Membongkar Kepalsuan Akidah Salafi Wahhâbi Tentang Ketinggian Fisikal Allah SWT Di Atas Makhluk-Nya (I)
Artikel ini adalah tanggapan Abu Salafy atas tulisan Ustadz Firanda dalam bukanya:
Ketinggian Allah Di Atas Makhluk-Nya, Bab 1: Bantahan Terhadap Aqidah Abu Salafy: Ternyata Tuhan Tidak Di Langit.[1]
Pendahuluan:
Di antara akidah menyimpang yang diwarisi Salafi Wahhâbi dari kaum Mujassimah Musyabbihah adalah masalah ketinggian Allah SWT secara fisikal di atas makhluk-Nya! Mereka menentang dengan keras keyakinan bahwa Allah SWT berada di setiap tempat… atau akidah bahwa Allah Maha Suci dari butuh kepada tempat! Bahkan lebih ekstrim mereka mengkafirkan siapa saja dari umat Islam yang berkeyakinan seperti keyakinan menyimpang mereka, bahwa Allah berada di alat langit ke tujuh bersemayam di atas Arsy-Nya! Maha suci Allah dari anggapan kaum jahil lagi zalim!
Dalam kaitan ini mereka menyakini beberapa syubhat (maaf, bukan dalil atau bukti, tapi hanya sekedar syubhat akibat kegagalan mereka dalam mencerna akidah Islam murni yang jauh dari penyimpangan)…. dan kemudian kaum Mujassimah Musyabbihah Modern yang pikiran mereka telah tercemari oleh syubhat-syubhat para pendahulu menjadikan ucapan para pendahulu sebagai pedoman akidah seakan ia wahyu segar yang baru Allah SWT. turunkan melalui malaikat Jibril al Amîn as. kepada para tokoh Mujassimah Musyabbihah itu, atau bahkan lebih mereka sucikan di atas wahyu langit yang kudus!
Nama-nama dan komentar para pendahulu itu menghiasi setiap argumentasi yang disajikan para Salafi Wahhâbi, tidak terkecuali para muallaf intelektual yang baru melek agama setelah dicemari akal pikiran mereka oleh para masyâikh bergamis cingkrang secingkrang akal pikirannya… di antara mereka adalah para misionaris Salafi Wahhâbi yang bekerja siang malam memasarkan akidah tajsîm tasybîh di tengah-tengah kaum Muslim di negeri tercinta bumi Pancasila ini!
Saudara kita Ustadz Firanda juga termasuk dari mereka…. ia begitu bangganya menjadikan para tokoh Mujassimah Musyabbihah seperti Ibnu Khuzaimah dan yang semisalnya sebagai rujukan otoritatif yang tak perlu lagi dipertanyakan kebenarannya… sehingga apapun bukti yang diajukan para ulama Islam seakan tidak mampu membuka pikirannya walau hanya sekedar untuk diperhatikan dan direnungkan sebagai bahan pertimbangan! Dan karena taklid buta kepada para pembesar itu maka semua bukti diabaikan… telinga disumbat… mata ditutup rapat-rapat dan akal sehat dititipkan kepada wahm dan anggapan-anggapan kosong!
.
Para Tokoh Mujassimah Musyabbihah Itu Mengkafirkan Umat Islam Yang Tidak Sependapat Dengan Mereka Dalam Akidah Menyimpnagn Ini!
Seperti telah disinggung bahwa kaum Mujassimah Musyabbihah tidak segan-segan mengkafirkan siapa saja yang tidak meyakini bahwa Allah SWT duduk/bersemayam di atas Arsy-Nya di atas langit ke tujuh… Maha Suci Allah dari anggapan kaum sesat!
.
