Kajian Ilmu Hadis (Bag.1) : Lima Belas Renungan Untuk Ahli Hadis

Lima Belas Renungan Untuk Ahli Hadis

SUMBER: http://almaliky.org/news.php?action=view&id=822

.

oleh Syaikh Hasan bin Farhan Al Maliky [*]

.

PENDAHULUAN

hasan_FarhanDi dalam Al Qur’an al Karim terdapat tujuan-tujuan pokok yang hilang atau tenggelam dalam hadis  atau hilang di tengah hiruk-pikuk gemuruh suara Takbir dan jeritan para wanita tawanan serta berita-berita ekspansi/penaklukan dan hiruk pikuk politik… persis seperti kondisi mereka sekarang ini…
Tema hadis secara keseluruhan butuh kajian ulang dan penyodoran kepada Al Qur’an serta mencari mana-mana yang menyerupainya (sesuai dengannya).

Renungan Pertama: Hadis dengan makna Qur’ani adalah Al Qur’an itu sendiri. Sedangkan hadis yang ada dalam benak kita dinamai al Bayan (penjelasan)… “Agar engkau (Nabi) menjelaskan kepada mereka.”

Renungan Kedua: Sesungguhnya kebanyakan para Ahli Hadis telah mencampakkan Kitabullah -Al Qur’an- dan tersibukkan dengan hadis dari memperhatikan Al Qur’an. Maka mereka kehilangan tolok ukur terpenting dalam menilai kualitas hadis.

Renungan Ketiga: Ahli Hadis tidak memberi ruang bagi akal. Mereka menshahihkan banyak hadis yang terang-terangan menyalahi akal. Dan akal itu bukanlah cita rasa pribadi dan hawa nafsu, tetapi Syari’at tidak mungkin membawa sesuatu yang bertentangan dengan akal.

Renungan Keempat: Ahli Hadis cenderung kepada orang-orang yang condong kepada kaum zalim… Boleh jadi kebanyakan mereka tidak condong kepada kaum zalim akan tetapi materi hadis mereka bersumber dari kaum zalim generasi perdana.

Renungan Kelima: Ahli Hadis telah terpengaruh dengan ladang pengetahuan yang didirikan di masa kekuasaan Bani Umayyah dan kemudian dikokohkan di masa Bani Abbas… Faham Jabariyah (Fatalisme), Irja’ dan kenashibian serta pengkafiran sesama Muslim dll.

Renungan Keenam: Ahli Hadis merugi akibat menjauhi sekte-sekte lain. Mereka tidak mengambil manfaat dari “akal Mu’tazilah”, tidak pula “keimanan Syi’ah” dan tidak juga “kejujuran Khawarij” [1] serta cakrawala filosofi.

Renungan Ketujuh: Ahli Hadis menyepelehkan pengaruh buruk politik terhadap hadis dan mereka tidak memelototinya. Mereka menyepelehkan pengaruh buruk mazhab terhadap hadis karena mereka sendiri berada di dalamnya. Mereka sektarian sehingga mereka tidak melihat kekurangan diri mereka sendiri.

Renungan Kedelapan: Secara umum produk Ahli Hadis adalah bermanfaat bagi kaum berakal dan yang menggunakan tolok ukur di atas: Al Qur’an dan Akal. Dan produk itu akan berbahaya bagi orang yang tidak mengandalkan Al Qur’an dan menggunakan akal sehatnya.

Renungan Kesembilan: Mazhab Ahli Hadis itu beragam. Di antara mereka ada yang Syi’ah, Salafi, Nashibi (pembenci Ahlulbait Nabi Saw) dan ada yang Faqih (pakar fikih). Tetapi di masa kekuasaan al Mutawakkil (Khalifah Abbasi) dan masa kejayaan Ahmad bin Hanbal fanatisme dan hawa nafsu kemazhaban menguasai mereka.

