Dua Potret Nabi Muhammad Saw. Yang Kontradiksi! (EDISI KHUSUS BULAN NABI SAW.)

Dua Potret Nabi Muhammad Saw. Yang Kontradiksi

Pendahuluan:

Sudah seharusnya seorang nabi –nabi siapapun- menyandang sifat mulia yang menjadi contoh terindah dan uswah hasanah bagi umat manusia seperti yang dimaukan Allah Taâ’lâ-. Ia seorang penyandang keutamaan, pemilik akal sempurna dan puncak kesempurnaan. Teladan dalam hikmah, kewibawaan dan keanggunan. Seorang yang alim (mengenal Tuhannya dengan pengenalan sempurna), bijak, pemberani, tegar dan teguh serta sifat-sifat mulia kemanusiaan lainnya.

Ikhtisar kata: ia adalah seorang yang makshum dari kesalahan, terbebas dari kekurangan dan ketergelinciran. Paling mulia dan sempurnanya makhluk. Karena itu Allah mengutus Nabi kita Muhammad saw. sebagai uswah dan teladan bagi umat manusia sepanjang masa dan Allah mewajibkan atas mereka berteladan dengannya dalam segala perkara sampai-sampai dalam rincian paling parsial dari urusan dan tindakan kita sekalipun.

Allah SWT. berfirman:

لَقَدْ كانَ لَكُمْ في‏ رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كانَ يَرْجُوا اللَّهَ وَ الْيَوْمَ الْآخِرَ وَ ذَكَرَ اللَّهَ كَثيراً

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (QS. Al Ahzâb [33];21) Baca lebih lanjut

Kapan Muncul Nama Mazhab Kita; Ahlussunnah wal Jama’ah? Dan Sejauh Mana Legalitasnya?

Kapan Muncul Nama Mazhab Kita; Ahlussunnah wal Jama’ah? Dan Sejauh Mana Legalitasnya?

Sumber: http://almaliky.org/news.php?action=view&id=877

oleh Syaikh Hasan bin Farhan Al Maliky

hasan_Farhan

Semua sepakat bahwa nama ini tidak pernah ada di masa hidup Nabi saw.

Semua sekapat bahwa nama ini tidak ada di masa empat Khulafa’ Rasyidin, bahkan tidak juga di masa dinasti Bani Umayyah dengan lengkap (Ahlusunnah wal Jama’ah). Nama ini baru muncul di masa dinasti Bani Abbas.

Semua sepakat bahwa tidak ada satu pun ayat Al Qur’an, satu hadis pun dan satu atsar pun dari seorang sahabat yang menyebut nama ini. Ia adalah nama yang dirakit di masa kekuasaan al Mutawakkil untuk menghadapi kelompok Mu’tazilah dan Syi’ah[1]

Ya.. Telah digunakan redaksi As Sunnah sendirian tanpa digandeng dengan Al Jama’ah, dan juga Al Jama’ah sendirian tanpa digandengan dengan as Sunnah. Tetapi menggabungkan antara dua redaksi ini baru ada di masa al Mutawakkil al Abbasi (yang sangat dikenal kebenciannya kepada Ahlulbait Nabi saw.). Di sana harus dibedakan antara adanya nash-nash tentang sebuah perkara dan dibolehkannya menamakan dengannya sebagai simbol. Nash-nash tidak hanya datang memerintahkan mengamalkan Sunnah saja, tetapi ia juga datang untuk menekankan kejujuran, keadilan, tauhid dan kecintaan kepada Ahlulbait Nabi… dll. Baca lebih lanjut

Setan Dan Penistaan Pribadi Nabi Saw.! (EDISI KHUSUS BULAN MAULID NABI SAW.)

Setan Dan Penistaan Pribadi Nabi Saw.!

Sumber: http://almaliky.org/news.php?action=view&id=944                                                                                                                                                    

oleh Syaikh Hasan bin Farhan Al Maliky

Hasan FarhanSetan kontra setiap cahaya Al Qur’an… Cahaya kenabian… Cahaya akal… Cahaya berpikir positif…

Lalu bagaimana setak beraksi untuk memadamkan cahaya-cahaya tersebut?

