Hadis-hadis Kaum Nashibi yang Dishahihkan oleh Ahli Hadis [Bagian Kedua]

Hadis-hadis Kaum Nashiibi yang Dishahihkan oleh Ahli Hadis [Bagian Kedua]

.

Oleh: Syeikh Hasan bin Farhan al Maliky

Sumber: http://almaliky.org/news.php?action=view&id=1683

Bagi yang belum membaca bagian pertama (mukadimah) pembahasan/kajian ini silahkan membacanya disini: https://abusalafy.wordpress.com/2017/04/28/hadis-hadis-nasibi-yang-ditashih-bag-1/

Hadis pertama: Hadis Mu’adz bin Jabal, diriwayatkan oleh Ahmad, Ibn Hibban, Ibn Abi Ashim, ath-Thabrani dan lainnya, dan redaksinya dari Mu’adz; saya akan sebutkan beserta sanadnya supaya jelas keberadaan nashibi di dalamnya.

.

.

رووا الحديث من طريق أبي المغيرة الحمصي (عبد القدوس بن صالح): حدثني صفوان بن عمرو حدثني راشد بن سعد عن عاصم بن حميد السكوني عن معاذ بن جبل قال؛ لما بعثه رسول الله صلى الله عليه واله وسلم إلى اليمن، خرج معه رسول الله يوصيه، معاذ راكب، ورسول الله تحت راحلته؛ فلما فرغ قال: (يا معاذ إنك عسى أن لا تلقاني بعد عامي هذا، لعلك أن تمر بمسجدي وقبري، فبكى معاذ خشعاً لفراق رسول الله ثم التفت رسول الله نحو المدينة فقال – وهنا الشاهد -) إن أهل بيتي هؤلاء يرون أنهم أولى الناس بي! وإن أولى الناس بي المتقون! من حيث كانوا، اللهم إني لا أحلُّ لهم فسادَ ما أصلحتُ وَايْمُ اللَّهِ لَيَكْفَؤُونَ أُمَّتِي عَنْ دِينِهَا كَمَا يُكْفَأُ الْإِنَاءُ فِي الْبَطْحَاءِ» اهـ !!!

.

Mereka meriwayatkan sebuah hadis dari jalur Abu Mughirah al-Himshi (Abdul Qudus bin Shalih) : Telah bercerita kepadaku Shafwan bin Amr, telah bercerita kepadaku Rasyid bin Sa’ad dari Ashim bin Humaid as-Sukuni dari Mu’adz bin Jabal, ia berkata: Ketika Rasulullah saw mengutusnya ke Yaman, Rasulullah keluar bersamanya dan berwasiat kepadanya, ketika itu Mu’adz sedang menunggangi kuda sementara Rasulullah saw. berada di bawah tunggangannya, dan saat ia berhenti, beliau berkata: (Wahai Mu’adz mungkin engkau tidak akan berjumpa denganku setelah tahun ini, semoga engkau melewati masjid dan kuburanku, lalu Mu’adz menangis dengan tertunduk karena akan berpisah dengan Rasulullah saw., setelah itu Rasul saw. menoleh ke arah Madinah dan berkata – dan di sini ada saksinya) Sesungguhnya Ahlul Baitku memandang bahwa mereka adalah manusia paling utama bagiku! Sesungguhnya manusia paling utama di sisiku adalah orang-orang yang bertakwa! Darimanapun mereka. Ya Allah sungguh aku tidak menghalalkan bagi mereka keburukan yang telah aku perbaiki, Dan demi Allah mereka telah memalingkan umatku dari agamanya seperti wadah yg terbalik di sungai.

Baca lebih lanjut

Hadis-hadis Kaum Nashibi yang Dishahihkan Ahli Hadis [Bag. 1]

Mana Yang Lebih Terang Petunjuknya Atas Wasiat: Ini Adalah Khalifahmu Setelahku? Atau: Sebagaimana Aku Lebih Berhak Atas dirimu, Maka Orang Ini Juga Lebih Berhak atas Dirimu?

Mana Yang Lebih Terang Petunjuknya Atas Wasiat: Ini Adalah Khalifahmu Setelahku? Atau: Sebagaimana Aku Lebih Berhak Atas Dirimu, Maka Orang Ini Juga Lebih Berhak atas Dirimu? 

