Bantahan Atas Abu Jauzâ’ Dan Para Wahhabiyyûn-Mujassimûn Musyabbihûn! (5)
Bincang Bersama Abu Jauza -Hadis Melihat Tuhan-(5)
Meneliti Takhrîj Hadis Oleh Albani !!
Dalam kesempatan ini saya ajak pembaca memperhatikan hasil penelitian tidak teliti oleh Syeikh ahli dan pakar hadis kebanggaan Abu Jauzâ’ dan para Salafiyyun Mujassimun; Syeikh Nâshiruddîn al Bâni… bagaimana penshahihan atau menetapan status hasan atas hadis-hadis yang mendukung hadis Shûrah yang sedang ia takhrîj benar-benar tidak berdasar dan hanya didorong oleh kecenderungannya untuk menandaskan kesesatan akidah tajsîm yang sedang diperjuangkan untuk disebar-luaskan oleh kaum Salafi Wahhabi Mujassim.
Sebelumnya, dalam paparan keterangan dalam artikel sebelumnya telah kami soroti beberapa takhrij hadis oleh Albani tersebut. Dan kini kami akan menyoroti sisanya. Untuk lebih menyingkat, saya langsung akan mengajak Anda memperhatikan beberapa contoh hadis yang ia takhrîj dan itu pun dengan meneliti sebagian perawi –tidak seluruhnya- pada setiap sanad.[33]
Saya berkata dan hanya kepada Allah SWT kami memohon bimbingan ke jalan kebenaran-:
Saya berkata:
Al-Imam Ibnu Abi ‘Aashim membawakan riwayat dalam kitab As-Sunnah (melalui Dhilaalul-Jannah oleh Asy-Syaikh Al-Albani, hal. 205 no. 471) sebagai berikut:
471 – ( صحيح لغيره ) ثنا اسماعيل بن عبدالله ثنا نعيم بن حماد ويحيى بن سليمان قالا حدثنا عبدالله بن وهب عن عمرو بن الحارث عن سعيد بن أبي هلال حدثه أن مروان بن عثمان حدثه عن عمارة بن عامر عن أم الطفيل امرأة أبي بن كعب قال سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول رأيت ربي في المنام في أحسن صورة وذكر كلاما
“471 – (Shahih lighairihi)
Telah menceritakan kepada kami Ismaa’iil bin ‘Abdillah: Telah menceritakan kepada kami Nu’aim bin Hammaad dan Yahya bin Sulaimaan, mereka berdua berkata: Telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah bin Wahb, dari ‘Amr bin Al-Haarits, dari Sa’iid bin Abi Hilaal telah menceritakannya: Bahwasannya Marwaan bin ‘Utsmaan telah menceritakannya, dari ‘Umaarah bin ‘Aamir, dari Ummu Ath-Thufail istri Ubay bin Ka’b, ia berkata: Aku mendengar Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Aku telah melihat Rabb-ku dalam mimpiku dalam wujud/bentuk yang paling baik” dan kemudian beliau menyebutkan satu perkataan [selesai].
Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullah kemudian memberikan komentar atas hadits tersebut sebagai berikut:
حديث صحيح بما قبله وإسناده ضعيف مظلم عمارة بن عامر أورده ابن أبي حاتم من هذه الرواية ولم يذكر فيه جرحا ولا تعديلا ومروان بن عثمان هو ابن أبي سعيد بن المعلى الأنصاري الزرقي ضعيف كما في التقريب وذكر المزي في التهذيب أنه روى عن أم الطفيل امرأة أبي بن كعب فتعقبه تهذيبه بقوله: وفيه نظر فإن روايته إنما هي عن عمارة بن عمرو بن حزم عن أم الطفيل امرأة ابي في الرؤية وهو متن منكر كذا قال ابن عمرو بن حزم وإنما هو ابن عامر كما تراه في الكتاب وكذلك هو عند ابن أبي حاتم كما سبقت الإشارة إليه
“Hadits shahih dengan penguat hadits-hadits sebelumnya; sanadnya dla’if lagi gelap. Mengenai ‘Umaarah bin ‘Aamir, Ibnu Abi Haatim membawakan riwayat ini tanpa menyebutkan di dalamnya celaan (jarh) ataupun pujian (ta’dil).
Marwaan bin ‘Utsmaan, ia adalah Ibnu Abi Sa’iid bin Al-Ma’alliy Al-Anshariy Az-Zarqiy, seorang perawi dla’if, sebagaimana terdapat dalam At-Taqriib. Al-Mizziiy menyebutkannya dalam At-Tahdziib bahwasannya ia meriwayatkan dari Ummu Ath-Thufail istri Ubay bin Ka’b. Atas perkataan ini Ibnu Hajar memberikan kritikan dalam Tahdziibut-Tahdziib: “Pada perkataannya tersebut ada yang perlu diperhatikan. Sesungguhnya riwayat Marwaan berasal dari ‘Umaarah bin ‘Amr bin Hazm, dari Ummu Ath-Thufail, istri Ubay bin Ka’b dalam hadits ru’yah, dan ia adalah matan yang munkar”.
