Khusus Untuk Ektrimis Salafy Wahhabi: Allah Tidak Akan Menerima Amal Kalian !

Khusus Untuk Ekstrimis Salafi Wahhâbi: Allah Tidak Akan Menerina Amal Kalian!

SUMBERhttp://almaliky.org/news.php?action=view&id=917

.

oleh Syaikh Hasan bin Farhan Al Maliky

Hasan FarhanEkstrimis Salafi Wahhâbi adalah para penghamba yang tidak bertaqwa kepada Allah dalam urusan hak-hak manusia. Allah tidak akan menerima amal-amal mereka sesuai dengan nash Al Qur’an Al Karim.

Inilah, kami akan membuktikannya dengan dalil Al Qur’an al Karim. Saya meminta (mereka) mendengar hujjah/bukti saya dari Al Qur’an kemudian apabila saya salah maka katakan salah!

Pertama: Siapa Ghulat (Ekstimis Salafy) yang sama maksud?

Kedua: Apa buktinya?

Kaum Ghulat yang saya maksud adalah bukan mereka yang rusak akalnya (penyandang khurafat) baik dari kalangan Ahlusunnah maupun Syi’ah. Bukan mujassim (yang meyakini Allah berpostur seperti makhluk-Nya), hulûli (yang meyakini manunggalnya Tuhan dengan hamba), Shufi dan selainnya dari pemilik pemikiran. Tetapi yang saya maksud dengan Mughâli (Ekstrimis) adalah orang yang menerjang batasan dengan berbuat kejahatan terhadap orang lain yang tidak sepaham.

Ini tidak berarti bahwa si Mujassim dan Hululi tidak termasuk golongan Ghulat, tetapi terkadang seorang Ghulat boleh jadi ia bertaqwa jika ia tidak bertindak jahat terhadap  hak-hak orang lain. Yang saya maksud adalah orang yang bertindak jahat atas hak-hak orang lain. Dan ini juga tidak khusus hanya kaum Ghulat (ekstrimis) saja. Tetapi penyandang akidah ghulat (berlebihan) yang rajin beribadah bisa saja tertipu oleh ibadahnya, ia mengira bahwa Allah akan menerima darinya ibadah itu (padahal ia telah keluar dari lingkarang kaum bertaqwa yang mana Allah menerima dari mereka amal perbuatan)…. 

Dengan arti bahwa si ZALIM -yang tidak meyakini ghuluw/sikap berlebihan dan kelewat batas- Allah juga tidak akan menerima amalnya, karena dia bukan tergolong orang-orang yang bertaqwa. Tetapi orang zalim seperti itu tidak tertipu diri seperti kaum Ghulat tertipu diri.

Kaum Ghulat (ekstrimis) adalah pemilik praktik ibadah, dakwah dan berpidato, namun demikian mereka berbuat kejahatan terhadap darah-darah/nyawa dan kehormatan orang lain. Mereka adalah orang-orang yang tertipu oleh ibadah mereka sendiri dan mereka mengira bahwa Allah akan menerima ibadah mereka itu.

Sekarang kami akan buktikan dari Al Qur’an al Karim bahwa para penghamba itu (Salafy Wahhâbi Ghulat) sama sekali ibadah mereka tidak menyampaikan mereka kepada ketaqwaan (mencegah berbuat jahat atas orang lain di samping juga berbuat kebajikan). Allah tidak menerima amal dan ibadah mereka. Para penyembah yang berlumuran noda kejahatan itu boleh jadi pada kelompok-kelompok lain… Dan sebagian mereka selamat (tidak terjatuh didalamnya) seperti kaum Shufi…  Seorang Shufi -walaupun ia Ghulat/ekstrim dalam keshufiannya- tetapi biasanya keghulatannya hanya dalam pemikiran. Ia tidak berbuat kejahatan terhadap orang lain.

Jadi kebanyakan penghamba -dari kelompok penyandang ilmu dan pelaku dakwah (ulama dan da’i) yang Allah tidak terima amal mereka- kebanyakan mereka itu dari aliran-aliran politik, mereka sudah dikenal tanpa harus menentukan mazhab mereka.