- Ibnu Khuzaimah berkata:
من لم يقر بأنّ الله على عرشه قد استوى فوق سبع سماوات فهو كافر ، يُستتاب ، فإنْ تاب ، وإلا ضربت عنقه ، وألقي على بعض المزابل ، حتى لا يتأذى المسلمون ولا المعاهدون بنتن ريح جيفته وكان ماله فيئاً لا يرثه أحدٌ من المسلمين ، إذْ المسلم لا يرث من الكافر كما قال النبي (ص)
“Siapa yang tidak mengakui bahwa Allah di atas Arsy-Nya di atas langit lapis tujuh maka ia adalah KAFIR. Ia harus diminta bertaubat, jika menolak maka harus dipenggal batang lehernya dan jasadnya dilempar di sampah agar umat Islam dan kaum kafir dzimmi tidak terganggu dengan bau busuk bangkainya. Harta dibagi sebagai fai’ dan tidak diwarisi oleh seorang pun dari umat Islam. Sebab seorang Muslim tidak boleh mewarisi dari seorang yang KAFIR, sebagaimana disabdakan Nabi saw.”[2]
.
Abu Salafy:
Vonis sadis seperti di atas tidak hanya disampaikan oleh Ibnu Khuzaimah yang mereka gelari dengan imamul aimmah/imamnya para imam, akan tetapi hampir semua representatif rujukan kaum Salafi Wahhâbi sepakat dengan sikapnya… karenanya tidaklah heran apabila para pengikut mazahab yang berlebelkan Salafi Wahhâbi menjadi manusia-manusia ganas dan haus darah dan siap dengan dan atas nama agama untuk menumpahkan darah-darah umat Islam hanya karena perbedaan dalam masalah-masalah tertentu dalam agama! Sungguh mengerikan jika ‘mazhab horor’ ini merasuki jiwa kaum Muslimin di tanah air tercinta!
.
- Utsman bin Saîd Ad Dârimi berkata:
قد اتفقت الكلمة من المسلمين أنّ الله تعالى فوق عرشه ، ويسمع من فوق العرش ، لا تخفى عليـه خافية من خلقه ، ولا يحجبهم عنه شيء .
“Dan telah sepakat pendapat kaum Muslimin bahwa Allah –Ta’âlâ- di ataas Arsy-Nya. Dia mendengar dari atas Arsy-Nya, tiada tersembunyi bagi-Nya sesuatu apapun yang tersembunyi dari makhluk-Nya dan tidak menghalangi mereka dari-Nya sesuatu apapun.” [3]
Dan dalam kitabnya, ia berdalil dengan sebuah hadis yang konon diriwyatkan dari Nabi saw. kemudian ia berkata:
ففي حديث رسول الله (ص) هذا دليل على أنّ الرجل إذا لم يعلم أنّ الله عز وجل في السماء دون الأرض فليس بمؤمن …
“Dan dalam hadis Rasulullah saw. ini terdapat dalil bahwa sesungguhnya seorang yang tidak mengetahui bahwa Allah –Azza wa Jalla- berada di langit tidak di bumi maka ia bukan seorang yang MUKMIN.”[4]
.
Berdalil Dengan Ijma’ Umat Islam adalah Sebuah Kepalsuan Klaim!
Para Misionaris sekte Mujassimah Musyabbihah yang sekarang diwarisi oleh Salafi Wahhâbi selalu berdalil dengan mengatas-namakan Salaf. Bahkan dalam masalah ini dan juga beberapa masalah lain mereka tidak segan-segan mengklaim bahwa telah terjadi ijma’ dari kaum Muslimin bahwa Allah bersemayan/duduk di atas Arsy-Nya di atas langit ke tujuh…. semua bukti kepalsuan klaim tentangya mereka abaikan… seakan di alam nyata ini tidak ada ulama dan bahkan tidak ada umat Islam selain mereka sehingga pendapat lain tidak pernah mereka anggap ada, apalagi dipertimbangkan! Dan kemudian para para muallaf intelektual yang baru melek agama dan hanya dicekoki faham Tajsîm Tasybîh oleh para Masyâikh mereka yang kebetulan baju keseharian mereka adalah gamis dan mereka hidup di tengah-tengah masyarakat yang mengumbar jenggot-jenggot mereka hingga menjulut ke bawah tanpa dirapikan serta hidung mereka mancung maka mereka diyakini identik dengan Islam sejati dan akidah tauhid murni… Kemudian mereka menyerahkan akal-akal mereka untuk diracuni dengan penyimpangan kaum Mujassimah Musyabbihah!
