Membongkar Kepalsuan Syubhat Ustadz Firanda Dalam Buku “Ketinggian Allah Di Atas Makhluk-Nya” (1)

Membongkar Kepalsuan Syubhat Salafi Wahhâbi Tentang Ketinggian Fisikal Allah SWT Di Atas Makhluk-Nya

Pendahuluan

Pada awalnya saya hanya bermaksud menyoroti sebagian dari buku Ustadz Firanda yang berjudul Ketinggian Allah Di Atas Makhluk-Nya. Beberapa artikel telah saya tulis sebelumnya dan hanya saya fokuskan kepada membongkar kepalsuan klaim adanya IJMA’ umat Islam dan para ulama akan akidah bahwa Allah  berada di  atas langit. Alhamdulillah, artikel-artikel itu telah mendapat sambutan yang menggembirakan dari banyak kalangan karena dirasa telah mampu mengungkap kebenaran dalam masalah ini. Karenanya saya bermaksud untuk melanjutkan membongkar sisi-sisi lain dari penyimpangan akidah Salafi Wahhâbi yang mereka warisi dari kaum Mujassimah Musyabbihah yang pada gilirannya mereka juga mewarisinya dari ajaran Yahudi yang sengaja disisipkan oleh para pendeta Yahudi yang berpura-pura memeluk Islam, seperti Ka’ab al Ahbâr, Wahb bin Munabbih dkk!

Kali ini, artikel-artikel saya akan lebih menyoroti kepada bagian pertama buku itu tentang apa yang disebut oleh Ustadz Firanda sebagai dalil-dalil yang menunjukkan Allah berada di atas! Walaupun bagi saya semua itu tidak layak disebut sebagai dalil… ia hanya syubhat… hanya kesalahpahaman dan lebih merip dengan memahami teks suci; Al Qur’an dan Hadis secara awam dan menyimpang!

Pada bagian awal bukunya tersebut. Ustadz Firanda menulis sebuah bab dengan judul: BAB ! Bantahan Terhadap Aqidah Abu Salafy TERNYATA TUHAN TIDAK DILANGIT!  

Dalam bab tersebut ia menulis sub judul: A. DALIL BAHWASANYA ALLAH BERADA DI ATAS. Dalam bagian ini ia menyebutkan delapan belas dalil yang dalam anggapannya menujukkan bahwa Allah SWT berada dan bertempat di atas!

Untuk menghemat waktu pembaca saya akan ajak langsung Anda menyimak satu persatu “dalil” yang dibanggakan Ustadz Firanda untuk membangun akidah sesatnya tersebut!

Ustadz Firanda berkata,

“Dalil yang menunjukkan bahwasannya Allah Azza wa Jalla berada di atas seluruh makhluk-Nya sangatlah banyak. Dalil-dalil tersebut terbagi dalam beberapa sisi pendalilan. Pada tiap sisi pendalilan terdapat banyak dalil. Sisi-sisi pendalilan tersebut di antaranya:

Pertama: Penyebutan al-fauqiyyah (ketinggian) tanpa diikuti kata penghubung apa pun. seperti dalam firman Allah Azza wa Jalla:

وَ هُوَ الْقاهِرُ فَوْقَ عِبادِهِ

Dan Dialah Maha Menundukkan di atas hamba-hamba-Nya. (QS. Al-An’aam;18)

 

Kedua: Penyebutan ‘al- fauqiyyah (ketinggian) Allah Azza wa Jalla dengan kata penghubung ‘min’. Seperti dalam firman Allah Azza wa Jalla:

وَ لِلَّهِ يَسْجُدُ ما فِي السَّماواتِ وَ ما فِي الْأَرْضِ مِنْ دابَّةٍ وَ الْمَلائِكَةُ وَ هُمْ لا يَسْتَكْبِرُونَ *  يَخافُونَ رَبَّهُمْ مِنْ فَوْقِهِمْ وَ يَفْعَلُونَ ما يُؤْمَرُونَ

Dan milik Allah sajalah[1] segala apa yang berada di langit dan semua makhluk yang melata di bumi dan (juga) para malaikat, dalam keadaan mereka tidak sombong. Mereka takut terhadap Tuhan mereka yang berada di atas mereka, dan mereka mengerjakan apa yang diperintahkan.(QS. An Nahl: 49-50)

Ibnu Khuzaimah (rh) menyatakan:

“Maka Allah Yang Maha Mulia dan Maha Tinggi memberitakan kepada kita dalam ayat ini bahwa Rabb kita berada di atas para malaikat-Nya, dan berada di atas segala yang ada di langit dan di bumi berupa makhluk melata, dan (Allah) mengkhabarkan kepada kita bahwa para malaikat takut terhadap Rabb mereka yang berada di atas mereka. (Lihat Kitaabut Tauhid karya Ibnu Khuzaimah halaman 111)

