Kasyf asy Sybuhat Doktrin Takfir Paling Ganas (15)

Jika dia berkata: orang-orang kafir mengharap langsung dari mereka, sedang aku bersaksi bahwa Allah yang memberikan manfaat dan mudarat, aku tidak mengharap kecuali dari-Nya dan orang-orang saleh tidak memiliki hal apapun, aku menuju mereka dengan harapan Allah memberikan syafaat mereka.

Maka jawablah: ucapan ini sama persis dengan ucapan orang-orang kafir. Bacakan kepadanya ayat al-Quran:

وَ الَّذينَ اتَّخَذُوا مِنْ دُونِهِ أَوْلِياءَ ما نَعْبُدُهُمْ إِلاَّ لِيُقَرِّبُونا إِلَى اللَّهِ زُلْفى

Dan orang- orang yang mengambil pelindung selain Allah (berkata):” Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat- dekatnya”. (Az-Zumar: 3). Dan Firman Allah yang lain:

وَ يَقُولُونَ هؤُلاءِ شُفَعاؤُنا عِنْدَ اللَّهِ

Dan mereka berkata:” Mereka itu adalah pemberi syafaat kepada kami di sisi Allah”. (Yunus: 18)

__________

Catatan :16

Barang siapa yang berpendapat seperti pendapat yang disebutkan pada catatan sebelumnya tidak dapat dihukumi musyrik, sedangkan Syeikh menvonosnya sebagai Musyrik. Andai benar ada kesamaan –ringgan- dengan sebagian praktik kaum Musyrik itu tidak berarti mereka sama dalam seluruh sisinya atau dihukumi dengan hukum yang satu.

Sebagai contoh, jika ada seorang Muslin bersumpah dengan selain nama Allah SWT. maka sebenarnya ia telah menyamai kaum Musyrik dalam satu bagian kecil, akan tetapi apakah ia akan divonis telah kafir karenanya? Jelas tidak! Sepertinya Syeikh tidak jeli dan kurang memperhatikan masalah-masalah sederhana seperti ini, maka ia terjatuh dalam jurang pengafiran kaum Muslimin. Kesalah awal Syeikh ialah terletak pada fokus berlebihan pada penggalan ayat:

ما نَعْبُدُهُمْ إِلاَّ لِيُقَرِّبُونا إِلَى اللَّهِ زُلْفى‏

“Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya… .” (QS. Az Zumar [39]; 3)

yang memuat satu sisi dari ciri dan i’tiqâd kaum Musyrik dengan melalaikan ayat-ayat lain yang menjelaskan kayakinan kaum kafir yang secara pasti menyekutukan Allah…. ia adalah sebuah kekurangan fatal dalam kajian Qur’ani Syeikh dalam mendata antara kaum Musyrikin dengan kaum Muslimin.

Selain itu, meminta syafa’at dari Nabi Muhammad saw. dan atau kaum Shalihin dengan tetap menyakini mereka sebagai hamba-hamba Allah, dan mereka tidak akan mampu memberikan apapun kecuali dengan izin Allah…. andai semua keyakinan seperti itu salah, pastilah mereka tidak mungkin disamakan dengan kaum Musryikun yang menyembah selain Allah dan bersujud kepada berhala. Atas dasar ini kita dapat meminta konsekuensi kaum Wahhabi; para pengikut Syeikh untuk mengafirkan peminum khamer, sebab tidak mungkin ia meminumnya melainkan karena mencintainya! Dan cinta adalah penyembahan! Dan mengalamatkan kecintaan kepada selain Allah adalah syirik…. !!

Jika kaum Wahhabi membantah dengan mengatakan bahwa kami tidak mempersalahkan orang yang mencintai kaum Shalihin, akan tetapi kami mengecam penyembahan kepada mereka. Maka mereka akan dijawab, “Sesungguhnya mereka tidak menyembah kaum Shalihin, hanya kalian saja yang menyebut mereka yang bertawassul dengan kaum Shalihin atau bertabarruk dengan mereka dengan sebutan menyembah kaum Shalihin, sementara mereka tidak menyembahnya dan tidak pernah membenarkan tuduhan kalian… mereka memiliki banyak dalil yang mendukung praktik dan keyakinan mereka itu.

