<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Abu Salafy</title>
	<atom:link href="http://abusalafy.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://abusalafy.wordpress.com</link>
	<description>Mengkaji Salafy Wahabi</description>
	<lastBuildDate>Sat, 31 Oct 2009 11:09:09 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<cloud domain='abusalafy.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://www.gravatar.com/blavatar/90bee9191768ad00939d83dc959a4370?s=96&#038;d=http://s.wordpress.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Abu Salafy</title>
		<link>http://abusalafy.wordpress.com</link>
	</image>
			<item>
		<title>Pemberitahuan &amp; Ma&#8217;af</title>
		<link>http://abusalafy.wordpress.com/2009/10/30/pemberitahuan-maaf/</link>
		<comments>http://abusalafy.wordpress.com/2009/10/30/pemberitahuan-maaf/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 30 Oct 2009 13:40:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abusalafy</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pemberitahuan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abusalafy.wordpress.com/?p=601</guid>
		<description><![CDATA[السلام عليكم و رحمة الله و بركاته 
Kepada semua pecinta blog ini, kami haturkan ma’af karena sampai hari ini kami belum bisa meng-update dan aktif seperti biasanya, dikarenakan kesibukan sehari-hari, baik kesibukan mencari nafkah untuk keluarga juga kesibukan lainnya, karenanya kami tidak bisa meng-update setiap hari. (hal ini sudah seringkali saya jelaskan tapi rupanya banyak [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abusalafy.wordpress.com&blog=1269412&post=601&subd=abusalafy&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><h2><strong>السلام عليكم و رحمة الله و بركاته </strong></h2>
<p>Kepada semua pecinta blog ini, kami haturkan ma’af karena sampai hari ini kami belum bisa meng-update dan aktif seperti biasanya, dikarenakan kesibukan sehari-hari, baik kesibukan mencari nafkah untuk keluarga juga kesibukan lainnya, karenanya kami tidak bisa meng-update setiap hari. (hal ini sudah seringkali saya jelaskan tapi rupanya banyak ikhwan salafy/wahhabi tidak sabaran)</p>
<p>Insya Allah kami akan segera kembali meng-update dan menjawab semua komen sebagaimana biasanya..!</p>
<p><strong>Bagi Ikhwan salafy/wahhabi perlu diketahui</strong> bahwa blog ini tidak seperti blog/situs wahhabi/salafy yang sering men-delete komen pengunjung. komitmen kami tetap akan menampilkan semua komentar (kecuali caci-maki dan bahasa yang kotor). Saya harap anda bersabar!</p>
<p><strong>Selanjutnya, jika ada sedikit waktu luang  akan kami sempatkan terlebih dahulu mengeluarkan komen-komen sbb:</strong></p>
<ul>
<li>yang tidak perlu kami tanggapi/jawab</li>
<li>yang tidak ditujukan kepada kami (diskusi sesama pengunjung)</li>
</ul>
<p>Sedangkan komen yang perlu ditanggapi/jawab, tetap kami PENDING dan akan kami tanggapi setelah aktif kembali seperti biasa.</p>
<p>sekian harap maklum dan ma’af.</p>
<p><strong>Wassalamu alaikum wr.wb</strong></p>
<p><span style="font-size:medium;">الفقير إلى عفو ربه ﺍﻟﻘﺪﻳﺮ</span></p>
<p><strong>Abu Salafy</strong></p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/abusalafy.wordpress.com/601/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/abusalafy.wordpress.com/601/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/abusalafy.wordpress.com/601/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/abusalafy.wordpress.com/601/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/abusalafy.wordpress.com/601/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/abusalafy.wordpress.com/601/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/abusalafy.wordpress.com/601/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/abusalafy.wordpress.com/601/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/abusalafy.wordpress.com/601/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/abusalafy.wordpress.com/601/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abusalafy.wordpress.com&blog=1269412&post=601&subd=abusalafy&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abusalafy.wordpress.com/2009/10/30/pemberitahuan-maaf/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/dcc398e7d74a34e59c3d59ffcc0673ff?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">abusalafy</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Bantahan Atas Abu Jauzâ’ Dan Para Wahhabiyyûn-Mujassimûn Musyabbihûn! (5)</title>
		<link>http://abusalafy.wordpress.com/2009/10/22/bantahan-atas-abu-jauza%e2%80%99-dan-para-wahhabiyyun-mujassimun-musyabbihun-5/</link>
		<comments>http://abusalafy.wordpress.com/2009/10/22/bantahan-atas-abu-jauza%e2%80%99-dan-para-wahhabiyyun-mujassimun-musyabbihun-5/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 22 Oct 2009 14:11:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abusalafy</dc:creator>
				<category><![CDATA[Akidah Tajsim & Tasybih]]></category>
		<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[Kajian Hadis]]></category>
		<category><![CDATA[Kenaifan Kaum Wahhabi]]></category>
		<category><![CDATA[Manhaj]]></category>
		<category><![CDATA[Menjawab Blog Wahabi/Salafy]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abusalafy.wordpress.com/?p=561</guid>
		<description><![CDATA[Bantahan Atas Abu Jauzâ’ Dan Para Wahhabiyyûn-Mujassimûn Musyabbihûn! (5)
 Bincang Bersama Abu Jauza -Hadis Melihat Tuhan-(5)


Meneliti Takhrîj Hadis Oleh Albani !!
Dalam kesempatan ini saya ajak pembaca memperhatikan hasil penelitian tidak teliti oleh Syeikh ahli dan pakar hadis kebanggaan Abu Jauzâ’ dan para Salafiyyun Mujassimun; Syeikh Nâshiruddîn al Albâbi&#8230; bagaimana penshahihan atau menetapan status hasan atas [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abusalafy.wordpress.com&blog=1269412&post=561&subd=abusalafy&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><span style="color:#003366;"><strong>Bantahan Atas Abu Jauzâ’ Dan Para Wahhabiyyûn-Mujassimûn Musyabbihûn! (5)</strong></span></p>
<p><strong> </strong><strong><span style="color:#003366;">Bincang Bersama Abu Jauza</span> <a href="http://abul-jauzaa.blogspot.com/2009/06/pembahasan-hadits-ummu-ath-thufail.html" target="_blank">-Hadis Melihat Tuhan-(5)</a></strong></p>
<p><strong><br />
</strong></p>
<p><strong>Meneliti Takhrîj Hadis Oleh Albani !!</strong></p>
<p>Dalam kesempatan ini saya ajak pembaca memperhatikan hasil penelitian tidak teliti oleh Syeikh ahli dan pakar hadis kebanggaan <strong>Abu Jauzâ’</strong> dan para Salafiyyun Mujassimun;<em> Syeikh Nâshiruddîn al Albâbi</em>&#8230; bagaimana penshahihan atau menetapan status <em>hasan </em>atas hadis-hadis yang mendukung hadis <em>Shûrah</em><strong> </strong>yang sedang ia <em>takhrîj</em> benar-benar tidak berdasar dan hanya didorong oleh kecenderungannya untuk menandaskan kesesatan akidah <em>tajsîm</em> yang sedang diperjuangkan untuk disebar-luaskan oleh kaum Salafi Wahhabi Mujassim.</p>
<p>Sebelumnya, dalam paparan keterangan dalam artikel sebelumnya telah kami soroti beberapa takhrij hadis oleh Albani tersebut. Dan kini kami akan menyoroti sisanya. Untuk lebih menyingkat, saya langsung akan mengajak Anda memperhatikan beberapa contoh hadis yang ia <em>takhrîj</em> dan itu pun dengan meneliti sebagian perawi –tidak seluruhnya- pada setiap sanad.<a href="http://abusalafy.wordpress.com/wp-admin/#_ftn33">[33]</a></p>
<p><span id="more-561"></span></p>
<p>Saya berkata dan hanya kepada Allah SWT kami memohon bimbingan ke jalan kebenaran-:</p>
<p><a href="http://abul-jauzaa.blogspot.com/2009/06/pembahasan-hadits-ummu-ath-thufail.html" target="_blank"><strong>Abu Jauzâ’ berkata:</strong></a></p>
<blockquote><p><strong>Saya berkata: </strong></p>
<p>Al-Imam Ibnu Abi ‘Aashim membawakan riwayat dalam kitab <em>As-Sunnah</em> (melalui <em>Dhilaalul-Jannah</em> oleh Asy-Syaikh Al-Albani,<em> </em>hal. 205 no. 471) sebagai berikut:</p>
<h3>471 &#8211; ( صحيح لغيره ) ثنا اسماعيل بن عبدالله ثنا نعيم بن حماد ويحيى بن سليمان قالا حدثنا عبدالله بن وهب عن عمرو بن الحارث عن سعيد بن أبي هلال حدثه أن مروان بن عثمان حدثه عن عمارة بن عامر عن أم الطفيل امرأة أبي بن كعب قال سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول <span style="text-decoration:underline;">رأيت ربي في المنام في أحسن صورة</span> وذكر كلاما</h3>
<p>“471 – (Shahih lighairihi)</p>
<p>Telah menceritakan kepada kami Ismaa’iil bin ‘Abdillah: Telah menceritakan kepada kami Nu’aim bin Hammaad dan Yahya bin Sulaimaan, mereka berdua berkata: Telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah bin Wahb, dari ‘Amr bin Al-Haarits, dari Sa’iid bin Abi Hilaal telah menceritakannya: Bahwasannya Marwaan bin ‘Utsmaan telah menceritakannya, dari ‘Umaarah bin ‘Aamir, dari Ummu Ath-Thufail istri Ubay bin Ka’b, ia berkata: Aku mendengar Rasulullah <em>shallallaahu ‘alaihi wa sallam </em>bersabda: <em>“Aku telah melihat Rabb-ku dalam mimpiku dalam wujud/bentuk yang paling baik</em>” dan kemudian beliau menyebutkan satu perkataan [selesai].</p>
<p>Asy-Syaikh Al-Albani <em>rahimahullah </em>kemudian memberikan komentar atas hadits tersebut sebagai berikut:</p>
<h3><span style="text-decoration:underline;">حديث صحيح بما قبله وإسناده ضعيف مظلم</span> عمارة بن عامر أورده ابن أبي حاتم من هذه الرواية ولم يذكر فيه جرحا ولا تعديلا ومروان بن عثمان هو ابن أبي سعيد بن المعلى الأنصاري الزرقي ضعيف كما في التقريب وذكر المزي في التهذيب أنه روى عن أم الطفيل امرأة أبي بن كعب فتعقبه تهذيبه بقوله: وفيه نظر فإن روايته إنما هي عن عمارة بن عمرو بن حزم عن أم الطفيل امرأة ابي في الرؤية وهو متن منكر كذا قال ابن عمرو بن حزم وإنما هو ابن عامر كما تراه في الكتاب وكذلك هو عند ابن أبي حاتم كما سبقت الإشارة إليه</h3>
<p>“<span style="text-decoration:underline;">Hadits shahih dengan penguat hadits-hadits sebelumnya; sanadnya <em>dla’if</em> lagi gelap</span>. Mengenai ‘Umaarah bin ‘Aamir, Ibnu Abi Haatim membawakan riwayat ini tanpa menyebutkan di dalamnya celaan (<em>jarh</em>) ataupun pujian (<em>ta’dil</em>).</p>
<p>Marwaan bin ‘Utsmaan, ia adalah Ibnu Abi Sa’iid bin Al-Ma’alliy Al-Anshariy Az-Zarqiy, seorang perawi <em>dla’if</em>, sebagaimana terdapat dalam <em>At-Taqriib</em>. Al-Mizziiy menyebutkannya dalam <em>At-Tahdziib</em> bahwasannya ia meriwayatkan dari Ummu Ath-Thufail istri Ubay bin Ka’b. Atas perkataan ini Ibnu Hajar memberikan kritikan dalam <em>Tahdziibut-Tahdziib</em>: “Pada perkataannya tersebut ada yang perlu diperhatikan. Sesungguhnya riwayat Marwaan berasal dari ‘Umaarah bin ‘Amr bin Hazm, dari Ummu Ath-Thufail, istri Ubay bin Ka’b dalam hadits <em>ru’yah</em>, dan ia adalah matan yang munkar”.</p>
<p>Begitulah, ia mengatakan: Ibnu ‘Amr bin Hazm, yang benar adalah Ibnu ‘Aamir, seperti yang Anda lihat dalam kitab. Begitu pula ia di sisi Ibnu Abi Haatim sebagaimana telah lalu penunjukkannya atasnya”.</p>
<p>[selesai perkataan Asy-Syaikh Al-Albani <em>rahimahullah</em>]</p>
<p>Hadits yang dibawakan Al-Imam Ibnu Abi ‘Aashim <em>rahimahullah </em>ini sebenarnya satu riwayat dengan riwayat yang menjadi bahasan kita, dimana sanad keduanya bertemu pada ‘Abdullah bin Wahb (Ibnu Wahb). Ibnu Abi ‘Aashim membawakan secara ringkas dengan perkataannya: <em>“wa dzakara kalaaman</em>. Maksud “<em>wa dzakara kalaaman</em>” di sini adalah lafadh:</p>
<h3>في صورة شباب موفر في خضر على فراش من ذهب في رجليه نعلان من ذهب</h3>
<p><em>“dalam wujud seorang pemuda berambut lebat yang memakai pakaian berwarna hijau di atas tempat tidur yang terbuat dari emas, pada kedua kaki-Nya memakai sandal yang terbuat dari emas”</em>.</p></blockquote>
<p><span style="text-decoration:underline;"><strong>Abu Salafy berkata:</strong></span></p>
<p>Pertama-tama yang perlu kita mengerti bahwa para ulama ahli hadis tidak semberono dalam menaikkan status hadis dari <em>hasan </em>menjadi <em>shahih</em>, apalagi dari <em>dha’if</em> atau sangat <em>dha’if</em> menjadi<em> hasan </em>apalagi menjadi <em>shahih</em>. Mereka sangat memperhatikan dan memasukkan dalam pertimbangan mereka tingkat dan jenis kedha’ifan/kelemahan sebuah riwayat akibat kedha’ifan perawinya yang hendak mereka naikkan statusnya dengan bantuan<em> mutâbi</em>’ dan/<em>syawâhid</em> (riwayat-riwayat dari jalur lain yang mengandung makna serupa). Di antara yang sangat mereka perhatikan adalah apakah si perawi dalam mata rantai riwayat yang hendak didongkrak statusnya itu lemah kerena sebab cacat pada kejujuran atau cacat dalam sisi lain?</p>
<p>Para ulama dan pakar ilmu hadis menegaskan jika kedha’fan itu dikarenakan sebab cacat pada kualitas kejujuran si perawi maka ia tidak dapat didongkrak statusnya betapapun ia datang dalam riwayat-riwayat lain dengan jalur lain baik yang bertemu dalam mata rantai syeikh (gurunya) atau tidak (hanya serupa dalam matannya saja).</p>
<p>Para ahli hadis biasanya membicarakan masalah ini dalam pasal tentang redaksi yang digunakan dalam mencacat para perawi, di mana terdapat tingkatan yang beragam dalam kelemahan yang ditunjukkan oleh redaksi-redaksi pencacatan tersebut. Imam Nawawi berkata dalam kitab <em>at Taqrîb</em>-nya yang kemudian disyarahi oleh <em>as Suyuthi</em> dalam <em>tadrîb ar Râwi</em>, “Redaksi penta’dilan (penilaian baik) tingkat keempat: Shaleh hadisnya. Hadisnya boleh ditulis untuk I’tibâr.<a href="http://abusalafy.wordpress.com/wp-admin/#_ftn34">[34]</a></p>
<p>Adapun redaksi pencacatan ( al jarh) ia bertingkat-tingkat. Jika para ulama berkatta (tentang status seorang perawi): ia <em>layyin </em>(lembek) hadisnya, maka hadisnya boleh ditulis dan diperhatikan sebagai <em>I’tibâr</em>….</p>
<p>Dan ucapan mereka: <em>Laisa bi qawiyyin </em>(tidak kuat), hadisnya boleh ditulis, maka ia tingkatan di bawah redaksi <em>layyin</em>.</p>
<p>Dan jika mereka berkata: <em>Dha’îful hadîts</em> (lemah hadisnya), ia tingkatan di bawah redaksi<em> Dha’îful hadîts, </em>hadisnya tidak dibuang tetapi boleh ditulis sebagai <em>i’tibâr</em>.</p>
<p>Jika mereka berkata: <em>Matrûkul hadîts</em> (ditinggalkan hadisnya), <em>Wâhi</em> hadisnya, atau <em>kadzdzâb</em> (pembohong), maka ia jatuh (gugur), tidak layak ditulis hadisnya (tidak dapat dijadikan i’tibâr tidak juga dijadikan syahid.”<a href="http://abusalafy.wordpress.com/wp-admin/#_ftn35">[35]</a></p>
<p>Ketika membahas tingkatan hadis hasan, para ulama biasa berbicara panjang lebar tentang apa-apa <span style="text-decoration:underline;">yang dapat mendongkrak status hadis dha’if menjadi hasan</span> <strong>(perhatikan bukan menajdi shahih)</strong>. Imam Nawawi berkata, “<strong>Cabang Ketiga</strong>: <em>“Jika sebuah hadis diriwayatkan bergabai jalur dha’if maka tidak harus dari total jalur itu ia menjadi hadis hasan, akan tetapi jika kedha’ifannya disebabkan lemahnya hafalan si perawi yang jujur (shadûq) lagi terpercaya maka hilanglah kedha’ifan itu dengan datangnya hadis itu dari jalur lain dan ia menjadi hadis hasan&#8221;.</em></p>
<p>Demikian pula jika kedha’ifannya diakibatkan oleh kemursalan, maka akan hilang kedha’ifannya dengan datangnya hadis itu dari jalur lain. Adapun kedha’ifannya diakibatkan kefasikan (atau kedustaan) si perawi maka kesesuaian perawi lain dalam meriwayatkan hadis itu tidak berpengaruh apa-apa dalam meningkatkan statusnya! (karena begitu kuatnya kedha’ifannya dan ketidak-mampuan hadis pendukung itu dalam mendongkrak status hadis yang hendak ia dongkrak). Benar, bahwa dengan berbilangnya jalur-jalur periwayatan (walau pun seluruhnay dha’if) ia akan naik tingkatan menjadi bahwa hadis itu tidak munkar atau hadis yang tidak punya asal muasal…. Demikian ditegaskan Syeikhul Islam<a href="http://abusalafy.wordpress.com/wp-admin/#_ftn36">[36]</a>. Ia berkata, “Bisa jadi jalur sangat banyak sehingga menyampaikannya kepada tingkat <em>mastûr</em> yang jelek hafalannya, sekira jika ada hadis dari jalur lain yang juga dha’if yang masih ditoleransi… bisa jadi ia dinaikkan statusnya menjadi hadis hasan!.”<a href="http://abusalafy.wordpress.com/wp-admin/#_ftn37">[37]</a></p>
<p><span style="text-decoration:underline;">Setelah itu mari kita perhatikan status shahih yang disematkan oleh Syeikh Albani terhadap sebuah hadis yang ia sendiri mengakui bahwa sanadnya lemah dan gelap gulita.</span></p>
<p><span style="text-decoration:underline;"><span style="color:#800000;">Hadis dengan nomer 471 yang ia shahihkan itu adalah hadis yang mengidap penyakit kronis dan sangat bermasalah pada sanadnya. Sehingga sulit rasanya membayangkan ia dapat naik status menjadi dh’aif biasa apalagi hasan dan apalagi shahih!!</span></span></p>
<p>Dalam jalur riwayat di atas terdapat seorang parawi bernama <strong><em>Nu’aim ibn Hammâd</em></strong>.<a href="http://abusalafy.wordpress.com/wp-admin/#_ftn38">[38]</a> Tentang parawi yang satu ini, perlu diperhatikan beberapa perkara:</p>
<p><strong>Pertama, </strong><span style="text-decoration:underline;"><em>Syeikh al Albani</em> sendiri mencacatnya dalam berbagai kesempatan dalam kitab <em>Silsilah al Ahâdîts adh Dha’îfah wa al Maudhû’ah</em>-nya. Lalu mengapakah sekarang mendadak ia dengan begitu gegabah dan mudah menaikkannya menjadi berstatus shahih dengan bantuan hadis lain</span>?! Sepertinya  Muhaddis Wahhabi Salafy yang satu ini terlalu royal dalam membagi-bagi status shahih kepada hadis di atas! mungkin karena ia menyesuai akidah yang sedang ia pertahankan sehingga kecintaan itu membutakan dan menulikannya?!</p>
<p><span style="text-decoration:underline;"><span style="color:#800000;">Betapa sering ia membantai hadis dikarenakan di dalam mata rantai sanadnya terdapat perawi yang satu ini; <em>Nu’iam ibn Hammâd</em>! </span></span>Saya tidak punya banyak waktu dan kesempatan untuk meneliti seluruh ketarangan Syeikh al Albani tentang status perawi yang satu ini. Namun saya akan mebuktikan kepada Anda bahwa betapa sering Syeikh Wahhabi Salafy ini kontradiksi antara satu pernyataan dan sikapnya dengan pernyataan dan sikapnya yang lain di kesempatan lain bahkan anehnya masih dalam satu kitab!!</p>
<p><strong>Syeikh al Albani menilai Nu’aim ibn Hammâd demikian:</strong></p>
<p>Ketika menerangkan status hadis dengan nomer 60: Nabi saw. bersabda: <em>“Aku memohon kepada Tuhanku tentang apa yang diperselisihkan oleh sahabat-sahabatku sepeninggalku nanti, maka Allah mewahyukan kepadaku, ‘Hai Muhammad, sesungguhnya para sahabatmu di sisi-Ku seperti kedudukan bintang-bintang, sebagiannya lebih terang dari sebagian lainnya. Maka barang siapa mengambil dengan apapu yang mereka jalankan dari perselisihan mereka maka di sisi-Ku ia berada di atas petunjuk.”</em></p>
<p><strong>Ia berkata, di antaranya:</strong></p>
<p><strong><span style="color:#800000;">“Hadis itu maudhû’ (palsu) …. </span></strong></p>
<p><span style="color:#800000;"><strong>“Sanad ini palsu</strong>.</span> <span style="color:#800000;"><em>Nu’aim ibn Hammâd</em> dha’if. Al Hafidz berkata, ‘Ia sering salah.”</span><a href="http://abusalafy.wordpress.com/wp-admin/#_ftn39">[39]</a></p>
<p>Kertika menerangkan hadis dengan nomer 231 ia mencacatnya karena di antara perawinya adalah <em>Nu’aim ibn Hammâd</em>. Ia berkata, <span style="color:#800000;"><strong>“Hadis palsu/<em>maudhû’.</em>”</strong></span></p>
<p><span style="color:#800000;">.<em>. Nu’aim ibn Hammâd</em> me<em>mutaba’ai</em> hadis Abu Zakaria, dan ia (Nu’aim) <em>laisa</em> <em>bitsiqati</em> (tidak tsiqah).”</span><a href="http://abusalafy.wordpress.com/wp-admin/#_ftn40">[40]</a></p>
<p>Ketika men<em>takhrij</em> hadis dengan nomer 684 ia berkata, “Hadis dha’if… hadis itu didha’ifkan oleh at Turmudzi dengan kata-kata, ‘Ia hadis <em>gharîb</em>, kami tidak mengenalnya kecuali dari riwayat <span style="text-decoration:underline;"><em>Nu’aim ibn Hammâd.</em>’</span> Abu Nu’aim berkata, ‘Nu’aim menyendiri dengan meriwayatkannya.’</p>
<p><strong><span style="color:#800000;">Aku (Albâni) berkata,</span></strong> <span style="color:#800000;"><em>‘Ia adalah parawi yang dha’if karena banyak kesalahan dan kekeliruannya, sampai-sampai Abu Daud berkata, ‘Ia punya sekitar dua puluh hadis yang tidak punya asal muasalnya… ‘</em></span>”<a href="http://abusalafy.wordpress.com/wp-admin/#_ftn41">[41]</a></p>
<p>Ketika men<em>takhrij </em>hadis dengan nomer 782 ia menegaskan kembali bahwa <span style="text-decoration:underline;"><em>Nu’aim</em></span> adalah dha’if.<a href="http://abusalafy.wordpress.com/wp-admin/#_ftn42">[42]</a></p>
<p>Ketika men<em>takhrij</em> hadis dengan nomer 825 ia menegaskan bahwa hadis itu munkar.<strong> Aku (Albani) berkata</strong>, <span style="color:#800000;"><span style="text-decoration:underline;">‘Sanad hadis ini sangat rapuh/<em>wâhin jiddan</em>. </span>Disamping kemursalannya, di dalamnya terdapat <span style="text-decoration:underline;"><em>Nu’aim ibn Hammâd</em>,</span> ia sangat dha’if/<em>dha’îfun</em> <em>jiddan</em>.’</span>”<a href="http://abusalafy.wordpress.com/wp-admin/#_ftn43">[43]</a></p>
<p>Dan ketika men<em>takhrij</em> hadis dengan nomer957<span style="color:#800000;"> ia juga menegaskan bahwa<span style="text-decoration:underline;"> Nu’aim</span> dha’if</span>.<a href="http://abusalafy.wordpress.com/wp-admin/#_ftn44">[44]</a></p>
<p><strong>Kedua,</strong> para pakar ulama ahli hadis yang menyebut biodata <em><span style="text-decoration:underline;">Nu’aim ibn Hammâd</span></em> hampir semua mencacat kualitas dan kepribadiannya.</p>
<p><strong>Nu’aim ibn Hammâd di Mata Ulama Ahli Hadis</strong></p>
<p>Imam an Nasa’i berkata, “<em>Ia dha’if.”</em><a href="http://abusalafy.wordpress.com/wp-admin/#_ftn45">[45]</a> Ia juga berkata, <em>“Ia tidak tsiqah.”</em></p>
<p>Shaleh ibn Jazrah, <em>“Ia memiliki banyak hadis munkar. Ia tidak dimutaba’ai atas hadis-hadisnya itu.”</em> Demikian disebutkan al Khathib dalam Târîkh Baghdâd,13/306.</p>
<p>Ibnu Ma’in berkata, <em>“Dalam (duna periwayatan) hadis ia bukan apa-apa/tidak bernilai.”</em><a href="http://abusalafy.wordpress.com/wp-admin/#_ftn46">[46]</a></p>
<p>Bebepara ulama lainnya, seperti <em>al Azdi </em>–sebagaimana dinukil <em>Ibnu Jauzi </em>dalam <em>adh Dh’afâ’ wa al Matrûkîn</em>,3/163- dan <em>Mighlâthi </em>–sebagaimana termaktub dalam <em>Ikmâl Tahdzîb al Kamâl</em>,12/65 berkata, <em>“Adalah Nu’aim memalasu hadis untuk menguatkan sunnah (mazhabnya) dan kisah-kisah yang mengecam Abu Hanifah.”</em></p>
<p>Lebih lanjut baca: Mîzân al I’tidâl dan at Tahdzîb!</p>
<p><span style="text-decoration:underline;">Setelah ini semua adalah sikap yang sangat aneh dan mengundang tanda tanya besar apabila sekarang <em>Syeikh Albani</em> mengantrol secara berlebihan status hadis tersebut menjadi<em> shahih lighairihi</em>, sebuah istilah yang digunakan untuk status hadis hasan yang dikatrol dengan beberapa alasan menjadi hadis shahih. Bukan hadis dha’if yang sangat bermasalah karena di antara para perawinya <em>dha’if jiddan</em>!!</span></p>
<p>Apa yang saya paparkan di sini sekali mempertegas kenyataan bahwa memang Syeikh ahli hadis kebanggaan para alim, setengah alim setengah awam dan kaum awam yang sok alim dari sekte Salafi Wahhabi Mujassim benar-benar sering linglung!! Apa yang saya katakana ini bukan berlebihan dan bukan mengejak! Tapi ia menjelaskan hakikat sesungguhnya!!</p>
<p><span style="color:#800000;">Dan selain <em>Nu’aim ibn Hammâd </em>yang bermasalah dalam sanad riwayat di atas, juga terdapat nama lain seperti <em>Sa’îd ibn Abu Hilâl </em>yang juga dikenal dha’if dan sebagai mudallis, sengaja tidak saya bicarakan di sini demi ringkasnya kajian.</span></p>
<p>Apa yang dilakukan <em>Syeikh Albani</em> dengan hanya menfokuskan perhatiannya kepada <em>Marwan ibn Utsman</em> dan <em>Umarah </em>adalah usaha melarikan diri dari borok asli riwayat di atas! selain itu, <em>Syeikh Albani</em> mendasarkan pemberian status shahih lighairihi untuk hadis di atas kepada hadis sebelumnya yaitu hadis yang ia takhrij dengan nomer 470. pendongkrakan status selain menayalahi aturan yang telah dibangun dengan rapi oleh para pakar dan ulama hadis, juga terkesan kucing-kucingan, di mana di sini ia berkata, <strong>“</strong><strong>Hadits shahih dengan penguat hadits sebelumnya.” </strong>Sebab hadis itu ternyata ia shahihkan dengan bantaun hadis-hadis lain juga. Atau jika redaksi <em>Albani </em>bermakna seperti yang diterjemahkan oleh saudara Abu jauzâ’: <span style="text-decoration:underline;">“Hadits shahih dengan penguat <strong>hadits-hadits</strong></span> sebelumnya.” maka ia juga tidak berdasar. Selain itu kita pun perlu meneliti apakah ternyata penshahihan atau penetapan status hasan untuk beberapa hadis yang ia <em>takhrij</em> itu sudah memenui standar baku yang ditetapkan para ulama dan berlaku di kalangan mereka atau ia sekedar penelitian yang kurang teliti atau terkesan memaksakan?<strong> </strong></p>
<p><span style="color:#800000;"><span style="color:#000000;">Saya berharap para ustadz Wahhabi Salafy tidak keberatan dan balik menghujat dengan berkata<span style="color:#0000ff;"> </span></span><span style="color:#0000ff;"><span style="text-decoration:underline;">–seperti kebiasaan kekanak-kanakan sebagian dari mereka-: Apakah engkau hai Abu Salafy merasa lebih alim dari Syeikh kami Albani?</span></span> <span style="text-decoration:underline;"><span style="color:#800000;">Masalahnya bukan siapa lebih atau kalah di banding siapa! Tetapi –seperti sering kali dinasihatkan oleh <em>Syeikh Albani </em>sendiri- agar pencari kebanaran tidak bertaklid buta mengikuti kesalahan ulama betapapun ia agung dan mulia, sebab kebenaran lebih berhak diikuti!</span></span></span></p>
<p>Karenanya kami akan meneliti hadis-hadis  tersebut.</p>
<p>Sebelumnya telah kami sebutkan panjang lebar pernyataan para ulama dan pakar tentang kualitas <em>Nu’aim ibn Hammâd, Marwân ibn Utsman</em> dan <em>Umârah</em>, jadi tidak perlu lagi diulang di sini.</p>
<p>Hanya saja yang perlu dipertanyakan adalah menyematakn status shahih ligharihi untuk hadis di atas oleh Albani adalah kesalahan besar!</p>
<p><a href="http://abul-jauzaa.blogspot.com/2009/06/pembahasan-hadits-ummu-ath-thufail.html" target="_blank"><strong>Abu Jauzâ’ berkata:</strong></a></p>
<blockquote><p>Kembali kepada Asy-Syaikh Al-Albani,…… untuk memahami perkataan beliau bahwa riwayat yang dibawakan oleh Ibnu Abi ‘Aashim dalam <em>As-Sunnah </em>(no. 471) menjadi kuat atas hadits-hadits yang disebutkan sebelumnya, tentu saja kita harus melihat beberapa hadits yang dianggap menguatkan tersebut. Tujuannya adalah untuk menentukan: <span style="text-decoration:underline;">Apakah riwayat shahih (<em>li-ghairihi</em>) yang dimaksudkan itu sebatas kalimat: <em>“Aku telah melihat Rabb-ku dalam mimpiku dalam wujud/bentuk yang paling baik</em>” ; ataukah dengan lafadh lengkap sebagaimana disebutkan di awal perbincangan ?</span></p>
<p>Akan saya sebut hadits-hadits tersebut secara ringkas [tanpa menuliskan komentar Asy-Syaikh Al-Albani <em>rahimahullah </em>untuk masing-masing hadits– dan silakan memperhatikan kalimat yang saya <strong>cetak tebal</strong>]:</p>
<h3>465 &#8211; ( حسن ) ثنا أبو بكر بن أبي شيبة ثنا يحيى بن أبي بكير ثنا إبراهيم ابن طهمان ثنا سماك بن حرب عن جابر بن سمرة قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم <span style="text-decoration:underline;">إن الله تعالى تجلى لي في أحسن صورة</span> فسألني فيما يختصم الملأ الأعلى قال قلت ربي لا أعلم به قال فوضع يده بين كتفي حتى وجدت بردها بين ثديي أو وضعهما بين ثديي حتى وجدت بردها بين كتفي فما سألني عن شيء إلا علمته</h3>
<p>465 – (Hasan)</p>
<p>Telah menceritakan kepada kami Abu Bakr bin Abi Syaibah: Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Bakiir: Telah menceritakan kepada kami Ibrahim bin Thahmaan: Telah menceritakan kepada kami Sammaak bin Harb, dari Jabir bin Samurah, ia berkata: Telah bersabda Rasulullah <em>shallallaahu ‘alaihi wa sallam:</em> <em>“<strong>Sesungguhnya Allah ta’ala menampakkan diri kepadaku dalam sebaik-baik bentuk</strong><span style="text-decoration:underline;">.</span> Maka Dia bertanya kepadaku: ‘Apakah yang diperbantahkan oleh Al-Malaul-A’la (para malaikat)?’ Aku berkata: “Wahai Rabb-ku, aku tidak mengetahuinya’. Maka Dia meletakkan tangan-Nya di antara dua pundakku hingga aku merasakan dinginnya di antara dua dadaku’. </em>Atau:<em> Dia meletakkan dua tangan-Nya di antara dua dadaku hingga aku merasakan dinginnya di antara dua pundakku. Tidaklah Dia bertanya kepadaku tentang sesuatu kecuali aku mengetahuinya”</em>.</p></blockquote>
<p><strong>Abu Salafy berkata:</strong></p>
<p><span style="text-decoration:underline;"><span style="color:#800000;">Pada jalur riwayat di atas setidaknya terdapat dua parawi cacat bermasalah, yaitu <em>Ibrahim ibn Thahmân</em> dan<em> Simâk ibn Harb.</em></span></span></p>
<p><strong>Ibrahim ibn Thahmân Di Mata Ulama</strong></p>
<p><em>Al hafidz Muhammad ibn Abdullah ibn Ammar al Mûshili </em>berkata, “Ia <em>dha’if, muththaribul hadîts</em>/ia lemah, kacau hadisnya.”<a href="http://abusalafy.wordpress.com/wp-admin/#_ftn47">[47]</a> Dalam kitab<em> at Tahdzîb</em> dinukil pernyataan <em>Ibnu Hibbân</em> bahwa ia sering menyendiri dalam meriwayat atas nama orang-orang <em>tsiqât</em> (jujur lagi tterpercaya) hadis-hadis ruwet/<em>mu’dhalât</em>.”<a href="http://abusalafy.wordpress.com/wp-admin/#_ftn48">[48]</a></p>
<p><strong>Simâk ibn Harb Di Mata Ulama</strong></p>
<p>Adapun tentang <em>Simâk ibn Harb</em>, <em>Sufyan ts Tsauri</em> dan <em>Syu’bah</em> mendha’ifkannya. Demikian diterangkan al Khathib al Baghdadi dan Ibnu Jauzi.<a href="http://abusalafy.wordpress.com/wp-admin/#_ftn49">[49]</a> Imam Ahmad berkata, “Ia <em>muththarib</em> hadisnya.”<a href="http://abusalafy.wordpress.com/wp-admin/#_ftn50">[50]</a> Shaleh ibn Jazrah berkata, “Ia didha’ifkn/<em>yadha’af</em>.”<a href="http://abusalafy.wordpress.com/wp-admin/#_ftn51">[51]</a></p>
<p><em>Ibnu Mubarak</em> berkata, “Ia dha’if.”<a href="http://abusalafy.wordpress.com/wp-admin/#_ftn52">[52]</a></p>
<p><em>Al bazzâr </em>berkata, “Sebelum mati ia berubah hafalannya.”<a href="http://abusalafy.wordpress.com/wp-admin/#_ftn53">[53]</a></p>
<p><em>Ibnu Hibbâb</em> berkata, “Ia banyak salah.”<a href="http://abusalafy.wordpress.com/wp-admin/#_ftn54">[54]</a></p>
<p>Selengkapnya keterangan dan komentar ulama tentang keduanya dapat Anda baca dalam <em>Mîzân al I’tidâl </em>dan <em>Tahdzîb at Tahdzîb</em>.</p>
<p><span style="text-decoration:underline;"><strong>Abu Salafy berkata:</strong></span></p>
<p>Dengan memerhatikan keterangan para ulama sulit rasanya membenarkan ketetapan status hasan yang diberikan Syeikh Akbani untuk hadis ini.</p>
<p>Jadi benarlah apa yang ditegaskan para ulama seperti Ibnu Jauzi, al Baihaqi dan lainnya bahwa hadis ini dari berbagai jalurnya adalah dh’aif dan <em>muththarib</em>!!</p>
<p><strong>Kekacauan Sikap Syeikh Albani Dalam Mentakhrij Hadis! </strong></p>
<p><span style="text-decoration:underline;"><span style="color:#800000;">Banyak ulama melihat bahwa Syeikh Albani sering kali berbenturan antara keterangan-keterangannya tentang satu hadis atau satu parawi. Di sebuah kali ia mendha’ifkan dan/atau mencacat parawinya kemudian di kesempatan lain ia memuji dan atau menshahihkan hadisnya.</span></span></p>
<p>Mungkin apa yang saya katakana ini dirasa berat oleh kaum Salafiyah yang muta’ashshibîn (fanatik buta) kepada Syeikh mereka! Namun inilah kenyataannya!</p>
<p><span style="text-decoration:underline;"><span style="color:#800000;">Di bawah ini saya ajak Anda memerhatikan dua ketarangan yang ganjil dari <em>Syeikh Albani </em>tentang dua hadis yang diriwayatkan dari jalur yang sama, namum untuk yang satu ia katakana: Shahih lighairih (seperti pada hadis dengan nomer 471 yang disebutkan saudara kami Abu Jauzâ’) sementara di tempat lain ia menvonis maudhû’ (palsu) hadis dengan jalur yang sama tersebut.</span></span></p>
<p><a href="http://abul-jauzaa.blogspot.com/2009/06/pembahasan-hadits-ummu-ath-thufail.html" target="_blank"><strong>Perhatikan apa yang dikatakan Abu Jauzâ’:</strong></a></p>
<blockquote><p>Begitu pula dengan Asy-Syaikh Al-Albani <em>rahimahullah </em>menegaskan kepalsuannya dalam kitab <em>Adl-Dla’iifah</em>:</p>
<h3>6371 &#8211; ( رأيتُ ربي &#8211; وفي لفظٍ: رأى ربَّه تعالى &#8211; في المنام في أحسنِ صورةٍ ، شاباً موقَّراً ، رِجلاه في خُفٍّ ، عليه نعلانِ من ذهبٍ ، على وَجْهِهِ فراشٌ من ذهبٍ ).</h3>
<h3>موضوع .</h3>
<h3>أخرجه الخطيب في &#8220;التاريخ&#8221; (13 / 311) من طريق نعيم بن حماد: حدثنا ابن وهب: حدثنا عمرو بن الحارث عن سعيد بن أبي هلال عن مروان بن عثمان عن عمارة بن عامر عن أم الطفيل &#8211; امرأة أُبَيّ &#8211; أنها سمعت النبي صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يذكر أنه رأى ربه &#8230; الحديث .</h3>
<p>“6371 – <em>“Aku telah melihat Rabb-ku </em>– dalam lafadh yang lain: <em>“Beliau telah melihat Rabb-nya ta’ala – dalam mimpinya sebaik-baik bentuk: seorang pemuda terhormat, kedua kakinya memakai sandal yang terbuat dari emas, di atas wajah-Nya terdapat faraasy dari emas”</em>.</p>
<p><strong><em>Maudlu’ </em></strong><strong>(palsu)</strong></p>
<p>Dikeluarkan oleh Al-Kahthiib dalam <em>At-Taariikh</em> (13/311) dari jalan Nu’aim bin Hammad: Telah menceritakan kepada kami ‘Amru bin Al-Haarits, dari Sa’iid bin Abi Hilaal, dari Marwaan bin ‘Utmaan, dari ‘Umaarah bin ‘Aamir, dari Ummu Ath-Thufail – istri Ubay – bahwasannya ia pernah mendengar Nabi <em>shallallaahu ‘alaihi wa sallam</em> menyebutkan diri beliau pernah melihat Rabb-nya….. (al-hadits)”</p>
<p>[lihat selengkapnya dalam <em>Silsilah Adl-Dla’iifah </em>13/819-823 no. 6371].</p></blockquote>
<p><span style="text-decoration:underline;"><span style="color:#800000;">Di sini hadis dengan jalur tersebut ia vonis sebagai palsu/maudhû’! Kemudian coba perhatikan sanad/jalur hadis dengan nomer 471 yang disebutkan Abu Jauzâ’ di bawah ini:</span></span></p>
<p><span style="text-decoration:underline;"><span style="color:#800000;"><br />
</span></span></p>
<blockquote>
<h3>471 &#8211; ( صحيح لغيره ) ثنا اسماعيل بن عبدالله ثنا نعيم بن حماد ويحيى بن سليمان قالا حدثنا عبدالله بن وهب عن عمرو بن الحارث عن سعيد بن أبي هلال حدثه أن مروان بن عثمان حدثه عن عمارة بن عامر عن أم الطفيل امرأة أبي بن كعب قال سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول <span style="text-decoration:underline;">رأيت ربي في المنام في أحسن صورة</span> وذكر كلاما</h3>
<p>“471 – (Shahih lighairihi)</p>
<p>Telah menceritakan kepada kami Ismaa’iil bin ‘Abdillah: Telah menceritakan kepada kami Nu’aim bin Hammaad dan Yahya bin Sulaimaan, mereka berdua berkata: Telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah bin Wahb, dari ‘Amr bin Al-Haarits, dari Sa’iid bin Abi Hilaal telah menceritakannya: Bahwasannya Marwaan bin ‘Utsmaan telah menceritakannya, dari ‘Umaarah bin ‘Aamir, dari Ummu Ath-Thufail istri Ubay bin Ka’b, ia berkata: Aku mendengar Rasulullah <em>shallallaahu ‘alaihi wa sallam </em>bersabda: <em>“Aku telah melihat Rabb-ku dalam mimpiku dalam wujud/bentuk yang paling baik</em>” dan kemudian beliau menyebutkan satu perkataan [selesai].</p></blockquote>
<p><span style="text-decoration:underline;"><strong>Abu Salafy berkata:</strong></span></p>
<p><strong>Coba perhatikan sekali lagi nama-nama perawi dalam dua sanad tersebut! Pada keduanya kita menemukan nama-nama:</strong></p>
<p>1)    Nu’aim ibn Hammâd.</p>
<p>2)    Abdullah ibn Wahab (Ibnu Wahab).</p>
<p>3)    Amr ibn al Hârits.</p>
<p>4)    Sa’id ibn Abi Hilâl.</p>
<p>5)    Marwân ibn Utsman.</p>
<p>6)    Umârah.</p>
<p><strong><span style="text-decoration:underline;"><span style="color:#800000;">Keenam nama parawi ini juga yang terlibat dalam meriwayatkan hadis yang ia shahihkan! Bukankah aneh di sana ia menshahihkan dan di sini ia menvonis maudhû’!!</span></span></strong></p>
<p>Anda berhak bertanya kepada Syeikh dan para pemujanya, sebenarnya yang ia andalkan dalam menetapkan status sebuah hadis itu apa? Apakah sanad/jalur periwayatannya yang menentukan status itu? Atau matan dan kandungannya? Jika sanad yang menjadi pengandalannya maka dalam kedua jalur itu sanadnya telah tercoreng dengan nama-nama parawi super bermasalah! Jika matannya, maka pada kedua riwayat itu juga memuat kemustahilan bagi Dzat Allah SWT!</p>
<p>Untuk sementara saya tidak menvonis bahwa <em>Syeikh Albani </em>sedang kontradiksi antara dua sikap dan keputusannya itu. Saya serahkan kepada para pemujanya dan saya nantikan keterangan lebih lanjut dari mereka khususnya saudara kami yang terhormat Abu Jauzâ’.</p>
<p><strong>Akhirul Kalam</strong></p>
<p>Akhirnya untuk sementara kami cukupkan tanggapan kami atas keberatan sebagian teman-taman Salafi Wahhabi atas artikel kami.<strong><em> </em></strong></p>
<p><strong><em>Wallahu A’lam .</em></strong><strong> </strong></p>
<p><span style="color:#ff0000;"><strong>(Selesai)</strong></span><strong> </strong></p>
<hr size="1" /><a href="http://abusalafy.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref33">[33]</a> Pada awalnya saya bermaksud menyoroti hasil takhrîj Syeikh Albani seperti yang dinukil saudara kita Ustadz Abu Jauzâ’, akan tetapi untuk menghemat waktu dan tenaga saya untuk pekerjaan yang lebih berguna, niatan itu saya batalkan dan saya hanya akan menyoroti beberapa saja.</p>
<p><a href="http://abusalafy.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref34">[34]</a> <em>I’tibâr</em> adalah upaya yang dilakukan untuk mengenali kondisi dan status hadis, apakah ia hanya riwayata tunggal tidak ada riwayat lain yang menyamainya atau mendukungnya. Tindakan itu dilakukan dengan meneliti hadis riwayat seorang parawi dengan membandingkannya dengan riwayat para parawi lain apakah ada yang menyertainya dalam meriwayatkan hadis tersebut dari gurunya atau tidak? Tindakan ini disebut dengan istilah mutâba’ah. Jika tidak ada, maka diperhatikan kembali apakah ada hadiis erupa walaupun tidak dari gurunya yang juga diriwayatkan oleh parawi lain? Jika ditemukan maka ia disebut syâhid, dan berarti hadis yang sedang diteliti itu bunya syâhid (bentuk jamaknya syawâhid). Lebih lanjut perhatikan Tadrîb ar Râwi,1/242 dan berbagai kitab <em>Mushthalahul Hadits</em> lainnya.</p>
<p><a href="http://abusalafy.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref35">[35]</a> Tadrîb ar Râwi,1/345-347.</p>
<p><a href="http://abusalafy.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref36">[36]</a> Ibnu Hajar al Asqallani maksudnya.</p>
<p><a href="http://abusalafy.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref37">[37]</a>Tadrîb ar Râwi,1/177.</p>
<p><a href="http://abusalafy.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref38">[38]</a> Seperti telah saya katakan sebelumnya bahwa saya akan kembali membincangkan kualitas Nu’aim ibn Hammâd dan beberapa perawi lain dalam sanad riwayat tersebut!</p>
<p><a href="http://abusalafy.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref39">[39]</a> Silsilah al Ahâdîts adh Dha’îfah wa al Maudhû’ah,1/81.</p>
<p><a href="http://abusalafy.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref40">[40]</a> Ibid.265.</p>
<p><a href="http://abusalafy.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref41">[41]</a> Ibid,2/129.</p>
<p><a href="http://abusalafy.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref42">[42]</a> Ibid.199.</p>
<p><a href="http://abusalafy.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref43">[43]</a> Ibid.227.</p>
<p><a href="http://abusalafy.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref44">[44]</a> Ibid.374.</p>
<p><a href="http://abusalafy.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref45">[45]</a> Adh Dhu’afâ’ wa al Matrûkîn:234/617.</p>
<p><a href="http://abusalafy.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref46">[46]</a> Tahdzîb al Kamâl; al Mizzi,29/466.</p>
<p><a href="http://abusalafy.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref47">[47]</a> Adh Dhu’afâ’ wa al Matrûkîn,1/36.</p>
<p><a href="http://abusalafy.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref48">[48]</a> Baca juga ats Tsiqaât,6/27.</p>
<p><a href="http://abusalafy.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref49">[49]</a> Târîkh Baghdâd,3/236 dan adh Dhu’afâ’ wa al Matrûkîn,2/26.</p>
<p><a href="http://abusalafy.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref50">[50]</a> Al Jarh wa at Ta’dîl; Ibnu Abi Hatim,4/279.</p>
<p><a href="http://abusalafy.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref51">[51]</a> Demikian disebutkan al Khathib dalam Târîkh-nya,9/214 dan al Mizzi dalam Tahdzîb al Kamâl,12/115.</p>
<p><a href="http://abusalafy.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref52">[52]</a> Tahdzîb al Kamâl,12/115.</p>
<p><a href="http://abusalafy.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref53">[53]</a> Ikmâl Tahdzîb al Kamâl,6/109.</p>
<p><a href="http://abusalafy.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref54">[54]</a> Ats Tsiqât,4/339.</p>
<p><span style="color:#ff0000;"><strong>__________________________________</strong></span></p>
<p><span style="color:#ff0000;"><strong>Artikel Sebelumnya</strong></span></p>
<ol>
<li><a href="http://abusalafy.wordpress.com/2009/09/21/bantahan-atas-abu-jauza%E2%80%99-dan-para-wahhabiyyun-mujassimun-musyabbihun-1/" target="_blank">Bantahan Atas Abu Jauzâ’ Dan Para Wahhâbiyyûn-Mujassimûn Musyabbihûn! (1)</a></li>
<li><a href="http://abusalafy.wordpress.com/2009/09/28/bantahan-atas-abu-jauza%E2%80%99-dan-para-wahhabiyyun-mujassimun-musyabbihun-2/" target="_blank">Bantahan Atas Abu Jauzâ’ Dan Para Wahhâbiyyûn-Mujassimûn Musyabbihûn! (2)</a></li>
<li><a href="http://abusalafy.wordpress.com/2009/10/21/bantahan-atas-abu-jauza%E2%80%99-dan-para-wahhabiyyun-mujassimun-musyabbihun-3/" target="_blank">Bantahan Atas Abu Jauzâ’ Dan Para Wahhâbiyyûn-Mujassimûn Musyabbihûn! (3)</a></li>
<li><a href="http://abusalafy.wordpress.com/2009/10/21/bantahan-atas-abu-jauza%E2%80%99-dan-para-wahhabiyyun-mujassimun-musyabbihun-4/" target="_blank">Bantahan Atas Abu Jauzâ’ Dan Para Wahhâbiyyûn-Mujassimûn Musyabbihûn! (4)</a></li>
</ol>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/abusalafy.wordpress.com/561/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/abusalafy.wordpress.com/561/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/abusalafy.wordpress.com/561/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/abusalafy.wordpress.com/561/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/abusalafy.wordpress.com/561/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/abusalafy.wordpress.com/561/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/abusalafy.wordpress.com/561/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/abusalafy.wordpress.com/561/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/abusalafy.wordpress.com/561/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/abusalafy.wordpress.com/561/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abusalafy.wordpress.com&blog=1269412&post=561&subd=abusalafy&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abusalafy.wordpress.com/2009/10/22/bantahan-atas-abu-jauza%e2%80%99-dan-para-wahhabiyyun-mujassimun-musyabbihun-5/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/dcc398e7d74a34e59c3d59ffcc0673ff?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">abusalafy</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Bantahan Atas Abu Jauzâ’ Dan Para Wahhâbiyyûn-Mujassimûn Musyabbihûn! (4)</title>
		<link>http://abusalafy.wordpress.com/2009/10/21/bantahan-atas-abu-jauza%e2%80%99-dan-para-wahhabiyyun-mujassimun-musyabbihun-4/</link>
		<comments>http://abusalafy.wordpress.com/2009/10/21/bantahan-atas-abu-jauza%e2%80%99-dan-para-wahhabiyyun-mujassimun-musyabbihun-4/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 21 Oct 2009 02:31:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abusalafy</dc:creator>
				<category><![CDATA[Akidah Tajsim & Tasybih]]></category>
		<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[Kajian Hadis]]></category>
		<category><![CDATA[Manhaj]]></category>
		<category><![CDATA[Menjawab Blog Wahabi/Salafy]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abusalafy.wordpress.com/?p=552</guid>
		<description><![CDATA[Bantahan Atas Abu Jauzâ’ Dan Para Wahhabiyyûn-Mujassimûn Musyabbihûn (4)! 