Perhatikan, Ibnu Khuzaimah memahami ayat tersebut bahwa memang Allah Azza wa Jalla berada di atas seluruh makhluk-Nya. Siapakah Ibnu Khuzaimah sehingga kita perlu mengambil rujukan (tentang Ketinggialn Allah Azza wa Jalla ini) darinya?”[2]

Dan setelahnya ia menukil pujian adz Dzahabi dalam Siyar A’lâm an Nubalâ’,14/365 tentang keagungan Ibnu Khuzaimah

.

Abu Salafy:

Sobat abusalafy yang cerdas, Anda tentu masih ingat bagaimana Ustadz Firanda menyerang saya secara brutal ketika saya menyajikan sebuah alternatif tafsir dalam masalah keyakinan kaum Musyrik Arab, apakah mereka benar-benar mengimani Kemaha Penciptaan Allah SWT seperti yang mereka ucapkan, atau mereka hanya mengucokannya tanpa mengimaninya! Ketika itu Ustadz Firanda menyerang saya dengan menuduh saya mengada-ngada tafsir Al Qur’an! Hanya saya tidak punya Salaf dalam pemahaman ayat-ayat tersebut… ia begitu brutal bak srigala kelaparan… lalu menantang saya untuk mendatangkan seorang saja dari kalangan Salaf yang sama pemahamannya dengan pemahaman saya!

Saya memaklumi keganasan sikapnya terhadap saya karena dalam format pemikirannya, pemahaman terhadap Al Qur’an itu harus sesuai dengan pemahaman Salaf! Walaupun berulang kali telah saya katakan dan saya buktikan bahwa yang wajib atas kita adalah membangun akidah dan agama kita di atas Al Qur’an dan Sunnah! Titik. Adapaun tambahan yang mengatakan: kita harus mengikuti Al Qur’an dan Sunnah sesuai dengan pemahaman Salaf! Adalah tidak berdasar! bahkan ia adalah bid’ah dan tertolak! Pemahaman teks suci agama bukanlah monopoli generasi terdahulu! Ia milik setiap ulama yang memiliki kapasitas dan kemampuan intelektual yang mencukupi dan dibutuhkan! Betapa banyak pemahaman generasi Salaf itu salah! Sebagaimana betapa sering kita temukan bahwa pemahaman para ulama muta’akhkihirîn lebih jitu dan lebih tepat!

Di sini, saya meminta Ustadz Firanda agar bersikap konsekuen terhadap konsep pemahaman agamanya… ia harus membangun pemahamannya terhadap setiap teks suci di atas pemahaman Salaf! Akan tetapi anehnya, Ustadz Firanda hanya mampu mencecer ayat dan hadis tanpa merujuk kepada pemahamnan Salaf! Kini ia teleh mengkhianati konsep akidahnya sendiri! Entah apa alasannya? Atau itu justeru itu bukti kebangkrutannya.

Coba Anda perhatikan bagaimana ia hanya mampu menyebut ayat 18 surah al An’âm tanpa berusaha menyajikan keterangan dan tafsir seorang pun dari kalangan Salaf, seperti yang biasanya ia demonstrasikan, apalagi tafsir Nabi Muhammad saw.! Dan pada ayat kedua yaitu ayat 49-50 surah an Nahl ia juga hanya mampu menyajikan keterangan dan pemahaman Ibnu Khuzaimah! Sungguh aneh bukan?!

Kendati ketarangan tentang ayat di atas telah saya jelaskan dalam artikel saya (Ternyata Tuhan Tidak Di Langit (7)) yang ia bantah, namun anehnya ia tidak sedikit pun menyinggung atau mengkritiknya… sekali lagi, ia hanya menyebutkan ayat tanpa keterangan apapun tentangnya!

Inti Kesesatan Kaum Mujassimah Musyabbihah!

Di sini saya mengingatkan kembali inti permasalah bahwa yang menjadi keyakinan kaum Mujassimah yang sekarang sedang diperjuangkan oleh pawaris mereka yaitu kaum Salafi Wahhâbi adalah akidah bahwa Allah berada dan bertempat di atas langit! Tepatnya di atas Arsy… dan ketinggian Allah tersebut bersifat fisikal, dzatan! Di sinilah letak perselisihan kaum Salafi Wahhâbi Mujassim dengan kaum Muslimin, di mana mayoritas umat Islam yang diwakili oleh Asy’ariyah, Zaidiyah dan Syi’ah Imamiyah meyakini Kemahasucian Allah dari berada di sebuah tempat tertentu. Allah SWT Maha Tinggi, namun Kamahatinggian Allah itu secara rutbatan, bukan dzatan!

