Sunnah Versus Bid’ah

Sunnah Versus Bid’ah

Meluruskan Kesalah-pahaman Pandangan Wahhabi Tentang Konsep Bid’ah

Tidak ada kata-kata yang akrab kita dengar dari teman-teman Wahhabi/Salafy melebihi kata bid’ah… dan tidak ada bencana bagi umat Islam lebih dari bencana akibat kesalahan dala memahami konsep bid’ah. Betapa pemahaman yang keliru tentang perbedaan antara Sunnah dan Bid’ah telah menimbulkan seribu satu musykilah dan bencana. Oleh karenanya meluruskan pemahaman tentang keduanya adalah sebuah keniscayaan demi menghindarkan dari berbagai kesalah pahaman terhada praktik-praktik tertentu yang ditekumi sebagin kaum Muslimin yang acak kali menjadi salah sasaran pembid’ahan bahkan vonis pemusyrikan oleh ektrimis Wahhabi/Salafy.

Sunnah dan Bid’ah!

Dalam sabda-sabda Nabi saw., Sunnah dan bid’ah adalah dua hal yang saling berhadap-hadapan, karenanya pemahaman tentang salah satunya tidak akan tepat tanpa memahami lawannya, sebab –seperti dalam peribahasa Arab: wa bidhiddihha tatayyanu al asy-yâ’u = dengan mengenal lawannya, segala sesuatu menjadi jelas-. Banyak dari para penulis langsung terjun membatasi makna bid’ah tanpa terlebih dahulu memastikan apa makna sunnah, sementara ia adalah yang asal, kanenanya mereka terjebak dalam kesempitan tanpa dapat bisa keluar darinya dan berbenturan dengan bukti-bukti/dalil-dalil nash yang menentang pembatasan mereka akan makna bid’ah. Andai mereka terlebih dahulu menetapkan apa makna sunnah itu pastilah mereka terhindar dari masalah tersebut.

Rasulullah saw. dalam banyak hadisnya memerintahkan berpegang dengan Sunnah baru setelahnya memperingatkan akan bahaya lawannya, yaitu bid’ah, seperti Anda dapat saksikan dalam banyak hadis di antaranya:

1) Hadis dalam Shahih Muslim: Adalah Rasulullah saw. apabila berkhutbah memerah kedua mata beliau dan lantang suara beliau, beliau bersabda:

فَإِنَّ خيرَ الحديثِ كتابُ اللهِ , و خير الهدْيِ هديُ مُحَمَدٍ (ص), و شَرَّ الأُمورِ مُحْدَثاتُها, و كلُّ محْدَثَةٍ بِدْعَةٌ و كلُّ بِدْعِةٍ ضلالَة

“(Amma ba’du), Maka sesungguhnya sebaik-baik pembicaraan adalah Kitabullah, dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad saw. dan sejelek-jelek perkara adalah yang muhdatsat (baru dibuat-buat), dan setiap yang muhdats adalah bid’ah dan setiap yang bid’ah adalah dhalal (kesesatan).” Hadis yang sama juga diriwayatkan Bukhari mauqûf (sebagai ucapan) Ibnu Mas’ud.

2) Hadis di atas dipertegas dengan hadis panjang riwayat Turmudzi, Abu Daud dan para muhaddis lain dari: Al-Irbâdh ibn Saariyah, ia berkata, pada suatu hari, seusai salat subuh Rasulullah saw. memberi wejangan kepada kami dengan mau’idzah yang luar biasa, karenanya mata-mata mencucurkan air mata dengan deras dan hati-hati menjadi takut, lalu ada seorang lelaki berkata, sepertinya ini wejangan perpisahan, lalu apa yang Anda perintahkan untuk kami wahai Rasulullah saw? beliau saw. menjawab:

أُوْصِيْكُمْ بِتَقْوَى اللهِ و السَّمْعِ و الطاعَةِ وَإنْ عَبْدٌ حَبَشِيٌّ فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ يَرَ اخْتِلاَفًا كَثِيْرًا , وَ إِيَّاكُمْ وَ مُحْدَثاتِ الأُمُوْرِ , فَإِنَّهَا ضَلاَلَةٌ فَمَنْ أَدْرَكَ ذلِكَ مِنْكُمْ فَعَلَيْهِ بِسُنَّتِيْ وَ سُنَّةِ الخُلفاءِ الرَاشِدِيْنَ المَهْدِيِّينَ , عَضُّوا علَيْها بالنَّواجِذِ.

Aku berwasiat kepadamu dengan ketaqwaan kepada Allah, mendengar dan taat walaupun kepada budak sahaya berkebangsaan Etiopia. Karena sesungguhnya siapa dari kamu yang hidup ia akan menyaksikan perselisihan yang banyak. Hati-hatilah kamu dari perkara-perkara yang baru karena ia adalah kesesatan. Maka barang siapa dari kamu mengalami hal itu, hendaknya ia berpegang teguh dengan sunnahku dan sunnah para khulafa’ yang Râsyidiin dan Mahdiyyiin (yang terbimbing dan mendapat petunjuk), gigitlah ia dengan gigi geraham kamu (berpegang teguhlah dengannya)!.(Al-Turmudzi. Sunan (dengan Syarah Al-Mubarakfuuri).Vol.7,438-442. bab al-Akhdzu bil Sunnah wa ijtinaab al-Bid’ah)

3) Hadis Jarir dalam riwayat Muslim di bawah ini akan memperjelas:

َمَنْ سَنَّ في الإسلامِ سُنَّةً حسَنَةً فَلَهُ أجْرُها وَ أَجْرُ مَنْ عَِملََ بها بَعْدَهُمَ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقَصَ مِنْ أجورِهِمْ شَيْئٌ. مَنْ سَنَّ في الإسلامِ سُنَّةً سَيِّءَةً فله وِزْرُها و وزرُ مَنْ عَِملََ بها بَعْدَهُ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقَصَ مِنْ أوزارِهِمْ شَيْئٌ.

Barang siapa mebuat sunnah baik dalam Islam maka baginya pahalanya dan pahala orang-orang yang mengamalkannya setelahnya, tanpa berkurang sedikitpun pahala mereka. Dan barang siapa membuat sunnah jelek dalam Islam maka atas dosanya dan dosa orang-orang yang mengamalkannya setelahnya tanpa berkurang sedikitpun dosa-dosa mereka.

Dari ketiga contoh hadis di atas dapat kita saksikan bagaimana Rasulullah saw. menghadapkan antara Hadyu Muhammad dengan muhdatsat al umûr, Dalam hadis kedua, antara sunnah beliau dengan muhdatsat al umûr, sedangkan dalam hadis ketiga antara sunnah sayyiah dengan sunnah hasanah. Jadi jelas, sunnah duluan baru, apapun yang keluar dan menyimpang darinya masuk dalam bid’ah. Lalu apa sebenranya sunnah itu?

Dalam bahasa dan penggunaan syara’, sunnah bermaknakan tharîqah (jalan) yaitu petunjuk, hadyu Nabi saw. Jadi jalan/cara yang ditempuh Nabi saw. dalam petunjuknya, ketika menerima atau menolak adalah sunnah! Dan makna tersebutlah yang dipertegas dalam hadis Jarir di atas. Sunnah hasanah artinya jalan/cara yang baik, dan sunnah sayyiah adalah jalan/cara yang jelek. Demikian makna yang harus difahami darinya, bukan yang disalah-fahami oleh sebagian awam pelajar/santri apalagi kaum awam bahwa sunnah adalah hadis Nabi saw atau lawan dari faridhah (yang wajib), sebab makna pertma adalah istilah para ahli hadis sementara istilah kedua adalah istialh para ahli fikih. Kedua pemaknaan tersebut baru lahir jauh setelah penggunaan kata tersebut dalam sabda-sabda Nabi saw. jadi tidak benar apabila kita mengartikan sabda tersebut dengan pemankaan baru.

Sunnah Rasul saw. adalah jalan/cara beliau dalam bertindak, memerintah, menerima atau menolak. Oleh karenanya, segala apapun yang baru harus dihadapkan kepada Sunnah Rasul saw. dan jala/cara beliau dalam menerima dan atau menolak.

Cacatan:

Mungkin ada yang mengatakan bahwa amalan-amalan seperti dalam contoh kasus di atas dapat diterima sebab ia telah ditaqrirkan (disetuji) oleh Nabi saw., maka kami menjawabnya, benar demikian adanya, akan tetapi dari kasus-kasus di atas dapat dijadikan sebuah bukti nyata untuk mengenal sunnah Nabi saw. dalam menerima subuah “kreasi” dalam ibadah atau amal kebajikan tertentu. Sebab seperti diketahui bahwa banyak dari amalan-amalan tersebut tidak disebut sebagai sunnah dan tidak seorang ulamapun yang menganggapnya sebagai sunnah, sebab amalan dan praktik Nabi saw. lebih afdhal dan lebih tepat untuk diikuti. Akan tetapi ia memberikan gambaran jelas bagi kita bahwa Nabi saw. tidak menolak sesuatu amalan kebajikan yang tidak membentur nash atau tidak menimbulkan mafsadah(kerusakan) serta tidak menyalahi hadyu (petunjuk umum) yang beliau bawa! inilah maksud kata-kata para ulama bahwa apapun yang dianjurkan oleh syari’at baik secara khusus atau bersifat umum maka ia tidak tergolong bid’ah, walaupun praktik itu secara khusus tidak pernah dikerjakan atau diperintahkan Nabi saw. dengan perintah khusus.

Inilah tahrîqah, jalan Nabi saw. seperti akan Anda saksikan di bawa ini:

Bukti-bukti Tentang Sunnah Rasulullah saw. Terhadap Hal-hal Baru

Ketahuilah wahai saudaraku bahwa sesungguhnya terdapat banyak hadis shahih yang menyebutkan bahwa ada beberapa sahabat Nabi saw. mengada-ngada amalan-amalan atau dzikir-dzikir atau doa-doa tertentu atau sebagianya yang belum pernah dilakukan atau diajarkan dan dituntunkan oleh Rasulullah saw., mereka melakukannya atas dasar istinbâth dan dengan keyakinan bahwa ia adalah bagian dari kebaikan yang dibawa oleh Islam dan Rasulul-islam saw. dan dianjurkannya secara umum di bawah naungan payung:

و افْعَلُوا لخيرَ لَعَلَكُمْ تُفْلِحُونَ

…dan perbuatlah kebajikan, supaya kamu mendapat kemenangan.”. (QS.22 [al hajj];77)

Dan sabda Nabi saw.:

مَنْ سَنَّ في الإسلامِ سُنَّةً حسَنَةً فَلَهُ أجْرُها وَ أَجْرُ مَنْ عَِملََ بها بَعْدَهُ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقَصَ مِنْ أجورِهِمْ شَيْئٌ.

Barang siapa mebuat sunnah baik dalam Islam maka baginya pahalanya dan pahala orang-orang yang mengamalkannya setelahnya, tanpa berkurang sedikitpun pahala mereka.

Hadis di atas kendati disabdakan dalam kasus tertentu yaitu tentang shadaqah, akan tetepi pelajaran yang diambil didasarkan keumuman lafadznya bukan atas dasar kekhususan sebabnya, seperti ditegaskan para ulama dalam kajian Ushulul Fikih mereka. Namun demikian tidak berbarti bahwa setiap orang bebas menggagas syari’at dengan sendirinya, sebab Islam telah tuntas dengan batasan kaidah-kaidahnya yang baku, karenanya apa yang di-sunnahkan harus terbingkai dalam bingkai kaidah dan ketetapan dasar Islam.

Berangkat dari niatan tersebut, banyak dari sahabat Nabi saw. mengerjakan berdasar atas ijtihad mereka amalan-amalan tertentu yang belum pernah diajarkan dan dituntunkan oleh Nabi saw…. dalam kaitan itu, sunnah/jalan dan cara Nabi saw. dalam mensikapinya ialah menerima amalan ibadah dann kebajikan yang sesuai syari’at dan tidak menyalahinya serta menolak yang menyalahinya. Inilah sunnah dan jalan yang ditempuh Nabi saw. yang kemudian diikuti oleh para sahabat ra. dan darinya para ulama Islam –rahimahullah– menetapkan kaidah: Apapun yang baru harus disodorkan kepada kaidah-kaidah dasar dan nash-nash Syari’at, yang didukung Syari’at dan dinilainya baik maka ia baik dan diterima sementara yang terbutki menyahali Syari’at maka ia tertolah, ia adalah bid’ah yang tercela! Kondisi pertama mereka namai dengan bid’ah hasanah dari sisi kebahasaan semata, mengingat ia adalah hal baru, kendati pada hakikatnya bukan bid’ah dalam timbangan syari’at, sebab ia adalah sunnah yang disimpulkan dari bukti-bukti syari’at yang menyaksikan akan diterimnya amalan tertentu tersebut. Setelah keterangan singkat di atas mari kita terlusuri bukti-bukti tentang apa yang kami sebutkan di atas.

Kita awali dengan bukti-bukti diterimanya amalan-amalan tertentu oleh Nabi saw.

Hadis Pertama:

Hadis riwayat Bukhari, Muslim dan Ahmad dari Abu Hurairah bahwa Nabi saw. berkata kepada Bilal ketika shalat fajar (shubuh), “Hai Bilal, ceritakan kepadaku amalan apa yang paling engkau harap pahalanya yang pernah engkau amalkan dalam masa Islam, sebab aku mendengar suara terompamu di surga. Bilal berkata, “Aku tidak mengamalkan amalan yang paling aku harapkan lebih dari setiap kali aku berssuci, baik di malam maupun siang hari kecuali aku shalat untuk bersuciku itu”.

Dalam riwayat at Turmudzi yang ia shahihkan, Nabi saw. berkata kepada Bilal, ‘Dengan apa engkau mendahuluiku masuk surga? ” Bilal berkata, “Aku tidak mengumandangkan adzan melainkan aku shalat dua rakaat, dan aku tidak berhadats melaikan aku bersuci dan aku mewajibkan atas diriku untuk shalat (sunnah).” Maka Nabi saw. bersabda “dengan keduanya ini (engkau mendahuluiku masuk surga).

Hadis di atas juga diriwayatkan oleh Al Hakim dan ia berkata, “Hadis shahih berdasarkan syarat keduanya (Bukhari & Muslim).” Dan adz Dzahabi mengakuinya.

Al Hafidz Ibnu Hajar menerangkan demikian, “Dalam hadis itu disimpulkan dibolehkannya berijtihad dalam menentukan waktu ibadah, sebab Bilal mencapai apa yang ia sebutkan itu dengan dasar penyimpulan, lalu Nabi saw. membenarkannya.”[1]

Hal serupa juga ditemukan dalam hadis Khabab dalam riwayat Bukhari, beliau-lah orang pertama yang men-sunnah-kan shalat dua rakaat atas seorang muslim yang mati terbunuh dengan darah dingin (bukan dalam peperangan, misalnya).[2]

Dari hadis-hadis di atas jelas sekali bahwa kedua sahabat ini (Bilal dan Khabab) berijtihad dalam menentukan waktu pelaksanaan ibadah yang sebelumnya belum pernah dilakukan atau ada perintah khusus dari Nabi saw…. ia dilakukan atas dasar perintah umum bahwa “Shalat adalah sebaik-baik amalan, maka berbanyak-banyaklah atau bersedikit-sediktlah!” seperti diriwayatkan dalam sebuah hadis. Andai ada seorang melakukannya pada waktu terlarang pastilah praktik itu dianggap bid’ah bagi mereka yang meyakini keumuman larangan dan bukan bid’ah bagi yang berpendapat bahwa larangan itu dikhususkan dengan shalat sunnah yang mutlak sifatnya. Dan dalam masalah ini terdapat silang pendapat di antara ahli fikih.

Hadis Kedua:

Hadis riwayat Bukhari, Muslim dan para muhaddis lain pada kitab Shalat, bab Rabbanâ laka al Hamdu, dari riwayat Rifa’ah ibn Râfi’, ia berkata, “Kami shalat di belakang Nabi saw., maka ketika beliau mengangkat kepala beliau dari ruku’ beliau membaca, sami’allahu liman hamidah (Allah maha mendengar orang yang memnuji-Nya), lalu ada seorang di belakang beliau membaca,Rabbanâ laka al hamdu hamdan katsiran thayyiban mubarakan fîhi (Tuhan kami, hanya untuk-Mu segala pujian dengan pujian yang banyak yang indah serta diberkahi). Maka setelah selesai shalat, Nabi saw. bersabda, “Siapakah orang yang membaca kalimat-kalimat tadi?” Ia berkata, “Aku.” Nabi bersabda, “Aku menyaksikan tiga puluh lebih malaikat berebut mencatat pahala bacaaan itu.”

Ibnu Hajar berkomentar, “Hadis itu dijadikan hujjah/dalil dibolehannya berkreasi dalam dzikir dalam shalat selain apa yang diajarkan (khusus oleh Nabi saw.) jika ia tidak bertentang dengan yang diajarkan. Kedua dibolehkannya mengeraskan suara dalam berdzikir selama tidak menggangu.”

Hadis Ketiga:

Imam Muslim dan Abdur Razzaq ash Shan’ani meriwayatkan dari Ibnu Umar, ia berkata, “Ada seorang lali-laki datang sementara orang-orang sedang menunaikan shalat, lalu ketika sampai shaf, ia berkata:

اللهُ أكبرُ كبيرًا، و الحمدُ للهِ كثيرًا و سبحانَ اللهِ بكْرَةً و أصِيْلاً.

Setelah selesai shalat, Nabi saw. bersabda, “Siapakah yang mengucapkan kalimat-kalimat tadi?

Orang itu berkata, “Aku wahai Rasulullah saw., aku tidak mengucapkannya melainkan menginginkan kebaikan.”

Rasulullah saw. bersabda, “Aku benar-benar menyaksikan pintu-pintu langit terbuka untuk menyambutnya.”

Ibnu Umar berkata, “Semenjak aku mendengarnya, aku tidak pernah meninggalkannya.”

Dalam riwayat an Nasa’i dalam bab ucapan pembuka shalat, hanya saja redaksi yang ia riwayatkan: “Kalimat-kalimat itu direbut oleh dua belas malaikat.”

Dalam riwayat lain, Ibnu Umar berkata: “Aku tidak pernah meningglakannya semenjak aku mendengar Rasulullah saw. bersabda demikian.”

Abu Salafy berkata:

Saudaraku-semoga Allah memberikan taufiq dan hidayah-Nya kepada kita semua-, coba Anda perhatikan, bagaimana Rasulullah saw. membenarkan penambahan kalimat dzikir yang tidak beliau ajarkan dalam i’tidâl dan dalam pembukaan shalat., beliau membenarkan pelakunya dengan pembenaran dan kerelaan yang luar biasa, hal itu disebabkan karena kedua tempat/kesempatan itu adalah tempat pujian atas Allah SWT. dalam shalat. Lalu perhatikan sikap sebagian kaum yang “sok pintar” ketika mereka mangatakan bahwa membaca doa qunut dalam shalat shubuh adalah bid’ah padahal asal masalahnya telah datang dalam riwayat dari Nabi saw., kendati mereka berusaha mengacaukan hadis Anas ibn Malik tentangnya dan praktik sebagian sahabat Nabi saw.

Abdur Razzâq telah meriwayatkan dari Ibnu Juraij dari Athâ’, ia berkata, “Aku berkata kepadanya, (apa ada dalil) tentang qunut dalam dua rakaat shalat Jum’at? Maka ia menjawab, “Aku tidak mendengar tentang qunut dalam dua rakaat shalat Jum’at. Aku tidak mendengar tentang qunut dalam shalat wajib selain shubuh.

Dalam kesempatan bukan maksud kami mengupas tuntas masalah qunut akan tetapi kami hanya ingin mebuktikan bagaimana sikap keras melampaui batas sebagian mereka dalam mencap bid’ah, bahkan pada bacaan doa pada tempat doa dalam shalat! Sementara hadis-hadis yang telah kami sebutkan di atas mengatakan bahwa doa apapun yang di baca di tempat doa dalam shalat maka ia bagian dari sunnah, bukan bid’ah! Sebab Rasulullah saw. telah membenarkannya, walaupun redaksinya bukan yang beliau saw. ajarkan, lalu bagaimana mereka mencap bid’ah pada doa yang redaksinya telah datang dari Rasulullah saw. dan tempat pembacaannya juga pada tempat doa dalam shalat! Masalah yang sama ialah mengeraskan bacaan Basmallah dalam shalat ketika mengawali bacaan surah al Fatihah, kendati hadis-hadis shahih telah datang tentangnya, tetap saja sebagian kaum yang sok berpegang dengan sunnah itu menuduhnya bid’ah! Alangkan anehnya, bukankan surah al Fatihah adalah bagian dari surah-surah Alqur’an yang didahului dengan Basmallah dan telah tetap juga riwayat tentang mengeraskan bacaannya? Andai mereka mengamalkan pendapatnya sendiri (dengan tidak membacanya), pastilah masalahnya menjadi ringan, akan tetapi mereka menentang orang yang membacanya dengan suara terdengar (keras).

Al hasil, Rasulullah saw. telah men-taqrîr-kan (membenarkan) sikap sahabat yang menambah bacaan dzikir dalam shalat yang tidak pernah beliau ajarkan. Inilah inti pembuktian kami!

Hadis Keempat:

Imam Bukhari meriwayatkan dalam kitab Shahihnya, pada bab menggabungkan antara dua surah dalam satu raka’at dari Anas, ia berkata, “Ada seorang dari suku Anshar memimpin shalat di masjid Quba’, setiap kali ia shalat mengawali bacaannya dengan membaca surah Qul Huwa Allahu Ahad sampai selesai kemudian membaca surah lain bersamanya. Demikian pada setiap raka’atnya ia berbuat. Temann-temannya menegurnya, mereka berkata, “Engkau selalu mengawali bacaan dengan surah itu lalu engkau tambah dengan surah lain, jadi sekarang engkau pilih, apakah membaca surah itu saja atau membaca surah lainnya saja.” Ia menjawab, “Aku tidak akan meninggalkan apa yang biasa aku kerjakan. Kalau kalian tidak keberatan aku mau mengimami kalian, kalau tidak carilah orang lain untuk menjadi imam.” Sementara mereka meyakini bahwa orang ini paling layak menjadi imam shalat, akan tetapi mereka keberatan dengan apa yang dilakukan. Ketika mereka mendatangi Nabi saw. mereka melaporkannya. Nabi menegur orang itu seraya bersabda, “hai fulan, apa yang mencegahmu melakukan apa yang diperintahkan teman-temanmu? Apa yang mendorongmu untuk selalu membaca surah itu (Al Ikhlash) pada setiap raka’at? Ia menjawab, “Aku mencintainya.” Maka Nabi saw. bersabda, “Kecintaanmu kepadanya memasukkanmu ke dalam surga.”.

Salam sejahtera atasmu wahai Rasulullah! Jauhlah sikap sempit sebagian kaum yang gemar menuduh bid’ah dari sunnah dan petunjukmu !!

Demikianlah sunnah dan jalan Nabi saw. dalam menyikapi kebaikan dan amal keta’atan walaupun tidak diajarkan secara khusus oleh beliau, akan tetapi selama amalan itu sejalan dengan ajaran kebaikan umum yang beliau bawa maka beliau selalu merestuinya! Jawaban orang tersebut membuktikan motifasi yang mendorongnya melakukan apa yang baik kendati tidak ada perintah khusus dalam masalah itu, akan tetapi ia menyimpulkannya dari dalil umum dianjurkannya berbanyak-banyak berbuat kebajikan selama tidak bertentangan dengan dasar tuntunan khusus dalam syari’at Islam. Kendati demikian, tidak seorangpun dari ulama Islam yang mengatakan bahwa mengawali bacaan dalam shalat dengan surah al Ikhlash kemudian membaca surah lain adalah sunnah yang tetap! Sebab apa yang kontinyu diklakukan Nabi saw. adalah yang seharusnya dipelihara, akan tetapi ia memberikan kaidah umum dan bukti nyata bahwa praktik-prakti seperti itu dalam ragamnya yang bermacam-macam walaupun seakan secara lahiriyah berbeda dengan yang dilakukan Nabi saw. tidak berarti ia bid’ah, seperti yang dituduhkan sebagian “Ahli Fikih setengah matang” selama ia masuk dalam koridor umum kabaikan yang dianjurkan dalam syari’at!

Hadis Kelima:

Imam Bukhari meriwayatkan dalam kitab at Tauhid dari Ummul Mukminin Aisyah ra. bahwa Nabi sa. Mengutus seorang memimpin sebuah pasukan, selama perjalanan orang itu apabila memimpin shalat membaca surah tertentu kemudian ia menutupnya dengn surah al Ikhlash (Qulhu). Ketika pulang, mereka melaporkannya kepada nabi saw., maka beliau bersabda, “Tanyakan kepadanya, mengapa ia melakukannya?” Ketika mereka bertanya kepadanya, ia menjawab “Sebab surah itu (memuat) sifat ar Rahman (Allah), dan aku suka membacanya.” Lalu Nabi saw. bersabda, “Beritahukan kepadanya bahwa Allah mencintainya.” (Hadis Muttafaqun Alaihi).

Abu Salafy berkata:

Apa yang dilakukan si sahabat itu tidak pernah dilakukan oleh Nabi saw., namun kendati demikian beliau membolehkannya dan mendukung pelakuknya dengan mengatakan bahwa Allah mencintainya! Kendati demikian tidak seorang ulama’pun yang menfatwakan disunnahkannya melakukan seperti itu dalam shalat sebab apa yang selalu dilakukan Nabi saw. lebih afhdal, akan tetapi pembenaran (taqrîr) Nabi saw. atas tindakan seperti itu dalam menerima praktik-praktik semisal itu dari berbagai keta’atan dan ibadah memberikan bukti bagi kita bagaimana sunnah dan jalan Nabi saw. dalam menyikapinya. Kita melihat dengan jelas bagaimana Nabi saw. tidak menuduhnya telah berbuat bid’ah dan menentang sunnah beliau dengan mengatakan misalnya, “Barang siapa mengada-ngada dalam urusan (agama) ini apa yang bukan darinya maka ia tertolak.” Atau mengatakan ,” dan sejelek-jelek perkara adalah yang muhdatsat (baru dibuat-buat), dan setiap yang muhdats adalah bid’ah dan setiap yang bid’ah adalah dhalal (kesesatan).

Lima contoh di atas, -seperti Anda saksikan- adalah terkait dengan masalah shalat –ibadah paling sakral dalam ajaran Islam- dan Nabi. saw-pun telah bersabda:

صَلُّوا كما رَاَيْتُمُونِيْ أُصَلِّي.

“Slalatlah sebagaimana kalian meliohatku shalat!”

Sengaja kami sebutkan di sini. Kendati demikian Anda sakiskan bagaimana Nabi saw. menerima adanya penambahan kreasi dari ijtihad para sahabat beliau selama tidak keluar dari bentuk shalat itu sendiri sebagaiaman ditetapkan syari’at. Setiap batasan syari’at dalam shalat harus dijalankan apa adanya, dan pada selainnya, manusia punya keluasan untuk “berkreasi” selama masih terkoridor dalam bingkai anjuran umum yang dibenarkan!

Inilah Sunnah Rasulullah saw. dan jalan yang beliau tempuh. Dan ini sangatlah gamblang, dan darinya para ulama menetapkan sebuah kaidah:

Setiap amalan yang memiliki bukti anjuran umum dalam Syari’at dan tidak berbenturan dengan nash serta tidak menimbulkan mafsadah maka ia tidak masuk dalam batasan ketegori bid’ah, ia adalah bagian dari sunnah walaupun bukan yang paling afdhal!

Dalam ibadah ada yang afdhal dan ada yang kalah afdhal. Dan selama ada dasar umum dalam ibadahnya, maka pelakunya tidak akan dituduh menyimpang dan menjalankan praktik bid’ah kecuali oleh Ahli Fikih setengah Alim setengah Jahil!

186 Tanggapan

  1. Jawaban Wahabi :

    Tidak sesuai Alqur’an dan sunnah
    Tidak berilmu
    Jauh dari manhaj yang haq dan lurus
    Inilah kejahilan pelaku bid’ah
    Bukti taklid pada kyai—-ngikuti apa kata kyai fulan b fulana
    Bikin hukum baru cari dalil
    ——————————————————-
    Wahabi tidak demikian

    Berpegang teguh kepada Alqur’an dan sunah
    Syekhul Islam Ibnu Taymiah berfatwa ………
    Syek Utsaimin Azzaziyah dalam fatwanya ……..
    Syek Abdul Wahab berkata dalam kitab At-tauhid …..
    Syek Bin Baz dalam khotbanya ……….
    Syek Fulan b fulana dalam kondisi daruroh berijma ……bla bla bla …
    ——————————————————-
    Apa bedanya !!!!!!

    • Yah SAMI MAWON ….
      Kata Syekh ini begini, kata syekh itu begono ….
      ijtihad syekh ini begini , ijtihad syekh itu begitu …. yah sama aja donk ….
      Cuman Salafy kalo udah soal klaim sunnah Rasul paling jago ….!!!

    • As.Wr.Wb
      Untuk Kaum Wahabi:
      Seharusnya 1 hadist ajah sudah cukup untuk menyadarkan tapi dasar Salafy ini, walaupun ditunjukin beribu hadist g akan mengerti alias bebal…Saya sumpahin biar dapet hidayah(G perlu di doain lagi tapi langsung disumpahin ajah)…

  2. ehm…
    penempatan paragrafnya, untuk tulisan sepanjang ini, mohon maaf, menurut saya kurang nyaman buat dibaca 😉

    Abu Salafy:

    Terima kasih, akan kami perbaiki nanti.

  3. BUAT TEMAN-TEMAN LAMAKU; PARA PENGANUT SALASIYAH! BUAT ABU SEYEV, ABU WAHABI DAN LAINNYA. SALAM ATAS KALIAN SEMUA.

    Sungguh mulia akhlak Rasul bagaimana beliau mendidik umtanya dengan didikian Allah… Semoga sahalawat dan salam sejahtera selalu dicurahkan atasmu wahai Rasul.
    Mendekatkan diri dengan kebajikan yang beliau ajarkan adalah amal hasanah yang akan diganjar pahala oleh Nya… tidak mesti detail dan gaya pelaksanaannya setarus peratus kembar dengan yang pernah dilasaknakan nabi yang penting tidak menyelisihi ajaran beliau. Itulah kesimpulan saya dari makalah di atas. tidak seperti teman-teman Sallafiku yang selalu mengatakan hal semacam itu adalah bid’ah! Kenapa ? Karena nabi tidak memerintaknya! nabi tidak mengerjakannya! tanpa memerhatikan beretntangan atau tidak dengan RUH ajaran beliau.
    di natara mereka ada yang mengatakan begini: kepana kamu membaca shalawat dengan redaksi itu, nabi tidak pernah mengajarkan redaksi sahalawat seperti itu ka? jadi itu bid’ah! subhanallah, tapi ya begitulah adanya.
    rasan saya kepada teman-temanku salafi coba anda jadikan konsep sunnahXbid’ah di atas sebagai bahan renungan.

  4. Buat abu sayev, mas cahya dkk.
    tolomh dibantj tulisan pak abu salfy diatas, kan sudah ditantang. jangan alasan mau pakai konsep bid’ahnya nabi lho mas! kan pak abu juga pakai hadis nabi. ap sahih hadis-hyadis yang dibawakan pak abu diatas?
    ayo den bantah aja, salafi kok kalah. nggak pantes ah.
    ok sekian dulu.

  5. kapada teman-temaku ahlu salafiyun, harapanku hanya satu kalian mau membaca dan meneliti setiap butir tulisan di atas, siapa tau kalian mendapat ilmu baru tentang konsep bid’ah dan bedanya dengan sunnah nabi.
    kalau ternyata paparan pak Abu di atas salah ya silahkan kalian bantah dengan dalil sebab al hujjah bil hujjah.

  6. Sekali lagi terima kasih buat mas Abu Salafy…..

    Baru kali ini saya mendapat tulisan yang luar biasa, yang jelas dasarnya, jelas rujukannya dan tak terbantahkan. Kaum wahabi mungkin masih bisa terus memvonis bid’ah pada amalan-amalan kami para orang NU. Namun mereka para wahabi tidak akan mampu memvonis apa yang ada dalam kemantaban hati kami, yang benar-benar “menyembah” Allah dan “mencintai” Rasulullah dalam setiap amalan-amalan kami.

    apa boleh saya print untuk ditempel di masjid tempat saya mas? buat info teman-teman yang juga lagi bertahan dari penyusupan kaum wahabi ini…

    Matur suwun. Mugi ginanjar kawilujengan lan winengku karahyon saking Gusti Allah..

