<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Abu Salafy</title>
	<atom:link href="http://abusalafy.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://abusalafy.wordpress.com</link>
	<description>Mengkaji Salafy Wahabi</description>
	<lastBuildDate>Wed, 03 Feb 2010 14:28:53 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<cloud domain='abusalafy.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://www.gravatar.com/blavatar/90bee9191768ad00939d83dc959a4370?s=96&#038;d=http://s.wordpress.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Abu Salafy</title>
		<link>http://abusalafy.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://abusalafy.wordpress.com/osd.xml" title="Abu Salafy" />
		<item>
		<title>Pujian Ulama Untuk Sibthu Ibn Jauzi</title>
		<link>http://abusalafy.wordpress.com/2010/02/03/pujian-ulama-untuk-sibthu-ibn-jauzi/</link>
		<comments>http://abusalafy.wordpress.com/2010/02/03/pujian-ulama-untuk-sibthu-ibn-jauzi/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 03 Feb 2010 03:34:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abusalafy</dc:creator>
				<category><![CDATA[Akidah Tajsim & Tasybih]]></category>
		<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[Kajian Hadis]]></category>
		<category><![CDATA[Manhaj]]></category>
		<category><![CDATA[Menjawab Blog Wahabi/Salafy]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abusalafy.wordpress.com/?p=690</guid>
		<description><![CDATA[Sebuah Tanggapan Balik Atas Saudara Anshari Taslim dalam artikelnya yang berjudul: Meluruskan Kesesatan Abu Salafy 4 (Tidak bisa Membedakan antara Ibnu Al-Jauzi dengan cucunya)
Dalam bantahan saya atas tuduhan yang dilontarkan saudara saya Anshari Taslim atas artikel saya bahwa sebagian ahli hadis itu dungu…. Ia begitu keberatan atas apa yang saya katakan saat itu dengan mengutip [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abusalafy.wordpress.com&blog=1269412&post=690&subd=abusalafy&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<br /><p style="text-align:justify;"><span style="color:#ff0000;"><strong>Sebuah Tanggapan Balik Atas Saudara Anshari Taslim dalam artikelnya yang berjudul: <a href="http://alponti.multiply.com/journal/item/52" target="_blank"><span style="color:#0000ff;"><em>Meluruskan Kesesatan Abu Salafy 4 (Tidak bisa Membedakan antara Ibnu Al-Jauzi dengan cucunya)</em></span></a></strong></span></p>
<p style="text-align:justify;">Dalam bantahan saya atas tuduhan yang dilontarkan saudara saya Anshari Taslim atas artikel saya bahwa sebagian ahli hadis itu dungu…. Ia begitu keberatan atas apa yang saya katakan saat itu dengan mengutip keterangan dari kitab <em>Daf’u Syubah at Tasybîh</em>, yang saya katakana (secara keliru) bahwa kitab itu adalah karangan Sibthu Ibnu Jauzi.. maka dengan serta merta saudara Anshari Taslim menghujat saya dengan mengatakan bagaimana saya mengandalkan keterangan seorang Rafidhi (sambi mengutip keterangan adz Dzahabi)…<span id="more-690"></span></p>
<p style="text-align:justify;">Sebenarnya dalam polemik itu kita harus mengakui sama-sama terjebak dalam kesalahan (entah apakah saudara Anshari mau mengakui atau tidak ya?). Sebab ketika saya katakan bahwa kitab itu karya Sibthu Ibn Jauzi semestinya saudara Anshar Taslim langsung menghujat saya dengan mengatakan, misalnya:<span style="color:#ff0000;"> “Bodoh  sekali kamu hai Abu Salafy tidak bisa mengenali pengarang sebuah kitab yang kamu jadikan rujukan! Pengarangnya bukan Sibthu Ibn Jauzi, tetapi Ibnu Jauzi!”</span> Tapi sayangnya bantahan seperti itu tidak ia lakukan, namun justru ia langung menghujat <span style="color:#0000ff;">Sibthu Ibnu Jauzi</span> dengan menuduhnya sebagai Rafidhah! Mungkin saat itu ia juga belum tau kalau pengarangnya ternyata bukan  Sibthu Ibnu Jauzi, tetapi kakeknya: yaitu Abul Faraj Ibnu Jauzi.</p>
<p style="text-align:justify;">Karenanya, saya, dalam bantahan saya membuktikan bahwa Sibthu Ibnu Jauzi bukan seorang Syi’ah apalagi Rafidhah seperti yang dituduhkan secara keji oleh adz Dzahabi dan lainnya, dengan menyebutkan pujian para ulama dan juga berbagai bukti lainnya. Tetapi ternyata pujian yang saya muat saat itu salah, ia adalah pujian untuk si Ibnu Jauzi (kakek) bukan cucu, Sibthu Ibn Jauzi yang bernama Yusuf ibn Quz Ghuli.</p>
<p style="text-align:justify;">Setelahnya saudara Anshar Taslim menghajar saya habis-habisan atas kesalahan saya itu <span style="color:#0000ff;">(dan sudah saya akui kesalahan itu, tanpa malu dalam mengakuinya, sebab bukan kemenangan berbedat yang menjadi tujuan saya) </span>dengan meluapkan emosinya (dan itupun sudah biasa saya terima dari lawan diskusi saya)..</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#0000ff;"><strong>Tetapi terus terang, saya masih menanti bantahan saudara Anshari Taslim yang lebih mengena ke inti permasalahan yaitu pembuktikan bahwa Sibthu Ibn Jauzi memang benar seorang Rafidhah. Hal mana telah saya sampaikan berbagai bukti bahwa tuduhan itu hanya fitnahan belaka dan hanya keluar dari mereka yang membenci keluarga Nabi Saw.</strong></span></p>
<p style="text-align:justify;">Dan untuk menanggapi bantahan akhi Anshari Taslim terhadap saya, saya tulis artikel ini sambil menanti bantahannya atas bukti-bukti yang saya ajukan sebelumnya.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Abu Salafy berkata:</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Banyak sekali pujian para ulama atas Sibthu Ibn Jauzi; Yusuf ibn Quz Ghuli. Hanya saja aya akan batasi dengan menyebutkan beberapa darinya, <span style="color:#0000ff;"><span style="text-decoration:underline;"><em>khususnya pujian dan sanjungan yang disampaikan <span style="color:#ff0000;">adz Dzahabi </span>dalam banyak kitabnya.</em></span></span></p>
<ul style="text-align:justify;">
<li><strong>Pujian Quthbuddîn an Yûnîni (w. 726 H)</strong></li>
</ul>
<p style="text-align:justify;">.</p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;">Yusuf ibn Quz Ghuli … pemberi nasihat yang sangat diekenal; Sibthu Abul Faraj Abdurrahman ibn Jauzi (rh) …</p>
<p style="text-align:justify;">Dia tiada tara di zamannya dalam penyampaian nasihat, bagus penyampaiannya, hati menjadi lembut dengan memandangnya, mata meneteskan air mata kerena mendengar wejangannya. Ia menyendiri dengan seni ini. Ia diterima secara penuh oleh masyarakat. Ia mengungguli rekan-rekan se zamannya bahwa banyak dari kalangan pendahulu. Sampai-sampai ia bercicara dalam sebuah majlis dengan kata-kata yang singkat atau membacakan satu bait syair saja maka seluruh yang hadir di majlis tersebut menjadi khusyu’, dan menangis dengan tangisan yang luar biasa, lau beliau pun mencukupkan dengannya dan turun dari mimbar….</p>
<p style="text-align:justify;">Beliau lembut perangainya, menawan tindakannya, bagus pergaulannya dengan semua orang, sangat mereka cintai dan mereka agungkan. Beliau memiliki keutamaan yang sempurna dan keiukut sertaan dalam berbagai disiplin ilmu. Andai ia tidak memiliki karya selain kitab sejarah yang beliau karang dan namakan dengan Mirâtuz Zamân pastilah cukup. Ia tulis dengan tulisannya sendiri sebanyak 37 jilid. Di dalamnya ia merangkum banyak keterangan indah sekali…</p>
<p style="text-align:justify;">Beliau salah seorang ulama terkenal yang terpuji perangainya…</p>
<p style="text-align:justify;">Beliau adalah seorang Imam, Alim, Utama. Beliau jarang bergaul dengan kebanyakan orang. Beliau rendah hati, lembut tutur katanya.. sederhana pakaiannya, rajin menelaah, sibuk mengarang. Menghormati dan berlaku adil terhadap para ulama. Anti terhadap para penyimpang dan kaum jahil…<a href="#_ftn1">[1]</a></p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;">.</p>
<ul style="text-align:justify;">
<li><strong>Pujian</strong><strong> Adz Dzahabi (w.748 H)</strong></li>
</ul>
<p style="text-align:justify;">.</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="text-decoration:underline;"><span style="color:#0000ff;"><em>Adz Dzahabi telah memujinya dalam banyak kitabnya,di antaranya dalam Tarîkh al Islam,</em></span></span> pada peristiwa tahun 651-660. ia berkata,</p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;">“ Beliau adalah seorang Imam, Faqîh (ahli fikih), Wâidhan (penasihat) tunggal dalam keahlian memberikan wejangan. Sangat pandai dalam sejarah umum dan sejarah Nabi. Banyak keutamaannya, sangat dicintai manusia, manis tutur katanya dalam menasihati, lembut perangainya. Beliau diterima secara mutlak.</p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;">… “</p>
<p style="text-align:justify;">adapun pujian lengkapnya atas Sibthu Ibn Jauzi dapat Anda baca dalam Siyar A’lam an Nubalâ’ juz: 23/296-297 dengan nomer keterangan 203:</p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;"><strong>203 &#8211; Ibnu Quz Ghuli</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Syeikh Alim, yang menguasai banyak disiplin ilmu, al Wâidz (pemberi wejangan) yang luar biasa, seorang ahli sejarah yang mendalam dalam riwayat, penasihat negeri Syam; Syamsuddîn Abul Mudhaffar Yusuf ibn Quz Ghuli ibn Abdullah  at Turki al ‘Auni al Hibairi al Baghdadi al Hanafi, cucu Abul Faraj Ibnu Jauzi.</p>
<p style="text-align:justify;">Beliau lahir tahun lima tarus delapan puluh sekian.</p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;">Setelah nmeyebutkan nama-nama guru beliau dan murid-murid yang menimba ilmu darinya, adz Dzahabi melanjutkan:</p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;">Telah sampai kepada beliau kepemimpinan dalam memnerikan wejangan dan bagusnya nasihat serta dalam mengenal sejarah. Beliau manis penyampaiannya, lembut perangainya, indah penampilannya, lengkap kehormatannya. Ia diterima masyarakat..</p>
<p style="text-align:justify;">Beliau wafat di rumahnya di  desa Safah Qâsiyûn dan dikebumikan dalam upacara yang dihadiri oleh Sultan dan para jaksa. Beliau sangat cerdas, rendah hati, banyak hafalannya, dan tiada tandingannya. Beliau menulis kitab tafsir yang sangat besar sebanyak dua puluh sembilan jilid. Belia wafat pada bulan Dzul Hijjah tahun 654 H.<strong> </strong></p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;">Inilah sekelumit catatan atas bantahan akhi Anshar Taslim. Semoga bermanfaat bagi kita semua.<em> Wa Mâ Taufiqi Illâ Billah.</em></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Penutup</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Ada sebuah  keberanian yang patut saya hargai dari akhi Anshari Taslim dalam hujatannya atas saya itu. di mana kalau pada bantahan sebelumnya ia ngotot keberatan ketika saya katakan bahwa sebagian ahli hadis itu ada yang dungu. tapi kini ia telah berani mengakui bahwa bukan hanya ada di antara ahli hadis itu yang dungu (seperti yang dahulu saya  buktikan dan ia bantah habis-habisan)<strong>.. </strong>kini ia malah mengatakan bahwa di antara ahli hadis itu ada yang memalsu hadis&#8230;.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>ia berkata:</strong><span style="color:#ff0000;"><strong> </strong></span></p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#ff0000;"><strong>Saya sendiri tidak pernah mengingkari bahwa ada sebagian ahli hadits yang bukan hanya dungu tapi juga memalsukan hadits, </strong></span></p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#ff0000;"><strong><span style="color:#000000;">Semoga<strong><span style="color:#000000;"> </span></strong></span></strong></span><strong><a href="#_ftnref1"><span style="color:#000000;"> kita semua dijauhka<span style="color:#000000;">n dari kedegilan sikap dan fanatisme buta</span></span><span style="color:#000000;"> </span></a></strong><span style="color:#ff0000;"><strong><span style="color:#000000;">dan membutakan.<em> Amin</em>.</span><br />
</strong></span></p>
<p style="text-align:justify;">
<hr size="1" />
<p style="text-align:justify;"><a href="#_ftnref1">[1]</a> Dzail Mirâtuz Zamân,1/39-43.</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/abusalafy.wordpress.com/690/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/abusalafy.wordpress.com/690/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/abusalafy.wordpress.com/690/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/abusalafy.wordpress.com/690/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/abusalafy.wordpress.com/690/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/abusalafy.wordpress.com/690/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/abusalafy.wordpress.com/690/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/abusalafy.wordpress.com/690/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/abusalafy.wordpress.com/690/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/abusalafy.wordpress.com/690/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abusalafy.wordpress.com&blog=1269412&post=690&subd=abusalafy&ref=&feed=1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abusalafy.wordpress.com/2010/02/03/pujian-ulama-untuk-sibthu-ibn-jauzi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/dcc398e7d74a34e59c3d59ffcc0673ff?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">abusalafy</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Tanggapan Atas Luapan Emosi Saudara Anshari Taslim</title>
		<link>http://abusalafy.wordpress.com/2010/01/19/tanggapan-atas-luapan-emosi-saudara-anshari-taslim/</link>
		<comments>http://abusalafy.wordpress.com/2010/01/19/tanggapan-atas-luapan-emosi-saudara-anshari-taslim/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 19 Jan 2010 01:56:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abusalafy</dc:creator>
				<category><![CDATA[Akidah Tajsim & Tasybih]]></category>
		<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[Fatwa Wahabi-Salafy]]></category>
		<category><![CDATA[Kajian Hadis]]></category>
		<category><![CDATA[Kenaifan Kaum Wahhabi]]></category>
		<category><![CDATA[Manhaj]]></category>
		<category><![CDATA[Mengenal Pemimpin Wahabi]]></category>
		<category><![CDATA[Menjawab Blog Wahabi/Salafy]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abusalafy.wordpress.com/?p=651</guid>
		<description><![CDATA[Dalam artikelnya yang berjudul: Meluruskan kesesatan Abu Salafy 3 (Menganggap Sebagian Ahli Hadits Dungu?!) saudara Anshari Taslim, entah mengapa jadi tak terkendalikan emosinya. Mungkin karena untuk menutupi kelemahannya dalam membantah bukti-bukti yang disampaikan Imam al Muhaddis Sibthu Ibnu Jauzi (rh) ia lakukan itu semua! Saya benar-benar tidak mengerti alasan sesungguhnya mengapa sikap seperti itu yang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abusalafy.wordpress.com&blog=1269412&post=651&subd=abusalafy&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<br /><p style="text-align:justify;">Dalam artikelnya yang berjudul: <strong><em><a href="http://alponti.multiply.com/journal/item/47" target="_blank">Meluruskan kesesatan Abu Salafy 3 (Menganggap Sebagian Ahli Hadits Dungu?!</a>)</em></strong> saudara <span style="color:#0000ff;">Anshari Taslim</span>, entah mengapa jadi tak terkendalikan emosinya. Mungkin karena untuk menutupi kelemahannya dalam membantah bukti-bukti yang disampaikan Imam al Muhaddis Sibthu Ibnu Jauzi (rh) ia lakukan itu semua! Saya benar-benar tidak mengerti alasan sesungguhnya mengapa sikap seperti itu yang ia pilih?<span id="more-651"></span></p>
<p style="text-align:justify;">Tetapi terlepas dari itu semua, saya hanya ingin mengingatkan <em>akhi</em> <span style="color:#0000ff;">Anshari taslim</span> bahwa apa yang saya sajikan dengan judul di atas tidak semestinya membuat Anda bangkit  seakan Islam dan kemurnian ajarannnya sedang terancam! Yang saya katakan (berdasarkan keterangan Sibthu Ibn Jauzi) <span style="text-decoration:underline;"><span style="color:#0000ff;"><em><span style="color:#800000;">hanyalah bahwa <strong>sebagian Ahli Hadis</strong> itu “bersikap dungu”</span>.</em></span></span> Coba perhatikan kembali sub judul yang saya tulis:<strong> </strong><a href="http://abusalafy.wordpress.com/2009/10/21/bantahan-atas-abu-jauza%E2%80%99-dan-para-wahhabiyyun-mujassimun-musyabbihun-4/" target="_blank"><strong>“Kedunguan” Sebagian Ahli Hadis!</strong></a><strong> </strong>Bukan semua ahli hadis!!</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="text-decoration:underline;">Selain itu, kesimpulan yang disampaikan <span style="color:#800000;">Sibthu Ibnu Jauzi </span>itu adalah sebuah kenyataan yang tak mungkin dapat dibantah! Apakah Anda meragukan hal itu? Dan adakah keraguan terhadapnya?</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="text-decoration:underline;">Apa yang beliau katakan telah beliau dukung dengan bukti-bukti akurat. Bukan fitnah &#8230;. dan bukan pula kesimpulan yang mengada-ngada.</span></p>
<p style="text-align:justify;">Apakah <em>akhi</em> <span style="color:#800000;">Anshari Taslim</span> <span style="text-decoration:underline;"><em><span style="color:#0000ff;">meragukan kedungungan seorang hafidz/muhaddis yang hidup sezaman dengan Sibthu Ibnu Jauzi yang bernama <span style="color:#800000;">Abdul Mughîts ibn Zuhair ibn Alawi Al Harbi Al Hanbali</span> (W.583 H)  yang dengan bangga menulis sebuah buku dan meriwayatkan setumpuk hadis (riwayat) palsu tentang keutamaan Yazid putra Mu’awiyah yang diyakini kekafirannya oleh sebagian ulama kita, atau paling tidak dipastikan kefasikan dan kemunafikannya oleh banyak ulama kita lainnya (Ahlusunnah, bukan Wahhabi/Salafiay yang memang menegakkan akidahnya di atas kecintaan dan pembelaan kepada keluarga besar Bani Umayyah, khususnya Yazid dan ayahnya serta antek-antek mereka)?</span> </em></span>Yang kemudian kitab murahan itu dibantah dan dibongkar kepalsuannya oleh <span style="color:#800000;">Sibthu Ibn Jauzi</span> dalam sebuah risalah dengan judul <span style="color:#800000;"><em>ar Radd ‘ala al Mutaashshib al ‘Anîd al Mâni’ Min Dzammi Yazîd</em> </span>(Bantahan atas Seorang Yang Fanatik Lagi Membangkang Yang Melarang Mencela Yazid).</p>
<p style="text-align:center;">*****</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#0000ff;"><em>Apakah Anda maragukan kedunguan seorang muhaddis yang dengan sengaja membuat-buat hadis palsu tentang </em><em>tasybîh/penyerupaan Allah dan berusaha sekuat tenaga dan dengan segala cara untuk membatalkan hadis-hadis Nabi saw. demi membela mazhab Abu Hanifah?</em></span> Jiga Anda menuduh saya membuat-buat tuduhan palsu, maka saya persilahkan Anda membaca data-data sejarah seorang muhaddis bernama <span style="color:#800000;"><em>Muhammad ibn Syujâ’ Abu Abdillah ats Tsalji al Hanafi</em></span> (W.266 H)!</p>
<p style="text-align:center;">*****</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#0000ff;"><em>Apakah Anda meragukan kedunguan seorang muhaddis yang bernama Muhammad ibn Abdul Wâhid; Abu Umar yang digelari dengan az Zâhid/orang yang zuhud, mantan budak Tsa’lab (345 H), yang kata al Khathib al Baghdadi, “Andai ada seekor burung terbang pastilah ia akab berkata, </em><em>‘Telah menyampaikan hadis kepada Tsa’lab dari Ibnu al A’rabi &#8230;. </em></span>(dan kemudian ia pasti membawakan hadis tentangnya)&#8230;.  Dialah yang menulis sebuah kitab yang merangkum riwayat-riwayat keutamaan Mu’awiyah. Dan ia tidak mau menyampaikan hadis kepada para muridnya sebelum terlebih dahulu mereka mau mendengarnya membacakan beberapa bagian dari buku rangkumannya itu.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Ibnu Najjâr berkata:</strong></p>
<h2 style="text-align:right;">كان أبو عمر الزاهد قد جمع جزءا في فضل معاوية وأكثره مناكير وموضوعات</h2>
<p style="text-align:justify;">“Abu ‘Amr az Zâhid telah merangkum satu bendel tentang keutamaan Mu’awiyah, kebanyakan darinya adalah hadis-hadis <em>munkar</em> dan palsu/<em>maudhû’</em>.” <a href="#_ftn1">[1]</a></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="text-decoration:underline;"><strong>Abu Salafy berkata: </strong></span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="text-decoration:underline;">Di sini saya harus meluruskan kata-kata Ibnu an Najjâr, sebab yang benar aadalah bahwa seluruh hadis yang disebarkan tentang keutamaan Mu’awiyah adalah palsu </span>seperti ditegaskan banyak ulama di antaranya adalah Syeikh al Fairûz Abâdi dalam kitabnya <em>Sifru as Sa’âdah</em> dan al Ajlûni dalam <em>Kasyfu al Khafâ’</em>.</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="text-decoration:underline;"><span style="color:#0000ff;"><em>Dan dengan demikian bagaimana seorang muhaddis yang gemar memalsu dan mengimpun hadis-hadis palsu serta memaksa paara muridnya untuk mendengarkan hadis-hadis palsu dapat <span style="color:#800000;">dianggap jujur dan tidak “dungu”?</span> </em></span></span><strong> </strong></p>
<p style="text-align:center;">*****</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#0000ff;"><span style="text-decoration:underline;"><em>Apakah saudara<span style="color:#800000;"> Anshari Taslim</span> meragukan kedunguan seorang muhaddis seperti</em></span></span> <span style="color:#800000;"><em>Sulaiman ibn Muqatil al Balkhi</em></span> (W.150 H) yang berkata kepada Abui Ja’far al Manshûr; seorang raja zalim di zamannya:</p>
<h2 style="text-align:right;">انظر ما تحب أن أحدثه فيك حتى أحدثه</h2>
<p style="text-align:justify;"><em>“Perhatikan, hadis apa yang tuan maukan saya untuk menyampaikannya, saya pasti akan membawakannya.” </em></p>
<p style="text-align:justify;">Dan dialah yang berkata kepada penguasa dinasti Abbasiyah di zamannya yang bernama al Mahdi:</p>
<h2 style="text-align:right;">إن شئت وضعت لك أحاديث في العباس؟</h2>
<p style="text-align:justify;"><em>“Jika tuan menghendaki, saya siap membuatkan hadis untuk tuan tentang keutamaan Abbas (kakek al Mahdi).”<a href="#_ftn2"><strong>[2]</strong></a></em></p>
<p style="text-align:center;">*****</p>
<p style="text-align:justify;"><em><span style="color:#0000ff;"><span style="text-decoration:underline;">Apakah Anda, saudaraku <span style="color:#800000;">Anshari Taslim</span> meragukan kedunguan seorang muhaddis yang dengan anggapan mencari pahala dan keridhaan Allah dengan memalsu hadis tentang keutamaan kita Qazwi dan keutamaan membaca surah-surah Al Qur’an, seperti yang dilakukan oleh seorang muhaddis bernama <span style="color:#800000;">Maisarah ibn Abdi Rabbih al Farisi al Bashri?</span></span></span> </em>Dan ketika ditegur mengapa engkau memlasu hadis atas nama Nabi saw.? ia menjawab dengan penuh percaya diri akan kebenaran apa yang ia lakukan, <span style="color:#800000;"><em>“Aku memalsunya demi menyemangatkan orang-orang untuk membaca Al Qur’an!”</em></span> Adalah kedunguan lebih dari kedunguan seorang yang berani memalsu hadis atas nama Nabi saw.?! <a href="#_ftn3">[3]</a></p>
<p style="text-align:center;">*****</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="text-decoration:underline;"><span style="color:#0000ff;"><em>Atau saudaraku <span style="color:#800000;">Anshari Taslim</span> hendak membela seorang muhaddis bermana Nuh ibn Abu Maryam; Abu Ishmah (W.1173 H) yang terang-tarang tanpa malu memalsu hadis panjang tentang keutamaan surah-surah Al Qur’an satu persatu,</em></span></span> dan ketika ditanyakan kepadanya atas pemalsuannya itu, ia membela diri dengan berkata, <em><span style="color:#800000;">“Ketika aku menyaksikan orang-orang sudah berpaling dari Al Qur’an dan sibuk mempelajari fikih Abu Hanifah dan buku sejarah Muhammad ibn Iahaq maka aku palsukan hadis-hadis ini dengan harapan mendapat pahala/hasbatan.”</span></em><a href="#_ftn4"> [4]</a><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><em>Akhi</em> Anshari Taslim yang saya hormati, saya yakin Anda telah mengetahui data-data seperti yang saya sebutkan di atas dan ratusan data lain yang sengaja tidak saya sebutkan demi ringkasnya pembahasan ini. Lalu apakah Anda masih akan keberatan jika <em><span style="color:#0000ff;">Sibthu Ibn Jauzi </span></em>atau ulama lain mensifati sebagian ahli hadis itu dengan kedungungan?</p>
<p style="text-align:justify;">Jadi apa yang saudara tulis dengan nada emosi dan terkesan provokatif untuk membangkitkan fanafisme keawaman yang biasa dimanfa’atkan oleh sebagian mereka yang berkempetingan melestarikan kejahilan kaum awam tidak bernilai sedikitpun di pasar para akademisi dan para ulama!</p>
<p style="text-align:justify;">Coba perhatikan kembali apa yang Anda tulis, lalu renungkan sejauh mana kemiripannya dengan tulisan sarjana berilmu:</p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#800000;"><em>“Belum puas menghina sabahat Nabi saw kali ini Abu Salafy kembali mengumbar hawa nafsunya dengan lancang mengatakan bahwa sebagian ahli haditsi itu dungu.”</em></span><em> </em></p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;">Anda juga berkata:<em> </em><span style="color:#800000;"><em> </em></span></p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#800000;"><em>“Akhirnya dia mulai berusaha membuat opini bahwa sebagian ahli hadits itu dungu dan melakukan tindakan dungu yaitu dengan sikap mereka yang selalu meneliti sanad-sanad hadits sehingga bisa dipastikan mana yang shahih dan mana yang dha’if. Dalam hal ini dia menjadikan Sibth Ibnu Al-Jauzi sebagai referensi dan dia mendiskripsikan Sibth Ibnu Al-Jauzi ini sebagai “pakar dan ahli hadits kreatif”. </em></span><strong><em> </em></strong></p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;"><span style="text-decoration:underline;"><strong>Abu Salafy:</strong></span></p>
<p style="text-align:justify;"><em>Akhi</em> Anshari Taslim, <span style="text-decoration:underline;"><span style="color:#0000ff;"><em>apa yang saya buktikan bukan “usaha membuat opini bahwa sebagian ahli hadis itu dungu”, akan tetapi apa yang saya katakan itu adalah sebuah fakta nyata yang telah dibongkar oleh para tokoh ahli hadis sendiri!</em></span></span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#800000;">Apakah bukti-bukti yang telah dipaparkan Sibthu Ibn Jauzi yang sebagiannya telah saya sebutkan itu akan Anda ragukan?</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#800000;">Ataukah data-data di atas yang kami paparkan itu juga sebuah kepalsuan belaka?</span></p>
<p style="text-align:justify;">Saudaraku Anshari, sebenarnya kedunguan sikap sebagian ahli hadis itu tidak terbatas pada sikap-sikap yang telah saya sebutkan dalam artikel saya sebelumnya maupun dalam artikel ini. Ia jauh lebih parah dari yang terbayangkan oleh sebagian pemula yang masih terkungkung dalam tempurung bak katak! Tapi mengingat relevansinya dengan kajian kita, saya batasi dengan menyebutkan apa yang sudah saya sebutkan!</p>
<p style="text-align:justify;">Dan adapun mengenai siapa yang saya maksud dengan sebagian ahli hadis yang “bersikap dungu” maka untuk mengelai jati diri dan kualitas serta bukti kedunguan sikap mereka, saya persilahkan Anda membaca dua karya berharga <span style="color:#0000ff;"><em>Sibthu Ibn Jauzi,</em></span> pertama:<span style="color:#800000;"> <em>Daf’u Syubahi at Tasybîh</em></span> dan <span style="color:#800000;"><em>Âfatu Ahli Hadîts</em></span>, <span style="text-decoration:underline;"><span style="color:#0000ff;"><em>karena di sana Anda akan mengenali sebagian ahli hadis yang bersikap dungu itu</em></span></span>. Di sana Anda akan berkenalan dengan:</p>
<ul style="text-align:justify;">
<li><strong>Seorang Muhaddis Bermazhab Hanbali Bernama <span style="color:#800000;">Abdul Mughîts al Hanbali</span></strong></li>
</ul>
<p style="text-align:justify;">Yang disifati oleh<span style="color:#0000ff;"><em> Sibthu Ibnu Jauzi</em></span> dengan: <em>“sejak dahulu aku mengenal Syiekh ini dengan kedangkalan pengetahuannya dalam ilmu hadis. Ia hanya membacanya dan tidak mengetahui mana yang shahih dan mana yang lemah/berpenyakit. Ia tidak mengerti maknanya. Alirannya dalam masalah ini seperti kaum awam yang beranggapan bahwa setiap hadis yang diriwayatkan pasti shahih. Dan disamping kedangkalan ilmu dan ketidak mengertiannya ia penuh dengan fanatik yang ia namai dengan (membela) Sunnah&#8230;&#8221; </em><a href="#_ftn5">[5]</a></p>
<ul style="text-align:justify;">
<li><strong>Seorang Muhaddis Bermazhab Hanbali Bernama <span style="color:#800080;">Abu Abdillah ibn Hâmid</span></strong><span style="color:#800080;">.</span></li>
</ul>
<p style="text-align:justify;">Nama lengkapnya adaalah <span style="color:#800000;"><em>Abu Abdillah Hasan ibn Hâmid ibn Ali al Baghdadi al Warrâq </em></span>(w.403 H). Ia tokoh mazhab Hanbali yang banyak menulis buku akidah tajsim, di antaranya ia menulis Syarah Ushûliddîn. Di dalamnya ia memuat hal-hal yang mengerikan dan menyimpang tentang akidah ketuhanan.</p>
<ul style="text-align:justify;">
<li><strong>Seorang Muhaddis Bermazhab Hanbali Bernama<span style="color:#800000;"> Abu Ya’la Qadhi Hanbali</span></strong></li>
</ul>
<p style="text-align:justify;">Nama lengpaknya<span style="color:#800000;"><em> Abu Ya’la Muhammad ibn Husain ibn Muhammmad ibn Khalaf ibn Farrâ’ al Hanbali </em></span>(W.458 H). Tentangnya Abu Muhammad at Tamimi berkata, <em>“Abu Ya’la benar-benar telah mencoreng mazhab Hanbali dengan corengan yang tidak akan dapat dicuci dengan air laut sekalipun.”</em> Demikian dinukil Ibnu Atsîr dan Abu Fidâ’.</p>
<p style="text-align:justify;">Abu Ya’la inilah yang berkata, sebagaimana diriwayatkan Ibnu  al Arabi dari guru-gurunya yang terpercaya bahwa ia berkata, tentang ayat-ayat yang berbicara tentang sifat Allah SWT, <span style="color:#800080;"><em>“Paksalah aku menerima konsekuensi dari itu semua selain menetapkan jenggot dan alat kelamin bagi Allah!.”</em></span> <a href="#_ftn6">[6]</a></p>
<p style="text-align:justify;">Sebagian ulama hadis mengatakkan bahwa ucapan seperti itu memuat kekafiran dan mengolok-olok Allah. Pengucapnya jelas seorang yang jahil yang tidak pantas dijadikan panutan dan digubris omongannya serta palsulah klaimnya bahwa ia pengikut Imam Ahmad ibn Hanbal.</p>
<ul style="text-align:justify;">
<li><strong>Seorang Muhaddis Bermazhab Hanbali Bernama <span style="color:#800000;">az Zâghûni</span></strong></li>
</ul>
<p style="text-align:justify;">Nama lengkapnya <span style="color:#800000;">Abul Hasan Ali ibn ‘Ubaidullah ibn Nashr az Zâghuni al Hanbali </span>(W. 527 H). Ia salah seorang guru <span style="color:#800000;"><em>Sibthu </em></span><span style="color:#800000;"><em>Ibnu Jauzi </em></span>yang ia sanggah penyimpangannya dalam kitab <em>Daf’u Syubah at Tasybîh.</em></p>
<p style="text-align:justify;">Ketiga muhaddis terakhir ini telah dikatakan Sibthu Ibn Jauzi benar-benar telah mencoreng mazhab Ahmad ibn Hanbal. Mereka telah terjatuh ke dalam martabat kaum awam yang memaknai sifat-sifat Allah dengan makna materi. Ketika mereka mendengar riwayat ‘Allah menciptakan Adam sesuai dengan <em>shûrah</em>/bentuk-Nya.” maka mereka menetapkan adanya bentuk bagi Allah melebihi Dzat-Nya&#8230;.<a href="#_ftn7"> [7]</a></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="text-decoration:underline;"><span style="color:#0000ff;"><em>Mereka inilah para ahli hadis yang sangat dibanggakan kaum Salafiyyûn Wahhâbiyyûn,</em></span></span> kerena mereka inilah yang telah menulis buku-buku <em>as Sunnah</em> (maksudnya kitab-kitab akidah) dan “menghiasinya” dengan hadis-hadis palsu, isrâiliyat (bualan palsu para pendeta Yahudi dan Nashrani), bahkan tidak cukup itu, mereka berhujjah dengan ucapan-ucapan yang dinisbatkan kepada para tabi’in walaupun belum pasti kebenaran penisbatannya sebab ucapan-ucapan itu mendukung akidah <em>tasybîh</em> (penyerupaan Allah dengan ciptaan-Nya).</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Satu Lagi <em>“Ahli Hadis Dungu”</em> Yang Dibanggakan Kaum Wahhabi-Salafi!</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#000000;">Di antara<span style="color:#0000ff;"><em> ulama berfaham tajsîm dan </em><em>tasybîh yang selalu dibanggakan kaum Salafi-Wahhabi adalah <span style="color:#800000;">al Khallâl </span></em></span>disamping nama-nama yang telah disebukan saudara kita Anshari Taslim.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#800000;"><em>Al Khallâl</em><span style="color:#000000;"> t</span></span><span style="color:#000000;">elah </span>menulis sebuah buku dengan judul as Sunnah. Saya ajak pembaca untuk melihat kualitas akidah yang dipasarkan tokoh aliran<em> tajsîm</em> dan <em>tasybîh </em>yang diadopsi kaum Wahhabi-Salafi agar mengenal lebih jelas akidah mereka.</p>
<p style="text-align:justify;">Ketika menafsirkan ayat:</p>
<h2 style="text-align:right;">وَ مِنَ اللَّيْلِ فَتَهَجَّدْ بِهِ نافِلَةً لَكَ عَسى‏ أَنْ يَبْعَثَكَ رَبُّكَ مَقاماً مَحْمُوداً</h2>
<p style="text-align:justify;"><em>“Dan pada sebahagian malam hari bersembahyang tahajudlah kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu: mudah- mudahan Tuhan- mu mengangkat kamu ke tempat yang terpuji.” (QS. Al Isrâ’ [17];79)</em></p>
<p style="text-align:justify;">Ia menukil dari Mujahid dan membenarkan bahwa yang dimaksud dengan <em>maqâm mahmûd</em> (terpuji) adalah: <span style="color:#0000ff;"><em>Kelak di hari kiamat Allah mendudukkan Nabi Muhammad saw. di sebelah Allah di atas Asry-Nya </em></span>(yang dalam akidah mereka Allah itu duduk bersemayam di atasnya). <span style="color:#0000ff;"><em>Nabi Muhammad saw. akan didudukkan di bagian yang tersisa kosong setelah Allah duduk di atasnya. Ruang kosong di Asry Allah itu selebar empat jari.!!</em></span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="text-decoration:underline;">Kami tidak mengerti apakah ruang kosong selebar empat jari itu diukur dengan jari-jari pak tuan al Khallâl atau dengan jari-jari Abu Ya’la, Albani, Ben Bâz? Atau dengan jari-jari BUTO IJO?? Mungkin para ustadz Salafi ada yang tau, tolong kami dibantu!!</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="text-decoration:underline;"><span style="color:#0000ff;"><em>Dan yang lebih konyol dari segala yang konyol adalah bahwa al Khallâl memvonis <strong>kafir, zindiq </strong>dan<strong> jahmi</strong> atas siapapun yang meragukan apalagi mengingkari barang satu huruf dari apa yang ia tulis dalam bukunya tersebut!! </em></span></span>Sebuah ancaman yang biasa dilontarkan kaum Mujassimah yang kemudian diwarisi dengan penuh amanat oleh kaum awam setengah ustadz dari kalangan pengikut sekte Salafi Wahhabi!</p>
<p style="text-align:justify;">Inilah akidah kebanggaan kaum Wahhabi Salafi! Apakah mereka masih mengelak jika disebut sebagai kaum <em>Mujassimah Musyabbihah</em>?!</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="text-decoration:underline;"><span style="color:#0000ff;">Jadi jika Anda  bermaksud mengenal sikap dan kehebatan sebagian ahli hadis yang “dungu” maka saya persilahkan Anda membaca kitab<span style="color:#800000;"> <em>as Sunnah</em></span> karangan<span style="color:#800000;"> al Khallâl!</span> Atau kitab-kitab di bawah ini:</span></span></p>
<ol style="text-align:justify;">
<li><strong>As Sunnah</strong> yang dinisbatkan kepada Imam Ahmad ibn Hanbal, walaupun sangat layak diragukan mengingat periwayat tunggalnya adalah seorang perawi bernama Khidr ibn al Mutsannâ yang masih <em>majhûl</em>.</li>
<li><strong>As Sunnah dan kitab Aqîdah Ahlis Sunnah </strong>keduanya karya al Lâlaka’i.</li>
<li><strong>Ar Radd ‘Alâ Bsyri al Marisi </strong>karya Utsman ad Dârimi.</li>
<li><strong>Al Ibânah karya Ibnu Buththah, </strong>seorang pemalsu, seperti dijelaskan guru kami; Sayyid habib Hasan As Seqaf dalam kitabnya<em> Ilqâm al Hajar</em>.</li>
<li><strong>Ibthâl at Ta’wil </strong>karya Abu Ya’la si Mujassim.</li>
<li><strong>At Tauhid karya Ibnu Khuzaimah </strong>yang ia sendiri menyesal karena telah menulis kitab tersebut. Demikian disebutkan al Hafidz al Baihaqi dalam kitab Al Asmâ’ wa Ash Shifât:267.</li>
<li><strong>Syarah Aqîdah ath Thahâwiyah</strong> karya Ibnu al Izz<strong>.</strong></li>
<li>kitab-kitab akidah karya Ibnu Taimiyah yang tidak pernah kosong dari akidah <em>Tajsîm</em> dan <em>Tasybîh.</em></li>
<li><strong>Al Uluw </strong>karya  adz Dzahabi.</li>
<li><strong>Mukhtashar al ‘Uluw</strong> karya muhaddis linglung kebanggaan kaum Salafi Wahhabi; Syeikh al Albâni. Ia adaalah ringkasan kitab al ‘Uluw karya adz Dzahabi di atas.</li>
</ol>
<p style="text-align:justify;"><strong>Kitab al ‘Uluw Penuh Dengan Hadis-hadis Palsu!</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Seperti Anda saksikan bahwa akhi <span style="color:#800080;">Anshari Taslim</span> <span style="text-decoration:underline;"><span style="color:#0000ff;"><em>membanggakan beberapa ulama dan karya mereka, di antaranya adalah kitab al ‘Uluw karya adz Dzahabi, yang kemudian karena ia sarat dengan hadis-hadis palsu dan lemah, al Albâni berbaik hati dengan menyaringnya dalam ringkasan kitab al ‘Uluw.</em></span></span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#800000;">Lebih lanjut keterangan dan pengakuan al Albâni saya persilahkan Anda membaca kitab <em>Silsilah al Ahâdîts ash Shahihah</em>,2/632.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#800000;"><span style="text-decoration:underline;">Tetapi sayangnya setelah ia saring dan bersihkan ternyata di dalamnya masih tersisa jumlah yang tidak sedikit dari hadis-hadis <em>wâhiyah</em>/lemah dan bermasalah baik dalam sanad maupun dalam matan.<span style="color:#000000;"> Sepertinya al Albâni gagal dalam upayanya itu!</span></span></span></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Kelemahan Yang Dibungkus Dengan Tuduhan Palsu!</strong><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;">Adalah sebuah kebiasaan yang sering kita saksikan dari sebagian orang (bahkan sebagian ulama pula) bahwa mereka ketika merasa terpojok dan kehilangan akal untuk mempertahankan apa yang menjadi keyakinannya atau ketika kuwalahan dalam menghadapi argumentasi lawannya&#8230; ia berujuk kepada senjata kaum lemah yaitu menyerang pribadi lawannya yang mengajukan sederetan argumentasi kuat &#8230; dengan menfitnah atau mengada-ngada tuduhan demi meragukan kelurusan akidahnya dan menjatuhkan kepribadiannya serta menyangsikan hasil-hasil penelitiannya.</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#800000;"><span style="color:#0000ff;"><em>Sibthu Ibni Jauzi</em></span> salah satu dari korban kelicikan sikap sebagian lawan-lawan beliau.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#0000ff;"><em>Sibtu Ibn Jauzi</em></span> <span style="color:#800000;"><em>seorang ulama bermazhabkan Hanbali (pengikut Imam Ahmad ibn Hanbal), hanya saja ia jauh dari sikap tajsim dan </em><em>tasybih <span style="color:#000000;">yang meracuni pikiran dan akidah sebagian pengikut mazhab tersebut</span></em></span><span style="color:#000000;">.</span> <em><span style="color:#800000;"><span style="color:#000000;">Sebagaimana</span> beliau juga dikenal sangat menghormati dan mencintai keluarga Ahlulbait Nabi Muhammad saw&#8230; </span><span style="text-decoration:underline;"><span style="color:#0000ff;">Maka karenanya tidaklah heran jika sebagian orang yang “miring’ sikapnya terhadap  Ahlulbait alias </span></span></em><span style="text-decoration:underline;"><span style="color:#0000ff;"><em>nashibi dan ekstrimis Wahabi (yang mengaku sebagai pewaris sejati Mazhab Hanbali) begitu benci kepada beliau dan berusaha menempelkan beragam tuduhan palsu demi menjatuhkan kepribadian beliau sebagai langkah awal meragukan keilmuan, kemurnian akidah dan kesunniannya!</em></span></span> <span style="text-decoration:underline;">Dan sepertinya saudara <span style="color:#0000ff;">Anshari Taslim</span> sedang terjebak dalam jaring perangkap permainan licik kaum Nashibi yang begitu ganas dalam memerangi Ahlulbait dan hadis-hadis keutamaan mereka serta kemulian sejarah hidup mereka!</span></p>