Jadi jangan sampai disalah-pahami bahwa kaum Muslimin yang menentang akidah Salafi Wahhâbi Mujassim dalam malasah ini tidak mengimani Kemahatinggian Allah SWT!

Dan dalam kaitan ini tidak sedikit keterangan ulama Islam yang disalah-pahami dan dimaknai sebagai mendukung akidah ketinggian fisikal Allah, baik kesalah-pahaman itu dilakukan secara sengaja atau hanya murni sebagai kesalah-pahaman belaka. Seperti pernyataan Ibnu Khuzaiman yang dikutip Ustadz Firanda. Di mana ia tidak memberikan kejalasan absolut bahwa yang ia maksud adalah ketinggian fisikal seperti yang diyakini kaum Salafi Wahhâbi! Namun andai benar, Ibnu Khuzaimah memahami ayat tersebut di atas seperti yang dipahami oleh Ustadz Firanda dan kaum Salafi Wahhâbi lainnya, maka di sini perlu dimengerti bahwa:

A)     Pemahaman Ibnu Khuzaimah bukan nash suci dan absolut…. ia tidak mewakili kecuali dirinya sendiri dan mereka yang sealiran dalam tajsîm dan tasybîh!

B)     Pemahaman Ibnu Khuzaimah bukan satu-satu keterangan yang bisa disebutkan dalam kaitan ayat di atas.

Lalu mengapakah Ustadz Firanda hanya berpegang dengan tafsir dan pemahaman Ibnu Khuzaimah dan mencampakkan pululah ulama dan Ahli Tafsir Al Qur’an yang pemahaman dan tafsiran mereka justeru bertolak belakang dengan pemahaman dan penafsiran Ibnu Khuzaimah… bahkan tafsiran para ulama lebih dapat dipertanggung jawabkan karena ia sejalan dengan ruh Al Qur’an yang sarat dengan kaidah-kaidah penyucian Allah SWT dari penyerupaan dan posturisasi.

Tentang Ayat 18 Surah Al An’âm

Adapun tentang ayat 18 surah al An’âm yang Ustadz Firanda sebut sebagai dalil yang menegaskan Ketinggial Fisikal, Dzat Allah tanpa keterangan apapun itu, maka ketahuilah bahwa para ulama Islam telah memahaminya dengan penuh ketelitian dan kejelian penafsiran. Tidak seperti kaum Mujassimah yang sekarang diwarisi Salafi Wahhâbi, yang pemahaman mereka mencerminkan kekanak-kananan dan keawaman! Sebagai contoh misalnya, Imam Ahli Tafsir klasik, Imam Ibnu Jarîr ath Thabari (yang selama ini selalu dikutip Ustadz Firanda dalam membantah saya dan/atau membangun pemahaman agamanya), beliau memahaminya demikian:

وَ هُوَ الْقاهِرُ فَوْقَ عِبادِهِ

Dan Dialah Maha Menundukkan di atas hamba-hamba-Nya.

Yang Allah maksudkan dengan firman-Nya tersebut adalah; Yaitu DzatNya sendiri; Dan Allah Maha Berkuasa penuh atas hamba-hamba-Nya. Yang dimaksud dengan kata “al Qâhir” adalah yang Maha Menundukkan dan Memperhamba ciptaan-Nya, yang Maha Tinggi atas mereka. Adapau Allah berfirman: فَوْقَ عِبادِهِ/ di atas hamba-hamba-Nya itu dikarenakan Dia telah mensifati Diri-Nya dengan Penguasaan dan Penundukan mereka. Dan adalah sifat setiap yang menundukkan sesuatu lain pasti ia menjadi tinggi di atasnya.

Jadi makna firman itu adalah demikian: Dan Allah Maha Menang/Menguasai hamba-hamba-Nya, Maha Menghinakan/Menundukkan mereka, Maha Tinggi atas mereka dengan penundukan-Nya atas mereka. Maka Dia di atas mereka dengan penundukan mereka, dan mereka di bawah_nya. Dan Dia Maha Bijaksana dalam ketinggian-Nya atas hamba-hamba-Nya dan penundukan mereka dengan kemaha-kuasaan-Nya dan juga dalam seluruh pengaturan-Nya. Yang Maha Mengetahui maslahat-maslahat dan madharrat-madharrat setiap sesuatu, Yang tiada samar bagi-Nya kesudahan dan permulaan seluruh perkara, dan tiada terjadi kerusakan dalam pengaturan-Nya dan tidak mencampuri dalam ketetapan dan keputusan-Nya campur-tangan apapun dan siapapun.!”[3]

Demikianlah beliau, -sebagai tokoh mufassir Salaf- memahami ayat tersebut… jauh dari penyimpangan kaum Mujassimah yang sekarang diwarisi oleh Salafi Wahhâbi bahwa ayat tersebut sedang berbicara tentang ketinggian fisikal Allah!!