Jika kalian berkata: Tawassul itu sama dengan penyembahan, ibadah.

Mereka menjawab: Apa dalil kalian mengatakan demikian?

Jika kalian berkata: Karena kaum salaf tidak perlah melakukannya.

Mereka menjawab: Khalifah Umar pernah melakukannya, ketika ia bertawassul dengan Abbas –paman Nabi saw.-.

Jika kalian berkata: Umar bertawasssul dengan orang yang masih hidup, bukan dengan orang yang sudah mati.

Mereka menjawab: Apakah boleh menyembah orang hidup?

Jika kalian berkata: Tidak boleh.

Mereka menjawab: lalu mengapakah kalian menamai tawassul sebagai ibadah?! Ini adalah bukti bahwa kalian suka menamai sesuatu bukan dengan nama aslinya.

Jika kalian berkata: Bertawssul dengan orang yang sudah mati itu penyembahan, ibadah, berbeda dengan bertawassul dengan yang masih hidup!

Mereka menjawab: Apa dalil kalian dalam pembedaan itu?

Jika kalian berkata: Dalil kami adalah praktik para sahabat, sebab mereka bertawassul dengan yang masih hidup dan tidak bertawssul dengan yang sudah mati.

Mereka menjawab: Anggap untuk sementara dalil kalian benar dan kami menerimanya. Itu artinya mereka meningggalkan sebuah perkara, dan itu belum cukup bukti untuk mengatakan apa yang mereka tinggalkan itu haram apalagi kemusyrikan dan kekafiran yang mengeluarkan seseorang dari agama Islam!

Selain itu kami punya dalil bahwa sebagian sahabat bertawassul dengan Nabi saw. setelah wafat beliau, seperti pada hadis Utman ibn Hunaif yang masyhur itu.

Jika kalian berkata: Hadis itu menurut kami dha’if.

Mereka menjawab: Kebanyak hadis yang kalian jadikan dalil melawan kami itu dha’if menurut kami, bahkan setelah ditahqiq/dilakukann penelitian secara seksama memang dhai’f dan hadis-hadis lain yang dha’if dan bahkan ada yang palsu, seperti hadis Syiriknya Nabi Adam dan Hawwa yang dibanggakan dan diandalkan Ibnu Abdil Wahhab sebagai hujjah dalam menvonis musyrik kaum Muslimin! Seperti akan kami jelaskan nanti.

Jika kalian berkata: Lebih baik kita menjauhkan diri dari mpraktik tawassul sebab ia mengandun syubhat dan masih diperselisihkan.

Mereka menjawab: Akan lebih baik juga menjauhkan diri dari mengafirkan kaum Muslimin dan mengutamakan kaum Kafir Quraisy atas kaum Muslimin yang mengesakan Allah, sebab batas yang disepakati pada kaum Muslimin adalah keislaman bukan kemusyrikan, maka janganlah kita meningalkan yang pasti dan berpaling mengambil yang tidak pasti!

Jika kalian berkata: Kita perlu berkeras-karas agar mereka tidak teledor dan dapat menemukan ajaran Islam yang benar dan terhindar dari bid’ah dan khurafat seperti itu.

Mereka menjawab: Berkeras-keras membidas doktrin dan kesalahan ajaran kalian juga perlu agar kaum awam tidak tertipu oleh doktrin pengafiran yang kalian sebar-luaskan yang mendorong mereka untuk mengafirkan dan menghalalkan darah-darah dan harta-harta kaum Msulimin!

Jika kalian berkata: Mari kita kembali kepada Al Qur’an dan Sunnah untuk bertahkim kedapanya dan meninggalkan bertaqlid…

Mereka menjawab: Ini yang kami nanti sejak awal namun kalian mengelak. Kalian baru mau menyadari bahaya pengafiran setelah tumbuh di tengah-tengah kalian generasi yang ternyata menudingkan senjata pengafiran itu ke hidung-hidung kalian, sa’at itulah kalian sadar dan membela diri dari pengafiran generasi muda Wahhabi penuh semangat (hasil doktrin Takfir ala Ibnu Abdil Wahhab) dengan mengemukakan beberapa dalil yang dahulu dan hingga sekarang kami ajukan untuk membela diri kami dari tudingan kemusyrikan yang kalian tuduhkan! Kini kalian mengakui sebagian bukti kami.

