Pro Dan Kontra Hadis Terpecahnya Umat Islam Menjadi 73 Firqah!(1)

Pro Dan Kontra Hadis Terpecahnya Umat Islam Menjadi 73 Firqah!(1)

Demi terealisasinya percek-cokan di antara umat Islam, banyak pihak yang bersemangat menanamkan dalam hati dan pikiran kaum Muslimin dan menghembuskan isu terpecahnya umat Islam menjadi tujuh puluh tiga golongan, sementara yang selamat hanya satu golongan saja. Khususnya setiap kali muncul tanda-tanda menggembirakan adanya kesadaran akan pentingnya perasatuan.

Padahal hadis itu dari sisi sanad maupun kandungannya adalah batil. Hadis inilah di antara yang menyebabkan berjauhannya kelompok-kelompok umat Islam satu dengan lainnya.

Dalam kesempatan ini kami akan terpanggil untuk menguraikan kedudukan hadis ini dari sisi sanad dan matannya dan menjelaskan bahwa tidak semua perbedaan itu terkecam dan tercela dan tidaklah sepatutnya berbedaan dalam furû’ masalah agama menjadikan saling berpecah, bermusuhan dan saling menyesatkan.

Nash hadis tersebut adalah demikian:

افترقت اليهود على إحدى وسبعين فرقة ، وتفرَّقت النصارى على اثنتين وسبعين فرقة وتفترق أمتي على ثلاث وسبعين فرقة.

“Kaum Yahudi terpecah menjadi tujuh puluh satu golongan. Kaum nashrani terpecah menjadi tujuh puluh dua golongan. Dan umatku akan nashrani terpecah menjadi tujuh puluh tiga golongan.[1]

Hadis ini telah diriwayatkan dari berbagai jalur, di bawah ini akan kami sebutkan dengan ringkas berikut komentar tentang kondisi dan statusnya:

(1)   Hadis ini diriwayatkan dari Abu Hurairah secara marfû’. Pada jalurnya terdapat perawi bernama Muhammad ibn ‘Amr ibn ‘Alqamah, ia dha’if/lemah.

Yahya ibn Sa’id dan Imam Malik berkata:

ليس هو ممن تريد

“Ia bukan yang engkau buru.”

Ibnu Hibbân berkata:

يخطىء

“Ia sering salah.”

Yahya ibn Main berkata:

ما زال الناس يتقون حديثه

“Orang-orang senantiasa menjauhi hadisnya.”

Ibnu Sa’id juga berkata:

يُسْتَضْعَف

“Ia dilemahkan.”

(2)   Hadis ini diriwayatkan juga dari Mu’awiyah secara marfû’. Pada sanadnya terdapat Azhar ibn Abdullah al Huzani –gembong Nawâshib yang tak henti-hentinya mencela dan melecehkan Imam Ali ra., selain itu ia banyak cacat dan celanya-.

Al Azdi berkata, “Para ulama rijâl mencacatnya dan Ibnu al Jârûd memasukkannya dalam kitab adh Dhu’afâ’-nya.”

(3)  Hadis ini diriwayatkan juga dari Anas ibn Malik dari tujuh jalur yang semuanya dha’if/lemah, di antara perawinya ada yang kadzdzâb/pembohong besar atau wadhdhâ’/pemalsu hadis atau majhûl/yang tidak dikenal identitas atau kualitas kepribadiannya.[2] 

(4)   Hadis ini diriwayatkan juga dari ‘Auf ibn Malik secara marfû’. Dan pada sanadnya terdapat Abbâd ibn Yusuf, ia seorang yang dha’if/lemah. Adz Dzahabi memasukkannya dalam daftar parawi lemah dengan nomer urut:2089.[3] 

(5)  Hadis ini diriwayatkan juga dari Abdullah ibn ‘Amr ibn al ‘Âsh secara marfû’ dalam riwayat at Turmudzi dalam Sunan-nya. Dalam sanadnya terdapat Abdurrahan ibn Ziyâd al Ifrîqi. Ia dha’if/lemah.

(6)   Hadis ini diriwayatkan juga dari Abu Umamah secara marfû’ dalam riwayat Ibnu Abi ‘Ashim dalam kitab as Sunnah. Pada sanadnya terdapat Quthn ibn Nasîr, ia adalah perawi dhaif dan munkarul hadis/sering terbukti membawa hadis munkar. 