Renungan Kesepuluh: Ahli Hadis tidak memiliki mazhab khusus. Dan semua orang yang menulis tentang Akidah Ahli Hadis dan menjadikannya satu akidah maka ia adalah seorang propagandis atau jahil atau fanatik.

Renungan Kesebelas: Ketelitian dan keterampilan hadis di kalangan Ahli Hadis itu datang belakangan. Periwayatan di generasi pertama hingga separoh abad kedua sangat sederhana.

Dan mereka yang Anda temukan mengulang-ulang ucapan (Ahli Hadis itu memiliki metode begini dan begitu) sebenarnya adalah orang yang tidak mengerti tentang sejarah perkembangan periwayatan, tidak memiliki kemampuan untuk membaca secara kritis karena mereka adalah kaum sektarian yang terbelit oleh mazhabnya… Maksud saya bahwa pembelaan terhadap ahli Hadis dan Metode mereka itu adalah sejatinya sebuah Mazhab tersendiri. Si pembela akan mereka hitung sebagai Pemegang Sunnah. Sedangkan orang yang mengkritiknya mereka hitung sebagai orang tercela dan Penyandang Bid’ah! Ini adalah Sektarian.

Karena itu Anda mendapati mereka memaksa diri dalam membela seorang Muhaddis atau sebuah riwayat yang dishahihkan oleh seorang dari Ahli Hadis… Mereka tidak bersungguh-sungguh dalam mencari kebenaran. Kebenaran menurut mereka adalah Tokoh atau Mazhab dan bukan informasi yang benar... Ini fanatisme terberat dan Mazhabisme, kerena mereka tidak mengenal hadis melainkan dari akhir Perancang Konsep Hadis seperti Ibnu Shalah, dan mereka tidak mengenalnya melalui perjalanan panjang hadis itu sendiri… Dari para perawinya, perkembangannya dan ragam perselihannya.

Renungan Kedua Belas: Tidak ada yang namanya (ilmu) “Mushthalah Hadis”. Ia hanya sekedar hasil kumpulan dan pilihan selera sebagian Ahli Hadis yang kemudian penggunaannya diberlakukan secara umum atas seluruh Ahli Hadis.

Renungan Ketiga Belas: Ahli Hadis Muta’akhkhirin/kontemporer dan juga banyak dari Ahli Hadis masa lalu (Mutaqaddimin) tidak mengakui pendefenisian yang ditetapkan kalangan Muta’akhkhirin, bahkan sebagian malah tidak tau menahu sedikit pun tentangnya.

Renungan Keempat Belas: Kecenderungan umum Ahli Hadis bahwa para Sahabat dan Tabi’in itu bukan Ahli Hadis dan tidak menghiraukan konsep-konsep dasar yang mereka bakukan seperti tentang Kaidah KEADILAN[2] SELURUH SAHABAT. Kaidah ini (Keadilan seluruh sahabat dalam meriwayatkan hadis) adalah kaidah yang salah. Tidak didukung baik oleh Al Qur’an, Sunnah bahkan para Sahabat sendiri dan mayoritsa kalangan Tabi’in.

Kaidah ini dirancang setelah masa itu demi kepentingan Kemzahaban! Karena itu apabila Ahli Hadis menemukan Aisyah menolak hadis-hadis riwayat Abu Hurairah atau Umar menolak hadis Abu Musa… Mereka benar-benar terpojokkan lalu mengada-ngada dalam membela bahwa ini maksudnya begini dan begitu…

Mereka menyangka bahwa Kaidah: “Seluruh Sahabat itu Adil” itu di-imani oleh para sahabat Nabi saw. Tetapi sebenarnya bahwa kaidah ini hasil produk belakangan, para sahabat sendiri sama sekali tidak mempercayainya, tidak juga mayoritas Tabi’in.