Satu Bukti Baru Kedangkalan Imam Besar Wahhabi; Ibnu Abdil Wahhab dalam Ilmu Hadis

Dalam kitab Tauhid-nya, Ibnu Abdil Wahhab menulis sebuah bab dengan judul:

في باب : {فَلَمَّا آتاهُما صالِحاً جَعَلا لَهُ شُرَكاءَ فيما آتاهُما}

Bab “Tatkala Allah memberi kepada keduanya seorang anak yang sempurna, maka keduanya menjadikan sekutu bagi Allah terhadap anak yang telah dianugerahkan-Nya kepada keduanya itu.”

Pada bab itu ia menukil pernyataan Ibnu Hazm yang menekankan bahwa menamakan anak dengan nama yang mengandung penghambaan kepada selain Allah itu adalah syirik, seperti nama Abdu ‘Amr (hamba ‘Amr), Abdul Ka’bah (hamba Ka’bah) dan semisalnya.

Kemudian ia menyebutkan sebuah kisah yan mencoreng kesucian dan kema’shuman Nabi Adam dan Hawwa istrinya. Ia menuduh keduanya telah menyekutukan Allah SWT. Iblis merayu Adam dan Hawwa agar menamai anak mereka dengan nama Abdul Hârits, tetapi keduanya menolak rayuan itu. Iblis pun terus menerus merayunya sehingga setelah berkali-kali kematian anak mereka segera setelah lahir, mereka setuju dengan permintaan Iblis untuk menamai anak mereka dengan nama Abdul Hârits demi kecintaan mereka kepada putra mereka yan baru saja lahir. Apa yang dilakukan Adam dan Hawwa adalah yang dimaksud dengan firman Allah SWT.: “… maka keduanya menjadikan sekutu bagi Allah terhadap anak yang telah dianugerahkan-Nya kepada keduanya itu.” (QS. Al A’raf [7]: 190).

(Hadis riwayat Ibnu Abi Hâtim) (baca Kitab at Tauhid –dengan syarah Fathu al Majîd oleh Syeikh Abdur Rahman Âlu Syeikh-: 444. Dar al Kotob)

Hadis/riwayat di atas adalah hadis palsu yang kebatilannya telah nyata bagi pelajar pemula dalam ilmu hadis.

Pada kesempatan ini saya akan membuktikan kepalsuannya dari pernyataan Ibnu Hazm –yang tak hentin-hentinya dikultuskan dan dibanggakan kaum Wahhabi, bahkan oleh Ibnu Abdil Wahhab sendiri termasuk dalam bab ini-. Ibnu Hazm berkata:

Kemusyrikan yang mereka nisbatkan kepada Adam bahwa beliau menamai anaknya dengan nama Abdul Hârits adalah kisah khurafat, maudhûah/palsu dan makdzûbah/kebohongan, produk orang yang tidak beragama dan tidak punya rasa malu. Sanadnya sama sekali tidak shahih. Ayat itu turun untuk kaum Musryikin. (Baca Fathu al Majîd Syarah kitab at Tauhid:442).

Kisah itu kendati diatas namakan Ibnu Abbas ra. akan tetapi dapat dipastikan bahwa ia adalah hasil bualan kaum Ahli Kitab (Yahudi&Nashrani).

Coba Anda renungkan baik-baik, bagaimana Syeikh Ibnu Abdil Wahhab dalam kitab at Tauhid yang kecil itu yang ia karang untuk menetapkan hak Allah atas hamba-hamba-Nya, ternyata ia hanya mampu menegakkan konsep Tauhidnya di atas pondasi hadis palsu. Inilah kadar ilmu Imam Wahhabi yang dibanggakan para pemujanya sebagai sang Imam yang akan mengawal perjalanan ajaran Tauhid Murni dari kemusyrikan! Dan yang akan membentengi Tauhid dari mekusyrikan!