(7)  Hadis ini diriwayatkan juga dari Abdullah ibn Mas’ud secara marfû’, sebagaimana dalam kitab as Sunnah. Dan pada sanadnya terdapat Aqil al Ja’di. Ibnu Hajar berkata, ‘Bukhari berkata, ‘Ia munkarul hadis/sering terbukti membawa hadis munkar.’”[4] 

(8) Hadis ini diriwayatkan juga dari Imam Ali ra., seperti dalam kitab As Sunnah,2/467 hadis no.995. dan dalam sanadnya terdapat Laits ibn Abi Sulaim, ia lemah/dha’if. Kualitasnya sudah dikenal di kalangan para ulama. Ibnu Hajar berkata, “Ia kacau sekali hafalannya sehingga tidak mampu memilah, karenanya ia ditinggalkan.”[5]

Ini dari sisi sanadnya, adapun dari sisi matan dan kandungannya dapat dipastikan ia adalah hadis batil, terlepas dari tambahan yang ada di akhirnya apakah ia:

كلها في النار إلا واحدة                                                      

“Semuanya di neraka kecuali satu golongan saja.”

atau:

 كلها في الجنة إلا واحدة

“Semuanya di surga kecuali satu golongan saja.”

Terlepas dari itu semua dapat dipastikan hadis tersebut batil, dengan alalan-alasan di bawah ini:

1)     Allah berfirman:

{ كنتم خير أمة أخرجت للناس }

“Kalian adalah sebaik-baik umat yang dipersembahkan untuk umat manusia.”

dan ayat:

{ وكذلك جعلناكم أمة وسطاً }

“Dan demikianlah kami jadikan kalian umat yang pertengahan.”

Ayat-ayat di atas menegasklan bahwa umat Islam adalah sebaik-baik umat dan ia adalah pertengahan, awsath, yaitu paling afdhal dan mulianya umat. Sementara hadis-hadis di atas mengatakan kepada kita bahwa Umat Islam adalah sejelek-jelak umat, paling bejat, dan paling rusak dan termakan fitnah. Kaum Yahudi hanya terpecah menjadi 71 golongan. Begitu juga kaum Nashrani terpecah menjadi 72 golongan. Sementara itu, datanglah umat Rasulullah saw. yang paling mulia justru terpecah menjadi 73 golongan!

Jadi, makna hadis itu adalah batil berdasarkan ayat-ayat Al Qur’an yang menegaskan keunggulan dan keafdhalan umat Islam!

2)     Yang mendukung kebatilan hadis itu adalah bahwa setiap yang mengarang buku tentang firaq/golongan-golongan menyebutkna nama golongan yang berbeda dengan yang disebut oleh penulis lainnya. Dan setiap sa’at bermunculan golongan baru, sehingga membatasinya hanya pada jumlah 73 golongan adalah hal yang tidak dapat diterima.

Sebagai contoh kecil, coba Anda perhatikan yang ditulis oleh Abdul Qahir al Baghdadi dalam kitab al Farqu baina al Firaq (Perbedaan antara Golongan-golongan), ia menyebutkan 73 golongan, sementara itu setelah masa beliau hingga hari ini bermunculan firqah/golongan yang jauh lebih banyak dari yang ia sebutkan. Adapun anggapan bahwa firqah yang akan muncul itu tidak kelaur dari bingkai umum yang sudah ada adalah anggapan tidak berdasar, kenyataan pun menolaknya.

(Bersambung)


[1] HR. Imam Ahmad dalam Musnad,2/332 dan lainnya, Ibnu Mâjah dalam Sunan-nya hadis no.3993
[2] Baca Shahih Syarhi ath Thahâwiyah; Hasan as Seqaf:317.
[3] Baca Dîwân adh Dhu’afâ’.

[4] Lisân al Mîzân,4/209.

[5] At Taqrîb dengan no.5685.

8 Tanggapan

  1. ass. wr. wb

    akhirnya ada juga yang nulis tentang hadis ini di wordpress. dari dulu memang saya sdh curiga dengan hadis model-model begini seperti hadis jama’ah dan lainnya, juga bukhari muslim tidak meriwayatkan hadis ini.

    memang aneh -seperti diungkap artikel diatas- setiap kelompok mengklaim kelompoknyalah yang paling benar. padahal hadis-hadis tersebut tidak memberi patokan atau ciri-ciri yang pasti siapakah kelompok yang selamat itu. sementara banyak hadis-hadis shahih di bukhari-muslim yang bertentangan dengan hadis diatas seperti hadis yang -menyatakan “barangsiapa mengatakan “la ilaha illa-Allah masuk surga'” dan hadis-hadis seperti itu. lainnya.

    kemudian seperti disebut artikel diatas, masak umat yang disebut:

    كنتم خير أمة أخرجت للناس
    “Kalian adalah sebaik-baik umat yang dipersembahkan untuk umat manusia.”

    malah makin banyak yang sesat. nggak masuk akal kan! Alhamdulillah ternyata hadis tsb hadis dhoif belaka.

    selanjutnya Jazakumullahu khairan pak abu atas artikel diatas dan saya tunggu sambungan tulisan ini. juga kajian hadis lainnya yang berhubungan dengan hadis diatas.

    jangan bosan-bosan memberi pencerahan kepada kita-kita.

    wassalam

    Satu Islam

    _______________________

    Abu Salafy:

    Terima kasih dan jangan lupa doanya untuk kami setiap kali anda selesai shalat.

