<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Abu Salafy</title>
	<atom:link href="http://abusalafy.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://abusalafy.wordpress.com</link>
	<description>Mengkaji Salafy Wahabi</description>
	<lastBuildDate>Wed, 22 May 2013 03:06:06 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='abusalafy.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Abu Salafy</title>
		<link>http://abusalafy.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://abusalafy.wordpress.com/osd.xml" title="Abu Salafy" />
	<atom:link rel='hub' href='http://abusalafy.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Goenawan Mohamad: Mekkah</title>
		<link>http://abusalafy.wordpress.com/2013/05/20/goenawan-mohamad-mekkah/</link>
		<comments>http://abusalafy.wordpress.com/2013/05/20/goenawan-mohamad-mekkah/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 20 May 2013 16:06:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abusalafy</dc:creator>
				<category><![CDATA[Akidah]]></category>
		<category><![CDATA[Dinasti al-Saud]]></category>
		<category><![CDATA[Kenaifan Kaum Wahhabi]]></category>
		<category><![CDATA[Manhaj]]></category>
		<category><![CDATA[Sejarah Wahabi-Salafy]]></category>
		<category><![CDATA[Wahabi dan Pengkafiran Umat Islam]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abusalafy.wordpress.com/?p=2704</guid>
		<description><![CDATA[Goenawan Mohamad dalam Tulisan Catatan Pinggirnya mengisahkan pengalamannya ketika di Mekkah, Mekkah yang peninggalan sejarah nya telah di musnahkan oleh Rezim Wahabi Al Saud. tulisan ini perlu  dishare dan kita baca bersama. (Abu Salafy) ____________ SUMBER: Goenawan Mohamad&#8217;s Blog . MEKAH – Tapi kini, di abad ke-21, Wahabisme dan kapitalisme bertaut, dan Mekkah berubah Betapa [&#8230;]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abusalafy.wordpress.com&#038;blog=1269412&#038;post=2704&#038;subd=abusalafy&#038;ref=&#038;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<blockquote>
<h5 style="text-align:justify;"><em>Goenawan Mohamad dalam Tulisan Catatan Pinggirnya mengisahkan pengalamannya ketika di Mekkah, Mekkah yang peninggalan sejarah nya telah di musnahkan oleh Rezim Wahabi Al Saud. tulisan ini perlu  dishare dan kita baca bersama. (Abu Salafy)</em></h5>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;">____________</p>
<p style="text-align:justify;"><strong><span style="color:#ff0000;">SUMBER:</span> <a href="goenawanmohamad.com/2012/11/09/mekah/" target="_blank">Goenawan Mohamad&#8217;s Blog</a></strong></p>
<h5 style="text-align:justify;">.</h5>
<h2 style="text-align:justify;"><span style="color:#800000;">MEKAH</span></h2>
<blockquote><p>– Tapi kini, di abad ke-21, Wahabisme dan kapitalisme bertaut, dan Mekkah berubah</p></blockquote>
<p style="text-align:justify;">Betapa berubahnya Mekah.  Duduk di salah satu sudut Masjidil Haram ketika matahari meredakan panasnya, kita bisa merasakan bayang-bayang sebuah bangunan yang menjangkau langit dari arah Selatan.</p>
<p style="text-align:justify;">Memang: di seberang gerbang Baginda Abdul Aziz, berdiri sebuah super-gedung, (baru diresmikan Agustus tahun ini), yang disebut <em>Abraj al Bait.  </em>Raksasa ini lebih dari 600 tingginya: menara waktu yang paling jangkung sedunia.  Empat muka jam di puncaknya masing-masing berbentuk mirip Big Ben di London, meskipun mengalahkannya dalam ukuran:  diameternya masing-masing 46 m, dengan jarum panjang yang melintang 22 meter. Dan berbeda dari Big Ben, di jidatnya yang diterangi dua juta lampu LED tertulis الله أكبر, “Allahu Akbar.” <span id="more-2704"></span></p>
<p style="text-align:justify;">Di <em>Abraj al Bait</em> ada 20 lantai pusat perbelanjaan dan sebuah hotel dengan 800 kamar. Juga tempat tinggal.  Garasenya bisa menampung 1000 mobil.  Tapi para tamu dan penghuni juga bisa datang dengan helikopter (ada lapangan untuk menampung dua pesawat), karena ini memang tempat bagi mereka yang mampu menyewa, atau memiliki, kendaraan terbang itu.  Ongkos semalam di salah satu kamar di Makkah Clock Royal Tower bisa mencapai 7.000.000 rupiah.</p>
<p style="text-align:justify;">Dari ruang yang disejukkan AC itu orang-orang  dengan duwit berlimpah bisa memandang ke bawah — ya, jauh ke bawah — mengamati ribuan muslimin yang bertawaf mengelilingi Kaabah bagai semut yang berputar mengitari sekerat coklat.</p>
<p style="text-align:justify;">Saya tak bisa membayangkan, bagaimana dari posisi itu akan ada orang yang bisa menulis seperti Hamka di tahun 1938. Apa kini artinya “di bawah lindungan Kaabah”?  Justru kubus sederhana tapi penuh aura itu yang sekarang seakan-akan dilindungi gedung-gedung jangkung, terutama <em>Abraj al Bait y</em>ang begitu megah dan gemerlap — dengan 21.000 lampunya  yang memancar sampai sejauh 30 km dan membuat rembulan di langit pun mungkin tersisih.</p>
<p style="text-align:justify;">Betapa berubahnya Mekah.  Atau jangan-jangan malah berakhir. “<em>It is the end of Mekkah</em>“, kata Irfan al-Alawi, direktur pelaksana Islamic Heritage Research Foundation di London kepada <em>The Guardian</em>.  Nada suaranya murung<em> s</em>eperti<em> </em>juga suara Sami Angawy.</p>
<p style="text-align:justify;">Hampir 40 tahun yang lalu arsitek ini mendirikan Pusat Penelitian Ibadah Haji di Jeddah. Dengan masygul ia menyaksikan transformasi Mekah berlangsung di bawah kuasa para pengusaha properti dan pengembang. “Mereka ubah tempat ziarah suci ini jadi mesin, sebuah kota tanpa identitas, tanpa peninggalan sejarah, tanpa kebudayaan dan tanpa lingkungan alam.  Bahkan mereka renggut gunung dan bukit.”<em></em></p>
<p style="text-align:justify;">Angawy, 64 tahun, mungkin terlalu romantis. Ia mungkin tak mau tahu hukum permintaan dan penawaran: jumlah orang yang pergi haji makin lama makin naik;  kalkulasi masa depan mendesak. Mekah harus siap. Tapi Angawy justru melihat di situlah perkaranya. Ia menyaksikan “lapisan-lapisan sejarah” Mekah dibuldoser dan dijadikan lapangan parkir.</p>
<p style="text-align:justify;">Akhirnya ia, yang lahir di Mekah, menetap di Jeddah, di rumah pribadinya yang didesain dengan gaya tradisional Hijaz.  Ketika <em>Abraj al Bait </em>dibangun seperti Big Ben yang digembrotkan (“meniru seperti monyet”, kata Angawy) ia merasa kalah total.  Ia lebih suka tinggal di Kairo.</p>
<p style="text-align:justify;">Tapi bisakah transformasi Mekah dicegah? Kapitalisme membuat sebuah kota seperti seonggok besi yang meleleh, untuk kemudian dituangkan dalam cetakan yang itu-itu juga. Dengan catatan: dalam hal Mekah, bukan hanya karena “komersialisasi Baitullah” kota suci itu  hilang sifat uniknya. Angawy menyebut satu faktor tambahan yang khas Arab Saudi: paham Wahabi.</p>
<p style="text-align:justify;">Wahabisme, kata Angawy,  adalah kekuatan  di belakang dihancurkannya sisa-sisa masa lalu.  Dalam catatannya, selama 50 tahun terakhir, sekitar 300 bangunan sejarah telah diruntuhkan.  Paham yang berkuasa di Arab Saudi ini hendak mencegah orang jadi “syrik” bila berziarah ke petilasan Nabi, bila menganggap suci segala bekas yang ditinggalkan  Rasulullah –  dan sebab itu harus disembah.</p>
<p style="text-align:justify;">Sejarah Arab Saudi mencatat dihapusnya peninggalan sejarah itu secara konsisten. April 1925, di Madinah, kubah di makam Al-Baqi’ diruntuhkan. Beberapa bagian qasidah karya al-Busiri (1211–1294) yang diukir di makam Nabi sebagai himne pujaan ditutupi cat oleh penguasa agar tak bisa dibaca.  Di Mekah, makam Khadijjah, isteri Nabi, dihancurkan. Kemudian tempat di mana rumahnya dulu berdiri dijadikan kakus umum.</p>
<p style="text-align:justify;">Contoh lain bisa berderet, juga protes terhadap tindakan penguasa Wahabi itu. Di awal 1926, di Indonesia berdiri “Komite Hijaz” di kediaman K. H. Abdul Wahab Khasbullah di Surabaya, ekspresi keprihatinan para ulama.</p>
<p style="text-align:justify;">Reaksi dari seluruh dunia Islam itu berhasil menghentikan destruksi itu. Tapi kini, di abad ke-21, Wahabisme dan kapitalisme bertaut, dan Mekkah berubah.</p>
<p style="text-align:justify;">Mengherankan sebenarnya. Di sebuah tulisan dari tahun 1940 Bung Karno mengutip buku Julius Abdulkarim Germanus, <em>Allah Akbar, Im Banne des Islams.</em> Di sana Bung Karno menggambarkan kaum Wahabi sebagai orang-orang yang dengan keras dan angker mencurigai “kemoderenan”; mereka bahkan membongkar antena radio dan menolak lampu listrik.  Tapi kini, seperti tampak di kemegahan <em>Abraj al Bait</em> bukan hanya lampu listrik yang diterima, tapi juga transformasi Mekah jadi semacam London &amp; Las Vegas. Apa yang terjadi?</p>
<p style="text-align:justify;">Mungkin sikap dasar Wahabisme tak berubah. Menghapuskan petilasan (menidakkan masa lalu), sebagaimana menampik “kemoderenan”, (menidakkan masa depan) adalah  sikap yang anti-Waktu. Jam besar di <em>Abraj al Bait </em>itu akhirnya hanya menjadikan Waktu sebagai jarum besi. Benda mati.  Dan bagi yang menganggap Waktu benda mati, yang ada hanya rumus-rumus ibadah tanpa proses sejarah.</p>
<p style="text-align:justify;">Tapi apa arti perjalanan ziarah, tanpa menapak tilas sejarah dan menengok yang pedih dan yang dahsyat di masa silam?</p>
<p style="text-align:justify;">Mungkin piknik instan ke kemewahan.</p>
<p style="text-align:justify;"><em>Goenawan Mohamad</em></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/abusalafy.wordpress.com/2704/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/abusalafy.wordpress.com/2704/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abusalafy.wordpress.com&#038;blog=1269412&#038;post=2704&#038;subd=abusalafy&#038;ref=&#038;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abusalafy.wordpress.com/2013/05/20/goenawan-mohamad-mekkah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/9e9f42ee06317a9a9b53f33ec6f955fa?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">abusalafy</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Aliansi Wahabi dan Saudi: Masjid diperluas warisan nabi diberantas</title>
		<link>http://abusalafy.wordpress.com/2013/05/20/aliansi-wahabi-dan-saudi-masjid-diperluas-warisan-nabi-diberantas/</link>
		<comments>http://abusalafy.wordpress.com/2013/05/20/aliansi-wahabi-dan-saudi-masjid-diperluas-warisan-nabi-diberantas/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 20 May 2013 15:11:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abusalafy</dc:creator>
				<category><![CDATA[Akidah]]></category>
		<category><![CDATA[Dinasti al-Saud]]></category>
		<category><![CDATA[Kenaifan Kaum Wahhabi]]></category>
		<category><![CDATA[Manhaj]]></category>
		<category><![CDATA[Sejarah Wahabi-Salafy]]></category>
		<category><![CDATA[Wahabi dan Pengkafiran Umat Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Wahabi-Salafy Meresahkan Ummat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abusalafy.wordpress.com/?p=2697</guid>
		<description><![CDATA[Dibawah ini artikel dari situs Merdeka.Com tentang ulah rezim Al Saud yang makin mengila dalam melenyapkan peninggalan-peninggalan Islam, khususnya bukti sejarah peninggalan Rasulullah saw dan sahabatnya, dengan dalih konyol &#8220;dijadikan sesembahan&#8221; warisan sejarah Rasulullah saw mereka lenyapkan..! (Abu Salafy) _________________ Aliansi Wahabi dan Saudi (1) Persekongkolan bedebah Wahabi dan Bani Saud SUMBER: Merdeka.Com Bodoh, arogan, dan [&#8230;]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abusalafy.wordpress.com&#038;blog=1269412&#038;post=2697&#038;subd=abusalafy&#038;ref=&#038;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<blockquote>
<p style="text-align:justify;"><em>Dibawah ini artikel dari situs <a href="http://www.merdeka.com/" target="_blank">Merdeka.Com</a> tentang ulah rezim Al Saud yang makin mengila dalam melenyapkan peninggalan-peninggalan Islam, khususnya bukti sejarah peninggalan Rasulullah saw dan sahabatnya, dengan dalih konyol &#8220;dijadikan sesembahan&#8221; warisan sejarah Rasulullah saw mereka lenyapkan..!</em> <strong><em>(Abu Salafy)</em></strong></p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;">_________________</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;"><strong>Aliansi Wahabi dan Saudi (1)</strong></span><br />
<span style="color:#003366;"><strong>Persekongkolan bedebah Wahabi dan Bani Saud</strong></span></p>
<p style="text-align:justify;"><strong><span style="color:#800000;">SUMBER:</span> <a href="http://www.merdeka.com/khas/wahabi-benci-nabi-aliansi-wahabi-dan-saudi-1.html" target="_blank">Merdeka.Com</a></strong></p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://abusalafy.files.wordpress.com/2013/05/mekkah_1.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-2702" alt="mekkah_1" src="http://abusalafy.files.wordpress.com/2013/05/mekkah_1.jpg?w=468"   /></a></p>
<p style="text-align:justify;">Bodoh, arogan, dan suka melawan. Itulah penilaian Ibnu Humaidi, guru dari pendiri gerakan Wahabi, Syekh Muhammad bin Abdul Wahab. Dia akhirnya tidak lulus belajar dengan mufti bermazhab Hambali di Kota Makkah itu.</p>
<p style="text-align:justify;">Dia lantas berguru kepada Muhammad Hayyat al-Sindhi, di Kota Madinah. Di sana, dia ajarkan untuk mengharamkan ziarah kubur dan menghormati para wali. Setelah belajar ke mana-mana, termasuk Basrah dan Baghdad di Irak, pada 1740 dia pulang ke kampung halamannya di Desa Uyaina, Najd, Arab Saudi. <span id="more-2697"></span></p>
<p style="text-align:justify;">Dengan usia masih 37 tahun, Syekh Muhammad mulai menyebarluaskan ajarannya. Dia berhasil mempengaruhi Usman bin Muammar, penguasa Uyaina. Dia lantas menyuruh Usman mengangkat kubur Zaid bin Khattab dikeramatkan warga setempat. Kemudian dia memerintahkan semua pelaku zina dirajam sampai mati. Dia bahkan pernah memimpin hukuman itu.</p>
<p style="text-align:justify;">Semua ajaran Syekh Muhammad mendapat perhatian dari Sulaiman bin Muhammad bin Ghurair dari Bani Khalid. Dia memerintahkan Syekh Muhammad dibunuh. Namun Usman menolak perintah atasannya itu. Akhirnya, Syekh Muhammad diusir dari tanah kelahirannya itu.</p>
<p style="text-align:justify;">Selepas itu, dia bermukim di Diriyah diperintah oleh Muhammad bin Saud. &#8220;Oasis ini milikmu, jangan takut terhadap musuh-musuhmu. Atas nama Allah, jika seluruh penduduk Najaf mengusirmu, kami tidak akan pernah melakukan itu,&#8221; kata Muhammad bin Saud, seperti ditulis Madawi al-Rasyid dalam buku berjudul <em>A History of Saudi Arabia</em>.</p>
<p style="text-align:justify;">Syekh Muhammad menjawab, &#8220;Anda adalah pemimpin dan orang bijak. Aku ingin Anda bersumpah kepada saya untuk memerangi para penentang saya. Sebagai balasan, Anda menjadi imam masyarakat muslim dan saya pemimpin dalam urusan agama.&#8221;</p>
<p style="text-align:justify;">Keduanya pada 1744 membuat perjanjian berlaku hingga kini. Kedua pihak saling mendukung. Keturunan Muhammad bin Saud akhirnya memimpin Kerajaan Arab Saudi sekarang menyokong dana buat penyebaran paham Wahabi, jumlahnya sekitar USD 2 miliar saban tahun. Anak cucu Syekh Muhammad yang menjadi pemuka agama Saudi memberikan legitimasi terhadap penguasa sebagai balasan.</p>
<p style="text-align:justify;">Seperti para pendahulunya, keluarga Kerajaan Saudi melenyapkan semua peninggalan sejarah Islam berkaitan dengan Nabi Muhammad. Mereka beralasan praktek berziarah dan berdoa di tempat-tempat disakralkan itu sebagai syirik. Para pengikut Wahabi ini juga tidak percaya dengan syafaat Rasulullah.</p>
<p style="text-align:justify;">Paham Wahabi juga menganggap Rasulullah sebagai manusia biasa sehingga tidak perlu dipuja dan dipuji. Apalagi, sampai merayakan hari kelahirannya. Bahkan mendiang Syekh Abdul Aziz bin Baz berani menyatakan Allah itu memiliki batas dan hanya Dia yang tahu keterbatasannya.</p>
<p style="text-align:justify;">Sejumlah ulama Wahabi juga melontarkan pendapat membahayakan. Seperti Syekh Al-Qanuji dalam kitabnya <em>Ad-Dinul Khalish</em>, jilid pertama halaman 140, &#8220;Taklid terhadap mazhab termasuk syirik.&#8221;</p>
<p style="text-align:justify;">Syaikh Hassan al-Aqqad dalam kitabnya <em>Halaqat Mamnuah</em>, halaman 25, menyatakan, &#8220;Kafir orang membaca salawat untuk nabi seribu kali atau mengucapkan La ilaha illallah seribu kali.&#8221;</p>
<p style="text-align:justify;">Kebanyakan ulama Sunni menganggap ajaran Syekh Muhammad sesat. Ayah dan saudara lelakinya, Sulaiman bin Abdul Wahab, termasuk pengkritik dia. Sulaiman menganggap Syekh Muhammad orang terpelajar yang sakit mental dan tidak toleran. Dia juga menilai paham Wahabi sebagai ajaran pinggiran sekaligus fanatik.</p>
<p style="text-align:justify;">Gurunya saja sudah bilang Syekh Muhammad bodoh, berarti umat Islam lebih bahlul lantaran membiarkan dua kota suci Makkah dan Madinah terus dalam cengkeraman rezim Wahabi.</p>
<p style="text-align:center;"><strong><span style="color:#0000ff;">*****************</span></strong></p>
<p><span style="color:#003366;"><strong>Aliansi Wahabi dan Saudi (2)</strong></span><br />
<span style="color:#003366;"><strong>Masjid diperluas warisan nabi diberantas</strong></span></p>
<p><strong><span style="color:#ff0000;">SUMBER:</span> <a href="http://www.merdeka.com/khas/masjid-diperluas-warisan-nabi-diberantas-aliansi-wahabi-dan-saudi-2.html" target="_blank">Merdeka.Com</a></strong></p>
<div id="mdk-body-newsarea" style="text-align:justify;">
<p>Pemerintah Arab Saudi sudah memulai proyek perluasan Masjid Al-Haram di Kota Makkah. Proyek miliaran pound sterling ini dipastikan bakal membuat kawasan sekitar kiblat umat Islam itu bakal makin megah dan gemerlap.</p>
<p>Sejumlah foto diperoleh surat kabar <em>the Independent</em> memperlihatkan para pekerja dengan pelbagai peralatan berat sudah mulai merobohkan bangunan bekas peninggalan kekhalifahan Usmaniyah dan Abbasiyah di sebelah timur kompleks masjid.</p>
<p>Bangunan bekas peninggalan dua pemerintahan Islam itu berhiaskan kaligrafi Arab berisi nama-nama sahabat Nabi Muhammad dan momen terpenting dalam kehidupan mereka. Bahkan, salah satu bagian tembok diratakan diyakini tempat Rasulullah memulai isra ke Masjid Al-Aqsha di Kota Yerusalem, Tepi Barat.</p>
<p>Untuk melayani jamaah haji dan umrah terus bertambah saban tahun, Negeri Dua Kota Suci ini terus memperluas kompleks Masjid Al-Haram dan Masjid Nabawi di Kota Madinah. Miliaran pound sterling pun digelontorkan. Raja Abdullah telah menunjuk Syekh Abdul Rahman al-Sudais, ulama tersohor sekaligus imam Masjid Al-Haram, bertanggung jawab atas proyek itu dan Bin Ladin Group, perusahaan konstruksi terbesar di Saudi, menjadi pelaksana.</p>
<p>Beberapa pihak mengecam perluasan dua masjid paling dikeramatkan itu karena merusak peninggalan sejarah dan budaya Islam, termasuk warisan nabi. Gulf Institute berkantor di Ibu Kota Washington DC, Amerika Serikat, memperkirakan 95 persen bangunan berusia satu milenium di Makkah telah dimusnahkan dalam dua dekade. Lusinan tempat bersejarah penting menandai kelahiran Islam juga lenyap.</p>
<p>Banyak ulama senior Wahabi mendukung penghancuran tempat-tempat bersejarah berkaitan dengan Nabi Muhammad. Mereka cemas lokasi-lokasi itu bakal dikultuskan sehingga bisa menimbulkan syirik.</p>
<p>Namun Dr Irfan al-Alawi, Direktur Eksekutif the Islamic Heritage Research Foundation, menegaskan ada banyak cara memperluas kedua masjid itu tanpa melenyapkan tempat bersejarah. &#8220;Proyek itu bermasalah karena banyak bagian dirobohkan pernah menjadi tempat duduk dan salat nabi,&#8221; katanya, seperti dilansir<em> the Independent</em>, Jumat dua pekan lalu. &#8220;Catatan sejarah telah dihapus. Muslim generasi baru tidak akan pernah mempunyai petunjuk karena tidak ada penanda lokasi-lokasi ini.&#8221;</p>
<p>Ada tanda-tanda Raja Abdullah mendengarkan kritikan itu. Oktober tahun lalu, rencana perluasan Masjid Nabawi akan mengorbankan tiga masjid tertua sejagat. Namun, awal Maret ini, sang raja meneken proposal baru yang memindahkan proyek dari bagian barat ke sebelah utara kompleks masjid.</p>
<p>Meski begitu, proyek Masjid Al-Haram bakal mengancam rumah kelahiran Rasulullah (Bait al-Maulid) kecuali rencana itu segera diubah. Sebelumnya, perluasan serupa sudah menghilangkan Darul Arqam (tempat nabi mengajar) dan perpustakaan milik Khadijah.</p>
<p>Para pecinta sejati tentu tidak rela memusnahkan peninggalan kekasihnya dan membiarkan warisan mereka dilenyapkan.</p>
<p><span style="color:#0000ff;">*******************</span></p>
<p><span style="text-decoration:underline;"><span style="color:#800000;text-decoration:underline;"><strong>ARTIKEL TERKAIT TTG PENINGGALAN SEJARAH NABI SAW</strong></span></span><br />
<span style="text-decoration:underline;"><span style="color:#800000;text-decoration:underline;"><strong>YANG DIHANCURKAN REZIM AL SAUD</strong></span></span></p>
<p>01. <a href="http://palingseru.com/14151/5-peninggalan-nabi-muhammad-yang-dihancurkan-arab-saudi" target="_blank">5 Peninggalan Nabi Muhammad yang Dihancurkan Arab Saudi</a></p>
<p>02. <a href="http://muzlimbuzz.sg/2012/12/05/must-we-save-holy-sites-in-mecca-and-medina/" target="_blank">MUST WE SAVE HOLY SITES IN MECCA AND MADINA?</a></p>
<p>03. <a href="http://www.independent.co.uk/news/world/middle-east/shame-of-the-house-of-saud-shadows-over-mecca-474736.html" target="_blank">Shame of the House of Saud: Shadows over Mecca</a></p>
<p>04. <a href="http://www.preserve-heritage.com/the-destruction-of-holy-sites-in-mecca-and-madina.html" target="_blank">THE DESTRUCTION OF THE HOLY SITES IN MECCA AND MEDINA, By Irfan Ahmed</a></p>
<p>05. <a href="http://theamericanmuslim.org/tam.php/features/articles/saudi_destruction_of_muslim_historical_sites1" target="_blank">Saudi Destruction of Muslim Historical Sites, by Sheila Musaji</a></p>
<p>06. <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Destruction_of_early_Islamic_heritage_sites" target="_blank">Destruction of early Islamic heritage sites</a></p>
<p>07. <a href="http://www.independent.co.uk/voices/comment/meccas-creeping-capitalism-8479827.html?origin=internalSearch" target="_blank">Mecca&#8217;s creeping capitalism</a></p>
<p>08. <a href="http://www.independent.co.uk/news/world/middle-east/the-photos-saudi-arabia-doesnt-want-seen--and-proof-islams-most-holy-relics-are-being-demolished-in-mecca-8536968.html?origin=internalSearch" target="_blank">The photos Saudi Arabia doesn&#8217;t want seen – and proof Islam&#8217;s most holy relics are being demolished in Mecca </a></p>
<p>09. <a href="http://www.independent.co.uk/voices/comment/why-dont-more-muslims-speak-out-against-the-wanton-destruction-of-meccas-holy-sites-8229682.html?origin=internalSearch" target="_blank">Why don&#8217;t more Muslims speak out against the wanton destruction of Mecca&#8217;s holy sites?</a></p>
<p>10. <a href="http://www.independent.co.uk/news/world/middle-east/mecca-for-the-rich-islams-holiest-site-turning-into-vegas-2360114.html?origin=internalSearch" target="_blank">Mecca for the rich: Islam&#8217;s holiest site &#8216;turning into Vegas&#8217; </a></p>
<p>11. <a href="http://www.independent.co.uk/news/world/middle-east/medina-saudis-take-a-bulldozer-to-islams-history-8228795.html" target="_blank">Medina: Saudis take a bulldozer to Islam&#8217;s history </a></p>
<p>12. <a href="http://www.youtube.com/watch?v=vpy5x7Nchck&amp;feature=related" target="_blank">Saudi&#8217;s Destruction Of The Islamic Heritage (YOUTUBE)</a></p>
<p>13. <a href="http://www.youtube.com/watch?v=TGHDwXm6YEU&amp;feature=related" target="_blank">Saudis &#8220;turning Mecca into Las Vegas&#8221; (YOUTUBE)</a></p>
<p>14. <a href="http://www.petitiononline.com/baqee110/petition.html" target="_blank">PETITION: </a></p>
<p><a href="http://www.petitiononline.com/baqee110/petition.html" target="_blank">Destruction of Holy Sites in Makkah &amp; Medina &#8211; The Cradle of Islam </a></p>
<p><a href="http://www.petitiononline.com/baqee110/petition.html" target="_blank">Send To: Saudi Government, United Nations, Human Rights Groups</a></p>
</div>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/abusalafy.wordpress.com/2697/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/abusalafy.wordpress.com/2697/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abusalafy.wordpress.com&#038;blog=1269412&#038;post=2697&#038;subd=abusalafy&#038;ref=&#038;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abusalafy.wordpress.com/2013/05/20/aliansi-wahabi-dan-saudi-masjid-diperluas-warisan-nabi-diberantas/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/9e9f42ee06317a9a9b53f33ec6f955fa?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">abusalafy</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://abusalafy.files.wordpress.com/2013/05/mekkah_1.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">mekkah_1</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Akidah Salafi Wahhâbi Tentang Ketinggian Fisikal Allah SWT Adalah Mereka Warisi Dari Akidah Sesat Yahudi (2)</title>
		<link>http://abusalafy.wordpress.com/2013/04/27/akidah-salafi-wahhabi-tentang-ketinggian-fisikal-allah-swt-adalah-mereka-warisi-dari-akidah-sesat-yahudi-2/</link>
		<comments>http://abusalafy.wordpress.com/2013/04/27/akidah-salafi-wahhabi-tentang-ketinggian-fisikal-allah-swt-adalah-mereka-warisi-dari-akidah-sesat-yahudi-2/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 27 Apr 2013 04:48:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abusalafy</dc:creator>
				<category><![CDATA[Akidah]]></category>
		<category><![CDATA[Akidah Tajsim & Tasybih]]></category>
		<category><![CDATA[Fatwa Pensesatan]]></category>
		<category><![CDATA[Ibnu Abdul Wahab]]></category>
		<category><![CDATA[Kajian Hadis]]></category>
		<category><![CDATA[Kajian Ibnu Taimiyah]]></category>
		<category><![CDATA[Kenaifan Kaum Wahhabi]]></category>
		<category><![CDATA[Kepalsuan Ibnu Taimyah]]></category>
		<category><![CDATA[Manhaj]]></category>
		<category><![CDATA[Membantah Ust. Firanda]]></category>
		<category><![CDATA[Mengenal Pemimpin Wahabi]]></category>
		<category><![CDATA[Menjawab Web/Blog Wahabi/Salafy]]></category>
		<category><![CDATA[Ulama Salafy-Wahabi Bicara]]></category>
		<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[Wahhabi Versus Ulama Islam]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abusalafy.wordpress.com/?p=2691</guid>
		<description><![CDATA[Akidah Salafi Wahhâbi Tentang Ketinggian Fisikal Allah SWT Adalah Mereka Warisi Dari Akidah Sesat Yahudi (2) Setelah Anda saksikan bagaimana kaum Mujuassimah Musyabbihah (Wahhâbi Salafi) membangun akidah sesatnya tentang ketinggian fisikan Allah SWT di atas ocehan kaum Yahudi, seperti Ka’ab al Akhbâr dkk. yang berpura-pura memeluk Islm untuk mwrcuni pikiran kaum Muslimin&#8230; kini saya ajak [&#8230;]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abusalafy.wordpress.com&#038;blog=1269412&#038;post=2691&#038;subd=abusalafy&#038;ref=&#038;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p><b>Akidah Salafi Wahhâbi Tentang Ketinggian Fisikal Allah SWT Adalah Mereka Warisi Dari Akidah Sesat Yahudi (2)</b></p>
<p>Setelah Anda saksikan bagaimana kaum Mujuassimah Musyabbihah (Wahhâbi Salafi) membangun akidah sesatnya tentang ketinggian fisikan Allah SWT di atas ocehan kaum Yahudi, seperti Ka’ab al Akhbâr dkk. yang berpura-pura memeluk Islm untuk mwrcuni pikiran kaum Muslimin&#8230; kini saya ajak Anda mengikuti saya melanjutkan penelusuran terhadap akar akidah Yahudi dalam akidah Salafi Wahhâbi&#8230; Kali ini kita akan memergoki dua orang Yahudi pembual dan pembohong besar, <i>kadzdzâb</i> menjadi rujukan utama akidah sesat tersebut. Di adalah Wahb bin Munabbih dan Nauf al Bikâli.</p>
<p><span id="more-2691"></span>Adz Dzahabi dalam kitab <i>al ‘Uluw </i>-yang sangat dibanggakan kaum Salafi Wahhabi, khususnya yang baru melek agama setelah dikenyangkan pikirannya oleh para masyâikh Wahhâbi Arab TimTeng- menyebutkan keterangan Wahb bin Munabbih dan Nauf al Bakâli sebagai landasan akidahnya tajsîm/posturisasi Allah dan bahwa Allah bertempat dan bersemayam di atas Arsy-Nya&#8230; dan bahwa Allah itu bersuara&#8230; Pada dua <i>atsar</i> yang ia kutip dengan sanad sebagai berikut: <b></b></p>
<p><b>Wahb bin Munabbih al Yahudi Dari Kitab Taurat!</b></p>
<p><b>Atasr Pertama:</b><b> </b><b></b></p>
<p>Hadis Ahmad bin Muhammad bin Ghalib (dia seorang <i>kadzdzâb</i>/pembohong besar) dari Muhammad bin Ibrahim bin al ‘Alâ’, ia berkata, Ismail bin Abdil Karîm ash Shan’âni menyampaikan hadis, ia berkata, Abdush Shamad bin Ma’qil menyampaikan hadis kepada kami dari Wahb bin Munabbih, ia berkata, “Aku temukan dalam Taurat: “Dialah Allah telah ada sementara belum ada sesuatu apapun dalam ketidak-butuhannya dari ciptaan-Nya. Tiada dikatakan, ‘Bagaimana Dia ada dan di mana Dia berada&#8230;. Dia menciptakan Arsy-Nya kemudian dia bersemayam di atas Arsy. Dan <i>kaif</i> tidak diketahui.’”<a title="" href="#_ftn1">[1]</a></p>
<p><b>Abu Salafy:</b></p>
<p>Sebagaimana Anda telah saksikan langsung bagaimana Wahb bin Munabbih dengan tanpa malu menyebarkan Taurat (yang tentunya sudah banyak mengalami perubahan dan pentahrifan oleh para pendeta Yahudi sendiri) di tengah-tengah umat Islam&#8230; persis apa yang dilakukan pendahulunya si Ka’ab al Ahbâr al Yahudi&#8230; tentu bukan aneh apabila para endeta Yahudi yang berpura-pura memeluk Islam itu memiliki agenda jahat dalam meracuni pikiran kaum Muslimin setelah mereka tidak mampu memerangi Islam dengan senjata dan secara terang-tarangan&#8230; namun yang aneh adalah kemudian sebagian ulama membanggakan nukilan mereka dan seakan ia adalah wahyu suci!!! Inilah yang dilakukan kaum Mujassimah Musyabbihah yang menajdi Salaf kaum Salafi Wahhâbi!</p>
<p><b>Catatan!</b></p>
<p><i>Alhamdulillah</i>, adz Dzahabi sendiri mengakui bahwa mata rantai pertama sanad riwayat di atas adalah seorang pembohong besar, ia adalah Ahmad bin Muhammad bin Ghalib. Adz Dzahabi berkata, “Dia seorang <i>kadzdzâb</i>/pembohong besar.!”</p>
<p>Dalam keterangan lanjutan adz Dzahabi terdapat keanehan yang luar biasa.. di mana ia mengomentari beberapa redaksi riwayat di atas sebagai redaksi yang rendahan. Ia menuduh ini buatan Ghulam, budak Khalil. Tahukan Anda redaksi apa yang ditolak adz Dzahabi dan yang ia katakana sebagai rendahan, tidak memenuhi standar sastra Arab.. redaksi yang ia vonis itu adalah redakasi yang justru mnunjukkan Kemaha Sucian Allah dari Bertempat! Adz Dzahabi berkata, bahwa ucapan seorang, “Di mana Allah?” sebelum Allah menciptakan ciptaan-Nya adalah salah dan tidak boleh diucapkan! Tetapi setelah Allah menciptakan ciptaan-Nya maka pertanyaan itu (“Di mana Allah?”) adakah benar, <i>haq</i>!<b></b></p>
<p><b>Abu Salafy:</b></p>
<p>Demikianlah akal pikiran jika telah dirusak oleh faham Tajsim, ketika menukil nas yang mensucikan Allah dari jismiyah ia segera menolak dan menuduhnya sebagai rendahan, <i>rakîk</i>! Sementara jika menukil atsar yang mengandung posturisasi Allah dan menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya ia segera mengatakannya ia shahih dan mengandung makna yang mendalam dan luar biasa! Ia menjungkir balikkan dan mengabaikan akal sehat dan bimbingan Syari’at!</p>
<blockquote><p><strong>Dan sebagaimana akan saya sebutkan nanti bahwa tuhan adz Dzahabi dan kaum Wahhâbi Salafi ternyata tidak hanya duduk di Arsy, tapi ia juga NONGKRONG DI JEMBATAN! </strong></p></blockquote>
<p><b>Atsar Kedua:</b> Adz Dzahabi menyebutkan atsar Wahab dari kitab as Sunnah karya Abdullah putra Ahmad bin Hanbal dengan sanad bersambung sebagai berikut: Abbas al Anbari menulis kepada saya dengan <em>khath</em>/tulisan tangannya, ia berkata, Ismail binAbdil Karim bin Ma’qil bin Munabbih telah menyampaikan kepada kami, ia berkata, Abdush Shamad bin Ma’qi telah menyampaikan kepadaku, ia berkata, ‘Aku mendengar Wahbi bin Munabbih berkata ketika disebut-sebut kemaha agungan Allah Azza wa Jalla, <b>“Sesungguhnya tujuh langit dan laut benar-benar berada di Haikal dan Haikal di Kursi. <span style="color:#ff0000;">Dan sesungguhnya kedua telapak kaki Allah berada di ats Kursi, dan Dia memikul Kusri, dan Kusri itu menjadi sebagai Sandal di dalam kedua telapak kaki Allah.”</span><a title="" href="#_ftn2"><b>[2]</b></a></b></p>
<p><b>Abu Salafy:</b></p>
<p>Demikian adz Dzahabi meriwayatkannya dalam kitab<i> al ‘Uluw</i>: 385 dengan nomer 323 yang sangat dibanggakan oleh para Wahabi Salafi tidak terkecuali sarnaja-sarjana berpikirann kerdil jebolan kampus-kampus kaum Mujassimah di Arab Saudi sana seperti ustadz Firanda!</p>
<p>Dan tidak diragukan lagi bahwa ocehan Wahb di atas adalah dari bualan dan kesesatan yang sengaja diseber-luaskan para pendeta Yahudi di tengah-tengah kaum Muslimin untuk merusak kesucian akidah mereka! Maha Suci Allah dari ocehan kaum sesat dan kafir itu&#8230; maha Suci Allah dari memiliki dua telapak kaki dan bersandal atau memiliki dua telapak kaki dan meletakkan keduanya di atas Kursi atau apapun lainnya! Ini benar-benar penyerupaan Allah dengan makhluk-Nya dan menggambarkan Allah dengan gambaran makhluk! Ini adalah kekafiran nyata!</p>
<p>Mengapakah kaum Mujassimah Musyabbihah yang sekaraang tampil dengan mana Salafi Wahhabi tidak henti-hentinya menyesatkan diri mereka sendiri dengan menelan ocehan dan kesesatan kaum Yahudi seperti Ka’ab al Ahbâr, Wahb bin Munabbih, Nauf al Bakâli dkk.?!</p>
<p>Al Qahthâni –pen-<i>tahqiq</i> kitab as Sunnah- mengatakan, “Dan ucapan Wahb di sini tergolong <i>Isrâiliyyât</i> (kutipan dari kitab-kitab kaum Yahudi_pen) yang tidak perlu dibenarkan dan juga tidak perlu ditolak. <i>Allahu A’lam</i>.”</p>
<p>Apa yang dikatakan al Qahthâni al Wahhâbi di atas bukan hal baru sebab para sarjana Wahhâbi tidak mampu membebaskan diri mereka dari belenggu taklid buta yang membodohkan kepada para pendahulunya. Apa yang ia katakan itu tidak jauh dari apa yang dikatakan adz Dzahabi setelah ia menyebut ocehan murahan Wahb yang mengandung kekafiran nyata di atas.</p>
<blockquote><p><span style="color:#ff0000;">Adz Dzahabi berkata, “Wahb adalah dari bejana ilmu, tetapi kebanyakan ilmunya tentang berita-berita umat-umat terdahulu. Ia memiliki banyak itab Isrâiliyyât. Ia menukil darinya. Mungkin dia lebih luas ilmunya dibanding Ka’ab al Ahbâr. Dan apa yang ia sifati tentang Haikal dan bahwa bumi lapis tujuh dicela-celai lautan dan lain sebagainya terdapat padanya pandangan (perlu diperhatikan dan jangan langsung diterima_pen), Allahu A’lam, maka kita jangan menolaknya dan juga jangan menjadikannya dalil.”</span></p></blockquote>
<p><b>Abu Salafy:   </b></p>
<p>Adapun anggapannya bahwa Wahb adalah seorang ulama besar dan dari bejana ilmu maka perlu saya katakan kepada adz Dzahabi, ‘Tidak! Sekali-kali tidak!!’ wahb adalah seorang yang SESAT DAN MENYESATKAN!! Karena ia telah mencampakkan Al Qur’an al Karim dan tetap bersikeras membaca dan menyebarkan kesesatan dan kekafiran kitab-kitab Isrâiliyyât yang telah dipenuhi oleh kepalsuan para pendeta Yahudi.. semua kejahatan Wahb dalam menyebarkan kesesatan akidahnya mendapat dukungan penuh dari penguasa bani Umayyah di masanya sebab bani Umayyah berkepentingan untuk menyesatkan kaum Muslimin dengan akidah Tasybîh dan tajsîm!! Lalu apalah artinya pembelaan orang yang membela Wahb dengan memberinya gelar-gelar palsu seperti min au’yatil ilmi/bejana ilmu! Tsiqah/jujur terpercaya! dll setelah kita ketahui bersama bahwa ia hanya rajin menyebarkan kesesatan dan kekafiran akidah kaum Yahudi di tengah-tengah umat Islam! Lebih lanjut perhatikan biografinya dalam kitab<i> Siyar A’lâm an Nubalâ’</i>,4/544.</p>