Al Qur’an: Cahaya Al Qur’an ia padamkan dengan hadis-hadis dan riwayat-riwayat (khususnya redaksi dan makna-makna besar)

Nabi Saw.: dipadamkan cahayanya dengan mencoreng kecemerlangan kepribadian beliau dengan kepalsuan-kepalsuan atas nama beliau… Dan para sahabat adalah yang mewakili contoh-contoh hidup beliau!

Akal: dipadamkan dengan dikecam… Sampai-sampai mengecam akal seperti mengecam kekafiran.. Berpikir dan merenungkan keagungan alam semesta dan keajaiban jiwa diabaikan… Tidak ada manfaatnya… Mereka tidak lebih hanya sekedar ciptaan Allah yang sangat biasa.. Batu, pepohonan, udara dan air…  Baca lebih lanjut

Wanita-wanita Munafiq Di Masa Nabi Saw.!

Wanita-wanita Munafiq Di Masa Nabi Saw.

Sumber: http://almaliky.org/news.php?action=view&id=411

Dalam artikelnya ini Guru kita; Syeikh Hasan Farhan al Maliki membidik sebuah tema yang boleh dikata tidak pernah tersentuh oleh pena peneliti lain… yang selama ini menjadi fokus kajian adalah keberadaan al Munâfiqûn (orang-orang munafik laki-laki)…adapun keberadaan al Munâfiqât (orang-orang munafik perempuan) sebutan tentangnya terlupakan… itupun dengan membatasi keberadaan kaum munafik hanya dari kalangan Anshar, dan hanya pada orang-orang tertentu dan dengan motivasi tertentu pula yaitu karena rasa takut! Adapun kaum munafik dari golongan selain Anshar dan A’râb (orang-orang Arab baduwi) benar-benar terlupakan… padahal keberadaan mereka nyata dan aksi serta aktifitas jahat mereka sangat ganas!

Ini boleh jadi di antara tema-tema penting Al Qur’an yang terlupakan atau sengaja diabaikan dalam sunnah (yang dikelolah para penguasa tiran utamanya Mu’awiyah)!

Tema ini terabaikan karena kita berkenyang-kenyang dengan sajian hadis yang disajikan secara paksa oleh panguasa dan melupakan jamuan Allah Swt dalam Kitab Suci-Nya; Al Qur’an al Karim. (Abu Salafy)

.

oleh Syaikh Hasan bin Farhan Al Maliky

.

Hasan FarhanBuku-buku Sirah (Sejarah Nabi saw.) dan sejarah Islam sunyi dari menyebut seorang pun dari kalangan wanita-wanita munafik di masa Nabi saw. padahal keberadaan mereka disebut dalam Al Qur’an. Coba renungkan ayat di bawah ini:

الْمُنافِقُونَ وَ الْمُنافِقاتُ بَعْضُهُمْ مِنْ بَعْضٍ يَأْمُرُونَ بِالْمُنْكَرِ وَ يَنْهَوْنَ عَنِ الْمَعْرُوفِ وَ يَقْبِضُونَ أَيْدِيَهُمْ نَسُوا اللَّهَ فَنَسِيَهُمْ إِنَّ الْمُنافِقينَ هُمُ الْفاسِقُونَ

“Orang-orang munafik laki-laki dan perempuan, sebagian dengan sebagian yang lain adalah sama, mereka menyuruh membuat yang mungkar dan melarang berbuat yang makruf dan mereka menggenggamkan tangannya. Mereka telah lupa kepada Allah, maka Allah melupakan mereka. Sesungguhnya orang-orang munafik itulah orang-orang yang fasik.” (QS. At Taubah;67)

Ayat di atas mendekatkan kepadamu pemahaman bahwa al Munafiqât (wanita-wanita munafik) itu bagian al Munafiqun (dari kaum pria munafik). Ia berkata:  Baca lebih lanjut

Kajian Ilmu Hadis (seri 9): Pen-tsiqah-an Antara Hawa Nafsu dan Politik!