  2. Tapi masih banyak ulama & ustadz2 yang sok mau benar sendiri yang menyatakan hadits ini sahih, sebab kalau tidak, susah dong buat mereka mencari pembenaran untuk mengkafirkan orang lain selain golongan mereka…. 🙂

  3. Kita mesti perlu curiga kepada hadis-hadis yang berbau politik. tapi bukan asal menolak tanpa dasar ilmiah dan mengikuti kaidah2 ilmu hadis.
    Hadis itu juga ditolak sayyid Hasan as Seqaf dari Yordan dan Syeikh Yusuf Qardhawi dll.

  4. to: Irfan lihat ini ! (semoga kamu cepat insyaf)
    Kedudukan Hadits Tujuh Puluh Dua Golongan Umat Islam

    Akhir-akhir ini, kita sering mendengar ada beberapa khatib dan penulis yang membawakan hadits tentang tujuh puluh dua golongan umat Islam masuk neraka dan satu golongan umat Islam masuk surga adalah hadits lemah, dan yang benar kata mereka adalah tujuh puluh dua golongan masuk surga dan satu golongan saja yang masuk neraka, yaitu golongan zindiq. Mereka melemahkan hadist tersebut karena tiga hal :

    1.

    Karena sanad-sanadnya ada kelemahan.
    2.

    Karena jumlah bilangan golongan yang celaka itu berbeda-beda, misalnya : satu hadits mengatakan 72 golongan masuk neraka, di hadits lain disebutkan 71 golongan dan di lain hadits disebutkan 70 golongan lebih tanpa menentukan batasnya.
    3.

    Karena makna (isi) hadits tersebut tidak cocok dengan akal, semestinya kata mereka ; umat Islam ini menempati surga atau minimal menjadi separoh penghuni ahli surga.

    Dalam tulisan ini Insya Allah saya akan menjelaskan kedudukan sebenarnya hadits ini serta penjelasan dari para Ulama Ahli Hadits, sehingga dengan demikian akan hilang kemusykilan yang ada, baik dari segi sanadnya maupun dari segi maknanya.

    JUMLAH HADITS TENTANG TERPECAHNYA UMAT

    Kalau kita kumpulkan hadits-hadits tentang terpecahnya umat menjadi 73 golongan dan satu golongan yang masuk surga, lebih kurang ada lima belas hadits yang diriwayatkan oleh lebih dari sepuluh ahli hadits dari 14 (empat belas) shahabat Rasulullah SAW, yaitu ; Abu Hurairah, Mu’awiyah, Abdullah bin ‘Amr bin Al-’Ash, Auf bin Malik, Abu Umamah, Ibnu Mas’ud, Jabir bin Abdillah, Sa’ad bin Abi Waqqash, Abu Darda’, Watsilah bin Al-Asqa’, Amr bin ‘Auf Al-Muzani, Ali bin Abi Thalib, Abu Musa Al-Asy’ariy, dan Anas bin Malik.

    Sebagian dari hadit-hadits tersebut ialah :

    Artinya :
    “Dari Abu Hurairah ia berkata : “Telah bersabda Rasulullah SAW. Kaum Yahudi telah terpecah menjadi 71 (tujuh puluh satu) golongan atau 72 (tujuh puluh dua) golongan dan Kaum Nashrani telah terpecah menjadi 71 (tujuh puluh satu) golongan atau 72 (tujuh puluh dua) golongan dan ummatku akan terpecah menjadi 73 (tujuh puluh tiga) golongan”.

    Keterangan :
    Hadits ini diriwayatkan oleh :

    1.

    Abu Dawud : Kitabus Sunnah, 1 bab Syarhus Sunnah 4 : 197-198 nomor hadits 4596. Dan hadits di atas adalah lafadz Abu Dawud.
    2.

    Tirmidzi : Kitabul Iman, 18 bab Maa ja’a fi ‘Iftiraaqi Hadzihil Ummah, nomor 2778 dan ia berkata : Hadits ini HASAN SHAHIH. (lihat Tuhfatul-Ahwadzi VII : 397-398).
    3.