Subhanallah, kalau ternyata kemampuan ilmu dan penguasan disiplis ilmu Hadis Imam mereka sedangkal itu, apa bayangan kita kadar ilmu murid-murid dan para pengikutnya. Atau boleh jadi sekarang pengikutnya lebih pandai dari imamnya! Sebab mereka hidup di era dan zaman yang berbeda dengan zaman Syeikh Ibnu Abdul Wahhab … di mana keterbukaan informasi sudah sedemikian rupa…. mereka pasti memiliki kesempatan menghimpun banyak informasi dan ilmu pengetahuan lebih dari para pendahulunya, apalagi setelah kekayaan umat Islam mereka kuasai … hanya saja yang tetap mencerminkan keterbelakangan dan ketertingalan adalah cara berpikir mereka …. masih tetap seperti zaman padang pasir gersang Najd tiga abad silam ketika awal Syeikh Ibnu Abdil Wahhab pertama kali memecah keheningan dunia Islam, khususnya negeri Hijâz dengan pekikan seruannya yang memporak-pondakan kesatuan umat Islam dan membuat kaum Muslimin tersibukkan oleh hujatan-hujatan murahan Syeikh dari mempertahankan tanah air kaum Muslimin dari gerombolan srigala buas dari natah Eropa yang datang mencabik-cabik kekuatan umat Islam dan menancapkan kuku-kuku penjajahan mereka.

Iklan

6 Tanggapan

  1. Assalamualaikum,

    Aduh mas ko bodo banget sih, Syeikh Muhammad Ibn Abdul Wahab itu punya ijazah untuk meriwayatkankan hadist dari Syeih Hayat As Sindi yang mentakrij sunan At Tirmidzi. Tentu saja dia seorang muhaddist.
    Meriwayatkan hadist dhoif itu biasa ada disetiap imam mas. Imam Syafii meriwayatkan hadist tentang Qunut pada sholat subuh.
    Bagaimana mas menyebut Syeikh Muhammad Ibn Abdul Wahab ga ngerti hadist sementara mas menempelkan gambar makhluk di Avatar mas sementara imam Bukhari meriwayatkan larangan menggambar makhluk.
    Imam Muhammad ibn Wahab memang punya kesalahan. Kesalahan terbesarnya sebenarnya adalah pada kata2x tidak adanya uzur bagi pelaku syirik yang tidak tahu. tetapi perbuatan menyembah kuburan itu sendiri ga bisa dibenarkan. Sholat dan menjadikan kuburan mesjid aja dilarang klo antum baca hadist Bukhari.

    ___________
    -Abu Salafy-

    Jika Anda kebetaran dengan apa yang saya buktikan, Anda bisa menambah lagi bukti baru dalam artikel terbaru saya: Imam Besar Wahhabi Pamer Kebodohan Dalam Ilmu Hadis!… Di sini bukti diperlukan mas.bukan sekedar kata-kata.

    Masalah Takfir Ibnu Abdil Wahhab seperti yang saya sebutkan dan Anda akui sebagai kesalahan, Kesalahan terbesarnya sebenarnya adalah pada kata2x tidak adanya uzur bagi pelaku syirik yang tidak tahu.
    Adapun tuduhan menyembah kuburan bagi peziarah atau yang bertawassul di hadapan makam seorang Nabi atau wali adalah tuduhan palsu dan kepalsuan yang dibuat-buat serta kesalahan dalam memahami permasalahan.

  2. komentar saya “IDEM” dg bahasan sebelumnya tapi dalam hal ini kamu masih punya hutang penjelasan pada saya:
    1. Membongkar kebodohan imam hadis
    2. Membongkar kebodohan Para Tabi’in
    3. Penjelasan dari AL ALAMAH AL MUSNID AL HABIB ALAWY ALMALIKI ALHASANI nya mana???? Apa cuma bisa mimpin baca maulud dan ratib aja???

    Tapi kalau gak ada ya gak apa2 karena SPESIES jenis ini saya tahu model dan omongannya. atau sekalian aja dari ulama syiah rafidhah dan syiah2 yang lain juga gak apa2? atau dari orang nasrani atau yahudi juga boleh.

    ___________
    -Abu Salafy-

    Wan benthaleb, marah-marah itu tidak baik buat kesehatan jiwa anda…. Jadi Anda perlu perbanyak tafakkur, merenung akan kekurangan dan kesalahan Anda. Bersihkan hati dari kedengkian, kebencian dan su’udzdzan kepada hamba Allah.