Ustadz Firanda termasuk satu dari mereka yang dengan tanpa meneliti langsung menelan mentah-mentah klaim palsu mereka akibatnya ia keracunan informasi sepihak dan kemudian menulis sebuah sub bab dengan judul: Ijmak para ulama tentang keberadaan Allah SWT di Atas langit. Di dalamnya ia menyebutkan tiga belas komentar ulama kebanggaannya yang menegaskan adanya ijma’ itu.[5]
Abu Salafy:
Tetapi sayang Ustadz Wahhabi yang satu ini tidak pernah mau tau bahwa klaim ijma’ itu hanya isapan jempol belaka! Sebab, paling tidak, kenyataannya ada puluhan kalau bukan ratusan ulama Ahlusunnah yang menentang akidah konyol itu apalagi klaim ijma’nya sudah cukup sebagi bukti kapalsuan ijma’ itu!
Karenanya, saya tidak tertarik untuk membeber bukti demi bukti kepalsuan akidah itu lebih dari apa yang telah saya paparkan dalam artikel-artikel sebelumnya (Ternyata Tuhan Tidak Dilangit)… akan tetapi dalam kesempatan ini saya hanya hendak mengajak Anda menyimak bagaimana komentar para ulama Ahlusunnah dalam masalah ini.
Akidah Ulama Ahlusunnah Dalam Komentar Mereka
Kendati para ulama Sekte Hanbaliyah bersikeras meyakini ketinggian fisikal Allah di atas makhluk-Nya dan mengklaim telah terjadi ijma; dalam masalah ini serta tidak jarang di antara mereka yang dengan ganas menghunuskan padang pengkafiran kapada siapa saja yang menyalahi mereka dalam akidah menympang ini… kendati demikian para ulama Ahlusunnah tidak gentar dan takut sedikit pun untuk menerangkan akidah Islam sejati dalam masalah ini.
Di bawah ini saya mengajak Anda mnyimak keterangan mereka yang penuh dengan pembuktian dan argumentatif.
- Al Hâfidz Ibnu Hajar al Asqallâni
Ketika menerangkan hadis riwayat Imam Bukhari yang di dalamnya terdapat redaksi:
ينزل ربنا إلى السماء الدنيا
“Tuhan kami turun ke langit dunia/terdekat…”
Al Hafidz Ibnu Hajar berkata menegaskan:
استدل به من أثبت الجهة وقال : هي جهة العلو ، وأنكر ذلك الجمهور ، لأن القول بذلك يفضي إلى التحيز ، تعالى الله عن ذلك .
“Dengan hadis ini berdalil orang yang menetapkan bagi Allah arah/posisi dan ia berkata, ‘Arah atas.’ Sementara Jumhur menentangnya. Sebab meyakini pendapat ini akan meniscayakan keyakinan bahwa Allah bertempat di arah tertentu. Maha Suci Allah dari itu semua.”[6]
.
Abu Salafy:
Coba Anda perhatikan bagaimana Ibnu Hajar menegaskan bahwa pendapat yang menentang akidah bahwa Allah bertempat itu adalah Jumhur/mayoritas ulama Islam. Artinya bahwa yang meyakini bahwa Allah bertempat di arah atas adalah pendapat yang syadz/menyimpang dari Jumhur!
Selain itu, Ibnu Hajar, dengan kecerdasan intelektualnya telah meyadari bahaya dan konsekuensi logis dari akidah menyimpang bahwa Allah bertempat di atas langit dan kemudian di waktu-waktu malam untuk keperluan tertentu Dia turun ke bumi… Hal mana yang demikian itu tidak dimengerti oleh akal-akal kaum Wahhabi Salafi Mujassimah Musyabbihah atau jangan-jangan mereka tidak mau tau!