Abu Salafy:

Lalu mengapakah Ustadz Firanda menutup mata dari keterangan Imam ath Thabari dan lebih memilih tafsir yang bernuasa tajsîm dan memposturisasi Allah dan berada di sebuah tempat tertentu?!

أَ في‏ قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ أَمِ ارْتابُوا

Apakah dalam hati mereka ada penyakit, atau (karena ) mereka ragu-ragu… “ (QS. An Nûr[24]; 50)

Dan demikian pula ayat tersebut dipahami oleh para ulama dan mufassir lainnya, seperti Imam asy Syaukani. beliau menerangkan sebagai berikut:

وَ هُوَ الْقاهِرُ فَوْقَ عِبادِهِ

Dan Dialah Maha Menundukkan di atas hamba-hamba-Nya.” Kata al Qahru artinya: al Ghalabah/menang/mengalahkan. Kata al Qâhir artinya yang menang/yang mengalahkan … dan arti kalimat: فَوْقَ عِبادِهِ/di atas hamba-hamba-Nya. Arti fauqa/di atas adalah ketinggian penguasaan dengan keperkasaan dan mengalahkan mereka (hamba-hamba), bukan ketinggian tempat/posisi! Seperti kamu berkata, “Sultan itu di atas rakyatnya. Maksudnya ia di atas mereka dalam kedudukannya. Kata qahr memliki makna tambahan yang tidak ada pada kata qudrah/kekuasaan, yaitu tercegahnya pihak lain dari mencapai jutuannya.[4]

Imam al Khâzin juga menegaskan hal serupa ketika ia menerangkan ayat di atas. Ia berkata: “Firman Allah Azza wa Jala:

وَ هُوَ الْقاهِرُ فَوْقَ عِبادِهِ

Dan Dialah Maha Menundukkan di atas hamba-hamba-Nya.” Yaitu Dialah yang Maha Menang/mengalahkan hamba-hamba-Nya dan yang Maha mengusai mereka dan mereka tertundukkan di bawah kekuasaan-Nya. Sifat al Qâhir dan al Qahhâr artinya adalah: Dzat yang mengatur ciptaan-Nya dengan pengaturan yang Ia kehendaki, maka berlakulah atas mereka apa-apa yang memberatkan mereka, membuat mereka sedih, membuat mereka miskin dan mematikan dan menundukkan mereka, dan tiada seorang pun dari ciptaan-Nya yang mampu menolak kepengurusan dan pengaturan Allah dan keluar dari kekengan kekuasaan dan pengaturan-Nya. Dan inilah makna al Qâhir pada sifat Allah karena Dia adalah Dzat Yang Maha Kuasa dan Maha Menundukkan yang tiada sesuatu apapun yang mampu memperdaya-Nya jika Ia berkehendak sesuatu.

Adapun arti: فَوْقَ عِبادِهِ/di atas hamba-hamba-Nyadi sini adalah bahwa kekuasan-Nya telah menguasai makhluk-Nya, maka mereka berada di bawah pengaturan dan ditundukan oleh-Nya karena kamaha-kuasaan dan kemaha-perkasaan-Nya yang tiada seorang pun yang mampu keluar dan lepas dari genggamannya. Dan setiap yang menguasai sesuatu lain berarti ia telah di atasnya dengan keperkasan dan kemenangan…

Setelahnya beliau mendukung tafsiran di atas dengan mengutip keterangan Ibnu Jarir ath Thabari (W.310 H) Yang telah saya sebutkan di atas.[5]

Alhasil, para ulama memahami bahwa ayat di atas sama sekali tidak menujukkan kebedaraan Allah di atas hamba-hamba-Nya secara fisikal, baik di langit atau pun di Arsy atau di tempat lain mana pun, seperti insya Allah akan saya jelaskan keterangan para ulama Islam dalam masalah ini pada artikel lain dalam blog kesayangan Anda ini!