<p style="text-align:justify;">Di antara ciri kaum nashibi adalah upaya ngototnya untuk membangun opini bahwa sebagai seorang Sunni sejati ia harus jauh dari kecintaan dan sikap hormat kepada Ahlulbait Nabi saw. Dan jika diketahui ada seorang ulama Sunni memiliki kecenderungan sikap kepada Ahlulbait Nabi saw. atau meriwayatkan apalagi banyak meriwayatkan hadis keutamaan Ahlulbait secara umum dan Sayyidina Ali ibn Abi Thalib ra. secara khusus, maka mereka segera memberondongnya dengan hujatan keji dan segera mereka menjulurkan lidah-lidah berbisa mereka dengan tuduhan-tuduhan <em>tasyayyu’</em> dan ke<em>rafidhi</em>an!</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="text-decoration:underline;"><span style="color:#0000ff;"><em>Para ulama Ahlusunnah sejati telah banyak yang menjadi sasaran kekejian tiduhan dan fitnah kaum Nashibi tersebut!</em></span></span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="text-decoration:underline;"><span style="color:#800000;">Sepertinya mereka ingin membangun opini palsu bahwa untuk menjadi seorang Sunni Anda harus menjadi pembela Yazid atas seluruh kajahatan, kemunafikan dan kefasikannya, seperti yang dilakukan oleh muhaddis Abdul Mughits!</span></span> Atau Anda harus menjadi pembela Mu’awiyah yang berjuang menyebarkan hadis-hadis palsu tentang keutamaannya seperti yan dikalukan oleh <em><span style="color:#0000ff;">Abu Umar az Zâhid!</span></em></p>
<p style="text-align:justify;">Apa yang aneh dari seorang Sunni ketika ia menulis sebuah buku tentang sejarah dan keutamaan para tokoh dari Ahlulbait dan keturunan Ali dan Fatimah ra. yang diyakini keimaman mereka oleh kaum Syi’ah?! <span style="text-decoration:underline;"><span style="color:#800000;">Apakah kebencian kaum Wahhabi/Salafy kepada Syi’ah membawa mereka juga membenci Ahlulbait Nabi saw.?!</span></span></p>
<p style="text-align:justify;">Memang tidak sedikit indikasi yang bermunculan dari para Wahabiyyûn tentang sikap sinis dan kebencian mereka kepada keturunan Nabi saw&#8230;. sepertinya kaum Wahhabi tidak mengenal konsep Mahabbah kepada Ahlulbait Nabi saw. dan <em>dzurriyah</em> mulia beliau.</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#0000ff;"><span style="text-decoration:underline;">Karenanya jika mereka menyaksikan ada seorang ulama menulis buku mengupas sejarah dan keutamaan Ahlulbait Nabi saw. mereka segera bangkit bak dukun yang sedang kesurupan  setan lalu mengomel dengan kata-kata yang tidak bertanggung jawab! </span></span><span style="color:#800000;">Perhatikan apa yang ditulis oleh saudara Anshari: </span></p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;"><strong><em>“</em></strong><strong><em>dia mengaku bermadzhab Hanafi dan itu diakui oleh para pembesar madzhab Hanafi setelahnya, tapi anehnya dia malah menulis buku tentang keutamaan para imam syi’ah yang kedua belas berjudul, “Tadzkiratul Khawash”. Kitab ini menjadi bukti bahwa akidah  Sibth Ibnu Al-Jauzi memang tasyayyu’ kalau tidak mau dikatakan rafidhah.”</em></strong><strong><em> </em></strong></p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;"><em>Akhi</em> <span style="color:#0000ff;">Anshari Taslim</span>, <span style="color:#800000;">apa yang aneh dari apa yang dilaklukan Sibthu Ibn Jauzi dengan menulis buku tersebut? Mengapa sejauh ini sakit hati Anda terhadap Ahlulbait Nabi saw.?!</span> Kesalahan apa yang telah diperbuat oleh Ahlulbait Nabi saw. sehingga begitu sakit hati dan sangat keberatan?<span style="color:#800000;"><em> <span style="text-decoration:underline;">Bukankah sikap Anda seperti ini dapat diindikasikan sebagai sebuah kedurhakaan kepada Nabi Muhammad saw. yang sanat mencintai Ahlulbaitnya dan memerintah kita; umat beliau agar menghormati dan mencintai mereka!!</span></em></span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#0000ff;"><span style="text-decoration:underline;">Semoga apa yang Anda tulis hanya sikap ikut-ikutan kepada sikap sinis Adz-Dzahabi terhadap Ahlulbait Nabi dan khususnya Sayyidina Ali ra., dan bukan keluar dari kedalama hati dan keyaninan saudara.</span></span></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Banyak Dari Ulama Ahlusunnah Yang Menulis Buku Sejarah Dua Belas Imam Syi’ah </strong></p>
<p style="text-align:justify;">Selain itu tidak sedikit ulama kita yang menulis buku yang mengupas sejarah dua belas tokoh Ahlulbait Nabi saw. yang diimamkan oleh kaum Syi’ah, baik secara khusus maupun dalam  rangkaian pembahasan dalam kitab sejarah yang mereka tulis. Bahkan para pembesar ulama kita (Ahlusunah bukan Wahhabi/Salafi) telah bertawassul kepada Allah SWT dengan kemulian kadudukan dua belas tokoh Ahlulbait yang diyakini sebagai imam oleh kaum Syi’ah. Lalu apakah mereka akan kita vonis sebagai Syi’ah Rrafidhah seperti kebiasaan keji kaum Wahhabi daan mereka yang membenci Syi’ah dan Ahlulbait Nabi saw.?!</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Imam Ibnu ash Shabbâgh al Maliki Menulis Buku Sejarah 12 Imam Ahlulbait Nabi saw.</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#800000;">Imam Ibnu Shabbâgh al Maliki </span>–seorang ulama agung bermazhabkan Maliki- telah menulsi buku khusus mengupas sejarah hidup dan keutamaan dua belas tokoh imam Ahlulbait as. Dengan judul <em>al Fushûl al Muhimmah Fi Ma’rifati al Aimmah</em>.</p>
<p style="text-align:justify;">Dalam mukaddimahnya, setelah menyebut apa yang medorong beliau untuk menulis buku tersebut yaitu demi mendapat ampunan Allah SWT atas dosa dan kesalahan serta kekuranganya, beliau mengatakan:</p>
<p style="text-align:justify;"><em>“Mungkin ada pemilik pikiran yang cupet atau mata hati yang rabun untuk memandang hakikat-hakikat dapat merenungkan apa yang saya tulis dan menelaah apa yang saya paparkan dan saya rangkum, lalu matanya yang sakit dan jiwanya yang kronis mendorongnya untuk menuduhku sebagai Rafidhi&#8230;..&#8221;</em></p>
<p style="text-align:justify;">Kemudian setelahnya beliau menyebutkan bahwa Imam Syafi’i katika berterang-terangan dalam menampakkan kecintaannya kepada Ahlulbait dan ia menegaskan bahwa dirinya adalah Syi’ah Ahlulbait, ia dikecam dengan kecaman kejam. Lalu beliau membantah mereka dengan mengatakan:</p>
<p style="text-align:justify;">.</p>
<h2 style="text-align:center;">إِذا نَحْنُ فَضَّلْنا عَلِيًّا فَإِنّنأ    *  رَوافِضُ  بالتَّفْضِيْلِ عند ذِيْ الْجَهْلِ</h2>
<h2 style="text-align:center;">وَ فَضْلَ أَبِيْ بَكْرٍ إذا ما ذَكَرْتُهُ * رُمِيْتُ بالنُّصْبِ عندَ ذِكْرِيْ للفَضلِ</h2>
<h2 style="text-align:center;">فَلاَ زِلْتُ ذا رُفْضٍ و نُصْبٍ كلاهُما * بِحُبِّهِماَ حَتَّى أُوَسَّدَ في الرملِ</h2>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">.</p>
<p style="text-align:justify;"><em>Jika kami mengutamakan Ali, maka kami dituduh Rawafidh menurut orang yang jahil</em></p>
<p style="text-align:justify;"><em>Dan keutamaan Abu Bakar bila ku sebut aku dituduh nashibi ketika aku menyebutnya</em></p>
<p style="text-align:justify;"><em>Maka aku senantiasa di antara keduanya; rafdh dan nushb. </em></p>
<p style="text-align:justify;"><em>Dengan mencintai keduanya sehingga aku dibaringkan diliang kubur</em></p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Dan beliaun juga berkata:</p>
<p style="text-align:justify;">.</p>
<h2 style="text-align:center;">قَالُوا تَرَفَّضْتَ!  قلتُ كَلاَّ  *** ما الرُفْضُ دينِيْ وَ لاَ اعْتقادِيْ</h2>
<h2 style="text-align:center;">و لـكِنْ تَوَلَّيْتُ دونَ شَكٍّ  ***  خيرَ إمامٍ  و خيرَ هـاديِ</h2>
<h2 style="text-align:center;">إنْ كـانَ حُبُّ الوَصِيِّ رَفْضًا  ***   فَـإِنَّنِيْ أَرْفَضُ العبادِ</h2>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">.</p>
<p style="text-align:justify;"><em>Mereka berkata; kamu telah berfaham Rafdh! Aku berkata: Tidak! Kerafidhian bukan agamaku dan bukan keyakinanku.</em></p>
<p style="text-align:justify;"><em>Akan tetapi aku tanpa ragu berwilayah…. kepada sebaik-baik Imam dan sebaik-baik pemberi petunjuk.</em></p>
<p style="text-align:justify;"><em>Jika mencintai washi (Ali) itu kerafidhian… maka ketahuilah bahwa aku paling rafidhinya manusia.</em><a href="#_ftn8">[8]</a></p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;"><strong><span style="color:#800000;">Imam Ibnu Hajar al Haitami asy Syafi’i</span> Juga Menerangkan Sejarah 12</strong><strong> Imam Ahlulbait Nabi saw.</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Dalam kitabnya yang berjudul al Shawâiqw al Muhriqah pada Bab kesebelas pasal ketiga, <em><span style="color:#0000ff;">Ibnu Hajar al Haitami </span></em>(W. 974 H) menerangkan dengan panjang lebar sejarah dan keutamaan dua belas Imam Syi’ah. Dan membuktikan bahwa mereka adalah tokoh-tokoh teragung di zaman mereka masing-masing baik dalam ilmu, ketaqwaan, kezuhudan. Kedermawanan dan berbagai sifat dan sikap mulia lainnya.</p>
<p style="text-align:justify;">Ketika menyebutkan sejarah Imam Zainal Abidin; Ali ibn Husain, <em><span style="color:#0000ff;">Ibnu Hajar</span></em> berkata, <em>“Dan beliau adalah yang mewarisi ayahnya dalam keilmuan, kezuhudan dan ibadah&#8230;..</em></p>
<p style="text-align:justify;">Beliau wafat dalam usia 57 tahun. Dua tahun ia hidupi bersama kakeknya; Ali ibn Abi Thalib, sepuluh tahun bersama pamannya; (Imam) al Hasan, keumudian sebelas tahun bersama ayahnya’ al Husain. Ada yang mengatakan ia mati diracun oleh Walîd ibn Abdul Malik. Beliau dikebumikan di pekuburan Baqî’ di sisi al hasan;  pamanya, beliau meninggalkan sebelas orang putra dan empat putri.</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#000000;">Yang mewarisinya dalam ibadah, ilmu dan kezuhudan adalah Abu Ja’far Muhammad al Baqir&#8230;</span></p>
<p style="text-align:justify;">Setelah menyebutkan keunggulan ilmu dan kemuliaannya.<em><span style="color:#0000ff;"> Ibnu Hajar</span></em> melanjutkan&#8230; :</p>
<p style="text-align:justify;"><em>“Belia wafat pada tahun 117 Hijrah dalam usia 58 tahun karena diracun, seperti juga ayah beliau. Ia dari keturuna nImam Ali baik dari sisi ayah maupun ibu. Beliau dikebumikan juga bersama al Hasan, al Abbas di pekuburan Baqî’. Beliau meninggalkan banyak anak, yang paling agung dan sempurna adalah Ja’far ash Shadiq, karenanya beliau adalah Khalifah (pelanjut misi) ayahnya dan pengemban wasiatnya&#8230;”</em></p>
<p style="text-align:justify;">Dan setelah menyebut berbagai keutamaan dan keistimewaan Imam Ja’far (Imam keenam Syi’ah itu), <span style="color:#0000ff;"><em>Ibnu Hajar </em></span>berkata,</p>
<p style="text-align:justify;"><em>“Beliau wafat pada tahun 184 Hijrah juga karenan diracuni, sebagaimana dikisahkan, dalam usia 68 tahun dan dikebumikan di pemakaman qubah bersama keluarganya. Beliau meninggalkan enam putra dan satu anak perempuan. Di antara mereka adalah Musa al Kadzim. Dialah yang mewarisi ayahnya dalam ilmu, ma’rifat, kesempurnaan dan keagungan. Beliau digelari dengan al Kadzim karena banyak memberikan ma’af. Di kalangan penduduk negeri Irak  beliau dikenal dengan julukan <span style="color:#0000ff;">pintu pengabulan berbagai kebutuhan di sisi Allah</span>. Beliau adalah orang yang paling alim, paling abid dan paling derma di zamannya&#8221;.</em></p>
<p style="text-align:justify;">Setelahnya, <span style="color:#0000ff;"><em>Ibnu Hajar</em></span> menyebutkan karamah Imam Musa al Kadzim yang mebuktikan kemuliaan beliau. <em><span style="color:#0000ff;"><span style="text-decoration:underline;">Dan yang perlu dicatat di sini bahwa keramat agung itu dinukil Ibnu Hajar dari Sibthu Ibnu Jauzi.</span></span></em></p>
<p style="text-align:justify;">Adapun tentang imam kedua belas Syi’ah (yang sering diijadikan bahan olok-olokan sebagian pembenci Syi’ah) yaitu Imam Muhammad putra Imam Hasan al Askari putra Imam Ali al Hadi putra Imam Muhamaad al jawad putra Imam Ali ar Ridha putra Imam Musa al Kadzim, <span style="color:#0000ff;"><em>Ibnu Hajar berkomentar demikian</em></span>,</p>
<p style="text-align:justify;"><em>“Imam Hasan al Askari wafat di kota Samurra’ (Irak) dan dikebumikan di di sisi ayah dan pamannya dalam usia 28 tahun. Ada yang mengatakan beliau wafat diracun. Beliau tidak meninggalkan putra kecuali satu yaitu Abul Qasim Muhammad (yang digelari dengan al Hujjah). Ketika wafat ayahnya ia baru berusia lima tahun, akan tetapi Allah memberi beliau hikmah. Ia juga digelari dengan al Qaim al Muntadzar&#8230;.&#8221;</em></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#800000;"><span style="text-decoration:underline;">Dan demikianlah satu persatu imam-imam agung Ahlulbait yang diyakini keimamahan mereka oleh kaum Syi’ah dipaparkan dan dikupas sejarah dan keagungan mereka oleh Ibnu Hajar dalam kitabnya tersebut&#8230; </span></span>Lalu apakah dengan demikian beliau harus dikecam dan divonis Syi’ah Rafidhah seperti kebiasan kaum pembenci Ahlulbait nabi mulia saw.?</p>
<p style="text-align:justify;"><strong><span style="color:#800000;">Imam As Sabrâwi </span>(Rektor Universitas Al Azhabr –Cairo) Juga Mengarang Buku Sejarah 12</strong><strong> Imam Ahlulbait Nabi saw.</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Syeikh Imam Abdullah ibn Muhammad ibn Âmir As Sabrâwi (1172 H) yang pernah menjabat selaku rektor Universitas Al Azhar pada tahun 1138 H. juga telah terdorong oleh kecintaan beliau yang mendalam kepada Ahlulbait Nabi saw. seperti yang ia katakan dalam mukaddimah bukunya tersebut untuk menulis buku yang menerangkan sejarah dan keutamaan para tokoh imam Ahlulbait Nabi saw. yang diawali dengan Imam Ali ibn Abi Thalib ra. Dan ditutup oleh Imam kedua belas Syi’ah yaitu Imam Muhammad putra Imam Hasan yang bergelar al Askari yang lahir pada pertengahan bulan Sya’ban tahun 255 H. Kitab setebal 500-an halaman itu beliau beri judul <em>al Ithâf Bi Hubbi al Asyrâf</em>.</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#800000;"><span style="text-decoration:underline;">Lalu apakah dikarenakan mengarang buku tentang sejarah dua belas Imam Syi’ah beliau harus kita kecam dan kita tuduh Syi’ah dan Rafidhah, seperti kebiasan kaum pembenci Ahlulbait Nabi mulia saw.?</span></span></p>
<p style="text-align:justify;">Serta masih banyak lainnya seperti<em> </em><span style="color:#800000;"><em>Ibnu Shabbân</em> </span>dengan kitabnya<span style="color:#800000;"> <em>Is’âf ar Râghibin</em></span> dan<span style="color:#800000;"><em> asy Syablanji</em></span> dengan kitabnya <span style="color:#800000;"><em>Nûr al Abshâr</em>.</span></p>
<p style="text-align:justify;">Apakah karena kecintaan dan ketulusan mereka dalam menulis buku-buku sejarah dua belas Imam Syi’ah mereka semua harus dituduh Syi’ah dan diragukan ketulusan akidahnya?!</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#800000;"><span style="text-decoration:underline;">Tidak mungkin menuduh mereka demikian melainkan kaum yang sakit hati kepada Ahlulbait Nabi saw. karena limpahan anugrah Allah atas mereka ra.</span></span></p>
<p style="text-align:justify;">Semoga jiwa kita disucikan dari kemunafikan dan kebencian kepada Ahlulbait Nabi mulia saw. <em>Âmîn Yâ Rabbal Âlâmîn</em>.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Para Pembesar Ulama Kita Telah Mereka Kecam!</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Seperti telah saya singgung sebelumnya bahwa bukan hanya <span style="color:#0000ff;"><em>Sibthu Ibn  Jauzi </em></span>yang difitnah sebagai Syi’ah atau Rafidhi. Walaupun bisa jadi fitnahan itu sebenarnya memuat sebuah pujian dan kehormatan jika <em>tasyayyu’</em>/kesyi’ahan itu dimaknai sebagai kecintaan murni kepada Nabi dan Ahlulbait/keluarga beliau. <em><span style="text-decoration:underline;"><span style="color:#0000ff;">Banyak ulama agung kita menjadi sasaran tuduhan kaji kaum pembenci kelurga Nabi saw. hanya karena mereka meriwayatkan atau menshahihkan hadis keutamaan Ahlulbait Nabi saw.</span></span></em></p>
<p style="text-align:justify;">Di bawah ini saya mencoba menyebutkan beberapa contoh untuk memperjelas kenyataan adanya bahaya besar yang sewaktu-sewaktu dapat merebah ke mayoritas kaum Muslimin jika kejahatan kaum pembenci Ahlulbait Nabi saw. tidak segera dihadapi.<strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Contoh Pertama<span style="color:#800000;"> Imam al Hâfid Al Hakim</span>:</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Beliau adalah salah seorang ulama ahli hadis dan hafidz agung. Karya munumental beliau yang berjudul <span style="color:#0000ff;"><em>al Mustadrak </em><span style="color:#000000;">s</span></span><span style="color:#000000;">udah </span>cukup sebagai bukti keagungan dan kedalama ilmunya. Tetapi kendati demikian <span style="text-decoration:underline;"><em><span style="color:#0000ff;">beliau tidak selamat dari cercaaan dan fitnahan kaum pembenci Ahlulbait Nabi saw.</span></em></span> kendati <span style="color:#0000ff;"><span style="color:#800000;">adz Dzahabi</span><span style="color:#0000ff;"><span style="text-decoration:underline;"><em> </em></span></span></span><span style="color:#0000ff;"><span style="text-decoration:underline;"><em>memujinya dan menjelaskan keistimewaan kedudukan Imam al Hafidz al Hakim, ia tetap saja mencelanya dengan kata-kata yang tidak bertanggung jawab.</em></span></span> Ia mengatakan:</p>
<p style="text-align:justify;">.</p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;"><span style="text-decoration:underline;"><span style="color:#800000;"><strong><em>Tsiqah </em></strong></span></span><strong><span style="text-decoration:underline;"><span style="color:#800000;">dalam hadis, ia seorang <em>Rafidhi</em> yang jahat!</span></span> Ia berpura-pura menampakkan kesunnian dalam masalah mengutamakan <em>Al Syeikhain</em> (Abu Bakar dan Umar), ia menyimpang dari Mu’awiyah dan keluarganya (Yazid maksudnya _pen), ia terang-terang dalam hal ini dan tidak merahasiakannya.</strong><strong> </strong></p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">.</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="text-decoration:underline;"><strong>Abu Salafy berkata:</strong></span></p>
<p style="text-align:justify;">Coba Anda perhatikan dengan cermat apa yang dikatakan adz Dzahabi di atas. ia menvonis dengan keji al Hakim sebagai seorang rafidhi yang khabîts/jahat. Semua itu karena sikap terpuji al Hakim yang anti pati terhadap kaum munafikin yang membenci Ahlulbait Nabi saw.  seperti Yazid… <span style="color:#0000ff;"><span style="text-decoration:underline;"><em>Jadi dikarenakan al Hakim menyimpang dari Mu’awiyah dan Yazid dan beliau berterang-terangan dalam sikapnya itu maka ia di mata adz Dzahabi sebagai seorang Rafidhi yang jahat!!</em></span></span></p>
<p style="text-align:justify;">Vonis-vonis sesat dan menyesatkan seperti inilah yang paling menggembirakan dan mebuat dingin hati kaum Ekstrimis Wahabi/Salafi yang memang dalam hati mereka terdapat penyakit <em>bughdu Ahlilbait</em>/kedengkian kepada Ahlulbait yang selalu akan membuahkan kecintaan dan keberpihakan kepada penganjur ke dalam api neraka jahannam seperti Mu’awiyah!</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#0000ff;"><span style="text-decoration:underline;">Ocehan adz Dzahabi ini akan diimani sebagai yang tidak kalah dengan wahyu ilahi.</span></span></p>
<p style="text-align:justify;">Akhi <span style="color:#0000ff;">Anshari Taslim,</span><span style="color:#800000;"><span style="text-decoration:underline;"> apakah Anda setuju dengan adz Dzahabi yang menvonis al Hakim sebagai muhaddis jahat?</span></span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#800000;"><span style="text-decoration:underline;">Mengapakaah ketika saya memaparkan bukti-bukti bahwa di antara ahli hadis itu ada yang bersikap dungu, Anda bangkit seakan kiamat telah terjadi, <span style="color:#0000ff;">sementara ketika seorang imam Agung dan ahli hadis kenamaan seperti al Hakim atau seperti Sibthu Ibn Jauzi dikecam Anda malah menikmatinya?!</span></span></span></p>
<p style="text-align:justify;">Saya mengerti dan memaklumi, karena para tokoh agung dan ulama besar Ahlusunnah yang sedang dikecam itu berpihak kepada Ahlulbait Nabi saw. maka bukanlah hal penting untuk membelanya… Tapi sepatutnya kendati mereka itu berpihak kepada Ahlulbait Nabi saw. bukankah kita juga wajib membela merekka?!</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#0000ff;">Ada data lain seperti disebutkan dalam</span> <span style="color:#800000;"><em>Tadzkirah Al Khawaash:39</em> </span><span style="color:#0000ff;">yang mengatakan bahwa Al Hakim dituduh Syi’ah itu dikarena kan ia menshahihkan hadis</span><span style="color:#800000;"> <em>Thair</em><span style="color:#0000ff;"> </span></span><span style="color:#0000ff;">yang menegaskan bahwa Sayyidina Ali ra. adalah orang yang paling dicintai Allah  dan Rasul-Nya.</span></p>
<p style="text-align:justify;">Lagi pula saya juga ingin bertanya kepada saudara <span style="color:#0000ff;">Anshari Taslim</span>, <span style="text-decoration:underline;"><span style="color:#800000;"><em>apa yang ia fahami dengan definisi Syi’ah dan Rafidhi itu </em></span></span>yang sering terlontar dari mulut sebagian pembenci Ahlulbait Nabi saw. ketika mereka berniat untuk menghujat seorang parawi atau menolak hadis keutamaan mereka? <span style="text-decoration:underline;"><span style="color:#800000;"><em>Tolong dijelaskan berdasarkan bukti dan keterangan para ulama Ahi hadis Ahlusunnah!!</em></span></span></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Contoh Kedua : <span style="color:#800000;">Abu Al Azhar Syujâ’</span></strong></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="text-decoration:underline;"><span style="color:#0000ff;">Hanya gaara-gara meriwaytkan hadis dari Abd. Razaq tentang keutamaan Ali ra. dari Ma’mar dari Azhari dari Abdullah  ibn Abbas, yang berbunyi:</span></span> “Nabi saw. memandang Ali lalu bersabda, <em>’Kamu sayyidun, penghulu paling utama di dunia dan sayyidun di akhirat…’,<span style="text-decoration:underline;"><span style="color:#800000;"> </span></span></em><span style="text-decoration:underline;"><span style="color:#800000;">ia vonis sebagai pembohong oleh sebagian rekannya</span></span>.<a href="#_ftn9"> [9]</a></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Contoh Ketiga:<span style="color:#800000;"> Imam Syafi’i ra.</span>:</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#0000ff;"><em>Imam Syafi’i j</em></span>uga tidak ketinggalan menjadi sasaran vonis ganas dan keji sebagian pembenci Ahlulbait nabi saw. yang saat itu (dan tuntunya juga hingga kini) banyak gentanyangan di kantung-kantung akademisi Islam. <span style="text-decoration:underline;"><span style="color:#800000;">Beliau dituduh Syi’ah bahkan rafidhi persis dengan tuduhan keji </span></span><em><span style="color:#0000ff;">adz Dzahabi</span></em><span style="text-decoration:underline;"><span style="color:#800000;"> terhadap</span> </span><span style="color:#0000ff;"><em>Sibthi Ibn Jauzi.</em></span><span style="color:#800000;"><em> Semua itu dikeranakan sikap dan kecintaan beliau kepada Ahlulbait Nabi saw. dan karena kebiasaannya menyampaikan riwayat-riwayat keutamaan Ahlulbait.</em></span></p>
<p style="text-align:justify;">Bait-bait syair beliau tentangnya sangat masyhur. Di antaranya adalah:</p>
<p style="text-align:justify;">.</p>
<h2 style="text-align:center;">قَالُوا تَرَفَّضْتَ!  قلتُ كَلاَّ  *** ما الرُفْضُ دينِيْ وَ لاَ اعْتقادِيْ</h2>
<h2 style="text-align:center;">و لـكِنْ تَوَلَّيْتُ دونَ شَكٍّ  ***  خيرَ إمامٍ  و خيرَ هـاديِ</h2>
<h2 style="text-align:center;">إنْ كـانَ حُبُّ الوَصِيِّ رَفْضًا  ***   فَـإِنَّنِيْ أَرْفَضُ العبادِ</h2>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">.</p>
<p style="text-align:justify;"><em>Mereka berkata; kamu telah berfaham Rafdh! Aku berkata: Tidak! Kerafidhian bukan agamaku dan bukan keyakinanku.</em></p>
<p style="text-align:justify;"><em>Akan tetapi aku tanpa ragu berwilayah…. kepada sebaik-baik Imam dan sebaik-baik pemberi petunjuk.</em></p>
<p style="text-align:justify;"><em>Jika mencintai washi (Ali) itu kerafidhian… maka ketahuilah bahwa aku paling rafidhinya manusia.</em></p>
<p style="text-align:justify;">.</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="text-decoration:underline;"><span style="color:#0000ff;"><em>Jadi demikianlah para kaum munafik yang membenci Ahlulbait Nabi saw. menebar teror bahwa kecintaan kepada Ahlulbait Nabi saw. adalah kesyi’ahan dan kerafidhian.</em></span></span> Dan teror itu akan terus ramai dipekikkan oleh mulut-mulut mereka selama di muka bumi masih ada kaum munafik yang membela dan mencintai gembong-gembong kaum munafikin; penganjur kepada api neraka jahannam seperti Yazid dan Mu’awiyah!</p>
<p style="text-align:justify;">Karenanya Imam Syafi’i juga berkata:</p>
<p style="text-align:justify;">.</p>
<h2 style="text-align:center;">إنْ كانَ رَفْضًا حُبُّ آلِ محمد *** فليَشْهَدِ الثقلاَنِ أَنَّيْ رافِضِيْ</h2>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">.</p>
<p style="text-align:justify;"><em>Jika mencintai keluarga Muhammad itu kerafidhian, … maka hendaknya manusia dan jin menyaksikan bahwa aku adalah seorang Rafidhi</em></p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Contoh Keempat: <span style="color:#800000;"><em>Imam Ahmad ibn Hanbal:</em></span></strong></p>
<p style="text-align:justify;">Tidak hanya Imam Syafi’i (sebagai imam agung Ahlulsunnah) yang mereka toror, tetapi <span style="text-decoration:underline;"><span style="color:#0000ff;"><em>Imam Ahmad juga mereka ganyang! Beliau dituduh sebagai gembong Syi’ah!! </em></span></span>Alasannya lucu yaitu <span style="text-decoration:underline;"><span style="color:#800000;"><em>karena beliau mencintai Ahlulbait Nabi saw., menghormati Sayyidina Ali ra. serta meriwayatkan banyak hadis keutamaan Sayyidina Ali ra. yang tidak dimiliki sahabat lain dalam kitab Musnadnya dan karena Imam Ahmad tidak mengakui Mu’awiyah sebagai </em><em>kaatibul wahyu (pencacat wahyu)</em></span>,</span>….<a href="#_ftn10">[10]</a></p>
<p style="text-align:justify;"><strong><span style="color:#0000ff;">Sibthu Ibn Jauzi </span>Bermazhab Hanbali, Bukan Syi’ah!</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Entah apa alasanya, sebagian pembenci Ahlulbait menuduh Imam <span style="color:#0000ff;"><em>Sibthu Ibn Jauzi</em></span> itu seorang Syi’ah atau bahkan Rafidhah (walaupun sering tidak jelas batasan dan kriteiria seorang disebutk Syi’ah atau rafidhah) bermazhab. <span style="text-decoration:underline;"><span style="color:#0000ff;"><em>Sebagaimana saudara <span style="color:#800000;">Anshari Taslim </span>menyebut beliau bermazhab Hanafi. Sementara sepanjang yang saya ketahui beliau itu bermazhab Hanbali, bukan Hanafi. Saya tidak tau apa sandaran yang dijadikan rujukan akhi <span style="color:#800000;">Anshari Taslim</span> dalam anggapannya itu? </em></span></span>Sebab sepanjang yang saya ketahui para ulama termasuk <span style="color:#800000;">adz Dzahabi, Ibnu Khallikân </span>dll. telah menegaskan bahwa beliau bermazhab Hanbali.</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#0000ff;">Ibnu Khallikân berkata,</span> <em>“Beliau seorang faqîh bermazhab Hanbali, seorang pemberi wejangan/nasihat yang digelari dengan Jamaluddîn al Hâfidz. Ia adalah orang sangat alim di zamannya dan imam di masanya dalam ilmu hadis dan meramu nasihat. Beliau telah mengarang dalam banyak disiplin ilmu…&#8221;</em> <a href="#_ftn11">[11]</a></p>
<p style="text-align:justify;">Adapun keterangan <span style="color:#0000ff;"><em>adz Dzahabi</em></span> akan saya sebutkan nanti!</p>
<p style="text-align:justify;">Disamping itu <em><span style="color:#0000ff;">Sibthu Ibn Jauzi </span><span style="text-decoration:underline;"><span style="color:#800000;">sendiri telah menegaskan bahwa mazhab beliau adalah Hanbali.</span></span> </em>Penegasan itu telah beliau sampaikan -paling tidak sepengetahuan saya- dalam dua kitab berharga beliau. Pertama dalam kitab <em>Âfatu Ahli Hadîts</em>, pada pasal yang beliau tulis untuk membantah tuduhan bahwa dengan menulis buku itu beliau bermaksud menolak keutamaan Abu Bakar. Beliau menyanggah tuduhan itu dengan dua alasan, pertama: Beliau itu dari keturuna Abu Bakar sendiri. Kedua: kata beliau, <em>“Semua orang tau bahwa apa mazhabku dan bagaimana pembelaanku terhadap Sunnah. Dan semua orang pasti tau bahwa tidak ada seorang bermazhab Hanbali Sunni yang tidak mencintai Abu Bakar….</em><a href="#_ftn12">[12]</a></p>
<p style="text-align:justify;">Kedua, penegasan itu beliau sampaikan dalam Mukaddimah kitab <em>Daf’u Syubahi at Tasybîh Bi Akuffi at Tanzîh</em>.</p>
<p style="text-align:justify;">Jadi <span style="text-decoration:underline;"><em><span style="color:#0000ff;">kalau memang akhi <span style="color:#800000;">Anshari Taslim </span>dapat membuktikan bahwa beliau bermazhab Hanafi tolong ia paparkan dalil dan buktinya, agar saya dapat mendiskusikannya kembali.</span></em></span></p>
<p style="text-align:justify;">.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Adz Dzahabi Dan Para Ulama Ahlusunnah Memuji Ibnu Jauzi</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Entah dengan alasan apa akhi <span style="color:#0000ff;">Anshari Taslim</span> lebih tertarik menukil pernyataan <span style="color:#0000ff;"><em>adz Dzahabi </em></span>yang cenderung tidak adil dan memojokkan <span style="color:#0000ff;"><em>Ibnu Jauzi </em></span>karena sebab beliau menulis kitab<em> Tadzkirah al Khawâsh</em> yang menerangkan sejarah 12 imam Syi’ah, yang karenanya beliau ia vonis Syi’ah bahkan Rafidhi… entah mengapa (dan pasti Anda yang cerdas tau mengapa?) akhi <span style="color:#0000ff;">Anshari </span>memilihnya dan meninggalkan pernyataan <span style="color:#0000ff;"><em>adz Dzahabi</em></span> lainnya dan juga pernyatan para ulama yang memuji <span style="color:#0000ff;"><em>Ibnu Jauzi</em></span>? <span style="text-decoration:underline;"><span style="color:#800000;">Mungkin hal itu ia lakukan sebagai langkah awal untuk menolak bukti-bukti yang diajukan </span><span style="color:#0000ff;"><em>Ibnu Jauzi </em></span></span><span style="text-decoration:underline;"><span style="color:#800000;">tentang kedunguan sebagian ahli hadis </span><span style="color:#0000ff;"><em>yang akhi Anshari sepertinya tidak sanggup membantahnya… maka satu-satu jalan adalah menjatuhkan Ibnu Jauzi!</em></span></span></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Perhatikan akhi Anshari menulis:</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>.<br />
</strong></p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;"><strong><br />
</strong></p>
<p style="text-align:justify;">“Masalah tasyayyu’ Sibth Ibni Al-Jauzi ini sempat disinggung oleh Adz-Dzahabi dalam Mizan Al-I’tidal, dia berkata,</p>
<h2 style="text-align:right;">يوسف بن قزغلي الواعظ المؤرخ شمس الدين أبو المظفر سبط ابن الجوزي .</h2>
<h2 style="text-align:right;">روى عن جده و طائفة ، و ألف كتاب &#8220;مرآة الزمان&#8221; فتراه يأتي فيه بمناكير الحكايات ، وما أظنه بثقة فيما ينقله ؛ بل يجنف و يجازف ؛ <span style="color:#ff0000;"><strong>ثم إنه ترفض ؛ و له مؤلف في ذلك نسأل الله العافية</strong><strong> </strong></span></h2>
<h2 style="text-align:right;"><span style="color:#ff0000;"><strong>مات سنة أربع و خمسين و ستمائة بدمشق قال الشيخ محي الدين السوسي : لما بلغ جدي موت سبط ابن الجوزي قال : لا رحمه الله كان رافضياً</strong></span><strong> </strong></h2>
<h2 style="text-align:right;">قلت : كان بارعاً في الوعظ و مدرساً للحنفية .</h2>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">.</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="text-decoration:underline;"><strong>Abu Salafy Berkata:</strong></span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#800000;">Karena akhi Anshari Taslim enggan menerjemahkannya, maka saya bantu ia menerjemahkan <span style="color:#ff0000;">bagian tulisan yang saya warnai merah </span>saja:</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#800000;">.<br />
</span></p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;"><em>“… Selain itu berfaham Rafidhi. Ia mempunyai sebuah buku karangan tentang itu. Kami memohon keselamatan darinya.</em></p>
<p style="text-align:justify;"><em>Ia mati tahun 654 Hijrah di kota Damasqus. Syeikh Muhyiddîn as Sûsi berkata, <span style="text-decoration:underline;"><span style="color:#0000ff;">“Ketika berita kematian Sibthu Ibn Jauzi sampai kepada kakekku, ia berkata, ‘Semoga ia tidak dirahmati Allah. Ia seorang Rafidhi.”</span></span></em></p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">.</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="text-decoration:underline;"><strong>Abu Salafy Berkata:</strong></span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="text-decoration:underline;"><em><span style="color:#0000ff;">Saya berharap akhi Anshari Taslim sanggung menerangkan kepada kami apa yang dimaksud dengan kata: <span style="color:#ff0000;">taraffadha </span>dan <span style="color:#ff0000;">Rafidhi?</span> </span></em><span style="color:#0000ff;"><em>Paling tidak menurut adz Dzahabi sendiri!</em></span></span> Sebab saya khawatir Anda tidak memahaminya dengan baik dan agar dapat didiskusikan di sini apakah tuduhan itu dapat dialamatkan kepada  Sibthu Ibnu Jauzi atau tidak?</p>
<p style="text-align:justify;">.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Pujian Adz Dzahabi:</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#800000;">Ia berkata dalam kitab<em> Siyar A’lâm an Nubalâ’</em>,21/365:</span></p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;"><em>“Abu al Faraj Ibnu Jauzi; asy Syaikh, al Imâm , Allamah (yang sangat alim), Hafidz  (ahli hadis), Mufassir (ahli tafsir), Syaikhul Islam, Mafkharul Irâq, kebanggaan negeri Irak, jamâluddîn/ keindahan buat agama, Abu al Faraj Abdurrrahman ibn Ali ibn Muhammad ibn Ali ibn Ubaidullah ibn Abullah ibn Hammâdi ibn Ahmad ibn Muhammad ibn Ja’far ibn Abdulllah ibn Qasim ibn Nadhr ibn Qasim ibn Abdullah ibn Faqîh Abdurrahman ibn Faqîh Qasim ibn Muhammad putra Khalifah Rasulullah saw.; Abu Bakar ash Shiddîq al Qurasyi  at Taimi al Bakri al Baghdadi <span style="text-decoration:underline;"><span style="color:#0000ff;"><strong>al Hanbali</strong>,</span></span> seorang pemberi wejangan/nasihat penulis banyak kitab. Ia lahir tahun 509 atau 510 Hijrah.”</em></p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">.</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="text-decoration:underline;"><strong>Abu Salafy Berkata:</strong></span></p>
<p style="text-align:justify;">Coba perhatikan bagaimana adz Dzahabi memujinya dan menegaskan bahwa beliau bermazhab Hanbali! Bukan Hanafi! Bukan pula Rafidhi!</p>
<p style="text-align:justify;">Lalu pantaskan kita menerima dan menelan mentah-mentah ucapan penuh kedengkian yang dilontarkan kakeknya Syeikh Muhyiddîn as Sûsi yang berkata,<em> “Ketika berita kematian Sibthu Ibn Jauzi sampai kepada kakekku, ia berkata, ‘Semoga ia tidak dirahmati Allah. Ia seorang Rafidhi.”</em></p>
<p style="text-align:justify;">.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong><em>Khitâm</em></strong><strong>:</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Akhi <span style="color:#0000ff;">Anshari Taslim</span>, untuk sementara saya cukupkan tanggapan saya atas artikel Anda  tersebut. Adapun poin-poin lain sementara saya belum berminat menanggapinya.</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<hr size="1" />
<p style="text-align:justify;"><a href="#_ftnref1">[1]</a> Lebih lengkap baca Târîkh Baghdâd,2/357 dan Lisân al Mîzân,5/268 ketika menyebut data Muhammad ibn Yahya al ‘Anzi.</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="#_ftnref2">[2]</a> Lebih lengkap baca Târîkh Baghdâd,13/168.</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="#_ftnref3">[3]</a> Lebih lengkap baca Târîkh Baghdâd,13/223, Lisân al Mîzân,6/140.</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="#_ftnref4">[4]</a> lebih lanjut baca: Muqaddimah Ibn Shalâh Fi ‘Ulûm al Hadîts:152-153, Fathu al Mughîts; Al Irâqi,1/130, Fathu al Mughîts; as Sakhâwi,1/303-304, Tadrîb ar Râwi; Jalaluddîn as Syuthi,1/282 dan buku-buku mushthalah hadis lainnya.<strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><a href="#_ftnref5">[5]</a> Âfatu Ahli Hadîts:53.</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="#_ftnref6">[6]</a> lebih lanjut baca al ‘Awâshim Min al Qawâshim,/283.</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="#_ftnref7">[7]</a> Daf’u Syubahi at Tasybîh:98-100.</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="#_ftnref8">[8]</a> Al Fushûl al Muhimmah Fi Ma’rifati al Aimmah:19-21.</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="#_ftnref9">[9]</a> Lebh jelasnya baca:<em> Tahdzîb al Tahdzîb</em>,11/10, ketika menyebut biodata Ahmad ibn Ibrahim at Taimi, Mustadrak,3/138, kitab <em>ma’rifatush shahabah, wa min manaqibi amirul mu’minîn Ali ibn Abi Thalib</em>, <em>Siyar A’lâm al Nubalâ’,9</em>/575 ketika menyebut biodata Abdur Razzâq ibn Humâm, dan 12/367 ketika menyebut biodata Ahmad ibn al Azhar, dan <em>Tahdzîb Al Kamâl</em>,1/260 ketika menyebut biodata Ahmad ibn al Azhar dan Târîkh Badgdâd,4/41-42 ketika menyebut biodata Ahmad ibn al Azhar.</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="#_ftnref10">[10]</a> Lebih jelsanya baca komentar DR. Al Habib  Ali Al Barr dalam kitab <em>Al Imam Ali Al Radha wa Risalatuhu Fi Al Thibb Al Nabawi:</em>57. Cet. Dâr Al Manahil. Lebanon.</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="#_ftnref11">[11]</a> Wafâyât al A’yân,2/321.</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="#_ftnref12">[12]</a> Lebih lanjut baca:<em> Âfatu Ahli Hadîts</em>:127.</p>
<table style="text-align:justify;" border="0" cellspacing="0" cellpadding="0" width="100%">
<tbody>
<tr>
<td width="24">
<table style="height:18px;" border="0" cellspacing="0" cellpadding="0" width="814">
<tbody>
<tr>
<td width="24"></td>
</tr>
</tbody>
</table>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/abusalafy.wordpress.com/651/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/abusalafy.wordpress.com/651/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/abusalafy.wordpress.com/651/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/abusalafy.wordpress.com/651/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/abusalafy.wordpress.com/651/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/abusalafy.wordpress.com/651/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/abusalafy.wordpress.com/651/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/abusalafy.wordpress.com/651/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/abusalafy.wordpress.com/651/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/abusalafy.wordpress.com/651/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abusalafy.wordpress.com&blog=1269412&post=651&subd=abusalafy&ref=&feed=1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abusalafy.wordpress.com/2010/01/19/tanggapan-atas-luapan-emosi-saudara-anshari-taslim/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>27</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/dcc398e7d74a34e59c3d59ffcc0673ff?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">abusalafy</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Potret Ketaqwa&#8217;an Raja Arab Saudi Al Wahhabi Al Salafy</title>
		<link>http://abusalafy.wordpress.com/2009/12/16/potret-ketaqwaan-raja-arab-saudi-al-wahhabi-al-salafy/</link>
		<comments>http://abusalafy.wordpress.com/2009/12/16/potret-ketaqwaan-raja-arab-saudi-al-wahhabi-al-salafy/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 16 Dec 2009 02:22:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abusalafy</dc:creator>
				<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[Dinasti al-Saud]]></category>
		<category><![CDATA[Manhaj]]></category>
		<category><![CDATA[Mengenal Pemimpin Wahabi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abusalafy.wordpress.com/?p=384</guid>
		<description><![CDATA[Potret Ketaqwa&#8217;an Raja Arab Saudi Yang Wahhabi nan Salafy
.


George Bush, Presiden Cina Hu Jintao, dan Raja Salafy Wahhabi Lagi Asyik Ber-Toast-ria.
.
Abu Salafy Berkata:
Beginilah &#8220;Khadimul Haramain&#8221;, Raja Abdullah ibn Abdil Aziz memperagakan pengalaman yang tepat dan kâffah dalam “berpegang teguh” dengan syari’at Islam yang melarang meniru dan bertasyabbuh dengan kaum Yahdi, Nashrani dan orang-orang kafir!!