    Dengan apa yang anda tulis anda hanya menambah daftar panjang orang-orang yang sakit hati kepada kebenaran….
    Semua dimusuhi, Ahlusunnah dibilang mu’aththilah, Syi’ah (pecinta & pengikut Ahlul Bait) disebut Rafidhah dll.
    Pokoknya yang Ahlusunnah hanya Wahhabi! Yang selamat di ahirat hanya Wahhabi!
    Baca saja data-data akurat yang saya sajikan membonbgkar kesalahan Imam Besar kamu!

  3. Klau menilik gaya pak abu ini mirip…rip sama syiah dan saya juga yakin bahwa pak abu ini seorang syi’ii, tapi mungkin gak mau ngaku dg berdasarkan taqiyyah yang menurut mereka ibadah.

    ______________
    -Abu Salafy-

    Lagu lama kaum lemah!

  4. Ngakak abis****

    berarti Kanjeng Nabi SAW wal sahabat R.A. yang tidak berfahaman wahabi masuk NELAKA ya?

    wahabi bilang Tuhan duduk – Rabbu Jalasa
    wahai wong wahabi kapan berdirinya, kapan berbaringnya, kapan jeh?

  5. Bismillahirahmaanirrahiim

    Sebelumnya aku memohon ampun kepada Allah jika nantinya pada tulisanku ini terdapat kesalahan-kesalahan yang tidak saya ketahui. Bagi pembaca saya persilakan untuk mengkritik kesalahan saya.

    Beberapa waktu lalu saya membaca sebuah blog milik AbuSalafy yang mengatakan bahwa kitab KASYFU SYUBUHAT merupakan kitab yang syarat dengan pengkafiran terhadap kaum muslimin. Kitab ini merupakan kitab karangan syaikh Muhammad Bin Abdul Wahhab.

    Dalam blog salafy disebutkan sebagai berikut :

    Kitab Kasyfu asy-Sybubuhât adalah sarat dengan doktrin pengafiran atas kaum Muslimin selain kelompok Wahhabi (yang tunduk menerima ajakan Syeikh Ibnu Abdil Wahhâb). Ia telah mengkategorikan banyak hal yang bukan syirik ke dalam daftar kesyirikan! Dan atas dasar itu ia mengafirkan dan menvonis musyrik selain kelompoknya.

    Dalam buku kecil itu, Ibnu Abdil Wahhâb telah menyebut umat Islam, seluruh umat Islam, baik awam maupun ulamanya dari berbagai mazhab dan golongan selain kelompoknya dengan sebutan musyrikan tidak kurang dari dua puluh empat kali. Sementara itu, lebih dari dua puluh lima kali ia menyebut kaum Muslimin dengan sebutan yang sangat keji dan kotor.

    Komentar Saya ,

    Semoga AbuSalafy diberi petunjuk oleh Allah mengenai kesalahannya ini, Saya juga menyarankan AbuSalafy untuk membaca buku itu sekali lagi dengan cermat, dengan membaca setiap penjelasan dari setiap pernyataan yang ada dan kalu perlu silakan baca buku-buk syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab yang lain sehingga AbuSalafy bisa lebih memahami apa yang dimaksud Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab.

    Saya disini mengasumsikan bahwa AbuSalafy telah membaca buku Kaysfu Syubuhat, saya juga membaca buku syarah Kasyfu Syubuhat karangan syaikh Utsaimin yang merupakan penjelas dari kita Kasyfu Syubuhat .

    Ketika syaikh Utsaimin menjelaskan mengenai perkataan syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab “ketahuilah bahwa tauhid adalah …..” – yang merupakan pernyataan syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab yang pertama-tama dalam kitabnya – dengan mendefinisikan tentang ilmu dan tingkatan-tingkatannya. Ini sangat penting karena masalah ilmu ini akan menentukan bagaimana kaidah pengkafiran. Suatu pengkafiran adalah yang sangat berat bahkan Rasulullah menyatakan barang siapa menuduh kafir sauadaranya dan ternyata saudaranya tidaklah akfir maka kekafiran itu akan kembali kepadanya.