<p>Adapun ucapannya bahwa kesesatan yang disebar-luaskan Wahab tidak boleh kita tolak maka ia adalah kesalahan berpikir yang harus kita hindari agar kita tidak terjatuh dalam kesesatan seperti yang dialamai oleh mereka yang membukakan jiwa dan pikirannya untuk para pendeta Yahudi seperti Ka’ab, Wahb dkk.! Kita harus menolaknya dan berlepas diri dari kekafiran seperti yang disebarkan Wahab di atas!! Saya memaklumi adz Dzahabi sebab saat ia menulis kitab al ‘Uluw beliau sangat mudah usianya dan baru masuk dalam dunia penelitian dan penelusuran&#8230; dan bersasarkan bukti-bukti yang ada, beliua telah meninggalkan akidah ngawur yang ia bukukan dalam kitab al ‘Uluw-nya!</p>
<p><b>Catatan!</b></p>
<p>Perhatikan baik-baik nama-nama yang tercantum dalam sanad atsar wahab di atas! Anda akan mendapatkan nama-nama keluarga dekat Wahb sendiri:</p>
<p>1)      Ismail bin Abdil Karim bin Ma’qil bin Munabbih&#8230; ia meriwayatkan dari pamannya yang bernama Abdush Shamad bin Ma’qil.</p>
<p>2)      Abdush Shamad bin Ma’qil bin Munabbih al Yamani, anak saudara Wahb bin Munabbih ia meriwayatkan dari Wahb&#8230;.</p>
<p>Jadi sepertinya keluarga ini bersekongkol menyera-luaskan akidah sesat dan kafir Yahudi di tengah-tengah umat Islam! Dan yanbg mengherankan adalah begitu besarnya kegemaran dan kegandrungan kaum Mujassimah Musyabbihah kepada akidah kaum Yahudi&#8230; Perhatikan realita formulasi ini: Setiap penyandang akidah Tajsîm dan Tasybîh pasti berlindung kepada ajaran Yahudi&#8230; dan kaum Yahudi dalam menyebarkan akidah kafirnya berlindung di bawah kekuasaan bani Umayyah! Jadi di sana ada unsur Yahudi dan Bani Umayyah! Perhatikan juga sekarang! Kaum Salafi Wahhâbi begitu akrab dengan Yahudi dan begitu getol membela bani Umayyah! Jika Anda mengatahui benang merah masalkah ini pastilah Anda tidak akan heran terhadapnya!!</p>
<p>Yang penting saya katakan di sini dan telah sata tegaskan sebelumnya bahwa <span style="color:#ff0000;"><b>AKIDAH KAUM MUJASSIMAH DAN MUSYABBIHAH TERMASUK TENTANG KETINGGIAN FISIKAL ALLAH DI ATAS LANGIT ADALAH MEREKA WARISI DARI AKIDAH KAUM YAHUDI!!!</b> </span> Tetapi anehnya, kaum Salafi Wahhâbi selalu menuduh kaum Muslimin selain Wahhâbi sebagai pengikut Yahudi!!! Jadi itu artinya: Maling Teriak Maling!!</p>
<p>Setelah panjang lebar kita bahas kesesatan ocehan Wahb saya ajak sobat setia abusalafy untuk menyimak kesesatan lain yang disebar-luaskan oleh pendekar Israiliyyât kebanggaan para sarjana kerdil Salafi Wahhâbi!<b></b></p>
<p><b>Nauf al Bakâli al Yahudi</b></p>
<p><b>Atsar Pertama Nauf:</b></p>
<p>Adz Dzahabi meriwayatkan dalam kitab <i>al ‘Uluw</i>-nya dari Nauf al Bakâli dengan sanad yang ia sifati sebagai <i>shahih</i>! Bahwa ia berkata, “Sesungguhnya ketika Musa as. mendengar pembicaraan, ia berkata, ‘Siapa engkau yang berbicara denganku? Ia berkata, ‘Aku Tuhanmu yang Maha <i>A’lâ</i>, Maha Tinggi.’”</p>
<p>Setelahnya adz Dzahabi berkata, ‘Sanadnya shahih. Dan Nauf adalah seorang ulama dan pemberi wejangan generasi tabi’în.’<a title="" href="#_ftn3">[3]</a></p>
<p>Dan sejauh mana kebenaran ucapan adz Dzahabi tentang Nauf al Bakâli, perhatikan keterangan singkat saya tentangnya nanti!</p>
<p><b>Abu Salafy:</b></p>
<p>Inilah dalil yang sangat diandalkan para Mujasimûn Musyabbihûn dan kaum Wahhâbi Salafi… berujuk kepada bualan kaum Yahudi yang berpura-pura memeluk Islam lebih mendinginkan hati mereka ketimbang berujuk kepada para sahabat dan Ahlulbait Nabi saw.!</p>
<p>Apakah mereka tuli dan buta dari firman Allah SWT:</p>
<h2 style="text-align:right;"><b>وَ إِنَّ مِنْهُمْ لَفَريقاً يَلْوُونَ أَلْسِنَتَهُمْ بِالْكِتابِ لِتَحْسَبُوهُ مِنَ الْكِتابِ وَ ما هُوَ مِنَ الْكِتابِ وَ يَقُولُونَ هُوَ مِنْ عِنْدِ اللَّهِ وَ ما هُوَ مِنْ عِنْدِ اللَّهِ وَ يَقُولُونَ عَلَى اللَّهِ الْكَذِبَ وَ هُمْ يَعْلَمُونَ </b></h2>
<p style="text-align:left;"><i>“Sesungguhnya di antara mereka ada segolongan yang memutar- mutar lidahnya membaca Al Kitab, supaya kamu menyangka yang dibacanya itu sebagian dari Al Kitab, padahal ia bukan dari Al Kitab dan mereka mengatakan:&#8221; Ia ( yang dibaca itu datang ) dari sisi Allah&#8221;, padahal ia bukan dari sisi Allah. Mereka berkata dusta terhadap Allah, sedang mereka mengetahui.</i> (QS. Alu Imran [3];78)</p>
<p> Di sini kita perlu bersyukur bahwa riwayat ini shahih sanadnya kepada Nauf agar kaum Muslimin jadi mengerti dan kaum lengah jadi perhatian bahwa sesungguhnya kekacauan akidah di tengah-tengah kaum Muslimin ini sumbernya adalah dari kaum Yahudi yang menyelinap dan menyebarkan racun mereka di tengaht-tengah umat Islam! Dan agar Anda juga mengerti bahwa di antara ulama Islam ada orang-orang yang kerjanya merangkum dan mengabadikan kepalsuan dan kesesatan kaum Yahudi dan kemudian diatas-namakan Islam dan Akidah Salaf!!</p>
<p><b>Catatan</b></p>
<blockquote><p>Di sini, adz Dzahabi hendak menakankan bahwa disifatinya Allah dengan Maha Tinggi bebarti Allah tinggi secara fisikal di atas makhluk-Nya&#8230;</p>
<p>Allah berada di atas langit&#8230;</p>
<p>duduk dan bersemayam di atas Arsy-Nya&#8230;</p>
<p>dan kelak di hari kiamat nanti Allah mendudukkan Nabi Muhammad saw. di samping Allah. ..</p>
<p>duduk bersama Allah di atas Arsy-Nya –dan kata kaum Mujassimah Musyabbihah dan para Salafi Wahhâbi memang Allah telah menyiapkan tempat di Arsy selebar enpat jari dengan jari jemari Allah-&#8230; di sisa tempat itulah Nabi Muhammad saw. duduk bersanding dengan Allah SWT!!!</p>
<p>Dan celakalah kalian wahai kaum Muslimin yang mengingkari akidah keyakinan kaum Salafi ini!!! Kalian langsung dicap sebagai Jahimi dan langsung divonis kafir dan kekal di dalam neraka Jahannam!!!</p></blockquote>
<p><b>Atsar Kedua Nauf: </b></p>
<p>Adz Dzahabi juga menukil atsar dari Nauf melalui sanad sebagai berikut: Hadis Hammâd bin Salamah, Ali bin Zaid mengabarkan kepada kami dari Mathraf bin Syukhair bahwa sesungguhnya Nauf al Bakâli dan Abdullah bin amr berkumpul lalu nauf berkata, “Seandainya langit-langit dan bumi adalah hamparan dari baja kemudian ada seorang mengucapkan Lâ ilâha illallahu pastilah kalimat itu akan menembusnya sehingga ia berakhir kepada Allah –Ta’ala-.”<a title="" href="#_ftn4">[4]</a></p>
<p><b>Abu Salafy:</b></p>
<p>Inilah ucapan Nauf anak tiri Ka’ab yang sangat dibanggakan adz Dzahabi dan para Salafi Wahhâbi dalam membangun akidaj sesat meerka tentang keberadan Allah di atas langit! Inilah ocehan beracum para pendeta Yahudi yang mereka sebar-luaskan di tengah-tengah kaum Muslimin lalu berabad-abad setelahnya adz Dzahabi (dan juga para Mujassim lainnya) memungut dan mengabadikannya dalam kitab-kitab akidah mereka&#8230; maka dengan demikian mereka telah membantu mewujudkan cita-cita jahat kaum Yahudi dalam merusak akidah Islam!!! Mereka berandil besar daalam nenyebarkan berbagai khurafat di kalangan kaum Muslimin! Dan apakah benar dan boleh bagi kaum Muslimin untuk menyebar-luaskan apa yang terdapat dalam kitab taurat yang sduah mengalami pemalsuan dan kerusakan itu?!</p>
<p><b>Lebih Dekat Mengenal Para Penyebar Kesesatan!</b><b><i></i></b></p>
<p>Tentang Wahb, Nauf al Bakâli dan Ka’ab, maka para sahabat, pembesar tabi’în dan ulama telah megecam mereka berdua sebagai pendusta dan menyebarkan kepalsuan ajaran Yahudi di tengah-tengah kaum Muslimin! Tentu para sahabat dan tabi’în lebih mengenal hakikat para pendeta Yahudi yang berpura-pura memeluk Islam ketimbang para kaum Mujassimah Musyabbihah dan Wahabi!</p>
<p>Jika ada yang keberatan dengan apa yang saya katakan maka saya pesilahkan membuktikan kebenaran apa yang saya tegaskan ini dengan merujuk lansung kitab standar yang aya sebutkan di bawah ini:</p>
<p><strong>*) Ka’ab al Ahbâr</strong></p>
<p>Mu’awiyah bin Abi Sufyan –<i>sesembahan</i> kaum Wahhâbi yang disucikan- telah mendustakan Ka’ab. Baca Shahih Bukhari, <i>Kitabul I’tishâm Bi al Kitâb wa as Sunnah, Bab Qaulu an Nabi saw. Lâ Tas-alû Ahlal Kitâb</i> (Lihat Fathu al Bâri,28/103 hadis no.7361<a title="" href="#_ftn5">[5]</a>. Juga dalam kitab <i>Tahdzîb at Tahdzî</i><i>b,8/394.</i>)</p>
<p><b>*) Nauf al Bakâli</b></p>
<p>Adapun Nauf al Bakâli adalah anak tiri Ka’ab al Ahbâr, ia seorang Yahudi dan pembohong besar, <i>kadzdzâb</i>! Ibnu Abbas ra. mengecamnya sebagai <span style="color:#ff0000;"><strong><i>ADUWWULLAH</i>, MUSUH ALLAH!</strong></span> Demikian diriwayatkan Imam Bukhari dalam kitab Shahihnya. Nauf sangat kental dengan akidah keyahudiannya. Tidak mau meninggalkan akidah sesat/kafir lamanya dan hendak memaksakan akidahnya dalam menafsirkan ayat-ayat suci Al Qur’an! Di antaranya seperti diriwayatkan Imam Bukhari, bahwa Nauf mengatakan bahwa Nabi Musa as. yang disebutkan kisahnya dalam banyak ayat Al Qur’an itu bukan Musa bin Imran tetapi ia Musa lain. Melihat kesesatannya yang ia sebarkan di tengah-tengah kaum Muslimin yang tentunya tujuan darinya adalah menciptakan kekacauan pemikiran dan akidah, maka Ibnu Ibnu Abbas ra. -sabahat mulia dari bani Hasyim dan murid dekta Imam Ali as., yang mendapat doa dari Nabi saw. agar dijadikan Allah sebagai seorang yang mendalami ajaran agama dan ahli tafsir- segera membongkar misi jahat Nauf dengan kata-kata bersejarahnya:</p>
<h1 style="text-align:right;">كذب عدوُاللهِ</h1>
<p><span style="color:#ff0000;"><strong>‘Dustalah MUSUH ALLAH ITU!!”</strong></span><a title="" href="#_ftn6">[6]</a></p>
<p>Ibnu Hajar mengomentari ucapan Ibnu Abbas ra. di atas dengan kata-kata beliua, “Boleh jadi Ibnu Abbas menuduh Nauf dalam kebenaran islamnya. Karenanya ia (Ibnu Abbas) tdidak mengatakan pernyataan seperti itu terhadap al Hurr bin Qais padahal ia juga berpendapat seperti itu.<b></b></p>
<p><b>Menyoroti Ucapan adz Dzahabi!</b></p>
<p>Dari sini dapat Anda mengerti betapa konyol adz Dzahabi ketika membanggakan Nauf al Bakâli sebagai ulama dan juru nasihat umat dengan ‘kata-kata lugunya’ (saya tidak mengatakan kata-kata dugunya! Walaupun hanya sekedar beda satu huruf), “Dan Nauf adalah seorang ulama dan <i>wâ’idz</i>/pemberi wejangan generasi tabi’în.”!</p>
<p>Selain itu semua bahwa apa yang disebutkan di atas adalah diambil dari kitab Taurat yang telah banyak mengalami perubahan dan kerusakan.<b></b></p>
<p><b> Ternyata Tuhan Kaum Salafi Nongkrong Di Jembatan!</b></p>
<p>Sebelum saya akhiri diskusi kita dalam masalah ini saya ingin menghibur para pembaca dengan lelucon kaum Salafi Wahhâbi Mujassim Musyabbih (walaupun tidak terlalu lucu, maaf) yang disajikan imam agung mereka adz Dzahabi dalam kitab al ‘Uluw-nya yang oleh ustadz Firanda seluruh kaum Muslimin ia anjurkan agar membaca dan mendalami isi kitab tersebut! Lelucon itu berkata bahwa: “Di belakan shirâth ada beberapa jembatan, di salah satu jembatan itulah Allah nongkrong!!” Maha Suci Allah dari ocehan kaum dungu lagi sesat!!</p>
<p>Perhatikan adz Dzahabi berusaha meyakinkan kita dan sekaligus menghibur kita:</p>
<p>Hadis A’masy dari Salim  bin Abi al Ja’ad tentang firman Allah:</p>
<h2 style="text-align:right;">إِنَّ رَبَّكَ لَبِالْمِرْصادِ</h2>
<p><i>“Sesungguhnya  Tuhanmu benar-benar mengawasi.”</i> (QS. Al Fajr [89];14)</p>
<p>Ia berkata, “Di balik Shirâth ada beberapa jembatan; jembatan di atasnya terdapat amanat, jembatan di atasnya ada rahim/kerabat <strong><span style="color:#ff0000;">dan jembatan di atasnya terdapat Tuhan –Azza wa Jalla-.”</span></strong></p>
<p>Diriwayatkan oleh al al Usâl dengan sanad yang SHAHIH!”<a title="" href="#_ftn7">[7]</a></p>
<p><b>Abu Salafy:</b></p>
<p>Saya harap Anda jangan berburu-buru melapas tawa dan kegelian Anda karena lelucon ini sama sekali tidak lucu!! Ia lebih mirip dengan kekafiran ketimbang dengan lelucon!</p>
<p>Tidak puas kaus Wahhabi mendudukkan Tuhan di atas Arsy-Nya dan Arsy-Nya dipikul para malaikat atau kambing hutan.. Allah berada di dalam perut bumi terdalam &#8230;. Allah naik turun setuap malam untuk menyantuni hamba-hamba-Nya &#8230; Allah lari-lari kecil &#8230; Allah berbobot sehingga jika Allah murka para pemukul Arsy-Nya merasakan ada tambahan bobot Allah  dan lain sebagainya dari akidah sesat &#8230; kini kaum Salafi Wahhâbi mengatakan bahwa Allah berada di atas jembatan&#8230;</p>
<p>Saya hanya ingin bertanya kepada adz Dzahabi dan para sarjana Wahhâbi Salafi yang membanggakan adz Dzahabi dan tertipu menelan mentah-mentah bahan beracun di atas.. apakah kalian serius menerima penafsiran dungu di atas oleh Salim bin Abi al Ja’ad?! Dan kemudian menetapkan akidah bahwa Allah benar-benar nongkrong di atas jembatan sana?! Saya tidak terlalu peduli apakah dalam keyakinan kalian Allah itu berdiri atau duduk atau jongkok ketika berada di atas jembatan itu! Itu urusan kalian!! Apakah kalian serius meyakini bahwa Allah yang kalian sembah itu berada di atas jembatan?</p>
<p>Maha Suci Allah dari pensifatan kaum Salafi Mujassim!!</p>
<p><b>Syeikh Albani Makin Menggila!!</b></p>
<p>Dan lebih gila dari yang kita bisa bayangkan adalah Pakar Ahli Hadis kebanggaan para sarjana Salafi Wahhâbi, Syeikh Nashiruddîn al Albâni dalam kitab <i>Mukhtashar al ‘Uluw</i>, ringkasan dan saduran kitab <i>al ‘Uluw</i>-nya adz Dzahabi  yang ia katkb bahwa ia akan membersihkan kitab <i>al ‘Uluw</i> dari hal-hal khurafat dan menyimpang atau hadis dan atsar yang tidak shahih atau palsu&#8230; ternyata dalam kitab tersebut:131 ia justru makin mendukung akidah gila ini dengan menguatkan akidah ini dengan menyebut sumber-sumber tambahan yang dalam hematnya dapat menguatkan status akidah ini! Ia menyebutkan bahwa fatsir di atas telah dimuat dalam kitab <i>al Asmâ’ wa ash Shifât</i>-nya<a title="" href="#_ftn8">[8]</a> al Baihaqi:432 dan Mustadrak al Hakim,2/523&#8230; ia tidak sedikit pun menyinggung bahwa panafsiran ini adalah khurafat dan sesat!! Apakah benar baginya menipu kaum awam dengan menshahihkan sanad Salim bin Abni al Ja’ad&#8230;</p>
<p>Dan ini bukan satu-satunya kesalahan dan penyimpangan Albâni dalam kitab <i>Mukhtashar al ‘Uluw</i>.. hal mana membuktikan bahwa ia benar-benar telah mencampakkan akal sehat –kendati Al Qur’an dalam banyak ayatnya telah memerintah kita menggunakan akal- dan hanya sibuk meneliti sanad&#8230; yang penting dalam pandangannya adalah SANAD! Jika sanadnya shahih, maka semuanya berakhir! Semuanya harus ditelan mentah-mentah! Akal sehat harus dijauhkan!!</p>
<p><b>Imam Al Baihaqi mena’wil Atsar di Atas</b></p>
<p>Setelah menyebutkan atsar di atas dan menyebutkan kualitas sanadnya yang masih amburadul apakah ini ucapan Abdullah (yang juga belum jelas, apakah Abdullah bin Mas’ud atau selainnya)  atau ini adalah ucapannya Salim bin Abi al Ja’ad sendiri seperti disebutkan dalam nukilan adz Dzahabi di atas.. beliau berkata, “Jika ia shahih maka yang dimnaksud adalah para malaikta Tuhan menanyai manusia tentang apa yang telah mereka berbuat. <i>Allahu a’lam</i>.”<a title="" href="#_ftn9">[9]</a></p>
<p>Dan karena dalam pandangan kaum Salafi Wahhabi pengikut Ibnu Taimiyah sesiapa yang menakwil berarti ia ahli bid’ah yang sesat &#8230; maka dengan demikian, Imam al Baihaqi adaalah ahli bid’ah dan seat menyesatkan!! Dan tentunya bukan hanya Imam al Baihaqi yang mereka akan anggap sesat menyesatkan, tetapi seluruh kaum Muslimin dari kalanga pengikut Asy’ariyah, al Maturidiyah, para Shufiyyun dan Mu’tazilah serta Syi’ah!!! Jadi yang tidak sesat hanya Salafi Wahhâbi! Yang Ahlusunnah hanya Salafi Wahhâbi!! Semuanya penghuni neraka!! Hanya Salafi Wahabi yang akan menempati surga Allah!!!</p>
<p><b>Abu Salafy:</b></p>
<p>Sobat setia abusalafy, inilah akhir dari kajian kita kali ini&#8230; semoga kita akan berjumpa lagi dalam edisi lain untuk membongkar penyimpangan dan kepalsuan akidah Salafi tentang ketinggian fisikal Allah&#8230; dan bahwa ia tidak lain adalah akidah sesat kaum Yahudi&#8230;</p>
<p>Wassalam.  <b></b></p>
<div>
<hr align="left" size="1" width="33%" />
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref1">[1]</a> Al ‘Uluw Lil ‘Aliyyil Ghaffâr; adz Dzahabi –dengan tahqiq Guru beras kami Sayyidi al Habib Hasan bin Ali as Seqqâf, semoga Allah senantiasa melimpahkan kelembutan-Nya untuk beliau-:373.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref2">[2]</a> Ocehan Wahb di atas telah diriwayatkan juga oleh Abu Syeikh dalam kitab al Adzamah:199 dengan nomer 572, Abdullah bin Ahmab bin Hanbal dala kitab as Sunah,2/473-474 dengan nomer1092 (dengan tahqîq DR. Muhammad bin Sa’id bin Salim al Qahthâni. Terbitan Dâr Ibn Jauzi. Arab Saudi.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref3">[3]</a> Al ‘Uluw:371 <i>atsar</i> nomer295.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref4">[4]</a>Al ‘Uluw:372 <i>atsar</i> nomer296.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref5">[5]</a> Walaupun sebagian berusaha memalingkan kecaman Mu’awiyah bahwaia s ering menemukan Ka’ab berbohong, <i>wa in kunnâ ma’a dzâlika lanablu ‘alaihi al khadziba</i>. Mereka mentederhanakan makna kata kadziba dengan arti salah atau mengabarkan sesuatu yang kemudian tidak terjadi!</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref6">[6]</a> Baca Shahih Bukhari,1/218/hadis no.122, baca juga Fathu al Bâri, syarah ShahihB ukhari oleh Ibnu Hajar al Asqallâni,1/328-329</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref7">[7]</a>Al ‘Uluw:375 <i>atsar</i> nomer303.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref8">[8]</a> As Asmâ’ wa ash Shifât; Imam al Baihaqi:539 atsar nomer 1014 dari Salim bin Abi al Ja’ad dari Abdullah.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref9">[9]</a> Ibid.</p>
</div>
</div>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/abusalafy.wordpress.com/2691/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/abusalafy.wordpress.com/2691/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abusalafy.wordpress.com&#038;blog=1269412&#038;post=2691&#038;subd=abusalafy&#038;ref=&#038;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abusalafy.wordpress.com/2013/04/27/akidah-salafi-wahhabi-tentang-ketinggian-fisikal-allah-swt-adalah-mereka-warisi-dari-akidah-sesat-yahudi-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>19</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/9e9f42ee06317a9a9b53f33ec6f955fa?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">abusalafy</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>HUKUM ISLAM VERSI SALAFI WAHABI SAUDI: DA&#8217;I SAUDI MEMPERKOSA DAN MEMBUNUH PUTRINYA  YG MASIH BALITA DIHUKUM BEBAS</title>
		<link>http://abusalafy.wordpress.com/2013/04/08/hukum-islam-versi-salafi-wahabi-saudi-dai-saudi-memperkosa-dan-membunuh-putrinya-yg-masih-balita-dihukum-bebas/</link>
		<comments>http://abusalafy.wordpress.com/2013/04/08/hukum-islam-versi-salafi-wahabi-saudi-dai-saudi-memperkosa-dan-membunuh-putrinya-yg-masih-balita-dihukum-bebas/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 08 Apr 2013 02:09:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abusalafy</dc:creator>
				<category><![CDATA[Akidah]]></category>
		<category><![CDATA[Dinasti al-Saud]]></category>
		<category><![CDATA[Fatwa Wahabi-Salafy]]></category>
		<category><![CDATA[Kenaifan Kaum Wahhabi]]></category>
		<category><![CDATA[Manhaj]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abusalafy.wordpress.com/?p=2678</guid>
		<description><![CDATA[HUKUM ISLAM VERSI SALAFY SAUDI: DA&#8217;I SAUDI MEMPERKOSA DAN MEMBUNUH PUTRINYA  YG MASIH BALITA DIHUKUM BEBAS SUMBER: Crescent Online (Bulan Sabit Online) Oleh Tahir Mustafa Maret 2013 Warga Arab Saudi marah ketika pengadilan membebaskan seorang ustad/da&#8217;i yang difonis bersalah karena memperkosa dan membunuh secara brutal putrinya sendiri yang masih berusia lima-tahun walaupun si ustad telah [&#8230;]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abusalafy.wordpress.com&#038;blog=1269412&#038;post=2678&#038;subd=abusalafy&#038;ref=&#038;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;"><span style="color:#000080;"><strong>HUKUM ISLAM VERSI SALAFY SAUDI: DA&#8217;I SAUDI MEMPERKOSA DAN MEMBUNUH PUTRINYA  YG MASIH BALITA DIHUKUM BEBAS</strong></span></p>
<p><strong><span style="color:#ff0000;">SUMBER:</span> <a href="http://www.crescent-online.net/2013/03/saudi-celebrity-preacher-raped-and-murdered-five-year-old-daughter-tahir-mustafa-3663-articles.html" target="_blank">Crescent Online</a></strong> <span style="color:#000080;"><strong>(Bulan Sabit Online)</strong></span></p>
<p><span style="color:#008000;"><strong>Oleh Tahir Mustafa</strong></span></p>
<p><span style="color:#003366;">Maret 2013</span></p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://abusalafy.files.wordpress.com/2013/04/saudi-preacher.gif"><img class="size-full wp-image-2680 aligncenter" alt="Saudi preacher" src="http://abusalafy.files.wordpress.com/2013/04/saudi-preacher.gif?w=468"   /></a>Warga Arab Saudi marah ketika pengadilan membebaskan seorang ustad/da&#8217;i yang difonis bersalah karena memperkosa dan membunuh secara brutal putrinya sendiri yang masih berusia lima-tahun walaupun si ustad telah beberapa bulan meringkuk di penjara dan membayar &#8220;uang darah&#8221; kepada ibu gadis itu yg juga istri si ustad. Hukum apa sebenarnya yg berlaku di kerajaan kolot ini?</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#000080;"><em>Masyarakat macam apa yang tega menghukum ringan seorang peyiksa dan pembunuh anak bahkan membebaskannya hanya karena si korban dinyatakan sebagai miliknya sendiri? Hal ini hanya terjadi di Arab Saudi</em></span>. <em><span style="color:#800000;">Ada dua macam hukum: satu untuk pekerja asing yang hampir tidak memiliki hak apapun, dan satu lagi untuk warga Saudi yang bisa lolos dengan mudah karena kasus pembunuhan</span></em>. Untuk memahami fenomena tersebut, mari kita perhatikan dua kasus yang tidak saling terkait beserta akibatnya. <span id="more-2678"></span></p>
<p style="text-align:justify;">Salah satu kasus tentang seorang pembantu rumah tangga [PRT] asal Sri Lanka, Rizana Nafeek yang dituduh membekap bayi di bawah perawatan sampai mati di kota al-Dwadmi pada tahun 2005. PRT Sri Lanka tersebut baru berusia 17 dan baru beberapa minggu bekerja di Arab Saudi. Dia tidak bias berbicara bahasa Arab dan <em><span style="color:#ff0000;">dipaksa untuk mengaku kejahatan di bawah tekanan</span><span style="color:#ff0000;">, tanpa didampingi pengacara dengan semestinya.</span></em> Kementerian Dalam Negeri Saudi mengumumkan pada tanggal 9 Januari Rizana Nafeek telah dieksekusi meskipun permohonan belas kasihan disampaikan orang tua miskin Rizana kepada Raja Abdullah agar tidak menghukum bunuh sang putri.</p>
<p style="text-align:justify;">Kasus lainnya terkait dengan da’i &#8220;selebriti&#8221; Saudi yang mengisi acara tetap di televisi negeri itu, <span style="color:#0000ff;"><em><span style="color:#ff0000;">Fayhan al-Ghamdi, yang menyiksa dan membunuh putrinya sendiri, Lama, yang masih berusia lima tahun.</span> Ia juga dituduh memperkosa gadis balita tersebut. Al-Ghamdi hanya dijatuhi hukuman beberapa bulan di penjara dan harus membayar &#8220;uang darah&#8221; sebesar $ 50.000 kepada ibu sang gadis balita yang tentunya istri si ustad sendiri. Hakim menyatakan bahwa ini adalah hukum yang berlaku di Saudi dan sang ustad bisa melenggang bebas.</em></span></p>
<p style="text-align:justify;">Berita tersebut menjadi skandal di Saudi dan semua pihak menuntut agar si ustad dihukum mati. Skandal ini kemudian mendapat sorotan publik demikian luas sehingga rezim Saudi terpaksa turun tangan dan menyatakan bahwa si ustad yang bersangkutan akan tetap dipenjara. Sebuah pernyataan yang dikeluarkan oleh Departemen Kehakiman Saudi pada 12 Februari mengatakan al-Ghamdi tetap meringkuk di penjara dan &#8220;kasus ini dilanjutkan.&#8221;</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#ff0000;"><em>Jasad gadis mungil Lama, menderita beberapa luka-luka, termasuk tengkorak hancur, tulang punggung, tulang rusuk dan lengan kiri patah serta memar dan lebam di sekujur tubuh</em></span>.<span style="color:#ff0000;"><em> Para saksi mengatakan Lama telah berulang kali diperkosa dan disiksa</em></span>. Al-Ghamdi mengaku menggunakan tongkat dan kabel untuk menimbulkan cedera setelah meragukan keperawanan putrinya yang masih lima-tahun dan membawanya ke dokter. Insiden itu dilaporkan oleh kelompok Women to Drive yang memimpin kampanye menantang larangan rezim pada wanita mengemudi karena menurut para ulama Saudi, wanita yang mengemudi mobil dapat merusak moral.</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#000080;"><em>Arab Saudi mengklaim menerapkan Hukum Islam dan bahwa konstitusi Negara adalah &#8220;Al-Qur&#8217;an dan Sunnah&#8221; namun di bawah sistem hukum Negara yang sah, ayah tidak bisa dihukum karena membunuh anaknya sendiri demikain pula suami tidak dihukum karena membunuh istrinya. Apa Al-Qur&#8217;an dan hadis mengatakan bahwa apa seorang ayah diibolehkan membunuh anak perempuan mereka tanpa dihukum? Demikian pula suami yang membunuh istrinya. Membunuh bayi perempuan adalah praktek umum di kalangan Arab zaman Jahiliyah karena si ayah malu memiliki anak perempuan. Islam mengakhiri praktek biadab itu.</em></span></p>
<p style="text-align:justify;">Dalam putusan, hakim ketua mengatakan kepada jaksa bahwa ia hanya bisa meminta &#8220;uang darah&#8221; dari pelaku, dalam hal ini ayah gadis yang dibunuh. Hakim menolak untuk menjatuhkan hukuman kepadanya dengan mengatakan bahwa menurut &#8220;hukum,&#8221; ia tidak bisa melakukannya. Sebaliknya, hakim memutuskan: &#8220;uang darah” dan hukuman penjara terhadap terdakwa cukup sebagai hukuman atas kematian Lama.&#8221; <span style="color:#0000ff;"><em>Hukum apa yaag mengizinkan seorang ayah memperkosa putrinya sendiri, memukul hancurk tengkoraknya, tulang rusuk, punggung dan lengan degan menggunakan kabel dan hanya memenjarakannya beberapa bulan saja?</em></span></p>
<p style="text-align:justify;">Mari kita kembali ke kasus PRT asal Sri Lanka, <span style="color:#ff0000;">Rizana Nafeek</span> yang dihukum setelah pembelaanya tanpa penerjemah. Dia dijatuhi hukuman mati dan dipenggal kepalanya oleh rezim Saudi. <span style="color:#800000;"><em>Ibu si bayi menuduhnya Rizana membekap korbannya. Rizana membantah keras setelah dia mengerti apa yang didakwakan kepadanya.</em></span></p>
<p style="text-align:justify;">Dari keluarga Sri Lanka miskin, Rizana datang untuk bekerja sebagai pembantu rumah tangga di Arab Saudi dengan harapan mendapatkan kehidupan yang layak untuk menjaga kebutuhan keluarganya kembali di Sri Lanka. Dia dikirim ke rumah Quthaibis dimana ia diminta untuk merawat bayi, memberinya makan, mengganti popoknya, memasak makanan untuk keluarga, mencuci piring dan pakaian serta membersihkan rumah yang tergolong mewah. Hukum Internasional menyatakan orang di bawah usia 18 dianggap masih anak-anak (Rizana Nafeek baru 17 tahun pada waktu itu). Dia mencoba melakukan yang terbaik untuk memenuhi semua tugas.</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#0000ff;"><em>Suatu hari ketika sang bayi minum susu dengan menggunakan botol kemudian tersedak. Dia bergegas memberitahu ibu bayi. Ketika mereka kembali, bayi tidak bernapas. Sang ibu menuduh Rizana menyebabkan sang bayi tersedak sampai mati. Dia tidak punya alasan untuk dituduh menyakiti bayi tersebut. Namun hal ini menjadi dasar PRT itu diadili dan dieksekusi mati.</em></span> Meskipun sering melakukan banding ke Mahkama Saudi Saudi termasuk kepada Raja Abdullah, semua itu diabaikan dan Rizana dieksekusi dengan dipancung pada Januari 2013.</p>
<p style="text-align:justify;">Cara pemerintah Saudi menangani kasus Rizana ini menimbulkan kritik keras dari Amnesty International dan Human Rights Watch (HRW). Kedua badan internasional ini dan lainnya juga berpendapat bahwa eksekusi terhadap Rizana telah melanggar Konvensi PBB tentang Hak Anak yang telah diratifikasi Arab Saudi. Bahkan, Arab Saudi adalah melanggar hak-hak anak negerinya sendiri juga perempuan, seperti kasus pemerkosaan dan pembunuhan terhadap Lama. <span style="color:#0000ff;"><em>Saudi tampaknya merupakan pusat dendam khusus terhadap perempuan. Saudi merupakan satu2nya rezim di dunia yang tidak mengizinkan wanita mengemudi.</em></span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#800000;"><em>Sebuah komunitas anti-perang Amerika Serikat United National Anti-War Coalition (UNAC) meluncurkan sebuah petisi melobi pemerintah AS untuk mengakhiri hubungan khusus dengan rezim Saudi dan mengakhiri kesepakatan $ 60 miliar kerjasama pertahanan. UNAC telah menyerukan untuk mengakhiri kekejaman Saudi dan menyerukan kepada pemerintah AS untuk tidak menjual senjata kepada rezim ini.</em></span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#800000;"><em>Menurut harian Inggris, The Guardian, saat ini terdapat 45 orang PRT asing terpidana mati di Arab Saudi. Kebanyakan dituduh membunuh majikan mereka. Saudi dikenal sering menzalimi pembantu rumah tangga miskin, baik dari Sri Lanka atau Filipina. Mereka sering mengalami pelecehan seksual. Jika mereka menolak melayani majikannya,</em></span> mereka dituduh melakukan segala macam kejahatan. Seringkali tuduhan terhadap mereka adalah percobaan pembunuhan yang berakhir di penjara. Berapa banyak dari 45 pembantu asing di “barisan kematian” itu berakhir. Pada kenyataannya pemerintah Saudi demikian cepat dalam menghukum pekerja migrant asing walaupun dgn bukti-bukti yang lemah.</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#800000;"><em>Gadis-gadis dari keluarga miskin di Sri Lanka, Bangladesh, India dan Filipina yang terpikat oleh agen yang nakal dengan janji gaji yang menggiurkan sebagai pembantu rumah tangga di Arab Saudi. Banyak yang akhirnya dijual ke kubangan prostitusi di kerajaan yang terdapat Haramain itu</em></span>. Mereka bahkan tidak bisa melarikan diri karena paspor mereka ditangan &#8220;majikan&#8221; saat tiba di Saudi. Ketika mereka tertangkap, gadis-gadis miskin itu dipenggal kepala mereka dengan sadis. <span style="color:#800000;"><em>Para penguasa Saudi memiliki tekat mengklaim bahwa mereka mengikuti Al-Qur&#8217;an dan Sunnah. Semoga mereka sendiri segera akan dihakimi dan dihukum sesuai dengan Kitab ilahi!</em></span></p>
<p style="text-align:justify;">__________</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="text-decoration:underline;color:#ff0000;">SUMBER &amp; ARTIKEL ASLINYA</span></p>
<h2 style="text-align:justify;"><span style="color:#000080;"><strong>Saudi “celebrity” preacher raped and murdered five-year-old daughter</strong></span></h2>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#800080;"><strong>SOURCE</strong>:</span> <a href="http://www.crescent-online.net/2013/03/saudi-celebrity-preacher-raped-and-murdered-five-year-old-daughter-tahir-mustafa-3663-articles.html" target="_blank">Crescent Online</a></p>
<p style="text-align:justify;"><b><a href="http://www.crescent-online.net/tahir-mustafa-authors.htm">by Tahir Mustafa</a></b></p>
<p style="text-align:justify;">March, 2013</p>
<p style="text-align:justify;"><em><a href="http://myartikel.files.wordpress.com/2013/03/saudi-preacher.gif"><img alt="Saudi preacher" src="http://myartikel.files.wordpress.com/2013/03/saudi-preacher.gif?w=300&#038;h=165&#038;h=165" width="300" height="165" /></a>People in Saudi Arabia were outraged when a court said a preacher who was convicted of raping and brutally murdering his five-year-old daughter was to be set free after a few months in jail and paying “blood money” to the girl’s mother. What kind of law exists in the archaic kingdom?</em></p>
<p style="text-align:justify;">What kind of society would execute minors after extracting confessions under torture but allow a child killer to get away with a relatively light sentence because he happens to be one of their own? Only in Saudi Arabia does this happen. There are two sets of laws: one for foreign workers that have virtually no rights, and another for Saudi citizens that can get away, literally, with murder. To understand the phenomenon, let us consider two unrelated cases and their outcomes.</p>
<p style="text-align:justify;">One relates to a Sri Lankan domestic servant, Rizana Nafeek who was accused in 2005 of smothering an infant under her care to death in the town of al-Dwadmi. The Sri Lankan maid was barely 17 and had been in the kingdom only a few weeks. She did not speak Arabic and was forced to confess to the crime under duress. She was not properly represented by a lawyer. The Saudi Interior Ministry announced on January 9 it had executed Rizana Nafeek despite mercy pleas from her poor parents to King Abdullah to spare her life.</p>
<p style="text-align:justify;">The other case relates to a Saudi “celebrity” television preacher, Fayhan al-Ghamdi, who tortured and murdered his five-year-old daughter. He was also accused of raping the young girl. Al-Ghamdi was sentenced to a few months in prison and ordered to pay $50,000 in “blood money” to the mother (the preacher’s wife) of the dead girl, Lama. The judge said that is all what is required under Saudi law and the preacher could walk free. The news scandalized Saudis from all walks of life who demanded the preacher be executed. The issue garnered so much publicity that the Saudi regime was forced to intervene and say the preacher would stay in prison. A statement issued by the Saudi Justice Ministry on February 12 said al-Ghamdi remained in prison and the “case was continuing.”</p>
<p style="text-align:justify;">The murdered girl, Lama, had suffered multiple injuries including a crushed skull, broken back, broken ribs, a broken left arm and extensive bruising and burns. Social workers said she had also been repeatedly raped and burnt. The girl’s father, al-Ghamdi, admitted using a cane and cables to inflict the injuries after doubting his five-year-old daughter’s virginity and taking her to a doctor. This was reported by the group, Women to Drive, that leads the campaign challenging the regime’s ban on women driving because according to Saudi preachers, this could lead to immorality!</p>
<p style="text-align:justify;">Saudi Arabia claims to be governed by Islamic Law and that its constitution is the “Qur’an and the Sunnah” yet under the country’s legal system, fathers cannot be executed for murdering their children nor can husbands be executed for murdering their wives. What ayat of the Qur’an and what hadiths say that fathers are permitted to kill their daughters without punishment? The same scandalous exemption exists in the case of husbands killing their wives. Killing daughters, that is, newborn girls, was a common practice in pre-Islamic Arabia because fathers were ashamed of having daughters. Islam put an end to this barbaric practice.</p>
<p style="text-align:justify;">In a ruling, the presiding judge told the prosecution that it could only seek “blood money” from the offender, in this case the murdered girl’s father. The judge refused to sentence him to death saying according to the “law,” he could not do so. Instead, the judge ruled: “Blood money and the time the defendant had served in prison since Lama’s death suffices as punishment.” What kind of law would allow a father to rape his own daughter, break her skull, ribs, back and arm using a cable and yet sentence him to only a few months in prison?</p>
<p style="text-align:justify;">Let us return to the case of the Sri Lankan maid Rizana Nafeek. She was convicted after extracting a confession from her without a translator present to explain to her what she was charged with. Instead, based on this “confession” she was sentenced to death and beheaded by the Saudi regime. The Sri Lankan maid had been in the kingdom only a few weeks and was barely 17 when the incident occurred. The infant’s mother accused her of smothering the child, an allegation Rizana vigorously denied after she understood what she was charged with.</p>