Oleh: Syeikh Hasan bin Farhan al Maliky

Sumber: http://almaliky.org/news.php?action=view&id=1425

hasan_Farhan

Pengacauan setan itu bersifat umum, ia mendorong penganut Ahlusunnah agar meninggalkan nash yang jelas dan gamblang. Ia mendorong Syiah agar menambah-nambah dan menyajikan hadis-hadis yang tidak relevan, baik ia dha’if ataupun palsu.

Pada hadis-hadis yang shahih sudah cukup, tetapi setan menginginkan agar si Muslim hilang dalam kesia-siaan, siapapun dia. Yang ini hilang/tenggelam dalam pengingkaran dan fanatisme, dan yang itu hilang dalam menetapkan dan berlebih-lebihan!

Mana Yang Lebih Terang Petunjuknya Atas Wasiat: Ini Adalah Khalifahmu Setelahku? Atau: Sebagaimana Aku Lebih Berhak Atas dirimu, Maka Orang Ini Juga Lebih Berhak atas Dirimu? Baca lebih lanjut

Sanad [Hadis] Wasiat Berdeba dengan Dalil-dalil Wasiat!

Sanad [Hadis] Wasiat Berdeba dengan Dalil-dalil Wasiat!

Pembacaan Atas Sebagian Dalil Wasiat.

Oleh: Syeikh Hasan Farhan al Maliki

Sumber: http://almaliky.org/news.php?action=view&id=1424

Hasan Farhan

Kami bersaksi bahwa Nabi saw. telah menyampaikan Risalah, melaksanakan amanat dan menjalankan perintah-perintah Allah dengan jelas seperti diperintahkan Allah. Perselisihan para pendahulu-lah yang menyeret terjadinya perselisihan di kalangan generasi pelanjut, dan kami tidak harus bertanggung jawab atas mereka; tidak berkewajiban membela siapapun dan mencarikan uzur untuk seorang pun. Kami -pertama-tama – hanya berkewajiban mengikuti nash, kemudian mengimani nash, petunjuk dan penjelasan dan keterangannya…

Yang saya maksud dengan Sanad-sanad Wasiat dalam artikel sebelumnya adalah sanad-sanad [hadis] yang menyebut redaksi ‘Wasiat’ secara terang, seperti:

.

 هذا وصيي

 علي وصيي

‘Orang ini adalah Washi [pengemban Wasiat] ku’,

‘Ali adalah Washi-ku.’ dll

Adapun yang saya maksud dengan dalil-dalil ‘Wasiat’ [Kepemimpinan] maka ia jauh lebih luas. Bahkan Wasiat itu boleh jadi datang dengan redaksi-redaksi lain yang lebih luas, lebih shahih dan lebih tegas, seperti Hadis Ghadir misalnya. Hadis Ghadir dan Hadis Manzailah itu mutawatir. Baca lebih lanjut

Sanad-sanad [Hadis] Wasiat.

Sanad-sanad [Hadis] Wasiat

.

Sumber: http://almaliky.org/news.php?action=view&id=1422

Oleh: Syeikh Hasan bin Farhan al Maliky

hasan_Farhan

Di antara contoh yang saya kaji dan teliti adalah tentang tema ‘Wasiat’ yaitu hadis-hadis Wasiat; apakah Nabi saw. berwasiat untuk Imam Ali (sebagai Pemimpin Tertinggi umat Islam pasca beliau_red) atau tidak?

Dahulu, di masa awal saya menuntut ilmu, saya memastikan kepalsuan hadis-hadis tersebut, dan itu adalah dusta dan kepalsuan Syi’ah, dan sanad-sanadnya tidak lebih dari sekedar dua atau tiga sanad saja… tetatpi, wouw, ternyata sangat mencengangkan….!

Keistimewaan khusus Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib sangat banyak dan spesial dalam kualitasnya. Dan Imam Nasa’i –penulis kitab Sunan- telah berbuat baik ketika menulis buku: Khashaish Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib/Keistimewaan-keistimewaan Khusus Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib. Dan setiap dari masing-masing khashaish itu shahih. Dan para ulama Salafy telah meneliti dan menshahihkan sebagian besar khashaish itu. Dan dengan sangat terpaksa mereka harus membantah Ibnu Taimiyah dalam sikap fanatiknya ketika menolak sebagian keistimewaan khusus yang telah mencapai kemutawatiran.  Baca Lebih lanjut

Imam Ali Antara Sunni Dan Syi’ah

Imam Ali Antara Sunni Dan Syi’ah

Oleh: Syaikh Hasan bin Farhan Al Maliky

Sumber:  http://almaliky.org/news.php?action=view&id=359

hasan_Farhan

Imam Ali adalah sebuah makna dan bukan sekedar kepribadian historis yang menonjol.

