Mana Yang Lebih Berbahaya; Akidah “Keadilan Seluruh Sahabat” Atau Akidah “Pengkafiran Sebagian Sahabat”?! 

Mana Yang Lebih Berbahaya; Akidah “Keadilan Seluruh Sahabat” Atau Akidah “Pengkafiran Sebagian Sahabat”?!

.

SUMBER: http://almaliky.org/news.php?action=view&id=922

oleh Syaikh Hasan bin Farhan Al Maliky

Dua akidah yang total bertolak belakang. Mari kita teliti keduanya secara ilmiah dan kita analisis mana yang lebih berbahaya?

Hasan FarhanPertama: Dalam praktiknya tidak ada seorang Sunni yang meyakini KEADILAN SELURUH SAHABAT. Itu hanya sekedar konsep/teori. Dan tidak juga ada seorang Syi’ah meyakini KEKAFIRAN SELURUH SAHABAT, karena Ahlulbait generasi awal adalah inti masyarakat sahabat.

Pertama yang harus ditanggalkan oleh jumhûr/mayoritas kedua kelompok ini (Ahlusunnah dan Syi’ah) adalah bahwa agar mereka mengetahui bahwa Ahlusunnah tidak meyakini keadilan seluruh sahabat kecuali sebatas teori/konsep. Dan kebanyakannya adalah konsep-konsep yang bersifat Salafiyah belaka. Sebagaimana jumhùr Syi’ah dan Sunni harus meyakini bahwa Syi’ah betapapun keekstriman sebagian dari mereka itu mencapai puncaknya, mereka tidak memandang bahwa seluruh sahabat itu kafir. Karena poros bayang-bayang mazhab mereka adalah Imam Ali, dan beliau adalah seorang sahabat.

Jadi di dunia ini tidak ada orang yang mengatakan (berpendapat) kekafiran seluruh sahabat dan tidak ada juga keadilan seluruh sahabat -dari sisi penerapan-. Konsep itu satu perkara dan penerapan satu masalah yang lain lagi. Dan setiap mazhab itu adalah bermazhab-mazhab dan berkelompok-kelompok. Dan jika seorang Syi’ah hedak mengatakan bahwa Ahlusunnah meyakini keadilan seluruh sahabat, maka yang lebih afdhal ia lebih hati-hati dengan mengatakan: “secara konsep”. Jika mau lebih berhati-hati maka hendaknya ia berkata: “sebagian Ahlusunnah”

Dan jika seorang Sunni hendak berkata bahwa Syi’ah mengkafirkan para sahabat maka yang lebih afdhal ia berhati-hati dengan mengatakan: “kebanyakan sahabat”, dan jika mau lebih berhati-hati maka hendaknya ia berkata: “Sebagian Syi’ah”. Ini adalah perbedaan klasik yang abadi antara Sunni dan Syi’ah tentang sahabat, dan membutuhkan orang yang mendekatkan untuk mereka semua tentang terma/masalah sahabat ini agar perbedaan ini bersifat ilmiah daripada menjadi ajang ketegangan yang bodoh.

Saya teringat pertama saya meneliti masalah Ash Shuhbah wa ash Shahâbah (Persahabatan dan Para Sahabat Nabi saw. silahkan download bukunya disini (klik) Format Doc. _red: Ash Shuhbah Wa Ash Shahabah ) -yang awalnya adalah sebuah ceramah ilmiah di pertemuan mingguan di majlis DR. Râsyid al Mubârak– saya terkejut dengan temuan perbedaan tajam Ahlusunnah tentang sahabat dan keadilan sahabat. Iya, sebelum itu saya mengetahui bahwa pembesar ulama Salaf dan Khalaf mengecam sebagian orang yang disebut sebagai Sahabat. Tetapi penelitian saya menguatkan bahwa Ahlusunnah berkelompok-kelompok. Dan boleh jadi kalau saya berkesempatan meneliti mazhab Syi’ah seperti saya meneliti mazhab Sunni tentang terma Sahabat mungkin kami menemukan bahwa mereka juga beragam dalam pandangan terhadap masalah Sahabat. Dari sini perlu ada pendekatan dalam mengkaji masalah ini.