Wahai saudaraku [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abusalafy.wordpress.com&blog=1269412&post=384&subd=abusalafy&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<br /><p style="text-align:center;"><span style="color:#ff0000;"><strong>Potret Ketaqwa&#8217;an Raja Arab Saudi Yang Wahhabi nan Salafy</strong></span></p>
<p style="text-align:center;"><span style="color:#ff0000;"><strong>.<br />
</strong></span></p>
<p><a href="http://abusalafy.files.wordpress.com/2009/12/financial_summit_bush-hu-jintao-toast-saudi-king-abdullah.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-619" title="US-FINANCE-ECONOMY-G20" src="http://abusalafy.files.wordpress.com/2009/12/financial_summit_bush-hu-jintao-toast-saudi-king-abdullah.jpg?w=468&#038;h=385" alt="" width="468" height="385" /></a></p>
<p style="text-align:center;"><span style="color:#800000;"><em>George Bush, Presiden Cina Hu Jintao, dan Raja Salafy Wahhabi Lagi Asyik Ber-Toast-ria.</em></span></p>
<p>.</p>
<p><span style="text-decoration:underline;"><strong>Abu Salafy Berkata:</strong></span></p>
<p>Beginilah <em>&#8220;Khadimul Haramain&#8221;</em>, Raja Abdullah ibn Abdil Aziz memperagakan pengalaman yang tepat dan<em> kâffah</em> dalam “berpegang teguh” dengan syari’at Islam yang melarang meniru dan bertasyabbuh dengan kaum Yahdi, Nashrani dan orang-orang kafir!!</p>
<p><span id="more-384"></span></p>
<p>Wahai saudaraku pemegang hak paten Mazhab Salaf Shaleh (PS2) apakah Anda berprasangka baik/husnudzdzan bahwa yang sedang ditenggak raja kebanggaan ulama mazhab Wahabi-Salafy bersama penjahat perang yang tangannya berlumuran darah-darah suci umat Islam itu adalah air Zamzam?! Bukan wisky?!</p>
<p>Baiklah, mari kita berhusnudzdzan bahwa itu adalah menimun yang halal, terus bagaimana dengan budaya <strong>&#8220;Toast&#8221; </strong>yang diperagakan Raja Salafy-Wahabi itu, bukankah itu  budaya orang kafir?, yang tidak dikenal dalam syariat Nabi Muhammad Saw? bukankah seorang ulama besar dan mantan mufti dinasti al-Saud Bin Baz kebanggaan wahhabi-salafy <a href="http://www.asysyariah.com/syariah.php?menu=detil&amp;id_online=601" target="_blank">pernah mengharamkan bertepuk tangan dengan alasan bertasyabuh dengan orang-oramg kafir</a>, lalu mana fatwa Dewan Fatwa Kerajaan Wahhabi-Salafy Saudi Arabia (Hai&#8217;ah al Kibar al Ulama) tentang hukum ber<em>-&#8221;Toast&#8221; </em>yang jelas-jelas bertasyabuh dengan orang-0rang kafir itu?!</p>
<p>Apakah Nabi Muhammad saw.pernah mencontohkan prilaku “miring” tradisi<strong><em> “Toast&#8221;</em></strong> atau <em><strong>&#8220;Ting Tung”</strong> </em>alias minum bareng seperti itu apalagi dengan penjahat perang?</p>
<p>Di manakah ulama Wahabi-Salafy Arab itu sehingga membiarkan rajanya melakukan adegan bermesraan dengan penjahat perang, dan ber<em>-toast-</em>ria?! Apakah semua ulama Wahhâbi itu buta? Atau pura-pura buta? Atau mereka adalah sekawanan para penjilat yang berkedok agamis? Atau memang mereka juga alat Imprialisme Barat/Amerika dan kaki tangan Zionis?</p>
<p>Mengapakah kaum Salafi-wahhabi di tanah air juga menjadi tuli dan buta dari menyaksikan kenyataan ini?!</p>
<p>Wahai saudaraku kaum Muslimin, tanah suci kaum Muslimin harus dibebaskan dari cengkeraman kaum yang tidak memelihara kesucian <em>Haramain</em>!</p>
<p>Kota suci Mekkah dan Madinah bukan milik kaum Wahhabi Salafy bukan pula milik keluarga kerajaan Arab Saudi! Berdasarkan ayat Al Qur’an, Allah SWT menjadikannya untuk umat manusia yang mukmin guna menegakkan penghambaan kepada Allah!</p>
<p style="text-align:center;"><span style="color:#ff0000;">***********************</span></p>
<p style="text-align:left;">.</p>
<p style="text-align:center;"><span style="color:#0000ff;"><strong>Galery Foto Keluarga Kerajaan Saudi Al Wahhabi Al Salafy</strong></span></p>
<p>.</p>
<p style="text-align:center;"><a href="http://abusalafy.files.wordpress.com/2009/12/abdullah-and-benedict.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-620" title="abdullah-and-benedict" src="http://abusalafy.files.wordpress.com/2009/12/abdullah-and-benedict.jpg?w=468&#038;h=609" alt="" width="468" height="609" /></a><span style="color:#800000;">Raja Abdullah bin Abdul Aziz  dengan Paus Bennedict</span></p>
<p style="text-align:center;"><span style="color:#800000;">.<br />
</span></p>
<p style="text-align:center;"><a href="http://abusalafy.files.wordpress.com/2009/12/king_abdullah_with_ras.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-621" title="King_Abdullah_with_RAS" src="http://abusalafy.files.wordpress.com/2009/12/king_abdullah_with_ras.jpg?w=468&#038;h=338" alt="" width="468" height="338" /></a><span style="color:#800000;">Raja Abdullah bin Abdul Aziz dengan Tokoh Yahudi</span></p>
<p style="text-align:center;"><span style="color:#800000;">.<br />
</span></p>
<p style="text-align:center;"><a href="http://abusalafy.files.wordpress.com/2009/12/bush-abdullah6.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-622" title="bush abdullah6" src="http://abusalafy.files.wordpress.com/2009/12/bush-abdullah6.jpg?w=468&#038;h=352" alt="" width="468" height="352" /></a><span style="color:#800000;"><em>Cipika-cipiki Raja Abdullah dengan Sang Tuan George Bush</em></span></p>
<p style="text-align:center;"><span style="color:#800000;"><em>.</em></span></p>
<p style="text-align:center;"><a href="http://abusalafy.files.wordpress.com/2009/12/bush-abdullah3.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-637" title="bush abdullah3" src="http://abusalafy.files.wordpress.com/2009/12/bush-abdullah3.jpg?w=460&#038;h=276" alt="" width="460" height="276" /></a><span style="color:#800000;">Raja Abdullah memberikan medali penghargaan untuk sang boss Mr. Bush</span></p>
<p style="text-align:center;">.</p>
<p style="text-align:center;"><a href="http://abusalafy.files.wordpress.com/2009/12/bush-abdullah5.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-638" title="SAUDI-US-BUSH-KING-AWARD" src="http://abusalafy.files.wordpress.com/2009/12/bush-abdullah5.jpg?w=468&#038;h=352" alt="" width="468" height="352" /></a><span style="color:#800000;">Raja Abdullah bin Abdul Aziz,&#8230;Thank you Bos !</span></p>
<p style="text-align:center;">.</p>
<p style="text-align:center;"><a href="http://abusalafy.files.wordpress.com/2009/12/obama-abdullah2.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-639" title="obama abdullah2" src="http://abusalafy.files.wordpress.com/2009/12/obama-abdullah2.jpg?w=468&#038;h=310" alt="" width="468" height="310" /></a><span style="color:#800000;">Lagi medali penghargaan untuk sang Tuan Baru Mr. Obama, dari Raja Abdullah bin Abdul Aziz -Amir wahabiyyun Salafiyyun</span>-</p>
<p style="text-align:center;">.</p>
<p style="text-align:center;"><span style="color:#800000;"><em><a href="http://abusalafy.files.wordpress.com/2009/12/bush-abdullah10.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-634" title="bush abdullah10" src="http://abusalafy.files.wordpress.com/2009/12/bush-abdullah10.jpg?w=450&#038;h=300" alt="" width="450" height="300" /></a>Tuan Bush dan Abdullah bin Abdul Aziz bergandengan tangan</em></span></p>
<p style="text-align:center;"><span style="color:#800000;"><em>.<br />
</em></span></p>
<p style="text-align:center;"><span style="color:#800000;"><em><a href="http://abusalafy.files.wordpress.com/2009/12/bush-senior-abdullah.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-635" title="bush senior abdullah" src="http://abusalafy.files.wordpress.com/2009/12/bush-senior-abdullah.jpg?w=468&#038;h=354" alt="" width="468" height="354" /></a>Bergandengan Tangan Raja Abdullah dengan sang Tuan Mr. Bush Senior dan Staf  <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Dick_Cheney" target="_blank">Dick Cheney</a> dan Jenderal Perang Teluk <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Colin_Powell" target="_blank">Colin Powell</a></em></span></p>
<p style="text-align:center;"><span style="color:#800000;"><em>.<br />
</em></span></p>
<p style="text-align:center;"><span style="color:#800000;"><em><a href="http://abusalafy.files.wordpress.com/2009/12/abdullah-foto.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-629" title="abdullah foto" src="http://abusalafy.files.wordpress.com/2009/12/abdullah-foto.jpg?w=452&#038;h=298" alt="" width="452" height="298" /></a>Raja Abdullah dan Obama dan di Belakang Lukisan Mendiang Raja-Raja Saudi Yang Telah Al Marhum, <a href="http://www.salafy.or.id/salafy.php?menu=detil&amp;id_artikel=853" target="_blank">Bagaimana dengan Fatwa ulama Wahhabi-Salafy yang mengharamkan lukisan dan foto?</a></em></span></p>
<p style="text-align:center;"><span style="color:#800000;"><em>.<br />
</em></span></p>
<p style="text-align:center;"><a href="http://abusalafy.files.wordpress.com/2009/12/raja-abdullah-saudi.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-623" title="Raja Abdullah (Saudi)" src="http://abusalafy.files.wordpress.com/2009/12/raja-abdullah-saudi.jpg?w=450&#038;h=300" alt="" width="450" height="300" /></a><span style="color:#800000;"><em>Dari kiri, Raja Abdullah (Saudi), Menlu Arab Saudi, Saud Al-faisal, Raja Abdullah (Jordan), dan Tuan Mereka Mr.George Bush</em></span></p>
<p style="text-align:center;"><span style="color:#800000;"><em>.<br />
</em></span></p>
<p style="text-align:center;"><span style="color:#800000;"><em><a href="http://abusalafy.files.wordpress.com/2009/12/alwalid-bin-talal-ameera.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-624" title="alwalid bin talal ameera" src="http://abusalafy.files.wordpress.com/2009/12/alwalid-bin-talal-ameera.jpg?w=204&#038;h=298" alt="" width="204" height="298" /></a><a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Al-Waleed_bin_Talal" target="_blank">Amir  Al Waleed bin Talal bin Abdul Aziz </a>dan Istri, mana jilbabnya Ya?</em></span></p>
<p style="text-align:center;"><span style="color:#800000;"><em>.<br />
</em></span></p>
<p style="text-align:center;"><span style="color:#800000;"><em><a href="http://abusalafy.files.wordpress.com/2009/12/alwaleed-ameera-altaweel.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-625" title="alwaleed ameera altaweel" src="http://abusalafy.files.wordpress.com/2009/12/alwaleed-ameera-altaweel.jpg?w=380&#038;h=335" alt="" width="380" height="335" /></a></em></span></p>
<p style="text-align:center;"><span style="color:#800000;"><em>Amir  Al Waleed bin Talal bin Abdul Aziz dan Istri, lagi mana jilbabnya Ya?</em></span></p>
<p style="text-align:center;"><span style="color:#800000;"><em>.<br />
</em></span></p>
<p style="text-align:center;"><span style="color:#800000;"><em><a href="http://abusalafy.files.wordpress.com/2009/12/alwaleed-ameera-altaweel.jpg"></a><a href="http://abusalafy.files.wordpress.com/2009/12/bandar-bush1.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-626" title="bandar bush1" src="http://abusalafy.files.wordpress.com/2009/12/bandar-bush1.jpg?w=468&#038;h=308" alt="" width="468" height="308" /></a></em></span><span style="color:#800000;"><em>Amir  Bandar bin Sultan bin Abdul Aziz dengan Tuannya Mr Bush</em></span></p>
<p style="text-align:center;"><span style="color:#800000;"><em>.<br />
</em></span></p>
<p style="text-align:center;"><span style="color:#800000;"><em><a href="http://abusalafy.files.wordpress.com/2009/12/bandar-bin-sultan.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-627" title="Bandar bin Sultan" src="http://abusalafy.files.wordpress.com/2009/12/bandar-bin-sultan.jpg?w=468&#038;h=330" alt="" width="468" height="330" /></a><a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Bandar_bin_Sultan" target="_blank">Amir Bandar bin Sultan bin Abdul Aziz </a>dengan seorang &#8220;Teman&#8221; mungkin para Wahabiyyun Salafiyyun mengetahui siapa dia?</em></span></p>
<p style="text-align:center;"><span style="color:#800000;"><em>.<br />
</em></span></p>
<p style="text-align:center;"><span style="color:#800000;"><em><a href="http://abusalafy.files.wordpress.com/2009/12/gen-khalid-bin-sultan-bin-abdul-aziz-in-2006.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-628" title="Gen. Khalid Bin Sultan Bin Abdul Aziz in 2006." src="http://abusalafy.files.wordpress.com/2009/12/gen-khalid-bin-sultan-bin-abdul-aziz-in-2006.jpg?w=453&#038;h=350" alt="" width="453" height="350" /></a><a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Khalid_bin_Sultan" target="_blank">Jenderal<span style="color:#800000;"><em> </em></span></a></em></span><span style="color:#800000;"><em><a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Khalid_bin_Sultan" target="_blank">Khalid Bin Sultan Bin Abdul Aziz </a>(menteri Pertahanan Kerajaan Islam Salafy Saudi), dengan &#8220;teman-teman&#8221; wanitanya</em></span></p>
<p style="text-align:center;"> </p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/abusalafy.wordpress.com/384/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/abusalafy.wordpress.com/384/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/abusalafy.wordpress.com/384/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/abusalafy.wordpress.com/384/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/abusalafy.wordpress.com/384/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/abusalafy.wordpress.com/384/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/abusalafy.wordpress.com/384/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/abusalafy.wordpress.com/384/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/abusalafy.wordpress.com/384/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/abusalafy.wordpress.com/384/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abusalafy.wordpress.com&blog=1269412&post=384&subd=abusalafy&ref=&feed=1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abusalafy.wordpress.com/2009/12/16/potret-ketaqwaan-raja-arab-saudi-al-wahhabi-al-salafy/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>128</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/dcc398e7d74a34e59c3d59ffcc0673ff?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">abusalafy</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://abusalafy.files.wordpress.com/2009/12/financial_summit_bush-hu-jintao-toast-saudi-king-abdullah.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">US-FINANCE-ECONOMY-G20</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://abusalafy.files.wordpress.com/2009/12/abdullah-and-benedict.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">abdullah-and-benedict</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://abusalafy.files.wordpress.com/2009/12/king_abdullah_with_ras.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">King_Abdullah_with_RAS</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://abusalafy.files.wordpress.com/2009/12/bush-abdullah6.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">bush abdullah6</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://abusalafy.files.wordpress.com/2009/12/bush-abdullah3.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">bush abdullah3</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://abusalafy.files.wordpress.com/2009/12/bush-abdullah5.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">SAUDI-US-BUSH-KING-AWARD</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://abusalafy.files.wordpress.com/2009/12/obama-abdullah2.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">obama abdullah2</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://abusalafy.files.wordpress.com/2009/12/bush-abdullah10.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">bush abdullah10</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://abusalafy.files.wordpress.com/2009/12/bush-senior-abdullah.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">bush senior abdullah</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://abusalafy.files.wordpress.com/2009/12/abdullah-foto.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">abdullah foto</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://abusalafy.files.wordpress.com/2009/12/raja-abdullah-saudi.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Raja Abdullah (Saudi)</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://abusalafy.files.wordpress.com/2009/12/alwalid-bin-talal-ameera.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">alwalid bin talal ameera</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://abusalafy.files.wordpress.com/2009/12/alwaleed-ameera-altaweel.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">alwaleed ameera altaweel</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://abusalafy.files.wordpress.com/2009/12/bandar-bush1.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">bandar bush1</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://abusalafy.files.wordpress.com/2009/12/bandar-bin-sultan.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Bandar bin Sultan</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://abusalafy.files.wordpress.com/2009/12/gen-khalid-bin-sultan-bin-abdul-aziz-in-2006.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Gen. Khalid Bin Sultan Bin Abdul Aziz in 2006.</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>TV Kerajaan -Islam Ala Wahhabi-Salafy- Makin &#8220;Moderen&#8221;</title>
		<link>http://abusalafy.wordpress.com/2009/11/24/tv-kerajaan-islam-ala-wahhabi-salafy-makin-moderen/</link>
		<comments>http://abusalafy.wordpress.com/2009/11/24/tv-kerajaan-islam-ala-wahhabi-salafy-makin-moderen/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 24 Nov 2009 11:01:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abusalafy</dc:creator>
				<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[Dinasti al-Saud]]></category>
		<category><![CDATA[Manhaj]]></category>
		<category><![CDATA[Mengenal Pemimpin Wahabi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abusalafy.wordpress.com/?p=611</guid>
		<description><![CDATA[Sebelum saya bisa aktif kembali dengan artikel-artikel baru, marilah kita ikuti tayangan berita dari negeri para muthowwek&#8230;
Bahas Seks Luar Nikah di Televisi, Wartawati di Arab Dihukum Cambuk 60 Kali
SUMBER BERITA: Sabili.Co.Id
Riyadh -Akibat perannya menjadi produser dalam program televisi yang membahas seks di luar nikah, seorang wartawati Arab Saudi Rosana (22), dijatuhi hukuman cambuk 60 kali [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abusalafy.wordpress.com&blog=1269412&post=611&subd=abusalafy&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<br /><p><em>Sebelum saya bisa aktif kembali dengan artikel-artikel baru, marilah kita ikuti tayangan berita dari negeri para muthowwek&#8230;</em></p>
<p><span style="color:#993300;"><strong>Bahas Seks Luar Nikah di Televisi, Wartawati di Arab Dihukum Cambuk 60 Kali</strong></span></p>
<p><strong><span style="color:#ff00ff;">SUMBER BERITA:</span> <a href="http://sabili.co.id/index.php?option=com_content&amp;view=article&amp;id=938:bahas-seks-luar-nikah-di-televisi-wartawati-di-arab-dihukum-cambuk-60-kali&amp;catid=85:lintas-dunia&amp;Itemid=284" target="_blank">Sabili.Co.Id</a></strong></p>
<p>Riyadh -Akibat perannya menjadi produser dalam program televisi yang membahas seks di luar nikah, seorang wartawati Arab Saudi Rosana (22), dijatuhi hukuman cambuk 60 kali oleh pengadilan di Jeddah, Sabtu (24/10) waktu setempat.<br />
<span id="more-611"></span><br />
Program tersebut menjadi skandal besar di Arab Saudi ketika ditayangkan beberapa bulan lalu. Sang nara sumber Mazen Abdul Jawad, pria yang mengaku mencari wanita Saudi untuk melakukan hubungan badan sudah terlebih dulu dihukum lima tahun penjara dan dicambuk 1.000 kali, tiga temannya yang tampil di acara yang sama, masing-masing mendapat hukuman dua tahun penjara.</p>
<p>Program yang membuat heboh ini merupakan bagian dari seri televisi bernama Red Lines yang dibuat perusahaan televisi satelit Lebanon (LBC). Program ini membahas persoalan-persoalan tabu di dunia Arab. Misalnya soal seks di luar nikah yang dilakukan warga Arab Saudi di negara mereka.</p>
<p>Ditipu</p>
<p>Pria Saudi yang tampil dalam program ini, Mazen Abdul Jawad, membuat marah banyak orang karena ia bercerita tentang tekniknya dalam mencari wanita Saudi untuk berhubungan badan dengan mereka. Dengan berlinang air mata dia meminta maaf. Abdul Jawad mengatakan dia ditipu oleh produser acara televisi itu.</p>
<p>Pihak berwenang Saudi menutup kantor LBC setelah program tersebut disiarkan dan produser acara ini, yang dua-duanya wanita, diajukan ke pengadilan.</p>
<p>Stasiun ini sudah lama dikritik oleh para ulama Saudi karena menayangkan berbagai acara yang menampilkan penyanyi dan artis berpakaian minim ke Arab Saudi. Ironisnya salah satu pemilik LBC adalah miliarder Saudi, Pangeran Alwaleed bin Talal. ono</p>
<p><span style="text-decoration:underline;"><strong>Abu Salafy Berkata:</strong></span></p>
<p>Saya tidak akan berkomentar banyak tentang hal atau berita ini, hanya tentang keadilan di negeri yang konon mengaku berpemerintahan &#8220;Islam&#8221; dan menjalankan&#8221; hukum Islam&#8221; berdasarkan manhaj salaf sholeh, ternyata keadilan hanya berlaku untuk rakyat kecil, sementara para Amir yang bejat bebas melenggang berbuat apapun, para muthowwek, para mufti dan ulama yang memimpin pengadilan tanpa berani menghukum para amir yang melanggar hukum&#8230;</p>
<p>Anehnya dalam kejadian ini<span style="color:#0000ff;"> hanya penyiar TV yang bersangkutan yang dihukum</span>, sementara  pemilik TV  yang kebetulan seorang keluarga kerajaan (pangeran/amir) sebagaimana diberitakan<em> </em><strong><em>-Ironisnya salah satu pemilik LBC adalah miliarder Saudi, Pangeran Alwaleed bin Talal.</em> </strong>bebas dari jeratan hukum, bukankah pemilik TV lebih bertanggung jawab dibanding seorang penyiar? bukankah penyiar hanya sekedar menjalankan tugas atasan (bos)?</p>
<p>Tapi inilah hukum Islam ala wahabi/salafy di negeri yang konon kata<em> -wahabiyyun salafiyyun di bumi Indonesia ini- </em>adalah negeri/kerajaan yang paling hebat dalam menjalankan syariat Islam !</p>
<p>Anda tidak usah heran tentang penerapan keadilan di negeri para muthowwek ini, anda bisa menanyakan kepada para TKI dan TKW yang pernah bekerja disana khususnya yang pernah mengalami pendholiman disana !</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/abusalafy.wordpress.com/611/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/abusalafy.wordpress.com/611/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/abusalafy.wordpress.com/611/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/abusalafy.wordpress.com/611/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/abusalafy.wordpress.com/611/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/abusalafy.wordpress.com/611/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/abusalafy.wordpress.com/611/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/abusalafy.wordpress.com/611/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/abusalafy.wordpress.com/611/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/abusalafy.wordpress.com/611/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abusalafy.wordpress.com&blog=1269412&post=611&subd=abusalafy&ref=&feed=1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abusalafy.wordpress.com/2009/11/24/tv-kerajaan-islam-ala-wahhabi-salafy-makin-moderen/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>33</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/dcc398e7d74a34e59c3d59ffcc0673ff?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">abusalafy</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Pemberitahuan &amp; Ma&#8217;af</title>
		<link>http://abusalafy.wordpress.com/2009/10/30/pemberitahuan-maaf/</link>
		<comments>http://abusalafy.wordpress.com/2009/10/30/pemberitahuan-maaf/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 30 Oct 2009 13:40:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abusalafy</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pemberitahuan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abusalafy.wordpress.com/?p=601</guid>
		<description><![CDATA[السلام عليكم و رحمة الله و بركاته 
Kepada semua pecinta blog ini, kami haturkan ma’af karena sampai hari ini kami belum bisa meng-update dan aktif seperti biasanya, dikarenakan kesibukan sehari-hari, baik kesibukan mencari nafkah untuk keluarga juga kesibukan lainnya, karenanya kami tidak bisa meng-update setiap hari. (hal ini sudah seringkali saya jelaskan tapi rupanya banyak [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abusalafy.wordpress.com&blog=1269412&post=601&subd=abusalafy&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<br /><h2><strong>السلام عليكم و رحمة الله و بركاته </strong></h2>
<p>Kepada semua pecinta blog ini, kami haturkan ma’af karena sampai hari ini kami belum bisa meng-update dan aktif seperti biasanya, dikarenakan kesibukan sehari-hari, baik kesibukan mencari nafkah untuk keluarga juga kesibukan lainnya, karenanya kami tidak bisa meng-update setiap hari. (hal ini sudah seringkali saya jelaskan tapi rupanya banyak ikhwan salafy/wahhabi tidak sabaran)</p>
<p>Insya Allah kami akan segera kembali meng-update dan menjawab semua komen sebagaimana biasanya..!</p>
<p><strong>Bagi Ikhwan salafy/wahhabi perlu diketahui</strong> bahwa blog ini tidak seperti blog/situs wahhabi/salafy yang sering men-delete komen pengunjung. komitmen kami tetap akan menampilkan semua komentar (kecuali caci-maki dan bahasa yang kotor). Saya harap anda bersabar!</p>
<p><strong>Selanjutnya, jika ada sedikit waktu luang  akan kami sempatkan terlebih dahulu mengeluarkan komen-komen sbb:</strong></p>
<ul>
<li>yang tidak perlu kami tanggapi/jawab</li>
<li>yang tidak ditujukan kepada kami (diskusi sesama pengunjung)</li>
</ul>
<p>Sedangkan komen yang perlu ditanggapi/jawab, tetap kami PENDING dan akan kami tanggapi setelah aktif kembali seperti biasa.</p>
<p>sekian harap maklum dan ma’af.</p>
<p><strong>Wassalamu alaikum wr.wb</strong></p>
<p><span style="font-size:medium;">الفقير إلى عفو ربه ﺍﻟﻘﺪﻳﺮ</span></p>
<p><strong>Abu Salafy</strong></p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/abusalafy.wordpress.com/601/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/abusalafy.wordpress.com/601/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/abusalafy.wordpress.com/601/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/abusalafy.wordpress.com/601/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/abusalafy.wordpress.com/601/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/abusalafy.wordpress.com/601/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/abusalafy.wordpress.com/601/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/abusalafy.wordpress.com/601/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/abusalafy.wordpress.com/601/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/abusalafy.wordpress.com/601/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abusalafy.wordpress.com&blog=1269412&post=601&subd=abusalafy&ref=&feed=1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abusalafy.wordpress.com/2009/10/30/pemberitahuan-maaf/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/dcc398e7d74a34e59c3d59ffcc0673ff?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">abusalafy</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Bantahan Atas Abu Jauzâ’ Dan Para Wahhabiyyûn-Mujassimûn Musyabbihûn! (5)</title>
		<link>http://abusalafy.wordpress.com/2009/10/22/bantahan-atas-abu-jauza%e2%80%99-dan-para-wahhabiyyun-mujassimun-musyabbihun-5/</link>
		<comments>http://abusalafy.wordpress.com/2009/10/22/bantahan-atas-abu-jauza%e2%80%99-dan-para-wahhabiyyun-mujassimun-musyabbihun-5/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 22 Oct 2009 14:11:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abusalafy</dc:creator>
				<category><![CDATA[Akidah Tajsim & Tasybih]]></category>
		<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[Kajian Hadis]]></category>
		<category><![CDATA[Kenaifan Kaum Wahhabi]]></category>
		<category><![CDATA[Manhaj]]></category>
		<category><![CDATA[Menjawab Blog Wahabi/Salafy]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abusalafy.wordpress.com/?p=561</guid>
		<description><![CDATA[Bantahan Atas Abu Jauzâ’ Dan Para Wahhabiyyûn-Mujassimûn Musyabbihûn! (5)
 Bincang Bersama Abu Jauza -Hadis Melihat Tuhan-(5)


Meneliti Takhrîj Hadis Oleh Albani !!
Dalam kesempatan ini saya ajak pembaca memperhatikan hasil penelitian tidak teliti oleh Syeikh ahli dan pakar hadis kebanggaan Abu Jauzâ’ dan para Salafiyyun Mujassimun; Syeikh Nâshiruddîn al Bâni&#8230; bagaimana penshahihan atau menetapan status hasan atas [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abusalafy.wordpress.com&blog=1269412&post=561&subd=abusalafy&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<br /><p><span style="color:#003366;"><strong>Bantahan Atas Abu Jauzâ’ Dan Para Wahhabiyyûn-Mujassimûn Musyabbihûn! (5)</strong></span></p>
<p><strong> </strong><strong><span style="color:#003366;">Bincang Bersama Abu Jauza</span> <a href="http://abul-jauzaa.blogspot.com/2009/06/pembahasan-hadits-ummu-ath-thufail.html" target="_blank">-Hadis Melihat Tuhan-(5)</a></strong></p>
<p><strong><br />
</strong></p>
<p><strong>Meneliti Takhrîj Hadis Oleh Albani !!</strong></p>
<p>Dalam kesempatan ini saya ajak pembaca memperhatikan hasil penelitian tidak teliti oleh Syeikh ahli dan pakar hadis kebanggaan <strong>Abu Jauzâ’</strong> dan para Salafiyyun Mujassimun;<em> Syeikh Nâshiruddîn al Bâni</em>&#8230; bagaimana penshahihan atau menetapan status <em>hasan </em>atas hadis-hadis yang mendukung hadis <em>Shûrah</em><strong> </strong>yang sedang ia <em>takhrîj</em> benar-benar tidak berdasar dan hanya didorong oleh kecenderungannya untuk menandaskan kesesatan akidah <em>tajsîm</em> yang sedang diperjuangkan untuk disebar-luaskan oleh kaum Salafi Wahhabi Mujassim.</p>
<p>Sebelumnya, dalam paparan keterangan dalam artikel sebelumnya telah kami soroti beberapa takhrij hadis oleh Albani tersebut. Dan kini kami akan menyoroti sisanya. Untuk lebih menyingkat, saya langsung akan mengajak Anda memperhatikan beberapa contoh hadis yang ia <em>takhrîj</em> dan itu pun dengan meneliti sebagian perawi –tidak seluruhnya- pada setiap sanad.<a href="http://abusalafy.wordpress.com/wp-admin/#_ftn33">[33]</a></p>
<p><span id="more-561"></span></p>
<p>Saya berkata dan hanya kepada Allah SWT kami memohon bimbingan ke jalan kebenaran-:</p>
<p><a href="http://abul-jauzaa.blogspot.com/2009/06/pembahasan-hadits-ummu-ath-thufail.html" target="_blank"><strong>Abu Jauzâ’ berkata:</strong></a></p>
<blockquote><p><strong>Saya berkata: </strong></p>
<p>Al-Imam Ibnu Abi ‘Aashim membawakan riwayat dalam kitab <em>As-Sunnah</em> (melalui <em>Dhilaalul-Jannah</em> oleh Asy-Syaikh Al-Albani,<em> </em>hal. 205 no. 471) sebagai berikut:</p>
<h3>471 &#8211; ( صحيح لغيره ) ثنا اسماعيل بن عبدالله ثنا نعيم بن حماد ويحيى بن سليمان قالا حدثنا عبدالله بن وهب عن عمرو بن الحارث عن سعيد بن أبي هلال حدثه أن مروان بن عثمان حدثه عن عمارة بن عامر عن أم الطفيل امرأة أبي بن كعب قال سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول <span style="text-decoration:underline;">رأيت ربي في المنام في أحسن صورة</span> وذكر كلاما</h3>
<p>“471 – (Shahih lighairihi)</p>
<p>Telah menceritakan kepada kami Ismaa’iil bin ‘Abdillah: Telah menceritakan kepada kami Nu’aim bin Hammaad dan Yahya bin Sulaimaan, mereka berdua berkata: Telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah bin Wahb, dari ‘Amr bin Al-Haarits, dari Sa’iid bin Abi Hilaal telah menceritakannya: Bahwasannya Marwaan bin ‘Utsmaan telah menceritakannya, dari ‘Umaarah bin ‘Aamir, dari Ummu Ath-Thufail istri Ubay bin Ka’b, ia berkata: Aku mendengar Rasulullah <em>shallallaahu ‘alaihi wa sallam </em>bersabda: <em>“Aku telah melihat Rabb-ku dalam mimpiku dalam wujud/bentuk yang paling baik</em>” dan kemudian beliau menyebutkan satu perkataan [selesai].</p>
<p>Asy-Syaikh Al-Albani <em>rahimahullah </em>kemudian memberikan komentar atas hadits tersebut sebagai berikut:</p>
<h3><span style="text-decoration:underline;">حديث صحيح بما قبله وإسناده ضعيف مظلم</span> عمارة بن عامر أورده ابن أبي حاتم من هذه الرواية ولم يذكر فيه جرحا ولا تعديلا ومروان بن عثمان هو ابن أبي سعيد بن المعلى الأنصاري الزرقي ضعيف كما في التقريب وذكر المزي في التهذيب أنه روى عن أم الطفيل امرأة أبي بن كعب فتعقبه تهذيبه بقوله: وفيه نظر فإن روايته إنما هي عن عمارة بن عمرو بن حزم عن أم الطفيل امرأة ابي في الرؤية وهو متن منكر كذا قال ابن عمرو بن حزم وإنما هو ابن عامر كما تراه في الكتاب وكذلك هو عند ابن أبي حاتم كما سبقت الإشارة إليه</h3>
<p>“<span style="text-decoration:underline;">Hadits shahih dengan penguat hadits-hadits sebelumnya; sanadnya <em>dla’if</em> lagi gelap</span>. Mengenai ‘Umaarah bin ‘Aamir, Ibnu Abi Haatim membawakan riwayat ini tanpa menyebutkan di dalamnya celaan (<em>jarh</em>) ataupun pujian (<em>ta’dil</em>).</p>
<p>Marwaan bin ‘Utsmaan, ia adalah Ibnu Abi Sa’iid bin Al-Ma’alliy Al-Anshariy Az-Zarqiy, seorang perawi <em>dla’if</em>, sebagaimana terdapat dalam <em>At-Taqriib</em>. Al-Mizziiy menyebutkannya dalam <em>At-Tahdziib</em> bahwasannya ia meriwayatkan dari Ummu Ath-Thufail istri Ubay bin Ka’b. Atas perkataan ini Ibnu Hajar memberikan kritikan dalam <em>Tahdziibut-Tahdziib</em>: “Pada perkataannya tersebut ada yang perlu diperhatikan. Sesungguhnya riwayat Marwaan berasal dari ‘Umaarah bin ‘Amr bin Hazm, dari Ummu Ath-Thufail, istri Ubay bin Ka’b dalam hadits <em>ru’yah</em>, dan ia adalah matan yang munkar”.</p>
<p>Begitulah, ia mengatakan: Ibnu ‘Amr bin Hazm, yang benar adalah Ibnu ‘Aamir, seperti yang Anda lihat dalam kitab. Begitu pula ia di sisi Ibnu Abi Haatim sebagaimana telah lalu penunjukkannya atasnya”.</p>
<p>[selesai perkataan Asy-Syaikh Al-Albani <em>rahimahullah</em>]</p>
<p>Hadits yang dibawakan Al-Imam Ibnu Abi ‘Aashim <em>rahimahullah </em>ini sebenarnya satu riwayat dengan riwayat yang menjadi bahasan kita, dimana sanad keduanya bertemu pada ‘Abdullah bin Wahb (Ibnu Wahb). Ibnu Abi ‘Aashim membawakan secara ringkas dengan perkataannya: <em>“wa dzakara kalaaman</em>. Maksud “<em>wa dzakara kalaaman</em>” di sini adalah lafadh:</p>
<h3>في صورة شباب موفر في خضر على فراش من ذهب في رجليه نعلان من ذهب</h3>
<p><em>“dalam wujud seorang pemuda berambut lebat yang memakai pakaian berwarna hijau di atas tempat tidur yang terbuat dari emas, pada kedua kaki-Nya memakai sandal yang terbuat dari emas”</em>.</p></blockquote>
<p><span style="text-decoration:underline;"><strong>Abu Salafy berkata:</strong></span></p>
<p>Pertama-tama yang perlu kita mengerti bahwa para ulama ahli hadis tidak semberono dalam menaikkan status hadis dari <em>hasan </em>menjadi <em>shahih</em>, apalagi dari <em>dha’if</em> atau sangat <em>dha’if</em> menjadi<em> hasan </em>apalagi menjadi <em>shahih</em>. Mereka sangat memperhatikan dan memasukkan dalam pertimbangan mereka tingkat dan jenis kedha’ifan/kelemahan sebuah riwayat akibat kedha’ifan perawinya yang hendak mereka naikkan statusnya dengan bantuan<em> mutâbi</em>’ dan/<em>syawâhid</em> (riwayat-riwayat dari jalur lain yang mengandung makna serupa). Di antara yang sangat mereka perhatikan adalah apakah si perawi dalam mata rantai riwayat yang hendak didongkrak statusnya itu lemah kerena sebab cacat pada kejujuran atau cacat dalam sisi lain?</p>
<p>Para ulama dan pakar ilmu hadis menegaskan jika kedha’fan itu dikarenakan sebab cacat pada kualitas kejujuran si perawi maka ia tidak dapat didongkrak statusnya betapapun ia datang dalam riwayat-riwayat lain dengan jalur lain baik yang bertemu dalam mata rantai syeikh (gurunya) atau tidak (hanya serupa dalam matannya saja).</p>
<p>Para ahli hadis biasanya membicarakan masalah ini dalam pasal tentang redaksi yang digunakan dalam mencacat para perawi, di mana terdapat tingkatan yang beragam dalam kelemahan yang ditunjukkan oleh redaksi-redaksi pencacatan tersebut. Imam Nawawi berkata dalam kitab <em>at Taqrîb</em>-nya yang kemudian disyarahi oleh <em>as Suyuthi</em> dalam <em>tadrîb ar Râwi</em>, “Redaksi penta’dilan (penilaian baik) tingkat keempat: Shaleh hadisnya. Hadisnya boleh ditulis untuk I’tibâr.<a href="http://abusalafy.wordpress.com/wp-admin/#_ftn34">[34]</a></p>
<p>Adapun redaksi pencacatan ( al jarh) ia bertingkat-tingkat. Jika para ulama berkatta (tentang status seorang perawi): ia <em>layyin </em>(lembek) hadisnya, maka hadisnya boleh ditulis dan diperhatikan sebagai <em>I’tibâr</em>….</p>
<p>Dan ucapan mereka: <em>Laisa bi qawiyyin </em>(tidak kuat), hadisnya boleh ditulis, maka ia tingkatan di bawah redaksi <em>layyin</em>.</p>
<p>Dan jika mereka berkata: <em>Dha’îful hadîts</em> (lemah hadisnya), ia tingkatan di bawah redaksi<em> Dha’îful hadîts, </em>hadisnya tidak dibuang tetapi boleh ditulis sebagai <em>i’tibâr</em>.</p>
<p>Jika mereka berkata: <em>Matrûkul hadîts</em> (ditinggalkan hadisnya), <em>Wâhi</em> hadisnya, atau <em>kadzdzâb</em> (pembohong), maka ia jatuh (gugur), tidak layak ditulis hadisnya (tidak dapat dijadikan i’tibâr tidak juga dijadikan syahid.”<a href="http://abusalafy.wordpress.com/wp-admin/#_ftn35">[35]</a></p>
<p>Ketika membahas tingkatan hadis hasan, para ulama biasa berbicara panjang lebar tentang apa-apa <span style="text-decoration:underline;">yang dapat mendongkrak status hadis dha’if menjadi hasan</span> <strong>(perhatikan bukan menajdi shahih)</strong>. Imam Nawawi berkata, “<strong>Cabang Ketiga</strong>: <em>“Jika sebuah hadis diriwayatkan bergabai jalur dha’if maka tidak harus dari total jalur itu ia menjadi hadis hasan, akan tetapi jika kedha’ifannya disebabkan lemahnya hafalan si perawi yang jujur (shadûq) lagi terpercaya maka hilanglah kedha’ifan itu dengan datangnya hadis itu dari jalur lain dan ia menjadi hadis hasan&#8221;.</em></p>
<p>Demikian pula jika kedha’ifannya diakibatkan oleh kemursalan, maka akan hilang kedha’ifannya dengan datangnya hadis itu dari jalur lain. Adapun kedha’ifannya diakibatkan kefasikan (atau kedustaan) si perawi maka kesesuaian perawi lain dalam meriwayatkan hadis itu tidak berpengaruh apa-apa dalam meningkatkan statusnya! (karena begitu kuatnya kedha’ifannya dan ketidak-mampuan hadis pendukung itu dalam mendongkrak status hadis yang hendak ia dongkrak). Benar, bahwa dengan berbilangnya jalur-jalur periwayatan (walau pun seluruhnay dha’if) ia akan naik tingkatan menjadi bahwa hadis itu tidak munkar atau hadis yang tidak punya asal muasal…. Demikian ditegaskan Syeikhul Islam<a href="http://abusalafy.wordpress.com/wp-admin/#_ftn36">[36]</a>. Ia berkata, “Bisa jadi jalur sangat banyak sehingga menyampaikannya kepada tingkat <em>mastûr</em> yang jelek hafalannya, sekira jika ada hadis dari jalur lain yang juga dha’if yang masih ditoleransi… bisa jadi ia dinaikkan statusnya menjadi hadis hasan!.”<a href="http://abusalafy.wordpress.com/wp-admin/#_ftn37">[37]</a></p>
<p><span style="text-decoration:underline;">Setelah itu mari kita perhatikan status shahih yang disematkan oleh Syeikh Albani terhadap sebuah hadis yang ia sendiri mengakui bahwa sanadnya lemah dan gelap gulita.</span></p>
<p><span style="text-decoration:underline;"><span style="color:#800000;">Hadis dengan nomer 471 yang ia shahihkan itu adalah hadis yang mengidap penyakit kronis dan sangat bermasalah pada sanadnya. Sehingga sulit rasanya membayangkan ia dapat naik status menjadi dh’aif biasa apalagi hasan dan apalagi shahih!!</span></span></p>
<p>Dalam jalur riwayat di atas terdapat seorang parawi bernama <strong><em>Nu’aim ibn Hammâd</em></strong>.<a href="http://abusalafy.wordpress.com/wp-admin/#_ftn38">[38]</a> Tentang parawi yang satu ini, perlu diperhatikan beberapa perkara:</p>
<p><strong>Pertama, </strong><span style="text-decoration:underline;"><em>Syeikh al Albani</em> sendiri mencacatnya dalam berbagai kesempatan dalam kitab <em>Silsilah al Ahâdîts adh Dha’îfah wa al Maudhû’ah</em>-nya. Lalu mengapakah sekarang mendadak ia dengan begitu gegabah dan mudah menaikkannya menjadi berstatus shahih dengan bantuan hadis lain</span>?! Sepertinya  Muhaddis Wahhabi Salafy yang satu ini terlalu royal dalam membagi-bagi status shahih kepada hadis di atas! mungkin karena ia menyesuai akidah yang sedang ia pertahankan sehingga kecintaan itu membutakan dan menulikannya?!</p>
<p><span style="text-decoration:underline;"><span style="color:#800000;">Betapa sering ia membantai hadis dikarenakan di dalam mata rantai sanadnya terdapat perawi yang satu ini; <em>Nu’iam ibn Hammâd</em>! </span></span>Saya tidak punya banyak waktu dan kesempatan untuk meneliti seluruh ketarangan Syeikh al Albani tentang status perawi yang satu ini. Namun saya akan mebuktikan kepada Anda bahwa betapa sering Syeikh Wahhabi Salafy ini kontradiksi antara satu pernyataan dan sikapnya dengan pernyataan dan sikapnya yang lain di kesempatan lain bahkan anehnya masih dalam satu kitab!!</p>
<p><strong>Syeikh al Albani menilai Nu’aim ibn Hammâd demikian:</strong></p>
<p>Ketika menerangkan status hadis dengan nomer 60: Nabi saw. bersabda: <em>“Aku memohon kepada Tuhanku tentang apa yang diperselisihkan oleh sahabat-sahabatku sepeninggalku nanti, maka Allah mewahyukan kepadaku, ‘Hai Muhammad, sesungguhnya para sahabatmu di sisi-Ku seperti kedudukan bintang-bintang, sebagiannya lebih terang dari sebagian lainnya. Maka barang siapa mengambil dengan apapu yang mereka jalankan dari perselisihan mereka maka di sisi-Ku ia berada di atas petunjuk.”</em></p>
<p><strong>Ia berkata, di antaranya:</strong></p>
<p><strong><span style="color:#800000;">“Hadis itu maudhû’ (palsu) …. </span></strong></p>
<p><span style="color:#800000;"><strong>“Sanad ini palsu</strong>.</span> <span style="color:#800000;"><em>Nu’aim ibn Hammâd</em> dha’if. Al Hafidz berkata, ‘Ia sering salah.”</span><a href="http://abusalafy.wordpress.com/wp-admin/#_ftn39">[39]</a></p>
<p>Kertika menerangkan hadis dengan nomer 231 ia mencacatnya karena di antara perawinya adalah <em>Nu’aim ibn Hammâd</em>. Ia berkata, <span style="color:#800000;"><strong>“Hadis palsu/<em>maudhû’.</em>”</strong></span></p>
<p><span style="color:#800000;">.<em>. Nu’aim ibn Hammâd</em> me<em>mutaba’ai</em> hadis Abu Zakaria, dan ia (Nu’aim) <em>laisa</em> <em>bitsiqati</em> (tidak tsiqah).”</span><a href="http://abusalafy.wordpress.com/wp-admin/#_ftn40">[40]</a></p>
<p>Ketika men<em>takhrij</em> hadis dengan nomer 684 ia berkata, “Hadis dha’if… hadis itu didha’ifkan oleh at Turmudzi dengan kata-kata, ‘Ia hadis <em>gharîb</em>, kami tidak mengenalnya kecuali dari riwayat <span style="text-decoration:underline;"><em>Nu’aim ibn Hammâd.</em>’</span> Abu Nu’aim berkata, ‘Nu’aim menyendiri dengan meriwayatkannya.’</p>
<p><strong><span style="color:#800000;">Aku (Albâni) berkata,</span></strong> <span style="color:#800000;"><em>‘Ia adalah parawi yang dha’if karena banyak kesalahan dan kekeliruannya, sampai-sampai Abu Daud berkata, ‘Ia punya sekitar dua puluh hadis yang tidak punya asal muasalnya… ‘</em></span>”<a href="http://abusalafy.wordpress.com/wp-admin/#_ftn41">[41]</a></p>
<p>Ketika men<em>takhrij </em>hadis dengan nomer 782 ia menegaskan kembali bahwa <span style="text-decoration:underline;"><em>Nu’aim</em></span> adalah dha’if.<a href="http://abusalafy.wordpress.com/wp-admin/#_ftn42">[42]</a></p>
<p>Ketika men<em>takhrij</em> hadis dengan nomer 825 ia menegaskan bahwa hadis itu munkar.<strong> Aku (Albani) berkata</strong>, <span style="color:#800000;"><span style="text-decoration:underline;">‘Sanad hadis ini sangat rapuh/<em>wâhin jiddan</em>. </span>Disamping kemursalannya, di dalamnya terdapat <span style="text-decoration:underline;"><em>Nu’aim ibn Hammâd</em>,</span> ia sangat dha’if/<em>dha’îfun</em> <em>jiddan</em>.’</span>”<a href="http://abusalafy.wordpress.com/wp-admin/#_ftn43">[43]</a></p>
<p>Dan ketika men<em>takhrij</em> hadis dengan nomer957<span style="color:#800000;"> ia juga menegaskan bahwa<span style="text-decoration:underline;"> Nu’aim</span> dha’if</span>.<a href="http://abusalafy.wordpress.com/wp-admin/#_ftn44">[44]</a></p>
<p><strong>Kedua,</strong> para pakar ulama ahli hadis yang menyebut biodata <em><span style="text-decoration:underline;">Nu’aim ibn Hammâd</span></em> hampir semua mencacat kualitas dan kepribadiannya.</p>
<p><strong>Nu’aim ibn Hammâd di Mata Ulama Ahli Hadis</strong></p>
<p>Imam an Nasa’i berkata, “<em>Ia dha’if.”</em><a href="http://abusalafy.wordpress.com/wp-admin/#_ftn45">[45]</a> Ia juga berkata, <em>“Ia tidak tsiqah.”</em></p>
<p>Shaleh ibn Jazrah, <em>“Ia memiliki banyak hadis munkar. Ia tidak dimutaba’ai atas hadis-hadisnya itu.”</em> Demikian disebutkan al Khathib dalam Târîkh Baghdâd,13/306.</p>
<p>Ibnu Ma’in berkata, <em>“Dalam (duna periwayatan) hadis ia bukan apa-apa/tidak bernilai.”</em><a href="http://abusalafy.wordpress.com/wp-admin/#_ftn46">[46]</a></p>
<p>Bebepara ulama lainnya, seperti <em>al Azdi </em>–sebagaimana dinukil <em>Ibnu Jauzi </em>dalam <em>adh Dh’afâ’ wa al Matrûkîn</em>,3/163- dan <em>Mighlâthi </em>–sebagaimana termaktub dalam <em>Ikmâl Tahdzîb al Kamâl</em>,12/65 berkata, <em>“Adalah Nu’aim memalasu hadis untuk menguatkan sunnah (mazhabnya) dan kisah-kisah yang mengecam Abu Hanifah.”</em></p>
<p>Lebih lanjut baca: Mîzân al I’tidâl dan at Tahdzîb!</p>
<p><span style="text-decoration:underline;">Setelah ini semua adalah sikap yang sangat aneh dan mengundang tanda tanya besar apabila sekarang <em>Syeikh Albani</em> mengantrol secara berlebihan status hadis tersebut menjadi<em> shahih lighairihi</em>, sebuah istilah yang digunakan untuk status hadis hasan yang dikatrol dengan beberapa alasan menjadi hadis shahih. Bukan hadis dha’if yang sangat bermasalah karena di antara para perawinya <em>dha’if jiddan</em>!!</span></p>
<p>Apa yang saya paparkan di sini sekali mempertegas kenyataan bahwa memang Syeikh ahli hadis kebanggaan para alim, setengah alim setengah awam dan kaum awam yang sok alim dari sekte Salafi Wahhabi Mujassim benar-benar sering linglung!! Apa yang saya katakana ini bukan berlebihan dan bukan mengejak! Tapi ia menjelaskan hakikat sesungguhnya!!</p>
