Penipuan Gelar Sektarian (1): Jahmiyah Adalah Khurafat!

Penipuan Gelar Sektarian (1)

Jahmiyah Adalah Khurafat!

Sumber: http://almaliky.org/news.php?action=view&id=321

Oleh: Syaikh Hasan bin Farhan Al Maliky

.

Hasan FarhanKeterherananku tak berakhir ketika aku menemukan para sarjana sekarang ini tidak pernah mau meneliti dalam memahami gelar-gelar sektarian, padahal tidak sulit untuk melakukan penelitian itu, seperti gelar: Sunni, Syi’ah, Jahmi, Rafidhi, Salafi, Murji’i, Qadari dsb.

Sebagai contoh gamblang kita ambil saja gelar Jahmiyah, sekarang kamu tidak memasuki sebuah perpustakaan manapun kecuali kamu menemukan di dalamnya puluhan buku yang mengecam (sekte) Jahmiyah, sementara tidak ada seorang pun di muka bumi ini sejak (Nabi) Adam hingga hari ini yang berkata: “saya seorang Jahmi” (yang beraliran Jahmiyah)!

Misalnya, faham Jahmiyah yang mereka nisbatkan kepada Jahm bin Shafwân; si pejuang yang bangkit memberontak dengan latar belakang politis bersama al Hârits bin Suraij, yang terbunuh oleh tentara pasukan bani Umayyah di negeri Khurâsân pada tahun 128 H, sekte ini sama sekali tidak ada wujudnya, tidak ada satu pun buku karya Jahm bin Shafwân, tidak juga satu riwayat pun dari Jahm, tidak juga satu pun murid yang menukil dari Jahm. Di sana tidak ada sekte yang dinisbatkan kepadanya. Dan tidak benar/shahih barang satu ucapan pun darinya tentang Akidah.

Faktanya adalah bahwa dia seorang pejuang politis yang mengajak kembali kepada al Kitab dan Sunnah serta Syura -musyawarah dalam pemilihan Khalifah-, (seperti yang disebutkan dalam Târîkh ath Thabari tentang peristiwa yang terjadi pada tahun 128 H), sebagaimana dinukil darinya oleh Ulama besar negeri Syam (Suriah) Syeikh al Qasimi dalam kitabnya Târîkh al Jahmiyah wa al Mu’tazilah/Sejarah Jahmiyah dan Mu’tazilah.. al Qasini yang Sunni itu telah menggolongkan pengikut Jahm ke dalam kelompok yang mengajak kembali kepada al Kitab dan Sunnah serta Syura..

Adapun pengelompokan atas dasar sektarian/madzhabiyah yang dilakukan para Salafi, maka Jahmiyah mereka golongkan sebagai kaum zindiq/kafir dan ahli bid’ah. Kecaman atas Jahm bin Shafwân –semoga rahmat Allah atasnya- adalah pengaruh buruk bani Umayyah yang sangat banyak berpengaruh atas kaum Muslimin yang Ghulât/Ekstrim yang hanya berlaqlid buta kepada para pendahulu, aslâf.

Tetapi, hai Anda yang berpikir, apakah logis bahwa para pemikir, khususnya para Salafi tidak mengetahui fakta sederhana ini?

Jawabnya, Iya, mereka mengetahuinya. Tetapi dalam perkara ini adalah penipuan yang usianya 1200/seribu dua ratus tahun, yaitu bahwa Jahmiyah dalam pandangan para penipu itu tidak lain adalah sekumpulan mazhab yaitu mazhab Asy’ariyah… yang mewakili mayoritas Ahlu Sunnah dan Mu’tazilah, kemudian mazhab-mazhab lain juga diselipikan di dalamnya seperti Mazhab Dzahiriyah, Zaidiyah, Ibâdhiyah dan (Syi’ah) Imamiyah. Maka ketika seorang awam mendengar “pengkafiran atas Jahmiyah” ia tidak menyangka bahwa dalam pengkafiran itu terdapat bahaya. Tetapi para Gulât memiliki agenda rahasia atau terang-terangan dalam hal ini.

Salafi generasi awal meluncurkan gelar Jahmiyah sementara yang mereka maksudkan secara khusus adalah kaum Mu’tazilah dan banyak dari kelompok Ahnâf/pengikut Imam Abu Hanifah, terlebih setelah peristiwa pemaksaan untuk meyakini Al Qur’an makhluk (bukan Qadim).

