli bid‟ah, keluarkan orang ini dari sini”, hal itu karena orang tersebut mempertanyakan
      makna Istawa dengan kata-kata “Bagaimana?”. Seandainya orang itu hanya bertanya apa makna
      ayat tersebut, sambil tetap meyakini bahwa ayat tersebut tidak boleh diambil makna zhahirnya,
      maka tentu al-Imam Malik tidak membantah dan tidak mengusirnya.

  22. siapa ulama salaf yang anta nukil???

    apakah kaum asya’irah dan maturidiyah yang anta anggap sebagai pendiri Ahlus Sunnah wal jama’ah versi NU????

    lalu apa anta lebih tahu tentang ta-wil sifat Allah dari pada Allah sendiri???

    hebat, hebat, anta memiliki akal yang sangat cerdas bahkan mampu menta-wilkan nash-nash sifat dengan akal dan anggapan sebagai pensucian Allah dari penyerupaan makhluknya???

    yaa Ikhwan!!!!

    kalau sekiranya ta-wil sifat Allah yang anta lakukan itu suatu kebaikan, sudah barang tentu para shahabat Rhadiyallahu ‘anhum lebih dulu mnenta-wilnya, karena merekalah manusia yang paling baik akalnya dan paling mengerti syari’at agama ini!!

    nyatanya!!! tidak ada satupun sahabat yang menta-wil nash-nash sifat Allah Jalla wa ‘Alla???

    demi Allah kami bukan kami sekelompok yang anta sebut mujassimah juga bukan musyabbihah, tetapi kami menetapkan sifat Allah sebagaimana yang Allah tetapkan dan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam sabdakan. dan kami memperlakukan nash tersebut sebagaimana datangnya tanpa bagaimana kaifiyatnya!!!

    pertanyaan ana
    kalau sekiranya Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam hadir dihadapan anta lalu bersabda tentang sifat Allah, apakah anta akan mengatakan kepada Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam, wahai nabi shifat Allah mesti di ta-wil???

    bukankan itu kelancangan akal anta terhadap Allah dan Rasul-Nya???

    bukankah Ali Radhiyallahu Ta’ala ‘anhu pernah berkata: “kalau sekiranya agama itu akal niscaya bagian bawah sepatu lebih berhak untuk diusap daripada bagian bawahnya”

    nyatanya Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan mengusap bagian atasnya bukan bawahnya

    sungguh wahai Abu Salafi, ana sepaham dengan anta tidak boleh taklid kepada manusia, tapi bagaimana bila manusia itu sesuai dengan kitabullah dan sunnah Rasul-Nya???
    patutkah kita menolaknya??? terus siapa manusia yang anta tuduhkan ditaqlidi???

    hanya kepada Allah kami mohon pertolongan

    ________________
    -Abu Salafy-

    Salam akhi Abu Abdurrahman… Anda tidak perlu bersyair di sini… Anda hanya perlu berfikir secara matang dan aqliyah!

    Saya juga tidak akan keget jika Anda mengatakan bahwa Asy’ariyyah adalah Mu’aththilah!!
    Pertanyaan saudara:lalu apa anta lebih tahu tentang ta-wil sifat Allah dari pada Allah sendiri??? juga mencerminkan kegagalan cara berfikir anda dan kebangkrutan dalam berdsikusi!!

    Apa yang menjadikan Anda dan kaum Mujassimah lainnya begitu yakin bahwa makna kata استوى adalah bersemayam? Apa Nabi saw. atau para sahabat mengakatakannya begitu?

    Betapa sering slogan yang seperti Anda banggakan:kami menetapkan sifat Allah sebagaimana yang Allah tetapkan dan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam sabdakan.… sebelum Anda mengucapkannya, Ibnu Taimiyah dan kaum Mujassimah lainnya juga telah mengatakannya, akan tetapi ternyata mereka tidak konsisten…. banyak bukti dari ucapan “Pewaris dan Pelestari mazhab Mujassimah” Ibnu Taimiyah atas hal itu!

    Kalau Anda ternyata tidak pernah mengetahui bahwa para Salaf Shaleh; sahabat dan tabi’in telah melakukan ta’wil terhadap ayat-ayat dan hadis-hadis sifat, maka saya harap Anda (dan juga teman-teman Wahhabi lainnya) tidak menjadikan kejahilan sebagai modal utama dalam pemahaman agama Anda!! Baca pembuktian yang kami sebutkan dalam beberapa artikel di blog ini!!

