Metode Qur’ani Dalam Tafsir Al Qur’an!

Persembahan Untuk: www.firanda.com dan Para Wahhâbiyyûn Yang Jâmidûn!

Al Qur’an adalah kitab suci terakhir yang Allah turunkan untuk umat manusia. Ia diturunkan dengan bahasa dan dikemas dengan susunan yang indah. Sejak awal penurunanya Al Qur’an telah mendapat sambutan hangat dari kaum Muslim dan mengundang perhatian dan keingin-tahuan tentangnya dan tentang makna yang terkandung di dalamnya.

Allah SWT telah berjanji akan memberikan penjelasan atas firman yang Ia turunkan. Dan Dia juga mempercayakan Nabi-Nya untuk menjadi penafsir utama Al Qur’an. Allah SWT berfirman:

فَإِذا قَرَأْناهُ فَاتَّبِعْ قُرْآنَهُ * ثُمَّ إِنَّ عَلَيْنا بَيانَهُ.

Apabila Kami telah selesai membacakannya maka ikutilah bacaannya itu.* Kemudian, sesungguhnya atas tanggungan Kami-lah penjelasannya. (QS. Al Qiyamah;18-19)

.

وَ أَنْزَلْنا إِلَيْكَ الذِّكْرَ لِتُبَيِّنَ لِلنَّاسِ ما نُزِّلَ إِلَيْهِمْ وَ لَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ.

“Dan Kami turunkan kepadamu Al Qur’an, agar kamu menerangkan kepada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka dan supaya mereka memikirkan.” (QS. An Nahl;44 )

.

Karenanya tafsir Nabi saw. adalah tafsir yang tidak boleh diabaikan dan harus diutamakan! Ia adalah rujukan utama dan pertama dalam memahami tafsir ayat-ayat Al Qur’an disamping berujuk kepada Al Qur’an sendiri. Sebab ayat-ayat Al Qur’an itu saling mnjelaskan dan saling membenarkan! Nabi saw. bersabda:

.

إنما نزل يُصَدِّقُ بعَضُه بعَضًا

“Sesungguhnya Al Qur’an itu turun untuk saling membenarkan.”[1]

.

Allah SWT Memerintah Umat Manusia Agar Merenungkan Ayat-ayat Al Qur’an!

Tadabbur terhadap ayat-ayat Al Qur’an dengan mengindahkan syarat-syarat yang diperlukan adalah metode tafsir ideal. Allah SWT berfirman:

.

أَ فَلا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ وَ لَوْ كانَ مِنْ عِنْدِ غَيْرِ اللَّهِ لَوَجَدُوا فيهِ اخْتِلافاً كَثيراً.

“Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al Qur’an Kalau kiranya Al Qur’an itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya.” (QS. An Nisâ’;82)

.

Tentang ayat di atas, Ibnu katsir berkata, “Allah berfirman memerintah mereka untuk tadabbur, merenungkan Al Qur’an dan melarang dari berpaling darinya dan dari mencari faham tentang makna-maknanya yang kokoh dan teks-teksnya yang balighah. Allah mengabarkan bahwa tiada di dalamnya perselisihan dan kekacauan, tiada juga terdapat pertentangan, sebab ia turun dari Dzat Yang Maha Bijak dan Maha Terpuji. Ia adalah haq dari Dzat Yang Maha Haq… .”[2]

Perintah itu berlaku untuk semua dan di segala waktu. Ia tidak terbatas untuk generasi tertentu. Sebagaimana perintah itu butki kuat bahwa ayat-ayat Al Qur’an dapat direnungkan dan dapat dimengerti dan difahami maknanya. Sebab andai tidak, maka sis-sialah perintah untuk bertadabbur itu!

Dan pemahaman itu bukanlah monopoli generasi tertentu! Dan tafsir produk para pendahulu tidak aula bit tibâ’/lebih berhak diikuti disbanding tafsir generasi lanjutan… bahkan bisa jadi tafsir generasi penerus lebih matang dan lebih mirip dengan kebenaran dan apa yang menjadi maksud Sang Pemfirmannya. Sebab yang menjadi i’tibâr/pengandalan adalah kesesuaiannya atau paling tidak kedekatanya dengan kebenaran dan bukan keklasikan pengucapnya!

.

Nilai tafsir Salaf!

