Penipuan Gelar Sektarian (3) Catatan Tentang Al Jahmiyah dan Rafidhah


Penipuan Gelar Sektarian (3): 

Catatan Atas Edisi: 1 & 2 Tentang Al Jahmiyah dan Rafidhah!

Oleh: Syeikh Hasan bin Farhan al Maliki.

Sumber: http://almaliky.org/news.php?action=view&id=345

Hasan FarhanPada edisi pertama telah kami bincangkan tentang khurafatnya gelar Jahmiyah, dan sesungguhnya tidak ada di muka bumi seorang yang mengatakan: Aku seorang berfaham Jahmiyah. Dan tidak benar/valid akidah atau mazhab yang dinisbatkan kepada Jahm, tidak juga sebuah buku karangan yang ia tulis. Jahm hanya seorang pejuang yang bangkit melawan (kezaliman) bani Umayyah, dan ia terbunuh pada tahun 128 H di Khurasan dalam Revolusi yang dipimpin al Harits bin Suraij yang terkenal.

Dan pada edisi kedua kami telah bicarakan tentang gelar Rawafidh/Rafidhah, bahwa sesungguhnya tidak ada seorang pun di muka bumi ini yang berkata saya seorang Rafidhah (kecuali segelintir orang di hari-hari ini dan itupun dalam rangka pertengkaran kemazhaban). Dan sesungguhnya asal muassal gelar itu adalah ditetapkan untuk orang yang menolak membela Imam Zaid dan untuk fase sejarah tertentu dan Imam Zaid tidak memaksudkan mengabadikan dan melegalisasi gelar itu sebagaimana beliau juga tidak menggunakannya untuk orang yang menolak kekhalifahan Abu Bakar dan Umar, karena mereka tidak menolaknya ketika gelar Rafidhah itu disematkan oleh Imam Zaid kepada mereka, dan bahkan andai mereka menolaknya pun gelar itu bukan demikian konotasinya.

Gelar/penamaan itu muncul pada masa kebangkitan/revolusi Imam Zaid menentang bani Umayyah di kota Kufah, dan perjuangan beliau terjadi enam tahun sebelum pemberontakan Jahm, tepatnya pada tahun 122 h. Jadi dua gelar/penamaan itu dilatar-belakangi sebab politik, bukan ilmiah atau pemikiran. Andai tidak ada dua pemberontakan itu pasti kita tidak akan pernah mendengar gelar Jahmiyah dan Rafidhah tidak juga Zaidiyah!

Kenyataan ini menguatkan bahwa pengaruh politik dalam produk pemikiran dan kemazhaban kita sangat kuat, tidak terkecuali mengelompokan gelar-gelar menipu dan tidak ilimah. Berdeba dengan di Barat di mana jarang ditemukan gelar/penamaan yang ditegakkan di atas latar-belakang dasar politik.

Dan tadinya saya hari ini bermaksud menulis tentang (gelar) Nawashib tetapi sebagian teman meminta saya mengurai lebih dalam dengan berangkat dari pertanyaan di bawah ini:

Apakah harus disyaratkan seorang yang kafir itu (untuk ditetapkan kekafirannya) ia harus mengaku kafir; ia berkata: “Saya seorang kafir”? (Jika tidak) lalu mengapakah engkau mensyaratkan seseorang disebut sebagai Jahmi jika ia mengaku dirinya sebagai seorang Jahmi dan seorang Rafidhah harus mengakui bahwa ia seorang Rafidhah?

Jawab:

Saya tidak mengatakan bahwa adalah wajib/harus seseorang itu mangakui bahwa ia seorang Jahmi atau Rafdihah, tetapi hakikat mazhab yang ditentukan dari dalam/internal dasar-dasar pemikiran berbeda dengan mengeksploitasi gelar atau nama untuk kepentingan politik atau kemazhaban. Berbeda dengan Kafir atau Musyrik atau Munafik, karena materi kekafiran itu ada di dalamnya. Demikian juga dengan kemunafikan dan kemusyrikan.