Begitulah, ia mengatakan: Ibnu ‘Amr bin Hazm, yang benar adalah Ibnu ‘Aamir, seperti yang Anda lihat dalam kitab. Begitu pula ia di sisi Ibnu Abi Haatim sebagaimana telah lalu penunjukkannya atasnya”.
[selesai perkataan Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullah]
Hadits yang dibawakan Al-Imam Ibnu Abi ‘Aashim rahimahullah ini sebenarnya satu riwayat dengan riwayat yang menjadi bahasan kita, dimana sanad keduanya bertemu pada ‘Abdullah bin Wahb (Ibnu Wahb). Ibnu Abi ‘Aashim membawakan secara ringkas dengan perkataannya: “wa dzakara kalaaman. Maksud “wa dzakara kalaaman” di sini adalah lafadh:
في صورة شباب موفر في خضر على فراش من ذهب في رجليه نعلان من ذهب
“dalam wujud seorang pemuda berambut lebat yang memakai pakaian berwarna hijau di atas tempat tidur yang terbuat dari emas, pada kedua kaki-Nya memakai sandal yang terbuat dari emas”.
Abu Salafy berkata:
Pertama-tama yang perlu kita mengerti bahwa para ulama ahli hadis tidak semberono dalam menaikkan status hadis dari hasan menjadi shahih, apalagi dari dha’if atau sangat dha’if menjadi hasan apalagi menjadi shahih. Mereka sangat memperhatikan dan memasukkan dalam pertimbangan mereka tingkat dan jenis kedha’ifan/kelemahan sebuah riwayat akibat kedha’ifan perawinya yang hendak mereka naikkan statusnya dengan bantuan mutâbi’ dan/syawâhid (riwayat-riwayat dari jalur lain yang mengandung makna serupa). Di antara yang sangat mereka perhatikan adalah apakah si perawi dalam mata rantai riwayat yang hendak didongkrak statusnya itu lemah kerena sebab cacat pada kejujuran atau cacat dalam sisi lain?
Para ulama dan pakar ilmu hadis menegaskan jika kedha’fan itu dikarenakan sebab cacat pada kualitas kejujuran si perawi maka ia tidak dapat didongkrak statusnya betapapun ia datang dalam riwayat-riwayat lain dengan jalur lain baik yang bertemu dalam mata rantai syeikh (gurunya) atau tidak (hanya serupa dalam matannya saja).
Para ahli hadis biasanya membicarakan masalah ini dalam pasal tentang redaksi yang digunakan dalam mencacat para perawi, di mana terdapat tingkatan yang beragam dalam kelemahan yang ditunjukkan oleh redaksi-redaksi pencacatan tersebut. Imam Nawawi berkata dalam kitab at Taqrîb-nya yang kemudian disyarahi oleh as Suyuthi dalam tadrîb ar Râwi, “Redaksi penta’dilan (penilaian baik) tingkat keempat: Shaleh hadisnya. Hadisnya boleh ditulis untuk I’tibâr.[34]
Adapun redaksi pencacatan ( al jarh) ia bertingkat-tingkat. Jika para ulama berkatta (tentang status seorang perawi): ia layyin (lembek) hadisnya, maka hadisnya boleh ditulis dan diperhatikan sebagai I’tibâr….
Dan ucapan mereka: Laisa bi qawiyyin (tidak kuat), hadisnya boleh ditulis, maka ia tingkatan di bawah redaksi layyin.
Dan jika mereka berkata: Dha’îful hadîts (lemah hadisnya), ia tingkatan di bawah redaksi Dha’îful hadîts, hadisnya tidak dibuang tetapi boleh ditulis sebagai i’tibâr.
Jika mereka berkata: Matrûkul hadîts (ditinggalkan hadisnya), Wâhi hadisnya, atau kadzdzâb (pembohong), maka ia jatuh (gugur), tidak layak ditulis hadisnya (tidak dapat dijadikan i’tibâr tidak juga dijadikan syahid.”[35]
Ketika membahas tingkatan hadis hasan, para ulama biasa berbicara panjang lebar tentang apa-apa yang dapat mendongkrak status hadis dha’if menjadi hasan (perhatikan bukan menajdi shahih). Imam Nawawi berkata, “Cabang Ketiga: “Jika sebuah hadis diriwayatkan bergabai jalur dha’if maka tidak harus dari total jalur itu ia menjadi hadis hasan, akan tetapi jika kedha’ifannya disebabkan lemahnya hafalan si perawi yang jujur (shadûq) lagi terpercaya maka hilanglah kedha’ifan itu dengan datangnya hadis itu dari jalur lain dan ia menjadi hadis hasan”.