Persembahan Untuk Abu Jauzâ’ dan Teman-teman Salafi Wahhabi

Bincang Bersama Abu Jauza -Hadis Melihat Tuhan- (4)

 
“Kedunguan” Sebagian Ahli Hadis!
Di antara kedunguan sebagia Ahli Hadis seperti yang dikeluhkan pakar dan ahli hadis kreatif Sibtu Ibnu Jauzi dan para ulama muhaqqiqîn lainnya adalah bahwa mereka hanya pandai memelototi [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abusalafy.wordpress.com&blog=1269412&post=552&subd=abusalafy&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><span style="color:#800000;"><strong>Bantahan Atas Abu Jauzâ’ Dan Para Wahhabiyyûn-Mujassimûn Musyabbihûn (4)!</strong></span><span style="color:#003366;"><strong> </strong></span></p>
<p><span style="color:#003366;"><strong>Persembahan Untuk Abu Jauzâ’ dan Teman-teman Salafi Wahhabi</strong></span></p>
<p><strong><br />
<span style="color:#003366;">Bincang Bersama Abu Jauza</span> <a href="http://abul-jauzaa.blogspot.com/2009/06/pembahasan-hadits-ummu-ath-thufail.html" target="_blank">-Hadis Melihat Tuhan- (4)</a><br />
</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><span style="color:#000000;"><strong>“Kedunguan” Sebagian Ahli Hadis!</strong></span></p>
<p>Di antara kedunguan sebagia Ahli Hadis seperti yang dikeluhkan pakar dan ahli hadis kreatif <em>Sibtu Ibnu Jauzi </em>dan para ulama muhaqqiqîn lainnya adalah bahwa mereka hanya pandai memelototi sanad dan alpa kemungkaran, kesesatan dan kemustahilan yang sering kali termuat dalam hadis yang sedang ia shahihkan baik secara langsung maupun dengan bantaun riwayat-riwayat dari jalur lain! Hal itu disebabkan kelemahan pada nalar dan istimbâth (penyimpulan bertanggung jawab) mereka!</p>
<p>Di sampin “kesibukan dungu” terhadap memburu riwayat dan membanggakan sanad menjadikan mereka alpa dan buta terhadap ayat-ayat Al Qur’an yang muhkamât! Mereka menelan mentah-mentah riwayat seakan ia adalah wahyu suci yang pasti yang baru turun dari langit dengan kawalan ketat para malaikat as.!</p>
<p>Perhatikan keluh kesah ulama dan pakar hadis kondang <em>Sibthu Ibnu Jauzi </em>terhadap penyakit kedunguan yang sedang diindap oleh sebagian yang menamakan diri sebagai ulama ahli hadis, <strong>beliau berkata:</strong></p>
<p><strong><span id="more-552"></span><br />
</strong></p>
<p>“Adapun orang yang inti jiwanya kurang (tidak sempurna) ia akan berhenti pada ilmu apa yang sesuai dengan inti jiwanya. Kami menyaksikan orang yang menghabiskan umurnya hanya untuk mencari-cari <em>qiraât</em> yang <em>syâdzah</em> (menyimpang) sehingga luput darinya hal yang penting yaitu pemahaman ayat.</p>
<p>Dan kami juga menyaksikan orang yang menghabiskan umurnya hanya mencari hadis-hadis <em>gharîb</em> (yang aneh-aneh) dan menyimpang, ia tidak mencampurnya dengan pengetahuan akan asal usulnya dan <em>fiqh</em>/pemahamannya, tidak pula membedakan antara yang shahih dan yang sakit (berpenyakit/lemah/palsu).</p>
<p>Ia memikul beban perjalanan jauh, lalu jika diajukan kepada sebuah perkara, ia terpaksa butuh bertanya kepada seorang ahli fikih muda untuk jawabannya. Dan adalah sebuah cela memalukan bagi seorang Syeikh yang meriwayatkan untuk para ahli fikih sebuah hadis yang ia sendiri tidak mengetahuinya apakah ia shahih atau tidak! Lalu ia ditanya tentang apa saja perkara yang membatalkan wudhu’ maka ia tidak mengatahui apa yang harus ia katakan!</p>
<p>Berapa banyak ahli hadis yang menghabiskan umur mereka dalam mencari-cari keunikan dan keanehan hadis sehingga mereka ketinggalan tidak sempat menghafal Al Qur’an, pengetahuan tentang apa yang wajib ‘<em>aini</em> atas mereka…..</p>
<p>Adapun kesibukan mereka dari mendalami makna hadis disebabkan kesibukan mereka mencari hadis-hadis <em>syâdz</em>, maka telah dikisahkan banyak keanehan dari sikap mereka……&#8230; (setelahnya <em>Sibthu Ibnu Jauzi</em> menyebutkan beberapa kasus kedunguan sebagian mereka, di antaranya adalah kisah di bawah ini)…&#8230;.: Berkata <em>Abu Sulaiman al Khaththâbi</em><a href="http://abusalafy.wordpress.com/wp-admin/#_ftn27">[27]</a>, “Sebagian <em>masyâikh</em> (guru besar) hadis berkata, ‘Aku tidak bercukur rambut pada hari jum’at selama bertahun-tahun, sebab Rasulullah saw. melarang bercukur rambut pada hari jum’at.’ Maka aku katakan kepadanya, ‘Yang dilarang Nabi itu adalah <em>al hilaq </em>(duduk berhalaqah-halaqah/berjama’ah secara membundar) di hari jum’at, bukan <em>al halqu</em> (mencukur rambut di hari jum’at).’”</p>
<p>Dan hal ini akan panjang, maka kami cukupkan dengan menyebut sekelumit kasus.”<a href="http://abusalafy.wordpress.com/wp-admin/#_ftn28">[28]</a></p>
<p><strong>Cacatan Penting!</strong></p>
<p><a href="http://abul-jauzaa.blogspot.com/2009/06/pembahasan-hadits-ummu-ath-thufail.html" target="_blank">Pada hadis pendukung yang dibawakan Albâni dengan nomer 470 yang diandalkan Abu Jauzâ</a>’:</p>
<blockquote>
<h2 style="text-align:right;">- ( صحيح بشواهده ) ثنا عبيد الله بن فضالة ثنا عبدالله بن صالح ثنا معاوية بن صالح عن أبي يحيى عن أبي يزيد عن أبي سلام الأسود عن ثوبان قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم <span style="text-decoration:underline;">إن ربي أتاني الليلة في أحسن صورة</span> وفي هذه الأخبار ووضع يده بين كتفي</h2>
<p><strong>470 – (Shahih bi-syawaahidihi)</strong></p>
<p>Telah menceritakan kepada kami ‘Ubaidullah bin Fudlaalah: Telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah bin Shaalih: Telah menceritakan kepada kami Mu’awiyyah bin Shaalih, dari Abu Yahya, dari Abu Yaziid, dari Abu Salaam Al-Aswad, dari Tsaubaan, ia berkata: Telah bersabda Rasulullah <em>shallallaahu ‘alaihi wa sallam:</em> <em>“<strong>Sesungguhnya Rabb-ku pernah mendatangiku di satu malam dalam sebaik-baik bentuk</strong>”</em>. Dalam khabar ini disebutkan: <em>“Dan Dia meletakkan tangan-Nya di antara dua pundakku”</em>.</p></blockquote>
<p><span style="color:#800000;"><span style="text-decoration:underline;"><em>Albani</em> melakukan kesalahan ketika ia menetapkan status shahih dengan bantuan <em>syawâhid</em>-nya atas hadis di atas, sebagaimana ia juga salah ketika mengatakannya <em>shahih</em> dalam <em>takhrîj</em> hadis kitab <em>as Sunnah</em> karya <em>Ibnu Abi ‘Âshim</em></span></span>,<a href="http://abusalafy.wordpress.com/wp-admin/#_ftn29">[29]</a> <span style="text-decoration:underline;">sementara ia sendiri menvonis lemah<em> Abdullah ibn Shaleh</em>, dan ke-<em>majhul</em>-an <em>Abu Yahya</em> dan tidak di<em>-tsiqah</em>-kannya <em>Ghailân ibn Anas</em>; <em>Abu Yazid al Kalbi</em> oleh seorang hafidz pakar ilmu hadis pun! Disamping dalam kitab <em>Silsilah al Ahâdîts ash Shahîhah</em>-nya,1/40</span> <span style="text-decoration:underline;">ia menegaskan bahwa <em>Ghailân</em> adalah perawi yang <em>majhûlul hâl</em></span> (tidak dikenal data maupun kualitas kepribadiannya). Demikian juga dengan parawi-perawi lainnya dalam  sanad riwayat tersebut di atas, seperti: <em>Abu Sallâm al Aswad</em>, di mana ia tidak mendengarnya dari Tsawbân, seperti ditegaskan <em>Yahya ibn Ma’in</em> dan <em>Ali ibn al Madîni</em>. Ahmad berkata, “Aku tidak yakin ia pernah mendengar hadis dari Tsawbân.” Pernyataan serupa juga dikeluarkan oleh Abu Hatim, ia berkata, ‘Riwayatnya dari Tsawbân itu <em>mursalah</em>/terputus/ada mata ranpai yang tidak disebutkan.”<a href="http://abusalafy.wordpress.com/wp-admin/#_ftn30">[30]</a></p>
<p>Selain itu apa yang mendorong<em> al Albâni</em> untuk malu-malu menyebutkan redaksi lengkap hadis Tsaubân di atas yang akan membongkar kedok akidah <em>tajsiîm</em> kentalnya?</p>
<p><span style="color:#800000;"><span style="text-decoration:underline;">Jadi hadis itu terbelenggu dengan mata rantai cacat dan penyakit, lalu bagaimana ia katakan hadis shahih dengan bantuan hadis lain?! </span></span>Pengantrolan status terhadap hadis itu adalah tidak berdasar, seperti telah disinggung! Ia hanya dengan dorongan kegandrungan seorang <em>Mujasssim</em> untuk mencari-cari sesuatu yang dianggapnya dapat menjadi penguat atas akidah sesatnya!</p>
<p><span style="color:#800000;"><span style="text-decoration:underline;">Dan apa yang saya buktikan di atas sekali lagi cukup sebagai bukti bahwa kami tidak sembarangan ketika mengatakan bahwa Muhaddis kebanggaan kaum Wahhabi yang satu ini memang sering linglung! Di sebuah kesempatan ia mencacat seorang perawi kemudian di kesempatan lain ketika ia membutuhkan dukungaan riwayatnya, ia memuji dan mengandalkannya!</span></span></p>
<p><strong>Anggapan Tidak Berdasar!</strong></p>
<p>Ada sebuah anggapan yang mungkin menipu sebagian orang bahwa jika sebuah hadis telah diriwayatkan dengan banyak jalur maka itu dapat membuktikan keshahihannya! Anggapan itu jelas tidak berdasar. Allah dan rasul-Nya tidak pernah menetapkan kaidah seperti itu. Kepalsuan tetap saja kepalsuan, betatapun ia dikisahkan dengan banyak jalur!</p>
<p>Berbilangnya jalur periwayatan sama sekali tidak akan dapat dijadikan alasan untuk mengatrol status sebuah hadis jika kandungannya termasuk yang dipastikan kemustahilannya dalam pandangan akal sehat dan syari’at seperti hadis kisah <em>Gharâniq</em> yang mengatakan bahwa setan telah menyisipkan bisikannya kepada Nabi Muhammad saw. sehingga beliau tidak mampu membedakannya dari ayat suci Al Qur’an firman Allah SWT!  Berbilangnya jalur periwayatan tidak bernilai sedikitpun dalam kasus seperti itu! Demikian ditegaskan<em> Syeikh Muhammad Rasyîd Ridha</em>.<a href="http://abusalafy.wordpress.com/wp-admin/#_ftn31">[31]</a></p>
<p>Jadi sekali lagi, apa yang dilakukan sebagian kaum Mujassimah dengan menghimpun berbagai jalur riwayat hadis <em>Shûrah</em> yang mengatakan bahwa Nabi saw. melihat Allah dalam seindah-indahnya bentuk .. usaha itu sama sekali tidak berguna!<strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><span style="color:#800000;"><strong>Abu Jauzâ Mengakui Allah SWT Benbentuk!</strong></span></p>
<p>Dari paparan dan uraian serta terjemahan atas hadis-hadis yang ia kutip dalam artikelnya, saudara <strong>Abu Jauzâ’</strong> dengan tanpa malu-malu dan bertaqiyah mengatakan bahwa Allah ber-<em>shûrah</em> (berbentuk)…. Dan meletakkan telapak tangan-Nya di pundak nabi saw. sehingga dingin tangan Allah terasa sampai menembus dada beliau saw. Bahkan kata yang menunjukkan Tajsîm kental itu dalam setiap riwayat itu sengaja ia cetak dengan huruf tebal:</p>
<blockquote><p><em><span style="text-decoration:underline;">‘</span></em><strong><em>Aku melihat Rabb-ku dalam sebaik-baik bentuk</em></strong><em>”</em>.</p>
<p><em>“<strong>Sesungguhnya Allah ta’ala menampakkan diri kepadaku dalam sebaik-baik bentuk</strong><span style="text-decoration:underline;">…</span></em></p>
<p><em>“<strong>Rabb-ku pernah mendatangiku pada satu malam dalam sebaik-baik bentuk</strong>”</em>….</p>
<p><strong><em>Tiba-tiba aku berjumpa Rabb-ku dalam sebaik-baik bentuk</em></strong></p></blockquote>
<p>Sebuah keberanian yang membuktikan kejantanan! Sebab biasanya kaum Mujassimah berputar-putar dan sembunyi-sembunyi dalam menyatakan akidahnya tajsîm mereka!</p>
<p><span style="color:#800000;"><span style="text-decoration:underline;">Dan yang demikian sudah cukup sebagai bukti-kendati ia menolak tambahan hadis yang mengatakan bahwa Allah terlihat dalam bentuk seorang pemuda Abg yang berambut keriting dan lebat ….- bahwa ia seorang mujassim. Sebab meyakini bentuk bagi Allah adalah ciri akidah tajsîm!</span></span></p>
<p><span style="color:#800000;"><span style="text-decoration:underline;">Saya berharap Abu Jauzâ’ sanggup memberikan ketarangan bahwa keyakinan bahwa Allah berbentuk –yang ia yakini- tidak identik dengan <em>tajsîm</em> dan <em>tasybîh</em> dan peyakinnya bukan seorang Mujassim?!</span></span></p>
<p><span style="text-decoration:underline;">Selain itu, ketahuilah saudaraku Abu Jauzâ’, bahwa keberatan Anda ketika kami sebut Syeikh kebanggaan Anda dan kebanggaan kaum Mujassimah; al Albâni sebagai “muhaddis linglung” dan Anda menggolongkannya sebagai caci maki atas ulama pewaris para Nabi as. adalah sangat tidak berdasar, sebab jika apa yang kami katakan itu adalah caci maki dan caci maki itu terkecam, maka yang pertama harus Anda kecam adalah Syeikh kebanggaan Anda itu sendiri, sebab ia telah menjulurkan mulut beracunnya kepada kehormatan para ulama dan para hafidz, tidak terkecuali <em>al Hafidz Ibnu Hajar al Asqallâni</em> yang ia sebut sebagai linglung, <em>dzâhil</em>!!</span></p>
<p><strong>Penshahihakn Hadis Itu Oleh at Turmudzi</strong></p>
<p>Adapun penshahihan hadis itu oleh at Turmudzi, juga bukan ukuran dan tidak berguna, sebab:</p>
<p>A)    At Turmudzi dikenal terlalu gegebah dan kurang hati-hati dalam menshahihkan hadis.</p>
<p>B)     Pendha’ifan oleh para pakar hadis lainnya lebih diutamakan atas penshahihan at Turmudzi.</p>
<p>C)    Yang tertera dalam Sunan at Turmudzi adalah menetapan status <em>hasan gharîb</em>, bukan <em>shahih</em>! Seperti dinukil oleh<em> al Hafidz al Mizzi</em> dalam <em>Tuhfatul</em> <em>Asyrâf</em>,4/382, <em>al Mundziri</em> dalam<em> at Targhîb wa at Tarhîb. Al Hafidz Ibnu Hajar</em> dalam <em>an Nukatt adz Dzirâf</em>,4/382 (dicetak bersama <em>Tuhfatul</em> <em>Asyrâf</em> telah membicarakan secara tuntas status hadis itu ketika ia mengomentari perkataan at Turmudzi: hasan gharîb, ia berkata, <em>“Hadis: Tuhanku medatangiku dalam seindah-indah bentuk&#8230;&#8221; </em>Aku berkata, ‘<em>Muhammad ibn Nashr al Marwazi</em> dalam kitab <em>Qadru ash Shalâh</em> berkata, ‘Hadis ini telah <em>idhtharaba</em>/kacau para perawinya dalam sanadnya. Dan tidak ada satu pun yang tetap menurut para ulama yang mengerti hadis/ahli ma’rifah.”</p>
<p><span style="text-decoration:underline;"><strong>Abu Salafy berkata:</strong></span></p>
<p>Adalah kecenderungan kaum Mujassimah untuk mencari-cari dukungan dari penyataan alim anu atau muhaddis anu demi memaksakan kesan keropos bahwa keyakinannya itu dikuatkan oleh hadis-hadis yang dishahihkan ulama anu atau didukung oleh pendapat si alim anu, walaupun dalam kesempatan lain si alim itu mereka vonis musyrik karena alasan ini dan itu!!</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Kesimpulan Akhir</strong></p>
<p>Hadis <em>Ra aitu rabbi fî ahsani shûrah</em> adalah <em>muththarib</em> jalur-jalur periwayatannya dan <em>munkar</em> dan/atau palsu dari sisi kandungan dan muatannya.</p>
<p style="text-align:center;">*********</p>
<p><strong>Kenyakinan Islam Tentang Bermimpi Melihat Allah SWT</strong></p>
<p>Ketahuliah wahai saudaraku seiman dan seakidah bahwa akidah Islam yang benar yang ditetapkan berdasarkan nash-nash Al Qur’an dan Sunnah yang shahihah bahwa Allah SWT tidak menyerupai dan diserupai oleh sesuatu apapun</p>
<p><em>“Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia.”</em> (QS. Asy Syûrâ [42];11)</p>
<p>dan</p>
<p><em>“Dan tidak ada sesuatupun yang setara dengan Dia.” </em>(QS. A; Ikhlash [112];4)</p>
<p>Berdasarkan nash di atas maka Allah tidak memiliki bentuk dan pula tidak memiliki gambar. Allah tidak akan berubah-rubah bentuk dari sebuaah bentuk ke bentuk lainnya, <em>“Maha suci Allah dan Maha Tinggi dari sifat-sifat yang mereka berikan.” </em>(QS. Al An’am [6];100)</p>
<p>Oleh karena itu kami metetapkan dengan pasti bahwa Allah tidak dapat dilihat, baik di kala jaga maupun dalam mimpi, dan sesungguhnya Alllah adalah seperti yang Dia sifati Dzat-Nya dengan firman-Nya:</p>
<h2 style="text-align:right;">لاَ تُدْرِكُهُ الأبْصارُ وَ هُوَ يُدْرِكُ الأبْصارَ وَ هُوَ اللَّطِيفُ الْخَبيرُ.</h2>
<p><em>“Dia tidak dapat dicapai oleh penglihatan mata, sedang Dia dapat melihat segala yang kelihatan; dan Dialah adalah Yang Maha halus lagi maha Mengetahui.&#8221; (QS. Al An’âm [6];103)</em></p>
<p>Jika demikian, maka adalah baik kita menengok <em>syubhat</em> yang mengelabui mereka sehingga meyakini bahwa Allah dapat saja (dan sudah terjadi) dilihat dalam mimpi!!</p>
<p>Ketahuilah bahwa syubhat yang menyelimuti pikiran mereka adalah adanya riwayat yang setelah diteliti akan terbongkar kepalsuannya bahwa Nabi saw. bermimpi melihat Allah SWT dalam seindah-indahnya bentuk, lalu Dia meletakkan telapak tangan-Nya ke pundak beliau dan akibatnya beliau merasakan dinginnya sentuhan itu sampai ke dada! Seperti yang telah kami paparkan dan kami buktikan kepalsuannya pada artikel sebelumnya. Inilah dasar pertama akidah yang mereka yakini!</p>
<p>Dasar kedua adalah dongeng yang mereka riwayatkan atas nama <em>Imam Ahmad ibn Hanbal</em> bahwa ia melihat Allah dalam mimpinya sebanyak 99 kali, dan ia berkata, ’Jika aku melihat-Nya pada kali keseratus aku akan bertanya kepada-Nya. Lalu ketika ia melihat-Nya pada kali keseratus ia bertanya, ”Wahai Tuhanku dengan amalan apakah para hamba mendekatkan diri kepada-Mu?” Maka Allah menjawab, ”Dengan firman-Ku.” <em>Ahmad</em> kembali bertanya, &#8220;Dengan pemahaman atau tidak?” Allah menjawab, ”Dengan pemahaman atau pun tidak!”</p>
<p>Dongeng di atas jelas-jelas sebuah kepalsuan atas nama <em>Imam Ahmad.</em> <em>Adz Dzahabi</em> telah memuatnya dalam kitab <em>Siyar A’lâm an Nubalâ’</em>-nya,11/347 dengan dua sanad dari Imam Ahmad. Dan kedua sanadnya itu bermuara pada <em>Ahmad ibn Muhammad ibn Muqsim</em>, seorang yang dikenal sebagai pembohong kelas kakap!<a href="http://abusalafy.wordpress.com/wp-admin/#_ftn32">[32]</a></p>
<p><em>Al Khallâl</em>; Bapak kaum Majassimah tidak mau ketinggalan menghias kitab <em>Amâli</em>-nya pada majlis kelima dengan kisah itu dari jalur guru kesayangannya <em>Ahmad ibn Muhammad ibn Muqsim.</em></p>
<p>Dalam <em>Siyar</em>-nya, <em>adz Dzahabi</em> menyebutkan dongeng itu tanpa menyebut bahwa <em>Ahmad </em>melihat Allah dalam mimpi sebanyak 99 kali!! Hanya kaum Mujassimah sajalah yang berbaik hati dengan menambahkannya untuk lebih menyakinkan kaum awam Mujassimah bahwa bermimpi melihat Allah SWT bukan sekedar dialami <em>Imam Ahmad</em> sekali dua kali!</p>
<p>Dan untuk menanamkan rasa PD bahwa imam mereka adalah imam unggulan dan kesayangan Allah SWT! Sebuah kepalsuan yang biasa dimuntahkan para misionaris sekte Mujassimah di sepanjang masa! Seperti kepalsuan yang mereka sebar-luaskan bahwa Allah tak henti-hentinya menziarahi makam Imam Ahmad! <em>Entah apa tujuannya? Apakah mencari keberkahan dari makam Imam Ahmad? Atau hendak bertawassul? Atau &#8230; atau &#8230; Padahal semua itu adalah syirik menurut akidah kaum Wahhâbiyah Mujassimah!</em></p>
<p>Ketahuilah wahai saudaraku, bahwa andai benar kisah itu dikisahkan oleh Imam Ahmad, ia bukan dalil syar’i yang boleh diandalkan! Semua sepakat bahwa omongan atau apalagi dongeng siapapau tidak dapat didudukkan sejajar dengan dalil-dalil agama; Al Qur’an dan Sunnah!</p>
<p>Kami yakini -dan kami tidak melihat selainnya melainkan khurafat- bahwa Maha suci Allah dari dapat dilihat baik di kala jaga maupun di saat mimpi! Sebab Allah SWT tidak memiliki bentuk, <em>shûrah</em> atau postur! Dia juga bukan <em>Nûr</em> dengan makna cahaya!</p>
<p>Dan siapapun yang berdongeng bahwa dia melihat Allah dalam mimpinya ketahuilah bahwa apa yang ia lihat itu bukan Allah! Ia sedang dalam pengaruh pikiran dan akidah <em>tajsîm</em> sesatnya saja yang menanamkan dalam pikiranya bahwa tuhannya adalah berpostur! Sebuah kondisi yang agak mirip dengan sakit jiwa yang perlu segera dirujuk kepada seorang Psikiater untuk dilakukan terapi secara teratur demi kesembuhannya, bukan malah dijadikan dalil, kecuali juga oleh si sakit sepertinya!</p>
<p>Dan berpanjang-panjang menyebutkan komentar alim anu atau ahli hadis anu dalam masalah ini tidak berguna sedikit pun, sebab akal sehat lebih diperlukan di sini!</p>
<p>Ikhtisar kata, kami meyakini bahwa Allah Maha Suci dari dapat dilihat dalam mimpi!</p>
<p><em>Wallahu A’lam!</em></p>
<p><span style="color:#ff0000;"><strong>(Bersambung)</strong></span><em><br />
</em></p>
<hr size="1" /><a href="http://abusalafy.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref27">[27]</a> Nama lengkapnya Hamd ibn Muhammad al Busti, seorang hafidz, wafat tahun 388 H. (Baca al Muntadzim,6/397, Wafayât al A’yân,1/166 dan Tadzkirah al Huffâdz,3/1018.</p>
<p><a href="http://abusalafy.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref28">[28]</a> Lebi lanjut baca kitab Âfatu Ahlil Hadîts; Al Hafidz Abul Faraj Abdurrahman ibn al Jauzi al Hanbali (W.597 H): 39-49.</p>
<p><a href="http://abusalafy.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref29">[29]</a> Sekedar informmasi bahwa kitab yang menyandang nama <em>as</em> <em>Sunnah</em> biasanya adalah kitab bertemakan akidah versi kaum <em>Mujassimah</em> <em>Musyabbihah</em> yang di dalamnya para menulisnya memenuhinya dengan banyak hadis palsu, lemah bermasalah dan/atau isrâiliyah untuk menetapkan akidah sesat mereka, bahkan lebih dari itu mereka berhujjah dengan omongan kaum tabi’în yang belum pasti benar penisbatannya yang penting mendukung faham <em>tasybîh</em> mereka, setelahnya mereka menteror –seperti kebiasaan mereka- barang siapa yang ingkar kepadanya berarti ia kafir, <em>zindiq</em>, <em>mulhid</em> dan <em>jahmi</em>!! Sebagai contoh kecil adalah apa yang ditulis oleh al Khallâl (ulama yang sangat dibanggakan oleh para misionaris sekte Wahhabi dan yang tak henti-hentinya mereka menasehati para jama’ahnya agar mengaji kitab tersebut) dalam kitab<em> as Sunnah</em>-nya dimana ia menukil dari Mujahid bahwa tafsir ayat: <em>“Mudah-mudahan Tuhanmu mengangkat kamu ke tempat yang terpuji.” </em>(QS. Al Isrâ’ [17];59) bahwa maqam terpuji yang dimaksud adalah didudukkannya Rasulullah saw. di sebelah Allah di atas Arsy-Nya yang dalam akidah mereka, setelah Allah duduk/bersemayam di atas Arsy-Nya tersisa kira-kira seluas empat jari-jari!! Abu Salafy berkata: kami tidak mengetahui dengan pasti apakah itu dengan ukuran jari jemari Allah? Atau jari-jari Nabi saw.? Atau jari-jari pak kyia Khallâl atau kyai Abu Ya’lâ? Atau jari-jari Abu Jauzâ’? tidak cukup di sini kegilaan faham tajsîm dan tasybîh mereka itu, al Khllâl menvonis kafir dan zindiq siapa pun yang mengingkari tafsiran di atas!! Sementara ia dan kaum Mujassimah lainnya berpaling dari hadis-hadis shahih yang menafsirkan bahwa <em>maqam</em> terpuji yang dimaksud adalah <em>maqam</em> syafa’at! Kami tidak mnengerti kira-kira apa sikap al Khallâl dkk. terhadap hadis-hadis Bukhari &amp; Muslim tentang masalah ini? Yang pasti faham ini adalah Faham Horor yang menebar teror dan intimidasi!</p>
<p><a href="http://abusalafy.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref30">[30]</a> Baca Tahdzîb at Tahdzîb,10/263, cet. Dâr al Fikr. Bairut.</p>
<p><a href="http://abusalafy.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref31">[31]</a> Adhwâ’ ‘Alâ as Sunnah al Muhammadiyah:295.</p>
<p><a href="#_ftnref32">[32]</a> Baca <em>Lisân al Mizân</em>,1/260.</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/abusalafy.wordpress.com/552/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/abusalafy.wordpress.com/552/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/abusalafy.wordpress.com/552/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/abusalafy.wordpress.com/552/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/abusalafy.wordpress.com/552/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/abusalafy.wordpress.com/552/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/abusalafy.wordpress.com/552/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/abusalafy.wordpress.com/552/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/abusalafy.wordpress.com/552/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/abusalafy.wordpress.com/552/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abusalafy.wordpress.com&blog=1269412&post=552&subd=abusalafy&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abusalafy.wordpress.com/2009/10/21/bantahan-atas-abu-jauza%e2%80%99-dan-para-wahhabiyyun-mujassimun-musyabbihun-4/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/dcc398e7d74a34e59c3d59ffcc0673ff?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">abusalafy</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Bantahan Atas Abu Jauzâ’ Dan Para Wahhâbiyyûn-Mujassimûn Musyabbihûn! (3)</title>
		<link>http://abusalafy.wordpress.com/2009/10/21/bantahan-atas-abu-jauza%e2%80%99-dan-para-wahhabiyyun-mujassimun-musyabbihun-3/</link>
		<comments>http://abusalafy.wordpress.com/2009/10/21/bantahan-atas-abu-jauza%e2%80%99-dan-para-wahhabiyyun-mujassimun-musyabbihun-3/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 21 Oct 2009 02:08:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abusalafy</dc:creator>
				<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[Dongeng Wahabi]]></category>
		<category><![CDATA[Ibnu Abdul Wahab]]></category>
		<category><![CDATA[Kajian Hadis]]></category>
		<category><![CDATA[Manhaj]]></category>
		<category><![CDATA[Menjawab Blog Wahabi/Salafy]]></category>
		<category><![CDATA[Penyimpangan Akidah Dalam Kitab at Tauhid]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abusalafy.wordpress.com/?p=453</guid>
		<description><![CDATA[Bantahan Atas Abu Jauzâ’ Dan Para Wahhabiyyûn-Mujassimûn Musyabbihûn! 