    _______________________________
    Abu Salafy:

    mas Aang, terima kasih, silahkan Anda perbanyak itung-itung ballighu anni walau ayah.
    selamat berjuang, semoga sukses menyertai kita semua. Amin.

  7. # Sobari Berkata:
    November 1, 2007 pada 4:00 am

    BUAT TEMAN-TEMAN LAMAKU; PARA PENGANUT SALASIYAH! BUAT ABU SEYEV, ABU WAHABI DAN LAINNYA. SALAM ATAS KALIAN SEMUA.

    Sungguh mulia akhlak Rasul bagaimana beliau mendidik umtanya dengan didikian Allah… Semoga sahalawat dan salam sejahtera selalu dicurahkan atasmu wahai Rasul.
    Mendekatkan diri dengan kebajikan yang beliau ajarkan adalah amal hasanah yang akan diganjar pahala oleh Nya… tidak mesti detail dan gaya pelaksanaannya setarus peratus kembar dengan yang pernah dilasaknakan nabi yang penting tidak menyelisihi ajaran beliau. Itulah kesimpulan saya dari makalah di atas. tidak seperti teman-teman Sallafiku yang selalu mengatakan hal semacam itu adalah bid’ah! Kenapa ? Karena nabi tidak memerintaknya! nabi tidak mengerjakannya! tanpa memerhatikan beretntangan atau tidak dengan RUH ajaran beliau.
    di natara mereka ada yang mengatakan begini: kepana kamu membaca shalawat dengan redaksi itu, nabi tidak pernah mengajarkan redaksi sahalawat seperti itu ka? jadi itu bid’ah! subhanallah, tapi ya begitulah adanya.
    rasan saya kepada teman-temanku salafi coba anda jadikan konsep sunnahXbid’ah di atas sebagai bahan renungan.

    ABU SAYEV:

    BUAT TEMAN LAMAKU YANG BELUM SEMPAT KITA BERKENALAN, DAN SAATNYA KITA BERKENALAN, SAUDARAKU SOBARI…..

    SUNAH DAN BID’AH SUDAH JELAS….
    KALAU TIDAK ADA SUNAH DAN BID’AH, RASULULLAH TIDAK MUNGKIN AKAN MENYURUH KITA UNTUK BERPEGANG TEGUH PADA QUR’AN DAN SUNAH-SUNAH BELIAU, DAN MUNGKIN RASULULLAH TIDAK AKAN MENJELASKAN BAHWA BID’AH DALAM MASALAH AGAMA ADALAH SESAT. DAN PRAKTEK AMALAN IBADAH SUDAH DITENTUKAN SYARI’AT, KALAU ADA AMALAN IBADAH RITUALITAS, ADA DIZAMAN SEKARANG, DAN ITU DIPANDANG BAIK, APALAGI BENAR DILIHAT DARI SYARI’AT, MENGAPA TIDAK ALLAH SAMPAIKAN PERTAMA KALI KEPADA RASULULLAH, APAKAH ADA AMALAN IBADAH SYAR’I YANG MASIH DIBERIKAN ALLAH SEPENINGGALAN RASULLULLAH, BAIK ITU AMALAN WAJIB….MAUPUN SUNAH.

    JADI BID’AH IBADAH RITUALITAS YANG TIDAK BERTENTANGAN DENGAN SYARI’AT ITU BID’AH YANG MANA?

  8. dari pertama ana baca blog ini isinya hanya mencoba utk memecah belah umat semuanya syarat kesombongan antara 2 aliran yang sama2 mengaku tuhan mereka adalah allah,muhammad utusan allah,dah lah mendingan bikin blog yg lebih bermanfaat contohnya cerita/biografi mujahidin2 afghanistan kaya osama bin muhammad bin awad bin laden,ayman al-zawahri,dan masih banyak lagi mujahidin2 masa kini yang wajib kita dukung tujuan mereka yaitu MENEGAKKAN HUKUM2 ALLAH DIBUMI INI.ALLAHUAKBAR!!! afwan kalo kaga nyambung sma artikel diatas,coz ana udah muak dengan kesombongan orang2 yang merasa paling benar,kl gitu apa bedanya ama iblis laknatullah

    • Setuju Mas Joe…
      Rasulullah bersabda : “Barangsiapa yang meninggalkan berbantah-bantahan padahal dalam kebatilan, maka Allah akan bangunkan baginya rumah dalam surga paling bawah. Dan barangsiapa yang meninggalkan berbantah-bantahan padahal kebenaran, maka Allah akan bangunkan baginya rumah di surga yang paling tinggi.”

      isi blog ini lama2 bikin hati jadi panassssss….

      • panas karena tdk cocok dengan doktrinnya tapi kok artikelnya ada dalilnya bingung mau ngedel ngga bisa mau bantah ndak mampu paling2 marah2 lantas rumusnya yg keluar provokasi,menfitnah,mengadu domba padahal om abu hanya jawab tuduh2an wahabi yg di lontarkan ke umat Islam lainnya

  9. para wahabi sedang berkonsulidasi menghadapi abusalafy hehehe…. kacian orang orang ini.
    Semoga Allah menghujani mereka dengan hujan hidayah bak batu karang yg hancur oleh ombak di lutan.

    Salam takdim tuk ustad abusalafy

  10. Abujenggotrapi Berkata:
    November 11, 2007 pada 2:32 am

    Buat abu sayev, mas cahya dkk.
    tolomh dibantj tulisan pak abu salfy diatas, kan sudah ditantang. jangan alasan mau pakai konsep bid’ahnya nabi lho mas! kan pak abu juga pakai hadis nabi. ap sahih hadis-hyadis yang dibawakan pak abu diatas?
    ayo den bantah aja, salafi kok kalah. nggak pantes ah.
    ok sekian dulu.

    abu sayev:

    buat abuplonthostakberjenggot
    kalau nggak pakai konsep bid’ahnya nabi lalu pakai konsep bid’ahnya siapa mas…..pakai konsepnya abu salafy(?) ??????? ha….ha….ha

    pak abu salafy (?) pakai hadist……seperti pakai celana di kepala…. mas.

    • Buat abu sayev,
      gak ada beda anda dengan kami sama sama bertaklid, mohon maaf ternyata anda lebih dari kami dalam bertaklid………….

      mohon maaf sebesarnyaaa…….

      • maksudnya lebih buta kaya bin baz gitukan?
        masalahnya pensiunan pasar seng kan gitu

  11. Nabi Muhammad s.a.w. apakah pernah mengadakan daurah dan kajian intensif untuk pemula pengenalan Salafy

  12. Di zaman Nabi Muhammad s.a.w.hanya ada 4 kaum yaitu : Kaum Anshor , Kaum Muhajirin , Kaum Munafiq , Kaum Musrikin la kalau Kaum Salafy ada ngak ya !

    • SALAF ITU ADALAH ORANG TERDAHULU, TERMASUK KESEMUANYA ITU YANG ANDA SEBUTKAN, TETAPI YANG DIMAKSUD SALAFUSHALIHIN ADALAH SAHABAT RASULULLAH, TABIIN DAN TABIUTABIIN DAN YANG MENGIKUTI CARA BERAGAMANYA MEREKA. BUKAN AHLUL BID’AH, AHLUL MUSYRIK YANG BERTAWASSUL DENGAN ORANG YANG SUDAH MENINGGAL, SEPERTI ABU SALAFY

      • sory saya cukup copy aja

        Ziarah Kubur

        http://salafyindonesia.wordpress.com/2007/02/12/ziarah-kubur/
        Kita kembali akan mengecek kebenaran klaim Ibnu Taimiyah dan kelompok Wahaby yang mengaku sebagai orang-orang yang ingin menghidupkan ajaran Salaf Saleh. Dalam masalah ziarah kubur ternyata para sahabat yang termasuk jajaran utama Salaf Saleh telah melakukannya. Dalam kitab Mustadrak alas shahihain karya al-Hakim an-Naisaburi jilid 1 halaman 532 hadis ke-1392 dinyatakan dari Ibnu Abi Malikah bahwa suatu hari ia pernah mendapati ummul mukminin Aisyah memasuki tempat pemakaman…

  13. asww. temen2 mohon
    1. tahan diri unruk tidak memakai kata2 kasar, dan sikap2 tidak ilmiah dalam menghadapi salafy wahaby.
    2. sebarkan pada kalangan intelektual untuk sgera memikirkan masalah “salafy wahaby ” ini, untuk mengkaji secara jelas apakah mereka benar atau salah. Dan kalau benar salafy wahaby salah, sikap bagaimana yang tepat: sehingga tidak merugikan kaum muslimin.
    3. usaha2 seperti abu salafy ini perlu digalakkan, untuk penyadaran umat, tapi materi, info, dan isi harus bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya
    4. hindari bahasa atau sikap mengklaim dan memvonis, karena bukankah sikap2 seperti ini yang ingin dibersihkan dari kelompok salafy wahaby

  14. Para Sahabat bila ketinggalan sholat berjama’ah sangat sedih sekali sehingga mengelurkan sedekah atau sholat semalam suntuk kalau kita yang belum dijamin masuk surga tanpa hisad langsung memakai dalil tentang ketinggalan sholat berjama’ah.

  15. Salam alaikum pak Abu,

    Makasih atas artikel dan penjelasannya yang gamblangm detail dan mengena, mudah-mudahan para santri-santri salafiyun bin wahabiyun bisa memahaminya… TAPI RASA-RASANYA MEREKA NGGAK BAKALAN NGERTI EN NGGAK MAU NGERTI.. karena mereka kan kelompok faham “POKOKNYA” pokoknya bukan wahabiyun ya nggak mau nerima…! orang ayat yang bertentangan dengan fahamnya aja dipelintir apalagi pak abu!

    makasih pak abu maju-terus pantang mundur untuk memberi pencerahan kepada kita-kita ini dari wabah pemikiran cupet dan neo khariji!

    barakallahu fiikum dan semoga Allah SWT selalu menolong dan melindungi Pak Abu serta dibanyakkan orang-orang macam pak Abu amin!

  16. Sebelum melihat orang lain lihatlah diri kita sendiri terlebihdahulu .

  17. Nabi Muhammad s.a.w. dan para Sahabatnya bila tengah malam tiba penuh dengan amalan sholat karena tidurnya Nabi Muhammad s.a.w. dan para Sahabatnya sebentar kalau kita bila tengah malam tiba penuh cerita 1001 malam ( tidur pulas dan bermimpi ).Bila adzan Shubuh dikumandangkan terbangun kadang tidak terbangun.

  18. @Abu sayev,

    tanggapan anda banyak sekali di blog ini tapi nggak mengena dan tidak terarah, termasuk tentang artikel diatas yang menyoal bid’ah, coba tanggapi artikel diatas itu yang to the point jangan lari kesana kemari, bahas dalil-dalil pak abu itu?

    dalam artikel diatas jelas pak abu kasi difinisi bid’ah. kalo boleh nanya apa sih difinisi Bid’ah menurut salafy/wahabi atau anda?

    siapah sih sebenarnya yang dianggap salaf menurut salafy/wahabi itu dan siapa salaf yang harus diikuti beserta dalil-dalilnya?

    segini aja dulu biar nggak panjang-panjang! jangan lupa aku tunggu tanggapan anda yang rinci tentang soal bid’ah diatas!

    buat pak abu salam kenal… dan semoga telaten dan sabar menghadapi wahabiyyun, Allah fi aunikum!

  19. Nabi Muhammad s.a.w. dan para Sahabatnya kalau makan 3 kali sehari atau sering puasa ? Bila makannya 3 kali sehari apakah ada dalilnya ?

  20. Sedekahnya Sahabat Umar r.a. dan sedekahnya Sahabat Abu Bakar r.a. apakah mencontoh Nabi Muhammad s.a.w. dalam bersedah ?

    Abu Salafy:

    Tolong Anda sebutkan contoh kasusnya, agar bisa kami komentari.
    Syukran.

  21. Pak Abu,
    Celana saya warna abu-abu, Gimana?
    Bid’ah gak,ya?

  22. Kepada Tuan Jaran warna celana itu bermacam -macam tergantung kesenangan anda yang penting menutup aurat .

  23. syiiiiiiiiiiirrrrrrrtuuu. main sekali pak abu

  24. seruan untuk pemuda muslim, pada golongan manapun yang memberi madharat pada islam,bersikaplah:

    1. aku tidak sudi, sekalipun aku di beri fasilitas hidup, dijamin penghidupan, dicukupi kebutuhan, diangkat status sosial sebagai pemuda yang alim dan wara, tapi aku tahu pasti yang mendanai aku, yang mendidik aku, yang mensupport aktifitasku adalah alat untuk memecah belah kaum muslimin,melemahkan dakwah atau kontra poduktif dengan dakwah, membuat beku dan mundur umat muslim, membuat kondisi tidak sinergis dari potensi dan agenda kaum muslimin, atau demi melanggengkan kekuasaan suatu kelompok.
    2. aku tidak sudi jika hanya demi menyalurkan gharizatul baqa (naluri lebih unggul dari yang lain), aku harus tampil sebagai yang seolah paling benar, memvonis yang lain kafir.sesat. batil, jahil, berbuat bid’ah, sebelum terbukti kebenarannya. , namun berusaha menutupi kesalahanku jika aku salah.
    3. aku tidak sudi jika hanya demi decakan kagum akhwat-akhwat muda,atau demi mendapat cinta dan kepasrahan mereka, aku harus mempertahankan dan mengunggulkan pendapatku sekalipun terbukti pendapatku salah.
    4. aku tidak sudi: jika harus berkerja sama dengan para intelejen manapun, yang ingin merekayasa kemunduran kaum muslimin
    5. aku tidak sudi punya pemimpin yang suka mengumbar libido seksualnya, baik ditempat2 sepi, di hotel, dipantai, di tempat2 wisata…baik dengan wanita jalang maupun dengan (kalau ada) akhwat-akhwat yang terpesona dengan fasilitas dan kekayaan.
    6. aku tidak sudi menjadi kaki tangan para “domba-domba” penyembah manusia, yang menganggap Nabi Isa sebagai penebus dosa
    7. aku tidak sudi untuk ikut kelompok yang suka mengklaim, membangakan kelompok, menyatakan diri sebagai “yang paling selamat”, paling “mengikuti para sahabat”, paling ” ahlu sunnah waljamaah”, tapi tidak bisa membuktikan klaim nya
    8. aku tidak sudi bersikap tidak obyektif: membela dan mengunggulkan syekh2ku sekalipun terbukti ada kesalahannya atau tidak mengakui sisi negatif sejarah kelompokku sekalipun terbukti. Aku tidak sudi untuk menolak info/pendapat dari luar kelompokku dengan beralasan : itu bukan dari ulama ahlu sunnah atau itu dari golongan “pecinta ali”, dari orang barat, jika info/pendapat itu benar.

  25. Syafi’ Rahman, di/pada Desember 7th, 2007 pada 4:55 pm Dikatakan:

    @Abu sayev,

    tanggapan anda banyak sekali di blog ini tapi nggak mengena dan tidak terarah, termasuk tentang artikel diatas yang menyoal bid’ah, coba tanggapi artikel diatas itu yang to the point jangan lari kesana kemari, bahas dalil-dalil pak abu itu?

    dalam artikel diatas jelas pak abu kasi difinisi bid’ah. kalo boleh nanya apa sih difinisi Bid’ah menurut salafy/wahabi atau anda?

    siapah sih sebenarnya yang dianggap salaf menurut salafy/wahabi itu dan siapa salaf yang harus diikuti beserta dalil-dalilnya?

    segini aja dulu biar nggak panjang-panjang! jangan lupa aku tunggu tanggapan anda yang rinci tentang soal bid’ah diatas!
    =====================
    abu sayev:
    @Syafi’ Rahman, mas apa guna punya mata tapi enggan melihat kenyataan, lebih baik menjadi orang yang buta tapi masih mau mendengar…..oke mas semua berhak untuk mengatakan perkataan siapa yang tidak mengena, itu bukan sebuah masalah, termasuk anda mengatakan demikian…..tapi saya mau tanya kepada anda apakah anda telah merasa adil dengan pernyataan anda…….okelah pr buat anda….anda baca semua posting dan baca pula jawaban dari abu salafy(?) anda akan menemukan jawabanya…..

    lihat pula balaghohnya nurul huda tentang bid’ah hasanah dan bid’ah dholalah
    bandingkan dengan sunah vs bid’ah versi abu salafy
    anda akan menemukan jawabanya juga
    aku heran…kalian kadang mengakui sebagai pelaksana bid’ah hasanah….tapi kadang pula bila praktek tersebut dikatakan bid’ah kemudian menjadi tersinggung…. kalau bikin pakem mbok ya yang pakem jadi tidak tidak memalukan.

  26. @ustad abu sayev

    ass.wr.wb.

    biasanya saudara menggebu-gebu dalam berdiskusi dengan pak abu, tapi sekarang, saya lihat -dengan mata terbuka- artikel diatas tidak anda tanggapi sama-sekali, anda hanya menanggapi beberapa orang, padahal urusan bid’ah bagi para wahabi/salafy adalah urusan yang sering disebut-sebut dalam setiap khotbah dan pembicaraanya. kok dalam kasus ini anda malah lari dari diskusi dengan pak abu

    lihat pula balaghohnya nurul huda tentang bid’ah hasanah dan bid’ah dholalah
    bandingkan dengan sunah vs bid’ah versi abu salafy

    kenapa? apa kekurangan bahan mas? karenanya tulisan diatas tidak anda tanggapi sama-sekali. harusnya saudara tambah semangat dong!

    tolong sih kasi tau difinisi “bid’ah”, “syirik” dan “salaf” menurut wahabi/salafy biar jelas!! jadi kalo didiskusikan bisa fokus nggak kesana kemari mas!

    wassalam.

  27. Pak Abu Salafy,

    membaca tulisan sunah vs bidah ini, ada tulisan
    ttg

    “Sengaja kami sebutkan di sini. Kendati demikian Anda sakiskan bagaimana Nabi saw. menerima adanya penambahan kreasi dari ijtihad para sahabat beliau selama tidak keluar dari bentuk shalat itu sendiri sebagaiaman ditetapkan syari’at. Setiap batasan syari’at dalam shalat harus dijalankan apa adanya, dan pada selainnya, manusia punya keluasan untuk “berkreasi” selama masih terkoridor dalam bingkai anjuran umum yang dibenarkan! ”

    khususnya ttg paragraph hadis kedua,

    apakah boleh kalau seseorang sekarang ini, ketika
    sholat pd saat i’tidal, mengucapkan kata2 selain tsb diatas, misalnya membuat doa/bacaan sendiri ?

    jadi mungkin waktu sholat jamaah dg 5 makmum,
    pd saat imam berucap ” sami’allahu liman hamidah”
    ada 5 jenis ucapan yg berbeda2 yg diucapkan
    para makmum ?

    kedua, apakah boleh kreasi tsb dalam bahasa indonesia ?

    terima kasih pak abu.

    ________________________________
    Abu Salafy:

    Di antara para fuqaha; ada yang membolehkan membaca doa dengan bahasa selain bahasa Arab dalam shalat.

  28. #
    syafi’ rahman, di/pada Desember 27th, 2007 pada 5:56 pm Dikatakan:

    @ustad abu sayev

    ass.wr.wb.

    biasanya saudara menggebu-gebu dalam berdiskusi dengan pak abu, tapi sekarang, saya lihat -dengan mata terbuka- artikel diatas tidak anda tanggapi sama-sekali, anda hanya menanggapi beberapa orang, padahal urusan bid’ah bagi para wahabi/salafy adalah urusan yang sering disebut-sebut dalam setiap khotbah dan pembicaraanya. kok dalam kasus ini anda malah lari dari diskusi dengan pak abu

    lihat pula balaghohnya nurul huda tentang bid’ah hasanah dan bid’ah dholalah
    bandingkan dengan sunah vs bid’ah versi abu salafy

    kenapa? apa kekurangan bahan mas? karenanya tulisan diatas tidak anda tanggapi sama-sekali. harusnya saudara tambah semangat dong!

    tolong sih kasi tau difinisi “bid’ah”, “syirik” dan “salaf” menurut wahabi/salafy biar jelas!! jadi kalo didiskusikan bisa fokus nggak kesana kemari mas!

    wassalam.

    abu sayev:

    wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh
    @ kiai syafi’ rahman, maaf jangan panggil saya ustadz
    kami mengatakan ” lihat pula balaghohnya nurul huda tentang bid’ah hasanah dan bid’ah dholalah bandingkan dengan sunah vs bid’ah versi abu salafy” bukan untuk mengalihkan perhatian atau lari dari fokus, justru anda yang mungkin belum memenuhi permintaan kami, anda baca dulu baru berkomentar mas. atau mungkin anda emosi kiai teman-teman anda memberikan penjelasan tentang sunah dan bid’ah dengan bertolak belakang 180 derajat.

    terima kasih

  29. @ustad Abu Sayev

    kami mengatakan ” lihat pula balaghohnya nurul huda tentang bid’ah hasanah dan bid’ah dholalah bandingkan dengan sunah vs bid’ah versi abu salafy” bukan untuk mengalihkan perhatian atau lari dari fokus

    kalo nggak mau lari dari fokus kenapa anda tidak langsung mendiskusikan aja soal bid’ah disini kok pake muter-muter segala!

    bukankah anda sdh menguasai -balaghohnya nurul huda- yg anda sebut itu? coba diskusikan konsep bid’ah anda dan ikhwan nurul huda itu, dg pak abu. atau dengan kita disini.

    ustd sayev untuk membaca buku-buku ulama wahabi nggak pake disarankan, malah wahabiyyun salafiyyun saja yang takut membaca tulisan dan buku-buku ulama diluar mereka.

    biar nggak kesana kemari saya ulangi lagi mari kita berdiskusi dan sebelum berdiskusi soal “BID”AH” coba anda difinisikan bid’ah menurut wahabi salafy. biar diskusinya tidak melenceng kesana-kemari

    jazakumullah khoiran wabarakullah fik!

  30. @ mas Syafi’ Rahman
    wa’iyyakum,
    mas anda jangan terlalu emosi mas…..kami hanya menggunakan metode debat cara abu salafy(?), jadi emosimu akan membuat kami tersemyum geli, sekali lagi kami sarankan anda baca dulu tulisan dari pak nurul huda dan kemudian bandingkan dengan tulisan kiai anda yang lain, lalu renungkanlah.

    mas, rupanya memang anda telah ketularan abu salafy(?)

    “ustd sayev untuk membaca buku-buku ulama wahabi nggak pake disarankan, malah wahabiyyun salafiyyun saja yang takut membaca tulisan dan buku-buku ulama diluar mereka.”

    sepertinya hanya kalangan kalian yang jantan mau dan bersedia membaca kitap-kitab dari lawan kalian.

    mas…siapa yang njamin pula kiai-kiai sampaian berani baca buku-buku ulama Ahlussunnah. kalau cuma dari kata-kata kalian itu nggak menjamin mas.

    maaf mas terserah anda menyebut anda dengan kiai, namun mohon jangan sebut kami ustadz

  31. @Syafi’ Rahman
    waiyyakum, bukankan ini cara berdebat dari abu salafy mas…jadi jangan cari kutu dikepala orang sementara dikepala sendiri ada kecoaknya nggak sadar, saya sudah mengatakan, kami persilahkan anda membaca dahulu pembelaan bid’ah dari kedua kiai itu, baru kami tunggu komentar anda, baru kita bisa memulai berdiskusi.

    masalah takut dan tidak takut membaca buku-buku sufi, tuh ditempat saya ada segudang mas, maklum saya dulu lulusan sufi. LAGIAN SIAPA YANG NJAMIN KALIAN BERANI BUKA BUKUNYA AHLUSSUNNAH ATAU SALAFY KARENA AKU PUNYA TEMAN MAAF DARI nu, KATANYA ALERGI BACA BUKU-BUKU SALAFY, PADAHAL BARU LIHAT SAMPULNYA.
    JADI SEBENARNYA MASALAH SEPERTI ITU KONYOL KALAU DI BAHAS MAS.

    KALAU NJENENGAN PENGEN TAHU MAKNA BID’AH DAN SUNNAH MENURUT AHLUSSUNNAH WAL JAMA’AH, BANYAK KOK ULASAN-ULASANNYA DI INTERNET. BUKA SAJA KALAU NJENENGAN MAU. TAKUT MENERIMA KEBENARAN BUKAN SIFAT KAMI MAS

    YANG PERLU KITA BAHAS ADALAH SUNNAH ALA ABU SALAFY. MAKSUDKU BID’AH DIKATA SUNNAH NYA ABU SALAFY

  32. @Abu sayev

    ass. wr.wb

    Biar tidak “ngalor-ngikul” seperti diskusi saudara dengan abu salafy.

    marilah langsung saja, kita bicarakan (diskusikan) tentang konsep Bid’ah, Tauhid, dan Syirik menurut wahabi. mengingat halaman ini bertopik bid’ah dan sunnah, maka sebaiknya kita membahas tentang konsep Bid’ah disini.

    [untuk membahas/diskusi tentang konsep Tauhid dan Syirik ala wahabi, kita bisa membahas diruang diskusi yang ada di blog ini yaitu alaman “Diskusi Tamu”]

    silahkan anda mengusung konsep BID”AH ala wahabi baik itu pendapat Ibnu taymiah, bin baz, utsaimin, atau nurul huda teman anda itu…..

    SEKALI LAGI MARILAH KITA MULAI SAJA DISKUSINYA DAN TIDAK MUTER-MUTER LAGI !!

    barakallahu fik !

  33. buktikan sekali lagi (carilah bukti-bukti lain) bahwa bid’ahmu adalah Sunnah Rasulullah

    =======================================================

    Orang-orang seperti mereka memang selalu ada di atas permukaan bumi ini sebagai penerus tongkat estafet para pembatil-pembatil terdahulu, untuk menentang kebenaran, seperti pula para pendakwah akan selalu bermunculan sebagai penerus pendakwah-pendakwah terdahulu untuk membela yang haq supaya bersingkir dari yang batil.

    Jadi kita tidak perlu bersedih hati jikalau antara pembela dan penentang akan selalu muncul karena kesemuanya telah disemai oleh para para penabur benih dari masing-masing.

    Begitu pula dakwah Ahlussunnah wal Jama’ah akan setia mendapat pertentangan dari orang-orang yang membencinya.

    Berikut petikan dalih dari orang-orang yang membenarkan bid’ah sebagai sunah:
    Meluruskan Kesalah-pahaman Pandangan Wahhabi Tentang Konsep Bid’ah

    Diambil dari blog Abusalafy. WordPress.com

    Tidak ada kata-kata yang akrab kita dengar dari teman-teman Wahhabi/Salafy melebihi kata bid’ah… dan tidak ada bencana bagi umat Islam lebih dari bencana akibat kesalahan dala memahami konsep bid’ah. Betapa pemahaman yang keliru tentang perbedaan antara Sunnah dan Bid’ah telah menibulkan seribu satu musykilah dan bencana. Oleh karenanya meluruskan pamahaman tentang keduanya adalah sebuah keniscayaan demi menghindarkan dari berbagai kesalah pahaman terhada praktik-praktik tertentu yang ditekumi sebagin kaum Muslimin yang acak kali menjadi salah sasaran pembid’ahan bahkan vonis pemusyrikan oleh ektrimis Wahhabi/Salafy.

    Sunnah dan Bid’ah!

    Dalam sabda-sabda Nabi saw., Sunnah dan bid’ah adalah dua hal yang saling berhadap-hadapan, karenanya pemahaman tentang salah satunya tidak akan tepat tanpa memahami lawannya, sebab –seperti dalam pari bahasa Arab: wa bidhiddihha tatayyanu al asy-yâ’u = dengan mengenal lawannya, segala sesuatu menjadi jelas-. Banyak dari para penulis langsung terjun membatasi makna dib’dah tanpa terlebih dahulu memastikan apa makna sunnah, sementara ia dalah yang asal, kanenanya mereka terjelabak dalam kesempitan tanpa dapat bisa keluar darinya dan berbenturan dengan bukti-bukti/dalil-dalil nash yang menentang pembatasan mereka akan makna bid’ah. Andai mereka terlebih dahulu menetapkan apa makna sunnah itu pastilah mereka terhindar dari masalah tersebut.

    Rasulullah saw. dalam banyak hadisnya memerintahkan berpegang dengan Sunnah baru setelahnya memperingatkan akan bahaya lawannya, yaitu bid’ah, seperti Anda dapat saksikan dalam banyak hadis di antaranya:

    abu sayev berkata:

    Padahal apa yang telah mereka pertahankan sama sekali tidak mendapat ridha dari Rasulullah.

    BID’AH dan SUNNAH adalah dua kata yang saling berlawanan makna, dan membahas masalah bid’ah tentunya tidak akan lepas dengan permasalahan sunnah, namun bukan berarti kami menghiyakan upasan penulis tentang pemaknaan sunnah’dan bid’ah versinya.

    Kami perlu memperlihatkan kata-kata rancu yang dipakai oleh penulis dalam pemaparannya:
    (lihat………Banyak dari para penulis langsung terjun membatasi makna dib’dah tanpa terlebih dahulu memastikan apa makna sunnah, sementara ia dalah yang asal), dengan tidak malu-malu penulis melakukan penyimpulann yang menggelikan, seolah-olah hanya kalangan mereka yang menguasai tata bahasa ataupun gaya bahasa dan sebagainya dalam permasalah itu, sehingga yang terucap jauh dengan kenyataan yang ada. Sudah cukup jelas kaidah Ahlussunah wal Jama’ah dalam membahas makna sunnah dan lawannya bid’ah (lihat artikel-artikel tentang sunnah dan bid’ah menurut pemahaman Ahlussunnah wal Jama’ah).

    Mencermati kata-kata diatas, maka akan didapat maksud dari penulis:

    bahwa asal segala sesuatu adalah sunnah, kemudian baru yang bertentangan dengannya adalah bid’ah. Artinya penulis tidak mengakui adanya bid’ah selama itu adalah hasanah (baik) karena pada asalnya adalah sunnah, baru bid’ah dhalalah (jelek) atau yang bertentangn dengannya adalah yang termasuk dalam kategori bid’ah.

    Coba kita simak bersama-sama satu hadist yang menjadi salah satu acuan dari penulis, diterangkan bahwa:

    Amma ba’du, Maka sesungguhnya sebaik-baik pembicaraan adalah Kitabullah, dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad saw. dan sejelek-jelek perkara adalah yang muhdatsat (baru dibuat-buat), dan setiap yang muhdats adalah bid’ah dan setiap yang bid’ah adalah dhalal (kesesatan). Hadis yang sama juga diriwayatkan Bukhari mauqûf (sebagai ucapan) Ibnu Mas’ud.

    Sangat jelas bahwa Rasulullah menegaskan:
    * Sebaik-baik (sesuatu yang hasanah) adalah Kitabullah dan petunjuk Rasulullah
    *Dan sejelek-jelek perkara (sesuatu yang dhalalah) adalah perkara yang baru dan setiap yang baru adalah bid’ah dan setiap bid’ah adalah sesat..

    Jadi kurang jelas apa tentang sunnah dan bid’ah kecuali oleh orang-orang yang suka mempermainkan Dalil. Rasulullah tidak pernah membagi sesuatu yang baru (dalam agama) kedalam dua kategori baik dan buruk, melainkan beliau menempatkan setiap yang baru adalah bid’ah, dan setiap bid’ah adalah sesat. Apakah penulis akan mengatakan bahwa Rasulullah hanya membatasi bid’ah tanpa mengenal arti kata lawanya yaitu sunnah yang merupakan asal, karena apa yang disabdakan beliau ternyata tidak sesuai dengan kepentingan penulis.
    Penulis mengatakan…(lihat…….Sunnah dan bid’ah adalah dua hal yang saling berhadap-hadapan, karenanya pemahaman tentang salah satunya tidak akan tepat tanpa memahami lawannya…..) kemudian dilanjutkan dengan (lihat ….Andai mereka terlebih dahulu menetapkan apa makna sunnah itu pastilah mereka terhindar dari masalah tersebut…….)

    bagaimana andai kami yang mengatakan demikian:

    “dalam sabda-sabda Rasulullah, Sunnah dan bid’ah adalah dua hal yang saling berhadap-hadapan, karenanya pemahaman salah satunya tidak akan tepat tanpa memahami lawanya,…………………kemudian ada sebagian orang yang dengan nafsu dan emosi mengatakan segala sesuatu adalah sunah sedang dia tidak memastikan dulu apa makna bid’ah padahal telah jelas diterangkan Rasulullah tentang bid’ah, sehingga orang-orang tersebut terjerumus dalam kubangan racun yang dikiranya madu Karena warnanya yang memikat, dan racun itu membunuh mereka sedang mereka dalam keadaan tidak sadar. Andai mereka terlebih dahulu menetapkan rambu-rambu tentang bid’ah yang diperingatkan Rasulullah sebelumnya, maka mereka akan terhindar dari kebinasaan.”artinya semua akan bisa membuat stetment seperti itu, namun tentunya bukan hal itu yang kita kehendaki bersama untuk saling mengolok-olok, namun mencari kebenaran dengan jalan yang baik.