Demikian pula jika kedha’ifannya diakibatkan oleh kemursalan, maka akan hilang kedha’ifannya dengan datangnya hadis itu dari jalur lain. Adapun kedha’ifannya diakibatkan kefasikan (atau kedustaan) si perawi maka kesesuaian perawi lain dalam meriwayatkan hadis itu tidak berpengaruh apa-apa dalam meningkatkan statusnya! (karena begitu kuatnya kedha’ifannya dan ketidak-mampuan hadis pendukung itu dalam mendongkrak status hadis yang hendak ia dongkrak). Benar, bahwa dengan berbilangnya jalur-jalur periwayatan (walau pun seluruhnay dha’if) ia akan naik tingkatan menjadi bahwa hadis itu tidak munkar atau hadis yang tidak punya asal muasal…. Demikian ditegaskan Syeikhul Islam[36]. Ia berkata, “Bisa jadi jalur sangat banyak sehingga menyampaikannya kepada tingkat mastûr yang jelek hafalannya, sekira jika ada hadis dari jalur lain yang juga dha’if yang masih ditoleransi… bisa jadi ia dinaikkan statusnya menjadi hadis hasan!.”[37]
Setelah itu mari kita perhatikan status shahih yang disematkan oleh Syeikh Albani terhadap sebuah hadis yang ia sendiri mengakui bahwa sanadnya lemah dan gelap gulita.
Hadis dengan nomer 471 yang ia shahihkan itu adalah hadis yang mengidap penyakit kronis dan sangat bermasalah pada sanadnya. Sehingga sulit rasanya membayangkan ia dapat naik status menjadi dh’aif biasa apalagi hasan dan apalagi shahih!!
Dalam jalur riwayat di atas terdapat seorang parawi bernama Nu’aim ibn Hammâd.[38] Tentang parawi yang satu ini, perlu diperhatikan beberapa perkara:
Pertama, Syeikh al Albani sendiri mencacatnya dalam berbagai kesempatan dalam kitab Silsilah al Ahâdîts adh Dha’îfah wa al Maudhû’ah-nya. Lalu mengapakah sekarang mendadak ia dengan begitu gegabah dan mudah menaikkannya menjadi berstatus shahih dengan bantuan hadis lain?! Sepertinya Muhaddis Wahhabi Salafy yang satu ini terlalu royal dalam membagi-bagi status shahih kepada hadis di atas! mungkin karena ia menyesuai akidah yang sedang ia pertahankan sehingga kecintaan itu membutakan dan menulikannya?!
Betapa sering ia membantai hadis dikarenakan di dalam mata rantai sanadnya terdapat perawi yang satu ini; Nu’iam ibn Hammâd! Saya tidak punya banyak waktu dan kesempatan untuk meneliti seluruh ketarangan Syeikh al Albani tentang status perawi yang satu ini. Namun saya akan mebuktikan kepada Anda bahwa betapa sering Syeikh Wahhabi Salafy ini kontradiksi antara satu pernyataan dan sikapnya dengan pernyataan dan sikapnya yang lain di kesempatan lain bahkan anehnya masih dalam satu kitab!!
Syeikh al Albani menilai Nu’aim ibn Hammâd demikian:
Ketika menerangkan status hadis dengan nomer 60: Nabi saw. bersabda: “Aku memohon kepada Tuhanku tentang apa yang diperselisihkan oleh sahabat-sahabatku sepeninggalku nanti, maka Allah mewahyukan kepadaku, ‘Hai Muhammad, sesungguhnya para sahabatmu di sisi-Ku seperti kedudukan bintang-bintang, sebagiannya lebih terang dari sebagian lainnya. Maka barang siapa mengambil dengan apapu yang mereka jalankan dari perselisihan mereka maka di sisi-Ku ia berada di atas petunjuk.”
Ia berkata, di antaranya:
“Hadis itu maudhû’ (palsu) ….
“Sanad ini palsu. Nu’aim ibn Hammâd dha’if. Al Hafidz berkata, ‘Ia sering salah.”[39]
Kertika menerangkan hadis dengan nomer 231 ia mencacatnya karena di antara perawinya adalah Nu’aim ibn Hammâd. Ia berkata, “Hadis palsu/maudhû’.”
.. Nu’aim ibn Hammâd memutaba’ai hadis Abu Zakaria, dan ia (Nu’aim) laisa bitsiqati (tidak tsiqah).”[40]
Ketika mentakhrij hadis dengan nomer 684 ia berkata, “Hadis dha’if… hadis itu didha’ifkan oleh at Turmudzi dengan kata-kata, ‘Ia hadis gharîb, kami tidak mengenalnya kecuali dari riwayat Nu’aim ibn Hammâd.’ Abu Nu’aim berkata, ‘Nu’aim menyendiri dengan meriwayatkannya.’