Agar kamu mengetahui bahwa Allah tidak menerima amal-amal dari mereka kamu harus mengetahui perbedaan antara ibadah dan taqwa. Ibadah walaupun ia adalah tujuan penciptaan manusia dan jin hanya saja ia pada dasarnya sarana untuk tujuan yang lebih besar yaitu Ketaqwaan.

Allah berfirman:

إنما يتقبل الله من المتقين

“Sesungguhnya Allah hanya menerima (amal perbuatan) dari orang-orang yang bertaqwa. (Al Maidah: 27)

.

Allah tidak berfirman:

.

إنما يتقبل من العابدين

“Sesungguhnya Allah menerima amal dari para penghamba.” (QS. Ali Imran [3] :123)

.

Karena seorang boleh jadi ia penghamba tetapi ia seorang pembunuh (seperti kaum Khawarij) 

فاتقوا الله لعلكم تشكرون

“Maka bertaqwalah kalian kepada Allah agar kalian bersyukur.”

.

Di sini seorang ‘âbid (penghamba) dari kalangan kaum Gulat (Salafy Ekstrim) datang dan dalam tanggungannya seribu orang tewas (yang ia bunuh), harta-harta yang ia rampas, mengkafirkan orang yang tidak berhak dikafirkan, memfitnah dengan fitnahan keji, dusta dan kepalsuan maka ia tidak termasuk orang-orang yang bertaqwa.

Hanya kaum bertaqwa sajalah yang Allah menerima amalan dari mereka. Mereka (berada di) tingkatan di atas tingkatan para penghamba. Seorang yang bertaqwa tidak akan menzalimi, tidak membunuh (sembarangan), tidak menipu, tidak mencuri dan tidak menuduh dengan tuduhan palsu. Si muttaqi (yang bertaqwalah) yang Allah terima amal darinya… Maka sudah pastilah Allah menerima amal orang yang derajatnya di atas derajat muttaqîn seperti asy Syâkir (orang yang bersyukur) misalnya. Tujuan bersyukur di atas tujuan bertaqwa seperti dalam firman Allah:

فاتقوا الله لعلكم تشكرون

“Maka bertaqwalah kalian kepada Allah agar kalian bersyukur.” (QS. Ali Imran [3] :123)

.

Maka jika seorang penghamba yang Ghulat/ekstrim datang (kepada Allah _red) membawa shalatnya, puasanya, haji dan bacaan Al Qur’an-nya lalu ia datang dan ia telah mencucurkan darah (membunuh) orang ini, merampok harta orang itu, atau memfitnah dengan keji orang ketiga…. Maka Allah tidak akan menerima darinya amal ibadah yang ia lakukan…

Mengapa demikian?

Karena ibadah itu punya tujuan yaitu ketaqwaan… Allah menetapkan untukmu beribadah itu agar kamu bertaqwa. Jadi jika kamu tidak merealisasikan tujuan ibadah maka ibadahmu tidak menghasilkan dan tidak akan diterima… Dengarkan dalilnya!

.

يا ايها الناس اعبدوا ربكم الذي خلقكم و الذين من قبلكم لعلكم تتقون

“Hai sekalian manusia beribadahlan/sembahlah Tuhan kalian yang telah menciptkan kalian dan orang-orang sebelum kalian agar kalian bertaqwa.” (QS. Al Baqarah;21)

.

Mengapa Allah meminta dari kalian agar beribadah?

Mengapa?

Agar kalian bertqwa…!

Jadi apa sebenarnya taqwa itu? Apakah ia adalah ibadah?

Tentu tidak! … Kamu tidak akan menemukan dalam Al Qur’an ayat: “Bertaqwalah kamu agar kamu beribadah.” Sama sekali tidak ada!!

Apakah ibadah itu adalah ketaqwaan?

Tidak… Penciptaan bukanlah ibadah, ia adalah sarana untuk ibadah. Dan ibadah punya tujuan. Sebagaimana ibadah bukanlah ketaqwaan itu sendiri. Ia adalah sarana untuk ketaqwaan. Dan ketaqwaan punya tujuan.

.