Renungan Kelima Belas: Ahli Hadis telah meninggalkan setengah perintah Al Qur’an. Mereka menelantarkannya karena para penguasa menelantarkannya. Mereka tidak meriwayat hadis-hadis yang di dalamnya ada sebutan tentang (Akal, Pengaturan alam semesta dan Bersaksi demi Allah). Sementara itu mereka meriwayatkan dalam jumlah yang sangat banyak hadis-hadis tentang hal-hal yang sepeleh daripadanya, seperti rincian tentang thaharah, wudhu’, shalat, berbusana dan makan dll.

Mereka meninggalkan yang penting dan berbanyak-banyak dalam hal yang kurang penting. Sikap ini ada rahasia di baliknya. Rahasia terdalam adalah karena mereka mencampakkan Kitabullah. Rahasia terdekat adalah karena terpengaruh oleh pola pikir para penguasa yang sama sekali tidak mementingkan sisi tersebut. Para penguasa itu hanya menyibukkan masyarakat Muslim dengan masalah-masalah kecil dan rincian masalah.

Para Sahabat yang berbanyak-banyak dalam meriwayatkan hadis atau murid-murid mereka… Atau para tabi’in dan murid-murid mereka adalah orang-orang yang dekat kedudukannya di kalangan para penguasa. Maka pengaruh kekuasaan itu nyata sekali dalam produk hadis.

Dalam arti… Raibnya berfikir logis -karena para penguasa tidak mau berfikir logis-… Raibnya perenunganRaibnya bersaksi demi Allah... Raibnya keadilan.. Banyaknya bala tentara, kecongkakan dan penyiksaan/sanksi. Maka hal ini terpantul dalam hadis. Hadis -dalam kebanyakannya- adalah hasil produk penguasa. Mereka hingga hari ini masih menyanyikan lagu-lagu kebanggaan atas penaklukan Andalusia… Ini adalah penjajahan.

Mereka tidak menyibukkan diri dengan merenungkan surah Al Fatihah. Militerisasi dan peperangan adalah yang ghalib pada mereka dalam artian produk hadis menyerupai sepuluh hasil puncak pemenang lomba syair Arab Jahiliyah yang digantung didinding Ka’bah…isinya hanya berbangga-bangga… Kecongkakan… Kami telah berbuat ini dan itu… Kami telah bunuh suku ini dan itu… Kami mengarungi lautan ini dan itu…di dalamnya tidak terdapat hati yang damai seperti yang dimaukan Allah.

Al Qur’an yang di dalamnya terdapat tujuan-tujuan dasar, hilang dalam hadis atau tenggelam atau hilang di tengah-tengah hiruk pikuk suara Takbir dan jeritan pawa wanita tawanan.. Berita penaklukan negeri-negeri dan berpuas-puas dalam politik… Persis seperti keadaan mereka sekarang.

Terma hadis secara total butuh dikaji ulang dan disodorkan kepada Al Qur’an dan mencari kemiripan/kesamaan denganya, walaupun mereka membenci penukilnya, dan menolak apa-apa yang berlawanan dengannya walaupun mereka mengagungkan peletaknya atau penukilnya.

Ini adalah mukaddimah ringkas dan sederhana. Saya tau bahwa ini akan ditolak oleh kebanyakan Ahli Hadis yang mereka itu terkungkung dalam “Kulit Telor Hadis”. Ulat yang ada dalam butir telur pasti melihat butir telur itu lebih luas dari bola bumi! Adapun Ahli Hadis yang telah mengenal Al Qur’an dan panji-panji Al Qur’an serta bersinar dengan cahaya petunjuk Al Qur’an dan mengenal akal sehat, perenungan, rendah hati dan pandangan yang tajam maka mereka akan mengetahui kebenaran apa yang saya katakan ini.

.                                                                                                                ****************

.