Aku (Albâni) berkata, ‘Ia adalah parawi yang dha’if karena banyak kesalahan dan kekeliruannya, sampai-sampai Abu Daud berkata, ‘Ia punya sekitar dua puluh hadis yang tidak punya asal muasalnya… ‘”[41]
Ketika mentakhrij hadis dengan nomer 782 ia menegaskan kembali bahwa Nu’aim adalah dha’if.[42]
Ketika mentakhrij hadis dengan nomer 825 ia menegaskan bahwa hadis itu munkar. Aku (Albani) berkata, ‘Sanad hadis ini sangat rapuh/wâhin jiddan. Disamping kemursalannya, di dalamnya terdapat Nu’aim ibn Hammâd, ia sangat dha’if/dha’îfun jiddan.’”[43]
Dan ketika mentakhrij hadis dengan nomer957 ia juga menegaskan bahwa Nu’aim dha’if.[44]
Kedua, para pakar ulama ahli hadis yang menyebut biodata Nu’aim ibn Hammâd hampir semua mencacat kualitas dan kepribadiannya.
Nu’aim ibn Hammâd di Mata Ulama Ahli Hadis
Imam an Nasa’i berkata, “Ia dha’if.”[45] Ia juga berkata, “Ia tidak tsiqah.”
Shaleh ibn Jazrah, “Ia memiliki banyak hadis munkar. Ia tidak dimutaba’ai atas hadis-hadisnya itu.” Demikian disebutkan al Khathib dalam Târîkh Baghdâd,13/306.
Ibnu Ma’in berkata, “Dalam (duna periwayatan) hadis ia bukan apa-apa/tidak bernilai.”[46]
Bebepara ulama lainnya, seperti al Azdi –sebagaimana dinukil Ibnu Jauzi dalam adh Dh’afâ’ wa al Matrûkîn,3/163- dan Mighlâthi –sebagaimana termaktub dalam Ikmâl Tahdzîb al Kamâl,12/65 berkata, “Adalah Nu’aim memalasu hadis untuk menguatkan sunnah (mazhabnya) dan kisah-kisah yang mengecam Abu Hanifah.”
Lebih lanjut baca: Mîzân al I’tidâl dan at Tahdzîb!
Setelah ini semua adalah sikap yang sangat aneh dan mengundang tanda tanya besar apabila sekarang Syeikh Albani mengantrol secara berlebihan status hadis tersebut menjadi shahih lighairihi, sebuah istilah yang digunakan untuk status hadis hasan yang dikatrol dengan beberapa alasan menjadi hadis shahih. Bukan hadis dha’if yang sangat bermasalah karena di antara para perawinya dha’if jiddan!!
Apa yang saya paparkan di sini sekali mempertegas kenyataan bahwa memang Syeikh ahli hadis kebanggaan para alim, setengah alim setengah awam dan kaum awam yang sok alim dari sekte Salafi Wahhabi Mujassim benar-benar sering linglung!! Apa yang saya katakana ini bukan berlebihan dan bukan mengejak! Tapi ia menjelaskan hakikat sesungguhnya!!
Dan selain Nu’aim ibn Hammâd yang bermasalah dalam sanad riwayat di atas, juga terdapat nama lain seperti Sa’îd ibn Abu Hilâl yang juga dikenal dha’if dan sebagai mudallis, sengaja tidak saya bicarakan di sini demi ringkasnya kajian.
Apa yang dilakukan Syeikh Albani dengan hanya menfokuskan perhatiannya kepada Marwan ibn Utsman dan Umarah adalah usaha melarikan diri dari borok asli riwayat di atas! selain itu, Syeikh Albani mendasarkan pemberian status shahih lighairihi untuk hadis di atas kepada hadis sebelumnya yaitu hadis yang ia takhrij dengan nomer 470. pendongkrakan status selain menayalahi aturan yang telah dibangun dengan rapi oleh para pakar dan ulama hadis, juga terkesan kucing-kucingan, di mana di sini ia berkata, “Hadits shahih dengan penguat hadits sebelumnya.” Sebab hadis itu ternyata ia shahihkan dengan bantaun hadis-hadis lain juga. Atau jika redaksi Albani bermakna seperti yang diterjemahkan oleh saudara Abu jauzâ’: “Hadits shahih dengan penguat hadits-hadits sebelumnya.” maka ia juga tidak berdasar. Selain itu kita pun perlu meneliti apakah ternyata penshahihan atau penetapan status hasan untuk beberapa hadis yang ia takhrij itu sudah memenui standar baku yang ditetapkan para ulama dan berlaku di kalangan mereka atau ia sekedar penelitian yang kurang teliti atau terkesan memaksakan?
Saya berharap para ustadz Wahhabi Salafy tidak keberatan dan balik menghujat dengan berkata –seperti kebiasaan kekanak-kanakan sebagian dari mereka-: Apakah engkau hai Abu Salafy merasa lebih alim dari Syeikh kami Albani? Masalahnya bukan siapa lebih atau kalah di banding siapa! Tetapi –seperti sering kali dinasihatkan oleh Syeikh Albani sendiri- agar pencari kebanaran tidak bertaklid buta mengikuti kesalahan ulama betapapun ia agung dan mulia, sebab kebenaran lebih berhak diikuti!
Karenanya kami akan meneliti hadis-hadis tersebut.
