Kitab Kasyfu asy Sybubuhât Doktrin Takfîr Wahhâbi Paling Ganas (36)

Alasan lain yang diutarakan Ibnu Abdil Wahhâb untuk melegalkan pengafirannya atas kaum Muslimin ialah apa yang ia katakan dalam lanjutan keterangannya di atas, ia berkata:

وَكَذَلِكَ الَّذِينَ قَالَ اللَّهُتَعَالَىفِيهِمْ {قُلْ أَبِاللَّهِ وَآيَاتِهِ وَرَسُولِهِ كُنتُمْ تَسْتَهْزِئُونَ ، لا تَعْتَذِرُوا قَدْ كَفَرْتُمْ بَعْدَ إِيمَانِكُمْ } فَهَؤُلاَءِ الَّذِينَ صَرَّحَ اللَّهُ أَنَّهُمْ كَفَرُوا بَعْدَ إِيمَانِهِمْوَهُمْ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم فِي غَزْوَةِ تَبُوكٍقَالُوا كَلِمَةً ذَكَرُوا أَنَّهُمْ قَالُوهَا عَلَى وَجْهِ الْمَزْحِ . فَتَأمَّلْ هَذِهِ الشُّبْهَةَ ، وِهِيَ قَوْلُهُمْ تُكَفِّرُونَ الْمُسْلِمِينَ وَهمْ أُنَاسٌ يَشْهَدُونَ أَنْ لا إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ ، وَيُصَلُّونَ وَيَصُومُونَ . ثُمَّ تَأَمَّلْ جَوَابَهَا ؛ فَإِنَّهُ مِنْ أَنْفَعِ مَا فِي هَذِهِ الأَوْرَاقِ .

Begitu juga Allah berfirman berkenaan dengan mereka :

قُلْ أَ بِاللَّهِ وَ آياتِهِ وَ رَسُولِهِ كُنْتُمْ تَسْتَهْزِؤُنَ. لا تَعْتَذِرُوا قَدْ كَفَرْتُمْ بَعْدَ إيمانِكُمْ

“Katakanlah: “Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok”. Tidak usah kamu minta maaf, karena kamu kafir sesudah beriman.” (At-Taubah [9];65-66)

Mereka adalah orang-orang yang secara tegas disebut oleh Allah sebagai orang-orang kafir setelah keimanan mereka, padahal mereka bersama Rasulullah saw. di peperangan Tabûk, mereka telah melontarkan sebuah kata yang mereka sebutkan bahwa mereka melontarkannya dengan bercanda. Maka renungkanlah syubhat (alasan semu) ini: kalian mengafirkan banyak dari umat Islam yang bersaksi akan keesaan Allah, salat dan berpuasa. Kemudian renungkanlah jawabannya karena ia ketarangan yang paling bermanfa’at dalam lembaran-lembaran ini.

_________

Catatan 32:

Mereka Adalah Kaum Munafik!

Seperti pada alasan sebelumnya yang ia sebutkan, ayat yang ia sitir adalah menunjuk kepada kaum munafik…. sedangkan kita semua mengetahui bahwa kaum munafik adalah mengufuri Allah dan rasul-Nya, hanya saja mereka merahasiakannya dan menampakkan sebailknya! Secara lahiriyah kaum munafik adalah muslim… semua hukum Islam dapat diberlakukan atas mereka. Akan tetapi pada kenyataannya mereka adalah orang-orang yang kafir… kelak di hari kiamat akan diberlakukan atas mereka ketetapan Allah atas kaum kafir!

Di sini, sepertinya dengan sengaja Syekh tidak mempertagas kenyataan ini, ia hanya berkata bahwa mereka adalah orang-orang yang berjihad bersama Nabi saw. dalam peperangan Tabûk… ia tidak mempertegas apakah mereka itu benar-benar orang-orang yang beriman kemudian dikarenakan mengucapkan kata-kata dengan bercanda, maka mereka menjadi kafir karenanya! Status mereka berubah dari Mukmin menjadi Kafir!