    (lihat…. Rasulullah saw. dalam banyak hadisnya memerintahkan berpegang dengan Sunnah baru setelahnya memperingatkan akan bahaya lawannya, yaitu bid’ah, seperti Anda dapat saksikan dalam banyak hadis di antaranya), penulis melakukan kecerobohan dalam menyikapi syari’at dari Rasulullah, bahkan itu bisa menjadi sebuah kedzaliman kepada beliau, Rasulullah Shalaullahu Alaihi wa ala Alihi Wasalam
    *Apakah penulis mengira syari’at Rasulullah untuk berpegang teguh kepada Kitabullah dan Sunnah beliau tidak dibarengi dengan syari’at untuk menjauhi bid’ah.
    *Apakah bid’ah baru setelahnya disyari’atkan Rasulullah ketika umat telah berpegang teguh kepada Qur’an dan Sunah.
    *Apakah berarti pula menjadi Ahlussunnah sekaligus menjadi Ahlul Bid’ah adalah syari’at Rasulullah

    Na’udzubillahi min dzalik, Namun begitulah kisah perjuangan ahlusysyubhat, akan selalu mempertahankan sampai tetes darah penghabisan terhadap kejahilannya.

    Pembahasan selanjutnya:

    1) Hadis dalam Shahih Muslim: Adalah Rasulullah saw. apabila berkhutbah memerah kedua mata beliau dan lantang suara beliau, beliau bersabda:

    فَإِنَّ خيرَ الحديثِ كتابُ اللهِ , و خير الهدْيِ هديُ مُحَمَدٍ (ص), و شَرَّ الأُمورِ مُحْدَثاتُها, و كلُّ محْدَثَةٍ بِدْعَةٌ و كلُّ بِدْعِةٍ ضلالَة

    Amma ba’du, Maka sesungguhnya sebaik-baik pembicaraan adalah Kitabullah, dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad saw. dan sejelek-jelek perkara adalah yang muhdatsat (baru dibuat-buat), dan setiap yang muhdats adalah bid’ah dan setiap yang bid’ah adalah dhalal (kesesatan). Hadis yang sama juga diriwayatkan Bukhari mauqûf (sebagai ucapan) Ibnu Mas’ud.

    2) Hadis di atas dipertegas dengan hadis panjang riwayat Turmudzi, Abu Daud dan para muhaddis lain dari: Al-Irbâdh ibn Saariyah, ia berkata, pada suatu hari, seusai salat subuh Rasulullah saw. memberi wejangan kepada kami dengan mau’idzah yang luar biasa, karenanya mata-mata mencucurkan air mata dengan deras dan hati-hati menjadi takut, lalu ada seorang lelaki berkata, sepertinya ini wejangan perpisahan, lalu apa yang Anda perintahkan untuk kami wahai Rasulullah saw? beliau saw. menjawab:

    أُوْصِيْكُمْ بِتَقْوَى اللهِ و السَّمْعِ و الطاعَةِ وَإنْ عَبْدٌ حَبَشِيٌّ فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ يَرَ اخْتِلاَفًا كَثِيْرًا , وَ إِيَّاكُمْ وَ مُحْدَثاتِ الأُمُوْرِ , فَإِنَّهَا ضَلاَلَةٌ فَمَنْ أَدْرَكَ ذلِكَ مِنْكُمْ فَعَلَيْهِ بِسُنَّتِيْ وَ سُنَّةِ الخُلفاءِ الرَاشِدِيْنَ المَهْدِيِّينَ , عَضُّوا علَيْها بالنَّواجِذِ.

    Aku berwasiat kepadamu dengan ketaqwaan kepada Allah, mendengar dan taat walaupun kepada budak sahaya berkebangsaan Etiopia. Karena sesungguhnya siapa dari kamu yang hidup ia akan menyaksikan perselisihan yang banyak. Hati-hatilah kamu dari perkara-perkara yang baru karena ia adalah kesesatan. Maka barang siapa dari kamu mengalami hal itu, hendaknya ia berpegang teguh dengan sunnahku dan sunnah para khulafa’ yang Râsyidiin dan Mahdiyyiin (yang terbimbing dan mendapat petunjuk), gigitlah ia dengan gigi geraham kamu (berpegang teguhlah dengannya)!.(Al-Turmudzi. Sunan (dengan Syarah Al-Mubarakfuuri).Vol.7,438-442. bab al-Akhdzu bil Sunnah wa ijtinaab al-Bid’ah)

    3) Hadis Jarir dalam riwayat Muslim di bawah ini akan memperjelas:

    َمَنْ سَنَّ في الإسلامِ سُنَّةً حسَنَةً فَلَهُ أجْرُها وَ أَجْرُ مَنْ عَِملََ بها بَعْدَهُمَ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقَصَ مِنْ أجورِهِمْ شَيْئٌ. مَنْ سَنَّ في الإسلامِ سُنَّةً سَيِّءَةً فله وِزْرُها و وزرُ مَنْ عَِملََ بها بَعْدَهُ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقَصَ مِنْ أوزارِهِمْ شَيْئٌ.

    Barang siapa mebuat sunnah baik dalam Islam maka baginya pahalanya dan pahalka orang-orang yang mengamalkannya setelahnya, tanpa berkurang sedikitpun pahala mereka. Dan barang siapa membuat sunnah jelek dalam Islam maka atas dosanya dan dosa orang-orang yang mengemalkannya setelahnya tanpa berkurang sedikitpun dosa-dosa mereka.

    Dari ketiga contoh hadis di atas dapat kita saksikan bagaimana Rasulullah saw. menghadapkan antara Hadyu Muhammad dengan muhdatsat al umûr, Dalam hadis kedua, antara sunnah beliau dengan muhdatsat al umûr, sedangkan dalam hadis ketiga antara sunnah sayyiah dengan sunnah hasanah. Jadi jelas, sunnah duluan baru, apapun yang keluar dan menyimpang darinya masuk dalam bid’ah. Lalu apa sebenranya sunnah itu?

    Abu sayev berkata:

    Kalau kita jeli dan teliti memperhatikan pembahasan penulis di atas, maka sebenarnya banyak sekali penulis mengalami kekacauan dalam mensikapi Sunnah dan bid’ah. salah satunya adalah penulis memaksudkan bahwa semua adalah pada asalnya Sunnah, kemudian baru yang menyimpang darinya adalah bid’ah, semua dia landaskan pada dalil diatas. bukankah dalil di atas telah menjelaskan pula dengan sangat gamblang tentang pembedaan Sunnah dan bid’ah. Kalau kita memahami pemaknaan Sunnah dan Bid’ah dengan tidak dicari-cari untuk bahan pembenaran sebuah tradisi yang salah, maka sebenarnya tidak akan ada fitnah lagi di dalam dien ini.

    bagaimana bisa kemudian penulis mengambil sebuah kesimpulan antara:

    menghadapkan antara Hadyu Muhammad dengan muhdatsat al umûr,

    antara sunnah beliau dengan muhdatsat al umûr,

    sunnah sayyiah dengan sunnah hasanah.

    dengan makna bahwa sunnah dulu baru kemudian yang menyimpang darinya adalah bid’ah itu berarti yang kami tengkap dari kesimpulan penulis adalah

    “semua dihukumi dulu dengan Sunnah, baru yang melanggar dihukumi bid’ah”

    artinya jikalau kita dihadapkan pada sesuatu yang kita belum tahu apakah Sunnah atau bid’ah, maka hukumnya adalah Sunnah, dan Sunnah berarti dianjurkan untuk dilakukan, baru setelah mengetahui bahwa itu bid’ah maka tidak boleh dilakukan.itu sama artinya jika kita dihadapkan pada segelas air, yang kita belum tahu apakah itu air madu atau air racun, maka kita dibolehkan menganggap itu air madu, dan dianjurkan untuk meminumnya, baru setelah kita mengetahui bahwa ternyata air dalam gelas itu mengandung racun maka kita tidak boleh lagi meminumnya, tapi bagaimana kalau kita sudah terlanjur meminum racun itu

    ternyata kaidah seperti itu berbahaya bagi kita.

    coba bandingkan dengan kaidah:

    bahwa jika kita dihadapkan pada sesuatu yang kita tidak tahu apakah Sunnah atau bid’ah, maka kita takut berbuat bid’ah dan janganlah melakukan yang kita tidak mengetahui dasar hukumnya, baru setelah kita mengetahui dasar hukumnya bahwa itu adalah Sunnah, maka marilah kita melakukannya sebagai keutamaan. sama halnya ketika kita dihadapkan pada segelas air yang kita tidak tahu apakah itu air madu atau air racun maka kita harus mencari tahu dulu tentangnya, baru setelah kita tahu bahwa itu dalam gelas itu berisi air madu maka itu dianjurkan untuk meminumnya.

    Pembahasan selanjutnya:

    Dalam bahasa dan penggunaan syara’, sunnah bermaknakan tharîqah (jalan) yaitu petunjuk, hadyu Nabi saw. Jadi jalan/cara yang ditempuh Nabi saw. dalam petunjuknya, ketika menerima atau menolak adalah sunnah! Dan makna tersebutlah yang dipertegas dalam hadis Jarir di atas. Sunnah hasdanah artinya jalan/cara yang baik, dan sunnah sayyiah adalah jalan/cara yang jelek. Demikian makna yang haruis difahami daerinya, bukan yang disalah-fahami oleh sebagian awam pelajar/santri apalagi kaum awam bahwa sunnah adalah hadis nabiwi atau lawan dari faridhah (yang wajib), sebab makna pertma adalah istilah para ahli hadis sementara istilah kedua adalah istialh para ahli fikih. Kedua pemaknaan tersebut baru lahir jauh setelah penggunaan kata tersebut dalam sabda-sabda Nabi saw. jadi tidak benar apabila kita mengartikan sabda tersebut dengan pemankaan baru.

    Sunnah Rasul saw. adalah jalan/cara beliau dalam bertindak, memerintah, menerima atau menolak. Oleh karenanya, segala apapun yang baru harus dihadapkan kepada Sunnah Rasul saw. dan jala/cara beliau dalam menerima dan atau menolak.

    Cacatan:

    Mungkin ada yang mengatakan bahwa amalan-amalan seperti dalam contoh kasus di atas dapat diterima sebab ia telah ditaqrirkan (disetuji) oleh Nabi saw., maka kami menjawabnya, benar demikian adanyam, akan tetapi dari kasus-kasus di atas dapat dijadikan sebuah bukti nyata untuk mengenal sunnah Nabi saw. dalam nmenerima subuah “kreasi” dalam ibadah atau amal kebajikan tertentu. Sebab seperti diketahui bahwa banyak dari amalan-amalan tersebut tidak disebut sebagai sunnah dan tidak seorang ulamapun yang menganggapnya sebagai sunnah, sebab amalan dan praktik Nabi saw. lebih afdhal dan lebih tepat untuk diikuti. Akan tetapi ia memberikan gambaran jelas bagi kita bahwa Nabi saw. tidak menolak sesuatu amalan kebajikan yang tidak membentur nash atau tidak menimbulkan mafsadah(kerusakan) serta tidak menyalahi hadyu (petunjuk umum) yang beliau bawa!inilah maksud kata-kata para ulama bahwa apapun yang dianjurkan oleh syari’at baik secara khusus atau bersifat umum maka ia tidak tergolong bid’ah, walaupun praktik itu secara khusus tidak pernah dikerjakan atau diperintahkan Nabi saw. dengan perintah khusus.

    Abu sayev berkata:

    Penulis berkali-kali mengatakan kesalahfahaman pemaknaan sunnah dan bid’ah yang dia yang dia alamatkan kepada pengikut Ahlussunnah wal Jama’ah, dan berulangkali pula kami tegaskan untuk coba melihat definisi sunnah dan bid’ah berdasarkan pemahaman Ahlussunnah wal Jama’ah, sehingga semua akan bisa membuktikan mana yang bicara atas dasar kebenaran dan mana yang berbohong untuk pembenaran sebuah kesalahan.

    Kita lihat pembahasannya:
    (lihat….Dalam bahasa dan penggunaan syara’, sunnah bermaknakan tharîqah (jalan) yaitu petunjuk, hadyu Nabi saw. Jadi jalan/cara yang ditempuh Nabi saw….)

    (lihat juga….Sunnah hasdanah artinya jalan/cara yang baik, dan sunnah sayyiah adalah jalan/cara yang jelek.)

    Poin pertama
    (lihat juga….Sunnah Rasul saw. adalah jalan/cara beliau dalam bertindak, memerintah, menerima atau menolak. Oleh karenanya, segala apapun yang baru harus dihadapkan kepada Sunnah Rasul saw. dan jala/cara beliau dalam menerima dan atau menolak.)

    Dari tiga pernyataan di atas dapat disimpulkan bahwa sunnah hasanah adalah Hadyu Muhammad atau singkatnya itu adalah SUNAH DALAM MAKNA SYARI’AT, dan sunah sayyiah adalah yang dimaksud dengan bid’ah artinya penulis menempatkan semua jalan/cara Rasulullah dalam bertindak, memerintak, menerima dan menolak itu yang disebut SUNAH. Dan ini yang mungkin masih kita sepakati bersama dalam pendefinisian kata sunnah secara universal.

    Poin kedua
    (coba lihat lagi….Mungkin ada yang mengatakan bahwa amalan-amalan seperti dalam contoh kasus di atas dapat diterima sebab ia telah ditaqrirkan (disetuji) oleh Nabi saw…………….. akan tetapi dari kasus-kasus di atas dapat dijadikan sebuah bukti nyata untuk mengenal sunnah Nabi saw. dalam nmenerima subuah “kreasi” dalam ibadah atau amal)

    Sampai pada pembahasan ini, jadi terlihat maksud penulis untuk membela bid’ahnya. Dia berkeinginan untuk menarik garis kesimpulan bahwa kreasi amalan ibadah pada saat sekarang dan yang akan datang akan dibenarkan dengan hujjah taqrir nabi kepada Sahabat pada masa itu.

    Poin ketiga
    (kemudian lihat….Sebab seperti diketahui bahwa banyak dari amalan-amalan tersebut tidak disebut sebagai sunnah dan tidak seorang ulamapun yang menganggapnya sebagai sunnah, sebab amalan dan praktik Nabi saw. lebih afdhal dan lebih tepat untuk diikuti.

    Kita lihat jenakanya penulis membuat sebuat pernyataan:
    Pada poin “pertama penulis menyatakan bahwa sunah adalah jalan Rasulullah baik sikap beliau, sabda beliau, taqrir beliau, maupun penolakan beliau.”

    Pada poin kedua” penulis memasukan kreasi ibadah dalam taqrir Rasulullah, oleh sebab itu masih disebut sebagai SUNNAH.

    Namun mengapa tiba-tiba penulis menentang sendiri apa yang telah dikatakannya pada poin awal,

    Karena pada poin ketiga” penulis kemudian justru malah mengakui bahwa ulama-ulama merekapun tidak menganggap sesuatu yang baru itu sebagai Sunnah”

    SANGAT ANEH, PADA MULA PERTAMA DIA SANGAT GETOL UNTUK MENGATAKAN ITU ADALAH SUNNAH, TIBA-TIBA… DITENGAH PERNYATAANNYA TIBA TIBA DIA MENOLAKNYA SENDIRI, MEMANG HEBAT BAHASA YANG TIDAK AKAN BISA DIPAHAMI OLEH ORANG LAIN KECUALI ORANG-ORANG YANG PUNYA ILMU LADUNI.

    Yang lebih lucu lagi dari pernyataan penulis “sebab amalan dan praktik Nabi saw. lebih afdhal dan lebih tepat untuk diikuti.” Tapi mengapa justru membuat ritual-ritual sendiri sedang ada yang lebih tepat untuk diikuti. Bukankah ritual-ritual mereka yang beraneka warna itu lebih merepotkan dari apa yang dituntunkan oleh Rasulullah, sedang itu tidak lebih afdal, namun mengapa mereka lebih senang melakukan.

    Sebagai tambahan dalam pembahasan ini kami hanya sekedar memberikan gambaran tentang pembelaan mereka tentang bid’ah. Kita akan membandingkan pembelaan bid’ah pada pembahasan ini dengan pembelaan bid’ah ala kiai yang lain yaitu nuril huda dalam balaghahnya terhadap hadist Nabi.

    DALAM BALAGHAH ALA NURUL HUDA DITERANGKAN BAHWA

    hadist Nabi “ setiap bid’ah adalah sesat………”

    dia menerangkan bahwa setiap kata benda memiliki sifat baik dan buruk, begitu pula bid’ah adalah kata benda tentunya memiliki sifat baik dan buruk.

    Sedangkan Nabi dalam hadistnya tidak menjelaskan sifat dari bid’ah itu, jadi perlu ilmu balaghah untuk mengartikannya:
    Kemungkinan pertama “ setiap bid’ah (yang baik) adalah sesat………” sifat baik dan jelek tidak mungkin berkumpul dalam satu benda jadi ini bukan yang dimaksud oleh Nabi.
    Kemungkinan kedua “ setiap bid’ah (yang jelek) adalah sesat………”, inilah yang dimaksud oleh Nabi
    Kami tidak akan membahas penyataan diatas dalam kesempatan ini, Insya Allah dalam kesempatan lain, namun setidaknya kita akan mengetahui bahwa mereka tidak punya pegangan yang kuat untuk membela bid’ahnya, sehingga antara satu dan lainnya memberikan pembelaan pada satu obyek, namun masing-masing diantara mereka saling bertentangan.

    coba bandingkan
    KIAI NURUL HUDA, MASIH LEBIH KESATRIA MENGAKUI BAHWA BID’AH MEMANG BID’AH, HANYA MENURUT PANDANGANNYA BID’AH ADA YANG BAIK (BID’AH HASANAH) DAN BID’AH YANG JELEK (BID’AH DHALALAH)
    ee….tiba-tiba ada kiai lain membantahnya ( lihat……banyak dari para penulis langsung terjun membatasi makna dib’dah tanpa terlebih dahulu memastikan apa makna sunnah, sementara ia dalah yang asal,…..)

    yang menjadi pertanyaan kami:
    apakah kiai nurul huda berbicara tentang bid’ah hasanah dan bid’ah dhalalah dengan pemaknaan terhadap Sunnah, dan apakah Sunnah merupakan yang asal sesuai dengan kaidah dari pembelaan kiai nurul huda.

    Jadi kesimpulannya bahwa mereka membuat dalih dengan perkataan mereka sendiri-sendiri, tanpa berpegang kepada rujukan yang telah syar’i

    Pembahasan selanjutnya:

    Inilah tahrîqah, jalan Nabi saw. seperti akan Anda saksikan di bawa ini:

    Bukti-bukti Tentang Sunnah Rasulullah saw. Terhadap Hal-hal Baru

    Ketahuilah wahai saudaraku bahwa sesungguhnya terdapat banyak hadis shahih yang menyebutkan bahwa ada beberapa sahabat Nabi saw. mengada-ngada amalan-amalan atau dzikir-dzikir atau doa-doa tertentu atau sebagianya yang belum pernah dilakukan atau diajarkan dan dituntunkan oleh Rasulullah saw., mereka melakukannya atas dasar istinbâth dan dengan keyakinan bahwa ia adalah bagian dari kebaikan yang dibawa oleh Islam dan Rasululislam saw. dan dianjurkannya secara umum di bawah naungan payung:
    و افْعَلُوا لخيرَ لَعَلَكُمْ تُفْلِحُونَ

    “…dan perbuatlah kebajikan, supaya kamu mendapat kemenangan.”. (QS.22 [al hajj];77)

    Dan sabda Nabi saw.:

    مَنْ سَنَّ في الإسلامِ سُنَّةً حسَنَةً فَلَهُ أجْرُها وَ أَجْرُ مَنْ عَِملََ بها بَعْدَهُ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقَصَ مِنْ أجورِهِمْ شَيْئٌ.

    Barang siapa mebuat sunnah baik dalam Islam maka baginya pahalanya dan pahalka orang-orang yang mengamalkannya setelahnya, tanpa berkurang sedikitpun pahala mereka.

    Hadis di atas kendati disabdakan dalam kasus tertentu yaitu tentang shadaqah, akan tetepi pelajaran yang diambil didasarkan keumuman lafadznya bukan atas dasar kekhususan sebabnya, seperti ditegaskan para ulama dalam kajian Ushulul Fikih mereka. Namun demikian tidak berbarti bahwa setiap orang bebas menggaagas syari’at dengan sendirinya, sebab Islam telah tuntas dengan batasan kaidah-kaidahnya yang baku, karenanya apa yang disunnahkan harus terbingkai dalam bingkai kaidah dan ketetapan dasar Islam.

    Berangkat dari niatan tersebut, banyak dari sahabat Nabi saw. mengerjakan berdasar atas ijtihad mereka amalan-amalan tertentu yang belum pernah diajarkan dan dituntunkan oleh Nabi saw…. dalam kaitan itu, sunnah/jalan dan cara Nabi saw. dalam mensikapinya ialah menerima amalan ibadah dann kebajikan yang sesuai syari’at dan tidak menyalahinya serta menolak yang menyalahinya. Inilah sunnah dan jalan yang ditempuh Nabi saw. yang kemudian diikuti oleh para sahabat ra. dan darinya para ulama Islam –rahimahullah- menetapkan kaidah: Apapun yang baru harus disodorkan kepada kaidah-kaidah dasar dan nash-nash Syari’at, yang didukung Syari’at dan dinilainya baik maka ia baik dan diterima sementara yang terbutki menyahali Syari’at maka ia tertolah, ia adalah bid’ah yang tercela! Kondisi pertama mereka namai dengan bid’ah hasanah dari sisi kebahasan semata, mengingat ia adalah hal baru, kendati pada hakikatnya bukan bid’ah dsalam timbangan syari’at, sebab ia adalah sunnah yang disimpulkan dari bukti-bukti syari’at yang menyaksikan akan diterimnya amalan tertentu tersebut. Setelah keterangan singkat di atas mari kita terlusuri bukti-bukti tentang apa yang kami sebutkan di atas.

    Abu sayev:
    Rupanya memang sudah terlalu jauh penulis mempermainkan ayat-ayat Allah untuk sebuah kemunkaran, apakah dia mengira bahwa “…..dan perbuatlah kebajikan supaya kamu mendapat kemenangan” adalah ayat yang merestui acara-acara bid’ah.. itulah kecurangan bahasa-bahasa tasawuf, kadang kala sebuah ungkapan ulama mereka yang nyleneh dianggap ilmu laduni bermutu tinggi dengan maksud dan sebab yang diluar kemampuan orang lain untuk menerjemahkannya, kerena hanya ulama-ulama mereka yang tahu makna dari ungkapannya, namun dengan tidak malu-malu kemudian memutar haluan 180 derajat mengatakan“jangan dilihat maksud dan sebab dari ucapannya, tetapi ambillah keumuman lafadznya”.terhadap dalil yang dipakainya untuk komuditas propaganda prakteh bid’ahnya., padahal dalil tersebut tidak trep pada tempatnya.

    AKU JADI TERINGAT DENGAN SEBUAH KEJADIAN:
    Ada seorang pendeta kafir ketika ditanya tentang dirinya, agamanya, dan tuhannya. Maka jawabnya adalah bahwa tuhan orang Islam dan orang nasrani adalah sama yaitu Allah, dan akan mendapat perlakuan yang sama dihadapan Allah kelak di hari kiamat, karena hal itu telah disebut dalam Al-Quran yaitu kitabnya orang Islam, kemudian pendeta itu menukil satu ayat dalam Al-Quran dalam Al-Baqarah ayat 62:
    إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَالَّذِينَ هَادُوا وَالنَّصَارَى وَالصَّابِئِينَ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ وَعَمِلَ صَالِحًا فَلَهُمْ أَجْرُهُمْ عِنْدَ رَبِّهِمْ وَلا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلا هُمْ يَحْزَنُونَ (qs al-baqarah:62)
    Sesungguhnya orang-orang mukmin, orang-orang Yahudi, orang-orang Nasrani dan orang-orang Shabiin, siapa saja di antara mereka yang benar-benar beriman kepada Allah, hari kemudian dan beramal saleh, mereka akan menerima pahala dari Tuhan mereka, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati.
    Begitulah sebagian besar orang-orang kafir yang hanyut dalam kekafirannya, setelah mereka diberitakan tentang kekafiran itu dan diberikan ilmu yang nyata, niscaya mereka akan mencari ayat-ayat yang bisa membenarkan kekafirannya. Mereka diselimuti dengan kesenangan di dalam kebebalanya.

    Cara inilah yang yang diterapkan ahlul bid’ah sebagai kebiasaan mencari-cari pembenaran dalam segala praktek bid’ah yang telah dilakoninya, mereka tidak sadar bertasyabuh terhadap cara-cara orang kafir dalam bersikap terhadap agama ini.

    Cobalah kita lihat ayat diatas, dan dampingkanlah dengan dalil penulis tentang ““…dan perbuatlah kebajikan, supaya kamu mendapat kemenangan.”. (QS.22 [al hajj];77)”

    Penulis juga meyakinkan kepada semua pihak tentang taqrir Rasulullah dengan apa yang diperbuat para sahabat untuk dijadikan hujjah tentang pembenaran praktek-praktek bid’ah. Disini perlu sebuah persamaan persepsi bahwa taqrir Rasulullah pada zaman kehidupan bersama beliau adalah petunjuk, karena kita yakin semua yang dari Rasulullah pasti datangnya dari Allah, maka itu adalah Syari’at. Sekarang yang jadi pertanyaan bersama adalah SESUATU YANG BARU DALAM HAL AGAMA, YANG TIDAK ADA DI ZAMAN RASULULLAH DAN SAHABAT DAN YANG MUNCUL PADA SAAT BELIAU TELAH TIADA, SIAPA YANG BERANI MENTAQRIRKAN, DAN SIAPA YANG BERANI BERKATA BAHWA ITU DATANGNYA DARI ALLAH. MAKA KALAU syari’at-syari’at baru ITU MUNCUL PADA SAAT SEKARANG, LALU APAKAH SYARIA’T-SYARI’AT RASULULLAH (perlu kami tegaskan dengan” BAIK BERUPA TINDAKAN BELIAU, SABDA BELIAU, TAQRIR BELIAU, PENOLAKAN BELIAU”) MASIH KURANG SEMPURNA HINGGA HARUS ADA TAMBAHAN DARI ORANG-ORANG YANG TIDAK BERTANGGUNG JAWAB

    (lihat…..para ulama Islam –rahimahullah- menetapkan kaidah: Apapun yang baru harus disodorkan kepada kaidah-kaidah dasar dan nash-nash Syari’at, yang didukung Syari’at dan dinilainya baik maka ia baik dan diterima, sementara yang terbutki menyahali Syari’at maka ia tertolah, ia adalah bid’ah yang tercela!)

    Ada hal-hal yang dilakukan penulis dalam uraiannya merupakan sebuah keganjalan:
    saking semangatnya ingin mencari jalan mana yang bisa untuk membenarkan bid’ahnya sampai-sampai yang terucap dalam katanya “Apapun yang baru harus disodorkan kepada kaidah-kaidah dasar dan nash-nash Syari’at, yang didukung Syari’at dan dinilainya baik maka ia baik dan diterima”. Kemudian apakah ada, sesuatu yang didukung syari’at namun mengandung nilai yang tidak baik. Itulah pendapat seorang yang tengah dalam kebingungannya “sesuatu yang masuk dalam koridor syari’at ada sebagian yang dinilai jelek” dan “sesuatu yang bid’ah ada sebagian yang dinilai baik”
    Kata “….yang didukung Syari’at….” , “….dinilainya baik maka ia baik dan diterima…. “dan “….yang terbutki menyahali Syari’at…..” maka sebanarnya telah jelas yang disabdakan oleh Rasulullah tentang sesuatu yang didukung oleh Syari’at dan sesuatu yang menyalahi Syari’at. Bagaimana pula yang telah beliau jelaskan tentang makna tertolaknya amalan yang diada-adakan tanpa ada pengkategorian antara yang baik dan yang jelek, karena pada hakekatnya segala yang diada-adakan adalah bid’ah, dan tiap-tiap bid’ah adalah sesat.

    Dari ‘Aisyah radliyallâhu ‘anha dia berkata, Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi Wa Sallam bersabda, “Barangsiapa yang mengada-ada (memperbuat sesuatu yang baru) di dalam urusan kami ini (agama) sesuatu yang bukan bersumber padanya (tidak disyari’atkan), maka ia tertolak.” (HR.al-Bukhari)

    Maka hai ahli syubhat…..carilah satu hujjah saja baik dari Qur’an maupun Sunah yang mendukung ucapan kalian dalam pembelaan kalian kepada bid’ah-bid’ah itu.

    Pembahasan selanjutnya:

    Kita awali dengan bukti-bukti diterimanya amalan-amalan tertentu oleh Nabi saw.

    Hadis Pertama: Hadis riwayat Bukhari, Muslim dan Ahmad dari Abu Hurairah bahwa Nabi saw. berkata kepada Bilal ketika shalat fajar (shubuh), “Hai Bilal, ceritakan kepadaku amalan apa yang paling engkau harap pahalanya yang pernah engkau amalakan dalam masa Islam, sebab aku mendengar suara terompamu di surga. Bilal berkata, “Aku tidak mengamalkan amalan yang paling aku harapkan lebih dari setiap kali aku bersesuci, baik di malam maupun siang hari kecuali aku shalat untuk bersesuciku itu.

    Dalam riwayat at Turmudzi yang ia shahihkan, Nabi saw. berkata kepada Bilal, ‘Dengan apa engkau mendahuluiku masuk surga?” Bilal berkata, “Aku tidak mengumandangkan adzan melainkan uku shalat dua rakaat, dan aku tidak berhadats melaikan aku bersesuci dan aku mewajibkan atas diriku untuk shalat (sunnah).” Maka Nabi saw. bersabda “dengan keduanya ini (engkau mendahuluiku masuk surga).

    Hadis di atas juga diriwayatkan oleh Al Hakim dan ia berkata, “Hadis shahih bersadarkan syarat keduanya (Bukhari&Muslim).” Dan adz Dzahabi mengakuinya.

    Al Hafidz Ibnu Hajar menerangkan demikian, “Dalam hadis itu disimpulkan dibolehkannya berijtihad dalam enentukan waktu ibadah, sebab Bilal mencapai apa yang ia sebutkan itu dengan dasar penyimpulan, lalu Nabi saw. membenarkannya.”[1]

    Hal serupa juga ditemukan dalam hadis Khabab dalam riwayat Bukhari, beliau-lah orang pertama yang mensunnahkan shalat dua rakaat atas seorang muslim yang mati terbunuh dengan darah dingin (bukan dalam peperangan, misalnya).[2]

    Dari hadis-hadis di atas jelas sekali bahwa kedua sahabat ini (Bilal dan Khabab) berijtihad dalam menentrukan waktu pelaksanaan ibadah yang sebelumnya belum pernah dilakukan ata ada perintah khusus dari Nabi saw…. ia dilakukan atas dasar perintah umum bahwa “Shalat adalah sebaik-baik amalan, maka berbanyak-banyaklah atau bersedikit-sediktlah!” seperti diriwayatkan dalam sebuah hadis. Andai ada seorang melakukannya pada waktu terlarang pastilah praktik itu dianggap bid’ah bagi mereka yang meyakini keumuman larangan dan bukan bid’ah bagi yang berpendapat bahwa larangan itu dikhususkan dengan shalat sunnah yang mutlak siaftnya. Dan dalam masalah ini terdapat silang pendapat di antara ahli fikih.

    Hadis Kedua: Hadis riwayat Bukhari, Muslim dan para muhaddis lain pada kitab Shalat, bab Rabbanâ laka al Hamdu, dari riwayat Rifa’ah ibn Râfi’, ia berkata, “Kami shalat di belakang Nabi saw., maka ketika beliau mengangkat kepala beliau dsari ruku’ beliau membaca, sami’allahu liman hamidahu (Allah maha mendengar orang yang memnuji-Nya), lalu ada seorang di belakang beliau membaca, “Rabbanâ laka al hamdu hamdan katsiran thayyiban mubarakan fîhi (Tuhan kami, hanya untuk-Mu segala pujian dengan pujian yang banyak yang indah serta diberkahi). Maka setelah selesai shalat, Nabi saw. bersabda, “Siapakah orang yang membaca kalimat-kalimat tadi?” Ia berkata, “Aku.” Nabi bersabda, “Aku menyaksikan tiga puluh lebih malaikat berebut mencatat pahala bacaaan itu.”