Persembahan Untuk Abu Jauzâ’ dan Teman-teman Salafi Wahhabi


Bincang Bersama Abu Jauza -Hadis Melihat Tuhan- (3)

Status Hadis: Aku Melihat Tuhan dalam Bentuk Postur Pemuda Abg Berambut Lebat! 
Sebelumnya perlu saya ingatkan bahwa apa yang dilakukan oleh para masyâikh kaum Mujassimah dengan ’ngotot’ memperhatankan keshahihan hadis tentangnya dengan segela [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abusalafy.wordpress.com&blog=1269412&post=453&subd=abusalafy&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><span style="color:#800000;"><strong>Bantahan Atas Abu Jauzâ’ Dan Para Wahhabiyyûn-Mujassimûn Musyabbihûn!</strong></span><span style="color:#003366;"><strong> </strong></span></p>
<p><span style="color:#003366;"><strong>Persembahan Untuk Abu Jauzâ’ dan Teman-teman Salafi Wahhabi</strong></span></p>
<p><strong><br />
</strong></p>
<p><strong><span style="color:#003366;">Bincang Bersama Abu Jauza</span> <a href="http://abul-jauzaa.blogspot.com/2009/06/pembahasan-hadits-ummu-ath-thufail.html" target="_blank">-Hadis Melihat Tuhan- (3)</a><br />
</strong></p>
<p><strong>Status Hadis: <em>Aku Melihat Tuhan dalam Bentuk Postur Pemuda Abg Berambut Lebat!</em> </strong></p>
<p>Sebelumnya perlu saya ingatkan bahwa apa yang dilakukan oleh para <em>masyâikh</em> kaum Mujassimah dengan ’ngotot’ memperhatankan keshahihan hadis tentangnya dengan segela konsekuensi yang dilahirkannya adalah sebuah bukti nyata kekentalan mereka dalam akidah <em>tajsîm</em> dan <em>tasybîh</em> yang sering kali mereka tutup-tutupi dengan kata-kata menipu, seperti misalnya:</p>
<p><span id="more-453"></span></p>
<ul>
<li>Allah itu berambut lebat tetapi tidak seperti rambut makhluk-Nya!</li>
<li>Allah berkaki, tetapi tidak seperti kaki makhluk-Nya!</li>
<li>Allah mempunyai telapak tangan yang ketika ditempelkan di pundak Rasul-Nya, lalu ia merasakan dinginnya tangan Allah tersebut, hanya saja telapak tangan Allah tidak menyerupai telapak tangan makhluk-Nya dan demikian seterusnya!</li>
</ul>
<p>Kaum Mujassimah banyak meriwayatkan hadis-hadis yang menegaskan posturisasi bentuk Allah SWT. Mereka juga punya hobi memburu riwayat-riwayat <em>&#8220;miring” </em>seperti itu di mana pun ia dapat ditemukan, sebab hal demikian akan menguatkan akidah <em>tajsîm</em> dan <em>tasybîh</em> mereka dan sekaligus sebagai senjata ampuh untuk menawan kaum awam yang sering kali menjadi korban gertakan para <em>&#8220;Masyâikh Galak”:</em> <em>Awas! Jangan sekali-kali Anda menolak hadis Nabi saw.! Anda bisa kafir karenanya! Ini adalah hadis shahih! Bukti keimanan adalah menerimanya! Jangan banyak tanya tentangnya, yang penting imani <span style="text-decoration:underline;">dan setelahnya non aktifkan akal sehat kamu!</span> Hati-hati dari bahaya senjata kaum kafir yang anti nash!</em> Dan kalimat-kalimat ancaman lainnya!</p>
<p>Tetapi anehnya, jika Anda mengatakan bahwa mereka adalah <em>mujassimah</em>/<em>musyabbihah</em> mereka mengelaknya dengan mengatakan kami bukan seperti yang kalian tuduhkan! Kami Ahlusunnah! Kami menjunjung tinggi Sunnah Nabi saw.! Kami mewarisi akidah ini dari kaum Salaf Shaleh! Kami mengimani hadis-hadis itu dengan tanpa bertanggung jawab akan konsekuensi dari nash-nash itu!</p>
<p>Pengelakan mereka ini sangat menggelikan, seperti ketika mereka selalu menetapkan sifat-sifat dan anggota badan tertentu untuk Allah SWT kemudian mereka mengakhirinya dengan kata-kata dungu, &#8220;Semua itu dimiliki/disandang Allah dengan bentuk yang sesuai dengan Kemaha Agungan Dzat-Nya/<em>kama yalîqu bi jalâlihi</em>.</p>
<p>Sebuah lelucan dan dagelan yang akan membuat tertawa kaum bisu sekali pun! Bagaimana mereka (Wahhâbiyah; Mujassimah/Musyabbihah) setelah menolak ta’wil -yang mereka tuduh sebagai sejelek-jelaknya aliran Ahli Bid’ah dan kaum ateis-  dan juga menolak <em>tafwîdh, </em>dan juga menolak adanya <em>majâz</em> dalam teks bahasa Arab serta menetapkan makna zahir dari setiap kata&#8230; bagaimana setelah itu semua mereka mengelak dari konsekuensi <em>tajsîm</em> dan <em>tasybîh</em> yang akan ditimbulkannya secara logis! Kalian pasti akan terjatuh kepada akidah <em>tajsîm</em> dan <em>tasybîh</em> tersebut, kalian mau atau tidak! Kalian setuju atau mengelak!</p>
<p>Coba beri kami jawaban yang memuaskan, bagaimana kalian meyakini bahwa Tuhan yang kalian imani bersemayam di atas Arsy-Nya di atas langit sana, dan Dia memliki wajah, mata, tangan, kaki (dan rajin mengenakan sandal terbuat dari bahan emas murni), dan setiap malam turun ke langit dunia, Dia bergembira, tertawa, marah, terposona oleh sesuatu tertentu, menciptakan Adam seperti bentuk/<em>shûrah</em>-Nya dan Dia seperti bentuk/<em>shûrah </em>Adam &#8230;. (dan berbagai sifat lain yang mereka tetapkan untuk Allah SWT) semua itu kalian maknai dengan makna zahir, tanpa menakwilnya, kemudian kalian mengelak bahwa kalian adalah kaum Mujassimah Musyabbihah?!</p>
<p>Apakah kata-kata<em> kama yalîqu bi jalâlihi</em> yang sering kalian jadikan tameng untuk mengelak  dari konsekuensi itu sudah cukup merubah kenyataan akidah <em>tajsîm</em> dan <em>tasybîh</em> kalian?</p>
<p>Apakah kalian berkhayal bahwa kata-kata:<em> </em>seperti yang sesuai dengan Kemaha Agungannya/<em>kamâ yalîqu bi jalâlihi </em>yang kalian sebutkan setelah menetapkann sifat-sifat Tuhan itu kalian telah mengurai masalah filsafat rumit atau telah mendobrak pintu Khaibar?!</p>
<p>Perumpamaan kalian dalam hal ini seperti seorang yang makan dan minum di siang bolong pada bulan Ramadhan kemudian tetap ngotot mengatakan bahwa dia puasa dan belum mencicipi apapun! Sebab ia puasa seperti yang layak dan sesuai baginya<em> kama yalîqu bihi</em>! Ia makan <em>kama yalîqu bihi</em>! Dia minum <em>kama yalîqu bihi</em>!</p>
<p>Atau seperti seorang yang dikatakan kepadanya tentang Syeikh kebanggaannya: Kami menyaksikan Syeikh kebanggaanmu menenggak arak dan minuman keras! Lalu ia mengelak dengan mengatakan: Tidak! Sebab dengan sekedar menempel ke bibirnya arak itu berubah menjadi air zam-zam atau air sungawi!</p>
<p>Atau seperti perumpamaan, kami menyaksikan Syeikh kebanggaanmu asal kota Najd (Saudi Arabia) memasuki lokalisasi prostitusi di Cisarua! Ia sekali lagi mengelaknya dengan mengatakan: Dengan sekedar digauli oleh Syeikh kebanggaan kami, wanita-wanita lacur berubah seketika menjadi bidadari surga yang suci!</p>
<p><span style="text-decoration:underline;">Itu mungkin kira-kira permisalan mereka yang mengelak dari kenyataan akidah <em>tajsîm</em> dan <em>tasybîh</em> yang mereka yakini tapi enggan menamainya dengan nama sebenarnya!</span> Dalam istilah ahli <em>mantiq</em> (logika) sikap mereka itu biasa disebut dengan:<span style="text-decoration:underline;"> </span><span style="color:#800000;">Menerima mukaddimah dan menolak konsekuensinya/<em>qabûlul muqaddimah wa rafdhu an natîjah</em><span style="text-decoration:underline;">.</span></span> Dan dalam bahasa ahli teologi Islam diistilahkan dengan: <span style="color:#800000;"><span style="text-decoration:underline;"><em>’</em></span><em>adamul iltizâm bilawâzim al madzhab</em>/tidak loyal terhadap kosekuensi-konsekuensi pendapat/mazhabnya.</span> Atau dengan bahasa modern kita sekaraang ini diistilahkan dengan: Mengadopsi konsep <span style="color:#800000;"><em>Tajsîm</em> dan <em>Tasybîh</em> tetapi lari dari penamaannya!</span></p>
<p>Semua itu tidak akan mengubah hakikat kenyatan akidah menyimpang mereka sedikit pun!</p>
<p>Setelah mukaddimah di atas saya ajak Anda memperhatikan keterangan di bawah ini:</p>
<p><strong>Ibnu Jauzi Menolak Hadis<em> Ra aitu Rabbi Fî Ahsanish Shûrah</em>!</strong></p>
<p>Pertama-tama perlu saya sampaikan bahwa<em> Ibnu Jauzi </em>telah menolak keras hadis di atas dengan beragam versi riwayatnya dalam kitab khusus berjudul <strong><em>Da’f’u Syubahi at Taasybîh</em></strong> yang ia tulis untuk membongkar penyimpangan akidah kaum Mujassimah/Musyabbihah yang banyak tumbuh di kalangan pengikut mazhab teologi Hanbali (seperti juga kaum Wahhabi/Salafy, yang mengaku mengikuti mazhab Hanbali), di antara mereka adalah ulama kebanggaan kaum Wahhabi Salafi seperti <em>Abu Abdillah ibn Hamid ibn Ali al Baghdadi al Hanbali, Qadhi Abu Ya’la</em> dan<em> az Zâghûni al Hanbali.</em> Kata <em>Ibnu Juazi</em> mereka itu benar-benar telah mencoreng nama harum mazhab Hanbali dan telah turun derajat ke tingkatan kaum awam dalam berpikir tentang konsep ketuhanan. Mereka memaknai sifat-sifat Allah SWT dengan makna material/<em>hissi</em>!</p>
<p>Dan pada keterangan hadis no. 3 <em>Ibnu Jauzi </em>mengkiritik faham tersebut dengan mengatakan:</p>
<p>“Ummu Thufail, istri Ubay ibn Ka’ab ra. Meriwayatkan bahwa ia mendengar Rasulullah saw. menyebut bahwa beliau:</p>
<h2 style="text-align:right;">رأى ربه عز و جل فِي المنام فِي أحسن صورة: شاباً موفرا،رجلاهُ فِي خضرة، عليه نعلانِ من ذهبٍ، على وجْهِهِ فراشٌ من ذهبٍ.</h2>
<p><em>“Menyaksikan Tuhannya dalam mimpi dalam bentuk seorang pemuda yang berambut lebat, kedua kakinya berada di Khadhrah dan ia memakai sepasang sandal terbuat dari emas, dan di wajahnya terdapat kupu-kupu dari emas.”</em></p>
<p><strong>Aku (Ibnu Jauzi) berkata:</strong> Hadis ini telah diriwayatkan oleh<em> Nu’aim ibn Hammâd ibn Mu’awiyah al Marwazi</em>.<a href="http://abusalafy.wordpress.com/wp-admin/#_ftn15">[15]</a></p>
<p>Ibnu Adi berkata,<em> “Dia ia memalsu hadis.”</em></p>
<p>Ibnu Main berkata, <em>“Nu’aim tidak bernilai sedikit pun dalam periwayatan hadis.”</em></p>
<p>Dan dalam sanadnya juga terdapat perawi bernama <em>Marwân ibn Utsman</em> dari <em>Umârah ibn ‘Âmir.</em></p>
<p>Ia seorang <em>kadzdzâb</em> (pembohong besar)! Demikian ditegaskan <em>Jalaluddîn as Suyuthi</em> dalam <em>al Laâli al Mashnû’ah</em>,1/29. sebuah pencacatan yang sangat dahsyat!</p>
<p><strong>Abu jauzâ’</strong> juga menerima kenyataan bahwa <em>Marwân ibn Utsman</em> adalah perawi <em>matrûkun</em> (ditinggalkan)!</p>
<p>Redaksi itu adalah redaksi pencatatan tingkat kedua setelah redaksi <em>kadzdzâb</em>, sebagaimana akan disebutkan di bawah ini.<a href="http://abusalafy.wordpress.com/wp-admin/#_ftn16">[16]</a></p>
<p>Para ulama menyebutkan bahwa redaksi pencacatan atas seorang parawi itu bertingkat-tingkat, yang paling parah adalah dengan redaksi:</p>
<h2 style="text-align:right;">فلانٌ كَذابٌ _ فلانٌ يَكْذِبُ &#8211; فلانٌ يَضَعُ الحديثَ &#8211; فلانٌ وَضَّاعٌ &#8211; وَضَع حديثًا -فلانٌ دجَّالٌ.</h2>
<p><em>“Si fulan itu pembohong besar- ia berhohong- si fulan itu memalsu hadis – si fulan itu pemalsu hadis- si fulan memalsu sebuah hadis- si fulan itu dajjal.”</em><a href="http://abusalafy.wordpress.com/wp-admin/#_ftn17">[17]</a></p>
<p>Di sini , baik <em>Marwan</em> maupun <em>Nu’aim ibn Hammâd</em> telah dicacat dengan redaksi pencatatan tingkat tertingggi!</p>
<p><em>Abu Abdurrahman an Nasa’i </em>berkata:</p>
<h2 style="text-align:right;">وَ مَنْ مروانُ حَتَّى يُصَدَّقَ علىَ (عن) اللهِ عز و جَلَّ؟!</h2>
<p><em>“Siapa Marwân itu sehingga ia layak dipercaya (berbicara) tentang Allah –Azza wa jalla-?.” </em></p>
<p><em>Muhanna ibn Yahya</em> berkata, “Aku bertanya kepada Ahmad tentang hadis ini, maka ia berpaling dengan wajahnya dan berkata, ‘Ini adalah hadis munkar <em>majhûl</em>/tidak dikenal.’ Maksdunya adalah <em>Marwân ibn Utsman</em>. Ia juga berkata, ‘Umârah juga tidak dikenal.’”</p>
<p><strong><span style="text-decoration:underline;">Abu Salafy berkata</span>:</strong></p>
<p>S<span style="text-decoration:underline;">epertinya dalam menerjemahkan pernyataan </span><em><span style="text-decoration:underline;">an Nasa’i</span> </em>(<span style="color:#800000;">yang di sini ia sebut sebagai komentar <em>Ibnu Ma’in</em></span>), saudaraku <strong>Ustadz Abu Jauzâ’</strong> <span style="color:#800000;">mengalami kesalahan sehingga terjemahannya menjadi kacau tak bermakna!</span> Perhatikan ia menerjemahkan demikian:</p>
<blockquote><p><a href="http://abul-jauzaa.blogspot.com/2009/06/pembahasan-hadits-ummu-ath-thufail.html" target="_blank">Ibnu Ma’in berkata : “<strong>Dari Marwaan</strong>, hingga ia dibenarkan ? (isyarat pelemahan)”. Begitulah yang tercantum dalam Al-Ishaabah.</a></p></blockquote>
<p><strong> </strong></p>
<p>Saya dapat memaklumi penyebab kesalahan itu, mungkin dia salah membaca kalimat:  <span style="color:#ff0000;"><strong>وَ مَنْ مروانُ </strong></span>dengan <span style="color:#0000ff;">meng<em>-kasrah</em></span> harakat pada huruf : <span style="color:#ff0000;"><strong>مِنْ </strong></span>yang artinya: <span style="color:#ff0000;">dari</span>, sedangkan kata: <span style="color:#ff0000;"><strong>مَنْ </strong></span>adalah kata tanya yang artinya:<span style="color:#ff0000;"> siapa</span>!</p>
<p>Jadi saran saya agar Ustasz Abu Jauzâ’ lebih berhati-hati dalam mengeja bacaan teks Arab, atau sebaiknya membeli kitab berbahasa Arab yang beraharakat biar tidak salah lagi!</p>
<p>Dan walaupun demikian saya tidak akan mengatakan bahwa seorang yang serendah itu kwalitas pemahaman teks Arabnya semestinya jangan sok menjadi “Pakar Hadis”bdan menyandingkan namanya di antara nama-nama ulama dan pakar ilmu hadis, seperti ketika menyebutkan keterangan ulama Umârah ibn Amir!</p>
<p><span style="color:#800000;">Selain itu, saudara Abu Jauzâ’ melakukan kesalahan penerjemahan pada kata</span>: <span style="color:#ff0000;"><strong>صورة </strong></span>(<span style="color:#ff0000;">bentuk</span>)<span style="color:#800000;"> yang ia terjemahkan dengan</span> <span style="color:#ff0000;"><em>wujud</em></span>!</p>
<blockquote><p><a href="http://abul-jauzaa.blogspot.com/2009/06/pembahasan-hadits-ummu-ath-thufail.html" target="_blank">&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;.telah melihat Rabb-nya dalam mimpinya dalam <em><strong>wujud..</strong></em>&#8230;&#8230;</a></p></blockquote>
<p><span style="text-decoration:underline;">Terjemah itu jelas-jelas salah, walaupun dalam teks-teks riwayat lain terkadang ia terjemahkan dengan bentuk/wujud! Mungkin kata tersebut sengaja ia terjemahkan demikian untuk sedikit mengurangi parahnya akidah posturisasi yang diyakini kaum Mujasimah!</span> Sebab Allah Maha Suci dari <em>shûrah</em>/bentuk! Dzat Allah adalah<em> Ahadun Wâhidun</em>/Maha Esa dari segala sisinya; Dia Maha Esa dari berbilang dan Maha Esa dari terbentuk dari bagian-bagian/<em>ajzâ’</em>! Perhatikan ini baik-baik!</p>
<p>Hadis di atas tidak diragukan adalah palsu <em>munkar</em> bukan sekedar <em>dha’if </em>sepeti yang disimpulkan Abu Jauzâ!<a href="http://abusalafy.wordpress.com/wp-admin/#_ftn18">[18]</a> Para ulama dan pakar hadis telah mencacatnya. <em>Ibnu Jauzi </em>juga telah memasukkannya dalam daftar hadis-hadis palsu dalam kitab<em> al Maudhû’at</em>-nya,1/80. cetakan Dâr  al Kotob ai Ilmiah. Lebanon. <em>As Suyuthi</em> juga memasukkannya dalam kitab <em>al Laâli al Mashnû’ah</em>,128-29 dan juga ulama lainnya seperti <em>asy Syaukani</em> dalam <em>al Fawâid al Majmû’ah</em>:448-449.</p>
<p>Dalam kitab <em>al Maudhû’at-</em>nya,1/81, <em>Ibnu Jauzi </em>menegaskan: <em>“Adapun Nu’aim ia ditsiqahkan oleh sekelompok kaum. Ibnu Adi berkata, ‘Ia memalsu hadis.’ Dan adalah Yahya ibn Ma’in menilainya jijik dalam riwayatnya hadis dari Ummu Thufail, ia berkata, ‘Tidak sepantasnya hadis itu ia sampaikan. Nu’aim bukan apa-apa dalam periwayatan hadis!” Kemudian ia menyebutkan komentar Imam Ahmad seperti disebut di atas.</em></p>
<p>Dan tidak sedikit pun merubah status ke-<em>maudhu’</em>-an dan/atau ke<em>-munkar</em>an hadis di atas betapa pun <em>Syeikh Nâshiruddîn al Albâni </em>(muhaddis kebanggaan kaum Wahhabi seperti juga saudara kita Abu Jauzâ’) berusaha menyelamatkannya dengan menyebut <em>syawâhid</em> (hadis-hadis pendukung dari jalur lain), seperti yang ia lakukan dalam catatannya atas kitab<em> as Sunnah</em> karya <em>Ibnu Abi ‘Âshim </em>hadis no.471 dan kemudian mengatrol status hadis palsu itu dengan mengatakan:</p>
<h2 style="text-align:right;">حديثٌ صحيحٌ بِما قبلَهُ، و إسناده ضعيفٌ مظلِمٌ.</h2>
<p><em>“Hadis shahih dengan penguat hadis sebelumnya dan sanadnya dha’if lagi gelap.”</em></p>
<p><span style="text-decoration:underline;">Penyebutan <em>syawâhid </em>dengan maksud untuk mengatrol status hadis <em>munkar</em> yang palsu itu sama sekali tidaklah berguna sedikit pun</span>, sebab, selain hadis itu pada matannya terdapat ke<em>-munkar</em>an nyata, seluruh jalurnya adalah lemah! Lalu apakah hadis <em>munkar</em> yang palsu akan berubah statusnya menjadi <em>shahih</em> <em>lighairihi</em> (shahih dengan bantaun hadis/riwayat lain) sementara seluruh <em>syahâhid</em>/riwayat pendukungnya adalah <em>dha’if</em>!</p>
<p>Bagaimana hadis yang ia akui sendiri sebagai <strong>bersanad lemah lagi gelap</strong> dengan serta merta dan sekonyong-konyong mendadak berubah status menjadi hadis shahih?! Sebuah lompatan luar biasa melebihi pelompat jauh juara olimpiade! Andai <em>Albani </em>mengatakan bahwa dengan bantuan <em>syahâhid</em>/riwayat pendudkungnya, hadis itu melompot ke peringkat hadis <em>hasan</em> mungkin masih dapat dimaklumi! Akan tetapi mengatrol paksa hadis palsu yang sanadnya gelap gelegam bagai batu celak menjadi bersanad putih bak salju adalah upaya pemaksaan yang diilhami oleh keganderungan kepada keyakinan <em>Tajsîm</em> dan <em>Tasybîh</em> yang menyandera akal dan pikiran kaum Mujassimîn!</p>
<p>Imam al Baihaqi dalam kitab <em>ash Shifât wa al Asmâ</em>’:300 (dengan tahqîq Syeikh al Muhaddis al Kautsri) menegaskan, <em><strong>“Dan hadis ini telah diriwayatkan dari jalur lain dan seluruhnya adalah dha’if.”</strong></em></p>
<p>Jadi seluruh jalur hadis di atas adalah dha’if! Maka tidaklah berguna sedikitpun kebaikan hati<em> Syeikh Albani</em> dengan menyematkan status shahih atau hasan bagi jalur-jalur lain hadis ini!</p>
<p><strong>Catatan Penting Tantang Pembelaan Abu Jauzâ’ Atas Syeikh Albani!</strong></p>
<p><span style="color:#800000;">Abu Jauzâ’ menyimpulkan bahwa penshahihan <em>Syeikh al Albâni </em>itu hanya sebatas pada hadis dengan redaksi: <em>“<span style="text-decoration:underline;">Aku telah melihat Rabb-ku dalam mimpiku dalam wujud/bentuk yang paling baik</span></em>” bukan dengan lafadz (redaksi) lengkap sebagaimana disebutkan di awal perbincangan yaitu dengan lanjutan yang sengaja dipangkas Ibnu Abi ‘Âshim!</span></p>
<p>Akan tetapi anggapannya  itu tidaklah berdasar. Apalagi ia (Abu Jauzâ’) sendiri mengakui bahwa apa yang dipangkas Ibnu Abi ‘Âshim itu adalah tambahan yang disebutkan dalam riwayat lain secara lengkap yaitu dengan redaksi yang menyebut bahwa Tuhan berambut lebat dan … dan ….</p>
<p><strong>Perhatikan Abu Jauzâ’ berkata:</strong></p>
<blockquote><p>Hadits yang dibawakan Al-Imam Ibnu Abi ‘Aashim <em>rahimahullah </em>ini sebenarnya satu riwayat dengan riwayat yang menjadi bahasan kita, dimana sanad keduanya bertemu pada ‘Abdullah bin Wahb (Ibnu Wahb). Ibnu Abi ‘Aashim membawakan secara ringkas dengan perkataannya: <em>“wa dzakara kalaaman</em>. Maksud “<em>wa dzakara kalaaman</em>” di sini adalah lafadh:</p>
<h3 style="text-align:right;">في صورة شباب موفر في خضر على فراش من ذهب في رجليه نعلان من ذهب</h3>
<p><em>“dalam wujud seorang pemuda berambut lebat yang memakai pakaian berwarna hijau di atas tempat tidur yang terbuat dari emas, pada kedua kaki-Nya memakai sandal yang terbuat dari emas”</em>.</p></blockquote>
<p>Jadi upaya ngotot melelahkan yang ia lakukan untuk membela Muhaddis kebanggaan Misionaris sekte Wahabi; <em>Albâni </em>tidaklah bergunna di sini!</p>
<p>Dan nanti kami akan kembali dengan menyoroti kekacauan penelitian tidak teliti Muhaddis kebanggaan kaum Wahhabi; <em>al Albâni!</em></p>
<p style="text-align:center;"><em>*********<br />
</em></p>
<p>Setelah panjang lebar kita bincangkan masalah ini, mari kita kembali menyemimak keterangan <em>Ibnu Jauzi</em>. Ia melanjutkan:</p>
<p><em>“Dan hadis ini telah diriwayatkan Abaidullah ibn Abi Salamah, ia berkata, ‘Ibnu Umar mengutus (seseorang) untuk menemui Ibnu Abbas menanyakan kepadanya, ‘Apakah Muhammad melihat Tuhannya?’ Maka ia mengutus seorang untuk menjawab, ‘Ya. Dia telah melihat-Nya. Utusan itu kembali dan bertanya, ‘Bagaimana melihat-Nya?’ Ia menawab, “Dia (Nabi Muhammad saw.) melihat-Nya di atas kursi terbuat dari emas yang dipikul oleh empat malaikat dalam bentuk laki-kali….”</em></p>
<p>Aku (Ibnu Jauzi) berkata, “<em>Ibnu Ishaq</em> menyendiri dalam meriwayatkan hadis ini. Hadis ini dibohongkan oleh sekelompok ulama.</p>
<p><strong>Abu Salafy berkata:</strong></p>
<p>Hadis ini juga tidak diragukan kepalsuannya atas nama <em>Ibnu Umar </em>dan <em>Ibnu Abbas ra.</em> ia telah mencoreng kitab as Sunnah yang diatas-namakan Abdullah putra Imam Ahmad. Dalam kitab tersebut: 42 hadis  dengan no.204 terdapat lanjutan demikian:</p>
<p><em>“Dia (Nabi Muhammad saw.) melihat-Nya di atas kursi terbuat dari emas yang dipikul oleh empat malaikat, satu dalam bentuk laki-kali, satu dalam bentuk singa, satu dalam bentuk sapi dan keempat dalam bentuk burung elang/garuda. Dia berada di kebun hijau yang berhamparkan emas.”</em></p>
<p>Selain hadis ini jelas-jelas bermasalah pada kandungannya, ia juga berpenyakit dengan banyaknya cacat pada sanadnya, baik kerana kualitas parawinya, seperti: 1)Yunus ibn Bukair, 2) Ibnu Ishaq (seorang <em>mudallis</em>) dan 3) Abdurramah ibn Harits -seorang parawi yang <em>matrûk</em> (ditingalkan/dibuang), maupun cacat pada ketidak bersambungan sanadnya.!</p>
<p align="center">*****</p>
<p><strong>Ibnu Jauzi melanjutkan:</strong></p>
<p><em>“Dan dalam riwayat (lain) dari Ibnu Abbas: “Dia melihat-Nya seakan pada kedua kaki-Nya ada hiasan warna hijau dibaliknya ada kain penutup dari sutra.”</em></p>
<p><strong>Aku (Ibnu Jauzi) berkata</strong>: <em>“Hadis ini telah diriwayatkan oleh Ibrahim ibn Hakam ibn Abân. Hadis ini telah dilemahkan oleh Yahya ibn Ma’in  dan ulama lainnya.</em><strong> </strong></p>
<p><strong>Abu salafy berkata:</strong></p>
<p>Hadis ini juga sebuah kepalsuan belaka.<em> Al Baihaqi</em> meriwayatkannya dalam <em>al Asmâ’ wa ash Shifât </em>:445 dan<em> Ibnu Jauzi</em> dalam <em>al ‘Ilal al Mutanâhiyah</em>,1/36 dan ia menegaskan, “Hadis ini tidak tetap. Seluruh jalurnya adalah <em>Hammâd ibn Salamah</em>. <em>Ibnu Adi </em>berkata, ‘Telah dikatakan bahwa Ibnu Abi al ‘Ajâ’ –anak asuh Hammâd- telah menyisipkan dalam catatannya hadis-hadis (seperti) ini.”</p>
<p>Selain itu pada jalurnya terdapat ‘<em>an’anah</em> (periwayatan dengan redaksi ‘<em>an</em> [dari]) yang mengindikasikan ketidak bersambungan sanad yang dilakukan oleh Qatadah, sementara ia sangat diragukan periwayatannya dengan redaksi seperti itu!</p>
<p><strong>Pendha’ifan adz Dzahabi!</strong></p>
<p>Saudara <strong>Abu Jauzâ</strong> menuduh kami mengada-ngada ketika kami menyebut nama <em>adz Dzahabi</em> sebagai yang juga menerima hadis-hadis <em>tajsîm</em> di atas! khususnya pada hadis. <strong>Ia berkata menghujat kami:</strong></p>
<blockquote><p><a href="http://abul-jauzaa.blogspot.com/2009/06/pembahasan-hadits-ummu-ath-thufail.html" target="_blank">“Dan memang benar bahwa Abu Salafy telah berdusta saat Al-Imam Adz-Dzahabi <em>rahimahullah </em>berkata ketika menyebutkan hadits ‘Ikrimah dari Ibnu ‘Abbas:</a></p>
<h3>أنبأنا عبدالرحمن بن محمد الفقيه، أخبرنا أبو الفتح المندائي، أخبرنا عبيدالله بن محمد بن أحمد، أخبرنا جدي أبو بكر البيهقي في كتاب &#8221; الصفات &#8221; له، أخبرنا أبو سعد الماليني، أخبرنا عبد الله بن عدي، أخبرني الحسن بن سفيان، حدثنا محمد بن رافع، حدثنا أسود بن عامر، حدثنا حماد بن سلمة، عن قتادة، عن عكرمة، عن ابن عباس، قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: &#8221; رأيت ربي &#8211; يعني في المنام -..&#8221; وذكر الحديث. وهو بتمامه في تأليف البيهقي، <strong><span style="text-decoration:underline;">وهو خبر منكر</span></strong>، نسأل الله السلامة في الدين، فلا هو على شرط البخاري ولا مسلم، وراوته وإن كانوا غير متهمين، فما هم بمعصومين من الخطأ والنسيان،</h3>
<p>“Telah mengkhabarkan kepada kami ‘Abdurrahman bin Muhammad Al-Faqiih: Telah mengkhabarkan kepada kami Abul-Fath Al-Mandaaiy: Telah mengkhabarkan kepada kami ‘Ubaidullah bin Muhammad bin Ahmad: Telah mengkhabarkan kepada kami kakekku, Abu Bakr Al-Baihaqiy dalam kitabnya <em>Ash-Shifaat:</em> Telah mengkhabarkan kepada kami Abu Sa’d Al-Maaliniy: Telah ‘Abdullah bin ‘Adiy: Telah mengkhabarkan kepadaku Al-Hasan bin Sufyan: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Raafi’: Telah menceritakan kepada kami Aswad bin ‘Aamir: Telah menceritakan kepada kami Hammaad bin Salamah, dari Qatadah, dari ‘Ikrimah, dari Ibnu ‘Abbas ia berkata: Telah bersabda Rasulullah <em>shallallaahu ‘alaihi wa sallam </em>“ <em>‘Aku melihat Rabb-ku – </em>yaitu dalam mimpi – kemudian ia menyebutkan hadits tersebut.</p>
<p>Hadits itu selengkapnya ada dalam tulisan Al-Baihaqiy, dan ia adalah <strong>khabar munkar</strong>. Kami memohon kepada Allah keselamatan dalam agama. Tidaklah hadits tersebut (shahih) memenuhi persyaratan Al-Bukhari maupun Muslim. Para perawinya, jika mereka tidak tertuduh (berdusta),<a href="http://abusalafy.wordpress.com/wp-admin/#_ftn19">[19]</a> maka tidaklah mereka terbebas dari kesalahan dan lupa (saat meriwayatkan)” [selesai – lihat <em>Siyaru A’laamin-Nubalaa’</em>, 10/113-114 – biografi Syadzaan].</p></blockquote>
<p><strong>Abu Salafy berkata:</strong></p>
<p><span style="text-decoration:underline;">Sepertinya saudara Abu Jauzâ perlu memahami dengan baik istilah hadis munkar dalam pengistilahan <em>adz Dzahabi</em> sebelum kemudian ia menyimpulkan bahwa pernyataan itu darinya adalah <em>pendha’ifan</em></span>! Sebab yang menjadi fokus bidikan penelitian sebagia ulama dalam hadis di atas adalah apakah Nabi saw. melihat Allah di kala jaga  atau dalam mimpi.</p>
<p>Coba perhatikan, ketika menghujat al ‘Uqaili karena sikapnya mencacat seorang perawi yang menyendiri dalam membawakan sebuah riwayat, <em>adz Dzahabi</em> berkata;</p>
<p><em>“ … maka jika seorang perawi tsiqah yang kokoh hafalannya menyendiri dalam membawakan sebuah riwayat maka ia digolongkan hadis shahih yang gharib. Dan jika seorang perawi shadûq menyendiri dalam membawakan sebuah riwayat maka ia digolongkan <strong>hadis munkar</strong>.”</em></p>
<p><span style="text-decoration:underline;"><span style="color:#800000;"><em>Adz Dzahabi </em>tidak menyendiri dalam pendefenisian itu, <em>Imam Ahmad</em> juga memaknai hadis <em>munkar</em> itu sebagai hadis yang hanya diriwayatkan oleh seorang parawi tidak dibarengi perawi lain</span></span>! Abu Thalib bertanya kepada Imam Ahmad tentang hadis <em>istikhârah </em>dari riwayat <em>Ibnu Munkadir</em> dari<em> Jabir</em>, <span style="color:#800000;"><em>Ahmad</em> berkata, “Ia hadis munkar!” Aku berkata; munkar?! Ahmad berkata, <span style="text-decoration:underline;">“Ia tidak diriwayatkan oleh selainnya.</span></span><span style="text-decoration:underline;">”</span><a href="http://abusalafy.wordpress.com/wp-admin/#_ftn20">[20]</a></p>
<p><span style="text-decoration:underline;"><span style="color:#800000;">Padahal hadis itu telah diriwayatkan Imam Bukhari dan Imam Muslim dalam kedua kitab Shahih mereka. Lalu apakah kita akan menvonis hadis itu lemah dikarenakan ucapan Imam Ahmad di atas?</span></span>! serta banyak contoh lain yang dapat ditemukan peneliti jika mau meluangkan waktu dalam penelitian dan komentar-komnetar <em>adz Dzahabi</em>, seperti ketika menyebut biogfari<em> Walîd ibn Muslim </em>–salah seorang perawi yang diandalkan enam penulis kitab hadis standar-, “Dan termasuk paling munkar yang ia riwayatkan adalah hadis tentang menghafal AL Qur’an!”<a href="http://abusalafy.wordpress.com/wp-admin/#_ftn21">[21]</a> padahal hadis itu telah diriwayatkan oleh <em>Imam at Turmudzi</em> dan ia <em>hasan</em>kan, dan <em>al Hakim </em>dan ia tegaskan bahwa ia berdasarkan syarat Bukhari dan Muslim.</p>
<p>Dari keterangan singkat di atas, perkataan adz Dzahabi seperti yang dikutip saudara Abu Jauzâ belum menunjukkan bahwa adz Dzahabi sedangmen <em>-dha’if</em>-kannya, walaupun bisa jadi demikian! <em>Wallahu A’lam</em>.</p>
<p align="center">*****</p>
<p><strong>Ibnu Jauzi melanjutkan:</strong></p>
<p><em>“Dan dalam riwayat (lain) Ibnu Abbas ra. dari Rasulullah saw.: “Aku melihat Tuhanku berambut keriting, </em><em>amrad (remaja belum tumbuh kumis dan janggutnya), Dia mengenakan hiasan berwarna hijau.”</em></p>
<p><strong>Aku (Ibnu Jauzi) berkata;</strong></p>
<p><em>“Hadis ini diriwayatkan dari jalur Hammâd ibn Salamah. Dan Ibnu Abi al ‘Aujâ’ si ateis itu adalah anak asuhnya Hammad, dialah yang menyelundupkan dalam kitab-kitab catatannya hadis-hadis seperti ini. Selain itu yang disebutkan dalam hadis itu adalah mimpi bekala. Dan mimpi itu khayal!”</em></p>
<p><span style="text-decoration:underline;"><strong>Abu Salafy berkata:</strong></span></p>
<p>Hadis ini juga <em>munkar</em> dan palsu! <em>Ibrahim ibn Hakam</em> –parawi hadis ini- adalah tidak bernilai. Demikian dikatakan <em>Yahya ibn Ma’in, an Nasa’i, Abu Zur’ah, al Ajuri, al Azdi, Abu Daud</em> dkk. <em>Al Fasawi </em>menegaskan, <em>“Dan para ulama tidak berselisih pendapat akan kelemahannya.”</em><a href="http://abusalafy.wordpress.com/wp-admin/#_ftn22">[22]</a></p>
<p>Kemudian Ibnu Jauzi meneruskan:</p>
<p><em><span style="text-decoration:underline;">“Hadis-hadis seperti itu tidak punya ketetapan sama sekali, dan hadis-hadis setingkat itu tidak pantas dijadikan hujjah untuk masalah wudhu’!</span> </em><em>Abu Ya’la al Qadhi si Mujassim yang memposturisasi Allah itu telah menetapkannya sebagai sifat bagi Allah, ia berkata, ‘Allah itu adalah berperawakan remaja, tidak berkumis dan berjanggut, rambutnya keriting, ia mengenakan hiasan kupu-kupu, sandal dan mahkota….</em></p>
<p><strong>Ia (Ibnu Jauzi) juga berkata:</strong> <em>“Ibnu Aqil berkata, ‘Hadis ini dipastikan akan kepalsuannya.”</em></p>
<p>Setelahnya <em>Ibnu Jauzi </em>menutup telaahnya dengan menetapkan sebuah kaidah penting lagi berkualitas, ia berkata;</p>
<p><em>“Kemudian tidak bermanfaat ketsiqahan para perawi jika matan (kandungan) hadis itu sesuatu yang musatahil. Hal itu seperti andai ada sekelompok orang yang jujurmengabarkan bahwa ontanya si pedagang sayur itu masuk ke dalam lubang jarum si penjahit! Maka tidak ada makna bagi kejujuran tutur kata para parawi itu selagi berita mereka itu mustahil</em><strong>!</strong><a href="http://abusalafy.wordpress.com/wp-admin/#_ftn23">[23]</a></p>
<p>Dan inilah yang harus terfahami dengan baik oleh kaum Mujassimah sebelum mereka bersusah payah dan menghabiskan umur mereka dalam mencari dukungan dan penguat bagi hadis-hadis yang mengandung makna mustahil seperti di atas!</p>
<p style="text-align:left;"><span style="color:#ff0000;"><strong>(Bersambung Insya Allah)</strong></span></p>
<p><strong><br />
</strong><strong> </strong></p>
<hr size="1" /><a href="http://abusalafy.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref15">[15]</a> Pada bagian lain artikel ini saya akan kembali menyoroti lebih tajam tentang sanad hadis ini, khususnya Nu’aim ibn Hammâd dan kekacauan sikap Syeikh Albani. Nantikan!</p>
<p><a href="http://abusalafy.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref16">[16]</a> At Tabshirah wa at Tadzkirah, syarah Alfiyah al ‘Irâqi,2/10-11.</p>
<p><a href="http://abusalafy.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref17">[17]</a> At Tabshirah wa at Tadzkirah, syarah Alfiyah al ‘Irâqi,2/10-11. juga buku-buku   mushthalahul hadist lainnya.</p>
<p><a href="http://abusalafy.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref18">[18]</a> Abu Jauzâ’ berkata: Kesimpulan: Hadits di atas adalah dla’if karena kelemahan yang ada pada Marwaan bin ‘Utsmaan dan ‘Umaarah bin ‘Aamir serta adanya inqitha’ (keterputusan sanad) antara ‘Umaarah dan Ummu Thufail…”</p>
<p><a href="#_ftnref19">[19]</a> Di sini sepertinya terjemahan saudara Abu Jauzâ dalam hemat kami kurang tepat, yang tepat adalah: walaupun para parawinya tidak tertuduh, akan tetapi mereka bukan orang-orang yang makshum dari kesalahan dan lupa.Wallahu A’lam.</p>
<p><a href="http://abusalafy.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref20">[20]</a> Lebih lanjut baca al Kâmil; Ibnu Adi ketika menyebut sejarah hidup Abu Mawal,4/1616.</p>
<p><a href="http://abusalafy.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref21">[21]</a> Mîzân al I’tidâl,4/347.</p>
<p><a href="http://abusalafy.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref22">[22]</a> Baca Tahdzîb at Tahdzîb,1/100.</p>
<p><a href="http://abusalafy.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref23">[23]</a> Baca<em> Daf’u Syubah at Tasybîh Bi Akuffi at Tanzîh</em>:152-156. Terbitan Dâr al Imam an Nawawi. Yordan).</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/abusalafy.wordpress.com/453/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/abusalafy.wordpress.com/453/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/abusalafy.wordpress.com/453/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/abusalafy.wordpress.com/453/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/abusalafy.wordpress.com/453/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/abusalafy.wordpress.com/453/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/abusalafy.wordpress.com/453/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/abusalafy.wordpress.com/453/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/abusalafy.wordpress.com/453/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/abusalafy.wordpress.com/453/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abusalafy.wordpress.com&blog=1269412&post=453&subd=abusalafy&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abusalafy.wordpress.com/2009/10/21/bantahan-atas-abu-jauza%e2%80%99-dan-para-wahhabiyyun-mujassimun-musyabbihun-3/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/dcc398e7d74a34e59c3d59ffcc0673ff?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">abusalafy</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Di Mata Para Imam Wahhâbi, Ahlusunnah Adalah Aliran Sesat!</title>
		<link>http://abusalafy.wordpress.com/2009/10/21/di-mata-para-imam-wahhabi-ahlusunnah-adalah-aliran-sesat/</link>
		<comments>http://abusalafy.wordpress.com/2009/10/21/di-mata-para-imam-wahhabi-ahlusunnah-adalah-aliran-sesat/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 21 Oct 2009 02:06:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abusalafy</dc:creator>
				<category><![CDATA[Akidah Tajsim & Tasybih]]></category>
		<category><![CDATA[Fatwa Pensesatan]]></category>
		<category><![CDATA[Fatwa Wahabi-Salafy]]></category>
		<category><![CDATA[Kenaifan Kaum Wahhabi]]></category>
		<category><![CDATA[Manhaj]]></category>
		<category><![CDATA[Mengenal Pemimpin Wahabi]]></category>
		<category><![CDATA[Penyimpangan Akidah Dalam Kitab at Tauhid]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abusalafy.wordpress.com/?p=577</guid>
		<description><![CDATA[Kaum Wahhâbiyah -yang berusaha dengan segala cara untuk lari dari nama tersebut dan menamakan diri mereka dengan nama Salafi- mereka mengklaim bahwa hanya mereka semata yang berada di atas petunjuk Allah SWT., sementara kelompok lain selain mereka adalah kelompok dan aliran sesat! Hanya merekalah yang mewaliki al Firqah an Nâijyah (kelompok yang selamat) sementara selain [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abusalafy.wordpress.com&blog=1269412&post=577&subd=abusalafy&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p style="text-align:justify;">Kaum Wahhâbiyah -yang berusaha dengan segala cara untuk lari dari nama tersebut dan menamakan diri mereka dengan nama Salafi- mereka mengklaim bahwa hanya mereka semata yang berada di atas petunjuk Allah SWT., sementara kelompok lain selain mereka adalah kelompok dan aliran sesat! Hanya merekalah yang mewaliki al Firqah an Nâijyah (kelompok yang selamat) sementara selain mereka adalah celaka dan calon tetap penghuni neraka jahîm!</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;"><span id="more-577"></span>Ketika mereka mengumbar lisan mereka menyebut-nyebut Salaf Shaleh mungkin terbesit dalam benak Anda yang mereka maksud adalah para sahabat dan tabi’în atau para ulama Islam gerenasi ketiga misalnya. Akan tetapi anggapan itu akan segera terusir karena Anda akan segera mengetahui bahwa yang mereka maksud adalah &#8220;Syeikh Islam&#8221; mereka yang bernama <strong><em>Ibnu Taimyah</em></strong> dan <strong><em>Ibnu Qayyim</em></strong> serta kaum mujassimah dan Musyabbihah lainnya!</p>
<p style="text-align:justify;">Kaum Wahhabi/Salafy mengklaim bahwa pengikut Ibnu Taimiyah lah yang sejatinya Ahlu Sunnah! Adapun selainnya adalah Ahli Dhalâl (kelompok dan aliran sesat)! Mereka mencoret pengikut empat mazhab; Hanafi, maliki, Syafi’i dan Hanbali dari daftar anggota Ahlu Sunnah! Setelah sebelumnya mengeluarkan kelompok lain darinya!</p>
<p style="text-align:justify;">Para pengikut fanatik Wahhabi-Salafy pasti akan segera menuduh kami sekali lagi menebar fitnah murahan untuk mencoreng &#8220;kecemerlangan&#8221; wajah da’wah Pendekar Pemberantas Syirik dan kekafiran! Karena hanya itu yang dapat mereka lakukan. Tapi janganlah terburu nafsu karena kami bukan ahli fitnah, kami hanya membongkar kejahatan kelompok ini mengingat keganasan doktrin tafir dan pemusyrikannya yang sangat membahayakan keutuhan wahdah Islamiyah!</p>