- Imam Fakhruddîn ar Râzi
Imam Fakhruddîn ar Râzi telah menerangkan panjang lebar masalah bahwa Allah tidak bertempat, baik di arah atas maupun selainnya… Dan dalam kitab beliau yang berjudul Asâs at Taqdîs beliau memaparkan panjang lebar malasah ini…. kitab tersebut telah dibantah oleh Ibnu Taimiyah secara arogan dengan kitab berjudul Bayân Talbîs al Jahmiyyah/Keterangan tentang Tipu muslihat kaum Jahmiyyah!
Dalam awal kitabnya itu Imam ar Râzi berkata:
اعلم أنا ندعي وجود موجود لا يمكن أنْ يشار إليه بالحس أنه ههنا أو هناك ، أو نقول : إنا ندعي وجود موجود غير مختص بشيء من الأحياز أو الجهات ، أو نقول : إنا ندعي وجود موجود غير حال في العالم ولا مباين عنه في شيء من الجهات الست التي في العالم ، وهـذه العبـارات متفاوتـة ، والمقصـود مـن الكل شيء واحد
“Ketahuilah bahwa kami mengaku adanya sebuah Maujûd yang tidak mungkin dapat ditunjuk dengan indra bahwa Dia berada di sini atau di sana atau kita mengatakan bahwa mengaku adanya Maujûd yang tidak khusus berada di sebuah tempat atau arah atau kita berkata bahwa kita mengaku adanya Maujûd yang tidak bertempat di alam ini dan tidak juga berpisah dengannya dengan bertempat di sebuah arah enam penjuru di alam ini. Redaksi-redaksi ini beragam namun maksudnya satu.”[7]
Setelahnya Imam ar Râzi melanjutkan dengan menuliskan bab demi bab yang menerangkan kemurnian akidah Ahlusunnah dalam masalah ini.
Beliau menulis beberapa pasal dengan judul-judul sebagai berikut:
في تقرير الدلائل السمعية على أنه سبحانه وتعالى منزه عن الجسمية والحيز والجهة
Tentang Pengukuhan dalil-dalil tekstual/sam’iyah bahwa Allah SWT Maha Suci dari sifat Jismiyah, bertempat dan berada di sebuah arah/sudut.[8]
في إقامة الدلائل العقلية على أنه تعـالى ليس بمتحيز البتة
Pasal: Penegakan bukti-bukti aqliyah bahwa Allah –Ta’âlâ- sama sekali tidak berada di sebuah tempat/lokasi manapun.[9]
في إقامة البراهين على أنه تعالى ليس مختصاً بحيز وجهة بمعنى أنه يصح أنْ يشار إليه بالحس أنه ههنا أو هناك
Pasal: Tentang penegakan bukti-bukti bahwa Allah –Ta’âlâ- tidak khusus berada di lokasi atau arah tertentu dengan arti bahwa tidak boleh Allah ditunjuk/diisyaratkan dengan indra bahwa Dia berada di sini atau di sana.[10]
Kemudian beliau menulis sebuah pasal untuk membeberkan syunbhat-syubhat/kerancuan pembuktian kaum Mujassimah Musyabbihah yang meyakini Allah bertempat di sebuah tempat/arah/lokasi tertentu lalu beliau menjawabnya satu persatu.
في حكاية الشبه العقلية في كونه تعالى مختصاً بالحيز والجهة
Pasal pemaparan syubhat-syubhat aqliyah bahwa Allah -Ta’âlâ- bertempat di sebuah lokasi atau arah khusus.[11]
.