    Ibnu Majah : 36 Kitabul Fitan, 17 bab Iftiraaqil Umam, nomor 3991.
    4.

    Imam Ahmad dalam Musnadnya 2 : 332 tanpa menyebutkan kata Nashara.
    5.

    Hakim dalam kitabnya : Al-Mustadrak : Kitabul Iman 1 : 6 dan ia berkata : Hadits ini banyak sanadnya dan berbicara masalah pokok-pokok agama.
    6.

    Ibnu hibban dalam kitab Mawaariduzh-Zhan’aam: 31 Kitabul Fitan, 4 bab Iftiraaqil Umam, halaman 454 nomor 1834.
    7.

    Abu Ya’la Al-Mushiliy dalam kitabnya Al-Musnad : Musnad Abu Hurairah.
    8.

    Ibnu Abi ‘Ashim dalam kitab “As-Sunnah”, bab 19-bab Fima Akhbara Bihin Nabi Anna Ummatahu Sataf Tariqu juz I hal. 33 nomor 66.
    9.

    Ibnu Baththah Fil Ibanatil Kubra : bab Dzikri Iftiraaqil Umma Fiidiiniha, Wa’alakam Tartaraqul Ummah ?. juz I hal. 228 nomor 252.
    10.

    .Al-Aajurriy dalam kitabnya “Asy-Syari’ah” bab Dzikri Iftiraaqil Umam halaman 15.

    Semua ahli hadits tersebut di atas meriwayatkan dari jalan Muhammad bin ‘Amr dari Abu Salamah dari Abu Hurarirah dari Nabi SAW.

    RAWI HADITS

    1.

    Muhammad bin ‘Amr bin Alqamah bin Waqqash Al-Alilitsiy.
    *

    Imam Abu Hatim berkata : Ia baik haditsnya, ditulis haditsnya dan dia adalah seorang Syaikh (guru).
    *

    Imam Nasa’i berkata : Ia tidak apa-apa (yakni boleh dipakai), dan pernah ia berkata bahwa Muhammad bin ‘Amr adalah orang yang tsiqah.
    *

    Imam Dzahabi berkata : Ia seorang Syaikh yang terkenal dan haditsnya hasan.
    *

    Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqalani berkata : Ia orang yang benar, hanya ada beberapa kesalahan.

    (Lihat : Al-Jarhu wat Ta’dil 8 : 30-31, Mizanul I’tidal III : 367, Tahdzibut Tahdzib IX : 333-334, Taqribut Tahdzib II : 196).

    1.

    Abu Salamah itu Abdur-Rahman bin Auf. Beliau adalah rawi Tsiqah, Abu Zur’ah berkata : Ia seorang rawi Tsiqah.
    (Lihat : Tahdzibut Tahdzib XII : 127. Taqribut Tahdzib II : 430).

    DERAJAT HADITS

    Hadits ini derajatnya : HASAN, karena ada Muhammad bin ‘Amr, tetapi hadits ini menjadi SHAHIH karena banyak SYAWAHIDNYA.

    Tirmidzi berkata : Hadits ini HASAN SHAHIH.
    Hakim berkata : Hadits ini SHAHIH menurut syarat Muslim dan keduanya (yaitu : Bukhari, Muslim) tidak mengeluarkannya, dan Imam Dzahabi menyetujuinya. (Mustadrak Hakim : Kitabul ‘Ilmi juz I hal. 128).

    Ibnu Hibban dan Asy-Syathibi dalam Al-’Itisham 2 : 189 menshahihkan hadits ini. Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani menshahihkan hadits ini dalam kitab Silsilah Hadits Shahih No. 203 dan Shahih Tirmidzi No. 2128.

    Artinya :
    “Dari Abu Amir Abdullah bin Luhai, dari Mu’awiyah bin Abi Sufyan, bahwasanya ia (Mu’awiyah) pernah berdiri di hadapan kami, lalu ia berkata : Ketahuilah, sesungguhnya Rasulullah SAW pernah berdiri di hadapan kami, kemudian beliau bersabda : Ketahuilah sesungguhnya orang-orang sebelum kami dari ahli kitab (Yahudi dan Nashrani) terpecah menjadi 72 (tujuh puluh dua) golongan, dan sesungguhnya umat ini akan terpecah menjadi 73 (tujuh puluh tiga) golongan. Adapun yang tujuh puluh dua akan masuk neraka dan satu golongan akan masuk surga, yaitu “Al-Jama’ah”.

    Keterangan :
    Hadits ini diriwayatkan oleh :

    1.