Maka Jahmiyah misalnya, gelar itu telah dilontarkan/disematkan oleh kaum Salafi dan Ahli Hadis kepada kaum Asyâ’irah (pengikut Asy’ari) dan al Maturidiyyah (sementara mereka itu adalah mayoritas Ahlu Sunnah dan meyoritas pengikut empat mazhab). Gelar itu juga digunakan kaum Hanbali untuk pengikut mazhab Mu’tazilah, Ibâdhiyah, Imamiyah, Zaidiyah dan Dzahiriyah –di samping gelar-gelar itu sendiri masih perlu diteliti, dan akan dibahas pada waktunya nanti-. Demikian juga dengan gelar Rafidhah, gelar tersebut telah diawamkan (pemahamannya) dan digeneralisasi sehingga keluar dari penggunaan aslinya yaitu menolak membela Imam Zaid untuk disematkan kepada seluruh Syi’ah, baik yang menentang kekhalifahan Abu Bakar dan Umar maupun yang mengakuinya, bahkan kaum Zaidiyah (yang getol membela Imam Zaid) juga dimasukkan oleh musuh-musuh mereka dari kalangan Salafi ke dalam gelar Rafidhah juga. Jadi dua penamaan itu bersifat politis, tidak ada kaitannya dengan pemikiran yang sedang diperselisihkan.

Maka penamaan Jahmiyah dan Rafidhah itu pada dasarnya kosong dari muatannya dari dalam sendiri, jadi tidak ada kaitannya dengan pengakuan atau tidak adanya pengakuan. Dengan artian bahwa mazhab Jahm yang telah terbukti bahwa ia adalah seorang politisi bukan seorang ideologis atau seorang ahli fikih, jadi mazhabnya adalah bersifat politik yaitu mengajak kembali kepada Al Qur’an dan Sunnah serta menghidupkan kembali konsep Syura. Dan inilah yang benar darinya. Adapun menyajikannya dengan sampul kemazhaban sehingga dengannya mayoritas umat Islam digelari Jahmiyah maka itu adalah pengaruh buruk kekuasaan bani Umayyah.

Sedangkan buku-buku tentang sejarah mazhab-mazhab dan sekte-sekte telah terpengaruh berat dengan politik bani Umayyah sampai ke tulang sum-sum! Karenanya mereka tidak menulis tentang sekte Nawashib! Mereka hanya mengelompokkan musuh-musuh bani Umayyah ke dalam kelompok-kelompk sesat. Adapun bani Umayyah tidak mereka kelompokkan! Padahal bani Umayyah telah melaknati Imam Ali dari atas mimbar-mimbar, dan mereka membunuh para sahabat di Karbala, pada peristiwa pembantaian Hurrah[1] dan juga penyerbuan Ka’bah[2], peristiwa ‘Adzrâ’ dan Mesir. Dan mereka (bani Umayyah) sudah semestinya berhak digelar dengan banyak gelar, jika manusia obyektif dalam menilai!

Jadi penulis buku-buku tentang sekte-sekte telah mengambil dari politik bani Umayyah nama-nama musuh-musuh bani Umayyah, di samping juga mengambil dari mereka pemikiran-pemikiran, seperti pemikiran Jabr (Fatalisme) Tasybîh, Irjâ’ (keyakinan bahwa dosa dan maksiat apapun tidak merusak keimanan bahwa ia bukan bagian dari keimanan_red) dan pengkafiran kaum Muslimin. Dengan demikian Jahmiyah itu kosong dari kandungan, karena ia tidak shahih/valid, baik gelarnya maupun materi ilmiahnya.

Adapun Rafidhah, ia sedikit berbeda. Karena nama itu pada mulanya disematkan untuk orang yang menolak membela Imam Zaid bin Ali berdasarkan pendapat yang shahih. Akan tetapi materi ilmiah yang memasukkan unsur “menolak kekhalifahan Abu Bakar dan Umar” ada pada Syi’ah, tetapi hal itu tidak melegalkan penamaan/penggelaran mereka dengan gelar Rafidhah, sebab memang bukan itu yang dimaksudkan oleh Imam Zaid dalam menetapkan gelar tersebut. Sebagaimana kultur “menolak” membela Imam Zaid itu ada dengan kentalnya pada kalangan Salafi, karenanya mereka lebih berhak disebut sebagai Rafidhah berdasarkan maksud Zaid. Tetapi tidak seorangpun menamai dirinya sebagai Rafidhah, baik kaum Salafi maupun Syi’ah.

