Syekh Hasan bin Farhan Al Maliky: Memahami Inti Perbedaan Ahlussunnah Dan Syiah

 

Syekh Hasan bin Farhan Al Maliky: Memahami Inti Perbedaan Ahlussunah Dan Syiah

SUMBER: http://almaliky.org/news.php?action=view&id=775

.

Segala puji bagi Allah, saya memiliki (kajian) bantahan atas pemikiran Salafy dalam masalah Sahabat Nabi saw…. Bantahan atas Syi’ah dalam masalah kemakshuman… Dan bantahan atas Zaidiyah dalam masalah kepemimpinan dan juga kritikan atas Wahhâbi dalam masalah PENGKAFIRAN KAUM MUSLIMIN. Saya tidak merasa bahwa saya harus mengikuti mazhab tertentu. Dan betapapun kamu digolongkan oleh orang-orang (sebagai bermazhab ini atau itu) itu tidak penting. Yang lebih penting adalah bagaimana Allah menggolongkanmu! Apakah Allah menggolongkanmu dalam golongan orang-orang yang tunduk kepada perintah-perintah-Nya? Atau menggolongkannya dalam kelompok orang-orang yang congkak dari tunduk menerima kebenaran?

.

oleh Syaikh Hasan bin Farhan Al Maliky

Hasan FarhanMengingat gencarnya tekanan untuk memecah belah antara Ahlusunnah dan Syi’ah dan rangsangan untuk melakukan tindakan kekerasan -bahkan dalam masyarakat yang satu- maka adalah termasuk kewajiban saya untuk mengajak kedua kelompok untuk saling memahami.

Dan karena saya seorang Sunni -yang mau menerima silahkan dan yang mau menolak silahkan- maka adalah kewajiban saya untuk tidak menambah bahan bakar ke dalam api, tetapi saya harus berandil memahamkan pengikut mazhab saya: Siapa sebenarnya Syi’ah itu?

Pertama-tama kita harus sepakat bahwa semua (baik Syi’ah maupun Ahlusunnah) mendambakan surga dan selamat dari api neraka, dan setiap mazhab secara umum berpegangan dengan dalil-dalil yang ia yakini sebagai jalan petunjuk dan sebenarnya yang penting bukanlah sekedar menyandang nama atau gelar akan tetapi yang penting adalah keimanan dan kejujuran prilaku yang sejatinya ada dalam gelar itu. Dan Allah tidak akan pernah menyia-nyiakan pahala orang yang berbuat amal kebaikan…

Semua Muslim…

Mencela sebagian sahabat atau mengkafirkan mereka tidak ada hukuman dalam Syari’at -walaupun ia adalah kezaliman yang besar-. Hukuman-hukuman (hudûd) Syari’at itu hanya pada beberapa kejahatan tertentu saja yang sangat terbatas… Seperti membunuh dan selainnya.

Jadi tidak ada satupun nash syar’i tentang hukuman atas orang yang mencela sahabat. Adapun nash-nash yang dibuat-buat oleh para Fuqaha’ (ahli fiqih) yang gemar menambah-nambah Syari’at Allah apa-apa yang tidak ada dalam Syari’at Allah maka tentu ia sangat banyak. Tetapi ia adalah hukuman buatan manusia.

Demikian pula Abu Bakar tidak menghukum orang yang mencelanya (seperti dalam hadis riwayat sahabat Abu Barzah dalam Musnad Ahmad)… Ali juga tidak menghukum kaum Khawarij yang mencaci dan mengkafirkan beliau. Tentu mereka berdua lebih mengerti hukuman-hukuman berdasarkan Syari’at dan lebih gigih dalam menjalankannya. 

Karena itu tidak boleh bagi seorang Muslim menuruti emosinya lalu membuat-buat hukuman demi melegakan emosi dan dendamnya atas orang lain. Ini adalah KEMUSYRIKAN/MENYEKUTUKAN ALLAH dalam hak membuat Syari’at sesuai dengan IJMA’ para ulama baik Ahlusunnah maupun Syiah.

Dan setiap Muslim yang memandang bahwa Syari’at yang ia produk itu lebih sempurna dari Syari’at yang Allah tentukan maka ia benar-benar telah KAFIR. Ia termasuk yang menggugurkan keimanan kepada prinsip dasar “Lâ Ilàha Illallah/Tiada Tuhan Selain Allah”. Karena itu harus dimengerti, emosi itu sesuatu sedangkan Syari’at Allah itu sesuatu yang lain lagi (keduanya sangat berbeda dan tidak boleh dicampur-adukkan _red).

Dan karena kedengkian kepada Syi’ah (yang merupakan mayoritas di negeri kita -Arab Saudi-) dan merekapun mengalami perlakuan zalim dan semena-mena maka sudah sepatutnya kita memahami mereka dan menyebarkan pemahaman yang benar tentang asal muassal Syi’aisme daripada menyebarkan kepalsuan tentang mereka …

Syi’ah bermuara kepada KECINTAAN KEPADA AHLULBIAT; LIMA PRIBADI AGUNG AHLUL KISÂ’ -Nabi Muhammad, Ali, Fatimah, dan kedua putra mereka; al Hasan dan al Husein-. Lalu setelahnya Syi’ah bercerai berai menjadi beberapa sekte… Ada yang ekstrim dan ada yang moderat.

Mereka meyakini kemakshuman Ahlulbait… Mereka meyakininya –dan saya tidak meyakininya, tetapi saya dapat memaklumi mengapa mereka meyakini akidah kemakshuman.-

Tidak Boleh Ada Hukuman Tanpa Nash

Mereka berpendapat bahwa tidak boleh ada hukuman tanpa Nash Syari’at…

Mereka berpendapat bahwa Khalifah yang sah/Syar’i langsung sepeninggal Nabi saw. adalah Imam Ali bin Abi Thalib..

Mereka berpendapat bahwa perancang baiat Saqifah telah murtad/kembali ke belakang dan sesat…

Kemudian mereka beragam pendapat dalam menafsirkan maksud KEMURTADAN itu, ada yang mengatakan maksudnya adalah kemurtadan secara bahasa/murtad kecil (yang tidak mengeluarkan seorang dari agama), dan ada yang murtad besar. Dan di antara mereka ada yang berpendapat bahwa tiga Khalifah pendahulu Ali itu munafik…

Mereka mengklaim bahwa tidak selamat dari kemurtadan itu -baik kemurtadan kecil maupun besar- kecuali sedikit tidak lebih dari sepuluh atau maksimal dua puluh orang (sepanjang yang saya ketahui).

Tetapi Syi’ah sendiri telah menetapkan bahwa kebanyakan sahabat yang murtad itu telah bertobat dan membela Imam Ali dalam peperangan beliau (menumpas para pemberontak_red). Mereka menyebutkan nama-nama para sahabat yang membela Imam Ali tersebut dan menetaplan nama-nama mereka dalam buku-buku Rijâl. Maka atas dasar itu tidak benar menuduh Syi’ah meyakini para sahabat telah murtad dan akan masuk neraka.

Bahkan kuat kemungkinan mereka telah menetapkan bahwa kebanyakan sahabat yang ikut serta dalam perang Badar dan Bai’at Ridhwân itu telah bertobat dan berbaik sikap. Mereka mengucapkan keridhaan (radhiyallahu anhum) atas seluruh sahabat yang telah membela Ali… Baik di saat peristiwa Saqifah maupun di masa Kekhalifahan beliau. Dan total mereka semua adalah mayoritas sabahat yang ikut membela Nabi saw. dalam perang Badar dan ikut membaiat Bai’at Ridhwân.

Masalah ini, kaum Syi’ah gagal dalam menjelaskannya kendati itu ada dalam kitab-kitab klasik mereka seperti kitab Tasmiyati Man Syahida Huruba Aliyyin Minash Shahabah/Menyebut nama para sahabat yang hadir membela Ali dalam peperangan-peperangannya karya Ibnu Abi Râfi’.

Sebagaimana Ahlusunnah berlebihan dalam memanfaatkan sikap awal Syi’ah terhadap para sahabat yang menghinakan (tidak membela) Ali di hari-hari perseteruan Saqifah dan -masih kata mereka- bahwa Syi’ah terus dalam sikap mereka yang mengkafirkan sahabat dan menvonis mereka murtad!

Masalah “Sahabat” ini harus dibicarakan dan didiskusikan dengan obyektif dan penuh keadilan. Di sana ada sekitar 100 sahabat yang hadir dalam parang Badar dan 800 sahabat yang ikut serta membai’at Nabi saw. dalam Bai’at Syajarah (Bai’at Ridhwân) yang dicintai dan dibela kaum Syi’ah.

Dan Syi’ah mencintai dan mengagungkan semua sahabat yang wafat di masa kenabian dan jumlah mereka sekitar 200 orang sahabat, setengahnya adalah yang ikut serta dalam peperangan Badar. Maka dengan demikian Syi’ah mencintai mayoritas para sahabat yang ikut serta dalam perang Badar dan Bai’at Ridhwân.

Sementara itu kaum Nawashib; kelompoknya Mu’awiyah mereka membunuh dan melaknati para sahabat yang ikut serta membela Nabi dalam perang Badar dan ikut berbai’at pada Bai’at Ridhwân lebih banyak dari yang dilaknati Syi’ah dan Syi’ah tidak melakukan pembunuhan terhadap mereka. Karena itu, di sini perlu ada penyatuan tolok ukur. Saya sejalan dengan orang yang memberlakukan hukum (ketetapan) yang sama dalam masalah ini untuk diterapkan baik ke atas kaum Nawâshib dan Syi’ah.

Tentu harus diakui bahwa dosa kaum Nawâshib jauh lebih besar karena mereka tidak hanya mencaci maki saja, mereka juga membunuh. Adapun orang-orang yang memvonis sebagai ahli bid’ah orang yang melaknati para sahabat dan tidak menjatuhkan vonis yang sama atas orang-orang yang membunuh para sahabat… maka ini jelas sangat tidak adil! Dan ini adalah titik kelemahan Ahlusunnah yang sangat nyata sekali.

Walaupun kelompok kita; Ahlusunnah memberi uzur (alasan) bahwa mereka yang membunuh para sahabat Nabi saw. itu berijtihad dan bertakwil (dalam membunuh itu), maka jika demikian uzurnya maka uzur orang yang sekedar melaknat saja (tidak disertai dengan membunuh juga) lebih berhak diterima… Dan jika melaknat itu sendiri sebuah kejahatan maka membunuh juga lebih layak disebut kejahatan.

Saya benar-benar heran dari kedunguan banyak kaum Syi’ah mereka tidak membela diri mereka dengan pembelaan seperti ini yang akan menjadikan penganut aliran Salafy benar-benar kerepotan! Seakan Syi’ah tidak membaca bukunya Ibnu Abi Râfi’ dan kitab-kitab ulama Ahlusunnah yang memuat biografi para sahabat. Bahkan Ahlusunnah telah meriwayatkan banyak riwayat tentang hal itu dengan sanad-sanad yang banyak dan kuat. Sebagaimana Ahlusunnah juga punya titik kelemahan dalam membela diri, khususnya dalam masalah kemakshuman, mungkin nanti akan saya singgung sedikit.