<p style="text-align:justify;">Karenanya kami segera akan membuktikannya melalui pernyataan para imam dan tokoh sekte sempalan ini baik tokoh klasik mereka maupun tokoh kontemporer.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Pernyataan Syeikh  Abdullah ibn Abdur Rahmân Abu Bathîn (W.1282 H)</strong> <strong>ketika ia berkata:</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong><br />
</strong></p>
<blockquote>
<h3 style="text-align:right;"><strong>إذا عرفت ذلك عرفت خطأ</strong><strong> </strong><strong>من جعل الأشعرية من أهل السنة كما ذكره السفاريني في بعض كلامه ويمكن أنه</strong><strong> </strong><strong>أدخلهم في أهل السنة مداراة لهم لأنهم اليوم أكثر الناس ، والأمر لهم ، والله أعلم</strong><strong> </strong><strong>مع أنه قد دخل بعض المتأخرين من الحنابلة في بعض ما هم عليه)</strong></h3>
<p style="text-align:justify;"><em>“Jika kamu telah ketahui kesalahan orang yang menggolongkan kelompok Asy’ariyah seperti disebutkan as Safâranîni dalam sebagian pembicaraannya. Bisa jadi ia memasukkan mereka ke dalam golongan Ahlu Sunnah sekedar berbasa-basi sebab mereka sa’at ini adalah kelompom mayoritas, kekuasaan di tangan mereka –Allah yang maha mengetahui-, padahal sebagian kalangan mutaakhhirîn pengikut mazhab Hanbali terjebak dalam hal yang mereka yakini.”</em></p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;"><strong>Abu Salafy berkata:</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Di sini Syeikh  Abdullah ibn Abdur Rahmân Abu Bathîn terang-terangan mengusir kaum Asy’ariyah dari golongan Ahlu Sunnah! Dan salahlah siapa saja yang memasukkan mereka ke dalam Ahlu Sunnah!</p>
<p style="text-align:justify;">Suara sumbang di ataas bukan suara tunggal yang dipekikkan oleh para masyâikh Wahhâbi. <strong><em>Syeikh Abdul Aziz bin Bâz</em></strong> juga tidak mau ketinggalan dalam menyuarakan suara sumbang tersebut. Ia berkata, seperti dalam kitab <em>al Aqîdah ash Shahîhah Wamâ Yudhâdduhâ</em>/Akidah yang benar dan yang menyalahinya:20:</p>
<p style="text-align:justify;">
<blockquote>
<h2 style="text-align:right;"><strong>ومن العقائد المضادة</strong><strong> </strong><strong>للعقيدة الصحيحة في باب الأسماء والصفات عقائد أهل البدع من الجهمية والمعتزلة ومن</strong><strong> </strong><strong>سلك سبيلهم في نفي صفات الله عزَّ وجل وتعطيله سبحانه من صفات الكمال … ويدخل في</strong><strong> </strong><strong>ذلك من نفى بعض الصفات وأثبت بعضها كالأشاعرة… ويدخل في</strong><strong> </strong><strong>ذلك من نفى بعض الصفات وأثبت بعضها كالأشاعرة … أما أهل السنَّة والجماعة فقد</strong><strong> </strong><strong>أثبتوا لله سبحانه ما أثبته لنفسه)</strong></h2>
<p style="text-align:justify;"><em>“Dan termasuk akidah yang menyalahi/menentang akidah yang benar dalam masalah nama-nama dan sifat-sifat Allah adalah akidahnya Ahli (Penyandang) Bid’ah dari kelompok Jahmiyyah, Mu’tazilah dan menenmpuh jalan mereka dalam menafikan sifat-sifat Allah –Azza wa Jalla- dan mengosongkan-Nya dari sifat Kemaha-Sempurnaan… . Dan masuk dalam golongan ini kelompok yang menafikan sebagian sifat dan menetapkan sebagian lainnya, seperti kelompok Asy’ariyyah… adapun Ahlu Sunnah wal jamâ’ah mereka menetapkan bagi Allah SWT apa-apa yang ia tetapkan untuk diri-Nya.”</em></p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Abu Salafy berkata:</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Di sini Anda menyaksikan bagaimana Mufti Tertinggi umat Wahhabi-Salafy di zamannya; <em>Syeikh Abdul Aziz bin Bâz</em> dengan terang-terangan mengeluarkan para pemimpim Asy’ariyah dan pengikut mereka dari golongan Ahlu Sunnah! Dan ia menetapkannya secara khusus bagi <em>Ibnu Taimiyah</em> dan pengikut akidahnya.</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="text-decoration:underline;">Perlu Anda cermati bahwa yang ia maksud dengan menafikan sifat bukanlah menafikan bahwa Allah SWT menyandang sifat-sifat sempurna seperti Maha Hidup, Maha Berkuasa, Maha Mengetahui, Maha Sempurna, dll</span>. akan tetapi yang ia maksud –seperti juga kaum Mujassimah lainnya- adalah menafikan sifat bahwa:</p>
<ul>
<li>Allah punya tangan (dan anehnya kata kaum Wahhabi/Salafy –berdasarkan riwayat yang mereka terrima bahwa tangan Allah kedua-duanya kanan, tidak ada yang kiri, coba Anda bayangkan!!),</li>
<li>Allah punya betis,</li>
<li>Allah punya mata,</li>
<li> terkadang Allah juga Maha Menipu,</li>
<li>Allah Maha bermakar,</li>
<li>Allah berlari-lari kecil (<em>harwalah</em>),</li>
<li>Allah terheran-heran (<em>ta’ajjaba</em>), Allah tertawa,</li>
<li>Allah berambut lebat dan memanjang hingga ujung telinga dan sifat-sifat lain yang serupa!</li>
</ul>
<p style="text-align:justify;">Jadi siapapun yang menafikan sifat-sifat itu dari Allah mereka tuding sebagai Mu’aththilah, Nufâtush Shifât!</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="text-decoration:underline;">Padahal para ulama Islam yang menafikan sifat-sifat seperti itu dari Allah dan mena’wilkannya dengan makna yang sesuai dengan Kemaha Agung dan Kemaha Sempurnaan Allah SWT jelas-jelas sedang mensucikan-Nya dari pensifatan yang <em>ilhâd</em> (menyimpang)!</span></p>
<p style="text-align:justify;">Tapi anehnya di mata Wahhâbi/salafy sesiapa yang menafikannya keluar dari Ahlu Sunnah, sedangkan kaum Mujassimah Musyabbihah yang menetapkannya adalah Ahlu Sunnah wal Jam’â’ah! Sungguh tanpa malu pembajakan nama itu!</p>
<p style="text-align:justify;">Jadi sekali lagi, dalam pandangan Syeikh Bin Bâz Cs para ulama yang memaknai misalnya, kata:<strong> يد الله</strong>/<em>tangan Allah</em> dalam ayat:</p>
<h2 style="text-align:right;"><strong>{يد الله فوق أيديهم}</strong></h2>
<p style="text-align:justify;">Dengan kekuasaan/<em>qudrah</em>, sebab pemaknaan itu yang sesuai dengan keagungan Dzat yang Maha Tinggi adalah kaum Mu’aththilah!</p>
<p style="text-align:justify;">Atau kata:<strong> بأعيننا</strong><em>/dengan mata-mata Kami</em> dalam ayat:</p>
<h2 style="text-align:right;"><strong>{تجري بأعيننا}</strong></h2>
<p style="text-align:justify;">Dengan bahwa bahtera Nabi Nuh as. itu berjalan di bawah kontrol dan perhatian serta kelemah-lembutan Kami (Allah), dan tidak mungkin kata itu diartikan dengan mata… menurut kaum Wahhâbi adalah kaum Mu’aththilah! Dan kaum Mu’aththilah adalah kafir!</p>
<p style="text-align:justify;">Jadi demikianlah vonis Bin Bâz atas golongan Asy’ariyah! Kini ia memonopoli hak paten Ahlu Sunnah hanya umtuk kelompok Wahhâbi/Salafy saja!!</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Ibnu Abdil Wahhâb Adalah Panutan Mereka!</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Jika Anda tau sebab yang menjadikan kedua masyâikh Wahhabi itu berfatwa seganas itu, pastilah Anda tidak akan terheran-heran, sebab <em>idzâ ‘urifa as sabab bathalal ‘ajab</em>/jika sebabnya telah diketahui sirnalah keterheran-heranan! Dan segala Sesutu jika keluar dari sumbernya tidak akan mengherankan! Jika panutan mereka adalah Syeikh Galak yang menvonis kafir kelompok Asy’ariyah dalam kitab at Tauhid-nya, maka pasti sirnalah keterheran-heranan Anda! Syeikh Ibnu Abdil Wahhâb lah yang mendoktrin pengikutnya sehingga menjadi mufti-mufti galak dan para pengikut militant di jalan pengkafiran umat Islam!</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Ibnu Abdil Wahhâb berkata:</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Kesimpulan kedua puluh: Penetapan sifat-sifat bagi Allah, berbeda dengan kaum Asy’ariyyah yang Mu’aththialh itu! <a href="http://abusalafy.wordpress.com/wp-admin/#_ftn1">[1]</a></p>
<p style="text-align:justify;">Dalam hal 402 pensyarahnya; Syeikh Abdur Rahman ibn Hasan <em>Âlu</em> (dari keturunan) Syeikh (Ibnu Abdil Wahhab sendiri), ketika menerangkan bab: <em>Man jahada syaian min al Asmâ’ wa ash Shifât</em>/Siapa yang mengingkari nama-nama dan sifat-sifat. Ia mengatakan: “Mereka kaum Mu’aththilah itu telah kafir kepada Al Kitab (Al Qur’an) dan Sunnah.”</p>
<p style="text-align:justify;">Jadi apakah sulit bagi Anda untuk menyimpulkan vonis para imam sekte sempalan Wahhabi dari kedua mukaddimah dari pernyataan kedua imam Wahabi di atas:</p>
<ul style="text-align:justify;">
<li><strong>Mukaddimah pertama: kaum Asy’ariyah adalah Mu’aththilah!</strong></li>
<li><strong>Mukaddimah kedua: kaum Mu’aththilah adalah kafir!</strong></li>
<li><strong>Jadi kesimpulannya: Kaum Asy’ariyah adalah kafir!</strong></li>
</ul>
<p style="text-align:justify;">Jika ada yang menyimpulkan lain maka akalnya perlu diperiksakan dan kewarasaannya perlu dipertanyakan!</p>
<p style="text-align:justify;">Wassalam!<strong> </strong></p>
<hr size="1" />
<p style="text-align:justify;"><a href="http://abusalafy.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref1">[1]</a> Kitab at tauhid (dengan syarahnya berjudul Fathul Majîd):204. cet. Dâr al Kotob al Ilmiah. Beirut.</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/abusalafy.wordpress.com/577/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/abusalafy.wordpress.com/577/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/abusalafy.wordpress.com/577/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/abusalafy.wordpress.com/577/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/abusalafy.wordpress.com/577/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/abusalafy.wordpress.com/577/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/abusalafy.wordpress.com/577/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/abusalafy.wordpress.com/577/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/abusalafy.wordpress.com/577/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/abusalafy.wordpress.com/577/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abusalafy.wordpress.com&blog=1269412&post=577&subd=abusalafy&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abusalafy.wordpress.com/2009/10/21/di-mata-para-imam-wahhabi-ahlusunnah-adalah-aliran-sesat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/dcc398e7d74a34e59c3d59ffcc0673ff?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">abusalafy</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Pendahulu Kaum Wahhâbi Menebar Teror Sadis!</title>
		<link>http://abusalafy.wordpress.com/2009/10/21/pendahulu-kaum-wahhabi-menebar-teror-sadis/</link>
		<comments>http://abusalafy.wordpress.com/2009/10/21/pendahulu-kaum-wahhabi-menebar-teror-sadis/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 21 Oct 2009 02:01:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abusalafy</dc:creator>
				<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[Dinasti al-Saud]]></category>
		<category><![CDATA[Fatwa Pensesatan]]></category>
		<category><![CDATA[Fatwa Wahabi-Salafy]]></category>
		<category><![CDATA[Ibnu Abdul Wahab]]></category>
		<category><![CDATA[Kenaifan Kaum Wahhabi]]></category>
		<category><![CDATA[Manhaj]]></category>
		<category><![CDATA[Mengenal Pemimpin Wahabi]]></category>
		<category><![CDATA[Ulama Salafy-Wahabi Bicara]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abusalafy.wordpress.com/?p=575</guid>
		<description><![CDATA[Jangan Anda heran jika kaum Salafi Wahhâbi, khususnya kaum Ghulât (Super Ekstrim) mereka selalu menebar teror terhadap siapapun yang berselisih pendapat dalam memahami teks-teks agama. Dari mulai teror kata-kata keji tak berdasar hingga melenyapan nyawa terhormat yang haram untuk dilenyapkan. Sebab kekerasan sepertinya  telah menyatu dalam ajaran dan akhlaqiyat kelompok penebar teror ini! Anehnya yang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abusalafy.wordpress.com&blog=1269412&post=575&subd=abusalafy&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Jangan Anda heran jika kaum Salafi Wahhâbi, khususnya kaum <em>Ghulât</em> (Super Ekstrim) mereka selalu menebar teror terhadap siapapun yang berselisih pendapat dalam memahami teks-teks agama. Dari mulai teror kata-kata keji tak berdasar hingga melenyapan nyawa terhormat yang haram untuk dilenyapkan. Sebab kekerasan sepertinya  telah menyatu dalam ajaran dan akhlaqiyat kelompok penebar teror ini! Anehnya yang selalu menjadi korban adalah saudara-saudara sesama Muslim!</p>
<p><span id="more-575"></span></p>
<p>Ketika<em> Ka’ab al Ahbâr</em> (si pendeta Yahudi) menyebarkan faham menyimpang bahwa Allah SWT bisa dilihat dengan mata kepala, Ummul Mukminin Aisyah ra. bangkit membongkar kedok penyimpangan dan penyesatan akidah ala Yahudi yang dilakoni <em>Ka’ab al Ahbâr</em>, dan mengatakan bahwa akidah itu hanya kepalsuan yang diproduk Ka’ab atas nama Allah SWT, seperti telah kami paparkan panjang lebar dalam beberapa artikel di sini, sebagaimana diriwayatkan Imam Bukhari dan Muslim:</p>
<p><strong>Riwayat Imam Bukhari:</strong></p>
<p>Imam Buhkari meriwayatkan dengan sanad dari ‘Âmir dari Masrûq, ia berkata kepada Aisyah ra.:</p>
<blockquote>
<h2 style="text-align:right;"><strong>يا أمتاه هل رأى محمد صلى الله عليه وسلم ربه ؟ فقالت لقد قَفَّ شعري مما قلت ! أين أنت من ثلاث من حدثكهن فقد كذب: <span style="text-decoration:underline;">من حدثك أن محمداً صلى الله عليه وسلم رأى ربه فقد كذب</span> ثم قرأت : لا تُدْرِكُهُ الْأَبْصارُ وَ هُوَ يُدْرِكُ الْأَبْصارَ وَ هُوَ اللَّطيفُ الْخَبيرُ.</strong><strong> وَ ما كانَ لِبَشَرٍ أَنْ يُكَلِّمَهُ اللَّهُ إِلاَّ وَحْياً أَوْ مِنْ وَراءِ حِجابٍ أَوْ يُرْسِلَ رَسُولاً فَيُوحِيَ بِإِذْنِهِ ما يَشاءُ إِنَّهُ عَلِيٌّ حَكيمٌ.</strong><strong> ومن حدثك أنه يعلم ما في غد فقد كذب ثم قرأت : الْأَرْحامِ وَ ما تَدْري نَفْسٌ ما ذا تَكْسِبُ غَداً. ومن حدثك أنه كتم فقد كذب ثم قرأت : </strong><strong>ا </strong><strong>أَيُّهَا الرَّسُولُ بَلِّغْ ما أُنْزِلَ إِلَيْكَ مِنْ رَبِّكَ&#8230; (الآية)، ولكنه رأى جبرئيل عليه السلام في صورته مرتين .</strong><strong> </strong></h2>
<p>“Wahai Bunda, apakah (Nabi) Muhammmad saw. melihat Tuhannya? Maka Aisyah berkata, “Benar-benar bulu romaku merinding dari apa yang engkau katakana! Kemana engkau dari tiga perkara, siapa yang berbicara kepadamu tentang tiga perkara itu pastilah ia benarr-benar telah berbohong;<span style="text-decoration:underline;"> </span><strong><span style="text-decoration:underline;">siapa yang berkata kepadamu bahwa Muhammad saw. telah melihat Tuhannya maka ia benar-benar telah berbohong</span>.</strong> Kemudian ia membacakan ayat: “<em>Dia tidak dapat dicapai oleh penglihatan mata, sedang Dia dapat melihat segala penglihatan itu dan Dialah Yang Maha Halus lagi Maha Mengetahui.” </em>(QS. Al An’âm;103)</p>
<p>Dan: <em>“</em><em>Dan tidak ada bagi seorang manusia pun bahwa Allah berkata- kata dengan dia kecuali dengan perantaraan wahyu atau di belakang tabir atau dengan mengutus seorang utusan (malaikat) lalu diwahyukan kepadanya dengan seizin- Nya apa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Dia Maha Tinggi lagi Maha Bijaksana.”</em> (QS. Asy Syura;51<strong>)</strong></p>
<p>Dan barang siapa yang berbicara kepadamu bahwa Nabi mengetahui dengan pasti apa yang akan terjadi besok maka ia benar-benar telah berbohong. Kemudian ia membacakan ayat: “<em>Sesungguhnya Allah, hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang Hari Kiamat; dan Dia-lah Yang menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang ada dalam rahim. Dan tiada seorang pun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok. Dan tiada seorang pun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (QS. Luqman;34</em><strong> )</strong></p>
<p>Dan barang siapa berbicara kepadamu bahwa Nabi merahasiakan wahyu maka ia benar-benar telah berbohong. Kemudian ia membacakkan ayat:<em> “Hai Rasul, sampaikanlah apa yang di turunkan kepadamu dari Tuhanmu….” (QS. Al Maidah;67)</em></p>
<p>Akan tetapi Nabi melihat malaikatJibril as. dalam bentuk aslinya sebanyak dua kali.”<a href="http://abusalafy.wordpress.com/wp-admin/#_ftn1">[1]</a></p></blockquote>
<p>Dalam riwayat lain Imam Bukhari juga meriwayatkan dari jalur Sya’bi dari Masrûq dari Aisyah ra., ia berkata:</p>
<blockquote>
<h2 style="text-align:right;"><strong><span style="text-decoration:underline;">من حدثك أن محمداً صلى الله عليه وسلم رأى ربه فقد كذب</span></strong><strong><span style="text-decoration:underline;">،</span></strong><strong> وهو يقول : لا تدركه الاَبصار، ومن حدثك أنه يعلم الغيب فقد كذب، وهو يقول : لا يعلم الغيب إلا الله . </strong></h2>
<p><em>“<span style="text-decoration:underline;">Barang siapa berbicara kepadamu bahwa Muhammad aw. melihat Tuhannya maka ia benar-benat telah berbohong</span>.<strong> </strong>Allah berfirman:</em><em> “Dia tidak dapat dicapai oleh penglihatan mata.” Dan barang siapa berbicara kepadamu bahwa dia (Nabi) mengetahui berita ghaib maka ia benar-benat telah berbohong. Allah berfiman:</em><em> “Tiada mengetahui ghaib kecuali Allah.”</em><a href="http://abusalafy.wordpress.com/wp-admin/#_ftn2"><strong>[2]</strong></a></p></blockquote>
<p><em> </em></p>
<p><strong>Riwayat Imam Muslim </strong></p>
<p>Imam Muslim meriwayatkan dari Ummul Mukminin Aisyah ra. ia berkata:</p>
<blockquote>
<h2 style="text-align:right;"><strong>&#8230; مَن زَعَمَ أَنَّ مُحمَّدًا (ص) رَأى رَبَّهُ <span style="text-decoration:underline;">فقَدْ أعظَمَ الفِريَةَ علىَ اللهِِ</span>.</strong></h2>
<p><em>“….. Barang siapa mengklaim bahwa Muhammad melihat Tuhannya maka ia benar-benar telah membuat-buat kepalsuan besar atas nama Allah.”</em> <a href="http://abusalafy.wordpress.com/wp-admin/#_ftn3">[3]</a></p></blockquote>
<p>Mendapati kenyataan sikap Ummul Mukminin Aisyah ra. itu dan penelanjangan yang tegas bahwa akidah itu adalah sebuah kepalsuan atas nama Allah, kelompok Salafi Mujassim (yang mana Sekte Wahhabi adalah anggota aktif di dalamnya) sakit hati kepada Ummul Mukminin Aisyah ra. dan langsung menghujatnya dan menghujaninya dengan kata-kata tidak senonoh.</p>
<p>Di antara pendekar Mujassimah (pendahulu/Salaf kaum Wahhâbi) yang paling berani terang-terangan menghujat Ummul Mukminin Aisyah ra. adalah <strong><em>Ibnu Khuzaimah</em></strong> (tokoh Mujassimah yang sangat mereka agungkan dan sanjung setinggi laingit).</p>
<p>Ibnu Khuzaimah berkata dalam kitab at Tauhid-nya:225</p>
<blockquote>
<h2 style="text-align:right;"><strong>هذه لفظة أحسب عائشة</strong><strong> </strong><strong>تكلمت بها في وقت غضب، ولو كانت لفظة أحسن منها يكون فيها درك لبغيتها كان</strong><strong> </strong><strong>أجمل بها، ليس يحسن في اللفظ أن يقول قائل أو قائلة: قد أعظم ابن عباس</strong><strong> </strong><strong>الفرية، وأبو ذر، وأنس بن مالك، وجماعات من الناس الفرية على ربهم! ولكن</strong><strong> </strong><strong>قديتكلم المرء عند الغضب باللفظة التي يكون غيرها أحسن وأجمل منها&#8230; نقول</strong><strong> </strong><strong>كما قال معمر بن راشد لما ذكر اختلاف عائشة وابن عباس في هذه المسألة: ما</strong><strong> </strong><strong>عائشة عندنا أعلم من ابن عباس&#8230; وإذا اختلفا فمحال أن يقال قد أعظم ابن</strong><strong> </strong><strong>عباس الفرية على الله، لأنه قد أثبت شيئاً نفته عائشة&#8230;</strong><strong> .</strong></h2>
<p><em><strong>“Dalam hemat saya kata-kata Aisyah itu ia lontarkan dalam keadaan emosi!</strong> Andai ada kata-kata yang lebih indah darinya yang dapat merealisakan maksudnya pastilah lebih baik. Tidakkah benar seorang berkata bahwa Ibnu Abbas, Abu Dzarr, Anas ibn Malik dan sekelompok orang lainnya<strong> benar-benar telah membuat-buat kepalsuan besar atas nama Allah! Akan tetapi terkadang seorang berbicara di kala emosi dengan kata-kata yang mana ada kata lain yang lebih indah darinya…. Kami berkata, seperti ucapan Ma’mar ibn Rasyid ketika menyebut-nyebut perbedaan pendapat Aisyah dan Ibnu Abbas dalam masalah ini (Ru’yatullah): Aisyah menurut kami tidak lebih pintar dari Ibnu Abbas… Jika keduanya berselisih maka mustahil dikatakan bahwa Ibnu Abbas telah mengada-ngada atas nama Allah, sebab ia telah menetapkan sesuatu yang dinafikan oleh Aisyah… “</strong></em></p></blockquote>
<p>Di sini, dengan terang-terangan <em>Ibnu Khuzaimah</em> menuduh Ummul Mukminin Aisyah ra. telah bersikap bodoh ketika tak mampu mengontrol emosinya dan kemudian melontarkan kata-kata tersebut! Selain itu <em>Ibnu Khuzaimah</em> melakukan sebuah kesalahan ketika menisbatkan perselisihan itu antara Aisyah ra. dan Ibnu Abbas ra.. Sebab dalam kenyataannya hujatan A’isyah ra. itu ia alamatkan kepada <em>Ka’ab al Ahbâr </em>(si pendeta yang pertama kali menyebarkan kesesatan itu)… namun siapapun yang menjadi alamat hujatan Aisyah ra. yang pasti tuduhan Ibnu Khuzaimah itu sudah keterlulan…!!</p>
<p>Namun dari semua itu ada pelajaran berharga yang dapat kita ambil yaitu bahwa kaum Mujassimah tidak akan segan-segan bersikap kasar, menteror siapapun yang mencoba-coba menggoyang akidah tajsim mereka!! Jadi jangan harap Anda akan dihormati oleh mereka jika Aisyah –istri Nabi saw.- saja mereka lecehkan dan mereka hujat tanpa dasar seperti itu!</p>
<p>Dan yang lebih mengerikan adalah apabila mereka merasa kuat dan memiliki pendukung yang sanggup mendukung aksi teror dan hingga pembantaian, pasti mereka akan lakukan aksi bengis tak berpri-kemanusian itu!</p>
<p>Dalam kesempatan ini saya hanya akan mengutip dua bukti sejarah akan kejahatan pendahulu kaum Wahhabi ini, agar Anda tidak merasa heran jika kaum Salafi Wahhabi sekarang juga mewarisi kebengisan dan keganasan sikap tersebut!</p>
<p><strong>Mereka Berusaha Membunuh Imam Ath Thabari Karena Menolak Akidah Allah Bersemayam Di atas Arsy!</strong></p>
<p>Ketika kaum hanbaliyah menguat posisinya, khususnya di masa kekuasaan al Mutawakkil –seorang Khalifah bengis yang mendukung habis-habisan konsep kaum hanbaliyah yang mujasiimah dan kaum mujassimah murni- dan dengan dukungan kaum awam yang menjadi pengikutn fatanik butanya, mereka mulai melakukan terror terhadap siapapun ulama yang tidak mendukung akidah sesat mereka!</p>
<p><em>Imam Ibnu Jarir ath Thabari</em> –yang tidak diragukan ‘kesalafannya’- menjadi sasaran teror dan amuk massa kaum awam Hanbaliyah dengan arahan ulama berwawasan sempit dan berhati dengki mereka-. Berita teror itu sangat masyhur dalam kitab-kitab sejarah.</p>
<p>Mereka memancing <em>Ibnu Jarir</em> dengan pertanyaan tentang duduknya Allah di atas Arsy-Nya, lalu beliau menafikan akidah yang tidak berdasar itu bahwa Allah duduk di atas Arsy-Nya lalu mendudukkan Nabi mulia-Nya di samping-Nya! Maka mereka langsung menyerang dan berusaha membunuhnya! Namun Allah masih menyemalatkan beliau! Tidak puas karena gagal, kaum Hanâbilah selalu menterornya sehingga ketika beliau wafat, mereka beurusaha sekali lagi untuk melarang beliau dikebumikan di pemakaman kaum Muslimin sehingga terpaksa beliau di kebumikan di dalam rumahnya sendiri!! Subhanallah! Alangkah ganasnya sikap pendahulu kaum Wahhâbiyah ini!</p>
<p>Demikian juga mereka melakukan hal serupa terhadap<em><strong> Imam Ibnu Hibbân</strong></em> –seorang hafidz dan muhaddis agung-!!</p>
<p>Al Hamawaini melaporkan dalam kitab Mu’jam al Udabâ’,9/18/57 ketika menyebut Imam Ibnu Jarir ath Thabari:</p>
<blockquote>
<h2 style="text-align:right;"><strong>فلما قدم إلى بغداد من طبرستان بعد رجوعه إليها تعصب عليه أبو عبد الله</strong><strong> </strong><strong>الجصاص وجعفر بن عرفة والبياضي. وقصده الحنابلة فسألوه عن أحمد بن حنبل في</strong><strong> </strong><strong>الجامع يوم الجمعة، وعن حديث الجلوس على العرش، فقال أبو جعفر:أما أحمد بن</strong><strong> </strong><strong>حنبل فلا يعد خلافه. فقالوا له:فقد ذكره العلماء في الاختلاف، فقال:ما</strong><strong> </strong><strong>رأيته روي عنه ولا رأيت له أصحاباً يعول عليهم. وأما حديث الجلوس على</strong><strong> </strong><strong>العرش فمحال، ثم أنشد</strong><strong>:</strong></h2>
<table style="text-align:right;" dir="rtl" border="0" cellpadding="0" width="380">
<tbody>
<tr>
<td>
<h2><strong>سبحان من ليس له أنيسُ</strong></h2>
</td>
<td>
<h2><strong>ولا له في عرشه جليسُ</strong></h2>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<h2 style="text-align:right;"><strong>فلما سمع ذلك الحنابلة منه وأصحاب الحديث وثبوا ورموه بمحابرهم وقيل كانت</strong><strong> </strong><strong>ألوفاً، فقام أبو جعفر بنفسه ودخل داره فرموا داره بالحجارة حتى صار على</strong><strong> </strong><strong>بابه كالتل العظيم! وركب نازوك صاحب الشرطة في ألوف من الجند يمنع عنه</strong><strong> </strong><strong>العامة، ووقف على بابه يوماً إلى الليل وأمر برفع الحجارة عنه</strong><strong>.</strong></h2>
<p>“Maka ketika beliau mengunjungi kota Baghdad dari daerah Tharabistân, setelahnya Abu Abdillah al Jashshâsh, Ja’far ibn ‘Arafah dan al Bayâdhi mendengkinya. Kaum Hanâbilah (Hanbaliyah) mendatanginya lau bertanya kepadanya di masjid Jami’ pada hari Ju’mat tentang Ahmad ibn Hanbal dan tentang hadis duduknya Allah di atas Arsy-Nya. Maka Abu ja’far (ath Thabari) menjawab: “Adapun Ahmad beliau tidak terhitung sebagai ahli fikih yang perbedaan pendapatnya dihitung.” Mereka berbalik menjawab, “Tetapi para ulama menyebutkannya dalam hal ikhtilaf!” Ath Thabari menjawab, “Aku tidak melihatnya telah diriwayatkan darinya itu dan aku juga tidak melihat beliau punya murid-murid yang dapat diandalkan.”</p>
<p>Adapun hadis tentang duduknya Allah di atas Arsy-Nya, itu mustahil. Lalu beliau membacakan sebuah syair:</p>
<p>Maha suci Dzat yang tidak punya teman penghibur *** tidak juga duduk di Arsy-Nya teman pendamping.</p>
<p>Maka ketika kaum Hanâbilah dan pendukung hadis mendengar itu darinya, mereka langsung menyerangnya dan melemparinya dengan tempat-tempat tinta. Ada yang mengatakan bahwa jumlah mereka ribuan orang. Lau Abu Ja’far (ath Thabari) bangun dan segera masuk ke dalam rumahnya, maka mereka pun melemparin rumahnya dengan batu sehingga tumpukan batu di depan pintu rumah beliau seperti gunung!”</p></blockquote>
<p>Jadi demikianlah sikap mereka! Menteror, menyerang dan memamerkan adegan keganasan yang pantasnya dilakonkan para preman jalanan tak beradab!</p>
<p>Siapaun yang menyelishi “akidah miring” mereka segera dikecam, disesatkan, dan akhirnya dikafirkan dan dihalalkan darahnya!</p>
<p>Kaum Wahhabi mewarisi keganasan sikap kaum <strong>Ghulât Hanbaliyah</strong> yang tidak pernah akan mentolerir siapapun dan apapun yang menyelisihi pendapat mereka! Seakan pendapat mereka adalah wahyu langit yang <em>Lâ Ya’tîhil Bâthilu Min Baini Yadaihi walâ min Khalfihi</em>!</p>
<p>Bukti nyata adalah kondisi keberagamaan di kota suci yang telah dicaplok oleh rezim keluarga Sa’ud yang ditopang oleh lembaga-lembaga angker seribu satu muthawwe’! Di sana kebebesan adalah menjadi komoditas langka yang aneh! Semua dipaksa mengikuti agama sesuai dengan pemahaman kaum Arab baduwi dari dusun Najd…. Semua kaum Muslimin yang hendak mencium jeruji makam suci Rasulullah saw. sebagai ungkapan kecintaan dan kerinduan, lansung saja disambut dengan ‘jenggongan muthawwe’ (polisi syari’at) yang bertebaran di sekitar pusara suci junjungan Nabi tercinta kita Muhammad saw.: Syririk! Syririk! Syririk!</p>
<p>Ketika sorang Muslim menghadap ke makam suci beliau sambil membaca ayat-ayat suci Al Qur’an atau membaca do’a…. para muthawwe’ itu langsung mendatanginya dengan kasar seraya mengatakan, hai Musyrik, arah kiblat di sana, jangan menghadap Muhammad!</p>
<p>Kita semua dipaksa menerima pamahaman tauhid dan syirik <em>ala</em> mufti-mufti buta dan dangkal!</p>
<p>Celakalah jika ada yang berani mendebat mereka dan menyampaikan argumentasinya!</p>
<p>Kami sarankan Anda jangan mencoba nekad melakukannya. Sebab kami khawatir nasib Anda seperti teman-teman sebelumnya, dihukum dan di adili tanpa keadilan!</p>
<p>Jika kaum Wahhabi di Indonesia keberatan dan menganggap apa yang kami sampaikan tentang teror Wahhabi itu fitnah maka kami berharap mereka mampu membawakan wajah cemerlang kebebasan beragama sesuai dengan mazhab masing-masing di Arab Saudi sana!</p>
<p>Para pembaca yang kami muliakan, di Arab Saudi sana, mengadakan pembacaan Maulid Nabi saw. lebih berbahaya ketimbang menggelar pesta Homo yang biasa digelar sebagian pemuda jalang lapuk di sana! Mencari kitab Maulid Diba’ atau Barzanji lebih sulit ketimbang mencari ganja atau wanita lacur! Kami tidak mengatakannya serampangan… semua adalah kenyataan.</p>
<p>Menggelar pembacaan Maulid adalah sebuah kejahatan yang kerenanya pantas dihukum dalam hukum kaum Wahhabi!</p>
<p>Jika kaum Wahhabi menganggap itu bid’ah, mestinya mereka harus tasâmuh/toleran, karena banyak kaum Muslim (bahkan seluruhnya selain mereka) tidak menganggapnya bid’ah! Lalu mengapakah mereka memaksakan pandapatnya ke atas seluruh kaum Muslimin!</p>
<p>Sikap mereka mirip dengan sikap kaum Komunis (PKI) yang apabila berkuasa tidak memberi kebebasan bagi pendapat lain untuk tumbuh dengan layak berdasarkan dalil-dalil yang diyakininya!</p>
<p>Jika mereka menganggap mencium jeruji makam suci Rasulullah saw. itu adalah syirik, maka mereka perlu ketahui bahwa hanya mereka saja yang memahaminya secara miring konsep itu!! Ulama Islam dari berbagai mazhab tidak! Lalu mengapakah mereka memaksakannya ke atas seluru kaum Muslimin se dunia yang menziarahi kota suci itu untuk mengikuti pandangan miring mereka?!</p>
<p>Inilah teror…. yang selalu menghiasi ‘Mazhab Horor’!!! dan ini pulalah yang akan menjadi penyebab kehancuran dan keruntuhan ‘Mazhab Horor’ yang ditegakkan di atas pondasi kekerasan dan pemaksaan kehendak dan pendapat, persis seperti nasib komunisme… ia runtuh bersama keruntuhan Uni Soviet benteng komunisme terkokoh! Nantikan! Janji Allah pasti terlaksana. Allah akan membebaskan dua kota suci kita kaum Muslimin dari cengkeraman Mazhab Horor!</p>
<p>Semoga Allah menyelamatkan umat Islam dari kejahatannya! <em>Amîn Ya Rabbal ‘Âlamîn.</em></p>
<hr size="1" /><a href="http://abusalafy.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref1">[1]</a> Shahih Bukhari,6/50.</p>
<p><a href="http://abusalafy.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref2">[2]</a> Ibid.8/166 dan hadis-hadis serupa juga telah ia riwayatkan dalam banyak kesempatan lain.</p>
<p><a href="http://abusalafy.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref3">[3]</a> Shahih Muslim,1/110.</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/abusalafy.wordpress.com/575/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/abusalafy.wordpress.com/575/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/abusalafy.wordpress.com/575/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/abusalafy.wordpress.com/575/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/abusalafy.wordpress.com/575/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/abusalafy.wordpress.com/575/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/abusalafy.wordpress.com/575/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/abusalafy.wordpress.com/575/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/abusalafy.wordpress.com/575/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/abusalafy.wordpress.com/575/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abusalafy.wordpress.com&blog=1269412&post=575&subd=abusalafy&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abusalafy.wordpress.com/2009/10/21/pendahulu-kaum-wahhabi-menebar-teror-sadis/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>8</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/dcc398e7d74a34e59c3d59ffcc0673ff?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">abusalafy</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Telah Terbit Buku Perdana Abu Salafy</title>
		<link>http://abusalafy.wordpress.com/2009/10/20/telah-terbit-buku-abu-salafy/</link>
		<comments>http://abusalafy.wordpress.com/2009/10/20/telah-terbit-buku-abu-salafy/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 20 Oct 2009 05:47:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abusalafy</dc:creator>
				<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[Buku Abu Salafy]]></category>
		<category><![CDATA[Ibnu Abdul Wahab]]></category>
		<category><![CDATA[Kasyfu asy Syubuhat]]></category>
		<category><![CDATA[Manhaj]]></category>
		<category><![CDATA[Mengenal Pemimpin Wahabi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abusalafy.wordpress.com/?p=517</guid>
		<description><![CDATA[Telah Terbit Buku Abu Salafy 
Sinopsis Dari BukuDiskon.Com

Judul                     :    Mazhab Wahabi
Tema                      :    Monopoli Kebenaran dan Keimanan ala Wahabi
Penulis                  :    Abu Salafy
Edisi                       :    pertama
Tahun Terbit      :    September, 2009
Dimensi                :    15 x 13,5 cm
Jml. Halaman    :    364 (termasuk indeks/pengantar)

Di negeri kita bahkan hampir di seluruh dunia Islam, ada sebuah fenomena tentang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abusalafy.wordpress.com&blog=1269412&post=517&subd=abusalafy&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p style="text-align:center;"><strong>Telah Terbit Buku Abu Salafy </strong></p>
<p style="text-align:left;"><strong><span style="color:#800080;">Sinopsis Dari</span> <a href="http://www.bukudiskon.com/books.aspx?item=12277" target="_blank">BukuDiskon.Com</a></strong></p>
<p><a href="http://abusalafy.files.wordpress.com/2009/10/abusalafy.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-515" title="abusalafy" src="http://abusalafy.files.wordpress.com/2009/10/abusalafy.jpg?w=185&#038;h=236" alt="abusalafy" width="185" height="236" /></a></p>
<p>Judul                     :    Mazhab Wahabi<br />
Tema                      :    Monopoli Kebenaran dan Keimanan ala Wahabi<br />
Penulis                  :    Abu Salafy<br />
Edisi                       :    pertama<br />
Tahun Terbit      :    September, 2009<br />
Dimensi                :    15 x 13,5 cm<br />
Jml. Halaman    :    364 (termasuk indeks/pengantar)</p>
<p><span id="more-517"></span></p>
<p>Di negeri kita bahkan hampir di seluruh dunia Islam, ada sebuah fenomena tentang Mazhab Wahabi, berawal dari dakwah tauhid yang diajarkan oleh<em> Syeikh Muhammad bin Abdul Wahab at-Tamimi </em>yang lahir pada tahun 1111 H da wafat tahun 1206 H.</p>
<p>Banyak ulama yang mengecam doktrin Wahabi karena melakukan pemusyrikan dan pengkafiran terhadap seama Muslim yang tidak sependapat dengannya. Di antaranya ialah <em>Syeikh Muhammad Hasan Shadiq Khan</em> (seorang Salafy) yang secara terang-terangan menyatakan bahwa Ahli HAdis telah berlepasdiri dari Wahabiyah karena bersikap keras dan gegabah dalam mencucurkan darah suci kaum Muslim.</p>
<p>Tentu saja, Mazhab Wahabi mempunyai alasan dan dalil untuk melakukan itu semua. Lalu, bagaimanakah seharusnya kita menyikapi itu semua? Apakah Mazhab Wahabi dapat dibenarkan? Bagaimana hukumnya jika kita mengikuti ajaran Wahabi?</p>
<p>Dalam buku ini, penulis menguraikan dengan gamblang fenomena tentang Mazhab Wahabi secara obyektif. Semuanya dikemukakan dalam buku ini tanpa ada yang ditutup-tutupi. Detail dan akurat. Dengan penjelasan dan analisis Abu Salafy yang tajam disertai dengan data-data lengkap, kita bisa mendapatkan pemahaman yang tepat mengenai keduduan Mazhab Wahabi di dalam Islam.</p>
<p><em>&#8220;Kaum musyrik zaman kita (maksudnya adalah kaum Muslim dari keompok lain yang berbeda dengannya) itu lebih kafir dari kaum kafir Quraisy&#8230;&#8221;</em> <strong>Syeikh Muhammad bin Abdul Wahab at-Tamimi, pendiri Mazhab Wahabi</strong></p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/abusalafy.wordpress.com/517/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/abusalafy.wordpress.com/517/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/abusalafy.wordpress.com/517/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/abusalafy.wordpress.com/517/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/abusalafy.wordpress.com/517/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/abusalafy.wordpress.com/517/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/abusalafy.wordpress.com/517/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/abusalafy.wordpress.com/517/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/abusalafy.wordpress.com/517/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/abusalafy.wordpress.com/517/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abusalafy.wordpress.com&blog=1269412&post=517&subd=abusalafy&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abusalafy.wordpress.com/2009/10/20/telah-terbit-buku-abu-salafy/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>11</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/dcc398e7d74a34e59c3d59ffcc0673ff?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">abusalafy</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://abusalafy.files.wordpress.com/2009/10/abusalafy.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">abusalafy</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Seri Fatwa Pensesatan Salafy/Wahhabi &#8220;Hamas Kelompok Menyimpang&#8221;</title>
		<link>http://abusalafy.wordpress.com/2009/10/20/seri-fatwa-pensesatan-salafywahhabi-hamas-kelompok-menyimpang/</link>
		<comments>http://abusalafy.wordpress.com/2009/10/20/seri-fatwa-pensesatan-salafywahhabi-hamas-kelompok-menyimpang/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 20 Oct 2009 05:43:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abusalafy</dc:creator>
				<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[Fatwa Pensesatan]]></category>
		<category><![CDATA[Kenaifan Kaum Wahhabi]]></category>
		<category><![CDATA[Manhaj]]></category>
		<category><![CDATA[Mengenal Pemimpin Wahabi]]></category>
		<category><![CDATA[Wahabi dan Pengkafiran Umat Islam]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abusalafy.wordpress.com/?p=472</guid>
		<description><![CDATA[Seri Fatwa Pensesatan Salafy/Wahhabi &#8220;Hamas Kelompok Menyimpang&#8221;
Salafy/Wahhabi selalu mengelak jika kita katakan bahwa mereka adalah kelompok takfiri yang gampang sekali mencap kafir, sesat, bid&#8217;ah, syirik dan sejenisnya kepada kelompok umat Islam khususnya diluar kelompok mereka.