    Dan saran saya, itu kalau Anda punya bukunya dan siap membaca dan meresapinya, baca Risalah karangan Abul Hasan al Asy’ari berjudul : Risalah Fi Istihsan al Khaudh Fi Ilmi al kalam.

    Adapun kutipan dari Imam Ali ra. maka kamu perlu membuktikan bahwa itu memang benar beliau ucapkan!

    Dan pertanyaan saya kepada kalian: Mungkinkah kalian dapat mengenal Allah SWT tanpa akal sehat? Mungkinkah kalian mampu mengesahkan Allah tanpa akal sehat?
    Wassalam…

  23. @Abu Abdurachman
    Anda katakan bahwa anda menganut sifat2 Allah yg telah dijelaskan Allah dan Rasul. Tolong berikan nashnya(bukti/refernsi)

  24. untuk atsar yang dibawakan oleh Ali Radhiyallahu Ta’ala ‘anhu, dikeluarkan oleh al-Imam Abu Dawud 1/226, ia berkata:
    menceritakan kepada kami Muhammad bin al-A’la, menceritakan kepada kami Hafsh -yaitu Ibnu Ghiyyats-, dari al-A’masy dari Abi Ishaq dari ‘Abdu Khair dari Ali Radhiyallahu Ta’ala ‘Anhu ia berkata:
    لَوْ كَانَ الدِّينُ بِالرَّأْىِ لَكَانَ أَسْفَلُ الْخُفِّ أَوْلَى بِالْمَسْحِ مِنْ أَعْلاَهُ وَقَدْ رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَمْسَحُ عَلَى ظَاهِرِ خُفَّيْهِ.
    “kalau senadainya yang menjadi tolak ukur agama ini akal nniscaya bagian bawah khuf (sepatu) lebih pantas untuk diusap daripada bagian atasnya, sungguh aku pernah melihat RAsulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam mengusap bagian atas kedua khufnya”

    atsar ini juga dikeluarkan oleh:
    al-Baihaqi dalam Sunan al-Kubra 1/292
    ad-Daruquthni dalam Sunannya 2/374

    berkata al-Hafidz Ibnu Hajar rahimahullah:
    أَخْرَجَهُ أَبُو دَاوُد بِإِسْنَادٍ حَسَنٍ
    “dikeluarkan oleh Abu dawud dengan sanad yang hasan”
    lihat subulus salam syarah buluhul maram 1/173
    beliau juga berkata dalam Talkhis al-Khabir 1/160:
    رواه أبو داود وإسناده صحيح
    “dikeluarkan oleh Abu Dawud dengan sanad yang Shahih”
    juga dalam Fathul Bari 4/226 setalah membawakan atsar ini beliau berkomentar:
    أَخْرَجَهُ اِحْمَدْ وَأَبُو دَاوُدَ وَالدَّارَقُطْنِيّ وَرِجَال إِسْنَاده ثِقَات
    “dikeluarkan oleh Ahmad, Abu Dawud dan ad-Daruquthni perawi-perawi dalam sanadnya Tsiqat”

    berkata Abu Abdurrahman al-Wadi’i rahimahullah dalam al-Jami’ush Shahih Mimma Laisa Fi ash-Shaihahin 1/161:
    “perawinya perawi kitab ash-Shahih kecuali ‘Abdu Khair, dan al-Hafidz Ibnu Hajar mentsiqahkannya dalam at-Taqrib.”
    al-Imam Yahya bin Ma’in dan al-Imam al-‘Ijli juga mentsiqahkannya. lihat Tahdzibul Kamal oleh al-Imam al-Mizzi.

    Ucapan shahabat yang mulia di atas mengisyaratkan kepada kita tentang kedudukan akal di dalam agama, dan bahwa agama ini tidaklah diukur dengan akal pikiran namun kembalinya kepada nash, yaitu apa yang Allah Subhanahu wa Ta’ala firmankan dan apa yang Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam sabdakan.