Pendekatan dalam terma besar seperti terma Sahabat ini -(dan istilah ini bersifat mazhabiyah bukan istilah Syar’iyah tetapi tidak mengapa kita ikuti pengistilahan ini)- butuh kepada ketenangan, obyektifitas, ilmu dan independensi tegas. Terma ini sulit dibiarkan tanpa dikaji… Sulit sekali karena ia selalu hadir -kamu mau atau tidak mau- dalam setiap kajian ilmiah, agama, politik, fikih, ideologi atau tafsir bahkan kajian prilaku, masalah ini akan hadir.

Peneliti di hadapkan di antara dua perkara:

Sebagian mengatakan karena pembahasan ini sangat sensitif maka saya akan tinggalkan dan tidak membahasnya -tentu ini akan berdampak negatif terhadap materi ilmiah-…

Atau ia membahasnya.

Dan jika ia mengkajinya pasti ia akan dikejutkan bahwa Ahlusunnah dalam sikapnya tentang Sahabat beragam aliran bukan satu pandangan/aliran.

Lalu apa yang harus ia perbuat?

Apakah ia akan merahasiakan ilmu atau menyebar-luaskannya?

Merahasiakannya akan mengundang murka AllahAdapun menyebar-luaskannya akan mengundang murka manusia.

Dua langkah yang harus di pilih:

Pertama: Mengkaji. Dan orang yang menkaji adalah orang yang belum tau (lalu setelahnya ia mengetahui_red).

Kedua: Apa yang harus dilakukan setelah mengkaji dan mengetahuinya. (merahasiakan atau menyebar-luaskan). Dan untuk keduanya ada ongkos mahal yang ia harus bayar; antara murka Allah dan murka manusia.

Demikian juga, jika seorang Syi’ah mengkajinya. Saya yakin Syi’ah akan menemukan bahwa terma Sahabat di tubuh Syi’ah juga disikapi beragam bukan satu aliran.

Apakah ia akan merahasiakan atau menyebar-luaskannya?

Problem yang sama akan ia hadapi.

Kitab Syi’ah pertama -setelah kitab Sulaim bin Qais– adalah kitab karya Ibnu Abi Ràfi’ tentang Sahabat-sahabat Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib. Di dalamnya ia menyebut pembesar sahabat yang ikut serta perang Badar bersama Nabi saw. dan sahabat yang berbaiat pada Bai’at Ridhwân. Apakah mereka semua kafir?

Pendukung Amirul Mukminin Ali adalah mayoritas sahabat Nabi saw. yang masih hidup hingga saat itu. Lalu bagaimana seorang Syi’ah bisa mengkafirkan mereka padahal ia memuji mereka?

Iya, benar… Terma ini sekedar konsep belaka… seperti juga terma keadilan seluruh sahabat menurut kita (Ahlusunnah), ia sekedar konsep belaka, adapun realitanya, Syi’ah tidak mengkafirkan mayoritas sahabat, tidak juga Ahlusunnah meyakini keadilan seluruh sahabat. Iya benar, Syi’ah memiliki jalan keluar untuk mengkompromikan antara “pengkafiran” itu dan pujian itu, yaitu dengan pendapat: “bahwa mereka kemudian bertaubat” atau “kemudian mereka kembali ke jalan yang benar”. Dan konsep kompromi yang disampaikan Syi’ah ini yang oleh lawan-lawan Syi’ah dipangkas/tidak disebutkan.

Maksud saya ketika lawan-lawan Syi’ah menukil riwayat-riwayat dari Syi’ah dari sebagian Ahlulbait bahwa para sahabat itu murtad sepeninggal Rasulullah saw. kecuali hanya tiga orang sahabat, mereka menghapus kalimat: “Kemudian manusia (sahabat) setelah itu kembali”!

Dan ini adalah sebuah pengkhianatan ilmiah yang muncul di tengah-tengah persengketaan. Demikian juga dengan Syi’ah, ketika menggambarkan bahwa seluruh Ahlusunnah bersama (membela) Muawiyah. Ini adalah kezaliman. Mayoritas pendahulu mengecam Mu’awiyah dan berlepas diri dari kezalimannya.

Dan yang mendukung pengkhianatan baik oleh Ahlusunnah maupun Syi’ah kontemporer dalam penukilan-penukilan mereka adalah bahwa di sana ada kaum Ghulat/ekstrim dari Ahlusunnah mengadopsi keyakinan akan keadilan seluruh sahabat tanpa terkecuali, dan Ghulat Syi’ah mengadopai pendapat kafirnya para sahabat.