<p style="text-align:justify;">From a poor Sri Lankan family, Rizana came to work as a domestic servant in Saudi Arabia in hopes of earning a decent living to look after her family’s needs back in Sri Lanka. She was sent to the house of the Quthaibis where she was required to look after the infant, feed it, change its diapers, cook food for the family, wash the dishes and clothes as well as clean the house, which was more like a mansion. New to the job and still a minor — under International Law, a person under 18 is considered a minor (Rizana Nafeek was 17 at the time) — she tried her best to fulfill all these chores. One day when she was bottle feeding the infant, it started to choke. She rushed to tell the baby’s mother. When they returned, the baby was not breathing. The mother accused Rizana of choking the baby to death. She had no reason to harm the infant. Yet this became the basis for her trial and subsequent conviction in 2007. Despite frequent appeals to the Saudis including King Abdullah, these went unheeded and Rizana was executed by beheading in January 2013. The life of a poor Sri Lankan maid was not worth much, as far as the Saudis are concerned.</p>
<p style="text-align:justify;">She was given no access to lawyers before her conviction. No translators were provided to explain to her what she was being charged with. Even the Sri Lankan Embassy in Riyadh did not make any serious effort to help her. After all, she was a Muslim — yes, part of the much maligned Muslims worldwide that are up to no good — and not worth spending any time in helping her. The manner in which the Saudi authorities handled Rizana’s case evoked strong criticism from Amnesty International and Human Rights Watch (HRW). These two bodies and others also argued that her execution had breached the UN Convention on the Rights of the Child which Saudi Arabia has ratified. In fact, Saudi Arabia is in breach of violating the rights of its own children as well if they happen to be female, as the case of Lama demonstrates. The Saudis seem to harbour a special grudge against women. It is the only regime in the world that does not allow women to drive.</p>
<p style="text-align:justify;">While the Sri Lankan government did not care much about one of its citizens, a frightened young woman, being brutalized and murdered in a strange land, the American anti-war group, United National Anti-War Coalition (UNAC) launched a petition to lobby the US government to end its special relationship with the Saudi regime and terminate the $60 billion arms deal. UNAC has called for an end to Saudi cruelties and called upon the US government to not sell weapons to this regime.</p>
<p style="text-align:justify;">At its meeting in January, the UNAC Coordinating Committee endorsed the following internet petition to the US president and Congress: “The beheading of domestic worker Rizana Nafeek by the government of Saudi Arabia is the last straw. The regime should be an international pariah. Cancel the $60 billion US-Saudi Arms deal.” (To sign the petition, go to: <a href="http://signon.org/sign/condemn-the-execution?source=c.fwd&amp;r_by=1386477" rel="nofollow">http://signon.org/sign/condemn-the-execution?source=c.fwd&amp;r_by=1386477</a>).</p>
<p style="text-align:justify;">While it is unlikely that the US government would terminate its relationship with the House of Saud given the American elites’ tight links with Saudi rulers, the fact that groups and organizations in the US are beginning to take note of Saudi atrocities is a hopeful sign. It is grassroots mobilization that would build pressure against such tyrannical regimes and force the US government to take notice even if it does not want to. UNAC seems to have a good grasp of the terrible situation in Saudi Arabia. Its statement that accompanied the petition went on: “The gruesome beheading of Rizana Nafeek, carried out by Saudi Arabian authorities, must mark the end of tolerance for the Saudi regime. This kingdom executes people for witchcraft and blasphemy, and lashes women who dare to drive cars. It does not allow the existence of labor unions, but does permit old men to marry children. Political rights are non-existent and demonstrations are put down violently. The regime is a notorious sanctuary for tyrants from Idi Amin of Urganda to Zine Ben Ali of Tunisia.”</p>
<p style="text-align:justify;">According to the British daily, The Guardian, there are currently 45 foreign maids on death row in Saudi Arabia. Most are accused of killing their employers. The Saudis are notorious for mistreating poor domestic servants, whether from Sri Lanka or the Philippines. They often suffer sexual abuse. If they resist, they are accused of all kinds of crimes they have not committed. Often the charge against them is attempted murder that lands them in prison. How many of the 45 foreign maids on death row will end up on the chopping block is anybody’s guess but the fact is the Saudi authorities are quick to punish foreigners even if the evidence against them is weak. It is the word of the Saudi employer or his relatives versus that of a poor domestic servant with little or no legal representation.</p>
<p style="text-align:justify;">Girls from poor families in Sri Lanka, Bangladesh, India and the Philippines are lured by unscrupulous operators with promises of good pay as domestic servants in Saudi Arabia. Many end up being sold into prostitution rings in the kingdom. They cannot even escape because their passports are snatched by “employers” upon arrival in the kingdom. When they are caught, it is these poor girls that are beheaded for “spreading vice,” not the operators or the Saudis that run such rackets. The Saudi rulers have the gall to claim they are following the Qur’an and the Sunnah. May they be judged and punished according to the divine Book!</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/abusalafy.wordpress.com/2678/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/abusalafy.wordpress.com/2678/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abusalafy.wordpress.com&#038;blog=1269412&#038;post=2678&#038;subd=abusalafy&#038;ref=&#038;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abusalafy.wordpress.com/2013/04/08/hukum-islam-versi-salafi-wahabi-saudi-dai-saudi-memperkosa-dan-membunuh-putrinya-yg-masih-balita-dihukum-bebas/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>15</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/9e9f42ee06317a9a9b53f33ec6f955fa?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">abusalafy</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://abusalafy.files.wordpress.com/2013/04/saudi-preacher.gif" medium="image">
			<media:title type="html">Saudi preacher</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://myartikel.files.wordpress.com/2013/03/saudi-preacher.gif?w=300&#38;h=165" medium="image">
			<media:title type="html">Saudi preacher</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Karena Kejahatan, Kekejaman Dan Dosa-dosa Besarnya, Sebelum Matinya, Mu’awiyah Mengalami Gangguan Jiwa!</title>
		<link>http://abusalafy.wordpress.com/2013/03/02/karena-kejahatan-kekejaman-dan-dosa-dosa-besarnya-sebelum-matinya-muawiyah-mengalami-gangguan-jiwa/</link>
		<comments>http://abusalafy.wordpress.com/2013/03/02/karena-kejahatan-kekejaman-dan-dosa-dosa-besarnya-sebelum-matinya-muawiyah-mengalami-gangguan-jiwa/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 02 Mar 2013 05:27:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abusalafy</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kenaifan Kaum Wahhabi]]></category>
		<category><![CDATA[Manhaj]]></category>
		<category><![CDATA[Membantah Ust. Firanda]]></category>
		<category><![CDATA[Mengenal Pemimpin Wahabi]]></category>
		<category><![CDATA[Menjawab Web/Blog Wahabi/Salafy]]></category>
		<category><![CDATA[Wahhabi Versus Ulama Islam]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abusalafy.wordpress.com/?p=2675</guid>
		<description><![CDATA[Persembahan Untuk Para Pemuja Gembong Kaum Munafik! Sulit rasanya menemukan tandingan di antara para tiran dan penguasa kejam untuk kejahatan, dosa-dosa besar, kabâir dan kekejaman-kekejaman yang telah dilakukan Mu’awiyah bi Abi Sufyan selama ia berkuasa, baik selama dua puluh tahun menjadi Gubernur maupun setelah ia merampas kekuasaan dari kaum Muslimin dan menjadi RAJA TIRAN! Dan [&#8230;]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abusalafy.wordpress.com&#038;blog=1269412&#038;post=2675&#038;subd=abusalafy&#038;ref=&#038;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<h2>Persembahan Untuk Para Pemuja Gembong Kaum Munafik!</h2>
<p>Sulit rasanya menemukan tandingan di antara para tiran dan penguasa kejam untuk kejahatan, dosa-dosa besar, <i>kabâir</i> dan kekejaman-kekejaman yang telah dilakukan Mu’awiyah bi Abi Sufyan selama ia berkuasa, baik selama dua puluh tahun menjadi Gubernur maupun setelah ia merampas kekuasaan dari kaum Muslimin dan menjadi RAJA TIRAN! Dan akibat dari bertumpuknya dosa dan kejahatan kemanusiaan yang telah mencabut dari dalam jiwanya sisa-sisa nilai kemanusian maka ia benar-benar telah berpengaruh pada jiwanya. Sebab setiap dosa, khususnya yang mengangkut hak manusia banyak, dan terkhusus lagi yang terkait dengan para Wali Allah dan hamba-hamba kekasih-Nya pasti berpengaruh dalam kestabilan kewarasan jiwa pelakunya!</p>
<p>Para sejarawan Islam melaporkan bahwa menjelang kematianya Mu’awiyah mengalami gangguan jiwa. Ia seakan melihat sesuatu yang menakutkannya. Ia menjerit-jerit ketakutan! Ia mengomel-ngomel dengan kata-kata yang tidak dipahami! Meminta-minta minum, setel;ah diberinya minum berkali-kali namun ia pun tak terpuaskan dahaganya! Sampai-sampai ia tak sadarkan diri, terkadang sehari dan terkadang dua hari baru siuman! Dan setelah siuman ia pun  menjerit-jerit: “Apa urusanku denganmu hai Hujur bin ‘Adiy!!    “Apa urusanku denganmu hai ‘Amr bin Hamq!! “Apa urusanku denganmu hai putra Abu Thalib!!</p>
<p>Imam ath Thabari melaporkan dalam <i>Târîkh</i>-nya,4/241 bahwa Mu’awiyah dalam sakitnya mengalami <i>naffâtsât</i>!</p>
<p>Semua itu adalah akibat dosa dan kejatahannya dalam membangkang dan memberontak kepada Khalifah Ali bin Abi Thalib dan kemudian merampas kekhalifahan dan memaksakan kekuasaanya atas umat Islam dengan tangan besi! Dan juga akibat dari dosa-dosanya dengan membunuh para sahabat dan para Wali Allah seperti Hujur bin Adiy dan kawan-kawan! Mu’awiyah seakan atau boleh jadi menyaksikan ruh-ruh suci dan baying-bayang mereka mengejar-ngejarnya!<span id="more-2675"></span></p>
<p>Ibnu Katsir –yang sangat dikenal membela Mu’awiyah dn bani Umayyah, musuh-musuh Khalifah Ali ra dengan berbagai cara dan dengan seribi satu alas an palsu- telah melaporkan dalam kitab <i>al Bidâyah wa an Nihâyah</i>-nya,8/52 (Cet. Dâr al Hadîts- Cairo) bahwa Ibnu Jarir ath Thabari,4/191meriwayatkan: “Menjelang matinya, Mu’awiyah <i>yugharghir</i>, mengeluarkan suara dari kerongkongannya seakan suara binatang yang sedang disembelih sambil berkata, “Sesungguhnya hariku darimu sangat panjang hai Hujur bin Adiy! Ia ulanginya tiga kali!”</p>
<p>Keterangan serupa juga telah dolaporkan oleh Ibnu al Atsîr dalam al Kâmil-nya,3/338.</p>
<p>Dalam kitab al Futûh-nya Ibnu al A;tsum melaporkan bahwa: Menjelang matinya Mu’awiyah menangis karena apa yang ia alami… dalam sakitnya itu ia menyaksikan banyak hal yang tidak menggembirakannya! Sampai-sampai ia mengoceh seperti ocehan seorang yang sedang sekarat. Ia berkata, ‘Beri aku minum! Beri aku minum! Ia pun minum banyak air tapi tidak terpuaskan rasa hausnya! Bahkan terkadang ia tak sadarkan diri seharian dan terkadang dua hari. Dan ketika ia siuman dari sekaratnya itu ia menjerit-jerit, “Apa urusanku denganmu hai Hujur bin ‘Adiy!!    “Apa urusanku denganmu hai ‘Amr bin Hamq!! “Apa urusanku denganmu hai putra Abu Thalib!!</p>
<p><b>Abu Salafy:</b></p>
<p>Inilah nasin akhir Mu’awiyah si gembong Munafik yang berkuasa secara kejam dan tiran atas umat Islam bak Fir’aun! Karenanya tidaklah heran apabila Nabi Muhammad saw. telah menyebut MU’AWIYAH dalam hadis shahih sebagai FIR’AUN UMAT INI! Dan MU’AWIYAH AKAN MATI DI ATAS KEKAFIRAN DAN KEMUNAFIKAN, seperti disabdakan Nabi Muhammad saw dalam hadis shahihnya pula! (seperti akan kami buktikan satu persatu keshahihan hadis-hadis di atas dalam artikel khusus. Nantikan!)</p>
<p>Dan tentunya siksa Allah yang sangat pedih telah menantinya di alam barzakh dan alam akhirat nanti! Dan Allah Maha Adil, tiada menyamakan kaum munafik dangan kaum Mukmin di dunia maupun di akhirat nanti!</p>
<p><b>Sekilas Tentang Kejahatan  Mu’awiyah Atas Hujr bin Adiy Dkk!</b></p>
<p>Adapun tentang kejahatan Mu’awiyah yang berakhir dengan pembunuhan terhadap Hujur bin Adiy –seorang sahabat mulia Nabi saw. yang dikenal sangat shaleh dan gigih dalam berjuang dan banyak jasanya dalam perjuangan Islam-, ‘Amr bin Hamq dkk. maka akan kami habas secara khusus dalam artikel-artikel kami tentang hal ini. Hanya saja di sini kami ingin sampaikan bahwa pembunuhan keji yang dilakukan Mu’awiyah terhadap Hujur dan kawan-kawan itu dikarenakan Hujur dan kawan-kawan enggan menuruti Mu’awiyah dan aparatnya untuk mencaci dan melaknati Khalifah Ali ra.! Demi keimanan dan kesetiaan mereka kepada Imam mereka; Ali bin Abi Thalib ra mereka rela mempersembahakan nyawa mereka! Semoga Allah meridhai dan merahmati mereka dan mengutuk Mu’awiyah dan semua yang terlibat dalam pembunuhan keji terhadap jiwa-jiwa mukminah pecinta Rasul dan Ahlulbaitnya yang dihormati Allah SWT.</p>
<p>Nantikan paparannya dalam edisi-edisi akan datang <i>insya Allah</i>.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/abusalafy.wordpress.com/2675/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/abusalafy.wordpress.com/2675/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abusalafy.wordpress.com&#038;blog=1269412&#038;post=2675&#038;subd=abusalafy&#038;ref=&#038;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abusalafy.wordpress.com/2013/03/02/karena-kejahatan-kekejaman-dan-dosa-dosa-besarnya-sebelum-matinya-muawiyah-mengalami-gangguan-jiwa/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>45</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/9e9f42ee06317a9a9b53f33ec6f955fa?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">abusalafy</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Telah Terbit Buku Abu Salafy Kedua: &#8220;Ahlussunnah Versus Salafi Wahabi&#8221;</title>
		<link>http://abusalafy.wordpress.com/2013/02/15/telah-terbit-buku-abu-salafy-ahlussunnah-versus-salafi-wahabi/</link>
		<comments>http://abusalafy.wordpress.com/2013/02/15/telah-terbit-buku-abu-salafy-ahlussunnah-versus-salafi-wahabi/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 15 Feb 2013 03:43:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abusalafy</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buku Abu Salafy]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abusalafy.wordpress.com/?p=2648</guid>
		<description><![CDATA[Alhamdulillah, segala puja dan puji bagi Allah SWT. Serta Shalawat dan salam atas Nabi Muhammad Saw, keluarga dan para sahabatnya yang mulya. Dengan senang hati kami informasikan bahwa dengan pertolongan Allah SWT akhirnya kami dapat menyempatkan diri untuk menerbitkan buku kami yang kedua &#8220;Ahlussunnah Versus Salafi Wahabi&#8221; Sampul Depan Buku kecil ini adalah kumpulan artikel [&#8230;]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abusalafy.wordpress.com&#038;blog=1269412&#038;post=2648&#038;subd=abusalafy&#038;ref=&#038;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">Alhamdulillah, segala puja dan puji bagi Allah SWT.</p>
<p style="text-align:justify;">Serta Shalawat dan salam atas Nabi Muhammad Saw, keluarga dan para sahabatnya yang mulya.</p>
<p style="text-align:justify;">Dengan senang hati kami informasikan bahwa dengan pertolongan Allah SWT akhirnya kami dapat menyempatkan diri untuk menerbitkan buku kami yang kedua <em><strong>&#8220;Ahlussunnah Versus Salafi Wahabi&#8221;</strong></em></p>
<p style="text-align:center;"><a href="http://abusalafy.files.wordpress.com/2013/02/cover_depan.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-2651" alt="Cover_Depan" src="http://abusalafy.files.wordpress.com/2013/02/cover_depan.jpg?w=468"   /></a><strong><span style="color:#003366;">Sampul Depan</span></strong></p>
<div style="text-align:justify;">Buku kecil ini adalah kumpulan artikel (tentunya dengan sedikit penyempurnaan) yang kami tulis dalam <a href="http://abusalafy.wordpress.com/" target="_blank">blog kami</a> dalam rentang waktu yang tidak sebentar. Ini adalah buku kedua<strong> AbuSalafy</strong> dan insya Allah akan disusul oleh buku-buku lanjutan.</div>
<div style="text-align:justify;">.</div>
<div style="text-align:justify;">Jika <a href="http://abusalafy.wordpress.com/2009/10/20/telah-terbit-buku-abu-salafy/" target="_blank">buku pertama</a> lebih menyoroti klaim monopoli kebenaran Salafi Wahabi dan doktrin kekerasan dan ekstrimisme, maka buku kedua ini akan <span style="color:#0000ff;"><em>membongkar berbagai sisi kepalsuan klaim Salafi Wahabi bahwa mereka adalah PEWARIS mazhab Salaf Shaleh</em></span>. <span id="more-2648"></span></div>
<div style="text-align:justify;"></div>
<div style="text-align:center;"><a href="http://abusalafy.files.wordpress.com/2013/02/cover_belakang.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-2652" alt="Cover_belakang" src="http://abusalafy.files.wordpress.com/2013/02/cover_belakang.jpg?w=468"   /></a><strong><span style="color:#003366;">Cover Belakang</span></strong></div>
<div style="text-align:justify;"></div>
<div style="text-align:justify;">Semoga kehadiran buku ini dapat menambah khazanah kepustakaan umat islam di tanah air tercinta dan agar seluk beluk mazhab yang mengklaim sebagai kepanjangan dan pewaris tunggal mazhab Salaf Shaleh dapat diketahui dengan jelas sejatinya.</div>
<div style="text-align:justify;">.</div>
<div id="yui_3_7_2_1_1360890110095_35137" style="text-align:justify;">Silahkan mendapatkan buku ini di toko-toko buku terdekat .</div>
<div style="text-align:justify;">.</div>
<div style="text-align:justify;">Selamat Membaca</div>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/abusalafy.wordpress.com/2648/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/abusalafy.wordpress.com/2648/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abusalafy.wordpress.com&#038;blog=1269412&#038;post=2648&#038;subd=abusalafy&#038;ref=&#038;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abusalafy.wordpress.com/2013/02/15/telah-terbit-buku-abu-salafy-ahlussunnah-versus-salafi-wahabi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>45</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/9e9f42ee06317a9a9b53f33ec6f955fa?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">abusalafy</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://abusalafy.files.wordpress.com/2013/02/cover_depan.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Cover_Depan</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://abusalafy.files.wordpress.com/2013/02/cover_belakang.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Cover_belakang</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Akidah Salafi Wahhâbi Tentang Ketinggian Fisikal Allah SWT Adalah Mereka Warisi Dari Akidah Sesat Yahudi! (1)</title>
		<link>http://abusalafy.wordpress.com/2013/02/11/akidah-salafi-wahhabi-tentang-ketinggian-fisikal-allah-swt-adalah-mereka-warisi-dari-akidah-sesat-yahudi-1/</link>
		<comments>http://abusalafy.wordpress.com/2013/02/11/akidah-salafi-wahhabi-tentang-ketinggian-fisikal-allah-swt-adalah-mereka-warisi-dari-akidah-sesat-yahudi-1/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 11 Feb 2013 03:35:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abusalafy</dc:creator>
				<category><![CDATA[Akidah]]></category>
		<category><![CDATA[Akidah Tajsim & Tasybih]]></category>
		<category><![CDATA[Fatwa Pensesatan]]></category>
		<category><![CDATA[Kajian Hadis]]></category>
		<category><![CDATA[Kajian Ibnu Taimiyah]]></category>
		<category><![CDATA[Kenaifan Kaum Wahhabi]]></category>
		<category><![CDATA[Manhaj]]></category>
		<category><![CDATA[Membantah Ust. Firanda]]></category>
		<category><![CDATA[Wahabi dan Pengkafiran Umat Islam]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abusalafy.wordpress.com/?p=2639</guid>
		<description><![CDATA[Persembahan Untuk Ustadz Firanda Dan Para Mujassimûn Dalam mengusung dan mempropagandakan akidah sesat tentang Ketinggian Fisikal Allah di atas langit para penganut Sekte Sempalan Salafi Wahhâbi tidak terkecuali “Sarjana Awam” kebanggaan para pemuda Salafi lokalan; Ustadz Firanda selalu membanggakan sajian para Mujassimah Musyabbihah seperti adz Dzahabi, Ibnu Qayyim al Jauziyah dan guru besar mereka Ibnu [&#8230;]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abusalafy.wordpress.com&#038;blog=1269412&#038;post=2639&#038;subd=abusalafy&#038;ref=&#038;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<h2 style="text-align:justify;"><span style="color:#ff0000;"><b>Persembahan Untuk Ustadz Firanda Dan Para <i>Mujassimûn</i></b></span></h2>
<p style="text-align:justify;">Dalam mengusung dan mempropagandakan akidah sesat tentang Ketinggian Fisikal Allah di atas langit para penganut Sekte Sempalan Salafi Wahhâbi tidak terkecuali “Sarjana Awam” kebanggaan para pemuda Salafi lokalan; Ustadz Firanda selalu membanggakan sajian para Mujassimah Musyabbihah seperti <em>adz Dzahabi, Ibnu Qayyim al Jauziyah</em> dan guru besar mereka <em>Ibnu Taimiyah</em>&#8230; dan apabila Anda kaji dan teliti ternyata argumentasi yang mereka banggakan adalah pemahaman kekanak-kanakan terhadap ayat-ayat Al Qur’an atau hadis-hadis lemah dan bahkan palsu atau hadis-hadis yang tidak ada sangkut pautnya dengan klaim mereka.</p>
<p style="text-align:justify;">Dan yang paling istimewa dari argumentasi mereka adalah bahwa mereka sangat membanggakan dan mengandalkan ucapan dan penukilan para pendeta Yahudi dari kitab mereka; <span style="color:#0000ff;"><em>Taurat</em></span> yang tentunya telah terkontaminasi dan mengalami <i>tahrîf</i> baik dari sisi teks maupun maknanya.<span id="more-2639"></span></p>
<p style="text-align:justify;">Inilah yang dilakukan oleh <span style="color:#0000ff;"><em>adz Dzahabi</em></span> dalam kitab <span style="color:#0000ff;"><i>al ‘Uluw</i></span>-nya yang menjadi kebanggaan Ustadz Firanda pada bagian pertama dari <i>atsar</i>/kutipan dari kalangan Tabi’în adalah <i>atsar</i> dari <strong><span style="color:#0000ff;"><em>Ka’ab al Ahbâr</em></span></strong>, seorang pendeta Yahudi yang mengaku memeluk Islam di masa kekhalifahan Umar bin Khaththâb ra. walaupun banyak sahabat dan Tabi’în yang meragukan kejujuran keislamannya! Adz- Dzahabi menulis sub bab dengan judul: <em>Dzikru Ma ittashala binâ ‘an at Tâbi’în Fî Masalati al ‘Uluw</em>/sebutan tentang apa yang bersambung kepada kami dari para tabi’în tentang ketinggian. dalam sub bab ini ia banyak menyajikan penukilan dari kalangan Yahudi dan tentunya ia mengawalinya dengan menyebut penukilan gembong isrâiliyyât yaitu <em>Ka’ab al Ahbâr</em>!</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Adz Dzahabi berkata:</strong></p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;"><b>280.</b><em> Berkata Abu Shafwân al Umawi Abdullah bin Sa’îd bin Abdul Malik bin Marwân, Yunus bin Yazid menyampaikan hadis kepada kami dari Zuhri dari Ibnu Musayyib dari Ka’ab al Ahbâr, ia berkata, “Allah berfirman dalam Taurat:</em></p>
<h2 style="text-align:right;"><strong><span style="color:#ff0000;">أنا اللهُ فوقَ عبادي ، و عرشِي فوقَ جميعِ خلقِي، و أنا على عرشِي أدَبِّرُ عبادي و لا يخفى عليَّ شيئٌ في السماء و لا في الأرضِ.</span></strong></h2>
<p style="text-align:justify;"><strong><span style="color:#ff0000;"><i>“Akulah Allah di atas hamba-hamba-Ku dan Arsy-Ku di atas seluruh makhluk-Ku dan Aku berada di atas Asry-Ku mengatur hamba-hamba-Ku dan tidaklah samar atas-Ku sesuatu apapun di langit maupun di bumi.</i>”</span></strong></p>
<p style="text-align:justify;">Adz Dzahabi berkata,<span style="text-decoration:underline;"> “Para parawinya adalah <em>tsiqat/jujur</em> terpercaya.”</span></p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;">.</p>
<p style="text-align:justify;"><b>Abu Salafy berkata: </b></p>
<p style="text-align:justify;">Inilah akidah kebanggan kaum Mujassimah yang sekarang diwarisi oleh para penganut sekte Wahhâbi Salafi yang atasnya mereka tak segan-segan <span style="color:#0000ff;"><em>mengkafirkan siapapun yang tidak berakidah seperti akidah mereka!</em></span> Ternyata akidah itu adalah diambil dari seorang pendeta Yahudi yang siang malam aktif meracuni umat Islam dengan ocehan kesesatan ajaran Yahudi yang diatas-namakan Taurat!</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#993300;">Tentu para penbaca masih ingat bagaimana Ustadz Firanda bangkit bak Arab Baduwi kesurupan setan gurun pasir Najd ketika saya (abusalafy) membawakan <i>atsar</i> dari Imam Ali bin Abi Thalir ra., Imam Ali bin Husain ra. dan Imam Ja’far ash Shadiq ra. ia segera mengelaknya dengan mempertnyakan sanadnya dan juga dengan menuduh abusalafy sebagai agen Syi’ah Rafidhah yang menukil dari kitab doa amalan kaum Syi’ah yaitu ash Shahifah as Sajjâdiyah&#8230; <span style="color:#ff0000;">padahal semua juga mengetahui bahwa <i>atasr-atsar</i> itu saya ambil dari kitab-kitab Ahlusunnah! <em>Tetapi anehnya, justeru terbukti bahwa kaum Mujassimah dan rujukan utama mereka adz Dzahabi dalam kitab al ‘Uluw lah yang membangun akidah sesatnya tentang ketinggian Allah di atas langit/Arsy <span style="text-decoration:underline;">berdasarkan penukilan dari seorang pendeta Yahudi!</span></em></span></span></p>
<p style="text-align:justify;">Terlepas dari Ka’ab sebagai seorang yang masih diragukan kejujuran dan kesucian imannya&#8230; ucapannya sama sekali bukan sumber agama. Sebab sumber agama adalah al Qur’an, As Sunnah, Ijmâ’ dan akal sehat! Adapun ucapan manusia biasa yang tidak ma’shum, walaupun ia seorang Sahabat, apalagi seorang mantan pendeta, maka ia bukan hujjah dalam agama! Khususnya dalam masalah-masalah yang sedang diperselisihkan di antara mereka sendiri!!</p>
<h3 style="text-align:justify;"><span style="color:#ff0000;"><b>Bahaya Penukilan Kaum Yahudi</b></span></h3>
<p style="text-align:justify;">Dalam banyak ayat Al Qur’an, Allah telah memperingatkan kita akan bahaya dusta dan kecurangan kaum Yahudi yang sering memutar balikkan firman dan merubah-rubahnya dan kemudian menyajikan firman palsu sebagai firman suci Tuhan. Saya benar-benar heran menyaksikan sikap <span style="color:#0000ff;"><em>adz Dzahabi</em></span> bagaimana ia sudi menjadikan nukilan seorang pendeta Yahudi dari taurat (yang sangat kuat adalah telah mengalami perubahan dalam firman ini) sebagai dalil andalan yang dia banggakan, seperti ia katakan di awal kitabnya setelah membawakan ayat-ayat yang dianggapnya mendukung klaimnya, <i>“Maka jika kamu, wahai hamba Allah berminat untuk obyektif maka berhentilah bersama nash-nash Al Qur’an dan Sunnah, kemudian perhatikan apa yang diucapkan oleh para sahabat dan tabi’în serta para imam tafsir tentang ayat-ayat di atas, dan apa yang mereka kisahkan dari mazhab-mazhab Salaf&#8230; </i></p>
<p style="text-align:justify;"><i>Dan kamu akan menyaksikan ucapan para imam masing-masing berdasarkan tingkatannya setelah menyebutkan hadis-hadis Nabi“ </i></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#0000ff;"><em>Apakah ucapan dan penukilan <span style="color:#ff0000;">Ka’ab al Ahbâr</span> ini yang ia katakan sebagai ucapan para pembesar Tabi’în dan imam Ahli Tafsir? Sungguh memilukan logika kaum Mujassimah yang diwakili oleh adz Dzahabi saat itu dan oleh kaum Wahhâbi dewasa ini!</em></span></p>
<p style="text-align:justify;">Apakah mereka tidak mengindahkan firman Allah SWT dalam Al Qur’an suci-Nya:</p>
<p style="text-align:justify;">.</p>
<h2 style="text-align:right;"><b>وَ إِنَّ مِنْهُمْ لَفَريقاً يَلْوُونَ أَلْسِنَتَهُمْ بِالْكِتابِ لِتَحْسَبُوهُ مِنَ الْكِتابِ وَ ما هُوَ مِنَ الْكِتابِ وَ يَقُولُونَ هُوَ مِنْ عِنْدِ اللَّهِ وَ ما هُوَ مِنْ عِنْدِ اللَّهِ وَ يَقُولُونَ عَلَى اللَّهِ الْكَذِبَ وَ هُمْ يَعْلَمُونَ</b></h2>
<p style="text-align:justify;"><i>“</i><i>Sesungguhnya di antara mereka ada segolongan yang memutar-mutar lidahnya membaca Al Kitab, supaya kamu menyangka yang dibacanya itu sebagian dari Al Kitab, padahal ia bukan dari Al Kitab dan mereka mengatakan:&#8221; Ia (yang dibaca itu datang) dari sisi Allah&#8221;, padahal ia bukan dari sisi Allah. Mereka berkata dusta terhadap Allah, sedang mereka mengetahui.</i><i>”</i><i>(</i><i>QS.Âlu ‘Imrân [3];</i><i>78)</i></p>
<p style="text-align:justify;">Dan:</p>
<h2 style="text-align:right;"><b>فَوَيْلٌ لِّلَّذِيْنَ يَكْتُبُوْنَ الْكِتَابَ بِأَيْدِيْهِمْ ثُمَّ يَقُوْلُوْنَ هَذَا مِنْ عِنْدِ اللهِ لِيَشْتَرُوْا بِهِ ثَمَناً قَلِيْلاً فَوَيْلٌ لَّهُمْ مِّمَّا كَتَبَتْ أَيْدِيْهِمْ وَوَيْلٌ لَّهُمْ مِّمَّا يَكْسِبُوْنَ</b><b></b></h2>
<p style="text-align:justify;"><i>“</i><i>Maka celakalah orang-orang yang menulis kitab dengan tangan mereka sendiri lalu mereka berkata, &#8220;Kitab ini berasal dari sisi Allah&#8221; (dengan tujuan) untuk memperoleh keuntungan yang sedikit dengan perbuatan itu. Maka celaka besarlah mereka akibat apa yang ditulis oleh tangan mereka sendiri dan karena (hasil yang) mereka dapatkan (dari jalan ini).</i><i>” (SQ. 2;79)</i><i> </i></p>
<p style="text-align:justify;">Tentu apa yang dibawakan oleh adz Dzahabi dari Ka’ab al Ahbâr termasuk darinya!</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#0000ff;">Dari kutipan di atas jelaslah bagi kita bagaimana proses menyusupnya isrâiliyyât ke dalam bangunan ideologi Islam dan jelas pula siapa lakon yang berperan aktif menyusupkannya! Yang kemudian melahirkan fahan <i>Tajsîm</i> dan <i>Tasybîh</i> yang sekarang diyakini sebagai akidah Islam oleh Wahhâbi Salafi! Para lakon yang berperang aktif itu tidak lain adalah mantan para pendeta. Seperti Ka’ab al Ahbâr dan kawan-kawan yang berpura-pura memeluk Islam dengan tujuan agar mereka dengan leluasa dapat menyebarkan kesesatan ajaran Yahudi di tengah-tengah kaum Msulimin!</span></p>
<p style="text-align:justify;">Adalah aneh jika memang benar Ka’ab al Ahbâr tulus dalam mengimani agama Islam dan menerima kenabian Rasulullah Muhammad saw., lalu mengapakah ia masih menyebarkan ajaran Yahudinya dan membacakan taurat palsunya kepada kaum Muslimin?! Mengapakah dia sok menjadi Guru Besar umat Islam dengan mengajarkan poin-poin penting dalam akidah?! Bukankah sebagai seorang muallaf sudah seharusnya ia tawâdhu’ dan tau diri untuk mau belajar dan mempelajari ajaran Islam dari para sahabat dan ulama Tabi’în?! Tapi yang kita saksikan dalam sejarah Ka’ab justeru sebaliknya, ia tidak pernah mau belajar ajaran Islam! Dan ia hanya sok jadi Maha Guru dengan mendektekan kitab agama lamanya!! Buknkah ini semua sudah cukup menjadikan kita paling tidak mencurigai motif dibalik ia memeluk Islam secara formal?! Mengapakah ia tidak menjadi seperti sahabat Salman al Farisi yang sejak memeluk Islam dan beriman kepada Nabi Muhammad saw. ia terus bersemanhgat belajar dan secara sungguh-sungguh telah meninggalkan agama lamanya dan tidak mau lagi menoleh ke belakang dengan mengingat-ngingat apalagi mengajarkan agama lamanya kepada kaum Muslimin!!</p>
<p style="text-align:justify;">Selain itu, seperti telah saya singgung, tidak sedikit sahabat Nabi saw. yang meragukan keislamannya!</p>
<p style="text-align:justify;">Sebelum saya akhiri catatan ini saya ingin mengajak Anda merenungkan pernyataan <span style="color:#0000ff;"><em>Ibnu Katsir</em></span> dalam tafsirnya ketika ia menafsirkan ayat 41-44 surah an Naml setelah menukil sebuah riwayat tentang Nabi Saulaiman as. dari riwayat Ibnu Abi Syaibah dan setelah menyebutkan komentar Ibnu Abi Syaibah tentangnya yang berkata, “Alangkah indahnya hadis ini”. Maka <strong>Ibnu Katsir berkata, </strong></p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;"><em><span style="color:#0000ff;">“Aku berkata, ‘Bahkan ia adalah hadis yang sangat munkar lagi gharîb. Mungkin ia termasuk kesalahan-kesalahan ‘Athâ’ bin Saîb dalam menukilnya dari Ibnu Abbas. Allah-lah yang Maha Mengetahui. Dan yang lebih dekat dalam konteks kisah-kisah seperti itu adalah diambil dari Ahlil Kitab dari apa yang ia temukan dalam lembaran-lembaran mereka, <span style="color:#800000;">seperti riwayat Ka’ab</span> <span style="color:#800000;">dan Wahb</span> (bin Munabbih) -semoga saja Allah mengampuni mereka- yang mereka berdua nukil kepada umat Islam dari berita-berita bani Israil berupa kekacauan berat dan berita-berita ganjil serta aneh-aneh dari apa saja yang tidak pernah terjadi dan dari apa-apa yang telah diubah-ubah dan dirusak-rusak serta telah dihapus (dari kitab Taurat). Dan Allah telah mencukupkan kita dari semua kepalsuan itu dengan apa-apa yang lebih shahih dan lebih manfaat serta lebih jelas dan lebih gamblang. Segala puji bagi Allah!” </span><a title="" href="#_ftn1">[1]</a></em></p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;">.</p>
<p style="text-align:justify;"><b>Abu Salafy:</b></p>
<p style="text-align:justify;">Apa yang dikatakan Ibnu Katsir di atas adalah tepat sekali dan patut kita renungkan dan acungi jempol, khususnya dari seorang Ibnu Katsir!</p>
<p style="text-align:justify;">Imam Bukhari dalam kitab Shahih-nya telah menulis sebuah bab dalam <span style="color:#0000ff;"><strong><i>Kitabul I’tishâm bil Kitâb wa as Sunnah</i>/kitab tentang berpegang teguh dengan Al Qur’an dan Sunnah dengan judul:<i> Bab Qaul an Nabi Shallallahu Alaihi wa Alihi Wa Sallama, Lâ tasalû Ahlal Kitâb ‘An Syai&#8217;in</i>/Bab Sabda Nabi saw. ‘Jangan kalian bertanya kepada Ahli Kitab tentang sesuatu apapun!</strong></span></p>
<p style="text-align:justify;">Dan setelah ini semua adalah sangat mengherankan ketika kita saksikan <span style="color:#0000ff;"><em>adz Dzahabi</em></span> menukil dan mengandalkan nukilan seorang <span style="color:#0000ff;"><em>Ka’ab</em></span> yang jelas-jelas menukil dari kitab yang ia sebut dengan taurat (sebab kita umat Islam telah meyakini bahwa taurat yang beredar dewasa itu dan apalagi sekarang adalah telah mengalami perubahan mendasar!) dan yang lebih mengherakan lagi adalah ucapan dan keyakinan az Dzahabi sendiri di akhir keterangannya ketika ia menyebut biodata Ka’ab dalam kitab<i> Siyar A’lâm an Nubalâ’</i>-nya,3/494: <em><strong><span style="color:#0000ff;">“Maka siapakah sekarang yang berani menghalalkan/ membolehkan berhujjah dengan sesuatu nash dari taurat dengan meyakini bahwa ia benar-benar memang dari taurat yang diturunkan?! Tidak! Sama sekali tidak! Demi Allah!”</span></strong></em></p>
<p style="text-align:justify;">.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Abu Salafy:</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Di sini saya pun berkata kepada adz Dzahabi dan para <em>Masyâikh</em> dan sarjana Wahhâbi Salafi, <em><span style="color:#ff0000;">“Tidak! Sekali-kali tidak! Tidak berhujjah dengannya kecuali kaum bangkrut! Dan engkau hai adz Dzahabi serta siapa saja yang berakidah dan berpendapat seperti pendapatmu dan bangga berhujjah dengan bualan para pendeta Yahudi, mengapakah kalian jadi penjaja kesesatan ajaran Yahudi atas nama Islam dan akidah Tauhid?!</span></em></p>