    Ibnu Hajar berkomentar, “Hadis itu dijadikan hujjah/dalil dibolehannya berkreasi dalam dzikir dalam shalat selain apa yang diajarkan (khusus oleh Nabi saw.) jika ia tidak bertentang dengan yang diajarkan. Kedua dibolehkannya mengeraskan suara dalam berdzikir selama tidak menggangu.”

    Hadis Ketiga: Imam Muslim dan Abdur Razzaq ash Shan’ani meriwayatkan dari Ibnu Umar, ia berkata, “Ada seorang lali-laki datang sementara orang-orang sedang menunaikan shalat, lalu ketika sampai shaf, ia berkata:

    اللهُ أكبرُ كبيرًا، و الحمدُ للهِ كثيرًا و سبحانَ اللهِ بكْرَةً و أصِيْلاً.

    Setelah selesai shalat, Nabi saw. bersabda, “Siapakah yang mengucapkan kalimat-kalimat tadi?

    Orang itu berkata, “Aku wahai Rasulullah saw., aku tidak mengucapkannya meliankan menginginkan kebaikan.”

    Rasulullah saw. bersabda, “Aku benar-benar menyaksikan pintu-pintu langit terbuka untuk menyambutnya.”

    Ibnu Umar berkata, “Semenjak aku mendengarnya, aku tidak pernah meninggalkannya.”

    Dalam riwayat an Nasa’i dalam bab ucapan pembuka shalat, hanya saja redaksi yang ia riwayatkan: “Kalimat-kalimat itu direbut oleh dua belas malaikat.”

    Dalam riwayat lain, Ibnu Umar berkata: “Aku tidak pernah meningglakannya semenjak aku mendengar Rasulullah saw. bersabda demikian.”

    Abu sayev:
    Maka…..sekali lagi kami ungkap di sini bahwa apa yang perselisihkan telahlah nyata, diantara kebohongan-kebohongan mereka tidak bisa ditutup-tutupi lagi. Penulis mencoba mengelabuhi dengan menggunakan dalil yang sama sekali tidak sesuai dengan tempatnya.

    Semua yang ia gunakan untuk mendasarkan praktek-praktek yang menjadi kebiasaan atau tradisi mereka dengan apa yang telah dilakukan para sahabat dikala mereka masih bersama-sama Rasulullah, dan itu sama sekali bukan landasan yang kuat untuk membela kemunkaran mereka karena bagi kami taqrir Rasulullah adalah Syari’at, dan Syari’at tidak mungkin akan membawa kepada bid’ah, sedangkan apa yang dilakukan sebagian orang pada saat sekarang, dan siapa yang mentaqrir mereka……

    Cobalah kirannya penulis membuat satu contoh saja, apa yang dilakukan Sahabat sepeninggalan Rasulullah yang merupakan kreasi baru di dalam beragama, yang tidak dilakukan, disabdakan, ditaqrirkan, oleh Rasulullah. Maka sebenarnya apa yang mereka katakana adalah kebohongan semata.

    (lihat…..Dalam riwayat lain, Ibnu Umar berkata: “Aku tidak pernah meningglakannya semenjak aku mendengar Rasulullah saw. bersabda demikian.” ) bagaimana seorang sahabat yang pengetahuan kealimannya sangat jauh di atas kita yang hidup pada masa sekarang, namun beliau tidak sembarangan didalam mensyikapi sesuatu (walaupun itu sebuah kebaikan), namun Syari’at ditempatkan diatas semua kebaikan itu.
    Sekarang yang menjadi pertanyaan untuk penulis….apakah kalin telah berlaku seperti apa yang dicontohkan oleh Ibnu Umar, yang senantiasa berpegang teguh kepada Syari’at Rasulullah.

    SEBUTKAN SATU SAJA BUKTI, BAHWA APA YANG KALIAN PERBUAT, ADALAH SEPERTI APA YANG DIKATAKAN IBNU UMAR “Aku tidak pernah meningglakannya semenjak aku mendengar Rasulullah saw. bersabda demikian.” UNTUK PRAKTEK-PRAKTEK KALIAN, MISALNYA:
    TENTANG RITUAL IBADAH TAHLILAN
    ATAU MUNGKIN PERAYAAN MAULUDAN
    ATAU TENTANG TAWASUL KEPADA ORANG MATI
    ATAU TENTANG HAUL WALI
    DAN MASIH BANYAK LAGI, YANG KAMI TIDAK BISA MENYEBUT SEMUANYA, BUKANKAH ITU SYARI’AT BUATAN KALIAN.

    Pembahasan selanjutnya:
    Abu Salafy berkata: Saudaraku-semoga Allah memberikan taufiq dan hidayah-Nya kep[ada kita semua-, coba Anda perhatikan, bagaimana Rasulullah saw. membenarkan penambahan kalimat dzikir yang tidak beliau ajarkan dalam i’tidâl dan dalam pembukaan shalat., beliau membenarkan pelakukan dengan pembenaran dan leralaan yang luar biasa, hal disebabkan karena kedua tempat/kesempatan itu adalah tempat pujian atas Allah SWT. dalam shalat. Lalu perhatikan sikap sebagian kaum yang “sok pintar” ketika mereka mangatakan bahwa membaca doa qunut dalam shalat shubuh adalah bid’ah padahal asal masalahnya telah datang dalam riwayat dari Nabi saw., kendati mereka berusaha mengacaukan hadis Anas ibn Malik tentangnya dan praktik sebagian sahabat Nabi saw.

    Abdur Razzâq telah meriwayatkan dari Ibnu Juraij dari Athâ’, ia berkata, “Aku berkata kepadanya, (apa ada dalil) tentang qubut dalam sua rakaat shalat Jum’at? Maka ia menjawab, “Aku tidak mendengar tentang qunut dalam sua rakaat shalat Jum’at. Aku tidak mendengar tentang qunut dalam shalat wajib selain shubuh.

    Dalam kesempatan bukan maksud kami mengupas tuntas masalah qunut akan tetapi kami hanya ingin mebuktikan bagaimana sikap keras melampaui batas sebagian mereka dalam mencap bid’ah, bahkan pada bacaan doa pada tempat doa dalam shalat! Sementara hadis-hadis yang telah kami sebutkan di atas mengatakan bahwa doa apapun yang di baca di tempat doa dalam shalat maka ia bagian dari sunnah, bukan bid’ah! Sebab Rasulullah saw. telah membenarkannya, walaupun redaksinya bukan yang beliau saw. ajarkan, lalu bagaimana mereka mencap bid’ah pada doa yang redaksinya telah datang dari Rasulullah saw. dan tempat pembacaannya juga pada tempat doa dalam shalat! Masalah yang sama ialah mengeraskan bacaan Basmallah dalam shalat ketika mengawali bacaan surah al Fatihah, kendati hadis-hadis shahih telah datang tentangnya, tetapnya saja sebagian kaum yang sok berpegang dengan sunnah itu menuduhnya bid’ah! Alangkan anehnya, bukankan surah al Fatihah adalah bagian dari surah-surah Alqur’an yang didahului dengan Basmallah dan telah tetap juga riwayat tentang mengeraskan bacaannya? Andai mereka mengamalkan pendapatnya sendiri (dengan tidak membacanya), pastilah masalahnya menjadi ringan, akan tetapi mereka menentang orang yang membacanya dengan suara terdengar (keras).

    Abu sayev berkata:
    Masalah QUNUT dan BACAAN BISMILLAH SECARA JAHR akan kami bahas secara khusus dalam sesi lain. Disini kami ingin memfokuskan untuk membuka apa yang berulang-ulang penulis sampaikan dengan apa yang ia sebut-sebut sebagai pembuktian bolehnya bid’ah-bid’ah mereka.

    Pembahasan selanjutnya:
    Al hasil, Rasulullah saw. telah mentaqrîrkan (membenarkan) sikap sahabat yang menambah bacaan dzikir dalam shalat yang tidak pernah beliau ajarkan. Inilah inti pembuktian kami!

    Abu sayev berkata:
    Lihatlah pula sebuah hadist yang pada awal-awal dikutip oleh penulis:
    Hadis di atas dipertegas dengan hadis panjang riwayat Turmudzi, Abu Daud dan para muhaddis lain dari: Al-Irbâdh ibn Saariyah, ia berkata, pada suatu hari, seusai salat subuh Rasulullah saw. memberi wejangan kepada kami dengan mau’idzah yang luar biasa, karenanya mata-mata mencucurkan air mata dengan deras dan hati-hati menjadi takut, lalu ada seorang lelaki berkata, sepertinya ini wejangan perpisahan, lalu apa yang Anda perintahkan untuk kami wahai Rasulullah saw? beliau saw. menjawab
    Aku berwasiat kepadamu dengan ketaqwaan kepada Allah, mendengar dan taat walaupun kepada budak sahaya berkebangsaan Etiopia. Karena sesungguhnya siapa dari kamu yang hidup ia akan menyaksikan perselisihan yang banyak. Hati-hatilah kamu dari perkara-perkara yang baru karena ia adalah kesesatan. Maka barang siapa dari kamu mengalami hal itu, hendaknya ia berpegang teguh dengan sunnahku dan sunnah para khulafa’ yang Râsyidiin dan Mahdiyyiin (yang terbimbing dan mendapat petunjuk), gigitlah ia dengan gigi geraham kamu (berpegang teguhlah dengannya)!.(Al-Turmudzi. Sunan (dengan Syarah Al-Mubarakfuuri).Vol.7,438-442. bab al-Akhdzu bil Sunnah wa ijtinaab al-Bid’ah)

    Jelaslah kedustaan penulis berbicara atas nama hadist Rasulullah.
    DI DALAM HADIST JELAS TERKANDUNG MAKNA WASIAT RASULULLAH, DAN PARA SAHABAT BERFIRASAT BAHWA ITU WASIAT PERPISAHAN MEREKA DENGAN BELIAU, JADI SEGALA ISI WASIAT DIMAKSUDKAN UNTUK KEHIDUPAN UMAT SEPENINGGALAN BELIAU. LALU BAGAIMANA BISA PENULIS MEMBERIKAN PEMBUKTIAN BOLEHNYA SESUATU KREASI DALAM IBADAH YANG MARAK PADA SAAT SEKARANG DENGAN MERUJUK PADA TAQRIR RASULULLAH (ketika BELIAU MASIH HIDUP DAN MEMBERI BIMBINGAN KEPADA PARA SAHABAT) SEDANG DALAM HADIST BELIAU JELAS “ Hati-hatilah kamu dari perkara-perkara yang baru karena ia adalah kesesatan” ADALAH PERINGATAN KEPADA KEHIDUPAN MASA SESUDAH KEHIDUPAN BELIAU.
    Lalu pembuktian yang mana yang penulis maksud untuk membenarkan praktek-praktek bid’ahnya

    Pembahasan selanjutnya:
    Hadis Keempat: Imam Bukhari meriwayatkan dalam kitab Shahihnya, pada bab menggabungkan antara dua surah dalam satu raka’at dari Anas, ia berkata, “Ada seorang sari suku Anshar memimpin shalat di masjid Quba’, setiap kali ia shalat mengawali cabaannya dengan membaca surah Qul Huwa Allahu Ahad sampai selesai kemudian membaca surah lain bersamanya. Demikian pada setiap raka’atnya ia berbuat. Temann-temannya mengurnya, mereka berkata, “Engkau selalu mengawali bacaan dengan surah itu lalu engkau tambah dengan surah lain, jadi sekarang engkau plih, apakah membaca surah itu saja atau membaca surah lainnya saja.” Ia menjawab, “Aku tidak akan akan meninggalkan apa yang biasa aku kerjakan. Kalau kaian tidak keberatan aku mau mengimami kalian, kalau tidak carilah orang lain untuk menjadi imam.” Sementara mereka meyakini bahwa orang ini paling layak menjadi imam shalat, akan tetapi mereka keberatan dengan apa yang dilakukan. Ketika mereka mendatangi Nabi saw. mereka melaporkannya. Nabi menegur orang itu seraya bersabda, “hai fulan, apa yang mencegahmu melakukan apa yang diperintahkan teman-temanmu? Apa yang mendorongmu untuk selalu membaca surah itu (Al Ikhlash) pada setiap raka’at? Ia menjawab, “Aku menuintainya.” Maka Nabi saw. bersabda, ”Kecintaanmu kepadanya memasukkanmu ke dalam surga.”.

    Demikianlah sunnah dan jalan Nabi saw. dalam menyikapi kebaikan dan amal keta’atan walaupun tidak tidak diajarkan secara khusus oleh beliau, akan tetapi selama amalan itu sejalan dengan ajaran kebaikan umum yang beliau bawa maka beliau selalu merestuinya! Jawaban orang tersebut membuktikan motifasi yang mendorongnya melakukan apa yang baik kendati tidak ada perintah khusus dalam masalah itu, akan tetapi ia menyimpulkannya dari dalil umum dianjurkannya berbanyak-banyak berbuat kebajikan selama tidak bertentangan dengan dasar tuntunan khusus dalam syari’at Islam. Kendati demikian, tidak seorangpun dari ulama Islam yang mengatakan bahwa mengawali bacaan dalam shalat dengan surah al Ikhlash kemudian membaca surah lain adalah sunnah yang tetap! Sebab apa yang kontiniu diklakukan Nabi saw. adalah yang seharusnya dipelihara, akan tetapi ia memberikan kaidah umum dan bukti nyata bahwa praktik-prakti seperti itu dalam ragamnya yang bermacam-macam walaupun seakan secara lahiriyah berbeda dengan yang dilakukan Nabi saw. tidak berarti ia bid’ah, seperti yang dituduhkan sebagian “Ahli Fikih setengah matang” selama ia masuk dalam koridor umum kabaikan yang dianjurkan dalam syari’at!

    Abu sayev berkata
    Ada poin yang perlu kita catat disini:
    hal peneguran sahabat yang lain terhadap apa yang telah dilakukan orang tersebut (lihat……Temann-temannya mengurnya, mereka berkata, “Engkau selalu mengawali bacaan dengan surah itu lalu engkau tambah dengan surah lain, jadi sekarang engkau plih, apakah membaca surah itu saja atau membaca surah lainnya saja.”….), lihatlah betapa para sahabat sangat takut kepada praktek-praktek yang tidak dilakukan oleh Rasulullah, dan jikalau pengertian Sunnah dan bid’ah seperti yang dipahami penulis maka tentunya sahabat tidak akan mempermasalahkan hal ini, dan toh mereka kemudian pada akhirnya meminta petunjuk dari Rasulullah. “Ketika mereka mendatangi Nabi saw. mereka melaporkannya.
    (lihat …..Nabi menegur orang itu seraya bersabda, “hai fulan, apa yang mencegahmu melakukan apa yang diperintahkan teman-temanmu? Apa yang mendorongmu untuk selalu membaca surah itu (Al Ikhlash) pada setiap raka’at?) Rasulullah orang yang paling tahu tentang makna kebajikan, karena setiap apa yang menjadi pernyataan beliau tentang kebajikan ini adalah dari Allah, lalu dalam peristiwa itu kenapa Rasulullah menegur sahabat padahal apa yang dilakukan sahabat adalah kebaikan yang terlihat oleh kasat mata sekalipun “SIAPA YANG MENGANGGAP MEMBACA SURAT AL-IKHLAS BUKAN SEBUAH KEBAIKAN”, namun mengapa Rasulullah masih tetap menegur padahal yang tampak pada beliau adalah kebaikan yang dilakukan Sahabat, KETAHUILAH SAUDARA-SAUDARAKU, BAHWA SEPANJANG KEHIDUPAN RASULULLAH ADALAH PROSES TURUNYA WAHYU-WAHYU ALLAH YANG DISAMPAIKAN KEPADA BELIAU, DAN SETELAH WAFATNYA BELIAU ADALAH AKHIR DARI TURUNYA WAHYU-WAHYU ALLAH, SEDANGKAN SYARI’AT IBADAH BERDASAR WAHYU ALLAH.. LALU RITUAL IBADAH YANG TIDAK PERNAH DILAKSANAKAN RASULULLAH DAN PARA SAHABAT PADA MASANYA, SIAPA YANG MENJAMIN BAHWA ITU ADALAH SESUAI DENGAN SYARI’AT (WAHYU ALLAH) SEDANG KITA SUDAH TIDAK BERSAMA MEREKA.
    siapa yang menjamin ritual TAHLILAN sesuai dengan Syari’at
    siapa yang menjamin tawasul kepada orang mati adalah Syari’at
    siapa yang menjamin mengirim berkah kepada orang mati adalah Syari’at
    siapa yang menjamin perayaan hari lahir Nabi adalah Syari’at

    Pembahasan selanjutnya:
    Salam sejahtera atasmu wahai Rasulullah! Jauhlah sikap sempit sebagian kaum yang gemar menuduh bid’ah dari sunnah dan petunjukmu.

    Abu sayev berkata:
    MAKA HANYA KEPADA ALLAHLAH KITA MEMINTA. JANGANLAH KITA MENJADIKAN NABI KITA MUHAMMAD, SEPERTI ORANG NASRANI MENEMPATKAN ISA PUTRA MARYAM.

    Pembahasan senlanjutnya:

    Hadis Kelima: Imam Bukhari meriwayatkan dalam kitab at Tauhid dari Ummul Mukminin Aisyah ra. bahwa Nabi sa. Mengutus seorang memimpin sebuah pasukan, selama perjalanan irang itu apabila memimpin shalat membaca surah tertentu kemudian ia menutupnya dengn surah al Ikhlash (Qulhu). Ketika pulang, mereka melaporkannya kepada nabi saw., maka beliau bersabda, “Tanyakan kepadanya, mengapa ia melakukannya?” Ketika mereka bertanya kepadanya, ia menjawab “Sebab surah itu (memat) sifat ar Rahman (Allah), dan aku suka membacanya.” Lalu Nabi saw. bersabda, “Beritahukan kepadanya bahwa Allah mencintainya.” (Hadis Muttafaqun Alaihi).

    Abu Salafy berkata: Apa yang dikalukan si sahabat itu tidak pernah dilakukan oleh Nabi saw., namun kendati demikian beliau membolehkannya dan mendukung pelakuknya dengan mengatakan bahwa Allah mencintainya! Kendati demikian tidak seorang ulama’pun yang menfatwakan disunnahkannya melakukan seperti itu dalam shalat sebab apa yang selalu dilakukan Nabi saw. lebih afhdal, akan tetapi pembenaran (taqrîr) Nabi saw. atas tindakan seperti itu dalam menerima praktik-praktik semisal itu dari berbagai keta’atan dan ibadah memberikan bukti bagi kita bagaimana sunnah dn jalan Nabi saw. dalam menyikapinya. Kita melihat dengan jelas bagaimana Nabi saw. tidak menuduhnya telah berbuat bid’ah dan menentang sunnah beliau dengan mengatakan misalnya, “Barang siapa mengada-ngada dalam urusan (agama) ini apa yang bukan darinya maka ia tertolah.” Atau mengatakan ,” dan sejelek-jelek perkara adalah yang muhdatsat (baru dibuat-buat), dan setiap yang muhdats adalah bid’ah dan setiap yang bid’ah adalah dhalal (kesesatan).

    Abu sayev berkata:
    Sebenarnya jikalau penulis menggunakan dalil-dalil diatas untuk hujjah tentang syari’at-syari’at yang diada-adakan, sangatlah tidak tepat, alasannya:
    penulis menafikan pemahaman orang lain tentang taqrir Rasulullah, seolah olah orang yang menentang bid’ahnya hanya membatasi atas dasar apa yang dipraktekkan secara dzahir oleh diri Rasulullah saja.
    Sebenarnya yang ditaqrir oleh Rasulullah adalah yang dilakukan sahabat hanya sebatas pemahaman yang tidak sampai membangun sebuah syari’at baru. Sedangkan apa yang terjadi sekarang adalah kebanyakan tidak hanya sekedar pemahaman masalah pelaksanaan ibadah yang telah ada syari’at sebelumnya, namun justru membuat-buat syari’at baru.
    Semisal dalam satu contoh saja, pergi ke kuburan dengan maksud untuk melaksanakan tawasul kepada penghuni kubur, bukanlah hanya permasalahan pemahaman kepada syari’at, namun ia adalah syari’at baru, yang jelas diada-adakan yang Rasulullah sendiri tidak melaksanakan maupun menuntunkan kepada sahabat, dan sahabatpun tidak pernah melaksanakan, ritual tersebut
    Pembahasan lain telah kami kemukakan diatas yang prinsipnya sama, sesuai dengan begitu seringnya penulis menyalahtempatkan hujah untuk pembenaran perilaku-perilaku yang telah mendarah daging dalam tradisi turun-temurunnya.

    Pembahasan selanjutnya:
    Lima contoh di atas, -seperti Anda saksikan- adalah terkait dengan masalah shalat –ibadah paling sacral dalam ajaran Islam- dan Nabipun telah bersabda:

    صَلُّوا كما رَاَيْتُمُونِيْ أُصَلِّي.

    “Slalatlah sebagaimana kalian meliohatku shalat!”

    sengaja kami sebutkan di sini. Kendati demikian Anda sakiskan bagaimana nabi saw. menerima adanya penambahan kreasi dari ijtihad para sahabat beliau semala tidak keluar dari bentuk shalat itu sendiri sebagaiaman ditetapkan syari’at. Setiap batasan syari’at dalam shalat harus dijalankan apa adanya, dan pada selainnya, manusia punya keluasan untuk “berkrasi” selama masih terkoridor dalam bingkai anjuran umum yang dibenarkan!

    Inilah Sunnah Rasulullah saw. dan jalan yang beliau tempuh. Dan ini sangatlah gamblang, dan darinya para ulama menetapkan sebuah kaidah: Setiap amalan yang memiliki bukti anjuran umum dalam Syari’at dan tidak berbenturan dengan nash serta tidak menimbulkan mafsadah maka ia tidak masuk dalam batasan ketegori bid’ah, ia adalah bagian dari sunnah alaupun bukan yang paling afdhal!

    Dalam ibadah ada yang afdhal dan ada yang kalah afdhal. Dan selama ada dasar umumnya ibadahnya, maka pelakunya tidak akan dituduh menyimpang dan menjalankan praktik bid’ah kecuali oleh Ahli Fikih setangah Alim setengah Hajil!

    Abu sayev:
    Sebagai penutup catatan kecil ini ingin kami sampaikan argument yang sekiranya bisa menjawab, kekacauan berfikir dari penulis:

    SEBAGAIMANA PENULIS BANYAK-BANYAK BERDALIH BAHWA TIDAK ADA BID’AH DALAM URUSAN KEBAIKAN, DAN HAKEKAT BID’AH ADALAH BID’AH DHALALAH, YANG SEMUA DILANDASKAN DENGAN HADIST-HADIST TENTANG TAQRIR RASULULLAH KEPADA SAHABAT.

    MAKA KAMI HANYA INGIN MENUNJUKKAN SATU BUKTI BAHWA BID’AH, MEMANGLAH BID’AH, DAN ITU ADALAH SESUATU YANG SANGAT DITAKUTI OLEH PARA SAHABAT DIMASANYA.

    DIMANA PARA PERISTIWA PERANG YAMAMAH BANYAK TENTARA ISLAM YANG GUGUR DAN SEBAGIAN DIANTARA MEREKA ADALAH PARA PENGHAFAL AL-QUR’AN, SAHABAT UMAR MERASA KAWATIR DENGAN PERISTIWA INI, KEMUDIAN BELIAU MENDATANGI KHALIFAH ABU BAKAR UNTUK MEMUSYAWARAHKAN HAL ITU. KARENA KEKAWATIRAN UMAR BIN KHATHAB HINGGA MEMUNCULKAN IDE YANG TENTUNYA DILANDASI DENGAN KEILMUANNYA UNTUK MENGUMPULKAN AYAT-AYAT QUR’AN TERSEBUT. HAL ITU PULALAH YANG JUSTRU MENJADI KEKAWATIRAN TERSENDIRI DARI KHALIFAT ABU BAKAR.

    ABU BAKAR BERKATA DALAM MUSYAWARAH ITU “ BAGAIMANA SAYA AKAN MELAKUKAN SESUATU YANG TIDAK PERNAH DILAKUKAN RASULULLAH”, TETAPI SETELAH DIYAKINKAN OLEH SAHABAT UMAR, BAHWA ITU AKAN MEMBAWA KEBAIKAN DARI PADA HAL ITU TIDAK DILAKSANAKAN, MAKA KHALIFAH AKHIRNYA MENYETUJUINYA.

    BEGITU PULA KETIKA HAL ITU DISAMPAIKAN KEPADA SAHABAT ZAID BIN TSABIT, BAGAIMANA BERATNYA ZAID BIN TSABIT UNTUK BISA MELAKSANAKAN HAL INI, SAMPAI-SAMPAI BELIAU MENGANDAIKANNYA DENGAN MENGANGKAT SEBUAH BUKIT ADALAH LEBIH RINGAN DARINYA, NAMUN BARU DAPAT MENCAPAI SEBUAH KESEPAKATAN SETELAH BENAR-BENAR ALLAH MEMBUKA JALANNYA.

    Dari kisah di atas maka akan kita ambil hikmah-hikmah sebagai berikut:
    Kekhawatiran khalifah abu bakar kepada pengumpulan ayat Al-Qur’an menjadi bukti nyata bahwa, Khalifah abu bakar sangat takut apabila apa yang akan dilakukannya itu masuk dalam tindakan yang dilarang oleh Rasulullah yaitu bid’ah.
    Satu permasalahan itu “meskipun telah jelas terlihat secara dzahir adalah baik” namun sahabat yang jelas-jelas merasakan sendiri pernah hidup bersama-sama dengan Rasulullah ternyata tidak mudah melaksanakannya, karena rasa kawatir terhadapnya.
    Sedangkan bid’ah-bid’ah mereka itu, di awal waktu kemunculannya, peernahkah pendakwah-pendakwah mereka mempermusyawarahkannya, hingga paling tidak ada kekawatiran dari padanya untuk terjerumus dalam kebid’ahan. Dan andaikata bid’ah hasanah itu adalah bagian dari sunnah Rasulullah maka bagaimana mungkin sahabat yang keilmuanya adalah hasil tempaan Rasulullah begitu sangat mengkhawatirkan hal tersebut, padahal berdasar kasat mata telah jelas nampak kebaikan disitu. Apakah ahlusysyubhat itu memandang para sahabat tidak bisa menilai langsung sisi kebaikan dari apa yang dilakukan, sehingga harus susah-susah bermusyawarah untuknya.
    Terlaksananya pengumpulan ayat-ayat Qur’an tersebut memang kadang dijadikan senjata bagi kaum penyuka bid’ah untuk dihunuskan kepada pengikut Ahlussunnah bahwa ternyata sahabat juga mempraktekkan sesuatu yang tidak ada dizaman Rasulullah.

    Berikut adalah jawaban untuk syubhat tersebut:
    Penulisan Ayat-ayat Allah telah terjadi pada zaman Rasulullah. Pada setiap Wahyu turun beliau selalu memerintahkan shahabat untuk menghafal dan menuliskannya keatas batu, pelepah pohon kurma, dan kulit onta. Tata urut Al-Qur’an juga telah ditetapkan oleh Rasulullah sendiri. Jadi sahabat pada waktu itu hanya mengumpulkan ayat-ayat sesuai dengan urutan ayat-ayat yang ditetapkan beliau Rasulullah, tidak mengubah baik posisi, penambahan dan pengurangan sedikitpun. adapun pengumpulan Ayat-ayat Al-Qur’an seperti yang dilakukan sahabat baru bisa dilaksanakan setelah wahyu benar-benar telah sempurna. pada kondisi dizaman Rasulullah tidak mungkin dilaksanakan,mengingat pada waktu itu Wahyu Allah masih turun, dan akan sangat memungkinkan akan merubah tata susunan ayat.

    Dari sini dapat disimpulkan bahwa, terbukti bahwa bid’ah adalah sesuatu yang ditakuti oleh para sahabat, sehingga melakukan sesuatu yang meragukan hati meskipun itu secara dzahir adalah baik dan terpuji, perlu sebuah musyawarah tentang hakikatnya. Meskipun kami memahami pengumpulan Al-Qur’an bukanlah bid’ah, sebagaimana yang dijadikan senjata oleh kaum khurafat untuk melanggengkan kebiasaan salahnya, namun setidaknya pada prosesnya membuktikan bahwa apa yang dikatakan penulis “ semua yang baik akan dimasukkan dalam Sunnah sedang yang menyimpang daripadanya adalah Bid’ah” telah dibantahkan oleh kisah tersebut.

    MENURUT PEMAHAMAN AHLUSSUNNAH WAL JAMA’AH BAHWA TIADA SESUATU YANG BAIK DALAM BID’AH, KARENA TELAH JELAS YANG DISABDAKAN OLEH RASULULLAH.
    WALLAHU A’LAM BISHSHAWAB

    • @abu sayaev

      Mas Sayev, anda telah cukup panjang menjelaskan makna bid’ah dan nampaknya anda sangat yakin bahwa semua yang baru (yang tidak ada masa hidup Rosulkullah) dalam urusan agama adalah bid’ah dlolalah.

      Ada beberapa hal yang perlu anda perjelas tentang arti “urusan agama”, apakah anda meyimpulkan bahwa makna ” fi amrina ” adalah bermakna “dalam urusan agama” kalau anda mengatakan : “ya”, maka akan timbul beberapa masalah yang perlu anda jelaskan.

      Pertama :
      Menurut yang anda tulis dapat disimpukan bahwa dalam hidup ini ada urusan agama dan ada puLa urusan lain.

      Pertanyaannya, apakah batasan yang jelas untuk membedakan urusan agama dan urusan yang lain itu ? Tentu saja batasan yang harus anda sampaikan harus dengan dalil yang jelas dari Quran dan Sunnah, kalau tidak berarti anda telah melakukan bid’ah dholalah sesuai makna bid’ah menurut anda.

      Kalau anda mengatakan urusan agama berarti urusan ibadah, maka anda telah menyelisihi al-quran (sesuai cara anda memahami nash), Quran mengatakan ” Penciptaan Jin dan Manusia hanyalah untuk ibadah, jadi menurut ayat ini semua aktivitas mukminin adalah ibadah.

      Kedua :

      Para pendahulu termasuk anda adalah pelaku bid’ah dholalah, karena telah melakukan hal yang jelas dilarang oleh nabi dalam hal membukukan al-hadits, “barang siapa menulis hendaknya dia menghapusnya”, begitu perintah Beliau. Nabi tidak memberikan penjelasan mengenahi alasan larangan membukukan hadits.

      Ketiga :

      Siapa yang bukan ahli bid’ah menurut anda, setelah kita melihat umat islam yang hampir sepakat membolehkan bahkan menganggap baik mengajarkan hadits dengan kitab-kitab hadist spt kutubus sittah ?

      Keempat :

      Bisakah konsep bid’ah anda diterapkan dengan konsisten. walaupun hanyal untuk diri anda saja ?

      .

      • Bung siapa yang melarang membukukan hadist!!!, siapa yang melarang mengkompilasi Al Quran, bahkan salah satu nama Al Quran adalah al kitab. ANDA HARUS APA DEFINISI BIDAH, SEBELUM BERBICARA LEBIH JAUH. NAMPAK ANDA BELUM NGERTI APA YANG DIMAKSUD DENGAN BID’AH, PANTASAN SAJA ANDA TERJERUMUS DALAM PERBUATAN BIDAH.

    • TERIMA KASIH ABU SAYAEV, ANDA TELAH MEMBERIKAN PENCERAHAN, SELAMAT BERJIHAD, SALAH SATU BENTUK JIHAD KATA ULAMA IBNU HAJAR ADALAH MELAWAN AHLUL BID’AH.
      SEPERTINYA, SEBANYAK APAPUN KEBENARAN YANG ANDA SAMPAIKAN MEREKA SUDAH TERTUTUP HATINYA, BUTA MATANYA, MEREKA SANGAT SULIT KELUAR DARI LAUTAN BID’AH. MEREKA HANYA BERPINDAH DARI SATU BID’AH KEBID’AH LAINNYA KECUALI YANG DIBERIKAN HIDAYAH DARI ALLAH SWT.