Karenanya, tidak ada keharusan memasung kecerdasan pemahaman seorang mufassir dengan pasung tafsir Salaf terdahulu. Sebab selain tidak ada dalil yang mengharuskan kita memasung diri dengan tafsir Salaf, ia akan mematikan keagungan Al Qur’an sebelum ia mematikan kreatifitas para mufassir! Karena Al Qur’an untuk semua generasi dan dia akan selalu tampil baru dan segar!

Burhânuddîn az Zarkasyi dalam al Burhan-nya menukil keterangan tentang keharusan berujuk kepada tafsir Tabi’în, di antaranya ia berkata, “Dan dalam berujuk kepada tafsir seorang tabi’i telah diriwayatkan dua riwayat (penukilan pendapat) dari Ahmad. Ibnu ‘Aqîl memilih menolak. Dan mereka menukilnya juga dari Syu’bah. … [3]

Tentunya, jangan disalah-fahami bahwa kita tidak perlu menghiraukan tafsir Salaf. Akan tetapi, kita tidak boleh terpasung oleh tafsir Salaf dan atau menjadikannya sebagai hujjah yang wajib diikuti! Ibnu Taimiyah berkata, “Syu’bah bin Hajjâj dan selainnya berkata, “Ucapan-ucapan (pendapat-pendapat) para Tâbi’în bukanlah hujjah, lalu bagaimana ia dapat dijadikan hujjah dalam tafsir?! Ustadz Adz Dzahabi berkata, “Dan kami condong berpendapat bahwa mengambil ucapan para Tâbi’în dalam tafsir tidaklah wajib, kecuali jika pada masalah-masalahyang tiada ruang bagi pendapat, ia dapat diambil ketika tidak ada keraguan padanya.”[4]

Dasar Keberagamaan Yang Salah!

Sebagian orang memasung diri dengan hanya membatasi pamahamannya terhadap ayat-ayat Al Qur’an hanya pada pemahaman Salaf… . Slogan mereka mengatakan, “Berujuk kepada Al Qur’an dan Sunnah dengan pemahaman Salaf!” Ini adalah metode yang salah dalam mendasarkan keberagamaan.

Dalam memahami ayat-ayat tentang Tauhid, baik tauhid sifat maupun maalah-masalah terkait lainnya, misalnya mereka pasti akan dihadapkan dengan tumpukan ucapan Salaf yang saling kontradiksi satu dengan lainnya. Bahkan tidak jarang pula terdapat perbedaan penukila dari seorang dari Salaf! Dalam kondisi seperti ini, bagi yang memasung diri hanya dengan pemahaman Salaf pasti akan kesulitan… Dan pada akhirnya mereka mungkin terpaksa melakukan uji kualitas, mana di antara ucapan Salaf itu yang benar untuk diambil dan itu artinya, ucapan Salaf yang lainnya akan dicampakkan dan dibuang ke tong sampah yang menampung limbah-limbah aqwâl Salaf! Itu artinya pula bahwa konsep yang mengatakan harus berujuk kepada Salaf adalah sesuatu yang sulit atau bisa jadi mustahil dipraktikkan! Sebagaimana kenyataan itu membuktikan bahwa para Salaf pun bertingkat-tingkat kualitas intelektualnya.

.

Kaum Pembid’ah Sulit Obyektif Dalam Mengikuti Salaf Shaleh!

Orang yang hanya mencari pembenaran atas nama Salaf akan sangat mudah melupakan Salaf kebanggaannya apabila ternyata ia menyelisihi akidah yang telah diadopsinya.

Seorang yang selama ini membanggakan seorang mufassir Salaf bernama Mujahid misalnya, dia tidak akan segan-segan melupakan dan mencampakkan sang Salaf andalannya itu ketika ternyata ia terbukti menafsirkan ayat 23 surah al Qiyamah dengan tafsiran yang merugikan doktrin lamanya.

Tentang tafsir ayat tersebut, telah diriwayatkan dari Mujahid dengan sanad bersambung melalui beberapa jalur bahwa ia menafsirkannya dengan menanti pahala Tuhan, bukan melihat Tuhan, seperti yang selama ini difahami ulama:

وُجُوهٌ يَوْمَئِذٍ ناضِرَةٌ * إِلى‏ رَبِّها ناظِرَةٌ.

Wajah-wajah (orang-orang mukmin) pada hari itu berseri-seri. Terhadap (pahala) Tuhannyalah mereka menanti.

Ath Thabari berkata:

وقال آخرون: بل معنى ذلك: أنها تنتظر الثواب من ربها.

“Dan sebagian berpendapat: Akan makna ayat itu adalah, ‘Mereka menanti pahala dari Tuhan mereka.’”