<p style="text-align:justify;">Begitu juga tuanmu, Syeikh Islamnya kaum Mujassimah;<span style="color:#0000ff;"><em> Ibnu Taimiyah</em></span> juga berdalil dan berhujjah dalam menshahihkan hadis dengan bersandar kepada nash palsu taurat! Saya tidak mengatahui apakah kalain mengetahui kenyataan ini atau tidak?!</p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;">Begitu juga dengan para mukallid buta pandahulu kaum Mujassimah, maka seorang Syeikh Wahhâbi Mujassima kental telah menulis sebuah buku konyol dengan judul: <strong><i>‘Aqîdatu Ahlil Îmân Fî Khalqi Âdam ‘Alâ Shûratir Rahmân</i>/Akidah Ahli Iman (kaum Mukminin) tentang Diciptakannya (Nabi) Adam sesuai bentuk Tuhan Yang Maha Rahman</strong>! Di dalamnya pada halaman 76 ia berusaha menetapkan adanya <i>shûrah</i>/bentuk bagi Dzat Allah SWT berdasarkan fatwa Syeikh Islam mereka; Ibnu Taimiyah. Ia berkata,<em> <strong>“Dan juga (sebagai bukti lain kebenaran bahwa Allah punya bentuk_pen) adalah bahwa makna ini (bahwa Allah berbentuk) ada di kalangan Ahli Kitab dari kitab-kitab yang mereka warisi dari para nabi seperti kitab Taurat. Maka di dalam as Sifr pertama dikatakan, </strong><span style="color:#ff0000;"><b><strong>“Kami (Allah) akan menciptakan m</strong>anusia sesuai bentuk kami dan menyerupainya&#8230; “</b> </span></em></p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;">.</p>
<p style="text-align:justify;"><b>Abu Salafy:</b></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#800000;">Wahai umat Islam, coba perhatikan dan renungkan bagaimana kaum Wahhâbi Salafi membangun akidah mereka!</span></p>
<p style="text-align:justify;">.</p>
<p style="text-align:justify;">.</p>
<p style="text-align:justify;"><b>Bani Umayyah Di Balik Peluang Ka’ab Menyebarkan Kesesatan Yahudiyah-nya!</b></p>
<p style="text-align:justify;">Satu catatan lain yang ingin saya katakan di sini adalah bahwa dengan memperhatikan nama-nama perawi bualan Ka’ab di atas adalah nama-nama keluarga besar bani Umayyah –pohon terkutuk dalam Al Qur’an-!</p>
<p style="text-align:justify;">Dari sini kita juga dapat mengerti mengapa para penguasa bani Umayyah sangat antusias menyebarkan kepalsuan akidah Yahudi dan memberikan peluang seluas-luasnya kepada para pendeta seperti Ka’ab agar menyebarkan racun kesesatannya di tengah-tengah umat Islam!</p>
<p style="text-align:justify;">Mu’awiyah sangat membanggakan kedalaman ilmu Ka’ab dan menyesal karena umat Islam kurang memberikan perhatian selayaknya kepada warisan intelektual Ka’ab!</p>
<p style="text-align:justify;">Demikian juga dengan Abdul Malik bin Marwan ketika disebutkan di hadapannya <i>Shakhr</i>/batu yang ada di Baitul Maqdis ia berkata, Ia adalah batu yang Allah meletakkan kaki-Nya di atas batu itu!”</p>
<p style="text-align:justify;">Jadi para penguasa bani Umayyah-lah yang berada di balik penyebaran akidah Tajsim dan <i>Tasybîh</i> yang diwarisi para tokoh Mujassimah seperti Ibnu Taimiyah dan kemudian sekarang diwarisi dan diperjuangkan oleh pengakut Sekte Wahhâbi Salafi!</p>
<p style="text-align:justify;">Renungkan kenyataan ini jika Anda menginkan kebenaran!</p>
<p style="text-align:justify;">.</p>
<p style="text-align:justify;"><b>Riwayat Kedua Ka’ab al Ahbâr</b></p>
<p style="text-align:justify;">Selain riwayat konyol di atas yang menjadi kebanggan pengikut sekte Wahhâbi, <span style="text-decoration:underline;"><span style="color:#0000ff;text-decoration:underline;"><em>adz Dzahabi</em></span></span> <span style="text-decoration:underline;">juga menukil dengan bangga riwayat penukilan lain dari Ka’ab yng jauh lebih konyol dan menunjukkan kesesatan akidah <i>Tajsîm</i> dan <i>Tasybîh</i></span> yang menjadi akidah unggulan Sekte Wahhâbi, <span style="color:#0000ff;"><em>yang sampai-sampai demikian “gilanya” riwayat itu, adz Dzahabi sendiri terpaksa menyensor bagian “gila” itu dari riwayat tersebut dan dengan terpaksa ia pun mengakui kemunkaran dan dan “kegilaan” teks dan kandungannya</em>.</span></p>
<p style="text-align:justify;">Dalam riwayat dengan nomer: <b>281:</b></p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;"><em>Abu Syeikh meriwayatkan dalam kitab <span style="color:#0000ff;">al ‘Adzamah</span>-nya<a title="" href="#_ftn2">[2]</a>, &#8230;. bahwa Zaid bin Aslam menyampaikan hadis kepadanya dari ‘Athâ’ bin Yasâr, ia berkata, “Datang seorang menemui Ka’ab ketika ia bersama sekumpulan orang lalu ia berkata, ‘Wahai Abu Ishaq (sapaan Ka’ab_pen), sampaikan kepadaku tentang Dzat Yang Maha Jabbâr/Perkasa -Azza wa jalla-, maka orang-orang pun menganggap besar apa yang ia minta dari Ka’ab. Maka Ka’ab berkata, ‘Biarkan orang itu! Sesungguhnya jika ia seorang yang jahil maka ia akan belajar dan jika ia seorang yang alim maka ilmunya akan bertambah!</em></p>
<p style="text-align:justify;"><em>Aku akan beritahu kepadamu. <b><span style="color:#ff0000;">Sesungguhnya Allah menciptakan langit-langit dan sejumlah itu pula Allah mencipta bumi. Lalu Dia menjadikan jarak antara setiap dua langit seperti jarak antara langit dunia dan bumi. Dan Dia menjadikan tebalnya seperti itu. Kemudian Dia mengangkat Arsy lalu Dia bersemayam di atasnya. Dan tiada satu langit pun dari langit-langit itu melainkan berbunyi seperti bunyi rahl/kursi/tempat duduk yang di letakkan di atas punggung onta atau kuda) ketika awal dinaiki&#8230;.</span> </b></em></p>
<p style="text-align:justify;">Sampai di sini adz Dzahabi menyensor perkataan Ka’ab dan mengatakan: <em><span style="color:#ff0000;">Dan Ka’ab menyebut kalimat yang munkar yang tidak pantas bagi kita. <span style="text-decoration:underline;"><strong>Sanad riwayat ini bersih&#8230;.</strong></span></span></em></p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;">.</p>
<p style="text-align:justify;"><b>Abu Salafy:</b></p>
<p style="text-align:justify;"><i>Subhanallah</i>! Inilah akhir dari seorang yang dalam akidahnya mengandalkan ajaran peninggalan para pendeta Yahudi seperti Ka’ab. Para pendeta itu pasti akan meracuni pikiran umat Islam dengan kepalsuan dan sampah akidah sesat agama Yahudi yang telah dipalsukan para pendetanya!</p>
<p style="text-align:justify;">Tahukan Anda wahai sahabat Abu Salafy, kalimat apa yang disebarkan Ka’ab –si pendeta Yahudi yang berpura-pura memeluk Islam itu-? Yang sampai-sampai adz Dzahabi sendiri malu menyebutkannya?!</p>
<p style="text-align:justify;">Ka’ab mengatakan bahwa suara yang terdengar dari langit-langit itu yang menyerupai suara kursi atau tempat duduk yang karena beratnya beban berbunyi krieeet&#8230; krieeet!  Ya suara itu akibat bobot berat Dzat Allah! Ka’ab melanjutkan:</p>
<p style="text-align:justify;">.</p>
<h2 style="text-align:right;"><span style="color:#ff0000;">مِنْ ثِقَلِ الجبارِ فَوقَهُنَّ    </span></h2>
<p style="text-align:left;"><em>&#8220;&#8230; dikarenakan beratnya Dzat Yang Maha Jabbâr yang duduk/bersemayam di atasnya!”</em></p>
<p style="text-align:justify;">.</p>
<p style="text-align:justify;">Inilah akidah kalian wahai Wahhâbi Salafi betapapun kalian berusaha mengelabui umat Islam, namun tetap saja kalian tidak mampu menyembunyikan akidah sesat ini, karena memang sudah sangat kental dengan bangun akidah kalian!</p>
<p style="text-align:justify;">Abu Salafy menyarankan mestinya dahulu, para Tabi’în segera setelah mendengar mulut busuk Ka’ab menyebarkan virus beracun akidah Yahudi ini, atau bahkan sebelum ia sempat menyelasaikan bualan sesatanya itu mereka langsung memukul mulut pembual itu dengan batu karas sehingga ia mendapat pelajaran yang tak akan pernah ia lupakan sepanjang hidupnya!</p>
<p style="text-align:justify;">Saya tidak habis pikir bagaimana generasi Tabi’în yang sangat dibanggakan para Wahhâbi Salafi itu memberikan peluang bagi si Pendeta Yahudi itu untuk menjajakan ajaran sesatnya di tengah-tengah mereka sementara Al Qur’an dengan tegas memperingatkan umat Islam agar hati-hati dari kesesatan kaum Yahudi! Dan di tengah-tengah mereka ada para sahabat dan anak-anak para sahabat yang telah menerima akidah suci dari sumber terpercaya yaitu Al Qur’an dan Sunnah Nabi saw.?!</p>
<p style="text-align:justify;">Sungguh mengherankan bagaimana mereka mengizinkan Ka’ab dan para pendeta lainnya untuk meracuni pikiran umat Islam sementara mereka melarang umat Islam untuk mengucapkan radhiyallah ‘anhu/semoga Allah meridhainya untuk Sayyidina Ali –<i>karramallahu wajhahu</i>-</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#ff0000;">Sungguh akidah sesat ini sama sekali tidak layak diabadikan oleh seorang Muslim berakal waras, apalagi mengandalkannya dalam membangun akidah yang mereka namakan dengan akidah Islam!!</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#ff0000;">Dan inilah kualitas <em>atsar</em> dan dalil andalan adz Dzahabi dan kaum Wahhabi Mujassim yang dibanggakan Ustadz Firanda dan ia wasiatkan agar kaum Muslimin membaca dan menelannya mentah-mentah!</span></p>
<p style="text-align:justify;">Semoga kenyataan ini dapat menyadarkan kita akan bahayanya isrâiliyyât yang banyak tersebar dalam kitab-kitab khususnya dalam kitab-kitab akidah kaum Mujassimah Musyabbihah yang dibanggakan kaum Wahhâbi Salafi termasuk sarjana-sarjana awam setengah intelek yang hanya pandai menelan mentah-mentah sajian beracum para masyâikh Wahhâbi Arab sana!</p>
<p style="text-align:justify;">Semoga kita semua diselamatkan dari kesesatan akidah <i>Tajsîm</i> <i>Tasybîh</i> kaum Wahhâbi Salafi!<b></b></p>
<p style="text-align:justify;"><b>(Bersambung Insya Allah)</b></p>
<div style="text-align:justify;">
<hr align="left" size="1" width="33%" />
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref1">[1]</a> Tafsir Ibnu Katsîr,3/379.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref2">[2]</a> Riwayat ini dapat Anda baca dalam kitab <i>al ‘Adzamah</i>:91 riwayat nomer:236.<b>   </b><b></b></p>
</div>
</div>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/abusalafy.wordpress.com/2639/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/abusalafy.wordpress.com/2639/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abusalafy.wordpress.com&#038;blog=1269412&#038;post=2639&#038;subd=abusalafy&#038;ref=&#038;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abusalafy.wordpress.com/2013/02/11/akidah-salafi-wahhabi-tentang-ketinggian-fisikal-allah-swt-adalah-mereka-warisi-dari-akidah-sesat-yahudi-1/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>34</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/9e9f42ee06317a9a9b53f33ec6f955fa?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">abusalafy</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Tanggapan Atas Ustadz Firanda dalam buku “Ketinggian Allah Di Atas Makhluk-Nya” (5)</title>
		<link>http://abusalafy.wordpress.com/2013/02/02/tanggapan-atas-ustadz-firanda-dalam-buku-ketinggian-allah-di-atas-makhluk-nya-5/</link>
		<comments>http://abusalafy.wordpress.com/2013/02/02/tanggapan-atas-ustadz-firanda-dalam-buku-ketinggian-allah-di-atas-makhluk-nya-5/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 02 Feb 2013 02:33:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abusalafy</dc:creator>
				<category><![CDATA[Akidah]]></category>
		<category><![CDATA[Akidah Tajsim & Tasybih]]></category>
		<category><![CDATA[Bantahan & Tanggapan]]></category>
		<category><![CDATA[Fatwa Pensesatan]]></category>
		<category><![CDATA[Kajian Hadis]]></category>
		<category><![CDATA[Kajian Ibnu Taimiyah]]></category>
		<category><![CDATA[Kenaifan Kaum Wahhabi]]></category>
		<category><![CDATA[Kepalsuan Ibnu Taimyah]]></category>
		<category><![CDATA[Manhaj]]></category>
		<category><![CDATA[Membantah Ust. Firanda]]></category>
		<category><![CDATA[Menjawab Web/Blog Wahabi/Salafy]]></category>
		<category><![CDATA[Wahabi dan Pengkafiran Umat Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Wahabi-Salafy Meresahkan Ummat]]></category>
		<category><![CDATA[Wahhabi Versus Ulama Islam]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abusalafy.wordpress.com/?p=2626</guid>
		<description><![CDATA[Membongkar Kepalsuan Akidah Salafi Wahhâbi Tentang Ketinggian Fisikal Allah SWT Di Atas Makhluk-Nya Selain keterangan para ulama besar Ahlusunnah dalam artikel sebelumnya, coba Anda perhatikan keterangan-keterangan para ulama di bawah ini, sebagai bukti lanjutan kepalsuan klaim lugu (baca: dungu) Ustadz Firanda bahwa akidah konyol ala Salafi Wahhâbi adalah akidah Islam yang telah disepakati ulama Ahlusunnah [&#8230;]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abusalafy.wordpress.com&#038;blog=1269412&#038;post=2626&#038;subd=abusalafy&#038;ref=&#038;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<h2><span style="color:#ff0000;"><strong>Membongkar Kepalsuan Akidah Salafi Wahhâbi Tentang Ketinggian Fisikal Allah SWT Di Atas Makhluk-Nya</strong> </span></h2>
<p style="text-align:justify;">Selain keterangan para ulama besar Ahlusunnah dalam artikel sebelumnya, coba Anda perhatikan keterangan-keterangan para ulama di bawah ini, sebagai bukti lanjutan kepalsuan klaim lugu (baca: dungu) Ustadz Firanda bahwa akidah konyol ala Salafi Wahhâbi adalah akidah Islam yang telah disepakati ulama Ahlusunnah wal Jamâ’ah.</p>
<p style="text-align:justify;"><b>Keterangan Imam Abu Abdillah al Abi al Maliki </b></p>
<p style="text-align:justify;">Dalam syarahnya atas kitab Shahih Muslim ketika beliau menerangkan hadis Nuzûl, beliau berkata:<span id="more-2626"></span></p>
<blockquote>
<h2 style="text-align:right;"><b>والمجسمة القائلون بالجهة يمرون ذلك على ظاهره ، ويحتجون به لمذهبهم ، ويثبتون لله تعالى جهة فوق ، وهو فوق العرش ، ويجعلون النزول حقيقة ، حتى أنّ بعض غلاتهم نزل من إدراج كرسيه وقال : هكذا تمشى للنزول المذكور في الحديث ، تعالى الله عن ذلك لاستحالة الحركة في النقلة عليه سبحانه وتعالى ، ثم الأظهر من قول أهل الحق التأويل ، وهو اختيار الإمام</b><b></b></h2>
<p style="text-align:justify;"><em>“Dan kaum Mujassimah yang berkeyakinan bahwa Allah berada di sebuah lokasi memaknai hadis ini secara leterlek, dengannya mereka membela mazhab mereka dan mereka menetapkan bagi Allah sisi atas yaitu di atas Arsy. Mereka memaknai nuzûl/turun sebagai apa adanya, sampai-sampai sebagian Ekstrimis mereka (memperagakan) turun dari tangga kursi dan berkata, ‘Demikianlah turun Allah yang dimaksud dalam hadis ini. <span style="color:#0000ff;"><strong>Maha suci Allah dari hal tersebut karena mustahil bagi Allah SWT “GERAK dalam keberpindahan”</strong></span>. Kemudian yang nyata dari pendapat/sikap Ahlil haq adalah menakwil (hadis-hadis nuzûl dan yang semisalnya_pen). Dan pendapat ini adalah yang dipilih oleh Sang Imam (al Asy’ari).”</em></p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;"><em>Lalu setelahnya beliau berhujah dengan menyebut keterangan berharga Imamul Haramain al Juwaini dalam kitab al Irsyâd-nya</em>.<a title="" href="#_ftn1">[1]</a></p>
<p style="text-align:justify;">.</p>
<p style="text-align:justify;"><b>Abu Salafy:</b></p>
<p style="text-align:justify;">Inilah akidah Ahlusunnah tentang Ketidak-butuhan Allah kepada tempat apapun namanya dan di manapun dia. Dan dalam menyajikan akidah suci ini para ulama telah memaparkan berbagai bukti aqliah dan sejalan dengan kesucian Tauhid Al Qur’an dan jauh dari khurafat Ahli Kitab yang bekerja siang malam untuk menyusupkan akidah sesatnya di tengah-tengah umat melalui para pendeta yang berpura-pura memeluk Islam&#8230; dan akhirnya sebagian dari umat Islam, karena kurangnya akal sehat, mereka tertipu dengannya dan mempercayainya sebagai akidah Tauhid yang di ajarkan Islam&#8230; mereka menelan mentah-mentah hadis/riwayat dan kemudian memaknainya dengan mengandalkan akal-akal yeng telah dicemari oleh syubhat-syubhat Ahli Kitab yang merusak!</p>
<p style="text-align:justify;">Setelahnya, Anda saya ajak menyimak keterangan Imam al Baihaqi di bawah ini.</p>
<p style="text-align:justify;"><b>Keterangan Imam al Hâfidz Abu Bakar al Baihaqi</b></p>
<p style="text-align:justify;">Dalam kitab <i>al Asmâ’ wa at Tauhîd</i>-nya, Imam <strong>al Baihaqi berkata:</strong></p>
<h2 style="text-align:right;"><b>وفيما كتب إليّ الأستاذ أبو منصور بن أبي أيوب : أنّ كثيراً من أصحابنا ذهبوا إلى أنّ الاستواء هو القهر والغلبة ، ومعناه أنّ الرحمن غلب العرش وقهره ، وفائدته الإخبار عن قهره مملوكاته ، وأنها لم تقهره ، وإنما خص العرش بالذكر ، لأنه أعظم المملوكات ، فنبه بالأعلى على الأدنى </b><b></b></h2>
<h2 style="text-align:right;"><b> </b><b>والإستواء بمعنى القهر والغلبة شائع في اللغة ، كما يُقال استوى فلان على الناحية إذا غلب أهلها ، وقال الشاعر في بشر بن مروان</b><b>:</b><b></b></h2>
<h2 style="text-align:right;" align="center"><b>قد استوى بشر على العراق من غير سيف ودم مهراق</b><b></b></h2>
<h2 style="text-align:right;"><b> </b><b>يريد أنه غلب أهله من غير محاربة &#8230;.</b></h2>
<p style="text-align:justify;">“Dan pada apa yang ditulis al Ustâdz Abu Manshûr bin Abi Ayyûb: Bahwa sesungguhnya banyak di antara para ulama kami berpendapat bahwa yang dimaksud dengan <em>Istiwâ’</em> adalah <i>al Qahru wa al Ghalabah</i>/menguasai dan menaklukan. Dan maknanya adalah: <em>Allah Dzat Yang Maha Rahmân telah menaklukkan dan mengalahkan Asry</em>. Faidah dari ungkapan ini adalah pemberitauan bahwa Allah telah menguasai seluruh makluk/milik-Nya dan mereka tidaklah sekali-kali mengalahkan-Nya. Di sebutnya Arsy secara khusus karena dia adalah makhluk ciptaan-Nya yang paling agung. Dengan menyebutkan yang paling tinggi untuk menunjukkan makhluk yang lebih rendah darinya (pun pasti telah dikuasainya)</p>
<p style="text-align:justify;">Beliau menambahkan: Dan penyebutan kata istiwâ’ dengan arti menguasai dan menaklukkan banyak ditemukan dalam penggunaan, seperti contoh:</p>
<h2 style="text-align:right;"><strong>استوى فلان على الناحية</strong></h2>
<p style="text-align:justify;"><em>Si polan telah beristiwâ atas penjuru/daerah tertentu. Artinya ia telah menaklukkannya.</em></p>
<p style="text-align:justify;">Seorang pujangga Arab bersyair tentang Busyri bin Marwân:</p>
<h2 style="text-align:right;" align="center"><strong>قد استوى بشر على العراق من غير سيف ودم مهراق</strong></h2>
<p style="text-align:justify;" align="center"><i>Ia telah beristiwâ’ atas negeri Irak tanpa hunusan pedang dan darah tercucur</i></p>
<p style="text-align:justify;">Maksudnya, ia telah menaklukkan negeri Irak tanpa peperangan.<a title="" href="#_ftn2">[2]</a></p>
<p style="text-align:justify;">.</p>
<p style="text-align:justify;"><b>Abu Salafy:</b></p>
<p style="text-align:justify;">Melalui keterangan yang beliau kutip dari Guru besar Abu Ayyûb yang membimbing pemaknaan yang benar secara bahasa dan berlaku dalam penggunaan orang-orang Arab yang fashih tentang makna kata <i>istawâ</i>.</p>
<p style="text-align:justify;">Jadi menafsirkan ayat <i>Istiwâ’</i> dengan makna menguasai dan menaklukkan bukanlah tafsir yang mengada-ngada dan tidak berbasis bahasa Arab yang kental! Tidak seperti anggapan kaum Mujassimah Musyabbihah dan para pengikut sekte Wahhâbi yang membebek kepada mereka bahwa kata <i>istawâ</i> hanya dapat diartikan duduk/bersemayam. Dan Allah bersemayam/duduk di atas Arsy-Nya! Maha Suci Allah dari pensifatan kaum jahil!</p>
<p style="text-align:justify;"><b>Keterangan Syihâbuddîn bin Jahbal al Kilâbi</b></p>
<p style="text-align:justify;">Imam Tâjuddîn <span style="color:#0000ff;"><em>as Subki</em></span> dalam kitab <i>Thabaqât asy Syâfi’iyyah al Kubrâ</i>-nya menyebutkan bahwa Ahmad bin Yahya bin Ismail al Halabi telah menulis sebuah buku khusus yang menafikan <i>jihah</i> bagi Allah. Beliau berkata, ‘Aku perhatikan buku karyanya tentang penafian <i>jihah</i> sebagai bantahan atas Ibnu Taimiyah, buku itu lumayan bagus.’<a title="" href="#_ftn3">[3]</a></p>
<h3 style="text-align:justify;">.</h3>
<h3 style="text-align:justify;"><strong>Dan di antara yang beliau sebutkan dalam buku bantahan atas Ibnu Taimiyah itu adalah sebagai berikut:</strong></h3>
<p>.</p>
<blockquote>
<h2 style="text-align:right;"><strong>فالذي دعا إلى تسطير هذه النبذة ما وقع في هذه المدة ، مما علقه بعضهم في إثبات الجهة ، واغتر بها من لم يرسخ له في التعليم قدم ، ولم يتعلق بأذيال المعرفة ، ولا كبحه لجام الفهم ، ولا استبصر بنور الحكمة ، فأحببت أنْ أذكر عقيدة أهل السنة والجماعة</strong></h2>
<p style="text-align:justify;"><em>“Yang mendorong ditulisnya buku kecil ini adalah apa yang terjadi dewasa ini yaitu apa yang ditorehkan oleh sebagian orang dalam menetapkan jihah/arah (bagi Dzat Allah SWT). Dan telah tertipu dengannya sebagian orang yang tidak kokoh pendirian akidahnya, tidak bergantung kepada tali pengetahuan dan tidak dikekang oleh kendati pemahaman yang lurus serta tidak berpetunjuk dengan cahaya hikmah. Maka saya ingin menyebutkan akidah Ahlusunnah wal Jamâ’ah tentangnya&#8230; (Lalu setelahnya beliau memaparkan akidah Ahlusunnah dalam menafikan jihah bagi Allah SWT)</em>.<a title="" href="#_ftn4">[4]</a></p>
</blockquote>
<p>.</p>
<p>Dan kemudian beliau berkata:</p>
<blockquote>
<h2 style="text-align:right;"><strong>مذهب الحشوية في إثبات الجهة مذهب واه ساقط ، يظهر فساده من مجرد تصوره ، حتى قالت الأئمة : لولا اغترار العامة بهم لما صُرف إليهم عنان الفكر ، ولا قطَر القلم في الرد عليهم ، وهم فريقان ، فريق لا يتحـاشى في إظهـار الحشـو  وَيَحْسَبُونَ أَنَّهُمْ عَلَى شَيْءٍ أَلاَ إِنَّهُمْ هُمْ الْكَاذِبُونَ  ، وفريق يتستر بمذهب السلف لسحت يأكله أو حطام يأخذه أو هوى يجمع عليه الطُغام الجهلة ، والرعاع السفلة ، لعلمه أنّ إبليس ليس له دأب إلا خذلان أمة محمد صلى الله عليه (وآله) وسلم ، ولذلك لا يجمع قلـوب العـامـة إلا على بــدعـة وضـلالـة ، يهـدم بهـا الـدين ، ويُفسـد بها اليقين</strong></h2>
<p style="text-align:justify;"><em>“Mazhab Hasyawiyah dalam masalah menetapkan arah/lokasi (bagi Allah) adalah <strong><span style="color:#ff0000;">mazhab/pendapat yang rapuh dan gugur</span></strong>. Kerusakannya tanpak dari sekedar membayangkannya saja. Sampai-sampai para imam berkata, ‘Andai bukan karena ketertipuan kaum awam kepada mereka pastilah kendali pikiran tidak perlu diarahkan untuk menggubris mereka, dan tidaklah pena mengalirkan tintanya untuk membantah mereka. <span style="color:#0000ff;">Mereka ada dua kelompok; satu kelompok yang tidak segan-segan menampakkan akidah ngawurnya, “&#8230; dan mereka menyangka bahwa sesungguhnya mereka akan memperoleh suatu (manfaat) .</span> <span style="color:#0000ff;">Ketahuilah, bahwa sesungguhnya merekalah orang- orang pendusta.”</span> <span style="color:#0000ff;">Dan satu kelompok lain bersembunyi di balik Mazhab Salaf,</span> demi harta haram yang akan mereka makan atau harta dunia yang mereka ambil atau hawa nafsu yang dengannya mereka menyatukan kaum preman yang jahil dan orang-orang rendahan, karena kelompok ini tau bahwa Iblis tidak punya cita-cita kecuali menyesatkan umat Muhammad saw., karenanya ia tidak menyatukan hati-hati kaum awam kecuali di atas bid’ah dan kesesatan dengannya agama dihancurkan dan keyakinan dirusak&#8230;.</em></p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;">.</p>
<p style="text-align:justify;">Kemudian ia menambahkan ketika membantah Ibnu Taimiyah yang tidak henti-hentinya mensifatinya sebagai si Mujassim:</p>
<p style="text-align:justify;">.</p>
<blockquote>
<h2 style="text-align:right;"><strong> من قال إنّ الله في جهة العلو ؟ وأنّ الإشارة الحسية إليه جائزة ؟ فإنْ قال هذه طريقة السلف وطريقة الصحابة قلنا : من أين لك هذا ؟ ثم لا تأمن من كل مبتدع أنْ يدعي ذلك .</strong></h2>
<p style="text-align:justify;"><em>Siapa berkata bahwa Allah itu belokasi di sisi atas? Dan bahwa isyarat/menunjuk Allah secara fisikal itu boleh dilakukan?</em></p>
<p style="text-align:justify;"><em>Jika ia berkata, ‘Inilah jalan/pendapat Salaf dan para sahabat.’ Maka kami akan katakan (dalam membantahnya), ‘Dari mana mungkin kamu membuktikan klaim itu?!’ selain itu, kamu tidak merasa aman dari setiap pembid’ah juga akan mengklaim hal yang sama</em>.<a title="" href="#_ftn5">[5]</a></p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;">.</p>
<p style="text-align:justify;">Imam as Subki menegaskan bahwa akidah sesat mereka itu sebenarnya diambil dari murid-murid kaum Yahudi, kaum Musyrik dan penganut agama Shabiah. Dan di kalangan umat Islam yang pertama memunculkan akidah sesat ini adalah <span style="color:#0000ff;"><em>Ja’d bin Dirham</em></span> dan darinya diambil oleh <span style="color:#0000ff;"><em>Hajm bin Shofwân</em></span> dan mensohorkannya sehingga akidah ini diidentikkan dengannya.</p>
<p style="text-align:justify;">.</p>
<p style="text-align:justify;">Imam as Subki juga menambahkan dalam bantahannya atas Ibnu Taimiyah:</p>
<blockquote>
<h2 style="text-align:right;"><strong>ونقل عن ابن خزيمة أنّ من لم يقبل أنّ الله فوق سماواته ، بائن من خلقه وجب أنْ يُستتاب ، فإنْ تاب وإلا ضربت عنقه ، ثم أُلقي على مزبلة لئلا يتأذى به أهل القبلة وأهل الذمة ، فيقال له : الجواب عن مثل هذا قد تقدم ، على أنّ ابن خزيمة قد علم الخاص والعام حديثه في العقائد ، والكتاب الذي صنفه في التوحيد ، ورد الأئمة عليـه أكثر من أنْ يُذكـر ، وقولهـم فيـه فيما قاله هو في غيره معروف .</strong></h2>
<p style="text-align:justify;"><em>“Dia menukil dari <span style="color:#0000ff;">Ibnu Khuzaimah</span> ucapannya, <span style="color:#0000ff;">“Sesiapa yang tidak menerima bahwa Allah berlokasi di atas laingit-langit-Nya, terpisah dari ciptaan-Nya <span style="color:#ff0000;">maka wajib untuk diminta bertaubat</span>, jika ia bertaubat maka selesailah urusannya, tapi <span style="color:#ff0000;">jika tidak maka wajib dipenggal kepalanya lalu dilempar ke tempat sampah</span> agar umat Islam dan Ahli Dzimmah tidak terganggu.</span> Maka jawaban atasnya dan yang semisalnya adalah telah lewat. Selain itu, Ibnu Khuzaimah telah diketahui baik oleh kaum khusus/ulama maupun oleh kaum awam bagiamana penyimpangannya dalam akidah. Kitab karyanya tentang tauhid dan bantahan ulama agung terhadapnya telah banyak untuk perlu diuraikan di sini dan pendapat para imam terhadapnya dalam apa-apa yang ia ucapkan dalam selain kitab itu juga sudah ma’ruf.</em>”<a title="" href="#_ftn6">[6]</a></p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;">.</p>
<p style="text-align:justify;">Beliau melanjutkan:</p>
<blockquote>
<h2 style="text-align:right;"><strong>وحكى عن عبد القادر الجيلي أنه قال : الله بجهة العلو مستو على عرشه ، فليـت شعـري !! لـم احتـج بكـلامه وتـرك جعفر الصادق (ع) والشبلي والجنيد وذي النون المصري وجعفر بن نصير وأضرابهم رضي الله عنهم ؟؟!! ،</strong></h2>
<p style="text-align:justify;"><em>“Dia menukil dari Abdul Qadir al Jîli (al Jîlâni) bahwa ia berkata, ‘Allah berada di sisi/lokasi atas bersemayam di atas Arsy-Nya.’ Duhai alangkah anehnya orang itu (Ibnu Taimiyah), bagaimana ia berhujjah dengan ucapannya (Abdul Qadir al Jîlâni) sementara itu ia meninggalkan Ja’far ash Shadiq as., asy Syibli, Junaid, Dzun Nûn al Mishri, Ja’far bin Nushair dan para tokoh semisal mereka semoga Allah meridhai mereka.?!</em></p>
</blockquote>
<p>.</p>
<p>Dan akhirnya beliau menegaskan:</p>
<blockquote>
<h2 style="text-align:right;"><strong>وكلمات علماء السنة الذين لم يقبلوا كلام الحنابلة في العلو كثيرة جداً ، ولازم كلام بعض الحنابلة الذي حكم بكفر هؤلاء وممن صرح بذلك من وصفوه بإمام الأئمة محمد بن إسحاق بن خزيمة أنْ يحكم بكفر علماء السنة الذين أنكروا القول بالعلو كالحافظ ابـن حجر العسقلاني وأضرابه .</strong></h2>
<p style="text-align:justify;"><em>“Dan perkataan para ulama Ahlusunnnah yang menolak pendapat kaum Hanâbilah yang menetapkan sisi/arah atas (bagi lokasi Allah) sangatlah banyak sekali. Dan konsekuensi ucapan sebagian ulama Hanâbilah yang menvonis KAFIR mereka, dan di antara yang berterang-terangan dalam mengkafirkan atas dasar akidah di atas adalah orang yang mereka sifati dengan Imamnya para imam; <span style="color:#ff0000;">Muhammad bin Ishaq bin Khuzaimah</span>&#8230; konsekuensi darinya adalah <span style="color:#ff0000;"><strong>KAFIRNYA para ulama Ahlusunnah</strong></span> yang menolak akidah keberadaan Allah di sisi atas, seperti <span style="color:#0000ff;">al Hafidz Ibnu Hajar al Asqallâni</span> dan yang semisalnya</em>.<a title="" href="#_ftn7">[7]</a></p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;">.</p>
<p style="text-align:justify;"><b>Catatan Penting!</b></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#800000;"><em>Apa yang dinukil atas nama Ibnu Khuzaimah seperti di atas dan juga yang pernah saya sebutkan dalam salah satu artikel sebelumnya adalah penukilan/penisbatan yang tidak shahih.</em></span> Tetapi para ulama Ahlusunnah ketika menukil ucapan itu bisa jadi karena kaum Mujassimah membenarkannya, maka konsekuensi darinya adalah seperti di atas, pengafiran para ulama Ahlusunnah! <span style="color:#800000;"><em>Insya Allah pada bagian lain dari tanggapan saya atas Ustadz Firanda  akan saya buktikan kepalsuan penukilan atas nama Ibnu Khuzaimah itu</em></span>. Nantikan!</p>
<p style="text-align:justify;">.</p>
<p style="text-align:justify;"><b>Abu Salafy:</b></p>
<p style="text-align:justify;">Dan keterangan tiga ulama besar Ahlusunnah di atas akan semakin menambah panjang <span style="text-decoration:underline;"><span style="color:#800000;"><em>daftar bukti kenaifan klaim Ustadz Firanda bahwa Akidah Keberadaan Allah di atas Arsy atau Kertinggian fisikan Allah di atas makhluk-Nya adalah akidah yang telah diijma’kan para ulama Islam!</em></span></span></p>
<p style="text-align:justify;">Sebab keterangan para ulama di atas benar-benar telah memporak-porandakan klaim ijma’ Ustadz Firanda tersebut dan menjadikannya bak secuil kapas yang dihempas aingin topan kencang.</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="text-decoration:underline;color:#800000;"><em>Dan dengan menyebut keterangan tiga ulama Ahlusunnah di atas saya akhiri sajian pembuktian saya atas kepalsuan klaim Ustadz Firanda dan kaum Salafi Wahhâbi lainnya.</em></span></p>
<p style="text-align:justify;"><b>(Bersambung inya Allah)</b></p>
<div>
<hr align="left" size="1" width="33%" />
<div style="text-align:justify;">
<p><a title="" href="#_ftnref1">[1]</a> Ikmâl Ikmâl al Mu’allim,2/385. Cet. Dâr al Kotob al Ilmiah. Beirut.</p>
</div>
<div style="text-align:justify;">
<p><a title="" href="#_ftnref2">[2]</a> Asmâ’ wa ash Shifât:519. Cet Dâr al Kotob al Ilmiah. Beirut.</p>
</div>
<div style="text-align:justify;">
<p><a title="" href="#_ftnref3">[3]</a> Thabaqât asy Syâfi’iyah,9/35/1302. Cet. Dâr Ihyâ’ al Kotob al ‘Arabiyah. Kairo. Thn. 1974 M.</p>
</div>
<div style="text-align:justify;">
<p><a title="" href="#_ftnref4">[4]</a> Ibid.</p>
</div>
<div style="text-align:justify;">
<p><a title="" href="#_ftnref5">[5]</a> Ibid.9/69.</p>
</div>
<div style="text-align:justify;">
<p><a title="" href="#_ftnref6">[6]</a> Ibid.77.</p>
</div>
<div>
<p style="text-align:justify;"><a title="" href="#_ftnref7">[7]</a> Ibid.</p>
<p style="text-align:justify;">__________________________</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#800080;"><strong>ARTIKEL SEBELUMNYA</strong></span></p>
<ol>
<li><a href="../2012/09/15/membongkar-kepalsuan-akidah-salafi-wahhabi-tentang-ketinggian-fisikal-allah-swt-di-atas-makhluk-nyai/" target="_blank">Tanggapan Atas Ustadz Firanda dalam buku: Ketinggian Allah Di Atas Makhluk-Nya (1)</a>  Membongkar Kepalsuan Akidah Salafi Wahhâbi Tentang Ketinggian Fisikal Allah SWT Di Atas Makhluk-Nya</li>
<li><a href="../2012/09/20/tanggapan-atas-ustadz-firanda-dalam-buku-ketinggian-allah-di-atas-makhluk-nya-2/" target="_blank">Tanggapan Atas Ustadz Firanda dalam buku: Ketinggian Allah Di Atas Makhluk-Nya (2)</a></li>
<li><a href="../2012/09/28/membongkar-kepalsuan-akidah-salafi-wahhabi-tentang-ketinggian-fisikal-allah-swt-di-atas-makhluk-nya3/" target="_blank">Tanggapan Atas Ustadz Firanda dalam buku: Ketinggian Allah Di Atas Makhluk-Nya (3)</a></li>
<li><a href="../2012/09/30/membongkar-kepalsuan-akidah-salafi-wahhabi-tentang-ketinggian-fisikal-allah-swt-di-atas-makhluk-nya4/" target="_blank">Tanggapan Atas Ustadz Firanda dalam buku: Ketinggian Allah Di Atas Makhluk-Nya (4)</a> .</li>
</ol>
</div>
</div>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/abusalafy.wordpress.com/2626/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/abusalafy.wordpress.com/2626/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abusalafy.wordpress.com&#038;blog=1269412&#038;post=2626&#038;subd=abusalafy&#038;ref=&#038;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abusalafy.wordpress.com/2013/02/02/tanggapan-atas-ustadz-firanda-dalam-buku-ketinggian-allah-di-atas-makhluk-nya-5/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>44</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/9e9f42ee06317a9a9b53f33ec6f955fa?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">abusalafy</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Ibnu Taimiyah Syaikhyul Islam Atau Syaikhun Nifâq? (7)</title>
		<link>http://abusalafy.wordpress.com/2013/01/14/ibnu-taimiyah-syaikhyul-islam-atau-syaikhun-nifaq-7/</link>
		<comments>http://abusalafy.wordpress.com/2013/01/14/ibnu-taimiyah-syaikhyul-islam-atau-syaikhun-nifaq-7/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 14 Jan 2013 09:10:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abusalafy</dc:creator>
				<category><![CDATA[Akidah]]></category>
		<category><![CDATA[Bantahan & Tanggapan]]></category>
		<category><![CDATA[Ibnu Abdul Wahab]]></category>
		<category><![CDATA[Kajian Hadis]]></category>
		<category><![CDATA[Kajian Ibnu Taimiyah]]></category>
		<category><![CDATA[Kenaifan Kaum Wahhabi]]></category>
		<category><![CDATA[Kepalsuan Ibnu Taimyah]]></category>
		<category><![CDATA[Manhaj]]></category>
		<category><![CDATA[Membantah Ust. Firanda]]></category>
		<category><![CDATA[Mengenal Pemimpin Wahabi]]></category>
		<category><![CDATA[Menjawab Web/Blog Wahabi/Salafy]]></category>
		<category><![CDATA[Ulama Salafy-Wahabi Bicara]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abusalafy.wordpress.com/?p=2597</guid>
		<description><![CDATA[Kata Ibnu Taimiyah: Perjuangan Ali Tidak Ada Nilai Dan Perannya! Tak henti-hentinya, Ibnu Taimiyah memuntahkan nanah kedengkiannya kepada Sayyidina Ali, kesatria Islam yang sangat berjasa membela Nabi saw. di dalam seluruh perjalanan dakwah beliau saw., utamanya di medan perang, di saat kaum kafir, khususnya kafir Quraisy yang dipimpin oleh Abu Sufyan, bapak Mu’awiyah. Jasa Ali [&#8230;]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abusalafy.wordpress.com&#038;blog=1269412&#038;post=2597&#038;subd=abusalafy&#038;ref=&#038;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<h2><span style="color:#ff0000;"><b>Kata Ibnu Taimiyah: Perjuangan Ali Tidak Ada Nilai Dan Perannya!</b></span></h2>
<p>Tak henti-hentinya, Ibnu Taimiyah memuntahkan nanah kedengkiannya kepada Sayyidina Ali, kesatria Islam yang sangat berjasa membela Nabi saw. di dalam seluruh perjalanan dakwah beliau saw., utamanya di medan perang, di saat kaum kafir, khususnya kafir Quraisy yang dipimpin oleh Abu Sufyan, bapak Mu’awiyah.</p>
<p>Jasa Ali bin Abi Thalib ra dalam membela Nabi saw. bukan perkara yang perlu diperselisihkan. Tidak seorang pun meragukannya apalagi mengingkar besarnya jasa perjuangan da pembelaan Ali.</p>