Tetapi tema kita di sini adalah: Demi Untuk Memahami Syi’ah. Mungkin ada sebagian orang berkata: Tetapi pengkafiran Syi’ah atas Abu Bakar, Umar dan Utsman… bukankah hal sudah cukup alasan untuk mengkafirkan mereka, menggolongkan mereka sebagai ahli bid’ah dan membenci mereka serta berlepas diri dari mereka?!

Kami katakan:

Pertama: Tidak semua Syi’ah mengkafirkan mereka bertiga. Syi’ah itu berkelompok-kelompok. Di antara mereka ada yang mengatakan kemurtadan kecil yang tidak sampai mengeluarkan dari agama. Jadi mengeneralisir Syi’ah adalah kesalahan.

Kedua: Kita tidak akan pernah bisa memahami Syi’ah sehingga kita terlebih dahulu memahami dalil-dalil terbesar mereka tentang kekhalifahan dan keimamahan Ali serta wasiat Nabi saw. untuknya. Jika dalil-dalil mereka itu benar maka mereka punya jawaban untuk membela diri dan jika tidak benar maka juga punya jawaban lain. Maka tidak boleh menjatuhkan sebuah keputusan atas satu kaum sehingga difahami terlebih dahulu dalil-dalil mereka dengan pemahaman yang obyektif sehingga keputusanmu itu termasuk yang kamu yakini sebagai agama demi Allah.

Hadis Ghadir Adalah Dalil Terbesar Syi’ah!

Selain hadis Ghadir mereka juga punya banyak dalil lain, hanya saja dalil paling kuat mereka yang menegaskan adanya wasiat kepempinan untuk Ali adalah hadis Ghadir. Dan saya tidak rahasiakan kepada kalian bahwa saya telah mengkaji hadis ini cukup lama, saya teliti sanad/jalur-jalur dan matan/teks hadisnya.

Jujur harus kita katakan bahwa hadis itu (hadis Ghadir) sangat kuat... Ia termasuk paling shahihnya hadis. Bahkan adz Dzahabi, al Albâni (Penshahihan Syekh Al Albani atas hadis ini lihat disini dan disini)  dan ulama lain telah memastikan kemutawatirannya. Jadi perbedaan Ahlusunnah dan Syi’ah bukan dalam keshahihannya tetapi dalam memahami kandungannya…

Apa itu? Hadis itu berkata -dan itu ada dalam kitab Shahih Muslim-:

Bahwa Nabi saw. sepulang dari Haji Wada’ menuju kota Madinah beliau berhenti bersama manusia di Telaga/Ghadir yang bernama Khum di dekat Juhfah. Nabi saw. memerintahkan orang-orang yang telah mendahului beliau agar kembali dan yang belum tiba (di tempat itu) ditunngu. Area sekitar pohon-pohon besar disapu dan dibersihkan dari duri-duri, dan mimbar pun dibuat. Nabi saw. menaiki mimbar itu dan berpidato di hadapan para sahabat:

1) Wahai sekalian manusia, sudah dekat waktu aku untuk dipanggil dan aku pun akan memenuhinya… (maksudnya sudah dekta waktu kematian beliau).

2) Dan aku tinggalkan di tengah-tengah kalian dua pusaka berharga (tsaqalain), selama berpegang teguh dengannya kalian tidak akan tersesat selamanya.

3) Pusaka yang terbesar adalah Kiatabullah; tali yang terbentang dari langit hingga bumi… Lalu Nabi saw. berpesan agar berpegang teguh dengan Al Qur’an.

4) Dan pusaka yang kecil adalah Itrahku yaitu Ahlubaitku. Aku peringatkan kalian tentang sikap kalian terhadap Ahlubaitku… (beliau ulang pesan itu tiga kali)

5) Wahai sekalian manusia! Bukankah aku ini awlà/lebih utama atas setiap Mukmin daripada dirinya sendiri? Mereka menjawab: Benar wahai Rasulullah….

Lalu Nabi saw. mengangkat tangan Ali dan bersabda: Ketahuilah bahwa barang siapa aku adalah maulâ/pemimpinnya maka Ali juga maulâ-nya. Ya Allah bimbinglah orang yang menjadikan Ali maulâ-nya dan musuhi yang memusuhinya!”

.

Inilah kadar yang disepakati kebenerannya dari pidato panjang Nabi saw. Masih ada redaksi tambahan lain yang juga telah dishahihkan sebagian ulama Ahlusunnah. Dan juga ada tambahan-tambahan dalam riwayat Syi’ah yang tidak saya sebutkan. Dan kadar yang telah disepakati sudah cukup.

Di sini Syi’ah secara keseluruhan -dari mulai Abu Dzarr, al Miqdad hingga Kamal al Haidari– berkata: Ini adalah wasiat kepemimpinan yang jelas dan gamblang. Nabi saw. mengabarkan bahwa beliau akan segera meninggalkan umatnya untuk selamanya dan beliau telah menyerahkan tampuk kepemimpinan kepada Ali.

Dan sebagian sahabat seperti Umar bin Khaththab telah memahaminya demikian. Ia bangkit menemui Ali seraya berkata: “Selamat wahai putra Abu Thalib, kini kamu menjadi pemimpin setiap orang Mukmin dan Mukminah.” Riwayat yang memuat ucapan Umar ini dishahihkan oleh al Albâni.

Apa Kata Ahlusunnah Tentang Hadis Ghadir?

Konklusi apa yang dikatakan Ahlusunnah tentang hadis Ghadir di atas adalah bahwa Nabi saw. sedang menjunjung tinggi keutamaan Ali, bukan bermaksud menunjuk Ali sebagai Khalifah. Dan uzur inilah yang dominan dalam penafsiran Ahlusunnah selama delapan abad, sampai datanglah Ibnu Taimiyyah lalu ia menambahkan tafsiran baru bahwa sebenarnya terjadi sengketa antara Ali dan penduduk Yaman (atau pasukan yang diutus Nabi saw. ke Yaman di bawah pimpinan Ali_red), maka Nabi saw. bermaksud untuk menyebar-luaskan keutamaan Ali!

Akan tetapi kedua jawaban di atas lemah -tentu jika kita hendak bersaksi semata demi Allah, bukan demi membela mazhab-. di hadapan kita ada dua pilihan;

(1) kita lemahkan hadis Ghadir yang mutawatir itu atau

(2) kita cari sebab lain tentang mengapa Nabi menyabdakannya untuk Ali… (bukan karena adanya persengeketaan antara Ali dan sebagian sahabat yang ia pimpin dalam pasukan itu_red)

Pilihan pertama bisa saja kita lakukan dengan latar belakang fanatik buta bukan atas dasar ilmu pengetahuan.

Adapun tentang motif-motif lain mengapa Nabi saw. menyabdakan hadis Ghadir maka biarkan dulu kami menilai dua sebab atau dua alasan mengapa dan untuk tujuan apa hadis itu disabdakan.

Adapun alasan bahwa dalam hadis itu tidak ada nash tegas penunjukan kekhalifahan, maka ia benar. Tetapi di dalam konteksnya ada sesuatu yang menunjukkan apa yang lebih kuat dari redaksi khilafah. Dan barangsiapa menakwilkan hadis itu bisa saja ia menakwilkannya dengan kekhalifahan kecil yaitu untuk mengurus keluarga Nabi saw. saja (bukan mengurus umat_red). Dan jika kita buka pintu takwil seperti itu tanpa ikatan/kontrol kaidah dan tanpa menghadirkan kesadaran harus bersaksi semata demi Allah maka kita bisa saja akan menolak banyak ayat dan hadis dengan mudah tanpa tanggung jawab dengan alasan yang sama. Maka carilah tafsiran lain.

Saya akan bawakan contoh: Seandainya Syekh Ibrahim al Faris berangkat haji bersama kita lalu ia menghentikan kita di sebuah tengah jalan, dan semua orang baik yang sudah mendahului maupun yang belum tiba diminta segera kumpul lalu kemudian ia mengabarkan kepada kita bahwa ia mencintai putranya, pasti kita segera akan mengatakan bahwa ia GILA!

Maka jika Ibrahim al Faris tidak merelakan dirinya dianggap bersikap iseng tanpa tujuan berakal terhadap para jama’ah haji yang telah menjadikan beliau pemimpin mereka, lalu apakah kita rela menisbatkan sikap iseng lagi sia-sia itu kepada Rasulullah saw.? Apalagi ternyata bukti-bukti pendunkungnya (bahwa beliau sedang bermaksud menunjuk Ali sebagai pemimpin umat_red) sangat banyak

Jadi, seorang yang jujur tidak akan rela dari mazhabnya memberikan jawaban seadanya (asal-asalan), penghambaan hanya kepada Allah bukan kepada mazhab. Dan jangan kalian kira bahwa hal ini mudah, kaum kafir Qurais itu jadi kafir hanya gara-gara sikap fanatik.

Jangan sebagian orang keburu menolak hadis yang shahih dengan tujuan membungkam Syi’ah. Di sana banyak masalah yang Syi’ah bisa dicela karenanya. Tetapi pembicaraan sekarang tentang sebuah hadis shahih, bukan tentang Syi’ah. Perhatikan ini baik-baik!

Dan seperti telah saya katakan, tema kita adalah Demi Untuk Memahami Syi’ah. Kita tidak bertujuan tentang Wilâyatul Faqîh dan tidak juga mau mengembalikan masalah ke belakang. Periode itu telah lewat. Tetapi yang pasti penting adalah kita harus memahami. Dan boleh jadi kalian akan menemukan banyak uzur tentang sahabat yang menarik kalian… Kalian akan menemukan seri tentang ‘Ishmah (Kemakshuman). Tetapi tidak mesti kita menolak semua pendapat Syi’ah. Kesaksian harus semata demi Allah.

Jadi jawaban pertama Ahlusunnah atas Hadis Ghadir bahwa ia sekedar untuk meninggikan keutamaan Ali adalah jawaban yang sangat lemah sekali bahkan batil/gugur. Seorang biasa yang berakal saja tidak akan melakukan seperti itu.

Begitu juga jawaban Ibnu Taimiyyah, ia batil/gugur. Karena penduduk Yaman pulang dari kota Mekkah ke negeri mereka setelah mendengar pujian Nabi saw. terhadap Ali yang beliau sampaikan di Mekkah sendiri untuk menolak celaan sebagian penduduk Yaman. Masalah itu sudah tuntas diselesaikan sejak awal waktu terjadinya.

Jadi hendaknya Ahlusunnah mencari jawaban lain selain dua jawaban di atas, karena keduanya sangat lemah sekali atau bahkan batil. Dan cukuplah kamu membayangkan sendiri diri kamu dalam peristiwa itu agar kamu mengerti peristiwanya.

Jawaban Syi’ah Zaidiyah

Tersisa jawaban pengikut mazhab Zaidiyah. Mereka mengatakan bahwa nash penunjukan itu bersifat samar (tidak secara tegas)! Jawaban ini juga lemah. Nabi saw. bukan pribadi yang lemah sehingga orang-orang ketika meninggalkan beliau mereka tidak mengerti apa yang beliau ucapkan?

Jadi yang tampak hingga sekarang adalah bahwa Hadis Ghadir Khum adalah nash yang tegas. Dan akan disampaikan uzur untuk para sahabat (mengapa mereka tidak mengindahkan penunjukan Nabi saw._red), karena itu jangan kita disibukkan olehnya dari beriman kepada nash. Nash itu lebih utama untuk diimani.