    Abu Dawud : Kitabus Sunnah, bab Syarhus Sunnah 4 : 198 nomor 4597. Dan hadits di atas adalah lafadz Abu Dawud.
    2.

    Darimi 2 : 241 bab Fii Iftiraaqi Hadzihil Ummah.
    3.

    Imam Ahmad dalam Musnadnya 4 : 102
    4.

    Hakim dalam kitab Al-Mustadrak 1: 128.
    5.

    Al-Aajurriy dalam kitab “Asy-Syari’ah” hal : 18
    6.

    Ibnu Abi’Ashim dalam kitab As-Sunnah 1 : 7 nomor 1 dan 2.
    7.

    Ibnu Baththah Fil Ibanati Kubra 1 : 221, 223 nomor 245 dan 247.
    8.

    Al-Laalikai dalam kitab ‘Syarhu Ushuulil i’tiqad Ahlis Sunnah wal Jama’ah 1 : 101-102 nomor 150 tahqiq Dr Ahmad Sa’ad Hamdan.
    9.

    Ashbahaani dalam kitab “Al-Hujjah Fi Bayaanil Mahajjah” fasal Fidzikril Ahwa’ al Madzmumah al Qismul Awwal hal 177 nomor 107.

    Semua Ahli Hadits tersebut di atas meriwayatkan dari jalan :
    Shafwah bin ‘Amr, ia berkata : Telah memberitakan kepadaku Azhar bin Abdullah Al-Hauzani dari Abu ‘Amr Abdullah bin Luhai dari Mu’awiyah.

    RAWI HADITS

    1.

    Shafwah bin ‘Amir bin Haram as-Saksakiy : Ia dikatakan Tsiqah oleh Al-’Ijliy, Abu Hatim, Nasa’i, Ibnu Sa’ad, ibnul Mubarak dan lain-lain.
    *

    Dzahabi berkata : Mereka para ahli hadits mengatakan ia orang Tsiqah.
    *

    Ibnu Hajar berkata : Ia orang Tsiqah.

    (Lihat : Tahdzibut Tahdzib IV : 376. Al-Jarhu wat Ta’dil IV : 422. Taribut Tahdzib I : 368, Al-Kasyif II : 27).

    1.

    Azhar bin Abdullah Al-Haraazi. Ia dikatakan Tsiqah oleh Al-I’jiliy dan Ibnu Hibban. Imam Dzahabi berkata : Ia seorang tabi’in dan haditsnya hasan. Ibnu Hajar berkata : Ia Shaduq (orang yang benar) dan ia dibicarakan tentang nashb.
    (Lihat : Mizanul I’tidal I:173. Taqribut Tahdzib I:52. Ats-Tsiqat oleh Al-’Ijily hal.59 dan ASt-Tsiqat oleh Ibnu hibban IV : 38).
    2.

    Abu ‘Amir Al-Hauzani ialah Abu Amir Abdullah bin Luhai.
    *

    Abu Zur’ah dan Daraquthni berkata : ia tidak apa-apa yakni boleh dipakai.
    *

    Al’Ijily dan Ibnu Hibban mengatakan dia orang Tsiqah.
    *

    Dzahabi dan Ibnu Hajar berkata : Ia orang Tsiqah.

    (Lihat : Al-Jarhu wa Ta’dil V : 145. Tahdzibut Tahdzib V : 327. Taqribut-Tahdzib 1 : 444 dan Al-kasyif II : 109).

    DERAJAT HADITS

    Derajat hadits ini : HASAN, karena ada rawi Azhar bin Abdullah, tetapi hadits ini menjadi SHAHIH dengan SYAWAHIDNYA.

    Hakim berkata : Sanad-sanad hadits (yang banyak) ini harus dijadikan hujjah untuk menshahihkan hadits ini. Dan Imam Dzahabi menyetujuinya. (lihat : Al-Mustadrak I : 128).

    Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata : Hadits ini Shahih Masyhur (lihat : Silsilah Hadits Shahih I : 359 oleh Syaikh Al-Albani).

    Artinya :
    “Dari Auf bin Malik ia berkata : Telah bersabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam : Sesungguhnya umatku akan terpecah menjadi 73 (tujuh puluh tiga) golongan, satu golongan masuk surga, dan tujuh puluh dua golongan masuk neraka”. Beliau ditanya : “Ya Rasulullah, Siapakah satu golongan itu ?”. Beliau menjawab ; “Al-Jama’ah”.

    Keterangan.
    Hadits ini diriwayatkan oleh :

    1.

    Ibnu Majjah : Kitabul Fitan, bab Iftiraaqil Umam II:1322 nomor 3992.
    2.