Dibawah ini akan kami hadirkan kepada pengunjung blog ini, salah satu fatwa pensesatan tersebut (sebetulnya tak repot mendapatkan fatwa-fatwa khas salafy/wahhabi [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abusalafy.wordpress.com&blog=1269412&post=472&subd=abusalafy&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><span style="color:#333399;"><strong>Seri Fatwa Pensesatan Salafy/Wahhabi &#8220;Hamas Kelompok Menyimpang&#8221;</strong></span></p>
<p>Salafy/Wahhabi selalu mengelak jika kita katakan bahwa mereka adalah kelompok takfiri yang gampang sekali mencap kafir, sesat, bid&#8217;ah, syirik dan sejenisnya kepada kelompok umat Islam khususnya diluar kelompok mereka.</p>
<p>Dibawah ini akan kami hadirkan kepada pengunjung blog ini, salah satu fatwa pensesatan tersebut (sebetulnya tak repot mendapatkan fatwa-fatwa khas salafy/wahhabi ini, silahkan anda masuki blog atau situs-situs salafy/wahhabi mana saja dan anda akan mendapati fatwa-fatwa model begini, karena ini adalah salah-satu hobi mereka).</p>
<p>Kali ini yang menjadi sasaran pensesatan mereka adalah gerakan kemerdekaan Palestina &#8220;Hamas&#8221;, yang menurut <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Muqbil_bin_Haadi_al-Waadi%27ee" target="_blank">ulama mereka</a> Asy- Syaikh <a href="http://ar.wikipedia.org/wiki/%D9%85%D9%82%D8%A8%D9%84_%D8%A8%D9%86_%D9%87%D8%A7%D8%AF%D9%8A_%D8%A7%D9%84%D9%88%D8%A7%D8%AF%D8%B9%D9%8A" target="_blank">Muqbil bin Haadi Al Wadi&#8217;i</a> <span style="color:#ff0000;"><em>&#8220;Hamas adalah kelompok jihad yang menyimpang&#8221;</em></span></p>
<p><span style="color:#ff0000;"><em><span id="more-472"></span><br />
</em></span></p>
<blockquote><p><span style="color:#ff0000;"><strong>SUMBER:</strong></span><a href="http://www.salafy.or.id/salafy.php?menu=detil&amp;id_artikel=578" target="_blank"> SALAFY ONLINE &#8211; http://www.salafy.or.id/salafy.php?menu=detil&amp;id_artikel=578</a></p>
<p><span style="color:#800000;"><strong>Hamas adalah kelompok jihad yang menyimpang</strong></span><strong> </strong></p>
<p><strong>kategori</strong> <a href="http://www.salafy.or.id/salafy.php?menu=arsip&amp;cat_id=6">Fatwa-Fatwa</a><strong> </strong></p>
<p><strong><span style="color:#ff0000;">Penulis: Asy Syaikh Muqbil bin Haadi</span></strong><strong> </strong></p>
<p><strong>Pertanyaan :</strong> Bagaimana pendapat Anda tentang kelompok Jihad Islam dan pergerakan Hamas di tanah Arab Palestina yang kini dijajah ?<strong> </strong></p>
<p><strong>Jawaban :</strong> (Maka Syaikh Muqbil menjawab dalam Tuhfatul Mujiib 145), “Semoga Allah merahmatinya, perihal Hamas, maka (Hamas) ini merupakan suatu Hizbi/Kelompok. Mereka tidak memerintahkan kebajikan dan mereka tidak mencegah dari kemungkaran. Justru mereka menyalahkan dan menghalangi Ahlus Sunnah.</p>
<p>Dan jika mereka menerima bantuan atau pertolongan, maka sungguh akan melakukan seperti yang dilakukan dalam Afghanistan (atas Ahlussunnah), dengan masing-masingnya memutar senjata mesin dan meriam mereka (Hamas) menyerang pada yang lain (Ahlusunnah).<strong></strong></p>
<p><strong>Artikel asli :</strong></p>
<div>
<p>سئل الشيخ مقبل رحمه الله كما في تحفة المجيب ص 145:” ما رأيكم في الجهاد الإسلامي وحركة المقاومة الإسلامية حماس في الأراضي العربية المحتلة في فلسطين فأجاب رحمه الله تعالى :أما جماعة حماس فهي جماعة حزبية لا تأمر بمعروف ولا تنهى عن منكر</p>
<p>وتنكر على أهل السنة ولو حصل لهم نصر لفعلوا كما فُعل في أفغانستان يوجه بعضهم إلى بعض المدفع والرشاش لأنهم ليسوا على قلب واحد (Artikel asli http://www.sahab.net/sahab/showthread.php?s=67a40fb39254725e880dec4bf1b75df6&amp;threadid=295768. تحفة المجيب ص 145:)</p>
<p>(Diterjemahkan tim salafy.or.id dari http://www.salafitalk.net/st/viewmessages.cfm?Forum=6&amp;Topic=3424 diposting oleh Abu Qaila Rasyid bin Estes Barbi (Raleigh/Durham, North Carolina. Murajaah ustadz Abu Hamzah).</p>
</div>
</blockquote>
<p>Kita semua tahu, bahwasanya sa&#8217;at ini <strong><em>Hamas </em></strong>adalah satu-satunya kelompok perjuangan Palestina yang masih getol dan bersemangat melawan penjajahan dan penistaan negara Zionis Yahudi, ditengah-tengah keputus-asahan dan ogah-ogahan negara-negara Arab melawan Zionis Israel dan memerdekakan saudara sebangsa (baca Arab) dan seagamanya yakni Palestina dari penjajahan Israel.</p>
<p>Tidak cukup negara-negara Arab penghianat (macam <a href="http://www.pk-sejahtera.org/v2/main.php?op=isi&amp;id=6661" target="_blank">Mesir</a>, <a href="http://swaramuslim.net/berita/more.php?id=A5730_0_12_0_M" target="_blank">Jordan</a>, dan <a href="http://swaramuslim.net/galery/more.php?id=A5523_0_18_0_M" target="_blank">Saudi Arabia</a>) yang bukannya mendukung perjuangan <em>Hamas</em> tapi  sebaliknya bersekongkol dengan Israel untuk melemahkan perjuangan Hamas, sekarang malah ikut-ikutkan para Ulama Wahabiyyun/Salafiyyun berfatwa &#8220;Mensesatkan&#8221; Gerakan Perlawanan Islam <em>&#8220;Hamas&#8221;</em> Seperti Fatwa Syaikh Muqbil diatas.</p>
<p style="text-align:center;"><a href="http://abusalafy.files.wordpress.com/2009/10/bush-abdullah.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-481" title="bush abdullah" src="http://abusalafy.files.wordpress.com/2009/10/bush-abdullah.jpg?w=450&#038;h=300" alt="bush abdullah" width="450" height="300" /></a><span style="color:#0000ff;"><em>Raja Abdullah (Saudi), George Bush</em></span></p>
<p style="text-align:center;"><span style="color:#0000ff;"><em><a href="http://abusalafy.files.wordpress.com/2009/10/abdullah-cs.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-490" title="abdullah cs" src="http://abusalafy.files.wordpress.com/2009/10/abdullah-cs.jpg?w=450&#038;h=300" alt="abdullah cs" width="450" height="300" /></a></em></span><span style="color:#0000ff;"><em>Dari kiri, Raja Abdullah (Saudi), Menlu Arab Saudi, Saud Al-faisal, Raja Abdullah (Jordan), George Bush</em></span></p>
<p style="text-align:center;"><span style="color:#0000ff;"><em><a href="http://abusalafy.files.wordpress.com/2009/10/mubarak-olmert.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-482" title="mubarak Olmert" src="http://abusalafy.files.wordpress.com/2009/10/mubarak-olmert.jpg?w=450&#038;h=300" alt="mubarak Olmert" width="450" height="300" /></a></em></span><a href="http://abusalafy.files.wordpress.com/2009/10/mubarak-olmert.jpg"><em>Senyum saudara kembar, Ehurt Olmert dan Husni Mubarak</em></a><span style="color:#0000ff;"><em><br />
</em></span></p>
<p style="text-align:center;"><a href="http://abusalafy.files.wordpress.com/2009/10/abbas.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-603" title="abbas" src="http://abusalafy.files.wordpress.com/2009/10/abbas.jpg?w=450&#038;h=300" alt="abbas" width="450" height="300" /></a><span style="color:#0000ff;">Presiden Palestina (antek Israel) dan mantan PM Zionis Olmert</span></p>
<p>Selain <em>Syaikh Muqbil</em> tak lama dari ingatan kita ketika <em>Gaza </em>di Gempur Habis oleh zionis biadab, seorang ulama wahhabi/salafy lainnya dari negeri seribu satu muthowwek &#8220;Saudi Arabia&#8221; dengan lantang berfatwa &#8220;Haram Demo Dukung Hamas&#8221; ! Tragis memang ketika suatu bangsa muslim di musnahkan oleh zionis biadab (lihat foto-foto pembantaian zionis di Gaza<a href="http://www.ccun.org/Opinion%20Editorials/2009/February/13%20o/Photos%20of%20UNRWA%20School%20in%20Beit%20Lahia,%20Gaza,%20Palestine,%20Attacked%20by%20US-Made%20Israeli%20White%20Phosphorus%20Bombs,%20a%20Documentary%20of%20Israeli%20War%20Crimes.htm" target="_blank"> disini</a>, <a href="http://myartikel.wordpress.com/2009/04/28/guardian-investigation-uncovers-evidence-of-alleged-israeli-war-crimes-in-gaza/" target="_blank">disini</a>, <a href="http://myartikel.wordpress.com/2009/02/08/foto-korban-pembantaian-dan-kebiadaban-israel-di-gaza/" target="_blank">disini</a>, <a href="http://www.guardian.co.uk/world/gallery/2009/jan/23/gaza-middleeast?picture=342225616" target="_blank">disini</a>, dan<a href="http://www.bubbleshare.com/album/524700/overview#17946550" target="_blank"> disini</a>), tiba-tiba seorang ulama bukannya memberikan dukungan moral atau mengutuk perbuatan biadab Israel eh&#8230; malah sebaliknya mengeluarkan fatwa yang aneh bin ajaib tapi nyata itulah Wahhaby/Salafy.</p>
<p><a href="http://abusalafy.files.wordpress.com/2009/10/gaza-korban-1.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-483" title="gaza korban 1" src="http://abusalafy.files.wordpress.com/2009/10/gaza-korban-1.jpg?w=331&#038;h=435" alt="gaza korban 1" width="331" height="435" /></a></p>
<p><a href="http://abusalafy.files.wordpress.com/2009/10/gaza-2.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-484" title="gaza 2" src="http://abusalafy.files.wordpress.com/2009/10/gaza-2.jpg?w=468&#038;h=372" alt="gaza 2" width="468" height="372" /></a></p>
<p style="text-align:center;"><a href="http://abusalafy.files.wordpress.com/2009/10/korban-bom-fosfor.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-496" title="korban bom fosfor" src="http://abusalafy.files.wordpress.com/2009/10/korban-bom-fosfor.jpg?w=467&#038;h=315" alt="korban bom fosfor" width="467" height="315" /></a><span style="color:#0000ff;">Korban bom fosfor zionis</span></p>
<p><a href="http://abusalafy.files.wordpress.com/2009/10/gaza4.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-495" title="gaza4" src="http://abusalafy.files.wordpress.com/2009/10/gaza4.jpg?w=467&#038;h=319" alt="gaza4" width="467" height="319" /></a></p>
<p><a href="http://abusalafy.files.wordpress.com/2009/10/gaza3.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-485" title="gaza3" src="http://abusalafy.files.wordpress.com/2009/10/gaza3.jpg?w=468&#038;h=379" alt="gaza3" width="468" height="379" /></a><span style="color:#0000ff;">Inilah Sebagian dari foto-foto korban pembantaian, kejahatan dan kebiadaban Zionis Israel tempo hari di Gaza &#8211; Palestina, yang mana sebagai hamba yang lemah kitapun dilarang oleh Ulama wahhabi/salafy untuk menunjukkan protes atas kebiadaban ini dengan berdemo. <span style="color:#ff0000;">Foto-foto lainnya bisa di lihat</span><span style="color:#ff0000;"> <a href="http://www.bubbleshare.com/album/524700/overview#17946550" target="_blank">disini</a></span><br />
</span></p>
<p style="text-align:center;"><a href="http://abusalafy.files.wordpress.com/2009/10/allahidan.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-486" title="allahidan" src="http://abusalafy.files.wordpress.com/2009/10/allahidan.jpg?w=439&#038;h=329" alt="allahidan" width="439" height="329" /></a><span style="color:#0000ff;">Syekh Shaleh Al-Luhaidan yang berfatwa bahwa demo menentang pembantaian zionis Israel atas bangsa Palestina sebagai <em>&#8220;Fasad fi al-Ardhi&#8221;</em> -kerusakan di muka bumi-</span></p>
<p>Fatwa tersebut keluar dari mulut Syekh Shaleh bin Muhammad Al Luhaidan (Kepala Dewan Pengadilan Tertinggi &#8211; Saudi Arabia), Sebagaimana diberitakan<a href="http://www.islamonline.net/servlet/Satellite?c=ArticleA_C&amp;cid=1230650254496&amp;pagename=Zone-Arabic-News/NWALayout" target="_blank"> </a><em><strong><a href="http://www.islamonline.net/servlet/Satellite?c=ArticleA_C&amp;cid=1230650254496&amp;pagename=Zone-Arabic-News/NWALayout" target="_blank">-ISLAM ONLINE-</a> </strong></em></p>
<p>Al Luhaidan, mengatakan bahwa demonstrasi yang terjadi di jalanan negara Arab menentang kebiadaban Zionis Israel dan membela warga Gaza termasuk membuat <strong><em>&#8220;Fasad Fi Al-ArdHi&#8221; </em></strong>atau kerusakan di muka bumi, tidak ada kebaikannya dan perbuatan yang melalaikan manusia dari mengingat Allah. Ia menambahkan bahwa pelaku demonstrasi adalah orang-orang yang tak berakal. Selanjutnya Syekh Al-Luhaidan mengatakan cukup mendoakan bangsa Palestina dan Qunut (Nazilah) di masjid-masjid&#8230;&#8230;<a href="http://www.islamonline.net/servlet/Satellite?c=ArticleA_C&amp;cid=1230650254496&amp;pagename=Zone-Arabic-News/NWALayout" target="_blank">lengkapnya bisa dibaca disini</a> dan baca juga fatwa sejenis &#8220;pengharaman demo dukung Palestina&#8221; oleh ulama wahhabi/salafy Saudi Arabia lainnya  Syekh Saalih Al Fauzan <a href="http://swaramuslim.net/posting/printerfriendly.php?id=25_0_19_0_C" target="_blank">disini</a></p>
<p><span style="text-decoration:underline;"><strong>Abu Salafy Berkata:</strong></span></p>
<p>Apa bukti Syekh Muqbil mengatatakan: <strong>&#8220;Mereka tidak memerintahkan kebajikan dan mereka tidak mencegah dari kemungkaran. Justru mereka menyalahkan dan menghalangi Ahlus Sunnah&#8221;.</strong> Siapa gerangan yang di maksud &#8220;ahlussunnah&#8221; oleh Syekh Muqbil disini? Wahhabi/Salafy kah? bukankah <em>Hamas</em> adalalah Ahlussunnah? bukankah Mayoritas Ulama-ulama Ahlussunnah di dunia Islam mendukung Hamas? hanya wahhaby/salafy model syekh muqbil, Al-Luhaidan Cs dan antek-antek zionis Israel yang menentang <em>Hamas. </em></p>
<p>Abu Salafy bertanya-tanya ada apa kiranya hubungan antara Wahhaby/Salafy dan Zionis Yahudi, mengapa mereka melarang demonstrasi menentang kedholiman Israel? apakah benar demonstrasi menentang Israel suatu &#8220;kerusakan di muka bumi&#8221;? apakah pembantaian rakyat Palaestina yang tak berdosa oleh Israel bukan suatu &#8220;kerusakan di muka bumi&#8221; (<em>fasad fi al-Ardhi</em>)? <a href="http://swaramuslim.net/posting/printerfriendly.php?id=25_0_19_0_C" target="_blank">Kalau demo saja disebut membuat kerusakan di muka bumi, lalu Yahudi Israel yang 60 tahun menjajah tanah Palestina dan kini memborbardir Gaza dengan ribuan ton bom dan membunuh 900 orang dan melukai 4000-an lainnya, mereka disebut apa?</a> Terus Wahai Syekh Al Luhaidan apakah cukup dengan qunut nazilah dapat membebaskan Palestina dari penjajahan Israel?</p>
<p>Tentunya banyak ulama Islam dunia yang bereaksi waktu itu atas fatwa junun ini:</p>
<blockquote><p>Beberapa ulama menyatakan bahwa Fatwa Luhaidan yang telah dilansir oleh koran al Hayat, hari Sabtu (3/2) itu sebagai “perkataan yang amat memalukan“ bagi dunia Islam. Sedangkan yang lain mengatakan bahwa hal itu merupakan “kriminal besar“ karena memerintahkan orang lain untuk tidak mengungkapkan sikap lewat demontrasi.</p>
<p>Beberapa ulama yang melakukan pertemuan di Kairo sepakat bahwa demontrasi mendukung warga Gaza yang sedang dibantai Israel saat ini adalah wajib, secara syar’i dan aqli.</p>
<p>Salah satu dari ulama yang hadir adalah Syeikh Dr Wahbah Az Zuhaili, Wakil Ketua Majma’ Fuqaha As Syari’ah Amerika dan profesor bidang fikih di Universitas Damaskus.</p>
<p>Syeikh Wahbah merasa heran dan sangat mempertanyakan fatwa Al Luhaidan. “Di mana letak kerusakan di bumi, ketika kita melakukan demontrasi menentang kekejaman Israel atas Gaza? Mengatakan hal itu (pelarangan demonstrasi) sama dengan mengakui penjajahan. Jika demontrasi untuk menghancurkan kemungkaran maka hal itu bukan menciptakan kerusakan di bumi,“ ujar Syeikh Wahbah. <a href="http://swaramuslim.net/printerfriendly.php?id=6157_0_1_0_C" target="_blank">Selengkapnya baca di <em>SwaraMuslim</em></a></p></blockquote>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/abusalafy.wordpress.com/472/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/abusalafy.wordpress.com/472/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/abusalafy.wordpress.com/472/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/abusalafy.wordpress.com/472/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/abusalafy.wordpress.com/472/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/abusalafy.wordpress.com/472/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/abusalafy.wordpress.com/472/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/abusalafy.wordpress.com/472/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/abusalafy.wordpress.com/472/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/abusalafy.wordpress.com/472/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abusalafy.wordpress.com&blog=1269412&post=472&subd=abusalafy&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abusalafy.wordpress.com/2009/10/20/seri-fatwa-pensesatan-salafywahhabi-hamas-kelompok-menyimpang/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>10</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/dcc398e7d74a34e59c3d59ffcc0673ff?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">abusalafy</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://abusalafy.files.wordpress.com/2009/10/bush-abdullah.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">bush abdullah</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://abusalafy.files.wordpress.com/2009/10/abdullah-cs.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">abdullah cs</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://abusalafy.files.wordpress.com/2009/10/mubarak-olmert.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">mubarak Olmert</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://abusalafy.files.wordpress.com/2009/10/abbas.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">abbas</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://abusalafy.files.wordpress.com/2009/10/gaza-korban-1.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">gaza korban 1</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://abusalafy.files.wordpress.com/2009/10/gaza-2.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">gaza 2</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://abusalafy.files.wordpress.com/2009/10/korban-bom-fosfor.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">korban bom fosfor</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://abusalafy.files.wordpress.com/2009/10/gaza4.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">gaza4</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://abusalafy.files.wordpress.com/2009/10/gaza3.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">gaza3</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://abusalafy.files.wordpress.com/2009/10/allahidan.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">allahidan</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Salafy Vs Salafy: Kali Ini Fauzan Al Anshori Angkat Bicara !</title>
		<link>http://abusalafy.wordpress.com/2009/10/19/salafy-vs-salafy-kali-ini-fauzan-al-anshori-angkat-bicara/</link>
		<comments>http://abusalafy.wordpress.com/2009/10/19/salafy-vs-salafy-kali-ini-fauzan-al-anshori-angkat-bicara/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 19 Oct 2009 15:44:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abusalafy</dc:creator>
				<category><![CDATA[Salafy vs Salafy]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abusalafy.wordpress.com/?p=527</guid>
		<description><![CDATA[Ketika iseng-iseng mencari beberapa artikel eh&#8230;  malah menemukan tulisan Fauzan Al Anshori (dari Majlis Mujahidin) yang ditujukan kepada Salafiyyun-Wahabiyyun. Rupanya konflik internal dikalangan Salafiyyun-Wahabiyyun semakin nampak kepermukaan walaupun kalangan mereka berusaha mengelaknya.
Marilah kita ikuti unek-unek Fauzan Al Anshori kepada Ikhwan sesama Salafy/Wahabi-nya:
________________
SALAFIYYUN DALAM SOROTAN : BENARKAH GERAKAN SALAFY PALING AHLUS SUNNAH?