<p><span style="color:#800000;">Dan selain <em>Nu’aim ibn Hammâd </em>yang bermasalah dalam sanad riwayat di atas, juga terdapat nama lain seperti <em>Sa’îd ibn Abu Hilâl </em>yang juga dikenal dha’if dan sebagai mudallis, sengaja tidak saya bicarakan di sini demi ringkasnya kajian.</span></p>
<p>Apa yang dilakukan <em>Syeikh Albani</em> dengan hanya menfokuskan perhatiannya kepada <em>Marwan ibn Utsman</em> dan <em>Umarah </em>adalah usaha melarikan diri dari borok asli riwayat di atas! selain itu, <em>Syeikh Albani</em> mendasarkan pemberian status shahih lighairihi untuk hadis di atas kepada hadis sebelumnya yaitu hadis yang ia takhrij dengan nomer 470. pendongkrakan status selain menayalahi aturan yang telah dibangun dengan rapi oleh para pakar dan ulama hadis, juga terkesan kucing-kucingan, di mana di sini ia berkata, <strong>“</strong><strong>Hadits shahih dengan penguat hadits sebelumnya.” </strong>Sebab hadis itu ternyata ia shahihkan dengan bantaun hadis-hadis lain juga. Atau jika redaksi <em>Albani </em>bermakna seperti yang diterjemahkan oleh saudara Abu jauzâ’: <span style="text-decoration:underline;">“Hadits shahih dengan penguat <strong>hadits-hadits</strong></span> sebelumnya.” maka ia juga tidak berdasar. Selain itu kita pun perlu meneliti apakah ternyata penshahihan atau penetapan status hasan untuk beberapa hadis yang ia <em>takhrij</em> itu sudah memenui standar baku yang ditetapkan para ulama dan berlaku di kalangan mereka atau ia sekedar penelitian yang kurang teliti atau terkesan memaksakan?<strong> </strong></p>
<p><span style="color:#800000;"><span style="color:#000000;">Saya berharap para ustadz Wahhabi Salafy tidak keberatan dan balik menghujat dengan berkata<span style="color:#0000ff;"> </span></span><span style="color:#0000ff;"><span style="text-decoration:underline;">–seperti kebiasaan kekanak-kanakan sebagian dari mereka-: Apakah engkau hai Abu Salafy merasa lebih alim dari Syeikh kami Albani?</span></span> <span style="text-decoration:underline;"><span style="color:#800000;">Masalahnya bukan siapa lebih atau kalah di banding siapa! Tetapi –seperti sering kali dinasihatkan oleh <em>Syeikh Albani </em>sendiri- agar pencari kebanaran tidak bertaklid buta mengikuti kesalahan ulama betapapun ia agung dan mulia, sebab kebenaran lebih berhak diikuti!</span></span></span></p>
<p>Karenanya kami akan meneliti hadis-hadis  tersebut.</p>
<p>Sebelumnya telah kami sebutkan panjang lebar pernyataan para ulama dan pakar tentang kualitas <em>Nu’aim ibn Hammâd, Marwân ibn Utsman</em> dan <em>Umârah</em>, jadi tidak perlu lagi diulang di sini.</p>
<p>Hanya saja yang perlu dipertanyakan adalah menyematakn status shahih ligharihi untuk hadis di atas oleh Albani adalah kesalahan besar!</p>
<p><a href="http://abul-jauzaa.blogspot.com/2009/06/pembahasan-hadits-ummu-ath-thufail.html" target="_blank"><strong>Abu Jauzâ’ berkata:</strong></a></p>
<blockquote><p>Kembali kepada Asy-Syaikh Al-Albani,…… untuk memahami perkataan beliau bahwa riwayat yang dibawakan oleh Ibnu Abi ‘Aashim dalam <em>As-Sunnah </em>(no. 471) menjadi kuat atas hadits-hadits yang disebutkan sebelumnya, tentu saja kita harus melihat beberapa hadits yang dianggap menguatkan tersebut. Tujuannya adalah untuk menentukan: <span style="text-decoration:underline;">Apakah riwayat shahih (<em>li-ghairihi</em>) yang dimaksudkan itu sebatas kalimat: <em>“Aku telah melihat Rabb-ku dalam mimpiku dalam wujud/bentuk yang paling baik</em>” ; ataukah dengan lafadh lengkap sebagaimana disebutkan di awal perbincangan ?</span></p>
<p>Akan saya sebut hadits-hadits tersebut secara ringkas [tanpa menuliskan komentar Asy-Syaikh Al-Albani <em>rahimahullah </em>untuk masing-masing hadits– dan silakan memperhatikan kalimat yang saya <strong>cetak tebal</strong>]:</p>
<h3>465 &#8211; ( حسن ) ثنا أبو بكر بن أبي شيبة ثنا يحيى بن أبي بكير ثنا إبراهيم ابن طهمان ثنا سماك بن حرب عن جابر بن سمرة قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم <span style="text-decoration:underline;">إن الله تعالى تجلى لي في أحسن صورة</span> فسألني فيما يختصم الملأ الأعلى قال قلت ربي لا أعلم به قال فوضع يده بين كتفي حتى وجدت بردها بين ثديي أو وضعهما بين ثديي حتى وجدت بردها بين كتفي فما سألني عن شيء إلا علمته</h3>
<p>465 – (Hasan)</p>
<p>Telah menceritakan kepada kami Abu Bakr bin Abi Syaibah: Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Bakiir: Telah menceritakan kepada kami Ibrahim bin Thahmaan: Telah menceritakan kepada kami Sammaak bin Harb, dari Jabir bin Samurah, ia berkata: Telah bersabda Rasulullah <em>shallallaahu ‘alaihi wa sallam:</em> <em>“<strong>Sesungguhnya Allah ta’ala menampakkan diri kepadaku dalam sebaik-baik bentuk</strong><span style="text-decoration:underline;">.</span> Maka Dia bertanya kepadaku: ‘Apakah yang diperbantahkan oleh Al-Malaul-A’la (para malaikat)?’ Aku berkata: “Wahai Rabb-ku, aku tidak mengetahuinya’. Maka Dia meletakkan tangan-Nya di antara dua pundakku hingga aku merasakan dinginnya di antara dua dadaku’. </em>Atau:<em> Dia meletakkan dua tangan-Nya di antara dua dadaku hingga aku merasakan dinginnya di antara dua pundakku. Tidaklah Dia bertanya kepadaku tentang sesuatu kecuali aku mengetahuinya”</em>.</p></blockquote>
<p><strong>Abu Salafy berkata:</strong></p>
<p><span style="text-decoration:underline;"><span style="color:#800000;">Pada jalur riwayat di atas setidaknya terdapat dua parawi cacat bermasalah, yaitu <em>Ibrahim ibn Thahmân</em> dan<em> Simâk ibn Harb.</em></span></span></p>
<p><strong>Ibrahim ibn Thahmân Di Mata Ulama</strong></p>
<p><em>Al hafidz Muhammad ibn Abdullah ibn Ammar al Mûshili </em>berkata, “Ia <em>dha’if, muththaribul hadîts</em>/ia lemah, kacau hadisnya.”<a href="http://abusalafy.wordpress.com/wp-admin/#_ftn47">[47]</a> Dalam kitab<em> at Tahdzîb</em> dinukil pernyataan <em>Ibnu Hibbân</em> bahwa ia sering menyendiri dalam meriwayat atas nama orang-orang <em>tsiqât</em> (jujur lagi tterpercaya) hadis-hadis ruwet/<em>mu’dhalât</em>.”<a href="http://abusalafy.wordpress.com/wp-admin/#_ftn48">[48]</a></p>
<p><strong>Simâk ibn Harb Di Mata Ulama</strong></p>
<p>Adapun tentang <em>Simâk ibn Harb</em>, <em>Sufyan ts Tsauri</em> dan <em>Syu’bah</em> mendha’ifkannya. Demikian diterangkan al Khathib al Baghdadi dan Ibnu Jauzi.<a href="http://abusalafy.wordpress.com/wp-admin/#_ftn49">[49]</a> Imam Ahmad berkata, “Ia <em>muththarib</em> hadisnya.”<a href="http://abusalafy.wordpress.com/wp-admin/#_ftn50">[50]</a> Shaleh ibn Jazrah berkata, “Ia didha’ifkn/<em>yadha’af</em>.”<a href="http://abusalafy.wordpress.com/wp-admin/#_ftn51">[51]</a></p>
<p><em>Ibnu Mubarak</em> berkata, “Ia dha’if.”<a href="http://abusalafy.wordpress.com/wp-admin/#_ftn52">[52]</a></p>
<p><em>Al bazzâr </em>berkata, “Sebelum mati ia berubah hafalannya.”<a href="http://abusalafy.wordpress.com/wp-admin/#_ftn53">[53]</a></p>
<p><em>Ibnu Hibbâb</em> berkata, “Ia banyak salah.”<a href="http://abusalafy.wordpress.com/wp-admin/#_ftn54">[54]</a></p>
<p>Selengkapnya keterangan dan komentar ulama tentang keduanya dapat Anda baca dalam <em>Mîzân al I’tidâl </em>dan <em>Tahdzîb at Tahdzîb</em>.</p>
<p><span style="text-decoration:underline;"><strong>Abu Salafy berkata:</strong></span></p>
<p>Dengan memerhatikan keterangan para ulama sulit rasanya membenarkan ketetapan status hasan yang diberikan Syeikh Akbani untuk hadis ini.</p>
<p>Jadi benarlah apa yang ditegaskan para ulama seperti Ibnu Jauzi, al Baihaqi dan lainnya bahwa hadis ini dari berbagai jalurnya adalah dh’aif dan <em>muththarib</em>!!</p>
<p><strong>Kekacauan Sikap Syeikh Albani Dalam Mentakhrij Hadis! </strong></p>
<p><span style="text-decoration:underline;"><span style="color:#800000;">Banyak ulama melihat bahwa Syeikh Albani sering kali berbenturan antara keterangan-keterangannya tentang satu hadis atau satu parawi. Di sebuah kali ia mendha’ifkan dan/atau mencacat parawinya kemudian di kesempatan lain ia memuji dan atau menshahihkan hadisnya.</span></span></p>
<p>Mungkin apa yang saya katakana ini dirasa berat oleh kaum Salafiyah yang muta’ashshibîn (fanatik buta) kepada Syeikh mereka! Namun inilah kenyataannya!</p>
<p><span style="text-decoration:underline;"><span style="color:#800000;">Di bawah ini saya ajak Anda memerhatikan dua ketarangan yang ganjil dari <em>Syeikh Albani </em>tentang dua hadis yang diriwayatkan dari jalur yang sama, namum untuk yang satu ia katakana: Shahih lighairih (seperti pada hadis dengan nomer 471 yang disebutkan saudara kami Abu Jauzâ’) sementara di tempat lain ia menvonis maudhû’ (palsu) hadis dengan jalur yang sama tersebut.</span></span></p>
<p><a href="http://abul-jauzaa.blogspot.com/2009/06/pembahasan-hadits-ummu-ath-thufail.html" target="_blank"><strong>Perhatikan apa yang dikatakan Abu Jauzâ’:</strong></a></p>
<blockquote><p>Begitu pula dengan Asy-Syaikh Al-Albani <em>rahimahullah </em>menegaskan kepalsuannya dalam kitab <em>Adl-Dla’iifah</em>:</p>
<h3>6371 &#8211; ( رأيتُ ربي &#8211; وفي لفظٍ: رأى ربَّه تعالى &#8211; في المنام في أحسنِ صورةٍ ، شاباً موقَّراً ، رِجلاه في خُفٍّ ، عليه نعلانِ من ذهبٍ ، على وَجْهِهِ فراشٌ من ذهبٍ ).</h3>
<h3>موضوع .</h3>
<h3>أخرجه الخطيب في &#8220;التاريخ&#8221; (13 / 311) من طريق نعيم بن حماد: حدثنا ابن وهب: حدثنا عمرو بن الحارث عن سعيد بن أبي هلال عن مروان بن عثمان عن عمارة بن عامر عن أم الطفيل &#8211; امرأة أُبَيّ &#8211; أنها سمعت النبي صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يذكر أنه رأى ربه &#8230; الحديث .</h3>
<p>“6371 – <em>“Aku telah melihat Rabb-ku </em>– dalam lafadh yang lain: <em>“Beliau telah melihat Rabb-nya ta’ala – dalam mimpinya sebaik-baik bentuk: seorang pemuda terhormat, kedua kakinya memakai sandal yang terbuat dari emas, di atas wajah-Nya terdapat faraasy dari emas”</em>.</p>
<p><strong><em>Maudlu’ </em></strong><strong>(palsu)</strong></p>
<p>Dikeluarkan oleh Al-Kahthiib dalam <em>At-Taariikh</em> (13/311) dari jalan Nu’aim bin Hammad: Telah menceritakan kepada kami ‘Amru bin Al-Haarits, dari Sa’iid bin Abi Hilaal, dari Marwaan bin ‘Utmaan, dari ‘Umaarah bin ‘Aamir, dari Ummu Ath-Thufail – istri Ubay – bahwasannya ia pernah mendengar Nabi <em>shallallaahu ‘alaihi wa sallam</em> menyebutkan diri beliau pernah melihat Rabb-nya….. (al-hadits)”</p>
<p>[lihat selengkapnya dalam <em>Silsilah Adl-Dla’iifah </em>13/819-823 no. 6371].</p></blockquote>
<p><span style="text-decoration:underline;"><span style="color:#800000;">Di sini hadis dengan jalur tersebut ia vonis sebagai palsu/maudhû’! Kemudian coba perhatikan sanad/jalur hadis dengan nomer 471 yang disebutkan Abu Jauzâ’ di bawah ini:</span></span></p>
<p><span style="text-decoration:underline;"><span style="color:#800000;"><br />
</span></span></p>
<blockquote>
<h3>471 &#8211; ( صحيح لغيره ) ثنا اسماعيل بن عبدالله ثنا نعيم بن حماد ويحيى بن سليمان قالا حدثنا عبدالله بن وهب عن عمرو بن الحارث عن سعيد بن أبي هلال حدثه أن مروان بن عثمان حدثه عن عمارة بن عامر عن أم الطفيل امرأة أبي بن كعب قال سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول <span style="text-decoration:underline;">رأيت ربي في المنام في أحسن صورة</span> وذكر كلاما</h3>
<p>“471 – (Shahih lighairihi)</p>
<p>Telah menceritakan kepada kami Ismaa’iil bin ‘Abdillah: Telah menceritakan kepada kami Nu’aim bin Hammaad dan Yahya bin Sulaimaan, mereka berdua berkata: Telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah bin Wahb, dari ‘Amr bin Al-Haarits, dari Sa’iid bin Abi Hilaal telah menceritakannya: Bahwasannya Marwaan bin ‘Utsmaan telah menceritakannya, dari ‘Umaarah bin ‘Aamir, dari Ummu Ath-Thufail istri Ubay bin Ka’b, ia berkata: Aku mendengar Rasulullah <em>shallallaahu ‘alaihi wa sallam </em>bersabda: <em>“Aku telah melihat Rabb-ku dalam mimpiku dalam wujud/bentuk yang paling baik</em>” dan kemudian beliau menyebutkan satu perkataan [selesai].</p></blockquote>
<p><span style="text-decoration:underline;"><strong>Abu Salafy berkata:</strong></span></p>
<p><strong>Coba perhatikan sekali lagi nama-nama perawi dalam dua sanad tersebut! Pada keduanya kita menemukan nama-nama:</strong></p>
<p>1)    Nu’aim ibn Hammâd.</p>
<p>2)    Abdullah ibn Wahab (Ibnu Wahab).</p>
<p>3)    Amr ibn al Hârits.</p>
<p>4)    Sa’id ibn Abi Hilâl.</p>
<p>5)    Marwân ibn Utsman.</p>
<p>6)    Umârah.</p>
<p><strong><span style="text-decoration:underline;"><span style="color:#800000;">Keenam nama parawi ini juga yang terlibat dalam meriwayatkan hadis yang ia shahihkan! Bukankah aneh di sana ia menshahihkan dan di sini ia menvonis maudhû’!!</span></span></strong></p>
<p>Anda berhak bertanya kepada Syeikh dan para pemujanya, sebenarnya yang ia andalkan dalam menetapkan status sebuah hadis itu apa? Apakah sanad/jalur periwayatannya yang menentukan status itu? Atau matan dan kandungannya? Jika sanad yang menjadi pengandalannya maka dalam kedua jalur itu sanadnya telah tercoreng dengan nama-nama parawi super bermasalah! Jika matannya, maka pada kedua riwayat itu juga memuat kemustahilan bagi Dzat Allah SWT!</p>
<p>Untuk sementara saya tidak menvonis bahwa <em>Syeikh Albani </em>sedang kontradiksi antara dua sikap dan keputusannya itu. Saya serahkan kepada para pemujanya dan saya nantikan keterangan lebih lanjut dari mereka khususnya saudara kami yang terhormat Abu Jauzâ’.</p>
<p><strong>Akhirul Kalam</strong></p>
<p>Akhirnya untuk sementara kami cukupkan tanggapan kami atas keberatan sebagian teman-taman Salafi Wahhabi atas artikel kami.<strong><em> </em></strong></p>
<p><strong><em>Wallahu A’lam .</em></strong><strong> </strong></p>
<p><span style="color:#ff0000;"><strong>(Selesai)</strong></span><strong> </strong></p>
<hr size="1" /><a href="http://abusalafy.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref33">[33]</a> Pada awalnya saya bermaksud menyoroti hasil takhrîj Syeikh Albani seperti yang dinukil saudara kita Ustadz Abu Jauzâ’, akan tetapi untuk menghemat waktu dan tenaga saya untuk pekerjaan yang lebih berguna, niatan itu saya batalkan dan saya hanya akan menyoroti beberapa saja.</p>
<p><a href="http://abusalafy.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref34">[34]</a> <em>I’tibâr</em> adalah upaya yang dilakukan untuk mengenali kondisi dan status hadis, apakah ia hanya riwayata tunggal tidak ada riwayat lain yang menyamainya atau mendukungnya. Tindakan itu dilakukan dengan meneliti hadis riwayat seorang parawi dengan membandingkannya dengan riwayat para parawi lain apakah ada yang menyertainya dalam meriwayatkan hadis tersebut dari gurunya atau tidak? Tindakan ini disebut dengan istilah mutâba’ah. Jika tidak ada, maka diperhatikan kembali apakah ada hadiis erupa walaupun tidak dari gurunya yang juga diriwayatkan oleh parawi lain? Jika ditemukan maka ia disebut syâhid, dan berarti hadis yang sedang diteliti itu bunya syâhid (bentuk jamaknya syawâhid). Lebih lanjut perhatikan Tadrîb ar Râwi,1/242 dan berbagai kitab <em>Mushthalahul Hadits</em> lainnya.</p>
<p><a href="http://abusalafy.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref35">[35]</a> Tadrîb ar Râwi,1/345-347.</p>
<p><a href="http://abusalafy.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref36">[36]</a> Ibnu Hajar al Asqallani maksudnya.</p>
<p><a href="http://abusalafy.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref37">[37]</a>Tadrîb ar Râwi,1/177.</p>
<p><a href="http://abusalafy.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref38">[38]</a> Seperti telah saya katakan sebelumnya bahwa saya akan kembali membincangkan kualitas Nu’aim ibn Hammâd dan beberapa perawi lain dalam sanad riwayat tersebut!</p>
<p><a href="http://abusalafy.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref39">[39]</a> Silsilah al Ahâdîts adh Dha’îfah wa al Maudhû’ah,1/81.</p>
<p><a href="http://abusalafy.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref40">[40]</a> Ibid.265.</p>
<p><a href="http://abusalafy.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref41">[41]</a> Ibid,2/129.</p>
<p><a href="http://abusalafy.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref42">[42]</a> Ibid.199.</p>
<p><a href="http://abusalafy.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref43">[43]</a> Ibid.227.</p>
<p><a href="http://abusalafy.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref44">[44]</a> Ibid.374.</p>
<p><a href="http://abusalafy.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref45">[45]</a> Adh Dhu’afâ’ wa al Matrûkîn:234/617.</p>
<p><a href="http://abusalafy.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref46">[46]</a> Tahdzîb al Kamâl; al Mizzi,29/466.</p>
<p><a href="http://abusalafy.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref47">[47]</a> Adh Dhu’afâ’ wa al Matrûkîn,1/36.</p>
<p><a href="http://abusalafy.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref48">[48]</a> Baca juga ats Tsiqaât,6/27.</p>
<p><a href="http://abusalafy.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref49">[49]</a> Târîkh Baghdâd,3/236 dan adh Dhu’afâ’ wa al Matrûkîn,2/26.</p>
<p><a href="http://abusalafy.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref50">[50]</a> Al Jarh wa at Ta’dîl; Ibnu Abi Hatim,4/279.</p>
<p><a href="http://abusalafy.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref51">[51]</a> Demikian disebutkan al Khathib dalam Târîkh-nya,9/214 dan al Mizzi dalam Tahdzîb al Kamâl,12/115.</p>
<p><a href="http://abusalafy.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref52">[52]</a> Tahdzîb al Kamâl,12/115.</p>
<p><a href="http://abusalafy.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref53">[53]</a> Ikmâl Tahdzîb al Kamâl,6/109.</p>
<p><a href="http://abusalafy.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref54">[54]</a> Ats Tsiqât,4/339.</p>
<p><span style="color:#ff0000;"><strong>__________________________________</strong></span></p>
<p><span style="color:#ff0000;"><strong>Artikel Sebelumnya</strong></span></p>
<ol>
<li><a href="http://abusalafy.wordpress.com/2009/09/21/bantahan-atas-abu-jauza%E2%80%99-dan-para-wahhabiyyun-mujassimun-musyabbihun-1/" target="_blank">Bantahan Atas Abu Jauzâ’ Dan Para Wahhâbiyyûn-Mujassimûn Musyabbihûn! (1)</a></li>
<li><a href="http://abusalafy.wordpress.com/2009/09/28/bantahan-atas-abu-jauza%E2%80%99-dan-para-wahhabiyyun-mujassimun-musyabbihun-2/" target="_blank">Bantahan Atas Abu Jauzâ’ Dan Para Wahhâbiyyûn-Mujassimûn Musyabbihûn! (2)</a></li>
<li><a href="http://abusalafy.wordpress.com/2009/10/21/bantahan-atas-abu-jauza%E2%80%99-dan-para-wahhabiyyun-mujassimun-musyabbihun-3/" target="_blank">Bantahan Atas Abu Jauzâ’ Dan Para Wahhâbiyyûn-Mujassimûn Musyabbihûn! (3)</a></li>
<li><a href="http://abusalafy.wordpress.com/2009/10/21/bantahan-atas-abu-jauza%E2%80%99-dan-para-wahhabiyyun-mujassimun-musyabbihun-4/" target="_blank">Bantahan Atas Abu Jauzâ’ Dan Para Wahhâbiyyûn-Mujassimûn Musyabbihûn! (4)</a></li>
</ol>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/abusalafy.wordpress.com/561/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/abusalafy.wordpress.com/561/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/abusalafy.wordpress.com/561/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/abusalafy.wordpress.com/561/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/abusalafy.wordpress.com/561/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/abusalafy.wordpress.com/561/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/abusalafy.wordpress.com/561/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/abusalafy.wordpress.com/561/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/abusalafy.wordpress.com/561/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/abusalafy.wordpress.com/561/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abusalafy.wordpress.com&blog=1269412&post=561&subd=abusalafy&ref=&feed=1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abusalafy.wordpress.com/2009/10/22/bantahan-atas-abu-jauza%e2%80%99-dan-para-wahhabiyyun-mujassimun-musyabbihun-5/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>58</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/dcc398e7d74a34e59c3d59ffcc0673ff?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">abusalafy</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Bantahan Atas Abu Jauzâ’ Dan Para Wahhâbiyyûn-Mujassimûn Musyabbihûn! (4)</title>
		<link>http://abusalafy.wordpress.com/2009/10/21/bantahan-atas-abu-jauza%e2%80%99-dan-para-wahhabiyyun-mujassimun-musyabbihun-4/</link>
		<comments>http://abusalafy.wordpress.com/2009/10/21/bantahan-atas-abu-jauza%e2%80%99-dan-para-wahhabiyyun-mujassimun-musyabbihun-4/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 21 Oct 2009 02:31:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abusalafy</dc:creator>
				<category><![CDATA[Akidah Tajsim & Tasybih]]></category>
		<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[Kajian Hadis]]></category>
		<category><![CDATA[Manhaj]]></category>
		<category><![CDATA[Menjawab Blog Wahabi/Salafy]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abusalafy.wordpress.com/?p=552</guid>
		<description><![CDATA[Bantahan Atas Abu Jauzâ’ Dan Para Wahhabiyyûn-Mujassimûn Musyabbihûn (4)! 
Persembahan Untuk Abu Jauzâ’ dan Teman-teman Salafi Wahhabi

Bincang Bersama Abu Jauza -Hadis Melihat Tuhan- (4)

 
“Kedunguan” Sebagian Ahli Hadis!
Di antara kedunguan sebagia Ahli Hadis seperti yang dikeluhkan pakar dan ahli hadis kreatif Sibtu Ibnu Jauzi dan para ulama muhaqqiqîn lainnya adalah bahwa mereka hanya pandai memelototi [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abusalafy.wordpress.com&blog=1269412&post=552&subd=abusalafy&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<br /><p><span style="color:#800000;"><strong>Bantahan Atas Abu Jauzâ’ Dan Para Wahhabiyyûn-Mujassimûn Musyabbihûn (4)!</strong></span><span style="color:#003366;"><strong> </strong></span></p>
<p><span style="color:#003366;"><strong>Persembahan Untuk Abu Jauzâ’ dan Teman-teman Salafi Wahhabi</strong></span></p>
<p><strong><br />
<span style="color:#003366;">Bincang Bersama Abu Jauza</span> <a href="http://abul-jauzaa.blogspot.com/2009/06/pembahasan-hadits-ummu-ath-thufail.html" target="_blank">-Hadis Melihat Tuhan- (4)</a><br />
</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><span style="color:#000000;"><strong>“Kedunguan” Sebagian Ahli Hadis!</strong></span></p>
<p>Di antara kedunguan sebagia Ahli Hadis seperti yang dikeluhkan pakar dan ahli hadis kreatif <em>Sibtu Ibnu Jauzi </em>dan para ulama muhaqqiqîn lainnya adalah bahwa mereka hanya pandai memelototi sanad dan alpa kemungkaran, kesesatan dan kemustahilan yang sering kali termuat dalam hadis yang sedang ia shahihkan baik secara langsung maupun dengan bantaun riwayat-riwayat dari jalur lain! Hal itu disebabkan kelemahan pada nalar dan istimbâth (penyimpulan bertanggung jawab) mereka!</p>
<p>Di sampin “kesibukan dungu” terhadap memburu riwayat dan membanggakan sanad menjadikan mereka alpa dan buta terhadap ayat-ayat Al Qur’an yang muhkamât! Mereka menelan mentah-mentah riwayat seakan ia adalah wahyu suci yang pasti yang baru turun dari langit dengan kawalan ketat para malaikat as.!</p>
<p>Perhatikan keluh kesah ulama dan pakar hadis kondang <em>Sibthu Ibnu Jauzi </em>terhadap penyakit kedunguan yang sedang diindap oleh sebagian yang menamakan diri sebagai ulama ahli hadis, <strong>beliau berkata:</strong></p>
<p><strong><span id="more-552"></span><br />
</strong></p>
<p>“Adapun orang yang inti jiwanya kurang (tidak sempurna) ia akan berhenti pada ilmu apa yang sesuai dengan inti jiwanya. Kami menyaksikan orang yang menghabiskan umurnya hanya untuk mencari-cari <em>qiraât</em> yang <em>syâdzah</em> (menyimpang) sehingga luput darinya hal yang penting yaitu pemahaman ayat.</p>
<p>Dan kami juga menyaksikan orang yang menghabiskan umurnya hanya mencari hadis-hadis <em>gharîb</em> (yang aneh-aneh) dan menyimpang, ia tidak mencampurnya dengan pengetahuan akan asal usulnya dan <em>fiqh</em>/pemahamannya, tidak pula membedakan antara yang shahih dan yang sakit (berpenyakit/lemah/palsu).</p>
<p>Ia memikul beban perjalanan jauh, lalu jika diajukan kepada sebuah perkara, ia terpaksa butuh bertanya kepada seorang ahli fikih muda untuk jawabannya. Dan adalah sebuah cela memalukan bagi seorang Syeikh yang meriwayatkan untuk para ahli fikih sebuah hadis yang ia sendiri tidak mengetahuinya apakah ia shahih atau tidak! Lalu ia ditanya tentang apa saja perkara yang membatalkan wudhu’ maka ia tidak mengatahui apa yang harus ia katakan!</p>
<p>Berapa banyak ahli hadis yang menghabiskan umur mereka dalam mencari-cari keunikan dan keanehan hadis sehingga mereka ketinggalan tidak sempat menghafal Al Qur’an, pengetahuan tentang apa yang wajib ‘<em>aini</em> atas mereka…..</p>
<p>Adapun kesibukan mereka dari mendalami makna hadis disebabkan kesibukan mereka mencari hadis-hadis <em>syâdz</em>, maka telah dikisahkan banyak keanehan dari sikap mereka……&#8230; (setelahnya <em>Sibthu Ibnu Jauzi</em> menyebutkan beberapa kasus kedunguan sebagian mereka, di antaranya adalah kisah di bawah ini)…&#8230;.: Berkata <em>Abu Sulaiman al Khaththâbi</em><a href="http://abusalafy.wordpress.com/wp-admin/#_ftn27">[27]</a>, “Sebagian <em>masyâikh</em> (guru besar) hadis berkata, ‘Aku tidak bercukur rambut pada hari jum’at selama bertahun-tahun, sebab Rasulullah saw. melarang bercukur rambut pada hari jum’at.’ Maka aku katakan kepadanya, ‘Yang dilarang Nabi itu adalah <em>al hilaq </em>(duduk berhalaqah-halaqah/berjama’ah secara membundar) di hari jum’at, bukan <em>al halqu</em> (mencukur rambut di hari jum’at).’”</p>
<p>Dan hal ini akan panjang, maka kami cukupkan dengan menyebut sekelumit kasus.”<a href="http://abusalafy.wordpress.com/wp-admin/#_ftn28">[28]</a></p>
<p><strong>Cacatan Penting!</strong></p>
<p><a href="http://abul-jauzaa.blogspot.com/2009/06/pembahasan-hadits-ummu-ath-thufail.html" target="_blank">Pada hadis pendukung yang dibawakan Albâni dengan nomer 470 yang diandalkan Abu Jauzâ</a>’:</p>
<blockquote>
<h2 style="text-align:right;">- ( صحيح بشواهده ) ثنا عبيد الله بن فضالة ثنا عبدالله بن صالح ثنا معاوية بن صالح عن أبي يحيى عن أبي يزيد عن أبي سلام الأسود عن ثوبان قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم <span style="text-decoration:underline;">إن ربي أتاني الليلة في أحسن صورة</span> وفي هذه الأخبار ووضع يده بين كتفي</h2>
<p><strong>470 – (Shahih bi-syawaahidihi)</strong></p>
<p>Telah menceritakan kepada kami ‘Ubaidullah bin Fudlaalah: Telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah bin Shaalih: Telah menceritakan kepada kami Mu’awiyyah bin Shaalih, dari Abu Yahya, dari Abu Yaziid, dari Abu Salaam Al-Aswad, dari Tsaubaan, ia berkata: Telah bersabda Rasulullah <em>shallallaahu ‘alaihi wa sallam:</em> <em>“<strong>Sesungguhnya Rabb-ku pernah mendatangiku di satu malam dalam sebaik-baik bentuk</strong>”</em>. Dalam khabar ini disebutkan: <em>“Dan Dia meletakkan tangan-Nya di antara dua pundakku”</em>.</p></blockquote>
<p><span style="color:#800000;"><span style="text-decoration:underline;"><em>Albani</em> melakukan kesalahan ketika ia menetapkan status shahih dengan bantuan <em>syawâhid</em>-nya atas hadis di atas, sebagaimana ia juga salah ketika mengatakannya <em>shahih</em> dalam <em>takhrîj</em> hadis kitab <em>as Sunnah</em> karya <em>Ibnu Abi ‘Âshim</em></span></span>,<a href="http://abusalafy.wordpress.com/wp-admin/#_ftn29">[29]</a> <span style="text-decoration:underline;">sementara ia sendiri menvonis lemah<em> Abdullah ibn Shaleh</em>, dan ke-<em>majhul</em>-an <em>Abu Yahya</em> dan tidak di<em>-tsiqah</em>-kannya <em>Ghailân ibn Anas</em>; <em>Abu Yazid al Kalbi</em> oleh seorang hafidz pakar ilmu hadis pun! Disamping dalam kitab <em>Silsilah al Ahâdîts ash Shahîhah</em>-nya,1/40</span> <span style="text-decoration:underline;">ia menegaskan bahwa <em>Ghailân</em> adalah perawi yang <em>majhûlul hâl</em></span> (tidak dikenal data maupun kualitas kepribadiannya). Demikian juga dengan parawi-perawi lainnya dalam  sanad riwayat tersebut di atas, seperti: <em>Abu Sallâm al Aswad</em>, di mana ia tidak mendengarnya dari Tsawbân, seperti ditegaskan <em>Yahya ibn Ma’in</em> dan <em>Ali ibn al Madîni</em>. Ahmad berkata, “Aku tidak yakin ia pernah mendengar hadis dari Tsawbân.” Pernyataan serupa juga dikeluarkan oleh Abu Hatim, ia berkata, ‘Riwayatnya dari Tsawbân itu <em>mursalah</em>/terputus/ada mata ranpai yang tidak disebutkan.”<a href="http://abusalafy.wordpress.com/wp-admin/#_ftn30">[30]</a></p>
<p>Selain itu apa yang mendorong<em> al Albâni</em> untuk malu-malu menyebutkan redaksi lengkap hadis Tsaubân di atas yang akan membongkar kedok akidah <em>tajsiîm</em> kentalnya?</p>
<p><span style="color:#800000;"><span style="text-decoration:underline;">Jadi hadis itu terbelenggu dengan mata rantai cacat dan penyakit, lalu bagaimana ia katakan hadis shahih dengan bantuan hadis lain?! </span></span>Pengantrolan status terhadap hadis itu adalah tidak berdasar, seperti telah disinggung! Ia hanya dengan dorongan kegandrungan seorang <em>Mujasssim</em> untuk mencari-cari sesuatu yang dianggapnya dapat menjadi penguat atas akidah sesatnya!</p>
<p><span style="color:#800000;"><span style="text-decoration:underline;">Dan apa yang saya buktikan di atas sekali lagi cukup sebagai bukti bahwa kami tidak sembarangan ketika mengatakan bahwa Muhaddis kebanggaan kaum Wahhabi yang satu ini memang sering linglung! Di sebuah kesempatan ia mencacat seorang perawi kemudian di kesempatan lain ketika ia membutuhkan dukungaan riwayatnya, ia memuji dan mengandalkannya!</span></span></p>
<p><strong>Anggapan Tidak Berdasar!</strong></p>
<p>Ada sebuah anggapan yang mungkin menipu sebagian orang bahwa jika sebuah hadis telah diriwayatkan dengan banyak jalur maka itu dapat membuktikan keshahihannya! Anggapan itu jelas tidak berdasar. Allah dan rasul-Nya tidak pernah menetapkan kaidah seperti itu. Kepalsuan tetap saja kepalsuan, betatapun ia dikisahkan dengan banyak jalur!</p>
<p>Berbilangnya jalur periwayatan sama sekali tidak akan dapat dijadikan alasan untuk mengatrol status sebuah hadis jika kandungannya termasuk yang dipastikan kemustahilannya dalam pandangan akal sehat dan syari’at seperti hadis kisah <em>Gharâniq</em> yang mengatakan bahwa setan telah menyisipkan bisikannya kepada Nabi Muhammad saw. sehingga beliau tidak mampu membedakannya dari ayat suci Al Qur’an firman Allah SWT!  Berbilangnya jalur periwayatan tidak bernilai sedikitpun dalam kasus seperti itu! Demikian ditegaskan<em> Syeikh Muhammad Rasyîd Ridha</em>.<a href="http://abusalafy.wordpress.com/wp-admin/#_ftn31">[31]</a></p>
<p>Jadi sekali lagi, apa yang dilakukan sebagian kaum Mujassimah dengan menghimpun berbagai jalur riwayat hadis <em>Shûrah</em> yang mengatakan bahwa Nabi saw. melihat Allah dalam seindah-indahnya bentuk .. usaha itu sama sekali tidak berguna!<strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><span style="color:#800000;"><strong>Abu Jauzâ Mengakui Allah SWT Benbentuk!</strong></span></p>
<p>Dari paparan dan uraian serta terjemahan atas hadis-hadis yang ia kutip dalam artikelnya, saudara <strong>Abu Jauzâ’</strong> dengan tanpa malu-malu dan bertaqiyah mengatakan bahwa Allah ber-<em>shûrah</em> (berbentuk)…. Dan meletakkan telapak tangan-Nya di pundak nabi saw. sehingga dingin tangan Allah terasa sampai menembus dada beliau saw. Bahkan kata yang menunjukkan Tajsîm kental itu dalam setiap riwayat itu sengaja ia cetak dengan huruf tebal:</p>
<blockquote><p><em><span style="text-decoration:underline;">‘</span></em><strong><em>Aku melihat Rabb-ku dalam sebaik-baik bentuk</em></strong><em>”</em>.</p>
<p><em>“<strong>Sesungguhnya Allah ta’ala menampakkan diri kepadaku dalam sebaik-baik bentuk</strong><span style="text-decoration:underline;">…</span></em></p>
<p><em>“<strong>Rabb-ku pernah mendatangiku pada satu malam dalam sebaik-baik bentuk</strong>”</em>….</p>
<p><strong><em>Tiba-tiba aku berjumpa Rabb-ku dalam sebaik-baik bentuk</em></strong></p></blockquote>
<p>Sebuah keberanian yang membuktikan kejantanan! Sebab biasanya kaum Mujassimah berputar-putar dan sembunyi-sembunyi dalam menyatakan akidahnya tajsîm mereka!</p>
<p><span style="color:#800000;"><span style="text-decoration:underline;">Dan yang demikian sudah cukup sebagai bukti-kendati ia menolak tambahan hadis yang mengatakan bahwa Allah terlihat dalam bentuk seorang pemuda Abg yang berambut keriting dan lebat ….- bahwa ia seorang mujassim. Sebab meyakini bentuk bagi Allah adalah ciri akidah tajsîm!</span></span></p>
<p><span style="color:#800000;"><span style="text-decoration:underline;">Saya berharap Abu Jauzâ’ sanggup memberikan ketarangan bahwa keyakinan bahwa Allah berbentuk –yang ia yakini- tidak identik dengan <em>tajsîm</em> dan <em>tasybîh</em> dan peyakinnya bukan seorang Mujassim?!</span></span></p>
<p><span style="text-decoration:underline;">Selain itu, ketahuilah saudaraku Abu Jauzâ’, bahwa keberatan Anda ketika kami sebut Syeikh kebanggaan Anda dan kebanggaan kaum Mujassimah; al Albâni sebagai “muhaddis linglung” dan Anda menggolongkannya sebagai caci maki atas ulama pewaris para Nabi as. adalah sangat tidak berdasar, sebab jika apa yang kami katakan itu adalah caci maki dan caci maki itu terkecam, maka yang pertama harus Anda kecam adalah Syeikh kebanggaan Anda itu sendiri, sebab ia telah menjulurkan mulut beracunnya kepada kehormatan para ulama dan para hafidz, tidak terkecuali <em>al Hafidz Ibnu Hajar al Asqallâni</em> yang ia sebut sebagai linglung, <em>dzâhil</em>!!</span></p>
<p><strong>Penshahihakn Hadis Itu Oleh at Turmudzi</strong></p>
<p>Adapun penshahihan hadis itu oleh at Turmudzi, juga bukan ukuran dan tidak berguna, sebab:</p>
<p>A)    At Turmudzi dikenal terlalu gegebah dan kurang hati-hati dalam menshahihkan hadis.</p>
<p>B)     Pendha’ifan oleh para pakar hadis lainnya lebih diutamakan atas penshahihan at Turmudzi.</p>
<p>C)    Yang tertera dalam Sunan at Turmudzi adalah menetapan status <em>hasan gharîb</em>, bukan <em>shahih</em>! Seperti dinukil oleh<em> al Hafidz al Mizzi</em> dalam <em>Tuhfatul</em> <em>Asyrâf</em>,4/382, <em>al Mundziri</em> dalam<em> at Targhîb wa at Tarhîb. Al Hafidz Ibnu Hajar</em> dalam <em>an Nukatt adz Dzirâf</em>,4/382 (dicetak bersama <em>Tuhfatul</em> <em>Asyrâf</em> telah membicarakan secara tuntas status hadis itu ketika ia mengomentari perkataan at Turmudzi: hasan gharîb, ia berkata, <em>“Hadis: Tuhanku medatangiku dalam seindah-indah bentuk&#8230;&#8221; </em>Aku berkata, ‘<em>Muhammad ibn Nashr al Marwazi</em> dalam kitab <em>Qadru ash Shalâh</em> berkata, ‘Hadis ini telah <em>idhtharaba</em>/kacau para perawinya dalam sanadnya. Dan tidak ada satu pun yang tetap menurut para ulama yang mengerti hadis/ahli ma’rifah.”</p>
<p><span style="text-decoration:underline;"><strong>Abu Salafy berkata:</strong></span></p>
<p>Adalah kecenderungan kaum Mujassimah untuk mencari-cari dukungan dari penyataan alim anu atau muhaddis anu demi memaksakan kesan keropos bahwa keyakinannya itu dikuatkan oleh hadis-hadis yang dishahihkan ulama anu atau didukung oleh pendapat si alim anu, walaupun dalam kesempatan lain si alim itu mereka vonis musyrik karena alasan ini dan itu!!</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Kesimpulan Akhir</strong></p>
<p>Hadis <em>Ra aitu rabbi fî ahsani shûrah</em> adalah <em>muththarib</em> jalur-jalur periwayatannya dan <em>munkar</em> dan/atau palsu dari sisi kandungan dan muatannya.</p>
<p style="text-align:center;">*********</p>
<p><strong>Kenyakinan Islam Tentang Bermimpi Melihat Allah SWT</strong></p>
<p>Ketahuliah wahai saudaraku seiman dan seakidah bahwa akidah Islam yang benar yang ditetapkan berdasarkan nash-nash Al Qur’an dan Sunnah yang shahihah bahwa Allah SWT tidak menyerupai dan diserupai oleh sesuatu apapun</p>
<p><em>“Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia.”</em> (QS. Asy Syûrâ [42];11)</p>
<p>dan</p>
<p><em>“Dan tidak ada sesuatupun yang setara dengan Dia.” </em>(QS. A; Ikhlash [112];4)</p>
<p>Berdasarkan nash di atas maka Allah tidak memiliki bentuk dan pula tidak memiliki gambar. Allah tidak akan berubah-rubah bentuk dari sebuaah bentuk ke bentuk lainnya, <em>“Maha suci Allah dan Maha Tinggi dari sifat-sifat yang mereka berikan.” </em>(QS. Al An’am [6];100)</p>
<p>Oleh karena itu kami metetapkan dengan pasti bahwa Allah tidak dapat dilihat, baik di kala jaga maupun dalam mimpi, dan sesungguhnya Alllah adalah seperti yang Dia sifati Dzat-Nya dengan firman-Nya:</p>
<h2 style="text-align:right;">لاَ تُدْرِكُهُ الأبْصارُ وَ هُوَ يُدْرِكُ الأبْصارَ وَ هُوَ اللَّطِيفُ الْخَبيرُ.</h2>
<p><em>“Dia tidak dapat dicapai oleh penglihatan mata, sedang Dia dapat melihat segala yang kelihatan; dan Dialah adalah Yang Maha halus lagi maha Mengetahui.&#8221; (QS. Al An’âm [6];103)</em></p>
<p>Jika demikian, maka adalah baik kita menengok <em>syubhat</em> yang mengelabui mereka sehingga meyakini bahwa Allah dapat saja (dan sudah terjadi) dilihat dalam mimpi!!</p>
<p>Ketahuilah bahwa syubhat yang menyelimuti pikiran mereka adalah adanya riwayat yang setelah diteliti akan terbongkar kepalsuannya bahwa Nabi saw. bermimpi melihat Allah SWT dalam seindah-indahnya bentuk, lalu Dia meletakkan telapak tangan-Nya ke pundak beliau dan akibatnya beliau merasakan dinginnya sentuhan itu sampai ke dada! Seperti yang telah kami paparkan dan kami buktikan kepalsuannya pada artikel sebelumnya. Inilah dasar pertama akidah yang mereka yakini!</p>
<p>Dasar kedua adalah dongeng yang mereka riwayatkan atas nama <em>Imam Ahmad ibn Hanbal</em> bahwa ia melihat Allah dalam mimpinya sebanyak 99 kali, dan ia berkata, ’Jika aku melihat-Nya pada kali keseratus aku akan bertanya kepada-Nya. Lalu ketika ia melihat-Nya pada kali keseratus ia bertanya, ”Wahai Tuhanku dengan amalan apakah para hamba mendekatkan diri kepada-Mu?” Maka Allah menjawab, ”Dengan firman-Ku.” <em>Ahmad</em> kembali bertanya, &#8220;Dengan pemahaman atau tidak?” Allah menjawab, ”Dengan pemahaman atau pun tidak!”</p>
<p>Dongeng di atas jelas-jelas sebuah kepalsuan atas nama <em>Imam Ahmad.</em> <em>Adz Dzahabi</em> telah memuatnya dalam kitab <em>Siyar A’lâm an Nubalâ’</em>-nya,11/347 dengan dua sanad dari Imam Ahmad. Dan kedua sanadnya itu bermuara pada <em>Ahmad ibn Muhammad ibn Muqsim</em>, seorang yang dikenal sebagai pembohong kelas kakap!<a href="http://abusalafy.wordpress.com/wp-admin/#_ftn32">[32]</a></p>
<p><em>Al Khallâl</em>; Bapak kaum Majassimah tidak mau ketinggalan menghias kitab <em>Amâli</em>-nya pada majlis kelima dengan kisah itu dari jalur guru kesayangannya <em>Ahmad ibn Muhammad ibn Muqsim.</em></p>
<p>Dalam <em>Siyar</em>-nya, <em>adz Dzahabi</em> menyebutkan dongeng itu tanpa menyebut bahwa <em>Ahmad </em>melihat Allah dalam mimpi sebanyak 99 kali!! Hanya kaum Mujassimah sajalah yang berbaik hati dengan menambahkannya untuk lebih menyakinkan kaum awam Mujassimah bahwa bermimpi melihat Allah SWT bukan sekedar dialami <em>Imam Ahmad</em> sekali dua kali!</p>
<p>Dan untuk menanamkan rasa PD bahwa imam mereka adalah imam unggulan dan kesayangan Allah SWT! Sebuah kepalsuan yang biasa dimuntahkan para misionaris sekte Mujassimah di sepanjang masa! Seperti kepalsuan yang mereka sebar-luaskan bahwa Allah tak henti-hentinya menziarahi makam Imam Ahmad! <em>Entah apa tujuannya? Apakah mencari keberkahan dari makam Imam Ahmad? Atau hendak bertawassul? Atau &#8230; atau &#8230; Padahal semua itu adalah syirik menurut akidah kaum Wahhâbiyah Mujassimah!</em></p>
<p>Ketahuilah wahai saudaraku, bahwa andai benar kisah itu dikisahkan oleh Imam Ahmad, ia bukan dalil syar’i yang boleh diandalkan! Semua sepakat bahwa omongan atau apalagi dongeng siapapau tidak dapat didudukkan sejajar dengan dalil-dalil agama; Al Qur’an dan Sunnah!</p>
<p>Kami yakini -dan kami tidak melihat selainnya melainkan khurafat- bahwa Maha suci Allah dari dapat dilihat baik di kala jaga maupun di saat mimpi! Sebab Allah SWT tidak memiliki bentuk, <em>shûrah</em> atau postur! Dia juga bukan <em>Nûr</em> dengan makna cahaya!</p>
<p>Dan siapapun yang berdongeng bahwa dia melihat Allah dalam mimpinya ketahuilah bahwa apa yang ia lihat itu bukan Allah! Ia sedang dalam pengaruh pikiran dan akidah <em>tajsîm</em> sesatnya saja yang menanamkan dalam pikiranya bahwa tuhannya adalah berpostur! Sebuah kondisi yang agak mirip dengan sakit jiwa yang perlu segera dirujuk kepada seorang Psikiater untuk dilakukan terapi secara teratur demi kesembuhannya, bukan malah dijadikan dalil, kecuali juga oleh si sakit sepertinya!</p>
<p>Dan berpanjang-panjang menyebutkan komentar alim anu atau ahli hadis anu dalam masalah ini tidak berguna sedikit pun, sebab akal sehat lebih diperlukan di sini!</p>
<p>Ikhtisar kata, kami meyakini bahwa Allah Maha Suci dari dapat dilihat dalam mimpi!</p>
<p><em>Wallahu A’lam!</em></p>
<p><span style="color:#ff0000;"><strong>(Bersambung)</strong></span><em><br />
</em></p>
<hr size="1" /><a href="http://abusalafy.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref27">[27]</a> Nama lengkapnya Hamd ibn Muhammad al Busti, seorang hafidz, wafat tahun 388 H. (Baca al Muntadzim,6/397, Wafayât al A’yân,1/166 dan Tadzkirah al Huffâdz,3/1018.</p>
<p><a href="http://abusalafy.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref28">[28]</a> Lebi lanjut baca kitab Âfatu Ahlil Hadîts; Al Hafidz Abul Faraj Abdurrahman ibn al Jauzi al Hanbali (W.597 H): 39-49.</p>
<p><a href="http://abusalafy.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref29">[29]</a> Sekedar informmasi bahwa kitab yang menyandang nama <em>as</em> <em>Sunnah</em> biasanya adalah kitab bertemakan akidah versi kaum <em>Mujassimah</em> <em>Musyabbihah</em> yang di dalamnya para menulisnya memenuhinya dengan banyak hadis palsu, lemah bermasalah dan/atau isrâiliyah untuk menetapkan akidah sesat mereka, bahkan lebih dari itu mereka berhujjah dengan omongan kaum tabi’în yang belum pasti benar penisbatannya yang penting mendukung faham <em>tasybîh</em> mereka, setelahnya mereka menteror –seperti kebiasaan mereka- barang siapa yang ingkar kepadanya berarti ia kafir, <em>zindiq</em>, <em>mulhid</em> dan <em>jahmi</em>!! Sebagai contoh kecil adalah apa yang ditulis oleh al Khallâl (ulama yang sangat dibanggakan oleh para misionaris sekte Wahhabi dan yang tak henti-hentinya mereka menasehati para jama’ahnya agar mengaji kitab tersebut) dalam kitab<em> as Sunnah</em>-nya dimana ia menukil dari Mujahid bahwa tafsir ayat: <em>“Mudah-mudahan Tuhanmu mengangkat kamu ke tempat yang terpuji.” </em>(QS. Al Isrâ’ [17];59) bahwa maqam terpuji yang dimaksud adalah didudukkannya Rasulullah saw. di sebelah Allah di atas Arsy-Nya yang dalam akidah mereka, setelah Allah duduk/bersemayam di atas Arsy-Nya tersisa kira-kira seluas empat jari-jari!! Abu Salafy berkata: kami tidak mengetahui dengan pasti apakah itu dengan ukuran jari jemari Allah? Atau jari-jari Nabi saw.? Atau jari-jari pak kyia Khallâl atau kyai Abu Ya’lâ? Atau jari-jari Abu Jauzâ’? tidak cukup di sini kegilaan faham tajsîm dan tasybîh mereka itu, al Khllâl menvonis kafir dan zindiq siapa pun yang mengingkari tafsiran di atas!! Sementara ia dan kaum Mujassimah lainnya berpaling dari hadis-hadis shahih yang menafsirkan bahwa <em>maqam</em> terpuji yang dimaksud adalah <em>maqam</em> syafa’at! Kami tidak mnengerti kira-kira apa sikap al Khallâl dkk. terhadap hadis-hadis Bukhari &amp; Muslim tentang masalah ini? Yang pasti faham ini adalah Faham Horor yang menebar teror dan intimidasi!</p>
<p><a href="http://abusalafy.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref30">[30]</a> Baca Tahdzîb at Tahdzîb,10/263, cet. Dâr al Fikr. Bairut.</p>
<p><a href="http://abusalafy.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref31">[31]</a> Adhwâ’ ‘Alâ as Sunnah al Muhammadiyah:295.</p>
<p><a href="#_ftnref32">[32]</a> Baca <em>Lisân al Mizân</em>,1/260.</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/abusalafy.wordpress.com/552/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/abusalafy.wordpress.com/552/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/abusalafy.wordpress.com/552/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/abusalafy.wordpress.com/552/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/abusalafy.wordpress.com/552/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/abusalafy.wordpress.com/552/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/abusalafy.wordpress.com/552/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/abusalafy.wordpress.com/552/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/abusalafy.wordpress.com/552/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/abusalafy.wordpress.com/552/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abusalafy.wordpress.com&blog=1269412&post=552&subd=abusalafy&ref=&feed=1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abusalafy.wordpress.com/2009/10/21/bantahan-atas-abu-jauza%e2%80%99-dan-para-wahhabiyyun-mujassimun-musyabbihun-4/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>11</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/dcc398e7d74a34e59c3d59ffcc0673ff?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">abusalafy</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Bantahan Atas Abu Jauzâ’ Dan Para Wahhâbiyyûn-Mujassimûn Musyabbihûn! (3)</title>
		<link>http://abusalafy.wordpress.com/2009/10/21/bantahan-atas-abu-jauza%e2%80%99-dan-para-wahhabiyyun-mujassimun-musyabbihun-3/</link>
		<comments>http://abusalafy.wordpress.com/2009/10/21/bantahan-atas-abu-jauza%e2%80%99-dan-para-wahhabiyyun-mujassimun-musyabbihun-3/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 21 Oct 2009 02:08:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abusalafy</dc:creator>
				<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[Dongeng Wahabi]]></category>
		<category><![CDATA[Ibnu Abdul Wahab]]></category>
		<category><![CDATA[Kajian Hadis]]></category>
		<category><![CDATA[Manhaj]]></category>
		<category><![CDATA[Menjawab Blog Wahabi/Salafy]]></category>
		<category><![CDATA[Penyimpangan Akidah Dalam Kitab at Tauhid]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abusalafy.wordpress.com/?p=453</guid>
		<description><![CDATA[Bantahan Atas Abu Jauzâ’ Dan Para Wahhabiyyûn-Mujassimûn Musyabbihûn! 
