Pro Dan Kontra Hadis 73 Firqah! (2)

Pro Dan Kontra Hadis 73 Firqah (2)

3) Hadis ini, khususnya versi dengan tambahan yang menjadi pegangan kaum Mujassimah (yang meyakini Allah berpostur seperti makhluk) dan kaum Nawâshib (Pembenci keluarga Rasulullah saw.) yaitu dengan tambahan;

كلهم في النار إلا واحدة

“Semua di neraka kecuali satu kelompok saja.”

Hadis dengan versi di atas bertentangan dengan hadis-hadis lain yang sangat banyak jumlahnya yang menegaskan bahwa siapa yang bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad saw. adalah Rasul utusan Allah, maka tetap baginya surga walaupun ia harus melalui proses siksa kerena dosa yang pernah ia lakukan di dunia. Di antara hadis-hadis tersebut adalah hadis yang diriwayatkan Imam Bukhari dalam Shahih-nya.

إنَّ الله قد حرَّم على النار من قال لا إله إلا الله يبتغي بذلك وجه الله

“Sesungguhnya Allah mengharamkan neraka menyentuh orang yang berkata,‘Tiada Tuhan selain Allah’ dengan tulus, tidak mengharap selain kerelaan Allah.” [1]

Dan dalam redaksi Imam Muslim dalam Shahih-nya , 1/63 :

لا يشهد أحد أن لا إله إلا الله وأني رسول الله فيدخل النار أو تطعمه.

“Tiada seorang bersaksi bahwa Tiada Tuhan selain Allah dan Aku adalah Rasul utusan Allah, lalu ia masuk neraka atau dilalap api nereka.”

Firqah yang berbeda-beda itu tidak banyak yang dapat dengan pasti dihukumi telah kafir akibat bid’ah yang diyakininya, adapun mayorits dari firqah-firqah itu, seperti Mu’tazilah dan lainnya, tidak dapat dihukumi kafir dan keluar dari Islam akibat perbedaan yang ada, seperti yang dipaksakan oleh sebagian orang yang cupet dan sempit wawasannya! Lalu bagaimana mereka divonis masuk neraka?! Karenanya, sebagian ulama kita, seperti Imam al-Baihaqi dan lainnya menukil ijmâ’ para imam dari kalangan Salaf dan Khalaf bahwa dibolehkan shalat bermakmum di belakang seorang beraliran Mu’tazilah, begitu juga shah pernikahan dengan mereka dan berlaku bagi mereka hukum waris Islami. [2]

4) Matan hadis berpecahnya umat Islam menjadi 73 firqah ini mudhtharib, kacau. Dalam sebagian jalurnya disebutkan demikian:

ألا وإنَّ هذه الأمة ستتفرق على ثلاث وسبعين فرقة في الأهواء

“Ketahuilah, bahwa sesungguhnya umat ini akan berpecah menjadi 73 firqah dalam hawa nafsu.” (HR. Ibnu Abi ‘Ashim: 69).

Dalam sebagiannya:

فواحدة في الجنة واثنتان وسبعون في النار

“… maka yang satu masuk surga dan 72 lainnya di neraka.” (HR. Ibnu Abi ‘Ashim:63

pada sebagiannya:

لم ينج منها إلا ثلاث

“… Tidak ada yang selamat keculai tiga fiqrah.” (HR. Ibnu Abi ‘Ashim:71)

pada sebagiannya:

كلها في النار إلا السواد الأعظم

“… semua di neraka kecuali as-Sawâd al A’dzam (mayoritas).” (HR. Ibnu Abi ‘Ashim:68)

dan dalam riwayat Ibnu Hibbân,15/125:

إنَّ اليهود افترقت على إحدى وسبعين فرقة أو اثنتين وسبعين فرقة والنصارى على مثل ذلك.

“Sesungguhnya kaum Yahud berpecah menjadi 71 firqah atau 72 firqah, dam kaum Nashrani juga seperti itu.”