    Saya juga sudah menuliskan panjang lebar mengenai kaidah pengkafiran ini dalam kesempatan sebelumnya yang bisa saudara baca di http://abuhasanmustofa.blogspot.com/2007/11/sebuah-pra-kata-sebelum-memulai-segala.html

    Syaikh Utsaimin dalam kitab Syarah Kasyfu Syubuhat mengatakan

    “ Tuduhan bahwa kami mengkafirkan secara umum, mewajibkan orang yang mampu menampakkan agama kepada kami, atau mengkafirkan orang yang tidak mau mengkafirkan (seseorang yang layak dikafirkan) dan orang yang tidak mau berperang semuanya merupakan kebohongan dan hanya akan menghalangi manusia menaati agama Allah dan Rasulnya.

    Jika kami tidak mengkafirkan orang-orang yang menyembah patung yang ada di kuburan Aldul Qadir dan Ahmad Al Badawi atau kuburan lainnya karena ketidaktahuan mereka atau tidak adanya orang yang memberi peringatan kepada meraka, maka bagaimana mungkin kami mengkafirkan orang yang tidak menyekutukan Allah akan tetapi tidak berhijrah kepada kami, atau orang yang tidak mau mengkafikran (orang yang layak dikafirkan) atau tidak mau berperang ?”

    Syaikh Utsaimin menjelaskan banyak dalam masalah pengkafiran ini kemudian beliau menyatakan

    ”Memang benar, kita mendapati ulama salaf dan para imam mengkafirkan seseorang yang menyatakan begitu dan begitu. Akan tetapi mereka menetapkan secara global, bukan secara orang per orang. Jadi kita harus membedakan antara pengkafiran secara global dan orang per orang.

    Pengkafiran merupakan suatu ancaman, meskipun terkadang ucapan seseorang kadang mendustakan Rasulullah, tetapi bisa jadi orang tersebut baru masuk islam, atau tinggal di Negara yang jauh dari dakwah islam. Olek karena itu orang semacam ini tidak boleh dikafirkan karena ucapannya sebelum dia tahu mana yang benar dan mana yang salah. Atau boleh jadi orang tersebut belum mendengar dalil-dalilnya, atau dia telah mendengar akan tetapi dalil tersebut tidak kuat menurutnya, atau dia membantah dalil tersebut dengan alasan-alasan yang mengharuskan dia mentakwilnya, sekalipun mungkin salah”

    Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab mengatakan :

    “Pendapat orang bahwa saya mengkafirkan secara umum adalah termasuk kedustaan para musuh yang menghalangi manusia dari agama ini, kita katakan : Maha Suci Engkau Allôh, ini adalah kedustaan besar”. (Ad Durarus Saniyyah, jilid 1, hal: 100)

    “Mereka menisbatkan kepada kami berbagai macam kedustaan, fitnah pun semakin besar dengan mengerahkan terhadap mereka pasukan syetan yang berkuda maupun yang berjalan kaki. Mereka menebarkan berita bohong yang seorang yang masih mempunyai akal merasa malu untuk sekedar menceritakannya apalagi sampai tertipu. Diantaranya apa yang mereka katakan bahwa aku mengkafirkan semua manusia kecuali yang mengikutiku dan pernikahan mereka tidak sah. Sungguh suatu keanehan, bagaimana mungkin perkataan ini bisa masuk kedalam pikiran orang waras. Dan apakah seorang muslim akan mengatakan seperti ini? Aku berlepas diri kepada Allôh dari perkataan ini, yang tidak bersumber kecuali dari orang yang berpikiran rusak dan hilang kesadarannya. Semoga Allôh memerangi orang-orang yang mempunyai maksud-maksud yang batil”. (Ad Durarus Saniyyah, jilid 1, hal 80)

    “Aku hanya mengkafirkan orang yang telah mengetahui agama Rasūlullâh Shallâllâhu ‘alaihi wa Sallam kemudian setelah dia mengetahuinya lantas mengejeknya, melarang manusia dari memeluk agama tersebut dan memusuhi orang yang berpegang dengannya. Tetapi kebanyakan umat –alhamdulillâh- tidaklah seperti itu”. (Ad Durarus Saniyyah : 1/73)

    ________________
    -abusalafy-

    Salam,
    Silahkan melihat jawaban kami disini: Buat Abu Hasan al-Atsary

  6. hai kafir
    hai muslim
    hai kafir muslim

    lho koq…………………………….?????

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s