Persembahan Untuk Abu Jauzâ’ dan Teman-teman Salafi Wahhabi


Bincang Bersama Abu Jauza -Hadis Melihat Tuhan- (3)

Status Hadis: Aku Melihat Tuhan dalam Bentuk Postur Pemuda Abg Berambut Lebat! 
Sebelumnya perlu saya ingatkan bahwa apa yang dilakukan oleh para masyâikh kaum Mujassimah dengan ’ngotot’ memperhatankan keshahihan hadis tentangnya dengan segela [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abusalafy.wordpress.com&blog=1269412&post=453&subd=abusalafy&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<br /><p><span style="color:#800000;"><strong>Bantahan Atas Abu Jauzâ’ Dan Para Wahhabiyyûn-Mujassimûn Musyabbihûn!</strong></span><span style="color:#003366;"><strong> </strong></span></p>
<p><span style="color:#003366;"><strong>Persembahan Untuk Abu Jauzâ’ dan Teman-teman Salafi Wahhabi</strong></span></p>
<p><strong><br />
</strong></p>
<p><strong><span style="color:#003366;">Bincang Bersama Abu Jauza</span> <a href="http://abul-jauzaa.blogspot.com/2009/06/pembahasan-hadits-ummu-ath-thufail.html" target="_blank">-Hadis Melihat Tuhan- (3)</a><br />
</strong></p>
<p><strong>Status Hadis: <em>Aku Melihat Tuhan dalam Bentuk Postur Pemuda Abg Berambut Lebat!</em> </strong></p>
<p>Sebelumnya perlu saya ingatkan bahwa apa yang dilakukan oleh para <em>masyâikh</em> kaum Mujassimah dengan ’ngotot’ memperhatankan keshahihan hadis tentangnya dengan segela konsekuensi yang dilahirkannya adalah sebuah bukti nyata kekentalan mereka dalam akidah <em>tajsîm</em> dan <em>tasybîh</em> yang sering kali mereka tutup-tutupi dengan kata-kata menipu, seperti misalnya:</p>
<p><span id="more-453"></span></p>
<ul>
<li>Allah itu berambut lebat tetapi tidak seperti rambut makhluk-Nya!</li>
<li>Allah berkaki, tetapi tidak seperti kaki makhluk-Nya!</li>
<li>Allah mempunyai telapak tangan yang ketika ditempelkan di pundak Rasul-Nya, lalu ia merasakan dinginnya tangan Allah tersebut, hanya saja telapak tangan Allah tidak menyerupai telapak tangan makhluk-Nya dan demikian seterusnya!</li>
</ul>
<p>Kaum Mujassimah banyak meriwayatkan hadis-hadis yang menegaskan posturisasi bentuk Allah SWT. Mereka juga punya hobi memburu riwayat-riwayat <em>&#8220;miring” </em>seperti itu di mana pun ia dapat ditemukan, sebab hal demikian akan menguatkan akidah <em>tajsîm</em> dan <em>tasybîh</em> mereka dan sekaligus sebagai senjata ampuh untuk menawan kaum awam yang sering kali menjadi korban gertakan para <em>&#8220;Masyâikh Galak”:</em> <em>Awas! Jangan sekali-kali Anda menolak hadis Nabi saw.! Anda bisa kafir karenanya! Ini adalah hadis shahih! Bukti keimanan adalah menerimanya! Jangan banyak tanya tentangnya, yang penting imani <span style="text-decoration:underline;">dan setelahnya non aktifkan akal sehat kamu!</span> Hati-hati dari bahaya senjata kaum kafir yang anti nash!</em> Dan kalimat-kalimat ancaman lainnya!</p>
<p>Tetapi anehnya, jika Anda mengatakan bahwa mereka adalah <em>mujassimah</em>/<em>musyabbihah</em> mereka mengelaknya dengan mengatakan kami bukan seperti yang kalian tuduhkan! Kami Ahlusunnah! Kami menjunjung tinggi Sunnah Nabi saw.! Kami mewarisi akidah ini dari kaum Salaf Shaleh! Kami mengimani hadis-hadis itu dengan tanpa bertanggung jawab akan konsekuensi dari nash-nash itu!</p>
<p>Pengelakan mereka ini sangat menggelikan, seperti ketika mereka selalu menetapkan sifat-sifat dan anggota badan tertentu untuk Allah SWT kemudian mereka mengakhirinya dengan kata-kata dungu, &#8220;Semua itu dimiliki/disandang Allah dengan bentuk yang sesuai dengan Kemaha Agungan Dzat-Nya/<em>kama yalîqu bi jalâlihi</em>.</p>
<p>Sebuah lelucan dan dagelan yang akan membuat tertawa kaum bisu sekali pun! Bagaimana mereka (Wahhâbiyah; Mujassimah/Musyabbihah) setelah menolak ta’wil -yang mereka tuduh sebagai sejelek-jelaknya aliran Ahli Bid’ah dan kaum ateis-  dan juga menolak <em>tafwîdh, </em>dan juga menolak adanya <em>majâz</em> dalam teks bahasa Arab serta menetapkan makna zahir dari setiap kata&#8230; bagaimana setelah itu semua mereka mengelak dari konsekuensi <em>tajsîm</em> dan <em>tasybîh</em> yang akan ditimbulkannya secara logis! Kalian pasti akan terjatuh kepada akidah <em>tajsîm</em> dan <em>tasybîh</em> tersebut, kalian mau atau tidak! Kalian setuju atau mengelak!</p>
<p>Coba beri kami jawaban yang memuaskan, bagaimana kalian meyakini bahwa Tuhan yang kalian imani bersemayam di atas Arsy-Nya di atas langit sana, dan Dia memliki wajah, mata, tangan, kaki (dan rajin mengenakan sandal terbuat dari bahan emas murni), dan setiap malam turun ke langit dunia, Dia bergembira, tertawa, marah, terposona oleh sesuatu tertentu, menciptakan Adam seperti bentuk/<em>shûrah</em>-Nya dan Dia seperti bentuk/<em>shûrah </em>Adam &#8230;. (dan berbagai sifat lain yang mereka tetapkan untuk Allah SWT) semua itu kalian maknai dengan makna zahir, tanpa menakwilnya, kemudian kalian mengelak bahwa kalian adalah kaum Mujassimah Musyabbihah?!</p>
<p>Apakah kata-kata<em> kama yalîqu bi jalâlihi</em> yang sering kalian jadikan tameng untuk mengelak  dari konsekuensi itu sudah cukup merubah kenyataan akidah <em>tajsîm</em> dan <em>tasybîh</em> kalian?</p>
<p>Apakah kalian berkhayal bahwa kata-kata:<em> </em>seperti yang sesuai dengan Kemaha Agungannya/<em>kamâ yalîqu bi jalâlihi </em>yang kalian sebutkan setelah menetapkann sifat-sifat Tuhan itu kalian telah mengurai masalah filsafat rumit atau telah mendobrak pintu Khaibar?!</p>
<p>Perumpamaan kalian dalam hal ini seperti seorang yang makan dan minum di siang bolong pada bulan Ramadhan kemudian tetap ngotot mengatakan bahwa dia puasa dan belum mencicipi apapun! Sebab ia puasa seperti yang layak dan sesuai baginya<em> kama yalîqu bihi</em>! Ia makan <em>kama yalîqu bihi</em>! Dia minum <em>kama yalîqu bihi</em>!</p>
<p>Atau seperti seorang yang dikatakan kepadanya tentang Syeikh kebanggaannya: Kami menyaksikan Syeikh kebanggaanmu menenggak arak dan minuman keras! Lalu ia mengelak dengan mengatakan: Tidak! Sebab dengan sekedar menempel ke bibirnya arak itu berubah menjadi air zam-zam atau air sungawi!</p>
<p>Atau seperti perumpamaan, kami menyaksikan Syeikh kebanggaanmu asal kota Najd (Saudi Arabia) memasuki lokalisasi prostitusi di Cisarua! Ia sekali lagi mengelaknya dengan mengatakan: Dengan sekedar digauli oleh Syeikh kebanggaan kami, wanita-wanita lacur berubah seketika menjadi bidadari surga yang suci!</p>
<p><span style="text-decoration:underline;">Itu mungkin kira-kira permisalan mereka yang mengelak dari kenyataan akidah <em>tajsîm</em> dan <em>tasybîh</em> yang mereka yakini tapi enggan menamainya dengan nama sebenarnya!</span> Dalam istilah ahli <em>mantiq</em> (logika) sikap mereka itu biasa disebut dengan:<span style="text-decoration:underline;"> </span><span style="color:#800000;">Menerima mukaddimah dan menolak konsekuensinya/<em>qabûlul muqaddimah wa rafdhu an natîjah</em><span style="text-decoration:underline;">.</span></span> Dan dalam bahasa ahli teologi Islam diistilahkan dengan: <span style="color:#800000;"><span style="text-decoration:underline;"><em>’</em></span><em>adamul iltizâm bilawâzim al madzhab</em>/tidak loyal terhadap kosekuensi-konsekuensi pendapat/mazhabnya.</span> Atau dengan bahasa modern kita sekaraang ini diistilahkan dengan: Mengadopsi konsep <span style="color:#800000;"><em>Tajsîm</em> dan <em>Tasybîh</em> tetapi lari dari penamaannya!</span></p>
<p>Semua itu tidak akan mengubah hakikat kenyatan akidah menyimpang mereka sedikit pun!</p>
<p>Setelah mukaddimah di atas saya ajak Anda memperhatikan keterangan di bawah ini:</p>
<p><strong>Ibnu Jauzi Menolak Hadis<em> Ra aitu Rabbi Fî Ahsanish Shûrah</em>!</strong></p>
<p>Pertama-tama perlu saya sampaikan bahwa<em> Ibnu Jauzi </em>telah menolak keras hadis di atas dengan beragam versi riwayatnya dalam kitab khusus berjudul <strong><em>Da’f’u Syubahi at Taasybîh</em></strong> yang ia tulis untuk membongkar penyimpangan akidah kaum Mujassimah/Musyabbihah yang banyak tumbuh di kalangan pengikut mazhab teologi Hanbali (seperti juga kaum Wahhabi/Salafy, yang mengaku mengikuti mazhab Hanbali), di antara mereka adalah ulama kebanggaan kaum Wahhabi Salafi seperti <em>Abu Abdillah ibn Hamid ibn Ali al Baghdadi al Hanbali, Qadhi Abu Ya’la</em> dan<em> az Zâghûni al Hanbali.</em> Kata <em>Ibnu Juazi</em> mereka itu benar-benar telah mencoreng nama harum mazhab Hanbali dan telah turun derajat ke tingkatan kaum awam dalam berpikir tentang konsep ketuhanan. Mereka memaknai sifat-sifat Allah SWT dengan makna material/<em>hissi</em>!</p>
<p>Dan pada keterangan hadis no. 3 <em>Ibnu Jauzi </em>mengkiritik faham tersebut dengan mengatakan:</p>
<p>“Ummu Thufail, istri Ubay ibn Ka’ab ra. Meriwayatkan bahwa ia mendengar Rasulullah saw. menyebut bahwa beliau:</p>
<h2 style="text-align:right;">رأى ربه عز و جل فِي المنام فِي أحسن صورة: شاباً موفرا،رجلاهُ فِي خضرة، عليه نعلانِ من ذهبٍ، على وجْهِهِ فراشٌ من ذهبٍ.</h2>
<p><em>“Menyaksikan Tuhannya dalam mimpi dalam bentuk seorang pemuda yang berambut lebat, kedua kakinya berada di Khadhrah dan ia memakai sepasang sandal terbuat dari emas, dan di wajahnya terdapat kupu-kupu dari emas.”</em></p>
<p><strong>Aku (Ibnu Jauzi) berkata:</strong> Hadis ini telah diriwayatkan oleh<em> Nu’aim ibn Hammâd ibn Mu’awiyah al Marwazi</em>.<a href="http://abusalafy.wordpress.com/wp-admin/#_ftn15">[15]</a></p>
<p>Ibnu Adi berkata,<em> “Dia ia memalsu hadis.”</em></p>
<p>Ibnu Main berkata, <em>“Nu’aim tidak bernilai sedikit pun dalam periwayatan hadis.”</em></p>
<p>Dan dalam sanadnya juga terdapat perawi bernama <em>Marwân ibn Utsman</em> dari <em>Umârah ibn ‘Âmir.</em></p>
<p>Ia seorang <em>kadzdzâb</em> (pembohong besar)! Demikian ditegaskan <em>Jalaluddîn as Suyuthi</em> dalam <em>al Laâli al Mashnû’ah</em>,1/29. sebuah pencacatan yang sangat dahsyat!</p>
<p><strong>Abu jauzâ’</strong> juga menerima kenyataan bahwa <em>Marwân ibn Utsman</em> adalah perawi <em>matrûkun</em> (ditinggalkan)!</p>
<p>Redaksi itu adalah redaksi pencatatan tingkat kedua setelah redaksi <em>kadzdzâb</em>, sebagaimana akan disebutkan di bawah ini.<a href="http://abusalafy.wordpress.com/wp-admin/#_ftn16">[16]</a></p>
<p>Para ulama menyebutkan bahwa redaksi pencacatan atas seorang parawi itu bertingkat-tingkat, yang paling parah adalah dengan redaksi:</p>
<h2 style="text-align:right;">فلانٌ كَذابٌ _ فلانٌ يَكْذِبُ &#8211; فلانٌ يَضَعُ الحديثَ &#8211; فلانٌ وَضَّاعٌ &#8211; وَضَع حديثًا -فلانٌ دجَّالٌ.</h2>
<p><em>“Si fulan itu pembohong besar- ia berhohong- si fulan itu memalsu hadis – si fulan itu pemalsu hadis- si fulan memalsu sebuah hadis- si fulan itu dajjal.”</em><a href="http://abusalafy.wordpress.com/wp-admin/#_ftn17">[17]</a></p>
<p>Di sini , baik <em>Marwan</em> maupun <em>Nu’aim ibn Hammâd</em> telah dicacat dengan redaksi pencatatan tingkat tertingggi!</p>
<p><em>Abu Abdurrahman an Nasa’i </em>berkata:</p>
<h2 style="text-align:right;">وَ مَنْ مروانُ حَتَّى يُصَدَّقَ علىَ (عن) اللهِ عز و جَلَّ؟!</h2>
<p><em>“Siapa Marwân itu sehingga ia layak dipercaya (berbicara) tentang Allah –Azza wa jalla-?.” </em></p>
<p><em>Muhanna ibn Yahya</em> berkata, “Aku bertanya kepada Ahmad tentang hadis ini, maka ia berpaling dengan wajahnya dan berkata, ‘Ini adalah hadis munkar <em>majhûl</em>/tidak dikenal.’ Maksdunya adalah <em>Marwân ibn Utsman</em>. Ia juga berkata, ‘Umârah juga tidak dikenal.’”</p>
<p><strong><span style="text-decoration:underline;">Abu Salafy berkata</span>:</strong></p>
<p>S<span style="text-decoration:underline;">epertinya dalam menerjemahkan pernyataan </span><em><span style="text-decoration:underline;">an Nasa’i</span> </em>(<span style="color:#800000;">yang di sini ia sebut sebagai komentar <em>Ibnu Ma’in</em></span>), saudaraku <strong>Ustadz Abu Jauzâ’</strong> <span style="color:#800000;">mengalami kesalahan sehingga terjemahannya menjadi kacau tak bermakna!</span> Perhatikan ia menerjemahkan demikian:</p>
<blockquote><p><a href="http://abul-jauzaa.blogspot.com/2009/06/pembahasan-hadits-ummu-ath-thufail.html" target="_blank">Ibnu Ma’in berkata : “<strong>Dari Marwaan</strong>, hingga ia dibenarkan ? (isyarat pelemahan)”. Begitulah yang tercantum dalam Al-Ishaabah.</a></p></blockquote>
<p><strong> </strong></p>
<p>Saya dapat memaklumi penyebab kesalahan itu, mungkin dia salah membaca kalimat:  <span style="color:#ff0000;"><strong>وَ مَنْ مروانُ </strong></span>dengan <span style="color:#0000ff;">meng<em>-kasrah</em></span> harakat pada huruf : <span style="color:#ff0000;"><strong>مِنْ </strong></span>yang artinya: <span style="color:#ff0000;">dari</span>, sedangkan kata: <span style="color:#ff0000;"><strong>مَنْ </strong></span>adalah kata tanya yang artinya:<span style="color:#ff0000;"> siapa</span>!</p>
<p>Jadi saran saya agar Ustasz Abu Jauzâ’ lebih berhati-hati dalam mengeja bacaan teks Arab, atau sebaiknya membeli kitab berbahasa Arab yang beraharakat biar tidak salah lagi!</p>
<p>Dan walaupun demikian saya tidak akan mengatakan bahwa seorang yang serendah itu kwalitas pemahaman teks Arabnya semestinya jangan sok menjadi “Pakar Hadis”bdan menyandingkan namanya di antara nama-nama ulama dan pakar ilmu hadis, seperti ketika menyebutkan keterangan ulama Umârah ibn Amir!</p>
<p><span style="color:#800000;">Selain itu, saudara Abu Jauzâ’ melakukan kesalahan penerjemahan pada kata</span>: <span style="color:#ff0000;"><strong>صورة </strong></span>(<span style="color:#ff0000;">bentuk</span>)<span style="color:#800000;"> yang ia terjemahkan dengan</span> <span style="color:#ff0000;"><em>wujud</em></span>!</p>
<blockquote><p><a href="http://abul-jauzaa.blogspot.com/2009/06/pembahasan-hadits-ummu-ath-thufail.html" target="_blank">&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;.telah melihat Rabb-nya dalam mimpinya dalam <em><strong>wujud..</strong></em>&#8230;&#8230;</a></p></blockquote>
<p><span style="text-decoration:underline;">Terjemah itu jelas-jelas salah, walaupun dalam teks-teks riwayat lain terkadang ia terjemahkan dengan bentuk/wujud! Mungkin kata tersebut sengaja ia terjemahkan demikian untuk sedikit mengurangi parahnya akidah posturisasi yang diyakini kaum Mujasimah!</span> Sebab Allah Maha Suci dari <em>shûrah</em>/bentuk! Dzat Allah adalah<em> Ahadun Wâhidun</em>/Maha Esa dari segala sisinya; Dia Maha Esa dari berbilang dan Maha Esa dari terbentuk dari bagian-bagian/<em>ajzâ’</em>! Perhatikan ini baik-baik!</p>
<p>Hadis di atas tidak diragukan adalah palsu <em>munkar</em> bukan sekedar <em>dha’if </em>sepeti yang disimpulkan Abu Jauzâ!<a href="http://abusalafy.wordpress.com/wp-admin/#_ftn18">[18]</a> Para ulama dan pakar hadis telah mencacatnya. <em>Ibnu Jauzi </em>juga telah memasukkannya dalam daftar hadis-hadis palsu dalam kitab<em> al Maudhû’at</em>-nya,1/80. cetakan Dâr  al Kotob ai Ilmiah. Lebanon. <em>As Suyuthi</em> juga memasukkannya dalam kitab <em>al Laâli al Mashnû’ah</em>,128-29 dan juga ulama lainnya seperti <em>asy Syaukani</em> dalam <em>al Fawâid al Majmû’ah</em>:448-449.</p>
<p>Dalam kitab <em>al Maudhû’at-</em>nya,1/81, <em>Ibnu Jauzi </em>menegaskan: <em>“Adapun Nu’aim ia ditsiqahkan oleh sekelompok kaum. Ibnu Adi berkata, ‘Ia memalsu hadis.’ Dan adalah Yahya ibn Ma’in menilainya jijik dalam riwayatnya hadis dari Ummu Thufail, ia berkata, ‘Tidak sepantasnya hadis itu ia sampaikan. Nu’aim bukan apa-apa dalam periwayatan hadis!” Kemudian ia menyebutkan komentar Imam Ahmad seperti disebut di atas.</em></p>
<p>Dan tidak sedikit pun merubah status ke-<em>maudhu’</em>-an dan/atau ke<em>-munkar</em>an hadis di atas betapa pun <em>Syeikh Nâshiruddîn al Albâni </em>(muhaddis kebanggaan kaum Wahhabi seperti juga saudara kita Abu Jauzâ’) berusaha menyelamatkannya dengan menyebut <em>syawâhid</em> (hadis-hadis pendukung dari jalur lain), seperti yang ia lakukan dalam catatannya atas kitab<em> as Sunnah</em> karya <em>Ibnu Abi ‘Âshim </em>hadis no.471 dan kemudian mengatrol status hadis palsu itu dengan mengatakan:</p>
<h2 style="text-align:right;">حديثٌ صحيحٌ بِما قبلَهُ، و إسناده ضعيفٌ مظلِمٌ.</h2>
<p><em>“Hadis shahih dengan penguat hadis sebelumnya dan sanadnya dha’if lagi gelap.”</em></p>
<p><span style="text-decoration:underline;">Penyebutan <em>syawâhid </em>dengan maksud untuk mengatrol status hadis <em>munkar</em> yang palsu itu sama sekali tidaklah berguna sedikit pun</span>, sebab, selain hadis itu pada matannya terdapat ke<em>-munkar</em>an nyata, seluruh jalurnya adalah lemah! Lalu apakah hadis <em>munkar</em> yang palsu akan berubah statusnya menjadi <em>shahih</em> <em>lighairihi</em> (shahih dengan bantaun hadis/riwayat lain) sementara seluruh <em>syahâhid</em>/riwayat pendukungnya adalah <em>dha’if</em>!</p>
<p>Bagaimana hadis yang ia akui sendiri sebagai <strong>bersanad lemah lagi gelap</strong> dengan serta merta dan sekonyong-konyong mendadak berubah status menjadi hadis shahih?! Sebuah lompatan luar biasa melebihi pelompat jauh juara olimpiade! Andai <em>Albani </em>mengatakan bahwa dengan bantuan <em>syahâhid</em>/riwayat pendudkungnya, hadis itu melompot ke peringkat hadis <em>hasan</em> mungkin masih dapat dimaklumi! Akan tetapi mengatrol paksa hadis palsu yang sanadnya gelap gelegam bagai batu celak menjadi bersanad putih bak salju adalah upaya pemaksaan yang diilhami oleh keganderungan kepada keyakinan <em>Tajsîm</em> dan <em>Tasybîh</em> yang menyandera akal dan pikiran kaum Mujassimîn!</p>
<p>Imam al Baihaqi dalam kitab <em>ash Shifât wa al Asmâ</em>’:300 (dengan tahqîq Syeikh al Muhaddis al Kautsri) menegaskan, <em><strong>“Dan hadis ini telah diriwayatkan dari jalur lain dan seluruhnya adalah dha’if.”</strong></em></p>
<p>Jadi seluruh jalur hadis di atas adalah dha’if! Maka tidaklah berguna sedikitpun kebaikan hati<em> Syeikh Albani</em> dengan menyematkan status shahih atau hasan bagi jalur-jalur lain hadis ini!</p>
<p><strong>Catatan Penting Tantang Pembelaan Abu Jauzâ’ Atas Syeikh Albani!</strong></p>
<p><span style="color:#800000;">Abu Jauzâ’ menyimpulkan bahwa penshahihan <em>Syeikh al Albâni </em>itu hanya sebatas pada hadis dengan redaksi: <em>“<span style="text-decoration:underline;">Aku telah melihat Rabb-ku dalam mimpiku dalam wujud/bentuk yang paling baik</span></em>” bukan dengan lafadz (redaksi) lengkap sebagaimana disebutkan di awal perbincangan yaitu dengan lanjutan yang sengaja dipangkas Ibnu Abi ‘Âshim!</span></p>
<p>Akan tetapi anggapannya  itu tidaklah berdasar. Apalagi ia (Abu Jauzâ’) sendiri mengakui bahwa apa yang dipangkas Ibnu Abi ‘Âshim itu adalah tambahan yang disebutkan dalam riwayat lain secara lengkap yaitu dengan redaksi yang menyebut bahwa Tuhan berambut lebat dan … dan ….</p>
<p><strong>Perhatikan Abu Jauzâ’ berkata:</strong></p>
<blockquote><p>Hadits yang dibawakan Al-Imam Ibnu Abi ‘Aashim <em>rahimahullah </em>ini sebenarnya satu riwayat dengan riwayat yang menjadi bahasan kita, dimana sanad keduanya bertemu pada ‘Abdullah bin Wahb (Ibnu Wahb). Ibnu Abi ‘Aashim membawakan secara ringkas dengan perkataannya: <em>“wa dzakara kalaaman</em>. Maksud “<em>wa dzakara kalaaman</em>” di sini adalah lafadh:</p>
<h3 style="text-align:right;">في صورة شباب موفر في خضر على فراش من ذهب في رجليه نعلان من ذهب</h3>
<p><em>“dalam wujud seorang pemuda berambut lebat yang memakai pakaian berwarna hijau di atas tempat tidur yang terbuat dari emas, pada kedua kaki-Nya memakai sandal yang terbuat dari emas”</em>.</p></blockquote>
<p>Jadi upaya ngotot melelahkan yang ia lakukan untuk membela Muhaddis kebanggaan Misionaris sekte Wahabi; <em>Albâni </em>tidaklah bergunna di sini!</p>
<p>Dan nanti kami akan kembali dengan menyoroti kekacauan penelitian tidak teliti Muhaddis kebanggaan kaum Wahhabi; <em>al Albâni!</em></p>
<p style="text-align:center;"><em>*********<br />
</em></p>
<p>Setelah panjang lebar kita bincangkan masalah ini, mari kita kembali menyemimak keterangan <em>Ibnu Jauzi</em>. Ia melanjutkan:</p>
<p><em>“Dan hadis ini telah diriwayatkan Abaidullah ibn Abi Salamah, ia berkata, ‘Ibnu Umar mengutus (seseorang) untuk menemui Ibnu Abbas menanyakan kepadanya, ‘Apakah Muhammad melihat Tuhannya?’ Maka ia mengutus seorang untuk menjawab, ‘Ya. Dia telah melihat-Nya. Utusan itu kembali dan bertanya, ‘Bagaimana melihat-Nya?’ Ia menawab, “Dia (Nabi Muhammad saw.) melihat-Nya di atas kursi terbuat dari emas yang dipikul oleh empat malaikat dalam bentuk laki-kali….”</em></p>
<p>Aku (Ibnu Jauzi) berkata, “<em>Ibnu Ishaq</em> menyendiri dalam meriwayatkan hadis ini. Hadis ini dibohongkan oleh sekelompok ulama.</p>
<p><strong>Abu Salafy berkata:</strong></p>
<p>Hadis ini juga tidak diragukan kepalsuannya atas nama <em>Ibnu Umar </em>dan <em>Ibnu Abbas ra.</em> ia telah mencoreng kitab as Sunnah yang diatas-namakan Abdullah putra Imam Ahmad. Dalam kitab tersebut: 42 hadis  dengan no.204 terdapat lanjutan demikian:</p>
<p><em>“Dia (Nabi Muhammad saw.) melihat-Nya di atas kursi terbuat dari emas yang dipikul oleh empat malaikat, satu dalam bentuk laki-kali, satu dalam bentuk singa, satu dalam bentuk sapi dan keempat dalam bentuk burung elang/garuda. Dia berada di kebun hijau yang berhamparkan emas.”</em></p>
<p>Selain hadis ini jelas-jelas bermasalah pada kandungannya, ia juga berpenyakit dengan banyaknya cacat pada sanadnya, baik kerana kualitas parawinya, seperti: 1)Yunus ibn Bukair, 2) Ibnu Ishaq (seorang <em>mudallis</em>) dan 3) Abdurramah ibn Harits -seorang parawi yang <em>matrûk</em> (ditingalkan/dibuang), maupun cacat pada ketidak bersambungan sanadnya.!</p>
<p align="center">*****</p>
<p><strong>Ibnu Jauzi melanjutkan:</strong></p>
<p><em>“Dan dalam riwayat (lain) dari Ibnu Abbas: “Dia melihat-Nya seakan pada kedua kaki-Nya ada hiasan warna hijau dibaliknya ada kain penutup dari sutra.”</em></p>
<p><strong>Aku (Ibnu Jauzi) berkata</strong>: <em>“Hadis ini telah diriwayatkan oleh Ibrahim ibn Hakam ibn Abân. Hadis ini telah dilemahkan oleh Yahya ibn Ma’in  dan ulama lainnya.</em><strong> </strong></p>
<p><strong>Abu salafy berkata:</strong></p>
<p>Hadis ini juga sebuah kepalsuan belaka.<em> Al Baihaqi</em> meriwayatkannya dalam <em>al Asmâ’ wa ash Shifât </em>:445 dan<em> Ibnu Jauzi</em> dalam <em>al ‘Ilal al Mutanâhiyah</em>,1/36 dan ia menegaskan, “Hadis ini tidak tetap. Seluruh jalurnya adalah <em>Hammâd ibn Salamah</em>. <em>Ibnu Adi </em>berkata, ‘Telah dikatakan bahwa Ibnu Abi al ‘Ajâ’ –anak asuh Hammâd- telah menyisipkan dalam catatannya hadis-hadis (seperti) ini.”</p>
<p>Selain itu pada jalurnya terdapat ‘<em>an’anah</em> (periwayatan dengan redaksi ‘<em>an</em> [dari]) yang mengindikasikan ketidak bersambungan sanad yang dilakukan oleh Qatadah, sementara ia sangat diragukan periwayatannya dengan redaksi seperti itu!</p>
<p><strong>Pendha’ifan adz Dzahabi!</strong></p>
<p>Saudara <strong>Abu Jauzâ</strong> menuduh kami mengada-ngada ketika kami menyebut nama <em>adz Dzahabi</em> sebagai yang juga menerima hadis-hadis <em>tajsîm</em> di atas! khususnya pada hadis. <strong>Ia berkata menghujat kami:</strong></p>
<blockquote><p><a href="http://abul-jauzaa.blogspot.com/2009/06/pembahasan-hadits-ummu-ath-thufail.html" target="_blank">“Dan memang benar bahwa Abu Salafy telah berdusta saat Al-Imam Adz-Dzahabi <em>rahimahullah </em>berkata ketika menyebutkan hadits ‘Ikrimah dari Ibnu ‘Abbas:</a></p>
<h3>أنبأنا عبدالرحمن بن محمد الفقيه، أخبرنا أبو الفتح المندائي، أخبرنا عبيدالله بن محمد بن أحمد، أخبرنا جدي أبو بكر البيهقي في كتاب &#8221; الصفات &#8221; له، أخبرنا أبو سعد الماليني، أخبرنا عبد الله بن عدي، أخبرني الحسن بن سفيان، حدثنا محمد بن رافع، حدثنا أسود بن عامر، حدثنا حماد بن سلمة، عن قتادة، عن عكرمة، عن ابن عباس، قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: &#8221; رأيت ربي &#8211; يعني في المنام -..&#8221; وذكر الحديث. وهو بتمامه في تأليف البيهقي، <strong><span style="text-decoration:underline;">وهو خبر منكر</span></strong>، نسأل الله السلامة في الدين، فلا هو على شرط البخاري ولا مسلم، وراوته وإن كانوا غير متهمين، فما هم بمعصومين من الخطأ والنسيان،</h3>
<p>“Telah mengkhabarkan kepada kami ‘Abdurrahman bin Muhammad Al-Faqiih: Telah mengkhabarkan kepada kami Abul-Fath Al-Mandaaiy: Telah mengkhabarkan kepada kami ‘Ubaidullah bin Muhammad bin Ahmad: Telah mengkhabarkan kepada kami kakekku, Abu Bakr Al-Baihaqiy dalam kitabnya <em>Ash-Shifaat:</em> Telah mengkhabarkan kepada kami Abu Sa’d Al-Maaliniy: Telah ‘Abdullah bin ‘Adiy: Telah mengkhabarkan kepadaku Al-Hasan bin Sufyan: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Raafi’: Telah menceritakan kepada kami Aswad bin ‘Aamir: Telah menceritakan kepada kami Hammaad bin Salamah, dari Qatadah, dari ‘Ikrimah, dari Ibnu ‘Abbas ia berkata: Telah bersabda Rasulullah <em>shallallaahu ‘alaihi wa sallam </em>“ <em>‘Aku melihat Rabb-ku – </em>yaitu dalam mimpi – kemudian ia menyebutkan hadits tersebut.</p>
<p>Hadits itu selengkapnya ada dalam tulisan Al-Baihaqiy, dan ia adalah <strong>khabar munkar</strong>. Kami memohon kepada Allah keselamatan dalam agama. Tidaklah hadits tersebut (shahih) memenuhi persyaratan Al-Bukhari maupun Muslim. Para perawinya, jika mereka tidak tertuduh (berdusta),<a href="http://abusalafy.wordpress.com/wp-admin/#_ftn19">[19]</a> maka tidaklah mereka terbebas dari kesalahan dan lupa (saat meriwayatkan)” [selesai – lihat <em>Siyaru A’laamin-Nubalaa’</em>, 10/113-114 – biografi Syadzaan].</p></blockquote>
<p><strong>Abu Salafy berkata:</strong></p>
<p><span style="text-decoration:underline;">Sepertinya saudara Abu Jauzâ perlu memahami dengan baik istilah hadis munkar dalam pengistilahan <em>adz Dzahabi</em> sebelum kemudian ia menyimpulkan bahwa pernyataan itu darinya adalah <em>pendha’ifan</em></span>! Sebab yang menjadi fokus bidikan penelitian sebagia ulama dalam hadis di atas adalah apakah Nabi saw. melihat Allah di kala jaga  atau dalam mimpi.</p>
<p>Coba perhatikan, ketika menghujat al ‘Uqaili karena sikapnya mencacat seorang perawi yang menyendiri dalam membawakan sebuah riwayat, <em>adz Dzahabi</em> berkata;</p>
<p><em>“ … maka jika seorang perawi tsiqah yang kokoh hafalannya menyendiri dalam membawakan sebuah riwayat maka ia digolongkan hadis shahih yang gharib. Dan jika seorang perawi shadûq menyendiri dalam membawakan sebuah riwayat maka ia digolongkan <strong>hadis munkar</strong>.”</em></p>
<p><span style="text-decoration:underline;"><span style="color:#800000;"><em>Adz Dzahabi </em>tidak menyendiri dalam pendefenisian itu, <em>Imam Ahmad</em> juga memaknai hadis <em>munkar</em> itu sebagai hadis yang hanya diriwayatkan oleh seorang parawi tidak dibarengi perawi lain</span></span>! Abu Thalib bertanya kepada Imam Ahmad tentang hadis <em>istikhârah </em>dari riwayat <em>Ibnu Munkadir</em> dari<em> Jabir</em>, <span style="color:#800000;"><em>Ahmad</em> berkata, “Ia hadis munkar!” Aku berkata; munkar?! Ahmad berkata, <span style="text-decoration:underline;">“Ia tidak diriwayatkan oleh selainnya.</span></span><span style="text-decoration:underline;">”</span><a href="http://abusalafy.wordpress.com/wp-admin/#_ftn20">[20]</a></p>
<p><span style="text-decoration:underline;"><span style="color:#800000;">Padahal hadis itu telah diriwayatkan Imam Bukhari dan Imam Muslim dalam kedua kitab Shahih mereka. Lalu apakah kita akan menvonis hadis itu lemah dikarenakan ucapan Imam Ahmad di atas?</span></span>! serta banyak contoh lain yang dapat ditemukan peneliti jika mau meluangkan waktu dalam penelitian dan komentar-komnetar <em>adz Dzahabi</em>, seperti ketika menyebut biogfari<em> Walîd ibn Muslim </em>–salah seorang perawi yang diandalkan enam penulis kitab hadis standar-, “Dan termasuk paling munkar yang ia riwayatkan adalah hadis tentang menghafal AL Qur’an!”<a href="http://abusalafy.wordpress.com/wp-admin/#_ftn21">[21]</a> padahal hadis itu telah diriwayatkan oleh <em>Imam at Turmudzi</em> dan ia <em>hasan</em>kan, dan <em>al Hakim </em>dan ia tegaskan bahwa ia berdasarkan syarat Bukhari dan Muslim.</p>
<p>Dari keterangan singkat di atas, perkataan adz Dzahabi seperti yang dikutip saudara Abu Jauzâ belum menunjukkan bahwa adz Dzahabi sedangmen <em>-dha’if</em>-kannya, walaupun bisa jadi demikian! <em>Wallahu A’lam</em>.</p>
<p align="center">*****</p>
<p><strong>Ibnu Jauzi melanjutkan:</strong></p>
<p><em>“Dan dalam riwayat (lain) Ibnu Abbas ra. dari Rasulullah saw.: “Aku melihat Tuhanku berambut keriting, </em><em>amrad (remaja belum tumbuh kumis dan janggutnya), Dia mengenakan hiasan berwarna hijau.”</em></p>
<p><strong>Aku (Ibnu Jauzi) berkata;</strong></p>
<p><em>“Hadis ini diriwayatkan dari jalur Hammâd ibn Salamah. Dan Ibnu Abi al ‘Aujâ’ si ateis itu adalah anak asuhnya Hammad, dialah yang menyelundupkan dalam kitab-kitab catatannya hadis-hadis seperti ini. Selain itu yang disebutkan dalam hadis itu adalah mimpi bekala. Dan mimpi itu khayal!”</em></p>
<p><span style="text-decoration:underline;"><strong>Abu Salafy berkata:</strong></span></p>
<p>Hadis ini juga <em>munkar</em> dan palsu! <em>Ibrahim ibn Hakam</em> –parawi hadis ini- adalah tidak bernilai. Demikian dikatakan <em>Yahya ibn Ma’in, an Nasa’i, Abu Zur’ah, al Ajuri, al Azdi, Abu Daud</em> dkk. <em>Al Fasawi </em>menegaskan, <em>“Dan para ulama tidak berselisih pendapat akan kelemahannya.”</em><a href="http://abusalafy.wordpress.com/wp-admin/#_ftn22">[22]</a></p>
<p>Kemudian Ibnu Jauzi meneruskan:</p>
<p><em><span style="text-decoration:underline;">“Hadis-hadis seperti itu tidak punya ketetapan sama sekali, dan hadis-hadis setingkat itu tidak pantas dijadikan hujjah untuk masalah wudhu’!</span> </em><em>Abu Ya’la al Qadhi si Mujassim yang memposturisasi Allah itu telah menetapkannya sebagai sifat bagi Allah, ia berkata, ‘Allah itu adalah berperawakan remaja, tidak berkumis dan berjanggut, rambutnya keriting, ia mengenakan hiasan kupu-kupu, sandal dan mahkota….</em></p>
<p><strong>Ia (Ibnu Jauzi) juga berkata:</strong> <em>“Ibnu Aqil berkata, ‘Hadis ini dipastikan akan kepalsuannya.”</em></p>
<p>Setelahnya <em>Ibnu Jauzi </em>menutup telaahnya dengan menetapkan sebuah kaidah penting lagi berkualitas, ia berkata;</p>
<p><em>“Kemudian tidak bermanfaat ketsiqahan para perawi jika matan (kandungan) hadis itu sesuatu yang musatahil. Hal itu seperti andai ada sekelompok orang yang jujurmengabarkan bahwa ontanya si pedagang sayur itu masuk ke dalam lubang jarum si penjahit! Maka tidak ada makna bagi kejujuran tutur kata para parawi itu selagi berita mereka itu mustahil</em><strong>!</strong><a href="http://abusalafy.wordpress.com/wp-admin/#_ftn23">[23]</a></p>
<p>Dan inilah yang harus terfahami dengan baik oleh kaum Mujassimah sebelum mereka bersusah payah dan menghabiskan umur mereka dalam mencari dukungan dan penguat bagi hadis-hadis yang mengandung makna mustahil seperti di atas!</p>
<p style="text-align:left;"><span style="color:#ff0000;"><strong>(Bersambung Insya Allah)</strong></span></p>
<p><strong><br />
</strong><strong> </strong></p>
<hr size="1" /><a href="http://abusalafy.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref15">[15]</a> Pada bagian lain artikel ini saya akan kembali menyoroti lebih tajam tentang sanad hadis ini, khususnya Nu’aim ibn Hammâd dan kekacauan sikap Syeikh Albani. Nantikan!</p>
<p><a href="http://abusalafy.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref16">[16]</a> At Tabshirah wa at Tadzkirah, syarah Alfiyah al ‘Irâqi,2/10-11.</p>
<p><a href="http://abusalafy.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref17">[17]</a> At Tabshirah wa at Tadzkirah, syarah Alfiyah al ‘Irâqi,2/10-11. juga buku-buku   mushthalahul hadist lainnya.</p>
<p><a href="http://abusalafy.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref18">[18]</a> Abu Jauzâ’ berkata: Kesimpulan: Hadits di atas adalah dla’if karena kelemahan yang ada pada Marwaan bin ‘Utsmaan dan ‘Umaarah bin ‘Aamir serta adanya inqitha’ (keterputusan sanad) antara ‘Umaarah dan Ummu Thufail…”</p>
<p><a href="#_ftnref19">[19]</a> Di sini sepertinya terjemahan saudara Abu Jauzâ dalam hemat kami kurang tepat, yang tepat adalah: walaupun para parawinya tidak tertuduh, akan tetapi mereka bukan orang-orang yang makshum dari kesalahan dan lupa.Wallahu A’lam.</p>
<p><a href="http://abusalafy.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref20">[20]</a> Lebih lanjut baca al Kâmil; Ibnu Adi ketika menyebut sejarah hidup Abu Mawal,4/1616.</p>
<p><a href="http://abusalafy.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref21">[21]</a> Mîzân al I’tidâl,4/347.</p>
<p><a href="http://abusalafy.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref22">[22]</a> Baca Tahdzîb at Tahdzîb,1/100.</p>
<p><a href="http://abusalafy.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref23">[23]</a> Baca<em> Daf’u Syubah at Tasybîh Bi Akuffi at Tanzîh</em>:152-156. Terbitan Dâr al Imam an Nawawi. Yordan).</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/abusalafy.wordpress.com/453/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/abusalafy.wordpress.com/453/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/abusalafy.wordpress.com/453/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/abusalafy.wordpress.com/453/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/abusalafy.wordpress.com/453/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/abusalafy.wordpress.com/453/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/abusalafy.wordpress.com/453/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/abusalafy.wordpress.com/453/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/abusalafy.wordpress.com/453/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/abusalafy.wordpress.com/453/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abusalafy.wordpress.com&blog=1269412&post=453&subd=abusalafy&ref=&feed=1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abusalafy.wordpress.com/2009/10/21/bantahan-atas-abu-jauza%e2%80%99-dan-para-wahhabiyyun-mujassimun-musyabbihun-3/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/dcc398e7d74a34e59c3d59ffcc0673ff?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">abusalafy</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Di Mata Para Imam Wahhâbi, Ahlusunnah Adalah Aliran Sesat!</title>
		<link>http://abusalafy.wordpress.com/2009/10/21/di-mata-para-imam-wahhabi-ahlusunnah-adalah-aliran-sesat/</link>
		<comments>http://abusalafy.wordpress.com/2009/10/21/di-mata-para-imam-wahhabi-ahlusunnah-adalah-aliran-sesat/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 21 Oct 2009 02:06:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abusalafy</dc:creator>
				<category><![CDATA[Akidah Tajsim & Tasybih]]></category>
		<category><![CDATA[Fatwa Pensesatan]]></category>
		<category><![CDATA[Fatwa Wahabi-Salafy]]></category>
		<category><![CDATA[Kenaifan Kaum Wahhabi]]></category>
		<category><![CDATA[Manhaj]]></category>
		<category><![CDATA[Mengenal Pemimpin Wahabi]]></category>
		<category><![CDATA[Penyimpangan Akidah Dalam Kitab at Tauhid]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abusalafy.wordpress.com/?p=577</guid>
		<description><![CDATA[Kaum Wahhâbiyah -yang berusaha dengan segala cara untuk lari dari nama tersebut dan menamakan diri mereka dengan nama Salafi- mereka mengklaim bahwa hanya mereka semata yang berada di atas petunjuk Allah SWT., sementara kelompok lain selain mereka adalah kelompok dan aliran sesat! Hanya merekalah yang mewaliki al Firqah an Nâijyah (kelompok yang selamat) sementara selain [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abusalafy.wordpress.com&blog=1269412&post=577&subd=abusalafy&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<br /><p style="text-align:justify;">Kaum Wahhâbiyah -yang berusaha dengan segala cara untuk lari dari nama tersebut dan menamakan diri mereka dengan nama Salafi- mereka mengklaim bahwa hanya mereka semata yang berada di atas petunjuk Allah SWT., sementara kelompok lain selain mereka adalah kelompok dan aliran sesat! Hanya merekalah yang mewaliki al Firqah an Nâijyah (kelompok yang selamat) sementara selain mereka adalah celaka dan calon tetap penghuni neraka jahîm!</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;"><span id="more-577"></span>Ketika mereka mengumbar lisan mereka menyebut-nyebut Salaf Shaleh mungkin terbesit dalam benak Anda yang mereka maksud adalah para sahabat dan tabi’în atau para ulama Islam gerenasi ketiga misalnya. Akan tetapi anggapan itu akan segera terusir karena Anda akan segera mengetahui bahwa yang mereka maksud adalah &#8220;Syeikh Islam&#8221; mereka yang bernama <strong><em>Ibnu Taimyah</em></strong> dan <strong><em>Ibnu Qayyim</em></strong> serta kaum mujassimah dan Musyabbihah lainnya!</p>
<p style="text-align:justify;">Kaum Wahhabi/Salafy mengklaim bahwa pengikut Ibnu Taimiyah lah yang sejatinya Ahlu Sunnah! Adapun selainnya adalah Ahli Dhalâl (kelompok dan aliran sesat)! Mereka mencoret pengikut empat mazhab; Hanafi, maliki, Syafi’i dan Hanbali dari daftar anggota Ahlu Sunnah! Setelah sebelumnya mengeluarkan kelompok lain darinya!</p>
<p style="text-align:justify;">Para pengikut fanatik Wahhabi-Salafy pasti akan segera menuduh kami sekali lagi menebar fitnah murahan untuk mencoreng &#8220;kecemerlangan&#8221; wajah da’wah Pendekar Pemberantas Syirik dan kekafiran! Karena hanya itu yang dapat mereka lakukan. Tapi janganlah terburu nafsu karena kami bukan ahli fitnah, kami hanya membongkar kejahatan kelompok ini mengingat keganasan doktrin tafir dan pemusyrikannya yang sangat membahayakan keutuhan wahdah Islamiyah!</p>
<p style="text-align:justify;">Karenanya kami segera akan membuktikannya melalui pernyataan para imam dan tokoh sekte sempalan ini baik tokoh klasik mereka maupun tokoh kontemporer.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Pernyataan Syeikh  Abdullah ibn Abdur Rahmân Abu Bathîn (W.1282 H)</strong> <strong>ketika ia berkata:</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong><br />