Dan setelah sukses menghabisi kelompok Mu’tazilah di masa kekuasaan (Khalifah) al Mutawakkil, kaum Salafi generasi penerus tidak menghentikan penggunakan senjata ini, tetapi kini mereka menggunakannya untuk menuduh musuh-musuh mereka yaitu kaum Asy’ariyah, seperti kita saksikan dalam kitab-kitab Akidah kaum Salafi generasi penerus seperti Ibnu Taimiyah dan Ibnu Qayyim.

Banyak orang tidak mengatahui bahwa di antara tokoh-tokoh terkemuka Jahmiyah yang dikafirkan Ghulât Salafi yang terdahulu adalah Imam Abu Hanifah sendiri, (baca kitab as Sunnah karya Abdullah putra Ahmad bin Hanbal,1/225) dan juga para pengikut Abu Hanifah.

Jadi, ada maslahat besar bagi kaum Salafi Ekstrim di balik bersembunyi (dalam menyerang musuh) dengan gelar Jahmiyah, karena dengan itu mereka berhasil mengkafirkan kaum Muslimin Ahlu Sunnah selain mereka, sebab empat Mazhab dari sisi akidahnya adalah pengikut Asy’ariyah. Ini sudah dikenal, kecuali di mata Ibnu Taimiyah saja. Dengan cara bersembunyi ini menjadikan Ekstrimis Salafi dan para pengikut mereka dapat mengkafirkan seluruh kaum Muslimin di bawah gelar yang tidak seorang pun pernah mengaku ia berhubungan dengannya. Dan dengan cara ini, Salafi menyembunyikan akidah mereka dari penguasa atau ulama yang obyektif atau dari para peneliti…

Bahkan dalam kuliah-kuliah di Universitas-universitas yang semestinya dilakukan penelitian dan pengkajian mendalam tentang gelar-gelar dan penamaan-penamaan, kita menemukan mereka; para dosen ngotot menggunakan gelar Jahmiyah untuk menetapkan vonis kafir kaum Asy’ariyah dan menghalalkan darah-darah dan harta-harta mereka jika mereka tidak segera bertaubat. (baca Muqaddimah kitab al Ibânah karya Ibnu Buththah oleh Yusuf al Wâbil, diterbitkan oleh Universitas Ummul Qurâ).

.

Ringkas kata, bahwa Jahmiyah dalam pandangan Ekstrimis Salafi mencakup tiga kelompok:

Pertama: Pengikut Jahm bin Shafwân sendiri, yang tidak lain hanya karena ia bangkit berjuang menentang Bani Umayyah, bukan karena ia memiliki sebuah paket pemikiran Akidah. Kelompok Jahmiyah ini tidak pernah ada wujudnya kecuali dalam khayalan pikiran kaum Salafi, karena Jahm tidak meninggalkan sebuah kitab pun atau sebuah riwayat dan ia tidak memiliki murid. Tidak dikenal darinya kecuali pendapatnya tentang Jabr (fatalism) dan itu pun tidak benar darinya. Ia hanya seorang pejuang yang bangkit, andai benar ia seorang berfaham Jabariyah tentu ia tidak akan bangkit memberontak. Salafi juga menisbatkan kepadanya sebuah pandangan tentang Ta’thîl/menelanjangi sifat bagi Allah, dan penisbatan itupun juga tidak benar… tidak shahih sanadnya.

Sumber dua tuduhan itu adalah mufti pasukan rezim Bani Umayyah di negeri Khurâsân yaitu Muqâtil bin Sulaiman, lalu buku-buku Akidah saling mengutip satu dari lainnya tanpa penelitian. Jadi apa yang dinukil dari Jahm –dan ia sangat sedikit- tidak shahih. Yang shahih adalah apa yang diriwayatkan ath Thabari   dan didukung oleh Syeikh Jamâluddîn al Qasimi bahwa Jahm adalah seorang Penganjur kepada Al Kitab, Sunnah dan penegakan konsep Syurâ. Ia adalah seorang pejuang politis, bukan seorang ulama Akidah. Ini yang shahih. Adapun pendapat-pendapat lain yang dinisbatkan kepadanya sama sekali tidak benar… tidak shahih sanadnya.