Dan bukan hanya nash/hadis Ghadir semata (yang menunjuk Ali) hanya saja itu terkenal karena disabdakan diperkumpulan orang yang sangat banyak dan dengan redaksi yang lugas lagi tegas, disamping itu disampaikan diakhir kehidupan Nabi saw. dan dikarenakan itu benar-benar khutbah seorang yang akan segera berpisah. Dan hadis/nash Ghadir ini memiliki banyak bukti pendukung dari sabda Nabi saw. lainnya diantaranya adalah hadis riwayat Bukhari dan Muslim (Hadis Manzilah)- “Kedudukan Ali disisiku bagaikan kedudukan Musa disisi Harun, hanya saja tidak ada Nabi setelah aku”

Saya bertanya kepada kalian demi Allah, andai hadis ini untuk Abu Bakar, apa yang akan kita (Ahlusunnah) katakan?

Di antara hadis-hadis shahih yang disabdakan Nabi saw. adalah:

(*) Hadis Buraidah:

علي وليكم بعدي

“Ali adalah Wali kalian sepeninggalku.”

Hadis ini telah dishahihkan (Syekh) al Albâni dalam jilid V dari kitab Silsilah al Ahâdîts ash Shahîhah! (Silahkan lihat penshahihan Syekh Al Albani disini: http://islamicweb.com/arabic/books/albani.asp?id=13384 _red)

Andai hadis ini untuk Abu Bakar, apa yang akan kita katakan tentangnya?

Jadi fahami Syi’ah.

Benar, telah datang beberapa hadis tentang Abu Bakar yang bertolak belakang dengan hadis di atas, tetapi itu tidak kuat baik sanadnya maupun petunjuknya. Nanti akan datang pembicaraan tentangnya ketika kita menuntut Syi’ah untuk memahami Ahlusunnah.

Jika Hadis Ghadir itu shahih dan gamblang maknanya, lalu bagaimanakah banyak sahabat besar yang memiliki masa lalu cemerlang dalam berhijrah, berjihad dan terdahulu dalam memeluk Islam?

Apakah mereka mempunyai takwil (khusus dalam memamahmi sabda Nabi saw. tersebut)?

Atau mereka terpaksa tidak melaksanakan sabda Nabi saw. tersebut?

Dan …. ?

Hal ini menjadikan kita menyebut tiga kondisi setelah disabdakannya Hadis Ghadir oleh Nabi saw.

Pertama: Pengutusan pasukan Usamah.

Di sini terjadi aksi pembangkangan massal yang dilakukan oleh hampir total masyarakat sahabat! Dengan atau tanpa alasan itu masalah lain.

Dalam dua kitab hadis Shahih; Shahih Bukhari dan Shahih Muslim disebutkan kisah perintah pemberangkatan pasukan oleh Nabi saw. : “agar mereka segera berangkat di waktu pagi”, Nabi saw. tidak menundanya hingga siang. Tetapi mereka tetap saja tidak mau berangkat hingga kira-kira tujuh belas hari!

Setiap kali Usamah berusaha mengumpulkan para sahabat agar segera bergabung dalam pasukan yang ia pimpin, mereka berpencar!!.. Sesekali mereka beralasan Usamah bin Zaid terlalu muda, dan sesekali mereka tidak mau berangkat dengan alasan karena Nabi saw. sudah sakit keras! Ini adalah alasan yang aneh… Tidak seorangpun dapat membenarkan alasan seperti itu!!

Bukankah termasuk dalam pasukan yang dipimpin Usamah itu adalah Abu Bakar, Umar, Abu Ubaidah dan para pembasar sahabat dan sebagian kaum Anshar…

Ini tertera dalam sejarah… Adapaun dalam hadis tidak disebutkan. Lalu terjadilah BENCANA seperti diriwayatkan dalam dua kitab hadis Shahih; Bukhari dan Muslim. Ringkasnya adalah:

Bahwa Nabi saw. meminta dari para sahabat yang menjenguk beliau selembar kertas untuk menuliskan sebuah pesan/wasiat “yang mereka tidak akan tersesat selamanya” selama berpegang teguh denganya, maka para sahabat yang sedang menjenguk beliau di rumah beliau itu berselisih terbagi menjadi dua kelompok; ada yang berkata: “Berikan kepada Nabi saw. apa yang beliau minta.” Dan satu kelompok lagi di bawah pimpinan Umar menolak memberikan kepada Nabi saw. apa yang beliau minta seraya berkata: “Cukuplah bagi kita Kiatbullah!”. Lalu Umar melanjutkan: “Mengapakah Nabi, apa beliau sedang mengigau?” maksudnya: Apa Nabi saw. sedang beribicara ngelantur?

Maka Nabi pun akhirnya mengusir mereka semua (para sahabat yang menjenguk beliau) sambil bersabda: “Tidak sepantasnya di sisi seorang Nabi melakukan percekcokan.”!

Setelahnya kelompok lain (pertama) menawarkan untuk memberikan kepada Nabi saw. apa yang beliau minta tadi, maka Nabi bersabda: “Apakah setelah apa yang telah kalian katakan?” maksud beliau setelah sekelompok dari kalian mengatakan bahwa Nabi saw. mengigau dan melantur.

Peristiwa ini butuh untuk direnungkan dan diteliti. Dari peristiwa itu tampak juga pembangkangan kedua setelah pembangkangan massal pertama dalam kasus pemberangkatan pasukan Usamah.

Sebagian ulama seperti an Nawawi membela Umar dan membiarkan Nabi saw. tanpa hujjah. Apa kira-kira uzur mereka di sini?

Betapapun kita mencintai Umar tetap saja kita tidak boleh mengutamakannya di atas Rasulullah saw. Dan adalah wajib atasnya untuk memberikan kepada Nabi saw. apa yang beliau minta.

Sekarang kita kembali ke tema inti, dan kami katakan:

Syi’ah berpendapat bahwa sebab mengapa Umar menolak memberikan kepada Nabi saw. apa yang beliau minta adalah karena Umar telah mengetahui bahwa Nabi saw. akan menegaskan dan mengukuhkan kembali wasiat penunjukan Ali sebagai Khalifah yang telah beliau sampaikan di Ghadir Khum setelah beliau menyaksikan pembangkangan para sahabat untuk bergabung dengan pasukan pimpinan Usamah…

Mengapa demikian?

Alasan Syi’ah dalam masalah ini adalah kode yang tertera dalam hadis itu sendiri: “…sebuah kitab yang selama kamu berpegang teguh dengannya kamu tidak akan tersesat selama-lamanya” sabda itu juga ada dan beliau sabdakan di Ghadir Khum: “kalian tidak akan tersesat selama kalian berpegang teguh dengan keduanya (Al Qur’an dan Keluarga/Ahlulbait Nabi saw.)

Syi’ah berkata: Dua kasus ini tidak berbeda. Dan apa yang menjadi jaminan keselamatan umat dari kesesatan massal yang beliau sampaikan di akhir bulan Dzul Hijjah tahun 10 H (di Ghadir Khum_red) adalah jaminan keselamatan yang sama yang beliau sampaikan di awal tahun ke 11 H (di kamar rumah beliau disa’at sakit yang menghantarkan beliau saw. berpulang ke alam Malakut menjumpai Tuhannya_red)

Karena itu Umar memahami kode ilmiah itu! Lalu ia bercepat-cepat menolak surat wasiat akhir yang Nabi saw. hendak tuliskan untuk umat seraya berkata: “Cukup bagi kita Kitab Allah”. Dan ketika percekcokan di antara dua kelompok itu mengeras/memanas mulailah Nabi saw. dituduh mengigau/melantur. Maka umar berkata: “Menagapakah dia?” maksudnya: Apa yang sedang dialamai Nabi?

Apakah beliau saw.  mulai mengigau/melantur omongannya akibat pengaruh sakit?

Lalu Umar menyusul ucapannya dengan: “Tanyakan kepadanya!”. Dan di sini perintah Nabi (untuk didatangkan selembar kertas untuk menulis wasiat keselamatan terakhir_red) berubah menjadi INTROGASI untuk menguji kewarasan akal Nabi saw. Di sini Nabi saw. melihat bahwa tidak ada gunanya tetap melanjutkan niatan beliau untuk menulis wasiat tersebut. Karena siapa yang tidak bisa mendapat hidayah/petunjuk dengan sabda beliau di Ghadir pasti juga tidak bisa mendapat petunjuk dengan wasiat tertulis. Dan siapa yang membangkang Nabi saw. ketika beliau hidup pasti akan membangkang beliau setelah wafat beliau. Karena itu Nabi saw. membatalkan niatan untuk menulis wasiat itu….

Ini adalah analisis Syi’ah terhadap peristiwa Raziyyah duka/bencana yang terjadi empat hari sebelum wafat Nabi saw., dan setelah pembangkangan pasukan Usamah yang hanya “berputar-putar” di tempatnya selama belasan hari!

Kisah duka/bencana/Raziyyah (yang terjadi di hari Kamis itu_red) telah diriwayatkan dalam dua kitab Shahih (Bukhari dan Muslim). Dan Ibnu Abbas setiap kali mengingat kejadian itu menangis (hingga jenggot beliau terbasahi oleh air mata_red). Ia berkata:

“Sesungguhnya bencana sebenar arti bencana adalah dihalanginya Nabi saw. dari menulis surat wasiat.” kemudian Ibnu Abbas melanjutkan kisahnya dengan mengatakan: “Rasulullah bersabda kepada mereka: “Aku akan tuliskan untuk kalian sebuah kitab/surat wasiat yang -dengannya- kalian tidak akan tersesat setelahnya.”, sementara mereka berkata: “Rasulullah mengigau/melantur omongannya!

Benar! Tangisan Ibnu Abbas itu adalah penyesalan mendalam. Ibnu Abbas menangisi kondisi umat ini, bagaimana mereka mengarungi medan peperangan dan fitnah kekacauan serta kedengkian-kedengkian sebagai hukuman Allah atas aksi mereka menghalangi Nabi Rahmat dari menulis wasiat keselamatan tersebut. Dan ucapan Ibnu Abbas itu terdapat dalam Shahih Muslim. Silahkan kamu rujuk dan resapi serta hadirkan jiwamu dalam peristiwa tersebut! Tinggalkan keterangan para pensyarah. Mereka tidak lain hanya persis seperti Ibrahim al Faris!!

Hadis itu sendiri (tanpa harus memperhatikan keterangan para pensyarah_red) sudah jelas dan gamblang tidak butuh bersilat lidah memutar balikkan hakikat. Dan saya yakin Ibnu Abbas itu adalah Ahlusunnah wal Jamâ’ah!

Jadi siapa yang mendatangkan syarah (keterangan) an Nawawi atau selainnya dan meninggalkan penyesalan Ibnu Abbas pasti ia tidak lebih utama (mengikuti) Sunnah dari Ibnu Abbas, lalu bagaimana dengan orang yang mendatangkan keterangan syarah an-Nawawi dan Ibnu Hajar dan meninggalkan Rasulullah?!Di sini perbedaan Sunnah kemazhaban dengan Sunnah Nabi!

Makna ini kami usahakan selama dua puluh lima tahun untuk memahamkannya kepada KAUM DUNGU tetapi mereka tidak memahaminya…

Mengapa?