    Namun kita dapati ada sebagian manusia yang sangat mengagungkan akal sehingga mereka memposisikan akal tersebut di atas Al Qur’an dan As-Sunnah. Bila sesuai dengan akal, mereka terima, dan bila bertentangan dengan akal –menurut mereka– mereka tolak atau simpangkan maknanya.

    untuk aburahat:
    referensinya sudah kami ungkapkan diatas walaupun masih banyak referensi yang tidak kami bawakan

    untuk itu cukuplah kami menyepakati perkataan Syaikh al-Islam ‘Abdul Qadir al-Jiilani rahimahullah dalam kitabnya “al-Gunyah” 1/124 ia berkata:
    وينبغي إطلاق صفة الاستواء من غير تأويل، وأنه استواء الذات على العرش، لا على معنى القعود والمماسة كما قالت المجسمة والكرامية، ولا على معنى العلو والرفعة كما قالت الأشعرية ، ولا على معنى الإستيلاء والغلبة كما قالت المعتزلة، لأن الشرع لم يرد بذلك ، ولا نقل عن أحد من الصحابة والتابعين من السلف الصالح من أصحاب الحديث ، بل منقول عنهم حمله على الإطلاق
    “wajib hukumnya untuk memutlakkan sifat istiwa bagi Allah, tanpa ta-wil, dengan meyakini bahwa Dzat Allah ber-istiwa diatas Arsy, dan bukan makna mumarasah/duduk sebagaimana perkataan mujassimah dan karamiyah, dan juga bukan dengan makna ketinggian martabat/uluw wa ar-rif’ah sebagaimana yang dipahami oleh kaum al-Asy’ariyah, dan juga bukan dengan makna istila’/penguasaan dan ghalabah/mengalahkan yang lain seabagaimana yang dikatakan oleh mu’tazilah, karena tidak ada dalil yang menunjukkan kepada arti tersebut. dan juga tidak pernah dinukil dari keterangan para shahabat dan tabi’in dari kalangan salafush shalih dari para ulama ashabul hadits, bahkan sebaliknya bahwasanya telah dinukil keterangannya dari salaf ash-shalih dan para ulama hadits bahwa mereka memahami ayat-ayat dan hadits-hadits sifat secara mutlak (apa adanya/sebagaimana datangnya).

    ______________________
    Abu Salafy:

    Saya salut atas kerja keras saudara membuktikan kesahihan sanad ucapan Sayyidina Ali ra. yang saudara sebutkan sebagai bukti kayakinan saudara. Walaupun tidak berarti saya harus sependapat dengan saudara dalam penilaian atas atsar tersebut. Dan itu tidak akan saya perpanjang di sini.

    Akan tetapi, untuk menjadikannya sebagai bukti tidak cukup kan hanya membuktikan kesahihan sanad atsar tersebut! Saya yakin Anda sepakat, bahwa kesahihan sanad belum segalanya!!
    Yang terpenting sekarang ialah Pemaknaan terhadap atsaR/ucapan Sayyidina Ali ra. tersebut. Dan sepertinya kata kuncinya terletak pada pengertian kata الدِّينُ dan kata لرَّأْىِ jadi tolong diperjelas!

    Apakah yang dimaksud dengan ad-din terbatas hukum fikih (seperti dalam konteks ucapan di atas)? Atau ia mencakup hukum fikih dan akidah?

    Jika terbatas pada hukum fikih, apa dalilnya? Dan jika mencakup akidah juga apa dalilnya?

    Selain itu, apa menurut pendapat saudara bahwa untuk mengenal Allah, ke-esaan-Nya, Sifat-sifat mulia-Nya tidak dibutuhkan akal?

    lalu apa maksud dan tujuan Allah memerintah dalam banyak ayat:
    أفلا تتفكرون؟
    أفلا تعقلون؟
    dll. tolong dijelaskan agar tidak ada kesan bahwa agama Islam mengajak kepada kebohohan, kebutaan dan anti akal dan tafakkur!