      • terima kasih ustad abu salafy anda telah berjihad dengan lisan dan tulisan merdeka ALLAHU AKBAR,,,,,3X,

    • setelah ditumjukan buktinya tetap aja ngga bakalan mau itulah wahabi

  34. saya merasa sedih dan kasihan kepada pemilik dan penulis pada abusalafi….!!! mereka mendakwakan diri ahlussunnah tetapi bahasa mereka dalam menilai ulama juga sangat tidak sopan. sekiranya mereka membaca hadis yang ada dalam al arba’in annawawiyyah, yaitu hadis yang berbunyi : MAN AHDATSA FII AMRINA HADZA DST yang berarti siapa yang membuat perkara baru dalam agama, tentu anda akan paham, atau anda tidak percaya hadis, atau tidak paham, atau bukan ahlussunnah wal jama’ah. Sebab saya pernah menemukan dalam suatu mushalla di Otista Jakarta Timur sebuah kitab hadis alarbai’in ini, namun telah diberi arti, terutama kata man Ahdatsa diterjemahkan dengan: ” Siapa yang membuat hadis palsu” sangat menyimpang dari makna. Jadi saya yakinkan anda dan siapa saja bahwa mereka tidak akan dapat menghalang da’wah kepada sunnah Rasulullah sesuai pemahaman slafusshaleh, pemahamnnya para imam mazhab termasuk Imam Asysyafi’i.

    _______________________
    abusalafy:

    Salam mas zul….
    kami sarankan anda membaca artikel kami tentang Sunnah versus Bid’ah (diatas) dan beberapa lainnya, agar komentar anda bisa mengena.

  35. Om sastro, numpang nanya ya…., yg termasuk bid’ah dhalalah itu contone opo yo om sastro?Trus sunah hasanah itu, sunah yg datang dr selain Rasul saw dan di setujui oleh Rasul saw,krn tdk bertentangan dng syari’t, kalo bid’ah hasanah ki opo om?Maaf jng suruh aku baca lagi artikel om tentang sunah vs bid’ah lg om, aq gak mudeng.Di jelaskan aja biar aku ngerti.

  36. @ Syafi’ Rahman…maaf pak kiai….pak kiai nurul huda bukan hanya teman saya tapi teman sampean juga….apa sampean malu mengakui…….

    ini tulisanya, kami hanya mencoba mengingatkan beliau kalau teori balaghahnya apabila diterapkan untuk peryataan lain yang sekonteks jadi kelihatan lucu.

    MELURUSKAN BALAGHAH ALA KRITIKUS HADIST
    Januari 22, 2008

    janganlah kalian membenarkan kebiasaan baru kemudian mencari dalih pembenaran, namun….carilah kebenaran dengan dalil dan biasakan kebenaran itu dalam hidup.

    ======================================================

    Inilah satu lagi babak dari serial sepak terjang para pendekar pembela bid’ah dan khurafat, membawa bendera bertuliskan balaghoh. Pembelaan yang memang begitu luar biasa untuk tetap mempertahankan eksistensi kebiasaan dan tradisi yang memang telah mereka tabur dan semai sejak dulu, dan memang menjadi sesuatu yang turun temurun.

    Berikut penuturan dari mereka:

    Sunday, March 18

    Bid`ah – KH A.N. Nuril Huda

    Dalam kitab Risalah Ahlussunnah wal Jama’ah karya Hadratusy Syeikh Hasyim Asy’ari, istilah “bid’ah” ini disandingkan dengan istilah “sunnah”. Seperti dikutip Hadratusy Syeikh, menurut Syaikh Zaruq dalam kitab ‘Uddatul Murid, kata bid’ah secara syara’ adalah munculnya perkara baru dalam agama yang kemudian mirip dengan bagian ajaran agama itu, padahal bukan bagian darinya, baik formal maupun hakekatnya. Hal ini sesuai dengan hadits Rasulullah SAW:” Barangsiapa memunculkan perkara baru dalam urusan kami (agama) yang tidak merupakan bagian dari agama itu, maka perkara tersebut tertolak”. Nabi juga bersabda: “Setiap perkara baru adalah bid’ah”.

    Menurut para ulama, kedua hadits ini tidak berarti bahwa semua perkara yang baru dalam urusan agama tergolong bidah, karena mungkin saja ada perkara baru dalam urusan agama, namun masih sesuai dengan ruh syari’ah atau salah satu cabangnya (furu’).

    Bid’ah dalam arti lainnya adalah sesuatu yang baru yang tidak ada sebelumnya, sebagaimana firman Allah S.W.T.:

    بَدِيْعُ السَّموتِ وَاْلاَرْضِ

    “Allah yang menciptakan langit dan bumi”. (Al-Baqarah 2: 117).

    Adapun bid’ah dalam hukum Islam ialah segala sesuatu yang diada-adakan oleh ulama’ yang tidak ada pada zaman Nabi SAW. Timbul suatu pertanyaan, Apakah segala sesuatu yang diada-adakan oleh ulama’ yang tidak ada pada zaman Nabi SAW. pasti jeleknya? Jawaban yang benar, belum tentu! Ada dua kemungkinan; mungkin jelek dan mungkin baik. Kapan bid’ah itu baik dan kapan bid’ah itu jelek? Menurut Imam Syafi’i, sebagai berikut;

    اَلْبِدْعَةُ ِبدْعَتَانِ : مَحْمُوْدَةٌ وَمَذْمُوْمَةٌ

    فَمَا وَافَقَ السُّنَّةَ مَحْمُوْدَةٌ وَمَا خَالَفَهَا فَهُوَ مَذْمُوْمَةٌ

    “Bid’ah ada dua, bid’ah terpuji dan bid’ah tercela, bid’ah yang sesuai dengan sunnah itulah yang terpuji dan bid’ah yang bertentangan dengan sunnah itulah yang tercela”.

    Sayyidina Umar Ibnul Khattab, setelah mengadakan shalat Tarawih berjama’ah dengan dua puluh raka’at yang diimami oleh sahabat Ubai bin Ka’ab beliau berkata :

    نِعْمَتِ اْلبِدْعَةُ هذِهِ

    “Sebagus bid’ah itu ialah ini”.

    Bolehkah kita mengadakan Bid’ah? Untuk menjawab pertanyaan ini, marilah kita kembali kepada hadits Nabi SAW. yang menjelaskan adanya bid’ah hasanah dan bid’ah sayyiah.

    مَنْ سَنَّ فِى اْلاِسْلاَمِ سُنَّةً حسنة فَلَهُ أَجْرُهَا وَأَجْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا مِنْ غَيْرِ اَنْ يَنْقُصَ مِنْ أُجُوْرِهِمْ شَيْئًا وَمَنْ سَنَّ فِى اْلاِسْلاَمِ سُنَّةً سَيِئَةً فَعَلَيْهِ وِزْرُهَا وَ وِزْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا مِنْ غَيْرِاَنْ يَنْقُصَ مِنْ أَوْزَارِهِمْ شَيْئًا

    “Barang siapa yang mengada-adakan satu cara yang baik dalam Islam maka ia akan mendapatkan pahala orang yang turut mengerjakannya dengan tidak mengurangi dari pahala mereka sedikit pun, dan barang siapa yang mengada-adakan suatu cara yang jelek maka ia akan mendapat dosa dan dosa-dosa orang yang ikut mengerjakan dengan tidak mengurangi dosa-dosa mereka sedikit pun”.

    Apakah yang dimaksud dengan segala bid’ah itu sesat dan segala kesesatan itu masuk neraka?

    كُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٍ وَ كُلُّ ضَلاَلَةٍ فِى النَّارِ

    “Semua bid’ah itu sesat dan semua kesesatan itu di neraka”.

    Mari kita pahami menurut Ilmu Balaghah. Setiap benda pasti mempunyai sifat, tidak mungkin ada benda yang tidak bersifat, sifat itu bisa bertentangan seperti baik dan buruk, panjang dan pendek, gemuk dan kurus. Mustahil ada benda dalam satu waktu dan satu tempat mempunyai dua sifat yang bertentangan, kalau dikatakan benda itu baik mustahil pada waktu dan tempat yang sama dikatakan jelek; kalau dikatakan si A berdiri mustahil pada waktu dan tempat yang sama dikatakan duduk.

    Mari kita kembali kepada hadits:-

    كُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَ لَةٍ وَ كُلُّ ضَلاَ لَةٍ فِى النَّارِ

    “Semua bid’ah itu sesat dan setiap kesesatan itu masuk neraka”.

    Bid’ah itu kata benda, tentu mempunyai sifat, tidak mungkin ia tidak mempunyai sifat, mungkin saja ia bersifat baik atau mungkin bersifat jelek. Sifat tersebut tidak ditulis dan tidak disebutkan dalam hadits di atas; dalam Ilmu Balaghah dikatakan:

    حذف الصفة على الموصوف

    “membuang sifat dari benda yang bersifat”.

    Seandainya kita tulis sifat bid’ah maka terjadi dua kemungkinan: Kemungkinan pertama :

    كُلُّ بِدْعَةٍ حَسَنَةٍ ضَلاَ لَةٌ وَكُلُّ ضَلاَ لَةٍ فِى النَّارِ

    “Semua bid’ah yang baik sesat, dan semua yang sesat masuk neraka”.

    Hal ini tidak mungkin, bagaimana sifat baik dan sesat berkumpul dalam satu benda dan dalam waktu dan tempat yang sama, hal itu tentu mustahil. Maka yang bisa dipastikan kemungkinan yang kedua :

    كُلُّ بِدْعَةٍ سَيِئَةٍ ضَلاَ لَةٍ وَكُلُّ ضَلاَ لَةٍ فِى النَّاِر

    “Semua bid’ah yang jelek itu sesat, dan semua kesesatan itu masuk neraka”.

    (KH. A.N. Nuril Huda, Ketua Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama (LDNU) dalam “Ahlussunnah wal Jama’ah (Aswaja) Menjawab”, diterbitkan oleh PP LDNU)

    Posted by Abu Muhammad at 9:12 PM

    Diambil dari sumber :BAHRUS SHOFA

    Abu sayev berkata:

    Sebelum kita mengupas kerancuan saudara Nurul Huda dalam pemahaman Bid’ah menurut ilmu balaghah, tidak ada salahnya kita mencoba menerapkan dahulu kaidah teori balghah darinya untuk kasus yang lain:

    Allah berfirman:

    إِنَّ الَّذِينَ يَكْتُمُونَ مَا أَنْزَلْنَا مِنَ الْبَيِّنَاتِ وَالْهُدَى مِنْ بَعْدِ مَا

    بَيَّنَّاهُ لِلنَّاسِ فِي الْكِتَابِ أُولَئِكَ يَلْعَنُهُمُ اللَّهُ وَيَلْعَنُهُمُ اللاعِنُونَ

    (2:159)

    Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah Kami turunkan berupa keterangan-keterangan (yang jelas) dan petunjuk, setelah Kami menerangkannya kepada manusia dalam Al Kitab, mereka itu dilaknati Allah dan dilaknati (pula) oleh semua (makhluk) yang dapat melaknat.

    Kaidah balaghah yang dipakai oleh saudara Nurul Huda untuk memahami hadist Rasulullah seperti apa yang telah dibahas di atas akan mendapat satu konsekuensi dimana, dalam sebuah kasus yang memiliki konteks pemaknaan yang sama, maka balaghah dapat diberlakukan untuk memahaminya.

    Seperti dalam surat Al-Baqarah ayat 159, kita akan menemukan kontek pemaknaan lafadz yang sama dengan pembahasan hadist tentang bid’ah yang menjadi pokok pembahasan. Marilah kita bersama-sama mengupas makna ayat tersebut dengan pemahaman nyleneh saudara Nurul Huda, yaitu melalui ilmu balaghahnya

    Mereka itu dilaknati Allah dan………, Mereka yang dimaksud adalah orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah Allahi turunkan berupa keterangan-keterangan (yang jelas) dan petunjuk, setelah Allah menerangkannya kepada manusia dalam Al Kitab.

    Dalam ilmu balaghah saudara Nurul Huda, Mereka itu kata benda, tentu mempunyai sifat, tidak mungkin ia tidak mempunyai sifat, mungkin saja ia bersifat baik atau mungkin bersifat jelek. Sifat tersebut tidak ditulis dan tidak disebutkan dalam ayat di atas; dalam Ilmu Balaghah dikatakan:

    “membuang sifat dari benda yang bersifat”.

    Seandainya kita tulis sifat Mereka maka terjadi dua kemungkinan:

    *Kemungkinan pertama

    Mereka yang baik itu dilaknati Allah dan………

    Dilaknati Allah berarti memiliki sifat terlaknat.

    Hal ini tidak mungkin, bagaimana sifat baik dan terlaknat berkumpul dalam satu benda dan dalam waktu dan tempat yang sama, hal itu tentu mustahil, karenanya (dengan kaidah membuang sifat terlaknat dari benda yang bersifat baik) berarti Mereka yang baik

    *Maka yang bisa dipastikan kemungkinan yang kedua :

    Mereka yang jelek itu dilaknati Allah dan………

    Dilaknat Allah berarti memiliki sifat terlaknat.

    Hal inilah yang mungkin terjadi, karena sifat jelek dan terlaknat akan berkumpul menjadi satu benda dalam waktu dan tempat yang sama

    jadi kesimpulan dari apa yang dipaparkan diatas bahwa menurut ilmu balaghah saudara Nurul Huda “orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah Allah turunkan berupa keterangan-keterangan (yang jelas) dan petunjuk, setelah Allah menerangkannya kepada manusia dalam Al Kitab” hanya yang bersifat jelek yang akan dilaknat Allah.

    Sedangkan:

    “orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah Allah turunkan berupa keterangan-keterangan (yang jelas) dan petunjuk, setelah Allah menerangkannya kepada manusia dalam Al Kitab” yang bersifat baik tidak mendapat laknat Allah.

    NAUDZUBILLAHI MIN DZALIK, bagaimana seorang yang belum sempurna dalam pemahaman ilmu tata bahasa. Mengaku ahli kemudian dengan gagah berani bersikap bagaikan ulama mengotak-atik hadist yang sebenarnya telah jalas pemaknaannya.

    Marilah kita menengok sisi kerancuan dari pemahaman balaghah dari saudara Nurul Huda dan bagaimana seharusnya memahami secara lurus.

    Dia mengatakan:

    Bid’ah itu kata benda, tentu mempunyai sifat, tidak mungkin ia tidak mempunyai sifat, mungkin saja ia bersifat baik atau mungkin bersifat jelek. Sifat tersebut tidak ditulis dan tidak disebutkan dalam hadits di atas; dalam Ilmu Balaghah dikatakan:

    “membuang sifat dari benda yang bersifat”.

    Seandainya kita tulis sifat bid’ah maka terjadi dua kemungkinan: Kemungkinan pertama :

    “Semua bid’ah yang baik sesat, dan semua yang sesat masuk neraka”.

    Hal ini tidak mungkin, bagaimana sifat baik dan sesat berkumpul dalam satu benda dan dalam waktu dan tempat yang sama, hal itu tentu mustahil. Maka yang bisa dipastikan kemungkinan yang kedua :

    “Semua bid’ah yang jelek itu sesat, dan semua kesesatan itu masuk neraka”.

    Pembahasan:

    Kerancuan hal tersebuat adalah:

    saudara Nurul Huda memasukan sifat baru benda yang sebelumnya telah dijelaskan sifatnya, untuk kemudian menghilangkan sifat awal yang telah jelas itu, apabila itu berlawanan dengan sifat baru yang dimasukannya

    sebagai contoh:

    semua orang musyrik adalah kafir , saudara Nurul Huda memasukkan dua kemungkinan sifat baru dari orang musyrik yang telah dijelaskan sifatnya yaitu kafir, kemudian membuang sifat kafir apabila sifat baru yang dimasukan kepada orang musyrik ternyata bertentangan dengan sifat kafir tersebuat.

    Menjadi:

    semua orang musyrik yang baik adalah kafir dengan menghilangkan sifat kafir.

    Menggunakan pemahaman balaghah secara lurus:

    Kalau semua mau jujur seandainyapun menggunakan balahah utnuk mensyifati makna dari Hadist tersebuat tentunya tidak akan menimbulkan kerancuan pemaknaan apabila jalan yang ditempuh adalah lurus.

    Seperti apa yang dikatakan Saudara Nurul Huda pada pembahasannya bahwa bid’ah disyifati dengan dua kemungkinan, berarti diantara dua kemungkinan tadi harus ada yang terbuang atau dihilangkan karena tidak mungkin satu benda memiliki dua sifat yang berlawanan dalam satu tempat dan waktu.

    Jadi berdasarkan pemahaman tersebuat:

    “membuang sifat dari benda yang bersifat”.

    Kemungkinan pertama:

    “Semua bid’ah (kemungkinan pertama: baik) sesat, dan semua yang sesat masuk neraka”.

    Hal ini tidak mungkin, bagaimana sifat baik dan sesat berkumpul dalam satu benda dan dalam waktu dan tempat yang sama, hal itu tentu mustahil. Maka yang harus dihilangkan adalah kemungkinan sifat baru yang dimasukkan yaitu kemungkinan sifat baik artinya tidak mungkin bid’ah bersifat baik karena sebelumnya telah disyifati sesat

    yang bisa dipastikan kemungkinan yang kedua :

    “Semua bid’ah (kemungkinan kedua: jelek ) itu sesat, dan semua kesesatan itu masuk neraka”.

    Jadi kita mensyifati bid’ah adalah jelek karena sebelumnya telah disyifati dengan sesat

    UNTUK MEMBUKTIKAN KAIDAH BALAGHAH TERSEBUT GUNAKAN DALAM KASUS DENGAN KONTEK PEMAKNAAN YANG SAMA, NISCAYA KALIAN AKAN MENEMUKAN SEBUAH KEBENARAN.

    kesimpulan dari semuanya

    BAHWA TIDAK ADA BID’AH HASANAH DALAM PERKARA INI, SEPERTI YANG DIPAPARKAN BAIK DARI SISI BALAGHAH SEKALIPUN
    Ditulis oleh abusayev

  37. Di daerah saya di sebuah Propinsi antara Jawa Barat dan Jawa Timur salafy mengadakan pengajian Akbar kalau orang islam umum mengadakan pengajian Akbar di anggap Bid’ah tapi salafy ngak Bid’ah

  38. @ Syafi’ Rahman, …..mas….pak nurul huda itu bukan hanya teman saya mas, tapi teman sampean juga, apa sampean malu mengakuinnya….gara-gara jadi guru tata bahasa plesetan…….

    kalau sudi, silahkan baca….kalau malu….lebih baik ksatria mas
    MELURUSKAN BALAGHAH ALA KRITIKUS HADIST
    Januari 22, 2008

    janganlah kalian membenarkan kebiasaan baru kemudian mencari dalih pembenaran, namun….carilah kebenaran dengan dalil dan biasakan kebenaran itu dalam hidup.

    ======================================================

    Inilah satu lagi babak dari serial sepak terjang para pendekar pembela bid’ah dan khurafat, membawa bendera bertuliskan balaghoh. Pembelaan yang memang begitu luar biasa untuk tetap mempertahankan eksistensi kebiasaan dan tradisi yang memang telah mereka tabur dan semai sejak dulu, dan memang menjadi sesuatu yang turun temurun.

    Berikut penuturan dari mereka:

    Sunday, March 18

    Bid`ah – KH A.N. Nuril Huda

    Dalam kitab Risalah Ahlussunnah wal Jama’ah karya Hadratusy Syeikh Hasyim Asy’ari, istilah “bid’ah” ini disandingkan dengan istilah “sunnah”. Seperti dikutip Hadratusy Syeikh, menurut Syaikh Zaruq dalam kitab ‘Uddatul Murid, kata bid’ah secara syara’ adalah munculnya perkara baru dalam agama yang kemudian mirip dengan bagian ajaran agama itu, padahal bukan bagian darinya, baik formal maupun hakekatnya. Hal ini sesuai dengan hadits Rasulullah SAW:” Barangsiapa memunculkan perkara baru dalam urusan kami (agama) yang tidak merupakan bagian dari agama itu, maka perkara tersebut tertolak”. Nabi juga bersabda: “Setiap perkara baru adalah bid’ah”.

    Menurut para ulama, kedua hadits ini tidak berarti bahwa semua perkara yang baru dalam urusan agama tergolong bidah, karena mungkin saja ada perkara baru dalam urusan agama, namun masih sesuai dengan ruh syari’ah atau salah satu cabangnya (furu’).

    Bid’ah dalam arti lainnya adalah sesuatu yang baru yang tidak ada sebelumnya, sebagaimana firman Allah S.W.T.:

    بَدِيْعُ السَّموتِ وَاْلاَرْضِ

    “Allah yang menciptakan langit dan bumi”. (Al-Baqarah 2: 117).

    Adapun bid’ah dalam hukum Islam ialah segala sesuatu yang diada-adakan oleh ulama’ yang tidak ada pada zaman Nabi SAW. Timbul suatu pertanyaan, Apakah segala sesuatu yang diada-adakan oleh ulama’ yang tidak ada pada zaman Nabi SAW. pasti jeleknya? Jawaban yang benar, belum tentu! Ada dua kemungkinan; mungkin jelek dan mungkin baik. Kapan bid’ah itu baik dan kapan bid’ah itu jelek? Menurut Imam Syafi’i, sebagai berikut;

    اَلْبِدْعَةُ ِبدْعَتَانِ : مَحْمُوْدَةٌ وَمَذْمُوْمَةٌ

    فَمَا وَافَقَ السُّنَّةَ مَحْمُوْدَةٌ وَمَا خَالَفَهَا فَهُوَ مَذْمُوْمَةٌ

    “Bid’ah ada dua, bid’ah terpuji dan bid’ah tercela, bid’ah yang sesuai dengan sunnah itulah yang terpuji dan bid’ah yang bertentangan dengan sunnah itulah yang tercela”.

    Sayyidina Umar Ibnul Khattab, setelah mengadakan shalat Tarawih berjama’ah dengan dua puluh raka’at yang diimami oleh sahabat Ubai bin Ka’ab beliau berkata :

    نِعْمَتِ اْلبِدْعَةُ هذِهِ

    “Sebagus bid’ah itu ialah ini”.

    Bolehkah kita mengadakan Bid’ah? Untuk menjawab pertanyaan ini, marilah kita kembali kepada hadits Nabi SAW. yang menjelaskan adanya bid’ah hasanah dan bid’ah sayyiah.

    مَنْ سَنَّ فِى اْلاِسْلاَمِ سُنَّةً حسنة فَلَهُ أَجْرُهَا وَأَجْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا مِنْ غَيْرِ اَنْ يَنْقُصَ مِنْ أُجُوْرِهِمْ شَيْئًا وَمَنْ سَنَّ فِى اْلاِسْلاَمِ سُنَّةً سَيِئَةً فَعَلَيْهِ وِزْرُهَا وَ وِزْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا مِنْ غَيْرِاَنْ يَنْقُصَ مِنْ أَوْزَارِهِمْ شَيْئًا

    “Barang siapa yang mengada-adakan satu cara yang baik dalam Islam maka ia akan mendapatkan pahala orang yang turut mengerjakannya dengan tidak mengurangi dari pahala mereka sedikit pun, dan barang siapa yang mengada-adakan suatu cara yang jelek maka ia akan mendapat dosa dan dosa-dosa orang yang ikut mengerjakan dengan tidak mengurangi dosa-dosa mereka sedikit pun”.

    Apakah yang dimaksud dengan segala bid’ah itu sesat dan segala kesesatan itu masuk neraka?

    كُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٍ وَ كُلُّ ضَلاَلَةٍ فِى النَّارِ

    “Semua bid’ah itu sesat dan semua kesesatan itu di neraka”.

    Mari kita pahami menurut Ilmu Balaghah. Setiap benda pasti mempunyai sifat, tidak mungkin ada benda yang tidak bersifat, sifat itu bisa bertentangan seperti baik dan buruk, panjang dan pendek, gemuk dan kurus. Mustahil ada benda dalam satu waktu dan satu tempat mempunyai dua sifat yang bertentangan, kalau dikatakan benda itu baik mustahil pada waktu dan tempat yang sama dikatakan jelek; kalau dikatakan si A berdiri mustahil pada waktu dan tempat yang sama dikatakan duduk.

    Mari kita kembali kepada hadits:-

    كُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَ لَةٍ وَ كُلُّ ضَلاَ لَةٍ فِى النَّارِ

    “Semua bid’ah itu sesat dan setiap kesesatan itu masuk neraka”.

    Bid’ah itu kata benda, tentu mempunyai sifat, tidak mungkin ia tidak mempunyai sifat, mungkin saja ia bersifat baik atau mungkin bersifat jelek. Sifat tersebut tidak ditulis dan tidak disebutkan dalam hadits di atas; dalam Ilmu Balaghah dikatakan:

    حذف الصفة على الموصوف

    “membuang sifat dari benda yang bersifat”.

    Seandainya kita tulis sifat bid’ah maka terjadi dua kemungkinan: Kemungkinan pertama :

    كُلُّ بِدْعَةٍ حَسَنَةٍ ضَلاَ لَةٌ وَكُلُّ ضَلاَ لَةٍ فِى النَّارِ

    “Semua bid’ah yang baik sesat, dan semua yang sesat masuk neraka”.

    Hal ini tidak mungkin, bagaimana sifat baik dan sesat berkumpul dalam satu benda dan dalam waktu dan tempat yang sama, hal itu tentu mustahil. Maka yang bisa dipastikan kemungkinan yang kedua :

    كُلُّ بِدْعَةٍ سَيِئَةٍ ضَلاَ لَةٍ وَكُلُّ ضَلاَ لَةٍ فِى النَّاِر

    “Semua bid’ah yang jelek itu sesat, dan semua kesesatan itu masuk neraka”.

    (KH. A.N. Nuril Huda, Ketua Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama (LDNU) dalam “Ahlussunnah wal Jama’ah (Aswaja) Menjawab”, diterbitkan oleh PP LDNU)

    Posted by Abu Muhammad at 9:12 PM

    Diambil dari sumber :BAHRUS SHOFA

    Abu sayev berkata:

    Sebelum kita mengupas kerancuan saudara Nurul Huda dalam pemahaman Bid’ah menurut ilmu balaghah, tidak ada salahnya kita mencoba menerapkan dahulu kaidah teori balghah darinya untuk kasus yang lain:

    Allah berfirman:

    إِنَّ الَّذِينَ يَكْتُمُونَ مَا أَنْزَلْنَا مِنَ الْبَيِّنَاتِ وَالْهُدَى مِنْ بَعْدِ مَا

    بَيَّنَّاهُ لِلنَّاسِ فِي الْكِتَابِ أُولَئِكَ يَلْعَنُهُمُ اللَّهُ وَيَلْعَنُهُمُ اللاعِنُونَ

    (2:159)

    Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah Kami turunkan berupa keterangan-keterangan (yang jelas) dan petunjuk, setelah Kami menerangkannya kepada manusia dalam Al Kitab, mereka itu dilaknati Allah dan dilaknati (pula) oleh semua (makhluk) yang dapat melaknat.

    Kaidah balaghah yang dipakai oleh saudara Nurul Huda untuk memahami hadist Rasulullah seperti apa yang telah dibahas di atas akan mendapat satu konsekuensi dimana, dalam sebuah kasus yang memiliki konteks pemaknaan yang sama, maka balaghah dapat diberlakukan untuk memahaminya.

    Seperti dalam surat Al-Baqarah ayat 159, kita akan menemukan kontek pemaknaan lafadz yang sama dengan pembahasan hadist tentang bid’ah yang menjadi pokok pembahasan. Marilah kita bersama-sama mengupas makna ayat tersebut dengan pemahaman nyleneh saudara Nurul Huda, yaitu melalui ilmu balaghahnya

    Mereka itu dilaknati Allah dan………, Mereka yang dimaksud adalah orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah Allahi turunkan berupa keterangan-keterangan (yang jelas) dan petunjuk, setelah Allah menerangkannya kepada manusia dalam Al Kitab.

    Dalam ilmu balaghah saudara Nurul Huda, Mereka itu kata benda, tentu mempunyai sifat, tidak mungkin ia tidak mempunyai sifat, mungkin saja ia bersifat baik atau mungkin bersifat jelek. Sifat tersebut tidak ditulis dan tidak disebutkan dalam ayat di atas; dalam Ilmu Balaghah dikatakan:

    “membuang sifat dari benda yang bersifat”.

    Seandainya kita tulis sifat Mereka maka terjadi dua kemungkinan:

    *Kemungkinan pertama

    Mereka yang baik itu dilaknati Allah dan………

    Dilaknati Allah berarti memiliki sifat terlaknat.

    Hal ini tidak mungkin, bagaimana sifat baik dan terlaknat berkumpul dalam satu benda dan dalam waktu dan tempat yang sama, hal itu tentu mustahil, karenanya (dengan kaidah membuang sifat terlaknat dari benda yang bersifat baik) berarti Mereka yang baik

    *Maka yang bisa dipastikan kemungkinan yang kedua :

    Mereka yang jelek itu dilaknati Allah dan………

    Dilaknat Allah berarti memiliki sifat terlaknat.

    Hal inilah yang mungkin terjadi, karena sifat jelek dan terlaknat akan berkumpul menjadi satu benda dalam waktu dan tempat yang sama

    jadi kesimpulan dari apa yang dipaparkan diatas bahwa menurut ilmu balaghah saudara Nurul Huda “orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah Allah turunkan berupa keterangan-keterangan (yang jelas) dan petunjuk, setelah Allah menerangkannya kepada manusia dalam Al Kitab” hanya yang bersifat jelek yang akan dilaknat Allah.

    Sedangkan:

    “orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah Allah turunkan berupa keterangan-keterangan (yang jelas) dan petunjuk, setelah Allah menerangkannya kepada manusia dalam Al Kitab” yang bersifat baik tidak mendapat laknat Allah.

    NAUDZUBILLAHI MIN DZALIK, bagaimana seorang yang belum sempurna dalam pemahaman ilmu tata bahasa. Mengaku ahli kemudian dengan gagah berani bersikap bagaikan ulama mengotak-atik hadist yang sebenarnya telah jalas pemaknaannya.

    Marilah kita menengok sisi kerancuan dari pemahaman balaghah dari saudara Nurul Huda dan bagaimana seharusnya memahami secara lurus.

    Dia mengatakan:

    Bid’ah itu kata benda, tentu mempunyai sifat, tidak mungkin ia tidak mempunyai sifat, mungkin saja ia bersifat baik atau mungkin bersifat jelek. Sifat tersebut tidak ditulis dan tidak disebutkan dalam hadits di atas; dalam Ilmu Balaghah dikatakan:

    “membuang sifat dari benda yang bersifat”.

    Seandainya kita tulis sifat bid’ah maka terjadi dua kemungkinan: Kemungkinan pertama :

    “Semua bid’ah yang baik sesat, dan semua yang sesat masuk neraka”.

    Hal ini tidak mungkin, bagaimana sifat baik dan sesat berkumpul dalam satu benda dan dalam waktu dan tempat yang sama, hal itu tentu mustahil. Maka yang bisa dipastikan kemungkinan yang kedua :

    “Semua bid’ah yang jelek itu sesat, dan semua kesesatan itu masuk neraka”.

    Pembahasan:

    Kerancuan hal tersebuat adalah:

    saudara Nurul Huda memasukan sifat baru benda yang sebelumnya telah dijelaskan sifatnya, untuk kemudian menghilangkan sifat awal yang telah jelas itu, apabila itu berlawanan dengan sifat baru yang dimasukannya

    sebagai contoh:

    semua orang musyrik adalah kafir , saudara Nurul Huda memasukkan dua kemungkinan sifat baru dari orang musyrik yang telah dijelaskan sifatnya yaitu kafir, kemudian membuang sifat kafir apabila sifat baru yang dimasukan kepada orang musyrik ternyata bertentangan dengan sifat kafir tersebuat.

    Menjadi:

    semua orang musyrik yang baik adalah kafir dengan menghilangkan sifat kafir.

    Menggunakan pemahaman balaghah secara lurus:

    Kalau semua mau jujur seandainyapun menggunakan balahah utnuk mensyifati makna dari Hadist tersebuat tentunya tidak akan menimbulkan kerancuan pemaknaan apabila jalan yang ditempuh adalah lurus.

    Seperti apa yang dikatakan Saudara Nurul Huda pada pembahasannya bahwa bid’ah disyifati dengan dua kemungkinan, berarti diantara dua kemungkinan tadi harus ada yang terbuang atau dihilangkan karena tidak mungkin satu benda memiliki dua sifat yang berlawanan dalam satu tempat dan waktu.

    Jadi berdasarkan pemahaman tersebuat:

    “membuang sifat dari benda yang bersifat”.

    Kemungkinan pertama:

    “Semua bid’ah (kemungkinan pertama: baik) sesat, dan semua yang sesat masuk neraka”.

    Hal ini tidak mungkin, bagaimana sifat baik dan sesat berkumpul dalam satu benda dan dalam waktu dan tempat yang sama, hal itu tentu mustahil. Maka yang harus dihilangkan adalah kemungkinan sifat baru yang dimasukkan yaitu kemungkinan sifat baik artinya tidak mungkin bid’ah bersifat baik karena sebelumnya telah disyifati sesat

    yang bisa dipastikan kemungkinan yang kedua :

    “Semua bid’ah (kemungkinan kedua: jelek ) itu sesat, dan semua kesesatan itu masuk neraka”.