<p>Tetapi anehnya, Ibnu Taimiyah dengan kata-kata kejinya berani memuntahkan nanah kemunafikannya dengan mengatakan bahwa pedang Ali dalam membela Nabi saw. itu tidak ada pengaruhnya&#8230; . bukan sesuatu yang hebat&#8230; banyak pedang lainnya yang ketika berjasa&#8230;. Demikianlah Ibnu Taimiyah mencekoki para mukallid butanya dengan doktrin menyesatkan yang semuanya bertujuan mengecilkan bahkan menafikan jasa besar Ali bin Abi Thalib ra.<span id="more-2597"></span></p>
<p>Tetapi yang mengenal siapa sebenarnya Ibnu Taimiyah dan bagaiamana kebusukan jiwanya terhadap Nabi dan keluarga beliau, khususnya Sayyidina Ali bin Abi Thalib tidak akan heran terhadapnya!</p>
<p>Sekali lagi kedengkian itu ia munculkan dalam bantahannya kepada seorang alim Syi’ah bernama al Hilli yang mengatakan bahwa perjuangan Ali sangat besar jasanya atas Islam.</p>
<p>Alim Syi’ah itu berkata, <em><strong>“Sesungguhnya dia (Ali) adalah paling beraninya manusia, dan dengan padangnyalah pondasi-pondasi Islam kokoh dan tegaklah pilar-pilar keimanan. Ali tidak pernah lari barang sekali pun dalam peperangan, seperti yang lainnya lari&#8230; “</strong></em><a title="" href="#_ftn1">[1]</a></p>
<p>Perhatikan baik-baik kekejian kata-kata Ibnu Taimiyah dalam bantahannya atas perktaan Alim Syi’ah itu di bawah ini:</p>
<p>Ibnu Taimiyah membanatah, <strong><span style="color:#ff0000;">“Adapun ucapannya bahwa ‘Ali adalah paling beraninya manusia’ maka ini adalah <i>kidzbun</i>, kepalsuan belaka. Paling benarinya manusia adalah Rasulullah saw. &#8230; “</span></strong><a title="" href="#_ftn2">[2]</a></p>
<p><b>Abu Salafy:</b></p>
<p>Perhatikan sobat abusalafy yang cerdas jawaban Ibnu Taimiyah (yang mengaku membela Ahlusunnah di hadapan orang-orang Syi’ah)! Apakah memang klaim ini yangt sedang diajukan oleh si alim Syi’ah itu?! Apakah al Hilli sedang mengatakan bahwa Ali lebih berani dibanding Rasulullah saw. sehingga harus dibantah dengan apa yang dikatakan Ibnu Taimiyah?!</p>
<p>Sikap bodoh (atau lebih tepatnnya bodoh-bodohan) seperti inilah yang menjadikan saya berulang kali mengatakan bahwa bantahan Ibnu Taimiyah atas alim Syi’ah hanya membuat malu kita Ahlusunnah di hadapan mereka! Mereka pasti akan mengatakan bahwa para ulama Ahlusunnah tidak layak diajak diskusi mengingat mereka <i>lâ yakâdûnâ yafqahûna qaulâ</i>/hampir-hampir tidak mengerti omongan orang waras!</p>
<p>Jawaban Ibnu Taimiyah di atas justru akan membuat Ahlusunnah terpojok di hadapan dalil-dalil Syi’ah!</p>
<p>Karena itu, kita harus tegas mengatakan bahwa kitab Minhâj as Sunnah tidak mewakili jawaban Ahlusunnah atas Syi’ah. Ia hanya mewakili Ibnu Taimiyah dan kaum Nashibi lainnya!</p>
<blockquote><p>Setelah itu, perhatikan lanjutan bantahan Ibnu taimiyah atas pendalilan al Hilli di atas.</p>
<p><span style="color:#000080;"><b>“(Pasal):</b> Saya berkata, “Adapun ucapannya (al Hilli), ‘Dengan pedangnya pondasi-pondasi Islam kokoh dan pilar-pilar agama pun tegak berdiri’ maka ia adalah kepalsuan yang nyata, <i>kidzbun dzâhirun</i> bagi setiap orang yang mengenal Islam. Tetapi pedang Ali adalah bagian dari banyak pedang, bagian dari banyak sebab kokhnya pondasi-pondasi Islam.</span></p>
<p><span style="color:#000080;"><span style="color:#ff0000;"><b>Dan banyak dari peristiwa yang dengannya Islan tegak kokoh, pedang Ali tidak memberikan pengaruh sedikit pun</b>,</span> seperti peristiwa perang Badar. Dalam perang itu, pedang Ali hanya sebuah pedang di antara pedang-pedang yang sangat banyak. Dan telah berulang kami sebutkan bahwa peparangan itu sebanyak sembilan kali. Dan Ali sepeninggal nabi saw. tidak pernah ikut serta dalam memerangi Ramawi dan Persia. Dan tidak diketahui bahwa Ali ikut serta dalam peperangan apapun yang memberikan paran secara sendirian terpisah dari Nabi saw., tetapi kemenangannya dalam berbagai peperangan (bersama Nabi) itu mengikuti pertolongan untuk Rasulullah saw.</span></p>
<p><span style="color:#000080;">Dan peperangan besar yang Ali menjadi panglimanya itu ada tiga; parang Jamal, perang Shiffîn dan perang Nahrawân. Dalam peparangan Jamal dan Nahrawân Ali tertolong/ menang, karena jumlah pasukannya berlipat ganda dari jumlah pasukan lawan. Namun kendati demikian ia tidak dapat mengalahkan total pasukan musuh, bahkan mereka lah yang mengalahkannya sehingga ia gugur menuju kemuliaan dan kerelaan Allah. Urusan Ali kian melemah dan perkara pasukan yang memeranginya kian kuat. Ini semua menunjukkan bahwa ketertolongan Ali yang ia peroleh di masa hidup Nabi saw. itu adalah pertolongan dari Allah untuk Rasul-Nya dan untuk para pejuang yang berperang bersama beliau demi membela agama. Karena sesungguhnya Allah berfirman:</span></p>
<h2 style="text-align:right;"><span style="color:#000080;">إِنَّا لَنَنْصُرُ رُسُلَنا وَ الَّذينَ آمَنُوا فِي الْحَياةِ الدُّنْيا وَ يَوْمَ يَقُومُ الْأَشْهادُ</span></h2>
<p><span style="color:#000080;"><i>“Sesungguhnya Kami menolong rasul-rasul Kami dan orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia dan pada hari berdirinya saksi-saksi (hari kiamat).”</i> (QS. Al Ghafir [40];51)</span></p>
<p><span style="color:#000080;">Demikian pula dengan pertolongan yang didapat selain Ali, seperti pertolongan yang didapat Abu bakar, Umar dan Utsman atas orang yang mereka perangi adalah pertolongan dari Allah untuk Rasul-Nya seperti yang Dia janjikan dalam kitab-Nya.”<a title="" href="#_ftn3"><span style="color:#000080;">[3]</span></a></span></p></blockquote>
<p><b>Abu Salafy: </b></p>
<p>Sengaja saya kutipkan keterangan panjang Ibnu Taimiyah agar menjadi jelas dan tidak ada alasan bagi sebagia Salafi untuk mengatakan bahwa saya tidak jujur dan menotong-motong keteranga Ibnu Taimiyah!</p>
<p>Dari keterang panjangnya di atas jelas bagi kita bagaimana Ibnu Taimiyah berusaha mengingkari jasa besar Ali dan menenggelamkannya di antara parang para sahabat lain. Walaupun kita mengakui jasa dan paran para sahabat selain Ali, namun adalah tidak adil apabila dengan alasan menampakkan jasa para sahabat kita meremehkan jasa Sayyidina Ali, singa padang pasir tak terkalahkan, <i>asadullahi al ghâlib</i> yang jasa dan padang tajamnya telah membuat para pendekar kafir Quraisy termasuk kakek dan paman-paman Mu’awiyah tersungkur mati akibat sebatan pedang tajam Ali!</p>
<p>Dengan kata-kata sumbangnya itu, Ibnu Taimiyah ingin menanamkan dalam benak para mukallid butanya bahwa jangan kamu terlalu membesar-besarkan jasa dan perjuangan Ali! Kemenangan Ali itu bukan karena Ali dan kehebatan serta kegigihan perjuangannya. Tetapi ia adalah pertolongan Allah untuk Rasul-Nya, karena Ali berjuang bersama Nabi, Allah memberikan kemenangan dan pertolongan itu, bukan untuk Ali&#8230; tapi untuk Rasul-Nya. Buktinya ketika Ali berjuang sendirian sepeninggal Nabi, Ali meneguk cawan pahit kekalahan.</p>
<p>Jadi janji Allah itu hanya berlaku untuk para rasul-Nya dan orang-orang beriman yang berjuang bersama beliau dan demi membela agama Allah dan menegakkan Kalimatullah! Adapun ketika seseorang itu berjuang dema nafsu kekuasaan, maka ia seperti Fir’aun dan Allah pasti tidak akan memberikan pertolongan-Nya!</p>
<p>Abu Bakar, Umar dan Utsman ditolong Allah atas musuh-musuh mereka karena mereka berjuang menegakkan agama Allah. Karenanya Allah menolong mereka sesuai janji-Nya dalam ayat di atas.</p>
<p>Adapun Ali&#8230; Ya, adapun Ali, Allah menelantarkannya! Mengapa? Karena perjuangan Ali tidak karena Allah! Ia berjuang demi kekuasaan dan melampiaskan syahwat memerintah! Ya demikian Ibnu Taimiyah dengan penuh kekejian menuduh Khalifah Ali ra.!</p>
<p>Ini bukan fitnah saudaraku! Ini adalah kenyataan yang selalu tidak pernah mau diakui para Salafi yang sudah terlanjur cinta kepada Ibnu Taimiyah seperti bangsa Yahudi mencintai patung anak sapi&#8230; karenanya Allah menyesatkan dan akhirnya menyiksa mereka dengan siksa di dunia sebelum adzab pedih di akhirat nanti!</p>
<p>Jika Anda ragu, maka saya persilahkan Anda membaca kembali artikel abusalafu dengan Judul: Persembahan Untuk Ustadz Firanda: Ibnu Taimiyah Syeikhul Islam Atau Syiekhun Nifâq? (2))</p>
<p>Ibnu Taimiyah berkata, <span style="color:#ff0000;"><b><i>“Dan Ali berparang agar ia dita’ati dan berbuat sekehendaknya/menguasai jiwa-jiwa dan harta-harta, lalu bagaimana peperangan seperti itu dijadikan peparangan demi agama?!”</i></b></span><a title="" href="#_ftn4">[4]</a></p>
<p>Setelahnya Ibnu Taimiyah menyerupakaN Sayyidina Ali dengan Fir’aun yang berperang menumpahkan darah demi syahwat kekuasaan semata! Ia berkata, <b><i>“<span style="color:#ff0000;">Maka barang siapa menginginkan kekuasaan dan berbuat kerusakan di muka bumi pastilah ia bukan tergolong orang yang berhagai di akhirat nanti.”</span></i></b><b><i></i></b></p>
<p><b>Abu Salafy:</b></p>
<p>Setelah keterangan di atas, saya ajak sobat abusalafy untuk kembali kepada keterangan palsu Ibnu Taimiyah yang saya sebutkan di awal artikel ini.</p>
<p><b>Pedang Sayyidina Ali –<i>Karramallahu Wajhahu</i>- Sangat Berjasa Bagi Islam dan Kaum Muslimin!</b></p>
<p>Jika Ibnu Taimiyah membohongkan bahwa padang Sayyidina Ali ra. itu perjasa dan memberikan andil besar dalam perjuangan melawan kamusyirikan dan kekafiran, khususnya dalam menundukkan keangkuhan sikap kafir Quraisy yang dipimpin oleh Abu Sufyan, bapak Mu’awiyah yang sangat disanjung kaum Salafi Wahhabi&#8230; maka seluruh ulama Islam mengakuinya!</p>
<p>Ibnu Taimiyah menyebut parang Badar sebagai contoh bagaimana pedang Ali ternyata tidak memberikan <i>ta’tsîrun</i>/pengaruh apapun dalam mengokohkan pondasi Islam, maka saya ajak Anda mengikuti laporan Ibnu Hisyam dalam kitab Sîrahnya tentang parang tersebut!</p>
<p><b>Nama-nama Kaum Kafir Quraisy Yang Dibunuh Sayyidina Ali ra.</b></p>
<p>Dalam kitab Sîrah Ibnu Hisyâm disebutkan nama tuju belas pasukan kaum kafir Quraisy yang dibunuh sendirian oleh Sayyidina Ali ra. dengan pedangnya dan empat nama yang juga Ali ikut serta dalam membunuh mereka.</p>
<p>Nama-nama mereka adalah sebagai berikut:</p>
<ol>
<li>Al ‘Âsh bin Sa’îd bin al Umayyah.</li>
<li>Al Walîd bin Utbah bin Rabî’ah.</li>
<li>‘Âmir bin Abdullah.</li>
<li>Tha’îmah bin ‘Adiy bin Naufal.<a title="" href="#_ftn5">[5]</a></li>
<li>Naufal bin Khuwailid bin Asad.</li>
<li>An Nadhr bin al Hârits bin Kildah.</li>
<li>‘Umair bin ‘Utsmân bin ‘Amr.<a title="" href="#_ftn6">[6]</a></li>
<li>Harmalah bin ‘Amr.<a title="" href="#_ftn7">[7]</a></li>
<li>Abu Qais bin al Fâkih bin al Mughîrah.<a title="" href="#_ftn8">[8]</a></li>
<li>Hâjiz bin as Sâib.</li>
<li>Mu’awiyah bin ‘Âmir.</li>
<li>Uwais bin Mi’yar.<a title="" href="#_ftn9">[9]</a></li>
<li>Mas’ûd bin Abi Umayyah bin al Mughîrah.</li>
<li>Abdullah bin al Mundzir bin Abi Râfi’.</li>
<li>Al Âsh bin Munabbbih bin  al Hajjâj.</li>
<li>Abu al Âsh bin Qais bin ‘Adiy.<a title="" href="#_ftn10">[10]</a></li>
<li>Uqbah bin Abi Mu’aith.<a title="" href="#_ftn11">[11]</a></li>
</ol>
<p>Adapun pasukan kafir Quraisy yang Ali juga ikut serta mmembunuhnya bersama-sama dengan sahabat lainnya adalah:</p>
<ol>
<li>Handzalah bin Abu Sufyân (saudara Mu’awiyah). Ali membunuhnya bersama Hamzah dan Zaid bin Hâritsah.</li>
<li>‘Utbah bin Rabî’ah bin Abdi Syams. Ali membunuhnya bersama Hamzah dan Ubaidullah bin al Hârits (sepupu Rasulullah saw. yang akhirnya beliau gugur syahid dalam perang Badar)</li>
<li>Zam’ah bin al Aswad bin al Muththalib bin Asad. Ali membunuhnya bersama Hamzah dan Tsâbit.</li>
<li>‘Aqîl bin al Aswad bin al Muththalib. Ali membunuhnya bersama Hamzah.</li>
</ol>
<p>Imam Muslim dalam Shahih-nya,8/245 hadis no.3033, Imam ath Thabari dalam Târîkh-nya,2/198 dan Ibnu Sa’ad dalam Thabaqât-nya,3/17 meriwayatkan dari sahabat Abu Dzarr ra. bahwa ayat 19 surah al Hajj turun untuk Sayyidina Ali ra., Sayyidina Hamzah dan Sayyidina Ubaidulah bin al Hârits terkait dengan perjuangan mereka ketika berduel melawan pendekar-pendekar kafir Quraisy dalam parang Badar.</p>
<h2 style="text-align:right;">هذانِ خَصْمانِ اخْتَصَمُوا في‏ رَبِّهِمْ فَالَّذينَ كَفَرُوا قُطِّعَتْ لَهُمْ ثِيابٌ مِنْ نارٍ يُصَبُّ مِنْ فَوْقِ رُؤُسِهِمُ الْحَميمُ</h2>
<p><i>“Inilah dua golongan (golongan mukmin dan golongan kafir) yang bertengkar, mereka saling bertengkar mengenai Tuhan mereka. Maka orang kafir akan dibuatkan untuk mereka pakaian-pakaian dari api neraka. Disiramkan air yang sedang mendidih ke atas kepala mereka.” </i></p>
<p>Ibnu Taimiyah berusa membohongkan jasa-jasa Ali dalam parang Badar dan mengingkari kalau Ali membunuh banyak pasukan kafir!<a title="" href="#_ftn12">[12]</a></p>
<p><b>Jasa Sayyidina Ali Dalam Parang Uhud.</b></p>
<p>Adapun jasa dan paran kesatria Ali dalam parang Uhud adalah sangat masyhur. Para sejarawan Islam talah mengabadikannya dalam lembaran-lembaran berharga mareka. <span style="color:#000080;">Di antaranya adalah apa yang diriwayatkan Imam ath Thabari dalam Târikh-nya,2/197 dan 514: “Setelah Ali bin Abi Thalib berhasil membunuh panglima pasukan musuh yang memegang bendera, Nabi saw. melihat serombongan pasukan kaum Musyrikin, maka beliau berkata kepada Ali, ‘Serang mereka!’ Ali pun segera menyerang dan memporak-porandakan mereka. Ali membunuh ‘Amr bin Abdullah al Jumahi. Kemudian Nabi saw. melihat lagi sekelompok pasukan kaum Musyrikin lainnya, maka beliau berkata kepada Ali, ‘Serang mereka!’ Ali pun menyerang dan memporak-porandakan mereka. Ali berhasil membunuh Syaibah bin Malik. Lalu malaikat Jibril berkata kepada Nabi saw., ‘Wahai Rasulullah! Sesungguhnya ini adalah pembelaan dan kesetiaan yang luar biasa!’ Maka Nabi pun berkata kepada Jibril as. ‘Sesungguhnya ia dariku dan aku darinya.’ Mendengar ucapan Nabi saw. tersebut, Jibril berkata, ‘Dan aku dari kalian berdua.’</span></p>
<p><span style="color:#000080;">Perawi berkata, ‘Dan terdengarlah suara:<i></i></span></p>
<p align="center"><span style="color:#000080;"><strong><i>Tiada padang kecuali pedang Dzul Fiqâr&#8230; dan Tiada Pemuda Kesatria kecuali Ali</i>.”</strong></span></p>
<p><b>Abu Salafy:  </b></p>
<p>Ketika al Hilli (si alim Syi’ah) menyebutkan bagaimana Ali membela dan menghalau kaum Musyrikin yang menyerang Nabi saw. setelah kekalahan kaum Muslimin akibat ketidak-taatan sebagai pasukan pamanah yang ditempatkan Nabi saw. di puncak gunung untuk membentengi pasukan Islam dari serangan balik kaum kafir&#8230; hanya Ali bersama segelintir pasukan Islam saja yang masih bertahan dan tidak lari dari medan perang. Ali selalu menghalau serangan pasukan musuh seperti yang telah Anda baca sebagian keterangannya dari Imam th Thabari -Guru Besar para ahli sejarah Islam-&#8230; ketika menyaksikan kenyataan ini, hati Ibnu Taimiyah seakan tidak terima (bakhan bukan <i>seakan</i>, tetapi ia benar-benar tidak terima) sehingga ia dalam dua lembar besar penuh memamerkan kedengkiannya terhadap Sayyidina Ali ra. dengan mengingkari jasa apapun untuk Ali dalam peperanga Uhud di khususnya di saat genting itu!</p>
<p>Saya tidak bermaksud mengingkari bahwa ada beberapa sahabat seperti Abu Dujânah yang menjadikan punggunnya sebagai pameng agar anak-anak panah itu tidak mengenai Nabi saw. sehinggga diriwayatkan punggung beliau menjadi seperti binatang landak, dan beberapa sahabat lainnya yang juga bertahan. Tetapi yang menjijikkan adalah ketika seorang mengingkari jasa dan paran serta kepahlawanan Sayyidina Ali ra. dalam perang Uhud dan di saat yang sangat genting itu! Itulah sikap Ibnu Taimiyah! Ia menafikan seluruh peran Ali dan tidak menyebutnya barang sehuruf saja! Semua yang ia sebut adalah paran sahabat lain! Itu pun kalau riwayatnya shahih atau sekuat riwayat tentang paran dan jasa Ali ra.!</p>
<p><b>Jumlah Pasukan Kafir Yang Dibunuh Ali Dalam Parang Uhud</b></p>
<p>Setelah data sejarah di atas yang mengatakan bahwa Ali bin Abi Thalib-lah yang membunuh para pemegang bendera kaum kafir Quraisy, di sini saya bermaksud melengkapi nama-nama kaum kafir yang terbunuh di tangan Ali ra.</p>
<p>Mereka adalah:</p>
<ol>
<li>Thalhah bin Abu Thalhah. Nama asli Abu Thalhah adalah Abdil ‘Uzzâ bin ‘Utsmân bin Abdi Dâr.</li>
<li>‘Utsmân bin Abi Thalhah bin Abdil Uzzâ.</li>
<li>Musâfi’bin Thalhah bin Abdil ‘Uzzâ.</li>
<li>Jullâs, Kilâb bin Thalhah bin Abdil ‘Uzzâ.</li>
<li>Al Hârits bin Thalhah bin Abdil ‘Uzzâ.</li>
</ol>
<p>Mereka semua adalah pemegang bendera peperangan yang disegerakan pedang Ali menuju neraka jahannam. Adapun dari selain pemegang bendera yang juga dibunuh Ali adalah:</p>
<ol>
<li>Waqâsith bin Syurahbîl dari suku Bani Abdi Dâr.</li>
<li>Shuâb.</li>
<li>Hubsyi budaknya Yazîd bin ‘Umair bin Hâsyim bin Abdi Manâf bin Abdi Dâr.</li>
<li>Abdullah bin Humaid bin Zuhair bin al Hârits bin Asad bin Abdil ‘Uzzâ.</li>
<li>Abu al hakam bin al Akhnas bin Syarîq bin ‘Amr bin Wahb ats Tsaqafi.</li>
<li><i></i>Abu Umayyah bin Abi Hudzaifah bin al Mughîrah al Makhzûmi.</li>
<li>Hisyâm bin Abi Umayyah al Makhzûmi.</li>
</ol>
<p>Demikianlah sejarah mencatat&#8230;. perjuangan dan kesatrian yang tak tertandingi&#8230; beliau tetap setia mendampingin Nabi saw. dan tidak lari bersama sabahat lain ketika terdengar isu bahwa Nabi Muhammad sawt telah terbunuh&#8230; Allah memuji mereka yang tetap setia dan tidak meninggalkan Rasul-Nya dengan menyindir mereka yang lari itu akibat diperdaya dan dikuasai oleh setan karena dosa-dosa mereka. Allah berfirman:</p>
<h2 style="text-align:right;"><b>إِنَّ الَّذينَ تَوَلَّوْا مِنْكُمْ يَوْمَ الْتَقَى الْجَمْعانِ إِنَّمَا اسْتَزَلَّهُمُ الشَّيْطانُ بِبَعْضِ ما كَسَبُوا وَ لَقَدْ عَفَا اللَّهُ عَنْهُمْ إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ حَليمٌ</b><b></b></h2>
<p><b><i> </i></b><b><i>“</i></b><i>Sesungguhnya orang- orang yang berpaling di antaramu pada hari bertemu dua pasukan itu, hanya saja mereka digelincirkan oleh setan, disebabkan sebagian kesalahan yang telah mereka perbuat (di masa lampau) dan sesungguhnya Allah telah memberi maaf kepada mereka. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyantun.</i><i>”</i> (QS. Âlu ‘Imrân; 155)</p>
<p><b>Abu Salafy:</b></p>
<p><i>Ikhtisar</i> kata, Ibnu Taimiyah benar-benar keterlaluan dalam kebiadapannya ketika mengatakan bahwa padang Ali tidak sedikit pun punya <i>ta’tsîrun/</i>pengaruh dalam menegakkan pondasi Islam!</p>
<p>Bukankah sikap itu adalah ungkaan kedengkiann yang mendalam terpendam dalam jiwa busuknya?!</p>
<p>Bukankah kita harus marah ketika ada seorang sahabat, apalagi sekelas Ali, Khalifah keempat, menantu Rasulullah saw., pahlawan Islam terkemuka dan pintu kota ilmu Nabi dilecehkan oleh siapapun! Apalagi oleh seorang anak Taimiyah.</p>
<p>Lalu mengapakah kalian wahai kaum Salafi Wahabi diam seribu bahasa dan tidak menampakkan pembelaan kalian kepada Sayyidina Ali (walaupun hanya sekedar berpura-pura saja dalam membela) ketika Ibnu Taimiyah mengecilkan peran beliau bahkan menginkarinya?!</p>
<p>Lalu apakah kalian akan diam, misalnya apabila abusalafy menyajikan laporan para ulama; para muhaddis dan para sejarawan bahwa ada banyak sabahat Nabi saw. yang lari meninggalkan dan membiarkan Nabi saw. diserang pasukan musuh dan dihujani anak panah mereka.. hanya sekedar mendengar isu bahwa Nabi saw. telah terbunuh?! Apakah kalian akan diam atau justru akan mengatakan bahwa abusalafy adalah Syi’ah Rafidhah karena telah meghina para sahabat Nabi saw. Sementara itu, laporan tentang melarikan dirinya banyak sahabat itu telah diriwayatkan dalam riwayat-riwayat shahih bahkan, Al Qur’an pun menyebutkannya?!</p>
<p>Apakah Anda akan menuduh Allah SWT sebagai Syi’ah Rafidhah karena menyebutkan larinya para sahabat di parang Uhud itu?!</p>
<p>Lalu mengapakah ketika yang dihina dan difitnah adalah Sayyidina Ali bin Abi Thalib ra. kalian diam dan seakan mengamini sikap penghinaan itu, tetapi ketika Mu’awiyah, anak pasangan serasi si Hindun dan Abu Sufyan (imam kakafiran dan gua kaum munafik), kalian bangkit meraung-raung bak anjing kesurupan setan!<b></b></p>
<p><b>Para Ulama Ahlusunnah Telah Menvonis Ibnu Taimiyah Sebagai Munafik!</b></p>
<p>Dan tidaklah berlebihan ketika ulama Ahlusunnah menvonis Ibnu Taimiyah <i>Syeikhul Islam</i>-nya kaum Salafi Wahabi sebagai Dedengkot kaum munafik karena sikap kebencian dan kedengkiannya serta mulut busuknya terhadap <i>Imamul Masyâiq wal Maghârib</i> Sayyidina Ali bin Abi Thalib –<i>Karramallahu wajhahu wa Radhiyallahu’anhu</i>-.</p>
<p>Ibnu Hajar berkata dalam kitab <i>ad Durar al Kâminah</i>,1/153 dan seterusnya:</p>
<h2 style="text-align:right;"><span style="color:#ff0000;"><b>ومنهم من ينسبه إلى النفاق ، لقوله في علي ما تقدّم ـ أي قضيّة أنّه أخطأ في سبعة عشر شيئاً ـ</b><b></b></span></h2>
<h2 style="text-align:right;"><span style="color:#ff0000;"><b>ولقوله : إنّه ـ أي علي ـ كان مخذولاً حيثما توجّه ، وأنّه حاول الخلافة مراراً فلم ينلها ، وإنّما قاتل للرئاسة لا للديانة ،</b><b></b></span></h2>
<h2 style="text-align:right;"><span style="color:#ff0000;"><b>ولقوله : إنّه كان يحبّ الرئاسة ، ولقوله </b><b>: </b><b>أسلم أبوبكر شيخاً يدري ما يقول ، وعلي أسلم صبيّاً ، والصبي لا يصحّ إسلامه ، وبكلامه في قصّة خطبة بنت أبي جهل ، وأنّ عليّاً مات وما نسيها</b><b> . </b><b>فإنّه شنّع في ذلك ، فألزموه بالنفاق ، لقوله صلّى الله عليه وسلّم : ولا يبغضك إلاّ منافق</b><b>.</b></span></h2>
<p><span style="color:#ff0000;"><i>“Di antara </i>ada yang menggolongkannya <span style="text-decoration:underline;"><strong><span style="text-decoration:underline;">sebagai orang munafi</span></strong>k</span>,<i> sebab ucapannya tentang Ali seperti telah lewat (di antaranya yaitu<span style="text-decoration:underline;"> bahwa Ali, ia salah dalam tujuh belas kasus</span>, di mana <span style="text-decoration:underline;">Ali menentang nash al Qur’an</span>,</i></span></p>
<p><span style="color:#ff0000;"><i><span style="text-decoration:underline;">dan dikarenakan ucapannya bahwa Ali selalu terhina (tidak ditolong Allah) ke mana pun ia menuju</span></i><i>. Dan beliau berulang kali berusaha merebut kekhalifahan namun ia tidak berhasil. <span style="text-decoration:underline;">Ali berperang hanya karena ingin berkuasa bukan demi agama!</span></i><span style="text-decoration:underline;">,</span></span></p>
<p><span style="color:#ff0000;"><i><span style="text-decoration:underline;">dan dikarenakan ucapannya bahwa Ali</span></i><span style="text-decoration:underline;"> <i>gila kekuasaan</i></span><i>,</i></span></p>
<p><span style="color:#ff0000;"><i>dan dikarenakan ucapannya bahwa Abu Bakar memeluk Islam di usia tua mengerti apa yang ia ucapkan semantara<span style="text-decoration:underline;"> Ali memeluk Islam di usia kanak-kanak, dan anak kecil tidak sah islamnya,</span></i></span></p>
<p><span style="color:#ff0000;"><i>dan dikarenakan ucapannya bahwa tentang kisah (niatan perkawinan Ali denga putrid Abu Jahl, dan sesungguhnya Ali tidak mampu melupakannya hingga ia mati,<span style="text-decoration:underline;"> ia mengolok-oloknya dalam masalah itu.</span></i></span></p>
<p><span style="color:#ff0000;"><i>Maka <span style="text-decoration:underline;">para ulama menvonisnya sebagai munafiq</span> berdasarkan <span style="text-decoration:underline;">sabda Nabi saw. (kepada Ali), ‘Tidak membencimu melainkan orang munafiq.’”</span></i></span></p>
<p><b>Abu Salafy:</b></p>
<p>Setelah ini semua masihkah kaum Salafi Wahabi “ngotot” mengatakan bahwa Ibnu Taimiyah adalah pecinta Sayyidina Ali ra. dan sangat menghormati beliau?!</p>
<p>Atau jangan-jangan mereka punya kamus bahasa tersendiri yang hanya dimengerti oleh keledai atau Salafi dungu!</p>
<p><b>(Bersambung <i>insya Allah</i>)</b></p>
<div>
<hr align="left" size="1" width="33%" />
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref1">[1]</a> Minhâj as Sunnah,8/76. Dan 4/163. Dalam cet. Dâr al Kotob al Ilmiah. Berirut.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref2">[2]</a> Ibid.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref3">[3]</a> Minhaj as Sunnah,8/89 dan dalam cetakan Dâr al Kotob al Ilmiah – Beirut,4/167.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref4">[4]</a> Minhaj as Sunnah,8/329.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref5">[5]</a> Dan ada yang mengatakan bahwa Sayyiduna Hamzah ra. yang membunuhnya.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref6">[6]</a> Dan ada yang mengatakan bahwa Abdurrahman bin ‘Auf ra. yang membunuhnya.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref7">[7]</a> Dan ada yang mengatakan bahwa Khârijah bin Zaid ra. yang membunuhnya.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref8">[8]</a> Dan ada yang mengatakan bahwa Ammâr bin Yâsir ra. yang membunuhnya.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref9">[9]</a> Dan ada yang mengatakan bahwa al Hushain bin al Hârits dan Utsmân bin Madz’ûn ra. yang membunuhnya</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref10">[10]</a> Dan ada yang mengatakan bahwa an Nu’mân bin Mâlik atau Abu Dujânah ra. yang membunuhnya.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref11">[11]</a> Dan ada yang mengatakan bahwa Âshim bin Tsâbit ra. yang membunuhnya.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref12">[12]</a> Baca keterangan berbelit Ibnu Taimiyah dalam Minhaj as Sunnah,4/168-169.</p>
</div>
</div>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/abusalafy.wordpress.com/2597/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/abusalafy.wordpress.com/2597/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abusalafy.wordpress.com&#038;blog=1269412&#038;post=2597&#038;subd=abusalafy&#038;ref=&#038;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abusalafy.wordpress.com/2013/01/14/ibnu-taimiyah-syaikhyul-islam-atau-syaikhun-nifaq-7/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>107</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/9e9f42ee06317a9a9b53f33ec6f955fa?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">abusalafy</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Bani Umayyah Dalam Al Qur’an Dan Sunnah! (Bagian: 2)</title>
		<link>http://abusalafy.wordpress.com/2013/01/12/persembahan-untuk-ustadz-firanda-dan-para-pemuja-pohon-terkutuk-dalam-al-quran-bagian-2/</link>
		<comments>http://abusalafy.wordpress.com/2013/01/12/persembahan-untuk-ustadz-firanda-dan-para-pemuja-pohon-terkutuk-dalam-al-quran-bagian-2/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 12 Jan 2013 02:17:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abusalafy</dc:creator>
				<category><![CDATA[Akidah]]></category>
		<category><![CDATA[Kajian Hadis]]></category>
		<category><![CDATA[Kajian Ibnu Taimiyah]]></category>
		<category><![CDATA[Kenaifan Kaum Wahhabi]]></category>
		<category><![CDATA[Kepalsuan Ibnu Taimyah]]></category>
		<category><![CDATA[Manhaj]]></category>
		<category><![CDATA[Membantah Ust. Firanda]]></category>
		<category><![CDATA[Mengenal Pemimpin Wahabi]]></category>
		<category><![CDATA[Menjawab Web/Blog Wahabi/Salafy]]></category>
		<category><![CDATA[Sejarah Wahabi-Salafy]]></category>
		<category><![CDATA[Wahhabi Versus Ulama Islam]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abusalafy.wordpress.com/?p=2589</guid>
		<description><![CDATA[Persembahan Untuk Ustadz Firanda dan Para Pemuja Pohon Terkutuk Dalam Al Qur’an!  Selain ayat di atas yang telah saya paparkan tafsir dan maksudnya dalam artikel sebelumnya, tidak sedikit Allah mengecam Bani Umayyah dalam ayat-ayat Al Qur’an suci-Nya. Di antara ayat-ayat suci itu adalah firman Allah SWT.: أَ لَمْ تَرَ إِلَى الَّذينَ بَدَّلُوا نِعْمَتَ اللَّهِ كُفْراً [&#8230;]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abusalafy.wordpress.com&#038;blog=1269412&#038;post=2589&#038;subd=abusalafy&#038;ref=&#038;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<h2><span style="color:#ff0000;">Persembahan Untuk Ustadz Firanda dan Para Pemuja Pohon Terkutuk Dalam Al Qur’an! </span></h2>
<p>Selain ayat di atas yang telah saya paparkan tafsir dan maksudnya dalam artikel sebelumnya, tidak sedikit Allah mengecam Bani Umayyah dalam ayat-ayat Al Qur’an suci-Nya.</p>
<p>Di antara ayat-ayat suci itu adalah firman Allah SWT.:</p>
<h2 style="text-align:right;">أَ لَمْ تَرَ إِلَى الَّذينَ بَدَّلُوا نِعْمَتَ اللَّهِ كُفْراً وَ أَحَلُّوا قَوْمَهُمْ دارَ الْبَوارِ * جَهَنَّمَ يَصْلَوْنَها وَ بِئْسَ الْقَرارُ * وَ جَعَلُوا لِلَّهِ أَنْداداً لِيُضِلُّوا عَنْ سَبيلِهِ قُلْ تَمَتَّعُوا فَإِنَّ مَصيرَكُمْ إِلَى النَّارِ</h2>
<p><span style="color:#ff0000;"><i>“</i><b><i>Tidakkah kamu perhatikan orang-orang yang telah menukar nikmat Allah dengan kekafiran dan menjatuhkan ka</i></b><b><i>umnya ke lembah kebinasaan</i></b><i>, </i><i>* </i></span><i>yaitu neraka Jahanam; mereka masuk ke dalamnya; dan itulah seburuk-buruk tempat kediaman.</i><i> *</i><i>Orang-orang kafir itu telah menjadikan sekutu-sekutu bagi Allah supaya mereka menyesatkan (manusia) dari jalan-Nya. Katakanlah:</i><i> ”</i><i>Bersenang-senanglah kamu, karena sesungguhnya tempat kembalimu ialah neraka</i><i>.”</i> (QS. Ibrahim;28-30)<span id="more-2589"></span></p>
<h3><span style="color:#0000ff;"><b>Keterangan Para Mufassir Ahlusunnah Wal Jamâ’ah</b></span></h3>
<p>Para muafassir Ahlusunnah baik klasik maupun kontemporer telah menegaskan bahwa yang dimaksud dengan, <i>‘Tidakkah kamu perhatikan orang-orang yang telah menukar nikmat Allah dengan kekafiran dan menjatuhkan ka</i><i>umnya ke lembah kebinasaan’ </i>adalah bani Umayyah.<b></b></p>
<p><b>Keterangan Imam ath Thabari</b></p>
<p>Perhatikan bagaimana Imam para ahli tafsir, Ibnu Jarir ath Thabari menafsirkan ayat di atas!</p>
<p>Ibnu Jarir berkata tentang ayat-ayat di atas:</p>
<h2 style="text-align:right;">القول في تأويل قوله تعالى : { أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِينَ بَدَّلُوا نِعْمَةَ اللَّهِ كُفْرًا وَأَحَلُّوا قَوْمَهُمْ دَارَ الْبَوَارِ * جَهَنَّمَ يَصْلَوْنَهَا وَبِئْسَ الْقَرَارُ  } يقول تعالى ذكره: ألم تنظر يا محمد( إِلَى الَّذِينَ بَدَّلُوا نِعْمَةَ اللَّهِ كُفْرًا ) يقول: غيروا ما أنعم الله به عليهم من نعمه ، فجعلوها كُفرا به، وكان تبديلهم نعمة الله كفرا في نبيّ الله محمد صلى الله عليه وسلم ، أنعم الله به على قريش ، فأخرجه منهم ، وابتعثه فيهم رسولا رحمة لهم ، ونعمة منه عليهم ، فكفروا به ، وكذّبوه ، فبدّلوا نعمة الله عليهم به كفرا. وقوله:( وَأَحَلُّوا قَوْمَهُمْ دَارَ الْبَوَارِ ) يقول: وأنزلوا قومهم من مُشركي قريش دار البوار ، وهي دار الهلاك ، يقال منه: بار الشيء يبور بورا: إذا هلك وبطل .. <span style="text-decoration:underline;">وقيل: إن الذين بدّلوا نعمة الله كفرا:<span style="color:#ff0000;text-decoration:underline;"> بنو أمية</span> ، وبنو مخزوم.</span><b></b></h2>
<p>“Pendapat tentang firman Allah –Ta’ala-: <i>“Tidakkah kamu perhatikan orang-orang yang telah menukar nikmat Allah dengan kekafiran dan menjatuhkan kaumnya ke lembah kebinasaan, yaitu neraka Jahanam; mereka masuk ke dalamnya; dan itulah seburuk-buruk tempat kediaman.”</i> Allah –Ta’ala- berfirman, “Tidakkah engkau –hai Muhammad melihat/meperhatikan <i>orang-orang yang telah menukar nikmat Allah dengan kekafiran</i> maksudnya: merubah-rubah nikmat-nikmat yang Allah anugerahkan kepada mereka lalu mereka mengkufurinya. Dan penukaran nikmat Allah yang mereka lakukan adalah dengan mengufuri Nabi Muhammad saw.. Allah menganugerahkan nikmat itu kepada suku Quraisy dan mengeluarkan beliau dari mereka dan mengutusnya sebagai rasul di antara mereka karena belas kasih Allah dan nikmta-Nya atas mereka, tetapi mereka mengingkarinya, membohongkannya dan menukar nikmat Allah itu dengan kekafiran. Dan firman Allah: “<i>dan menjatuhkan kaumnya ke lembah kebinasaan</i><i>,</i><i> yaitu neraka Jahanam”</i> Allah berfirman, “Mereka mencelakakan kaum mereka dari kalangan Musyrik Quraisy ke dalam lembah kebinasaan&#8230;. ada yang mengatakan bahwa yang dimaksud dengan:<i> perhatikan orang-orang yang telah menukar nikmat Allah dengan kekafiran</i> <strong><span style="color:#ff0000;">adalah Bani Umayyah</span></strong> dan Bani Makhzûm.”</p>
<h3>Setelahnya beliau melanjutkan:</h3>
<h3 style="text-align:left;">Keterangan tentang para ahli tahfir yang mengatakan pendapat ini. Beliau berkata:</h3>
<h2 style="text-align:right;"><span style="text-decoration:underline;">ذكر من قال ذلك:  </span><b></b></h2>
<h2 style="text-align:right;">حدثنا ابن بشار وأحمد بن إسحاق ، قالا ثنا أبو أحمد ، قال : ثنا سفيان ، عن عليّ بن زيد ، عن يوسف بن سعد ، عن عمر بن الخطاب ، في قوله:( أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِينَ بَدَّلُوا نِعْمَةَ اللَّهِ كُفْرًا وَأَحَلُّوا قَوْمَهُمْ دَارَ الْبَوَارِ جَهَنَّمَ ) قال: هما الأفجران من قريش<span style="text-decoration:underline;">: بنو المغيرة ، <span style="color:#ff0000;text-decoration:underline;">وبنو أمية</span></span> <span style="text-decoration:underline;">، فأما بنو المغيرة فكفيتموهم يوم بدر</span> ؛<span style="color:#ff0000;"><span style="text-decoration:underline;"> وأما بنو أمية فمتِّعوا إلى حين</span>.</span></h2>
<h3 style="text-align:left;">.<strong>.. dari Umar bin Khaththâb tentang ayat di atas: mereka adalah dua kabilah dari Quraisy; bani Mughirah dan <span style="color:#ff0000;">bani Umayyah.</span> Adapun bani Mughirah mereka telah dibinaakan dalam peparangan Badar. <span style="color:#ff0000;">Sedangkan bani Umayyah mereka diberi tangguh hingga waktu tertentu.”</span></strong></h3>
<h2>حدثني المثنى ، قال : ثنا أبو نعيم الفضل بن دكين ، قال : أخبرنا حمزة الزيات ، عن عمرو بن مرّة ، قال : قال ابن عباس لعمر رضي الله عنهما: يا أمير المؤمنين ، هذه الآية ( الَّذِينَ بَدَّلُوا نِعْمَةَ اللَّهِ كُفْرًا وَأَحَلُّوا قَوْمَهُمْ دَارَ الْبَوَارِ ) ؟ قال: <span style="text-decoration:underline;">هم الأفجران من قريش أخوالي وأعمامك</span> ، فأما أخوالي فاستأصلهم الله يوم بدر ، وأما أعمامك فأملى اللَّه لهم إلى حين.<b></b></h2>
<h2>حدثنا محمد بن بشار ، قال : ثنا عبد الرحمن ، قال : ثنا سفيان ، عن أبي إسحاق عن عمرو ذي مرّ ، عن عليّ (وَأَحَلُّوا قَوْمَهُمْ دَارَ الْبَوَارِ ) قال: <span style="text-decoration:underline;">الأفجران من قريش</span>.<b></b></h2>
<p>&#8230; dari Ali tentang ayat:<b><i> ‘dan menjatuhkan ka</i></b><b><i>umnya ke lembah kebinasaan’</i></b> ia berkata, “Mereka adalah dua keluarga jahat dari suku Quraisy.</p>
<h2 style="text-align:right;">حدثنا ابن بشار ، قال : ثنا عبد الرحمن ، قال : ثنا شعبة ، عن أبي إسحاق ، عن عمرو ذي مرّ ، عن عليّ ، مثله/ حدثنا أحمد بن إسحاق ، قال : ثنا أبو أحمد ، قال : ثنا سفيان وشريك ، عن أبي إسحاق ، عن عمرو ذي مرّ ، عن عليّ ، قوله ( أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِينَ بَدَّلُوا نِعْمَةَ اللَّهِ كُفْرًا وَأَحَلُّوا قَوْمَهُمْ دَارَ الْبَوَارِ ) قال: <span style="text-decoration:underline;">بنو المغيرة <span style="color:#ff0000;text-decoration:underline;">وبنو أمية</span> ، فأما بنو المغيرة ، فقطع الله دابرهم يوم بدر ،<span style="color:#ff0000;text-decoration:underline;"> وأما بنو أمية فمُتِّعوا إلى حين</span></span><span style="color:#ff0000;">.</span></h2>
<p>&#8230;. dari Ali tentang ayat:<i> ‘Tidakkah kamu perhatikan orang-orang yang telah menukar nikmat Allah dengan kekafiran dan menjatuhkan ka</i><i>umnya ke lembah kebinasaan’</i> ia berkata, “Mereka adalah bani Mughirah dan bani Umayyah. Adapun bani Mughirah, Allah telah membinasakan mereka pada peperangan Badar. Sedangkan bani Umayyah, mereka diberi tangguh hingga waktu tertentu.”</p>
<h2 style="text-align:right;"> حدثنا محمد بن المثنى ، قال : ثنا محمد بن جعفر ، قال : ثنا شعبة ، عن أبي إسحاق ، قال : سمعت عمرا ذا مرّ ، قال : سمعت عليا يقول في هذه الآية( أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِينَ بَدَّلُوا نِعْمَةَ اللَّهِ كُفْرًا وَأَحَلُّوا قَوْمَهُمْ دَارَ الْبَوَارِ ) قال: <span style="text-decoration:underline;">الأفجران من بني أسد وبني مخزوم</span>.<b></b></h2>
<h2 style="text-align:right;"> حدثنا ابن المثنى ، قال : ثنا عبد الرحمن ، قال : ثنا شعبة ، عن القاسم بن أبي بزّة ، عن أبي الطفيل ، عن عليّ ، قال : <span style="text-decoration:underline;">هم كفار قريش</span>. يعني في قوله ( وَأَحَلُّوا قَوْمَهُمْ دَارَ الْبَوَارِ جَهَنَّمَ )، حدثنا ابن المثنى ، قال : ثنا محمد بن جعفر ، قال : ثنا شعبة ، عن القاسم بن أبي بزّة ، عن أبي الطفيل أنه سمع عليّ بن أبي طالب ، وسأله ابن الكوّاء عن هذه الآية( الَّذِينَ بَدَّلُوا نِعْمَةَ اللَّهِ كُفْرًا وَأَحَلُّوا قَوْمَهُمْ دَارَ الْبَوَارِ ) قال: <span style="text-decoration:underline;">هم كفار قريش يوم بدر</span>.<b></b></h2>