Kemudian ath Thabari merangkum tafsir Mujahid tersebut melalui jalur:

حدثنا أبو كُرَيب، قال: ثنا عمر بن عبيد، عن منصور، عن مجاهد ( وُجُوهٌ يَوْمَئِذٍ نَاضِرَةٌ إِلَى رَبِّهَا نَاظِرَةٌ ) قال: تنتظر منه الثواب.

قال: ثنا وكيع، عن سفيان، عن منصور، عن مجاهد ( إِلَى رَبِّهَا نَاظِرَةٌ ) قال: تنتظر الثواب من ربها.

حدثنا ابن بشار، قال: ثنا عبد الرحمن، قال: ثنا سفيان، عن منصور، عن مجاهد ( إِلَى رَبِّهَا نَاظِرَةٌ ) قال: تنتظر الثواب.

حدثنا ابن حميد، قال: ثنا مهران، عن سفيان، عن منصور عن مجاهد ( إِلَى رَبِّهَا نَاظِرَةٌ ) قال: تنتظر الثواب من ربها، لا يراه من خلقه شيء.

حدثني يحيى بن إبراهيم المسعودي، قال: ثنا أبي، عن أبيه، عن جدّه، عن الأعمش، عن مجاهد ( وُجُوهٌ يَوْمَئِذٍ نَاضِرَةٌ ) قال: نضرة من النعيم ( إِلَى رَبِّهَا نَاظِرَةٌ ) قال: تنتظر رزقه وفضله.

حدثنا ابن حميد، قال: ثنا جرير، عن منصور، عن مجاهد، قال: كان أناس يقولون في حديث: « فيرون ربهم » فقلت لمجاهد: إن ناسا يقولون إنه يرى، قال: يَرى ولا يراه شيء.

قال ثنا جرير، عن منصور، عن مجاهد، في قوله: ( إِلَى رَبِّهَا نَاظِرَةٌ ) قال: تنتظر من ربها ما أمر لها.

حدثني أبو الخطاب الحساني، قال: ثنا مالك، عن سفيان، قال: ثنا إسماعيل بن أبي خالد، عن أبي صالح، في قوله: ( وُجُوهٌ يَوْمَئِذٍ نَاضِرَةٌ إِلَى رَبِّهَا نَاظِرَةٌ ) قال: تنتظر الثواب.

1)      Dari Abu Kuraib, ia berkata, Umar ibn Ubaid menyampaikan kepada kami, dari Manshur dari Mujahid, “Menanti pahala dari-Nya.”

2)      Ia berkata, Wakî’ menyampaikan kepada kami dari Sufyan dari Manshûr dari Mujahid, “Menanti pahala dari Tuhannya.”

3)      Ibnu Basysyâr menyampaikan kepada kami, ia berkata, Abdurrahman menyampaikan kepada kami, ia berkata, Sufyan menyampaikan kepada kami dari Manshûr dari Mujahid, “Menanti pahala.”

4)      Ibnu Humaid menyampaikan kepada kami, ia berkata, Mahrân menyampaikan kepada kami dari Sufyan dari Manshûr dari Mujahid., ia berkata, ‘Mereka menanti pahala dari Tuhan mereka. Tiada akan melihat-Nya sesuatu apapun dari ciptaan-Nya.!’

5)      Yahya bin Ibrahim al Mas’ûdi menyampaikan kepada kami, ia berkata, ayahku menyampaikan kepada kami dari ayahnya dari kakeknya dari A’masy dari Mujahid, “Menanti rizki dan anugerah-Nya.”

6) Ibnu Hamîd menyampaikan kepada kami, ia berkata Jarîr menyampaikan kepada kami dari Manshur dari Mujahid, ia berkata, “Ada banyak orang berkata tentang hadis, ‘Mereka akan melihat Tuhan mereka.’ Maka aku berkata kepada Mujahid berkata, ‘Orang-orang berkata Dia akan dilihat!’ Mujahid berkata,Dia Maha Melihat dan tidak dapat dilihat oleh sesuatu apapun.

7)      Jarîr menyampaikan kepada kami dari Manshur dari Mujahid ia berkata, “Mereka menanti dari Tuhan mereka apa yang  Dia perintahkan.”[5]

Bagi mereka yang selama ini mengkultus Salaf dan memasung diri hanya dengan menelan mentah-mentah apa yang dikatakan Salaf tentang ayat tertentu pasti berusaha keluar dari jeratan problem seperti ini… . Tetapi bagi yang punya keterbukaan dan tidak memandang tafsir Salaf sebagai hujjah, pasti ia akan kembali kepada metode tadabbur/perenungan ayat dan tidak akan menerima atau menolak tafsir Salaf kecuali atas dasar bukti… bukan atas dasar ucapan Salaf itu sendiri!