Sebelumnya telah kami sebutkan panjang lebar pernyataan para ulama dan pakar tentang kualitas Nu’aim ibn Hammâd, Marwân ibn Utsman dan Umârah, jadi tidak perlu lagi diulang di sini.
Hanya saja yang perlu dipertanyakan adalah menyematakn status shahih ligharihi untuk hadis di atas oleh Albani adalah kesalahan besar!
Kembali kepada Asy-Syaikh Al-Albani,…… untuk memahami perkataan beliau bahwa riwayat yang dibawakan oleh Ibnu Abi ‘Aashim dalam As-Sunnah (no. 471) menjadi kuat atas hadits-hadits yang disebutkan sebelumnya, tentu saja kita harus melihat beberapa hadits yang dianggap menguatkan tersebut. Tujuannya adalah untuk menentukan: Apakah riwayat shahih (li-ghairihi) yang dimaksudkan itu sebatas kalimat: “Aku telah melihat Rabb-ku dalam mimpiku dalam wujud/bentuk yang paling baik” ; ataukah dengan lafadh lengkap sebagaimana disebutkan di awal perbincangan ?
Akan saya sebut hadits-hadits tersebut secara ringkas [tanpa menuliskan komentar Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullah untuk masing-masing hadits– dan silakan memperhatikan kalimat yang saya cetak tebal]:
465 – ( حسن ) ثنا أبو بكر بن أبي شيبة ثنا يحيى بن أبي بكير ثنا إبراهيم ابن طهمان ثنا سماك بن حرب عن جابر بن سمرة قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم إن الله تعالى تجلى لي في أحسن صورة فسألني فيما يختصم الملأ الأعلى قال قلت ربي لا أعلم به قال فوضع يده بين كتفي حتى وجدت بردها بين ثديي أو وضعهما بين ثديي حتى وجدت بردها بين كتفي فما سألني عن شيء إلا علمته
465 – (Hasan)
Telah menceritakan kepada kami Abu Bakr bin Abi Syaibah: Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Bakiir: Telah menceritakan kepada kami Ibrahim bin Thahmaan: Telah menceritakan kepada kami Sammaak bin Harb, dari Jabir bin Samurah, ia berkata: Telah bersabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam: “Sesungguhnya Allah ta’ala menampakkan diri kepadaku dalam sebaik-baik bentuk. Maka Dia bertanya kepadaku: ‘Apakah yang diperbantahkan oleh Al-Malaul-A’la (para malaikat)?’ Aku berkata: “Wahai Rabb-ku, aku tidak mengetahuinya’. Maka Dia meletakkan tangan-Nya di antara dua pundakku hingga aku merasakan dinginnya di antara dua dadaku’. Atau: Dia meletakkan dua tangan-Nya di antara dua dadaku hingga aku merasakan dinginnya di antara dua pundakku. Tidaklah Dia bertanya kepadaku tentang sesuatu kecuali aku mengetahuinya”.
Abu Salafy berkata:
Pada jalur riwayat di atas setidaknya terdapat dua parawi cacat bermasalah, yaitu Ibrahim ibn Thahmân dan Simâk ibn Harb.
Ibrahim ibn Thahmân Di Mata Ulama
Al hafidz Muhammad ibn Abdullah ibn Ammar al Mûshili berkata, “Ia dha’if, muththaribul hadîts/ia lemah, kacau hadisnya.”[47] Dalam kitab at Tahdzîb dinukil pernyataan Ibnu Hibbân bahwa ia sering menyendiri dalam meriwayat atas nama orang-orang tsiqât (jujur lagi tterpercaya) hadis-hadis ruwet/mu’dhalât.”[48]
Simâk ibn Harb Di Mata Ulama
Adapun tentang Simâk ibn Harb, Sufyan ts Tsauri dan Syu’bah mendha’ifkannya. Demikian diterangkan al Khathib al Baghdadi dan Ibnu Jauzi.[49] Imam Ahmad berkata, “Ia muththarib hadisnya.”[50] Shaleh ibn Jazrah berkata, “Ia didha’ifkn/yadha’af.”[51]
Ibnu Mubarak berkata, “Ia dha’if.”[52]
Al bazzâr berkata, “Sebelum mati ia berubah hafalannya.”[53]
Ibnu Hibbâb berkata, “Ia banyak salah.”[54]
Selengkapnya keterangan dan komentar ulama tentang keduanya dapat Anda baca dalam Mîzân al I’tidâl dan Tahdzîb at Tahdzîb.
Abu Salafy berkata:
Dengan memerhatikan keterangan para ulama sulit rasanya membenarkan ketetapan status hasan yang diberikan Syeikh Akbani untuk hadis ini.
Jadi benarlah apa yang ditegaskan para ulama seperti Ibnu Jauzi, al Baihaqi dan lainnya bahwa hadis ini dari berbagai jalurnya adalah dh’aif dan muththarib!!
Kekacauan Sikap Syeikh Albani Dalam Mentakhrij Hadis!