    Ibnu Abi ‘Ashim 1:32 nomor 63
    3.

    Al-Laaikaaiy Syarah Ushul I’tiqaad Ahlis Sunnah Wal Jama’ah 1:101.

    Semuanya meriwayatkan dari jalan ‘Amr bin ‘Utsman, telah menceritakan kepada kami ‘Abbad bin Yusuf, telah menceritakan kepadaku Sahfwan bin ‘Amr dari Rasyid bin Sa’ad dari ‘Auf bin Malik.

    RAWI HADITS

    1.

    ‘Amr bin ‘Utsman bin Sa’id bin Katsir Dinar Al-Himshi. Nasa’i dan Ibnu Hibban mengatakan : Ia orang Tsiqah (lihat : Tahdzibut Tahdzib VIII:66-67).
    2.

    ‘Abbad bin Yusuf Al-Kindi Al-Himshi. Ibnu ‘Adiy berkata : Ia meriwayatkan dari Shafwan dan lainnya hadits-hadits yang ia menyendiri dalam meriwayatkannya. Ibnu Hajar berkata : Ia maqbul (yakni bisa diterima haditsnya bila ada mutabi’nya). (Lihat Mizanul I’tidal II:380. tahdzibut Tahdzib V:96-97. Taqribut Tahdzib I:395).
    3.

    Shafwan bin ‘Amr : Tsiqah (Taqribut Tahdzib I:368).
    4.

    Rasyid bin Sa’ad : Tsiqah (Tahdzib III:225. Taqribut tahdzib I:240).

    DERAJAT HADITS

    Derajat hadits ini : HASAN karena ada ‘Abbad bin Yusuf, tetapi harus mejadi SHAHIH dengan beberapa SYAWAHIDNYA.

    Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani mengatakan hadits ini SHAHIH dalam Shahih Ibnu Majah II:36 nomor 3226 cetakan Maktabul Tarbiyah Al’Arabiy Liduwalil Khalij cet: III tahun 1408H.

    Hadits tentang terpecahnya umat menjadi 73 golongan diriwayatkan juga oleh Anas bin Malik dengan mempunyai 8 (delapan) jalan (sanad) di antaranya dari jalan Qatadah diriwayatkan oleh Ibnu Majah No. 3993. Imam Bushiriy berkata : Isnadnya Shahih dan rawi-rawinya tsiqah. Hadits ini dishahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih Ibnu Majah No. 3227. (Lihat : 7 sanad yang lain dalam Silsilah Hadits Shahih 1:360-361.

    Imam Tirmidzi meriwayatkan dalam kitabul Iman, bab Maaja’ Fiftiraaqi Hadzihi Ummah No. 2779 dari shahabat Abdullah bin ‘Amr bin Al-Ash dan Imam Al-Lalikaiy juga meriwayatkan dalam kitabnya Syarah Ushulil I’tiqad Ahlis Sunnah wal Jama’ah I:99 No. 147 dari shahabat dan dari jalan yang sama, dengan ada tambahan pertanyaan, yaitu : Siapakah golongan yang selamat itu ?. Beliau SAW menjawab :

    “MAA ANAA ‘ALAIYHI WA-ASH-HAABII”

    “Ialah golongan yang mengikuti jejak-Ku dan jejak para shahabat-Ku”.

    RAWI HADITS

    Dalam sanad hadits ini ada rawi yang lemah yaitu : Abdur Rahman bin Ziyad bin An’um Al-ifriqy. Ia dilemahkan oleh Yahya bin Ma’in, Imam Ahmad, Nasa’i dan selain mereka. Ibnu Hajar Al-Asqalani berkata : Ia lemah hapalannya.(Tahdzib VI:157-160. Taqribut Tahdzib I:480).

    DERAJAT HADITS

    Imam Tirmidzi mengatakan hadist ini HASAN, karena banyak syawahidnya. Bukan beliau menguatkan rawi ini, karena dalam bab Adzan beliau melemahkan rawi ini. (Lihat : Silsilah Al-Hadits Shahihah No. 1348 dan Shahih Tirmidzi No. 2129).

    KESIMPULAN

    Kedudukan hadits-hadits di atas setelah diadakan penelitian oleh para Ahli Hadits, maka mereka berkesimpulan bahwa hadits-hadits tentang terpecahnya umat ini menjadi 73 (tujuh puluh tiga) golongan, 72 (tujuh puluh dua) golongan masuk neraka dan satu golongan masuk surga adalah HADITS SHAHIH yang memang datangnya dari Rasulullah SAW, dan tidak boleh seorangpun meragukan tentang keshahihan hadits-hadits tersebut, kecuali kalau dia dapat membuktikan secara ilmu hadits tentang kelemahan hadits-hadits tersebut.