Tidak Semua Ayat Al Qur’an Telah Ditafsirkan Oleh Salaf

Masalah lain yang akan menghadang mereka yang mengebiri kreatifitasnya dalam memahami tafsir Al Qur’an adalah bahwa ternyata tidak semua ayat Al Qur’an tu telah ditafsirkan oleh generasi Salaf baik sahabat mapun tabi’în. Bahkan seperti yang kita ketahui bahwa Nabi saw. pun tidak menafsirkan seluruh ayat Al Qur’an. Atau paling tidak berdasarkan riwayat yang ada di tangan para ulama, ternyata banyak ayat yang terlewatkan tidak ada riwayat tafsir Nabi saw.!

Sumber Pengambilan Salaf Dalam Tafsir

Bagi Anda yang mengetahui sumber pengambilan Salaf dalam memahami dan menafsirkan Al Qur’an pasti ia tidak akan terjebak dalam kungkungan tafsir Salaf! Ustadz adz Dzahabi dalam kitabnya at Tafsîr wal al Mufassirûn menyebut empat sumber tafsir Salaf generasi awal; para sahabat:

(1)   Al Qur’an itu sendiri.

(2)   Nabi saw.

(3)   Ijtihad dan istimbâth/penyimpulan. Ketika mereka tidak menemukan keterangan tentang sebuah ayat dari Al Qur’an atau kesulitan mendapatkan keterangan dari Sunnah Nabi saw., mereka kembali kepada ijtihad dan menggunakan pikiran untuk menyimpulkan pendapat.

(4)   Pendapat Ahlul Kitab; Yahudi dan Nashrani.[6]

(5)   Dan di sini dapat ditambahkan sumber kelima yaitu Bahasa Arab melalui syair-syair orang-orang Arab, seperti yang banyak dilakukan oleh Ibnu Abbas ra. Sebab syair-syair bangsa Arab adalah bagaikan kamus yang merangkum kata-kata yang asing didengar oleh kebanyakan orang sekali pun. Sayyidina Umar ra. berkata, “Hendaknya kalian memperhatikan diwân kalian  agar kalian tidak tersesat!” Mereka berkata, ‘Apa yang Anda maksud dengan diwân kami? Ia menjawab, “Syair-syair bangsa Arab masa jahiliyah. Di dalamnya terdapat tafsir Kitab suci kalian dan makna pembicaraan kalian.[7]

Adapun Salaf generasi tabi’în maka pengambilan mereka dalam tafsir dapat kita rangkum sebagai di bawah ini:

(1)   Berujuk kepada Al Qur’an.

(2)   Mengindahkan tafsir Nabi saw dan keterangan para Sahabat yang sampai kepada mereka.

(3)   Memperhatikan asbâb nuzûl dan kasus-kasus yang karenanya ayat itu diturunkan.

(4)   Berujuk kepada bahasa Arab, khususnya yang diabadikan dalam syair-syair mereka. Ibnu Abbas ra. menganjurkan para muridnya untuk memperhatikan dan merujuk syair-syair Arab untuk mengenali arti kata dalam ayat Al Qur’an.[8]

(5)   Mengandalkan ra’yu dan ijtihad melalui perenungan dan penyimpulan. Dalam arti mereka menafsirkan tanpa berujuk kepada tafsir Nabi saw. atau seorang dari sahabat pun. Dengan bertadabbur dan memerhatikan segala yang meliputi ayat yang hendak ia tafsirkan.

(6)   Merujuk peninggalan Ahlul Kitab; Yahudi dan Nashrani (Perjanjian lama dan Perjanjian Baru).

Setelah ini pasti Anda maklum bahwa tidaklah benar anggapan bahwa seorang mufassir harus memasung pemahamanannya dan membatasi diri dengan menjadikan tafsir Salaf sebagai hujjah yang tidak boleh keluar darinya! Sehingga apapun yang dipahami oleh seorang mufassir betapapun hebat dan luasnya ilmu yang ia miliki sebagai tafsir Khalafi yang konotasinya adalah bid’ah… mengada-ngada… tidak memiliki Salaf… dan akhirnya dicap tafsir liar! Sebab apapun yang tidak diambil dari Salaf pasti ia dihukumi liar!!