    • Marilah kita baca dibawah ini sebagian isi khotbah Amirul Mukminin Imam Ali Bin Abi Thalib k.w. yang sangat bagus sekali mengenai sifat Allah swt. dari kitab Nahjul Balaqhoh terjemahan O.Hashem, Syarah oleh M.Hashem, Yapi 1990, Khotbah Pertama halaman 108-109 sebagai berikut:
      “Segala puji bagi Allah yang nilai-Nya tidak terlukiskan oleh pembicara. Tidak terhitung nikmat-Nya oleh para penghitung. Hak-Nya akan pengabdian tidak akan terpenuhi oleh para pengupaya. Tidak dapat dicapai Dia oleh ketinggi- an intelek dan tidak pula terselami oleh pemahaman yang bagaimanapun dalamnya. Ia, yang sifat-Nya tiada terbatasi lukisan, pujian yang tepat tidaklah maujud (Maha ada). Sang waktu tidaklah dapat memberi batas, dan tidak kurun yang mengikat-Nya.
      Pangkal agama adalah ma’rifat-Nya, dan kesempurnaan ma’rifat-Nya adalah membenarkan-Nya dan kesempurnaan iman kepada keesaan-Nya adalah ikhlas kepada-Nya, dan kesempurnaan ikhlas kepada-Nya, adalah menafi- kan sifat yang diberikan kepada-Nya, karena setiap sifat membuktikan bahwa ia bukanlah yang disifati dan setiap yang disifati membuktikan bahwa Ia bukanlah sifat.
      Dan barangsiapa menyifatkan Allah yang Maha Suci, maka ia telah memberikan pasangan kepada-Nya. Dan barangsiapa memberi pasangan kepada-Nya maka ia telah menggandakan-Nya. Dan barangsiapa menggandakan-Nya, maka ia telah membagi-bagi-Nya. Dan barangsiapa membagi-Nya, maka ia telah berlaku jahil kepada-Nya. Dan barangsiapa berlaku jahil kepada-Nya berarti ia telah menunjuk-Nya. Dan barangsiapa menunjukkan-Nya, berarti telah memberi batas kepada-Nya. Dan barangsiapa membatasi-Nya, berarti memberi jumlah kepada-Nya.
      Dan barangsiapa berkata; ‘Di dalam apa Dia berada’ maka ia telah menyisipkan-Nya, dan barangsiapa berkata; ‘Di atas apa Dia berada’ maka sungguh Ia lepas dari hal tersebut. Dia maujud, Maha ada, tetapi tidak muncul dari proses kejadian. Ia ada, tetapi tidak dari tiada. Ia bersama segala sesuatu, tapi tidak berdampingan. Dan Ia tidak bersama segala sesuatu, tanpa saling berpisahan. Ia bertindak, tetapi tidak berarti ia bergerak dan menggunakan alat. Ia Maha Melihat tapi tidak tergantung makhluk untuk dilihat. Ia Maha Esa dan tiada sesuatupun yang menemaninya, dan tidak merasa sepi karena ketiadaan “. Wallahu a’lam.

  25. eh, abu salep, tuhan lo dimana, coba?
    Kalo ga tau, aku beri tahu …….
    tuhan lo di ego lo, perut lo, dan pantat lo ! buktinya lo ga pernah habis2nya jelekin orang, itu yang menggerakkan hidup lo tiap hari. (tukang gosip)
    tuhan lo perut lo, sebab dari bikin gosip, lo dapat duit untuk memenuhi perut buncit lo, dan kalo sudah kenyang, tuhan lo jadi pantat lo yang bawa lo ke WC. sadar nggak!!!

  26. SEBENARNYA SEMUA TELAH JELAS DARI APA YANG DIBAWAKAN OLEH AKHI ABU ABDURRAHMAN DAN AKHI BENTHALEB, NAMUN KAMI PERLU MEMBUAT SEBUAH TAMBAHAN TERLEPAS DARI FAHAM AHLUSSUNNAH DAN BANTAHANYA DARI KAUM KHURAFAT, DAN BUKAN DARI ITU YANG AKAN KAMI BAHAS DARI TULISAN KECIL KAMI INI.

    NAMUN TERLEPAS DARI ISI DARI DIALOG ANTARA SAUDARA ABU ABDURRAHMAN DAN SAUDARA BENTHALEB MEWAKILI DARI AHLUSSUNNAH DAN ABU SALAFY MEWAKILI DARI AHLUL BID’AH (MAAF…KALAU TIDAK TERIMA…ITUNG-ITUNGNYA BELAKANGAN) ADA SISI LAIN YANG PERLU MENJADI PERHATIAN:

    DARI PEMBAHASAN YANG BANYAK YANG DITULIS OLEH WAKIL DARI KAUM KHURAFAT….SANGAT SERING MENGATAKAN….TUHAN ORANG WAHHABI BEGINI…TUHANNYA ORANG WAHHABI BEGITU…TUHANNYA ORANG WAHHABI….DAN TETEK BENGEK SEBAGAINYA….DAN KESEMUANYA MENGGUNAKAN UNGKAPAN PENCELAAN YANG DITUJUKKAN KEPADA TUHANNYA ORANG WAHHABI. DARI SINI DAPAT DIAMBIL BEBERAPA KESIMPULAN DARI APA YANG DIKATAKAN OLEH AHLI KHURAFAT MENGENAI “TUHAN ORANG WAHHABI”
    1.JIKALAU KAUM KHURAFAT MENGGANGGAP SECARA TUNJUK PERSON MENGENAI WAHHABI DAN TUHANNYA….DAN YANG DIMAKSUD TUHAN WAHHABI YANG MEREKA KATAKAN SAMA DENGAN TUHAN MEREKA (AHLI KHURAFAT) MAKA SEBENARNYA MEREKA TELAH MENCELA DAN MENCEMOOH ALLAH DENGAN KATA-KATA YANG JOROK.
    2. DAN JIKALAU KAUM KHURAFAT MENGANGGAP SECARA TUNJUK PERSON MENGENAI WAHHABI DAN TUHANNYA…DAN APA YANG DIMAKSUD DENGAN TUHAN WAHHABI TIDAK SAMA DENGAN TUHAN MEREKA, MAKA SEBENARNYA SIAPA YANG TAKFIR DALAM HAL INI….SAMPAI-SAMPAI MENGANGGAP TUHANNYA BERBEDA….DAN KEDUA-DUANYA AKAN MEMBAWA KONSEKUENSI YANG BERAT KEPADA SANG AHLI KHURAFAT.

    LIHATLAH KETIKA GOLONGAN AHLUSSUNNAH MELURUSKAN PEMAHAMAN KAUM KHURAFAT…SEMISAL TENTANG PENGINGKARAN KAUM KHURAFAT TENTANG SIFAT ALLAH SEPERTI YANG DIYAKINI OLEH GOLONGAN AHLUSSUNNAH ……TIDAK PERNAH MENGATAKAN TUHANNYA ORANG KHURAFAT TERNYATA BEGINI….BEGITU APALAGI MENGGUNAKAN KATA-KATA KOTOR DAN JOROK.

    KARENA KELOMPOK AHLUSSUNNAH TETAP MENGANGGAP BAHWA TUHANNYA DAN TUHAN ORANG KHURAFAT ADALAH SAMA.

    MAKA SEBENARNYA SIAPAPUN YANG BENAR DALAM HAL INI ABU SALAFY TELAH TERJEBAK DALAM KUBANGAN YANG DIA GALI SENDIRI, YAITU KUBANGAN MENCELA ALLAH ATAU KUBANGAN TAKFIR.

  27. abusalafy….

    setiap kita berargumen dengan kitabullah dan sunnah rasulillah shalallahu ‘alaihi wa sallam abusalafy senantiasa menimbangnya dengan akal, sehingga seluruh kitabullah dan sunnah rasulillah dan pendapat para imam ia anggap benda mentah yang mesti ditimbang dengan akalmu.

    seluruh jawaban anta mirip dengan bani israil yang diperintahkan untuk menyembelih sapi betina (al-Baqarah 67-71) dan memliki kesan menyepelekan kitab suci kami kaum muslimin al-qur-an dan sunnah rasulillah. dan engkau hanya bertanya tetapi hanya untuk berjidal dan sennatiasa menentang, atau memang begitulah perilaku mutakallimin???, lalu menuduh kami dengan tuduhan bermacam-macam, padahal abusalafy ini belum pernah bertemu dengan kami (dan abusalafy tidak memiliki dalil atas tuduhannya, karena dalilnya hanya akal)!!

    wahai abusalafy al-mutakallim

    bisakah kau buktikan kepada kami para sahabat, tabi’in, tabi’ut tabi’in termasuk didalamya imam yang 4 bahwasanya mereka menekuni ilmu kalam?????

    demi Allah, bahkan mereka semuanya memcela ilmu kalam?? mau bukti??