Banyak ulama melihat bahwa Syeikh Albani sering kali berbenturan antara keterangan-keterangannya tentang satu hadis atau satu parawi. Di sebuah kali ia mendha’ifkan dan/atau mencacat parawinya kemudian di kesempatan lain ia memuji dan atau menshahihkan hadisnya.
Mungkin apa yang saya katakana ini dirasa berat oleh kaum Salafiyah yang muta’ashshibîn (fanatik buta) kepada Syeikh mereka! Namun inilah kenyataannya!
Di bawah ini saya ajak Anda memerhatikan dua ketarangan yang ganjil dari Syeikh Albani tentang dua hadis yang diriwayatkan dari jalur yang sama, namum untuk yang satu ia katakana: Shahih lighairih (seperti pada hadis dengan nomer 471 yang disebutkan saudara kami Abu Jauzâ’) sementara di tempat lain ia menvonis maudhû’ (palsu) hadis dengan jalur yang sama tersebut.
Perhatikan apa yang dikatakan Abu Jauzâ’:
Begitu pula dengan Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullah menegaskan kepalsuannya dalam kitab Adl-Dla’iifah:
6371 – ( رأيتُ ربي – وفي لفظٍ: رأى ربَّه تعالى – في المنام في أحسنِ صورةٍ ، شاباً موقَّراً ، رِجلاه في خُفٍّ ، عليه نعلانِ من ذهبٍ ، على وَجْهِهِ فراشٌ من ذهبٍ ).
موضوع .
أخرجه الخطيب في “التاريخ” (13 / 311) من طريق نعيم بن حماد: حدثنا ابن وهب: حدثنا عمرو بن الحارث عن سعيد بن أبي هلال عن مروان بن عثمان عن عمارة بن عامر عن أم الطفيل – امرأة أُبَيّ – أنها سمعت النبي صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يذكر أنه رأى ربه … الحديث .
“6371 – “Aku telah melihat Rabb-ku – dalam lafadh yang lain: “Beliau telah melihat Rabb-nya ta’ala – dalam mimpinya sebaik-baik bentuk: seorang pemuda terhormat, kedua kakinya memakai sandal yang terbuat dari emas, di atas wajah-Nya terdapat faraasy dari emas”.
Maudlu’ (palsu)
Dikeluarkan oleh Al-Kahthiib dalam At-Taariikh (13/311) dari jalan Nu’aim bin Hammad: Telah menceritakan kepada kami ‘Amru bin Al-Haarits, dari Sa’iid bin Abi Hilaal, dari Marwaan bin ‘Utmaan, dari ‘Umaarah bin ‘Aamir, dari Ummu Ath-Thufail – istri Ubay – bahwasannya ia pernah mendengar Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan diri beliau pernah melihat Rabb-nya….. (al-hadits)”
[lihat selengkapnya dalam Silsilah Adl-Dla’iifah 13/819-823 no. 6371].
Di sini hadis dengan jalur tersebut ia vonis sebagai palsu/maudhû’! Kemudian coba perhatikan sanad/jalur hadis dengan nomer 471 yang disebutkan Abu Jauzâ’ di bawah ini:
471 – ( صحيح لغيره ) ثنا اسماعيل بن عبدالله ثنا نعيم بن حماد ويحيى بن سليمان قالا حدثنا عبدالله بن وهب عن عمرو بن الحارث عن سعيد بن أبي هلال حدثه أن مروان بن عثمان حدثه عن عمارة بن عامر عن أم الطفيل امرأة أبي بن كعب قال سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول رأيت ربي في المنام في أحسن صورة وذكر كلاما
“471 – (Shahih lighairihi)
Telah menceritakan kepada kami Ismaa’iil bin ‘Abdillah: Telah menceritakan kepada kami Nu’aim bin Hammaad dan Yahya bin Sulaimaan, mereka berdua berkata: Telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah bin Wahb, dari ‘Amr bin Al-Haarits, dari Sa’iid bin Abi Hilaal telah menceritakannya: Bahwasannya Marwaan bin ‘Utsmaan telah menceritakannya, dari ‘Umaarah bin ‘Aamir, dari Ummu Ath-Thufail istri Ubay bin Ka’b, ia berkata: Aku mendengar Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Aku telah melihat Rabb-ku dalam mimpiku dalam wujud/bentuk yang paling baik” dan kemudian beliau menyebutkan satu perkataan [selesai].
Abu Salafy berkata:
Coba perhatikan sekali lagi nama-nama perawi dalam dua sanad tersebut! Pada keduanya kita menemukan nama-nama:
1) Nu’aim ibn Hammâd.
2) Abdullah ibn Wahab (Ibnu Wahab).
3) Amr ibn al Hârits.
4) Sa’id ibn Abi Hilâl.
5) Marwân ibn Utsman.
6) Umârah.
Keenam nama parawi ini juga yang terlibat dalam meriwayatkan hadis yang ia shahihkan! Bukankah aneh di sana ia menshahihkan dan di sini ia menvonis maudhû’!!