Abu Salafy:
Demikianlah Imam ar Râzi dalam kitab berharga beliau telah memaparkan panjang lebar semua bukti dan dalil kemaha sucian Allah dari bertempat. Tetapi sayang, semua bukti itu dibantah oleh imamnya kaum Salafi Wahhâbi, Bapak Mujassim Musyabbih yang dibanggakan para mukallid butanya… Ya semua bukti itu dibantah dengan bantahan yang mencerminkan kekacauan dalam berakidah, kerancuan dalam berargumentasi… dan makin membuat jelas dan nyata jati ditri akidah mereka bahwa mereka adalah Mujassimah! Dan itu yang memang dipertegas Ibnu Taimiyah dalam kitabnya Bayân Talbîs al Jahmiyyah!
Sekali lagi, menjadi jelaslah bahwa klaim adanya ijma’ bahwa Allah bertempat di atas langit, duduk di atas Arsy-Nya itu adalah sekedar isapan jembol belaka!
Mungkin benar adanya ijma’ itu jika yang dimaksud adalah ijma’nya kaum Mujassimah Musyabbihah yang kemudian didukung ramai-ramai oleh para mukallid buta mereka di sepanjang masa… sehingga akhirnya dipropagandakan oleh kaum Wahhâbi Salafi dari Najd sebuah daerah yang telah disabdakan Nabi saw. bahwa di sana akan muncul tanduk setan…. dan yang pasti tanduk setan itu tidak akan menanduk kaum kafir, utamanya kaum Yahudi yang menjajah dan berbuat kerusakan di negeri-negeri Islam khususnya Palestina; kota suci tempat persinggahan Nabi saw. di saat isrâ’ dan mi’raj… tanduk itu hanya mereka arahkan kepada jantung-jantung masyarakat Islam. Innâ lillahi wa innâ ilaihi râji’ûn.
Abu Salafy:
Demikianlah dapat Anda simak bersama bagaimana Ibnu Taimiyah (dan tentunya juga para mukallid butanya; para Salafi Wahhâbi) selalu menteror lawan akidah mereka dengan sebutan bahwa mereka adalah Jahmiyyah…. Imam ar Râzi ia tuduh sebagai Jahmiyyah… Para ulama Ahlusunnah adalah Jahmiyyah! Dan teror semacam ini adalah senjata andalan mereka untuk mengintimidasi umat Islam agar berpaling dari Islam sesungguhnya dan menerima akidah Tajsîm Tasybîh yang mereka warisi dari ajaran Yahudiyah!
Dalam banyak kesempatan Ustadz Firanda juga menteror Abu Salafy sebagai seakidah dengan kaum Syi’ah Rafidhah dan Mu’tazilah.
Perhatikan Ustadz Firanda berkata:
Kelima: Aqidah yang dipilih oleh Abu Salafy adalah sebagaimana yang dinukil dari Ibnu Jauzi: “Hendaknya dikatakan bahwasannya Allah SWT tidak di dalam alam dan juga tidak di luar alam.”
Inilah aqidah yang senantiasa dipropagandankan oleh Asyaa’iroh mutaakhirin, seperti Fakhrroozi dalam kitabnya Asaas at Taqdiis…. .[1]
Dan sebelumnya ia berkata menuduh:
“Ternyata memang aqidah orang-orang Asyaa’iroh semisal Abu Salafy dan pemilik blog http//salafytobat.wordpress.com cocok dengan aqidah orang-orang Syi’ag Rafidhoh dalam masalah di mana Allah SWT. Karena memang orang-orang Rafidhah beraqidah Mu’tazilah, dan Asyaa’iroh dalam masalah di mana Allah SWT sepakat dengan Mu’tazilah (padahal Mu’tazilah adalah musuh bebuyutan Asya’iroh, sebagaiaman nanti akan datang penjelasannya).