Semantara sebagian lainnya mempermaikan lebih lagi redaksi hadis itu dengan menambahkan pada akhirnya kalimat:

من أخبثها الشيعة

“Yang paling jelek adalah Syi’ah.”

Sementara lainnya menambahkan:

شرهم الذين يقيسون الأمور بآرائهم

“… Yang paling jehat adalah mereka yang mengiaskan perkara dengan pendapat pribadi mereka.”Sebagai kecaman yang mereka tujukan kepada para pengikut Imam Abu Hanifah.

Dalam sebagian riwayat lainnya:

كلهم في الجنة إلا القدرية

“Semuanya masuk surga kecuali Qadariyah.”

Dalam sebagian riwayat lainnya:

إلا الزنادقة

“Kecuali kaum Zindiq.”Demikianlah seterusnya!! Semua itu adalah kepalsuan dan kebohongan semata atas Nabi Mulia Muhammad saw.

Jika Anda cermati redaksi-redaksi seperti di atas itu, pasti Anda dapat mengerti dari mana datangnya hadis-hadis seperti itu, dan di pabrik mana diproduksi.

5) Dan pada sebagian redaksinya, seperti dalam riwayat at-Turmudzi dalam Sunan-nya,5/26 dari Abdullah bin ‘Amr disebutkan:

كلهم في النار إلا ملة واحدة ، قالوا ومن هي يا رسول الله قال : ما أنا عليه وأصحابي

“Semuanya masuk neraka, kecuali satu millah. Mereka bertanya, ‘Siapakah mereka itu wahai Rasulullah?’ beliau menjawab, ‘Yaitu apa yang aku dan para sahabatku berada di atasnya.” [3]

Dan dalam riwayatkan lain:

ما عليه الجماعة.

“Yaitu apa yang dijalani oleh jama’ah.”Ucapan di atas adalah ucapan batil dari banyak sisi:

Dari sisi sanad, semuanya lemah, dha’if, seperti telah disebutkan sebelumnya.

Redaksi: ‘Yaitu apa yang aku dan para sahabatku berada di atasnya”. Tidak mungkin disabdakan oleh Nabi mulia saw. dengan banyak alasan, kami hanya akan sebutkan satu saja darinya: Sesungguhnya para sahabat telah berpecah di masa kekhalifahan Khalifah keempat, Sayyidina Ali –Karramallahu wajhahu– menjadi tiga kelompok; satu kelompok mendukung Sayyidina Ali, yaitu kelompok yang berada di atas haq berdasarkan nash-nash yang shahih dan tegas. Kelompok kedua, tidak mendukung Sayyidina Ali; Khalifah keempat, tetapi mereka juga tidak mendukung yang memerangi Sayyidina Ali ra., sebagian anasir kelompok di kemudian hari menyesali sikap pasifnya. Dan ketiga, adalah kelompok yang bergabung bersama Mu’awiyah pemimpin kaum pemberontak yang memerangi Khalifah yang sah. Kelompok ini adalah kelompok bâghiyah yang terkecam berdasarkan riwayat Imam Bukhari dalam Shahih-nya:1/541 dan 6/30 dan Imam Muslim dalam Shahih-nya: 4/2235 hadis 2915.

Nabi saw. bersabda:

عمــار تقتله الفئة الباغية يدعوهم إلى الجنة ويدعونه إلى النار

“Ammâr akan dibunuh oleh fi’ah (kelompok) Bâghiyah (yang memberontak tanpa dasar syar’i). Ammâr mengajak mereka menuju surga tetapi mereka mengajak Ammâr menuju neraka.” (HR. Bukhari) [4]

Jadi berdasarkan hadis berpecahnya umat menjadi 73 firqah dengan tambahan bahwa yang selamat adalah: ‘Yaitu apa yang aku dan para sahabatku berada di atasnya.’ Dengan kelompok sahabat yang mana yang dipastikan selamat oleh hadis itu?!