Anda berhak bertanya kepada Syeikh dan para pemujanya, sebenarnya yang ia andalkan dalam menetapkan status sebuah hadis itu apa? Apakah sanad/jalur periwayatannya yang menentukan status itu? Atau matan dan kandungannya? Jika sanad yang menjadi pengandalannya maka dalam kedua jalur itu sanadnya telah tercoreng dengan nama-nama parawi super bermasalah! Jika matannya, maka pada kedua riwayat itu juga memuat kemustahilan bagi Dzat Allah SWT!
Untuk sementara saya tidak menvonis bahwa Syeikh Albani sedang kontradiksi antara dua sikap dan keputusannya itu. Saya serahkan kepada para pemujanya dan saya nantikan keterangan lebih lanjut dari mereka khususnya saudara kami yang terhormat Abu Jauzâ’.
Akhirul Kalam
Akhirnya untuk sementara kami cukupkan tanggapan kami atas keberatan sebagian teman-taman Salafi Wahhabi atas artikel kami.
Wallahu A’lam .
(Selesai)
[33] Pada awalnya saya bermaksud menyoroti hasil takhrîj Syeikh Albani seperti yang dinukil saudara kita Ustadz Abu Jauzâ’, akan tetapi untuk menghemat waktu dan tenaga saya untuk pekerjaan yang lebih berguna, niatan itu saya batalkan dan saya hanya akan menyoroti beberapa saja.
[34] I’tibâr adalah upaya yang dilakukan untuk mengenali kondisi dan status hadis, apakah ia hanya riwayata tunggal tidak ada riwayat lain yang menyamainya atau mendukungnya. Tindakan itu dilakukan dengan meneliti hadis riwayat seorang parawi dengan membandingkannya dengan riwayat para parawi lain apakah ada yang menyertainya dalam meriwayatkan hadis tersebut dari gurunya atau tidak? Tindakan ini disebut dengan istilah mutâba’ah. Jika tidak ada, maka diperhatikan kembali apakah ada hadiis erupa walaupun tidak dari gurunya yang juga diriwayatkan oleh parawi lain? Jika ditemukan maka ia disebut syâhid, dan berarti hadis yang sedang diteliti itu bunya syâhid (bentuk jamaknya syawâhid). Lebih lanjut perhatikan Tadrîb ar Râwi,1/242 dan berbagai kitab Mushthalahul Hadits lainnya.
[35] Tadrîb ar Râwi,1/345-347.
[36] Ibnu Hajar al Asqallani maksudnya.
[37]Tadrîb ar Râwi,1/177.
[38] Seperti telah saya katakan sebelumnya bahwa saya akan kembali membincangkan kualitas Nu’aim ibn Hammâd dan beberapa perawi lain dalam sanad riwayat tersebut!
[39] Silsilah al Ahâdîts adh Dha’îfah wa al Maudhû’ah,1/81.
[40] Ibid.265.
[41] Ibid,2/129.
[42] Ibid.199.
[43] Ibid.227.
[44] Ibid.374.
[45] Adh Dhu’afâ’ wa al Matrûkîn:234/617.
[46] Tahdzîb al Kamâl; al Mizzi,29/466.
[47] Adh Dhu’afâ’ wa al Matrûkîn,1/36.
[48] Baca juga ats Tsiqaât,6/27.
[49] Târîkh Baghdâd,3/236 dan adh Dhu’afâ’ wa al Matrûkîn,2/26.
[50] Al Jarh wa at Ta’dîl; Ibnu Abi Hatim,4/279.
[51] Demikian disebutkan al Khathib dalam Târîkh-nya,9/214 dan al Mizzi dalam Tahdzîb al Kamâl,12/115.
[52] Tahdzîb al Kamâl,12/115.
[53] Ikmâl Tahdzîb al Kamâl,6/109.
[54] Ats Tsiqât,4/339.
__________________________________
Artikel Sebelumnya
DIarsipkan di bawah: Akidah Tajsim & Tasybih, Aqidah, Kajian Hadis, Kenaifan Kaum Wahhabi, Manhaj, Menjawab Blog Wahabi/Salafy
Buat Pengunjung blog kami yang ingin menulis huruf arab anda bisa memanfa'atkan "Keyboard Arab Online" silahkan pilih mana yang cocok,


untuk hadit2 tentang ru’yah ustad abdu salafy hebat juga ya bisa kritis,mudah-mudahan hal itu berlaku juga untuk hadit2 dha’if tentang tawassul kepada orang yg sudah meninggal,dan yang-lainlainnya
Assalamua’laikum
Mas Abu Salafi, dulu ana pernah mendengar ad buku yang bagus judulnya “Ibnu Taimiyah Laisa Salafiyan”. Yang mengarang ulama Mesir. Bisa dicarikan info ttg buku tersebut? Soalnya buku tersebut membahas kesalahan Ibnu Taimiyah yang menisbatkan salaf berakidah itsbat.
By the way, saya udah liat bukunya mas abu di toko buku gramedia,. Cuman satu kurangnya. Kurang biodata penulis, biar ilmiah gitu lhoo.