Karena Sunnah kemazhaban tidak memahami kecuali dirinya sendiri. Dan kalaupun ia mengalahkan kami dengan kekuatan bukan dengan bukti dan dalil maka ketahui dahulu ia juga mengalahkan Rasulullah saw di dalam rumah beliau, ia mencegah beliau dari menulis surat wasiat keselamatan akhir!

Dan Allah telah menetapkan bagi kita stasiun-stasiun di mana Ia menyaring dan menguji iman kita…

Apakah kita akan berdiri bersama nash atau bersama tokoh-tokoh. Tentu sedikit sekali orang yang siap membela Rasulullah saw . Dan pada diri beliau terdapat teladan yang baik…

Dan ketika Ibnu Abbas menyesuai Syi’ah tidak berarti ia seorang “Syi’ah dengan pendefenisian modern/sekarang”. Dan ketika kami menyesuai Ibnu Abbas dalam penyesalan itu,.. itu tidak berarti kami “Syi’ah dengan pengertian modern”. Realitas historis harus dikedepankan sebelum hal-hal sampingan seperti itu. Seorang peneliti dapat berkata: “Saya bersejalan dengan Hadis Ghadir tetapi saya tidak sependapat tentang kemakshuman (para imam Syi’ah_red). Saya mendukung penulisan surat wasiat keselamatan itu tetapi saya tidak sependapat tentang Wilâyah Takwîniyyah. Saya setuju dengan tradisi menziarai kuburan dengan ziarah yang sesuai Syari’at tetapi saya tidak setuju dengan tatbîr/melukai diri (dalam mengekspresikan! kesedihan atas kesyahidah Imam Husain_red) dan memukul kepala serta perayaan kematian …

Seorang peneliti dapat membelah jalannya sendiri.

Jadi seorang peneliti itu “menyembah” kepada hakikat (kebenaran absolut). Tentu arti menyembah di sini adalah kiasan. Jika ia mendapati Umar atau Ali atau Abu Bakar atau Hasan… seorang dari mereka itu telah menyalahi nash maka hendaknya ia (si peneliti) bersama Rasulullah saw. tanpa harus ragu-ragu. Inilah Sunnah dengan arti Syar’i yang sebenarnya.

Karena itu bisa jadi seorang Syiah yang bebas (tidak terbelenggu dengan belenggu fanatik dan taklid buta) banyak titik temu di Ahlusunnah yang sesuai dengan hati nurani, akal dan hasil penelitiannya… Sebagaimana seorang peneliti Sunni yang bebas menemukan banyak titik temu di Syi’ah yang sesuai dengan hati nurani, akal dan hasil penelitiannya… Tidak mengapa… Dan ketika orang-orang bebas dari kalangan Ashlusunnah dan Syi’ah mampu menggoyang mazhab-mazhab yang bermalas-malasan (tidak mau meneliti kembali doktrin mazhab) maka generasi mendatang akan mampu berbicara dengan penuh kebebasan dan keluar dari kungkungan mazhab yang terbelakang/puritan.

Kalau begitu kita kembali… Saya tidak ragu-ragu menyesuai Ibnu Abbas dan Syi’ah dalam masalah/pristiwa duka/bencana. Dan kemaksiatan tidak mengharuskan kita berlepas diri dari si pelakunya, dan tidak ada seorang dari kita melainkan ia pernah bermaksiat, lalu apakah kita akan saling berelpas diri?

Pendapat-pendapat khusus ini telah dibisikkan dengan rahasia baik oleh Syi’ah maupun Ahlusunnah. Maksud saya: mungkin karena saya terbuka kepada mereka semua maka saya tau banyak hal dari kedua kelompok ini dari orang-orang yang memiliki garis khusus.. Seorang Syekh Sunni moderat berkata: “Kami ini adalah Syi’ah Ali, al Hasan, al Husain, al Baqir dan ash Shadiq, dan kami bukan Syi’ah yang gemar membunuh, berfikiran khurafat dan fanatik. Di sana ada banyak kaum Nashibi (pembenci keluarga Nabi saw.) yang kita harus berlepas diri dan memusuhi mereka… “ Syeikh Sunni moderat yang saya maksud adalah Syeikh Ahmad al Kubaisi.

Tidak merugikan seorang Sunni ketika ia dituduh sebagai Syi’ah selama ia mengikuti Nabi saw. dalam apa yang shahih dari beliau. Sebagaimana tidak memabahayakan seorang Syi’ah dituduh sebagai Nashibi ketika terungkap di hadapannya keadilan seorang sahabat yang sedang dituduh oleh mazhabnya…

Generasi baru -generasi revolusi Arabiyah (generasi musim semi arab _red)- harus menyempurnakan revolusinya dengan revolusi melawan mazhab-mazhab yang semena-mena. Ia lebih utama untuk dilawan daripada rezim-rezim tiran yang berkuasa!

Saya dari satu waktu ke waktu yang lain terpaksa membuka selebar mungkin cakrawala pemikiran, karena orang-orang memblokade kamu jika kamu tidak ingatkan mereka bahwa dalam masalah/perkara ini atau itu masih ada area terbuka, mereka tidak takut keluar dari agama karena marah demi mazhab.

Jadi, siapa yang mengkaji peristiwa-peristiwa yang terjadi di tiga bulan terakhir kehidupan Nabi Muhammad saw. dia akan mendapati peristiwa Ghadir dan pemberangkatan pasukan Usamah serta peristiwa hari duka/bencana. Ini adalah serangkaian peristiwa yang saling terkait, saling menafsirkan dalam kurun waktu yang sangat singkat. Di sini, Syi’ah tidak membenarkan hadis Sunni yang berbunyi: “Perintahkan Abu Bakar agar memimpin shalat.” Kata meraka asal hadisnya adalah demikian: “Perintahkan seorang dari kalian agar memimpin shalat.”

Syi’ah berkata bahwa ahli sejarah telah menyebutkan bahwa Abu Bakar dan Umar termasuk yang diperintah agar bergabung dengan pasukan Usamah dan mereka berdua bersama sekelompok kaum Muhajirin juga termasuk dari yang enggan berangkat. Setiap kali Usamah berusaha mengumpulkan mereka, mereka berpencar dan meninggalkannya, dan pada akhirnya mereka meninggalkan pos militer yang didirikan di Jiraf dan mereka lalu masuk kota Madinah. Dan kepulangan Umar ke kota Madinah bertepatan dengan permintaan Nabi saw. untuk menuliskan surat wasiat keselamatan akhir, lalu Umar menghalangi Nabi saw. dari menulisnya (dan terjadilah apa yang dikatakan Ibnu Abbas sebagai bencana besar! Demikian diriwayatkan Bukhari dan Muslim_red). Dan setelah itu (setelah Abu Bakar terpilih sebagai Khalifah, ia berniat memberangkatkan pasukan itu) ia meminta izin kepada Usamah (selaku Komandan tertinggi yang ditunjuk Nabi saw.) agar Umar tidak diwajib-militerkan (karena Abu Bakar membutuhkan Umar dalam memipin negara, dan akhirnya Umar tidak ikut bergabung dalam pasukan tersebut _red).

Dan sebenarnya di sana ada perbedaan tajam, kesamaran yang sangat serta kekacauan dalam riwayat-riwayat tentang peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam tiga bulan terakhir sebelum wafat Nabi saw. Ini merangsang banyak pihak untuk menyensor dan merahasiakan… bahkan untuk berbohong dan mengada-ada.

Sekarang kita telah sampai di penghujung masa hidup Nabi saw., dan setelah wafat beliau banyak perkara terjadi dari Umar… Beberapa saat setelah wafat beliau kemudian Saqifah dan berbagai peristiwanya kemudian sikap Ali dan bani Hasyim tentang tanah Fadak dan harta warisan para nabi. …

Saya meminta maaf atas centang perenangnya kajian ini walaupun tidak diniatkan sejak awal…

Umar Mengingkari Kematian Nabi Muhammad saw.

Jadi beberapa saat setelah Nabi Muhammad saw. wafat, Umar mengingkarinya dan mengancam akan membunuh siapa saja yang mengatakan Nabi telah wafat…

Dalam pandangan saya itu wajar-wajar saja, tetapi Syi’ah menjadikan sikap Umar itu terkait dengan “Peristiwa Hari Duka” dan sikap membangkang sahabat yang tidak mau segera bergabung dengan pasukan Usamah, dan bahwa tujuan pengingkaran Umar itu adalah menunggu kedatangan Abu Bakar dari desa tempat tinggalnya di Sunah. Dan semua konspirasi ini sudah direncanakan dengan matang-matang untuk merampas Khilafah dari Ali.

Tentu hal itu logis saja dari sisi kejiwaan manusia, namun saya tidak memandangnya cukup kuat. Saya melihat Syi’ah terlalu berlebihan dalam mengeksplorasi kasus ini. Mengapakah kita tidak memaknai riwayat tentang peristiwa sesuai dengan dzahirnya saja?! Tetapi memang benar adanya bahwa keberangkatan Abu Bakar dan Umar ke pendopo/balai Saqifah dan kemudian terjadinya kegaduhan dalam persengketaan dengan golongan Anshar adalah sebuah titik kuat Syi’ah karena  sudah sewajibnya untuk tenang dan hening dan ikut serta dalam prosesi pemakaman Baginda Nabi saw. (1)

Syi’ah memandang bahwa sebagian kaum Muhajirin sengaja menggugurkan nash yang terang yang menunjuk Ali sebagai Khalifah di hari Ghadir dan secara dzahir seakan mereka bersengketa dengan Anshar (padahal di balik itu) mereka bermaksud menyingkirkan Ali dan memonopoli kekhalifahan untuk suku Quraisy (minus keluarga Nabi saw.)…

Sejujurnya saja di sana ada masalah yang saya tidak mendapati baik dari kalangan Syi’ah maupun Ahlusunnah ada orang yang menyajikannya (membahasnya _red) -dan masalah itu benar-benar menggelisahkanku– yaitu bagaimana jiwa-jiwa itu kok tega membangkitkan persengketaan semantara Nabi saw. baru saja meninggal dunia… Ini sangat aneh sekali!!

Seorang dari kita saja jika tetangganya ada yang meninggal dunia, pasti ia akan bersikap tenang (tidak membuat keributan), pasti ia tidak akan mengangkat suaranya keras-keras terhadap anak-anaknya. Lalu bagaimana jika yang meninggal dunia ini adalah Baginda Rasulullah saw, lalu kita temukan suara keras dan kegaduhan serta keributan dan persengketaan?

Saya sangat berharap andai saja waktu itu kaum Muhajirin berkata kepada kaum Anshar -tenku jika benar tuduhan bahwa mereka berkumpul di Saqifah itu untuk memilih Sa’ad bin Ubadah sebagai Khalifah-: “Wahai teman-teman Anshar mari kita tunda semua ini, ayo kita rawat dulu jenazah Rasulullah saw.; kita shalati dan kita kebumikan, setelah itu barulah para tokoh yang berakal mantap dari kita dan dari kalian berkumpul dan membicarakan urusan umat Muhammad saw. Tentu ini jika memang benar tidak ada nash penunjukan oleh Nabi saw.!