Ar Râghib al Ishfahâni berkata menjelaskan ruang lingkup seorang mufassir, “Manusia telah berbeda pendapat tentang tafsir al Qur’an, apakah ia boleh bagi setiap orang untuk menjeburkan diri di dalamnya? Sebagian orang berkeras sikap dan berkata, ‘Tidak boleh bagi seorang menafsirkan al Qur’an walaupun ia seorang yang alim/pandai, sastrawan Arab, luas pengetahuannya tentang dalil-dalil fikih, nahwu (tata bahasa Arab), akhbâr/berita dan atsâr/data-data yang dinukil. Yang boleh baginya hanyalah menyampaikan apa yang telah sampai kepadanya dari riwayat Nabi saw. dan dari orang-orang yang menyaksikan turunnya al Qur’an yaitu para sahabat dan orang-orang yang menimba ilmu dari para sahabat yaitu tabi’în…. Dan yang lainnnya mengatakan, ‘barang siapa yang mendalami satra Arab maka boleh baginya menafsirkan Al Qur’an. Orang-orang berakal dan para sastrawan…

Kedua pendapat di atas adalah ghuluw (berkeras-keras) dan tafrîth (teledor). Barang siapa membatasi diri dengan apa yang dinukil maka ia benar-benar meninggalkan banyak hal yang ia butuhkan. Dan barang siapa membolehkan siapa saja menafsirkan Al Qur’an maka ia telah menjadikannya sasaran kekacauan dan tidak mengindahkan firman-Nya:

.

كِتابٌ أَنْزَلْناهُ إِلَيْكَ مُبارَكٌ لِيَدَّبَّرُوا آياتِهِ وَ لِيَتَذَكَّرَ أُولُوا الْأَلْبابِ.

“Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat- ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang- orang yang mempunyai pikiran.” (QS. Shad;29).[9] Setelahnya ia menjelaskan sepuluh syarat yang harus dipenuhi oleh seorang mufassir.

Bukti Nyata!

Bukti nyata adalah bahwa para ulama islam di sepanjang zaman melibatkan diri dalam tafsir Al Qur’an dan tidak membatasi diri hanya terpaku dengan tafsir yang dima’tsurkan dari Salaf dengan segala hormat kita semua kepada Salaf!

Karenanya, ucapan seorang yang mengaku Salafi, “Tunjukkan siapa Salaf kamu dalam pemahaman ayat ini atau itu?!” “Tafsir kamu adalah tafsir Khalafi.. tafsir bid’ah dll. adalah ucapan seorang santri abangan yang terkesan awam tapi sok Salafi… terkenal dangkal tapi sok peneliti… dan akhirnya mengundang keprihatinan mendalam bagi para ulama muhaqqiqûn!

Semoga Allah SWT senantiasa berkenan membimibng kita semua ke jalan-Nya. Amîn.


[1] Tafsir Ibn Katsir,1/529.

[2] Ibid.

[3] Al Burhan Fî ‘Ulûmil Qur’ân,2/158.

[4] At Tafsîr wal al Mufassirûn,1/128-129 rujuk juga Muqaddimah Ushul at Tafsîr; Ibnu Taimiyah:28-29, Fawâtih ar Rahamût,2/188 dan al Itqân,2/179..

[5] Tafsir ath Thabari,29/192-193. Setelah menyebutkan perbedaan ahli ta’wil tentang ayat di atas dan setelah merangkum tafsir Mujahid, Ibnu Jarîr ath Thabari menimbang dan kemudian memutuskan menolak tafsir Mujahid!

[6]Keterangan lengkap dipersilahkan merujuk ke at Tafsîr wal al Mufassirûn,1/36-62.

[7] at Tafsîr wal al Mufassirûn,1/74.

[8] Ibid.

[9] Mukaddimah Fi at Tafsîr:93.

18 Tanggapan

  1. dajjal

    • sekte wahabi muncul baru 3 abad tapi bisanya meracuni seperti kaum khawarij jaman Ali.RA renungkan wahai golongan anti persaudaraan islam.
      mau bukti. banyak buktinya tapi kagak kelihatan karana

  2. ha ha ha kelau sudah kelabakan bisanya wahabi cuman ngamuk bilang-2 dajjal segala.. ngak tau kali kalau dajjal itu keluarnya dari najd tempat sarang wahabi