Kami perlu katakan di sini, bahwa hadis berpecahnya umat menjadi 73 firqah inilah yang memicu sikap-sikap permusuhan di antara umat Islam, sehingga mareka saling menjauh dan berkeyakinan bahwa kelompok yang berbeda dengannya adalah ahli nereka. Hadis-hadis itu adalah batil, dan tangan-tangan jahat bani Umayyah berperan dalam mengukir kepalsuan itu!

Kami tidak mengingkari bahwa telah terjadi perpecahan di tengah-tengah umat ini dan telah mermunculan firqah-firqah yang saling bertentangan. Akan tetapi kami tidak setuju dengan penyebutan bilangan dan menghitungnya menjadi 73 firqah. Dan kami mengingkari klaim bahwa surga hanya menjadi monopoli satu firqah saja, selainnya adalah penghuni nereka jahannam!

Ini semua, akan memperkeruh perselisihan dan mempertajam perbedaan, sebab semua akan masuk nereka yang masuk surga hanya satu!! Sekali lagi, poin ini yang kami tolak!

(Besambung)

_____________________

CATATAN KAKI

[1] Baca Fathu al-Bari. 3/81 hadis no. 1186

[2] Baca: Mughni al Muhtâj,4/135.

[3] Sunan at-Turmudzi

[4] Dalam hadis di atas, Nabi saw. menyebut kelompok Mu’awiyah sebagai kelompok yang menganjurkan kepada api neraka! Lalu mungkinkah kelompok ini yang akan dijamin masuk surga dan yang dibanggakan Nabi saw. dalam riwayat: ‘Yaitu apa yang aku dan para sahabatku berada di atasnya

9 Tanggapan

  1. Assalamu ‘alaikum wr. wb.

    Kita memahami bahwa hadits itu ada, tetapi jangan kita pergunakan sebagai klaim. Tetapi seharusnya kita semua menjadi lebih waspada, dan bersyukur bahwa Nabi kita, Nabi Muhammad SAW, telah jauh-jauh hari mengingatkan kita semua.

    Sehingga kita seharusnya lebih memberikan perhatian untuk menjauhi perkara itu, dan juga meningkatkan saling mengingatkan di antara kaum muslimin. Sehingga kita semua menjadi bagian yang selamat itu. Dalam hal ini, maka kita perlu tingkatkan risau, pikir, dan berbagi dengan kaum muslimin.

    Dan bagi kita perlu tinggalkan perkara-perkara yang dapat meningkatkan perkara perpecahan itu sendiri, seperti kedengkian, sombong, meremehkan kaum muslimin lainnya, memanggil dengan panggilan kasar, menyebut dengan panggilan-panggilan tidak hormat, dsb. Sehingga kita akan lebih waspada terhadap hal itu.

    _________
    abusalafy:

    Setuju!! Kita harus menjauhkan umat Islam dari benih-benih perpecahan dan perseteruan. Harus saling menghormati dan tidak gegabah menuduh kelompok lain sebagai sesat apalagi kafir!

  2. Sungguh, bukan Islam kita tapi IslamNya

    Assalamu alaikum……….
    Salam kenal Pak Abu.

    Maaf sebelumnya untuk semua.
    Saat kita menulis komen di blog ini, maka benarkah semua yang kita utarakan adalah terlahir dari jiwa seorang yang benar benar muslim. Sebenarnya tolok ukur apa yang kita jadikan sandaran pembenaran pendapat yang kita sampaikan.

    Saya mungkin percaya seratus persen bahwa sampean sampean yang bicara mengenai Islam di blog ini baik yang mengaku salafy, kholafy, sunni, taimy, syiah, muhammadiah, NU,asyariyyah, muktazilah dan masih banyak lagi yang tidak dapat disebut satu persatu semuanya adalah orang orang ahli LaiIlaahaIllAlloh. Akan tetapi sadarkah kita bahwa predikat tersebut semata mata hanyalah pengakuan subyektif dari kita terhadap nilai setatus yang kebetulan nempel pada diri kita masing masing.