Benar, materi ilmiah ada dalam kedua makna tersebut; baik makna asli maupun ikutan. Tetapi ia tidak melegalkan penamaan/penggelaran. Karena jika demikian maka gelar itu juga harus diberlakukan terhadap orang-orang yang hidup sebelum masa Imam Zaid, seperti telah kami jelaskan pada kasus penolakan Sa’ad bin Ubadah terhadap kekhalifahan Abu Bakar dan Umar, sementara Sa’ad adalah seorang sahabat Badri yang agung; yang ikut serta dalam perang Badar.[3]

Alakullihâl, baik Syi’ah maupun Salafi sama-sama berbagi materi ilmiah dari gelar Rafidhi, baik dengan makna aslinya maupun makna ikutannya. Mereka (Syi’ah) menolak kekhalifahan Abu Bakar dan Umar sedangkan salafi menolak mengakui legalitas perjuangan Imam Zaid. Tetapi kendati demikian kedua kelompok ini tidak bergelar Rafidhi.

Dan pada edisi selanjutnya kami akan membincangkan tentang gelar Nawâshib, dan bukti Syar’i yang membenarkan penggelaran tersebut.

____________________

[1] Penduduk kota suci Madinah yang dipimpin oleh putra-putra para sahabat Anshar setelah menyaksikan kebejetan dan kezaliman kelewat batas Yazid, mereka memutuskan untuk mengusir Gubernur Madinah dan menolak “kekhalifahan” Yazid… tetapi sayang pemberontakan mereka segera dihabisi oleh pasukan bani Umayyah. Yazid membebaskan untuk seluruh pasukannya berbuat apa saja terhadap penduduk kota suci Madinah setelah berhasil menumpas pemberontakan itu… maka para prajurit tentara Yazid melakukan pembantaian brutal terhadap penduduk sipil, tidak terkecuali mereka yang berlindung di sekitar makam suci Nabi saw. sampai-sampai darah-darah mengalir di sekitar pusara suci Rasulullah saw., merampas harta-harta mereka dan sangat menyedih, mereka dengan biadabnya memperkosa gadis-gadis dan wanita-wanita kota suci Madinah.. mereka adalah putri-putri para sahabat dan istri-istri anak-anak para sahabat Anshar! Tidak kurang dari seribu wanita diperkosa, sehinggga setelah peristiwa biadab itu para orang tua jika mengawinkan putri-putrinya mereka tidak berani mensyaratkan/memastikan bahwa anak gadisnya masih perawan karena boleh jadi ia adalah korban pemebrkosaan biada tentara bani Umayyah… innâlillâh wa innâ ilaihi râji’ûn. Dan yang lebih menyakitkan hati adalah bahwa kaum Salafi Wahabi menyanjung tinggi Yazid dan menggelarinya dengan gelar Amirul Mukminin. (Abu Salafy)

[2] Setelah berhasil menumpas perjuangan penduduk kota suci Madinah, pasukan diperintahkan Yazid agar menuju kota suci Mekkah dan menumpas pemberontakan Abdullah bin Zubair… dan di antara yang terjadi adalah mereka menyerang Ka’bah dengan manjaniq/batu-batu berapi yang dilemparkan dengan menggunakan alat lontar sehingga dinding-dinding Ka’bah retak dan beberapa bagiannya hancur.

Jadi Yazid dalam tiga tahun berkuasa ia telah melakukan tiga kejahatan brutal; (1) Tahun pertama, membantai Imam Husain; cucu tercinta Nabi saw. dan keluarga serta para pengikut setianya. Dan setelahnya pasukan Yazid menginjak-injak jasad-jasad Imam Husain dan para syuhada’. (2) Tahun kedua, membantai penduduk kota suci Madinah seperti telah disinggung di atas. (3) Tahun ketiga menyerang Ka’bah. Dan untuk ketiga kejahatannya ini Yazid mendapatkan acungan jempol dari kaum Salafi Wahhabi. (Abu Salafy)

[3] Sebab tidak sedikit sabahat dan tabi’in yang menolak keabsahan kekhalifahan Abu Bakar dan Umar (Abu Salafy)

2 Tanggapan

  1. Mantab pak abu… teruskan… biar umat jadi cerdas

  2. Lho bukannya di era abbasiyah banyak diproduksi kitab yang menyerang dinasti umayyah.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s