Jangan percayai orang-orang yang mencampur-adukkan perkara, lalu mereka menjadikan ketaqwaan adalah ibadah, dan ia adalah keshalehan, ia adalah dzikir, ia adalah shalat, puasa dan haji… Pencampr-adukan ini bersifat setani untuk mengkaburkan atas kalian agama kalian …

Al Qur’an itu sebuah aturan yang sangat rapi, dan setan -demi menghalangi kalian belajar dari Al Qur’an atau membangun konsep-konsep pengetahuan darinya- ia mencampur-adukkan antara tujuan dan sarana dan dengan sarananya-sarana … dan seterusnya… Ia benar-benar mempermainkan.

Ketika di halaman depan rumahmu ada sebatang pohon ia sebenarnya sebuah serangkaian aturan yang rapi, ada batang, dahan, dedaunan dan buah… Lalu jika seorang tetanggamu memotong dan kemudian ia menyerahkannya kepadamu (hasil potongannya), apaka kamu marah?

Jawabnya jelas: Iya!

Mengapa?

Karena setelah ia potong-potong ia tidak lagi sebagai sebuah pohon yang terdiri dari batang, dahan, ranting, dedaunan dan buah. Ia tidak lagi sebagai pohon yang memiliki sebuah susunan aturan yang rapi yang kamu bisa berteduh di bawah naungan kerindangannya dan menikmati hasil buahnya… Demikian juga apa yang diperbuat oleh setan terhadap Al Qur’an. Ia tidak membiarkannya sebagai sebuah aturan pengetahuan atau yang menghasilkan pengetahuan. Ia telah memotong pangkal batang dan dahan-dahan/ranting-rantingnya, ia gugurkan seluruh daunnya dan ia belah-belah buahnya berkeping-keping lalu semuanya ia masukkan ke dalam karung dan ia letakkan di sebelah rumahmu! Karena itu setan sukses menipu kebanyakan kaum Muslimin. Al Qur’an di sisi mereka seperti pohon yang sudah dipotong-potong dan diletakkan di karung-karung. Ia tidak lagi bisa menghasilkan. Tidak ada dedaunan yang menaungi, tidak pula buah dan keindahan pemandangan.

Kamu harus mengusahakan untuk mengembalikan kepercayaan kepada Al Qur’an Al Karim bahwa al-Qur’an bisa menghasilkan pengetahun di atas mazhab-mazhab, tafsir-tafsir berbasis mazhabisme, fatwa-fatwa dan ideologi…

Belajarlah dari Al Qur’an pasti ia mengajarimu

Oleh karena itu paling mencakupnya tujuan-tujuan dalam Al Qur’an Al Karim biasanya kamu akan temukan setelah kataلعل :

لعلكم تتقون

Agar kamu bertaqwa…

لعلكم تشكرون

Agar kamu bersyukur…

Lalu setelah itu Al Qur’an akan menetapkan untukmu dengan penuh ketelitian setiap tujuan di atas tujuan lainnya, dan tidak akan ada kontradiksi.

Dan yanga aneh kamu tidak akan menemukan ayat:

لعلكم تصلون…. لعلكم تصومون… لعلكم تحجون….

Agar kamu shalat… Agar kamu berpuasa… Agar kamu haji…

.

Karena semua itu adalah cabang-cabang ibadah. Dan ia (ibadah) adalah tujuan penciptaan, sementara ia (ibadah) adalah sarana menuju ketaqwaan. Jadi ketaqwaan itu di atas.

Melalui riwayat dan hadis setan mampu menjungkir-balikkan/mengkudeta (delapan belas tujuan Al Qur’an)! Ia (riwayat dan hadis) telah mengabaikan menyebutnya sampai-sampai hampir tidak ada orang yang mengetahuinya. Setan telah mempermainkannya dan mencampur-adukkan dengan sarana-sarana!