Akan tetapi tergerah-gesah, persengketaan dan saling bertengkar sementara Nabi saw. belum dikebumikan… Sikap ini perlu ditinjau kembali. Karena mayyit yang baru saja meninggal dunia ini adalah Rasulullah, tentu kematian beliau meninggalkan kesedihan mendalam dan sikap merenung dan kembali ke kedalaman jiwa serta tangisan kesedihan… Dll… Demikian saya memperhatikannya. Dan boleh jadi Syi’ah memanfaatkan sikap para sahabat itu untuk membuktikan betapa kaku hati mereka. Tetapi seorang pengkaji yang terbebas (dari belenggu fanatisme Mazhab) tidak akan menyembunyikan data sejarah dan tidak juga menyajikan analisisnya karena takut ada pihak lain yang memanfaatkannya. Perhatikan bagaimana Barat maju dalam bidang Filsafat dan ilmu pengetahuan … Itu karena mereka tidak menyembunyikan sesuatu apapun dari ilmu.

Kesaksian Hanya Demi Allah

Segala puji bagi Allah, saya memiliki (kajian) bantahan atas pemikiran Salafy dalam masalah Sahabat Nabi saw…. Bantahan atas Syi’ah dalam masalah kemakshuman… Dan bantahan atas Zaidiyah dalam masalah kepemimpinan dan juga kritikan atas Wahhâbi dalam masalah PENGKAFIRAN KAUM MUSLIMIN. Saya tidak merasa bahwa saya harus mengikuti mazhab tertentu.

Dan betapapun kamu digolongkan oleh orang-orang (sebagai bermazhab ini atau itu) itu tidak penting. Yang lebih penting adalah bagaimana Allah menggolongkanmu! Apakah Allah menggolongkanmu dalam golongan orang-orang yang tunduk kepada perintah-perintah-Nya? Atau menggolongkannya dalam kelompok orang-orang yang congkak dari tunduk menerima kebenaran?

Penggolongan Allah itu penentu. Di sini kamu akan mendapatkan kegembiraan terbesar di hati kamu berjumpa dengan Allah dan kamu berkata: “Wahai Tuhanku, aku berseberangan dengan banyak orang demi Engkau dan demi Rasul-Mu. Mazhab-mazhab telah memangsa dagingku, karena itu aku mohon kepada-Mua agar Engkau sudi mengusir kesedihan dan jangan jangkau hinakan aku.”

Dengan ini terwujudlah makna penghambaan. Dan para penyandang mazhab -tentu hanya mereka yang fanatik saja- akan mengetahui bahwa sikap memilih-milih perintah-perintah Allah dan Rasul-Nya yang cocok mereka dijalankan dan yang tidak maka mereka campakkan adalah bukan penghambaan kepada Allah.

Sesungguhnya perbedaan antara kemusyrikan dan Tauhid adalah tali yang tinggi. Harus waspada terhadapnya dan wahai saudaraku janganlah kamu tertipu dengan mazhab, aliran atau pendapat umum! Tenanglah karena kamu akan mendapati dalam setiap mazhab ada sesuatu yang akan membuatmu keluar dari mazhab itu…

Jadi, hidayah Allah butuh perangkat penerima yaitu hatimu. Jika perangkat penerima itu rusak maka tidak ada gunanya sinyal yang kuat!

Ini adalah dari makna-makna yang lembut yang diabaikan oleh kaum congkak.

__________________

(1) Sejarah mencatat bahwa Nabi Muhammad saw. wafat di hari senin pagi atau siang dan dikebumikan di hari selasa malam, tepatnya di tengah malam. Dan Aisyah tidak mengetahui proses itu kecuali dari suara cangkul dan menutup liang lahat kuburan beliau. Demikian dituturkan Aisyah sendiri seperti diriwayatkan Ibnu Jarir ath Thabari dalam kitab Târîkh al Umam wa al Mulûk. Dan yang menghadiri prosesi pemakaman itu hanya sedikit sahabat saja. Sementara kebanyakan sahabat Muhajirin seperti Abu Bakar, Umar, Abu Ubaidah dkk sibuk sejak hari senin hingga selasa dengan urusan suksesi. Tidak lama setelah kedatangan Abu Bakar dari Sunah; desa tempat tinggalnya di pinggiran kota Madinah, Umar meminta Abu Bakar segera keluar dan meninggalkan jenazah suci Nabi Muhammad saw. menuju pendopo Saqifah di mana di sana kaum Anshar telah berkumpul dan konon mereka berkumpul untuk memilih secara diam-diam seorang Khalifah. Abu Bakar ditemani Umar dan beberapa sahabat Muhajirin lainnya. Setibanya di sana terjadilah keributan dan kekisruhan serta perdebatan dan percekcokan yang sangat tajam antara kubu Anshar dan kubuh Muhajirin yang diwakili oleh Abu Bakar, Umar dkk. Persengketaan itu kemudian berakhir dengan dibai’atnya Abu Bakar sebagai Khalifah. Sa’ad bin Ubadah dan sebagian pendukungnya menentang keras pembai’atan itu. Maka terjadilah silang lidah dan terlontarlah kecaman dan acaman atas Sa’ad bin Ubadah oleh Umar. Akhirnya Abu Bakar dibai’at dan setelahnya ia diarak menuju masjid Nabi saw. di mana jasad suci beliau masih dibaringkan di kamar beliau… Dan hanya keluarga beliau yang mengurusi jenazah beliau. Innâ Lillâhi wa Innâ Ilaihi Râji’ûn. (Abusalafy)

34 Tanggapan

  1. Hadia ghodir Hum itu palau mas!!! Buatannya si pendeta yahudi bermana bin Saba’…. Jangan mau dikibuli syiah…
    Baca keterangan SAIKHUL ISLAM IBNU TAIMIYAH bafu kamu ngerti kebohongan syiah dan kepalsuannya hadia ghodir!!! Gitu aja kok refoth!!

    • mukamu yg palsu mas… jelek karena munafik.

      mau bukti? situ aja gk bawa bukti ngapain gw pake bawa bukti.. yg jelas mukamu minafik kayak muawiyah laknat…

    • Tai miyah tai kucing,, otakmu cingkrang spt celanamu. Dasar pengikut Muawiyah Laknatullah

  2. @anti bid’ah
    Karena cintaku padamu supaya kamu tidak tersesat jalan agama maka aku psrsembahkan untuk ksterangan di bawah ini. Tolong dibaca ya.
    Bukti Keshahihan Hadis-hadis Ghadir

    Hadis Al-Ghadir adalah hadis yang disampaikan oleh Rasulullah saw di Ghadir Khum, suatu tempat antara Mekkah dan Madinah, sesudah haji wada’. Hadis ini disampaikan di depan kurang lebih 110.000 sahabat, di bawah terik matahari yang sangat panas, sambil memegang tangan Imam Ali bin Abi Thalib (sa). Hadis Al-Ghadir adalah hadis yang paling mutawatir dari semua hadis, tidak ada satupun hadis Nabi saw yang melebihi kemutawatiran hadis Al-Ghadir. Karena tidak satu pun hadis Nabi saw yang lain yang disaksikan dan didengarkan oleh puluhan ribu sahabat.

    Redaksi hadis ini juga bermacam-macam, antara lain: Di Ghadir Khum, Rasulullah saw bersabda:
    من كنت مولاه فعـلي مولاه، اللهمّ وال من والاه وعاد من عاداه

    “Barangsiapa yang menjadikan aku pemimpinnya, maka Ali adalah pemimpinnya. Ya Allah, tolonglah orang yang menolongnya, dan musuhi orang yang memusuhinya.”
    Dalam Redaksi yang disebutkan:
    من كنت مولاه فإنّ عليّاً مولاه، اللهمّ عاد من عاداه ووال من والاه

    “Barangsiapa yang menjadikan aku pemimpinnya, maka sesungguhnya Ali adalah pemimpinnya. Ya Allah, musuhi orang yang memusuhinya, dan tolonglah orang yang menolongnya.”

    Zaid bin Arqam juga mengatakan bahwa Rasulullah saw:
    “Sesungguhnya Allah adalah pemimpinku dan aku adalah pemimpin setiap mukmin.”
    Kemudian beliau memegang tangan Ali seraya bersabda:
    من كنت وليّه فهذا وليّه، اللهمّ وال من والاه وعاد من عاداه

    “Barangsiapa yang menjadikan aku sebagai pemimpinnya, maka ini (Ali) adalah pemimpinnya. Ya Allah, tolonglah orang yang menolongnya, dan musuhi orang yang memusuhinya.” Dalam redaksi yang lain disebutkan:
    من كنت مولاه فهذا عليّ مولاه

    “Barangsiapa yang menjadikan aku mawlanya, maka ini Ali adalah mawlanya.”

    Dalam riwayat yang lain disebutkan bahwa orang yang pertama kali mengucapkan “Ucapan selamat” kepada Ali bin Abi Thalib (sa) di Ghadir Khum adalah Umar bin Khaththab, dengan mengatakan:
    بخ بخ لك يابن ابي طالب قد اصبحت مولاي و مولا كل مؤمن و مؤمنة

    Selamat, selamat atasmu wahai putera Abu Thalib, engkau telah menjadi pemimpinku dan pemimpin semua mukmin dan mukminah.