Akan tetapi kenyataannya tidak demikian… mereka adalah kaum munafikun yang merahasiakan kekafirannya dan berpura-pura menampakkan keimanan dan keislaman! Kata-kata yang mereka lontarkan itu adalah luapan kekafiran yang selama ini mereka sembunyikan…. ia bukan sendau gurau adan main-main, seperti uzur palsu yang mereka sampaikan kepada Nabi saw.!! sebagaimana dalam ketarangan Ibnu Abdil Wahhâb![1]

Nabi Muhammad saw. Tidak Menghalalkan Darah-darah Kaum Munafik!

Namun demikian, Nabi saw. tidak memperlakukan atas mereka hukum murtad dan kafir! Mereka tetap ternaungi oleh hukum Islam yang menjadikan zhahir yang ditampakkan seorang sebagai penentu!

Sementera itu, Imam Besar Sekte Wahhâbiyah menyalahi Nabi saw. dengan memvonis mereka sebagai kafir hukman (secara lahiriyah) dan kemudian menyamakan kondisi kaum Muslimin yang menyalahi konsep tauhid ajakannya serta memberlakukan hukum kaum murtad dan kafir dan menghalalkan darah-darah mereka!

Untuk lebih jelasnya ikuti ulasan ringkas ayat-ayat dalam masalah ini.

Ibnu Abdil Wahhâb Lebih Mempercayai Omongan Kaum Munafik ketimbang Firman Allah SWT.!

Para ahli tafsir telah menyebutkan bahwa dalam perjalanan Nabi saw. bersama pasukan Muslim menuju Tabûk ada sekelompok kaum munafik mengejek-ngejek Rasulullah saw. dan kerasulan beliau…  Allah SWT mengecam mereka dengan firman-Nya:

يَحْذَرُ الْمُنافِقُونَ أَنْ تُنَزَّلَ عَلَيْهِمْ سُورَةٌ تُنَبِّئُهُمْ بِما فيقُلُوبِهِمْ قُلِ اسْتَهْزِؤُا إِنَّ اللَّهَ مُخْرِجٌ ما تَحْذَرُونَ

“Orang-orang yang munafik itu takut akan diturunkan terhadap mereka sesuatu surah yang menerangkan apa yang tersembunyi dalam hati mereka. Katakanlah kepada mereka: “Teruskanlah ejekan-ejekanmu (terhadap Allah dan Rasul-Nya).” Sesungguhnya Allah akan menyatakan apa yang kamu takuti itu.”

وَ لَئِنْ سَأَلْتَهُمْ لَيَقُولُنَّ إِنَّما كُنَّا نَخُوضُ وَ نَلْعَبُ قُلْ أَ بِاللَّهِ وَ آياتِهِ وَ رَسُولِهِ كُنْتُمْ تَسْتَهْزِؤُنَ

“Dan jika kamu tanyakan kepada mereka (tentang apa yang mereka lakukan itu), tentulah mereka akan menjawab: “Sesungguhnya kami hanyalah bersenda gurau dan bermain-main saja.”Katakanlah: “Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya kamu selalu berolok- olok.”

Keterangan:

“Orang-orang yang munafik itu takut akan diturunkan terhadap mereka (kaum Mukminin melalui Nabi Muhammad saw.) sesuatu surah yang menerangkan (kepada kaum Mukminin) apa yang tersembunyi dalam hati mereka (kaum munafik berupa kemunafikan, kedengkian dan  kebencian terhadap kaum Mukminin, hal itu disebabkan kaum munafikin ketika berkumpul di antara mereka sendiri selalu mengejek-ngejek Allah dan Rasul-Nya dan mengolok-olok kaum Mukminin). (Maka Allah memerintahkan Nabi-Nya agar menyampaiakan kepada mereka) Katakanlah  (Hai Muhammad) kepada mereka (kaum munafik): “Teruskanlah ejekan-ejekanmu (terhadap Allah dan Rasul-Nya).” Sesungguhnya Allah akan menyatakan apa yang kamu takuti itu.” (Allah SWT akan membongkar semua yang mereka sembunyikan berupa ejekan dan istihzâ’ terhadap Allah dan Rasul-Nya, baik melalui wahyu Al Qur’an maupun pemberitaan kepada Nabi-Nya saw. … dan itulah yang paling mereka takuti. Tetapi anehnya mereka tak henti-hentinya mengejek dan memperolokkan Allah dan Rasul-Nya!)