Pen-tsiqah-an Antara Hawa Nafsu dan Politik

Sumber: http://almaliky.org/news.php?action=view&id=830

oleh Syaikh Hasan bin Farhan Al Maliky

Hasan FarhanTelah kami sebutkan pada seri ke 6: “Amanat Ahli Hadis … Dalam Timbangan” bahwa bagaimana pembesar Ahli Hadis meninggalkan meriwayatkan hadis dari Abu Hanifah dan para murid beliau serta seluruh Ahli Ra’yu. Dan sebagian pembesar Ahli Hadis -seperti adz Dzuhali, Abu Hatim dan Abu Zur’ah- telah meninggalkan meriwayatkan hadis Bukhari karena sikap adz Dzuhali yang kental pengaruh kemazhaban tentang masalah “al Lafdz” (yaitu bahwa bacaan ayat-ayat Al Qur’an yang dilantunkan hamba adalah makhluk/ciptaan bukan Qadîm _red)

Sebagian lagi meninggalkan meriwayatkan hadis dari Syi’ah dan Mu’tazilah dan mereka (Ahli Hadis) berkeras-keras dalam mendha’ifkan Syi’ah dan Mu’tazilah. Dan sebagian lainnya seperti adz Dzuhali -guru, syeikhnya Bukhari- meninggalkan meriwayatkan hadis dari seorang Muhaddis agung terpercaya lantara orang itu tidak bangun menghormatinya ketika ia masuk ke sebuah majlis… Dan demikian seterusnya. Baca lebih lanjut

Kajian Ilmu Hadis (Edisi Khusus): Sekali Lagi Tentang Abu Hurairah!

Kajian Ilmu Hadis (Edisi Khusus): Sekali Lagi Tentang Abu Hurairah!

Sumber: http://almaliky.org/news.php?action=view&id=886

oleh Syaikh Hasan bin Farhan Al Maliky

hasan_FarhanSebelumnya kami telah tulis tentang beliau (lihat/klik disini dan disini) dan kami berusaha bersikap tengah tentangnya dengan berdasar ilmu. Kami katakan bahwa perselisihan tentang Abu Hurairah telah berlangsung sejak masa para sahabat Nabi saw. hingga masa kni. Bersikap tengah lebih afdhal.

Sebenarnya saja orang ini (Abu Hurairah_red) telah membuat capek kami, karena setiap kami berusaha membelanya di sisi tertentu muncul sisi lain darinya (yang sulit dibela_red). Kaitan dan keakrabannya dengan Ka’ab al Ahbâr (seorang pendeta Yahudi yang berpura-pura menampakkan keislamannya di masa kekhalifahan Umar. _red) dalam bidang ilmu dan dengan Mu’awiyah dari sisi politis tentu memberi pengaruh terhadap hadis-hadisnya… Kami tidak ingin menzalimi dia. Kezaliman dalam segala bentuknya dan kepada siapapun itu haram.

Dan kami tidak ingin menerima sesuatu atas nama Nabi saw. yang tidak sesuai/bersejalan dengan Al Qur’an, atau Sunnah yang telah shahih dari beliau. Kita harus memastikan dalam menerima penukilan atas nama beliau saw. Baca lebih lanjut

Kajian Ilmu Hadis (8): Sikap Ahli Hadis Terhadap Hadis Shahih dan Hadis Dha’if

Sikap Ahli Hadis Terhadap Hadis Shahih dan Hadis Dha’if (Seri 8)

Sumber:http://almaliky.org/news.php?action=view&id=829

.

oleh Syaikh Hasan bin Farhan Al Maliky

Hasan FarhanYang mengherankan adalah bahwa Ekstrimis, Ghulât Ahli Hadis adalah orang-orang yang paling kuat kecintaannya kepada hadis dha’if dan paling membenci hadis shahih menurut para-meter mereka sendiri! Ini bagian dari kebingungan mereka yang mana mereka memasukkan kita di dalamnya. Mereka bersemangat menetapkan Sunnah -sementara itu dalam akal-akal mereka penuh hadis-hadis lemah, dha’if-, tetapi ketika menghadapi hadis shahih -bahkan hadis mutawatir– mereka membencinya dan mengingkarinya!… Ini sebuah kebingungan dan kegilaan sikap yang tidak ada jalan keluarnya kecuali dengan menjernihkan hati dan ketenangan… serta memisahkan antara kemazhaban dan Sunnah.