    Hadis Al-Ghadir dengan segala macam redaksinya terdapat dalam kitab:
    1. Shahih Muslim, jilid 4/1873, Dar Fikr, Bairut.
    2. Shahih Tirmidzi, jilid 5, halaman 297, hadis ke 3797.
    3. Sunan Ibnu Majah, jilid 1, halaman 45, hadis ke 121.
    4. Musnad Ahmad jilid 5, halaman 501, hadis ke18838, halaman 498, no: 18815, cet Bairut.
    5. Musnad Ahmad, jilid 4, halaman 368 dan 372.
    6. Musnad Ahmad bin Hamnbal, jilid 1, halaman 88, cet.pertama; jilid 2, halaman 672, dengan sanad yang shahih; jilid 4, halaman 372. cet. Pertama.
    7. Khashaish Amirul mu’minin (as), halaman 96, cet Kuwait 1406 H.
    8. Fadhilah ash-Shahabah, halaman 15, Dar kutub ilmiyah, Bairut.
    9. Mustadrak Al-Hakim, jilid 3, halaman 533, Dar fikr, Bairut 1398 H.
    10. Majma’ az-Zawaid, jilid 9, halaman 104-105, Dar kitab Al-Arabi, Bairut 1402 H.
    11. Tarjamah Al-Imam Ali bin Abi Thalib, dalam Tarikh Damsyiq, oleh Ibnu Asakir Asy-Syafi’I, jilid 1, halaman 213, hadis ke: 271,277,278,279,281,460,461 dan 465; jilid 2, halaman 14, hadis ke: 509,510,519,520,524,525,529,530,531,533,534,536,537,538,540,541,542,551,554,555,556,557,563,564,574,575,577,578,579 dan 587,cet. Pertama, Bairut.
    12. Majma’uz Zawaid, oleh Al-Haitsami Asy-Syafi’I, jilid 9, halaman: 103,105,106,107 dan 108.
    13. Kanzul ‘Ummal jilid 15, halaman: 91,92,120,135,143,147 dan 150, cetakan. Kedua.
    14. Khashaish Amirul Mu’minin, oleh An-Nasa’I Asy-Syafi’I, halaman 94,95 dan 50, cet. Al-Haidariyah.
    15. Al-Mustadrak Al-Hakim, jilid 3, halaman 110.
    16. Hilyatul Awliya’, oleh Abu Na’Imam Muhammad Al-Baqir (as), jilid 5, halaman 26.
    17. Usdul Ghabah, oleh Ibnu Atsir, jilid 5, halaman 369; jilid3, halaman 274; jilid 5, halaman 208.
    18. Jami’ul Ushul, oleh Ibnu Atsir, jilid 9, halaman 468.
    19. Al-Manaqib, oleh Al-Khawarizmi Al-Hanafi, halaman 79,94 dan 95.
    20. Ad-Durrul Mantsur, oleh As-Suyuthi, jilid 5, halaman 182.
    21. Nizham Durar As-Samthin, oleh Az-Zarnadi Al-Hanafi, halaman 112.
    22. Manaqib Ali bin Abi Thalib, oleh Ibnu Al-Maghazili Asy-Syafi’I, halaman 19, hadis ke: 24,23,30,31,32,34 dan 36.
    23. Al-Hawi, oleh As-Suyuthi, jilid 1, halaman 122.
    24. Al-jarh wat-Ta’dil, oleh Abi Hatim, jilid 4, halaman 431, cet. Haidar Abad.
    25. Yanabi’ul Mawaddah, oleh Al-Qundusi Al-Hanafi, halaman: 31,33,36,37,38,181,187,274.
    26. Dzakhairul ‘Uqba, halaman 67.
    27. Al-Ishabah, jilid 1, halaman 305,372 dan 567; jilid 2, halaman 257,382,408 dan 509; jilid 3, halaman 542; jilid 4, halaman 80.
    28. Al-Aghani, oleh Abil Farj Al-Isfahan, jilid 8, halaman 307.
    29. Tarikh Al-Khulafa’, oleh As-Suyuthi Asy-Syafi’I, halaman 169, cet. As-Sa’adah, Mesir; halaman 65, cet Al-Maimaniyah, Mesir.
    30. Mashabih As-Sunnah, oleh Al-Baghawi Asy-Syafi’i, jilid 2, halaman 275.
    31. Kifayah Ath-Thalib, oleh Al-Kanji Asy-Syafi’I, halaman: 58,60,62 dan 286, cet. Al-Ghira.
    32. Al-Imamah was Siyasah, oleh Ibnu Qataibah, jilid 1, halaman 101.
    33. Syawahidut Tanzil, oleh Al-Haskani Al-Hanafi, jilid 1, halaman 157, hadis ke: 210,212 dan 213.
    34. Sirr Al-‘Alamin, oleh Al-Ghazali, halaman 21.
    35. Misykat Al-Mashabih, oleh Al-Umari, jilid 3, halaman 243.
    36. Ar-Riyadh An-Nadharah, jilid 2, halaman 222,223 dan 224.
    37. At-Tarikh Al-Kabir, oleh Al-Bukhari, jilid 1, halaman 375, cet. Turki.
    38. Faraid As-Samthin, jilid 1, halaman 63 dan 66.
    39. Ihqaqul Haqq, jilid 6, halaman 228.
    40. Al-Bidayah wan-Nihayah, jilid 5, halaman: 211,212,213 dan 214; jilid 7, halaman: 338,348,448 dan 334.
    41. Al-Manaqib, oleh Abdullah Asy-Syafi’I, halaman 106.
    42. Wafaul Wafa’, oleh Abdullah Asy-Syafi’I, halaman 106.
    43. Miftahun Naja, oleh Al-Badkhasyi, halaman 58.
    44. Taysirul Wushul, oleh Ibnu Ar-Rabi,, jilid 2, halaman 147.
    45. Tarikh Baghdad, oleh Al-Khatib Al-Baghadi, jilid 8, halaman 290.
    46. Al-Kina wal- Asma’, oleh Ad-Dawlabi, jilid 1, halaman 160, cet. Haidar Abad.
    47. Nizham An-Nazhirin, halaman 39.
    48. Al-Jarh wat-Ta’dil, oleh Ibnu Mundzir, jilid 4, halaman 431.
    49. Asy-Syadzarat Adz-dzahabiyah, halaman 54.
    50. Akhbar Ad-Duwal, oleh Al-Qurmani, halaman 102.
    51. Dzakhair Al-Mawarits, oleh An-Nabilis, jilid 1, halaman 213.
    52. Kunuzul Haqaiq, oleh Al-Mannawi, huruf Mim, cet. Bulaq.
    53. Arjah Al-Mathalib, oleh Syaikh Abidillah Al-Hanafi, halaman: 564,568,570,471,448,581,36 dan 579.
    54. Muntakhab min shahih Bukhari wa Muslim, oleh Muhammad bin Utsman Al-Baghdadi, halaman 217.
    55. Fathul Bayan, oleh Haasan Khan Al-Hanafi, jilid 7, halaman 251, cet, Bulaq
    56. Al-Arba’in, oleh Ibnu Abil Fawaris, halaman 39.
    57. Al-I’tiqad ‘Ala Madzhab As-Salaf, oleh Al-Baihaqi, halaman 182.
    58. Al-Mu’tashar minal Mukhtashar, jilid 2, halaman 332, cet. Haidar Abad.
    59. MawdhihAwhamil Jam’I Wat-Tafriq, oleh Al-Khatib Al-Baghdadi, jilid 1, halaman 91.
    60. At-Tahdzib, oleh Ibnu Hajar Al-‘Asqalani Asy-Syafi’I, jilid 1, halaman 337.
    61. Al-Bayan Wat-Ta’rif, oleh Ibnu Hamzah, jilid 2, halaman 230.
    62. Al-Adhdad, halaman 25 dan 180.
    63. Al-‘Utsmaniyah, oleh Al-Jahizh, halaman 134 dan 144.
    64. Mukhtalib Al-Ahadist, oleh Ibnu Qutaibah, halaman 52.
    65. An-Nihayah, oleh Ibnu Atsir Al-Jazari, jilid 4, halaman 346, cet. Al-Muniriyah, Mesir.
    66. Ar-Riyadh An-Nadharah, oleh Muhibuddin Ath-Thabari Asy-Syafi’i, jilid 2, halaman 244, cet. Al-Kaniji, Mesir.
    67. Duwal Al-Islam, jilid 1, halaman 20.
    68. Tadzkirah Al-Huffazh, oleh Adz-Dzahabi, jilid 1, halaman 10.
    69. Al-Mawaqif, oleh Al-Iji, jilid 2, halaman 611.
    70. Syarah Al-Maqashid, oleh At-Taftajani, jilid 2, halaman 219.
    71. Muntakhab Kanzul ‘Ummal (catatan pinggir) Musnad Ahmad, jilid 5, halaman 30.
    72. Faydhul Qadir, oleh Al-Mannawi Asy-Syafi’I, jilid 1, halaman 57.
    73. Atsna Al-Mathalib fi Ahadits Mukhtalif Al-Maratib, halaman 221.
    74. Ar-Rawdh Al-Azhar, oleh Al-Qandar Al-Hindi, halaman 94.
    75. Al-Jami’ Ash-Shaghir, oleh As-Suyuthi, hadis ke 900.
    76. Al-Mu’jam Al-Kabir, oleh Ath-Thabrani, jilid 1, halaman 149 dan 205.
    77. Al-Fadhail, oleh Ahmad bin Hambal, hadis ke: 91,822 dan 139.
    78. Al-Kamil, oleh Ibnu ‘Adi, jilid 2, halaman 20.
    79. Asy-Syaraf Al-Muabbad Li-Ali Muhammad, oleh An-Nabhani Al-Bairuti, halaman 111.
    80. Maqashid Ath-Thalib, oleh Al-Barzanji, halaman 11.
    81. Al-Fathu Ar-Rabbani, jilid 21, halaman 312.

    Ya sampai di sini dulu ya mas anti bid’ah. Aku tunggu lho tanggapan kamu! Biasanya pengikut Ibnu Taimiyah itu jujjddan obyektif lho. … Aku tunggu ya..
    Wassalam

  3. masya Allah, mohon baca dgn tenang para ikhwan pengunjung, pelan2 dan tidak grusa – grusu. Agar apa yg dikandung dl artikel ini bisa dipahami. Sikap2 grusa grusu adalah penyakit dlm memahami sesuatu. Ini beberapa catatan sy sbg pembaca barangkali antum mau membacanya :

    1. Hadits Ghadir Khum/hadits Tsaqalain, adalah kunci untuk memhami fenomena2 sejarah yg terjadi pd masa itu dan setelahnya, dan bukan sbg alat untuk berlepas diri dari seseorang. Kita pahami bahwa Rasulullah saww telah menetapkan jalan keluar dari perselisihan bagi umatnya (shahabat r.hum) pd saat itu. Tapi namanya manusia biasa tetaplah manusia sperti kita diingatkan ” Dirikan shalat !!tapi kita seenaknya sj menjalankan sholat : wudlu tak sempurna, mengurangii sunnah2nya, tak tenang/gerak2 saat sholat, sibuk pikiran/tidak khusyu’. Ini lah kita (terutama sy). Kita tak sadar siapa yg memerintahkan kita sholat, apa akibat kita mninggalkan sholat

    2. Tidak sepatutnya kita gunakan kata Syiah sbg stigma untuk menuduh orang, disamping kita jadi salah menggunakan kata jg mendzalimi. Jgn lg kita bertanya “ente Syiah ya (untuk menstigma orang), Karena pertanyaan seperti ini sngat tendensius dan anda menganggap ente paling benar.

    3. bagaimana bisa memahami hadits Ammar atau hadits fi’atul baghiyyah klu memahami hadits Ghadir sj tak bisa. Yg ada justru pembelaan kepada pemimpin besar Fiatul Baghiyyah. Dan disinilah muncul sikap inhiraf dari Ahlul Bait as. Akibat sikap ini : lebih percaya qaul Syaikh Ibnu Taimiyah daripada sabda Nabi saww, hadits mutawatir minimal bil makna dianggap hadits dloif.

    4. Kita diberi nikmat akal yg merdeka, jgn gadaikan akal kita kpd para syaikh untuk tidak menerima dgn tulus sayyidina Ali kwj adalahsbg orang yg istimewa di sisi Rasulullah saww. Ingat kebencian kpd beliau adalah tanda nifak. Konon ada tesis yg ditulis seseorang yg menganggap pihak Ali kwj, Ammar ra.sbg pihak yg celaka sementara pihak Muawiyah sbg thaifah manshurah. Gila ! betul2 gila., untung segera direfisi sebelum naik cetak setelah ujian munaqasyah dgn memasukkan kelompok yg dianggap celaka tadi menjadi kelompok yg selamat jg. Padahal seharusnya dibalik bukan dipeluk semua.

    5. Tapi memang akhir2 ini sy pribadi “mentolelir” bila ada kumandang adzan “Asyhadu anna Aliyyan Waliyullah…. Asyhadu anna Aliyyan Hujjatullah……… hayya ‘ala khoiril ‘amal…. Sy tak tahu dalilnya tapi sy yakin pengamalnya punya alasan atas pendiriannya yg dengannya siap mempertanggung jawabkan. Dengan demikian sy jadi tenang dan tidak ada perasaan aneh dan macam2 krn arti Waliyullah dan Hujjatullah sangat pas dan cocok pada sosok manusia yg berkedudukan sbg Harun min Musa as dan disebut Mukjizat Rasulullah saww. Ada yg menuduh sy tasyayyu’ ?. la bas.. ……intaha….