  3. tulisa yang cakep… mantep.. berdasar dan masuk akal…….
    mungkin perlu diperkaya dengan banyak contok kasusnya ustaz abu biar makin mantep lagi.
    Saya jadi ingin tahu sikap wahabi terhadap tafsire mujahid di atas? sepanjang saya baca polemik ustaz dengan ustaz firanda, saya saksikan ustaz firanda banyak membawakan tafsir Mujahid! Apa kali ini beliau juga mau menerimanya? Atau punya alasan lain untuk membuang tafsir Mujahid?
    Saya tunngu tanggapan ilmiahnya dari para pendukungnya ustaz firanda! Bukan omelan lho..
    saya masih sehat akal saya. saya tidak mau ikut-ikutan berkata-kata kotor.
    Maaf ustaz abu lebih afdhol komentar-2 yang ngawur janga dimuat di sini!!! baik wahabi maupun yang anti wahabi!

  4. wow.. keren. top banget. baarakallahu fiik.

  5. si akang, lho kok gitu? Awas lho kena dirimu sendiri, Ustadz Abu Salafy sudah menulis dengan sangat excellent, tiba-tiba antum muncul dan mengumpatnya? Antum manusia yg gak takut dosa rupanya?

    Bukankan hujjah beliau sangat brilliant? Bantahlah kalau merasa sanggup membantahnya. Jangan hanya bisa mengumpat!

  6. Nice share

  7. Dulu saya hampir terjerumus ke wahabi. Terima kasih Ya Allah…Engkau telah menjauhkan hamba dari kelompok wahabi.

    Akidahnya wahabi berbahaya-telah dikufurkan banyak ulama-. Saya sarankan pengikut akidah wahabi kembali dan bersyahadad.

    Akidah ahlu sunah wal jama’ah adalah meyakini bahwa Allah ada tanpa tempat, arah dan tidak bisa dibayangkan. WaAllahua’lam

  8. pencerahan luar biasa dari ustad abu… semoga aaja teman-teman salafi mau memikirkannya..
    tidak usah marah-marah seperti akhi SI AKANG. itu bukan cermin pengikut salaf!

  9. Dulu ana pernah sangat ingin mempelajari Sufi dan hampir masuk dalam perangkap agama Trsbut tetapi Allah berkehendak lain Alhamdulillah Allah telah memberikan jalan yang benar. untung ana g terjerumus akidah Syiah,Sufi,Jahmiyah yang ngaku2 ahlusunnah… selamattt…..
    bagi yang mau mengartikan Al qur’an saena udelle… lu buat Kitab (qur’an) ndiri aje kayak Syiah saudara Sufi..

    • SEKTE WAHABI ADALAH PEMECAH BELAH UMAT ISLAM BUKTINYA DILUAR SEKTE MEREKA BID’AH LAH MUSYRIKUN LAH, COBA RENUNGKAN BUNG. WAHABI JOIN PATNER AMERIKA KARANA IBNU SAUD KETURUNAN YAHUDI PALESTINA DIBANTAI E MEREKA TERTAWA BARENG TUAN MEREKA MR.BUSH.

  10. pokoe sing penting jawab dari aliran dari sang raja godong galir kalau g mau jawab g bakalan dpt aliran
    dr sang raja godong
    tapi rupanya ALLAH Telah memalingkan kebenaran gitu kan ? kan
    ok

  11. masuk sufi memang orang pilihan ,ndak gampang
    gitu bos kalau orang berpaling dari sufi memang banyak

  12. AYO CERAHKAN SEKTE WAHABI BIAR BIAR HATINYA YG MATI HIDUP KEMBALI, TELINGANYA YG TULI MENDENGAR LAGI, MATANYA YG BUTA MELIHAT LAGI. MAKSUD SY DALAM HAL KEBENARAN DAN PERSAUDARAAN. tapi saya pesimis karan mereka merasa paling benar,paling tinggi ilmunya .tak ada yg melebihi ibnu abdulwahab. lihat sejarah bung, padner politik ibnu abdulwahab yaitu raja saudi adalah yahudi terbukti mr.bush adalah boss besar mereka. dari daerah najd juga daerah asal musailamah al kahzab si pembohong.

  13. @suswanto
    ternyata mas suswanto malah lebih jeli ketimbang pengikut wahab

  14. welwh-welwh

  15. salam kenal buat admin,saya mau nanya nih,bolehkah saya banyak mengopy artikel disini untuk saya post di blog saya,insya allah nanti saya pasang link di blog saya.
    apabila boleh,mohon kalau ada waktu berkunjung keblog saya http://wahabivssunni.blogspot.com/
    terima kasih wassalamualaikum.wr.wb.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s