Kamu harus ingat bahwa Sunnah adalah Sunnah Muhammad bukan sunnah mazhab. Contohnya, ketika kami datangkan kepada mereka hadis yang telah disepakati antara kami dan mereka bahwa ia adalah hadis shahih atau mutawatir, mereka menerima keshahihannya saja, adapun makna dan kandungannya mereka tolak! Seakan mereka berkata: Hadis ini shahih tetapi saya tidak beriman kepadanya! … Ini adalah kebiasaan Ahli Hadis sejak dahulu -bukan saja hari-hari ini-. Karena itu mereka berkata: Berjalankan (baca sambil lalu) saja hadis-hadis itu seperti datangnya tanpa memaknainya.!

Apakah kita akan uji mereka dengan (menyajikan beberapa contoh dari) sebagian hadis yang mereka shahihkan sendiri, atau kami diam?

Sepertinya masalah ini perlu diberi beberapa contoh: Baca lebih lanjut

Jangan Jadikan Kaum Buta Agama Sebagai Rujukanmu Dalam Syari’ah! (2)

Jangan Jadikan Kaum Buta Agama Sebagai Rujukanmu Dalam Syari’ah! (2)

Pemahaman pas-pasan terhadap nash Syari’at akan menghasilkan penyimpangan dan fatwa-fatwa primitif yang menggelikan serta mencerminkan keterbelakangan mental.

Itu kira-kira yang sering kita dapati dari “tukang fatwa” yang hanya bermodalkan secuil ilmu dan segudang kejahilan dan kecupetan.

Fatwa-fatwa para Mufti Buta Agama itu selalu mencoreng keagungan nilai-nilai mulia Syari’at Islam. Dan fatwa-fatwa Mufti Agung Kerajaan Wahhâbi yang buta jalan istinbàth tidak sedikit yang termasuk darinya.

Kerapian dan kebersian adalah nilai yang dijunjung tinggi Islam… Tetapi berbeda dengan Mazhab Wahhàbi yang dikawal para masyaikh buta jalan menuju taman kerapian semua nilai Islam itu tidak masuk dalam daftar kepeduliannya. Mufti Wahhâbi Abdul Aziz bin al Bâz memfatwakan bahwa jenggot seorang pria haram dipotong dan di pangkas… Ia harus dibiarkan tumbuh… Haram dipangkas.. Haram!!
Baca lebih lanjut

Jangan Jadikan Kaum Buta Agama Sebagai Rujukanmu Dalam Syari’at!

Jangan Jadikan Kaum Buta Agama Sebagai Rujukanmu Dalam Syari’at!

bin baz_1Berfatwa adalah sebuah aktifitas ilmiah yang membutuhkan penguasaan seperangkat ilmu agama. Ia adalah tugas para fuqahâ’/mujtahid. Penguasaan ilmu asal-asalan dan dangkal akan menyebabkan produk fatwanya menyimpang jauh dari kebenaran! Dan tidak jarang menyesatkan bahkan bisa jadi akan mencoreng kecemerlangan wajah Syari’at Islam.