Para mufassir mengatakan bahwa ayat tersebut turun berkenaan dengan dua belas orang munafik yang merencanakan pembunuhan Nabi saw. dalam perjalanan pulang dari peperangan Tabûk dengan mengelindingkan kendaraan Nabi saw. dari puncak tebing cungam! Akan tetapi Allah menggagalkan niatan jahat mereka!  

“Dan jika kamu tanyakan kepada mereka (mengapa mereka mengejek-ngejek Allah dan rasul-Nya, dan mengapa mereka membohongkan Al Qur’an sebagai wahyu Allah), tentulah mereka akan menjawab (sebagai uzur yang mereka sampaikan):“Sesungguhnya kami hanyalah bersenda gurau dan bermain-main saja.”

Para mufassirin di antaranya menyebutkan bahwa di antara yang mereka omongkan adalah: “Bagaimana Muhammad menjanjikan bahwa ia akan menaklukkan benteng-benteng Romawi. Palsu! Palsu! Tidak mungkin itu terjadi!!”

Ada juga yang menyebutkan bahwa di antara kaum munafikin itu ada yang mengatakan: “Muhammad mengaku bahwa ia dituruni ayat-ayat yang membongkar kami… itu hanya sebuah kepalsuan yang ia atas-namakan Allah.” 

Lalu Allah membongkar pembicaraan mereka melalui wahyu dan Nabi pun menegur mereka dengan mengatakan bahwa kalian telah berkata begini dan begitu! Tetapi mereka menjawab sembari mengelak dengan mengatakan: “Sesungguhnya kami hanyalah bersenda gurau dan bermain-main saja (seperti layaknya sekawanan teman dalam sebuah perjalanan untuk menghilangkan kelelahan jauhnya perjalanan dengan berbincang-bincang biasa… kami tidak membicarakan tentang Anda dan kaum mukminin barang satu patah kata pun)

Maka Allah memerintah Nabi-Nya: ”Katakanlah (Hai Muhammad): “Apakah dengan Allah (kewajiban-kewajiban dan batasan-batasan-Nya), ayat-ayat-Nya  (kitab suci-Nya) dan Rasul-Nya (Muhammad saw.) kamu selalu berolok- olok.”

Firman ini adalah sebuah kecaman keras atas kaum munafikin dan sekali gus pengingkaran atas ucapan mereka! Allah SWT membohongkan uzur yang mereka katakan bahwa mereka tidak pernah berbicara seperti itu… Akan tetapi mereka benar-benar telah mengejek Allah dan rasul-Nya… omongkan mereka adalah luapan keyakinan mereka dan ungkapan sesungguhnya apa yang menjadi i’tiqâd mereka yang selama ini mereka sembunyikan dari kaum Muslimin!

Allah tidak menerima uzur mereka yang mengatakan bahwa  Sesungguhnya kami hanyalah bersenda gurau dan bermain-main saja”! karena mereka adalah berbohong dalam uzur yang mereka sampaikan

Karenanya Allah SWT. berfirman:

لا تَعْتَذِرُوا قَدْ كَفَرْتُمْ بَعْدَ إيمانِكُمْ

“Tidak usah kamu minta maaf, karena kamu telah kafir sesudah beriman” (Katakan kepada mereka: Janganlah kalian beralasan dengan alasan palsu. Kalian telah menampakkan kekafiran setelah sebelumnya menampakkan keimanan palsu kalian!)[2]

Dari ketarangan para mufassirin dapat diketaui bahwa uzur dan pembelaan yang disampaikan kaum munafik di atas adalah palsu dan Allah membohongkannya! Mereka telah mengucapkannya!

Dan dengan mengikuti ketarangan Ibnu Abdil Wahhâb, mereka benar telah mengatakannya akan tetapi sekerdar bercanda dan main-main! Bukan dengan i’tiqâd dan penuh keyakinan…

Akan tetapi –andai apa yang ia katakan itu benan- bukankah aneh sekali Imam Besar Sekte Wahhâbiyah ini ternyata lebih percaya kepada omongan kaum munafikin yang menyampaikan uzur palsu yang  telah dibohongkan Allah SWT ketimbang mengimani firman Allah SWT yang membohongkan mereka dan mengatakan bahwa mereka mengatakannya dengan niatan mengejek-ngejek Allah, ayat-ayat-Nya dan rasul utusan-Nya!!