Oleh : Fauzan al-Anshori
(Sumber : [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abusalafy.wordpress.com&blog=1269412&post=527&subd=abusalafy&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Ketika iseng-iseng mencari beberapa artikel eh&#8230;  malah menemukan tulisan <strong>Fauzan Al Anshori</strong> (dari Majlis Mujahidin) yang ditujukan kepada Salafiyyun-Wahabiyyun. Rupanya konflik internal dikalangan Salafiyyun-Wahabiyyun semakin nampak kepermukaan walaupun kalangan mereka berusaha mengelaknya.</p>
<p>Marilah kita ikuti <em>unek-unek</em> Fauzan Al Anshori kepada Ikhwan sesama Salafy/Wahabi-nya:</p>
<p>________________</p>
<p><span style="color:#003366;"><strong>SALAFIYYUN DALAM SOROTAN : BENARKAH GERAKAN SALAFY PALING AHLUS SUNNAH?</strong></span></p>
<p><span style="color:#800000;"><span style="font-weight:normal;"><strong>Oleh : Fauzan al-Anshori</strong></span></span></p>
<p><span style="color:#003366;"><strong>(Sumber : majelis.mujahidin.or.id; dimuat Kamis, 12 Mei 2005) </strong></span></p>
<p><strong><span style="color:#ff0000;">di copas dari blog</span> <a href="http://sampaikan.wordpress.com/2007/02/15/salafiyyun-dalam-sorotan-benarkah-gerakan-salafy-paling-ahlus-sunnah/" target="_blank">sampaikan.wordpress.com</a></strong></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" align="justify"><span style="font-weight:normal;"> </span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" align="justify"><span style="font-weight:normal;">Sejak beberapa puluh tahun yang lalu, di tengah kaum muslimin muncul sebuah gerakan yang menamakan dirinya salafiyah atau salafiyyun. Mereka menyatakan dirinya sebagai umat Islam yang paling ahlu sunnah wal jama’ah, paling firqah najiyah, paling salafus sholih dan paling thaifah manshurah. Siapa bergabung dengan mereka, mereka anggap kelompok ahlu sunnah wal jama’ah. Siapa tidak bergabung dengan mereka, mereka sebut sebagai ahlu bid’ah, ahlul ahwa’, Hizbiyyah Khawarij, firqah dhalalah dan sebutan mengerikan lainnya. Sebenarnya apa gerakan salafiyyun itu? </span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" align="justify">
<p style="text-align:justify;margin:0;" align="justify"><span style="font-weight:normal;"><span id="more-527"></span><br />
</span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" align="justify"><span style="font-weight:normal;"> </span></p>
<p><span style="font-weight:normal;">Bagaimana aqidah dan manhaj mereka menurut Al-Qur’an dan As-Sunnah ‘ala fahmi Salafush Sholih? Betulkah yang bergabung dengan mereka termasuk ahlu sunnah, dan yang tidak bergabung termasuk hizbiyyah dan ahlu bid’ah? </span><span style="font-weight:normal;"> </span><span style="font-weight:normal;">Benarkah segala klaim dan tudingan mereka ?</span><span style="font-weight:normal;"> </span></p>
<p align="justify">Ada sebuah pertanyaan yang mengganjal dalam benak kita, manakala melihat kiprah gerakan salafiyyun di medan dakwah. Vonis-vonis keras kepada seorang atau kelompok Islam yang berada di luar arus mereka, dan pengkultusan kepada syuyukh (guru-guru) di kalangan mereka sehingga mereka tidak menerima bila syuyukh mereka dikritisi. Benarkah ini cerminan interaksi sosial ‘ala ahlus sunnah terhadap ahlul bid’ah? Ataukah ada sesuatu yang salah?<span id="more-6"> </span></p>
<p>1. TA’ASHUB DAN TAQLID BUTA</p>
<p align="justify">Bila diperhatikan, sebenarnya sikap ini bukanlah sebuah kebetulan belaka. Sikap ini lahir dari sikap hizbiyyah mereka, yang mereka terima dari para syuyukh mereka sendiri. Betapa tidak, sejak awal belajar seorang muslim yang bergabung dengan kelompok ini sudah didoktrin untuk menerima suatu dogma: bahwa kebenaran itu mempunyai tanda-tanda pengenal dan menara penerang, yang berwujud ajaran yang diterima dari kelompok mereka!</p>
<p align="justify">Itulah yang diajarkan para syuyukh mereka. Adalah syaikh Ali Hasan Al Halabi Al Atsari – seorang syaikh panutan mereka yang mengakui dirinya syaikhu salafiyyin ketiga setelah syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani dan syaikh Muhammad Ibrahim Syaqrah – yang menyatakan ijma’ tentang kedudukan tiga syuyukh salafiyyun ini dengan mengatakan:</p>
<p align="justify">“Para ulama kami yang agung itu, mereka itulah bintang-bintang pemberi petunjuk dan meteor yang tinggi, barangsiapa berpegang teguh dengan mentaati mereka, mereka itulah yang selamat dan barangsiapa memusuhi mereka, maka dialah orang yang tersesat” (At Tahdziru Min Fitnati Takfir, hal. 39)</p>
<p align="justify">Jika ini yang dikatakan oleh syaikh panutan mereka, lantas bagaimana dengan para pengikut mereka? Pernyataan ini perlu mendapat catatan yaitu: Pertama: Ijma’ menurut para ulama adalah kesepakatan seluruh ulama mujtahidin setelah wafatnya Rosululloh saw. –bukan para syuyukh salafiyyun– dalam suatu masa tertentu, atas suatu persoalan tertentu. Yang dimaksud dengan kesepakatan adalah tidak adanya pendapat yang menyelisihi meski dari seorang ulama pun. Bila ada seorang ulama yang menyelisihi, maka namanya bukan ijma’.</p>
<p align="justify">Kedua: Pernyataan bahwa siapa yang bergabung dengan syaikh fulan dan membelanya baik benar maupun salah berarti kelompok yang benar, dan siapa mengkritik (memusuhi?) dan tidak bergabung dengan syaikh fulan berarti kelompok yang salah dan sesat, hal itu merupakan sebuah hizbiyyah, ta’ashub buta dan taklid buta yang terlarang dan sama sekali bukan sikap ahlu sunnah.</p>
<p align="justify">Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan yang artinya: “Barangsiapa menjadikan seseorang selain Rosululloh, siapa mengikutinya dan sejalan dengannya, ia adalah seorang ahlu sunnah, dan siapa yang menyelisihinya berarti adalah ahlu bid’ah dan firqoh, sebagaimana terdapat pada kelompok ahlu kalam –dan juga salafiyyun hari ini– dan kelompok lainnya, maka ia termasuk ahlu bid’ah, dholal (sesat) dan tafaruq (pemecah belah persatuan umat Islam).” (Majmu’ul Fatawa 3/216)</p>
<p align="justify">Subhanallah, pernyataan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah ini telah menyingkap dengan telak, siapa sebenarnya gerakan salafiyyun ini. Alhamdulillah, kita tak perlu bersusah payah, Syaikhul Islam sudah membongkarnya dengan sangat telak.</p>
<p align="justify">Imam Abdurrahman Ibnu Jauzi mengatakan: “Ketahuilah sesungguhnya mayoritas para ahlu bid’ah itu dalam hati mereka ada ta’dzim (mengagungkan, mengkultuskan) seseorang –syaikh, ustadz, kiyai, habib, dll– mereka mengikuti perkataannya tanpa mentadaburi apa yang dikatakan, ini adalah sebuah kesesatan, karena melihat itu seharusnya kepada apa yang dikatakan, bukan kepada siapa yang mengatakan. Sebagaimana dikatakan oleh Imam Ali kepada Harits bin Hauth. Harits mengatakan kepada Ali, “Apakah anda mengira bahwa kami mengira Thalhah dan Zubair berada di atas kebatilan?” Maka Ali menjawab, “Wahai Harits, engkau ini terkena talbis (kerancuan). Sesungguhnya kebenaran tidak diketahui dari orang-orangnya. Ketahuilah kebenaran, maka engkau akan mengetahui pengikut kebenaran.” (Talbisu Iblis hal.101)</p>
<p align="justify">Sesungguhnya gerakan salafiyyun telah mendapat peringatan, kritikan dan nasehat dari para ulama, berkenaan dengan penyelisihan-penyelisihan mereka secara jelas terhadap aqidah ahlu sunnah wal jama’ah. Namun mereka tetap berjalan dengan penyelewengan mereka, bahkan semakin keras dan menyerang kelompok-kelompok umat Islam di luar mereka.</p>
<p>2. SEKULERISME</p>
<p align="justify">Maka inilah yang terjadi bagaimana sebuah kelompok yang menamakan dirinya salafiyyun, pengikut salafus sholih, namun menganut paham sekulerisme. Ini pernyataan syaikh nomer kedua mereka syaikh Muhammad Ibrahim Syaqrah yang artinya: “Saya meyakini bahwa slogan, “berikan hak kaisar kepada kaisar dan hak Tuhan kepada Tuhan” adalah sebuah kalimat bijaksana yang sesuai dengan zaman kita ini.” (Hiya As Salafiyatu Nisbatan wa Aqidatan wa Manhajan hal. 172).</p>
<p align="justify">Ya, tentu saja sangat sesuai dengan gerakan salafiyyun, namun jelas sangat bertentangan dan tidak sesuai dengan Islam. Semua Ulama Ahlus Sunnah wal Jama’ah memahami bahwa Islam adalah Agama dan Negara. Islam tidak sekedar mengatur urusan ritual peribadatan semata, namun juga mengatur seluruh aspek kehidupan manusia. Dan semua Ulama juga telah bersepakat, bahwa sekulerisme merupakan sebuah paham kufur.</p>
<p align="justify">Tak heran bila gerakan salafiyyun ini gencar melarang berbicara urusan politik, tahkimu syari’ah, amar ma’ruf kepada penguasa, apalagi urusan Khilafah Islamiyyah. Menurut mereka orang-orang yang mengangkat tema-tema tahkimu syari’ah, amar makruf kepada penguasa atau Khilafah Islamiyyah adalah kelompok hizbiyyun, khawarij, Ahlu bid’ah, orang-orang yang haus kekuasaan, orang-orang yang tidak mempedulikan urusan dakwah tauhid. Padahal jelas, seluruh Ulama telah ijma’ bahwa amar makruf dan menegakkan khilafah merupakan sebuah kewajiban kifayah. Fardhu khifayah bila tidak tuntas menjadi fardhu ‘ain. Adapun tuduhan tidak mempedulikan dakwah tauhid dan haus kekuasaan, tentunya sebuah tuduhan yang harus dibuktikan dengan bukti-bukti nyata, jika tidak tentu sebuah tuduhan kosong.</p>
<p align="justify">Yang lebih mengherankan lagi, mereka menganggap pemerintahan sekuler sebagai pemerintahan Islam yang wajib ditaati oleh kaum Muslimin. Maka semua orang yang paham tauhid tentu akan tertawa, ketika melihat kekonyolan mereka menganggap pemerintahan Nushairiyyah Syiria, misalnya, sebagai pemerintahan Islam yang harus ditaati, dan mereka menghujat Mujahidin Syiria yang berjihad melawan pemerintah Nushairiyyah. Padahal semua orang yang paham tauhid tentu paham bahwa Ulama Islam telah ijma’ bahwa Nushairiyyah adalah sekte kafir. Ya, kelucuan-kelucuan lainnya yang<br />
timbul dalam urusan ini tak bisa dipisahkan dari prinsip sekulerisme yang dianut oleh syuyukh mereka ini.</p>
<p>3. MENIHILKAN JIHAD</p>
<p align="justify">Ta’thil (menihilkan) jihad, itulah salah satu (sifat gerakan) salafiyyun yang mendakwahkan dirinya sebagai kelompok paling Ahlus Sunnah, atau bahkan satu-satunya Ahlus Sunnah dan di luar kelompok mereka (adalah) ahlul bid’ah dan hizbiyyah semua. Padahal jelas, salah satu sifat utama Thaifah Manshurah adalah jihad fie sabilillah, berperang di jalan Allah Ta’ala untuk meninggikan kalimatullah. Bahkan asbabul wurud hadits tentang Thaifah Manshurah pun berasal dari adanya sebagian shahabat Rasulullah shallalahu ‘alaihi wa salam yang menyatakan jihad sudah selesai.</p>
<p align="justify">Jihad merupakan sifat tak terlepaskan dari generasi salafu sholih, dan jihad akan senantiasa berlanjut sampai Umat Islam bertempur melawan Dajjal. Para Ulama juga telah ijma’ bahwa manakala musuh menduduki salah satu negeri Islam, jihad menjadi fardhu ‘ain. Negeri Islam pertama yang lepas ke tangan tentara salib adalah Andalus (Spanyol), tahun 1942 M, atau 510 tahun yang lalu. Sampai hari ini Andalus tetap menjadi negara nashrani, maka jihad membebaskannya fardhu ‘ain atas seluruh Umat Islam yang mampu. Bahkan negeri (Islam) Palestina yang hanya (berjarak) beberapa ratus kilometer dari pusat lahirnya gerakan salafiyyun, telah jatuh ke tangan Inggris sejak 1917 M, lalu ditegakkan negara Israel tahun 1948 M. Sampai saat ini, jihad untuk membebaskan Palestina belum tuntas, maka jihad untuk membebaskan Palestina menjadi fardhu ‘ain.</p>
<p align="justify">Namun begitu, simaklah fatwa syaikh Muhammad Ibrahim Syaqrah, yang tinggal hanya beberapa ratus kilometer dari bumi Palestina: “Silahkan anda meneliti ayat-ayat yang datang untuk melengkapi dan menjelaskan ayat yang memerintahkan untuk mempersiapkan kekuatan (yang dimaksud adalah QS. Al Anfal ayat ke: 60, pent.) maka anda akan mengetahui bahwa jihad yang paling utama hari ini -saat kita dalam kelemahan seperti sekarang ini- adalah menahan diri dari berjihad.” (Muhammad Ibrahim Syaqrah, Hiya As Salafiyatu Nisbatan wa Aqidatan wa Manhajan hal. 204).</p>
<p align="justify">Ya, itulah fatwa syaikh kedua gerakan salafiyyun. Maka mereka pun diam seribu bahasa, tidak peduli nasib kaum Muslimin Palestina yang setiap hari meregang nyawa di tangan peluru-peluru tentara zionis Israel. Mereka pun diam ketika dua juta Umat Islam Iraq meregang nyawa akibat embargo ekonomi (1991) dan invasi (2002) oleh tentara salibis Internasional dan didukung oleh negara-negara Arab antek AS. Bahkan mungkin anda akan terkejut membaca fatwa syaikh pertama mereka, fadhilatu syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani yang memfatwakan Umat Islam Palestina untuk berhijrah. Ya, silahkan berhijrah dari Palestina, tidak usah berjihad, serahkan saja bumi Palestina kepada Israel. Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un.</p>
<p align="justify">Barangkali syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani sedang tidak memegang buku aqidah salaf ketika memfatwakan begitu, sehingga lupa bahwa Al-Qur’an, As-Sunnah dan ijma’ salafu shalih telah menyatakan bahwa jihad akan tetap berlangsung sampai hari kiamat, sampai Umat Islam memerangi Dajjal. Barangkali saja, beliau lupa ada hadits mutawwatir tentang Thaifah Manshurah yang akan senantiasa berjihad sampai akhirnya mereka memerangi Dajjal.</p>
<p align="justify">Paling tidak, beliau masih meyakini adanya ‘idad. Jika begitu, masih lumayan. Tetapi fatwa beliau selanjutnya membuat kita bengong dan kaget. Ketika membicarakan ayat 60 surat Al-Anfal yang memerintahkan ‘idad beliau menyatakan: “Barangsiapa memperhatikan nash ini tentu ia akan menyatakan wajibnya menahan diri dari jihad (tidak berjihad), sampai i’dad mencapai taraf sempurna. Kadang bentuk i’dad adalah tidak beri’dad, karena tujuan i’dad memang untuk menakutkan musuh…” (Muhammad Ibrahim Syaqrah, Hiya As-Salafiyatu Nisbatan wa Aqidatan wa Manhajan, hal. 203).</p>
<p align="justify">Bentuk jihad adalah tidak jihad, bentuk i’dad adalah tidak i’dad, tidak ada jihad sampai i’dad mencapai taraf sempurna. Wahai Umat Islam Palestina, jangan berjihad melawan Israel sebelum kekuatan militer kalian menyamai militer Israel yang dibantu seluruh negara besar kafir semisal AS dan Inggris. Jangan berjihad melawan Israel sampai kalian memiliki tank, pesawat tempur, rudal-rudal dan bom nuklir sebanyak yang dimiliki Israel. Selama kekuaatan militer kalian tidak sama dengan kekuatan Israel, haram kalian untuk berjihad. Kewajiban kalian adalah i’dad, dan bentuk i’dad adalah tidak i’dad. Jadi?</p>
<p align="justify">Padahal menurut para ulama, i’dad dalam hal ini adalah i’dad menurut kemampuan (tafsir Ibnu Katsir 2/503). Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah juga menyatakan bahwa dalam perang defensif seperti manakala musuh menyerang negeri Umat Islam, saat itu Umat Islam tidak boleh mundur dari medan perang sekalipun musuh berkali-kali lipat dari jumlah Umat Islam. Musuh dihadapi, dengan kemampuan yang ada. (Fatawa al-Kubra 1/236).</p>
<p align="justify">Dan untuk umat Islam Afghanistan, fatwa itu maknanya: jangan berjihad melawan AS dan sekutunya selama kekuatan militer kalian tidak sama besar dengan kekuatan militer AS dan sekutunya. Jangan melawan serbuan AS, jika pasukan komando, tank, kapal selam, pesawat tempur, pesawat siluman, rudal, bom nuklir, kapal pembom, kapal induk, kapal perusak kalian belum sama banyak dan sama kuat dengan milik AS dan sekutunya. Jangan berjihad cukup i’dad saja. Tawaran manis bukan?</p>
<p align="justify">Saudaraku…untuk kepentingan siapa Umat Islam diajak menyerah dengan takdir, berpangku tangan, tidak berusaha…bukankah ini menyerah kepada taqdir versi sekte sesat Jabariyah dan Jahmiyah…? Jika Allah menakdirkan AS mengganyang Afghanistan, bukankah itu takdir yang harus diterima dengan lapang dada? Jika memang sudah takdirnya Israel menjajah Palestina dan membantai Umat Islam, kenapa kita harus mempersoalkannya? Jika Allah menakdirkan Khilafah Islamiyyah jatuh akibat konspirasi musuh Islam Internasional, kenapa kita harus ribut? Bukankah dengan sekali kun fayakun, AS akan hengkang, Israel akan binasa dan khilafah tegak. Kenapa harus bersusah payah? Bukankah lebih baik duduk di bawah kipas angin di masjid, asyik membaca buku dan membicarakan kejelekan para da’i di luar kelompok kita?</p>
<p align="justify">Untuk kepentingan siapa syaikh mereka, syaikh Rabi’ Al-Madkhali mengarahkan meriam takfir (pengkafiran) kepada Sayid Quthb yang aktif mengkritik pemerintahan sekuler? Kemudian anda melihat mereka duduk berpangku tangan, menerima takdir, puas dengan aqidah Jahmiyyah-Jabbariyyah, demi keselamatan “aqidah salafiyah” mereka?</p>
<p align="justify">Tentara salibis dan zionis membantai ratusan ribu bahkan jutaan Umat Islam, tentara sekuler menegakkan pemerintahan sekuler dan bahu membahu dengan tentara salibis-zionis untuk memadamkan cahaya Allah Ta’ala, lantas anda berpangku tangan demi keselamatan “aqidah salafiyyah” anda, agar tidak diusik oleh tentara salibis, zionis dan sekuleris? Anda ingin cahaya Islam menerangi persada dunia ini dengan tanpa membuat orang-orang yahudi, nashrani dan musyrikin memarahi dan membenci anda? Jika itu aqidah anda, silahkan saja. Namun bagi Umat Islam lain di luar kelompok anda, tentu tak akan melupakan petuah Syaikhul Islam Ibnu Qayyim:</p>
<p align="justify">“Wahai orang-orang yang bermental banci, di mana anda dari jalan? Jalan di mana di atasnya: Adam kelelahan, Nuh meratap sedih, Al-Khalil dilempar ke dalam api, Ismail dibaringkan untuk disembelih, Yusuf dijual dengan harga murah dan dipenjara beberapa tahun, Zakaria digergaji, Yahya disembelih, Ayyub menderita sakit parah, tangisan Daud melebihi batas kewajaran, Isa berjalan kesusahan seorang diri dan Muhammad sholallahu ‘alaihi wa salam mengalami kemiskinan dan berbagai siksaan. Anda malah bersantai dengan kelalaian dan permainan?” (Al-Fawaid, hal. 56).</p>
<p>4. CUEK DENGAN NASIB UMAT ISLAM</p>
<p align="justify">Syaikh Muhammad Ibrahim Syaqrah menyatakan: “Termasuk fiqhul waqi’ (memahami realita yang ada) adalah engkau meninggalkan fiqhul waqi’ supaya fiqhul waqi’ menjadi sempurna dalam dirimu sehingga engkau menjadi orang yang paling tahu dan paham tentang fiqhul waqi’.” (Hiya As-Salafiyatu Nisbatan wa Aqidatan wa Manhajan, hal. 148).</p>
<p align="justify">Tak usah membaca koran, majalah, mendengar radio, melihat TV. Tak usah peduli dengan segala apa yang terjadi dengan dunia sekitar anda. Tak usah peduli dengan nasib ratusan juta Umat Islam di seluruh dunia, biarkan saja mereka, nanti anda akan menjadi orang yang paling paham dengan kondisi mereka. Diamnya anda, kesibukan anda dengan tarbiyyah dan tashfiyyah, kecuekan anda dengan jahiliyyah modern hari ini, akan menjadikan anda orang yang paling paham dengan kondisi dunia modern. Anda cuek dan diam, sibuk dengan urusan anda, maka anda akan menjadi orang yang paling pintar, mengalahkan semua pengamat. Untuk pandai dan paham tentang dunia sekitar, tak perlu belajar dan mencari tahu, cukup tashfiyyah dan tarbiyyah, kun fayakun anda jadi orang paling pintar.</p>
<p align="justify">Sebuah prinsip yang sangat bagus dan menggiurkan. Ukhuwah Imaniyyah yang menuntut kita memperhatikan nasib seluruh saudara kaum Muslim di dunia, bisa dirontokkan dengan dua baris kalimat sakti syaikh salafiyyah. Bila demikian keadaannya, maka hendaklah kita mencamkan wasiat Shahabat Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu: “Ikatan Islam akan lepas satu persatu bila di kalangan Umat Islam timbul sebuah generasi yang tidak paham dengan jahiliyyah” (Ibnul Qayyim Al-Jauziyah, Al-Fawaid, hal. 143).</p>
<p align="justify">Tidak paham konspirasi salibis-zionis-musyrikin, tidak paham kondisi saudara-saudara Muslim di berbagai belahan dunia yang sedang kesulitan, tidak paham sekulerisme, Khawarij, Murjiah, Jabariyyah, Jahmiyyah, bahkan tidak paham ahlus sunnah wal Jama’ah. Ya sudah, hancurlah Islam. Lepaslah ikatan Islam.</p>
<p align="justify">Inilah gambaran sekilas latar belakang pemikiran gerakan sesat Murji’ah ekstrim, yang hari ini dengan bangga menggelari dirinya sebagai gerakan salafiyyah. Mereka menganggap penyelewengan mereka dari aqidah ahlu sunnah wal jama’ah sebuah perkara remeh, padahal di sisi Allah Ta’ala sebuah perkara besar.</p>
<p align="justify">Tulisan super singkat ini belum membahas banyak hal tentang aqidah dan manhaj gerakan salafiyyah. Insya Allah, di lain kesempatan berbagai masalah yang berkaitan dengan gerakan ini akan disorot. Yang jelas, kemungkinan besar akan ada pihak-pihak yang merasa keberatan dan tidak terima dengan tulisan ini. Maka kepada saudara Muslim siapa pun dirinya kami nasehatkan beberapa hal berikut ini:</p>
<p align="justify">a. Mengembalikan seluruh perselisihan kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah sesuai pemahaman salafus sholih.</p>
<p align="justify">b. Tidak ta’ashub buta dan taqlid buta kepada siapa pun, seberapa pun kebesaran jasanya dan ketinggian ilmunya, karena tidak ada yang ma’shum selain Rasulullah shalallahu ’alaihi wa salam</p>
<p align="justify">(Sumber : majelis.mujahidin.or.id; dimuat Kamis, 12 Mei 2005)</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/abusalafy.wordpress.com/527/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/abusalafy.wordpress.com/527/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/abusalafy.wordpress.com/527/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/abusalafy.wordpress.com/527/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/abusalafy.wordpress.com/527/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/abusalafy.wordpress.com/527/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/abusalafy.wordpress.com/527/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/abusalafy.wordpress.com/527/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/abusalafy.wordpress.com/527/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/abusalafy.wordpress.com/527/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abusalafy.wordpress.com&blog=1269412&post=527&subd=abusalafy&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abusalafy.wordpress.com/2009/10/19/salafy-vs-salafy-kali-ini-fauzan-al-anshori-angkat-bicara/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>19</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/dcc398e7d74a34e59c3d59ffcc0673ff?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">abusalafy</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Mufti Wahhâbi-Salafy Mengafirkan Nabi Ya’qub as. Dan Melegalkan Pembangkangan Iblis!</title>
		<link>http://abusalafy.wordpress.com/2009/10/19/mufti-wahhabi-mengafirkan-nabi-ya%e2%80%99qub-as-dan-melagalkan-pembangkangan-iblis/</link>
		<comments>http://abusalafy.wordpress.com/2009/10/19/mufti-wahhabi-mengafirkan-nabi-ya%e2%80%99qub-as-dan-melagalkan-pembangkangan-iblis/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 19 Oct 2009 03:22:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abusalafy</dc:creator>
				<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[Fatwa Jenaka Wahabi]]></category>
		<category><![CDATA[Fatwa Pensesatan]]></category>
		<category><![CDATA[Kenaifan Kaum Wahhabi]]></category>
		<category><![CDATA[Manhaj]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abusalafy.wordpress.com/?p=521</guid>
		<description><![CDATA[Gara-gara terlalu sempit ilmu dan pemahaman agamanya tapi nekad jadi mufti, maka pasti akan sesat dan menyesatkan&#8230; pasti akan mengatakan ini halal dan itu haram dengan tanpa dasar dan bukti Syari’at yang benar&#8230; yang itu kafir yang ini musyrik&#8230; itu kira-kira gambaran yang dapat kita saksikan dari banyak mufti-mufti resmi kerajaan bermazhab Wahhâbi-Salafy yang menguasai [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abusalafy.wordpress.com&blog=1269412&post=521&subd=abusalafy&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Gara-gara terlalu sempit ilmu dan pemahaman agamanya tapi nekad jadi mufti, maka pasti akan sesat dan menyesatkan&#8230; pasti akan mengatakan ini halal dan itu haram dengan tanpa dasar dan bukti Syari’at yang benar&#8230; yang itu kafir yang ini musyrik&#8230; itu kira-kira gambaran yang dapat kita saksikan dari banyak mufti-mufti resmi kerajaan bermazhab Wahhâbi-Salafy yang menguasai dua kota suci kaum Muslimin; Mekkah dan Madinah&#8230;.</p>
<p><strong><span id="more-521"></span></strong></p>
<p>Kali ini kita akan menyoroti fatwa sesat lagi menyesatkan yang diluncurkan mufti setengah alim setengah awam tapi merasa paling alim dan dikultus setinggi laingit oleh kaum yang sok anti kulus&#8230; Dia adalah sang Mufti Agung Wahhabi-Salfy Abdul Aziz bin Bâz.</p>
<p><strong>Perhatikan fatwa dangkal dan pas-pasan Bin Bâz di bawah ini: </strong></p>
<blockquote>
<h2><strong>من كتاب التوسطُ والاقتصادُ في أن الكُفرَ يكونُ بالقولِ أو العملِ أو الاعتقادِ :</strong></h2>
<h2><strong>” وقال الشيخ عبدالعزيز بن باز كما في مجلة الفرقان الكويتية ، العدد(94) : الذَّبحُ لغيرِ الله ، والسُّجود لغير الله ،كفرٌ عمليٌّ مُخرجٌ من الملَّة، وهكذا لو صلَّى لغير الله أو سجد لغيره سبحانه ، فإنَّه يكفر كفراً عمليَّاً أكبر- والعياذ بالله – وهكذا إذا سبَّ الدِّين ، أو سبَّ الرَّسول ، أو استهزأ بالله ورسوله ، فإنَّ ذلك كفرٌ عمليٌّ أكبر عند جميع أهل السُّنَّة والجماعة “.</strong></h2>
<p>Dari kitab <em>at Tawassuth wa al Iqtishâd</em> &#8230;. :</p>
<p>Berkata Abdul Aziz bin Bâz –seperti dalam majalah al Furqân-Kuwait, edisi 94:</p>
<p>“Menyembelih bukan untuk Allah, sujud bukan untuk Allah adalah kekafiran praktis yang mengeluarkan dari agama. Demikian juga jika shalat untuk selain Allah atau sujud untuk selain Allah SWT, sesungguhnya ia adalah kekafiran secara praktis dengan kekafiran terbesar (yang mengeluarkan dari agama)–semoga kita dilindungi oleh Allah-.</p>
<p>Begitu juga jika mencela agama,atau mencela Rasul, atau mengejek-ngejek Allah dan Rasul-Nya, semua itu adalah kekafiran praktis menurut seluruh Ahlus Sunnah wal Jama&#8217;ah.”</p></blockquote>
<p><span style="text-decoration:underline;"><span style="color:#000000;"><strong>Abu Salafy:</strong></span></span></p>
<p>Coba perhatikan fatwa dangkal si mufti pas-pasan ini&#8230; ia tidak menyadari bahwa redaksi fatwa yang ia pilih yang tentunya mencerminkan akidah ngawurnya itu telah menvonis kafir seorang Nabi mulia Ya’qub as.</p>
<p>Allah berfirman:</p>
<h2>{ وَرَفَعَ أَبَوَيْهِ عَلَى الْعَرْشِ وَخَرُّوا لَهُ سُجَّدًا }(يوسف/100).</h2>
<p>Redaksi dalam ayat di atas menegaskan bahwa Nabi Ya’qub as. bersujud <em>lahu</em> (kepada Yusuf as.)</p>
<p>Demikian pula dengan para malaikat yang ta’at kepada perintah Allah SWT dengan bersujud li Âdam (untuk Adam).</p>
<p>Jadi dengan demikian Iblis-lah yang benar dalam sikap pembangkangannya atas perintah Allah untuk sujud kepada Adam as.!!</p>
<p>Sebab <em>–dengan dasar fatwa Bin Bâz-</em> Allah memerintahkan hamba-hamba-Nya untuk berbuat kafir!!!</p>
<p>Inilah akibat dari kejahilan dan fatwa-fatwa mufti jahil&#8230; Dia sesat lagi menyesatkan!!!</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/abusalafy.wordpress.com/521/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/abusalafy.wordpress.com/521/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/abusalafy.wordpress.com/521/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/abusalafy.wordpress.com/521/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/abusalafy.wordpress.com/521/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/abusalafy.wordpress.com/521/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/abusalafy.wordpress.com/521/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/abusalafy.wordpress.com/521/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/abusalafy.wordpress.com/521/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/abusalafy.wordpress.com/521/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abusalafy.wordpress.com&blog=1269412&post=521&subd=abusalafy&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abusalafy.wordpress.com/2009/10/19/mufti-wahhabi-mengafirkan-nabi-ya%e2%80%99qub-as-dan-melagalkan-pembangkangan-iblis/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>13</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/dcc398e7d74a34e59c3d59ffcc0673ff?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">abusalafy</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Potret Arab Saudi di Masa Datang : Menghilangkan Jejak Rasulullah?</title>
		<link>http://abusalafy.wordpress.com/2009/10/13/potret-arab-saudi-di-masa-datang-menghilangkan-jejak-rasulullah/</link>
		<comments>http://abusalafy.wordpress.com/2009/10/13/potret-arab-saudi-di-masa-datang-menghilangkan-jejak-rasulullah/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 13 Oct 2009 13:44:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abusalafy</dc:creator>
				<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[Dinasti al-Saud]]></category>
		<category><![CDATA[Kenaifan Kaum Wahhabi]]></category>
		<category><![CDATA[Manhaj]]></category>
		<category><![CDATA[Ulah Wahabi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abusalafy.wordpress.com/?p=498</guid>
		<description><![CDATA[Potret Arab Saudi di Masa Datang : Menghilangkan Jejak Rasulullah?
SUMBER TULISAN: SwaraMuslim
Arab Saudi, seperti juga negara-negara lain yang bergelimang harta, terus melakukan modernisasi. Selain secara pemikiran, seperti diangkatnya seorang perempuan dalam jajaran kementrian di negara itu, juga pembangunan fisik pun dilakukan. Tetapi, pengembangan Arab Saudi, khususnya kota suci Makkah dan Madinah akhir-akhir ini tidak memedulikan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abusalafy.wordpress.com&blog=1269412&post=498&subd=abusalafy&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><span style="color:#3366ff;"><strong>Potret Arab Saudi di Masa Datang : Menghilangkan Jejak Rasulullah?</strong></span></p>
<p><strong><span style="color:#ff0000;">SUMBER TULISAN:</span><em> <a href="http://swaramuslim.net/foto/printerfriendly.php?id=6240_0_10_0_C" target="_blank">SwaraMuslim</a></em></strong></p>
<p>Arab Saudi, seperti juga negara-negara lain yang bergelimang harta, terus melakukan modernisasi. Selain secara pemikiran, seperti diangkatnya seorang perempuan dalam jajaran kementrian di negara itu, juga pembangunan fisik pun dilakukan. Tetapi, pengembangan Arab Saudi, khususnya kota suci Makkah dan Madinah akhir-akhir ini tidak memedulikan situs-situs sejarah Islam.</p>
<p>Makin habis saja bangunan yang menjadi saksi sejarah Rasulullah SAW dan sahabatnya.</p>
<p>Bangunan-bangunan itu dibongkar karena berbagai alasan, namun sebagian besar karena ingin menyesuaikan dengan kota-kota besar di dunia lainnya. Bahkan sekarang, tempat kelahiran Nabi SAW terancam akan dibongkar untuk perluasan tempat parkir.</p>
<p>Sebelumnya, rumah Rasulullah pun sudah lebih dulu digusur. Padahal, disitulah Rasulullah berulang-ulang menerima wahyu. Di tempat itu juga putra-putrinya dilahirkan serta Khadijah meninggal.</p>
<p><span id="more-498"></span></p>
<p><a href="http://abusalafy.files.wordpress.com/2009/10/pemusnahan-oleh-wahabi_1.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-499" title="pemusnahan Oleh wahabi_1" src="http://abusalafy.files.wordpress.com/2009/10/pemusnahan-oleh-wahabi_1.jpg?w=468&#038;h=350" alt="pemusnahan Oleh wahabi_1" width="468" height="350" /></a></p>
<p>Beberapa bulan yang lalu, Sami Angawi, pakar arsitektur Islam di wilayah Arab mengatakan bahwa beberapa bangunan dari era Islam kuno terancam musnah. Pada lokasi bangunan berumur 1.400 tahun Itu akan dibangun jalan menuju menara tinggi yang menjadi tujuan ziarah jamaah haji dan umrah.</p>
<p><a href="http://abusalafy.files.wordpress.com/2009/10/pemusnahan-oleh-wahabi_2.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-500" title="pemusnahan Oleh wahabi_2" src="http://abusalafy.files.wordpress.com/2009/10/pemusnahan-oleh-wahabi_2.jpg?w=468&#038;h=350" alt="pemusnahan Oleh wahabi_2" width="468" height="350" /></a></p>
<p style="text-align:center;"><span style="color:#0000ff;">Jamarat Project &#8211; dalam tahap penyelesaian</span></p>
<p>“Saat ini kita tengah menyaksikan saat-saat terakhir sejarah Makkah. Bagian bersejarahnya akan segera diratakan untuk dibangun tempat parkir,” katanya kepada Reuters. Angawi menyebut setidaknya 300 bangunan bersejarah di Makkah dan Madinah dimusnahkan selama 50 tahun terakhir.</p>
<p><a href="http://abusalafy.files.wordpress.com/2009/10/pemusnahan-oleh-wahabi_3.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-501" title="pemusnahan Oleh wahabi_3" src="http://abusalafy.files.wordpress.com/2009/10/pemusnahan-oleh-wahabi_3.jpg?w=468&#038;h=350" alt="pemusnahan Oleh wahabi_3" width="468" height="350" /></a></p>
<p>Bahkan sebagian besar bangunan bersejarah Islam telah punah semenjak Arab Saudi berdiri pada 1932. Hal tersebut berhubungan dengan maklumat yang dikeluarkan Dewan Keagamaan Senior Kerajaan pada tahun 1994.Nasib situs bersejarah Islam di Arab Saudi memang sangat menyedihkan. Mereka banyak menghancurkan peninggalan-peninggalan Islam sejak masa Ar-Rasul SAW.</p>
<p>Semua jejak jerih payah Rasulullah itu habis oleh modernisasi. Sebaliknya mereka malah mendatangkan para arkeolog (ahli purbakala) dari seluruh dunia dengan biaya ratusan juta dollar untuk menggali peninggalan-peninggalan sebelum Islam baik yang dari kaum jahiliyah maupun sebelumnya dengan dalih obyek wisata.</p>
<p><a href="http://abusalafy.files.wordpress.com/2009/10/pemusnahan-oleh-wahabi_5.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-502" title="pemusnahan Oleh wahabi_5" src="http://abusalafy.files.wordpress.com/2009/10/pemusnahan-oleh-wahabi_5.jpg?w=468&#038;h=350" alt="pemusnahan Oleh wahabi_5" width="468" height="350" /></a></p>
<p>Kemudian dengan bangga mereka menunjukkan bahwa zaman pra Islam telah menunjukkan kemajuan yang luar biasa, tidak diragukan lagi ini merupakan pelenyapan bukti sejarah yang akan menimbulkan suatu keraguan di kemudian hari. Wallohu alam bi shawab. (sa/skpc/erm)</p>
<p><strong><span style="font-size:small;">Tahukah anda? Makkah sekarang sudah seperti Las Vegas</span></strong></p>
<p>&#8220;Makkah sekarang sudah seperti Las Vegas, &#8221; begitulah pernyataan yang dilontarkan Ali al-Ahmad, direktur Institute for Gulf Affairs-lembaga riset oposisi Saudi- yang berbasis di Washington, melihat perkembangan kota suci Makkah saat ini.</p>
<p><em>Kota Makkah yang menyandang sebutan kota suci dan menjadi pusat ibadah haji umat Islam di seluruh dunia, ketenangan dan kekhusyuk-annya makin terkikis, Ka&#8217;bah yang terletak di tengah masjid Haram dan menjadi arah sholat Muslim sedunia, semakin tenggelam oleh berdirinya gedung-gedung tinggi</em>.</p>
<p>Menurutnya, perkembangan kota Makkah sekarang adalah sebuah bencana. &#8220;<em>Hal ini akan memberikan pengaruh buruk bagi umat Islam. Ketika mereka ke Makkah mereka tidak punya perasaan apapun, tidak ada keunikan lagi. Apa yang anda lihat cuma semen dan kaca</em>, &#8221; ujar Ahmad serius.</p>
<p>Ahmad cukup beralasan melontarkan pernyataannya itu, karena kota Makkah saat ini makin penuh dengan bangunan-bangunan tinggi mulai dari hotel, pusat perbelanjaan dan toko-toko besar yang menjual produk Barat. Sebut saja kedai kopi <strong>Starbucks</strong>, <strong>Cartier and Tiffany</strong>, <strong>H&amp;M</strong> dan <strong>Topshop</strong>.</p>
<p>Pusat perbelanjaan <strong>Abraj Al-Bait</strong> ( <a href="http://www.abrajalbait.com/" target="_blank">www.abrajalbait.com</a> ), salah satu mall terbesar di Saudi yang baru dibuka menjelang musim haji bulan Desember 2006 kemarin, nampak megah dengan monitor-monitor televisi flat, cahaya lampu-lampu neon, dengan pusat hiburan, resto-resto cepat saji, bahkan toko pakaian dalam.</p>
<p>Pusat perbelanjaan itu, nantinya juga akan dilengkapi dengan kompleks hotel yang menjulang tinggi. Bahkan kompleks bangunan yang rencananya selesai tahun 2009 nanti, akan menjadi gedung tertinggi ketujuh di seluruh dunia, dilengkapi dengan fasilitas rumah sakit dan tempat sholat yang luas.</p>
<p>Seluruh pegunungan di dekat Jabal Omar, kini sudah diratakan. Di lokasi itu juga akan dibangun kompleks hotel dan lebih dari 130 gedung-gedung tinggi baru.</p>
<p><strong><em>Kota Makkah yang menyandang sebutan kota suci dan menjadi pusat ibadah haji umat Islam di seluruh dunia, ketenangan dan kekhusyuk-annya makin terkikis, Ka&#8217;bah yang terletak di tengah masjid Haram dan menjadi arah sholat Muslim sedunia, semakin tenggelam oleh berdirinya gedung-gedung tinggi</em></strong>.</p>
<p>&#8220;<strong>Ini adalah akhir dari Makkah</strong>, &#8221; kata <a href="http://www.almusaffir.com/modules/myalbum/photo.php?lid=337&amp;cid=7" target="_blank">Irfan Ahmad </a>dari London, pendiri Islamic Heritage Foundation, yang secara khusus aktivitasnya mempertahankan peninggalan-peninggalan bersejarah di Makkah, Madinah dan tempat-tempat lainnya di Arab Saudi.</p>
<p>&#8220;Sebelumnya, bahkan pada masa Ustmani, tak satu pun gedung-gedung di Makkah yang tingginya melebihi tinggi Masjid Haram. Sekarang, banyak gedung yang lebih tinggi dari Masjid Haram dan tidak menghormati keberadaan masjid itu, &#8221; tukas Irfan.</p>
<p>Uang, tentu saja menjadi motivasi utama boomingnya gedung-gedung tinggi di Makkah. Karena setiap tahun, kota itu dibanjiri oleh para jamaah haji. Papan-papan iklan di sepanjang jalan menuju Makkah, seolah menjadi daya tarik bagi para investor yang mencari keuntungan dari usaha penginapan.</p>
<p>Sejumlah organisasi Islam mengatakan, berdirinya gedung-gedung megah di kota Makkah, juga dilatarbelakangi motif agama. Mereka menuding pemerintah Saudi mengizinkan kelompok konservatif untuk menghancurkan tempat-tempat bersejarah dengan alasan khawatir tempat itu justeru disembah-sembah oleh para pengunjung.</p>
<p>Ahmad dari Islamic Heritage Foundation mengaku punya kalatog lebih dari 300 tempat-tempat bersejarah di Arab Saudi, termasuk pemakaman dan masjid-masjid. Ia mengatakan, sebuah rumah tempat Nabi Muhammad dilahirkan dihancurkan untuk membangun tempat kamar mandi.</p>
<p>&#8220;Sama sekali tidak menghormati Kabah, tidak menghormati rumah Tuhan atau lingkungan dari tempat-tempat bersejarah itu, &#8221; kata Sami Angawi, seorang arsitek Saudi yang ingin mempertahankan peninggalan bersejarah di Makkah.</p>
<p>&#8220;Padahal, memotong pohon saja seharusnya tidak boleh dilakukan di kota ini, &#8221; sambungnya.</p>
<p>Kemajuan kadang memang harus dibayar mahal. Bahkan pasar malam, di mana para jamaah bisa menjual barang-barang yang dibawanya, kini sudah tidak ada lagi. Begitu juga dengan keluarga-keluarga di Makkah yang biasa menyambut para jamaah haji, sudah tidak terlihat lagi sejak rumah-rumah mereka digusur untuk perluasan Masjid Haram di era tahun 1970-an.</p>
<p>Angawi kini berusaha melakukan pendekatan pada kerajaan Arab Saudi agar memberi perhatian besar atas penghancuran tempat-tempat bersejarah. Ahmad melobi pemerintah-pemerintah negara Asia dan Arab untuk menghentikan penghancuran yang dilakukan pemerintah Saudi. Kedua tokoh ini menyayangkan kurangnya kepedulian umat Islam atas isu-isu ini. Kepentingan bisnis dan uang mengalahkan segala-galanya.</p>
<p>&#8220;Makkah tidak pernah berubah seperti sekarang ini. Apa yang anda lihat sekarang baru 10 persennya saja dari apa yang akan ada, yang akan jauh lebih, lebih buruk lagi, &#8221; kata Angawi risau. (ln/IHT/eramuslim)</p>
<p><span style="color:#003366;"><strong>FOTO -FOTO TEMPAT BERSEJARAH YANG DI MUSNAHKAN WAHHABI-SALAFY</strong></span></p>
<p style="text-align:center;"><a href="http://abusalafy.files.wordpress.com/2009/10/01-kamara-nabi-sayyidah-khadijah.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-503" title="01. kamara-nabi-sayyidah-khadijah" src="http://abusalafy.files.wordpress.com/2009/10/01-kamara-nabi-sayyidah-khadijah.jpg?w=467&#038;h=287" alt="01. kamara-nabi-sayyidah-khadijah" width="467" height="287" /></a><span style="color:#0000ff;">Sisa reruntuhan kamar Rasul Saw dan Sayyidah Khadijah ra.</span></p>
<p style="text-align:center;"><a href="http://abusalafy.files.wordpress.com/2009/10/02-kuburan-sayyidah-khadijah-al-kubra-putranya-qasim-di-pojok_o.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-504" title="02. kuburan-sayyidah-khadijah-al-kubra-putranya-qasim-di-pojok_o" src="http://abusalafy.files.wordpress.com/2009/10/02-kuburan-sayyidah-khadijah-al-kubra-putranya-qasim-di-pojok_o.jpg?w=468&#038;h=298" alt="02. kuburan-sayyidah-khadijah-al-kubra-putranya-qasim-di-pojok_o" width="468" height="298" /></a><span style="color:#0000ff;">kuburan Sayyidah Khadijah al-kubra dan putranya Qasim di pojok</span></p>