    al-Imam al-Hafidzh Ibnu Abdil Bar berkata dalam “Jaami’ Bayan al-Ilmi wa Fadhlihi”:
    menceritakan kepada kami Khalaf, menceritakan kepada kami al-Hasan, menceritakan kepada kami Muhammad bin Ibrahim al-Anmathi dan Ubaidillah bin Ibrahim al-Ghumari, mereka berdua berkata, menceritakan kepada kami al-Hasan bin Muhammad al-Za’farani, ia berkata aku mendengar al-Imam asy-Syafi’i berkata:
    حكمي في أهل الكلام أن يضربوا بالجريد ويطاف بهم في العشائر والقبائل ، هذا جزاء من ترك الكتاب والسنة وأخذ في الكلام
    “Hukumanku terhadap ahli kalam adalah dipukul dengan pelepah kurma dan diarak keliling perkampungan, (dikatakan) inilah balasan bagi orang yang meninggalkan kitab dan sunnah dan mengambil ilmu kalam”

    saya katakan sanadnya shahiih:
    1. Khalaf: ia adalah khalaf ni qasim bin sahl, beliau adalah syaikhnya Ibnu Abdil Bar.
    Ibnu Asakir berkata: كان محدثا مكثرا حافظا
    ia adalah seorang muhaddits dan memiliki banyak hafalan (lihat Tarikh Damsyq)

    2. al-Hasan bin Rasyiq al-Askari,
    beliau juga seorang yang tsiqah, sebagimana dikatakan oleh ad-Daruquthni, Manhur bin ali al-Anmathi, dan Abul Abbas an-Nahl, (Lihat Lisanul Mizan oleh al-Hafidz Ibn Hajar)

    3. Muhammad bin Ibrahim al-Anmathi,
    berkata ad-Daruquthni: كان حافظًا بغداديًا
    ia seorang hafidz dari baghdad (lihat al-Mutalif wal Mukhtalif dan la-Ilal)

    4. al-Hasan bin Muhammad al-Za’farani,
    tidak kami ragukan tentang orang ini bahwa ia seorang yang tsiqah, dan ia shahabat asy-syafi’i sebagiamana yang dikatakan oleh al-Hafidzh Ibnu Hajar (lihat at-Taqrib dan Tahdzibul Kamal al-Mizzi)

    begitu juga oleh Abu Yusuf al-Qadhi (murid seklaigus sahabat abu hanifah) ia berkata:
    ومن طلب الدين بالكلام تزندق
    “dan barang siapa yang belajar agama dengan ilmu kalam maka ia jadi zindiq” (Jami bayan al-ilmi wa fadhlih ibnu abdil bar)

    wahai abusalafy apa yang yang ana tulis ini, ana yakin anta akan terus membantah dan membantah, karena memang tujuan ahli kalam hanya untuk mendebat dan mendebat, dan menjadikan agama untuk perdebatan.

    anta hanya taqlid buta pada kiai dan habaib yang anta belajar kepada mereka, walaupun penamaan kiai dan habaib sejauh pentahuan kami tidak pernah ada penamaan gelar para ulama dengan nama itu.

    sebenarnya apa yang kau cari wahai abusalafy????
    berbuat ghibah????

    kenapa anta tidak merujuk kpada kitab-kitab ulama yang ana menukil pada kitab mereka????
    apakah untuk membodohi kaum muslimin????

    _____________________
    Abu Salafy:

    Sebelum bicara tentang kecam-menegecam ilmu Kalam, mungkin akan baik jika Anda defiinsikan apa sebenarnyaa Ilmu Kalam itu? Biar tidak salah sasaran tembak!

    Dan yang lebih aneh lagi ialah Anda berdalil dengan omongan manusia biasa yang bisa salah bisa benar… tidak berdalil dengan Al-Kitab dan Sunnah!!

    Jadi akan lebih pas dan keliahatan Salafi jika Anda membawakan dalil Al-Qur’an dan Sunnah Nabi saw. yang melarang Ilmu Kalam! Jika tidak, Anda sama saja dengan bertahkim dengan hukum manusia!!

    Mungkin ketika menulis dan mengutip pernyataan di atas Anda sedang di bawah sadar!!! Karena pengaruh virus Wahhabiyah! Maaf.. mudah-mudahan tidak, hanya sekedar pusing biasa!
    Peringatan
    Oh ya mas, pertanyaan saya sepertinya belum Anda jawab! Untuk sekedar mengingatkan saja saya cantumkan lagi di sini:

    Yang terpenting sekarang ialah Pemaknaan terhadap atsar/ucapan Sayyidina Ali ra. tersebut. Dan sepertinya kata kuncinya terletak pada pengertian kata الدِّينُ dan kata لرَّأْىِ jadi tolong diperjelas!