<h2 style="text-align:right;"> حدثنا ابن وكيع ، قال : ثنا أبو النضر هاشم بن القاسم ، عن شعبة ،  عن القاسم بن أبي بزّة ، قال : سمعت أبا الطفيل ، قال : سمعت عليا ، فذكر نحوه.<b></b></h2>
<h2 style="text-align:right;"> حدثنا أبو السائب ، قال : ثنا أبو معاوية ، عن إسماعيل بن سميع ، عن مسلم البطين ، عن أبي أرطأة ، عن عليّ في قوله( أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِينَ بَدَّلُوا نِعْمَةَ اللَّهِ كُفْرًا ) قال: <span style="text-decoration:underline;">هم كفَّار قريش </span>.<b></b></h2>
<h2 style="text-align:right;"> هكذا قال أبو السائب مسلم البطين ، عن أبي أرطأة.حدثنا الحسن بن محمد الزعفراني ، قال : ثنا أبو معاوية الضرير ، قال : ثنا إسماعيل بن سميع ، عن مسلم بن أرطأة ، عن عليّ ، في قوله تعالى( الَّذِينَ بَدَّلُوا نِعْمَةَ اللَّهِ كُفْرًا ) قال: <span style="text-decoration:underline;">كفار قريش</span>.<b></b></h2>
<h2 style="text-align:right;"> حدثنا الحسن بن محمد ، قال : ثنا يعقوب بن إسحاق ، قال : ثنا شعبة ، عن القاسم بن أبي بزّة ، عن أبي الطفيل ، عن عليّ ، قال في قول الله( أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِينَ بَدَّلُوا نِعْمَةَ اللَّهِ كُفْرًا وَأَحَلُّوا قَوْمَهُمْ دَارَ الْبَوَارِ ) قال: هم <span style="text-decoration:underline;">كفار قريش</span>.<b></b></h2>
<h2 style="text-align:right;"> حدثنا الحسن بن محمد ، قال : ثنا شبابة ، قال : ثنا شعبة ، عن القاسم بن أبي بزّة ، قال : سمعت أبا الطفيل يحدّث ، قال : سمعت عليا يقول في هذه الآية( أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِينَ بَدَّلُوا نِعْمَةَ اللَّهِ كُفْرًا وَأَحَلُّوا قَوْمَهُمْ دَارَ الْبَوَارِ ) قال: <span style="text-decoration:underline;">كفار قريش يوم بدر</span>.<b></b></h2>
<h2 style="text-align:right;"> حدثنا الحسن ، قال : ثنا الفضل بن دكين ، قال : ثنا بسام الصَّيرفيّ ، قال : ثنا أبو الطفيل عامر بن واثلة ، ذكر أن عليا قام على المنبر فقال: سلوني قبل أن لا تسألوني ، ولن تسألوا بعدي مثلي ، فقام ابن الكوّاء فقال ، من( الَّذِينَ بَدَّلُوا نِعْمَةَ اللَّهِ كُفْرًا وَأَحَلُّوا قَوْمَهُمْ دَارَ الْبَوَارِ )؟ قال<span style="text-decoration:underline;">: <span style="color:#ff0000;text-decoration:underline;">منافقو قريش</span></span> .<b></b></h2>
<h2 style="text-align:right;"> حدثنا الحسن ، قال : ثنا محمد بن عبيد ، قال : ثنا بسام ، عن رجل قد سماه الطنافسيّ ، قال : جاء رجل إلى عليّ ، فقال: يا أمير المؤمنين: من ( الَّذِينَ بَدَّلُوا نِعْمَةَ اللَّهِ كُفْرًا وَأَحَلُّوا قَوْمَهُمْ دَارَ الْبَوَارِ ) ؟ قال: <span style="text-decoration:underline;">في قريش</span>.<b></b></h2>
<h2 style="text-align:right;"> حدثنا أحمد بن إسحاق ، قال : ثنا أبو أحمد ، قال : ثنا بسام الصيرفيّ ، عن أبي الطفيل ، عن عليّ أنه سئل عن هذه الآية( الَّذِينَ بَدَّلُوا نِعْمَةَ اللَّهِ كُفْرًا ) قال: <span style="color:#ff0000;"><span style="text-decoration:underline;">منافقو قريش</span>.</span><b></b></h2>
<p><span style="color:#0000ff;"><b>Abu Salafy:</b></span></p>
<p>Dalam beberapa atsar di atas Ali ra. mengatakan bahwa yang dimaksud dengan mereka adalah para munafik dari suku Quraisy. Tentunya ini tidak bertentangan dengan tafsir sebelumnya yang mengatakan bahwa mereka adalah bani Umayyyah, mengingat setelah Fathu Mekkah, mereka menyerah dan menyatakan keislamannya secara dzahir sementara mereka menyembunyikan kekafiran mereka. Karenanya mereka adalah munafik!</p>
<h2 style="text-align:right;">حدثنا الحسن بن محمد ، قال : ثنا عفان ، قال : ثنا حماد ، قال : ثنا عمرو بن دينار ، أن ابن عباس قال في قوله ( وَأَحَلُّوا قَوْمَهُمْ دَارَ الْبَوَارِ ) قال: <span style="text-decoration:underline;">هم المشركون من أهل بدر.<b></b></span></h2>
<h2 style="text-align:right;">حدثنا الحسن بن محمد ، قال : ثنا عبد الجبار ، قال : ثنا سفيان ، عن عمرو ، قال : سمعت عطاء يقول: سمعت ابن عباس يقول: <span style="text-decoration:underline;">هم والله أهل مكة</span> ( الَّذِينَ بَدَّلُوا نِعْمَةَ اللَّهِ كُفْرًا وَأَحَلُّوا قَوْمَهُمْ دَارَ الْبَوَارِ ).<b></b></h2>
<h2 style="text-align:right;"> حدثنا القاسم ، قال : ثنا الحسين ، قال : ثنا صالح بن عمر ، عن مطرف بن طريف ، عن أبى إسحاق قال: سمعت عمرا ذا مرّ يقول: سمعت عليا يقول على المنبر ، وتلا هذه الآية ( أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِينَ بَدَّلُوا نِعْمَةَ اللَّهِ كُفْرًا وَأَحَلُّوا قَوْمَهُمْ دَارَ الْبَوَارِ )  قال: <span style="text-decoration:underline;">هما الأفجران من قريش ، فأما أحدهما فقطع الله دابرهم يوم بدر ، وأما الآخر فمُتِّعوا إلى حين</span>.<b></b></h2>
<h2 style="text-align:right;"> حدثني محمد بن عمرو ، قال : ثنا أبو عاصم ، قال : ثنا عيسى = وحدثني الحارث ، قال : ثنا الحسن ، قال: حدثنا ورقاء ، وحدثنا الحسن ، قال : ثنا شبابة ، قال : ثنا ورقاء جميعا ، عن ابن أبي نجيح ، عن مجاهد قوله( بَدَّلُوا نِعْمَةَ اللَّهِ كُفْرًا ) قال: كفار قريش.<b></b></h2>
<h2 style="text-align:right;"> حدثنا أحمد بن إسحاق ، قال : ثنا أبو أحمد ، قال : ثنا عبد الوهاب ، عن مجاهد ، قال : كفار قريش/ حدثنا المثنى ، قال : ثنا أبو حذيفة ، قال : ثنا شبل ، عن ابن أبي نجيح ، عن مجاهد( بَدَّلُوا نِعْمَةَ اللَّهِ كُفْرًا ) <span style="text-decoration:underline;">كفار قريش</span>.<b></b></h2>
<h2 style="text-align:right;"> حدثنا القاسم ، قال : ثنا الحسين ، قال : حدثني حجاج ، عن ابن جريج ، عن مجاهد ، مثله<b></b></h2>
<h2 style="text-align:right;">حدثنا الحسن بن يحيى ، قال : أخبرنا عبد الرزاق ، قال : أخبرنا ابن عيينة ، عن عمرو بن دينار ، عن عطاء ، قال : سمعت ابن عباس يقول: هم والله ( الَّذِينَ بَدَّلُوا نِعْمَةَ اللَّهِ كُفْرًا وَأَحَلُّوا قَوْمَهُمْ دَارَ الْبَوَارِ ) <span style="text-decoration:underline;">قريش. أو قال: أهل مكة</span>.<b></b></h2>
<h2 style="text-align:center;" align="center">&#8230;.<b></b></h2>
<h2 style="text-align:right;">  حدثني المثنى ، قال : ثنا عمرو بن عون ، قال : أخبرنا هشيم ، عن إسماعيل بن أبي خالد ، عن أبي إسحاق ، عن بعض أصحاب عليّ ، عن عليّ ، في قوله( أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِينَ بَدَّلُوا نِعْمَةَ اللَّهِ كُفْرًا ) قال: هم <span style="text-decoration:underline;">الأفجران من قريش من بني مخزوم <span style="color:#ff0000;text-decoration:underline;">وبني أمية</span> ، أما بنو مخزوم فإن الله قطع دابرهم يوم بدر ، <span style="color:#ff0000;text-decoration:underline;">وأما بنو أمية فمُتِّعوا إلى حين</span></span><span style="color:#ff0000;">.</span></h2>
<p>(Abu Salafy: Keterangan Ali ra di atas sama dengan keterangan beliau sebrlumnya)</p>
<p dir="rtl" align="center">&#8230;.</p>
<h2 style="text-align:right;">حُدثت عن الحسين ، قال : سمعت أبا معاذ يقول: أخبرنا عبيد بن سليمان ، قال : سمعت الضحاك ، يقول في قوله ( أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِينَ بَدَّلُوا نِعْمَةَ  اللَّهِ كُفْرًا ) &#8230; الآية ، قال : <span style="text-decoration:underline;">هم مشركو أهل مكة.<b></b></span></h2>
<blockquote><p><b> <span style="color:#0000ff;">Abu Salafy:</span></b></p>
<p>Demikianlah Imam Ibnu Jarîr ath Thabari menjelaskan dan memaparkan keterangan para sahabat besar, seperti Sayyidina Umar dan Sayyidina Ali ra. dan mereka adalah Salaf Shaleh kita; Ahlusunnah, walaupun kali ini, ketika para Salaf Shaleh itu menafsirkan ayat dengan tafsiran yang tidak sejalan dengan hawa nafsu mereka pastilah mereka akan memasukkan para tokoh Salaf Shaleh itu ke dalam kerangjang sampah! Mereka campakkan jauh-jauh!<b></b></p></blockquote>
<p><b> <span style="color:#0000ff;">Keterangan Ibnu Katsir</span></b></p>
<p>Ibnu Katsir yang sering menjadi kebanggaan para sarjana dan muallaf Salafi Wahhâbi karena sikap ‘miringnya’ kepada Sayyidina Ali, seperti juga Ibnu Taimiyah; guru kepercayaannya, kini ia menjelaskan apa adanya, sehingga ketarangannua penting disitir di sini.</p>
<p>Dalam tafsirnya yang terkenal Ibnu Katsir<a title="" href="#_ftn1">[1]</a> merangkum keterangan para sahabat dan generasi Salaf Shaleh tentang ayat di atas.</p>
<p>Di antaranya ia berkata:</p>
<h2 style="text-align:right;">قال ابن أبي حاتم: حدثنا أبي، حدثنا ابن نفيل قال: قرأت على مَعْقِل، عن ابن أبي حسين قال: قام علي بن أبي طالب، رضي الله عنه، فقال: ألا أحد يسألني عن القرآن، فوالله لو أعلم اليوم أحدا أعلم مني به  وإن كان من وراء البحار لأتيته. فقام عبد الله بن الكواء فقال: من الذين بدلوا نعمة الله كفرًا وأحلوا قومهم دار البوار؟ فقال: <span style="text-decoration:underline;">مشركو قريش، أتتهم نعمة  الله: الإيمان، فبدلوا نعمة الله كفرا وأحلوا قومهم دار البوار</span> <b></b></h2>
<p>&#8230; dari Ibnu Abi Husain ia berkata, “Ali bin Abi Thalib ra. berdiri lalu berkata. ‘Tidakkah ada seorang yang mau bertanya kepadaku tentang Al Qur’an. Demi Allah, andai aku sekarang ini tau ada seseorang yang lebih mengerti tentang Al Qur’an dariku, walaupun ia berada di balik lautan sana pastilah aku datangi ia.’ Maka bangkitlah Ibnu Kawâ’ lalu berkata, ‘Siapakah yang dimaksud dengan: <i>orang-orang yang telah menukar nikmat Allah dengan kekafiran dan menjatuhkan kaumnya ke lembah kebinasaan,”</i> ia berkata, “Mereka adalah kaum Musyrik Quraisy. Datang kepada mereka nikmat Allah lalu mereka menukarnya dengan kekafiran dan menjatuhkan kaumnya ke lembah kebinasaan,”</p>
<blockquote><p>Al Adawi berkata tentang ayat di atas:</p>
<h2 style="text-align:right;">وقال العدوي في قوله: { أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِينَ بَدَّلُوا نِعْمَةَ اللَّهِ كُفْرًا } الآية، ذكر مسلم المستوفي عن علي أنه قال: هم الأفجران من قريش: <span style="text-decoration:underline;">بنو أمية، وبنو المغيرة</span>، فأما بنو المغيرة فأحلوا قومهم دار البوار يوم بدر، <span style="text-decoration:underline;"><span style="color:#ff0000;text-decoration:underline;">وأما بنو أمية فأحلوا قومهم دار البوار يوم أح</span>د</span>. وكان أبو جهل يوم بدر، <span style="color:#ff0000;"><b><span style="text-decoration:underline;">وأبو سفيان يوم أحد</span></b>.</span> وأما دار البوار فهي جهنم.<b></b></h2>
<p><i>“Tidakkah kamu perhatikan orang-orang yang telah menukar nikmat Allah dengan kekafiran dan menjatuhkan kaumnya ke lembah kebinasaan,”</i>Muslim al Mustawfi menyebutkan dari Ali bahwa ia berkata, “Mereka adalah dua keluarga jahat dari suku Quraisy yaitu bani Umayyah dan bani Mughirah. Adapun bani Mughirah mereka telah menjatuhkan kaumnya ke dalam kebinasaan di hari perang Badar. Adapun bani Umayyah mereka menjatuhkan kaumnya ke dalam kehancuran di parang Uhud. Abu Jahal di hari parang Badar sedangkan <b>Abu Sufyan di hari parang Uhud</b>. Adapun maksud <i>Dârul</i> <i>Bawâr</i> adalah neraka Jahannam.</p></blockquote>
<h2 style="text-align:right;"> وقال ابن أبي حاتم، رحمه الله: حدثنا محمد بن يحيى، حدثنا الحارث بن منصور، عن إسرائيل، عن أبي إسحاق، عن عمرو بن مرة قال: سمعت عليا قرأ هذه الآية: { وَأَحَلُّوا قَوْمَهُمْ دَارَ الْبَوَارِ} قال: <span style="text-decoration:underline;">هم الأفجران من قريش: بنو أمية وبنو المغيرة، فأما بنو المغيرة فأهلكوا يوم بدر، <span style="color:#ff0000;text-decoration:underline;">وأما بنو أمية فمتِّعوا إلى حين.</span><b></b></span></h2>
<h2 style="text-align:right;"> ورواه أبو إسحاق، عن عمرو بن مرة، عن علي، نحوه.<b></b></h2>
<h2 style="text-align:right;"> وروي من غير وجه عنه.</h2>
<p>Ibnu Abi Hâtim meriwayatkan&#8230;&#8230; dari ‘Amr bin Murrah ia berkata, “Aku mendengar Ali membaca ayat ini: “وَأَحَلُّوا قَوْمَهُمْ دَارَ الْبَوَارِ dan berkata, “Mereka adalah dua keluarga jahat dari suku Quraisy; bani Umayyyah dan bani  Mughirah. Adapun bani Mughirah mereka telah dibinasakan dalan parang Badar. <span style="color:#ff0000;"><b>Sedangkan bani Umayyah mereka diberi tangguh hingga waktu tertentu.”</b></span></p>
<p>Dan <i>atsar</i> serupa juga diriwayatkan Abu Ishaq dari ‘Amr bin Murrah dari Ali.</p>
<p>Dan selain jalur di atas, banyak jalur lain yang meriwayatkan tafsir Ali.</p>
<h2 style="text-align:right;"> وقال سفيان الثوري، عن علي بن زيد، عن يوسف بن سعد، عن عمر بن الخطاب، في قوله: { أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِينَ بَدَّلُوا نِعْمَةَ اللَّهِ كُفْرًا } قال: <span style="text-decoration:underline;">هم الأفجران من قريش: بنو المغيرة وبنو أمية، فأما بنو المغيرة فكُفيتمُوهُم يوم بدر، <span style="color:#ff0000;text-decoration:underline;">وأما بنو أمية فمتعوا إلى حين.</span><b></b></span></h2>
<p>Sufyan ats Tsawri meriwayatkan &#8230; dari Umar bin al Khaththab tentang firman Allah:<i> “Tidakkah kamu perhatikan orang-orang yang telah menukar nikmat Allah dengan kekafiran.”</i> Umar berkata, “Mereka adalah dua keluarga jahat dari suku Quraisy; bani Umayyyah dan bani  Mughirah. Adapun bani Mughirah mereka telah dibinasakan dalan parang Badar.<span style="color:#ff0000;"><strong> Sedangkan bani Umayyah mereka diberi tangguh hingga waktu tertentu.</strong>”</span></p>
<h2 style="text-align:right;">وكذا رواه حمزة الزيات، عن عمرو بن مرة قال: قال ابن عباس لعمر بن الخطاب: يا أمير المؤمنين، هذه الآية: { الَّذِينَ بَدَّلُوا نِعْمَةَ اللَّهِ كُفْرًا وَأَحَلُّوا قَوْمَهُمْ دَارَ الْبَوَارِ } قال: <span style="text-decoration:underline;">هم الأفجران من قريش: أخوالي وأعمامك فأما أخوالي فاستأصلهم الله يوم بدر، وأما أعمامك فأملى الله لهم إلى حين</span>.<b></b></h2>
<p>Demikian juga diriwayatkan oleh Hamzah az Zayyât dari ‘Amr bin Murrah, ia berkata, “Ibnu Abbas berkata kepada Umar, ‘Wahai Amirul Mukminin, ayat ini: <i>“orang-orang yang telah menukar nikmat Allah dengan kekafiran dan menjatuhkan kaumnya ke lembah kebinasaan,”</i>, siapa yang dimaksud? Umar berkata, ““Mereka adalah dua keluarga jahat dari suku Quraisy; paman-paman dari sisi ibuku dan paman-paman dari sisi ayahmu (bani Umayyah maksudnya_pen). Adapun paman-paman dari sisi ibuku, Allah telah binasakan mereka. adapun paman-paman dari sisi ayahmu maka Allah memberi tangguh hingga waktu tertentu.”</p>
<p><b> Abu Salafy:</b></p>
<p>Tentu jelas bagi Anda bagaimana makna sebenarnya ayat di atas, dan siapa sebenarnya yang dimaksud dengannya!</p>
<p>Dan ini semua membuktikan betapa bahayanya bani Umayyah&#8230; sebab selain mereka adalah pohon terkutuk dan akan menjadi fitnah atas umat Islam&#8230; mereka ini akan diberi tangguh dalam menjalankan agenda penyesatan hingga waktu tertentu persis Iblis yang kebedaraannya sebagai ujian bagi umat manusia. Dan ini sesuai denga himat penciptaan&#8230; di mana Allah selain melengkapi manusia dengan akal sehat dan fitrah serta megutus para nabi dan rasul dengan membawa kitab suci demi membimbing mereka ke jalan kebahagian dan surga&#8230; Allah juga melengkapi manusia dengan hawa nafsu dan juga musuh-musuh yang akan menghalang-halnagi mereka menuju kesempurnaan penghambaan demi meraih kebagiaan di sisi Allah SWT.</p>
<p>Allah memberi tangguh bani Umayyah sebagai ujian bagi umat manusia pada umumnya dan khususnya umat Islam!</p>
<p>Dan di antara bukti beratnya ujian bani Umayyah yang tidak sedikit dari umat Islam terjatuh dan gagal adalah banyak umat Islam yang masih tertipu oleh propaganda penyesatan bani Umayyah sehingga mereka menjadi agen-agen aktif dalam membela Mu’awiyah dan bani Umayyah pada umumnya!</p>
<p>Semoga Allah menyelamatkan kita dari tipu daya dan propaganda penyesatan bani Umayyah.<i> Âmîn Yâ Rabbal Âlamîn</i>.</p>
<p><b><i>(Bersambung insya Allah)</i></b></p>
<div>
<hr align="left" size="1" width="33%" />
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref1"><b><b>[1]</b></b></a> 4/509.</p>
</div>
</div>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/abusalafy.wordpress.com/2589/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/abusalafy.wordpress.com/2589/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abusalafy.wordpress.com&#038;blog=1269412&#038;post=2589&#038;subd=abusalafy&#038;ref=&#038;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abusalafy.wordpress.com/2013/01/12/persembahan-untuk-ustadz-firanda-dan-para-pemuja-pohon-terkutuk-dalam-al-quran-bagian-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>11</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/9e9f42ee06317a9a9b53f33ec6f955fa?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">abusalafy</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Gembong Takfiri Wahhâbi Bin Jibrin Mengecam Imam Ahlusunnah Wal Jama&#8217;ah; ath Thahâwi!</title>
		<link>http://abusalafy.wordpress.com/2013/01/10/gembong-takfiri-wahhabi-bin-jibrin-mengecam-imam-ahlusunnah-wal-jamaah-ath-thahawi/</link>
		<comments>http://abusalafy.wordpress.com/2013/01/10/gembong-takfiri-wahhabi-bin-jibrin-mengecam-imam-ahlusunnah-wal-jamaah-ath-thahawi/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 10 Jan 2013 02:27:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abusalafy</dc:creator>
				<category><![CDATA[Akidah]]></category>
		<category><![CDATA[Akidah Tajsim & Tasybih]]></category>
		<category><![CDATA[Fatwa Pensesatan]]></category>
		<category><![CDATA[Fatwa Wahabi-Salafy]]></category>
		<category><![CDATA[Manhaj]]></category>
		<category><![CDATA[Penyimpangan Akidah Dalam Kitab at Tauhid]]></category>
		<category><![CDATA[Wahabi dan Pengkafiran Umat Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Wahhabi Versus Ulama Islam]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abusalafy.wordpress.com/?p=919</guid>
		<description><![CDATA[Karakter khas Wahhâbi salafi adalah keganasan sikapnya terhadap siapapun yang tidak mendukung akidah menyimpang mereka, khususnya tentang sifat! Kini giliran Imam besar Ahlusunnah, Imam ath Thahâwi mereka kecam dan tuduh menyembunyikan akidah yang shahihah yang diyakini &#8220;Salaf Shaleh&#8221;. Kata Bin Jibrin, Imam ath Thahâwi terpengaruh kesesatan ahli bid&#8217;ah!! Dan yang aneh, Bin Jibrin yang kerjanya [&#8230;]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abusalafy.wordpress.com&#038;blog=1269412&#038;post=919&#038;subd=abusalafy&#038;ref=&#038;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p dir="ltr" style="text-align:justify;">Karakter khas Wahhâbi salafi adalah keganasan sikapnya terhadap siapapun yang tidak mendukung akidah menyimpang mereka, khususnya tentang sifat!</p>
<p dir="ltr" style="text-align:justify;">Kini giliran Imam besar Ahlusunnah, Imam ath Thahâwi mereka kecam dan tuduh menyembunyikan akidah yang <em>shahihah</em> yang diyakini &#8220;Salaf Shaleh&#8221;. <span style="color:#0000ff;"><em>Kata Bin Jibrin, Imam ath Thahâwi terpengaruh kesesatan ahli bid&#8217;ah!!</em></span> Dan yang aneh, Bin Jibrin yang kerjanya hanya mengkafirkan sana sini, khususnya kaum Rafidhah, kini malah menuduh Imam Ahlusunnah <em><span style="color:#0000ff;">ath Thahâwi</span> </em>itu telah bertaqiyyah dalam sikapnya yang tidak mau berterang-terangan menegaskan akidah sifat versi Wahhâbi Salafi.<span id="more-919"></span></p>
<p dir="ltr" style="text-align:justify;">Dalam <span style="color:#0000ff;"><em><strong>ta&#8217;liqât</strong></em></span>-nya atas kitab <span style="color:#0000ff;"><em>al Aqîdah al Wâsithiyah</em></span>, Bin Jibrin memuntahkan kecamana dan tuduhan palsunya kepada Imam ath Thahâwi. Berikut ini fitnahan Bin Jibrin: <!--more--></p>
<p dir="ltr" style="text-align:justify;">.</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://abusalafy.files.wordpress.com/2012/08/jibrin1.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1788" title="jibrin1" alt="" src="http://abusalafy.files.wordpress.com/2012/08/jibrin1.jpg?w=468&#038;h=660" width="468" height="660" /></a>.</p>
<p style="text-align:justify;">.</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://abusalafy.files.wordpress.com/2012/08/jibrin2.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1789" title="jibrin2" alt="" src="http://abusalafy.files.wordpress.com/2012/08/jibrin2.jpg?w=468&#038;h=660" width="468" height="660" /></a>.</p>
<p style="text-align:justify;">.</p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;"><em>Dan ath Thahawi juga menulis akidahnya yang terkenal itu dan ia tidak menegaskan terang-terangan mazhab yang benar tentang penetapan sifat istiwa&#8217; dan sifat ketinggian hakiki/fisikal serta sifat-sifat fi&#8217;liyah sesuai dengan Salaf umat ini yang terdukung oleh dalil-dalil yang jelas, <span style="color:#ff0000;">SEBAB DIA HIDUP DI ZAMAN BANYAK PARA PENGINGKAR TERHADAP SIFAT.</span></em></p>
<p style="text-align:justify;"><em>walaupun dalam masalah sifat-sifat lain ia menjelaskannya. Apapun kondisinya, <span style="color:#ff0000;">IA TELAH TERSERANG SEBAGIAN DARI SYUBHAT-SYUBHAT PARA AHLI KALAM, KARENANYA IA MENERIMA SEBAGIAN DARI BID&#8217;AH MEREKA</span><span style="color:#ff0000;"> .</span></em></p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;">.</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#333333;"><strong>Abu Salafy berkata:</strong></span></p>
<p style="text-align:justify;">Bin Jibrin, hendak memaksa agar ath Thahawi meyakini kesesatan akidah yang mengatakan bahwa Allah bersemayam di atas Arsy yang dipikul oleh kambing-kambing hutan/para malaikat yang serupa dengan kambing hutan yang mengapung di atas air di atas sana/ fi &#8216;ama&#8217;! akidah yang jelas-jelas meniscayakan butuhnya Allah kepada tempat dan keterbatasan-Nya. yang mana semua itu tidak pernah/tidak mau dipikirkan baik-baik oleh para masyaikh Wahabi Salafy yang pandainya hanya menelan mentah-mentah riwayat-riwayat palsu dan pemahaman kaum mujassimah musyabbihah. dan barang siapa yang berani menyalahi akidah tajsim dan tasybih ala Wahhabi Salafi mereka kecam sebagai Jahmi! Ahli Bid&#8217;ah yang sesat lagi menyesatkan!</p>
<p style="text-align:justify;">Inilah Wahhabi!! Dan inilah sikap mereka terhadap para ulama Muslim dari kelompok lain!</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/abusalafy.wordpress.com/919/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/abusalafy.wordpress.com/919/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abusalafy.wordpress.com&#038;blog=1269412&#038;post=919&#038;subd=abusalafy&#038;ref=&#038;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abusalafy.wordpress.com/2013/01/10/gembong-takfiri-wahhabi-bin-jibrin-mengecam-imam-ahlusunnah-wal-jamaah-ath-thahawi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>12</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/9e9f42ee06317a9a9b53f33ec6f955fa?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">abusalafy</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://abusalafy.files.wordpress.com/2012/08/jibrin1.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">jibrin1</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://abusalafy.files.wordpress.com/2012/08/jibrin2.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">jibrin2</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Bani Umayyah Dalam Al Qur’an Dan Sunnah</title>
		<link>http://abusalafy.wordpress.com/2013/01/07/bani-umayyah-dalam-al-quran-dan-sunnah/</link>
		<comments>http://abusalafy.wordpress.com/2013/01/07/bani-umayyah-dalam-al-quran-dan-sunnah/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 07 Jan 2013 05:16:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abusalafy</dc:creator>
				<category><![CDATA[Akidah]]></category>
		<category><![CDATA[Bantahan & Tanggapan]]></category>
		<category><![CDATA[Ibnu Abdul Wahab]]></category>
		<category><![CDATA[Kajian Hadis]]></category>
		<category><![CDATA[Kajian Ibnu Taimiyah]]></category>
		<category><![CDATA[Kepalsuan Ibnu Taimyah]]></category>
		<category><![CDATA[Manhaj]]></category>
		<category><![CDATA[Membantah Ust. Firanda]]></category>
		<category><![CDATA[Menjawab Web/Blog Wahabi/Salafy]]></category>
		<category><![CDATA[Wahhabi Versus Ulama Islam]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abusalafy.wordpress.com/?p=2572</guid>
		<description><![CDATA[Persembahan Untuk Ustadz Firanda dan Para Pemuja Pohon Terkutuk Dalam Al Qur&#8217;an! Pendahuluan Keabadian di akhirat ada dua macam, Abadi di dalam surga dan abadi di dalam neraka.. أُولئِكَ أَصْحابُ الْجَنَّةِ هُمْ فيها خالِدُونَ “ &#8230; mereka itulah penghuni-penghuni surga; mereka kekal di dalamnya. (QS. Al Baqarah;82) فَأُولَئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ هُمْ فِيْهَا خَالِدُوْن “&#8230; mereka [&#8230;]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abusalafy.wordpress.com&#038;blog=1269412&#038;post=2572&#038;subd=abusalafy&#038;ref=&#038;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<h2><b><span style="color:#ff0000;">Persembahan Untuk Ustadz Firanda dan Para Pemuja Pohon Terkutuk Dalam Al Qur&#8217;an!</span><br />
</b></h2>
<h2>Pendahuluan</h2>
<p>Keabadian di akhirat ada dua macam, Abadi di dalam surga dan abadi di dalam neraka..</p>
<h2 style="text-align:right;">أُولئِكَ أَصْحابُ الْجَنَّةِ هُمْ فيها خالِدُونَ</h2>
<p><i>“ &#8230; </i><i>mereka itulah penghuni-penghuni surga; mereka kekal di dalamnya.</i><i> </i>(QS. Al Baqarah;82)</p>
<h2 style="text-align:right;">فَأُولَئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ هُمْ فِيْهَا خَالِدُوْن</h2>
<p><i>“&#8230; </i><i>mereka adalah penghuni neraka (dan) mereka kekal di dalamnya.</i><i>”</i><i> </i>(QS. Al Baqarah;81)</p>
<p>Demikian puladengan kebadian di dunia. Ia ada dua macam&#8230;</p>
<p>Kebadian dengan sebutan harum, keutamaan dan kemuliaan serta amal-amal shaleh&#8230; penyandang kemulian sifat akan abadi dalam sebutan harum &#8230; abadi dalam hati dengan kerinduan dan kecitaan&#8230; dalam lembaran kitab dan di pertemuan-pertemuan umum dengan pujian</p>
<p>Sementara penyandang sifat-sifat buruk dan pelaku kejahatan juga akan abadi&#8230; namun dengan sebutan buruk, kehinaan, kecaman dan kutukan &#8230; hati-hati manusia mmebencinya&#8230; lisan-lisan mereka mengecam dan mengutuknya&#8230; kitab-kitab membeber kejahatan dan kehinaannya.<span id="more-2572"></span></p>
<p>Antara keabadian di dunia dan keabadian di akhirat terdapat relasi yang sangat erat&#8230; keabadian di surga di akhirat dan sebutan indah di dunia saling terkait&#8230;</p>
<p>Demikian pula dengan keabadian di neraka dengan keabadian sebutan buruk, laknatan juga salng terkait!</p>
<p>Ini adalah Sunnah Allah&#8230;.</p>
<p>Dan taida perubahan pada Sunnah Allah!</p>
<h2 style="text-align:right;">فَلَنْ تَجِدَ لِسُنَّتِ اللَّهِ تَبْديلاً وَ لَنْ تَجِدَ لِسُنَّتِ اللَّهِ تَحْويلاً</h2>
<p><i>“Maka sekali-kali kamu tidak akan mendapat penggantian bagi sunah Allah, dan sekali- kali tidak (pula) akan menemui penyimpangan bagi sunah Allah itu.”</i> (QS. Al Fathir;43)</p>
<p>Inilah dua model keabadian yang saling berhadap-hadapan .. saling menjauh .. saling bermusuhan di sepanjang sejarah imat manusia&#8230;</p>
<p>Pada umat terakhir di pentas sejarah umat manusia ini mereka adalah:</p>
<p>Muhammad bin Abdillah, Rasulullah dan Ahlulbait dan para sahabat bsetia beliau di satu sisi</p>
<p>Dan Abu Sufyan, Hindun, Mu’awiyah, Yazid di sisi lain..</p>
<p>Rasulullah dan Ahlulbait adalah wujud keabadian cahaya ilahi.. mereka abadi dengan sebutan harum dan kenangan indah serta kecintaan penghuni langit dan bumi&#8230;</p>
<p>Sementara bani Umayyah yang dikepalai oleh Abu Sufyan kemudian Mu’awiyah kemudian Yazid adalah wujud keabadian bagi kegelapan dan laknat Allah!! Sebutan mereka selalu disertai dengan kecaman dan kutukan Allah, penghuni langit dan penghuni bumi!!</p>
<p>Alhulbait kapan pun mereka disebut selalu diiringi dengan pujian&#8230;</p>
<p>Dalam Al Qur’an Ahlulbait terpuji&#8230;.</p>
<p>Dalam Sunnah Ahlulbait juga tersanjng dan terpuji&#8230;</p>
<p>Sejarah pun mengabadikan kemulian dan pujian Allah dan manusia&#8230;</p>
<p>Sebaliknya dengan bani Umayyah.. kapanpun mereka disebut laknat Allah selalu menyertai mereka&#8230;</p>
<p>Dalam Al Qur’an mbani Umayyah terlaknat</p>
<p>Dalam Sunnah bani Umayyah juga terkutuk..</p>
<p>Lisan-lisan penghuni langit dan penghuni bumi juga melaknati bani Umayyah&#8230;</p>
<p>Ini adalah kenyataan yang bukti kebenarannya telah menyatu dengan hakikatnya&#8230; tidak perlu bukti dari luar dirinya&#8230;<b></b></p>
<h2><span style="color:#ff0000;"><b>Bani Umayyah Dalam Al Qur’an</b></span></h2>
<p>Al Qur’an adalah puncak etika dan kemulian&#8230; lautan sopan santun dan adab.</p>
<h2 style="text-align:right;">إِنَّ هذَا الْقُرْآنَ يَهْدي لِلَّتي‏ هِيَ أَقْوَمُ وَ يُبَشِّرُ الْمُؤْمِنينَ الَّذينَ يَعْمَلُونَ الصَّالِحاتِ أَنَّ لَهُمْ أَجْراً كَبيراً</h2>
<p><i>“Sesungguhnya Al Qur&#8217;an ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lebih lurus dan memberi kabar gembira kepada orang-orang Mukmin yang mengerjakan amal saleh bahwa bagi mereka ada pahala yang besar.”</i> (QS. Al Isra’;9)</p>
<p>Al Qur’an telah menetapkan sebuah ketetapan bahwa konsekeunsi dosa dan tanggun jawab kejahatan hanya akan dipilulkan kepada palakunya&#8230; tidak kepada selainnya.. tidak kepada anak keturunannya &#8230; tidak pula kepada nenek moyangnya&#8230; dan tidak pula kepada teman atau sahabatnya&#8230; hanya si pelaku yang harus mempertanggung-jawabkan kejahatannya!</p>
<h2 style="text-align:right;"><b>عَلَيْها وَ لا تَزِرُ وازِرَةٌ وِزْرَ أُخْرى‏ </b><b></b></h2>
<p style="text-align:left;"><i>“&#8230; </i><i>dan seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain.</i><i>:</i><i> </i>(QS. Al An’âm;164)</p>
<p style="text-align:left;">Inilah Al Qur’an al Karîm&#8230; lembaran manapun yang engkau buka&#8230; surah dan ayyat apapun yang engkau baca&#8230; hanya etika adil ini yang akan engkau temukan! Al Qur’an hanya membatasi kecaman atas pelaku kejahatan dan/atau yang penyandang sifat setani dengan sifat setani si pelaku kejahatan &#8230;</p>
<p>Ketika Al Qur’an mengecam seorang dari dedengkot kaum kafir Quraisy&#8230; Allah berfiaman:</p>
<h2 style="text-align:right;" align="right">إِنَّهُ فَكَّرَ وَ قَدَّرَ</h2>
<p>“Sesungguhnya dia telah memikirkan dan menetapkan (apa yang ditetapkannya )</p>
<h2 style="text-align:right;" align="right">فَقُتِلَ كَيْفَ قَدَّرَ</h2>
<p>Maka  celakalah dia! Bagaimanakah dia menetapkan,</p>
<h2 style="text-align:right;" align="right">ثُمَّ قُتِلَ كَيْفَ قَدَّرَ</h2>
<p>Kemudian celakalah dia! Bagaimanakah dia menetapkan.” (QS. Al Mudatstsir;18-20)</p>
<p>Al Qur’an juga mengecam seseorang dengan ayat:</p>
<h2 style="text-align:right;">وَ لا تُطِعْ كُلَّ حَلاَّفٍ مَهينٍ</h2>
<p>Dan janganlah kamu ikuti setiap orang yang banyak bersumpah lagi hina,</p>
<h2 style="text-align:right;">هَمَّازٍ مَشَّاءٍ بِنَميمٍ</h2>
<p>Yang  banyak mencela, yang kian ke mari menghambur fitnah,</p>
<h2 style="text-align:right;">مَنَّاعٍ لِلْخَيْرِ مُعْتَدٍ أَثيمٍ</h2>
<p>Yang  sangat enggan berbuat baik, yang melampaui batas lagi banyak dosa,</p>
<h2 style="text-align:right;">عُتُلٍّ بَعْدَ ذلِكَ زَنيمٍ</h2>
<p>Yang  kaku kasar, selain dari itu, yang terkenal kejahatannya. “ (QS. Al Qalam;10-13)</p>
<p>Dan ketika berbicara tentang orang ketika, Al Qur’an menyebutkan:</p>
<h2 style="text-align:right;">فَمَثَلُهُ كَمَثَلِ الْكَلْبِ إِنْ تَحْمِلْ عَلَيْهِ يَلْهَثْ أَوْ تَتْرُكْهُ يَلْهَثْ ذلِكَ مَثَلُ الْقَوْمِ الَّذينَ كَذَّبُوا بِآياتِنا فَاقْصُصِ الْقَصَصَ لَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ</h2>
<p><i>“</i><i>maka perumpamaannya seperti anjing jika kamu menghalaunya diulurkannya lidahnya dan jika kamu membiarkannya dia mengulurkan lidahnya (juga). Demikian itulah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami. Maka ceritakanlah (kepada mereka) kisah-kisah itu agar mereka berpikir.</i><i>” </i>(QS. Al A’raf;176)</p>
<p>Dan demkkian seterusnya&#8230;</p>
<p>Tetapi dalam kenyataan etika ini terdapat pengecualian &#8230; dan hanya dalam satu kasus.. dalam satu ayat saja .. dan hanya untuk beberapa orang tertentu saja!</p>
<p>Kapan itu?</p>
<p>Siapa yang dikecualikan dari aturan umum Al Qur’an itu?</p>
<p>Mengapa dalam kasus ini Al Qur’an tidak seperti biasanya yang hanya menyebut si palaku kejahatan saja&#8230; tetapi sekarang menyebut satu keluarga besar.. ya satu keluarga besar sebagai Fitnah/cobaan bagi umat manusia (bukan hanya bagi umat Islam saja!) dan sebagai keluarga terkutuk&#8230; pohon terlaknat!</p>
<p>Tahukan kalian, siapa mereka itu?</p>
<p>Keluarga siapakah yang terkutuk dalam Al Qur’an?</p>
<p>Mereka adalah bani Umayyah&#8230;</p>
<p>Bukan hanya Abu Sufyan seorang &#8230; bukan Mu’awiyah seorang&#8230; bukan pula Yazid bin Mu’awiyah seorang&#8230; mereka adalah keluarga besar bani Umayyah</p>
<h2 style="text-align:right;"> وَ إِذْ قُلْنا لَكَ إِنَّ رَبَّكَ أَحاطَ بِالنَّاسِ وَ ما جَعَلْنَا الرُّؤْيَا الَّتي‏ أَرَيْناكَ إِلاَّ فِتْنَةً لِلنَّاسِ وَ الشَّجَرَةَ الْمَلْعُونَةَ فِي الْقُرْآنِ وَ نُخَوِّفُهُمْ فَما يَزيدُهُمْ إِلاَّ طُغْياناً كَبيراً</h2>
<p><i>“Dan (ingatlah), ketika Kami wahyukan kepadamu: “Sesungguhnya (ilmu) Tuhanmu meliputi segala manusia.” Dan Kami tidak menjadikan mimpi yang telah Kami perlihatkan kepadamu, melainkan sebagai ujian bagi manusia dan (begitu pula) pohon kayu yang terkutuk dalam Al Qur&#8217;an. Dan Kami menakut-nakuti mereka, tetapi yang demikian itu hanyalah menambah besar kedurhakaan mereka.”</i> (QS. Al Isra’;60)</p>
<blockquote><p><span style="color:#ff0000;"><strong>Bukan hanya Abu Sufyan seorang yang terlaknat!</strong></span></p>
<p><span style="color:#ff0000;"><strong>Bukan Mu’awiyah seorang yang terlaknat!</strong></span></p>
<p><span style="color:#ff0000;"><strong>Bukan juga hanya Yazid putra Mu’awiyah yang  <i>mal’ûn</i>!</strong></span></p>
<p><span style="color:#ff0000;"><strong>Tetapi keluarga bani Umayyah lah yang terkutuk&#8230;.</strong></span></p>
<p><span style="color:#ff0000;"><strong>Abu Sufyan&#8230; Mu’awiyah &#8230; Yazid&#8230;</strong></span></p>
<p><span style="color:#ff0000;"><strong>Kakek&#8230; Bapak &#8230; Anak&#8230; semuanya terlaknat &#8230; semuanya adalah pohon terkutuk dalam Al Qur’an!!</strong></span></p>
<p><span style="color:#ff0000;"><strong>Pohon terkutuk itu adalah bani Umayyah..</strong></span>.</p></blockquote>
<p>Baca kenyataan ini dalam berbagai kitab tafsir dengan riwayat-riwayat yang shahih dari para sahabat dan <i>Tâbi’în</i>!</p>
<blockquote><p><span style="color:#000080;">Baca tafsir ad Durr al Matsûr karya Imam Jalaluddin as Suyuthi&#8230; beliau telah meriwayatkan fatsir ayad di atas bahwa yang dimaksud dengan <i>syajarah mal’ûnah fîl Qur’ân</i> adalah bani Umayyah dari riwayat: </span></p>
<p><span style="color:#000080;">(1) Ibnu Abi Hatim dari Ya’la  bin Murrah. </span></p>
<p><span style="color:#000080;">(2) Ibnu Mardawaih dari Imam Husain bin Ali ra. </span></p>
<p><span style="color:#000080;">(3) Ibnu Mardawaih, Ibnu Abi Hatim, al Baihaqi dalam Dalâil dan Ibnu ‘Asâkir dari Said bin Musayyib.<a title="" href="#_ftn1"><span style="color:#000080;">[1]</span></a></span></p>
<p><span style="color:#000080;">Imam ar Râzi juga menukil dari Ibnu Abbbas ra. bahwa <i>syajarah mal’ûnah fîl Qur’ân</i> adalah bani Umayyah!<a title="" href="#_ftn2"><span style="color:#000080;">[2]</span></a></span></p></blockquote>
<h3><span style="color:#ff0000;"><strong>Inilah kenyataan Qur’aniyah yang sering ditutup-tutupi dan diputar-nalikkan oleh para pemuja pohoh terkutuk tersebut!</strong></span></h3>
<p>Abusalafy akan membantu Anda wahai pecinta kebenaran untuk melacak ayat-ayat kecaman atas bani Umayyah agar dapat diselamatkan dari fitnah dan kejahatan mereka!</p>
<p><span style="color:#ff0000;"><b>(Bersambung, Insya Allah)</b></span></p>
<div>
<hr align="left" size="1" width="33%" />
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref1">[1]</a> Ad Durr al Mantsûr, ketika menfsirkan ayat di atas.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref2">[2]</a> Tafsir ar Râzi , ketika menfsirkan ayat di atas.</p>
</div>