    • @yujarshif sedang bermain main dengan opini ya???. Sepertinya mas tau banget soal syi’ah, Coba mas terangkan aqidah syiah terhadap para sahabat terutama Abu bakar r.a dan Umar r.a , dan istri istri rasullullah Muhammad SAW terutama Aisyah r.a dan hafsah r.a, aqidah Syiah tentang imam Mahdi, Tentang Haji, Sifat Sholatnya, tentang imam imam yang maksum, tentang kishas yang akan dilaksanakan imam mahdi terhadap sahbat yang mulia khalfaturrasyidin dan Ummul mukminin Aisyah dan umat selain Syi’ah di akhir zaman, dan sebagainya. agar bisa kita bandingkan dengan aqidah Ahlussunnah. Baru kita lihat dimana ada titik temunya. Silahkan.

      • Bener kata Syaikh Hasan Farhan bahwa ciri SAWAH (salafi wahabi) adalah selalu menyibukkan kamu dgn masalah lain selain yg sedang dibahas agar kita tertipu dan lupa tema inti…
        Ini yang kami saksikan di sini si COPAS mau melupakan inti bahasan yang sedang disajikan… Ia melantur ke sana ke sono ngomong ndak ketemu judulnya.
        Ayo mas COPAS beranikan diri kamu membahas masalah hadis Ghodir, shahih atau tidak menurut kamu atau ulama panutan kamu.
        Setelahnya, ayo kita diskusikan tentanf makna jadis Ghodir… .
        Tidak usah pindah tema-tema lain… Soal Syiah lah… Sahabat lah… Dsb
        Ok!!!!

      • @Copas, ya memang sdg bermain opini, jadi opini sy : Sebaiknya tak usah ribut2 soal sunni -syiah wong sama bershahadat kok, tak usah saling sesat menyesatkan, menganggap yg lain di luar Islam. Klu kita ribut nanti dimanfaatin supaya kita berpecah dan berdarah – darah kayak di Suriah lho…Jadi kita jgn hanya suka makan jagung hibrida tapi harus paham jg perang hibrida (maaf becanda sj…ya). Kita kesampingkan fatwa apapun untuk saling menyesatkan dan saling mnyerang, Setuju kang mas..????
        Klu setuju berarti ente satu “manhaj” dgn sy (maaf pinjam istilah ya) klu tidak ya ra popo….anda merdeka dgn hati dan otak sbg anugerah.

        Klu ada seorang syi’i yg melaknat beberapa shahabat yg antum sebut, maaf itu urusan dia bukan urusan saya. Jadi tanggung jawab ada pada pelakunya, dan ingat jgn lalu kita men-genalisir bahwa setiap Syiah mesti begitu lalu kita sesatkan Syiah dan mengakafirkan mereka.Tapi klu ada orang menghina shahabat, memerangi, membunuh tanpa hak, melaknat bahkan meracun dan membantai dan membuat kekacaun di Madinah Nabi saww, lalu kita tidak mengingkari, malah kita bela habis2an melebihi pembelaan kpd shahabat yg lebih mulia, mnyematkan satu pahala atas tindakan memerangi imam pd zamannya dan akhirnya di tulis dgn huruf kapital “RADLIYALLAHU ‘ANHU” dibelakang nama pelaku ini semua, ajiiiiiib 1000x ajiiib…..
        Besar mana kesalahan sekedar melaknat dgn melaknat + membantai + meracun + mengubah2 syariat + membrontak (baghyu) pd imam di zamannya dll ?. Jadi tidak ngefek klu urusan laknat melknat jdi pemantik perpecahan. Imam Ali kwj sj di kafirkan khawarij tidak terpancing untuk mnghukum mereka, baru ketika mereka mengangkat senjata diadakan lah ops. Qalahu Syaikh Ben Farhan.

        Akidah ttg imam Mahdi di sunnah jg ada, masalahnya antum itu yg tak percaya klu imam Mahdi al-Muntadhor adalah imam k 12 (Syiah Imamiyah/itsna asyariyah). Sementara Syiah Zaidiyah jg tak sepaham jg dgn akidah 12 imam itu Jadi masalah buat ….? buat saya aja deh.

        Haji…maaf sy tak paham fiqh haji mereka, tapi yg jelas haji ya ada ihram, wukuf, thawaf, sa’i, tahalul dan hajinya di tanah Haram bukan di Karbala. Yakin aja dahhhh. Tapi klu ada orang yg di sebut khalifah naik haji tapi orang2 jadi takut bertalbiyah sehingga Ibnu Abbas ra terpamggil untuk mngeraskan talbiyahnya supaya orang banyak tak takut2 bertalbiyah ……..ni baru ajib. Tambahin pahalanya bung jgn satu aja krn tlh membuat takut orang bertalbiyah.

        (moga ada sambungannya..)

    • fikih saya ahlissunah, imam syafii.l
      tapi saya bertasayyu ustadz..

      gak ada masalah dituduh syiah sama salafy.
      dan gak ada masalah dituduh bukan syiah sama orang syiah.

      saya mengamalkan pendapat mufti suriah grand syaikh ahmad hassoun:

      “secara fikih saya sunni,
      secara pemikiran dan kesetiaan saya seorang syii.
      belajar penyucian diri dari sufi dan
      belajar militansi dari salafy.

      tidak masalah menjadi sunni dan syii sekaligus,
      karena itulah yg iman seorang muslim menjadi lengkap”

  4. saya jadi tidak kaget, kalau salafy wahabi memang benar-benar asbun.
    mas juragan bid’ah yg sok anti bid’ah berani-beraninya mengatakan hadis ini karangan bin Saba’. hadis shahih yg ada dalam kitab-kitab sunni bahkan di shahihkan embahnya wahabi si Al-albani. mazhab wahabi dibangun dengan menghalalkan segala cara dan segala kebohongan untuk menipu orang awam. sama sekali wahabi tidak takut dosa, benar Syeikh dari saudi ini bahwa kaum salafy wahabi menyembah mazhab dan telah musyrik

  5. @anti wahabi sesat kan udah saya kasih link, piye toh???. Emang Kalau bahas Syiah masalah ya??? Emang kenapa???, ada Apa ini???. EHm…. ( SSssstttttt……….Pasti ada Sesuatu…….!!!).

  6. @yujarshif Monggo…. Pelajarannya Saya tunggu loh….!.

    • lanjut…..
      siap komandan !!!!

      Kemaksuman Ahlul Bait…… Ini soal akidah yg selalu diributkan tanpa kita mahu tahu bagaimana struktur berifikir ttg akidah tsb. Dasar mereka adalah surat Al-Ahzab ayat 33 dan hadits Ghadir di atas, dimana pusaka ke dua (ahlul Bait) bukan sekedar wajib dicintai, dihormati tapi wajib ittiba’ manhaj dan akidahnya. Karena wajib ittiba’ kpd mereka maka dlm pandangan Syiah maka mereka (Ahlul Bait) tentu maksum, krn tak mungkin disuruh untuk diikuti taapi yg diikut tak maksum. Nah dlm menentukan siapa2 pihak2 yg maksum, Isna Ayariyah berpendapat bahwa mereka adalah Ahlul Kisa’+ imam2 sampai yg ke 12. Semntara Zaidiyah hanya mengakui Ahlul Kisa sj dgn catatan bahwa kesepakatan ulama dzuriyah Hasan wal Husain as. jg maksum dlm arti mereka tidak akan sepakat dlm kebathilan.
      Semntra Sunnah hanya mengakui kemaksuman para nabi dan rasul. Jadi apa masalahnya..?????

      Tata cara sholat……..Mas tak usah heran urusan sholat sdh dirusak sejak abad 1 sampai2 shahabi Anas Bin Malik r.a. menangis sedih dibuatnya ketika berkunjung k Damaskus untuk satu keperluan. Jadi tak usah bawa2 urusan sholat untuk menyalahkan pihak lain. Maaf sekedar tanya antum basmalahnya jahar atau sirr ketika maghrib dll. Siapa orang yg mengkorup basmalah ketika sholat sehingga ditegur oleh para shahabat?. Coba buka mushaf dan lihat basmalah no berapa?. Menurut teori Ulumul Quran bahwa ayat2 al-Quran adalah riwayatnya mutawatir. Tapi mengapa yg mutawatir bisa dikalahkan/dikoreksi oleh hadits ahad?. Tahukah anda pihak yg menolak penulisan basmalah pd perjanjian Hudaibiyah?. Jangan2 orang yg mengkorup itu masih menyimpan memori jahilyah untuk menyingkirkan basmalah dari al-Fatihah. Dan yg mengamalkan jahar basmalah adalah Syiah dan Syafiiyah (dari kalangan Sunnah). Jadi tak usah lah mempersoalkan tak baca fatihah di rokaat ke tiga dan empat, salamnya pakai tepuk tangan k paha, sujudnya di atas pecahan tanah Karbala dll, tanyakan k mereka dgn baik2. Tapi “keganjilan” ini jgn mengoyak kerukunan.

      Jadi maaf bukan ahlinya klu sy harus menerangkan apalagi menyalahkan sistem kepercayaan dan ritus ibadah pihak lain.

      Biarkan kata – kata : alladzina amanuu, man ‘amila sholihan, al-muslimuuna dan al-mukminuuna tetap dalam ke-UMUM-annya. Jgn kita mencoba2 men-TAKHSIS-nya dgn pikiran – pikiran kita. Dengan demikian kita tidak mencoba2 memegang kendali kebenaran dgn menyingkirkan pihak lain yg dianggap tak berhak mendapatkan kebenaran. Wallahu a’lam.

      • @yujarshif

        sedikit koreksi mas brow, sehabis salam syiah itu bukannya tepuk tangan ke paha tapi takbir tiga kali sambil mengangkat tangan karena posisi duduk yah tuh tangan jatuhnya ke paha deh jadi seolah olah tepuk tepuk paha. Beda kalau posisi kita lagi berdiri kita takbir tangan diangkat kan jatuhnya pasti di samping badan gitu mas brow. masak habis sholat dan salam orang syiah terus tepuk tepuk paha seeh, yang bener saja mas brow?! trus boleh juga koq setiap takbir dalam sholat kita mengangkat tangan baik dalam posisi berdiri ataupun duduk.

      • Mantap mas keterangan cara beribadah Syi’ahnya,

        “Jgn kita mencoba2 men-TAKHSIS-nya dgn pikiran – pikiran kita. Dengan demikian kita tidak mencoba2 memegang kendali kebenaran dgn menyingkirkan pihak lain yg dianggap tak berhak mendapatkan kebenaran.”

        Tapi mengapa dendam kesumat Syi’ah tak pernah padam ya???, dengan segala cara memprovokasi umat dengan isu isu wahabi, ibnu taimiyah dan sebagainya ya???.

      • terima kasih mas @si didin atas koreksinya, antum lebih tahu ttg itu, jadi maaf sy telah salah tulis karena salah kira

      • ustadaz yujarshif

        mantap tadz…
        tulisan ente bagus tadz.. saya belajar banyak dari anda..

  7. @anti wahabi sesat baca juga judul dari bahasan ini “Syekh Hasan bin Farhan Al Maliky: Memahami Inti Perbedaan Ahlussunnah Dan Syiah”
    Piye TOH……???. Ehm……..

  8. Klu ada seorang syi’i yg melaknat beberap a shahabat yg antum sebut, maaf itu urusan dia bukan urusan saya. ( Beberapa maksudnya berapa banyak??? 1/3 1/4 1/2 3/4 ???), hampir semua kali yee, sisanya paling 20anlah ya…?