</strong></p>
<blockquote>
<h3 style="text-align:right;"><strong>إذا عرفت ذلك عرفت خطأ</strong><strong> </strong><strong>من جعل الأشعرية من أهل السنة كما ذكره السفاريني في بعض كلامه ويمكن أنه</strong><strong> </strong><strong>أدخلهم في أهل السنة مداراة لهم لأنهم اليوم أكثر الناس ، والأمر لهم ، والله أعلم</strong><strong> </strong><strong>مع أنه قد دخل بعض المتأخرين من الحنابلة في بعض ما هم عليه)</strong></h3>
<p style="text-align:justify;"><em>“Jika kamu telah ketahui kesalahan orang yang menggolongkan kelompok Asy’ariyah seperti disebutkan as Safâranîni dalam sebagian pembicaraannya. Bisa jadi ia memasukkan mereka ke dalam golongan Ahlu Sunnah sekedar berbasa-basi sebab mereka sa’at ini adalah kelompom mayoritas, kekuasaan di tangan mereka –Allah yang maha mengetahui-, padahal sebagian kalangan mutaakhhirîn pengikut mazhab Hanbali terjebak dalam hal yang mereka yakini.”</em></p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;"><strong>Abu Salafy berkata:</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Di sini Syeikh  Abdullah ibn Abdur Rahmân Abu Bathîn terang-terangan mengusir kaum Asy’ariyah dari golongan Ahlu Sunnah! Dan salahlah siapa saja yang memasukkan mereka ke dalam Ahlu Sunnah!</p>
<p style="text-align:justify;">Suara sumbang di ataas bukan suara tunggal yang dipekikkan oleh para masyâikh Wahhâbi. <strong><em>Syeikh Abdul Aziz bin Bâz</em></strong> juga tidak mau ketinggalan dalam menyuarakan suara sumbang tersebut. Ia berkata, seperti dalam kitab <em>al Aqîdah ash Shahîhah Wamâ Yudhâdduhâ</em>/Akidah yang benar dan yang menyalahinya:20:</p>
<p style="text-align:justify;">
<blockquote>
<h2 style="text-align:right;"><strong>ومن العقائد المضادة</strong><strong> </strong><strong>للعقيدة الصحيحة في باب الأسماء والصفات عقائد أهل البدع من الجهمية والمعتزلة ومن</strong><strong> </strong><strong>سلك سبيلهم في نفي صفات الله عزَّ وجل وتعطيله سبحانه من صفات الكمال … ويدخل في</strong><strong> </strong><strong>ذلك من نفى بعض الصفات وأثبت بعضها كالأشاعرة… ويدخل في</strong><strong> </strong><strong>ذلك من نفى بعض الصفات وأثبت بعضها كالأشاعرة … أما أهل السنَّة والجماعة فقد</strong><strong> </strong><strong>أثبتوا لله سبحانه ما أثبته لنفسه)</strong></h2>
<p style="text-align:justify;"><em>“Dan termasuk akidah yang menyalahi/menentang akidah yang benar dalam masalah nama-nama dan sifat-sifat Allah adalah akidahnya Ahli (Penyandang) Bid’ah dari kelompok Jahmiyyah, Mu’tazilah dan menenmpuh jalan mereka dalam menafikan sifat-sifat Allah –Azza wa Jalla- dan mengosongkan-Nya dari sifat Kemaha-Sempurnaan… . Dan masuk dalam golongan ini kelompok yang menafikan sebagian sifat dan menetapkan sebagian lainnya, seperti kelompok Asy’ariyyah… adapun Ahlu Sunnah wal jamâ’ah mereka menetapkan bagi Allah SWT apa-apa yang ia tetapkan untuk diri-Nya.”</em></p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Abu Salafy berkata:</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Di sini Anda menyaksikan bagaimana Mufti Tertinggi umat Wahhabi-Salafy di zamannya; <em>Syeikh Abdul Aziz bin Bâz</em> dengan terang-terangan mengeluarkan para pemimpim Asy’ariyah dan pengikut mereka dari golongan Ahlu Sunnah! Dan ia menetapkannya secara khusus bagi <em>Ibnu Taimiyah</em> dan pengikut akidahnya.</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="text-decoration:underline;">Perlu Anda cermati bahwa yang ia maksud dengan menafikan sifat bukanlah menafikan bahwa Allah SWT menyandang sifat-sifat sempurna seperti Maha Hidup, Maha Berkuasa, Maha Mengetahui, Maha Sempurna, dll</span>. akan tetapi yang ia maksud –seperti juga kaum Mujassimah lainnya- adalah menafikan sifat bahwa:</p>
<ul>
<li>Allah punya tangan (dan anehnya kata kaum Wahhabi/Salafy –berdasarkan riwayat yang mereka terrima bahwa tangan Allah kedua-duanya kanan, tidak ada yang kiri, coba Anda bayangkan!!),</li>
<li>Allah punya betis,</li>
<li>Allah punya mata,</li>
<li> terkadang Allah juga Maha Menipu,</li>
<li>Allah Maha bermakar,</li>
<li>Allah berlari-lari kecil (<em>harwalah</em>),</li>
<li>Allah terheran-heran (<em>ta’ajjaba</em>), Allah tertawa,</li>
<li>Allah berambut lebat dan memanjang hingga ujung telinga dan sifat-sifat lain yang serupa!</li>
</ul>
<p style="text-align:justify;">Jadi siapapun yang menafikan sifat-sifat itu dari Allah mereka tuding sebagai Mu’aththilah, Nufâtush Shifât!</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="text-decoration:underline;">Padahal para ulama Islam yang menafikan sifat-sifat seperti itu dari Allah dan mena’wilkannya dengan makna yang sesuai dengan Kemaha Agung dan Kemaha Sempurnaan Allah SWT jelas-jelas sedang mensucikan-Nya dari pensifatan yang <em>ilhâd</em> (menyimpang)!</span></p>
<p style="text-align:justify;">Tapi anehnya di mata Wahhâbi/salafy sesiapa yang menafikannya keluar dari Ahlu Sunnah, sedangkan kaum Mujassimah Musyabbihah yang menetapkannya adalah Ahlu Sunnah wal Jam’â’ah! Sungguh tanpa malu pembajakan nama itu!</p>
<p style="text-align:justify;">Jadi sekali lagi, dalam pandangan Syeikh Bin Bâz Cs para ulama yang memaknai misalnya, kata:<strong> يد الله</strong>/<em>tangan Allah</em> dalam ayat:</p>
<h2 style="text-align:right;"><strong>{يد الله فوق أيديهم}</strong></h2>
<p style="text-align:justify;">Dengan kekuasaan/<em>qudrah</em>, sebab pemaknaan itu yang sesuai dengan keagungan Dzat yang Maha Tinggi adalah kaum Mu’aththilah!</p>
<p style="text-align:justify;">Atau kata:<strong> بأعيننا</strong><em>/dengan mata-mata Kami</em> dalam ayat:</p>
<h2 style="text-align:right;"><strong>{تجري بأعيننا}</strong></h2>
<p style="text-align:justify;">Dengan bahwa bahtera Nabi Nuh as. itu berjalan di bawah kontrol dan perhatian serta kelemah-lembutan Kami (Allah), dan tidak mungkin kata itu diartikan dengan mata… menurut kaum Wahhâbi adalah kaum Mu’aththilah! Dan kaum Mu’aththilah adalah kafir!</p>
<p style="text-align:justify;">Jadi demikianlah vonis Bin Bâz atas golongan Asy’ariyah! Kini ia memonopoli hak paten Ahlu Sunnah hanya umtuk kelompok Wahhâbi/Salafy saja!!</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Ibnu Abdil Wahhâb Adalah Panutan Mereka!</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Jika Anda tau sebab yang menjadikan kedua masyâikh Wahhabi itu berfatwa seganas itu, pastilah Anda tidak akan terheran-heran, sebab <em>idzâ ‘urifa as sabab bathalal ‘ajab</em>/jika sebabnya telah diketahui sirnalah keterheran-heranan! Dan segala Sesutu jika keluar dari sumbernya tidak akan mengherankan! Jika panutan mereka adalah Syeikh Galak yang menvonis kafir kelompok Asy’ariyah dalam kitab at Tauhid-nya, maka pasti sirnalah keterheran-heranan Anda! Syeikh Ibnu Abdil Wahhâb lah yang mendoktrin pengikutnya sehingga menjadi mufti-mufti galak dan para pengikut militant di jalan pengkafiran umat Islam!</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Ibnu Abdil Wahhâb berkata:</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Kesimpulan kedua puluh: Penetapan sifat-sifat bagi Allah, berbeda dengan kaum Asy’ariyyah yang Mu’aththialh itu! <a href="http://abusalafy.wordpress.com/wp-admin/#_ftn1">[1]</a></p>
<p style="text-align:justify;">Dalam hal 402 pensyarahnya; Syeikh Abdur Rahman ibn Hasan <em>Âlu</em> (dari keturunan) Syeikh (Ibnu Abdil Wahhab sendiri), ketika menerangkan bab: <em>Man jahada syaian min al Asmâ’ wa ash Shifât</em>/Siapa yang mengingkari nama-nama dan sifat-sifat. Ia mengatakan: “Mereka kaum Mu’aththilah itu telah kafir kepada Al Kitab (Al Qur’an) dan Sunnah.”</p>
<p style="text-align:justify;">Jadi apakah sulit bagi Anda untuk menyimpulkan vonis para imam sekte sempalan Wahhabi dari kedua mukaddimah dari pernyataan kedua imam Wahabi di atas:</p>
<ul style="text-align:justify;">
<li><strong>Mukaddimah pertama: kaum Asy’ariyah adalah Mu’aththilah!</strong></li>
<li><strong>Mukaddimah kedua: kaum Mu’aththilah adalah kafir!</strong></li>
<li><strong>Jadi kesimpulannya: Kaum Asy’ariyah adalah kafir!</strong></li>
</ul>
<p style="text-align:justify;">Jika ada yang menyimpulkan lain maka akalnya perlu diperiksakan dan kewarasaannya perlu dipertanyakan!</p>
<p style="text-align:justify;">Wassalam!<strong> </strong></p>
<hr size="1" />
<p style="text-align:justify;"><a href="http://abusalafy.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref1">[1]</a> Kitab at tauhid (dengan syarahnya berjudul Fathul Majîd):204. cet. Dâr al Kotob al Ilmiah. Beirut.</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/abusalafy.wordpress.com/577/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/abusalafy.wordpress.com/577/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/abusalafy.wordpress.com/577/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/abusalafy.wordpress.com/577/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/abusalafy.wordpress.com/577/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/abusalafy.wordpress.com/577/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/abusalafy.wordpress.com/577/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/abusalafy.wordpress.com/577/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/abusalafy.wordpress.com/577/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/abusalafy.wordpress.com/577/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abusalafy.wordpress.com&blog=1269412&post=577&subd=abusalafy&ref=&feed=1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abusalafy.wordpress.com/2009/10/21/di-mata-para-imam-wahhabi-ahlusunnah-adalah-aliran-sesat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>21</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/dcc398e7d74a34e59c3d59ffcc0673ff?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">abusalafy</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Pendahulu Kaum Wahhâbi Menebar Teror Sadis!</title>
		<link>http://abusalafy.wordpress.com/2009/10/21/pendahulu-kaum-wahhabi-menebar-teror-sadis/</link>
		<comments>http://abusalafy.wordpress.com/2009/10/21/pendahulu-kaum-wahhabi-menebar-teror-sadis/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 21 Oct 2009 02:01:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abusalafy</dc:creator>
				<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[Dinasti al-Saud]]></category>
		<category><![CDATA[Fatwa Pensesatan]]></category>
		<category><![CDATA[Fatwa Wahabi-Salafy]]></category>
		<category><![CDATA[Ibnu Abdul Wahab]]></category>
		<category><![CDATA[Kenaifan Kaum Wahhabi]]></category>
		<category><![CDATA[Manhaj]]></category>
		<category><![CDATA[Mengenal Pemimpin Wahabi]]></category>
		<category><![CDATA[Ulama Salafy-Wahabi Bicara]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abusalafy.wordpress.com/?p=575</guid>
		<description><![CDATA[Jangan Anda heran jika kaum Salafi Wahhâbi, khususnya kaum Ghulât (Super Ekstrim) mereka selalu menebar teror terhadap siapapun yang berselisih pendapat dalam memahami teks-teks agama. Dari mulai teror kata-kata keji tak berdasar hingga melenyapan nyawa terhormat yang haram untuk dilenyapkan. Sebab kekerasan sepertinya  telah menyatu dalam ajaran dan akhlaqiyat kelompok penebar teror ini! Anehnya yang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abusalafy.wordpress.com&blog=1269412&post=575&subd=abusalafy&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<br /><p>Jangan Anda heran jika kaum Salafi Wahhâbi, khususnya kaum <em>Ghulât</em> (Super Ekstrim) mereka selalu menebar teror terhadap siapapun yang berselisih pendapat dalam memahami teks-teks agama. Dari mulai teror kata-kata keji tak berdasar hingga melenyapan nyawa terhormat yang haram untuk dilenyapkan. Sebab kekerasan sepertinya  telah menyatu dalam ajaran dan akhlaqiyat kelompok penebar teror ini! Anehnya yang selalu menjadi korban adalah saudara-saudara sesama Muslim!</p>
<p><span id="more-575"></span></p>
<p>Ketika<em> Ka’ab al Ahbâr</em> (si pendeta Yahudi) menyebarkan faham menyimpang bahwa Allah SWT bisa dilihat dengan mata kepala, Ummul Mukminin Aisyah ra. bangkit membongkar kedok penyimpangan dan penyesatan akidah ala Yahudi yang dilakoni <em>Ka’ab al Ahbâr</em>, dan mengatakan bahwa akidah itu hanya kepalsuan yang diproduk Ka’ab atas nama Allah SWT, seperti telah kami paparkan panjang lebar dalam beberapa artikel di sini, sebagaimana diriwayatkan Imam Bukhari dan Muslim:</p>
<p><strong>Riwayat Imam Bukhari:</strong></p>
<p>Imam Buhkari meriwayatkan dengan sanad dari ‘Âmir dari Masrûq, ia berkata kepada Aisyah ra.:</p>
<blockquote>
<h2 style="text-align:right;"><strong>يا أمتاه هل رأى محمد صلى الله عليه وسلم ربه ؟ فقالت لقد قَفَّ شعري مما قلت ! أين أنت من ثلاث من حدثكهن فقد كذب: <span style="text-decoration:underline;">من حدثك أن محمداً صلى الله عليه وسلم رأى ربه فقد كذب</span> ثم قرأت : لا تُدْرِكُهُ الْأَبْصارُ وَ هُوَ يُدْرِكُ الْأَبْصارَ وَ هُوَ اللَّطيفُ الْخَبيرُ.</strong><strong> وَ ما كانَ لِبَشَرٍ أَنْ يُكَلِّمَهُ اللَّهُ إِلاَّ وَحْياً أَوْ مِنْ وَراءِ حِجابٍ أَوْ يُرْسِلَ رَسُولاً فَيُوحِيَ بِإِذْنِهِ ما يَشاءُ إِنَّهُ عَلِيٌّ حَكيمٌ.</strong><strong> ومن حدثك أنه يعلم ما في غد فقد كذب ثم قرأت : الْأَرْحامِ وَ ما تَدْري نَفْسٌ ما ذا تَكْسِبُ غَداً. ومن حدثك أنه كتم فقد كذب ثم قرأت : </strong><strong>ا </strong><strong>أَيُّهَا الرَّسُولُ بَلِّغْ ما أُنْزِلَ إِلَيْكَ مِنْ رَبِّكَ&#8230; (الآية)، ولكنه رأى جبرئيل عليه السلام في صورته مرتين .</strong><strong> </strong></h2>
<p>“Wahai Bunda, apakah (Nabi) Muhammmad saw. melihat Tuhannya? Maka Aisyah berkata, “Benar-benar bulu romaku merinding dari apa yang engkau katakana! Kemana engkau dari tiga perkara, siapa yang berbicara kepadamu tentang tiga perkara itu pastilah ia benarr-benar telah berbohong;<span style="text-decoration:underline;"> </span><strong><span style="text-decoration:underline;">siapa yang berkata kepadamu bahwa Muhammad saw. telah melihat Tuhannya maka ia benar-benar telah berbohong</span>.</strong> Kemudian ia membacakan ayat: “<em>Dia tidak dapat dicapai oleh penglihatan mata, sedang Dia dapat melihat segala penglihatan itu dan Dialah Yang Maha Halus lagi Maha Mengetahui.” </em>(QS. Al An’âm;103)</p>
<p>Dan: <em>“</em><em>Dan tidak ada bagi seorang manusia pun bahwa Allah berkata- kata dengan dia kecuali dengan perantaraan wahyu atau di belakang tabir atau dengan mengutus seorang utusan (malaikat) lalu diwahyukan kepadanya dengan seizin- Nya apa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Dia Maha Tinggi lagi Maha Bijaksana.”</em> (QS. Asy Syura;51<strong>)</strong></p>
<p>Dan barang siapa yang berbicara kepadamu bahwa Nabi mengetahui dengan pasti apa yang akan terjadi besok maka ia benar-benar telah berbohong. Kemudian ia membacakan ayat: “<em>Sesungguhnya Allah, hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang Hari Kiamat; dan Dia-lah Yang menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang ada dalam rahim. Dan tiada seorang pun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok. Dan tiada seorang pun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (QS. Luqman;34</em><strong> )</strong></p>
<p>Dan barang siapa berbicara kepadamu bahwa Nabi merahasiakan wahyu maka ia benar-benar telah berbohong. Kemudian ia membacakkan ayat:<em> “Hai Rasul, sampaikanlah apa yang di turunkan kepadamu dari Tuhanmu….” (QS. Al Maidah;67)</em></p>
<p>Akan tetapi Nabi melihat malaikatJibril as. dalam bentuk aslinya sebanyak dua kali.”<a href="http://abusalafy.wordpress.com/wp-admin/#_ftn1">[1]</a></p></blockquote>
<p>Dalam riwayat lain Imam Bukhari juga meriwayatkan dari jalur Sya’bi dari Masrûq dari Aisyah ra., ia berkata:</p>
<blockquote>
<h2 style="text-align:right;"><strong><span style="text-decoration:underline;">من حدثك أن محمداً صلى الله عليه وسلم رأى ربه فقد كذب</span></strong><strong><span style="text-decoration:underline;">،</span></strong><strong> وهو يقول : لا تدركه الاَبصار، ومن حدثك أنه يعلم الغيب فقد كذب، وهو يقول : لا يعلم الغيب إلا الله . </strong></h2>
<p><em>“<span style="text-decoration:underline;">Barang siapa berbicara kepadamu bahwa Muhammad aw. melihat Tuhannya maka ia benar-benat telah berbohong</span>.<strong> </strong>Allah berfirman:</em><em> “Dia tidak dapat dicapai oleh penglihatan mata.” Dan barang siapa berbicara kepadamu bahwa dia (Nabi) mengetahui berita ghaib maka ia benar-benat telah berbohong. Allah berfiman:</em><em> “Tiada mengetahui ghaib kecuali Allah.”</em><a href="http://abusalafy.wordpress.com/wp-admin/#_ftn2"><strong>[2]</strong></a></p></blockquote>
<p><em> </em></p>
<p><strong>Riwayat Imam Muslim </strong></p>
<p>Imam Muslim meriwayatkan dari Ummul Mukminin Aisyah ra. ia berkata:</p>
<blockquote>
<h2 style="text-align:right;"><strong>&#8230; مَن زَعَمَ أَنَّ مُحمَّدًا (ص) رَأى رَبَّهُ <span style="text-decoration:underline;">فقَدْ أعظَمَ الفِريَةَ علىَ اللهِِ</span>.</strong></h2>
<p><em>“….. Barang siapa mengklaim bahwa Muhammad melihat Tuhannya maka ia benar-benar telah membuat-buat kepalsuan besar atas nama Allah.”</em> <a href="http://abusalafy.wordpress.com/wp-admin/#_ftn3">[3]</a></p></blockquote>
<p>Mendapati kenyataan sikap Ummul Mukminin Aisyah ra. itu dan penelanjangan yang tegas bahwa akidah itu adalah sebuah kepalsuan atas nama Allah, kelompok Salafi Mujassim (yang mana Sekte Wahhabi adalah anggota aktif di dalamnya) sakit hati kepada Ummul Mukminin Aisyah ra. dan langsung menghujatnya dan menghujaninya dengan kata-kata tidak senonoh.</p>
<p>Di antara pendekar Mujassimah (pendahulu/Salaf kaum Wahhâbi) yang paling berani terang-terangan menghujat Ummul Mukminin Aisyah ra. adalah <strong><em>Ibnu Khuzaimah</em></strong> (tokoh Mujassimah yang sangat mereka agungkan dan sanjung setinggi laingit).</p>
<p>Ibnu Khuzaimah berkata dalam kitab at Tauhid-nya:225</p>
<blockquote>
<h2 style="text-align:right;"><strong>هذه لفظة أحسب عائشة</strong><strong> </strong><strong>تكلمت بها في وقت غضب، ولو كانت لفظة أحسن منها يكون فيها درك لبغيتها كان</strong><strong> </strong><strong>أجمل بها، ليس يحسن في اللفظ أن يقول قائل أو قائلة: قد أعظم ابن عباس</strong><strong> </strong><strong>الفرية، وأبو ذر، وأنس بن مالك، وجماعات من الناس الفرية على ربهم! ولكن</strong><strong> </strong><strong>قديتكلم المرء عند الغضب باللفظة التي يكون غيرها أحسن وأجمل منها&#8230; نقول</strong><strong> </strong><strong>كما قال معمر بن راشد لما ذكر اختلاف عائشة وابن عباس في هذه المسألة: ما</strong><strong> </strong><strong>عائشة عندنا أعلم من ابن عباس&#8230; وإذا اختلفا فمحال أن يقال قد أعظم ابن</strong><strong> </strong><strong>عباس الفرية على الله، لأنه قد أثبت شيئاً نفته عائشة&#8230;</strong><strong> .</strong></h2>
<p><em><strong>“Dalam hemat saya kata-kata Aisyah itu ia lontarkan dalam keadaan emosi!</strong> Andai ada kata-kata yang lebih indah darinya yang dapat merealisakan maksudnya pastilah lebih baik. Tidakkah benar seorang berkata bahwa Ibnu Abbas, Abu Dzarr, Anas ibn Malik dan sekelompok orang lainnya<strong> benar-benar telah membuat-buat kepalsuan besar atas nama Allah! Akan tetapi terkadang seorang berbicara di kala emosi dengan kata-kata yang mana ada kata lain yang lebih indah darinya…. Kami berkata, seperti ucapan Ma’mar ibn Rasyid ketika menyebut-nyebut perbedaan pendapat Aisyah dan Ibnu Abbas dalam masalah ini (Ru’yatullah): Aisyah menurut kami tidak lebih pintar dari Ibnu Abbas… Jika keduanya berselisih maka mustahil dikatakan bahwa Ibnu Abbas telah mengada-ngada atas nama Allah, sebab ia telah menetapkan sesuatu yang dinafikan oleh Aisyah… “</strong></em></p></blockquote>
<p>Di sini, dengan terang-terangan <em>Ibnu Khuzaimah</em> menuduh Ummul Mukminin Aisyah ra. telah bersikap bodoh ketika tak mampu mengontrol emosinya dan kemudian melontarkan kata-kata tersebut! Selain itu <em>Ibnu Khuzaimah</em> melakukan sebuah kesalahan ketika menisbatkan perselisihan itu antara Aisyah ra. dan Ibnu Abbas ra.. Sebab dalam kenyataannya hujatan A’isyah ra. itu ia alamatkan kepada <em>Ka’ab al Ahbâr </em>(si pendeta yang pertama kali menyebarkan kesesatan itu)… namun siapapun yang menjadi alamat hujatan Aisyah ra. yang pasti tuduhan Ibnu Khuzaimah itu sudah keterlulan…!!</p>
<p>Namun dari semua itu ada pelajaran berharga yang dapat kita ambil yaitu bahwa kaum Mujassimah tidak akan segan-segan bersikap kasar, menteror siapapun yang mencoba-coba menggoyang akidah tajsim mereka!! Jadi jangan harap Anda akan dihormati oleh mereka jika Aisyah –istri Nabi saw.- saja mereka lecehkan dan mereka hujat tanpa dasar seperti itu!</p>
<p>Dan yang lebih mengerikan adalah apabila mereka merasa kuat dan memiliki pendukung yang sanggup mendukung aksi teror dan hingga pembantaian, pasti mereka akan lakukan aksi bengis tak berpri-kemanusian itu!</p>
<p>Dalam kesempatan ini saya hanya akan mengutip dua bukti sejarah akan kejahatan pendahulu kaum Wahhabi ini, agar Anda tidak merasa heran jika kaum Salafi Wahhabi sekarang juga mewarisi kebengisan dan keganasan sikap tersebut!</p>
<p><strong>Mereka Berusaha Membunuh Imam Ath Thabari Karena Menolak Akidah Allah Bersemayam Di atas Arsy!</strong></p>
<p>Ketika kaum hanbaliyah menguat posisinya, khususnya di masa kekuasaan al Mutawakkil –seorang Khalifah bengis yang mendukung habis-habisan konsep kaum hanbaliyah yang mujasiimah dan kaum mujassimah murni- dan dengan dukungan kaum awam yang menjadi pengikutn fatanik butanya, mereka mulai melakukan terror terhadap siapapun ulama yang tidak mendukung akidah sesat mereka!</p>
<p><em>Imam Ibnu Jarir ath Thabari</em> –yang tidak diragukan ‘kesalafannya’- menjadi sasaran teror dan amuk massa kaum awam Hanbaliyah dengan arahan ulama berwawasan sempit dan berhati dengki mereka-. Berita teror itu sangat masyhur dalam kitab-kitab sejarah.</p>
<p>Mereka memancing <em>Ibnu Jarir</em> dengan pertanyaan tentang duduknya Allah di atas Arsy-Nya, lalu beliau menafikan akidah yang tidak berdasar itu bahwa Allah duduk di atas Arsy-Nya lalu mendudukkan Nabi mulia-Nya di samping-Nya! Maka mereka langsung menyerang dan berusaha membunuhnya! Namun Allah masih menyemalatkan beliau! Tidak puas karena gagal, kaum Hanâbilah selalu menterornya sehingga ketika beliau wafat, mereka beurusaha sekali lagi untuk melarang beliau dikebumikan di pemakaman kaum Muslimin sehingga terpaksa beliau di kebumikan di dalam rumahnya sendiri!! Subhanallah! Alangkah ganasnya sikap pendahulu kaum Wahhâbiyah ini!</p>
<p>Demikian juga mereka melakukan hal serupa terhadap<em><strong> Imam Ibnu Hibbân</strong></em> –seorang hafidz dan muhaddis agung-!!</p>
<p>Al Hamawaini melaporkan dalam kitab Mu’jam al Udabâ’,9/18/57 ketika menyebut Imam Ibnu Jarir ath Thabari:</p>
<blockquote>
<h2 style="text-align:right;"><strong>فلما قدم إلى بغداد من طبرستان بعد رجوعه إليها تعصب عليه أبو عبد الله</strong><strong> </strong><strong>الجصاص وجعفر بن عرفة والبياضي. وقصده الحنابلة فسألوه عن أحمد بن حنبل في</strong><strong> </strong><strong>الجامع يوم الجمعة، وعن حديث الجلوس على العرش، فقال أبو جعفر:أما أحمد بن</strong><strong> </strong><strong>حنبل فلا يعد خلافه. فقالوا له:فقد ذكره العلماء في الاختلاف، فقال:ما</strong><strong> </strong><strong>رأيته روي عنه ولا رأيت له أصحاباً يعول عليهم. وأما حديث الجلوس على</strong><strong> </strong><strong>العرش فمحال، ثم أنشد</strong><strong>:</strong></h2>
<table style="text-align:right;" dir="rtl" border="0" cellpadding="0" width="380">
<tbody>
<tr>
<td>
<h2><strong>سبحان من ليس له أنيسُ</strong></h2>
</td>
<td>
<h2><strong>ولا له في عرشه جليسُ</strong></h2>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<h2 style="text-align:right;"><strong>فلما سمع ذلك الحنابلة منه وأصحاب الحديث وثبوا ورموه بمحابرهم وقيل كانت</strong><strong> </strong><strong>ألوفاً، فقام أبو جعفر بنفسه ودخل داره فرموا داره بالحجارة حتى صار على</strong><strong> </strong><strong>بابه كالتل العظيم! وركب نازوك صاحب الشرطة في ألوف من الجند يمنع عنه</strong><strong> </strong><strong>العامة، ووقف على بابه يوماً إلى الليل وأمر برفع الحجارة عنه</strong><strong>.</strong></h2>
<p>“Maka ketika beliau mengunjungi kota Baghdad dari daerah Tharabistân, setelahnya Abu Abdillah al Jashshâsh, Ja’far ibn ‘Arafah dan al Bayâdhi mendengkinya. Kaum Hanâbilah (Hanbaliyah) mendatanginya lau bertanya kepadanya di masjid Jami’ pada hari Ju’mat tentang Ahmad ibn Hanbal dan tentang hadis duduknya Allah di atas Arsy-Nya. Maka Abu ja’far (ath Thabari) menjawab: “Adapun Ahmad beliau tidak terhitung sebagai ahli fikih yang perbedaan pendapatnya dihitung.” Mereka berbalik menjawab, “Tetapi para ulama menyebutkannya dalam hal ikhtilaf!” Ath Thabari menjawab, “Aku tidak melihatnya telah diriwayatkan darinya itu dan aku juga tidak melihat beliau punya murid-murid yang dapat diandalkan.”</p>
<p>Adapun hadis tentang duduknya Allah di atas Arsy-Nya, itu mustahil. Lalu beliau membacakan sebuah syair:</p>
<p>Maha suci Dzat yang tidak punya teman penghibur *** tidak juga duduk di Arsy-Nya teman pendamping.</p>
<p>Maka ketika kaum Hanâbilah dan pendukung hadis mendengar itu darinya, mereka langsung menyerangnya dan melemparinya dengan tempat-tempat tinta. Ada yang mengatakan bahwa jumlah mereka ribuan orang. Lau Abu Ja’far (ath Thabari) bangun dan segera masuk ke dalam rumahnya, maka mereka pun melemparin rumahnya dengan batu sehingga tumpukan batu di depan pintu rumah beliau seperti gunung!”</p></blockquote>
<p>Jadi demikianlah sikap mereka! Menteror, menyerang dan memamerkan adegan keganasan yang pantasnya dilakonkan para preman jalanan tak beradab!</p>
<p>Siapaun yang menyelishi “akidah miring” mereka segera dikecam, disesatkan, dan akhirnya dikafirkan dan dihalalkan darahnya!</p>
<p>Kaum Wahhabi mewarisi keganasan sikap kaum <strong>Ghulât Hanbaliyah</strong> yang tidak pernah akan mentolerir siapapun dan apapun yang menyelisihi pendapat mereka! Seakan pendapat mereka adalah wahyu langit yang <em>Lâ Ya’tîhil Bâthilu Min Baini Yadaihi walâ min Khalfihi</em>!</p>
<p>Bukti nyata adalah kondisi keberagamaan di kota suci yang telah dicaplok oleh rezim keluarga Sa’ud yang ditopang oleh lembaga-lembaga angker seribu satu muthawwe’! Di sana kebebesan adalah menjadi komoditas langka yang aneh! Semua dipaksa mengikuti agama sesuai dengan pemahaman kaum Arab baduwi dari dusun Najd…. Semua kaum Muslimin yang hendak mencium jeruji makam suci Rasulullah saw. sebagai ungkapan kecintaan dan kerinduan, lansung saja disambut dengan ‘jenggongan muthawwe’ (polisi syari’at) yang bertebaran di sekitar pusara suci junjungan Nabi tercinta kita Muhammad saw.: Syririk! Syririk! Syririk!</p>
<p>Ketika sorang Muslim menghadap ke makam suci beliau sambil membaca ayat-ayat suci Al Qur’an atau membaca do’a…. para muthawwe’ itu langsung mendatanginya dengan kasar seraya mengatakan, hai Musyrik, arah kiblat di sana, jangan menghadap Muhammad!</p>
<p>Kita semua dipaksa menerima pamahaman tauhid dan syirik <em>ala</em> mufti-mufti buta dan dangkal!</p>
<p>Celakalah jika ada yang berani mendebat mereka dan menyampaikan argumentasinya!</p>
<p>Kami sarankan Anda jangan mencoba nekad melakukannya. Sebab kami khawatir nasib Anda seperti teman-teman sebelumnya, dihukum dan di adili tanpa keadilan!</p>
<p>Jika kaum Wahhabi di Indonesia keberatan dan menganggap apa yang kami sampaikan tentang teror Wahhabi itu fitnah maka kami berharap mereka mampu membawakan wajah cemerlang kebebasan beragama sesuai dengan mazhab masing-masing di Arab Saudi sana!</p>
<p>Para pembaca yang kami muliakan, di Arab Saudi sana, mengadakan pembacaan Maulid Nabi saw. lebih berbahaya ketimbang menggelar pesta Homo yang biasa digelar sebagian pemuda jalang lapuk di sana! Mencari kitab Maulid Diba’ atau Barzanji lebih sulit ketimbang mencari ganja atau wanita lacur! Kami tidak mengatakannya serampangan… semua adalah kenyataan.</p>
<p>Menggelar pembacaan Maulid adalah sebuah kejahatan yang kerenanya pantas dihukum dalam hukum kaum Wahhabi!</p>
<p>Jika kaum Wahhabi menganggap itu bid’ah, mestinya mereka harus tasâmuh/toleran, karena banyak kaum Muslim (bahkan seluruhnya selain mereka) tidak menganggapnya bid’ah! Lalu mengapakah mereka memaksakan pandapatnya ke atas seluruh kaum Muslimin!</p>
<p>Sikap mereka mirip dengan sikap kaum Komunis (PKI) yang apabila berkuasa tidak memberi kebebasan bagi pendapat lain untuk tumbuh dengan layak berdasarkan dalil-dalil yang diyakininya!</p>
<p>Jika mereka menganggap mencium jeruji makam suci Rasulullah saw. itu adalah syirik, maka mereka perlu ketahui bahwa hanya mereka saja yang memahaminya secara miring konsep itu!! Ulama Islam dari berbagai mazhab tidak! Lalu mengapakah mereka memaksakannya ke atas seluru kaum Muslimin se dunia yang menziarahi kota suci itu untuk mengikuti pandangan miring mereka?!</p>
<p>Inilah teror…. yang selalu menghiasi ‘Mazhab Horor’!!! dan ini pulalah yang akan menjadi penyebab kehancuran dan keruntuhan ‘Mazhab Horor’ yang ditegakkan di atas pondasi kekerasan dan pemaksaan kehendak dan pendapat, persis seperti nasib komunisme… ia runtuh bersama keruntuhan Uni Soviet benteng komunisme terkokoh! Nantikan! Janji Allah pasti terlaksana. Allah akan membebaskan dua kota suci kita kaum Muslimin dari cengkeraman Mazhab Horor!</p>
<p>Semoga Allah menyelamatkan umat Islam dari kejahatannya! <em>Amîn Ya Rabbal ‘Âlamîn.</em></p>
<hr size="1" /><a href="http://abusalafy.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref1">[1]</a> Shahih Bukhari,6/50.</p>
<p><a href="http://abusalafy.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref2">[2]</a> Ibid.8/166 dan hadis-hadis serupa juga telah ia riwayatkan dalam banyak kesempatan lain.</p>
<p><a href="http://abusalafy.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref3">[3]</a> Shahih Muslim,1/110.</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/abusalafy.wordpress.com/575/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/abusalafy.wordpress.com/575/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/abusalafy.wordpress.com/575/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/abusalafy.wordpress.com/575/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/abusalafy.wordpress.com/575/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/abusalafy.wordpress.com/575/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/abusalafy.wordpress.com/575/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/abusalafy.wordpress.com/575/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/abusalafy.wordpress.com/575/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/abusalafy.wordpress.com/575/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abusalafy.wordpress.com&blog=1269412&post=575&subd=abusalafy&ref=&feed=1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abusalafy.wordpress.com/2009/10/21/pendahulu-kaum-wahhabi-menebar-teror-sadis/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>18</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/dcc398e7d74a34e59c3d59ffcc0673ff?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">abusalafy</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Telah Terbit Buku Perdana Abu Salafy</title>
		<link>http://abusalafy.wordpress.com/2009/10/20/telah-terbit-buku-abu-salafy/</link>
		<comments>http://abusalafy.wordpress.com/2009/10/20/telah-terbit-buku-abu-salafy/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 20 Oct 2009 05:47:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abusalafy</dc:creator>
				<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[Buku Abu Salafy]]></category>
		<category><![CDATA[Ibnu Abdul Wahab]]></category>
		<category><![CDATA[Kasyfu asy Syubuhat]]></category>
		<category><![CDATA[Manhaj]]></category>
		<category><![CDATA[Mengenal Pemimpin Wahabi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abusalafy.wordpress.com/?p=517</guid>
		<description><![CDATA[Telah Terbit Buku Abu Salafy 
Sinopsis Dari BukuDiskon.Com

Judul                     :    Mazhab Wahabi
Tema                      :    Monopoli Kebenaran dan Keimanan ala Wahabi
Penulis                  :    Abu Salafy
Edisi                       :    pertama
Tahun Terbit      :    September, 2009
Dimensi                :    15 x 13,5 cm
Jml. Halaman    :    364 (termasuk indeks/pengantar)

Di negeri kita bahkan hampir di seluruh dunia Islam, ada sebuah fenomena tentang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abusalafy.wordpress.com&blog=1269412&post=517&subd=abusalafy&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<br /><p style="text-align:center;"><strong>Telah Terbit Buku Abu Salafy </strong></p>
<p style="text-align:left;"><strong><span style="color:#800080;">Sinopsis Dari</span> <a href="http://www.bukudiskon.com/books.aspx?item=12277" target="_blank">BukuDiskon.Com</a></strong></p>
<p><a href="http://abusalafy.files.wordpress.com/2009/10/abusalafy.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-515" title="abusalafy" src="http://abusalafy.files.wordpress.com/2009/10/abusalafy.jpg?w=185&#038;h=236" alt="abusalafy" width="185" height="236" /></a></p>
<p>Judul                     :    Mazhab Wahabi<br />
Tema                      :    Monopoli Kebenaran dan Keimanan ala Wahabi<br />
Penulis                  :    Abu Salafy<br />
Edisi                       :    pertama<br />
Tahun Terbit      :    September, 2009<br />
Dimensi                :    15 x 13,5 cm<br />
Jml. Halaman    :    364 (termasuk indeks/pengantar)</p>
<p><span id="more-517"></span></p>
<p>Di negeri kita bahkan hampir di seluruh dunia Islam, ada sebuah fenomena tentang Mazhab Wahabi, berawal dari dakwah tauhid yang diajarkan oleh<em> Syeikh Muhammad bin Abdul Wahab at-Tamimi </em>yang lahir pada tahun 1111 H da wafat tahun 1206 H.</p>
<p>Banyak ulama yang mengecam doktrin Wahabi karena melakukan pemusyrikan dan pengkafiran terhadap seama Muslim yang tidak sependapat dengannya. Di antaranya ialah <em>Syeikh Muhammad Hasan Shadiq Khan</em> (seorang Salafy) yang secara terang-terangan menyatakan bahwa Ahli HAdis telah berlepasdiri dari Wahabiyah karena bersikap keras dan gegabah dalam mencucurkan darah suci kaum Muslim.</p>
<p>Tentu saja, Mazhab Wahabi mempunyai alasan dan dalil untuk melakukan itu semua. Lalu, bagaimanakah seharusnya kita menyikapi itu semua? Apakah Mazhab Wahabi dapat dibenarkan? Bagaimana hukumnya jika kita mengikuti ajaran Wahabi?</p>
<p>Dalam buku ini, penulis menguraikan dengan gamblang fenomena tentang Mazhab Wahabi secara obyektif. Semuanya dikemukakan dalam buku ini tanpa ada yang ditutup-tutupi. Detail dan akurat. Dengan penjelasan dan analisis Abu Salafy yang tajam disertai dengan data-data lengkap, kita bisa mendapatkan pemahaman yang tepat mengenai keduduan Mazhab Wahabi di dalam Islam.</p>
<p><em>&#8220;Kaum musyrik zaman kita (maksudnya adalah kaum Muslim dari keompok lain yang berbeda dengannya) itu lebih kafir dari kaum kafir Quraisy&#8230;&#8221;</em> <strong>Syeikh Muhammad bin Abdul Wahab at-Tamimi, pendiri Mazhab Wahabi</strong></p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/abusalafy.wordpress.com/517/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/abusalafy.wordpress.com/517/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/abusalafy.wordpress.com/517/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/abusalafy.wordpress.com/517/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/abusalafy.wordpress.com/517/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/abusalafy.wordpress.com/517/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/abusalafy.wordpress.com/517/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/abusalafy.wordpress.com/517/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/abusalafy.wordpress.com/517/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/abusalafy.wordpress.com/517/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abusalafy.wordpress.com&blog=1269412&post=517&subd=abusalafy&ref=&feed=1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abusalafy.wordpress.com/2009/10/20/telah-terbit-buku-abu-salafy/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>41</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/dcc398e7d74a34e59c3d59ffcc0673ff?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">abusalafy</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://abusalafy.files.wordpress.com/2009/10/abusalafy.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">abusalafy</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Seri Fatwa Pensesatan Salafy/Wahhabi &#8220;Hamas Kelompok Menyimpang&#8221;</title>
		<link>http://abusalafy.wordpress.com/2009/10/20/seri-fatwa-pensesatan-salafywahhabi-hamas-kelompok-menyimpang/</link>
		<comments>http://abusalafy.wordpress.com/2009/10/20/seri-fatwa-pensesatan-salafywahhabi-hamas-kelompok-menyimpang/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 20 Oct 2009 05:43:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abusalafy</dc:creator>
				<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[Fatwa Pensesatan]]></category>
		<category><![CDATA[Kenaifan Kaum Wahhabi]]></category>
		<category><![CDATA[Manhaj]]></category>
		<category><![CDATA[Mengenal Pemimpin Wahabi]]></category>
		<category><![CDATA[Wahabi dan Pengkafiran Umat Islam]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abusalafy.wordpress.com/?p=472</guid>
		<description><![CDATA[Seri Fatwa Pensesatan Salafy/Wahhabi &#8220;Hamas Kelompok Menyimpang&#8221;
Salafy/Wahhabi selalu mengelak jika kita katakan bahwa mereka adalah kelompok takfiri yang gampang sekali mencap kafir, sesat, bid&#8217;ah, syirik dan sejenisnya kepada kelompok umat Islam khususnya diluar kelompok mereka.