Ragam Makna Kata Fauqa

Pemahaman para ulama Islam di atas tentunya sangat kokoh dan didukung oleh kaidah baku Al Qur’an yang menetapkan Kemaha-sucian Allah dari tempat dan berada di sebuah posisi tertentu! Dan selain itu sebenarnya kata fauqa sendiri memiliki banyak penggunaan, bahkan dalam Al Qur’an sendiri. Para ulama dan ahli tafsir telah merinci makna-makna kata tersebut dalam enam penggunaan seperti dipaparkan oleh ar Raghib al Isfahâni, beliau berkata, “Kata fauqa dipergunakan untuk enam makna/penggunaan, untuk menunjukkan:  1) tempat, 2) waktu, 3) Jism/fisik, 4) bilangan, 5) kedudukan, 6) penundukan.

  • Penggunaan pertama dengan memerhatikan pengertian tinggi, lawannya adalah rendah/bawah. Seperti pada firman:

قُلْ هُوَ الْقادِرُ عَلى‏ أَنْ يَبْعَثَ عَلَيْكُمْ عَذاباً مِنْ فَوْقِكُمْ أَوْ مِنْ تَحْتِ أَرْجُلِكُمْ أَوْ يَلْبِسَكُمْ شِيَعاً وَ يُذيقَ بَعْضَكُمْ بَأْسَ بَعْضٍ انْظُرْ كَيْفَ نُصَرِّفُ الْآياتِ لَعَلَّهُمْ يَفْقَهُونَ

Katakanlah:” Dialah yang berkuasa untuk mengirimkan azab kepadamu, dari atas kamu atau dari bawah kakimu… “ (QS. Al An’âm [6];65)

  • Penggunaan kedua dengan memperhatikan pengertian naik dan turun. Seperti dalam firman:

إِذْ جاؤُكُمْ مِنْ فَوْقِكُمْ وَ مِنْ أَسْفَلَ مِنْكُمْ

“(Yaitu) ketika mereka datang kepadamu dari atas dan dari bawahmu…“ (QS. Al Ahzâb [33];10)

  • Penggunaan ketiga untuk bilangan. Seperti dalam firman:

فَإِنْ كُنَّ نِساءً فَوْقَ اثْنَتَيْنِ

“… dan jika anak itu semuanya perempuan lebih dari dua.” (QS. An Nisâ’ [4];11)

  • Penggunaan keempat untuk menunjukkan arti besar atau kecil. Seperti dalam firman:

إِنَّ اللَّهَ لاَ يَسْتَحْيِيْ أَن يَضْرِبَ مَثَلاً مَّا بَعُوْضَةً فَمَا فَوْقَهَا

Sesungguhnya Allah tidak akan malu untuk membuat perumpamaan berupa nyamuk atau yang lebih kecil dari itu… “ (QS. Al Baqarah [2];26)

  • Penggunaan kelima, (yaitu untuk arti kedudukan), terkadang dengan memerhatikan sisi keutamaan duniawi, seperti dalam ayat:

وَ رَفَعْنا بَعْضَهُمْ فَوْقَ بَعْضٍ دَرَجاتٍ

“… dan Kami telah meninggikan sebahagian mereka atas sebahagian yang lain beberapa derajat, … “ (QS. Az Zukhruf [43];32)

Atau dari sisi kedudukan ukhrawi, seperti dalam ayat:

وَ الَّذِيْنَ اتَّقَوْا فَوْقَهُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

Padahal, orang-orang yang bertakwa itu lebih mulia dari mereka di hari Kiamat.

 (QS. Al Baqarah [2];212)

  • Penggunaan keenam, (yaitu dengan arti penundukan) seperti dalam ayat:

وَ هُوَ الْقاهِرُ فَوْقَ عِبادِهِ

Dan Dialah Maha Menundukkan di atas hamba-hamba-Nya.

Dan ayat:

يَخافُونَ رَبَّهُمْ مِنْ فَوْقِهِمْ وَ يَفْعَلُونَ ما يُؤْمَرُونَ

Mereka takut kepada Tuhan mereka yang di atas mereka dan melaksanakan apa yang diperintahkan (kepada mereka). (QS. An Nahl [16];50 (

Demikian keterangan panjang lagi berharga ar Râghib al Isfahâni sebagaimana dinukil dan di benarkan al Hafidz Ibnu Hajar al Asqallâni dalam Fathu al Bâri-nya.[6]

Jadi, memaksa ayat tersebut (ayat 18 surah Al An’âm) sebagai menujukkan ketinggian fisikal Allah hanya karena ada kata fauqa adalah pemahaman kekanak-kanakan yang hanya Anda akan temukan dalam penafsiran kaum Mujassimah Musyabbihah alias Salafi Wahhâbi, seperti Ustadz Firanda. Semoga Allah memberinya hidayah ke jalan akidah yang benar yang jauh dari akidah kaum Yahudi yang kental dengan posturisasi Allah SWT.  Amîn.