Sebagaimana seringkali fatwa produk akal-akal kerdil membuat geli kaum berakal… Karenanya kita mesti berhati-hati dalam menerima fatwa dari peramu fatwa! Jangan jadikan mufti buta Syari’at rujukan Anda dalam memahami hukum! Karena si buta tidak tau arah, lalu bagaimana Anda mengikuti jejaknya?!

binbaz2Di bawah ini saya akan ajak Anda sedikit rehat menghibur diri dengan menyimak fatwa lugu lagi lucu nun menggelikan. Tetapi saya harap Anda tidak tertawa terbahak-bahak karena itu dilarang dan kurang etis. Anda cukup berucap Alhamdulillah, segala puji bagi Allah yang telah menganugerahkan kepadaku akal sehat! Baca lebih lanjut

Kajian Ilmu Hadis: Perlakuan Buruk Ahli Hadis Terhadap Nabi Saw. (EDISI KHUSUS MENYAMBUT BULAN KELAHIRAN NABI SAW.)

Kajian Ilmu Hadis: Perlakuan Buruk Ahli Hadis Terhadap Nabi Muhammad saw.

 

Sumber: http://almaliky.org/news.php?action=view&id=66

Demi Kecintaan kepada Nabi yang suci dan dalam menyambut maulid manusia yang digelari rahmatan lil alamin, Nabi yang agung, pelopor dan teladan budi pekerti dan akhlak Karimah, Kami persembahkan artikel dibawah ini untuk membela kesucian beliau dari hadis-hadis pelecehan dan penghinaan terhadap pribadi beliau produk tiran dan kaum nawashib (pembenci keluarga Nabi saw.). sangat disayangkan hadis-hadis palsu ini banyak bertebaran di kitab-kitab hadis standar yang diakui keshahihannya -Abu Salafy-

oleh Syaikh Hasan bin Farhan Al Maliky

Hasan FarhanAhli hadis mengklaim bahwa Nabi saw. menikahi Aisyah ketika ia berusia enam tahu! Dan beliau saw. berumah tangga (bersebadan) ketika Aisyah berusia sembilan tahun! Ini adalah batil (palsu)[1]

Tentang menikahnya Aisyah dalam usia di atas terdapat dalam Shahihain (Shahih Bukhari & Muslim) dari riwayat Hisyam bin Urwah dari ayahnya (Urwah) dari Aisyah. Ini adalah palsu. Hisyam dan ayahnya termasuk orang yang condong/mendukung para penguasa lalim/tiran. Dan para ulama pun berselisih, Abu Usamah meriwayatkannya dari Hisyam dari ayahnya secara mursal. Sementara Bukhari dan Muslim hanya meriwayatkan yang marfû’ dan riwayat yang sanadnya munqathi’ -dalam kasus ini – lebih kuat. Urwah yang tertuduh dalam riwayat itu. Ia teman dekatnya Mu’awiyah. Sedangkan Hisyam -putranya- sebagian ulama men-tsiqah-kannya semantara ulama lain men-dha’if-kannya. Ia bukan hujjah. Dan adanya idhthirâb/kekacauan -dalam riwayat ini- ada yang menyambungkan riwayat -dengan menyebut ucapan Aisyah- (al washlu) dan ada yang memutus -hanya menyebut ucapan Urwah- (al irsâl) adalah sebuah bentuk cacat dalam hadis/riwayat, dan fakta sejarah pun menolaknya.

Sebab-sebab itu panjang penjelasan tentangnya, di antaranya adalah: Sesungguhnya Aisyah sudah dewasa ketika dinikahi Nabi saw, usianya sekitar 18 (delapan belas) tahun, kenyataan ini didukung dua bukti: Baca lebih lanjut

Jangan Jadikan Kaum Buta Agama Sebagai Rujukan Akidahmu!

Jangan Jadikan Kaum Buta Agama Sebagai Rujukan Akidahmu!

bin baz_1Dusta dan kebodohan adalah ciri khas pada mufti dan masyâikh Salafy Wahhâbi… Klaim-klaim palsu adalah senjata unggulan para pengawal mazhab kejahilan dan haus darah yang satu ini. Dan yang tidak kalah khasnya adalah “suci dan bersihnya” muka mereka dari rasa malu, sehingga tidak sedikit pun masuk dalam pertimbangan mereka bahwa dusta dan kepalsuan klaim mereka kelak akan terbongkar dan mereka akan dipermalukan. Rasa malu, al hayâ’u minal îmân/rasa malu itu sebagian dari iman. Tapi sayangnya, kata yang satu ini telah terhapus dari kamus besar mereka…. Sehingga sulit bagi mereka mengerti apa itu malu?