Mereka yang menelusuri lorong-lorong media komunikasi sosial meringkas jalan menuju jalan tersempit dan tidak menjelaskan bahwa setiap mazhab itu terpecah menjadi beberapa mazhab (aliran). Banyak dari mereka jahil dan pemarah. Dan emosi mengandung segala bentuk kejahatan.

Saya di sini berbicara untuk mendekati terma dan mendekatkannya, pembicaraan saya tidak sepenuhnya ilmiah murni, andai ini ilmiah murni pasti saya tidak mengunakan istilah SHAHABAH, dan saya akan cukupkan dengan istilah yang digunakan Al Qur’an. Kami terpaksa membicarakan dengan yang dimengerti orang-orang, boleh jadi saya menggunakan istilah: Shahabah, Aqîdah, Hadîts, Tafsîr, Fiqh dan Ulamâ’…semua itu istilah/redaksi yang tidak terkontrol pendifinisiannya dengan Al Qur’an al Karim, tetapi dengan patokan mazhab.

Maka kadang-kadang si jahil bergembira dan terburu-buru mengatakan: “Kamu sendiri mengakui dengan keabsahan redaksi ‘aqîdah…. Kamu mengakui redaksi Shahâbah…. dsb”.

Si jahil itu musuh dirinya sendiri …

kasihan ia…

terbelenggu ia…

Sangat bodoh…

Sangat zalim… dan

Gegabah…

Pendek kata: kami tetap akan mengkaji masalah ini dan membicarakannya dengan menggunakan redaksi yang berlaku umum dan dengan makna yang juga digunakan umum yaitu makna berbasis mazhab bukan berbasis Al Qur’an, karena kaum jahil akan marah terhadap pengikat-pengikat dari Al Qur’an karena ia membelenggu mereka. Istilah jangan diributkan selama saya berpendapat tentang sahabat Nabi saw. bahwa mereka ada yang baik (shaleh) dan ada yang tidak baik (thaleh). Dan tidaklah membahayakan saya jika saya mengalah untuk mereka (Ekstrimis Salafy) bahwa setiap orang yang pernah memandang Nabi saw. berarti ia seorang Shahabah… Terserah mereka mau bilang apa.

Saya selalu mengatakan bahwa saya menggunakan redaksi “‘Aqîdah” bukan dengan makna yang kalian maukan. Dan saya tidak mau diuji dengannya. Saya menggunakan redaksi “Shahabah” sementara yang saya maksud adalah ia mencakup mereka yang shaleh dan yang thaleh, tidak seperti kalian (menggunakannya dengan pengertian bahwa mereka semua adalah shaleh_red)

Masalahnya bukan pada redaksi tetapi pada redaksi dan kandungan maknanya. Kalian juga bersekutu dengan kaum Khawarij (dalam) mengunakan redaksi “al kufru”, lalu apakah berarti kalian sepakat dengan kaum Khawarij dalam mengeterapkannya kepada person-person tertentu? (seperti mereka menyebut Imam Ali bin Abi Thalib kafir… Utsman kafir… _red)

Jadi jangan kalian hentikan kami pada urusan redaksi, tetapi bahwa meneliti redaksi itu satu masalah dan meneliti maknanya itu masalah lain lagi, sebagaimana mendekati masalah adalah pembahasan lain pula, untuk itu kami menggunakan redaksi yang umum digunakan. Kami sekarang sedang mendekati terma yaitu bahwa tidak semua Ahlusunnah berpendapat: Semua sahabat “adil”, baik dalam konsep maupun praktik. Sebagaimana tidak semua Syi’ah mengkafirkan seluruh sahabat baik dalam konsep maupun praktik.

Dengan demikian terma ini sifatnya relatif, silahkan saja Ahlusunnah punya slogan: “Semua sahabat adil” sekedar slogan tanpa realita. Dan silahkan Syi’ah punya slogan: “Semua sahabat kafir” hanya sekedar slogan tanpa realita. Ini secara umum. Saya katakan: “ini secara umum” karena kenyataannya ketika diteliti ternyata Ahlusunnah dan Syi’ah di masa-masa belakang ini seperti Ahlusunnah dan Syi’ah di abad pertama dan kedua… Misalnya. Di sana ada perbedaan. Dan ini juga terma tentang redaksi (istilah). Apa sih nilai syar’iyahnya nama Ahlusunnah dan apa nilai syar’iyahnya nama Syi’ah? Kapan mulai muncul? dll … Ini adalah terma yang sangat panjang dan bercabang… Kami di sini hanya ingin menyentuh (mendekati) saja.