Dibawah ini akan kami hadirkan kepada pengunjung blog ini, salah satu fatwa pensesatan tersebut (sebetulnya tak repot mendapatkan fatwa-fatwa khas salafy/wahhabi [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abusalafy.wordpress.com&blog=1269412&post=472&subd=abusalafy&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<br /><p><span style="color:#333399;"><strong>Seri Fatwa Pensesatan Salafy/Wahhabi &#8220;Hamas Kelompok Menyimpang&#8221;</strong></span></p>
<p>Salafy/Wahhabi selalu mengelak jika kita katakan bahwa mereka adalah kelompok takfiri yang gampang sekali mencap kafir, sesat, bid&#8217;ah, syirik dan sejenisnya kepada kelompok umat Islam khususnya diluar kelompok mereka.</p>
<p>Dibawah ini akan kami hadirkan kepada pengunjung blog ini, salah satu fatwa pensesatan tersebut (sebetulnya tak repot mendapatkan fatwa-fatwa khas salafy/wahhabi ini, silahkan anda masuki blog atau situs-situs salafy/wahhabi mana saja dan anda akan mendapati fatwa-fatwa model begini, karena ini adalah salah-satu hobi mereka).</p>
<p>Kali ini yang menjadi sasaran pensesatan mereka adalah gerakan kemerdekaan Palestina &#8220;Hamas&#8221;, yang menurut <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Muqbil_bin_Haadi_al-Waadi%27ee" target="_blank">ulama mereka</a> Asy- Syaikh <a href="http://ar.wikipedia.org/wiki/%D9%85%D9%82%D8%A8%D9%84_%D8%A8%D9%86_%D9%87%D8%A7%D8%AF%D9%8A_%D8%A7%D9%84%D9%88%D8%A7%D8%AF%D8%B9%D9%8A" target="_blank">Muqbil bin Haadi Al Wadi&#8217;i</a> <span style="color:#ff0000;"><em>&#8220;Hamas adalah kelompok jihad yang menyimpang&#8221;</em></span></p>
<p><span style="color:#ff0000;"><em><span id="more-472"></span><br />
</em></span></p>
<blockquote><p><span style="color:#ff0000;"><strong>SUMBER:</strong></span><a href="http://www.salafy.or.id/salafy.php?menu=detil&amp;id_artikel=578" target="_blank"> SALAFY ONLINE &#8211; http://www.salafy.or.id/salafy.php?menu=detil&amp;id_artikel=578</a></p>
<p><span style="color:#800000;"><strong>Hamas adalah kelompok jihad yang menyimpang</strong></span><strong> </strong></p>
<p><strong>kategori</strong> <a href="http://www.salafy.or.id/salafy.php?menu=arsip&amp;cat_id=6">Fatwa-Fatwa</a><strong> </strong></p>
<p><strong><span style="color:#ff0000;">Penulis: Asy Syaikh Muqbil bin Haadi</span></strong><strong> </strong></p>
<p><strong>Pertanyaan :</strong> Bagaimana pendapat Anda tentang kelompok Jihad Islam dan pergerakan Hamas di tanah Arab Palestina yang kini dijajah ?<strong> </strong></p>
<p><strong>Jawaban :</strong> (Maka Syaikh Muqbil menjawab dalam Tuhfatul Mujiib 145), “Semoga Allah merahmatinya, perihal Hamas, maka (Hamas) ini merupakan suatu Hizbi/Kelompok. Mereka tidak memerintahkan kebajikan dan mereka tidak mencegah dari kemungkaran. Justru mereka menyalahkan dan menghalangi Ahlus Sunnah.</p>
<p>Dan jika mereka menerima bantuan atau pertolongan, maka sungguh akan melakukan seperti yang dilakukan dalam Afghanistan (atas Ahlussunnah), dengan masing-masingnya memutar senjata mesin dan meriam mereka (Hamas) menyerang pada yang lain (Ahlusunnah).<strong></strong></p>
<p><strong>Artikel asli :</strong></p>
<div>
<p>سئل الشيخ مقبل رحمه الله كما في تحفة المجيب ص 145:” ما رأيكم في الجهاد الإسلامي وحركة المقاومة الإسلامية حماس في الأراضي العربية المحتلة في فلسطين فأجاب رحمه الله تعالى :أما جماعة حماس فهي جماعة حزبية لا تأمر بمعروف ولا تنهى عن منكر</p>
<p>وتنكر على أهل السنة ولو حصل لهم نصر لفعلوا كما فُعل في أفغانستان يوجه بعضهم إلى بعض المدفع والرشاش لأنهم ليسوا على قلب واحد (Artikel asli http://www.sahab.net/sahab/showthread.php?s=67a40fb39254725e880dec4bf1b75df6&amp;threadid=295768. تحفة المجيب ص 145:)</p>
<p>(Diterjemahkan tim salafy.or.id dari http://www.salafitalk.net/st/viewmessages.cfm?Forum=6&amp;Topic=3424 diposting oleh Abu Qaila Rasyid bin Estes Barbi (Raleigh/Durham, North Carolina. Murajaah ustadz Abu Hamzah).</p>
</div>
</blockquote>
<p>Kita semua tahu, bahwasanya sa&#8217;at ini <strong><em>Hamas </em></strong>adalah satu-satunya kelompok perjuangan Palestina yang masih getol dan bersemangat melawan penjajahan dan penistaan negara Zionis Yahudi, ditengah-tengah keputus-asahan dan ogah-ogahan negara-negara Arab melawan Zionis Israel dan memerdekakan saudara sebangsa (baca Arab) dan seagamanya yakni Palestina dari penjajahan Israel.</p>
<p>Tidak cukup negara-negara Arab penghianat (macam <a href="http://www.pk-sejahtera.org/v2/main.php?op=isi&amp;id=6661" target="_blank">Mesir</a>, <a href="http://swaramuslim.net/berita/more.php?id=A5730_0_12_0_M" target="_blank">Jordan</a>, dan <a href="http://swaramuslim.net/galery/more.php?id=A5523_0_18_0_M" target="_blank">Saudi Arabia</a>) yang bukannya mendukung perjuangan <em>Hamas</em> tapi  sebaliknya bersekongkol dengan Israel untuk melemahkan perjuangan Hamas, sekarang malah ikut-ikutkan para Ulama Wahabiyyun/Salafiyyun berfatwa &#8220;Mensesatkan&#8221; Gerakan Perlawanan Islam <em>&#8220;Hamas&#8221;</em> Seperti Fatwa Syaikh Muqbil diatas.</p>
<p style="text-align:center;"><a href="http://abusalafy.files.wordpress.com/2009/10/bush-abdullah.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-481" title="bush abdullah" src="http://abusalafy.files.wordpress.com/2009/10/bush-abdullah.jpg?w=450&#038;h=300" alt="bush abdullah" width="450" height="300" /></a><span style="color:#0000ff;"><em>Raja Abdullah (Saudi), George Bush</em></span></p>
<p style="text-align:center;"><span style="color:#0000ff;"><em><a href="http://abusalafy.files.wordpress.com/2009/10/abdullah-cs.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-490" title="abdullah cs" src="http://abusalafy.files.wordpress.com/2009/10/abdullah-cs.jpg?w=450&#038;h=300" alt="abdullah cs" width="450" height="300" /></a></em></span><span style="color:#0000ff;"><em>Dari kiri, Raja Abdullah (Saudi), Menlu Arab Saudi, Saud Al-faisal, Raja Abdullah (Jordan), George Bush</em></span></p>
<p style="text-align:center;"><span style="color:#0000ff;"><em><a href="http://abusalafy.files.wordpress.com/2009/10/mubarak-olmert.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-482" title="mubarak Olmert" src="http://abusalafy.files.wordpress.com/2009/10/mubarak-olmert.jpg?w=450&#038;h=300" alt="mubarak Olmert" width="450" height="300" /></a></em></span><a href="http://abusalafy.files.wordpress.com/2009/10/mubarak-olmert.jpg"><em>Senyum saudara kembar, Ehurt Olmert dan Husni Mubarak</em></a><span style="color:#0000ff;"><em><br />
</em></span></p>
<p style="text-align:center;"><a href="http://abusalafy.files.wordpress.com/2009/10/abbas.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-603" title="abbas" src="http://abusalafy.files.wordpress.com/2009/10/abbas.jpg?w=450&#038;h=300" alt="abbas" width="450" height="300" /></a><span style="color:#0000ff;">Presiden Palestina (antek Israel) dan mantan PM Zionis Olmert</span></p>
<p>Selain <em>Syaikh Muqbil</em> tak lama dari ingatan kita ketika <em>Gaza </em>di Gempur Habis oleh zionis biadab, seorang ulama wahhabi/salafy lainnya dari negeri seribu satu muthowwek &#8220;Saudi Arabia&#8221; dengan lantang berfatwa &#8220;Haram Demo Dukung Hamas&#8221; ! Tragis memang ketika suatu bangsa muslim di musnahkan oleh zionis biadab (lihat foto-foto pembantaian zionis di Gaza<a href="http://www.ccun.org/Opinion%20Editorials/2009/February/13%20o/Photos%20of%20UNRWA%20School%20in%20Beit%20Lahia,%20Gaza,%20Palestine,%20Attacked%20by%20US-Made%20Israeli%20White%20Phosphorus%20Bombs,%20a%20Documentary%20of%20Israeli%20War%20Crimes.htm" target="_blank"> disini</a>, <a href="http://myartikel.wordpress.com/2009/04/28/guardian-investigation-uncovers-evidence-of-alleged-israeli-war-crimes-in-gaza/" target="_blank">disini</a>, <a href="http://myartikel.wordpress.com/2009/02/08/foto-korban-pembantaian-dan-kebiadaban-israel-di-gaza/" target="_blank">disini</a>, <a href="http://www.guardian.co.uk/world/gallery/2009/jan/23/gaza-middleeast?picture=342225616" target="_blank">disini</a>, dan<a href="http://www.bubbleshare.com/album/524700/overview#17946550" target="_blank"> disini</a>), tiba-tiba seorang ulama bukannya memberikan dukungan moral atau mengutuk perbuatan biadab Israel eh&#8230; malah sebaliknya mengeluarkan fatwa yang aneh bin ajaib tapi nyata itulah Wahhaby/Salafy.</p>
<p><a href="http://abusalafy.files.wordpress.com/2009/10/gaza-korban-1.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-483" title="gaza korban 1" src="http://abusalafy.files.wordpress.com/2009/10/gaza-korban-1.jpg?w=331&#038;h=435" alt="gaza korban 1" width="331" height="435" /></a></p>
<p><a href="http://abusalafy.files.wordpress.com/2009/10/gaza-2.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-484" title="gaza 2" src="http://abusalafy.files.wordpress.com/2009/10/gaza-2.jpg?w=468&#038;h=372" alt="gaza 2" width="468" height="372" /></a></p>
<p style="text-align:center;"><a href="http://abusalafy.files.wordpress.com/2009/10/korban-bom-fosfor.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-496" title="korban bom fosfor" src="http://abusalafy.files.wordpress.com/2009/10/korban-bom-fosfor.jpg?w=467&#038;h=315" alt="korban bom fosfor" width="467" height="315" /></a><span style="color:#0000ff;">Korban bom fosfor zionis</span></p>
<p><a href="http://abusalafy.files.wordpress.com/2009/10/gaza4.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-495" title="gaza4" src="http://abusalafy.files.wordpress.com/2009/10/gaza4.jpg?w=467&#038;h=319" alt="gaza4" width="467" height="319" /></a></p>
<p><a href="http://abusalafy.files.wordpress.com/2009/10/gaza3.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-485" title="gaza3" src="http://abusalafy.files.wordpress.com/2009/10/gaza3.jpg?w=468&#038;h=379" alt="gaza3" width="468" height="379" /></a><span style="color:#0000ff;">Inilah Sebagian dari foto-foto korban pembantaian, kejahatan dan kebiadaban Zionis Israel tempo hari di Gaza &#8211; Palestina, yang mana sebagai hamba yang lemah kitapun dilarang oleh Ulama wahhabi/salafy untuk menunjukkan protes atas kebiadaban ini dengan berdemo. <span style="color:#ff0000;">Foto-foto lainnya bisa di lihat</span><span style="color:#ff0000;"> <a href="http://www.bubbleshare.com/album/524700/overview#17946550" target="_blank">disini</a></span><br />
</span></p>
<p style="text-align:center;"><a href="http://abusalafy.files.wordpress.com/2009/10/allahidan.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-486" title="allahidan" src="http://abusalafy.files.wordpress.com/2009/10/allahidan.jpg?w=439&#038;h=329" alt="allahidan" width="439" height="329" /></a><span style="color:#0000ff;">Syekh Shaleh Al-Luhaidan yang berfatwa bahwa demo menentang pembantaian zionis Israel atas bangsa Palestina sebagai <em>&#8220;Fasad fi al-Ardhi&#8221;</em> -kerusakan di muka bumi-</span></p>
<p>Fatwa tersebut keluar dari mulut Syekh Shaleh bin Muhammad Al Luhaidan (Kepala Dewan Pengadilan Tertinggi &#8211; Saudi Arabia), Sebagaimana diberitakan<a href="http://www.islamonline.net/servlet/Satellite?c=ArticleA_C&amp;cid=1230650254496&amp;pagename=Zone-Arabic-News/NWALayout" target="_blank"> </a><em><strong><a href="http://www.islamonline.net/servlet/Satellite?c=ArticleA_C&amp;cid=1230650254496&amp;pagename=Zone-Arabic-News/NWALayout" target="_blank">-ISLAM ONLINE-</a> </strong></em></p>
<p>Al Luhaidan, mengatakan bahwa demonstrasi yang terjadi di jalanan negara Arab menentang kebiadaban Zionis Israel dan membela warga Gaza termasuk membuat <strong><em>&#8220;Fasad Fi Al-ArdHi&#8221; </em></strong>atau kerusakan di muka bumi, tidak ada kebaikannya dan perbuatan yang melalaikan manusia dari mengingat Allah. Ia menambahkan bahwa pelaku demonstrasi adalah orang-orang yang tak berakal. Selanjutnya Syekh Al-Luhaidan mengatakan cukup mendoakan bangsa Palestina dan Qunut (Nazilah) di masjid-masjid&#8230;&#8230;<a href="http://www.islamonline.net/servlet/Satellite?c=ArticleA_C&amp;cid=1230650254496&amp;pagename=Zone-Arabic-News/NWALayout" target="_blank">lengkapnya bisa dibaca disini</a> dan baca juga fatwa sejenis &#8220;pengharaman demo dukung Palestina&#8221; oleh ulama wahhabi/salafy Saudi Arabia lainnya  Syekh Saalih Al Fauzan <a href="http://swaramuslim.net/posting/printerfriendly.php?id=25_0_19_0_C" target="_blank">disini</a></p>
<p><span style="text-decoration:underline;"><strong>Abu Salafy Berkata:</strong></span></p>
<p>Apa bukti Syekh Muqbil mengatatakan: <strong>&#8220;Mereka tidak memerintahkan kebajikan dan mereka tidak mencegah dari kemungkaran. Justru mereka menyalahkan dan menghalangi Ahlus Sunnah&#8221;.</strong> Siapa gerangan yang di maksud &#8220;ahlussunnah&#8221; oleh Syekh Muqbil disini? Wahhabi/Salafy kah? bukankah <em>Hamas</em> adalalah Ahlussunnah? bukankah Mayoritas Ulama-ulama Ahlussunnah di dunia Islam mendukung Hamas? hanya wahhaby/salafy model syekh muqbil, Al-Luhaidan Cs dan antek-antek zionis Israel yang menentang <em>Hamas. </em></p>
<p>Abu Salafy bertanya-tanya ada apa kiranya hubungan antara Wahhaby/Salafy dan Zionis Yahudi, mengapa mereka melarang demonstrasi menentang kedholiman Israel? apakah benar demonstrasi menentang Israel suatu &#8220;kerusakan di muka bumi&#8221;? apakah pembantaian rakyat Palaestina yang tak berdosa oleh Israel bukan suatu &#8220;kerusakan di muka bumi&#8221; (<em>fasad fi al-Ardhi</em>)? <a href="http://swaramuslim.net/posting/printerfriendly.php?id=25_0_19_0_C" target="_blank">Kalau demo saja disebut membuat kerusakan di muka bumi, lalu Yahudi Israel yang 60 tahun menjajah tanah Palestina dan kini memborbardir Gaza dengan ribuan ton bom dan membunuh 900 orang dan melukai 4000-an lainnya, mereka disebut apa?</a> Terus Wahai Syekh Al Luhaidan apakah cukup dengan qunut nazilah dapat membebaskan Palestina dari penjajahan Israel?</p>
<p>Tentunya banyak ulama Islam dunia yang bereaksi waktu itu atas fatwa junun ini:</p>
<blockquote><p>Beberapa ulama menyatakan bahwa Fatwa Luhaidan yang telah dilansir oleh koran al Hayat, hari Sabtu (3/2) itu sebagai “perkataan yang amat memalukan“ bagi dunia Islam. Sedangkan yang lain mengatakan bahwa hal itu merupakan “kriminal besar“ karena memerintahkan orang lain untuk tidak mengungkapkan sikap lewat demontrasi.</p>
<p>Beberapa ulama yang melakukan pertemuan di Kairo sepakat bahwa demontrasi mendukung warga Gaza yang sedang dibantai Israel saat ini adalah wajib, secara syar’i dan aqli.</p>
<p>Salah satu dari ulama yang hadir adalah Syeikh Dr Wahbah Az Zuhaili, Wakil Ketua Majma’ Fuqaha As Syari’ah Amerika dan profesor bidang fikih di Universitas Damaskus.</p>
<p>Syeikh Wahbah merasa heran dan sangat mempertanyakan fatwa Al Luhaidan. “Di mana letak kerusakan di bumi, ketika kita melakukan demontrasi menentang kekejaman Israel atas Gaza? Mengatakan hal itu (pelarangan demonstrasi) sama dengan mengakui penjajahan. Jika demontrasi untuk menghancurkan kemungkaran maka hal itu bukan menciptakan kerusakan di bumi,“ ujar Syeikh Wahbah. <a href="http://swaramuslim.net/printerfriendly.php?id=6157_0_1_0_C" target="_blank">Selengkapnya baca di <em>SwaraMuslim</em></a></p></blockquote>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/abusalafy.wordpress.com/472/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/abusalafy.wordpress.com/472/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/abusalafy.wordpress.com/472/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/abusalafy.wordpress.com/472/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/abusalafy.wordpress.com/472/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/abusalafy.wordpress.com/472/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/abusalafy.wordpress.com/472/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/abusalafy.wordpress.com/472/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/abusalafy.wordpress.com/472/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/abusalafy.wordpress.com/472/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abusalafy.wordpress.com&blog=1269412&post=472&subd=abusalafy&ref=&feed=1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abusalafy.wordpress.com/2009/10/20/seri-fatwa-pensesatan-salafywahhabi-hamas-kelompok-menyimpang/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>40</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/dcc398e7d74a34e59c3d59ffcc0673ff?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">abusalafy</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://abusalafy.files.wordpress.com/2009/10/bush-abdullah.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">bush abdullah</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://abusalafy.files.wordpress.com/2009/10/abdullah-cs.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">abdullah cs</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://abusalafy.files.wordpress.com/2009/10/mubarak-olmert.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">mubarak Olmert</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://abusalafy.files.wordpress.com/2009/10/abbas.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">abbas</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://abusalafy.files.wordpress.com/2009/10/gaza-korban-1.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">gaza korban 1</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://abusalafy.files.wordpress.com/2009/10/gaza-2.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">gaza 2</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://abusalafy.files.wordpress.com/2009/10/korban-bom-fosfor.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">korban bom fosfor</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://abusalafy.files.wordpress.com/2009/10/gaza4.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">gaza4</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://abusalafy.files.wordpress.com/2009/10/gaza3.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">gaza3</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://abusalafy.files.wordpress.com/2009/10/allahidan.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">allahidan</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Salafy Vs Salafy: Kali Ini Fauzan Al Anshori Angkat Bicara !</title>
		<link>http://abusalafy.wordpress.com/2009/10/19/salafy-vs-salafy-kali-ini-fauzan-al-anshori-angkat-bicara/</link>
		<comments>http://abusalafy.wordpress.com/2009/10/19/salafy-vs-salafy-kali-ini-fauzan-al-anshori-angkat-bicara/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 19 Oct 2009 15:44:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abusalafy</dc:creator>
				<category><![CDATA[Salafy vs Salafy]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abusalafy.wordpress.com/?p=527</guid>
		<description><![CDATA[Ketika iseng-iseng mencari beberapa artikel eh&#8230;  malah menemukan tulisan Fauzan Al Anshori (dari Majlis Mujahidin) yang ditujukan kepada Salafiyyun-Wahabiyyun. Rupanya konflik internal dikalangan Salafiyyun-Wahabiyyun semakin nampak kepermukaan walaupun kalangan mereka berusaha mengelaknya.
Marilah kita ikuti unek-unek Fauzan Al Anshori kepada Ikhwan sesama Salafy/Wahabi-nya:
________________
SALAFIYYUN DALAM SOROTAN : BENARKAH GERAKAN SALAFY PALING AHLUS SUNNAH?
Oleh : Fauzan al-Anshori
(Sumber : [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abusalafy.wordpress.com&blog=1269412&post=527&subd=abusalafy&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<br /><p>Ketika iseng-iseng mencari beberapa artikel eh&#8230;  malah menemukan tulisan <strong>Fauzan Al Anshori</strong> (dari Majlis Mujahidin) yang ditujukan kepada Salafiyyun-Wahabiyyun. Rupanya konflik internal dikalangan Salafiyyun-Wahabiyyun semakin nampak kepermukaan walaupun kalangan mereka berusaha mengelaknya.</p>
<p>Marilah kita ikuti <em>unek-unek</em> Fauzan Al Anshori kepada Ikhwan sesama Salafy/Wahabi-nya:</p>
<p>________________</p>
<p><span style="color:#003366;"><strong>SALAFIYYUN DALAM SOROTAN : BENARKAH GERAKAN SALAFY PALING AHLUS SUNNAH?</strong></span></p>
<p><span style="color:#800000;"><span style="font-weight:normal;"><strong>Oleh : Fauzan al-Anshori</strong></span></span></p>
<p><span style="color:#003366;"><strong>(Sumber : majelis.mujahidin.or.id; dimuat Kamis, 12 Mei 2005) </strong></span></p>
<p><strong><span style="color:#ff0000;">di copas dari blog</span> <a href="http://sampaikan.wordpress.com/2007/02/15/salafiyyun-dalam-sorotan-benarkah-gerakan-salafy-paling-ahlus-sunnah/" target="_blank">sampaikan.wordpress.com</a></strong></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-weight:normal;"> </span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-weight:normal;">Sejak beberapa puluh tahun yang lalu, di tengah kaum muslimin muncul sebuah gerakan yang menamakan dirinya salafiyah atau salafiyyun. Mereka menyatakan dirinya sebagai umat Islam yang paling ahlu sunnah wal jama’ah, paling firqah najiyah, paling salafus sholih dan paling thaifah manshurah. Siapa bergabung dengan mereka, mereka anggap kelompok ahlu sunnah wal jama’ah. Siapa tidak bergabung dengan mereka, mereka sebut sebagai ahlu bid’ah, ahlul ahwa’, Hizbiyyah Khawarij, firqah dhalalah dan sebutan mengerikan lainnya. Sebenarnya apa gerakan salafiyyun itu? </span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;">
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-weight:normal;"><span id="more-527"></span><br />
</span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-weight:normal;"> </span></p>
<p><span style="font-weight:normal;">Bagaimana aqidah dan manhaj mereka menurut Al-Qur’an dan As-Sunnah ‘ala fahmi Salafush Sholih? Betulkah yang bergabung dengan mereka termasuk ahlu sunnah, dan yang tidak bergabung termasuk hizbiyyah dan ahlu bid’ah? </span><span style="font-weight:normal;"> </span><span style="font-weight:normal;">Benarkah segala klaim dan tudingan mereka ?</span><span style="font-weight:normal;"> </span></p>
<p>Ada sebuah pertanyaan yang mengganjal dalam benak kita, manakala melihat kiprah gerakan salafiyyun di medan dakwah. Vonis-vonis keras kepada seorang atau kelompok Islam yang berada di luar arus mereka, dan pengkultusan kepada syuyukh (guru-guru) di kalangan mereka sehingga mereka tidak menerima bila syuyukh mereka dikritisi. Benarkah ini cerminan interaksi sosial ‘ala ahlus sunnah terhadap ahlul bid’ah? Ataukah ada sesuatu yang salah?<span id="more-6"> </span></p>
<p>1. TA’ASHUB DAN TAQLID BUTA</p>
<p>Bila diperhatikan, sebenarnya sikap ini bukanlah sebuah kebetulan belaka. Sikap ini lahir dari sikap hizbiyyah mereka, yang mereka terima dari para syuyukh mereka sendiri. Betapa tidak, sejak awal belajar seorang muslim yang bergabung dengan kelompok ini sudah didoktrin untuk menerima suatu dogma: bahwa kebenaran itu mempunyai tanda-tanda pengenal dan menara penerang, yang berwujud ajaran yang diterima dari kelompok mereka!</p>
<p>Itulah yang diajarkan para syuyukh mereka. Adalah syaikh Ali Hasan Al Halabi Al Atsari – seorang syaikh panutan mereka yang mengakui dirinya syaikhu salafiyyin ketiga setelah syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani dan syaikh Muhammad Ibrahim Syaqrah – yang menyatakan ijma’ tentang kedudukan tiga syuyukh salafiyyun ini dengan mengatakan:</p>
<p>“Para ulama kami yang agung itu, mereka itulah bintang-bintang pemberi petunjuk dan meteor yang tinggi, barangsiapa berpegang teguh dengan mentaati mereka, mereka itulah yang selamat dan barangsiapa memusuhi mereka, maka dialah orang yang tersesat” (At Tahdziru Min Fitnati Takfir, hal. 39)</p>
<p>Jika ini yang dikatakan oleh syaikh panutan mereka, lantas bagaimana dengan para pengikut mereka? Pernyataan ini perlu mendapat catatan yaitu: Pertama: Ijma’ menurut para ulama adalah kesepakatan seluruh ulama mujtahidin setelah wafatnya Rosululloh saw. –bukan para syuyukh salafiyyun– dalam suatu masa tertentu, atas suatu persoalan tertentu. Yang dimaksud dengan kesepakatan adalah tidak adanya pendapat yang menyelisihi meski dari seorang ulama pun. Bila ada seorang ulama yang menyelisihi, maka namanya bukan ijma’.</p>
<p>Kedua: Pernyataan bahwa siapa yang bergabung dengan syaikh fulan dan membelanya baik benar maupun salah berarti kelompok yang benar, dan siapa mengkritik (memusuhi?) dan tidak bergabung dengan syaikh fulan berarti kelompok yang salah dan sesat, hal itu merupakan sebuah hizbiyyah, ta’ashub buta dan taklid buta yang terlarang dan sama sekali bukan sikap ahlu sunnah.</p>
<p>Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan yang artinya: “Barangsiapa menjadikan seseorang selain Rosululloh, siapa mengikutinya dan sejalan dengannya, ia adalah seorang ahlu sunnah, dan siapa yang menyelisihinya berarti adalah ahlu bid’ah dan firqoh, sebagaimana terdapat pada kelompok ahlu kalam –dan juga salafiyyun hari ini– dan kelompok lainnya, maka ia termasuk ahlu bid’ah, dholal (sesat) dan tafaruq (pemecah belah persatuan umat Islam).” (Majmu’ul Fatawa 3/216)</p>
<p>Subhanallah, pernyataan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah ini telah menyingkap dengan telak, siapa sebenarnya gerakan salafiyyun ini. Alhamdulillah, kita tak perlu bersusah payah, Syaikhul Islam sudah membongkarnya dengan sangat telak.</p>
<p>Imam Abdurrahman Ibnu Jauzi mengatakan: “Ketahuilah sesungguhnya mayoritas para ahlu bid’ah itu dalam hati mereka ada ta’dzim (mengagungkan, mengkultuskan) seseorang –syaikh, ustadz, kiyai, habib, dll– mereka mengikuti perkataannya tanpa mentadaburi apa yang dikatakan, ini adalah sebuah kesesatan, karena melihat itu seharusnya kepada apa yang dikatakan, bukan kepada siapa yang mengatakan. Sebagaimana dikatakan oleh Imam Ali kepada Harits bin Hauth. Harits mengatakan kepada Ali, “Apakah anda mengira bahwa kami mengira Thalhah dan Zubair berada di atas kebatilan?” Maka Ali menjawab, “Wahai Harits, engkau ini terkena talbis (kerancuan). Sesungguhnya kebenaran tidak diketahui dari orang-orangnya. Ketahuilah kebenaran, maka engkau akan mengetahui pengikut kebenaran.” (Talbisu Iblis hal.101)</p>
<p>Sesungguhnya gerakan salafiyyun telah mendapat peringatan, kritikan dan nasehat dari para ulama, berkenaan dengan penyelisihan-penyelisihan mereka secara jelas terhadap aqidah ahlu sunnah wal jama’ah. Namun mereka tetap berjalan dengan penyelewengan mereka, bahkan semakin keras dan menyerang kelompok-kelompok umat Islam di luar mereka.</p>
<p>2. SEKULERISME</p>
<p>Maka inilah yang terjadi bagaimana sebuah kelompok yang menamakan dirinya salafiyyun, pengikut salafus sholih, namun menganut paham sekulerisme. Ini pernyataan syaikh nomer kedua mereka syaikh Muhammad Ibrahim Syaqrah yang artinya: “Saya meyakini bahwa slogan, “berikan hak kaisar kepada kaisar dan hak Tuhan kepada Tuhan” adalah sebuah kalimat bijaksana yang sesuai dengan zaman kita ini.” (Hiya As Salafiyatu Nisbatan wa Aqidatan wa Manhajan hal. 172).</p>
<p>Ya, tentu saja sangat sesuai dengan gerakan salafiyyun, namun jelas sangat bertentangan dan tidak sesuai dengan Islam. Semua Ulama Ahlus Sunnah wal Jama’ah memahami bahwa Islam adalah Agama dan Negara. Islam tidak sekedar mengatur urusan ritual peribadatan semata, namun juga mengatur seluruh aspek kehidupan manusia. Dan semua Ulama juga telah bersepakat, bahwa sekulerisme merupakan sebuah paham kufur.</p>
<p>Tak heran bila gerakan salafiyyun ini gencar melarang berbicara urusan politik, tahkimu syari’ah, amar ma’ruf kepada penguasa, apalagi urusan Khilafah Islamiyyah. Menurut mereka orang-orang yang mengangkat tema-tema tahkimu syari’ah, amar makruf kepada penguasa atau Khilafah Islamiyyah adalah kelompok hizbiyyun, khawarij, Ahlu bid’ah, orang-orang yang haus kekuasaan, orang-orang yang tidak mempedulikan urusan dakwah tauhid. Padahal jelas, seluruh Ulama telah ijma’ bahwa amar makruf dan menegakkan khilafah merupakan sebuah kewajiban kifayah. Fardhu khifayah bila tidak tuntas menjadi fardhu ‘ain. Adapun tuduhan tidak mempedulikan dakwah tauhid dan haus kekuasaan, tentunya sebuah tuduhan yang harus dibuktikan dengan bukti-bukti nyata, jika tidak tentu sebuah tuduhan kosong.</p>
<p>Yang lebih mengherankan lagi, mereka menganggap pemerintahan sekuler sebagai pemerintahan Islam yang wajib ditaati oleh kaum Muslimin. Maka semua orang yang paham tauhid tentu akan tertawa, ketika melihat kekonyolan mereka menganggap pemerintahan Nushairiyyah Syiria, misalnya, sebagai pemerintahan Islam yang harus ditaati, dan mereka menghujat Mujahidin Syiria yang berjihad melawan pemerintah Nushairiyyah. Padahal semua orang yang paham tauhid tentu paham bahwa Ulama Islam telah ijma’ bahwa Nushairiyyah adalah sekte kafir. Ya, kelucuan-kelucuan lainnya yang<br />
timbul dalam urusan ini tak bisa dipisahkan dari prinsip sekulerisme yang dianut oleh syuyukh mereka ini.</p>
<p>3. MENIHILKAN JIHAD</p>
<p>Ta’thil (menihilkan) jihad, itulah salah satu (sifat gerakan) salafiyyun yang mendakwahkan dirinya sebagai kelompok paling Ahlus Sunnah, atau bahkan satu-satunya Ahlus Sunnah dan di luar kelompok mereka (adalah) ahlul bid’ah dan hizbiyyah semua. Padahal jelas, salah satu sifat utama Thaifah Manshurah adalah jihad fie sabilillah, berperang di jalan Allah Ta’ala untuk meninggikan kalimatullah. Bahkan asbabul wurud hadits tentang Thaifah Manshurah pun berasal dari adanya sebagian shahabat Rasulullah shallalahu ‘alaihi wa salam yang menyatakan jihad sudah selesai.</p>
<p>Jihad merupakan sifat tak terlepaskan dari generasi salafu sholih, dan jihad akan senantiasa berlanjut sampai Umat Islam bertempur melawan Dajjal. Para Ulama juga telah ijma’ bahwa manakala musuh menduduki salah satu negeri Islam, jihad menjadi fardhu ‘ain. Negeri Islam pertama yang lepas ke tangan tentara salib adalah Andalus (Spanyol), tahun 1942 M, atau 510 tahun yang lalu. Sampai hari ini Andalus tetap menjadi negara nashrani, maka jihad membebaskannya fardhu ‘ain atas seluruh Umat Islam yang mampu. Bahkan negeri (Islam) Palestina yang hanya (berjarak) beberapa ratus kilometer dari pusat lahirnya gerakan salafiyyun, telah jatuh ke tangan Inggris sejak 1917 M, lalu ditegakkan negara Israel tahun 1948 M. Sampai saat ini, jihad untuk membebaskan Palestina belum tuntas, maka jihad untuk membebaskan Palestina menjadi fardhu ‘ain.</p>
<p>Namun begitu, simaklah fatwa syaikh Muhammad Ibrahim Syaqrah, yang tinggal hanya beberapa ratus kilometer dari bumi Palestina: “Silahkan anda meneliti ayat-ayat yang datang untuk melengkapi dan menjelaskan ayat yang memerintahkan untuk mempersiapkan kekuatan (yang dimaksud adalah QS. Al Anfal ayat ke: 60, pent.) maka anda akan mengetahui bahwa jihad yang paling utama hari ini -saat kita dalam kelemahan seperti sekarang ini- adalah menahan diri dari berjihad.” (Muhammad Ibrahim Syaqrah, Hiya As Salafiyatu Nisbatan wa Aqidatan wa Manhajan hal. 204).</p>
<p>Ya, itulah fatwa syaikh kedua gerakan salafiyyun. Maka mereka pun diam seribu bahasa, tidak peduli nasib kaum Muslimin Palestina yang setiap hari meregang nyawa di tangan peluru-peluru tentara zionis Israel. Mereka pun diam ketika dua juta Umat Islam Iraq meregang nyawa akibat embargo ekonomi (1991) dan invasi (2002) oleh tentara salibis Internasional dan didukung oleh negara-negara Arab antek AS. Bahkan mungkin anda akan terkejut membaca fatwa syaikh pertama mereka, fadhilatu syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani yang memfatwakan Umat Islam Palestina untuk berhijrah. Ya, silahkan berhijrah dari Palestina, tidak usah berjihad, serahkan saja bumi Palestina kepada Israel. Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un.</p>
<p>Barangkali syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani sedang tidak memegang buku aqidah salaf ketika memfatwakan begitu, sehingga lupa bahwa Al-Qur’an, As-Sunnah dan ijma’ salafu shalih telah menyatakan bahwa jihad akan tetap berlangsung sampai hari kiamat, sampai Umat Islam memerangi Dajjal. Barangkali saja, beliau lupa ada hadits mutawwatir tentang Thaifah Manshurah yang akan senantiasa berjihad sampai akhirnya mereka memerangi Dajjal.</p>
<p>Paling tidak, beliau masih meyakini adanya ‘idad. Jika begitu, masih lumayan. Tetapi fatwa beliau selanjutnya membuat kita bengong dan kaget. Ketika membicarakan ayat 60 surat Al-Anfal yang memerintahkan ‘idad beliau menyatakan: “Barangsiapa memperhatikan nash ini tentu ia akan menyatakan wajibnya menahan diri dari jihad (tidak berjihad), sampai i’dad mencapai taraf sempurna. Kadang bentuk i’dad adalah tidak beri’dad, karena tujuan i’dad memang untuk menakutkan musuh…” (Muhammad Ibrahim Syaqrah, Hiya As-Salafiyatu Nisbatan wa Aqidatan wa Manhajan, hal. 203).</p>
<p>Bentuk jihad adalah tidak jihad, bentuk i’dad adalah tidak i’dad, tidak ada jihad sampai i’dad mencapai taraf sempurna. Wahai Umat Islam Palestina, jangan berjihad melawan Israel sebelum kekuatan militer kalian menyamai militer Israel yang dibantu seluruh negara besar kafir semisal AS dan Inggris. Jangan berjihad melawan Israel sampai kalian memiliki tank, pesawat tempur, rudal-rudal dan bom nuklir sebanyak yang dimiliki Israel. Selama kekuaatan militer kalian tidak sama dengan kekuatan Israel, haram kalian untuk berjihad. Kewajiban kalian adalah i’dad, dan bentuk i’dad adalah tidak i’dad. Jadi?</p>
<p>Padahal menurut para ulama, i’dad dalam hal ini adalah i’dad menurut kemampuan (tafsir Ibnu Katsir 2/503). Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah juga menyatakan bahwa dalam perang defensif seperti manakala musuh menyerang negeri Umat Islam, saat itu Umat Islam tidak boleh mundur dari medan perang sekalipun musuh berkali-kali lipat dari jumlah Umat Islam. Musuh dihadapi, dengan kemampuan yang ada. (Fatawa al-Kubra 1/236).</p>
<p>Dan untuk umat Islam Afghanistan, fatwa itu maknanya: jangan berjihad melawan AS dan sekutunya selama kekuatan militer kalian tidak sama besar dengan kekuatan militer AS dan sekutunya. Jangan melawan serbuan AS, jika pasukan komando, tank, kapal selam, pesawat tempur, pesawat siluman, rudal, bom nuklir, kapal pembom, kapal induk, kapal perusak kalian belum sama banyak dan sama kuat dengan milik AS dan sekutunya. Jangan berjihad cukup i’dad saja. Tawaran manis bukan?</p>
<p>Saudaraku…untuk kepentingan siapa Umat Islam diajak menyerah dengan takdir, berpangku tangan, tidak berusaha…bukankah ini menyerah kepada taqdir versi sekte sesat Jabariyah dan Jahmiyah…? Jika Allah menakdirkan AS mengganyang Afghanistan, bukankah itu takdir yang harus diterima dengan lapang dada? Jika memang sudah takdirnya Israel menjajah Palestina dan membantai Umat Islam, kenapa kita harus mempersoalkannya? Jika Allah menakdirkan Khilafah Islamiyyah jatuh akibat konspirasi musuh Islam Internasional, kenapa kita harus ribut? Bukankah dengan sekali kun fayakun, AS akan hengkang, Israel akan binasa dan khilafah tegak. Kenapa harus bersusah payah? Bukankah lebih baik duduk di bawah kipas angin di masjid, asyik membaca buku dan membicarakan kejelekan para da’i di luar kelompok kita?</p>
<p>Untuk kepentingan siapa syaikh mereka, syaikh Rabi’ Al-Madkhali mengarahkan meriam takfir (pengkafiran) kepada Sayid Quthb yang aktif mengkritik pemerintahan sekuler? Kemudian anda melihat mereka duduk berpangku tangan, menerima takdir, puas dengan aqidah Jahmiyyah-Jabbariyyah, demi keselamatan “aqidah salafiyah” mereka?</p>
<p>Tentara salibis dan zionis membantai ratusan ribu bahkan jutaan Umat Islam, tentara sekuler menegakkan pemerintahan sekuler dan bahu membahu dengan tentara salibis-zionis untuk memadamkan cahaya Allah Ta’ala, lantas anda berpangku tangan demi keselamatan “aqidah salafiyyah” anda, agar tidak diusik oleh tentara salibis, zionis dan sekuleris? Anda ingin cahaya Islam menerangi persada dunia ini dengan tanpa membuat orang-orang yahudi, nashrani dan musyrikin memarahi dan membenci anda? Jika itu aqidah anda, silahkan saja. Namun bagi Umat Islam lain di luar kelompok anda, tentu tak akan melupakan petuah Syaikhul Islam Ibnu Qayyim:</p>
<p>“Wahai orang-orang yang bermental banci, di mana anda dari jalan? Jalan di mana di atasnya: Adam kelelahan, Nuh meratap sedih, Al-Khalil dilempar ke dalam api, Ismail dibaringkan untuk disembelih, Yusuf dijual dengan harga murah dan dipenjara beberapa tahun, Zakaria digergaji, Yahya disembelih, Ayyub menderita sakit parah, tangisan Daud melebihi batas kewajaran, Isa berjalan kesusahan seorang diri dan Muhammad sholallahu ‘alaihi wa salam mengalami kemiskinan dan berbagai siksaan. Anda malah bersantai dengan kelalaian dan permainan?” (Al-Fawaid, hal. 56).</p>
<p>4. CUEK DENGAN NASIB UMAT ISLAM</p>
<p>Syaikh Muhammad Ibrahim Syaqrah menyatakan: “Termasuk fiqhul waqi’ (memahami realita yang ada) adalah engkau meninggalkan fiqhul waqi’ supaya fiqhul waqi’ menjadi sempurna dalam dirimu sehingga engkau menjadi orang yang paling tahu dan paham tentang fiqhul waqi’.” (Hiya As-Salafiyatu Nisbatan wa Aqidatan wa Manhajan, hal. 148).</p>
<p>Tak usah membaca koran, majalah, mendengar radio, melihat TV. Tak usah peduli dengan segala apa yang terjadi dengan dunia sekitar anda. Tak usah peduli dengan nasib ratusan juta Umat Islam di seluruh dunia, biarkan saja mereka, nanti anda akan menjadi orang yang paling paham dengan kondisi mereka. Diamnya anda, kesibukan anda dengan tarbiyyah dan tashfiyyah, kecuekan anda dengan jahiliyyah modern hari ini, akan menjadikan anda orang yang paling paham dengan kondisi dunia modern. Anda cuek dan diam, sibuk dengan urusan anda, maka anda akan menjadi orang yang paling pintar, mengalahkan semua pengamat. Untuk pandai dan paham tentang dunia sekitar, tak perlu belajar dan mencari tahu, cukup tashfiyyah dan tarbiyyah, kun fayakun anda jadi orang paling pintar.</p>
<p>Sebuah prinsip yang sangat bagus dan menggiurkan. Ukhuwah Imaniyyah yang menuntut kita memperhatikan nasib seluruh saudara kaum Muslim di dunia, bisa dirontokkan dengan dua baris kalimat sakti syaikh salafiyyah. Bila demikian keadaannya, maka hendaklah kita mencamkan wasiat Shahabat Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu: “Ikatan Islam akan lepas satu persatu bila di kalangan Umat Islam timbul sebuah generasi yang tidak paham dengan jahiliyyah” (Ibnul Qayyim Al-Jauziyah, Al-Fawaid, hal. 143).</p>
<p>Tidak paham konspirasi salibis-zionis-musyrikin, tidak paham kondisi saudara-saudara Muslim di berbagai belahan dunia yang sedang kesulitan, tidak paham sekulerisme, Khawarij, Murjiah, Jabariyyah, Jahmiyyah, bahkan tidak paham ahlus sunnah wal Jama’ah. Ya sudah, hancurlah Islam. Lepaslah ikatan Islam.</p>
<p>Inilah gambaran sekilas latar belakang pemikiran gerakan sesat Murji’ah ekstrim, yang hari ini dengan bangga menggelari dirinya sebagai gerakan salafiyyah. Mereka menganggap penyelewengan mereka dari aqidah ahlu sunnah wal jama’ah sebuah perkara remeh, padahal di sisi Allah Ta’ala sebuah perkara besar.</p>
<p>Tulisan super singkat ini belum membahas banyak hal tentang aqidah dan manhaj gerakan salafiyyah. Insya Allah, di lain kesempatan berbagai masalah yang berkaitan dengan gerakan ini akan disorot. Yang jelas, kemungkinan besar akan ada pihak-pihak yang merasa keberatan dan tidak terima dengan tulisan ini. Maka kepada saudara Muslim siapa pun dirinya kami nasehatkan beberapa hal berikut ini:</p>
<p>a. Mengembalikan seluruh perselisihan kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah sesuai pemahaman salafus sholih.</p>
<p>b. Tidak ta’ashub buta dan taqlid buta kepada siapa pun, seberapa pun kebesaran jasanya dan ketinggian ilmunya, karena tidak ada yang ma’shum selain Rasulullah shalallahu ’alaihi wa salam</p>
<p>(Sumber : majelis.mujahidin.or.id; dimuat Kamis, 12 Mei 2005)</p>
<p><span style="color:#ff0000;">________________________________</span></p>
<p><strong><span style="color:#800000;">ARTIKEL TERKAIT SALAFY VS SALAFY</span></strong></p>
<ol>
<li><a href="http://abusalafy.wordpress.com/2007/07/03/pelecehan-syaikh-robi-terhadap-syaikh-dr-bakr-abdullah-abu-zaid/" target="_blank">PELECEHAN SYAIKH ROBI TERHADAP SYAIKH DR. BAKR ABDULLAH ABU ZAID</a></li>
<li><a href="http://abusalafy.wordpress.com/2007/07/03/teguran-tahzir-syaikh-dr-bakr-abdullah-abu-zaid-pada-syaikh-robi/" target="_blank">Teguran (Tahzir) Syaikh DR. Bakr Abdullah Abu Zaid Pada Syaikh Robi</a></li>
<li><a href="http://abusalafy.wordpress.com/2007/07/15/risalah-membawa-masalah-salafy-vs-salafy/" target="_blank">Risalah Membawa Masalah (Salafy vs Salafy)</a></li>
<li><a href="http://abusalafy.wordpress.com/2007/07/15/salafy-dan-salafy-saling-menohok-dan-menghujat/" target="_blank">Salafy dan Salafy Saling Menohok dan Menghujat! </a></li>
<li><a href="http://abusalafy.wordpress.com/2007/07/18/lagi-salafy-menohok-salafy-apakah-nama-anda-ada-disini-dan-termasuk-kategori-%E2%80%9Cmenyimpang%E2%80%9D-%E2%80%9Csesat%E2%80%9D-atau-%E2%80%9Cahli-bid%E2%80%98ah%E2%80%9D/" target="_blank">Lagi Salafy menohok Salafy: Apakah nama anda ada disini dan termasuk kategori “menyimpang”, “sesat” atau “ahli bid‘ah” ?</a></li>
<li><a href="http://abusalafy.wordpress.com/2007/07/22/lagi-saling-sesat-mensesatkan-sesama-wahabisalafy-al-irsyad-dan-as-surkati-bukan-salafy/" target="_blank">Lagi Saling Sesat Mensesatkan Sesama Wahabi/Salafy: Al-Irsyad dan As-Surkati Bukan Salafy!</a></li>
<li><a href="http://abusalafy.wordpress.com/2007/07/30/ketika-salafi-berebut-tafsir/" target="_blank">Ketika Salafi Berebut Tafsir</a></li>
<li><a href="http://abusalafy.wordpress.com/2007/07/30/gerakan-salafi-modern-di-indonesia/" target="_blank">GERAKAN SALAFI MODERN DI INDONESIA</a></li>
<li><a href="http://abusalafy.wordpress.com/2009/02/28/salafywahhaby-pecah-belah/" target="_blank">SALAFY/WAHHABY PECAH BELAH</a></li>
<li><a href="http://abusalafy.wordpress.com/2007/07/03/syeikh-aidh-al-qarni-difatwa-sesat-oleh-salafy/" target="_blank">Syeikh Aidh Al-Qarni difatwa Sesat oleh Salafy!</a></li>
</ol>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/abusalafy.wordpress.com/527/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/abusalafy.wordpress.com/527/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/abusalafy.wordpress.com/527/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/abusalafy.wordpress.com/527/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/abusalafy.wordpress.com/527/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/abusalafy.wordpress.com/527/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/abusalafy.wordpress.com/527/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/abusalafy.wordpress.com/527/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/abusalafy.wordpress.com/527/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/abusalafy.wordpress.com/527/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abusalafy.wordpress.com&blog=1269412&post=527&subd=abusalafy&ref=&feed=1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abusalafy.wordpress.com/2009/10/19/salafy-vs-salafy-kali-ini-fauzan-al-anshori-angkat-bicara/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>55</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/dcc398e7d74a34e59c3d59ffcc0673ff?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">abusalafy</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Mufti Wahhâbi-Salafy Mengafirkan Nabi Ya’qub as. Dan Melegalkan Pembangkangan Iblis!</title>
		<link>http://abusalafy.wordpress.com/2009/10/19/mufti-wahhabi-mengafirkan-nabi-ya%e2%80%99qub-as-dan-melagalkan-pembangkangan-iblis/</link>
		<comments>http://abusalafy.wordpress.com/2009/10/19/mufti-wahhabi-mengafirkan-nabi-ya%e2%80%99qub-as-dan-melagalkan-pembangkangan-iblis/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 19 Oct 2009 03:22:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abusalafy</dc:creator>
				<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[Fatwa Jenaka Wahabi]]></category>
		<category><![CDATA[Fatwa Pensesatan]]></category>
		<category><![CDATA[Kenaifan Kaum Wahhabi]]></category>
		<category><![CDATA[Manhaj]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abusalafy.wordpress.com/?p=521</guid>
		<description><![CDATA[Gara-gara terlalu sempit ilmu dan pemahaman agamanya tapi nekad jadi mufti, maka pasti akan sesat dan menyesatkan&#8230; pasti akan mengatakan ini halal dan itu haram dengan tanpa dasar dan bukti Syari’at yang benar&#8230; yang itu kafir yang ini musyrik&#8230; itu kira-kira gambaran yang dapat kita saksikan dari banyak mufti-mufti resmi kerajaan bermazhab Wahhâbi-Salafy yang menguasai [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abusalafy.wordpress.com&blog=1269412&post=521&subd=abusalafy&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<br /><p>Gara-gara terlalu sempit ilmu dan pemahaman agamanya tapi nekad jadi mufti, maka pasti akan sesat dan menyesatkan&#8230; pasti akan mengatakan ini halal dan itu haram dengan tanpa dasar dan bukti Syari’at yang benar&#8230; yang itu kafir yang ini musyrik&#8230; itu kira-kira gambaran yang dapat kita saksikan dari banyak mufti-mufti resmi kerajaan bermazhab Wahhâbi-Salafy yang menguasai dua kota suci kaum Muslimin; Mekkah dan Madinah&#8230;.</p>
<p><strong><span id="more-521"></span></strong></p>
<p>Kali ini kita akan menyoroti fatwa sesat lagi menyesatkan yang diluncurkan mufti setengah alim setengah awam tapi merasa paling alim dan dikultus setinggi laingit oleh kaum yang sok anti kulus&#8230; Dia adalah sang Mufti Agung Wahhabi-Salfy Abdul Aziz bin Bâz.</p>
<p><strong>Perhatikan fatwa dangkal dan pas-pasan Bin Bâz di bawah ini: </strong></p>
<blockquote>
<h2><strong>من كتاب التوسطُ والاقتصادُ في أن الكُفرَ يكونُ بالقولِ أو العملِ أو الاعتقادِ :</strong></h2>
<h2><strong>” وقال الشيخ عبدالعزيز بن باز كما في مجلة الفرقان الكويتية ، العدد(94) : الذَّبحُ لغيرِ الله ، والسُّجود لغير الله ،كفرٌ عمليٌّ مُخرجٌ من الملَّة، وهكذا لو صلَّى لغير الله أو سجد لغيره سبحانه ، فإنَّه يكفر كفراً عمليَّاً أكبر- والعياذ بالله – وهكذا إذا سبَّ الدِّين ، أو سبَّ الرَّسول ، أو استهزأ بالله ورسوله ، فإنَّ ذلك كفرٌ عمليٌّ أكبر عند جميع أهل السُّنَّة والجماعة “.</strong></h2>
<p>Dari kitab <em>at Tawassuth wa al Iqtishâd</em> &#8230;. :</p>
<p>Berkata Abdul Aziz bin Bâz –seperti dalam majalah al Furqân-Kuwait, edisi 94:</p>
<p>“Menyembelih bukan untuk Allah, sujud bukan untuk Allah adalah kekafiran praktis yang mengeluarkan dari agama. Demikian juga jika shalat untuk selain Allah atau sujud untuk selain Allah SWT, sesungguhnya ia adalah kekafiran secara praktis dengan kekafiran terbesar (yang mengeluarkan dari agama)–semoga kita dilindungi oleh Allah-.</p>
<p>Begitu juga jika mencela agama,atau mencela Rasul, atau mengejek-ngejek Allah dan Rasul-Nya, semua itu adalah kekafiran praktis menurut seluruh Ahlus Sunnah wal Jama&#8217;ah.”</p></blockquote>
<p><span style="text-decoration:underline;"><span style="color:#000000;"><strong>Abu Salafy:</strong></span></span></p>
<p>Coba perhatikan fatwa dangkal si mufti pas-pasan ini&#8230; ia tidak menyadari bahwa redaksi fatwa yang ia pilih yang tentunya mencerminkan akidah ngawurnya itu telah menvonis kafir seorang Nabi mulia Ya’qub as.</p>
<p>Allah berfirman:</p>
<h2>{ وَرَفَعَ أَبَوَيْهِ عَلَى الْعَرْشِ وَخَرُّوا لَهُ سُجَّدًا }(يوسف/100).</h2>
<p>Redaksi dalam ayat di atas menegaskan bahwa Nabi Ya’qub as. bersujud <em>lahu</em> (kepada Yusuf as.)</p>
<p>Demikian pula dengan para malaikat yang ta’at kepada perintah Allah SWT dengan bersujud li Âdam (untuk Adam).</p>
<p>Jadi dengan demikian Iblis-lah yang benar dalam sikap pembangkangannya atas perintah Allah untuk sujud kepada Adam as.!!</p>
<p>Sebab <em>–dengan dasar fatwa Bin Bâz-</em> Allah memerintahkan hamba-hamba-Nya untuk berbuat kafir!!!</p>
<p>Inilah akibat dari kejahilan dan fatwa-fatwa mufti jahil&#8230; Dia sesat lagi menyesatkan!!!</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/abusalafy.wordpress.com/521/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/abusalafy.wordpress.com/521/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/abusalafy.wordpress.com/521/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/abusalafy.wordpress.com/521/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/abusalafy.wordpress.com/521/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/abusalafy.wordpress.com/521/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/abusalafy.wordpress.com/521/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/abusalafy.wordpress.com/521/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/abusalafy.wordpress.com/521/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/abusalafy.wordpress.com/521/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abusalafy.wordpress.com&blog=1269412&post=521&subd=abusalafy&ref=&feed=1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abusalafy.wordpress.com/2009/10/19/mufti-wahhabi-mengafirkan-nabi-ya%e2%80%99qub-as-dan-melagalkan-pembangkangan-iblis/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>29</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/dcc398e7d74a34e59c3d59ffcc0673ff?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">abusalafy</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Potret Arab Saudi di Masa Datang : Menghilangkan Jejak Rasulullah?</title>
		<link>http://abusalafy.wordpress.com/2009/10/13/potret-arab-saudi-di-masa-datang-menghilangkan-jejak-rasulullah/</link>
		<comments>http://abusalafy.wordpress.com/2009/10/13/potret-arab-saudi-di-masa-datang-menghilangkan-jejak-rasulullah/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 13 Oct 2009 13:44:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abusalafy</dc:creator>
				<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[Dinasti al-Saud]]></category>
		<category><![CDATA[Kenaifan Kaum Wahhabi]]></category>
		<category><![CDATA[Manhaj]]></category>
		<category><![CDATA[Ulah Wahabi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abusalafy.wordpress.com/?p=498</guid>
		<description><![CDATA[Potret Arab Saudi di Masa Datang : Menghilangkan Jejak Rasulullah?