<p style="text-align:center;"><a href="http://abusalafy.files.wordpress.com/2009/10/03-mihrab-tempat-rasulullah-biasa-shalat-di-rmh-khadijah_o.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-505" title="03. mihrab-tempat-rasulullah-biasa-shalat-di-rmh-khadijah_o" src="http://abusalafy.files.wordpress.com/2009/10/03-mihrab-tempat-rasulullah-biasa-shalat-di-rmh-khadijah_o.jpg?w=468&#038;h=675" alt="03. mihrab-tempat-rasulullah-biasa-shalat-di-rmh-khadijah_o" width="468" height="675" /></a><span style="color:#0000ff;">Mihrab tempat Rasulullah saw. biasa shalat di rumah Khadijah ra<br />
</span></p>
<p style="text-align:center;"><a href="http://abusalafy.files.wordpress.com/2009/10/04-reruntuhan-rumah-khadijah_o.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-506" title="04. reruntuhan-rumah-khadijah_o" src="http://abusalafy.files.wordpress.com/2009/10/04-reruntuhan-rumah-khadijah_o.jpg?w=468&#038;h=299" alt="04. reruntuhan-rumah-khadijah_o" width="468" height="299" /></a><span style="color:#0000ff;">Reruntuhan rumah Khadijah ra<br />
</span></p>
<p style="text-align:center;"><a href="http://abusalafy.files.wordpress.com/2009/10/05-rumah-nabi-sayyidah-khadijah-tempat-mereka-berdua-tinggal-selama-25-tahun-pun-dibongkar.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-507" title="05. rumah-nabi-sayyidah-khadijah-tempat-mereka-berdua-tinggal-selama-25-tahun-pun-dibongkar" src="http://abusalafy.files.wordpress.com/2009/10/05-rumah-nabi-sayyidah-khadijah-tempat-mereka-berdua-tinggal-selama-25-tahun-pun-dibongkar.jpg?w=468&#038;h=349" alt="05. rumah-nabi-sayyidah-khadijah-tempat-mereka-berdua-tinggal-selama-25-tahun-pun-dibongkar" width="468" height="349" /></a><span style="color:#0000ff;">Rumah Nabi Saw dan Sayyidah Khadijah ra tempat mereka berdua tinggal selama28 tahunpun dibongkar</span></p>
<p><a href="http://abusalafy.files.wordpress.com/2009/10/06-tempat-ketika-sayyidah-fathimah-zahra-dilahrirkan_o.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-508" title="06. tempat-ketika-sayyidah-fathimah-zahra-dilahrirkan_o" src="http://abusalafy.files.wordpress.com/2009/10/06-tempat-ketika-sayyidah-fathimah-zahra-dilahrirkan_o.jpg?w=468&#038;h=677" alt="06. tempat-ketika-sayyidah-fathimah-zahra-dilahrirkan_o" width="468" height="677" /></a></p>
<p style="text-align:center;"><span style="color:#0000ff;">Reruntuhan tempat ketika  Sayyidah Fathimah Az-Zahra as. Puteri kesayangan Rasulullah saw. dilahirkan</span></p>
<p style="text-align:left;">
<p style="text-align:left;"><span style="color:#ff0000;"><strong>___________________________________________________________________</strong></span></p>
<p style="text-align:left;">
<h2 style="text-align:left;"><span style="color:#003366;">The Destruction of Holy Sites in Mecca and Medina </span></h2>
<h3 style="text-align:left;"><span style="color:#800000;">By Irfan Ahmed</span></h3>
<p style="text-align:left;"><span style="color:#ff0000;"><strong>Source:</strong></span> <a href="http://www.almusaffir.com/modules/myalbum/photo.php?lid=337&amp;cid=7" target="_blank">http://www.almusaffir.com/modules/myalbum/photo.php?lid=337&amp;cid=7</a></p>
<p>The Arabian Peninsula, the cradle of Islam, is being demolished by hardliners. In countries such as Saudi Arabia almost all of the Islamic historical sites are gone, but this is not the first time they have been destroyed.</p>
<p style="text-align:left;">In 1802, and army led by the sons of Muhammad ibn ‘Abd al-Wahhab (the founder of Wahhabism) and Muhammad ibn Saud occupied Taif and began a bloody massacre. A year later, the forces occupied the holy city of Mecca. They executed a campaign of destruction in many sacred places and leveled all the existing domes, even those built over the well of Zamzam. However, after the army left, Sharif Ghalib breached the truce, inciting the Wahhabis to reoccupy Mecca in 1805.</p>
<p style="text-align:left;">In 1806, the Wahhabi army occupied Medina. They did not leave any religious building, including mosques, without demolishing it, whether inside or outside the Baqi’ (graveyard). They intended to demolish the grave of the Prophet Muhammad, may the peace and blessings of God be upon him, many times, but would repeatedly change their minds. At this time, non-Wahhabi Muslims were prevented from performing the Hajj (pilgrimage). In 1805, Iraqi and Iranian Muslims were refused permission to perform Hajj, as were the Syrians in 1806 and Egyptians the following year. The Saudi leader at the time wanted the pilgrims to embrace his Wahhabi beliefs and accept his Wahhabi mission. If they refused, he denied them permission to perform the Hajj and considered them heretics and infidels—ignoring the word of God in Sura al-Baqara:</p>
<p>And who is more unjust than he who forbids that in places for the worship of God, His name should be celebrated? Whose<br />
zeal is (in fact) to ruin them? It was not fitting that such<br />
should themselves enter them except in fear. For them there<br />
is nothing but disgrace in this world, and the world to come,<br />
an exceeding torment. (Qur’an 2:114)</p>
<p>The Wahhabi army’s destruction campaign targeted the graves of the martyrs of Uhud, the mosque at the grave of Sayyid al-Shuhada’ Hamza bin Abdul Muttalib and the mosques outside the Baqi’: the Mosque of Fatima al-Zahra, the Mosque of al-Manaratain, and Qubbat’ al-Thanaya (the burial site of the Prophet’s incisor that was broken in the battle of Uhud). The structures in the Baqi’ were also leveled to the ground and not a single dome was left standing. This great place that was visited by millions of Muslims over many centuries became a garbage dump, such that it was not possible to recognize any grave or know whom it embraced.</p>
<p>The occupation of the holy places by the army and their preventing Muslims from performing Hajj led thousands of people to flee Mecca and Medina to escape religious persecution. The Muslims started to complain and express their concerns, and public opinion put pressure on the Ottoman Caliph to liberate and rebuild the two holy places and once again permit the Muslims to perform the pilgrimage. Accordingly, an army led by Muhammad Ali Pasha, the Caliph’s viceroy in Egypt, was sent. When the forces arrived in the Hijaz, a number of tribes marched in support of the army, which regained control over Medina and then Mecca.</p>
<p>In 1818, the Wahhabis were defeated and they withdrew from the holy places. The Prophet’s Mosque, the Baqi’ and the monuments at Uhud were rebuilt during the reigns of the Ottoman sultans ‘Abd al-Majid I, ‘Abd al-Hamid II and Mahmud II. From 1848 to 1860, the buildings were renovated and the Ottomans built the domes and mosques in splendid aesthetic style. They also rebuilt the Baqi’ with a large dome over the graves of the Prophet’s daughter Fatima al-Zahra, Imam Zainul ‘Abidin (‘Ali bin al-Hussain), Imam Muhammad ibn ‘Ali al-Baqir and Imam Ja‘far al-Sadiq. The graves of others related to the Prophet found at the Baqi’ include those belonging to Ibrahim (son), ‘Uthman ibn ‘Affan (Companion and son-in-law), Saffia bint Abdul Muttalib (aunt), Atika bint ‘Abd al-Muttalib (aunt), Al-‘Abbas ibn ‘Abd al-Muttalib (uncle), Fatima bint Assad (Imam Ali’s mother), ‘Abd Allah ibn Ja‘far bin Abi Talib (cousin) and Aqil ibn Abi Talib (The Prophet’s cousin).</p>
<p>The grave of the Prophet’s father ‘Abd Allah was in Dar al-Nabigha of the Bani Najjar, the house of where the Prophet learned to swim. However, his father’s grave was exhumed 17 years ago and transferred to the Baqi’. The area of the house today lies under the marble covering the plaza surrounding the mosque.</p>
<p>A number of the Prophet’s wives (the Mothers of the Faithful) were buried in the Baqi’: ‘A’isha, Hafsa, Juwayriya, Saffia, Sawda, Zaynab bint Khuzaima, Zaynab bint Jahsh, Umm Habiba and Umm Salama. The tomb of Khadija, the Prophet’s first wife, is in Mecca because she died before the Hijra (migration of Muslims to Medina). Her grave is in the Hajun cemetery, known as Maqbarat’al-Ma’la. The tomb of Maimouna, another wife, is also in Mecca in an area known as Sarif, which lies on the side of the Hijra Road, nearly 13 miles (20 kilometers) outside Mecca.\</p>
<p>On April 21,1925, the domes in the Baqi’ were demolished once more along with the tombs of the holy personalities in Maqbarat’al-Ma‘la in Mecca, where the Holy Prophet’s mother, wife Khadija, grandfather and other ancestors are buried. Destruction of the sacred sites in the Hijaz continues till this day. Wahhabis say they are trying to rescue Islam from what they consider innovations, deviances and idolatries. Among the practices they believe are contrary to Islam are constructing elaborate monuments over graves and making supplications there.</p>
<p>The Mashrubat Umm Ibrahim—which was built to mark the location of the house where the Prophet’s son, Ibrahim, was born to Mariah, his Egyptian wife—also contained the grave of Hamida al-Barbariyya, the mother of Imam Musa al-Kazim. These sites were destroyed over the past few years.</p>
<p>I recently met with one of the leading political leaders of Medina and took the opportunity to speak to him about the destruction of these holy sites. He told me that the sites were not being demolished, but that torrential rain in Medina was washing away the old buildings! I told him the mosque and tomb of Sayyid Imam al-Uraidhi ibn Ja‘far al-Sadiq, four miles from the Prophet’s Mosque, was destroyed by dynamite and flattened on August 13, 2002. Imam al-Uraidhi is ninth in line from the Prophet. I also asked him about the plan to demolish the last remnant of the historical vestiges of the Messenger of God, namely his noble birthplace, which has been converted into a library, “Maktabat Makka al-Mukarrama.” There was no answer.</p>
<p>Within the last 10 years, Muqbil ibn Hadi al-Wadi’i, a student at the University of Medina, wrote a thesis titled “About the Dome Built over the Grave of the Messenger,” sponsored by Sheikh Hammad al-Ansari. In this paper, the student demands that the noble grave be brought out of the Mosque. He says the presence of the holy grave and noble dome are major innovations and that they both need to be destroyed! His thesis received very high marks. Last year, the city planning board of Medina painted the famous green dome of the Prophet’s Holy Mosque silver. After intense protests by the citizens of Medina, the board restored the dome to its original color.</p>
<p>In the Ottoman part of the Prophet’s Mosque, at the center of the three sections raised a bit from the ground level are three circles. The first, toward the west, corresponds to the grave of the Prophet. The next two toward the east correspond to the graves of Abu Bakr al-Siddiq and ‘Umar ibn al-Khattab. Above the circles are invocations including “Ya Allah” and “Ya Muhammad.” The latter was removed and replaced it with “Ya Majid” by adding the dot under the ‘ha of Muhammad to make it jim and two dots under the second mim of Muhammad to make it ‘ya. There are qasidas written by rulers of the Muslim world, such as Sultan ‘Abd al- Hamid. Many verses of the famous Burda of al-Busayri had also been painted over. On the Qibla side, the brass partition that is divided into three sections between two columns, the authorities have also tried to cover the famous two verses inscribed in the east from the story of al-‘Utbi as mentioned by Ibn Kathir in his Tafsir. “O best of those whose bones are buried in the deep earth, and from whose fragrance the depth and height have become sweet! May I be the ransom for a grave in which you dwell, where purity, bounty and munificence.”</p>
<p>If one raises his head a bit, he will see on the first section of this partition a green banner, on which the words of the Almighty are framed in yellow:</p>
<p>O you who believe! Raise not your voices above the voice of</p>
<p>the Prophet, may blessings and peace be upon him and his</p>
<p>family, nor speak aloud to him in talk, as you speak aloud to</p>
<p>one another, lest your deeds be rendered fruitless while you</p>
<p>perceive not. (Qur’an 49:2)</p>
<p>The Sacred Chamber has four exterior doors: on the south, Bab al-Tawba (The Door of Repentance), on the north, Bab al-Tahajjud (The Door of Night Prayer), on the east, Bab Fatima (the Door of Fatima), and on the west, Bab al-Nabi (The Door of the Prophet)—also known as Bab al- Wufud (The Door of Delegations). These gates have been present since the year 668 AH except for the Gate of the Night Prayer, which was installed in 729 AH. Inside there are two gates, one on either side of the triangular part of the interior compartment. All of these doors are covered by brass shelves holding Qur’ans, an attempt to prevent the public from looking inside the Sacred chamber.</p>
<p>The Wahhabi religious authorities are, unfortunately, on a fast track. In 1998 the grave of Amina bint Wahb, the Prophet’s mother, was bulldozed in Abwa and gasoline was poured on it. Even though thousands of petitions throughout the Muslim world were sent to Saudi Arabia, nothing stopped this action. One of my late teachers, Sheikh Sayyid Muhammad ibn ‘Alawi al-Maliki, a Meccan who was a great historian on the holy sites and inherited his knowledge from his father and forefathers who were all teachers of the holy Haram, showed me pictures of the grave of Sayyida Amina marked with a pile of stones after the destruction. The House of Khadija was excavated during the Haram extensions, then hurriedly covered over so as to obliterate any trace of it. This was the house where the Prophet received some of his first revelations and it is also where his children Umm Kulthum, Ruqqaya, Zaynab, Fatima, and Qasim were born. Dar al-Arqam, the first school in Islam where the Prophet taught has also been demolished. It was in the area of Shi’b ‘Ali near the Bab ‘Ali door opposite the king’s palace. It is now part of the extension of the Haram.</p>
<p>The authorities plan to demolish the house of Mawlid, where the Prophet was born. About 60 years ago, this house, which used to have a dome over it, was turned into a cattle market. Some people then worked together to transform it into a library, which it is today. It is lined with shelves of books about Mecca, most of them written by Meccans. But the library is under threat again because of the new Jabal ‘Umar project, one of the largest real estate development projects near the Grand Mosque. The birthplace of the Prophet is to make way for a car park and hotels. About 99% of real estate owners in the Jabal ‘Umar area are shareholders in this company. The owners have been provided with financial incentives, including what they used to receive as rents, combining five-star facilities under the luxurious Le Meridien banner. The Meridien Towers will allow several thousand housing units in Mecca to be available during specified periods of time, for a one-off, fixed fee, giving the towers 25 years of shared ownership in Mecca. This scheme allow outsiders, whether Muslim or not, to invest in the city; they will be allowed to buy from a range of properties that can be used, sublet, resold or given as a gift.</p>
<p>For the holy month of Ramadan in Mecca, authorities built a wall enclosure in the Haram for women to pray there so men will not be able to see them. However, this has also blocked women’s visibility of the Ka‘ba while they perform their prayers. The tawaf (circumambulation) for women has also been restricted to certain times. We don’t know if these changes are permanent or just for Ramadan.</p>
<p>In Medina, of the seven mosques at the site of the Battle of the Trench (Jabal al-Khandaq), where Sura al-Ahzab was revealed, only two remain. The others have been demolished and a Saudi bank’s cashpoint machine has been built in the area. The remaining mosques will be demolished as soon as the new mosque being constructed is ready. One of the mosques slated for destruction is Masjid Fath, the mosque and rock of victory, where the Prophet stood during the battle of the trench praying for victory. On the rock is where he received God’s promises of victory and of the conquest of Mecca.</p>
<p>Dr. Irfan Ahmed is Joint Chairman of the Islamic Heritage and Research Foundation, which was formed to help protect and preserve the holy sites in the Hijaz. For more information contact islamic_heritage@hotmail.com</p>
<p style="text-align:left;"><span style="color:#ff0000;"><strong>_____________________________________________________________________________________</strong></span></p>
<p style="text-align:left;"><span style="color:#0000ff;"><span style="text-decoration:underline;"><strong><span style="color:#800000;">ARTIKEL TERKAIT</span></strong></span></span></p>
<p style="text-align:left;">1.<a href="http://www.independent.co.uk/news/world/middle-east/shame-of-the-house-of-saud-shadows-over-mecca-474736.html" target="_blank"> Shame of the House of Saud: Shadows over Mecca</a><span style="color:#0000ff;"><a href="http://www.independent.co.uk/news/world/middle-east/shame-of-the-house-of-saud-shadows-over-mecca-474736.html" target="_blank"><span style="color:#800000;"><span style="color:#000000;"> </span></span></a></span></p>
<p style="text-align:left;"><span style="color:#0000ff;"><span style="color:#000000;">2. </span></span><a href="http://www.almusaffir.com/modules/myalbum/photo.php?lid=337&amp;cid=7" target="_blank">The Destruction of Holy Sites in Mecca and Medina</a> By Irfan Ahmed</p>
<p style="text-align:left;">3. <a href="http://www.theamericanmuslim.org/tam.php/features/articles/destruction_of_islamic_architectural_heritage_in_saudi_arabia_a_wake_up_cal/" target="_blank">Destruction of Islamic Architectural Heritage in Saudi  Arabia: A Wake-up Call </a>By Saeed Shehabi</p>
<p style="text-align:left;">
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/abusalafy.wordpress.com/498/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/abusalafy.wordpress.com/498/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/abusalafy.wordpress.com/498/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/abusalafy.wordpress.com/498/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/abusalafy.wordpress.com/498/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/abusalafy.wordpress.com/498/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/abusalafy.wordpress.com/498/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/abusalafy.wordpress.com/498/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/abusalafy.wordpress.com/498/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/abusalafy.wordpress.com/498/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abusalafy.wordpress.com&blog=1269412&post=498&subd=abusalafy&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abusalafy.wordpress.com/2009/10/13/potret-arab-saudi-di-masa-datang-menghilangkan-jejak-rasulullah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>34</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/dcc398e7d74a34e59c3d59ffcc0673ff?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">abusalafy</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://abusalafy.files.wordpress.com/2009/10/pemusnahan-oleh-wahabi_1.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">pemusnahan Oleh wahabi_1</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://abusalafy.files.wordpress.com/2009/10/pemusnahan-oleh-wahabi_2.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">pemusnahan Oleh wahabi_2</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://abusalafy.files.wordpress.com/2009/10/pemusnahan-oleh-wahabi_3.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">pemusnahan Oleh wahabi_3</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://abusalafy.files.wordpress.com/2009/10/pemusnahan-oleh-wahabi_5.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">pemusnahan Oleh wahabi_5</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://abusalafy.files.wordpress.com/2009/10/01-kamara-nabi-sayyidah-khadijah.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">01. kamara-nabi-sayyidah-khadijah</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://abusalafy.files.wordpress.com/2009/10/02-kuburan-sayyidah-khadijah-al-kubra-putranya-qasim-di-pojok_o.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">02. kuburan-sayyidah-khadijah-al-kubra-putranya-qasim-di-pojok_o</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://abusalafy.files.wordpress.com/2009/10/03-mihrab-tempat-rasulullah-biasa-shalat-di-rmh-khadijah_o.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">03. mihrab-tempat-rasulullah-biasa-shalat-di-rmh-khadijah_o</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://abusalafy.files.wordpress.com/2009/10/04-reruntuhan-rumah-khadijah_o.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">04. reruntuhan-rumah-khadijah_o</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://abusalafy.files.wordpress.com/2009/10/05-rumah-nabi-sayyidah-khadijah-tempat-mereka-berdua-tinggal-selama-25-tahun-pun-dibongkar.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">05. rumah-nabi-sayyidah-khadijah-tempat-mereka-berdua-tinggal-selama-25-tahun-pun-dibongkar</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://abusalafy.files.wordpress.com/2009/10/06-tempat-ketika-sayyidah-fathimah-zahra-dilahrirkan_o.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">06. tempat-ketika-sayyidah-fathimah-zahra-dilahrirkan_o</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Bantahan Atas Abu Jauzâ’ Dan Para Wahhâbiyyûn-Mujassimûn Musyabbihûn! (2)</title>
		<link>http://abusalafy.wordpress.com/2009/09/28/bantahan-atas-abu-jauza%e2%80%99-dan-para-wahhabiyyun-mujassimun-musyabbihun-2/</link>
		<comments>http://abusalafy.wordpress.com/2009/09/28/bantahan-atas-abu-jauza%e2%80%99-dan-para-wahhabiyyun-mujassimun-musyabbihun-2/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 28 Sep 2009 13:52:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abusalafy</dc:creator>
				<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[Kajian Hadis]]></category>
		<category><![CDATA[Kenaifan Kaum Wahhabi]]></category>
		<category><![CDATA[Manhaj]]></category>
		<category><![CDATA[Menjawab Blog Wahabi/Salafy]]></category>
		<category><![CDATA[Penyimpangan Akidah Dalam Kitab at Tauhid]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abusalafy.wordpress.com/?p=451</guid>
		<description><![CDATA[Bantahan Atas Abu Jauzâ’ Dan Para Wahhâbiyyûn-Mujassimûn Musyabbihûn! (2)
Bincang Bersama Abu Jauza -Hadis Melihat Tuhan- (2)

Kaidah Kedua:
Kedua, Seperti diketahui para santri yang rajin bergelut dalam dunia ilmu hadis, apalagi Pakar dan Ahli Hadis bahwa bisa jadi sebuah hadis itu dari sisi sanadnya shahih; sanadnya bersambung melalui perantara para perawi yang adil dan punya dhabth/ketepatan hafalan, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abusalafy.wordpress.com&blog=1269412&post=451&subd=abusalafy&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><span style="color:#003366;"><strong>Bantahan Atas Abu Jauzâ’ Dan Para Wahhâbiyyûn-Mujassimûn Musyabbihûn! (2)</strong></span></p>
<p><span style="color:#003366;"><strong>Bincang Bersama Abu Jauza <a href="http://abul-jauzaa.blogspot.com/2009/06/pembahasan-hadits-ummu-ath-thufail.html" target="_blank">-Hadis Melihat Tuhan- (2)</a><br />
</strong></span></p>
<p><strong>Kaidah Kedua:</strong></p>
<p><em>Kedua</em>, Seperti diketahui para santri yang rajin bergelut dalam dunia ilmu hadis, apalagi Pakar dan Ahli Hadis bahwa bisa jadi sebuah hadis itu dari sisi sanadnya shahih; sanadnya bersambung melalui perantara para perawi yang adil dan punya <em>dhabth</em>/ketepatan hafalan, akan tetapi ia sebenarnya sedang mengidap penyakit, <em>illah</em> atau mengalami keganjilan, <em>syudzûdz.</em></p>
<p>Biasanya adanya keganjilan dan penyakit itu hanya diketahui oleh pakar Ahli Hadis yang memiliki ketelitian tinggi. Adapun selain mereka, pasti akan kesulitan mengidentifikasi adanya cacat tersembunyi tersebut.</p>
<p><span id="more-451"></span></p>
<p><strong><em>Al Hafidz Ibnu al Jawzi </em>berkata,</strong></p>
<p><em>“Ketahuilah bahwa hadis-hadis itu memiliki kedetailan-kedetailan dan cacat-cacat yang tidak diketahui kecuali oleh para pakar, ulama dan fukaha, terkadang dalam susunannya dan terkadang dalam kupasan kandungannya…&#8221; </em><span style="color:#0000ff;">[8]</span></p>
<p><em><strong>Jalaladdîn as Suyuthi</strong></em> ketika menjelaskan makna hadis <em>Syâdz </em>yang disampaikan <em>al Hakim</em>, yaitu</p>
<p><em>&#8220;Hadis yang seorang parawi menyendiri dalam meriwayatkannya dan ia tidak punya pendukung/</em><em>mutâbi’”, ia mencontohkannya dengan hadis riwayat </em><em>al Hakim sendiri dalam </em><em>al Mustadrak dari jalur: Ubaid ibn Ghunnâm an Nakha’i dari Ali ibn Hakîm dari Syarîk dari Atha’ ibn Sâib dari Abu Dhuha dari Ibnu Abbbas, ia berkata, &#8220;Di setiap bumi ada nabi seperti nabi kalian dan ada Adam seperti Adam kalian, ada Nuh seperti Nuh kalian, ada Ibrahim seperti Ibrahim kalian dan ada Isa seperti Isa kalian.” Ia berkata hadis itu shahih sanadnya. Aku (as- Suyuthi) senantiasa terheran-heran atas penshahihan al Hakim terhadap hadis itu, sehingga aku menyaksikan bahwa al Baihaqi berkata, ’Hadis itu shahih sanadnya akan tetapi matannya sangat syâdz.”</em> <span style="color:#0000ff;">[9]</span></p>
<p>Dan untuk mengetahui kondisi hadis seperti ini dibutuhkan kejelian dan ketelitian ekstra, tidak semua ahli hadis memiliki kemampuan untuk itu. Karenanya <em>Ibnu Hajar </em>seperti dinukil <em>as Suyuthi</em> menegaskan, <em>&#8220;Dan tidak akan mampu menetapkan status itu melainkan seorang alim yang menggeluti disiplin ilmu ini dengan sepenuhnya, dan ia berada di atas puncak kefahaman yang tajam dan kekokohan dalam disiplin ini.”</em> Dan setelahnya <em>as Suyuthi </em>mengomentari,<em> &#8220;Karenanya tidak seorang pun yang menulis buku secara khusus dalam masalah ini.”</em> kemudian as Suyuthi menyebutkan contoh di atas.</p>
<p>Dan bagi Anda yang berminat mengetahui lebih lanjut dipersilahkan merujuk kitab <em>Ma’rifah ‘Ulûm al Hadîts</em>; al Hâkim an-Nisyaburi:112, naw/bahasan: 27 dan lainnya.</p>
<p>Dan apabila para ulama hadis telah mendefenisikan hadis <em>Syâdz </em>adalah hadis riwayat perawi <em>tsiqah </em>yang menyalai riwayat para <em>tsiqat </em>lainnya, dan karenanya hadisnya digolongkan <em>syadz </em>dan cacat, <span style="text-decoration:underline;">lalu apa bayangan kita jika sebuah hadis riwayat perawi tsiqah menyalahi nash Al Qur’an?! Menyalahi nash yang pasti?! Tidak diragukan lagi bahwa riwayat seperti itu harus dibuang.</span> Dan yang akan mengenali kondisi itu hanyalah para pakar yang teliti dan tercerahkan pikirannya dengan kedalam dan ketelitian penyimpulan masalah-masalah agama bukan sekedar menghafal teks atau sanad riwayat semata!</p>
<p>Dari sini dapat diketahui pula bahwa tidak jarang ada hadis yang dihukumi shahih oleh sebagian ahli hadis dengan sekedar memerhatikan sanadnya semata tanpa meneliti matan/kandungannya. Sebagaimana dalam masalah ini tidak ada perbedaan antara hadis-hadis riwayat Bukhari dan Muslim dan hadis-hadis riwayat ulama lain dalam kitab-kitab hadis mereka, kecuali yang sudah mencapai kualitas mutawatir!</p>
<p><span style="text-decoration:underline;">Untuk lebih jelasnya dan agar Anda tidak hanya mengenali konsep tanpa mengenali contoh kasus, maka kami akan sebutkan beberapa contoh kasus hadis-hadis Bukhari dan/atau Muslim yang ditegaskan para ulama bahwa ia sedang bermasalah/cacat.</span></p>
<p><strong>Contoh Pertama:</strong></p>
<p><em>Muslim </em>dalam kitab <em>Shahih</em>-nya,4/2149 hadis no. 2789 meriwayatkan dari Abu Hurairah secara marfû’an (sabda Nabi saw.):</p>
<p><em>&#8220;Sesungguhnya Allah –Azza wa Jalla- menciptakan tanah hari sabtu, menciptakan gunung-gunung hari minggu, menciptakan pepehonan hari senin, menciptakan yang jelak/yang tidak disukai hari selasa, menciptakan cahaya hari rabu, dan menebarkan makhlukm melata hari kamis, dan menciptakan Adam pada akhair waktu di hari jum’at yaitu antara ashar dan malam.&#8221;</em></p>
<p>Dalam hadis ini ditegaskan bahwa Alllah SWT menciptakan langit-langit dan bumi dalam tujuh hari. Dan ini sangat bertentangan dengan Al Qur’an yang menegaskan bahwa proses penciptaan terjadi selama enam hari bukan tujuh hari! Allah SWT berfirman:</p>
<h2 style="text-align:right;">إنَّ رَبَّكُمُ اللهُ الذي خَلَقَ السمَاواتِ و الأرضَ فِيْ سِتَّةِ أيَّامٍ.</h2>
<p>&#8220;<em>Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Alalh yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam hari&#8230; .”</em> <strong>(QS. Al A’râf [7]54)</strong></p>
<p><span style="text-decoration:underline;">Sebagian misionaris sekte Wahhabiyah seperti<em> <span style="color:#0000ff;">Syeikh Nâshiruddîn al Albâni</span></em> memperthankan keshahihan hadis ini dan menolak anggapan bahwa bertentangan dengan Al Qur’an, sebab dalam hematnya hadis ini sedang memerinci prosesi perkembangan pencitaan bumi dan apa-apa yang diciptakan di atasnya. Semua itu terjadi selama tujuh hari.</span></p>
<p><strong>Akan tetapi sangat disayangkan pembelaan itu hanya sia-sia dan tidak berguna, sebab:</strong></p>
<p><em>Pertama,</em> Nabi Adam as. tidak diciptakan di bumi akan tetapi diciptakan di surga setalahnya baru diiturunkan ke bumi. Jadi hadis di atas tidak hanya berbicara tentang perkembangan penciptaan di bumi seperti yang mereka angap! Demikian dengan: menciptakan yang jelak/yang tidak disukai hari selasa tidak dimengerti maknanya!! Sementara yang dapat dibuktikan bahwa makrûh atau<em> syar</em> itu diciptakan sa’at terjadi!</p>
<p><em>Kedua,</em> Al Qur’an terang-terangan membantah anggapan pendekar Wahhabiyah di atas, sebab Allah SWT telah menegaskan bahwa proses penciptaan bumi itu terjadi dalam dua hari:</p>
<p><em>&#8220;Katakanlah: ”Sesungguhnya patutlah kamu kafir kepada yang menciptakan bumi dalam dua hari (masa) dan kamu adakan sekutu bagi-Nya? (Yang bersifat) demikian itulah Tuhan semesta alam. Dan Dia menciptakan di bumi gunung-gunung yang kokoh di antaranya. Dia memberlakukannya dan Dia menentukan padanya kadar makanan-makanan (penghuni)nya dalam empat hari (masa). (Penjelasan itu sebagai jawaban) bagi orang-orang yang bertanya.”</em> <strong>(QS. Fushshilat [41];9-10)</strong></p>
<p><em>Ketiga,</em> Sebagian ulama dan pakar hadis telah mengenali cacat pada matan/kandungan riwayat di atas. <em>Ibnu Kastsir</em> berkata, <em>&#8220;Hadis ini adalah termasuk hadis-hadis aneh Shahih Muslim. Ali ibn Madîni, Bukhari dan ulama ahli hadis lain telah mencacatnya. Mereka menjadikan hadis itu sebagai ucapan Ka’ab al Ahbâr. Dan sesunguhnya Abu Hurairah mendengarnya dari ucapan Ka’ab al Ahbâr, dan telah rancu atas sebagian parawi lalu ia menjadikannya sabda Nabi saw.” </em><span style="color:#0000ff;">[10]</span> Sepertinya kesimpilan mereka bahwa ucapan Abu Hurairah itu ia ambilnya dari omongan Ka’ab, sebab Abu Hurairah telah berguru kepada Ka’ab dan banyak duduk belajar hadis dari Ka’ab! Seperti disebutkan dalam riwayat di bawah ini.</p>
<p>Dan penyimpangan berbahaya seperti itu dalam hadis Abu Hurairah sering ditemukan ulama, di antara apa yang juga dibongkar Ibnu Katsir, setelah menyebutkan sebuah riwayat dari Abu Hurairah, ia mengatakan, <em>&#8220;Mungkin Abu Hurairah menerima omongan ini dari Ka’ab al Ahbâr, sebab sesungguhnya ia (Ka’ab) sering sekali duduk bersamanya dan menyampaikan hadis</em> <span style="color:#0000ff;">[11] </span><em>kepadanya, lalu kemudian Abu Hurairah menyampaikannya, dan sebagian perawi darinya salah duga dan menganggapnya dari Nabi saw, lalu ia merafa’kannya (menegaskan bahwa ia adalah sabda Nabi saw. bukan omongan Ka’ab)…</em> <span style="color:#0000ff;">[12]</span></p>
<p>Dan sepertinya, entah memang sengaja atau tidak, Abu Hurairah sering mengkombinasi dalam tablingnya antara sabda suci Rasulullah saw. dan bualan Ka’ab al Ahbâr, yang akibatnya para periwayat yang menukil langsung darinya sering terjebak dalam kesalahan fatal seperti di atas. <em>Adz Dzahabi </em>melaporkan dari Busr ibn Said, ia berkata, <em>“Bertaqwalah kalian kepada Allah, dan berhati-hatilah dalam berhadis. Demi Allah aku telah menyaksikan ketika duduk berguru kepada Abu Hurairah, lalu ia menyampaikan hadis dari Rasulullah saw. dan juga menyampaikan ucapan Ka’ab, kemudian ia berdiri (pergi), maka aku mendengar sebagian orang yang bersama kami menjadikan sabda Rasulullah sebagai dari Ka’ab dan menjadikan omongan Ka’ab sebagai hadis dari Rasulullah saw.” </em><span style="color:#0000ff;">[13]</span></p>
<p>Entah benar kesalahan itu dari para periwayat yang menukil dari Abu Hurairah atau memang Abu Hurairah yang mencampur-adukkan antara keduanya, yang pasti hadis seperti itu sangat bermasalah bagi kemurnian akidah kaum Muslim, dan sebagai buktinya sekarang ialah kaum Wahhabiyah sangat mempercayainya sebagai sabda suci Nabi Islam, sementara ia hanya sekedar bualan palsu pendeta Yahudi yang berpura-pura memeluk Islam!!</p>
<p><strong>Contoh Kedua:</strong></p>
<p>Muslim meriwayatkan dalam <em>Shahih</em>-nya pada <em>Kitab Fadhâil ash Shahabah</em>, <em>Bab  Fadhâil Sufyân,</em> hadis no 2501 dari jalur Ikrimah ibn Ammar dari Abu Zamîl dari Ibnu Abbas, ia berkata,<em> &#8220;Dahulu kaum Muslimin tidak memandang dan mengajak duduk bersama Abu Sufyan, maka ia berkata kepada Nabi saw., ’Wahai Nabi, tiga perkara aku meminta agar engkau memberikannya kepadaku.’ Nabi saw. menjawab, ’Ya.’ Abu Sufyan berkata, ’Aku punya anak perempuan paling cantiknya wanita-wanita Arab; Ummu Habibah, maukanh aku nikahkan denganmu? Nabi saw. menjawab, ’Ya.’ Abu Sufyan berkata lagi, ’Kedua, Mu’awiyah maukan engkau menjadikan ia penulis/sekretaris pribadimu? Nabi saw. menajwab, ’Ya.’ <span style="color:#0000ff;">[14] </span>Abu Sufyan melanjutkan, ’Sudikah engkau menjadikanku penglima pasukanmu untuk memerangi kaum Musyrikin, sebagaiamana dahulu aku memerangi kaum Muslimin? Nabi  saw. pun menjawab, ’Ya.’”</em></p>
<p><em> </em><span style="text-decoration:underline;">Tidak diragukan lagi bahwa hadis di atas termasuk di antara hadis palsu/mawdhû’ yang lolos sensor sehingga masuk dalam koleksi <em>Shahih Muslim</em>.</span> <span style="text-decoration:underline;">Di antara bukti kepalsuannya adalah</span> bahwa sejarah otentik –semua mengetahuinya, termasuk santri-santri ibitidaiah sekalipun- bahwa Ummu Habibah telah dinikahi Rasululllah saw. sebelum Fathu Mekkah sementara Abu Sufyan masih musyrik. Dan ketika Abu Suyfan mengunjunginya di kota suci Madinah dalam keadaan musyrik, Ummu Habibah menarik tikar yang diduduki ayahnya dengan alasan bahwa ia masih musyrik yang najis.</p>
<p><em>Adz Dzahabi </em>berkomentar dalam <em>Siyar A’lâm</em>-nya7/137 tentang hadis di atas yang Ikrimah ibn Ammar adalah salah satu perawinya, <em>&#8220;Aku (adz Dzahabi) berkata, ’Muslim telah menyebutkan sebuah hadis munkar dalam buku induknya, yaitu yang ia riwayatkan dari Sammâk al Hanafi dari Ibnu Abbas tentang tiga perkara yang diminta Abu Sufyan dari Nabi saw.”</em></p>
<p><strong><em>Imam Nawawi</em></strong> dalam syarahnya atas <em>Shahih Muslim</em>,16/63 menukil penegasan Ibnu Hazm bahwa hadis ini adalah hadis mawdhû’/palsu.</p>
<p>Serta banyak lagi contoh lainya seperti hadis riwayat Muslim yang mengatakan bahwa isrâ’ dan mi’râj itu terjadi sebelum kenabian Nabi Muhammad saw. hal mana jelas-jelas tidak ada yang membenarkannya! Semua vonis itu dijatuhkan ke atas hadis-hadis tersebut dari sisi matan/kandungannya yang menyalahi kenyataan dan menyimpang dari kebenaran! Hal mana menguatkan apa yang kami tegaskan bahwa hadis âhâd itu rawan kesalahan dan kekeliruan.</p>
<p>Untuk sementara agar tidak makin melebar dan keluar dari tema inti kita, maka kami cukupkan sampai di sini. Dan setelahnya, <span style="text-decoration:underline;">mari kita meneliti hadis yang menjadi kebanggaan kaum Mujassimah Musyabbihah/Wahhâbiyah <span style="color:#0000ff;">bahwa Tuhan mereka berbentuk dan dapat dilihat dalam mimpi dalam bentuk terindah, bak seorang pemuda<em> amrad</em> (yang belum tumbuh subur kumis dan janggutnya) yang berambut lebat yang sedang duduk di atas ranjang/singgasana-Nya yang terbuat dari bahan emas</span><span style="color:#0000ff;">! Dan Dia mengenakan sepasang sandal terbuat dari emas murni!</span></span> Maha suci Allah dari penggambaran dan pensifatan kaum jahil yang menyerupakan-Nya dengan dewa-dewa sesembahan kaum musuryik penyembah berhala berbentuk!</p>
<p><span style="color:#ff0000;"><strong>(Bersambung Insya Allah)</strong></span></p>
<p><strong><span style="color:#0000ff;"><span style="text-decoration:underline;">CATATAN KAKI</span></span></strong><span style="color:#0000ff;"> </span></p>
<p><span style="color:#0000ff;">[8]</span> Daf’u Syubah at Tasybîh:143 dengan tahqîq dan komentar oleh Sayyid Hasan ibn Ali as Seqqaf.</p>
<p><span style="color:#0000ff;">[9] </span>Tadrîb ar Râawi,1/233.</p>
<p><span style="color:#0000ff;">[10] </span>Tafsir Ibnu Katsîr,1/99.</p>
<p><span style="color:#0000ff;">[11] </span>Jangan salah faham! Hadis yang disampaikan Ka’ab kepada Abu Hurairah bukan sabda suci Nabi saw. akan tetapi adalah bualan para pendeta dan doktrin ajaran Yahudi yang ia warisi dari kitab taurat yang sudah terkontaminasi oleh kepalsuan dan penyelewengan.</p>
<p><span style="color:#0000ff;">[12]</span> Ibid.,3/104 dan 105.</p>
<p><span style="color:#0000ff;">[13] </span><em>Siyar A’lâm al-Nubalâ</em>’.2,606. dan dalam catatan kaki oleh <em>Syu’aib Arnauth</em> disebutkan bahwa dokumen itu juga diriwayatkan oleh <em>Ibnu Katsir </em>dalam <em>al-Bidâyah</em>,8/109 dari jalur Imam Muslim, dengan sanad yang sahih. Dan juga dalam Tarikh Ibnu ’Askir,19/121/2.</p>
<p><span style="color:#0000ff;">[14]</span> Maka berdasarkan hadis palsu bermasalah di atas kaum Nawâshib; antek-antek bani Umayyah menyebarklan isu palsu bahwa Mu’awiyah adalah penulis wahyu. Sementara Ibnu Hajar dalam al Ish^abah-nya, adz Dzahabi dalam Siyar A’lam-nya dan ulama lainnya menolak isu palsu tersebut.</p>
<p><span style="color:#ff0000;">__________________________________</span></p>
<p><span style="color:#0000ff;"><strong>TULISAN TERKAIT</strong></span></p>
<ul>
<li><a href="http://abusalafy.wordpress.com/2009/09/21/bantahan-atas-abu-jauza%E2%80%99-dan-para-wahhabiyyun-mujassimun-musyabbihun-1/" target="_blank">Bantahan Atas Abu Jauzâ’ Dan Para Wahhâbiyyûn-Mujassimûn Musyabbihûn! (1)</a></li>
</ul>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/abusalafy.wordpress.com/451/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/abusalafy.wordpress.com/451/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/abusalafy.wordpress.com/451/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/abusalafy.wordpress.com/451/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/abusalafy.wordpress.com/451/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/abusalafy.wordpress.com/451/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/abusalafy.wordpress.com/451/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/abusalafy.wordpress.com/451/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/abusalafy.wordpress.com/451/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/abusalafy.wordpress.com/451/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abusalafy.wordpress.com&blog=1269412&post=451&subd=abusalafy&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abusalafy.wordpress.com/2009/09/28/bantahan-atas-abu-jauza%e2%80%99-dan-para-wahhabiyyun-mujassimun-musyabbihun-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/dcc398e7d74a34e59c3d59ffcc0673ff?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">abusalafy</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Fatwa Wahabi-Salafy Bagi Yang Berminat Menikah Dengan Jin</title>
		<link>http://abusalafy.wordpress.com/2009/09/21/fatwa-wahabi-salafy-bagi-yang-berminat-menikah-dengan-jin/</link>
		<comments>http://abusalafy.wordpress.com/2009/09/21/fatwa-wahabi-salafy-bagi-yang-berminat-menikah-dengan-jin/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 21 Sep 2009 10:42:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abusalafy</dc:creator>
				<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[Fatwa Jenaka Wahabi]]></category>
		<category><![CDATA[Fatwa Wahabi-Salafy]]></category>
		<category><![CDATA[Manhaj]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abusalafy.wordpress.com/?p=427</guid>
		<description><![CDATA[Ada sebuah tawaran menarik yang disajikan oleh peramu fatwa asal negeri seribu satu Emir dan &#8220;Emira Girang&#8221; tentang menikah dengan jin!! Sungguh sebuah tawaran spektakuler yang sangat ditunggu-tunggu oleh mereka yang mungkin sudah bosan berumah tangga dengan sesame jenis manusia!