</div>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/abusalafy.wordpress.com/2572/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/abusalafy.wordpress.com/2572/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abusalafy.wordpress.com&#038;blog=1269412&#038;post=2572&#038;subd=abusalafy&#038;ref=&#038;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abusalafy.wordpress.com/2013/01/07/bani-umayyah-dalam-al-quran-dan-sunnah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>28</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/9e9f42ee06317a9a9b53f33ec6f955fa?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">abusalafy</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Seri Kepalsuan Ibnu Taimiyah (5)</title>
		<link>http://abusalafy.wordpress.com/2013/01/07/seri-kepalsuan-ibnu-ttaimiyah-5/</link>
		<comments>http://abusalafy.wordpress.com/2013/01/07/seri-kepalsuan-ibnu-ttaimiyah-5/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 07 Jan 2013 01:17:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abusalafy</dc:creator>
				<category><![CDATA[Akidah]]></category>
		<category><![CDATA[Kajian Ibnu Taimiyah]]></category>
		<category><![CDATA[Kenaifan Kaum Wahhabi]]></category>
		<category><![CDATA[Kepalsuan Ibnu Taimyah]]></category>
		<category><![CDATA[Manhaj]]></category>
		<category><![CDATA[Membantah Ust. Firanda]]></category>
		<category><![CDATA[Menjawab Web/Blog Wahabi/Salafy]]></category>
		<category><![CDATA[Wahhabi Versus Ulama Islam]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abusalafy.wordpress.com/?p=2558</guid>
		<description><![CDATA[Demi Kebenciannya Kepada Imam Ali ra., Ibnu Taimiyah MemfitnahPara Sahabat Nabi saw.! Persembahan Untuk Abu Fakhri, Firanda Dkk Dengan cara-cara yang licik dan licin, Ibnu Taimiyah terus menerus mengembuskan napas beracunnya kepada para pecinta dan pengagung kesesatannya. Para ulama Ahlusunnah telah mencium aroma busuk kemunafikan pada Ibnu Taimiyah dari mulut dan penanya…. Tanpa segan-segan ia [&#8230;]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abusalafy.wordpress.com&#038;blog=1269412&#038;post=2558&#038;subd=abusalafy&#038;ref=&#038;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<h3><b><span style="color:#ff0000;">Demi Kebenciannya Kepada Imam Ali ra., Ibnu Taimiyah Memfitnah<b>Para Sahabat Nabi saw.!</b></span></b></h3>
<h3><span style="color:#ff0000;"><b>Persembahan <a href="http://abusalafy.wordpress.com/2012/07/26/persembahan-untuk-ustadz-firanda-ibnu-taimiyah-syaikhul-islam-atau-syaikhun-nifaq-4/#comment-26561" target="_blank">Untuk Abu Fakhri</a>, Firand</b><b>a Dkk</b></span></h3>
<p style="text-align:justify;">Dengan cara-cara yang licik dan licin, Ibnu Taimiyah terus menerus mengembuskan napas beracunnya kepada para pecinta dan pengagung kesesatannya<b>. </b>Para ulama Ahlusunnah telah mencium aroma busuk kemunafikan pada Ibnu Taimiyah dari mulut dan penanya…. Tanpa segan-segan ia menghina, melecehkan Imam Ali ra. menabur keraguan akan keabsahan kekhalifahannya, keadilannya, ketulusannya terhadap Allah dan rasul-Nya, bahkan puncaknya ia meragukan keimanan Sayyidina Imam Ali ra.</p>
<p style="text-align:justify;">Karena Ibnu Taimiyah itu cerdas dan para Salafi Wahhâbi pengagum Ibnu Taimiyah adalah orang-orang dungu maka makar jahat Ibnu Taimiyah yang diselipkan dalam keterangan berbelitnya tidak mampu mereka ketahui. Sebab untuk memahami liku-ilku kejahatan dan kemunafikan Ibnu Taimiyah butuh kecerdasan, bukan taklid buta yang disertai kedunguan akibat jauh dari cayaha kebenaran!</p>
<p style="text-align:justify;">Dalam kesempatan ini saya hanya akan menyakijan satu bukti baru kemunafikan Ibnu Taimiyah seperti ditegaskan para ulama Ahlusunnah sebagai dipaparkan <em>Imam Ibnu Hajar al Asqallâni</em> dalam keterangan panjangnya dalam kitab <em>ad Durar al Kâminah</em> dan telah lewat dalam beberapa artikel saya sebutkan.<span id="more-2558"></span></p>
<p><b>Ibnu Taimiyah Menfitnah bahwa Banyak Sahabat Nabi saw. Membenci Sayyidina Ali ra.</b></p>
<p style="text-align:justify;">Dengan bahasa berbelit penuh racum kemunafikan, Ibnu Taimiyah memfitnah bahwa banyak dari sahabat Nabi saw. adalah pembenci Sayyidina Ali ra. fitnah murahan itu bukan tanpa tujuan… di balik fitnah itu, Ibnu Taimiyah hendak meracuni pikiran kaum Muslimin, khususnya mereka yang tertipu dengan proganda Salafi Wahhâbi bahwa dia adalah juru bicara resmi Islam, <i>Syeikhul Islam</i>!</p>
<p style="text-align:justify;">Dengan sedikit ketelitian pasti Anda dapat membaca bahwa tujuan jahat Ibnu Taimiyah dengan fitnahan itu adalah <span style="color:#0000ff;"><em>membangun opini bahwa jangan takut membenci Ali… teladan kamu dalam kebencian (kepada Ali ra)  itu adalah sahabat Nabi. Bukan satu sahabat, yaitu Muawiyah… tapi banyak sahabat….</em></span> Di samping tentunya yang terpenting bagi Ibnu Taimiyah adalah membela Mu’awiyah.. bahwa Mu’awiyah tidak sendirian dalam kebenciannya itu!</p>
<p style="text-align:justify;">Dan adanya kebencian para sahabat kepada Ali adalah bukti bahwa Ali bukan orang Mukmin sejati… sebab mana mungkin seorang Mukmin sejati tidak dicintai oleh orang-orang yang telah dipilih Allah SWT untuk menjadi sahabat nabi-Nya?!</p>
<p style="text-align:justify;">Anda mungkin menduduh abusalafy memperuncing kesimpulan dan mengada-ngada! Karenanya, saya langsung ajak anda menyimak sendiri tulisan Ibnu Taimiyah… pendapat dan ulasan Ibnu Taimiyah… bukan pendapat kaum Nashibi yang sedang disebutkan Ibnu Taimiyah.. (sebab sering kali para ustadz Salafi Wahhâbi menipu para jama’ahnya yang rata-rata adalah kaum awam) <span style="color:#0000ff;"><em>bahwa itu bukan ucapan atau pendapat Ibnu Taimiyah… beliau hanya sedang menyampaikan pendapat kaum Nashibi untuk melawan kaum Rafidhah!</em></span></p>
<h3>Perhatian keterangan Ibnu Taimiyah di bawah ini:</h3>
<blockquote>
<h2 style="text-align:right;">إن الله قد أخبر أنه سيجعل للذين آمنوا و عملوا الصالحات وُدًّا، وهذا وعدٌ منه صادقٌ، و معلومٌ أن الله قد جعل للصحابة مودة في قلب كل مسلم لا سيما الخلفاء رضي الله عنهم و لا سيما أبو بكر و عمر، فإن عامة الصحابة و التابعين كانوا يحبونهما و كانوا خير القرون.</h2>
<h2 style="text-align:right;"><span style="color:#ff0000;">و لم يكن علِيٌّ كذلك، فإن كثيرا من الصحابة و التابعين كانوا يبغضونه يسبُّونه يقاتلونه.</span></h2>
<p style="text-align:justify;"><em>“Sesungguhnya Allah telah mengabarkan bahwa orang-orang yang beriman dan beramal shaleh akan dijadikan untuk mereka kecintaan dalam hati-hati kaum Mukminin. Dan ini adalah janji yang benar! Dan telah maklum <span style="color:#0000ff;">bahwa Allah telah menjadikan untuk para sahabat kecintaan dalam hati setiap Muslim</span>, khususnya para Khulafâ ra, dan terkhusus lagi kepada Abu bakar dan Umar. Kebanyakan sahabat dan Tabi’în mengagungkan keduanya. Dan mereka (sahabat dan Tabi’în) adalah sebaik-baik generasi.</em></p>
<p style="text-align:justify;"><em><span style="color:#ff0000;"><b>Dan Ali tidak demikian, karena banyak dari sahabat dan Tabi’în mereka itu  membencinya, mencacinya dan memeranginya!”</b></span></em><a title="" href="#_ftn1">[1]</a></p>
</blockquote>
<p>.</p>
<p><b>Abu Salafy:</b></p>
<p style="text-align:justify;">Kali ini untuk memahami tipu muslihat dan makar jahat Ibnu Taimiyah, Anda tidak harus membutuhkan kecerdasan luar biasa. Cukup dengan sedikit meneliti kata-kata beracun yang digunakannya untuk mengelabui pembacanya, Anda pasti dapat merasakannya.</p>
<p style="text-align:justify;"><b><i>Pertama</i></b> yang ingin saya katakana di sini adalah bahwa janji Allah SWT yang ia singgung adalah firman Allah dalam ayat 96 surah Maryam yang berbunyi:</p>
<h2 style="text-align:right;">إِنَّ الَّذينَ آمَنُوا وَ عَمِلُوا الصَّالِحاتِ سَيَجْعَلُ لَهُمُ الرَّحْمنُ وُدًّا</h2>
<p style="text-align:justify;"><i>“Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal saleh, kelak Allah Yang Maha Pemurah akan menanamkan dalam (hati) mereka rasa kasih sayang.” </i></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#0000ff;"><em>Kandungan ayat itu dalam hemat Ibnu Taimiyah adalah bahwa tanda dan ciri orang beriman adalah adanya kecintaan manusia kepadanya</em></span>. Dan karena banyak dari para sahabat dan <i>Tabi’în</i> membenci Ali dan mencacinya maka ayat itu bisa jadi bukti pertanda ketidak-imanan Ali dan dia bukan tergolong orang-orang yang beramal shaleh!</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#0000ff;"><em>Bolehkah seorang Muslim melontarkan kata-kata keji sepeti itu?!</em></span> Lalu dengan cara licik seperti itu ia menggiring pembacanya untuk mengeluarkan orang pertama yang memeluk Islam dari kelompok kaum Mukminin?! Demi Allah, sunngguh durhaka kata-kata yang terlontar dari mulut Ibnu Taimiyah dan musuh-musuh Ali ra. lainnya!</p>
<p style="text-align:justify;"><b><i>Kedua</i></b>, Jika maksud ayat di atas bahwa tanda dan ciri orang Mukmin itu adalah adanya kecintaan seluruh manusia kepadanya maka pastilah di muka bumi ini tidak ada seorang Mukmin pun yang dicintai seluruh umat manusia. Kaum Yahudi membenci dan memusuhi Nabi Isa as., sebagaimana mereka juga tentunya membenci Nabi Muhammad saw.!</p>
<p style="text-align:justify;">Ini adalah bukti bahwa Ibnu Taimiyah jahil akan makna ayat di atas!</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#0000ff;"><em>Makna ayat itu adalah</em></span>, <i>Allahu A’lam</i> adalah demikian: bahwa orang beriman yang mengerjakan amal-amal shaleh maka ia secara umum akan dicintai manusia. Sebab keimanannya akan mendorongnyan untuk menyandang nilai-nilai mulia kemanusiaan dan berbuat amal-amal kebajikan yang bermanfaat untuk orang banyak. Dan karenanya pasti mereka mencintainya!</p>
<p style="text-align:justify;"><b><i>Ketiga</i></b>: Sebagaimana telah sering saya katakan dan tegaskan bahwa Ibnu Taimiyah ini adalah manusia berbahaya bagi agama kita sebelum ia berbahaya bagi mazhab Ahlusunnah sendiri! Bagaimana tidak? Betapa sering ia demi menyerang al Hilli (ulama Syi’ah yang sedang ia bantah kitabnya itu) dan menjatuhkan dalil-dalil Syi’ah tentang kepempimpinan Sayyidina Ali ra (seperti yang diyakini Syi’ah)… ya betapa sering untuk itu, Ibnu Taimiyah menjatuhkan dan menghinakan Sayyidina Ali ra sendiri. Dan ini yang telah ditegaskan Ibnu Hajar al Asqallâni.</p>
<p><strong>Dalam kitab <i>Lisân al Mîzân</i>, Ibnu Hajar berkata:</strong></p>
<h2 style="text-align:right;"><span style="color:#ff0000;"><b>   </b><b>وكم من مبالغة لتوهين كلام الرافضي أدتـه أحياناً إلى تنقيص عليّ رضي الله عنه</b><b>.</b></span></h2>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#ff0000;"><strong><i>“Dan betapa sering, karena berlebih-lebihan dalam melemahkan ucapan ulama rafidhi itu menyeretnya kepada menghina Ali (semoga ridha Allah untuknya).”</i></strong></span><a title="" href="#_ftn2">[2]</a></p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;">Karenanya para ulama Ahlusunnah dan juga para kyia dan santri harus serius mewaspadai bahaya pemikiran sesat Ibnu Taimiyah….</p>
<p style="text-align:justify;">Dan kali ini, dalam kata-katanya di atas Ibnu Taimiyah telah mengatakan sesuatu yang sangat berbahaya sekali bagi agama kita bahkan bagi kesunnian kita sendiri!</p>
<p style="text-align:justify;">Jika perkataan Ibnu Taimiyah di atas kita benarkan dan tidak kita anggap sebagai fitnah murahan, maka itu artinya kita telah digiring oleh Ibnu Taimiyah untuk meyakini bahwa banyak dari para sahabat Nabi itu yang fasik dan munafik. Demikian juga dengan para <i>Tabi’în</i>! Sebab, seperti telah disabdakan Nabi Muhammad saw. yang tidak berbicara melainkan dari wahyu bahwa tidak membenci Ali melainkan orang Munafik! Dan yang mencaci Ali berarti ia mencaci Allah dan Rasul-Nya!</p>
<p style="text-align:justify;">Dengan sanad bersambung kepada <em>ats Tsawri</em> dari<em> A’masy</em> dari <em>Adi bin Tsabit</em> dari <em>Zirr bin Hubaisy</em>, ia berkata, “Aku mendengar Ali as. bersabda:</p>
<p style="text-align:justify;">.</p>
<h2 style="text-align:right;"><b>وَ الذِي فَلَقَ الْحَبَّةَ و بَرَأَ النَّسَمَةَ إنَّهُ لَعَهْدُ النَّبِيِّ الأُمِّيْ أَنَّهُ : لاَ يُحِبُّنِيْ إلاَّ مُؤْمِنٌ ولاَ يُبْغِضُنِيْ إلا مُنافِقُ.</b></h2>
<p style="text-align:justify;"><i>“</i><i>Demi Dzat Yang membelah biji-bijian dan menciptakan makhluk bernyawa, ini adalah ketetapan Nabi yang Ummi kepadaku bahwa tiada mencintaiku kecuali mukmin dan tiada membenciku kecuali munafik.</i><i>”</i><a title="" href="#_ftn3"><i><b>[3]</b></i></a><i> <b></b></i></p>
<p>.</p>
<p>Imam Ahmad, an Nasa’i, al Âjurri dan al Hakim meriwayatkan dengan sanad bersambung kepada Abu Abdillah  al Jadali, ia berkata:</p>
<p>.</p>
<h2 style="text-align:right;"><b>دخلت على أُمّ سلمة ، فقالت : أيسبّ رسول الله(ص) فيكم؟! فقلت : معاذ الله ! أو سبحان الله ! أو كلمة نحوها ، قالت : سمعت رسول الله(ص) يقول : من سبّ عليّاً فقد سبّني .</b></h2>
<p style="text-align:justify;"><i>“Aku masuk menemui Ummu Salamah, lalu ia berkata, “Mengapakah Rasulullah dicaci-maki di tempat-tempat kalian?! Maka aku berkata, ‘Aku berlindung kepada Allah! Subhanallah! Atau ucapan semisal itu. Ummu Salamah berkata, ‘Aku mendengar Rasulullah saw. bersabda, “Barang siapa mencaci Ali berarti ia mencaciku.”</i></p>
<p>Setelahnya, al Hakim berkata:</p>
<h3 style="text-align:right;"><b>هذا حديث صحيح الإسناد ، ولم يخرجاه</b><i></i></h3>
<p><i>“</i><i>Ini adalah hadis shahih sanadnya hanya saja Bukhari dan Muslim tidak meriwayatkannya.”</i><i></i></p>
<p><i>.<br />
</i></p>
<p><b>Hukuman Bagi Orang Yang membenci dan Mencaci Ali ra.!</b></p>
<p>Dan bagi yang membenci Sayyidina Ali ra. dan apalagi disertai dengan mencacinya adalah murka Allah dan neraka jahannam.</p>
<p>Allah berfirman:</p>
<h2 style="text-align:right;"><b>إِنَّ الْمُنافِقينَ فِي الدَّرْكِ الْأَسْفَلِ مِنَ النَّارِ وَ لَنْ تَجِدَ لَهُمْ نَصيراً إِلاَّ الَّذينَ تابُوا وَ أَصْلَحُوا وَ اعْتَصَمُوا بِاللَّهِ وَ أَخْلَصُوا دينَهُمْ لِلَّهِ فَأُولئِكَ مَعَ الْمُؤْمِنينَ وَ سَوْفَ يُؤْتِ اللَّهُ الْمُؤْمِنينَ أَجْراً عَظيماً</b><b>.</b><i> </i><i></i></h2>
<p style="text-align:justify;"><i>“Sesungguhnya orang-orang munafik itu (ditempatkan) pada tingkatan yang paling bawah dari neraka. Dan kamu sekali-kali tidak akan mendapat seorang penolong pun bagi mereka.* Kecuali orang-orang yang tobat dan mengadakan perbaikan dan berpegang teguh pada (agama) Allah dan tulus ikhlas (mengerjakan) agama mereka karena Allah. Maka mereka itu adalah bersama-sama orang yang beriman dan kelak Allah akan memberikan kepada orang-orang yang beriman pahala yang besar.”</i>(QS. An Nisâ’[4]:145-146)</p>
<p>Dan:</p>
<h2 style="text-align:right;"><b>إِنَّ الَّذينَ يُؤْذُونَ اللَّهَ وَ رَسُولَهُ لَعَنَهُمُ اللَّهُ فِي الدُّنْيا وَ الْآخِرَةِ وَ أَعَدَّ لَهُمْ عَذاباً مُهيناً. </b><b></b></h2>
<p style="text-align:justify;"><i>“Sesungguhnya orang-orang yang menyakiti Allah dan Rasul-Nya. Allah akan melaknatinya di dunia dan di akhirat, dan menyediakan baginya siksa yang menghinakan.” (QS. al Ahzâb[33]57)</i></p>
<p>.</p>
<p><b>Abu Salafy:</b></p>
<p style="text-align:justify;">Jadi, Ibnu Taimiyah (yang dengan semangat membela kaum munafik seperti Mu’awiyah Cs.) menghujat Syi’ah Rafidhah maka sekarang justeru memberi amunisi berdaya ledak besar bahwa: Jangan salahkan Syi’ah jika mereka menganggap banyak sahabat Nabi saw. itu munafik sebab mereka telah membenci dan mencaci Imam mereka; Ali bin Abi Thalib as.!</p>
<p style="text-align:justify;">Dan ini benar-benar akan membuat kita dipermalukan di hadapan mereka! Lalu apakah kita akan membiarkan Ibnu Taimiyah menjerumuskan kita kepada faham Nashibi yang hanya berambisi menjauhkan umat Islam dari Ali bin Abi Thalib, sahabat mulia nabi saw. dan Khalifah keempat kita?!</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#0000ff;"><em>Ibnu Taimiyah adalah gembong kaum Nashibi dan kita umat Islam tidak butuh kepadanya dalam membela atau melawan siapapun!</em></span><b></b></p>
<p style="text-align:justify;"><b><i>Keempat</i></b>, <span style="color:#0000ff;"><em>Klaim Ibnu Taimiyah (dengan cara licik dan licinya itu) bahwa Sayyidina Ali ra tidak termasuk yang tercakup dalam ayat di atas adalah sebuah kepalsuan dan bukti kebenciannya kapada Sayyidina Ali ra.</em></span> Para ulama dan mufassir Ahlusunnah telah meriwayatkan di antaranya dari sahabat <em>al Barâ’ bin ‘Âzib</em> bahwa Rasulullah saw. bersabda kepada Ali, <em>“Ya Allah, jadikan untukku di sisi-Mu sebuah janji dan jadikan untukku kecintaan di dalam hati orang-orang beriman, maka Allah menurunkan ayat tersebut</em>.<a title="" href="#_ftn4">[4]</a></p>
<p style="text-align:justify;">Demikianlah fanatisme buta dan kebencian telah menyeret Ibnu Taimiyah (Syeikhul Islamnya kaum Salafi Wahhâbi) ke dalam lembah kenistaan dan kemunafikan dengan meluapkan “unek-unek” hati terhadap Sayyidina Ali ra.!</p>
<p style="text-align:justify;"><b><i>Kelima</i></b>, <span style="color:#ff0000;">Tuduhannya bahwa banyak sahabat Nabi saw. membenci dan mencaci Sayyidina Ali ra. adalah kepalsuan belaka. Sejarah pun akan membuktikan kebohongan dan kepalsuaannya!</span></p>
<p style="text-align:justify;">Ambil sebagai contoh sedernaha saja, dalam peperangan Shiffîn ketika Khalifah Ali ra. menumpas para pemberontak yang dipimpim oleh<em> Mu’awiyah</em> dan <em>Amr bin al Âsh…</em> <span style="color:#0000ff;"><em>dalam pasukan Ali ra telah bergabung tidak kurang dari delapan puluh sahabat Nabi saw. yang pernah bergabung bersama beliau dalam peperangan Badar</em></span>.</p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#0000ff;">Ibnu al Atsîr melaporkan, <i>“Dan beliau (Ali bin Abi Thalib) memimpin pasukan di sayap tengah bersama beliau para penduduk kota suci Madinah, dan mayoritas dari penduduk Madinah yang bersama beliau adalah dari golongan Anshar. Dan bersama beliau juga banyak dari pasukan dari suku Khuzâ’ah, Kinânah dan selainnya dari penduduk kota Madinah.”</i><a title="" href="#_ftn5"><span style="color:#0000ff;">[5]</span></a></span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#ff0000;">Sementara tidak bersama Mu’awiyah melainkan kaum arab baduwi dan sisa-sisa anak-anak kaum munafik Quraisy dan putra-putra <i>Thulaqâ’</i> (kaum kafir yang menyerah ketika Nabi saw. menaklukkan kota Mekkah dan kemudian ditawan dan setelahnya dibebaskan, di antara mereka adalah Abu Sufyan, Hindun, Yazid putra Abu Sufyan, Suhail bin Amr, Ikrimah putra Abu Jahl dan ratusan lainnya)!</span></p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;">Kesiapan para sahabat besar seperti <span style="color:#0000ff;"><em>Ammar bin Yasir</em> </span>dan ratusan lainnya, demikian juga dengan para tokoh dan kaum shaleh dari generasi Tabi’în seperti <span style="color:#0000ff;"><em>Uwais al Qarani</em></span> (yang syahid membela Ali ra) adalah bukti nyata bukan untuk sekedar kecintaan tetapi bukti nyata kesetiaan mereka kepada Allah dan rasul-Nya!</p>
<p style="text-align:justify;">Dan lembaran ini tidak sanggup menyebutkan lebih dari apa yang sudah saya sebutkan. Mudah-mudahan Allah memberikan taufiq dan inayah-Nya untuk menyajikan tulisan lengkap tentang masalah ini.</p>
<p style="text-align:justify;"><b><i>Ketuju</i></b><b><i>h</i></b>, <em><span style="color:#0000ff;">Kami meminta Ibnu Taimiyah dan atau para pemuja kesesatannya dari kalangan Salafi Wahhâbi untuk menyebutkan nama-nama para sahabat yang kata Ibnu Taimiyah itu membenci Sayyidina Ali ra.!</span></em></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#0000ff;"><em>Kami meminta para sarjana Salafiyyûn untuk berani menyebutkan nama-nama sahabat yang mendukung Mu’awiyah dalam memerangi Khalifah Ali bin Abi Thalib ra!</em></span></p>
<p style="text-align:justify;">Di sini kami berani pastikan bahwa mereka pasti tidak akan sanggup mendatangkan kecuali nama-nama kaum munafik dan/atau kaum fasik seperti Mu’awiyah, Abu Sufyan, ‘Amr bin al Âsh, Mughirah bin Syu’bah, al Walîd bin ‘Uqbah, Yazid bin Mu’awiyah, Samurah bin Jundub dan yang semisalnya….</p>
<p style="text-align:justify;"><b>Penutup   </b></p>
<p style="text-align:justify;">Dan sebelum saya akhiri tanggapan saya atas fitnah keji Ibnu Taimiyah, saya ingin menutupnya dengan ucapan seorang Salaf Shaleh agung bernama <span style="color:#0000ff;"><em>Abu Qais al Awdi.</em></span></p>
<h3 style="text-align:left;"><strong><span style="color:#0000ff;">Ia berkata, “Aku menemui manusia itu terbagi menjadi tiga golongan:</span></strong></h3>
<ul>
<li style="text-align:left;">
<h3><strong><em><span style="color:#0000ff;">Ahli agama (yang berpegang teguh dengan agama)… mereka mencintai Ali.</span></em></strong></h3>
</li>
<li style="text-align:left;">
<h3 style="text-align:left;"><strong><em><span style="color:#0000ff;">Ahli dunia (penyembah dunia)… mereka mencintai Mu’awiyah.</span></em></strong></h3>
</li>
<li style="text-align:left;">
<h3 style="text-align:left;"><strong><em></em><span style="color:#0000ff;">Dan Khawarij.<a title="" href="#_ftn6"><span style="color:#0000ff;">[6]</span></a></span></strong></h3>
</li>
</ul>
<p>.</p>
<p>Selamat atas Ibnu Taimiyah yang menyanjung para pecinta Mu’awiyah… semoga kelak ia dibangkitkan dan di kumpulkan bersama Mu’awiyah, Abu Sufyan, Abu Jahal dan Abdullah bin Ubay bin Salûl.<i> Âmîn Ya Rabbal âlamîn</i>.</p>
<p><b><i>Wassalam.</i></b></p>
<div>
<hr align="left" size="1" width="33%" />
<div>
<p style="text-align:justify;"><a title="" href="#_ftnref1">[1]</a> Minhâj as Sunnah,7/137 dan dalam cetakan Dâr al Kotob al Ilmiah, Beirut,4/38.</p>
</div>
<div style="text-align:justify;">
<p><a title="" href="#_ftnref2">[2]</a> Lisân al Mîzân,6/319. Jadi adalah aneh sikap ngotot sebagian sarjana Wahhâbi Salafi yang mengatakan bahwa Ibnu Taimiyah tidak membenci Ali ra., bahkan ia sangat mencintai dan menghormati Ali! Dan abusalafy hanya salah faham.. abusalafy tidak mengerti maksud ucapan Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah… dan mengada-ngada fitnah itu!! (Lebih lanjut silahkan merujuk artikel: <a href="http://abusalafy.wordpress.com/2012/07/19/persembahan-untuk-ustad-firanda-ibnu-taimiyah-syaikhul-islam-atau-syaikhun-nifaq-1/" target="_blank">Persembahan Untuk Ustadz Firanda: Ibnu Taimiyah Syeikhul Islam Atau Syaikhun Nifâq? [1]</a> )</p>
</div>
<div style="text-align:justify;">
<p><a title="" href="#_ftnref3">[3]</a> Hadis ini telah diriwayatkan oleh<i>:</i></p>
<p>1)      Imam Muslim dalam <i>Shahih</i>nya</p>
<p>2)      An Nasa’i dalam <i>Sunan</i>nya dengan dua jalur dan dalam <i>Khashâish</i>nya dengan tiga jalur: hadis 95,96 dan 97, yang semuanya sahih berdasarkan komentar Abu Ishaq al Hawaini (korektor kitab <i>Khashâish</i>).</p>
<p>3)      Turmudzi dalam <i>Sunan</i>nya,<i> Manâqibu Ali</i>, bab 95 (Tuhfatu al Ahwadzi,10/239-230) dan ia berkata, :Hadis ini hasan sahih.”</p>
<p>4)      Ibnu Mâjah dalam <i>Shahih</i>nya,bab fadhlu ali ibn Abi Thalib ra.,1/42, hadis114. Ia hadis pertama dalam bab itu.</p>
<p>5)      Ibnu Abi ‘Âshim dalam kitab <i>Sunnah</i>nya,2/598.</p>
<p>6)      Abu Nu’aim dalam Hilyatu al Awliyâ’,4/185 dari tiga jalur dari Adiy ibn Tsâbit dari Zirr, kemudian ia berkata, “Hadis ini <i>muttafaqun ‘alaih</i> (disepakati kesahihannya)”. Setelahnya ia menyebutkan banyak ulama yang meriwayatkan dari Adiy.</p>
<p>7)      Al Muttaqi al Hindi dalam <i>Kanz al ‘Umâl</i>nya,6/394 dan ia berkata, “hadis ini telah dikeluarkan oleh Al Humaid, Ibnu Abi Syaibah, Ahmad ibn Hanbal, Al Adani, At Turmudzi, An Nasa’i, Ibnu Mâjah, Ibnu Hibbân, Abu Nu’aim dan Ibnu Abi ‘Âshim.</p>
</div>
<div style="text-align:justify;">
<p><a title="" href="#_ftnref4">[4]</a> Baca tafsir <i>Rûh al Ma’âni</i>; al Alûsi,16/143 dan juga tafsir al Marâghi,16/88.</p>
</div>
<div style="text-align:justify;">
<p><a title="" href="#_ftnref5">[5]</a> Al Kâmil fî at Târîkh,3/297.</p>
</div>
<div>
<p style="text-align:justify;"><a title="" href="#_ftnref6">[6]</a> Al Istî’âb; Ibnu Abdil Barr,3/1115, biodata nomer:1855.</p>
</div>
</div>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/abusalafy.wordpress.com/2558/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/abusalafy.wordpress.com/2558/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abusalafy.wordpress.com&#038;blog=1269412&#038;post=2558&#038;subd=abusalafy&#038;ref=&#038;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abusalafy.wordpress.com/2013/01/07/seri-kepalsuan-ibnu-ttaimiyah-5/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>29</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/9e9f42ee06317a9a9b53f33ec6f955fa?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">abusalafy</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Gara-gara Membongkar Kejahatan Mu&#8217;awiyah, Syekh Salafi Ahmad Al Kubaisi Langsung Divonis Kafir Oleh Mufti Wahabi!</title>
		<link>http://abusalafy.wordpress.com/2013/01/03/syekh-salafy-ahmad-al-kubaisi-kecam-muawiyah-divonis-kafir/</link>
		<comments>http://abusalafy.wordpress.com/2013/01/03/syekh-salafy-ahmad-al-kubaisi-kecam-muawiyah-divonis-kafir/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 03 Jan 2013 05:34:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abusalafy</dc:creator>
				<category><![CDATA[Akidah]]></category>
		<category><![CDATA[Fatwa Wahabi-Salafy]]></category>
		<category><![CDATA[Kenaifan Kaum Wahhabi]]></category>
		<category><![CDATA[Manhaj]]></category>
		<category><![CDATA[Ulama Salafy-Wahabi Bicara]]></category>
		<category><![CDATA[Wahabi dan Pengkafiran Umat Islam]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abusalafy.wordpress.com/?p=2529</guid>
		<description><![CDATA[Syekh Salafy Ahmad Al Kubaisi: Semua Yang Kita (Umat Islam) Derita Sekarang Gara-gara Muawiyah ! Syekh Ahmad Al Kubaisi, mungkin setelah mendalami dan membaca data-data hadis dan sejarah yang &#8220;diharamkan&#8221; oleh para masyaikh nashibi Salafy/Wahabi membuat ia sadar dan tercerahkan akan hakekat sebenarnya putra Hindun dan Abu Sufyan. Dalam sebuah program keagamaan yang diasuhnya di  [&#8230;]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abusalafy.wordpress.com&#038;blog=1269412&#038;post=2529&#038;subd=abusalafy&#038;ref=&#038;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Syekh Salafy Ahmad Al Kubaisi: Semua Yang Kita (Umat Islam) Derita Sekarang Gara-gara Muawiyah !</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Syekh Ahmad Al Kubaisi, mungkin setelah mendalami dan membaca data-data hadis dan sejarah yang &#8220;diharamkan&#8221; oleh para masyaikh nashibi Salafy/Wahabi membuat ia sadar dan tercerahkan akan hakekat sebenarnya putra Hindun dan Abu Sufyan.</p>
<p style="text-align:justify;">Dalam sebuah program keagamaan yang diasuhnya di  TV Dubai mengecam Muawiyah yang  membuat kuping banyak kaum Wahhabi-Salafy Nashibi di negara Teluk panas dingin dan meluncurkan kampanye luas melalui situs jejaring sosial menuntut pengusirannya dari Uni Emirat Arab.</p>
<p style="text-align:justify;">Dan yang tak kalah garangnya adalah Dedengkot Takfiri Mufti Saudi kontan memvonisnya &#8220;Kafir&#8221; (Silahkan lihat video pengkafirannya dibawah) <span id="more-2529"></span></p>
<p>Syekh al-Kubaisi berpendapat bahwa semua musibah yang diderita Umat Islam adalah karena Muawiya bin Abi Sufyan, hal ini dalam menanggapi penelepon, Syekh berkata kepadanya: Nashibi, Rowafid dan kamu adalah sama. kamu mencintai Muawiyah yang memerintahkan pencacian Ali bin Abi Thalib.</p>
<p style="text-align:justify;">Dan Syekh Al Kubaisi  bersumpah bahwa musibah Umat Islam dikarenakan Muawiyah, dan meminta penelepon untuk bersama Ali bin Abi Thalib ra. atau memilih bersama Muawiyah bin Abi Aufyan</p>
<p>Syekh Al Kubaisi berdoa agar Allah SWT membangkitkannya kelak di akhirat bersama dengan Ali bin Abi Thalib ra.</p>
<p>Para Salafiyun/Wahabiyun menuntut agar Syekh Al Kubaisi diusir dari negara Uni Emirat Arab, dan menutup programnya yang disiarkan langsung di TV Dubai.</p>
<p style="text-align:justify;">Silahkan tonton Video Ceramahnya Syekh Ahamad Al Kubaisi ini:</p>
<h2 style="text-align:right;"><strong>الشيخ احمد الكبيسي كل ما نعانيه الان من معاوية</strong></h2>
<p>.</p>
<span class='embed-youtube' style='text-align:center; display: block;'><iframe class='youtube-player' type='text/html' width='468' height='294' src='http://www.youtube.com/embed/wa2RBzwFaMg?version=3&#038;rel=1&#038;fs=1&#038;showsearch=0&#038;showinfo=1&#038;iv_load_policy=1&#038;wmode=transparent' frameborder='0'></iframe></span>
<p>.</p>
<p>Ceramah Syekh Al Kubaisi Yang Lengkap  Simak disini</p>
<p>.</p>
<span class='embed-youtube' style='text-align:center; display: block;'><iframe class='youtube-player' type='text/html' width='468' height='294' src='http://www.youtube.com/embed/yhRQ0Yuc2C8?version=3&#038;rel=1&#038;fs=1&#038;showsearch=0&#038;showinfo=1&#038;iv_load_policy=1&#038;wmode=transparent' frameborder='0'></iframe></span>
<p>.</p>
<p>Pengkafiran Dedengkot Takfiri Mufti Wahhabi Salafy Atas Syekh Al Kubaisi</p>
<p>.</p>
<span class='embed-youtube' style='text-align:center; display: block;'><iframe class='youtube-player' type='text/html' width='468' height='294' src='http://www.youtube.com/embed/n0kSHXEcdOo?version=3&#038;rel=1&#038;fs=1&#038;showsearch=0&#038;showinfo=1&#038;iv_load_policy=1&#038;wmode=transparent' frameborder='0'></iframe></span>
<p>.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/abusalafy.wordpress.com/2529/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/abusalafy.wordpress.com/2529/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abusalafy.wordpress.com&#038;blog=1269412&#038;post=2529&#038;subd=abusalafy&#038;ref=&#038;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abusalafy.wordpress.com/2013/01/03/syekh-salafy-ahmad-al-kubaisi-kecam-muawiyah-divonis-kafir/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>31</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/9e9f42ee06317a9a9b53f33ec6f955fa?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">abusalafy</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Benarkah Abusalafy Syi’ah Rafidhah?</title>
		<link>http://abusalafy.wordpress.com/2013/01/02/benarakan-abusalafy-syiah-rafidhah/</link>
		<comments>http://abusalafy.wordpress.com/2013/01/02/benarakan-abusalafy-syiah-rafidhah/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 02 Jan 2013 02:11:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abusalafy</dc:creator>
				<category><![CDATA[Akidah]]></category>
		<category><![CDATA[Fatwa Pensesatan]]></category>
		<category><![CDATA[Fatwa Wahabi-Salafy]]></category>
		<category><![CDATA[Kajian Hadis]]></category>
		<category><![CDATA[Kajian Ibnu Taimiyah]]></category>
		<category><![CDATA[Kenaifan Kaum Wahhabi]]></category>
		<category><![CDATA[Kepalsuan Ibnu Taimyah]]></category>
		<category><![CDATA[Manhaj]]></category>
		<category><![CDATA[Membantah Ust. Firanda]]></category>
		<category><![CDATA[Mengenal Pemimpin Wahabi]]></category>
		<category><![CDATA[Wahhabi Versus Ulama Islam]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abusalafy.wordpress.com/?p=2541</guid>
		<description><![CDATA[Persembahan Untuk Ustadz Firanda dan Agen-agen Fitnah Timur Tengah! Abusalafy Bangga Dituduh Syi’ah Rafidhah Akhir-akhir ini beberapa kalangan Salafi Wahabi seperti juga Firanda; ustadz kebanggan Salafi Wahhâbi semakin menggencarkan tuduhan bahwa abusalafy adalah Syi’ah Rafidhah, dengan tujuan yang tidak asing lagi bagi Anda yang memahami lika-liku para Misionaris Salafi Wahabi dalam upaya mereka menyudutkan siapapun [&#8230;]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abusalafy.wordpress.com&#038;blog=1269412&#038;post=2541&#038;subd=abusalafy&#038;ref=&#038;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<h2><span style="color:#ff0000;"><b>Persembahan Untuk Ustadz Firanda dan Agen-agen Fitnah Timur Tengah!</b></span></h2>
<h2><b>Abusalafy Bangga Dituduh Syi’ah Rafidhah</b></h2>
<p style="text-align:justify;">Akhir-akhir ini beberapa kalangan Salafi Wahabi seperti juga Firanda; ustadz kebanggan Salafi Wahhâbi semakin menggencarkan tuduhan bahwa abusalafy adalah Syi’ah Rafidhah, dengan tujuan yang tidak asing lagi bagi Anda yang memahami lika-liku para Misionaris Salafi Wahabi dalam upaya mereka menyudutkan siapapun yang berani membongkar dan mengkritisi ajaran Salafi Wahabi&#8230; kendati tidak ada bukti yang bisa mereka ajukan untuk mendukung tuduhan itu, mereka tetap saja mengencarkan arus tuduhan tersebut dengan harapan dapat terbentuk opini bahwa abusalafy adalah Syi’ah Rafidah dan akhirnya harus dicurigai dan bahkan dikafirkan!</p>
<p style="text-align:justify;">Sepanjang yang saya ingat bahwa tuduhan mereka itu hanya mereka bangun di atas beberapa alasan, di antaranya, (1) abusalafy keras sikapnya terhadap Ibnu Taimiyah dan bahkan sampai-sampai menghujat dan membongkar penyimpangannya. (2) abusalafy, berani membongkar kedok kefasikan, kemunafikan dan penyimpangan Mu’awiyah, Abu Sufyan dan musuh-musuh Alllah dan Rasul-Nya, khususnya dari keluarga bani Umayyah.<span id="more-2541"></span></p>
<p style="text-align:justify;">Setelah lama membiarkan tuduhan palsu itu dan hanya menanggapinya sekedarnya saja dalam tanggapan saya atas komentar sebagian pengunjung dan dengan beberapa artikel pendek, kini saya merasa perlu memberikan tanggapan yang akan dapat membuktikan kepalsuan tuduhan tersebut dan sekaligus dapat membentengi Ahlusunnah dari upaya adu-domba yang menjadi agenda besar musuh-musuh Allah dan agama ini.</p>
<p style="text-align:justify;"><b>Di Balik Tuduhan Seseorang Sebagai Syi’ah Rafidhah</b></p>
<p style="text-align:justify;">Tidaklah samar bagi kita semua bahwa tujuan di balik dilancarkannya tuduhan terhadap seseorang sebagai Syi’ah Rafidhah tidak sekedar untuk menunjukkan jati diri dan identitas kemazhaban seseorang akan tetapi lebih dimaksud sebagai kecaman, pembunuhan karakter dan intimidasi intelektual dan teror sosial&#8230; seperti yang dialami para ulama besar Ahlusunnah seperti Imam Syafi’i, Imam Nasa’i, Imam al Hakim dan puluhan lainnya. Tujuannya jelas agar umat Islam segera mencurigai semua penukilan/periwayatannya, analisanya dan ijtihadnya bahkan meragukan keislaman dan keimanannya&#8230;</p>
<p style="text-align:justify;">Dan agar semua menjadi tau kelicikan musuh-musuh Allah dan rasul-Nya dari melemparkan tuduhan seperti itu, maka saya ajak Anda wahai saudaraku Ahlusunnah (dan juga saudaraku yang selama ini menjadi korban pembodohan dan pembutaan misionaris Salafi Wahabi yang banyak mengeliat di bumi pertiwi tercinta ini) untuk meneliti dan mencermati apa sebenarnya Syi’ah dan Syi’aisme itu?</p>
<p style="text-align:justify;"><b>Siapa yang Disebut Syi’ah Itu?</b></p>
<p style="text-align:justify;">Sebelum kita menelaah masalah di atas, saya katakan bahwa untuk mengetahui apakah seorang itu Syi’ah atau bukan tentunya ada mekanisme  dan tolok ukur yang harus digunakan. Di sini paling tidak ada dua mekanisme yang dapat ditempuh:</p>
<p style="text-align:justify;"><b><i>Pertama</i></b>, dengan merujuk keterangan para ulama yang membicarakan berbagai sisi kehidupan seseorang yang hendak diketahui identitas kemazhabannya, apakah ia seorang Syi’ah atau bukan? Dengan merujuk keterangan para ulama itu kita dapat mengenali jati diri seorang yang hendak kita kenali itu.</p>
<p style="text-align:justify;">Kendati cara ini banyak digunakan dan baik untuk diandalkan, namun sepertinya masih kurang akurat&#8230; ia butuh dilengkapi dengan mekanisme kedua di bawah ini.</p>
<p style="text-align:justify;"><b><i>Kedua</i></b>, Meneliti pendapat yang ia tuangkan dalam ucapan/tulisan dan/atau stitemen si alim yang hendak kita kenali jati diri kemazhabannya, apakah ia seorang Syi’ah atau bukan?</p>