    SEBAGIAN YANG MELEMAHKAN

    Ada sebagian orang yang melemahkan hadits-hadits tersebut, karena melihat jumlah yang berbeda-beda, yakni; di suatu hadits tersebut 70, di hadits lain disebut 71, di hadits lain lagi disebutkan 72 terpecahnya dan satu masuk surga. Oleh karena itu saya akan terangkan tahqiqnya, berapa jumlah firqah yang binasa itu ?

    1.

    Di hadits ‘Auf bin Malik dari jalan Nu’aim bin Hammad, yang diriwayatkan oleh Bazzar I:98 No. 172 dan Hakim IV:130 disebut 70 lebih dengan tidak menentukan jumlahnya yang pasti. Tetapi sanad hadits ini LEMAH karena ada Nu’aim bin Hammad. Ibnu Hajar berkata : Ia banyak salahnya. Nasa’i berkata :Ia orang yang lemah. (Lihat : Mizanul I’tidal IV:267-270. Taqribut Tahdzib II:305 dan Silsilah Hadits Dha’ifah dan Maudhu’ah oleh Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani).
    2.

    Di hadits Sa’ad bin Abi Waqqash dari jalan Musa bin “Ubaidah ar-Rabazi yang diriwayatkan oleh Al-Ajurriy Fisy-”Syari’ah”, Bazzar fi “Kasyfil Atsar” No.284 dan Ibnu Baththah Fil “Ibanatil Kubra” No. 42,245,246, disebut 71 golongan sebagaimana Bani Israil. Tetapi sanad hadits ini LEMAH karena Musa bin ‘Ubaidah adalah rawi LEMAH. (lihat : Taqribut-Tahdzib II : 286).
    3.

    Di hadits ‘Amr bin Auf dari jalan Katsir bin Abdillah, dan dari Anas dari jalan Al-Walid bin Muslim yang diriwayatkan oleh Hakim I:129 dan Imam Ahmad, disebut 72 golongan. Tetapi sanad ada dua rawi di atas (Taqribut Tahdzib II:132, Mizanul I’tidal IV:347-348 dan Taqribut Tahdzib II:336).
    4.

    Di hadits Abu Hurairah, Mu’awiyah ‘Auf bin Malik, Abdullah bin ‘Amr bin ‘Ash, Ali bin Abi Thalib dan sebagian dari jalan Anas bin Malik yang diriwayatkan oleh para Imam ahli hadits disebut 73 golongan, yaitu ; 72 golongan masuk neraka dan 1 (satu) golongan masuk surga, dan derajat hadits-hadits ini adalah shahih sebagaimana sudah dijelaskan di atas.

    TARJIH

    Hadits-hadist yang menerangkan tentang terpecahnya ummat menjadi 73 (tujuh puluh tiga) golongan adalah lebih banyak sanadnya dan lebih kuat dibanding hadits-hadits yang menyebut 70, 71 atau 72.

    MAKNA HADITS

    Sebagian orang menolak hadits-hadits yang shahih karena mereka lebih mendahulukan akal ketimbang wahyu, padahal yang benar adalah wahyu yang berupa nash Al-Qur’an dan Sunnah yang shahih lebih tinggi dan lebih utama dibanding dengan akal manusia, karena manusia ini adalah lemah, jahil (bodoh), zhalim, sedikit ilmunya, sering berkeluh kesah, sedangkan wahyu tidak ada kebathilan di dalamnya (41:42).

    Adapun soal makna hadits masih musykil (sulit dipahami) maka janganlah cepat-cepat kita menolak hadits-hadits shahih, karena betapa banyaknya hadits-hadits shahih yang belum kita pahami makna dan maksudnya .!!

    Yang harus digarisbawahi adalah bahwa Allah dan Rasul-Nya lebih tahu daripada kita. Rasulullah SAW menerangkan bahwa umatnya akan mengalami perpecahan dan perselisihan dan akan menjadi 73 (tujuh puluh tiga) firqah,semuanya ini telah terbukti. Yang terpenting bagi kita sekarang ini ialah berusaha mengetahui tentang kelompok-kelompok yang binasa dan golongan yang selamat serta ciri-ciri mereka berdasarkan Al-Qur’an, As-Sunnah As-Shahihah dan penjelasan para shahabat dan para Ulama Salaf, agar kita menjadi golongan yang selamat dan menjauhkan diri dari kelompok-kelompok sesat yang kian hari kian berkembang.