    .Tapi klu ada orang menghina shahabat, memerangi, membunuh tanpa hak, melaknat bahkan meracun dan membantai dan membuat kekacaun di Madinah Nabi saww, lalu kita tidak mengingkari, malah kita bela habis2an melebihi pembelaan kpd shahabat yg lebih mulia, mnyematkan satu pahala atas tindakan memerangi imam pd zamannya dan akhirnya di tulis dgn huruf kapital “RADLIYALLAHU ‘ANHU” dibelakang nama pelaku ini semua, ajiiiiiib 1000x ajiiib…..
    ( Ah opini anda berlebihan dan provokatip sekali, bisa dibuktikan?? )
    kayaknya kita dah sama sama baca Al bidayah kan??

    mengubah2 syariat ( Syariat yang mana?)

    Akidah ttg imam Mahdi di sunnah jg ada, masalahnya antum itu yg tak percaya klu imam Mahdi al-Muntadhor adalah imam k 12 (Syiah Imamiyah/itsna asyariyah). Sementara Syiah Zaidiyah jg tak sepaham jg dgn akidah 12 imam itu Jadi masalah buat ….? buat saya aja deh.

    ( Imam mahdinya ahlussunnah bernama sama seperti namanya Nabi Muhammad SAW, Yang jadi masalah Imam mahdinya Syiah inikan akan menegakkan khishas atas Abu Bakar r.a Umar r.a dan Aisyah r.a, seandainya anda hadir di zaman itu anda berdiri dimana???

    Tapi klu ada orang yg di sebut khalifah naik haji tapi orang2 jadi takut bertalbiyah sehingga Ibnu Abbas ra terpamggil untuk mngeraskan talbiyahnya supaya orang banyak tak takut2 bertalbiyah ……..ni baru ajib. Tambahin pahalanya bung jgn satu aja krn tlh membuat takut orang bertalbiyah.
    ( Kan udah ada Ibnu Abbas r.a).

  9. Oh ya mas @yujarshif, Kalau soal nikah mut’ah giamana? anda setuju? kabarnya ini bahaya loh, udah ada yang terkena penyakit.

    • Minimal apa yg sy sampaikan ada rujukannya bukan asal tulis. Cuma saran sj tlong di baca lg beberapa artiekl Syaikh Ben Farhan cq. Abu Salafi pelan2 jgn grusa grusu. Kesangsian2 anda sdh terjawab di artiekel tsb. Klu ttg Ziyad Bin abihi sj anda tak paham berrarti perlu membaca lg barangkali bab ini terlewatkan.

      Dan sy pikir tak perlu diteruskan diskusi kita, sy hanya berharap pahami kerangka berfikir pihak lain bukan untuk dipercayai, minimal kita tahu dasar2 pemikirannya. Maafkan sy klu ada yg tak berkenan. wassalam.

      • Mas jangan kita membangun opini dengan mengkerucutkan persoalan syiah ini hanya sebatas siapa yang berhak soal khilafah. Ini persoalan aqidah mas…!. Bagaimana soal Imam Mahdi dan Mut’ah ko ga ada tanggapan mas?.

        Sebagai ahlussunnah dari keterangan keterangan yang ada saya meyakini Imam mahdinya Syiah ga bakalan dah, karena menurut keyakinan ahlussunnah target operasinya Imam Mahdi itu memerangi kezaliman dan Dajjal, bukan membongkar kuburan. Anda akan mengatakan itu urusan entelah….., Nah inilah yang saya inginkan.

        Janganlah membuat kebingungan dengan mengatas namakan Wahabi atau Nashibi dan sebagainya. biarlah Syiah dengan keyakinannya dan biarlah ahlussunnah dengan keyakinannya. ga usah disatu satukan, dicari persamaannya, ga bakalan nyambung…

        Seandainya Ia Wahabi biarlah ia wahabi mang napa??, seandainya dia Syi’ah biarlah dia Sy’iah emang napa??, Seandainya Ia yang remang remang, Ops yang ini tanya saja sama orangnya langsung…

    • kalo nikah misyar gimana mas copas?
      banyak tuh orang saudi yg nikah misyar dan kena aid hepatitis..

      gimana mas copas…

  10. Agk keluar dari bhasan neh, kuburannya muawiyah ato ibnu taimiyah apa msih ada sampai sekarang, dimana sih kuburannya. ISIS berani gak ya ngehancurin atu ngebom makam mereka

  11. @yujarshif, saya setuju tak gunanya diskusi syia’ah vs sunnah, tapi ngomong2 soal kerangka berpikir, yang ingin saya tekankan disini adalah jika kita itu memang syi’ah jadilah syi’ah sejati, dan jika ahlussunnah jadilah ahlussunnah sejati, jangan mengambang. jangan kita syi’ah tapi bertaqiah sebagai ahlussunnah untuk membodohi manusia dengan alasan wahabi dan sebagainya. OK maafnya saya terima. Walaikum salam…..!.

  12. @ikhwan al-kiram para pengujung semua
    bagaimana klu kita kaji apa maksud Ghadir di atas para ikhwan semua?.
    Saya kira diskuisi ini lebih bermanfaat untuk eksplor lebih dalam apa yg maksud dari hadits Ghadir Khum di atas. Dan tentu kita harapka pandangan @pengunjung semua tanpa memandang garis pemhaman sekte2 masing2. Artinya yg sunnah boleh mendukung pandangan Syiah dan sebaiknya. Karena Hadits ini sarat makna. Tentu maksud dan tujuan agar kita sbg generasi pewaris pemikiran masa lalu lebih kritis bukan sekedar ittiba’ sj. Hanya sj perlu diingat bagi para pengunjung yg komen agar :
    1. menggunakan kata2 yg sopan dan beretika, kita sbg bangsa timur tak hendak melupakan itu walau kita misalnya menjadi simpatisan sekte tertentu yg nampak bersebrangan dgn sekte lain.
    2. Dan diharapkan komen yg ditulis yg belum dtanggapi pengunjung lain, harap sabar ditunggu dan tindak mneulis komen lanjutan. Ini utk memberi kesmptan @admin upload komen anda dan jg kesempatan pengunjung lain untuk menanggapi
    3. komen hendaknya ditulis dgn penuh tanggung jawab

    Dan ini themanya :

    Apakah maksud – hadits Ghadir Khum khusus pada teks (yg artinya) “Dan pusaka yang kecil adalah Itrahku yaitu Ahlubaitku. Aku peringatkan kalian tentang sikap kalian terhadap Ahlubaitku… (beliau ulang pesan itu tiga kali).

    Lalu Nabi saw. mengangkat tangan Ali dan bersabda: Ketahuilah bahwa barang siapa aku adalah maulâ/pemimpinnya maka Ali juga maulâ-nya. Ya Allah bimbinglah orang yang menjadikan Ali maulâ-nya dan musuhi yang memusuhinya!”

    CATATAN : sy berlepas diri/tak bertanggung jawab klu ada komen yg kasar dan tidak beretika ATAU kata2 bentuk lain yg tak bertanggung jawab. bagaima ikhwan pengunjung ?. Maaf sekali lg ini diskusi bukan debat kusir. wassalam

  13. Salam.
    Perihal pemberangkatan pasukan Usamah bin Zaid, di atas ditulis: “Tetapi mereka tetap saja tidak mau berangkat hingga kira-kira 17 hari!”Bakar, kitab rujukan manakah ada keterangan 17 hari para sahabat Nabi SAW menunda-nunda keberangkatan pasukan Usamah?
    Mohon penulis blog menyebutkan kitab yg meriwayatkan penundaaan 17 hari tsb; lebih baik lagi jika bisa memberikan cuplikan teksnya. Mutasyakkir. Salam ‘alaykum.

    Abusalafy:
    Hari senin tanggal 26 atau 25 (4 hari tersisa dari) bulan Shafar tahun11H Nabi saw. memerintah agar para sahabat (termasuh di antara mereka Abu Bakar,Umar) untuk bsrsiap-siap bsrjihad. Keesokan harinya, Nabi saw. menyerahkan bendera kepemimpinan kepada Usamah bin Zaid…hari Rabo Nabi saw. mulai sakit.. Beliau terus memerintahkan agar pasukan segera berangkat.. Tetapi hingga tanggal 15 bulan Rabi’ul Awal (hari wafat Nabi saw.) pasukan juga tidak berangkat…
    Untuk rujukan masalah ini saya persilahkan Anda merujuk:
    Thabaqat; Ibnu Sa’ad’2/190-192.
    Kanzul Ummal, 5/321
    tarikh Ya’qubi, 2/74
    Dll.
    Terima kasih atas tanggapannya.

  14. Salam..

    Di atas ustad menyinggung masalah “kemaksuman ahlulbait” di syiah dan ustad blg kl tidak setuju…

    Sy jd kepengen tau bagaimana ustad memahami hadis tsaqalain dan hadis asbabun wurud dr surat al azhab ayat 33?bagaimana konsekuensi dr kedua hadis tsb menurut pandangan ustad?

    Maaf ni rada oot, tks..

  15. sedih setiap membaca kisah pembangkangan sahabat pada peristiwa usamah dan bencana hari kamis.

    rasulullah saaw dalam keadaan sakit harus menerima pembagkangan dari sahabatnya.

    tidak heran, sang nabi mulia rindu kepada umata beliau saaw yg belakangan.

    “apakah kami saudaramu wahai rasulullah”, kata para sahabat.

    “bukan, kalian adalah sahabatku”, kata nabi, “tetapi saudaraku adalah umat sesudahmu. mereka tidak pernah melihatku tetapi mereka sangat mencintai dan merindukanku. mereka bahkan rela memberikan apa saja yg mereka punya demi hanya untuk melihatku”.

    rasulillah menangis rindu kepada kita, umatnya dan kita pun menangis rindu kepada rasulillah.

    kita tidak pernah melihat rasulullah, dan tidak pernah menyaksikan mukjizat rasulullah, tp sekiranya kita hidup dijaman rasulullah, banyak dari umat ini yg akan rela mengikuti apapaun perintah rasulillah. tanpa membantah. tanpa protes.

    allahumma sholli ala Muhammad wa ala ali Muhhammad.

  16. Abu Salafy: jangan samakan Golongan yang mengaku Ahlussunnah tapi tidak mencintai keturunan Rasulullah, Ali, Hasan dan Husein.
    jangan sebut golongan ini sebagai Ahlussunnah Wal Jama’ah.

    Ahlussunnah Wal Jama’ah mencintai Imam Ali r.a. dan tidak Mengkafirkan Abu Bakr, Umar, dan umat muslim lain, (termasuk Syi’ah).

    harapan saya pribadi, JIKALAU, 2 golongan ini mempunyai jama’ah yang sudah besar di Indonesia, (na’udzubillahi min dzaalik), maka janganlah menjadi golongan ekstrimis, yang satu mengagungkan Mu’awiyyah, Yazid, Taimiyah, Utsaimin, Al Bani, dan mengkafirkan lalu membunuh yang berbeda pendapat, yang satu mengagungkan Imam Ali, Sayyidah Fatimah, Hasan, Husein, dan keturunan beliau lalu mengkafirkan lalu membunuh yang berbeda pemahaman.
    maka jadilah kalian dua golongan Muslim yang ta’at tapi saling bunuh membunuh.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s