SUMBER TULISAN: SwaraMuslim
Arab Saudi, seperti juga negara-negara lain yang bergelimang harta, terus melakukan modernisasi. Selain secara pemikiran, seperti diangkatnya seorang perempuan dalam jajaran kementrian di negara itu, juga pembangunan fisik pun dilakukan. Tetapi, pengembangan Arab Saudi, khususnya kota suci Makkah dan Madinah akhir-akhir ini tidak memedulikan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abusalafy.wordpress.com&blog=1269412&post=498&subd=abusalafy&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<br /><p><span style="color:#3366ff;"><strong>Potret Arab Saudi di Masa Datang : Menghilangkan Jejak Rasulullah?</strong></span></p>
<p><strong><span style="color:#ff0000;">SUMBER TULISAN:</span><em> <a href="http://swaramuslim.net/foto/printerfriendly.php?id=6240_0_10_0_C" target="_blank">SwaraMuslim</a></em></strong></p>
<p>Arab Saudi, seperti juga negara-negara lain yang bergelimang harta, terus melakukan modernisasi. Selain secara pemikiran, seperti diangkatnya seorang perempuan dalam jajaran kementrian di negara itu, juga pembangunan fisik pun dilakukan. Tetapi, pengembangan Arab Saudi, khususnya kota suci Makkah dan Madinah akhir-akhir ini tidak memedulikan situs-situs sejarah Islam.</p>
<p>Makin habis saja bangunan yang menjadi saksi sejarah Rasulullah SAW dan sahabatnya.</p>
<p>Bangunan-bangunan itu dibongkar karena berbagai alasan, namun sebagian besar karena ingin menyesuaikan dengan kota-kota besar di dunia lainnya. Bahkan sekarang, tempat kelahiran Nabi SAW terancam akan dibongkar untuk perluasan tempat parkir.</p>
<p>Sebelumnya, rumah Rasulullah pun sudah lebih dulu digusur. Padahal, disitulah Rasulullah berulang-ulang menerima wahyu. Di tempat itu juga putra-putrinya dilahirkan serta Khadijah meninggal.</p>
<p><span id="more-498"></span></p>
<p><a href="http://abusalafy.files.wordpress.com/2009/10/pemusnahan-oleh-wahabi_1.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-499" title="pemusnahan Oleh wahabi_1" src="http://abusalafy.files.wordpress.com/2009/10/pemusnahan-oleh-wahabi_1.jpg?w=468&#038;h=350" alt="pemusnahan Oleh wahabi_1" width="468" height="350" /></a></p>
<p>Beberapa bulan yang lalu, Sami Angawi, pakar arsitektur Islam di wilayah Arab mengatakan bahwa beberapa bangunan dari era Islam kuno terancam musnah. Pada lokasi bangunan berumur 1.400 tahun Itu akan dibangun jalan menuju menara tinggi yang menjadi tujuan ziarah jamaah haji dan umrah.</p>
<p><a href="http://abusalafy.files.wordpress.com/2009/10/pemusnahan-oleh-wahabi_2.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-500" title="pemusnahan Oleh wahabi_2" src="http://abusalafy.files.wordpress.com/2009/10/pemusnahan-oleh-wahabi_2.jpg?w=468&#038;h=350" alt="pemusnahan Oleh wahabi_2" width="468" height="350" /></a></p>
<p style="text-align:center;"><span style="color:#0000ff;">Jamarat Project &#8211; dalam tahap penyelesaian</span></p>
<p>“Saat ini kita tengah menyaksikan saat-saat terakhir sejarah Makkah. Bagian bersejarahnya akan segera diratakan untuk dibangun tempat parkir,” katanya kepada Reuters. Angawi menyebut setidaknya 300 bangunan bersejarah di Makkah dan Madinah dimusnahkan selama 50 tahun terakhir.</p>
<p><a href="http://abusalafy.files.wordpress.com/2009/10/pemusnahan-oleh-wahabi_3.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-501" title="pemusnahan Oleh wahabi_3" src="http://abusalafy.files.wordpress.com/2009/10/pemusnahan-oleh-wahabi_3.jpg?w=468&#038;h=350" alt="pemusnahan Oleh wahabi_3" width="468" height="350" /></a></p>
<p>Bahkan sebagian besar bangunan bersejarah Islam telah punah semenjak Arab Saudi berdiri pada 1932. Hal tersebut berhubungan dengan maklumat yang dikeluarkan Dewan Keagamaan Senior Kerajaan pada tahun 1994.Nasib situs bersejarah Islam di Arab Saudi memang sangat menyedihkan. Mereka banyak menghancurkan peninggalan-peninggalan Islam sejak masa Ar-Rasul SAW.</p>
<p>Semua jejak jerih payah Rasulullah itu habis oleh modernisasi. Sebaliknya mereka malah mendatangkan para arkeolog (ahli purbakala) dari seluruh dunia dengan biaya ratusan juta dollar untuk menggali peninggalan-peninggalan sebelum Islam baik yang dari kaum jahiliyah maupun sebelumnya dengan dalih obyek wisata.</p>
<p><a href="http://abusalafy.files.wordpress.com/2009/10/pemusnahan-oleh-wahabi_5.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-502" title="pemusnahan Oleh wahabi_5" src="http://abusalafy.files.wordpress.com/2009/10/pemusnahan-oleh-wahabi_5.jpg?w=468&#038;h=350" alt="pemusnahan Oleh wahabi_5" width="468" height="350" /></a></p>
<p>Kemudian dengan bangga mereka menunjukkan bahwa zaman pra Islam telah menunjukkan kemajuan yang luar biasa, tidak diragukan lagi ini merupakan pelenyapan bukti sejarah yang akan menimbulkan suatu keraguan di kemudian hari. Wallohu alam bi shawab. (sa/skpc/erm)</p>
<p><strong><span style="font-size:small;">Tahukah anda? Makkah sekarang sudah seperti Las Vegas</span></strong></p>
<p>&#8220;Makkah sekarang sudah seperti Las Vegas, &#8221; begitulah pernyataan yang dilontarkan Ali al-Ahmad, direktur Institute for Gulf Affairs-lembaga riset oposisi Saudi- yang berbasis di Washington, melihat perkembangan kota suci Makkah saat ini.</p>
<p><em>Kota Makkah yang menyandang sebutan kota suci dan menjadi pusat ibadah haji umat Islam di seluruh dunia, ketenangan dan kekhusyuk-annya makin terkikis, Ka&#8217;bah yang terletak di tengah masjid Haram dan menjadi arah sholat Muslim sedunia, semakin tenggelam oleh berdirinya gedung-gedung tinggi</em>.</p>
<p>Menurutnya, perkembangan kota Makkah sekarang adalah sebuah bencana. &#8220;<em>Hal ini akan memberikan pengaruh buruk bagi umat Islam. Ketika mereka ke Makkah mereka tidak punya perasaan apapun, tidak ada keunikan lagi. Apa yang anda lihat cuma semen dan kaca</em>, &#8221; ujar Ahmad serius.</p>
<p>Ahmad cukup beralasan melontarkan pernyataannya itu, karena kota Makkah saat ini makin penuh dengan bangunan-bangunan tinggi mulai dari hotel, pusat perbelanjaan dan toko-toko besar yang menjual produk Barat. Sebut saja kedai kopi <strong>Starbucks</strong>, <strong>Cartier and Tiffany</strong>, <strong>H&amp;M</strong> dan <strong>Topshop</strong>.</p>
<p>Pusat perbelanjaan <strong>Abraj Al-Bait</strong> ( <a href="http://www.abrajalbait.com/" target="_blank">www.abrajalbait.com</a> ), salah satu mall terbesar di Saudi yang baru dibuka menjelang musim haji bulan Desember 2006 kemarin, nampak megah dengan monitor-monitor televisi flat, cahaya lampu-lampu neon, dengan pusat hiburan, resto-resto cepat saji, bahkan toko pakaian dalam.</p>
<p>Pusat perbelanjaan itu, nantinya juga akan dilengkapi dengan kompleks hotel yang menjulang tinggi. Bahkan kompleks bangunan yang rencananya selesai tahun 2009 nanti, akan menjadi gedung tertinggi ketujuh di seluruh dunia, dilengkapi dengan fasilitas rumah sakit dan tempat sholat yang luas.</p>
<p>Seluruh pegunungan di dekat Jabal Omar, kini sudah diratakan. Di lokasi itu juga akan dibangun kompleks hotel dan lebih dari 130 gedung-gedung tinggi baru.</p>
<p><strong><em>Kota Makkah yang menyandang sebutan kota suci dan menjadi pusat ibadah haji umat Islam di seluruh dunia, ketenangan dan kekhusyuk-annya makin terkikis, Ka&#8217;bah yang terletak di tengah masjid Haram dan menjadi arah sholat Muslim sedunia, semakin tenggelam oleh berdirinya gedung-gedung tinggi</em></strong>.</p>
<p>&#8220;<strong>Ini adalah akhir dari Makkah</strong>, &#8221; kata <a href="http://www.almusaffir.com/modules/myalbum/photo.php?lid=337&amp;cid=7" target="_blank">Irfan Ahmad </a>dari London, pendiri Islamic Heritage Foundation, yang secara khusus aktivitasnya mempertahankan peninggalan-peninggalan bersejarah di Makkah, Madinah dan tempat-tempat lainnya di Arab Saudi.</p>
<p>&#8220;Sebelumnya, bahkan pada masa Ustmani, tak satu pun gedung-gedung di Makkah yang tingginya melebihi tinggi Masjid Haram. Sekarang, banyak gedung yang lebih tinggi dari Masjid Haram dan tidak menghormati keberadaan masjid itu, &#8221; tukas Irfan.</p>
<p>Uang, tentu saja menjadi motivasi utama boomingnya gedung-gedung tinggi di Makkah. Karena setiap tahun, kota itu dibanjiri oleh para jamaah haji. Papan-papan iklan di sepanjang jalan menuju Makkah, seolah menjadi daya tarik bagi para investor yang mencari keuntungan dari usaha penginapan.</p>
<p>Sejumlah organisasi Islam mengatakan, berdirinya gedung-gedung megah di kota Makkah, juga dilatarbelakangi motif agama. Mereka menuding pemerintah Saudi mengizinkan kelompok konservatif untuk menghancurkan tempat-tempat bersejarah dengan alasan khawatir tempat itu justeru disembah-sembah oleh para pengunjung.</p>
<p>Ahmad dari Islamic Heritage Foundation mengaku punya kalatog lebih dari 300 tempat-tempat bersejarah di Arab Saudi, termasuk pemakaman dan masjid-masjid. Ia mengatakan, sebuah rumah tempat Nabi Muhammad dilahirkan dihancurkan untuk membangun tempat kamar mandi.</p>
<p>&#8220;Sama sekali tidak menghormati Kabah, tidak menghormati rumah Tuhan atau lingkungan dari tempat-tempat bersejarah itu, &#8221; kata Sami Angawi, seorang arsitek Saudi yang ingin mempertahankan peninggalan bersejarah di Makkah.</p>
<p>&#8220;Padahal, memotong pohon saja seharusnya tidak boleh dilakukan di kota ini, &#8221; sambungnya.</p>
<p>Kemajuan kadang memang harus dibayar mahal. Bahkan pasar malam, di mana para jamaah bisa menjual barang-barang yang dibawanya, kini sudah tidak ada lagi. Begitu juga dengan keluarga-keluarga di Makkah yang biasa menyambut para jamaah haji, sudah tidak terlihat lagi sejak rumah-rumah mereka digusur untuk perluasan Masjid Haram di era tahun 1970-an.</p>
<p>Angawi kini berusaha melakukan pendekatan pada kerajaan Arab Saudi agar memberi perhatian besar atas penghancuran tempat-tempat bersejarah. Ahmad melobi pemerintah-pemerintah negara Asia dan Arab untuk menghentikan penghancuran yang dilakukan pemerintah Saudi. Kedua tokoh ini menyayangkan kurangnya kepedulian umat Islam atas isu-isu ini. Kepentingan bisnis dan uang mengalahkan segala-galanya.</p>
<p>&#8220;Makkah tidak pernah berubah seperti sekarang ini. Apa yang anda lihat sekarang baru 10 persennya saja dari apa yang akan ada, yang akan jauh lebih, lebih buruk lagi, &#8221; kata Angawi risau. (ln/IHT/eramuslim)</p>
<p><span style="color:#003366;"><strong>FOTO -FOTO TEMPAT BERSEJARAH YANG DI MUSNAHKAN WAHHABI-SALAFY</strong></span></p>
<p style="text-align:center;"><a href="http://abusalafy.files.wordpress.com/2009/10/01-kamara-nabi-sayyidah-khadijah.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-503" title="01. kamara-nabi-sayyidah-khadijah" src="http://abusalafy.files.wordpress.com/2009/10/01-kamara-nabi-sayyidah-khadijah.jpg?w=467&#038;h=287" alt="01. kamara-nabi-sayyidah-khadijah" width="467" height="287" /></a><span style="color:#0000ff;">Sisa reruntuhan kamar Rasul Saw dan Sayyidah Khadijah ra.</span></p>
<p style="text-align:center;"><a href="http://abusalafy.files.wordpress.com/2009/10/02-kuburan-sayyidah-khadijah-al-kubra-putranya-qasim-di-pojok_o.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-504" title="02. kuburan-sayyidah-khadijah-al-kubra-putranya-qasim-di-pojok_o" src="http://abusalafy.files.wordpress.com/2009/10/02-kuburan-sayyidah-khadijah-al-kubra-putranya-qasim-di-pojok_o.jpg?w=468&#038;h=298" alt="02. kuburan-sayyidah-khadijah-al-kubra-putranya-qasim-di-pojok_o" width="468" height="298" /></a><span style="color:#0000ff;">kuburan Sayyidah Khadijah al-kubra dan putranya Qasim di pojok</span></p>
<p style="text-align:center;"><a href="http://abusalafy.files.wordpress.com/2009/10/03-mihrab-tempat-rasulullah-biasa-shalat-di-rmh-khadijah_o.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-505" title="03. mihrab-tempat-rasulullah-biasa-shalat-di-rmh-khadijah_o" src="http://abusalafy.files.wordpress.com/2009/10/03-mihrab-tempat-rasulullah-biasa-shalat-di-rmh-khadijah_o.jpg?w=468&#038;h=675" alt="03. mihrab-tempat-rasulullah-biasa-shalat-di-rmh-khadijah_o" width="468" height="675" /></a><span style="color:#0000ff;">Mihrab tempat Rasulullah saw. biasa shalat di rumah Khadijah ra<br />
</span></p>
<p style="text-align:center;"><a href="http://abusalafy.files.wordpress.com/2009/10/04-reruntuhan-rumah-khadijah_o.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-506" title="04. reruntuhan-rumah-khadijah_o" src="http://abusalafy.files.wordpress.com/2009/10/04-reruntuhan-rumah-khadijah_o.jpg?w=468&#038;h=299" alt="04. reruntuhan-rumah-khadijah_o" width="468" height="299" /></a><span style="color:#0000ff;">Reruntuhan rumah Khadijah ra<br />
</span></p>
<p style="text-align:center;"><a href="http://abusalafy.files.wordpress.com/2009/10/05-rumah-nabi-sayyidah-khadijah-tempat-mereka-berdua-tinggal-selama-25-tahun-pun-dibongkar.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-507" title="05. rumah-nabi-sayyidah-khadijah-tempat-mereka-berdua-tinggal-selama-25-tahun-pun-dibongkar" src="http://abusalafy.files.wordpress.com/2009/10/05-rumah-nabi-sayyidah-khadijah-tempat-mereka-berdua-tinggal-selama-25-tahun-pun-dibongkar.jpg?w=468&#038;h=349" alt="05. rumah-nabi-sayyidah-khadijah-tempat-mereka-berdua-tinggal-selama-25-tahun-pun-dibongkar" width="468" height="349" /></a><span style="color:#0000ff;">Rumah Nabi Saw dan Sayyidah Khadijah ra tempat mereka berdua tinggal selama28 tahunpun dibongkar</span></p>
<p><a href="http://abusalafy.files.wordpress.com/2009/10/06-tempat-ketika-sayyidah-fathimah-zahra-dilahrirkan_o.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-508" title="06. tempat-ketika-sayyidah-fathimah-zahra-dilahrirkan_o" src="http://abusalafy.files.wordpress.com/2009/10/06-tempat-ketika-sayyidah-fathimah-zahra-dilahrirkan_o.jpg?w=468&#038;h=677" alt="06. tempat-ketika-sayyidah-fathimah-zahra-dilahrirkan_o" width="468" height="677" /></a></p>
<p style="text-align:center;"><span style="color:#0000ff;">Reruntuhan tempat ketika  Sayyidah Fathimah Az-Zahra as. Puteri kesayangan Rasulullah saw. dilahirkan</span></p>
<p style="text-align:left;">
<p style="text-align:left;"><span style="color:#ff0000;"><strong>___________________________________________________________________</strong></span></p>
<p style="text-align:left;">
<h2 style="text-align:left;"><span style="color:#003366;">The Destruction of Holy Sites in Mecca and Medina </span></h2>
<h3 style="text-align:left;"><span style="color:#800000;">By Irfan Ahmed</span></h3>
<p style="text-align:left;"><span style="color:#ff0000;"><strong>Source:</strong></span> <a href="http://www.almusaffir.com/modules/myalbum/photo.php?lid=337&amp;cid=7" target="_blank">http://www.almusaffir.com/modules/myalbum/photo.php?lid=337&amp;cid=7</a></p>
<p>The Arabian Peninsula, the cradle of Islam, is being demolished by hardliners. In countries such as Saudi Arabia almost all of the Islamic historical sites are gone, but this is not the first time they have been destroyed.</p>
<p style="text-align:left;">In 1802, and army led by the sons of Muhammad ibn ‘Abd al-Wahhab (the founder of Wahhabism) and Muhammad ibn Saud occupied Taif and began a bloody massacre. A year later, the forces occupied the holy city of Mecca. They executed a campaign of destruction in many sacred places and leveled all the existing domes, even those built over the well of Zamzam. However, after the army left, Sharif Ghalib breached the truce, inciting the Wahhabis to reoccupy Mecca in 1805.</p>
<p style="text-align:left;">In 1806, the Wahhabi army occupied Medina. They did not leave any religious building, including mosques, without demolishing it, whether inside or outside the Baqi’ (graveyard). They intended to demolish the grave of the Prophet Muhammad, may the peace and blessings of God be upon him, many times, but would repeatedly change their minds. At this time, non-Wahhabi Muslims were prevented from performing the Hajj (pilgrimage). In 1805, Iraqi and Iranian Muslims were refused permission to perform Hajj, as were the Syrians in 1806 and Egyptians the following year. The Saudi leader at the time wanted the pilgrims to embrace his Wahhabi beliefs and accept his Wahhabi mission. If they refused, he denied them permission to perform the Hajj and considered them heretics and infidels—ignoring the word of God in Sura al-Baqara:</p>
<p>And who is more unjust than he who forbids that in places for the worship of God, His name should be celebrated? Whose<br />
zeal is (in fact) to ruin them? It was not fitting that such<br />
should themselves enter them except in fear. For them there<br />
is nothing but disgrace in this world, and the world to come,<br />
an exceeding torment. (Qur’an 2:114)</p>
<p>The Wahhabi army’s destruction campaign targeted the graves of the martyrs of Uhud, the mosque at the grave of Sayyid al-Shuhada’ Hamza bin Abdul Muttalib and the mosques outside the Baqi’: the Mosque of Fatima al-Zahra, the Mosque of al-Manaratain, and Qubbat’ al-Thanaya (the burial site of the Prophet’s incisor that was broken in the battle of Uhud). The structures in the Baqi’ were also leveled to the ground and not a single dome was left standing. This great place that was visited by millions of Muslims over many centuries became a garbage dump, such that it was not possible to recognize any grave or know whom it embraced.</p>
<p>The occupation of the holy places by the army and their preventing Muslims from performing Hajj led thousands of people to flee Mecca and Medina to escape religious persecution. The Muslims started to complain and express their concerns, and public opinion put pressure on the Ottoman Caliph to liberate and rebuild the two holy places and once again permit the Muslims to perform the pilgrimage. Accordingly, an army led by Muhammad Ali Pasha, the Caliph’s viceroy in Egypt, was sent. When the forces arrived in the Hijaz, a number of tribes marched in support of the army, which regained control over Medina and then Mecca.</p>
<p>In 1818, the Wahhabis were defeated and they withdrew from the holy places. The Prophet’s Mosque, the Baqi’ and the monuments at Uhud were rebuilt during the reigns of the Ottoman sultans ‘Abd al-Majid I, ‘Abd al-Hamid II and Mahmud II. From 1848 to 1860, the buildings were renovated and the Ottomans built the domes and mosques in splendid aesthetic style. They also rebuilt the Baqi’ with a large dome over the graves of the Prophet’s daughter Fatima al-Zahra, Imam Zainul ‘Abidin (‘Ali bin al-Hussain), Imam Muhammad ibn ‘Ali al-Baqir and Imam Ja‘far al-Sadiq. The graves of others related to the Prophet found at the Baqi’ include those belonging to Ibrahim (son), ‘Uthman ibn ‘Affan (Companion and son-in-law), Saffia bint Abdul Muttalib (aunt), Atika bint ‘Abd al-Muttalib (aunt), Al-‘Abbas ibn ‘Abd al-Muttalib (uncle), Fatima bint Assad (Imam Ali’s mother), ‘Abd Allah ibn Ja‘far bin Abi Talib (cousin) and Aqil ibn Abi Talib (The Prophet’s cousin).</p>
<p>The grave of the Prophet’s father ‘Abd Allah was in Dar al-Nabigha of the Bani Najjar, the house of where the Prophet learned to swim. However, his father’s grave was exhumed 17 years ago and transferred to the Baqi’. The area of the house today lies under the marble covering the plaza surrounding the mosque.</p>
<p>A number of the Prophet’s wives (the Mothers of the Faithful) were buried in the Baqi’: ‘A’isha, Hafsa, Juwayriya, Saffia, Sawda, Zaynab bint Khuzaima, Zaynab bint Jahsh, Umm Habiba and Umm Salama. The tomb of Khadija, the Prophet’s first wife, is in Mecca because she died before the Hijra (migration of Muslims to Medina). Her grave is in the Hajun cemetery, known as Maqbarat’al-Ma’la. The tomb of Maimouna, another wife, is also in Mecca in an area known as Sarif, which lies on the side of the Hijra Road, nearly 13 miles (20 kilometers) outside Mecca.\</p>
<p>On April 21,1925, the domes in the Baqi’ were demolished once more along with the tombs of the holy personalities in Maqbarat’al-Ma‘la in Mecca, where the Holy Prophet’s mother, wife Khadija, grandfather and other ancestors are buried. Destruction of the sacred sites in the Hijaz continues till this day. Wahhabis say they are trying to rescue Islam from what they consider innovations, deviances and idolatries. Among the practices they believe are contrary to Islam are constructing elaborate monuments over graves and making supplications there.</p>
<p>The Mashrubat Umm Ibrahim—which was built to mark the location of the house where the Prophet’s son, Ibrahim, was born to Mariah, his Egyptian wife—also contained the grave of Hamida al-Barbariyya, the mother of Imam Musa al-Kazim. These sites were destroyed over the past few years.</p>
<p>I recently met with one of the leading political leaders of Medina and took the opportunity to speak to him about the destruction of these holy sites. He told me that the sites were not being demolished, but that torrential rain in Medina was washing away the old buildings! I told him the mosque and tomb of Sayyid Imam al-Uraidhi ibn Ja‘far al-Sadiq, four miles from the Prophet’s Mosque, was destroyed by dynamite and flattened on August 13, 2002. Imam al-Uraidhi is ninth in line from the Prophet. I also asked him about the plan to demolish the last remnant of the historical vestiges of the Messenger of God, namely his noble birthplace, which has been converted into a library, “Maktabat Makka al-Mukarrama.” There was no answer.</p>
<p>Within the last 10 years, Muqbil ibn Hadi al-Wadi’i, a student at the University of Medina, wrote a thesis titled “About the Dome Built over the Grave of the Messenger,” sponsored by Sheikh Hammad al-Ansari. In this paper, the student demands that the noble grave be brought out of the Mosque. He says the presence of the holy grave and noble dome are major innovations and that they both need to be destroyed! His thesis received very high marks. Last year, the city planning board of Medina painted the famous green dome of the Prophet’s Holy Mosque silver. After intense protests by the citizens of Medina, the board restored the dome to its original color.</p>
<p>In the Ottoman part of the Prophet’s Mosque, at the center of the three sections raised a bit from the ground level are three circles. The first, toward the west, corresponds to the grave of the Prophet. The next two toward the east correspond to the graves of Abu Bakr al-Siddiq and ‘Umar ibn al-Khattab. Above the circles are invocations including “Ya Allah” and “Ya Muhammad.” The latter was removed and replaced it with “Ya Majid” by adding the dot under the ‘ha of Muhammad to make it jim and two dots under the second mim of Muhammad to make it ‘ya. There are qasidas written by rulers of the Muslim world, such as Sultan ‘Abd al- Hamid. Many verses of the famous Burda of al-Busayri had also been painted over. On the Qibla side, the brass partition that is divided into three sections between two columns, the authorities have also tried to cover the famous two verses inscribed in the east from the story of al-‘Utbi as mentioned by Ibn Kathir in his Tafsir. “O best of those whose bones are buried in the deep earth, and from whose fragrance the depth and height have become sweet! May I be the ransom for a grave in which you dwell, where purity, bounty and munificence.”</p>
<p>If one raises his head a bit, he will see on the first section of this partition a green banner, on which the words of the Almighty are framed in yellow:</p>
<p>O you who believe! Raise not your voices above the voice of</p>
<p>the Prophet, may blessings and peace be upon him and his</p>
<p>family, nor speak aloud to him in talk, as you speak aloud to</p>
<p>one another, lest your deeds be rendered fruitless while you</p>
<p>perceive not. (Qur’an 49:2)</p>
<p>The Sacred Chamber has four exterior doors: on the south, Bab al-Tawba (The Door of Repentance), on the north, Bab al-Tahajjud (The Door of Night Prayer), on the east, Bab Fatima (the Door of Fatima), and on the west, Bab al-Nabi (The Door of the Prophet)—also known as Bab al- Wufud (The Door of Delegations). These gates have been present since the year 668 AH except for the Gate of the Night Prayer, which was installed in 729 AH. Inside there are two gates, one on either side of the triangular part of the interior compartment. All of these doors are covered by brass shelves holding Qur’ans, an attempt to prevent the public from looking inside the Sacred chamber.</p>
<p>The Wahhabi religious authorities are, unfortunately, on a fast track. In 1998 the grave of Amina bint Wahb, the Prophet’s mother, was bulldozed in Abwa and gasoline was poured on it. Even though thousands of petitions throughout the Muslim world were sent to Saudi Arabia, nothing stopped this action. One of my late teachers, Sheikh Sayyid Muhammad ibn ‘Alawi al-Maliki, a Meccan who was a great historian on the holy sites and inherited his knowledge from his father and forefathers who were all teachers of the holy Haram, showed me pictures of the grave of Sayyida Amina marked with a pile of stones after the destruction. The House of Khadija was excavated during the Haram extensions, then hurriedly covered over so as to obliterate any trace of it. This was the house where the Prophet received some of his first revelations and it is also where his children Umm Kulthum, Ruqqaya, Zaynab, Fatima, and Qasim were born. Dar al-Arqam, the first school in Islam where the Prophet taught has also been demolished. It was in the area of Shi’b ‘Ali near the Bab ‘Ali door opposite the king’s palace. It is now part of the extension of the Haram.</p>
<p>The authorities plan to demolish the house of Mawlid, where the Prophet was born. About 60 years ago, this house, which used to have a dome over it, was turned into a cattle market. Some people then worked together to transform it into a library, which it is today. It is lined with shelves of books about Mecca, most of them written by Meccans. But the library is under threat again because of the new Jabal ‘Umar project, one of the largest real estate development projects near the Grand Mosque. The birthplace of the Prophet is to make way for a car park and hotels. About 99% of real estate owners in the Jabal ‘Umar area are shareholders in this company. The owners have been provided with financial incentives, including what they used to receive as rents, combining five-star facilities under the luxurious Le Meridien banner. The Meridien Towers will allow several thousand housing units in Mecca to be available during specified periods of time, for a one-off, fixed fee, giving the towers 25 years of shared ownership in Mecca. This scheme allow outsiders, whether Muslim or not, to invest in the city; they will be allowed to buy from a range of properties that can be used, sublet, resold or given as a gift.</p>
<p>For the holy month of Ramadan in Mecca, authorities built a wall enclosure in the Haram for women to pray there so men will not be able to see them. However, this has also blocked women’s visibility of the Ka‘ba while they perform their prayers. The tawaf (circumambulation) for women has also been restricted to certain times. We don’t know if these changes are permanent or just for Ramadan.</p>
<p>In Medina, of the seven mosques at the site of the Battle of the Trench (Jabal al-Khandaq), where Sura al-Ahzab was revealed, only two remain. The others have been demolished and a Saudi bank’s cashpoint machine has been built in the area. The remaining mosques will be demolished as soon as the new mosque being constructed is ready. One of the mosques slated for destruction is Masjid Fath, the mosque and rock of victory, where the Prophet stood during the battle of the trench praying for victory. On the rock is where he received God’s promises of victory and of the conquest of Mecca.</p>
<p>Dr. Irfan Ahmed is Joint Chairman of the Islamic Heritage and Research Foundation, which was formed to help protect and preserve the holy sites in the Hijaz. For more information contact islamic_heritage@hotmail.com</p>
<p style="text-align:left;"><span style="color:#ff0000;"><strong>_____________________________________________________________________________________</strong></span></p>
<p style="text-align:left;"><span style="color:#0000ff;"><span style="text-decoration:underline;"><strong><span style="color:#800000;">ARTIKEL TERKAIT</span></strong></span></span></p>
<p style="text-align:left;">1.<a href="http://www.independent.co.uk/news/world/middle-east/shame-of-the-house-of-saud-shadows-over-mecca-474736.html" target="_blank"> Shame of the House of Saud: Shadows over Mecca</a><span style="color:#0000ff;"><a href="http://www.independent.co.uk/news/world/middle-east/shame-of-the-house-of-saud-shadows-over-mecca-474736.html" target="_blank"><span style="color:#800000;"><span style="color:#000000;"> </span></span></a></span></p>
<p style="text-align:left;"><span style="color:#0000ff;"><span style="color:#000000;">2. </span></span><a href="http://www.almusaffir.com/modules/myalbum/photo.php?lid=337&amp;cid=7" target="_blank">The Destruction of Holy Sites in Mecca and Medina</a> By Irfan Ahmed</p>
<p style="text-align:left;">3. <a href="http://www.theamericanmuslim.org/tam.php/features/articles/destruction_of_islamic_architectural_heritage_in_saudi_arabia_a_wake_up_cal/" target="_blank">Destruction of Islamic Architectural Heritage in Saudi  Arabia: A Wake-up Call </a>By Saeed Shehabi</p>
<p style="text-align:left;">
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/abusalafy.wordpress.com/498/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/abusalafy.wordpress.com/498/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/abusalafy.wordpress.com/498/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/abusalafy.wordpress.com/498/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/abusalafy.wordpress.com/498/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/abusalafy.wordpress.com/498/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/abusalafy.wordpress.com/498/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/abusalafy.wordpress.com/498/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/abusalafy.wordpress.com/498/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/abusalafy.wordpress.com/498/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abusalafy.wordpress.com&blog=1269412&post=498&subd=abusalafy&ref=&feed=1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abusalafy.wordpress.com/2009/10/13/potret-arab-saudi-di-masa-datang-menghilangkan-jejak-rasulullah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>60</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/dcc398e7d74a34e59c3d59ffcc0673ff?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">abusalafy</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://abusalafy.files.wordpress.com/2009/10/pemusnahan-oleh-wahabi_1.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">pemusnahan Oleh wahabi_1</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://abusalafy.files.wordpress.com/2009/10/pemusnahan-oleh-wahabi_2.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">pemusnahan Oleh wahabi_2</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://abusalafy.files.wordpress.com/2009/10/pemusnahan-oleh-wahabi_3.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">pemusnahan Oleh wahabi_3</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://abusalafy.files.wordpress.com/2009/10/pemusnahan-oleh-wahabi_5.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">pemusnahan Oleh wahabi_5</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://abusalafy.files.wordpress.com/2009/10/01-kamara-nabi-sayyidah-khadijah.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">01. kamara-nabi-sayyidah-khadijah</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://abusalafy.files.wordpress.com/2009/10/02-kuburan-sayyidah-khadijah-al-kubra-putranya-qasim-di-pojok_o.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">02. kuburan-sayyidah-khadijah-al-kubra-putranya-qasim-di-pojok_o</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://abusalafy.files.wordpress.com/2009/10/03-mihrab-tempat-rasulullah-biasa-shalat-di-rmh-khadijah_o.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">03. mihrab-tempat-rasulullah-biasa-shalat-di-rmh-khadijah_o</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://abusalafy.files.wordpress.com/2009/10/04-reruntuhan-rumah-khadijah_o.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">04. reruntuhan-rumah-khadijah_o</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://abusalafy.files.wordpress.com/2009/10/05-rumah-nabi-sayyidah-khadijah-tempat-mereka-berdua-tinggal-selama-25-tahun-pun-dibongkar.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">05. rumah-nabi-sayyidah-khadijah-tempat-mereka-berdua-tinggal-selama-25-tahun-pun-dibongkar</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://abusalafy.files.wordpress.com/2009/10/06-tempat-ketika-sayyidah-fathimah-zahra-dilahrirkan_o.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">06. tempat-ketika-sayyidah-fathimah-zahra-dilahrirkan_o</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>