Perhatikan Syekh Ibnu Abdil Wahhâb berkata: mereka telah menyebutkan sebuah kata yang mereka lontarkan dengan bercanda.  

Jadi dengan demikian apa yang ia banggakan bahwa argumentasi yang ia tegakkan adalah sekuat-kuat bukti yang membenarkannya menvonis kafir kaum Muslimin yang bersyahadat dengan dua kalimat syahadatain, menegakkan shalat lima waktu dengan rukun-rukunnya, berpuasa di bulan suci Ramadhahn, berangkat haji ke tanahh suci, membayar zakat dan mengerjakan rukuk-rukun dan syari’at Islam lainnya… Ya… argmentasi yang ia banggakan itu ternyata jusretu memalukan sebab ternyata pada kenyataannya mereka tidak mengucapkannya dengan senda gurau dan main-main seperti yang disebutkannya… Dan sekali gus ia adalah bukti penyimpangannya dari apa yang disyari’atkan dan dipraktikkan Nabi Muhammad saw. dalam sikapnya terhadap kaum munafik, yang sama sekali tidak pernah diindahkan Imam Besar kaum Wahhâbiyah.

Ibnu Abdil Wahhâb sendiri mengakui bahwa mereka yang ia kafirkan itu adalah orang-orang Muslim yang mentauhidkan Allah; bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah, shalat dan berpuasa!

Lalu jika  demikian kenyataannya, mengapa kaum Muslimin itu ia kafirkan? Kata-kata kekafiran apa yang telah dilontarkan kaum Muslimin yang sedang bertawassul, beristighâtsah, bertasyaffu’, sehingga ia berhak mengafirkan mereka?! Semua itu tidak ada! Yang ada hanyalah Syekh mengada-ngada kesimpulan “dungu” atas praktik-praktik islami kaum Muslimin sebagai justifikasi pembantaian mereka!

Catatan Akhir:

Perhatikan kecurangan Ibnu Abdil Wahhâb dalam mempermainkan  redaksi data keislaman, dan bagaimana juga antara satu kalimat yang ia katakan dengan kalimat lain saling tidak singkrun… di sini ia berkata dengan tidak memberikan kepastian: “… mereka telah melontarkan sebuah kata yang mereka sebutkan bahwa mereka melontarkannya dengan bercanda.” (halaman:70). Yang mengatakan bahwa kata-kata itu dilontarkan dengan main-main dan tanpa keseriusan dalam menyakininya adalah kaum munafik sendiri: yang mereka sebutkan. Sementara itu dalam kesempatan lain, pada halaman:81-82 ia memastikan bahwa mereka benar-benar mengucapkannya dengan senda gurau dan main-main! Jadi ia sekarang memastikan bahwa kaum munafik itu jujur dan benar dalam uzur yang mereka katakan… Allah lah yang salah karena tidak mau menerima uzur mereka!

Baik yang ini atau yang itu… keduanya tidak pernah diakui oleh Munafikun! Sejarah dan data-data riwayat menegaskan bahwa mereka mengelak tuduhan bahwa mereka mengucapkannnya! Tidak dengan sunggug-sungguh… tidak juga dengan main-main! Perhatikan ini baik-baik dan renungkan kembali kutipan riwayat yang telah kami sebutkan!!


[1] Dan ia adalah sebuah kesalahan lain dari Syekh. Sebab kenyataannya mereka menolak total bahwa mereka telah mengucapkannya, baik dengan main-main maupun dengan serius. Dan entah dari mana ia menyimpulkan demikian, sebab seluruh riwayat tidak menyebutkan demikian.

[2] Keterangan tafsir di atas kami rangkum dari tafsir: 1) Fathu al Qadîr; asy Syaukani,2/376-378, 2) Catatan pinggir tafsir al Jalâlain; ash Shâwi,2/145-146, 3) Tafsir al Khazin, 4) dan Tafsir al Baghawi,3116-118.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s