    Apakah yang dimaksud dengan ad-din terbatas hukum fikih (seperti dalam konteks ucapan di atas)? Atau ia mencakup hukum fikih dan akidah?

    Jika terbatas pada hukum fikih, apa dalilnya? Dan jika mencakup akidah juga apa dalilnya?

    Selain itu, apa menurut pendapat saudara bahwa untuk mengenal Allah, ke-esaan-Nya, Sifat-sifat mulia-Nya tidak dibutuhkan akal?

    lalu apa maksud dan tujuan Allah memerintah dalam banyak ayat:

    أفلا تتفكرون؟
    أفلا تعقلون؟

    dll. tolong dijelaskan agar tidak ada kesan bahwa agama Islam mengajak kepada kebohohan, kebutaan dan anti akal dan tafakkur!

  28. Assalaamu’alaikum wr.wb.

    Astaghfirullah, saya lihat saudara2 saya disini saling caci maki dan cela mencela. Padahal Allah sudah jelas2 mengisyaratkan bahwa kaum mukmin itu saling berkasih sayang sesama mereka, dan keras terhadap orang kafir.

    Sayang sekali rasanya menghabiskan banyak waktu untuk hal seperti ini. Masih banyak problem real ummat Islam di luar sana.

    Salam,
    Saudara Muslim

  29. sebenarnya konflik antara asy’ari+maturidi dengan hanabilah tentang masalah tajsim sudah lama terjadi, coba rujuk :
    1. Al-kamil Fit Tarikh.
    2. Tarikh Khulafa, El- Suyuthi.
    3. Tarikh Ibnu Kholdun, Abdurahman Bin Kholdun.
    4. Tarikh Ibnu Al-Atsir. Izzuddin Abul Hasan Ali bin Muhammad bin Muhammad bin Abdul Karim El-Jazarie El-Syaibanie.
    5. Ibnu Jauzi, Al-Muntazham Fit Tarikh.
    6. Tarikh Fikr Aroby, DR. Umar Farukh
    7. Tarikh Daulah Abbasiyah, DR. Muhammad suheil Thoqqus
    8. Tarikh Islam, DR. Ali Muhammad Syalaby.
    9. Hadhoroh Islamiyah Fi Baghdad, DR. Muhammad Husein Syandab.
    10. Tarikh Daulah Fatimiyah, DR. Ali Muhammad Syalaby.

    Al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani juga menegaskan bahwa hanabilah memiliki pandangan berbeda dengan ahlussunnah wal jama’ah.
    “Hanabilah menetapkan bahwa Allah berbicara dengan huruf dan suara” (al-Hafizh al-Asqalani, Fathul Bari,13/469)

    “Dia azza wa jalla senantiasa berbicara jika Dia azza wa jalla menghendaki, Imam Ahmad menegaskan hal diatas dalam kitab ‘Rodd alal jahmiyyah’. Sedangkan pengikutnya terbagi dua kelompok, diantaranya ada yang berpendapat: Ia bersatu dengan Dzat-Nya, sedangkan huruf dan suara bersamaan bukan berentetan…” (al-Hafizh al-Asqalani, Fathul Bari, 13/502)

  30. Ibnu Atsir mengatakan pencopotan Fakhrud Daulah dari kursi wazir dilatar belakangi konflik yang terjadi antara golongan mazhab Hanabilah dengan golongan Mazhab Asy’ariyah karena Fakhrud Daulah merupakan orang yang paling bertanggung jawab atas konflik yang terjadi tersebut. Lain halnya dengan Ibnu Katsir berpendapat bahwa pencopotan Fakhrud Daulah dari kursi wazir adalah karena desakan sepihak dari golongan Asy-Syafi’iyah. Sebaliknya As-Suyuthi menguatkan pendapat latar belakang pencopotan wazir fakhrud Daulah adalah karena penyimpangan yang dilakukan oleh golongan Hanabilah…

    …Awal terjadi pertikaian antar kelompok aliran mazhab Hanabilah dengan asy-‘ariyah pada tahun 469H/1076M. Sebab langsung yang melatar belakangi pertikaian ini adalah berawal ketika Abu Nasr Al-Qusyairy dan mengelola madrasah Nizamiyah serta mengkritik urusan mazhab hanabilah yang menghubungkannya dengan perkara tajsim.