Abu Salafy:
Kendati komentar Anda wahai Ustadz Firanda sempat mengocok perut saya namun tetap saya berterima kasih kapada Anda karena Anda sekarang berbaik hati mau mengakui saya (Abu Salafy) sebagai bermazhab Asy’ari… padahal biasanya Anda menuduh saya sebagai Syi’ah Rafidhah! Mungkin Anda sedang lupa pesan tuan-tuan Anda agar Anda selalu menteror siapapun yang berani membongkar kesesatan ajaran dan akidah Salafi Wahhâbi dengan sebutan sebagai Syi’ah Rafidhah…. sebab dengan itu masyarakat awam mudah diprovokasi! Sekali lagi saya ucapakan terima kasih atas kebaikan hati Anda mau mengakui saya sebagai yang berakidah Asy’ariyah dan pengikut Imam Fakhruddîn ar Râzi dan para ulama Ahlusunnah lainnya.
Adapun tuduhan Anda bahwa orang-orang Syi’ah berakidah Mu’tazilah itu urusan Anda dengan mereka, walaupun saya juga yakin mereka akan mentertawakan Anda, sebab kejahilan Anda dalam masalah pengeanalan aliran-aliran dalam Islam patut dibanggakan!
(Besambung Insya Allah)
[1] Ketinggian Allah SWT di Atas Makhluk-Nya:92.
Tidak semua bagian dalam bab tersebut Abu Salafy tanggapi di sini mengingat Ustadz Firanda, entah apa alasannya mengabaikan tujuh seri artikel Ternyata Tuhan Tidak Di Langit yang telah saya sajikan di blog ini, dan kemudian ia hanya membantah seri kedelapan. Sementara dalam artikel-artikel sebelumnya (1-8) telah saya paparkan berbagai bukti dan juga saya buktikan kepalsuan anggapan keberadaan Allah di langit… ayat-ayat yang disinyalir mengandung pemaknaan itu pun telah saya beberkan makna sesungguhnya darinya. Demikian juga dengan hadis-hadis yang mengesankan keberadaan Allah di langit atau di arah atas telah saya dudukkan pada tempatnya… namun semua itu ia abaikan dan tidak sedikit pun ia indahkan… ia langusng mencecer keterangan yang dianggapnya mampu membela akidahnya! Tetapi itu semua bukan nhal penting bagi saya… yang penting sekarang adalah kita akan mengkaji sejauh mana kehandalan dalil-dalil yang diajukannya. Harap diperhatikan ini!
[2] Baca Itsbât Shifatil ‘Uluw; al Maqdisi: 138-139 dan vonis sadis Ibnu Khuzaimah juga dimuat oleh adz Dzahabi sebagaimana disebutkan dalam kitab Mukhtashar al ‘Uluw; Syeikh al Albâni:225, sebagaimana Ibnu Taimiyah tidak mau ketinggalan menukilnya. Baca Majmû’ Fatawa,5/52.
[3] Mukhtashar al ‘Uluw:213.
[4]Ar Raddu ‘ala al Jahmiyah; ad Dârimi:46. Cet. Dâr Ibn Atsîr-Kuwait.
[5] Ketinggian Allah SWT Di Atas makhluk-Nya (Bantahan Terhadap Abu Salafy); Fieranda Andirja Abidin:31.
[6] Fathu al Bâ5i,3/30. Cet. Dâr al ma’rifah-Beirut. Thn.1379 H.
[7] Asâs at Taqdîs:15. Cet. Maktabah al Kulliyât al Azhariyah. Kairo-Mesir. Thn.1406 H/1986M.
[8] Asâs at Taqdîs:30.
[9] Ibid.48.
[10] Ibid.62.
[11] Ibid.79.
Filed under: Akidah, Akidah Tajsim & Tasybih, Bantahan & Tanggapan, Fatwa Pensesatan, Fatwa Wahabi-Salafy, Imam & Masyaikh Salafy Wahabi, Kajian Ibnu Taimiyah, Kenaifan Kaum Wahhabi, Manhaj, Membantah Ust. Firanda, Mengenal Pemimpin Wahabi, Menjawab Web/Blog Wahabi/Salafy, Ulama' Ahlusunnah, Wahabi dan Pengkafiran Umat Islam





Assalamu’alaikum wr wb. Terima kasih Ustadz atas emailnya. Sy memang melihat ada keanehan dg geliat Islam di perkotaan yg lbh ditunggangi mereka (di satu sisi sy senang dg gairah keislaman masy. perkotaan, ttp di sisi lain sedih dg arah yg berjalan). Smg Ust. sehat walafiat dan terus berjuang mensyiarkan aqidah Ahlus Sunnah yg sejati.