<p style="text-align:justify;">Tentunya, apabila terbukti ia meyakini dan berpendapat yang merupakan dasar pembeda mazhab Syi’ah dengan mazhab lainnya misalnya, maka kita dapat menjadikannya indikasi bahkan bukti bahwa ia adalah seorang Syi’ah&#8230;. Jika tidak kita temukan hal demikian maka tuduhan yang kita lontarkan kepadanya adalah tidak berdasar&#8230; bisa-bisa palsu dan tendensius!</p>
<p style="text-align:justify;">Nah, sekarang, keyakinan apa sebenarnya yang membedakan Mazhab Syi’ah dengan selainnya, itu yang harus kita ketahui terlebih dahulu&#8230; baru setelahnya kita boleh melontarkan pendapat kita, sebab jika tidak pasti kita seperti orang yang hanya pandai menebak-nebak apa isi dalam karung, kucing, atau kelinci? Dan, sayangnya ini yang sering terjadi&#8230; orang asal melontarkan tuduhan tanda dasar yang dapat dipertanggung-jawabkan.</p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;">Dasar keyakinan yang membedakan Syi’ah dengan mazhab lainnya tentunya sudah maklum bagi kita semua (kecuali yang memang tidak mau tau dan lebih senang menutup mata dan menyumbal telinganya dari menerima informasi segar lagi sehat) &#8230; yaitu keyakinan mereka bahwa sepeninggal Rasulullah saw. Ali bin Abi Thalib ra adalah Khalifah yang beliau tunjuk bedasarkan nash/penunjukan Allah SWT dan sepeninggal beliau akan dilanjutkan oleh Imam Hasan lalu Imam Husain dan setelahnya oleh kesembilan keturunan al Husain secara berurutan yang dalam keyakinan mereka telah disabdakan Nabi saw. dalam hadis tentang kedatangan/keberadaan dua belas Khalifah/Imam/Amîr yang juga diriwayatkan oleh para ahli hadis di antaranya adalah Ahlusunnah seperti Imam Bukhari, Imam Muslim, Imam Ahmad. Dan para penguasa yang datang setelah Nabi saw. selain yang meraka yakini di atas adalah tidak sah!</p>
<p style="text-align:justify;">Lalu dalam hal pengambilan sumber agama mereka hanya meyakini bahwa ajaran agama harus diambil dari para imam suci dari Ahlulbait Nabi saw. yang mereka yakini kemaksumannya dan tidak dari selain mereka!</p>
<p style="text-align:justify;">Jika seseorang terbukti meyakini keyakinan di atas maka dapat dipastikan  bahwa dia adalah seorang Syi’ah.</p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;">Demikian yang didefenisikan para ulama Ahlusunnah baik klasik maupun kontenporer, seperti Imam Syahrastâni dan Syeikh Abu Zuhra.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Imam Syahrastâni</strong> dalam kitab <i>al-Milal wa an-Nihal</i> mengatakan,<em>&#8220;Syi&#8217;ah adalah mereka yang mendukung Ali dan menyakini imamah dan khilafah beliau berdasarkan nash dan wasiat, baik nash terang ataupun nash samar dan mereka meyakini bahwa imamah tidak akan keluar dari anak-cucu (keturunan) Ali dan kalau keluar maka itu dikerenakan adanya kezaliman dari pihak lain atau taqiyyah dari pemiliknya.”</em></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Imam Abu Zuhrah</strong> berkata, “<em>Pilar mazhab Syi&#8217;ah ialah apa yang disebutkan oleh Ibnu Khaldun dalam Muqaddimah-nya, ‘bahwa imamah bukan dari urusan (maslahat) umum yang dapat diserahkan kepada pandangan umat, pemegangnya ditetapkan berdasarkan penunjukan mereka. Akan tetapi ia adalah rukun (pilar) agama dan dasar Islam , maka tidak sepatutnya Nabi teledor tentangnya dan menyerahkannya kepada umat, beliau pasti menunjuk imam untuk umat. Dan imam itu ma&#8217;shum dari dosa besar dan dosa kecil .</em></p>
<p style="text-align:justify;"><em>Dan Syi&#8217;ah sepakat bahwa Ali bin Abi Thalib adalah khalifah yang dipilih Nabi saw. dan beliau adalah sahabat paling mulia.”</em></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Ibnu Khaldun</strong> <em>berpendapat bahwa di antara para sahabat ada yang berpendapat seperti kaum Syi&#8217;ah dalam mengutamakan Ali di atas para sahabat lain …. .</em>”<a title="" href="#_ftn1">[1]</a></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>M.Farid Wajdi</strong> dalam Insklopedi Islam abad dua puluh menyebutkan<em>, &#8220;Syi&#8217;ah adalah orang-orang yang mendukung Ali dalam hal imamah dan meyakini bahwa imamah tidak akan keluar dari keturunan beliau. Mereka meyakini kema&#8217;shuman para imam dari dosa besar dan kecil…</em>.”<a title="" href="#_ftn2">[2]</a></p>
<p style="text-align:justify;"><b>Tiga Defenisi Syi’ah</b></p>
<p style="text-align:justify;">Setelah Anda ketahui bersama bagaimana para ulama kita (Ahlusunnah) medefenisikan Syi’ah dan menjelaskan pokok dasar akidah mereka yang membedakan mazhab Syi’ah dari mazhab-mazhab lain (khususnya mazhab Ahlusunnah wal Jamâ’ah)&#8230; setelah itu saya ajak pembaca menyimak bagaimana bahwa defenisi ini telah mengalami penggeseran dari makna sesungguhnya. Defenisi Syi’ah ini mengalami evolusi sehingga terasa oleh kita bahwa yang semula defenisi itu dimaksudkna untuk mengenali jati diri mazhab/aliran tertentu yang dikenal dengan nama Syi’ah, kini ia berubah menjadi alat penghukum dan palu ketuk intimidasi yang ditujukan untuk memerangi Ahlulbait Nabi saw., khususnya Sayyidina Ali ra.</p>
<p style="text-align:justify;">Kenyataan ini dapat Anda sarakan dengan mengikuti ulasan di bawah ini dengan meneliti tiga defenisi Syi’ah dan Syi’aisme yang disampaikan dengan napas tidak sehat, tendensius  dan penuh intimidasi dan pembunuhan karakter.</p>
<p style="text-align:justify;">Perhatikan tiga defenisi Syi’ah oleh musuh-musuh Syi’ah yang telah teracuni oleh virus kedengkian bani Umayyah terhadap Ahlulbait Nabi saw. atau mereka yang tertipu dengan propaganda jahat Mu’awiyah dan kaum Nashibi di bawah:</p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#ff0000;"><b><i>Defenisi Pertama:</i></b></span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#ff0000;"><em>&#8220;Syi’ahisme/tasyayyu’ adalah kecintaan kepada Ali dan mengutamakannya lebih dari sahabat lain. Maka barang siapa mengutamakan Ali atas Abu Bakar dan Umar berarti ia ekstrim dalam kesyi’ahannya, dan ia disebut juga dengan Rafidhi, kalau tidak (mengutamakan di atas Abu Bakar dan Umar) maka ia disebut Syi’ah. Dan jika disamping itu ia mencela atau menyatakan kebencian maka ia ekstrim dalam kerafidhiannya. Dan jika ia juga menggabungkannya dengan keyakinan akan raj’ah maka ia lebih ekstrim.</em>”</span><a title="" href="#_ftn3">[3]</a></p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;"><b>Abusalafy:</b></p>
<p style="text-align:justify;">Defenisi di atas jelas sekali mengatakan bahwa sekedar kecintaan kepada Sayyidina Ali ra. dan mengutamakannya atas para sahabat (selain Sayyidina Abu Bakar dan Umar) sudah cukup alasan untuk menggolongkan seseorang sebagai Syi’ah. Adapun jika ia mengutamakan Sayyidina Ali ra atas Sayyidina Abu Bakar dan Umar ra. maka ia tergolong Syi’ah Ekstrim alias Rafidhi!</p>
<p style="text-align:justify;">Tentunya defenisi ini cukup riskan untuk diterima sebab ia membawa kita menerima konsekuensi yang mungkin kita tidak sangggup menerimanya. <span style="color:#0000ff;"><em>Sayyid/Habib Muhammad ibn Aqil ibn Yahya Al Alawi Asy Syâfi’i</em> </span>menyoroti pendefenisian Ibnu Hajar di atas dengan mengatakan:</p>
<p style="text-align:justify;"><em>“Berdasarkan pendefenisian itu maka semua pecinta Ali yang mengutamakannya atas Syaikhain (Abu Bakar dan Umar) adalah kaum Rawafidh dan semua yang mencintainya dan mengutamakannya atas selain Syaikhain adalah Syi’ah. Dan kedua kelompok ini adalah cacat keadilannya. Maka atas dasar ini jumlah yang banyak dari kalangan sahabat mulia seperti Miqdad, Zaid ibn Arqam, Salman, Abu Dzar, Khabbab, Jabir, Abu Said al Khudri, Ammar, Ubai ibn Ka’ab, Hudzaifah, Buraidah, Abu Ayyub, Sahal ibn Hunaif, Utsman ibn Hunaif, Abu Al Haitsam ibn Tayyahaan, Khuzaimah ibn Tsabit, Qais ibn Sa’d, Abu Thufail Amir ibn Watsilah, Al Abbas ibn Abdul Muththalib dan seluruh putranya, seluruh keluarga besar Bani Hasyim dan Bani Al Muththalib dan banyak kalangan lain selain mereka… mereka semua adalah Rawâfidh karena mereka mengutamakan Ali atas Abu Bakar dan Umar dan karena kecintaan mereka kepada Ali. Dan tergolong bersama mereka dari kalangan tabi’in dan tabi’ut tabi’in (generasi setelah tabi’in) dari pembesar para ulama dan ini umat jumlah yang tidak sedikit, dan di antara mereka terdapat para pendamping Al qur’an. Dan -demi Allah- mencacat keadilan mereka akan mematahkan punggung (merusak agama)</em>…”<a title="" href="#_ftn4">[4]</a></p>
<p style="text-align:justify;">Dan dengan memerhatikan apa yang dikatakan Ibnu Khaldun yang telah saya sebutkan sebelumnya makin jelaslah apa yang dikatakan Habib Muhammad bin Aqil bin Yahya al Alawi. Sebab memang kenyataannya tidak sedikit sahabat, para tokoh ulama generasi Tâbi’în dan selainnya yang meyakini keutamaan Sayyidina Ali atas para sahabat termasuk dua Khalifah pendahulu beliau!</p>
<p style="text-align:justify;">Kenyataan ini sedemikian jelas dalam sejarah, sehingga para ulama pun menegaskannya.</p>
<p style="text-align:justify;">Adz Dzahabi (yang dikenal kurang simpatik kepada Sayyidina Ali dan hadis-hadis keutamaan beliau ra.) dalam <i>Siyar A’lâm Al Nubalâ’</i>nya menegaskan kenytaan tersebut bahwa banyak dari kalangan sahabat dan <i>tabi’in </i>yang meyakini keutamaan Ali atas para sahabat lain!<a title="" href="#_ftn5">[5]</a></p>
<p style="text-align:justify;">Dan dalam kitab <i>al Isti’âb-</i>nya, Imam Ibnu Abdil Barr juga menegaskan hal yang sama ia mengatakan bahwa telah diriwayatkan dari sekelompok sahabat, seperti Salmân, Jâbir, Miqdad, Abu Dzar dkk. penegasan bahwa mereka mengutamakan Ali atas para sahabat lain!<a title="" href="#_ftn6">[6]</a></p>
<p style="text-align:justify;">Lalu apakah mereka semua kita katakan Syi’ah dan akan kita tuduh meyakini hal BID’AH! Sebab defenisi di atas disebutkan Ibnu Hajar dalam rangka menyebutkan keyakinan-keyakinan bid’ah lagi sesat yang dapat mengugurkan keadilan seorang parawi hadis!</p>
<p style="text-align:justify;">Akankah kita mengatakan bahwa kecintaan kepada Sayyidina Ali dan mengutamakan beliau atas Sayyidina Abu Bakar dan Sayyidina Umar adalah BID’AH?! Padahal kita mengetahui bahwa masalah ini adalah diperselisihkan di kalangan para sahabat dan ulama generasi Tâbi’în dan setelahnya?!</p>
<p style="text-align:justify;">Dengan kita membenarkan defenisi di atas pasti akan banyak yang menjadi korban ketidak adilan!</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#ff0000;"><b><i>Defenisi Kedua:</i></b></span></p>
<p style="text-align:justify;"><em><span style="color:#0000ff;">Adz Dzahabi</span></em> ketika menyebutkan biodata kehidupan <em><span style="color:#0000ff;">Abân bin Taghlib</span></em> (salah seorang parawi yang ia sifati dengan Syi’iyyun Jalad/Syi’ah tulen yang shadûq/jujur, ia membuat pertanyaan yang kemudian ia jawab sendiri, ‘Bagaimanakah seorang Syi’ah dapat ditsiqahkan/ditetapkan kejujurannya? Sementara batasan ketsiqahan adalah keadilan dan kekokohan dalam periwayatan?! Lalu bagaimana seorang penyandang BID’Ah dapat diakatakan ADIL?</p>
<p style="text-align:justify;">Maka jawabnya adalah bahwa Bid’ah itu ada dua tingkatan, Bid’ah shughrâ/kecil seperti Syi’ah Ekstrim atau Syi’ah tanpa Ekstrimisme! Dan yang demikian itu banyak terdapat di kalangan para Tâbi’în dan generasi setelahnya disamping mereka itu menjaga agama, kewara’an dan kejujuran, <i>ash shidq</i>. Dan andai hadis-hadis riwayat mereka itu dibuang pastilah akan hilang banyak Sunnah Nabi dan ini adalah kerusakan dalam agama!</p>
<p style="text-align:justify;">Kedua, Bid’ah Kubrâ/ Bid’ah Besar, seperti kerafidhian lengkap dan ketulenan dalam kesyi’ahan serta menjatuhkan Abu Bakar dan Umar ra. dan menyeru kepadanya. Kelompok ini tidak dapat dijadikan hujjah dan tidak ada kemuliaan pada mereka!”</p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;">Setelahnya, <em><span style="color:#0000ff;">adz Dzahabi</span> </em>melanjutkan mendefenisikan Syi’ah itu apa? Ia berkata, <em><span style="color:#ff0000;">“Syi’ah Ghâli/Syi’ah Ekstrim di zaman Salaf dan menurut defenisi mereka adalah: Orang yang<strong> <span style="text-decoration:underline;">membicarakan</span></strong> Utsman, Zubair, Thalhah dan Mu’awiyah serta sekelompok yang memerangi Ali ra. dan mencela mereka. Sedangkan di zaman kita dan menurut defenisi kita yang disebut Syi’ah Ekstrim adalah: yaitu orang yang mengafirkan mereka semua dan berbarâ’ah/berlepas diri dari Abu Bakar dan Umar. Orang seperti ini adalah Dhâllun/sesat. Dan Abân bin Tanghlib tidak seperti itu, ia tidak menyebut-nyebut Abu Bakar dan Umar. Akan tetapi ia meyakini bahwa Ali lebih afdhal/utama atas keduanya.”</span></em><a title="" href="#_ftn7">[7]</a></p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;"><b>Abusalafy:</b></p>
<p style="text-align:justify;">Dari keterangan adz Dzahabi di atas jelas pula bagi kita bahwa sekedar seorang itu ber<i>musyâya’ah </i>kepada Sayyidina ali ra. kendati kesyi’ahannya tidak dibarengi dengan ghuluw/keekstriman adalah sebuah BID’AH! Walaupun orang tersebut tidak meyakini kemakshuman dan nash penunjukan atas Ali ra. sebagai Khalifah dan Imam sepeninggal Nabi saw.! tentunya walaupun semangat kesyi’ahannya itu dimotivasi oleh sabda Nabi saw.<span style="color:#0000ff;"><em> “Hai Ali tiada mencintaimu melainkan seorang Mukmin dan tiada membencimu melainkan orang munafik.”</em></span> Adapun jika kesyi’ahannya itu ia sertai dengan membicarakan Utsman, Zubair, Thalhah dan MU’AWIYAH dan mereka yang memerangi Ali maka ia digolongkan Syi’ah <i>Ghâli</i>/Ekstrim! Sementara ‘membecarakan’ tidak mesti disertai dengan kecaman apalagi cacian! Karena boleh saja orang itu sekedar menyalahkan sikap dan tindakan mereka ketika mereka memerangi Sayyidina Ali ra.; Khalifah yang sah menurut Islam!</p>
<p style="text-align:justify;"><b><i>Defenisi Ketiga:</i></b></p>
<p style="text-align:justify;">Defenisi ketiga yang saya maksud adalah sesuai yang dikatakan dan tentunya juga diyakini oleh Ibnu Taimiyah. Kendati ia tidak sedang mendefenisikan apa Syi’ah, tapi dapat dimengerti bahwa Syi’ah itu dalam pandangan Ibnu Taimiyah itu apa?</p>
<p style="text-align:justify;">Ketika membantah hadis <i>Thair</i>/Burung yang diajukan al Hilli (salah seorang ulama Syi’ah) sebagai dalil imamah Sayyidina Ali ra. sebab hadis itu menunjukkan Ali lebih utama dari seluruh sahabat dan yang lebih utama itu lebih berhak menjabat sebagai Khalifah! Maka Ibnu Taimiyah membantahnya dengan mengatakan:</p>
<p style="text-align:justify;">A)      Hadis itu palsu menurut para ulama ahli hadis yang mendalami ilmu penukilan.</p>
<p style="text-align:justify;">B)      Dan para ulama yang menukilnya dalam kitab-kitab mereka itu hanya sekedar untuk mengetahuinya saja bukan dalam rangka mengakui keshahihannya.</p>
<p style="text-align:justify;">C)      Ibnu Taimiyah juga menukil dari al Hakim bahwa ia berkata tentang hadis tersebut, <i>‘Lâ yashihhu</i>/ia tidak shahih!’</p>
<p style="text-align:justify;">Untuk poin ketiga ini Ibnu Taimiyah berkomentar, “Demikianlah ucapan al Hakim! Padahal al Hakim itu tergolong Syi’ah/<i>mansûbun ila at tasyayyu’</i>.</p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;">Agar Anda mengerti lebih jelas apa yang dimaksud dengan <i>Tasyayyu’</i>/kesyi’ahan menurut Ibnu Taimiyah perhatikan ketarangannya lebih lanjut, <span style="color:#ff0000;"><em>“Dan Tasyayyu’-nya al Hakim dan yang semisalnya dari para ahlil ilmi/para ulama seperti an Nasa’i dan Ibnu Abdil Barr dan yang semisalnya tidak sampai mengutamakan Ali di atas Abu Bakar dan Umar. Dan tidak ada di kalangan Ahli Hadis/ulama hadis yang mengutamakan Ali di atas keduanya. Tetapi puncak kesyi’ahan mereka adalah mengutamakan Ali di atas Utsman. Atau membicarakan Utsman atau berpaling dari menyebut-nyebut kebaikan orang yang memerangi Ali dan yang semisalnya, .</em>..”</span><a title="" href="#_ftn8">[8]</a></p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;"><b>Abusalafy:</b></p>
<p style="text-align:justify;">Dari keterangan Ibnu Taimiyah di atas terlihat jelas bahwa Syi’ahisme itu menurutnya adalah kecintaan kepada Sayyidina Ali ra. dan kesyi’ahan para ulama hadis seperti Imam al Hakim, Ibnu Abdil Barr dan semisalnya adalah sebatas mengutamakan Sayyidina Ali ra atas Khalifah Utsman ra. atau berpaling dari menyebut kebaikan/mahâsin orang-orang yang memerangi Sayyisana Ali ra. Sekali lagi, bukan mengecam atau menghujat mereka!! Sekedar berpaling dari menyebut kebaikan-kebaikan musuh-musuh Sayyidina Ali ra. Perhatikan poin ini baik-baik!</p>
<p style="text-align:justify;">Dengan memerhatikan dan meneliti tiga pendefenisian <i>tasyayyu’</i> di atas menjadi jelaslah latar belakang pemikiran yang mendasarinya yang atasnya mereka menuduh para ulama Islam (yang jelas-jelas Ahlusunnah, bukan ahli bid’ah atau dari mazhab lain) sebagai Syi’ah dan kemudian dengan dasar tuduhan itu para ulama itu diintimidasi, dikecam dan digugurkan keadilannya dan serta seluruh periwayatan mereka patut dicurigai bahkan harus dibuang atau paling tidak ‘dimeja hijaukan’!</p>
<p style="text-align:justify;">Ya, semua tuduhan kesyi’ahan itu mereka alamatkan kepada para ulama Islam Ahlusunnah dengan pendefenisian kesyi’ahan yang mereka buat-buat sendiri yaitu sekedar KECINTAAN DAN BERMUSYÂYA’AH/MEMBELA Sayyidina Ali ra. walaupun tidak disertai dengan kecamana, hujtan serta cacian! Ya, hanya sekedar kecintaan dan keengganan menyebnut-nyebut keutamaan musuh-musuh Ali yang telah mengobarkan api peperangan memberontak kekhalifahan yang sah.</p>
<p style="text-align:justify;">Dengan demikian, <span style="color:#0000ff;"><em>sejak awal saya katakan bahwa abusalafy tidak pernah merasa terkejut dengan tuduhan para Misionaris Salafi Wahhabi bahwa abusalafy adalah Syi’ah! Sebab dalam pandangan para Salafi Wahhâbi (yang nyata-nyata sebagai mukallid buta Ibnu Taimiyah dalam kesesatannya, khususnya dalam sikapnya terhadap Sayyidina Ali ra.) siapapun yang tidak sudi menyebut kebaikan Mu’awiyah (itupun tentunya jika ada kebaikan padanya) adalah sudah cukup bukti bagi mereka untuk menuduh abusalafy sebagi Syi’ah Rafidhah!</em></span> Dan karena abusalafy tidak sudi menyebut kebaikan Mu’awiyah (karena memang tidak ada kebaikan padanya, yang ada hanya kejahatan, kefasikan dan kemunafikan dengan segala sisi buruknya) dan tidak sudi pula menyebut-nyebu hadis-hadis keutamaan Muawiyah (karena memang telah diijma’kan para ulama dan para huffâdz besar Ahlusunnah, tidak ada satu pun hadis keutamaan Mu’awiyah yang shahih, semuanya adalah dusta dan kepalsuan belaka! Sebagaimana telah berkali-kali saya buktikan) maka abusalafy harus divonis sebagai Syi’ah Rafidhah! Ya harus divonis sebagai Syi’ah Rafidhah agar para Misionaris Salafi Wahhâbi itu dengan mudah membodohi kaum awam Salafi (dan rata-rata mereka adalah kaum awam yang sangat muallaf intelektual) dan agar mereka dapat dijauhkan dari pencerahan yang sedang dilakukan oleh abusalafy dengan membongkar berbagai kedok kepalsuan klaim dan ajaran Wahhabi yang sekarang berkedok dengan nama Salafi!!</p>
<p style="text-align:justify;">Terima kasih untuk kalian wahai saudara-saudaraku kaum Salafi Wahhâbi atas kebaikan kalian mengakui abusalafy sebagai musuh gembong kaum munafik dan Imam kelompok penganjur ke dalam api neraka!</p>
<p style="text-align:justify;"><b>Fitnah Salafi Itu Bukan Hal Baru!</b></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#0000ff;"><em>Fitnah bahwa kecintaan kepada Sayyidina Ali dan Ahlulbait Nabi saw. adalah kesyi’ahan dan ia adalah bid’ah dan akan menyebabkan penyandangnya dikecam, diintimidasi, dikucilkan dan bahkan dibunuh bukanlah hal baru. Ia adalah hembusan panas busuk bani Umayyah utamanya Mu’awiyah yang memimpin dunia Islam dengan mengtatas-namakan agama dan dengan menjalankan politik Fir’aun dan fir’aunisme untuk meracuni pikiran umat Islam.</em></span> Sampai-sampai sebagian umat Islam meyakini bahwa sekedar kecintaan kepada keluarga nabi mereka sendiri&#8230; kepada Sayyidina Ali ra., Siti Fatimah as., Sayyidina Hasan ra. dan Sayyidina Husain ra. adalah bid’ah dan kesesatan yang penyandangnya harus dihukum&#8230; dimusuhi bahkan kalau perlu harus dimusnahkan!</p>
<p style="text-align:justify;">Inilah kenyataan pahit yang terjadi&#8230; dan semuanya yang harus pertanggung jawab adalah Mu’awiyah dan para pemimpin sesat dan tiran dari bani Umayyah keturuna pohon terkutuk dalam Al Qur’an!</p>
<p style="text-align:justify;">Kesesatan itu terus berlanjut hingga zaman Imam kita, Imam Syafi’i dan tentunya terus berlanjut hingga zaman kita ini. Dan beliau telah menjadi korban kebiadaban fitnah itu yang bertujuan menghancurkan kepribadian dan nama baik beliau di tengah-tengah masyarakat Islam dewasa itu dan agar suara-suara merdu yang mengajak umat Islam mencintai keluarga, Ahlulbait Nabi saw. dapat dibungkam. Tetapi beliau dengan tegar menghadapinya dan membongkar kejahatan para penuduh itu, beliau mengabadikan tuduhan itu dengan bait-bait syair masyhur beliau. Di antaranya adalah sebagai berikut:</p>
<p style="text-align:justify;">.</p>
<h2 align="center"><b>إنْ كانَ رَفْضًا حُبُّ آلِ محمد **</b><b> فليَشْهَدِ الثقلاَنِ أَنَّيْ رافِضِيْ</b></h2>
<p style="text-align:justify;"><i>Jika mencintai keluarga Muhammad itu kerafidhian,</i><i>maka hendaknya manusia dan jin menyaksikan bahwa aku adalah seorang Rafidhi</i></p>
<h2 align="center"><b>قَالُوا تَرَفَّضْتَ!</b><b> قلتُ كَلاَّ</b><b> *** ما الرُفْضُ دينِيْ وَ لاَ اعْتقادِيْ</b></h2>
<h2 align="center"><b>و لـكِنْ تَوَلَّيْتُ دونَ شَكٍّ  ***  خيرَ إمامٍ  و خيرَ هـاديِ</b></h2>
<h2 align="center"><b>إنْ كـانَ حُبُّ الوَصِيِّ رَفْضًا  ***   فَـإِنَّنِيْ أَرْفَضُ العبادِ</b></h2>
<p align="center"><i>Mereka berkata; kamu telah berfaham Rafidhi! Aku berkata: Tidak!</i></p>
<p align="center"><i>Kerafidhian bukan agamaku dan bukan keyakinanku.</i></p>
<p align="center"><i>Akan tetapi aku tanpa ragu berwilayah</i></p>
<p align="center"><i>kepada sebaik-baik Imam dan sebaik-baik pemberi petunjuk.</i></p>
<p align="center"><i>Jika mencintai washi (Ali) itu kerafidhian</i></p>
<p align="center"><i>maka ketahuilah bahwa aku paling rafidhinya manusia</i></p>
<p style="text-align:justify;"><b> Abusalafy:</b></p>
<p style="text-align:justify;">Dari bait-bait syair Imam Syafi’i di atas dapat dimengerti dengan jelas bagaimana para musuh Allah, rasul-Nya dan Ahlulbait nabi-Nya telah menyebarkan isu sesat lagi menyesatkan bahwa kewcintaan kepada keluarga, Ahlulbait Nabi saw. adalah kerafidhian&#8230; adalah kesyi’ahan! Lalu bandingkan dengan apa yang dilakukan kaum Ektrimis Salafi Wahabi akhir-akhir ini&#8230; mereka segera menuduh sispapun yang berani menampakkan kecintaan dan dukungan serta pembelaannya kepada Khalifah Sayyidina Ali ra. sebaga Syi’ah Rafidhah!</p>
<p style="text-align:justify;">Jadi semakin jelas siapa sejatinya mereka yang gemar menuduh para pecinta Ali dan Ahlulbait Nabi saw. sebagai Syi’ah Rafidhah&#8230; tidak lain dan tidak bukan adalah kaum Nashibi&#8230; kaum sesat&#8230; pelanjut misi sesat Mu’awiyah dan bani Umayyah terkutuk!</p>
<p style="text-align:justify;">Dan bandingkan apa yang dikeluhkan Imam Syafi’i dengan defenisi pertama Syi’ah yang saya sebutkan di atas pasti Anda paham bahwa defenisi di atas adalah hasil pengaruh kesesatan bani Umayyah!</p>
<p style="text-align:justify;"><b>Kebencian Mereka Kepada Sayyidina Ali ra. Semakin Mengganas!</b></p>
<p style="text-align:justify;">Sobat abusalafy yang cerdas dan kritis, ketahui bahwa keganasan kedengkian musuh-musuh Sayyidina Ali (yang tentunya, disadari atau tidak adala musuh Allah dan Rasul-Nya) tidak berhenti pada batas tertentu dari kegilaan sikap mereka&#8230; kalau para pendahulu mereka; Mu’awiyah dan kaum sesat yang memerangi dan melaknati Sayyidina Ali ra. telah menghunuskan padang dan mengobarkan api peperangan memberontak kekhalifahan yang sah, maka para pelanjut mereka telah mengobarkan peperangan dengan bentuk baru&#8230; dengan cara mereka sendiri.. mereka memerangi hadis-hadis shahih keutamaan Sayyidina Ali ra&#8230;. setiap ada upaya menyampaikan hadis-hadis suci Nabi saw. yang mengabadikan keutamaan dan keagungan Sayyidina Ali ra. sepontan mereka berontak dan menyerangnya dengan mulut busuk yang memuntahkan nanah-nanah kedengkian dan kemunafikan.. mereka segera memotong dan berkata, “Hentikan ini semua! Jangan disampaikan hadis-hadis yang pernah disabdakan Muhammad itu! Itu adalah hadis versi Syi’ah Rafidhah!”</p>
<p style="text-align:justify;">Demikianlah yang terjadi&#8230; kemunafikan yang selama ini mereka pendam dalam rongga najis mereka itu tidak mampu mereka sembunyikan lagi&#8230; Akhirnya mereka tak mampu menyembunyikan keaslian jiwa mereka!</p>
<p style="text-align:justify;">Demikian Imam kita, Imam Syafi’i mengisahkan kepada kita&#8230; bahwa fenomena kemunafikan seperti itu sudah tidak lagi asing terjadi&#8230; Mereka sudah menjadi srigala-srigala galak yang siap menerkam manggs lemahnya dengan taring-taring tajam kebencian kepada Nabi dan Ahlulbait beliau saw.</p>
<p style="text-align:justify;">Sekali lagi, dalam bait-bait syairnya yang indah, Imam Syafi’i mengabadikan kondisi gelap itu. Al Baihaqi<a title="" href="#_ftn9">[9]</a> meriwayatkan dari Rabi’ ibn Sulaiman (salah seorang murid Imam Syafi’i), dikatakan kepada Imam Syafi’i ra. bahwa ada banyak orang yang tidak sabar mendengar keistimewaan dan keutamaan Ahlulbait, jika ada seorang yang meriwayatkan, mereka menuduhnya sebagai seorang Rafidhi lalu mereka membelokkan dalam pembicaraan lain. Mendengar laporan itu Imam Syafi’i spontan menggubah bait-bait syair:</p>
<h2 align="center"><b>إذَا فِيْ مَجْلِسٍ ذَكَرُوا عَلِيًّا ** وَ سِبْطَيْهِ وَ فَاطِمَةَ الزَّكِيـَّةْ</b></h2>
<h2 align="center"><b>وَ أَجْرَى بَعْضُهُمْ ذِكْرَ سِـواهُمْ ** فَأَيْـقِنْ أنَّهُ لِسَلِقْلِقِـيَّةْ</b></h2>
<h2 align="center"><b>إذا ذَكَروا عليا مَـَعَ بَنـِيْهِ ** تَشـاغَلَ بالروَاياتِ العِلّية</b></h2>
<h2 align="center"><b>و قال تَجـاوَزُوا يا قَوْمِ هذا ** فّهَذا مِنْ حديثِ الرافِضِيَّةْ</b></h2>
<h2 align="center"><b>بَِرئْتُ إلىَ الْمُهَيْمِنِ مِنْ أُناسٍ ** يَرَوْنَ الرَّفْضَ حُبُّ الفاطِمِيةْ</b></h2>
<h2 align="center"><b>عَلَى آلِ الرَّسُـولِ صلاةُ رَبِـيْ ** و لَعْـنَتُهُ لِتِلْكَ الجاهِلِيَّةْ</b></h2>
<p style="text-align:center;"><i>Jika disebuah majlis mereka menyebut-nyebut Ali</i><i>, </i><i>kedua putranya dan Fatimah yang harum,</i></p>
<p style="text-align:center;"><i>lalu ada sebagian memalingkan membicarakan lainnya,</i></p>
<p style="text-align:center;"><i>maka yakinlah bahwa orang itu adalah anak wanita yang haidh dari duburnya.</i></p>
<p style="text-align:center;"><i>Jika Ali dan putra-putranya mereka sebut-sebut,</i><i>orang itu sibuk dengan riwayat-riwayat sakit</i><i>,</i></p>
<p style="text-align:center;"><i>ia berkata</i><i>:</i><i>“</i><i>tinggalkan hai kaum ini semua</i><i>! I</i><i>ni adalah hadis orang-orang Rafidhah.</i></p>
<p style="text-align:center;"><b><i>Aku berlepas diri dari orang-orang</i></b><b><i>yang memandang bahwa kecintaan kepada keturunan Fatimah adalah kerafidhian</i></b></p>
<p style="text-align:center;"><i>Atas keluarga suci Rasul salam Tuhanku,</i><i>dan semoga laknat kutukan-Nya atas kejahiliyahan itu!</i></p>
<p>.</p>
<p style="text-align:justify;">Demikian;ah sobat abusalafy, jelaslah dari bait-bait di atas bahwa kebencian mereka begitu mendalam sehingga siapapun yang menyebut-nyebut hadis keutamaan Ahlulbait as. segera mereka dituduh sebagai Rafidhi dengan tujuan mengintimidasi agar kemudian dikucilkan oleh masyarakat Muslim. Dan sikap seperti itu banyak kita temukan pada sebagian muhaddis kita, mereka melontarkan berbagai tuduhan keji atas setiap perawi yang meriwayatkan hadis keutamaan Ahlulbait as..</p>
<p style="text-align:justify;"><b>Contoh Keganasan Kaum Nashibi Pendahlu Ekstrimis Salafi</b></p>
<p style="text-align:justify;">Andai masalahnya berhenti hanya sampai di sini, mungkin para pecinta Ahlulbait as. dan perawi keutamaan mereka masih sangat beruntung. Tetapi ternyata, sebagiankaum Nashibi yang sudah sangat jauh dalam kesesatannya, mereka menyiksa -seperti juga para penguasa sanjungan mereka- siapapun yang berani-berani mempublikasikan secara luas hadis-hadis keutamaan Ahlulbait as., walaupun hanya sekedar hadis keutamaan! Kisah tragis yang dialami Imam an Nasa’i adalah saksi sejarah yang menyedihkan.</p>
<p style="text-align:justify;">Di bawah ini akan saya sebutkan kisah itu:</p>
<p style="text-align:justify;"><b>Kisah Penyiksaan Imam Nasa’i</b></p>
<p style="text-align:justify;">Para ulama melaporkan bahwa ketika Imam Nasa’i; Ahmad ibn Syu’aib (penulis kitab <i>Sunan Kubra </i>dan<i> Sunan Shughra </i>-salah satu dari enam kitab hadis Shahih  kita Ahlusunah, dan buku-buku hadis lain) berkunjung ke kota Damaskus, ia menyaksikan bahwa penduduknya tenggelam dalam kecintaan kepada bani Umayyah, khususnya Mu’awiyah dan sangat membenci Ali dan Ahlulbait Nabi as., maka beliau menulis kitab <i>Khashaish</i> dan membacakannya secara umum di Masjid Jami’. Masyarakat di sana tidak terima, mereka memaksa Imam Nasa’i agar meriwayatkan juga hadis keutamaan Mu’awiyah. Beliau menjawab, “Tidak cukupkah Mu’awiyah tidak disebut-sebut, mengapa ia harus diberi keutamaan?!”</p>
<p style="text-align:justify;">Dalam riwayat lain Imam Nasa’i menjawab, “Aku tidak mengetahui bahwa ia punya keutamaan, kecuali hadis yang mengatakan, <i>‘Semoga Allah tidak membuatnya kenyang.’</i>”<a title="" href="#_ftn10">[10]</a> Mendengar jawaban itu, spontan mereka menyerangnya, menginjak-nginjak kemaluannya dan menendang-nendangnya. Setelahnya, beliau dibawa keluar dari masjid dalam keadaan cedera parah dan dilarikan ke luar Damaskus, sesampainya di kota Ramalah-Paletina, beliau wafat pada hari senin tanggal 13 Shafar tahun 303 H.<a title="" href="#_ftn11">[11]</a> Semoga Allah Merahmati beliau.</p>
<p style="text-align:justify;"><b>Abusalafy:</b></p>
<p style="text-align:justify;">Nah, sekarang coba Anda bandingkan dengan sikap para Salafiyyûn terhadap abusalafy&#8230; ketika abusalafy enggan membawakan hadis-hadis palsu keutamann Mu’awiyah mereka segera mengenac abusalafy sebagai Syi’ah! Dan ketika abusalafy membongkar bukti-bukti kemunafikan Mu’awiyah mereka pun mengecam abusalafy sebagai Rafidhah!</p>
<p style="text-align:justify;">Jadi jelas mereka adalah musuh berbahaya Ahlusunnah! <b>    </b></p>
<p style="text-align:justify;">Abu Bakar Muhammad ibn Musa ibn Ya’qub ibn Al Ma’mun Al Hasyimi berkata, “Aku mendengar banyak kalangan mengecam an Nasa’i karena ia mengarang kitab <i>Khashaish</i> Ali ibn Abi Thalib ra. dan tidak mengarang kitab tentang keutamaan Abu Bakar, Umar dan Utsman ra., lalu aku sampaikan kepada beliau hal itu. Beliau menjawab, “Kami masuk ke kota Damaskus sementara penduduknya banyak yang menyimpang dari Ali, lalu aku mengarang buku itu dengan harapan mereka mendapat hidayah Allah…” Beliau, kata Abu Bakar, pernah ditanya, “Mengapa Anda tidak meriwayatkan keutamaan Mu’awiyah?” Maka beliau menjawab, “Apa yang akan aku riwayatkan? Apa hadis ‘<i>Semoga Alah tidak membuat perutnya kenyang</i>.”! Setelahnya An Nasa’i diam dan si penegur bungkam.</p>
<p style="text-align:justify;"><b>Abusalafy:</b></p>
<p style="text-align:justify;">Jelas yang keberatan terhadap Imam an Nasa’i pasti adalah kaum Nashibi; pendahulu para pembenci Ahlulbait di zaman kita ini!</p>
<p style="text-align:justify;">Oleh sebab itu, Imam Nasa’i juga tidak selamat dari tuduhan sebagai Syi’ah, seperti yang telah lewat katakan Ibnu Taimiyah dalam tuduhannya, ia berkata, <b>“Dan <i>Tasyayyu’</i>-nya al Hakim dan yang semisalnya dari para ahlil ilmi/para ulama seperti an Nasa’i dan Ibnu Abdil Barr dan yang semisalnya tidak sampai mengutamakan Ali di atas Abu Bakar dan Umar. Dan tidak ada di kalangan Ahli Hadis/ulama hadis yang mengutamakan Ali di atas keduanya. Tetapi puncak kesyi’ahan mereka adalah mengutamakan Ali di atas Utsman. Atau membicarakan Utsman atau berpaling dari menyebut-nyebut kebaikan orang yang memerangi Ali dan yang semisalnya, &#8230;”</b><a title="" href="#_ftn12">[12]</a></p>
<p style="text-align:justify;">Imam Nasa’i, dituduh Syi’ah (seperti ulama lainnya) karena dua alasan; <i>pertama</i>, ia mengarang kitab <i>Khashaish</i> dan <i>kedua</i>, karena ia dianggap merendahkan Mu’awiyah. Demikian dikatakan Abu Ishaq Al Hawaini. Kemudian ia membela Nasa’i, antara lain ia mengatakan bahwa tidak benar beliau merendahkan Mu’awiyah. Beliau sangat hormat dan menyanjung tinggi Mu’awiyah.</p>
<p style="text-align:justify;"><b>Penutup</b></p>
<p style="text-align:justify;">Jadi saya tidak akan perpanjang lagi tanggapan saya atas tuduhan murahan para agen Wahhâbi yang sedang menjalankan egenda besar permusuhan dan pemecah-belahan umat Islam!</p>
<div>
<hr align="left" size="1" width="33%" />
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref1">[1]</a> Abu Zuhrah;<i>Tarikh al-Madzahib al-Islamiyah</i>:33.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref2">[2]</a> M. Farid Wajdi; <i>D</i><i>â</i><i>irah al</i><i>Ma</i><i>’â</i><i>rif</i>,5\4244.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref3">[3]</a> Ibnu Hajar al Asqallâni; <i>Hadyu al Sâri Mukaddimah Fath al Bâri</i>,2/213.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref4">[4]</a> Muhammad ibn Aqil ibn Yahya Al Alawi. <i>Al ‘Atbu Al Jamil</i>:9-10.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref5">[5]</a> <i>Siyar A’lâm Al Nubalâ’</i>,16/457.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref6">[6]</a> <i>Al Isti’ab,</i> 3/1090. Demikian juga Ibnu Khaldun, seperti dikutip Abu Zuhrah dalam <i>Tarikh Al Mazahib Al Islamiyah</i>:33.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref7">[7]</a> Adz Dzahabi, Mîzân al I’tidâl,1/5-6.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref8">[8]</a> Minhâj as Sunnah,7/372-374.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref9">[9]</a> <i>Wujub Al Himyah ‘An Madhâr ar Ruqyah</i>; Allamah Sayyid Abu Bakar Abdur Rahmân ibn Syihabuddin Al Alawi Al Husaini al Hadhrami asy Syâfi’i (salah seorang ulama besar Hadhramauit dari keturunan Habib dan guru besar Universitas Darul Ulum, Haidar Abaad-India):65 cet. Penerbit Al Imam- Singapora, thn.1328 H.)</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref10">[10]</a> Kata riwayat, bahwa suatu hari Rasulullah saw. memerintah seorang untuk memanggil Mu’awiyah. Setelah dipanggil, Muawiyah tidak segera datang, ia berkata kepada utusan Rasulullah saw. agar mengatakan kepada Nabi bahwa dia masih makan. Dan setelah berulang kali, tetap jawabannya sama, Nabi mendoakan Mu’awiyah dengan doa seperti dalam hadis di atas. Dan isnya Allah saya akan kembali menjelaskan tentang hadis di atas dalam artikel khusus tentangnya.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref11">[11]</a> Baca <i>Wafayât Al A’yân</i>; Ibnu Khallikan, tentang biodata Imam An Nasa’i, Mukaddimah <i>Khashaish Imam Ali </i>oleh Abu Ishaq Al Hawaini.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref12">[12]</a> Minhâj as Sunnah,7/372-374.</p>
</div>
</div>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/abusalafy.wordpress.com/2541/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/abusalafy.wordpress.com/2541/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abusalafy.wordpress.com&#038;blog=1269412&#038;post=2541&#038;subd=abusalafy&#038;ref=&#038;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abusalafy.wordpress.com/2013/01/02/benarakan-abusalafy-syiah-rafidhah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>144</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/9e9f42ee06317a9a9b53f33ec6f955fa?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">abusalafy</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