    Jadi kita mensyifati bid’ah adalah jelek karena sebelumnya telah disyifati dengan sesat

    UNTUK MEMBUKTIKAN KAIDAH BALAGHAH TERSEBUT GUNAKAN DALAM KASUS DENGAN KONTEK PEMAKNAAN YANG SAMA, NISCAYA KALIAN AKAN MENEMUKAN SEBUAH KEBENARAN.

    kesimpulan dari semuanya

    BAHWA TIDAK ADA BID’AH HASANAH DALAM PERKARA INI, SEPERTI YANG DIPAPARKAN BAIK DARI SISI BALAGHAH SEKALIPUN
    Ditulis oleh abusayev

    • Kalau ada bid’ah hasanah, maka apakah kriterianya untuk menetapkan sesuatu hal menjadi bid’ah khasanah, Yang kedua pemikiran orang sangat beragama, orang satu mengatakan ini khasanah, yang lain mengatakan ini khasanah dengan berbagai argumen akalnya… Lalu yang mana bida’ah!!!!

      Salut sama Abu Sayaev, selamat berjihad melawan ahlul bid’ah dan ahlul kemusyrikan

  39. salut buat abu sayev.
    kok tidak ada komentar dari abu salafy.
    semoga ALLAH membukakan pintu hidayah nya untuk kita semua amin.

  40. @Alpin

    malah sebaliknya abu sayev SAMA SEKALI TDK MENANGGAPI SECARA LANGSUNG ARTIKEL PAK ABU DIATAS, dan komen-komen sayev tsb tidak ditujukan kepada abusalafy, karenanya abusalafy tidak menanggapi balik.

    coba mas alpin DELENG lagi komen sayev ditujukan kepada siapa?

    buat saya itu menunjukkan bahwa SAYEV TIDAK PUNYA DAYA menanggapi artikal ABUSALAFY DIATAS.

    saya ingin liat sayev fokus menanggapi tulisan pak abusalafy diatas.

  41. @ALLAMAH AL-USTAD ALKABIR ABUSAYEV

    Assalamu alaikum

    tolong perhatikan tulisan saya mulai dari awal, sampai postingan anda terakhir, anda tidak mengomentari tanggapan saya to the point, tapi anda menyebut hal-hal yang tidak relevan.

    rupanya anda juga sdh menjadi ahli nujum, karena anda menyebut saya teman kiai nurul huda, dari mana anda tahu itu? saya tau nama nurul huda juga dari anda

    (maaf pak kiai….pak kiai nurul huda bukan hanya teman saya tapi teman sampean juga….apa sampean malu mengakui…….)

    siapa itu kiau nurul huda dan dari mana asalnya saya tidak tahu, saya tahunya dari anda.

    anda bersusah-payah mengcopy-paste tulisan kiai nurul huda (juga anda tidak menyebut sumbernya atau alamat URL-nya) SEHARUSNYA ANDA MENGOMENTARI LANGSUNG KEPADA YANG BERSANGKUTAN, ITU CARA ORANG BERDISKUSI. KENAPA TIDAK ANDA LAKUKAN ITU?

    perlu anda ketahui, anda disini berhadapan dengan saya bukan dengan abusalafy atau nurul huda. anda harusnya menanggapi yang berkaitan dengan saya saja. kalo anda tidak mau dibilang muter-muter!

    dari awal TELAH saya katakan: tolong sebutkan konsep “SYIRIK, BID’AH” menurut wahabi. anda belum jawab itu kepada saya, malah sekarang anda tambah lagi dengan “Ahlussunnah” apa itu ahlussunnah?

    tolong semua itu anda jabarkan menurut konsep WAHABI? biar bisa kita diskusikan. anda nggak perlu copy-paste hal-hal yang tidak relevan. (kita bisa diskusikan satu-satu dari topik yang saya sebut diatas)

    semoga anda memahami tulisan (maksud) saya

    wassalam

  42. @ SYAFI’ RAHMAN,
    mas….sampean mengatakan:
    +++++++++++++++++++++
    “tolong perhatikan tulisan saya mulai dari awal, sampai postingan anda terakhir, anda tidak mengomentari tanggapan saya to the point, tapi anda menyebut hal-hal yang tidak relevan.”
    +++++++++++++++++++++
    kalau sampean melek dan mau melakukan sendiri apa yang sampean nasehatkan kepada kami, maka sampean akan menemukan jawabnya. namun sampean jarkoni (isoh ujar rak isoh nglakoni.

    mengenai pak nurul huda, kami hanya mengatakan beliau juga teman sampean juga kok tidak terima (bagaimana kalau saya mengatakan dia saudara sampean ya…pasti sampean lebih uring-uringan)…pakai nuduh ahli nujum segala (mas jangan samakan semua suka bergaul dengan nujum mas… dikit-dikit nujum-dikit dikit nujum)…maksud kami adalah….kebangeten sekali anda tidak kenal pak nurul huda (itu pendapat kami), tapi kalau anda tidak mau dikatakan temannya…ya saya minta maaf, soalnya tetangga saya tidak pernah ketemu gusdur tapi kalau dibilang temannya gusdur mereka senang sekali.

    ***********************************
    rupanya anda juga sdh menjadi ahli nujum, karena anda menyebut saya teman kiai nurul huda, dari mana anda tahu itu? saya tau nama nurul huda juga dari anda
    ***********************************
    kalau masalah sekecil seperti itu kemudian dibesar-besarkan, bagaimna dengan ini mas

    ************************************
    silahkan anda mengusung konsep BID”AH ala wahabi baik itu pendapat Ibnu taymiah, bin baz, utsaimin, atau NURUL HUDA teman anda itu…..
    ************************************

    SAMPEAN JUGA AHLI NUJUM YA ????????????????DARI MANA SAMPEAN TAHU KALAU DIA TEMAN SAYA ???????????????

    *************************************
    perlu anda ketahui, anda disini berhadapan dengan saya bukan dengan abusalafy atau nurul huda. anda harusnya menanggapi yang berkaitan dengan saya saja. kalo anda tidak mau dibilang muter-muter!

    dari awal TELAH saya katakan: tolong sebutkan konsep “SYIRIK, BID’AH” menurut wahabi. anda belum jawab itu kepada saya, malah sekarang anda tambah lagi dengan “Ahlussunnah” apa itu ahlussunnah?
    **************************************
    COBA SEKARANG MAS…………ANDA SEBUTKAN KONSEP BID’AH, DAN SYIRIK MENURUT AHLUL BID’AH, ITU BARU FAIR.

    ***************************************
    anda bersusah-payah mengcopy-paste tulisan kiai nurul huda (juga anda tidak menyebut sumbernya atau alamat URL-nya) SEHARUSNYA ANDA MENGOMENTARI LANGSUNG KEPADA YANG BERSANGKUTAN, ITU CARA ORANG BERDISKUSI. KENAPA TIDAK ANDA LAKUKAN ITU?

    ***************************************
    MAS…INI UNTUK SEMUA, UNTUK SAMPEAN JUGA TERMASUK UNTUK PAK NURUL HUDA…JIKALAU BERKENAN MENYANGGAH TULISAN KAMI………MEMANGNYA SAMPEAN SAK BRAYAT JIKALAU MENGGUGAT TULISAN SYAIKH KAMI LANGSUNG KALIAN TUJUKAN KEPADA BELIAU…..MENURUT SAMPEAN ITU CARA ORANG BERDISKUSI MAS….

  43. @Mas Alpin
    terima kasih atas do’a dukungannya, dan tidak ada yang perlu disaluti dari kami yang awam ini….semoga Allah membukakan hati kita semua untuk sebuah kebenaran….Amin.

    @ Mas Syarif
    ***********************************
    malah sebaliknya abu sayev SAMA SEKALI TDK MENANGGAPI SECARA LANGSUNG ARTIKEL PAK ABU DIATAS, dan komen-komen sayev tsb tidak ditujukan kepada abusalafy, karenanya abusalafy tidak menanggapi balik.
    ***********************************

    abu sayev: maaf kalau saya lupa mempersilahkan orang dibelakang SYAFI’ RAHMAN, untuk ikut masuk kerumah kami….habisnya syafi’ rahman dipersilahkan masuk tidak segera masuk….jadi lupa kalau dia bawa teman……

    mas syarif…..ngomong-omong sampean tidak dipersilahkan masuk sama mas Alpin…kok nlonong masuk rumahnya begitu saja….wah itu gimana ya….apa sampean orang suruhan…..

    *********************************
    coba mas alpin DELENG lagi komen sayev ditujukan kepada siapa?
    *********************************
    SUMONGGOOOOOOOOOOOOOOO….SINTEN MAWON INGKANG BADHE PARING TAUSIYAH KANGGE KULA

    *********************************
    buat saya itu menunjukkan bahwa SAYEV TIDAK PUNYA DAYA menanggapi artikal ABUSALAFY DIATAS.
    *********************************
    PAK ABU SALAFY MEMANG PERKASA aaaaa>>>>>>>
    APALAGI TAMBAH GUDEL-GUDEL DIBELAKANG DIA……….
    BAPAKNYA SRUDUG SANA-SRUDUG SINI, ANAKNYA MENGEKOR CUMA TERIMA KENTUTNYA DOANG… SUDAH LUMAYAN…..BUAT BEKAL CERITA TENTANG KENTUT ITU.

    **********************************
    saya ingin liat sayev fokus menanggapi tulisan pak abusalafy diatas
    **********************************
    MAS ALPIN….YOK KITA SAMA-SAMA LIHAT PAGELARAN KEBO KENTUTI GUDELNYA….,

  44. @abu sayev.
    saya sudah baca tulisan tanggapan soal bid’ah yg panjang diatas.

    sekalian muat tulisan buat sanggahan jika ada ucapan2
    bahwa ” nabi tidak naik pesawat waktu haji ” dan sebangsanya berkaitan dg bidah.

    sukron

  45. @pak abu sayev,
    saya sudah baca tanggapan bidah yg panjang diatas.
    bagus dan ilmiah.

    sekalian post tulisan untuk tanggapin statemen2 spt
    “nabi saw tidak naik pesawast terbang waktu haji,
    tidak pakai karpet di masjidnya” dll.

    sukron

  46. @ALLAMAH ALWAHABI AL-USTAD ALKABIR ABUSAYEV

    الحمدلله على نعمة العقل

    Ya beginilah wahabi jika berdiskusi takut kedoknya ketahuan, asal nuduh sana-sini sesat, syirik, bid’ah dll. begitu ditanya Apa itu SYIRIK, BID’AH MENURUT KONSEP WAHABI malah loncat sana loncat sini kayak kutu loncat. nggak nyambung sama sekali

    mengaku-ngaku ahlussunnah, ditanya apa itu ahlussunnah malah bungkam.

    صدق الله العظيم الذى قال :

    …. و اذا خاطبهم الجاهلون قالوا سلما

    اللهم انى اسالك بحق نبيك محمد نبى الرحمة ان تبعدنى وذريتى من افكارالوهابيين والتيميين المنحرفين ومن اخلاقهم اللإاسلامية و سوء السنتهم وجهلهم ….. اللهم امين

  47. @syafi Rahman,

    bukankah abusayef sudah menjawab dg baik
    dan logis
    topik utama di thread ini ?

  48. #
    @ akhi wawan, di/pada Februari 18th, 2008 pada 7:29 am
    SEGALA PUJI HANYA BAGI ALLAH PENCIPTA ALAM SEMESTA,

    MEMANG TIDAK JARANG BAHKAN SERING MEREKA MENCARI ANALOGI TENTANG BID’AH SECARA UGAL-UGALAN, SEMUA DITERJANG TANPA BERFIKIR SEJANAKPUN BAHWA APA YANG AKAN MEREKA LONTARKAN BAK DAGELAN DISIANG BOLONG

    DAN ““nabi saw tidak naik pesawast terbang waktu haji,” SATU BINTIK KECIL DARI MOZAIK YANG TERHAMPAR LUAS.

    SEBENARNYA BID’AH YANG DILARANG ADALAH DALAM SUDUT PANDANG SYAR’I.

    SEKARANG KITA HARUS MEMAHAMI BAGAMANA BATASAN SYARI’AT ITU:

    SYARI’AT ADALAH SEMUA DATANGNYA DARI ALLAH DALAM SEGALA URUSAN AGAMA DAN PENDUKUNGNYA YANG ADA DIJAMAN RASULULLAH MASIH HIDUP DILAKUKAN. DISABDAKAN,DITAQRIR, DILARANG OLEH BELIAU DAN DILANJUTKAN DIGENERASI SAHABAT, MENURUN LAGI KEGENERASI BERIKUTNYA….DAN SETERUSNYA DENGAN SANAD BERSAMBUNG DALAM DALIL ATAU HUJJAH YANG BISA DIPERTANGGUNG JAWABKAN.

    SEKARANG BAGI PENGGEMAR BID’AH…APAKAN NAIK PESAWAT ADALAH URUSAN AGAMA (SYARI’AT).

    TENTANG MASALAH KARPET:
    KALAU KARPET DI MASJID APABILA ITU DIPAKAI SEBAGAI LANTAI DAN TIDAK KITA HAMPARKAN DIATAS LANTAI MASJID MAKA KITA YANG SHOLAT DIATASNTA TIDAK MELAKUKAN BID’AH.

    KARPET SEBAGAI LANTAI MASJID, SAMA SEPERTI LANTAI YANG LAINNYA…ADA YANG MASIH DARI TANAH SAMPAI KEPADA YANG MEMAKAI KERAMIK MEWAH…DAN MASJID JAMAN NABI JUGA BERLANTAI (LANTAI TANAH)

    NAMUN JIKALAUPUN ITU DIANGGAP BID’AH MAKA KITA TIDAK MELAKUKAN BID’AH DI ATASNYA.

    BERBEDA HAL DENGAN JIKALAU KITA SHOLAT DALAM MASJID DENGAN MENGHAMPARKAN SAJADAH ATAU ALAS YANG LAINNYA, DENGAN TUJUAN UNTUK KITA PASANG DITEMPAT KITA SHOLAT, MAKA ITU KAMI MEMAHAMI BID’AH,
    1. TIDAK ADA SYARI’AT YANG MENUNTUNTAN (JIKALAU ADA YANG BISA MENUNJUKKAN DALIL, INSYA ALLAH KAMI AKAN RUJUK DENGANNYA)
    2.APA TUJUAN KITA MEMASANG SAJADAH…APA KITA MENGANGGAP MASJID TIDAK CUKUP BERSIH SEHINGGA HARUS KITA LEMEKKI DENGAN BARANG YANG KITA BAWA DARI RUMAH..

    WAALLAHU A’LAM BISH SHOWAB

  49. @ Syafi’ Rahman, di/pada Februari 21st, 2008 pada 4:39 am

    MAS….SEPERTINYA TRADISI SAMPEAN ADALAH MALU MENGAKUI SALAH….TAPI NGGAK APA-APA (TERSERAH SAMPEAN) YANG TERPENTING KAMI TELAH MENJAWAB YANG SAMPEAN MINTA…ITU SEKALI LAGI LHO ” KALAU SAMPEAN MELEK DAN TIDAK BAHLOL”

  50. @pak abu sayev
    pak, mungkin tulisan bapak yg panjang, bisa ditulis
    lagi, dg format yg lebih enak dibaca, misalnya
    untuk tulisan dr abusalafi diberi warna/tanda kutip,
    dan kometar bapak diberi tanda ” atau yg lainnya,
    agar mudah dibaca 🙂

    sy sendiri bingung pas baca tulisan pak abu sayef,
    dikirain tulisan abusalafi dicopy ulang.

    ternyata di tengah2nya ada komentar2 dr bapak yg
    sy kira lebih dari cukup untuk membantah bidah.

    pertanyaan berikutnya pak,
    seputar jabat tangan seusai solat.
    jika kita analogikan dg naik pesawat mungkin bisa kan
    pak. tapi kenapa ini termasuk bidah.

    memang Rasul saw tidak berbuat begitu, dan kita
    tidak perlu jabat tangan,

    tetapi bukankah ibadah sholat itu dimulai dg takbiratul
    ikhrom dan diakhiri dg salam.
    berarti solat/ibadah sudah selesai.
    dan jabat tangan sudah tidak lagi merupakan ibadah.
    jadi sudah bebas /bukan bidah.

    atau mungkin bisa dijelaskan sampai titik mana
    yg disebut ibadah.

    btw, ini topik kok udah gak rame lagi ya.
    tanggapan dr abusalafi cs sudah tidak ada.

    mudah2an mereka sehat tidak kurang suatu apa.

    wassalamualaikum

  51. waalaikumussalam, @ mas wawan
    maaf kalau format tulisan membingungkan…..karena keterbatasan kemampuan kami tentang teknik dalam posting ini, tapi kami mencoba membuat semua mengerti, atau lihat bahasan di abu sayev :membongkar bid’ah berlabel sunnah yang merupakan catatan kecil kami

    mengenai berjabat tangan setelah sholat, ahlussunnah memahami itu adalah bid’ah karena adalah rangkaian ibadah yang dituntunkan Rasulullah bahwa setelah Shalat beliau kemudian berzikir, dan tidak ada satu riwayatpun yang menjelaskan bahwa Rasulullah melakukan jabat tangan dengan jama’ah shalat (maka jikalau ada yang bisa menunjukkan dalil tentangnya, maka silahkan menunjukkan, dan apabila itu sebuah kebenaran maka kami siap rujuk).

    apabila berjabat tangan kita analogikan dengan berangkat haji naik pesawat maka itu tidaklah tepat….karena, seperti yang kami katakan sebelumnya APAKAH NAIK PESAWAT DALAM KAIDAH BERAGAMA TERMASUK SYARI’AT IBADAH sedangkan BERJABAT TANGAN SETELAH SHALAT ADALAH MENCIPTAKAN SYARI’AT BARU DIANTARA DUA RANGKAIAN SYARI’AT IBADAH YAITU SHALAT DAN ZIKIR SEUSAI SHALAT, MAKA JIKALAU BERJABAT TANGAN ADALAH SESUATU YANG DIBENARKAN SYARI’AT PASTILAH ITU DATANGNYA DARI ALLAH, DAN SIPA YANG AKAN DBERIKAN WAHYU TENTANG SYARI’AT TERSEBUT KALAU BUKAN NABI KITA YANG MULIA, DAN TENTUNYA NABI YANG AKAN MENSYARI’ATKAN PERTAMA KALI KEPADA GENERASI SAHABAT.

    BERJABAT TANGAN ADALAH SESUATU YANG ADA DIJAMAN NABI BAHKAN DITUNTUNKAN OLEH NABI ATAU DENGAN KATA LAIN NABI MAMPU UNTUK MELAKSANAKAN, TAPI NABI TIDAK MELAKSANAKAN SESUATU YANG PASTI MAMPU BELIAU LAKSANAKAN ITU DALAM SUATU RITUAL TERTENTU YAITU SELEPAS SHALAT NAMUN NABI HANYA MENUNTUNKAN SELEPAS SHALAT UNTUK BERZIKIR KEPADA ALLAH.

    WALLAHU A’LAM BISH-SHOWAB

    • Bung Abu Sayev, janganlah Anda menyangka bahwa si Abu Cs. adalah orang baik2. Jika ada orang sudah mengumpat dan mencela orang mati, maka sudah jelas dia bukan muslim! tapi fasiq!
      Jika ada orang sudah menuduh Ulama yang sholeh dan pandai dengan sesat serta bodoh, maka sudah jelas dia bukan muslim!

      _______________
      Abu Salafy

      Saudara Saiful Hasan untuk urusan umpat-mengumpat atau caci-mencaci anda bisa belajar dari buku yang khusus mengumpulkan seni cac-mencaci Syekh Al Albani ini:
      Kamus Caci Maki Al Albani ( قاموس شتائم الالباني )
      Silahkan download disini (pdf)
      http://ia700204.us.archive.org/9/items/ShtaimAlbani/12773071791.pdf

    • NIHHHHHH COPY LAGI BIAR WAHABI NGAPAL

  52. Assalamu alikum
    Afwan numpang ngomentar…
    ana lihat bolg ini luar biasa baiknya, karena memberikan wawasan kepada masyarakat akan bahaya Wahhabiyah…
    selamat berkarya Ustaz Abu …
    semoga anda dan semua pihak yang berjuang di jalan ini diberi kesabaran (menghadapi orang-orang yang kaku) dan selalu dilindungi oleh Allah SWT…
    Amin……….

    Abu Salafy:

    Syukran. Jangan lupa doakan kami.

  53. pak abu saya sering membuka blog-blog wahabi yang jumlahnya sangat banyak itu, terkadang saya ingin mengetahui lebih dalam apa sebetulnya wahabi itu beserta tokoh-tokohnya dan mengapa mereka bs berpendapat semacam itu ! namun hasilnya absurd, semakin banyak sy mengkaji sy bukannya tambah ilmu justru tambah bingung krn tidak ada representasi yang benar dr mereka, pertentangan antara satu ustad dengan ustad yg lain, menonjolkan benderanya masing-masing, kejelasan ajarannya pun demikian ada yg sepakat satu hal namun berbeda hal lain sehingga tambah mengkerut, para ulama mereka bisa menjarh ulama yg masih wahabi juga ! sy sungguh bingung apakah ini kelompok ahlul haq ?!
    kesamaan diantara mereka yg bs sy pastikan adalah
    1.kegarangan dlm berdakwah kl bs dengan teror
    2.pengkafiran thd kelompok lain
    3.menolak mengkafirkan namun membidahkan dan menyesatkan kelompok lain
    kiranya ini bs menjadi masukan bagi pak Abu untuk kl bs memuat pertentangan di antara mereka dlm situs ini

    • Untk Alex, silahkan Anda baca2 artikel Si Abu Cs. Ambillah jika dia menukilkan Al-Qur’an atau Hadist, tapi segala keterangan yg diberikan oleh Si Abu ini agak nyeleneh, jadi Anda harus mengkroscek kebenarannya oleh guru2 Agama di dekat Anda atau ke Ulama2/Guru2 yang dicap sebagai Wahabi oleh si Abu Cs. supaya tidak tersesat

    • MAS MASIH NAMBAH LAGI SEKARANG YG BARU
      – MEMPROVOKSI
      – MENGADUDOMBA
      – MEFITNAH
      PROMOSI INI NGGA KALAH BAHAYANYA SEHINGGA SE-OLAH3 USTAD ABU SALFY CS. YG NGAJAK PERANG ( KAN TERBALIK NI ) PADAHAL KAN HANYA MENJAWAB TUDUHAN2 WAHABI TERHADAP UMAT ISLAM LAINYA INI HARUS DI WASPADAI DAN DI LURUSKAN

  54. buat abusalafy teruskan perjuangan anda untuk pencerahan umat ini supaya tidak terjerumus dalam kesesatan.

  55. hati-hati bahaya wahabi l!! ihat itu di arab saudi tempat untuk melakukan Sa’ie dari Marwah ke Sofa diubah tempatnya apakah itu bukan Bi’ah

  56. assalamu;alaikum
    Kepada saudara2ku, saya mohon antum jangan terus berselisih, masih banyak perkara yang lebih besar yang harus kita kerjakan.
    Islam adalah agama yang universal yang mengajarkan seluruh aspek kehidupan, baik kehidupan berpolitik, sosial, budaya , ekonomi, dsb

  57. @abu sayev

    SEBENARNYA BID’AH YANG DILARANG ADALAH DALAM SUDUT PANDANG SYAR’I.

    1. menurut siapa?

    SYARI’AT ADALAH SEMUA DATANGNYA DARI ALLAH DALAM SEGALA URUSAN AGAMA DAN PENDUKUNGNYA YANG ADA DIJAMAN RASULULLAH MASIH HIDUP DILAKUKAN. DISABDAKAN,DITAQRIR, DILARANG OLEH BELIAU DAN DILANJUTKAN DIGENERASI SAHABAT

    2. menurut siapa?

    BERJABAT TANGAN SETELAH SHALAT ADALAH MENCIPTAKAN SYARI’AT BARU DIANTARA DUA RANGKAIAN SYARI’AT IBADAH YAITU SHALAT DAN ZIKIR SEUSAI SHALAT

    3. menurut siapa apa2 yg dilakukan di antara 2 rangkaian ibadah adalah juga merupakan syari’at? Bgm jika Rasulullah batuk/berdehem/minum diantara keduanya, bgm jika Rasulullah membukakan pintu bagi tamu diantara keduanya?
    4. Apakah hukumnya meninggalkan/tidak dzikir setelah sholat? Apakah dzikir jg termasuk syari’at?

    Tolong mas Abu Sayev jawab, krn setelah membaca tulisan2 mas Abu Sayev saya jd timbul banyak pertanyaan. Oyaa, setelah ini saya msh banyak pertanyaan boleh kan?

    Wassalam.

  58. truthseeker, di/pada Mei 8th, 2008 pada 4:53 am Dikatakan:

    1. maaf mas, sampean menanyakan menurut siapa….sekarang kami balik tanya kepada sampean mas…..sampean setuju atau tidak…..tentang pernyataan diatas.

    2. Nabi tidak pernah melaksanakan hal tersebut seusai shalat, namun yang dituntunkan seusai shalat adalah berdzikir. menurut kiai nurul huda berjabat tangan seusai shalat baik dilakukan, dan sekarang menjadi sebuah kebiasaan, dan melakukan sesuatu tentu dengan niat mendapatkan sebuah fadhilah, apa itu kalau bukan membuat sebuah syari’at
    3. mas…..jika batuk, dehem, atau minum dan lain sebagainya itu pernah dilakukan Rasulullah seusai shalat, dan itu menjadi syari’at tentunya Shahabat yang pertama kali menirunya, dan bukan kita yang hidup dijaman penuh dengan fitnah khurafat, sebagaimana berjabat tangan seusai shalat apabila itu baik dilakukan, tentunya disyari’atkan oleh Rasulullah dan ditirukan oleh generasi shahabat.

    jikalau kita dehem atau batuk atau minum seusai shalat dalam rangka kita melepaskan hajat kita karena sesuatu hal yang sifatnya darurat maka itu bukan syari’at, karena tidak akan kita kakukan sebagai ritualitas

    mungkin akan menjadi berbeda apabila kita melakukan sebagai tradisi dengan niat dan keyakinan bahwa itu akan mengandung unsur kebaikan dalam ibadah, bahkan kita dakwahkan kepada umat islam, berarti membuat syari’at batuk seusai shalat, atau berdahak seusai shalat, atau fadhilah minum seusai shalat.

    4. meninggalkan dzikir setelah shalat tanpa adanya udzur berarti meninggalkan sunnah Nabi. apakah sampean masih ragu bahwa dzikir sehabis shalat adalah syari’at.

    wallahu a’lam bish-shawab

    silahkan…….InsyaAllah……tujuan kami mencari kebenaran dalam berDien……..bukan mencari pembenaran tentang pemahaman diri.
    jikalau sampean punya Dalil kuat…..kami akan rujuk.

  59. @Truthseeker dan ikhan lain yang berdialog dengan wahabi

    Nasehat saya sebelum anda berdialog dengan wahabi, mintalah mereka mendifinisikan apa yang dibicarakan jika tidak dialog akan melenceng nggak karuan.

    misalnya apa difinisi dan pengertian “BID’AH”, “IBADAH”, “SYIRIK” , SYARIAT” DLL menurut wahabi, setelah itu lalu didiskusikan kalau tidak akan melenceng nggak karuan,

    kekeliruan mereka (wahabi memahami hal-hal tersebut) menyebabkan mereka mudah MEMBID’AHKAN, mensesatkan dan Mensyirikkan orang!

    untuk SEKEDAR referensi PERBEDAAN KONSEP dan PENGERTIAN IBADAH menurut WAHABI dan umat Islam yang lain, saya sarankan saudaraku Truthseeker membaca artikel ini:

    TAUHID DALAM IBADAH
    http://kajianislam.wordpress.com/2008/03/25/tauhid-dalam-ibadah/

    MAKASIH SOBAT Selamat berdiskusi dan sabar menghadapi manusia yang merasa paling benar sendiri !

  60. salam.buat para pecinta bid’ah.tak pikir2 orang salafi ini pinter2 ternyata keblinger d sanggah mas tulisan abusalafi bukan di omeli,kalau mas bicara di forum diskusi terus ngomongnya gini kan bikin malu orang2 salaf yang mengaku paling pinter,lanjutkan mas abu.

  61. Sugeng internetan, sedoyonipun.

    Katanya orang Islam itu adalah orang yang, orang lain selamat dari lisanihi dan yadihi. apa itu bener?
    Truss….?
    Katanya juga, Allah pernah YAQUULU bahwa yang mulia disisinya adalah orang yang “atqoo” disambung dengan “kum”.
    Kita ini kira2 masuk dalam “kum” itu ndak ya?
    Lalu…..?
    Entahlah, antum a’lamu bi umuri dunyaakum. Yang jelas Allah sudah menyediakan surga serta segala tetek bengeknya, juga neraka lengkap dengan semua fasilitasnya.
    Tentunya, Allah telah memberi keleluasaan kita untuk masuk yang mana donk. saya hanya bisa berdo’a, semoga Allah mengampuni dan berkenan menuntun kita. Amin
    Sugeng debat, nggih.

  62. Assalamualaikum, tiada salah dr kedua pihak yg berdiskusi, yg salah adalah yg merasa benar sendiri, berbanyak ibAdah menurut tata cara syariat masing2, yg kita ributkan justru merupakan bid’ah, (tidak ada dr nabi diskUsi dgn kata2 kasar dan saling hina), katanya dua2nya gak mau dikatakn bidah eh… malah melakukn

  63. assalam… duh yg pada ribut-ribut bidah.. pd ngaca diri dong coba kaji lagi..yg pd ente pake debat ini jg bidah.. (comp, keyboard,line internet, mobil,sekolah, buku kitab, kopiah, dll) kok pd ribut..udah pd tahu kok pembagian nya bidah oleh para ulama yg tingkatan ilmu nya jauh diatas kita dr yg terbagi 2 sdg menurut hukum yang 5, tinggal ikuti aja kok repot.. sbb ulama yg membagi pmasalahan ini dlm ilmu hadist nya yang sdh pd tingkatan imam, melebihi tingkatan hujjatul, al hakim, atau alhafidz… tapi klo skr yg lagi… kira kira ada g ya yg sampai pd tingkatan itu??? klo tidak mgkin lebih baik kita ikuti ulama-ulama aja x ya…

  64. @ abu sayev
    assalamu alaikum ustadz

    dari paparan ente membantah masalah bid’ah ente mengikuti ulama mana? karena saya lihat semua cuma pendapat pribadi aja
    ente tentu tau kan kalau imam syafi’i membagi bid’ah menjadi 2 yaitu bid’ah yang buruk dan bid’ah yang baik. apakah menurut ente imam syafi’i yang merupakan ulamanya ahlussunnah melakukan kesalahan? atau ente punya takwil terhadap qaul imam syafi’i tersebut?

  65. @ abu sayev

    anda ngomongnya muter-muter kaya komedi puter..
    jabat tangan selesai sholat lah bid’ah..
    muke lu tuh bid’ah..karen zaman rasul ga ada muka kaya lu…

    maaf..
    anda mngkin msh bs berkilah dgn hadis atau apalah..
    tp kita lihat saja di hari kiamat nanti, anda termasuk gol yg mendapat syafaat dari Nabi Muhammad SAW atau malah digolongan yang kafir?
    saya hanya orang awam, sekali lagi maaf..
    hidup wahabi..kekal di neraka…

  66. kepada abu salafy, teruskan perjuangan anda..
    dr kebanyakan situs islam yg sya buka. cuma anda yg tdk asal membid’ahkan dan mengkafirkan orang..
    mereka cuma orang-orang bodoh yang sok suci padahal kotor..
    klo semua yg mereka katakan memang benar, kenapa mereka tidak berani bicara/berdakwah di depan umum..
    org munafik emg lebih berbahaya di bandingkan musuh yang jelas..
    hai kaum yang membid’ahkan semua kebiasaan yg telah diturunkan oleh para ulama sebelum kami..
    saya katakan kepada kalian, darah ini rela bercucuran demi membela yang haqq..nyawa ini rela hilang demi kebenaran..
    wassalam..

    _________
    abu salafy:

    syukron atas doanya, Amin !!

  67. pak kiyai abu ! kayaknya mau banget deh aku mutholaah kitab kitabnya sampean hehehe .di pesantrenku kitab kitabnya nggak cukup untuk menangkal syubhat wahhaby.kalau semua artikel yg sampeyan tulis saya copy bagaimana?

    ______________
    Abu Salafy:
    Silahkan, demi penyebaran da’wah dan pencerahan. Tapi jangan dikomersilakn lho! ha ha ha. Salam

  68. blog ga’ penting yang isinya pemecah belah umat, mbo ya kalo gak terima tinggal di hapus saya, beres kan. HIDUP ABU SALAF YANG SUDAH PASTI MASUK SURGA.
    (kalo ini di anggap spam or trojan ataw warm silahkan di hapus).