  31. @abu sayev

    Setelah saya banyak membaca tulisan abu sayev, saya bisa sedikit menyimpulkan bahwa ternyata Abu Sayev ini termasuk dari orang yang tidak bisa memahami dengan kitabnya sendiri (kitab-kitab wahhabiyah).

    Abu Sayev mungkin gak faham ketika idolanya Ibn Abdil |Wahhab mengatakan bahwa orang-orang muslim yang tidak memahami konsep tauhid seperti yang ia fahami, ia (ibn Abdil Wahhab) menganggap orang muslim tersebut lebih bodoh tentang makna tauhid dari pada gembong-gembong musyrikin yang berhadapan dengan Nabi Saaw. Lebih dari itu ia (ibnu Abdil wahhab) dalam kitabnya mengatakan kesyirikan kaum musyrikin lebih ringan dibanding kesyirikan kaum mulimin yang tidak mau menerima konsep tauhidnya. (ibn abd Wahhab).

    Bukankah ini suatu tudingan takfir yang nyata ?

    Saya bersyukur, ternyata tudingan takfir seperti yang dilontarkan ibn abdil wahhab, para pengekor setianya diantaranya abu sayev ini juga tidak senang dengan cara bersikap seperti idolanya.
    Sayangnya ia (abu sayev) tidak bisa berlaku adil dalam memberikan penilaian. Hal yang sama dianggap wajar dan layak untuk dikatakan oelh idolanya tetapi tidak layak untuk orang lain.

    Benar-0benar bukan menunjukkan sikap ulama’ yang jujur dalam bertutur kata dan adil dalam memberikan penilaian.. Semoga Allah tidak memperbanyak orang-orang sepertinya. Amin

  32. Allah Ta’ala berfirman: “Sesungguhnya Kami memelihara kamu dari orang-orang yang memperolok-olokkan (kamu).” (QS. Al-Hijr Ayat : 95)

    Allah Ta’ala berfirman: “Allah akan (membalas) olok-olokan mereka dan membiarkan mereka terombang-ambing dalam kesesatan mereka.” (QS. Al-Baqarah Ayat : 15)

    Allah Ta’ala berfirman: “Sesungguhnya mereka telah mendustakan yang hak (Al Qur’an) ketika sampai kepada mereka, maka kelak akan sampai kepada mereka (kenyataan dari) berita-berita yang selalu mereka perolok-olokkan.” (QS. Al-An’am Ayat : 5)

    Allah Ta’ala berfirman: “Dan sungguh Allah telah menurunkan kepada kamu di dalam Al Qur’an bahwa apabila kamu mendengar ayat-ayat Allah diingkari dan diperolok-olokkan, maka janganlah kamu duduk beserta mereka, sehingga mereka memasuki pembicaraan yang lain. Karena sesungguhnya (kalau kamu berbuat demikian), tentulah kamu serupa dengan mereka. Sesungguhnya Allah akan mengumpulkan semua orang-orang munafik dan orang-orang kafir di dalam Jahanam.” (QS. An-Nisaa Ayat : 140)

  33. “Allah Subhanahu wa Ta’ala TIDAK SERUPA dengan makhluk-Nya.”

    Saudara-saudaraku sekalian, ada sebagian orang yang salah dalam mengartikan kata “tidak serupa atau tidak sama”. Mereka berfikir bahwa “tidak serupa itu berarti tidak ada”. Kata “tidak serupa atau tidak sama” ini tidak mungkin digunakan apabila sesuatu tidak ada.
    Contoh misalnya: “si A punya rambut sedangkan si B tidak punya rambut”. Disini tidak mungkin dikatakan bahwa “rambut si A tidak serupa dengan rambut si B”, karena si B tidak punya rambut. Apabila si B juga punya rambut barulah bisa dikatakan “rambut si A tidak serupa dengan rambut si B”. kurang lebih demikian saudara-saudaraku sekalian tentang penggunaan kata “tidak serupa atau tidak sama”. Allaahu a’lam bis-shawaab.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s