Setelah menyingkirkan tujuan Al Qur’an dari pikiran kita setan memindah kita kepada sarana-sarana dan ia menjadikannya paling pentingnya tujuan… Seperti shalat, puasa dan haji. Tidak diragukan memang semua itu adalah kewajiban, tetapi ia adalah sarana menuju sebuah tujuan besar. Tujuan yang di antara sarana-sarananya adalah shalat, puasa dan haji… adalah tujuan terendah, di atasnya masih banyak tujuan lain, yang terpenting adalah ketaqwaan, mengingat (Allah) dan bersyukur…. dsb. Tetapi setan menipu dengan berbuat makar terhadap tujuan-tujuan itu, utamanya ketaqwaan.

Mengapa?

Karena Allah hanya akan menerima amal dari orang-orang bertaqwa. Sedangkan setan tidak menginginkan Allah menerima dari kamu amalan. Oleh karena itu ia mengacaukan dan merahasiakannya.

Kaum bertaqwa dan ketaqwaan dalam Al Qur’an al Karim memiliki beberapa pendefinisian yang saling bersesuaian, rapi dan saling mendukung, tidak saling kontradiksi. Coba kita ambil yang paling mudah dan paling pendek lalu kita lihat/perhatikan… Apakah kita termasuk kaum Muttaqîn atau tidak?

Allah Ta’ala berfirman:

و الذي جاء بالصدق و صدق به ألئك هم المتقون

Dan orang yang datang membawa kebenaran dan membenarkannya mereka itulah orang-orang yang bertaqwa.” (QS. Az Zumar; 33)

.

Sebuah definisi yang menakjubkan dan dalam sekali yang tidak ada pada kaum Ghulat (Salafy Ekstrim)!

Penyandang keekstriman sikap/akidah (Salafy) tidak pernah datang kepadamu dengan kejujuran kecuali sambil lalu, dan tidak mau menerima darimu kejujuran sama sekali. Karena itu si Salafy Ekstrim (mughâli) tidak termasuk kaum Muttaqîn…

Mengapa demikian?

Apa nilai kejujuran dalam merealisasikan ketaqwaan?

Orang yang datang membawa kejujuran/kebenaran dan tidak menerima dusta, menerima darimu kejujuran/kebenaran dengan bukti-buktinya tidak mungkin menjadi seorang yang haus darah dan zalim. Ia pasti akan menahan diri dari berbuat kejahatan/menyakiti orang lain. Di sini kejujuran menggiringnya kepada ketaqwaan. Ini berbeda dengan seorang yang rajin menghamba tetapi ia ekstrim, ia berdusta, mendistorsi nash (al Qur’an dan Hadis), bermain curang dalam menyikapi nash, merahasiakan, berkhianat dan berbuat jahat terhadap orang lain. Di sisi lain ia tidak mau menerim darimu kejujuran, bukti, ayat dan hadis.

Jadi orang yang bertaqa, Allah akan menerima amalnya karena ia datang menemui-Nya dengan kondisi bersih dari kejahatan terhadap orang lain; (seperti) membunuh, memperkosa hak-hak orang lain. Adapun si penghamba yang Mughâli pasti Allah tidak akan menerima amalnya karena ia berlumuran noda kejahatan dan noda perbuatan yang mengganggu orang lain.

Jadi katakan kepada orang yang memfatwakan agar membunuh orang-orang tak berdosa, berdusta atas nama orang lain, berbuat keji dalam pertikaian dan persengketaan, sesak dada dengan kejujuran dan mengganggu hamba-hamba Allah dengan kata-kata keji… Katakan kepadanya: “BERGEMBIRALAH” BAHWA ALLAH TIDAK AKAN MENERIMA AMAL KAMU!

Katakan kepadanya:

Kamu seorang penghamba… Untuk apa kamu beribadah menyembah Allah?

Jika ia tidak mengatakan kepadamu: “Aku menyembah Allah agar aku menjadi orang bertaqwa”, maka sebenarnya ia seorang yang BODOH…

Dan jika ia mengatakannya, maka katakan kepadanya: Apa ketaqwaan itu?

Jika ia mendatangkan definisi yang hanya berbasis retorika belaka maka katakan kepadanya: Kemari kami akan sajikan kepadamu definisi Al Qur’an tentang ketaqwaan dan kaum Muttaqîn. Jika ia menolak maka berarti ia seorang PENDUSTA. Karena kamu datangkan kepadanya kejujuran tetapi ia menolaknya dan tidak mengikutinya.