  69. orang yang bilang Abu salaf sudah pasti masuk surga..gak mungkin di delete, atau di spam sama abu salafy atau sastro jahlul murokab..bukankah itu pujian yang kalian inginkan?…senang di puji…pujilah sastro dan abu salafy..dia akan senang..tidak akan di hapus, spam, atau diapapun..dia seneng dan dadanya penuh sesak dengan kebanggaan

    ____________
    abu salafy:

    قُلْ هَاتُوا بُرْهَانَكُمْ إِنْ كُنتُمْ صَادِقِينَ

    [البقرة:111]

  70. pak kiyai abu !dalam kitab rihlah ibnu bathuthah di sebutkn bahwa ibnu taimiyyah “fii aqlihi syaiun” {nggak waras} ,kayaknya HOT banget kalau jadi bahan artikelselanjutnya
    okey nggak kyai! he he he

    • orang bodoh yang termakan hawa nafsu (spt ibnu bathuthah) yang sdh tdk mampu mematahkan hujjah2nya ahlus sunnah saja yang kemudian mencela ulama ahlus sunnah dgn celaan yang kotor. orang yang telah membaca dgn jernih kitab2 syaikhul islam ibnu taimiyah pasti akan mengetahui kecerdasan dan kepiawaiannya dlm membantah syubhat2 ahlul bid’ah pemikiran sesat. kalau kita cermati justru yg “fii aqlihi syaiun” itu adalah ibnu bathuthah sendiri.

      • Bung Abu, perlu kesabaran dalam melawan orang fasiq! yang tertipu hanya oleh tulisan2 Si Abu Cs.
        Kita harus kembali kepada Ajaran Nabi Muhammad SAW!! haram mengghibah apalagi mengumpat dan mencela seperti Gol Si Abu ini.
        Si Abu ini seperti orang yang lagi melubangi dasar perahu yang sedang berlayar, maka kewajiban stiap muslim yang mengingatkannya dan menasihatinya

  71. kadang kita lupa, kita seringkali meributkan hal yang sunnah. dilain pihak hal yang wajib sering pula kita tinggalkan.

    walaupun saya fakir ilmu, yang penting saya punya pegangan. kita ahlusunnah wal jama’ah punya guru yang sanadnya jelas sampai kepada rasulullah saw. para imam kita yang tak diragukan lagi keilmuannya, yang hafal sampai jutaan hadist saling menghargai kalau ada perbedaan pendapat, ko kita yang baru kemarin belajar dengan sangat pedenya berdalil untuk menjatuhkan yang lain yang sama-sama islam hanya karena tak sepaham dengan mereka.

    selama ini kita ahlusunnah wal jama’ah memang hanya bertahan, orang wahabi lah yang selalu gembar-gembor dengan yang menganggap yang lain selain mereka adalah sesat..

    syukron atas artikelnya pa Abu Salafy.

    _____________
    abu salafy:

    sama-sama!

  72. lalu guru / pengajian mana yang harus saya ikuti, dan kitab apa saja yang harus saya baca.saya orang awam yang mengingkan suatu kebenaran.

  73. ass.wr.wb.,

    Seandainya Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam masih hidup, beliau tentu akan sedih melihat apa yang telah diperbuat oleh umatnya sepeninggal beliau. Sunnah Rasulullah SAW adalah baik adanya karena beliau melakukan/tidak melakukan sesuatu tidak dengan hawa nafsu pribadi melainkan berdasarkan wahyu dari Allah SWT. Jika memang ada sunnah sayyiah (sunnah yang buruk) tolong berikan dalil yang jelas! Sesungguh salah satu doa Rasulullah SAW yang tidak dikabulkan (dari 3 doa, 2 dikabulkan) adalah tidak dapat bersatunya umat Islam karena berpecah menjadi 73 firqoh (periwayat haditsnya lupa) tapi hanya satu yang selamat yaitu yang mengikuti Rasulullah SAW (berdasarkan Al-Qur’an & Hadits menurut pemahaman para sahabat, bukan pemahaman orang per orang. Terima Kasih. Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

    Abu Salafy:

    Mas, banyak hadis palsu diatas namakan Sayyiduna Nabi saw. Jadi pastikan dulu hadis yang saudara sebutkan itu shahih bukan palsu.

  74. ass.ww, alangkah baiknya bila kita ada kesadaran untuk tidak saling menyalahkan. cobalah usahakan yang lebih besar manfaatnya, misalnya banyaknya umat islam yang masih meninggalkan sholat agar bisa menjaga sholatnya, wanita yang belum menutup aurat agar menutup auratnya, dll

  75. Ya Allah
    Berilah petunjuk kepada pemilik blog ini…

  76. abu sayeb’ gak usah diajak debat lagi orang2 yang shummum bukmun ‘umyun karena mereka itu La yarji’un (kecuali Allah menghendaki hidayah bagi mereka), cukuplah bagi qt apa yg diwariskan rasululllah melalui lisanx para ulama robbani, n dibuat orang2 yang gak paham agama yg cuma sekedar dengar2 sana sini sy ingatkan “tidak berbicara tanpa ilmu” misalx mengatakn wahabi pasti masuk neraka at abu salafy pasti masuk masuk surga, org kaya gini dr ucapanx sudah ketahuan jahilx dlm masalh agama bgtu pula yg mengiyakn podowae, seperti anjing dikgelapan malam, krn mengonggong akhirx kethuan, eh trnyata ada anjing!!!!

  77. Sorry, akuni msh awam ga tau apa & siapa wahabi itu ?
    tp dengar2x yg punya lapak “sorga” ye ???

  78. HIDUP MAS SASTRO HIDUP BID’AH, HIDUP SYRIK, HIDUP KHUROFAT, HIDUP KUBURIUN

    • Jangan terlalu (suka) menganggap orang lain BID’AH, SYRIK, KHUROFAT, KUBURIUN, apa kita sudah yakin orang itu melakukan KESYIRIKAN Apalagi Menganggap orang Menyebah KUBURAN. Apa kita tahu apa yang di I’tiqodkan dalam hatinya?,

  79. SEKALI KALI LAGI HIDUP SASTRO= ANAK BUAH HABIB = SYIAH

  80. Asslamualaikum mas Abu Salafi salam kenal, Salafi no!!

  81. semoga Alloh mengampuni serta memberikan hidayah kepada pemilik blog ini.

  82. mengaku salafi tetapi jauh dari akhlak salafi, dari syaih, muthowwi’ dan yang awam-awamnya jauh dari akhlak salafi. para salaf dialam kubur sedih melahat kelakuan salafi palsu. bantahan salafi palsu terhadap artikel abu salafi tidak ada yang berbobot, meka tidak sadar sedang unjuk kebodohan. Untuk Abu Salafi terima kasih atas tulisannya, semoga Allah selalu memberikan kesehatan kepada Abu Salafi.

  83. Manusia bukanlah robot yg aktifitasnya di kendalikan oleh remout control, sehingga semua gerakan dan tingkah laku persis ga ada yg beda. Kenapa manusia disbt makhluk yg paling sempurna ? krn memiliki akal dan nafsu yg dikendalikan oleh hati. Jangankan perilakunya, manusia diseluruh dunia semenjak dr nabi adam smp sekarang, fisiknya saja tdk ada yg sama,,,walaupun anak kembar,, pasti berbeda. Ini adalah sunnatullah. Kata peribahasa lain ladang lain belalang, rambut sama hitam tapi kemampuan pasti berbeda, Islam adalah agama yg bisa dipahami oleh manusia yg paling bodoh s/d yg paling pandai, ia begitu fleksibel dan akan mengikuti perubahan ruang dan waktu, shg ilmu fikih pun berkembang sesuai dg perkembangan zaman.yang penting tdk melanggar syariat, Bukankah Alloh telah berfirman bahwa tidak akan membebani seseorang diluar batas kemampuannya ? LALU MUNGKINKAH KITA MEMAKSAKAN MAKNA BID’AH dan menafikan fakta dan dinamika yg berkembang ? sedangkan kita hidup tdk bersama Rasulullah ? dan lebih aneh org yg teriak2 bid’ah yg mengklaim paling murni ibadahnya, ternyata tdk punya sanad yg menyambung ke Rasulullah ? jadi apa buktinya kalau kaum wahaby mengaku paling mengerti agama Islam? Coba tunjukan 1 saja tokoh wahaby yg sanadnya bersambung ke Rasulullah!!!!

  84. di solo raya bendera wahabi berkibar……..dg radio tv majalh koran buletin dlll………kapan kita berkarya walau seujung kuku yg hitam………………………..biarlah kita di cap kuburiyun ahli bidah dlll………yg penting ngaji dan ngaji…..sdkt demi sdkt lama lama tahu mana yg benar paling islami dan yg ngaku ngaku……paling dan paling……..salam

  85. terimakasih abusayev anda telah memberi pencerahan tentang agama dan utk abu salafy tkasih atas artikelnya meskipun saya hrs memilih pendpt abusayev.

  86. Barang siapa mebuat sunnah baik dalam Islam maka baginya pahalanya dan pahala orang-orang yang mengamalkannya setelahnya, tanpa berkurang sedikitpun pahala mereka.
    ni termasuk dalil dr apa pak abu,kok ndak diberi keterangan.

    • Si Abu Cs sendiri salah bung dalam menafsirkan hadist itu! menurutnya klo dia berbuat bid’ah (yang sudah tentu baik, sebab tak mungkin orang mau berbuat bid’ah jelek! entar nanti kena pasal) maka dia akan dapat pahala dari gurunya! berupa pujian atau yang lain! he he tapi tanya de sama si Abu, benar atau tidak itu.

  87. halah abu sayev,klo kurang ilmu ngaku aja………
    katanya semua bid’ah sesat,ko masih juga di bagi kedalam bid’ah dunia(bahasa)dan akherat(syari’at)
    ada hadits nya ga pembagian bid’ah tersebut…….
    jawab ga pake muter2……

    • vendra belajar agama dari orang yang benar, jangan belajar agama dari abu salaf yang ahlul bid’ah

      • abu aslam, kalo nt ga setuju sama vendra jawab aja pertanyaannya.

      • Rasulullah tidak pernah membid’ahkan para sahabat yang berijtihad dengan pendapatnya sendiri… ketika Abu Bakar As Shiddiq menerima upah karena telah mengobati seseorang dengan alfatihah, Rasulullah SAW tidak membid’ahkannya… apa iya Abu Aslam (bapak yg paling selamat) berani sekali membid’ahkan orang lain yg belum jelas terbukti…….

    • ente yg muter2,,,tuh,,,
      baca dong dg seksama ,,,,
      jawab pertanyaan abu sayev baru balik nanya
      ,,,barokallahufik

  88. Setiap bid ah sesat, ini adalah sabda Nabi saw. BAGI YANG MENGATAKAN DAN MENYATAKAN ada bid ah yang tidak sesat, di harapkan untuk mengkaji ulang !!! Afwan…

  89. Saya suka membaca buku” Wahabi/salafy maksud anda
    mereka bagus” kok benaran. tidak sepenuhnya kacau
    memang beberapa kasus saya kurang setuju dengan mreka sperti yang diungkapkan oleh Abu Salafy.

    Baiknya kita mengambil jalan tengah saudara” ku
    kita ambil yang baik dari keduanya untuk kedua saudaraku abu salafy dan Abu Faris An-Nuri aku mencintai kalian. Rendahkan hati dan berfikirlah dengan jernih

  90. mas abu sayev,, ente masih ada ga nih,, ane mau nanya…

  91. Assalamu’alaikum ww. yaa Ustaz Abu Salafy. salam kenal dan salam Persahabatan dari saya.
    Alhamdulillah. saya menjumpai blog ustadz ini, dan mungkin perjumpaan dg blog ustaz ini adalah bagian dari doa saya untuk mendapatkan pencerahan dan mengenal Salafi dari sisi yang ber imbang. Semoga Allah SWT memberikan hidayah kepada ustaz selalu dan selamanya serta kesabaran dan semoga Allah memberikanpahala yang tanpa batas atas kesabaran ustaz abu salafi. amiin,
    saya yakin bahwa ustaz bukanlah orang yang jahil / bodoh seperti yang di tuduhkan, karena tulisan-tulisan ustaz bukanlah merupakan produk orang-orang yang bodoh. iya kan ustaz..? karena kami merasakan bahwa tulisan ustaz adalah sebuah produk dari orang-orang cerdas
    Akan halnya masalah Syirik, Bidah nampaknya belum ada kesepakatan Definisi Bersama antara ASWJ dan Salafi. (Wallahu a’lam) jadi masih
    Istilahnya : Bukan Pohon Kelapa yang tinggi, tapi tali Beruknyanya yang tidak sampai..
    Insya Allah akan kami do’akan selalu agar Semoga Ustaz Abu Salafi , menjadi salah satu asbab hidayah bagi umat seluruh alam, khususnya diri saya yang masih awam ini. jazakallahu ustaz

    • Untuk Ghazali, mungkin Anda dari kalangan NU?, ya kemungkinan besar anda berjodoh dengan Abu!
      Disini saya cuma melontarkan kata2 sebagai jawaban dari yang melempar api, yakni Abu Cs.
      Dari membaca artikel2 Si Abu, adalah tampak sekali dia melontarkan fitnahan terhadap Ulama2 yg sudah terbukti kepandaiannya dan ketaqwaannya spt Ibnu Taimiyah! dan juga kepada seluruh yang membaca blog ini! Banyak yg tak mengerti Islam akirnya menjadi bingung ragu2,
      seakan2 AllahSWT hanya memberi petunjuk pd gol Si Abu! Padahal Dia hanya menukil sekelumit dalil2 yang menurut akalnya benar! Dan kenyataannya dalil2nya didominasi akal mereka sendiri! Dan saya cenderung berbeda dengan Anda! Justru saya akan menjatuhkannya sehingga terbuka akan kebodoannya.

      • kita semua ummat Nabi SAW. saya bukan salafy, saya bukan NU, saya bukan Muhammadiah, dan lain lain, saya adalah Ummat RAsulullah SAW…

  92. seru juga perdebatan sunnah vesus bid’ah ini..

    kalo misal jabat tangan sehabis sholat aja pelakunya masuk neraka,kalo gitu mending gw maksiat aja,jauh lebih enak maksiat ketimbang sekedar jabat tangan,toh sama2 neraka..

    makasi atas pencerahannya mas abu sayev..

    • BUKAN SEPERTI ITU BUNG. JABAT TANGAN TIDAK DILARANG, MALAH BAGUS KARENA BAGIAN DARI SILATARRAHIM, YANG TIDAK DIKEHENDAKI JANGAN SAMPAI DIKEMUDIAN HARI JABATAN TANGAN SETELAH SHALAT MENJADI SEPERTI SYARIAT BARU DAN MENJADI KEWAJIBAN. JABATAN TANGAN SETELAH SHLAT BOLEH SAJA, ASAL JANGAN RUTIN KARENA YANG DITAKUI JANGAN SAMPAI KITA MEMBERIKAN ANDIL MEMBUAT SYARIAT BARU. IBLIS PUNYA BANYAK CARA UNTUK MENJERUMUSKAN UMMAT, AWALNYA PATUNG IU TIDAK DIPERINTAHKAN LANGSUNG UNTUK DISEMBAH, TETAPI MELALUI PROSES YANG DIRANCANG OLEH IBLIS.

      • abu aslam konsep dari mana tuh, kalo RUTIN Bid`ah kalo sesekali Sunnah, berarti kalo rutin Maksiat kalo sesekali bukan maksiat, gimana tokh nt malah bikin Bid`ah dolalah ?

    • hehe pinter bener ente,,,,
      bandingin dua kerusakan,,,,,
      ahh ae lebih baik berzinah sama PSK ahh dari pada ma ibu ae sendiri,,,,,,
      hehe ,,,
      mumtaz ente,,,,

  93. abu salafy(abu kadzaby)jangan suka berdusta bahaya………

  94. kamu tanggung nanti dosa dustamu itu nanti kalau kamu tdk bertaubat

  95. Abu salafy = Dajjal

    • kita semua Ummat Nabi, bukan Ummat ibnu taiymiah dan lain lain…… HIDUP UMMAT RASULULLAH… tidak sepantasnya sesama Ummat Rasulullah SAW saling menjelekkan………

  96. “Maayahdihillahu falaamudilallah wamayyudlil falaa hadiyalah”

    Terlalu mudah bagi orang atau organisasi mengklaim sebagai AHLUSUNNAH WAL JAMAAH, walau sebenarnya AHLUL BID’AH WAL JAMAAH.

    Teruskan perjuanganmu wahai AHLUSUNNAH WAL JAMAAH sejati dalam meluruskan ‘kenaifan’ saudara kita seumat ini dari penyakit syirik dan bid’ah.

    Semua ini akibat sikretisme agama yg tlah berurat, berakar n mndarah daging.

    Semoga saudara kita mendapat hidayah Allah kembali ke jalan yang lurus.

    Terima kasih Abu Sayev.

  97. Wuaaah ….. rame banget nih …… gua belum baca semua komen disini….. tapi ya nggak perlu saling sewot lah …. nggak perlu bertengkar ….. Rasulullah SAW dulu kan tugasnya hanya sebagai pemberi peringatan ….. kalo diingatkan nggak mau ikut ya udah tanggung jawab sendiri …… yang merasa berpegang pada sunnah nabi saya rasa cukup mengingatkan saja, kalo yang diingatkan (bidah) nggak mau ikut, ya udah tanggung jawab sendiri …. ya kan ….? Gitu aja koq repot ….

  98. tambah kesini ko tambah ngawur aja komen dari orng2 an SAWAH (Salafi Wahabi)….

    udah di bilangin,klo ngerasa ilmu masih kurang…ngaku aja…..!mending belajar lagi sama ulama2 yg pantas utk di jadikan gurui,jangan keledei sama onta di jadikan guru,jadi macet tuh otak wakakakakak….kebanyakan minum air kencing onta sih….jadi baru ikut daurah berapa kali aja,udah petantang petenteng kaya orang paling bener dan paling nyunnah….!

    ayo jawab pertanyaan gw,kalo sawah (salafy wahabi) bilang bahwa “semua bid’ah sesat” kenapa kalian masih juga membagi nya jadi 2 bagian,yaitu bid’ah segi bahasa (dunia) ama bid’ah syari’at (akhirat)…..??
    apa Rosulullah juga membagi nya demikian,seperti yang kalian (Kaum SAWAH) gembar-gemborkan….??

    Giliran Imam syafi’i membagi bid’ah jadi 2 di bilang “SALAH”….eeeeh dia sendiri membagi bid’ah jadi 2……!!!

    jadi pusing deh gw hahahaha…….!!!

  99. si abu aslam mah sama2 oon nya sama abu sayap….!!
    gw juga sering denger dan baca dari buku2 salafy….bener kata ente “ahmadsyahid”….kaidah nya orang2 salafy ni aneh,tapi wajar lah….pan udah gw bilang tadi,kebanyakan minum air kencing onta….jadi otak nya di cekokin ama hal2 yg seharusnya ga di masukin ke otak….jadi eror deh tuh otak hahaha……!

    Masa konsep nya begini….. “orang yang melakukan “BID’AH” =Maksiat =Dosa….itu boleh kalo sekali2….tapi kalo terus 2an ga boleh dan jadi haram hukum nya…aneh….!

    ada lagi yang lucu…..menurut mereka (kaum SAWAH) klo melakukan bid’ah=maksiat=dosa untuk mengajarkannya kpd yang lain jadi bukan dosa lagi tapi jadi dapat pahala….
    hahaha….

    contoh kasus……”dzikir jahar setelah shalat wajib”….mereka bilang…”kalo sekali2 boleh dan berpahala,tapi kalo terus menerus jadi dosa”….betulkah…??
    sebenarnya nemu dimana si kaidah ini….??

    LUCU ABIZZZZZZZ……!!!

  100. Ane dukung Antum Ust. Abu Salafy untuk memberantas kejahilan WAHABI di manapun mereka berada. Antum semua bandingin aje deh tampang2nye Ulama Wahabi spt Syekh Utsaimin, Albani dan lainnya sama Ulama Aswaja spt Habib Umar bin Hafidh, Habib Muhammad bin Alwi Al Maliki, Habib Salim Asy- Syathiri dll. Keliatan bgt tampang Ulama Wahabi yg tidak secerah / bercahayanya Ulama Aswaja…..di Dunia aje Ulama Wahabiyun gak keliatan “Cahaya Ilmunya” gimana di Akherat….???

    btw…forum diskusi ini Ane pikir sangat perlu dan penting walaupun ada perdebatan sengit bahkan sampe caci maki, gak apa2 selama tidak saling mengkafirkan….dari situ akan kelihatan sendiri siapa yang membawa kebenaran dan siapa yang memutar balikan kebenaran. Tujuan diskusi ini adalah supaya kita bisa saling memetik ilmu yang sesuai tuntunan dari Rasulullah SAW bukan untuk merusak ilmu apalagi mempalsukan ilmu.

    So…mari kita bentengi diri kita dengan terus menghadiri Majelis2 ta’lim yang dibimbing oleh para Ulama2 ASWAJA untuk terus mempersempit ruang gerak WAHABI yg makin hari makin “BUDEK” dan “BUTA” akan kebenaran ajaran ASWAJA…..

    Shollu ‘alaa MUHAMMAD…….

    • Blog ini dibuat karena pemilik blog ini ketakutan dengan bangkitnya dakwah salafiyyah yg membuat umat jadi tahu ibadah yg sesuai dengan pemahaman rasulullah dan para sahabatnya.Pemilik blog ini dan pendukungnya gak berani nyebutin jati dirinya apalagi dialog langsung dengan ustadz salafi.Hanya orang yg terbuka matahatinya yang dapat membedakan mana yg benar dan salah.

  101. semoga kebenaran hakiki dibukakan ALLAH Azza wa Jalla, bukan hanya sekedar debat dan debat…amien

  102. subahanallah

  103. mas abu truskan perjuanganmu aku dukung tuh,.. jangan jangan yang gembar gembor bidah itu malah ahli bidah sendiri, karna kenapa mereka mudah sekali mengkafirkan, membidahkan, mensyirikkan orang lain.saudaraku hati hati dengan wahabi wajah mereka sangat sangar dimasyarakat.

  104. singkirkan ahlul bidah baru yakni SALAFY, si pemecah belah ummat ,..wallahu’
    alam

  105. MANA al ustad ABU SALAFI yg bikin blog ini,,,
    komentariin dong bantahan abu sayev…
    apa ustd dh khabisan akal ….
    untuk memuter balikan ayat2 qur’an dan hadist rasulullah SAW……
    semoga alustd dibukakan hatinya untuk menerima kebenaran….
    AAMIIN ya RABB….

  106. ko.. coment-coment ana dihapusin yah….
    ….
    pecundang ente abu jahal …..

  107. Salam……… Nama saya ABU SHADRA, mohon dukungan, kami hendak membantai pemahaman kaum Salafi dan membongkar kebohongan kaum Salafi.Gabung ke email fb kami Abu_sadra19@yahoo.com…. gabung ke fb abu Shadra.<Mari kita bongkar habis kedustaan demi kedustaan kaum Salafi dalam DIALOG TERBUKA VIA FACEBOOK MEMBONGKAR KEBOHONGAN SALAFI .Ditunggu ya

  108. Salam saya ABU SHADRA, mohon dukungan, kami hendak membantai pemahaman kaum Salafi dan membongkar kebohongan kaum Salafi.Gabung ke email fb kami Abu_sadra19@yahoo.com…. gabung ke fb abu Shadra.<Mari kita bongkar habis kedustaan demi kedustaan kaum Salafi dalam DIALOG TERBUKA VIA FACEBOOK MEMBONGKAR KEBOHONGAN SALAFI .Ditunggu ya

  109. Mas abu s, contoh perbuatan shahabat diatas bkn termasuk bid’ah sy setuju. Krn dilakukan dizaman kenabian dan persetujuan Rosulullah itulah dalil.
    Bknkah sunah itu adalah perkataan, perbuatan dan persetujuan dari Rosul?

    Lalu bgmn dng kreasi ibadah yg dilakukan dizaman tertutupnya kenabian dan telah sempurnanya syariat islam, apa makna اكمللت لكم الدينكم?

    Mslh qunut dan dzikir sprt dicontkan sy sdh fahm, bgmn dng selamatan org mati 100hr 1000hr dst, bknkah itu ritual hindu, (kt mantan pendeta hindu yang sdh islam), dan kita dilarang ikut2an org kafir (ktnya ada haditsnya)

    Mhn penjlsan masabu.

  110. kau abu sayev memang sdh dicuci otak kau dgn wahabi antek zionis,kau hanya bertaklid dgn wahabi,kasian luh penipu dikira guru,kesemua wahabi penipu,pembohong,buka blog abu syafiq ,dari malaysia pasti kau mati kutu

  111. wahabi sdh ketahuan topeng nya hanya orang2 ego saja yg masih membela paham2 wahabi,kasian wahabi,lama2 kuliah,jual sawah,juak kerbau pergi lipia,madinah eh tau2 belajar sirik,katanya alloh ada tempat,dasar wahabi bajingan,makan luh susah2 belajar,eh taunya belajar salah,dasar wahabi,kalau santri2 kan belajar cara klasik tp ngikutin yg betul bukan kaya wahabi ikut bin baz buta,pengikutnya jg buta2 euy

  112. kalau ada wahabi yg tak puas hati ni hp aku 082173716972

  113. sahadat lg kau wahabi ,lihat fatwa2 ulama atas pahaman kau yg sesat n kafir,kau mati tak tobat siap2 kau dikubur,akhirat,kau ubah kitab ulama2 aswj,kualat kau pendusta

    • antum yg seharusnya sadr… kata2 antum gk ubah sperti setan… mencerca and memaki semau gue…. sadarlah…. kalau kau pengikut sunnah, kata2mu tidak akan sekotor itu,,,,

  114. Astagfirullah…smoga kita semua kaum muslimin diselamatkan oleh Allah dari fitnah akhir zamaan. quuluuu amin..

  115. Si Abu Salafy Cs. keliru dalam menukilkan lawan hadist tentang bid’ah! seharusnya tak ada pertentangan pada kedua hadist itu.
    maksud dari hadist

    مَنْ سَنَّ في الإسلامِ سُنَّةً حسَنَةً فَلَهُ أجْرُها وَ أَجْرُ مَنْ عَِملََ بها بَعْدَهُمَ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقَصَ مِنْ أجورِهِمْ شَيْئٌ. مَنْ سَنَّ في الإسلامِ سُنَّةً سَيِّءَةً فله وِزْرُها و وزرُ مَنْ عَِملََ بها بَعْدَهُ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقَصَ مِنْ أوزارِهِمْ شَيْئٌ.

    Barang siapa mebuat sunnah baik dalam Islam maka baginya pahalanya dan pahala orang-orang yang mengamalkannya setelahnya, tanpa berkurang sedikitpun pahala mereka. Dan barang siapa membuat sunnah jelek dalam Islam maka atas dosanya dan dosa orang-orang yang mengamalkannya setelahnya tanpa berkurang sedikitpun dosa-dosa mereka.

    adalah jika seorang muslim mengajarkan Islam pada orang lain maka dia akan dapat pahala seperti yang tertulis di atas , banyak juga hadist2 yang memperkuat atau sebagai bayan dari hadist itu.

    sedangkan si Abu Cs. menafsirkan dengan akalnya! kalau begitu jika si abu Cs. mengajarkan kebaikan maka akan dapat pahala juga??
    he he dapat!!!! kita akan dapat pahala!!!! hoee hrreee!!!! triak si abu Cs.

    Klo kita tanya si abu Cs.
    Siapa yang mau mengasih pahala???

    Allah, jawab Si abu Cs.

    lho kenapa kok Allah??? bukan si Abu Cs??

    karena kita berbuat kebaikan!!!

    jadi yang Abu Cs. ajarkan itu datang dari Allah??

    Lama si Abu Cs berpikir??? Akhirnya dia menjawab dengan jujur

    ti ti ti dak, jawabnya

    apakah jibril yang memberitahu Anda jika apa yang anda kerjakan itu berpahala??

    ti ti ti dak, jawabnya

    Ohh, jadi itu hanya prasangka Anda toh!
    begitu kok dikatakan ajaran Nabi Muhammad SAW.

    dari dialog ini semua akan mengetahui jika si Abu Cs dalam menafsirkan hadist didomiasi oleh akalnya sendiri.

    jadi sekali lagi maksud hadist di atas adalah jika ada seorang mengajarkan Al-Qur’an dan Sunnah yang telah dkerjakan Nabi Muhammad maka Allah menjanjikan pahala seperti yang tertulis dalam hadist di atas!!

    sedangkan sebaliknya jika ada seorang mengajarkan sebuah amalan dalam Islam atas dasar pendapat atau ide lalu dimasukkan dalam ajaran Islam maka mereka akan diancam dengan Api oleh Alah SWT seperti yang telah diterangkan dalam hadist bid’ah!!

    Kenapa bid’ah oleh Nabi Muhammad SAW diancam dengan berat?
    Ini tak lain karena hancurnya ajaran para Nabi dahulu sampai sekarang adalah karena bid’ah ini! dimana manusia diperbolehkan menambah atau mngurangi ajaran yang telah diwahyukan kepada para Nabi!

    Kita lihat ajaran yang dibawah oleh Nabi Musa A.S.
    juga dikotori oleh tuisan tangan para filosof/Imam taurat sehingga ajarannya mengalami perubahan!

    Kita tengok ajaran yang dibawa oleh Nabi Isa!
    kita tahu ada 4 injil yang dijadikan pegangan umat nasrani juga terkontaminasi oleh pemikiran/ide dari filosof/pendeta, sehingga timbulnya ajaran baru yang menyatakan bahwa Isa anak Allah!!

    Dan disinilah keprihatian dari Rasulullah SAW atas keadaan umat2 manusia dahulu yang telah diberitakan dalam Al-Qur’an tentang bid’ah dan bahayanya. Banyak umat dahulu yang membuat ide baru mengatasnamakan Taurat atau Injil yang mengatakan “ini Ajaran dari Allah” padahal semuanya itu hanya pendapat atau bid’ah semata!

    Melihat ini maka Rasulullah SAW mengingatkan kepada umatnya akan bahaya bid’ah dan ancamannya yang amat keras karena menyangkut dari kelestarian Agama Islam itu sendiri!
    Artinya setelah ajaran Nabi lenyap, maka bid’alah yang akan diperbuat oleh manusia! Dan Islam telah dicabut oleh Allah SWT. pertanda Kiamat akan terjadi demikian dekat sementara manusia tak tahu kalau diri mereka telah kafir dengan berbuat bid’ah itu!!!!!

    Bid’alah yang mejadikan manusia itu dari Islam menjadi Hindu, kristen, budha, khonghucu, atau kepercayaan yang lain! Atau dengan kata lain adanya Agama Hindu, Kristen, budha dan lainnya karena mereka orang islam para pengikut Nabi2 dahulu yang telah berbuat bid’ah sehingga Allah menetapkan mereka menadi orang2 kafir!!!!

  116. Assalamu’alaikum, Islam adalah satu, Kebenaran yang haq adalah milik Alloh SWT., jadi mari bersama-sama jadikan perbedaan yang ada menjadi Rahmat sebagaimana Nabi Muhammad SAW bersabda : “Perbedaan dalam umatku adalah Rahmat”. Mari jaga diri kita dari Perangkap Iblis dengan permusuhan, bukahkah Iblis saat dilaknat oleh Alloh, berjanji Bahwa Iblis akan menyesatkan semua umat islam, kecuali hamba-hamba Alloh yang Ikhlas. Permusuhan adalah senjata Iblis dalam menghilangkan keikhlasan dari diri kita. Ahli Sunnah Wal Jama’ah bukanlah aliran atau ormas, tapi mereka yang menjalankan perintah Alloh dan menjauhi larangannya dengan penuh keikhlasan (tanpa merasa paling benar dan menyesatkan yang lain, karena jelas…kebenaran yang Haq adalah milik Alloh SWT.). Jalani apa yang menjadi keyakinan kita masing-masing, biar Alloh yang akan menilainya kelak. Salam lana a’maluna walakum a’malukum.

  117. Bersederhana dalam sunnah jauh leebih baik drpd bersun gguh2 dalam Bid’ah….. Cari aman… Tinggalkan Bid’ah….. InsyaALLAH Selamat…………..