    Apa hanya karena kita telah bersyahadat dan menjalankan tuntunan syariat maka kita puas bahkan bangga menyebut diri kita sebagai muslim. Padahal kita semua sadar bahwa apa yang kita yakini tentang hal ihwal keislaman hanyalah cerita yang tak ubahnya seperti sebuah dongeng yang banyak kita dengar dari orang orang terdahulu sebelum kita.

    Pada lain sisi, betapa naifnya kita yang justru ngotot bahwa Islam memang harus kita yakini sebagai sebuah kebenaran dengan alasan alasan yang kita kemukakan yang sepertinya juga sudah benar. Sebut saja misalnya, kita mengaku telah memiliki iman yang kuat dan kokoh atau kita mengaku telah mendapat hidayah dari Allah dan lain sebagainya, sehingga karena semua itulah kemudian kita rela dan puas menganut apa apa yang diajarkan oleh Islam.

    Lalu tidakkah keberadaan iman yang kokoh itupun juga hanya kita sendiri yang menilainya. Siapa yang bisa menjamin bahwa apa yang kita anggap sebagai iman tersebut adalah benar benar iman yang sesungguhnya. Paling paling kita hanya bisa membenarkan nilai keimanan kita secara berjamaah karena dalam poin atau pasal pasal tertentu secara kebetulan kita sependapat dengan kebanyakan orang yang kebetulan jadi kelompok kita. Padahal di sisi lain kita tahu dan tak bisa mengelak bahwa banyak sekali kelompok lain yang ternyata tidak sependapat dengan kita dalam banyak hal.

    Lalu pantaskah jika kita kemudian menyalahkan mereka hanya karena mereka tak sependapat dengan kita. Dan pantas pulakah kalo kita menganggap bahwa diri kitalah yang paling benar dibandingkan dengan diri atau kelompok orang lain. Jika memang diri kita yang paling benar, maka haruskah kita mencari seribu alasan agar kita bisa menyalahkan orang lain. Tidakkah seharusnya kita cukup memberikan gambaran penjelasan yang benar benar obyektif sehingga bisa dimengerti dan diterima oleh sumua orang.

    Kita semua sepakat bahwa tak ada sumber kebenaran yang paling sohih di muka bumi ini selain daripada AlQur’an dan AlHadits. Namun demikian, adalah hal yang sangat naïf jika kita kemudian menggunakan AlQur’an dan AlHadits sebagai alat untuk membenarkan pendapat diri kita sendiri tentunya. Apalagi jika dalam mengungkapan pembenaran tersebut justru pihak lain ada yang merasa terhina, tersalahkan bahkan terkafirkan oleh kita. Padahal ternyata kita pun tahu bahwa orang lain yang kita anggap salah adalah orang orang yang semata mata hanya memiliki perbedaan pemahaman teori metodologis tentang suatu ajaran dalam agama kita, sedangkan dalam hal yang bersifat ideologis kita dan mereka semua berada pada keyakinan yang satu yaitu sama sama menganggap Allah dan Muhammad sebagai Tuhan dan Rosul.

    Maha Suci Allah yang sudah pasti tidak mungkin sengaja menjadikan para hambanya berada dalam kebingungan, perselisihan, apa lagi perpecah-belahan. Allah bersumpah bahwa keberadaan alam semesta ini dibuatNya dalam keadaan yang aman sentaosa. Begitupun manusia sebagai penghuninya diciptakan dalam bentuk yang sesempurnanya bentuk. Dengan kata lain tak ada kejelekan, keburukan maupun kesalahan penciptaan sedikitpun atas diri manusia. Maka dari itu jikalau ada nampak oleh kita sebuah keburukan boleh jadi itu disebabkan karena dua hal. Pertama, manusianya sendiri yang tidak dapat memahami hakikat kebaikan atau kebenaran sesuatu yang sedang dilihatnya. Dan yang kedua keburukan bisa saja terjadi karena perbuatan manusianya sendiri, sedangkan Allah dengan kehendakNya, sekedar menuruti setiap apa yang diinginkan para manusia dengan menyertakana dampak maupun resiko yang telah digariskanNya.