Andai Mereka Mau Merenungkan Al Qur’an?!

Sebenarnya dalam Al Qur’an terdapat banyak ayat yang dapat menjadi petunjuk bagi mereka yang mau merenungkan dan bertadabbur tentang ayat-ayat Al Qur’an, khususnya ayat-ayat mutasyâbihât yang sering kali dijadikan kaum Mujassimah dan mereka yang menggelar jaring penyesatan umat dan kaum awam…[7] andai mereka mau merenungkannya pastilah mereka terhindar dari kesalahpahaman seperti yang dialami kaum Salafi Wahhâbi Mujassim! Di antara ayat-ayat tersebut adalah firman Allah SWT:

سَنُقَتِّلُ أَبْناءَهُمْ وَ نَسْتَحْيي‏ نِساءَهُمْ وَ إِنَّا فَوْقَهُمْ قاهِرُونَ

”Akan kita bunuh anak-anak lelaki mereka dan kami biarkan hidup perempuan-perempuan mereka; dan sesungguhnya kita berada di atas mereka.” (QS Al A’raf [7]127)

Coba Anda renungkan baik-baik baigan ini:  إِنَّا فَوْقَهُمْ قاهِرُونَ/dan sesungguhnya kita berkuasa penuh atas mereka. Di sini ada dua kata yang sama dengan ayat yang diandalkan Ustadz Firanda dan kaum Salafi Wahhâbi Mujassim lainnya untuk menungjukkan  ketinggian fisikal Allah SWT. Ayat di atas mengisahkan keangkuhan Fir’aun dan kaumnya, Fir’aun berkata menyomongkan diri bahwa ia akan membantai anak-anak lelaki bani Israil dan membiarkan hidup kaum perempuan… dengan congkaknya Fir’aun berkata, dan sesungguhnya kita berada di atas mereka.” Apakah Ustadz Firanda dan para masyâikh Salafi Wahhâbi Mujassim lainnya akan mengartikan perkataan Fir’aun yang diabadikan dalam Al Qur’an itu bahwa Fir’an hendak mengatakan bahwa ia berada di atas bangsa bani Israil secara fisikal?! Apakah demikian maksud ayat tersebut menurut mereka?! Alangkah dungunya jika ada orang yang memamahi demikian!! Kata fauqa di sini sama sekali tidak ada kaitannya dengan keberadaan di atas secara fisikal… ia seperti yang diterjemahkan secara benar oleh Tim Depag bahwa maksudnya adalah; Dan kami benar-benar berkuasa penuh atas mereka! Jadi ia menunjukkan ketinggian dari sisi penguasaan dan penundukan! Dan demikianlah para ulama Islam memahaminya![8]

Catatan Penting!!

Sifat al Qâhir disertai dengan kata fauqa ‘ibâdihi disebut sebanyak dua kali dalam surah al An’âm. Dan dalam kedua ayat tersebut penyebutan sifat itu selalu disertai penyebutan sifat kekuasaan Allah dalam berbagai sisi pengaturan ciptaan-Nya. Sehingga mestinya sudah cukup menjadi indikasi kuat bahwa makna ayat tersebut adalah sedang berbicara tentang Kemaha-kuasan dan Kemaha-perkasaan Allah yang telah menundukkan hamba dan ciptaan-Nya dengan memberlakukan seluruh kehendak-Nya tanpa ada seorang atau kekuatan apapun yang mampu menghalangi terlaksananya kehendak Allah SWT.

Namun jika seorang telah menutup mata batin dan pikirannya dari petunjuk dan hidayah Al Qur’an dan hanya membuka lembaran suci Al Qur’an guna memcari pembenaran dan bukan kebenaran maka Allah akan membutakan mata hatinya dan mengunci pikirannya, sehingga ia tidak dapat menikmati sajian Al Qur’an al Karîm! Ia hanya mendengar bisikan kaum Zâighîn yang hati-hati mereka penuh dengan penyimpangan dan kesesatan! Na’udzubillah min dzâlik.

Dan setelah ketarangan ini rasanya tidak perlu saya berpanjang-panjang lagi meladeni Ustadz Firanda dalam bantahannya terhadap Imam Ibnu Jauzi. Sebab di samping keterangan saya di sini dan juga dalam artikel-artikel sebelumnya dirasa sudah jelas, tidak ada pula bantahan berarti yang perlu disanggah di sini!

Adapun tentang Ayat 50 surah an Nahl dan hadis sabda Nabi saw. kepada sabahat Sa’ad bin Mu’âdz maka akan saya bahas dalam artikel lanjutan. Nantikan!