Ya,…jika ia menolak maka katakan kepadanya: Kamu pendusta. Kamu bukan tergolong kaum Muttaqîn.

Allah berfirman:

وَالَّذِي جَاءَ بِالصِّدْقِ وَصَدَّقَ بِهِ أُولَئِكَ هُمُ الْمُتَّقُونَ(33)) [سورة ألزمر

Dan orang yang membawa kebenaran (Muhammad) dan membenarkannya, mereka itulah orang-orang yang bertaqwa. (QS. 39:33)

.

.

Dan sekarang kami datangkan kepadamu ayat-ayat Alllah -Al Qur’an- (Siapakah yang lebih jujur ucapannya daripada Allah? !) lalu kamu bersikap congkak dari mengetahui definisi ketaqwaan sesuai Al Al Qur’an, kemudian kamu berangkat menuju pendifinisian sebatas retorika yang diwarisi turun temurun dan kamu utamakan di atas pendefinisian Allah.

Katakan kepadanya:

Kamu pendusta. Kamu bukan tergolong orang-orang yang bertaqwa. Apabila kamu tergolong dari mereka pastilah kamu menerima kejujuran ketika kami bawakan kepadamu. Sejatinya kamu itu hanya menyembah mazhabmu, penyakitmu, kepentingan-kepentinganmu, kesombonganmu dan kebanggaan semu dirimu… Kamu tidak menyembah Allah.

Tahukan kamu sekarang rahasia dalam ayat:

قال الله هذا يوم ينفع الصادقين صدقهم

“Ini adalah hari dimana kejujuran bermanfaat bagi orang-orang yang jujur.”  (QS. 5:119)

.

Tidakkan kalian menyaksikan keterkaitan antara diterimanya amal, ketaqwaan dan kejujuran?

Tidakkah saya telah katakan kepada kalian bahwa Al Qur’an itu sebuah aturan yang kokoh yang membangun pengetahuan yang menenangkan pemilik hati yang selamat?!

Ingatkah kalian sekarang ayat:

يوم لا ينفع مال و لا بنون إلا من أتى الله بقلب سليم

“Hari dimana tidak akan berguna harta dan anak-anak kecuali orang yang datang menjumpai Allah dengan hati yang salim (bersih).”  (QS. Asy Syuara’ [26]: 88-89)

.

Dan demikian seterusnya… Andai kami paparkan ayat-ayat tentang akal, hati dan kebaikan amal…. dsb. Kaum Ghulat/ekstrimis terhalangi dari mendapatkannya. Mereka menghalangi diri mereka sendiri dari mendapat manfaat dari Al Qur’an dengan tabir riwayat, dan terhalang dari kejujuran dengan kebencian mereka kepada kejujuran itu, terhalangi dari manfaat ibadah dengan mencampakkan buah hasil dan tujuan ibadah.

Mereka adalah orang-orang yang paling merugi amal perbuatannya.

Mereka mengira bahwa mereka berada di atas petunjuk Allah.

Jadi kami ulangi dan kami katakan:

Allah tidak akan menerima (amalan seseorang _red) kecuali dari kaum Muttaqîn. Maka pelajari, apa ketaqwaan itu?! Jangan tertipu denga kulit ibadah, ia tidak akan berguna tanpa ketaqwaan. Dan inti ketaqwaan adalah KEJUJURAN. Maka jadilah kamu orang yang jujur pasti kamu jadi orang yang bertaqwa.