Tetap tersisa pertanyaan, yaitu: Anggap bahwa seluruh Ahlusunnah meyakini keadilan seluruh sahabat tanpa pengecualian… Dan semua Syi’ah mengkafirkan seluruh sahabat kecuali Ahlulbait dan sebagian dari kalangan sahabat, maka mana di antara kedua keyakinan ini yang lebih berbahaya?

Suni akan berkata: Mengkafirkan para sahabat itu sangat berbahaya karena agama ini sampai kepada kita melalui mereka. Itu artinya menggugurkan agama!

Syi’ah menjawab: Tidak demikian. Agama tetap terjaga dengan keberadaan Ahlulbait. Mereka adalah jalan jernih yang kami mengambil ajaran Al Qur’an dan Islam darinya. Jalan ini tersambung kepada Nabi dan keluarganya… Lalu di manakah letak bahaya itu?

Sunni akan berkata: Apakah logis bahwa beberapa person saja mampu menjaga total agama? Hadis-hadis dan hukum-hukum itu banyak jumlahnya, lalu bagaimana dapat dijaga penukilannya hanya oleh seorang atau hanya beberapa orang saja? Tetap butuh sahabat.

Syi’ah akan menjawab: Nabi (Muhammad saw.) hanya seorang. Agama-agama sampai kepada manusia melalui jalan para nabi… Mereka itu hanya beberapa orang saja. Hampir tidak pernah Allah mengutus lebih dari satu nabi pada masa yang sama. Lalu mengapakah dikatakan tidak mungkin?

Suni menjawab: Berapa jumlah hadis-hadis yang diriwayatkan Ahlulbait? Sangat sedikit bukan. Ini tidak cukup untuk menukil agama. Kalian akan kehilangan banyak hukum Syari’at dengan hanya bertumpu kepada Ahlulbait.

Syi’ah membantah: Apa saja hukum agama yang sampai kepada kalian (Ahlusunnah) dari para sahabat dan kalian temukan itu kurang pada kami? Kami punya Al Qur’an, dan semua dasar-dasar keimanan, kewajiban-kewajiban dan hal-hal yang diharamkan. Jadi di mana kekurangannya?

Di sini saya akan mendamaikan antara Sunni dan Syi’ah dengan masing-masing mereka mengumpulkan masalah-masalah agamanya melalui Al Qur’an dan juga dari mazhabnya, lalu setelahnya diteliti apa yang kurang darinya dan apa yang lebih. Al Qur’an lah yang akan mendamaikan!

_____________________

Abu Salafy berkata:

Ini adalah cara yang bijak… Megembalikan semua perselisihan yang terjadi di antara Ahlusunnah dan Syi’ah Kepada Al Qur’an….

Dan menjauhkannya dari hiruk pikuk dan keributan serta kegaduhan yang dibuat-buat untuk mengacaukan masalah dan untuk menghambat penyelasaian perselisihan berkepanjangan ini.

Adapun memprovokasi kaum awam dan menyeret masalah-masalah perbedaan pendapat ke ranah umum (awam) adalah sebuah bukti kebangkrutan mental dan kekerdilan akal.

Biarkan semua perbedaan itu diselesaikan dengan cara ilmiah, sopan, semata karena Allah demi merajut persatuan umat Muhammad saw.

Semoga Allah tidak menyiksa terus umat Islam dengan perselisihan dan perseteruan klasik karena dosa-dosa kita semua. Amin.