Powered by Telkomsel BlackBerry®
Pak Abu, saya sepakat jika Wahabi berkata: telah terjadi “Ijma’” atau “kesepakatan jumhur” mengatakan maka yg dimaksud ijmak yaitu ijmaknya kaum wahabi dan kesepakatannya adalah kesepakatan jumhur wahabi. bukan ijmaknya aswaja atau jumhurnya aswaja. aswaja suci dari wahabi/salapy
Subhanallah. Teruskan kang Abu, Semoga Allah tetap memberikan antum keluangan waktu untuk membantah akidah sesat itu.
subhanallah… bener2 wahabi itu mazhab haus darah ya.. dikit-dikit kafir! halal darahnya… sesat harus dibunuh !!!!
Trus kedua aku setuju dengan kang muji sudah menjadi kebiasaan salafi wahabi atau hanbali klasik maupun mpdern bisanya hanya mengaku-aku ada ijma.. ternyata setelah dibuktikan ijma palsu yang ada…
Terima kasih ustadz Abu Salafy yang telah membongkar satu-satu sendi penyimpangan ajaran Salafi bin Wahabi bin Taimy bin Ka’bul Ahbar al Yahudi!
teruskan perjuangan ustadz dalam membendengi Islam dari ajaran PURITAN YANG MENCORENG NAMA CEMERLANG ISLAM DAN MEMALUKAN KAUM MUSLIMIN!!
ALLAHU AKBAR….
Jelas sekali kalau ulama rujukannya Firanda ASBUN alias asal bunyi…. ngakunya sudah disepakati semua ulama …. semua umat islam eeh ternyata omong kosong belaka… celakanya lagi para wahabiyun tanpa konfirmasi kembali langsung berkoak koak; IJMAA’! IJMAA’! SUDAH UJMAA’!
Lucu kan jadinya?!
makanya kalau bergama jangan denger sebelah telinga aja… baca juga keterangan ulama lajangan cuma mau dengar kepad yang ngasih makan ente Fir!in
mungkin maksdunya si wahabi wahabi bukan ijma tapi jima’… maklum mereka kan demennya yang gituan…. maaf ya temen temen wahabi soalnya itu sih yang aku lihat di puncak.. para wahabi melepas syahwat di sana dengan psk!
Herannya kok nddak takut kepada Allah… puncak kan gunung yang tentunya lebih tinggi donk dibanding yang deket laut.. nah menurut wahhabi kan tuhan mereka bertengger di langit tuh naah berarti di puncak lebih eket kepada Allah donk! eeh malah lebih deket kepada tuahnya malah maksiat! gila nggak !!!!!!!!!!!
Mohon pak Ustd mbok memunculkan jati diri identitas profil dll,..ga cuma pke nama pena/samaran thok,…agar semua bisa lebih mengenal bapak
Pa Abu Safy kalau anda real kenapa cm di blog demonya?
Padahal Syaikh Marhadi (yang serupa dg Aqidahnya dg anda) pernah diajak diskusi
Sewaktu Ust. Firanda Ceramah di Masjid Blok M Square (Sejarah Berdarah Sekte Syiah)
Trus apakah anda hadir di MUI Jakarta Utara
Sewaktu Asatidz Wahabi menggunduli hujjah Asatidz (semanhaj dg) anda?