8 Tanggapan

  1. Sungguh jeli pandangan dan pembacaan Syaikh Hasan al Maliki… Ayat-ayat yg ia kutip benar-benar membuka pikiran saya, mungkin juga kamu wahai sahabatku.
    Semoga Allah memanjangkan umur beliau dan menjaga dari ksbengingan dan kedzoliman wahabi arab saudi. Amin

  2. Selama ini aku pikir kecaman Allah yang aku baca dalam alquran adalah untuk orang non muslim saja. Sedangkan untuk orang islamnya tidak ada karena kita kan sholat dan puasa kalaupun ada dosa pasti semua orang islam akan diampuni Allah lewat syafaat dari rasulluloh kan kita agamanya sudah islam. Setelah aku baca disini ternyata orang islam juga bisa jadi orang yang paling merugi diakhirat kelak, dimana sholat, puasa dan amalan kita tidak diterima oleh Allah. Apalagi amal dan ibadah kita dihambur hamburkan oleh Allah bak debu yang berterbangan, terima kasih kepada bapak ustad abusalafy yang telah membangunkan aku dari kefakiran ilmu.

    • Bener banget kang mas abu Nayia… Saya juga terbelalak denhan ulasan syekh hasan… Luar biasa.
      Ustadz abu mohon ijin untuk disher ke teman2 . Terima kasih. Semoha Allah membalas kebaikan ustadz abu.

  3. Subhanallah, sungguh kajian yang paling menyentuh dan luar biasa. Kadang saya menjumpai anehnya, beberapa ekstremis salafi kelakuannya mirip murji’ah yang padahal sering mereka cela-kafirkan. Hanya karena merasa sebagai golongan paling selamat & benar, modal membelokkan nash akhirnya seolah merasa aman dari dosa. Toh “golongan paling selamat dari 73 golongan”.

    Saya jadi ingat hadits sahih tentang orang yang paling BANGKRUT kelak di Akhirat. Dia datang kepada Allah membawa amal sholat, puasa, ibadah dll tapi di dunia dia membunuh si A, menzalimi si B, menipu si C dll maka semua korbannya datang menuntut keadilan Allah. Akhirnya orang ini dilucuti amal-amalnya untuk menebus para korbannya tersebut dan ketika sudah tak ada amal lagi tersisa, dosa mereka ditimpakan ke dosa pelaku sehingga diapun masuk neraka.

    • Setuju banget ustadzah ku aisha.. . Itu memang wahabi salafi… Yang kalau kuat apalagi berkuasa pasti berbuat kerusakan di muka bumi… Shalatnya hanya gerakan tanpa makna… Bacaan qur’annya hanya nyanyian tanpa persapan…. Puasanya hanya sekedar mwnahan lapar dan haus… Tetapi nafsu syaithoniyahnya tetap aja berkuasa… Alhasil mereka terjebak dalam tipuan setan… Kasian…

  4. Sebuah analisis yang sungguh mengagumkan… Dan pantes aja kalau ekstrimis salafi yahudi… eeh maaf Saudi (abis mirip sih nama dan sigatnya) marah dan akhirnya menangkap syekh hasan al maliki… Mari kita doakan agar para emir dan raja negeri setan wahabi segera dihanvurkan dan misnahkan Allah yang Maha Qahhar dan Syadidul adzab. Amiin

  5. : almaliky بتاريخ: الأربعاء 22-10-2014 11:14 صباحا

    متابعينا الافاضل..

    بغياب فضيلة الشيخ ابا مالك – حفظه الله وأعزّه وفك اسره – فإننا سنستمر بنشر فكر فضيلته من خلال ما غرده في سنوات سابقه.

    سنقوم بنشر فكره وما يمثله فضيلته من بعد فكري واخلاقي وانساني رغم ما يعانيه فضيلته من اضطهاد.

    هذه الموضوعات وهذا الطرح سننشره تحت شعار [هذا هو المالكي].

    Berdasar tulisan pengantar di web Syaikh Ben Farhan sepertinya beliau dlm tekanan pihak2 tertentu. Mohon kiranya agar ust @Abu salafy menurunkan artikel perihal keberadaan Syaikh, dgn meneusuri web2 berita online KSA.
    Allahumma fakkik asraho bi haqqi sayyidina MUhammad wa ahli baitihi at-thahirin shlalallahu alaihi wa alihi wa sallam

  6. salah satu nasehat paling berbobot.
    paling berbobot karena penulisnya bermazhab wahabi, dan asli dari saudi tapi justru menguliti iblis wahabi dan saudi.

    semoga Allah merahmati syaikh hasan dan memanjangkan umurnya.

    doa kami beserta anda.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s