Mufti Besar Kerajaan Wahhâbi Arab Saudi; Abdul Aziz bin al Bâz adalah salah satu dari masyâikh Salafy Wahhâbi binbaz2yang laling berani memamerkan kejahilan dan tidak pernah melek menatap cahaya kebenaran… Ia hanya hidup dalam gelapnya kebutaan akidah dan pemikiran!

Dalam salah satu fatwanya yang sangat memalukan karena ia memamerkan puncak kejahilan dan kebutaan pemikirannya, di samping juga membuktikan kedegilan dan pengingkarannya kepada fakta-fakta akidah tak terbantahkan, Bin Bâz berfatwa demikian tentang Ta’wil: Baca lebih lanjut

Syeikh Al Albâni Membongkar Ketidak-jujuran Ahli Hadis!

Syeikh Al Albâni Membongkar Ketidak-jujuran Ahli Hadis!

Persembahan Untuk Para Salafi Wahhâbi Penyembah Kaum Terkutuk!

Al Albani

Adalah kebiasaan sebagian Ahli Hadis untuk merahasiakan sabda-sabda Nabi saw. yang kurang sejalan dengan akidah yang telah didoqmakan oleh penguasa Bani Umayyah melalui “tukang-tukang sihir” mereka yang bekerja siang-malam meracuni pikiran kaum Muslimin dengan kepalsuan dan merusak pola berpikir mereka sehingga siap membuang sabda-sabda Nabi saw, yang bertentangan dengan kehendak Mu’awiyah dan para penguasa tiran setelahnya ke dalam tong sampah….

Berbagai cara mereka tempuh… mulai merahasiakan hadis/Sunnah Nabi saw. …, merubah sebagian redaksinya dan memelintir maknanya…semua itu demi keridhaan Mu’awiyah dana para tiran yang berkuasa yang mana Ahli Hadis hidup dalam bayang-banyang santunan dan kemurahan hati mereka. Baca lebih lanjut

Kajian Ilmu Hadis (7): Apa Yang Hilang Dari Sunnah Nabi Saw.?

Apa Yang Hilang Dari Sunnah Nabi Saw.?

Sumber: http://almaliky.org/news.php?action=view&id=828

oleh Syaikh Hasan bin Farhan Al Maliky

Apa yang hilang dari Sunnah Nabi saw?
Hasan FarhanJawabnya: Banyak sekali Sunnah yang hilang. Bukti-bukti hilangnya Sunnah -boleh jadi banyak- bisa ditemukan dari Al Qur’an dan Sunnah sendiri.

Semua hadis bertajukkan akal dan keutamannya telah hilang…

Semua hadis bertajukkan perenungan alam semesta telah hilang…

Semua hadis bertajukkan bersaksi karena Allah telah hilang…

Semua hadis bertajukkan dzikir dan tazdakkur (mengingat) -sesuai makna Qur’ani- telah hilang…

Kebanyakan hadis bertajukkan keadilan dan peran porosnnya telah hilang…

Kebanyakan hadis bertajukkan kejujuran dan peran porosannya telah hilang…

Semua hadis bertajukkan kelembutan ketundukan telah hilang …

Semua hadis bertajukkan bersyukur -sesuai makna Qur’ani- telah hilang…

Khuthbah-khuthbah Jum’at Nabi saw. dari atas mimbar -yang tentunya didengar oleh seluruh kaum Muslimin yang hadir saat itu- telah hilang!