Lalu apakah pantas seorang yang menyeru kepada Al Kitab, Sunnah dan pengetrapan konsep Syura untuk kita sibukkan para pelajar dan kajian-kajian kampus agar mereka mengkafirkannya dan mengkafirkan siapa yang berpandangan sepertinya?!

Kedua: kelompok Mu’tazilah. Mereka (Salafi) telah menggelari mereka dengan gelar Jahmiyah. Dan penetapan gelar atas kaum Mu’tazilah adalah kerjaan kaum Salafi generasi pertengahan (kaum Hanbiliyah), padahal Mu’tazilah itu lebih dulu muncul dari Jahm bin Shafwân itu sendiri. Ucapan-ucapan dan buku-buku akidah karya ulama Salafi (generasi sebelumnya) tidak menyebutkan Jahm barang sehuruf pun. Yang disebut adalah kelompok-kelompok yang eksis sezaman dengan para tokoh generasi awal Mu’tazilah seperti Wâshil bin Athâ’ (wafat 131 H), Amr bin Ubaid (wafat 143 H). dan tidak ada seorang pun dari Mu’tazilah yang pernah mengaku ia mengambil ajaran dari Jahm bin Shafwân, lalu mengapa kaum Ekstrimis Salafi ngotot mensifati Mu’tazilah dengan Jahmiyah?

Iya, mereka (salafi) akan marah jika ada yang menyebut mereka sebagi kaum Mujasimah (yang memposturisasi Allah), atau mereka adalah kaum Nawâshib (pembenci keluarga, Ahlul bait Nabi saw.) atau mereka adalah kaum Musyabbihah (yang menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya) atau Karrâmiyah atau Hasyawiyah? Tidakkah mereka itu berkata: Kami tidak bernama dengan nama-nama itu? Demikian juga Mu’tazilah, mereka juga berkata: Kami bukan Jahmiyah. Dan mereka (Mu’tazilah) sama sekali tidak menganggap Jahm sebagai ulama’, bahkan boleh jadi banyak dari mereka yang tidak menganal namanya.

Ketiga: Kaum Asy’ariyah. Kaum ekstrimis Salafi menggelari kaum Asy’ariyah dengan gelar Jahmiyah! Gelar Jahmiyah telah dilontarkan para Salafi generasi akhir (seperti Ibnu Taimiyah dan Ibnu Qayyim) terhadap kaum Asy’ariyah. Padahal tidak satupun ulama Asy’ari yang mengatakan bahwa ia mengambil ajaran dari Jahm bin Shafwân. Bahkan kaum Asy’ariyah bersama-sama kaum Salafi juga mengecam Jahmiyah karena pengaruh negatif Bani Umayyah, sementara tidak ada satu sanad pun yang shahih tentang ucapan yang dinisbatkan kepada Jahm.

Sekarang kamu dapat menyaksikan betapa kesia-siaan ilmiah telah mengelabui kita semua akibat tidak adanya kritik internal?! Dan bagaimana berlangsung pengajaran kejahilan dan doktrinisasi ekstrimisme secara rahasia dan juga doktrinisasi pengkafiran di balik gelar-gelar menipu?

Ekstrimisme itu demikian menyebar karena kita tidak pernah bangkit melakukan kritik internal dan tidak juga mengungkap lorong-lorong gelap mazhab-mazhab serta rahasia-rahasia dan agenda-agendanya yang sama sekali tidak diwahyukan Allah.

2 Tanggapan

  1. assalamualaikum pak ust abu
    alhamdulillah, lama sudah menanti tulisan2 pak abu
    akhirnya ada lg, trimaksh pk ustaz abu, moga pk ust abu selalu dlm lindungan Allah swt.

    Abu Salafy:

    Alhamdulillah, segala puji bagi Allah atas taufiq-Nya.
    Terima kasih… mohon doanya agar kami bisa istiqomah.

  2. pak Abu, kok lama ga nongol-nongol piknik ke mana wae?
    kalau pergi ya mbok jangan lama-lama, bisnis ya bisnis urusan ummat jangan dilupakan.
    pak Abu, saya sudah terlanjur ngefan dengan Syeikh Hasan Farhan, tapi oleh pak Abu cuma dibuat penasaran melulu, dikasih artikelnya kelumit, kemudian ditinggal begitu saja.
    Semoga, hari-hari mendatang pak Abu rajin lagi memposting tulisannya sang Syeikh yg satu ini.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s