    Sebagai muslim sejati, kita harus yakin bahwa jikalau adanya perbedaan ini memang sengaja diciptakan Allah, tentunya Allah tidak punya rencana jelek yaitu sengaja membuat agar di antara manusia ada yang saling hujat dan salin bermusuhan. Dalam banyak firmanNya Allah selalu mengatakann bahwa Dia memang menguji manusia antara yang satu dengan yang lain dengan segala bentuk ujian yang dikehendakiNya. Baik dan buruk yang tampak di depan mata kita semata mata hanyalah alat pembanding bagi manusia yang mau berpikir. Selanjutnya manusia hanya dibolehkan untuk sepenuhnya berserah diri. Allah tidak pernah memberi wewenang kepada manusia hingga manusia dapat mengatur apalagi menciptakan kebaikan dan atau keburukan dengan kekuatan atau kemampuan manusia sendiri. Semua telah ditentukan berdasarkan pertimbangan keputusan yang seadil adilnya sehingga manusia hanya perlu mengikutinya.

    Tidaklah perlu bagi kita untuk mengatakan benar dan salah apalagi sampai ngotot agar orang lain mau mengakui apa yang kita ungkapkan. Ini adalah kenaifan yang akan menjerumuskan diri kita sendiri. Kita manusia hanya perlu menilai baik dan buruk sebagai pelajaran dan bahan perbandingan untuk menata diri dalam menyikapi sesuatu hal namun tetap yakin bahwa hanya Allah lah yang tahu akan rencana dari segala apa yang dikehendakiNya. Bahkan Nabi sekalipun tidak diberi wewenang untuk mengawasi, menilai dan memvonis mana yang benar dan mana yang salah di mata Allah.. Nabi hanya diberi tugas menyampaikan risalah sebagai petunjuk bagi orang orang yang percaya pada beliau, serta memberi peringatan kepada orang orang yang mengingkarinya. Semua manusia akan dinilai oleh Allah secara langsung melalui para malaikatNya dan selanjutnya terserah Allah sendiri lah yang akan menentukan kebenaran, keburukan, kebahagiaan dan kesusahan yang dialami setiap manusia.

    Karena alasan itu semua setidaknya kita dapat menarik kesimpulan, bahwa di dalam menyikapi fenomena banyaknya perbedaan pemahaman dalam islam yang sepertinya mustahil bisa dipersatukan, yang harus dilakukan bukanlah mencari alasan untuk membenarkan diri kita masing masing. Akan tetapi jauh akan lebih baik jika kita mencermati dan menela’ah perbedaan yang nampak di depan mata kita tersebut dengan perasaan yang jernih dengan pertimbangan selalu mencari sisi baik yang harus kita ikuti dan sebaliknya, lalu kemudian segala sesuatunya kita serahkan kembali kepada Allah.

    Indikasi dari kebenaran dan atau kesalahan yang kita tempuh serta kita jalani, secara otomatis akan diterjemahkan oleh hukum keadilan Allah yang telah diterapkan sejak dari dulu sampai kapanpun. Hukum yang dimaksud adalah “ jikalau benar kita telah bersungguh sungguh dalam berserah diri pada Allah, sudah pasti kita akan berada pada sebuah keadaan yang diliputi kedamaian, ketentraman, kemaslahatan dan kemanfaatan yang telah dikodratkanNya untuk kita “. Dan sebaliknya “ jika kita berada pada sebuah keadaan yang diwarnai perselisihan atau eyel eyelan, perpecahan bahkan permusuhan, maka sudah pasti itu terjadi karena kita sedang menuruti perasaan nafsu kita sendiri dimana sudah pasti pula akan membawa dampak resiko yang harus kita tanggung kelak di kemudian hari “.