    dan juga lihat surat Fathir ayat 32!!
    thanksx

  5. Nyuwun ngapunten Pak Abu, ………. waktu saya jadi abuhilya dan jadi sapisalapi, tulisan saya dimuat. Tapi pas kulo jadi “ayes ngasong” kok tulisan saya gak dimuat ya? Apa ada yang salah dengan komen saya,ya? Atau kepanjangan barangkali atau kenapa? ……Tapi sakestu saya hanya bermaksud baik….Dan kalau benar ternyata ada yang salah dengan komen saya yang berjudul “IslamNya”, saya minta dibetulkan. Kalau bisa lewat blog ini juga. Harap maklum ya, Pak Abu. namanya juga saya orang Islam pinggiran. Mboten nate ngaji kaya panjenengan panjenengan. TurNuwun……….

  6. Wahai mas-mas yang sering menyebut nyebut imam ini, imam itu. Imam imam sampean itu belum tentu dipercaya atau dipakai oleh orang orang lain apalagi orang syiah. Tapi saya akan mengikuti imam imam siapapun imam itu seperti misalnya imam Irfan, imam Abu Salafy:, imam sutanto, imam abu kuning hijau, bahkan imam s arifin barangkali,….bukan pada saat eyel eyelan berebut kebenaran, pada di saat mengajak saya berlama lama berdiri ketika sholat dan sujud, berlapar lapar puasa dan begadang tiap malam mencari ” ILMU” tidak di depan komputer, tapi dengan banyak bermunajah sama ALLah. Saya akan jadi makmum dari imam imam yang merasa malu kepada Allah karena dalam hidupnya merasa sok palin tahu.

    Fatuubuuuuuuuuuu………………!

  7. Aww..
    Agar pembahasannya lebih fair dan lengkap, mohon infonya tentang hadist tentang 73 gol ini menurut ke 14 sahabat spt tsb di atas yaitu:
    1.Abu Hurairah,
    2.Mu’awiyah,
    3.Abdullah bin ‘Amr bin Al-’Ash,
    4.Auf bin Malik,
    5.Abu Umamah,
    6.Ibnu Mas’ud,
    7.Jabir bin Abdillah,
    8.Sa’ad bin Abi Waqqash,
    9.Abu Darda’,
    10.Watsilah bin Al-Asqa’,
    11.Amr bin ‘Auf Al-Muzani,
    12.Ali bin Abi Thalib,
    13.Abu Musa Al-Asy’ariy, dan
    14.Anas bin Malik.

    Salam,

    RR

  8. Assalammu’alaikum Wr. Wb.
    Sebelumnya saya minta maaf apabila tanggapan saya dianggap berbeda atau nyeleneh…mohon dimaklumi sehubungan baru thalab 🙂 . Sebenarnya jika kita selalu dan selalu belajar dan berusaha melihat segala sesuatu dari sisi positifnya ( Firman Allah ” Aku sesuai prasangka hamba-hamba-ku ), Allah tidak memberikan segala sesuatu dalam perjalanan hidup sementara ini DILUAR KESANGGUPAN hamba-hamba-Nya, Allah SWT. menjamin bahwa yang diberikan kepada hamba-hamba-Nya PASTI yang TERBAIK dan sesuai dengan KESANGGUPAN. Inshaa Allah disaat kita mendengar atau membaca dan bahkan sampai mengalaminya pasti seperti AIR MENGALIR.
    Baca…..dan tela’ah baik-baik hadist tersebut….coba lihat dari sisi positifnya maksud dan tujuan yang tersirat didalamnya.
    73 golongan, 72 Neraka, 1 Surga . ” Allah menciptakan manusia bersuku-suku, berbangsa-bangsa dan bergolong-golongan tetapi tetap pada satu tujuan ” tidak boleh berpecah belah apalagi sampai saling membunuh. ” Islam di ibaratkan sebagai POHON yang berakar SERABUT.
    disinilah jelas dan nyata saat Allah SWT. mengingatkan ” Hati-hati AKAL kalian (Manusia) CETEK dan DANGKAL “. dan terbukti pula bagaimana perjalanan hidup yang sementara ini yang harus dipertanggung jawabkan di yaumil akhir nanti disadari atau tidak , diakui atau tidak kita jalani dengan menjadikan AKAL sebagai IMAM nya dimana menurut saya (mohon maaf yang sebesar-besarnya apabila pendapat saya salah) kalau AKAL yang dijadikan IMAM dalam menjalani hidup yang hanya sementara ini AKAL tsb lebih dominan didasari oleh HAWA NAFSU bukan oleh satu gumpal daging yang tak pernah ternoda kesuciannya ( QALBU).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s