(*). Syaikh Hasan bin Farhan  Al Maliky adalah ulama moderat Arab Saudi. Beliau seorang Ahli hadis, hukum Islam dan peneliti sejarah, serta seorang  peduli HAM, beliau anti sektarian, ekstrimisme dan kekerasan, lebih-lebih atas nama agama, Anda bisa berinteraksi dengan beliau lewat halaman facebook dan Twitter-nya. juga bisa mendowload buku-bukunya lewat situs resminya http://almaliky.org/index.php atau mendengar ceramah-ceramahnya lewat halaman youtube-nya)

_______________

[1]. Apa yang disampaikan Syaikh Hasan bin Farhan al Maliky bahwa kaum Khawarij itu jujur dalam tutur kata mereka -kendati populer- adalah anggapan yang tidak didukung oleh realita… Ia dibangun di atas anggapan bahwa kaum Khawarij itu sangat ketat dalam menjalankan hukum agama, mereka menghukumi kekal di neraka bagi yang berbuat dosa besar,  sedangkan berdusta atas nama Nabi saw adalah dosa besar… Jadi -masih menurut anggapan di atas– mana mungkin mereka melakukannya?!
Akan tetapi realitanya tidak demikian..  Banyak pengakuan anggota kaum Khawarij yang telah tobat membongkar kebiasaan buruk mereka dalam membuat-buat hadis palsu demi mendukung akidah dan sikap mereka…
Ternyata jika kita teliti stitmen bahwa kaum Khawarij itu jujur dalam meriwayatkan hadis hanya pernah dikeluarkan oleh seorang alim yang kemudian terbukti sangat tendensius. (Abu Salafy)

[2]. Orang “Adil” adalah yang memiliki sifat “adalah” yaitu kejujuran, ketulusan, keikhlasan, dan kebaikan prilaku (bukan orang fasiq, atau zalim)

2 Tanggapan

  1. Mas Abusalafy, kenetralan mas luar biasa. mas tuliskan apa pun yg ditulis oleh Hasan Farhan tanpa ada yg disunat meskipun hal itu bertetangan dengan keyakinan mas. sebagai contoh keteledoran Hasan Farhan tentang kejujuran kaum khawarij. sungguh sangat mengejutkan jika kaum khawarij dikatakan jujur. mungkin hal ini karena sikap berlebihan Hasan F untuk ingin berdiri disemua pihak atau mungkin yg ia maksud ada sedikit orang khawarij yg jujur namun dia menggeneralisirnya. bagaimanapun kita memahami bahwa Hasan Farhan pun manusia, bisa berbuat teledor/ceroboh.
    catatan kaki mas abu mohon ditindaklanjuti dengan bukti-bukti ketidakjujuran khawarij dalam artikel-artikel mas abu mendatang agar informasi yang kita peroleh bulat dan clear. sependek yg saya tahu mas abu belum pernah menulis tentang kaum khawarij secara utuh.
    ada baiknya jika mas abu bisa mengirim sanggahan ke Hasan Farhan tentang kejujuran kaum khawarij ini, barangkali beliau bisa merevisi atau memberi penjelasan apa yang beliau maksud kejujuran kaum khawarij tsb. terima kasih

    Abusalafy:
    Terima kasih.
    Insya Allah. Mohon ketulusan doanya

  2. Emang susah jadi orang islam kalau mau ngomong ini-itu. Kenapa susah, ane yakin akan ada oknum-oknum yang tidak ragu untuk menjatuhkan vonis “terpengaruh” paham liberal bagi siapa saja yang mengusung tema pengkajian istilah hadis. Atau menuduh sebagai corongnya kaum orientalis, Atau yang lain nih dan paling sering yaitu antek zionis yang ingin menghancurkan islam. Belum lagi di vonis jadi ustad syiah, wadheew lebih parah lagi niiee. Kayaknya oknum-oknum itu emang sensi atau pura pura sensi sih. hati ane ini rasanyaaaaaaa………….nyeri……..nyeri……nyeri takkan bisa terobati biar berantakan talak tilu sakalian….gak nyambung hehehe

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s