    Tidaklah perlu bahkan sia sia kita membela predikat Iman, Islam apalagi cuma sekedar cap cap kelompok yang kita sukai sekehendak kita masing masing seperti salafy, sunni, syi’ah, wahaby, taimy, ghozaliyyi, NU dan lain sebagainya. Kebenaran atas semua itu bukanlah milik kita melainkan mutlak hanya milikNya. Kita hanya boleh mengaku bahwa Allah sedang meminjamkan segala kebaikan dan kebenaran pada kita disertai tugas yang sangat berat yaitu menjaga agar kebenaran dan kebaikan yang ada pada diri kita tersebut tidak kita kotori dengan nafsu seperti kesombongan, penghinaan, pengkafiran dan sebagainya yang justru memicu adanya perselisihan, permusuhan dan perpecah belahan yang semuanya justru bertolak dengan nilai kebenaran itu sendiri.

    Jangankan mengukur orang lain, mengukur diri sendiri saja kita tidak mungkin bisa. Beriman atau tidaknya diri kita hanya Allah yang akan menilainya. Islam atau tidaknya kita, juga hanya Allah yang berhak menilai dan mensahkannya. Demikian pula benar atau salahnya diri dan kelompok kita, pun hanya Allah jua lah yang memutuskannya. Tak ada alasan bagi kita bisa atau boleh memberi keputusan terhadap diri sendiri apalagi terhadap orang lain. Jikalaupun kita harus menilai,mengatur dan memberi keputusan terhadap diri bahkan orang lain, maka hal terpenting yang harus kita nilai adalah, bagaimana kita tidak mengatur diri kita maupun orang lain dengan aturan aturan yang kita buat sendiri. Apalagi sampai kita berani menjadikan AlQur’an atau AlHadits sebagai bahan pembuat aturan yang akhirnya kita pakai hanya untuk membenarkan diri kita sendiri. Sudah pasti Allah tidak akan rela dengan semua itu.

    Janganlah kita pernah merasa bahwa diri kita telah banyak memiliki bahkan menguasai ilmu ilmu “addin” hanya karena kita telah tahu banyak tentang isi AlQr’an dan juga Al Hadits. Anggap dan jadikanlah segudang pengalaman dan pengetahuan yang kita miliki seperti pengetahuan tentang AlQur’an dan Hadits semata mata hanya sebagai pembanding disaat kita hendak berfikir dan melakukan banyak hal. Karena tidaklah mustahil setiap saat syetan bisa saja menjerumuskan kita justru dengan menggunakan pengetahuan yang kita miliki sebagai alatnya.

    AlQur’an dan AlHadits tidak akan pernah bisa dipahami dan atau diikuti oleh para “mufassirin” juga “muhadditsin “ dengan hanya mengandalkan pengetahuan pengetahuan teori seperti nahwu, shorof, badi’ bayan, maani, mantiq, balaghoh, asbabunnuzul, mushtolah hadits, musnad, manhaj, ushul fiqh dan lain sebagainya dan lain sebagainya seperti yang banyak disandang oleh orang orang yang mengaku dirinya sebagai ahli Ilmu.

    Tapi sebaliknya makna sunnatulloh dan sunnaturrasul hanya bisa dimengerti dan dirasakan oleh orang orang yang memang telah dipilih dan diberi Ilmu oleh Allah melalui cara cara yang dikehendakiNya tak perduli walau dia hanyalah seorang tukang becak atau kuli panguul sekalipun. Allah memberi hidayah kepada orang orang tersebut karena mereka benar benar bersungguh sungguh dalam memohon atas hidayahNya dengan tetap sepenuhnya berserah diri hanya padaNya. Mereka selalu menyadari betapa bodoh dan tersesatnya dia sehingga setiap saat senantiasa memohon perlindungan agar dijauhkan dari iming iming sejuta pengalaman dan atau pengetahuan yang ditawarkan oleh syetan sebagai perangkap untuk menjerumuskan dirinya.