Modal Copas dari kitab aja udah yahanoo
Copy Understand Paste that’s the way u got to do, jgn asal Copas while u’re stupid to understand it
Show up to the real world if you’re real ustadz
And tell the world just Like Ust. Firanda speeches in a lot of masjid to share the truth to mankind who’s thirsty of science
Mungkin ana akan hadir, if you’re a man
But if you’re not so shut ur words up
artikel isinya apa, ini komentar kok isinya apa..
abu shufi kuwe iku ngomong opo… mong isoe ngajak ketemu… dialoq terbuka… kalau mau cari lawan tinju pergi aja ke sasana tinju … yang penting iku yo kang dalile…. kalau sampean ndak sanggup sanggah yo mbok tutup mulut aja… dasar wahabi galak!!!!!!!!!!!!!!!!!
dua bulan kurang lebih aku ikuti tulisan2nya Ust. Abu kritik tajam kepada Ust. Firanda tapi anehnya sampai sekarang ini aku belum lihat Ust. Firanda membantahnya…. apa beliau sedang mati suri atau sedang ngumpulkan bahan dan minta bantuan kesana kemari untuk membantahnya… ya Allah A’lam…. tapi aku sangka pasti Ust. Firanda sudah tdk sabar untuk membantah, hanya saja mungkin belum punya waktu…
lagian wahabi wahabi lainnya juga kok nggak ada yang nongol tampil membantah Ust. Abu Salafy… atau jangan jangan sedang kelabakan semua sebab dibuat kaget ternyata abusalafy masih hidup dan bangkit penuh semangat….
ayo dulur dulur salafi bantah yang ilmiah semua tulisan Ust. Abu! Aku tunngu ya?!
ada golongan yg memang membuat kita geleng2 dan seperti berputar.suatu keniscayaan kita akan sampai kepada Allah swt kalau hanya berputar disitu2 saja.
Hujjah yg shohih dibalas dg hujah lalu menuduh ini.. itu..
suatu kaum yg hanya bisa berputar adalah seperti hidup yg tujuanya bukan kepada selain Allah swt.
penyakit cinta dunia seperti kepengin tenar, bangga dipanggil ustadz,menimba ilmu dg tujuan argumentatif bisa menyebabkan hidup kita seperti orang makan
Makan – masuk ke perut – keluar jadi kotoran lalu
Makan lagi – masuk ke perut lagi – keluar lagi jd kotoran
Niat baik, tegakan niat kita
jauhkan dari ayat2 mutasyabihat
orang yg tdk berputar2 tentu sangat mudah untuk mengikuti surah Al-Ikhas baik secara harfiyah maupun maknawiyah
BAHWA Allah swt DAN TDK ADA SESUATU YG MENYERUPAINYA.
Kita duduk Allah tdk duduk
Kita membutuhkan tempat Allah tdk bahkan Allah ada sebelum terciptanya tempat dan Allah tetap seperti itu.
jangan diputar2 : kita duduk Allah juga duduk tetepi tdk seperti kita
ucapakan seperti ini ucapan politik/ kamuflase
karena pd hakekatnya perkataan seperti perkataan
pemuda yg sdg merayu.
alhamdulillah, akhirnya saya ketemu juga derngan pusat kajian yang saya cari cari selama ini untuk membentengi aqidah saya dari tipuan salafi yang lagi marak di kotaku…
Menyajian METODE kajian yang apik, rapi dan mengarah. Syukran katsiran ustadz, pencerahan seperti ini sangat dibutuhkan para pengkaji agar tidak nyasar jalan.
Sanggup kah para ulama salafi apa bila kita jd pengikut ajaran salafi mempertangguk jawab kan amalan salafiah dunia akirat sebab kalau agama islam yg hitam tetap hitam kalau yg putih tetap putih
Sungguh pemaparan fakta yang sangat mencerahkan dimana Wahabi Salafi sangat gencar menyebarkan kebingungan kepada umat islam yang awam seperti saya. Mohon buat akun di facebook juga yai. Karena Salafi Wahabi sangat gencar posting kesesatan mereka di facebook