(Bersambung Insya Allah)


[1] Di sini saudaraku Ustadz Firanda melakukan kesalaha fatal dalam menerjemahkan bagian awal ayat di atas yang saya tandai dengan garis bawah. Terjemahan yang benar aadalah: Dan hanya kepada Allah sajalah bersujud…. dia meninggalkan kata: يَسْجُدُ/bersujud.Tapi saya tidak bermaksud mempermasalahkannya atas kesalahan itu. Mungkin hanya salah ketik saja!

[2] Ketinggian Allah Di Atas Makhluk-Nya (bantahan Terhadap Abu Salafy); Firanda Andirja Abidin:5-7.

[3] Tafri Jâmi’ al Bayân (Tafsir ath Thabari),7/161.

[4] Fathu al Qadîr,2/104.

[5] Tafsir Lubâb at Ta’wîl Fi Ma’âni at Tanzîl (dikenal dengan mana Tafsir Khâzin),2/123.

[6] Fathu al Bâri,28/193-194.

[7] Di antara ciri kaum sesat lagi menyesatkan adalah kegemaran mereka berkubang dalam kubangan ayat-ayat mutasyâbihât tanpa mencari tau makna dan takmilnya dengan melibatkan ayat-ayat muhkamât. Perhatikan bagaimana Allah mengecam mereka dalam Al Qur’an:

هُوَ الَّذي أَنْزَلَ عَلَيْكَ الْكِتابَ مِنْهُ آياتٌ مُحْكَماتٌ هُنَّ أُمُّ الْكِتابِ وَ أُخَرُ مُتَشابِهاتٌ فَأَمَّا الَّذينَ في‏ قُلُوبِهِمْ زَيْغٌ فَيَتَّبِعُونَ ما تَشابَهَ مِنْهُ ابْتِغاءَ الْفِتْنَةِ وَ ابْتِغاءَ تَأْويلِهِ وَ ما يَعْلَمُ تَأْويلَهُ إِلاَّ اللَّهُ وَ الرَّاسِخُونَ فِي الْعِلْمِ يَقُولُونَ آمَنَّا بِهِ كُلٌّ مِنْ عِنْدِ رَبِّنا وَ ما يَذَّكَّرُ إِلاَّ أُولُوا الْأَلْبابِ

Dia-lah yang menurunkan Al Kitab (Al-Qur’an) kepada kamu. Di antara (isi) nya ada ayat-ayat yang muhkamât itulah pokok-pokok isi Al Qur’an dan yang lain (ayat-ayat) mutasyaabihât. Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, maka mereka mengikuti sebagian ayat-ayat yang mutasyabihât untuk menimbulkan fitnah dan untuk mencari-cari takwilnya, padahal tidak ada yang mengetahui takwilnya melainkan Allah. Dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata:Kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyabihat, semuanya itu dari sisi Tuhan kami. Dan tidak dapat mengambil pelajaran (daripadanya) melainkan orang-orang yang berakal.(QS. Âlu Imrân [3];7)

[8] Lebih lanjut baca tafsir Fathu al Qadîr,2/235 dan tafsir Khâzin,2/274.

16 Tanggapan

  1. Singkat, padat dan jelas.

  2. mantaapz ustadz……

  3. mantep ustad.. kami dukung perjuangan ustad

  4. sebuah paparan yg menyeluruh dan cerdas

  5. Kutip: Kamahatinggian Allah itu secara rutbatan, bukan dzatan.
    Apa arti kata “rutbatan” dlm kalimat di atas?

    Abu Salafy:

    Maksudnya ketinggian kedudukan bukan ketinggian posisi fisik… dzatan.

  6. subhanallah, aneh benget akidahnya temen-temen salafiyuni ini…. Dzat Allah kok disama-samain dengan makhluk yang bersifat meteri/maaddiyah….
    bravo kang abu…..
    kami dapat banyak ilmu dari kang abu…..

  7. kasihan org ini. Sbb sjak anda sibuk menyebut2 salafy wahaby org2 malah tambah gandrung sama salafy wahaby…

    Trima kasih yg sebanyak2nya karena anda telah mempromosikan salafy wahaby… Yg dampaknya salafy wahaby makin mengakar di daerahku… Trimakasih sekali lg atas artikel wahabynya

  8. Ya Allah, panjangkan umur Abu Salafy, tambahkan ilmunya… beri dia banyak kesempatan utk ber syiar kpd kami … amin ya Allah

    Abu Salafy:

    Amin. Terima kasih

  9. Mana yg harus saya percaya seorang imam n guru tetap masjidil harom atau seorang yg memalsukan identitas alias mak jelas.
    Sent from my BlackBerry®
    powered by Sinyal Kuat INDOSAT