    Orang orang seperti ini selalu berhati hati dalam bertindak. Mereka benar benar meniru prilaku yang pernah dicontohkan kakek buyutnya yaitu Ibrohim as dan juga Muhammad saw yang tidak pernah sombong dan tidak gegabah dalam menyalahkan, memvonis apalagi melecehkan orang lain walau kepada yang kafir sekalipun karena beliau berdua selalu yakin bahwa boleh jadi mungkin besok, lusa dan atau pada saat tertentu Allah bisa saja berkehendak lain atas dirinya dan atas diri siapa saja.

    Jika ada kebaikan dan kebenaran, mereka hanya mengucap Maha Suci dan Terpujilah Allah karena mereka tak pernah lupa bahwa kebenaran itu milikNya, iman yang ada ini berasal dariNya, Islam yang mereka akui juga punyaNya, predikat yang sedang mereka sandang adalah pinjaman dariNya.

    Dan jikalau ada keburukan dan kesalahan terjadi atau sedang mereka alami, mereka selalu berlindung dan berharap ampunan dariNya karena mereka jujur mengakui bahwa keburukan itu ada karena kesalahan mereka , perselisihan akan ini dan itu terjadi karena ulah mereka yang menuruti nafsu ingin menang sendiri, firqoh dan perpecahan itu muncul karena kesombongannya, bahkan kehancuran islam ini timbul karena jiwa egois dan keangkuhan mereka yang tak dapat terbendung.

    Wa Allahu A’lam, Wassalamu Alaikum

  3. abu salafy
    _____________

    @ayes ngasong

    salam,

    saudara memposting dua tulisan yang sama, karenanya yang satu kami hapus.

    sekian terima kasih dan harap maklum.

  4. salam kenal pak abu,

    assalamu alaikum wr. wb.

    artikel yg bagus. hadis diatas jelas-jelas hadis politik bani umayah,. dari dulu saya dak yakin dengan hadis tersebut.

    hanya kelompok sektarian seperti sekte wahabi dan khawarij yang getol mempercayai hadis-hadis kelompok bughot (bani umayah) seperti itu, untuk menjustifikasi kelompoknyalah yang paling benar.

    syukron pak abu!

  5. lucu banget deh kamu ????????????????

  6. Agak lama saya merenung untuk memahami hadits terpecahnya umat islam menjadi 73 kelompok ini. Saya hanya mampu mengambil kesimpulan sebagaimana yang diambil oleh Imam al-Ghozali, bahwa yang dimaksud di neraka bukanlah untuk selamanya tetapi hanya untuk waktu tertentu sebagai pertanggung jawaban atas dosa dan kekhilafannya. ini kalau yang dimaksud berpecah belah dalam hadits di atas masih disebut umat islam. ( Umat Ijabah ). Adapun kalau yang dimaksud dengan umat secara umum dengan pengertian siapa saja yang hudup sesudah kehadiran Rosulullah Muhammad SAAW., maka sangat wajar kaau 72 di neraka.

    Apapun yang bisa difahami, yang dipaparkan oleh admin disini nampakinya lebih ilmiyah dan sesuai dengan pertimbangan akal dan naqal.

    Semoga menjadi pencerahan bagi umat ini dan bisa merajut kembali ukhuwwah yang selama ini telah terkoyak oleh usaha sebagian orang yang tidak bisa dipertanggung jawabkan.

    Terima kasih ust Abu, semoga Allah memberkahi usaha yang mulia ini.

  7. Semoga hadist perpecahan umat di atas tidak lagi dijadikan pembenaran untuk memproduk perpecahan dikalangan umat islam ini.

  8. Berpecah menjadi 73 golongan semua masuk neraka kecuali satu
    yang berpegang pada al quran dan sunah ku.

    Berarti semua sudah melenceng dan siapapun yang bersatu dan tidak memandang perbedaan lagi dengan kembali kepada al quran dan sunah, itulah yang akan masuk surga.
    Apakah seperti itu?

    Maaf ngrecoki

  9. pro dan kontra itu biasa bung…..tidak usah kaget. mengapa terjadi ? itulah sunnatullah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s