  118. phostingan ataupun tulisan …entahlah yang jelas sang kiyai abusalafi ini ngaco ….gak bisa menempatkan suatu perkara pada tempat semestinya…yang awampun tahu….kalau sunah ya sunah….bid,ah ya bid,ah………kenapa jadi di putarbalikan ….seolah olah nabi menyuruh untuk berbidah ria…..kepada umatnya…dolalah itu tetap doalah gak bisa jadi sunah…….!!kaya nya maksa amat si abu ini….hehehehe udah jelas jelas salah ngotot lagi pingin di terima bahwa bida,ah yang dia lakukan adalah sunah…..mas yang sakitpun pingin sembuh mas ….

  119. Assalamu’alikum…afwan ustadz abu salafy.
    ana setuju dengan akidah syiah nya ustadz salafy
    karena hrs membela ahlul bait
    maju terus …ustadz bela syiah nya…
    syiah mungkin keluarga rosul…
    syiah akidah yg mungkin hak……
    ustadz salafy teraiakkan Allahu akbar kt tanamkan didada dada kaum muslimin syiah
    syukron

  120. ustadz abu salafi yang terhormat,
    tolong dong beri contoh2 pada kita bid’ah2 yang syayi’ah itu apa aja??? puennntinG supaya semua pada tau!!!
    hayo lihat tuh, jangan asal nyalahin aja

  121. Mudah2an Allah ta’ala membukakan pintu hidayah kita semua. Amin.

  122. semoga Allah Ta’ala memberi kita petunjuk Amin…

  123. baik abu salafy maupun yang mengaku wahhabi keduanya sama sama tidak bermutu sama sama taqlid buta ini adalah perdebatan antara ahlul bid’ah dan ahlul irja’ ( murji’ah) bisanya cuma menjelek jelekan

  124. Allah dan Rasul-Nya adalah hakim yang paling adil………
    silahkan kerjakan menurut apa yang diyakini… jangan saling menyalahkan, kalau semua orang merasa benar, maka akan timbul pemikiran:
    “ayo……….. siapa yang mau selamat, ikuti saya, ikuti imam saya, ikuti golongan saya, masuk sini, masuk sana…” maka, tentu akan menjadi kacau… alangkah indahnya jika kita mengatakan:
    “mari, kita ikut Rasulullah…”………….

    subhanallah…………….

  125. assamualaikum..
    setiap bidah itu sesat kata rosulullah..
    adakah kesesatan yg baik ????
    itulah pengikut ahli bidah..selalu mencari-cari dalil untuk melegalkan kebidahannya…
    pahamilah alquran dan as sunnah dengan pemahan para sahabat, bukan pemahaman akal anda dan kelompok anda..jika tidak ingin tersesat.
    karena para ulama terdahulu temasuk imam yg empat selalu merujuk kepada pemahaman salaf / sahabat

    Imam asy-Syâfi’i rahimahullah berkata.

    مَنِ اسْتَحْسَنَ فَقَدْ شَرَعَ

    “Barangsiapa menganggap baik sesuatu (ibadah) maka ia telah membuat satu syari’at” ( al-Bâ’its ‘alâ Inkâril Bida’ wal Hawâdits (hlm. 50).

  126. Mas abu, tolong dijelaskn hadits & prkataan ulama berikut :
    Barangsiapa yg melakukan amalan yg tdk ada contoh dr kami maka ia tertolak (al hadits)..
    Barangsiapa yg melakukan suatu bid’ah & mngatakn itu bid’ah hasanah, maka dia telah menuduh rasulullah menghianati risalah (prkataan imam malik)..
    Barangsiapa yg menganggap baik suatu prbuatn bid’ah, berarti dia telah membuat syariat baru (prkataan imam syafii)..y
    Satu lg mas prtanyaan ana : Apa sih batasan bid’ah itu dikatakn hasanah atau tdk?
    Bolehkah kita qamat dulu sblm shalat tarawih? Bukankah adzan & qamat itu salah satu hasanah trbaik?
    Bolehkah kita melaksanakn shalat tahiyatul msjid berjamaah? Bukankah shalat brjamaah lebih hasanah drpada shalat sndirian?
    Kalau antum katakn itu boleh, berarti antum telah membolehkn melakukn bid’ah hasanah..
    Kalau antum katakn itu tdk boleh dgn alasan tdk ada contoh dr rasulullah, maka seharusnya bid’ah2 yg lain yg dianggap hasanah itu ga boleh juga donk?..
    Oh ya mas, tadi sy sempat baca jawabn mas abu kpd mas wawan tentang bolehnya pake bahasa selain bahasa arab saat brdoa dlm shalat, saya ga bisa bayangin mas, ntar kalau di tanah suci makkah atau mdinah misalnya pas shalat jamaah, saat mengucapkn aamiin ucapannya beda2 sesuai dgn bahasa masing2.. Wah bs kacau tuh shalatnya..
    Mhn tanggapannya, terimakasih..

    Abu Salafy:

    Saya melihat bahwa yang terpenting Anda pastikan adalah defenisi Bid’ah menurut Anda itu apa? Baru setelahnya kita bahas apa yang Anda tulis dalam komentar/tanggapan Anda.
    Saya hanya akan meminta tanggapan Anda tentang ucapan Sayyiduna Umar ketika menyaksikan berkumpulnya orang-orang untuk shalat sunnah malam-malam Ramadhan dengan berjamaah.. beliau mengucapkan, Bid’ah, ni’mal Bid’ah! itu kira-kira maksudnya apa?
    Wassalam.

    • Ini Contohnya Bid’ah Khasanah:
      Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam seringkali
      melegitimasi beragam bentuk inovasi amaliah para sahabat yang belum pernah
      diajarkan oleh beliau. Misalnya berkaitan dengan tatacara ma’mum masbuq dalam shalat berjamaah dalam hadits shahih berikut ini:
      
      “Abdurrahman bin Abi Laila berkata: “Pada masa Rasulullah shallallahu alaihi wa
      sallam, bila seseorang datang terlambat beberapa rakaat mengikuti shalat
      berjamaah, maka orang-orang yang lebih dulu datang akan memberi isyarat
      kepadanya tentang rakaat yang telah dijalani, sehingga orang itu akan
      mengerjakan rakaat yang tertinggal itu terlebih dahulu, kemudian masuk ke
      dalam shalat berjamaah bersama mereka. Pada suatu hari Mu’adz bin Jabal
      datang terlambat, lalu orang-orang mengisyaratkan kepadanya tentang jumlah
      rakaat shalat yang telah dilaksanakan, akan tetapi Mu’adz langsung masuk
      dalam shalat berjamaah dan tidak menghiraukan isyarat mereka, namun setelah
      Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam selesai shalat, maka Mu’adz segera
      mengganti rakaat yang tertinggal itu. Ternyata setelah Rasulullah shallallahu
      alaihi wa sallam selesai shalat, mereka melaporkan perbuatan Mu’adz bin Jabal
      yang berbeda dengan kebiasaan mereka. Lalu beliau shallallahu alaihi wa sallam
      menjawab: “Mu’adz telah memulai cara yang baik buat shalat kalian.” Dalam riwayat Mu’adz bin Jabal, beliau shallallahu alaihi wa sallam bersabda; “Mu’adz
      telah memulai cara yang baik buat shalat kalian. Begitulah cara shalat yang
      harus kalian kerjakan”. (HR. al-Imam Ahmad (5/233), Abu Dawud, Ibn Abi
      Syaibah dan lain-lain. Hadits ini dinilai shahih oleh al-Hafizh Ibn Daqiq al-’Id dan
      al-Hafizh Ibn Hazm al-Andalusi).
      Hadits ini menunjukkan bolehnya membuat perkara baru dalam ibadah, seperti
      shalat atau lainnya, apabila sesuai dengan tuntunan syara’. Dalam hadits ini,
      Nabi shallallahu alaihi wa sallam tidak menegur Mu’adz dan tidak pula berkata,
      “Mengapa kamu membuat cara baru dalam shalat sebelum bertanya
      kepadaku?”, bahkan beliau membenarkannya, karena perbuatan Mu’adz sesuai
      dengan aturan shalat berjamaah, yaitu makmum harus mengikuti imam.

  127. assalamu alaikum…
    kajiannya sangat bagus. saya berdoa semoga pihak abu salafi dan juga abu sayev digolongkan allah menjadi mukmin muslim yang ahli sunnah. cuma saya sedikit kurang sregg dengan ada komen negatif dari orang yang kurang ilmu sehingga ngelantur bahasannya. setadinya saya juga ga bakal komen karena merasa kurang ilmu. yang saya harapkan adalah adu dalil nya antara abu sayev vs abu salafi aja. biar kita yang blm bisa membendung hawa nafsu dan kurang ilmu mengkaji faham dari mereka berdua saja. tentu akan lebih mudah menilai siapa yang lebih mendekati atau mungkin 100% berada diatas sunnah…
    nah bagaimana kalo kita minta pa abu salaf dan pa abu sayev diskusi berdua saja sampai menemukan titik jelasnya?? apa saudara2 setuju dengan pendapat saya?? kita tonton aja dulu biar ga beseliweran pendapat… tafadlol buat pa abu (keduanya)!!!!!

    • Untuk kaum salafy wahabi at-taimi yg menyebarkan dakwah dgn mengunakan sarana yg tdk pernah digunaka oleh nabi saw dan para sahabat ! Bagaimana hukumnya ??? Bukankah kita harus mengikuti sgala tindak tanduk baginda nabi ! Termasuk dlm berdakwah ,baik secara cara maupun sarana !! Bukan menyalihanya /menyelisihkanya !?

      • wah saya tidak mengenal salafi tentang faham itu, karena saya masih netral. tapi andai paham itu benar, itu adalah suatu yg tidak mungkin untuk dilakukan. karena untuk da’wah perlu sarana yang sesuai jaman. contoh ulama yang diundang pengajian keluar kota atau ke luar negeri, apa masih mesti naek onta (seperti nabi)? saya berpikir sarana yang digunakan adalah masalah muamalah saja. andai dikaitkan dengan ibadah tentu ibadah ghair mahdhah. dan rasul pernah bersabda ” kalian lebih tau tentang dunia kalian” artinya segala sarana diperbolehkan selagi tidak menyentuh sesuatu yang jelas dilarang. begitu menurut saya yang awam. mohon diluruskan bila ada yang salah.

  128. Diantara dalil yang dipegang oleh pendukung bid’ah
    hasanah adalah sebuah hadits yang diriwayatkan oleh
    sahabat Jarir bin Abdillah al-Bajali radhiallahu
    ‘anhu, ia berkata: Rasulullah bersabda:
    ﻣﻦ ﺳﻦ ﻓﻲ ﺍﻹﺳﻼﻡ ﺳﻨﺔ ﺣﺴﻨﺔ ﻓﻠﻪ ﺃﺟﺮﻫﺎ ﻭﺃﺟﺮ ﻣﻦ ﻋﻤﻞ ﺑﻬﺎ ﺑﻌﺪﻩ ﻣﻦ
    ﻏﻴﺮ ﺃﻥ ﻳﻨﻘﺺ ﻣﻦ ﺃﺟﻮﺭﻫﻢ ﺷﻰﺀ، ﻭﻣﻦ ﺳﻦ ﻓﻲ ﺍﻹﺳﻼﻡ ﺳﻨﺔ ﺳﻴﺌﺔ ﻛﺎﻥ
    ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺯﺭﻫﺎ ﻭﻭﺯﺭ ﻣﻦ ﻋﻤﻞ ﺑﻬﺎ ﻣﻦ ﺑﻌﺪﻩ ﻣﻦ ﻏﻴﺮ ﺃﻥ ﻳﻨﻘﺺ ﻣﻦ
    ﺃﻭﺯﺍﺭﻫﻢ ﺷﻰﺀ
    “Barang siapa merintis (memulai) dalam agama
    Islam sunnah (perbuatan) yang baik maka baginya
    pahala dari perbuatannya tersebut, dan pahala dari
    orang yang melakukannya (mengikutinya) setelahnya,
    tanpa berkurang sedikitpun dari pahala mereka. Dan
    barang siapa merintis dalam Islam sunnah yang
    buruk maka baginya dosa dari perbuatannya
    tersebut, dan dosa dari orang yang melakukannya
    (mengikutinya) setelahnya tanpa berkurang dari
    dosa-dosa mereka sedikitpun”. (HR. Muslim no 1016)
    Sisi pendalilan mereka :
    Dalam hadits ini dengan sangat jelas
    Rasulullah mengatakan: “Barangsiapa merintis
    sunnah hasanah…”. Pernyataan Rasulullah ini
    harus dibedakan dengan pengertian anjuran
    beliau untuk berpegang teguh dengan sunnah
    (at-Tamassuk Bis-Sunnah) atau pengertian
    menghidupkan sunnah yang ditinggalkan orang
    (Ihya’ as-Sunnah). Karena tentang perintah
    untuk berpegang teguh dengan sunnah atau
    menghidupkan sunnah ada hadits-hadits
    tersendiri yang menjelaskan tentang itu.
    Sedangkan hadits riwayat Imam Muslim ini
    berbicara tentang merintis sesuatu yang baru
    yang baik yang belum pernah dilakukan
    sebelumnya. Karena secara bahasa makna
    “sanna” tidak lain adalah merintis perkara
    baru, bukan menghidupkan perkara yang sudah
    ada atau berpegang teguh dengannya”
    Sanggahan :
    Yang dimaksud Nabi shallalahu ‘alaihi wa
    sallam dengan sabdanya ﻣﻦ ﺳﻦ ﻓﻲ ﺍﻹﺳﻼﻡ ﺳﻨﺔ ﺣﺴﻨﺔ
    “Barang siapa yang merintis sunnah hasanah/baik”
    adalah mendahului dalam mengamalkan sunnah yang
    telah valid dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,
    dan bukan membuat/merekayasa/berkreasi dalam
    membuat suatu ibadah yang baru. Hal ini sangat
    jelas dari beberapa sisi:
    PERTAMA : Kronologi dari hadits tersebut
    menunjukkan akan hal itu.
    Jarir bin Abdillah radhiallahu ‘anhu berkata,
    ﻛﻨﺎ ﻓﻲ ﺻﺪﺭ ﺍﻟﻨﻬﺎﺭ ﻋﻨﺪ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ – ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ – ﻓﺠﺎﺀﻩ
    ﻗﻮﻡ ﻋﺮﺍﺓ ﻣﺠﺘﺎﺑﻲ ﺍﻟﻨﻤﺎﺭ ﺃﻭ ﺍﻟﻌﺒﺎﺀ ، ﻣﺘﻘﻠﺪﻱ ﺍﻟﺴﻴﻮﻑ ، ﻋﺎﻣﺘﻬﻢ ﻣﻦ
    ﻣﻀﺮ ﺑﻞ ﻛﻠﻬﻢ ﻣﻦ ﻣﻀﺮ ، ﻓﺘﻤﻌﺮ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ – ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ
    – ﻟﻤﺎ ﺭﺃﻯ ﺑﻬﻢ ﻣﻦ ﺍﻟﻔﺎﻗﺔ، ﻓﺪﺧﻞ ﺛﻢ ﺧﺮﺝ ، ﻓﺄﻣﺮ ﺑﻼﻻ ﻓﺄﺫﻥ ﻭﺃﻗﺎﻡ ،
    ﻓﺼﻠﻰ ﺛﻢ ﺧﻄﺐ ، ﻓﻘﺎﻝ : } ﻳﺎ ﺃﻳﻬﺎ ﺍﻟﻨﺎﺱ ﺍﺗﻘﻮﺍ ﺭﺑﻜﻢ ﺍﻟﺬﻱ ﺧﻠﻘﻜﻢ ﻣﻦ
    ﻧﻔﺲ ﻭﺍﺣﺪﺓ { ﺇﻟﻰ ﺁﺧﺮ ﺍﻵﻳﺔ : } ﺇﻥ ﺍﻟﻠﻪ ﻛﺎﻥ ﻋﻠﻴﻜﻢ ﺭﻗﻴﺒﺎ { ، ﻭﺍﻵﻳﺔ
    ﺍﻷﺧﺮﻯ ﺍﻟﺘﻲ ﻓﻲ ﺁﺧﺮ ﺍﻟﺤﺸﺮ : } ﻳﺎ ﺃﻳﻬﺎ ﺍﻟﺬﻳﻦ ﺁﻣﻨﻮﺍ ﺍﺗﻘﻮﺍ ﺍﻟﻠﻪ ﻭﻟﺘﻨﻈﺮ
    ﻧﻔﺲ ﻣﺎ ﻗﺪﻣﺖ ﻟﻐﺪ { ﺗﺼﺪﻕ ﺭﺟﻞ ﻣﻦ ﺩﻳﻨﺎﺭﻩ، ﻣﻦ ﺩﺭﻫﻤﻪ، ﻣﻦ ﺛﻮﺑﻪ ،
    ﻣﻦ ﺻﺎﻉ ﺑﺮﻩ ، ﻣﻦ ﺻﺎﻉ ﺗﻤﺮﻩ – ﺣﺘﻰ ﻗﺎﻝ – ﻭﻟﻮ ﺑﺸﻖ ﺗﻤﺮﺓ (( ﻓﺠﺎﺀ
    ﺭﺟﻞ ﻣﻦ ﺍﻷﻧﺼﺎﺭ ﺑﺼﺮﺓ ﻛﺎﺩﺕ ﻛﻔﻪ ﺗﻌﺠﺰ ﻋﻨﻬﺎ، ﺑﻞ ﻗﺪ ﻋﺠﺰﺕ، ﺛﻢ
    ﺗﺘﺎﺑﻊ ﺍﻟﻨﺎﺱ ﺣﺘﻰ ﺭﺃﻳﺖ ﻛﻮﻣﻴﻦ ﻣﻦ ﻃﻌﺎﻡ ﻭﺛﻴﺎﺏ ، ﺣﺘﻰ ﺭﺃﻳﺖ ﻭﺟﻪ
    ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ – ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ – ﻳﺘﻬﻠﻞ ﻛﺄﻧﻪ ﻣﺬﻫﺒﺔ. ﻓﻘﺎﻝ ﺭﺳﻮﻝ
    ﺍﻟﻠﻪ – ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ -: ))ﻣﻦ ﺳﻦ ﻓﻲ ﺍﻹﺳﻼﻡ ﺳﻨﺔ ﺣﺴﻨﺔ ﻓﻠﻪ
    ﺃﺟﺮﻫﺎ، ﻭﺃﺟﺮ ﻣﻦ ﻋﻤﻞ ﺑﻬﺎ ﺑﻌﺪﻩ،ﻣﻦ ﻏﻴﺮ ﺃﻥ ﻳﻨﻘﺺ ﻣﻦ ﺃﺟﻮﺭﻫﻢ ﺷﻲﺀ،
    ﻭﻣﻦ ﺳﻦ ﻓﻲ ﺍﻹﺳﻼﻡ ﺳﻨﺔ ﺳﻴﺌﺔ ﻛﺎﻥ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺯﺭﻫﺎ ، ﻭﻭﺯﺭ ﻣﻦ ﻋﻤﻞ ﺑﻬﺎ
    ﻣﻦ ﺑﻌﺪﻩ ، ﻣﻦ ﻏﻴﺮ ﺃﻥ ﻳﻨﻘﺺ ﻣﻦ ﺃﻭﺯﺍﺭﻫﻢ ﺷﻲﺀ ))
    “Kami bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa
    sallam di awal siang, lalu datanglah sekelompok
    orang yang setengah telanjang dalam kondisi pakaian
    dari bulu domba yang bergaris-garis dan robek,
    sambil membawa pedang. Mayoritas mereka dari
    suku Mudhor, bahkan seluruhnya dari Mudhor. Maka
    tatkala Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam
    melihat kondisi mereka yang miskin, berubahlah raut
    wajah Nabi. Nabipun masuk dan keluar, lalu
    memerintahkan Bilal untuk adzan dan iqomat, lalu
    beliapun sholat, lalu berdiri berkhutbah. Beliau
    berkata, “Wahai manusia, bertakwalah kepada Rob
    kalian yang telah menciptakan kalian dari satu jiwa”
    hingga akhir ayat tersebut “Sesungguhnya Allah
    Maha Mengawasi kalian”. Lalu membaca ayat yang
    lain di akhir surat al-Hasyr “Wahai orang-orang
    yang beriman, bertakwalah kalian kepada Allah, dan
    hendaknya sebuah jiwa melihat apa yang telah ia
    kerjakan untuk esok hari”.
    Hendaknya seseorang mensedekahkan dari dinarnya,
    atau dari dirhamnya, dari bajunya, dari gandumnya,
    dari kormanya…-hingga Nabi berkata- meskipun
    bersedekah dengan sepenggal butir korma”
    Lalu datanglah seorang lelaki dari kaum anshor
    dengan membawa sebuah kantong yang hampir-hampir
    tangannya tidak kuat untuk mengangkat kantong
    tersebut, bahkan memang tidak kuat. Lalu setelah
    itu orang-orangpun ikut bersedekah, hingga aku
    melihat dua kantong besar makanan dan pakaian,
    hingga aku melihat wajah Nabi shallallahu ‘alaihi wa
    sallam bersinar berseri-seri. Maka Rasulullah
    shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata,
    “Barang siapa merintis (memulai) dalam agama
    Islam sunnah (perbuatan) yang baik maka baginya
    pahala dari perbuatannya tersebut, dan pahala dari
    orang yang melakukannya (mengikutinya) setelahnya,
    tanpa berkurang sedikitpun dari pahala mereka. Dan
    barang siapa merintis dalam Islam sunnah yang
    buruk maka baginya dosa dari perbuatannya
    tersebut, dan dosa dari orang yang melakukannya
    (mengikutinya) setelahnya tanpa berkurang dari
    dosa-dosa mereka sedikitpun” (HR Muslim)
    Dari kisah di atas jelas bahwa Nabi
    shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliaulah yang
    memotivasi para sahabat untuk bersedekah. Lalu
    sahabat anshor lah yang pertama kali bersedekah,
    lalu diikuti oleh para sahabat yang lain. Lalu setelah
    itu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata ﻣﻦ ﺳﻦ
    ﻓﻲ ﺍﻹﺳﻼﻡ ﺳﻨﺔ ﺣﺴﻨﺔ “Barang siapa yang merintis sunnah
    hasanah/baik”.
    Dari kronologi ini jelas bahwa yang dimaksud dengan
    sunnah hasanah adalah sunnah yang valid dari Nabi,
    dalam kasus ini adalah sedekah yang dimotivasi oleh
    Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.
    KEDUA : Secara bahasa bahwa makna dari lafal ﺳﻦ
    adalah memulai perbuatan lalu diikuti oleh orang
    lain, sebagaimana hal ini kita dapati di dalam kamus-
    kamus bahasa Arab
    Al-Azhari rahimahullah (wafat tahun 370 H) dalam
    kitabnya Tadziib al-Lughoh berkata:
    “Setiap orang yang memulai suatu perkara lalu
    dikerjakan setelahnya oleh orang-orang maka
    dikatakan dialah yang telah merintisnya” (Tahdziib
    al-Lughoh, karya al-Azhari, tahqiq Ahmad Abdul
    Halim, Ad-Daar Al-Mishriyah, 12/306)
    Hal ini juga sebagaimana disampaikan oleh Az-
    Zabidi dalam kitabnya Taajul ‘Aruus min Jawahir
    al-Qoomuus, 35/234, Ibnul Manzhuur dalam
    kitabnya Lisaanul ‘Arob 13/220)
    Oleh karenanya lafal ﺳﻦ tidaklah berarti harus
    berkreasi amalan baru/berbuat bid’ah yang tidak
    ada contoh sebelumnya, akan tetapi lafal ﺳﻦ
    bersifat umum yaitu setiap yang memulai suatu
    perbuatan lalu diikuti, baik perbuatan tersebut
    telah ada sebelumnya atau merupakan kreasinya
    sendiri.
    Namun dengan melihat sebab kronologi hadits
    tersebut maka dipahami bahwa yang dimaksud oleh
    Nabi dengan ﺳﻦ adalah yang mendahului melakukan
    sunnah yang telah diajarkan dan dimotivasi oleh
    Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, yaitu bersedekah.
    Karenanya al-Azhari berkata tentang hadits ini :
    “Dalam hadits “Barang siapa yang “sanna” sunnah
    yang baik baginya pahalanya dan pahala orang yang
    mengamalkannya, dan barang siapa yang “sanna”
    sunnah yang buruk …”, maksud Nabi adalah barang
    siapa yang mengamalkannya untuk diikuti” (Tahdziib
    al-Lughoh 12/298). Jadi bukan maknanya
    menciptakan suatu amalan !!
    Dari sini makna “sanna sunnah hasanah” bisa
    dibawakan kepada dua makna,
    Pertama : Mendahului/memulai menjalankan sunnah
    Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu diikuti oleh
    orang-orang lain. Bisa jadi sunnah tersebut bukanlah
    sunnah yang ditinggalkan/dilupakan/telah mati, akan
    tetapi dialah yang pertama kali mengingatkan orang-
    orang lain dalam mengerjakannya. Sebagaimana
    dalam kasus hadits Jarir bin Abdillah di atas, sunnah
    Nabi yang dikerjakan adalah sedekah. Tentunya
    sunnah ini bukanlah sunnah yang telah mati atau
    ditinggalkan para sahabat, akan tetapi pada waktu
    kasus datangnya orang-orang miskin maka sahabat
    anshori itulah yang pertama kali mengamalkannya
    sehingga diikuti oleh para sahabat yang lain.
    Hal ini didukung dengan hadits yang lain yang
    diriwayatkan oleh Abu Huroiroh radhiallahu ‘anhu, ia
    berkata:
    ﺟﺎﺀ ﺭﺟﻞ ﺇﻟﻰ ﺍﻟﻨﺒﻲ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻓﺤﺚ ﻋﻠﻴﻪ ﻓﻘﺎﻝ ﺭﺟﻞ ﻋﻨﺪﻱ
    ﻛﺬﺍ ﻭﻛﺬﺍ، ﻗﺎﻝ ﻓﻤﺎ ﺑﻘﻲ ﻓﻲ ﺍﻟﻤﺠﻠﺲ ﺭﺟﻞ ﺇﻻ ﺗﺼﺪﻕ ﻋﻠﻴﻪ ﺑﻤﺎ ﻗﻞ ﺃﻭ
    ﻛﺜﺮ. ﻓﻘﺎﻝ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻣﻦ ﺍﺳﺘﻦ ﺧﻴﺮﺍ ﻓﺎﺳﺘﻦ ﺑﻪ
    ﻛﺎﻥ ﻟﻪ ﺃﺟﺮﻩ ﻛﺎﻣﻼ ﻭﻣﻦ ﺃﺟﻮﺭ ﻣﻦ ﺍﺳﺘﻦ ﺑﻪ ﻭﻻ ﻳﻨﻘﺺ ﻣﻦ ﺃﺟﻮﺭﻫﻢ ﺷﻴﺌﺎ
    ﻭﻣﻦ ﺍﺳﺘﻦ ﺳﻨﺔ ﺳﻴﺌﺔ ﻓﺎﺳﺘﻦ ﺑﻪ ﻓﻌﻠﻴﻪ ﻭﺯﺭﻩ ﻛﺎﻣﻼ ﻭﻣﻦ ﺃﻭﺯﺍﺭ ﺍﻟﺬﻱ
    ﺍﺳﺘﻦ ﺑﻪ ﻭﻻ ﻳﻨﻘﺺ ﻣﻦ ﺃﻭﺯﺍﺭﻫﻢ ﺷﻴﺌﺎ
    “Datang seorang lelaki kepada Nabi shallallahu
    ‘alaihi wa sallam, maka Nabipun memotivasi untuk
    bersedekah kepadanya. Maka ada seseorang yang
    berkata, “Saya bersedekah ini dan itu”. Maka tidak
    seorangpun yang ada di majelis kecuali bersedekah
    terhadap lelaki tersebut baik dengan sedikit
    maupun banyak. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi
    wa sallam berkata, “Barang siapa yang “istanna”/
    merintisi kebaikan lalu diikuti maka baginya
    pahalanya secara sempurna dan juga pahala orang-
    orang yang mengikutinya serta tidak berkurang
    pahala mereka sama sekali. Dan barang siapa yang
    merintis sunnah yang buruk lalu diikuti maka baginya
    dosanya secara sempurna dan dosa orang-orang yang
    mengikutinya tanpa mengurangi dosa-dosa mereka
    sama sekali” (HR Ibnu Maajah no 204 dan
    dishahihkan oleh Al-Albani)
    Kedua : Bisa jadi makna “sanna sunnatan hasanah”
    kita artikan dengan menghidupkan sunnah Nabi
    shallallahu ‘alaihi wa sallam yang telah mati/
    ditinggalkan. Hal ini jika kita merujuk pada hadits
    yang diriwayatkan oleh sahabat ‘Amr bin ‘Auf Al-
    Muzani
    ﻣﻦ ﺃﺣﻴﺎ ﺳﻨﺔ ﻣﻦ ﺳﻨﺘﻲ ﻓﻌﻤﻞ ﺑﻬﺎ ﺍﻟﻨﺎﺱ ﻛﺎﻥ ﻟﻪ ﻣﺜﻞ ﺃﺟﺮ ﻣﻦ ﻋﻤﻞ ﺑﻬﺎ
    ﻻ ﻳﻨﻘﺺ ﻣﻦ ﺃﺟﻮﺭﻫﻢ ﺷﻴﺌﺎ . ﻭﻣﻦ ﺍﺑﺘﺪﻉ ﺑﺪﻋﺔ ﻓﻌﻤﻞ ﺑﻬﺎ ﻛﺎﻥ ﻋﻠﻴﻪ
    ﺃﻭﺯﺍﺭ ﻣﻦ ﻋﻤﻞ ﺑﻬﺎ ﻻ ﻳﻨﻘﺺ ﻣﻦ ﺃﻭﺯﺍﺭ ﻣﻦ ﻋﻤﻞ ﺑﻬﺎ ﺷﻴﺌﺎ
    “Barang siapa yang menghidupkan sebuah sunnah dari
    sunnahku lalu dikerjakan/diikuti oleh manusia maka
    baginya seperti pahala orang yang mengamalkannya
    tanpa mengurangi pahala mereka (yang
    mengikutinya) sama sekali. Dan barang siapa yang
    melakukan bid’ah lalu diikuti maka baginya dosa
    orang-orang yang mengerjakannya tanpa mengurangi
    dosa mereka sama sekali” (HR Ibnu Maajah no 209
    dan dishahihkan oleh Al-Albani karena syawahidnya,
    karena pada sanad hadits ini ada perawi yang sangat
    lemah)
    Akan tetapi hadits ini masih diperselisihkan
    tentang keshahihannya.
    Kedua makna di atas ini adalah makna yang tepat dan
    sesuai dengan keumuman hadits “Seluruh bid’ah
    sesat”, yang tidak sesat hanyalah sunnah-sunnah
    Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

  129. Assalaamu ‘alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh.


    Ibadah tanpa dalil khusus

    Berkata Imam Bukhari dalam pembukaan kitab hadits Shahih beliau:

    قال البخاري ما كتبت في كتاب الصحيح حديثا إلا اغتسلت قبل ذلك وصليت ركعتين

    Tidaklah aku tulis sebuah hadits pada kitab shahih ini, kecuali sebelum itu aku selalu mandi dulu dan sholat dulu dua roka’at.

    sumber:
    https://uqu.edu.sa/lib/ar/167240

    Mandi dan sholat dua roka’at setiap akan menulis hadits itu tidak ada dalil khususnya, tapi Imam Bukhari melakukan hal tsb, karena ada dalil umum yang membolehkan, bahkan menganjurkan.

    Jadi, kalau ibadah yang rutin dilakukan wajib ada dalil khususnya, berarti imam Bukhari adalah pelaku bid’ah?

    Yang benar adalah, Imam Bukhari bukanlah pelaku bid’ah, karena ibadah yang rutin dilakukan tidak selamanya harus ada dalil khusus yang memerintahkan hal tsb. Dan memang ada banyak ulama yang melakukan hal yang seperti ini, salah satunya adalah Imam Bukhari ini.

    Coba buka lagi kitab2 para ulama, yang berbahasa Arab lebih baik, karena yang berbahasa Indonesia kadang sudah dipilih-pilih isinya.

    link di atas adalah link berbahasa Arab. Silakan dilihat sendiri.
    Semoga bermanfaat.

    sumber:
    https://ismetkh.wordpress.com/2015/09/02/ibadah-tanpa-dalil-khusus/

    Tambahan:
    Kalau ada ustadz yang mengatakan bahwa semua jenis ibadah harus berdasarkan pada dalil khusus yang jelas-jelas menyebutkan perintah atas ibadah tersebut, maka coba tanyakan kisah Imam Bukhari di atas pada ustadz tersebut. Karena bisa jadi ustadz tersebut berpendapat seperti itu karena belum pernah mendengar kisah tentang Imam Bukhari di atas.
    Kita punya hak untuk bertanya atas hal-hal yang belum kita ketahui.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s