  10. benny@ siapa yg mau gandrung sm wahabi kcuali org2 awam , yg tdk memliki pmhman yg memadai tntng agama. kcuali org2 yg merana khidupannya dlm faktor ekonomi pendidikan . & (mungkin jg kejiwaan) .

    islam itu bkn sperti pmhaman wahabi byk2an ibadah pnjng2an jenggot item2man jidad ??? tp islam itu adlh ilmu pengetahuan.,yg mmbwa pda pemahaman akan kebenaran dlm kehidupan & dlm keberagamaan. ibadahny Org yg berilmu (ALIM) jauh lbh tinggi phla & drajatx dbnding org ahli ibadah (ABID).

  11. Allohuyahdik

  12. Ya Alloh berilah kesempatan Abu Salafy bertobat sebelum ajalnya, dan berilah petunjuk Abu Salafy kepada kebenaran sehingga berkesempatan meralat semua pemahaman sesatnya….amin

  13. abu Salafy ini jelas2 orang syiah sesat kok pada diikuti…

  14. Bongkar kesesatan Sawah secara tuntas dan Jelas.
    biar apa kata mereka Penganut Mata satu Dajjal dari Najd.
    Lanjutkan Perjuangannya Abu Salafy dan Kita Aswaja rapatkan barisan…

    • kasalahan mas abu salafy yaitu …………………

      1. Mas abu salafy berpendapat bahwa pemahaman generasi belakangan lebih baik dari generasi salafusholeh (para sahabat radiallahuanhum) dalam memahami alquran dan sunnah adalah pemahaman yang keliru dan tidak berdasar/tanpa dalil, karena beberapa alasan:
      a. para sahabat/salaf adalah orang yang dibimbing langsung oleh rosulullah salallahualaihi wasalam dengan bimbingan wahyu sehingga merekalah yang paling fakih dalam pemahaman tentang islam.
      b. para sahabat/saaf telah dijamin allah masuk sorga “orang2 yang pertama masuk islam dari kaum muhajirin dan anshor dan orang2 yang mengikutinya dengan sebaik2nya, allah ridho kepada mereka … (at taubah 59) dan dalam hadist shohih dikatakan “sebaik-baik umat pada masaku (sahabat), kemudian setelahnya (tabiin) dan setelahnya (tabiut tabiin) serta masih banyak dalil yang lain yang menyatakan keutamaan para sahabat dibandingkan dengan generasi umat belakangan. jadi mana dalil mas abu yang mengatakan generasi belakangan lebih baik ? apakah mas abu merasa lebih baik pemahamannya dari para sahabat radiallahuanhum dalam masalah al quran ?
      c. bahwa agama islam yang dibawa oleh nabi muhamad salallahualaihiwasalam telah sempurna dan telah dipahami dan diamalkan aleh generasi salaf dengan sebaik2nya sehingga allah ajawajalapun ridho kepada mereka “rodiallahu anhum” sekarang mana dalil keridhoan allah kepada generasi belakangan ?????

      2. saya menukil tulisan abu salafy yang berbunyi “Di sinilah letak perselisihan kaum Salafi Wahhâbi Mujassim dengan kaum Muslimin, di mana mayoritas umat Islam yang diwakili oleh Asy’ariyah, Zaidiyah dan Syi’ah Imamiyah meyakini Kemahasucian Allah dari berada di sebuah tempat tertentu.”. subhanallah …… wahai abu salafy sesungguhnya jumlah yang banyak belum tentu benar bahkan rasulullah salalahualaihiwasalam mengatakan dalam sebuah hadist shohih “….. umat islam akan kembali terasing seperti islam yang baru lahir … tetapi beruntunglah orang yang terasing tersebut”. siapa mereka yang beruntung yaitu umat yang seperti umat islam yang awal(para sahabat/salaf). kemudian antum mencontohkan kepada tiga firqoh Asy’ariyah, Zaidiyah dan Syi’ah yang sudah jelas penyimpangan qidahnya. contoh syiah immamiah yang senantiasa mencaci para sahabat nabi salallahualaihiwasalam, menuduh sebagian besarnya fasik bahkan kafir, bagaimana quran dan hadist bisa diterima sedangkan merekan yang meriwayatkannya dituduh kafir ….. subhanalah . . .. apakah antum salah satu pengikut syiah ???? kalau ya selesailah sudah pembahasan ini dan kalau tidak segeralah bertobat dan belajarlah agama kepada ulama2 rabaniun……

  15. Apakah abu salafy orang syiah? Afwan, ana tidak menganggap syiah itu islam. Bisa jelaskan ttg syiah?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s