Ia merangkum seluruh makna yang indah….

Ia adalah jalan di antara jalan-jalan mengenal Alah.

Di sini, dalam kesempatan ini saya akan menyebutkan kebaikan-kebaikan Ahlusunnah dan kebaikan-kebaikan Syi’ah tentang tema Imam Ali dan sekaligus mengkritisi Syi’ah dan juga Ahlusunnah tentangnya. Dan dalam hemat saya kedua kelompok Muslim ini telah berbuat baik dari satu sisi dan telah berbuat buruk dari sisi lain. Baca lebih lanjut

Penipuan Gelar Sektarian (4): Nawashib

Penipuan Gelar Sektarian [4]: Nawashib

Oleh: Syeikh Hasan bin Farhan al Maliky

Sumber: http://almaliky.org/news.php?action=view&id=351

Hasan Farhan

Hari ini kami akan berbicara tentang kaum Nawâshib. Ia adalah redaksi/gelar yang rumit dan menyebabkan keterpojokan, khususnya bagi kaum Salafy, dan mereka berharap andai redaksi/gelar ini dijauhkan dan dilupakan karena sesungguhnya merekalah yang sedang dituduh oleh kaum Syi’ah dan juga oleh sebagian Ahlusunnah bahwa sebagian tokoh mereka terjangkit penyakit kenashibian atau bahkan sebagai seorang Nâshibi….
Gelar ini juga membuat repot bagi sebagian Ahlusunnah yang moderat, karena sebagian Syi’ah men-generalisir (menyamaratakan) untuk dijatuhkan kepada Ahlusunnah.

Ia (An Nushb/Nashibi/Nawashib) adalah sebuah redaksi/lafadz yang butuh untuk diurai dan diganti dengan redaksi lain yang bersifat Syar’i [berbasis nash-nash Islami]. Redaksi ini sepeti halnya juga redaksi-redaksi kemazhaban lainnya yang akan lebih afdhal bagi pemikiran pembaharuan Islam untuk diganti dengan redaksi Syar’i. Tetapi izinkan saya menggunakannya sebelum tuntas uraian tentangnya kemudian mengkiritisinya, lalu saya akan mengganti redaksi itu dengan redaksi Syar’i untuk istilah ini. Baca lebih lanjut

Penipuan Gelar Sektarian (3) Catatan Tentang Al Jahmiyah dan Rafidhah


Penipuan Gelar Sektarian (3): 

Catatan Atas Edisi: 1 & 2 Tentang Al Jahmiyah dan Rafidhah!

Oleh: Syeikh Hasan bin Farhan al Maliki.

Sumber: http://almaliky.org/news.php?action=view&id=345

Hasan FarhanPada edisi pertama telah kami bincangkan tentang khurafatnya gelar Jahmiyah, dan sesungguhnya tidak ada di muka bumi seorang yang mengatakan: Aku seorang berfaham Jahmiyah. Dan tidak benar/valid akidah atau mazhab yang dinisbatkan kepada Jahm, tidak juga sebuah buku karangan yang ia tulis. Jahm hanya seorang pejuang yang bangkit melawan (kezaliman) bani Umayyah, dan ia terbunuh pada tahun 128 H di Khurasan dalam Revolusi yang dipimpin al Harits bin Suraij yang terkenal.

Dan pada edisi kedua kami telah bicarakan tentang gelar Rawafidh/Rafidhah, bahwa sesungguhnya tidak ada seorang pun di muka bumi ini yang berkata saya seorang Rafidhah (kecuali segelintir orang di hari-hari ini dan itupun dalam rangka pertengkaran kemazhaban). Dan sesungguhnya asal muassal gelar itu adalah ditetapkan untuk orang yang menolak membela Imam Zaid dan untuk fase sejarah tertentu dan Imam Zaid tidak memaksudkan mengabadikan dan melegalisasi gelar itu sebagaimana beliau juga tidak menggunakannya untuk orang yang menolak kekhalifahan Abu Bakar dan Umar, karena mereka tidak menolaknya ketika gelar Rafidhah itu disematkan oleh Imam Zaid kepada mereka, dan bahkan andai mereka menolaknya pun gelar itu bukan demikian konotasinya. Baca lebih lanjut