10 Tanggapan

  1. Jadi, lebih bahaya yang manakah?
    Kiranya tulisan syekh farhan ini masih berlanjut……

  2. Mengembalikan permasalahan seutuhnya kepada Al Qur’an sahaja belum tentu akan mendamaikan perbezaan antara kedua pihak Syi’ah dan Sunni. Contoh cara berwudhu, masing2 kelompok mengklaim bersumber kepada Al Qur’an. Perbezaan akan selalu tampak meskipun telah ditimbang dengan menggunakan Al Quran

    Bukankah syeikh dan ustad pun memahami bahawa antara Syi’ah dan Sunni perbezaan itu ada dalam pokok akidah tapi persamaan pun ade. Yang harus dipelajari oleh umat Islam adalah kemampuan untuk menghargai pendapat pihak luaran kelompoknya sahaja. Selebihnya cukuplah Allah sebagai Hakim yang Adil dan memberitahukan kepada kita semua apa2 yang telah dipercakapkan manusia

  3. Sekali sesat tetap sesaf. Itulah syiah rafidhah!
    Hasan Farhan adalah agen syiah rafidhah!!
    Abusalafy antek antek syiah rafidhah!!!
    Jadi kita harus mewaspadai ssmua tipu muslihatnya!
    Jangan sampai kita tertipu!!
    Abusalafy licin bin licik!!!
    Tidak berani menampakkan jati dirinya…. Dasar sesaaaaaatt!!!!

    • Daripada sampeyan sesat menyesatkan org laen, mendingan sampeyan dan saya saling mendoakan yg baik2 saja. Saya haqul yakin sampeyan lahir bukan sebagai seorang wahabi. Sampeyan kemudian milih berakidahkan wahabi karena menurut pemahaman sampeyan melalui jalan wahabilah sampeyan insya Allah mencapai surga yang dijanjikan. Naah begitu juga dengan orang Syiah di Indonesia, sebagian terlahir bukan sebagai Syiah (Kecuali para hababnya). mereka memilih jadi Syiah apa di motivasi oleh kebencian atas Agama Allah dan rasululloh….tidak…tapi berdasar atas apa yang mereka yakini atau alasan yang gak jauh beda dengan alasan sampeyan memilih berakidahkan wahabi bukan tetap sebagai sunni syafii asyari. Naah kalau kita saling mendoaken yang baik2 atas pilihan keagaman kita semua gitu kan enak iya tho

    • Kalian mulai dului kok gitu gitu aja komentarnya. Majuan sedikit gitu lho!

  4. Sungguh luar biasa Syeikh Hasan dalam mengulas dan menganalisa masalah ini.
    Ssmoga Allah selalu memberkahi beliau dan antum ya abusalafy.
    Kami menanti ulasan dan analisa beliau yang lainnya…
    Mencerahkan sekali.
    Syukran katsiran.

  5. Kesimpulannya apa? Mana yang lebih berbahaya. Kok ngegantung gini seh endingnya

    • Ya kamu pikir sendiri lah mas.
      Kan kita bisa nyimpulin sendiri.
      Jelas kok kesimpulannya! Apanya yang ngantung?

  6. Salam buat semua…
    Saran saya buat saudara2 semua sambil nunggu solusi dan kelanjutan dari topik ini ada baiknya kita banyak membaca buku2 dialog SUNNY-SYIAH, setidaknya bisa menambah wawasan atau membuka pola berpikir kita tentang sejarah islam yang mungkin kadang kita lebih banyak membeo kepada kabar atau isu negatip tanpa mengetahui hal yang sebenarnya tentang mereka saudara kita syiah…. tidak ada salahnya kita mempelajari sanggahan2 mereka sambil kita berusaha berlaku adil terhadap diri kita sehingga kita bebas dari fanatisme buta
    disini saya bantu untuk merujuk website berikut untuk mendownload buku-buku tersebut tersedia sekitar 120 bh buku

    http://www.alhassanain.com/indonesian/book.php?sort=K

    saya persempit judul bukunya:
    – DIALOG SUNNI- SYIAH (Sayyid Abdul-Husain Syarafuddin Al-Musawi
    – KITAB MUKTAMAR ULAMA BAGHDAD (Muqaatil bin ‘Atiyyah bin Muqaatil al-Bakri
    – Akhirnya Kutemukan Kebenaran (Dr. MUH.AT TIJANI AS SAMAWI)
    – HUSNIAH: SUATU POLEMIK PEMIKIRAN ISLAM (PEERMAHOMED EBRAHIM TRUST )

    JUGA DISINI: http://islamitucinta.blogspot.com,
    Selamat membaca…..

  7. pak yai abu salafy.

    anda guru kedua saya yg saya temukan di internet setelah pak yai secondprince.wordpress.com

    thx pak yai.
    website yg saangat mencerahkan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s