Bagi Anda yang kurang mendapatkan sakinah dan mawamaddah dalam pernikahannya dengan sesama jenis manusia, bisa segera [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abusalafy.wordpress.com&blog=1269412&post=427&subd=abusalafy&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p dir="ltr">Ada sebuah tawaran menarik yang disajikan oleh peramu fatwa asal negeri seribu satu Emir dan &#8220;Emira Girang&#8221; tentang menikah dengan jin!! Sungguh sebuah tawaran spektakuler yang sangat ditunggu-tunggu oleh mereka yang mungkin sudah bosan berumah tangga dengan sesame jenis manusia!</p>
<p dir="ltr">Bagi Anda yang kurang mendapatkan <em>sakinah</em> dan <em>mawamaddah</em> dalam pernikahannya dengan sesama jenis manusia, bisa segera menguhubungi <em>&#8220;Biro Jodoh&#8221;</em> yang dikelolah <a href="http://www.almenhaj.net/makal.php?linkid=222" target="_blank">Asy-Syekh DR. Muhammad Mosa Nasr.</a></p>
<p dir="ltr">Pasti Anda sudah tidak sabar mendengar berita gembira ini. Ikuti fatwa di bawah ini:</p>
<p dir="ltr"><span id="more-427"></span></p>
<p dir="ltr">
<blockquote>
<p dir="ltr"><span style="color:#ff0000;"><strong>SUMBER FATWA:</strong></span> <a href="http://www.almenhaj.net/makal.php?linkid=222" target="_blank">http://www.almenhaj.net/makal.php?linkid=222</a></p>
<p dir="rtl" align="right">
<h2 style="text-align:right;"><strong>فتاوى الدكتور محمد موسى</strong></h2>
<h2 style="text-align:right;"><strong>هل يكون التزاوج بين الإنس والجن</strong></h2>
<h2 style="text-align:right;"><strong>الشيخ محمد موسى نصر</strong></h2>
<h2 style="text-align:right;"><strong>إن التزواج بين بني الانسان وبين الجان يحدث وشاهدنا قوله تعالى</strong><strong> :</strong></h2>
<h2 style="text-align:right;"><strong>[</strong><strong>وَيَوْمَ يَحْشُرُهُمْ جَمِيعًا يَا مَعْشَرَ الجِنِّ قَدِ اسْتَكْثَرْتُمْ</strong><strong> </strong><strong>مِنَ الإِنْسِ وَقَالَ أَوْلِيَاؤُهُمْ مِنَ الإِنْسِ رَبَّنَا اسْتَمْتَعَ</strong><strong> </strong><strong>بَعْضُنَا بِبَعْضٍ وَبَلَغْنَا أَجَلَنَا الَّذِي أَجَّلْتَ لَنَا قَالَ النَّارُ</strong><strong> </strong><strong>مَثْوَاكُمْ خَالِدِينَ فِيهَا إِلَّا مَا شَاءَ اللهُ إِنَّ رَبَّكَ حَكِيمٌ</strong><strong> </strong><strong>عَلِيمٌ] {الأنعام:128</strong><strong>}</strong></h2>
<h2 style="text-align:right;"><strong>لكن إذا تزوج جني من إنسية أي : أن الرجل من الجان والمرأة من الإنس فلا يكون</strong><strong> </strong><strong>هناك حمل وولد</strong></h2>
<h2 style="text-align:right;"><strong>أما إذا كان العكس أي الرجل انسي والمرأة من الجن فإنه يكون ولد وهو جني</strong><strong> .</strong></h2>
<h2 style="text-align:right;"><strong>المصدر : جلسة دعوية مع جماعة وادي السير</strong></h2>
<p dir="rtl"><strong> </strong></p>
<p dir="ltr"><strong>Fatwa DR. Muhammad Mosa Nasr</strong></p>
<p dir="ltr"><strong>Apakah Bisa terjadi pernikahan antara manusian dan jin?</strong></p>
<p dir="ltr"><strong>Syeikh Muhammad Mosa Nasr</strong>:</p>
<p dir="ltr">Sesungguhnya pernikahan antara manusian dan jin terjadi, dan kami saksikan firman Allah:</p>
<h2><strong>وَيَوْمَ يَحْشُرُهُمْ جَمِيعًا يَا مَعْشَرَ الجِنِّ قَدِ اسْتَكْثَرْتُمْ</strong><strong> </strong><strong>مِنَ الإِنْسِ وَقَالَ أَوْلِيَاؤُهُمْ مِنَ الإِنْسِ رَبَّنَا اسْتَمْتَعَ</strong><strong> </strong><strong>بَعْضُنَا بِبَعْضٍ وَبَلَغْنَا أَجَلَنَا الَّذِي أَجَّلْتَ لَنَا قَالَ النَّارُ</strong><strong> </strong><strong>مَثْوَاكُمْ خَالِدِينَ فِيهَا إِلَّا مَا شَاءَ اللهُ إِنَّ رَبَّكَ حَكِيمٌ</strong><strong> </strong><strong>عَلِيمٌ] {الأنعام:128</strong><strong>}</strong></h2>
<p dir="ltr"><em>Dan (ingatlah) hari di waktu Allah menghimpunkan mereka semuanya, (dan Allah berfirman): Hai golongan jin (syaitan), sesungguhnya kamu telah banyak (menyesatkan) manusia, lalu berkatalah kawan-kawan mereka dari golongan manusia: Ya Rabb kami, sesungguhnya sebagian daripada kami telah dapat kesenangan dari sebagian (yang lain) dan kami telah sampai kepada waktu yang telah Engkau tentukan bagi kami. Allah berfirman: Neraka itulah tempat diam kamu, sedang kamu kekal didalamnya, kecuali kalau Allah menghendaki (yang lain). Sesungguhnya Rabbmu Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui. (QS. 6:128)</em></p>
<p dir="ltr">Akan tetapi jika seorang jin pria menikahi wanita dari jenis manusia, maka tidak akan terjadi kehamilan.</p>
<p dir="ltr">Adapun jika sebailknya yaitu yang pria adalah dari jenis manusia dan perempuannya dari jenis jin maka bisa terjadi kelahiran dan status anaknya adalah jin!!</p>
<p dir="ltr"><strong>Sumber: Majlis Da&#8217;wah bersama jama&#8217;ah Lembah Sair.</strong></p>
</blockquote>
<p dir="ltr">
<p dir="ltr"><span style="text-decoration:underline;"><span style="color:#0000ff;"><strong>Abu Salafy:</strong></span></span></p>
<p dir="ltr">Sungguh luar biasa, disamping mendalami ilmu &#8220;Fikih Alam Gaib&#8221;, Syeikh Wahabi/salafy yang satu ini juga ahli ilmu kebidanan dan kandungan, sehingga ia tau kalau perempuan dari jenis manusia tidak bias dihamili oleh jin pria, tapi kalau jin wanita bisa dihamili oleh manusia!</p>
<p dir="ltr">Saya tidak mengerti, sebagai syarat sahnya pernikahan apa disyaratkan Qodinya harus bermazhab Wahhabi/salafy, dan lebih afdhalnya kalau yang buta, supaya tidak <em>&#8220;lirak-lirik&#8221; </em>mencuri pandang melirik mempelai wanita yang molek!! Disampin pasti lebih taqwa!</p>
<p dir="ltr">Mudah-mudahan para masyaikh Wahhabi/salafy bukan terlahir dari perkawainan silang antara jin dan manusia…</p>
<p>Tapi kalau lihat tingkahnya… ya Wallahu a&#8217;lam.</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/abusalafy.wordpress.com/427/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/abusalafy.wordpress.com/427/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/abusalafy.wordpress.com/427/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/abusalafy.wordpress.com/427/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/abusalafy.wordpress.com/427/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/abusalafy.wordpress.com/427/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/abusalafy.wordpress.com/427/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/abusalafy.wordpress.com/427/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/abusalafy.wordpress.com/427/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/abusalafy.wordpress.com/427/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abusalafy.wordpress.com&blog=1269412&post=427&subd=abusalafy&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abusalafy.wordpress.com/2009/09/21/fatwa-wahabi-salafy-bagi-yang-berminat-menikah-dengan-jin/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>38</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/dcc398e7d74a34e59c3d59ffcc0673ff?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">abusalafy</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Bantahan Atas Abu Jauzâ’ Dan Para Wahhâbiyyûn-Mujassimûn Musyabbihûn! (1)</title>
		<link>http://abusalafy.wordpress.com/2009/09/21/bantahan-atas-abu-jauza%e2%80%99-dan-para-wahhabiyyun-mujassimun-musyabbihun-1/</link>
		<comments>http://abusalafy.wordpress.com/2009/09/21/bantahan-atas-abu-jauza%e2%80%99-dan-para-wahhabiyyun-mujassimun-musyabbihun-1/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 21 Sep 2009 10:36:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abusalafy</dc:creator>
				<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[Dongeng Wahabi]]></category>
		<category><![CDATA[Fatwa Jenaka Wahabi]]></category>
		<category><![CDATA[Humor]]></category>
		<category><![CDATA[Kajian Hadis]]></category>
		<category><![CDATA[Kenaifan Kaum Wahhabi]]></category>
		<category><![CDATA[Manhaj]]></category>
		<category><![CDATA[Menjawab Blog Wahabi/Salafy]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abusalafy.wordpress.com/?p=443</guid>
		<description><![CDATA[Bincang Bersama Abu Jauza -Hadis Melihat Tuhan- (1)
Mukaddimah Penting!
Dalam memahami konsep akidah ketuhanan diperlukan metode yang benar dan logika sehat yang bertanggung jawab! Tanpanya kita pasti akan terjebak dalam kerancuan berpikir dan penyimpangan dalam kesimpulan.
Dan hal ini sepertinya yang kurang diperhatikan oleh kaum Wahhabiyah –baik para ulamanya apalagi para mukallidnya hanya pandai menyanyikan lagu sumbang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abusalafy.wordpress.com&blog=1269412&post=443&subd=abusalafy&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><span style="color:#003366;"><strong>Bincang Bersama Abu Jauza <a href="http://abul-jauzaa.blogspot.com/2009/06/pembahasan-hadits-ummu-ath-thufail.html" target="_blank">-Hadis Melihat Tuhan- (1)</a></strong></span></p>
<p><strong>Mukaddimah Penting!</strong></p>
<p>Dalam memahami konsep akidah ketuhanan diperlukan metode yang benar dan logika sehat yang bertanggung jawab! Tanpanya kita pasti akan terjebak dalam kerancuan berpikir dan penyimpangan dalam kesimpulan.</p>
<p>Dan hal ini sepertinya yang kurang diperhatikan oleh kaum Wahhabiyah –baik para ulamanya apalagi para mukallidnya hanya pandai menyanyikan lagu sumbang para masyâikh tanpa kefahaman dan nalar sehat!</p>
<p><span id="more-443"></span></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Karenanya, kami perlu manyajikan kepada para pembaca (dan juga tentunya para aktifis dan Misionaris Sekte Wahhabiyah yang sering berkunjung ke blog ini) beberapa kaidah dasar yang mesti diperhatikan dalam mengkaji konsep akidah ketuhanan Islam.<strong> </strong></p>
<p><strong>Metode Yang Benar Dalam Membangun Akidah</strong></p>
<p>Ketahuilah wahai saudaraku bahwa di dalam membangun sebuah akidah (keyakinan tentang sebuah masalah <em>i’tiqâdiyah</em>) hendaknya seorang peneliti tidak membatasi pandangan dan penelitiannya hanya pada riwayah semata, sebelum ia tuntas menelusurinya dalam ayat-ayat suci Al Qur’an al Karim, sebab ia adalah sumber utama Islam yang harus menjadi rujukan dalam pembentukan sebuah keyakinan akan sebuah masalah <em>syar’iyah</em>. Hendaknya pembentukan pemikiran itu berangkat dari titik Al Qur’an untuk mengetahui sejauh mana kesesuaian keyakinan itu terhadapnya.</p>
<p>Dan adalah sebuah kesalahan yang akan berdampak fatal apabila seorang pengkaji dalam membangun sebuah kayakinan sebelum ia meneliti apa kata Al Qur’an, ia bergegas membongkar-bongkar tumpukan riwayat… dan tidak ada dalam benaknya selain riwayat! Ia mengabaikan meneliti ayat-ayat Al Qur’an dalam masalah yang sedang ia teliti. Ia tidak mengenal ayat-ayat yang berbicara tentang masalah tersebut!</p>
<p>Awal yang ia banggakan dalam berargumentasi adalah riwayat bukan ayat Al Qur’an!</p>
<p>Metode seperti itu perlu diluruskan. Hendaknya seorang pengkaji (tentunya yang memiliki kelaikan secara intelektual untuk terjun dalam dunia kajian Islam, bukan para awam yang hanya akan menambah kekacauan dan memperpanjangn daftar kebodohan belaka!) pertama-tama menfokuskan penelitiannya terhadap ayat-ayat Al Qur’an, barulah kemudian kepada Sunnah (riwayat). Sebagian orang  menyanyikan metode ini namun dalam praktiknya ia jauh darinya. Mereka lebih berpegang dengan sebuah riwayat yang <em>syâdz</em>, tertolak, atau <em>munkar</em>, sementara ayat-ayat suci Al Qur’an yang <em>sharîhah</em> (jelas maknanya) mereka campakkan di belakang punggung mereka!</p>
<p>Banyak kasus “kecelakan pemikiran” akibat kesalahan metode pembangunan akidah di atas. <strong> </strong></p>
<p><strong>Periwayatan Hadis Dengan Makna Bukan Dengan Radaksi Asli Nabi Muhammad saw.</strong></p>
<p>Kenyataan ini dengan mudah ditemukan di banyak riwayat. Salah satu dampak buruk darinya adalah terjadinya <em>idhthirâb</em> (kekacauan/perbedaan dalam redaksi) yang cukup parah sehingga antara satu redaksi dengan redaksi lainnya (yang masih dalam satu hadis) sering terjadi pertentangan yang tak mungkin dikompromikan.<a href="#_ftn1">[1]</a></p>
<p>Hal ini juga harus menjadi bahan pertimbangan mengapa kita harus terlebih dahulu menfokuskan kajian akidah kita kepada Al Qur’an bukan kepada riwayat!<strong> </strong></p>
<p><strong>Ayat-ayat Al Qur’an Ada Yang <em>Mutasyâbih</em></strong></p>
<p>Hal penting lain yang tidak boleh diabaikan dalam membangun sebuah keyakinan dari Al Qur’an adalah bahwa ayat-ayat Al Qur’an terkemas dalam dua bentuk; <strong><em>muhkam</em></strong> dan <strong><em>mutasyâbih</em></strong>.</p>
<p>Ayat-ayat muhkamat adalah ayat-ayat yang gamblang dan tidak mengandung lebih dari satu pemaknaan. Ia adalah induk yang harus dijadikan rujukan dan hakim yang akan mengarahkan pemaknaan ayat-ayat <em>mutasyâbihat</em> kepada arah makna yang benar dan terpimpin.</p>
<p>Sedangkan ayat-ayat <em>mutasyâbihat</em> adalah ayat-ayat yang samar dan mengandung beberapa kemungkinan makna; ada makna dekat namun bukan yang dimaksud dan ada makna jauh namun ia lebih dekat kepada dasar-dasar akidah Islam telah terbangun di atas dasar-dasar ayat-ayat <em>muhkamat</em>!</p>
<p>Maka adalah sebuah kewajiban atas setiap pengkaji Muslim untuk merujukkan ayat-ayat <em>mutasyâbihat</em> dalam upayanya untuk memahami kepada ayat-ayat<em> muhkamat</em>. Dan tidak gegebah dalam menerjunkan diri dalam lautan ayat-ayat <em>mutasyâbihat</em> tanpa bantuan ayat muhkamat. Itulah cirri pengkaji Muslim yang Mukmin dan patuh kepada perintah Allah SWT dalam memahami ajaran-Nya.</p>
<p>Adapun gegabah dalam usaha gagalnya dalam menafsirkan dan menakwilkan ayat-ayat mutasyâbihat dengan tanpa modal kecuali keberanian berlebihan dan kecenderungan untuk menyimpang dan menyimpangkan ayat-ayat Al Qur’an al Karim adalah ciri kentara kaum yang dalam hatinya terdapat <em>zaigh</em> (kecenderungan dalam menyimpang dari <em>al haq</em>).</p>
<p>Allah SWT berfirman:</p>
<h2 style="text-align:right;">هُوَ الَّذي أَنْزَلَ عَلَيْكَ الْكِتابَ مِنْهُ آياتٌ مُحْكَماتٌ هُنَّ أُمُّ الْكِتابِ وَ أُخَرُ مُتَشابِهاتٌ فَأَمَّا الَّذينَ في‏ قُلُوبِهِمْ زَيْغٌ فَيَتَّبِعُونَ ما تَشابَهَ مِنْهُ ابْتِغاءَ الْفِتْنَةِ وَ ابْتِغاءَ تَأْويلِهِ وَ ما يَعْلَمُ تَأْويلَهُ إِلاَّ اللَّهُ وَ الرَّاسِخُونَ فِي الْعِلْمِ يَقُولُونَ آمَنَّا بِهِ كُلٌّ مِنْ عِنْدِ رَبِّنا وَ ما يَذَّكَّرُ إِلاَّ أُولُوا الْأَلْبابِ.</h2>
<p><strong> </strong></p>
<p><em>“Dia-lah yang menurunkan Al Kitab (Al-Qur&#8217;an) kepada kamu. Di antara (isi) nya ada ayat-ayat yang muhkamât itulah pokok-pokok isi Al Qur&#8217;an dan yang lain (ayat-ayat) mutasyaabihât. Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, maka mereka mengikuti sebagian ayat-ayat yang mutasyabihat untuk menimbulkan fitnah dan untuk mencari-cari takwilnya, padahal tidak ada yang mengetahui takwilnya melainkan Allah dan orang-orang yang mendalam ilmunya. Mereka berkata: &#8220;Kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyabihat, semuanya itu dari sisi Tuhan kami.” Dan tidak dapat mengambil pelajaran (daripadanya) melainkan orang-orang yang berakal.”</em> <strong>(QS. Âlu ‘Imrân [3]; 7)</strong></p>
<p><strong>Akidah Harus Dibangun Di Atas Bukti yang <em>Qath’i</em></strong></p>
<p><span style="text-decoration:underline;">Dalam masalah-masalah <em>furû’iyah</em> (fikih praktis) para ulama boleh membangun kesimpulan berdasarkan dalil-dalil yang <em>dzanniyah</em>. Adapun <em>I’tiqâd</em> (keyakinan, apalagi yang mendasar) maka tidak boleh kecuali ditegakkan di atas pondasi dan dasar yang <em>qath’i</em></span> (pasti/tidak mengandung ta’wil dan/atau kesamaran).</p>
<p>Kenyataan ini harus selalu diindahkan dalam mengkaji dan menetapkan masalah-masalah <em>I’tiqâdiyah</em> agar tidak terjebak dalam kesalahan dan penyimpangan.</p>
<p>Dalam banyak kasus, mereka menetapkan sebuah keyakinan tertentu, akan tetapi setelah dilakukan menelitian ternyata dalil yang dijadikan dasar dan pondasi adalah ayat-ayat Al Qur’an yang dari sisi pengertian dan maknanya tidak memberikan kepastian tegas. Ia mengandung kesamaran dan ketidak tegasan serta multi interpretasi! Atau terkadang malah mengandalkan dalil-dalil riwayat yang dari sisi <em>wurud</em> (datang)nya dari Nabi saw. belum pasti!</p>
<p>Ayat-ayat Al Qur’an kendati ia pasti/<em>qath’i</em> dari sisi <em>wurûd</em>-nya, akan tetapi banyak darinya masih<em> dzanni dalâlah</em> (petunjuk)nya.</p>
<p><em>Qath’i</em> yang dibutuhkan di sini adalah dalam dua levelnya; dalam <em>warûd</em> dan dalam<em> dalâlah</em>-nya secara bergandengan.</p>
<p><em>Sebelum kita menalaah kualitas riwayat-riwayat tentang Nabi melihat Tuhannya dalam mimpi, kami ajak pembaca untuk meneliti dan mengkaji dua mukaddimah yang erat kaitannya dan sangat urgen sekali dengann tema kita. Dua kaidah ini penting untuk selalu kita indahkan dan menjadi pijakan dalam kajian-kajian kita tentang akidah Tauhid dan ketuhanan serta dasar-dasar keyakinan; </em><em>ushûluddîn</em><em>.<strong> </strong></em></p>
<p><strong>Kaidah Pertama:</strong></p>
<p><em>Pertama-tama</em> yang harus kita cermati ketika mengangkat sebuah riwayat/hadis sebagai hujjah/bukti dalam menetapkan sebuah materi akidah <a href="#_ftn2">[2]</a>adalah bahwa keshahihan hadis dari sisi sanadnya saja belum cukup. Sebab kayakinan harus ditegakkan di atas dasar pondasi yang kokoh … hadis yang dijadikan dasar hendaknya <em>mutawâtir </em>sehingga ia memberikan kepastian informasi; <em>ilm </em>dan dari sisi kandungan dan petunjukknya adalah<em> Qath’iyu ad Dalâlah</em>. Sebab dalam hal keyakinan yang dituntut adalah keyakinan atas dasar yang pasti yang tidak boleh salah atau keliru. Demikian yang ditegaskan para ulama Islam. Karena itu apabila ada sebuah hadis <em>âhâd</em>–betapapun ia shahih dari sisi sanad- bertentangan dengan nash Al Qur’an atau hadis mutawatir atau ijma’ atau dalil aqli yang ditegakkan di atas kaidah-kaidah Al Qur’an dan Sunnah maka ia secara otomatis gugur dari penganggapan dan berhujjah dengannya, sebab dalam kondisi seperti itu dalil yang belum pasti itu bertentangan dengan sesuatu yang pasti.</p>
<p>Karena masalah ini sangat penting untuk diperhatikan dan sering kali dilupakan atau diabaikan oleh kebanyakan pengikut sekte Wahhâbiyah dan/atau Mujassimah maka kami perlu membahasnya dengan sedikit terinci.<strong> </strong></p>
<p><strong>Hadis <em>Âhâd</em> Hanya Memberikan Kesimpulan <em>Dzan</em> Bukan <em>Ilm</em> </strong></p>
<p>Untuk lebih jelasnya saya akan libatkan kemontar dan keterangan para ulama yang menegaskan kenyataan ini.<strong> </strong></p>
<p><strong>Komentar Al Hafidz al Khathib al Baghdadi</strong></p>
<p>Komentar Al Hafidz al Khathib al Baghdadi dalam kitab  <em>Al Faqîh wa al Mutafaqqih</em> berkata:</p>
<h2 style="text-align:right;">باب القول فيما يرد به خبر الواحد : . . . وإذا روى الثقة المأمون خبرا متصل الاسناد رد بأمور : أحدها : أن يخالف موجبات العقول فيعلم بطلانه . . . ‍</h2>
<p>”Bab tentang hal-hal yang menyebabkan ditolaknya hadis <em>ahâd</em>&#8230; jika seorang parawi <em>tsiqah</em> dan terpercaya meriwayatkan sebuah hadis yang bersambung sanadnya, ia dapat ditolak dengan banyak asalan:</p>
<p><em>Pertama</em>, ”Apabila ia (hadis itu) menyalahi kepastian hukum akal sehat maka dengannya dapat dipastikan kepalsuannya. Sebab agama datang dengan hal-hal yang dibenarkan akal sehat bukan yang bertentangan dengannya.</p>
<p><em>Kedua</em>,<em> </em>Ia bertentangan dengan nash Al Qur’an dan Sunnah yang mutawatirah, maka karenanya diketahui bahwa riwayat itu tidak punya asal muasal yang benar.</p>
<p><em>Ketiga</em>, Ia menyalahi ijma’, maka disimpulkan bahwa apa yang termuat dalam hadis itu telah di-<em>mansukh</em>-kan.</p>
<p><em>Keempat</em>, Seorang perawi menyendiri dengan membawa yang seharusnya dikatahui oleh seluruh manusia, maka darinya diketahui bahwa berita itu tidak punya asal muasal yang benar. Karena jika memang benar punya asal muasal yang benar tidak mungkin hanya dia seorang yang mengetahuinya.</p>
<p><em>Kelima</em>, Seorang parawi menyendiri dengan membawakan sebuah riwayat yang menurut kebiasaan wajar berita itu pasti dinukil juga oleh banyak kalangan. Hadis perawi itu tidak bisa diterima karena ia menyendiri dalam kondisi seperti itu.”<a href="#_ftn3">[3]</a></p>
<p>Dan dalam kitab <em>al Kifâyah Fi ’Ilmi ad Dirâyah</em>-nya:432, al Khathib al Baghdadi kembali mempertegas masalah ini, ia menuliskan sebuah bab dengan judul:<strong> </strong><span style="text-decoration:underline;">Bab Keterangan tentang mana khabar tunggal/<em>âhâd</em> yang boleh diterima dan mana yang tidak boleh diterima:</span></p>
<p>”Khabar tunggal/<em>âhâd</em> tidak dapat diterima dalam masalah agama manapun yang wajib atas seluruh mukallaf untuk mengetahuinya secara pasti dan tegas. Alasannya, sebab jika belum diketahui dengan pasti bahwa berita itu adalah sabda Rasulullah saw. maka akan menjauh dari kepastian informasi akan kandungannya. Adapun dalam selain itu dari bab-bab hukum yang kita tidak diharuskan mendasarinya di atas ilm/informasi pasti bahwa Nabi saw. menetapkannya dan mengabarkan dari Allah –Azza wa Jalla-, maka khabar wâhid/tunggal tentangnya dapat diterima dan mengamalkannya adalah wajib.”</p>
<p>Dan keterangan serupa ia tegaskan pada bab khusus yang ia tulis sebelumnya: <span style="color:#000000;"><span style="text-decoration:underline;">Bab Keterangan tentang syubhat/keragu-raguan orang yang mengaku bahwa <em>khabar wâhid</em> itu menyimpulkan ilmu (informasi pasti) dan sekaligus pembatalannya.</span></span></p>
<p><strong>Komentar Hafidz al Baihaqi</strong></p>
<p>Dalam kitaab<em> </em><em>al Asmâ’ wa ash Shifât</em><em>-nya:357 al Hafidz al Baihaqi </em>menekankan masalah ini, ia berkata,<em> </em></p>
<p><em>&#8220;Karena masih adanya kemungkinan mena’wilkan maknanya, para ulama kelompok kami meninggalkan berhujjah dengan khabar âhâd dalam menetapkan sifat-sifat Alllah Ta’ala, jika ia tidak mempunyai asal muasal/dasar dalam Al Qur’an atau ijma. Mereka menyibukkan diri dengan mena’wilkannya.” </em></p>
<p><strong>Komentar Al Hafidz Ibnu Abdil Barr</strong></p>
<p><em>Al Hafidz Ibnu Abdil Barr</em> berkata,</p>
<p><em>“Para ulama kami dan selainnya berselisih pendapat tentang hadis/khabar </em><em>wâhid yang adil (yang belum mencapai derajat </em><em>mutawâtir), apakah ia memberikan kepastian ilmu dan amal (boleh menjadi dasar pengamalan) atau hanya amal saja? Menurut mayoritas ulama kami (mazhab Malikiyah), ia hanya menentukan </em><em>amal saja tidak memberikan kesimpulan ilmu pasti! Ini adalah pendapat (Imam) Syafi’i dan jumhûr Ahli Fikih dan Teologi. Menurut mereka tidak-lah memberikan kepastian ilmu kecuali yang dikuatkan dari Allah dan memutus semua uzur, sebab ia telah datang dari jalur pasti yang tidak diperselisihkan lagi.”</em></p>
<p>Setelahnya ia menyebutkan pendapat ulama yang berpendapat bahwa ia memberikan kepastian ilmu <em>dzâhir</em> (bukan sekedar <em>dzan, </em>yaitu hanya<em> </em>dalam <em>furû’</em>) dan juga memberikan kepastian diamalkan.</p>
<p>Kemudian ia menutup dengan kata-kata,<em> “Dan pendapat yang kami yakini adalah ia hanya memberikan ketentuan amal saja tidak memberikan kepastian ilmu, seperti empat orang saksi. Dan atas pendapat ini kebanyakan Ahli Fikih dan Hadis.”</em> <a href="#_ftn4">[4]</a></p>
<p><strong>Komentar Imam Bukahri Dan al Hafidz Ibnu Hajar</strong></p>
<p>Dalam <em>Shahih</em>-nya, Imam Bukahri menuliskan sebuah bab dengan judul:</p>
<h2 style="text-align:right;">باب ما جاء فِي إجازَةِ خبرِ الواحد الصدوقِ فِي الأذان و الصلاة و الصوم و الفرائضِ و الأحكامِ.</h2>
<p><em>Bab: Apa-apa yang datang tentang dibolehkannya bersandar dengan khabar seorang yang jujur dalam masalah adzan, shalat, puasa dan kewajiban-kewajiban serta hukum.</em></p>
<p><em>Ibnu Hajar</em> mengomentari kata-kata Imam Bukhari di atas dengan, “Kata-katanya: <em>&#8216;dan kewajiban-kewajiban&#8217;</em> setelah menyebut adzan, shalat, puasa temasuk menyambung kata umum dengan kata khusus. Dan disebutkan secara khusus tiga kewajiban/hukum itu sebagai bukti perhatian atasnya. <em>Al Kirmâni</em> berkata, ‘Hal itu agar diketahui bahwa ia (khabar seorang yang jujur) itu hanya berlaku dalam masalah amalan saja <span style="text-decoration:underline;">tidak dalam hal keyakinan</span>.’”<a href="#_ftn5"> [5]</a></p>
<p><strong>Komentar Imam Nawawi</strong></p>
<p>Imam Nawawi menegaskan alasan mengapa hadis/<em>khabar</em> <em>Ahad</em> hanya memberikan kesimpulan <em>dzan</em> semata dan tidak memberikan kepastian informasi/ilmu. Ia berkata:</p>
<p><em>&#8220;Adapun khabar wâhid yaitu khabar yang belum memenuhi syarat-syarat kualitas mutawatir, baik perawinya satu mapun lebih. Para ulama berselisih pendapat tentang hukumnya, jumhur ulama Islam dari kalangan sahabat, tabi’în dan generasi setelahnya dari kalangan muhaddisin dan fukaha serta teoloq bahwa khabar wâhid yang parawinya tsiqah (terpercaya) adalah sebagai hujjah dalam syari’at (hukum fikih) yang mengikat untuk diamalkan, ia memberikan kesimpulan dzan bukan ilm/informasi pasti.&#8221;</em></p>
<p>Ia juga berkata: <em>&#8220;Bagaimana ia dapat memberikan kepastian ilmu sementara asumsi/kemungkinan terjadinya kesalahan, kealpaan dan kepalsuan/kidzb dll. masih terbuka?!&#8221;</em> <a href="#_ftn6">[6]</a></p>
<p><strong>Dalam kesempatan lain Imam an Nawawi berkomentar:</strong></p>
<h2 style="text-align:right;">وذهب بعض المحدثين إلى أن الاحاد التي في صحيح البخاري أو صحيح مسلم تفيد العلم دون غيرها من الاحاد ؟ وقد قدمنا هذا القول وإبطاله في الفصول</h2>
<p><em>&#8220;Sebagian Ahli Hadis berpendapat bahwa hadis </em><em>Ahâd yang ada dalam Shahih Bukhari dan Muslim memberikan kepastian informasi, tidak hadis </em><em>Ahâd dalam selain keduanya. Dan telah kami paparkan panjang lebar bukti kebatilan pendapat ini dalam beberapa pasal sebelumnya&#8230;..&#8221;</em></p>
<p>Setelahnya ia melanjutkan:</p>
<h2 style="text-align:right;">وأما من قال يوجب العلم &#8211; خبر الواحد &#8211; فهو مكابر للحس ، وكيف يحصل العلم واحتمال الغلط والوهم والكذب وغير ذلك متطرق إليه والله أعلم.<strong> </strong></h2>
<p><em>&#8220;Adapun orang yang berpendapat bahwa hadis </em><em>Ahad memberikan ketetapan ilmu maka ia adalah menentang kenyataan. Bagaimana ia dapat memberikan ketetapan ilmu padahal kemungkinan adanya kesalahan, kealpaan, pemalsuan dll. itu bisa saja terjadi. </em><em>Wallahu A’lam.”</em> <a href="#_ftn7">[7]</a></p>
<p>Serta banyak komentar lainya dari para ulama seperti <em>al Khathib al Baghdadi</em> dalam <em>al Kifâyah Fi ‘Ilmi ad Dirâyah</em>: 432,<em> al Hafidz al Baihaqi</em> dalam <em>al Asmâ’’’ wa ash Shifâf</em>: 357.</p>
<p><strong>Ibnu Taimiyah Mengakuinya Pula!</strong></p>
<p>Bahkan Ibnu Taimiyah –panutan kaum Wahhâbiyah pun- mengakui kaidah ini, walaupun kami sebenarnya tidak membutuhkan pengakuannya, sebab keterangan para pembesar ulama Islam telah cukup bagi kami, akan tetapi karena ia adalah panutan kaum Wahhabi Mujassim maka kami sebutkan komentarnya di sini-.</p>
<p>Ibnu Tamiyah berkata dalam <em>Minhâj as Sunnah</em>-nya,2/133:<em> “Hadis yang ia bawa ini adalah hadis âhad, maka bagaimana dapat ditetapkan dengannya sebuah </em><em>ashl, prinsip agama yang tidak sah keimanan tanpanya?!”</em></p>
<p><span style="text-decoration:underline;">Dari ini semua dapat ditegaskan di sini bahwa hadis <em>âhad</em> hanya memberikan <em>dzan</em>/dugaan bukan <em>ilm</em>/kepastian ilmu. Karenannya tidak boleh dasar akidah ditegakkan di atas pondasi hadis <em>âhâd</em>!</span></p>
<p>Hadis yang hanya mencapai derajat <em>Ahâd</em> kendati diriwayatkan oleh perawi jujur terpercaya bisa saja bermasalah dan yang kerenanya ia ditolak, apalagi jika di antara parawi dalam mata raantai sanadnya ada yang cacat atau diperbincangkan oleh para pakar Ilmu Rijâl atau ia bertentangan dengan hadis yang lebih kuat.</p>
<p>Kami tegaskan sekali lagi di sini bahwa kami berpendapat bahwa khabar/hadis <em>âhâd</em> bisa saja diterima dalam akidah apabila ia mendukung dalil-dalil qath’i/pasti dalam ketegasannya, akan tetapi kami menolak dan menentang membangun akidah dengan mendasarkan pada hadis <em>âhâd</em> yang bertentangan dengan kaidah-kaidah agama yang pasti!!</p>
<p><span style="color:#0000ff;"><strong>(Besambung insya Allah)</strong></span></p>
<hr size="1" /><a href="#_ftnref1">[1]</a> Penulis di sini tidak bermaksud menyebutkan contoh-contoh kasus seperti itu, penulis hanya akan mencukupkan dengan menyebut contoh kasus tentang masalah yang menjadi tema kajian dalam artikel, yaitu hadis Melihat Allah dalam bentuk terindahyang menjadi andalan kaum Wahhâbiyah Salafiyah bahwa Allah dapat saja dilihat dengan mata telanjang dan Dia adalah berbentuk (<em>lahu shûrah</em>).<a href="#_ftnref2"></a></p>
<p><a href="#_ftnref2">[2]</a> Penulis berharap tidak disalah-pahami keterangan di atas dengan menganggap bahwa kami menentang pengandalan hadis âhâd yang shahih dalam menetapkan hukum fikih atau dalam <em>furû</em>/cabang <em>I’tiqâd</em>/keyakinan, bukan dasar dan pondasi keyakinan tentang ketuhanan misalnya.<a href="#_ftnref3"></a></p>
<p><a href="#_ftnref3">[3]</a> <em>Al Faqîh wa al Mutafaqqih,</em>1/132.<a href="#_ftnref4"></a></p>
<p><a href="#_ftnref4">[4]</a> At Tamhîd,1/7.<a href="#_ftnref5"></a></p>
<p><a href="#_ftnref5">[5]</a> Fath al Bâri,13/231.<a href="#_ftnref6"></a></p>
<p><a href="#_ftnref6">[6]</a> Syarah Imam an Nawawi atas Shahih Muslim,1/131.<a href="#_ftnref7"></a></p>
<p><a href="#_ftnref7">[7]</a> Syarah Shahih Muslim,1/131.</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/abusalafy.wordpress.com/443/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/abusalafy.wordpress.com/443/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/abusalafy.wordpress.com/443/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/abusalafy.wordpress.com/443/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/abusalafy.wordpress.com/443/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/abusalafy.wordpress.com/443/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/abusalafy.wordpress.com/443/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/abusalafy.wordpress.com/443/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/abusalafy.wordpress.com/443/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/abusalafy.wordpress.com/443/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abusalafy.wordpress.com&blog=1269412&post=443&subd=abusalafy&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abusalafy.wordpress.com/2009/09/21/bantahan-atas-abu-jauza%e2%80%99-dan-para-wahhabiyyun-mujassimun-musyabbihun-1/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/dcc398e7d74a34e59c3d59ffcc0673ff?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">abusalafy</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Selamat Iedul Fitri 1430 H</title>
		<link>http://abusalafy.wordpress.com/2009/09/20/selamat-iedul-fitri-1430-h/</link>
		<comments>http://abusalafy.wordpress.com/2009/09/20/selamat-iedul-fitri-1430-h/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 20 Sep 2009 17:44:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abusalafy</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ucapan Selamat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abusalafy.wordpress.com/?p=435</guid>
		<description><![CDATA[
Kepada segenap umat Islam apapun mazhabnya, khususnya pengunjung blog kami ini

Abu Salafy Mengucapkan:
Selamat Idul Fitri 1 Syawal 1430 H
Mohon Ma&#8217;af Lahir dan Batin
Semoga Allah SWT menerima semua amal ibadah kita di bulan ramadhan yang barusan kita jalani, dan mudah-mudahan puasa kita termasuk yang imanan wahtisaban. wa minal aidin wal faizin &#8211; wa kullu aamin wa [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abusalafy.wordpress.com&blog=1269412&post=435&subd=abusalafy&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><img src="/Users/wancilik/AppData/Local/Temp/moz-screenshot.png" alt="" /><a href="http://abusalafy.files.wordpress.com/2007/12/eani16.gif"><img class="aligncenter size-full wp-image-130" src="http://abusalafy.files.wordpress.com/2007/12/eani16.gif?w=320&#038;h=320" alt="" width="320" height="320" /></a></p>
<h2 style="text-align:center;"><span style="color:#800080;">Kepada segenap umat Islam apapun mazhabnya, khususnya pengunjung blog kami ini<br />
</span></h2>
<h2 style="text-align:center;"><span style="color:#008000;">Abu Salafy Mengucapkan:</span></h2>
<h2 style="text-align:center;"><span style="color:#008080;">Selamat Idul Fitri 1 Syawal 1430 H</span></h2>
<h2 style="text-align:center;"><span style="color:#008080;">Mohon Ma&#8217;af Lahir dan Batin</span></h2>
<h2 style="text-align:center;"><span style="color:#3366ff;">Semoga Allah SWT menerima semua amal ibadah kita di bulan ramadhan yang barusan kita jalani, dan mudah-mudahan puasa kita <em>termasuk yang imanan wahtisaban. </em><em>wa minal aidin wal faizin &#8211; wa kullu aamin wa antum bi khair.</em></span></h2>
<h2 style="text-align:center;"><span style="color:#993300;">Hamba Allah yang faqir</span></h2>
<h2 style="text-align:center;"><span style="color:#008000;"><strong>Abu Salafy</strong></span></h2>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/abusalafy.wordpress.com/435/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/abusalafy.wordpress.com/435/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/abusalafy.wordpress.com/435/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/abusalafy.wordpress.com/435/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/abusalafy.wordpress.com/435/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/abusalafy.wordpress.com/435/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/abusalafy.wordpress.com/435/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/abusalafy.wordpress.com/435/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/abusalafy.wordpress.com/435/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/abusalafy.wordpress.com/435/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abusalafy.wordpress.com&blog=1269412&post=435&subd=abusalafy&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abusalafy.wordpress.com/2009/09/20/selamat-iedul-fitri-1430-h/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/dcc398e7d74a34e59c3d59ffcc0673ff?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">abusalafy</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="/Users/wancilik/AppData/Local/Temp/moz-screenshot.png" medium="image" />

		<media:content url="http://abusalafy.files.wordpress.com/2007/12/eani16.gif" medium="image" />
	</item>
	</channel>
</rss>