Jumlah total khuthbah itu adalah 530 khuthbah yang didengar kaum Muslimin. Bukan yang hanya dinukil oleh perorangan yang menukil ucapan Nabi dalam sebuah majlis. Baca lebih lanjut

Kajian Ilmu Hadis (6): Amanat Ahli Hadis… Dalam Timbangan

Kajian Ilmu Hadis (6): Amanat Ahli Hadis… Dalam Timbangan

Sumber: http://almaliky.org/news.php?action=view&id=827

oleh Syaikh Hasan bin Farhan Al Maliky

hasan_FarhanAhli hadis memiliki banyak keutamaan, kami berdoa untuk mereka, memohonkan ampunan buat mereka dan mengakui keutamaan mereka. Hanya saja adalah kewajiban kami untuk memperingan sikap berlebihan kelewat batas terhadap mereka.

Sikap berlebihan kelewat batas (al Ghuluw) terhadap mereka penyebabnya adalah Ahli Hadis sendiri. Metode Ahli Hadis telah menguasai pola berpikir manusia dalam memuji dan mencela. Merekalah yang menulis buku-buku akidah berdasarkan sanad kemudian dicetak dan disebar-luaskan lalu berkuasa… Sampai-sampai pihak yang menentang mereka seperti Ahli Ra’yi dan Mu’tazilah lemah di hadapan mereka, bukan dikarenakan kekuatan Ahli Hadis itu sendiri akan tetapi utamanya karena faktor-faktor politis dan kemudian faktor sosial.

Ahli Hadis terdahulu secara global lebih afdhal dari yang datang belakangan setelah mereka. Yang saya maksud dengan “yang terdahulu” adalah hingga akhir abad kedua Hijrah. Adapun yang belakangan adalah kira-kira mulai pertengahan abad ketiga. Masa antara tahun 200 hingga 240 adalah masa barzakh/pertengahan di antara dua masa di atas … Dan masa ini -seperti telah saya katakan- secara global lebih baik. Tentu pada setiap kaidah ada pengecualian.

Pengaruh Politik

Pengaruh politik terhadap Ahli Hadis sangat besar, bahkan di zaman para sahabat pun. Ini yang harus difahami. Dan saya akan fahamkan agar kalian memahami penyebab mengapa sahabat fulan banyak riwayatnya dan sahabat fulan lainnya sedikit riwayatnya … Kemudian generasi Tabi’in.

Baca lebih lanjut

Syeikh al Albâni (rh) Ulama Salafy Kontemporer Yang Paling Obyektif!

Persembahan Untuk Para Salafiyyun Wahhabiyyun.

SUMBER: http://almaliky.org/news.php?action=view&id=438

Nasihat Syeikh Hasan bin Farhan Al Maliky: Agar Anggota Salafy Tidak Makin Banyak Yang Menjadi Syi’ah!

oleh Syaikh Hasan bin Farhan Al Maliky

Hasan FarhanSyekh Al Albani (rh) adalah ulama salafy kontemporer yang paling obyektif dan bahkan sebagian buku karayanya telah menyebabkan sebagian orang (Salafy) menjadi Syi’ah

Ambillah (contoh) buku Tsumma Syayya’ani al Albâni”

Jika sebagian orang memeluk mazhab Syiah karena membaca buku saya atau buku karya Adnan Ibrahim maka tidak mesti kami berdua ini penganut mazhab Syiah.

Persis seperti al Albâni, tidak diperselisihkan bahwa ia seorang Salafy. Kendati demikian telah banyak orang memeluk mazhab Syiah karena dia.

Kami anjurkan agar Anda mau membaca buku Tsumma Syayya’ani al Albâni (Al Albâni Telah Membuatku Menjadi Seorang Syiah) -silahkan baca/download pdf-: https://ia700703.us.archive.org/29/items/aqaed_ht33_shiites-Albanian/571.pdf

Tsumma_Syayya'ni_Albani.

Buku itu karya seorang peneliti beraliran Salafy tulen (Asy Syaikh Abdulhamid al Jaaf). Jelas sekali bahwa ia seorang penuntut ilmu yang kuat (getol) … Ia bukan seorang awam.

Bacalah bagaimana ia menjadi Syiah.. Ambillah pelajaran darinya. Baca lebih lanjut