Wassalam…
Abu Salafy:
Saya belum tau.
Mantap
Bagi yang mengikuti kajian ini, perlu juga membaca Artikel yang sangat terkait dengan tulisan abusalafy diatas, di bahas oleh blog ini:
Ibnu Taimiyyah Menshahihkan Hadis “Nabi Melihat Allah SWT Dalam Bentuk Pemuda Amrad”.
http://secondprince.wordpress.com/2009/10/28/ibnu-taimiyyah-menshahihkan-hadis-%E2%80%9Cnabi-melihat-allah-swt-dalam-bentuk-pemuda-amrad%E2%80%9D/
dan artikel kajian
Pembahasan Sanad Hadis Ummu Thufail “Nabi Melihat Allah Dalam Bentuk Pemuda Berambut Lebat”
http://secondprince.wordpress.com/2009/10/28/pembahasan-sanad-hadis-ummu-thufail-%E2%80%9Cnabi-melihat-allah-dalam-bentuk-pemuda-berambut-lebat%E2%80%9D/
emang begitu kelakuan wahabi. apalagi di bidang fiqh jauh amburadul. metodologinya gak karuan. comot sini comot sana, yang dicari adalah yang bisa sesuai dengan hawa nafsu mereka dan tuan-tuan mereka zionist , amerika dan keluarga suud. sanad ilmu mereka gak jelas juntrungannya, mungkin klo ditanya sanadnya akan muncul Lawrence of Arabia, Nicholson Snouc Hurgronye.
coba perhatikan, jika ada satu hadis yang diamalkan orang lain dengan yang tak sesuai dengan hawa nafsu mereka, gak pikir panjang langsung bilang hadis maudlu, eh klo orang bisa ngebuktiin gak maudlu mereka bilang dlaif dan bikin qaidah baru yang menyatakan mengamalkan hadis dliaif itu bid’ah
tapi bila mereka pengen nyalurin nafsu, hadis terdloif pun mereka pakai sebagai dalil dan kalo perlu menghapus bagian tertentu dari hadits yang tak cocok sama mereka. sebenernya kelakuan wahabiyun jahil quadrat sperti ini pernah diungkap oleh KH Sirojuddin Abbas dalam bukunya 40 Masalah Agama.
Kita liat lagi ada satu qaidah yang menyatakan ’suatu amalan sunah agar SEKALI-KALI ditinggalkan, agar orang awam tidak menganggapnya wajib’ dippelintir sama wahabi menjadi ’suatu amalan sunah (yang tak cocok dengan hawa nafsu wahabi tentu saja) agar ditinggalkan, agar orang awam tidak menganggapnya wajib’ . kata SEKALI-KALI nya ngilang euy. Mau bukti? Ada sekelompok Wahabi mengakui sunnahnya shalat qunut subuh, coba liat mesjidnya wahabi apa pernah mereka melakukannya. Coba orang biasa qunut jadi Imam di Wahabi, dijamin dibilang bid’ah. Dan bener juga gw liat Whabi klo berdoa gak ngangkat tangannya karena dibilang hadis berdo’a dengan mengangkat tangan dlaif, dan mengamalkan hadist dlaif itu bid’ah padahal siap sih sebenernya yang bid’ah? klo orang mengankat tangan ada dasarnya, walupun dibilang dlaif oleh Wahabi, tapi yang berdo’a dengan tangan diatas paha apa emang ada hadisnya?
(liat komen A. Hasan di Bulughul Maram padahal Ibnu Hajar menyampaikan hadis tsb karena beliau mengamalkannya tapi dng ahlak Wahabiyahnya A.Hasan justru menyerang Ibnu Hajar di bukunya seandainya gw Ibnu Hajar gw gak akan rela klo ada orang yang memberi penjelasan terhadap karya gw yang jauh melenceng dari yang gw maksudkan),
Ahlul Sunah Jama’ah dalam berguru biasanya menyebutkan sanad perguruannya, disetiap bidang ilmunya misalnya seorang belajar qur’an maka disebutkan saya berguru kepada a, a kepada b, b kepada c dst .. kepada rasulullah, malaikat jibril, Allah. Mata rantai tersebut selalu dipertahankan ini untuk menjaga kemurnian ajaran agar sesuai dengan sumber pertama. dan ada kebiasaan untuk menghadiahkan Fatihah kepada nama2 yang disebut dalam mata rantai tersebut dan juga bertawasul terhadap mereka. Mungkin karena minder karena ulama Whabi tak bisa menyebut sanad perguruannya, maka mereka membid’ahkan hadiah Fatihah dan tawasul dengan alasan bertentangan dengan An Najm 39. Gw jadi pengen tau Albany itu Syech hadisnya kepada siapa? terus gimana sanadnya?
yo kamu gk mungkin jadi ibnu hajar .. wong kata2mu sj penuh dg kedengkian dan kotor kaya gitu….
ini blok nya orang syiah laknatullah bin jafari
_________
abu salafy:
jika anda cerdas maka seharusnya anda membantah tulisan diatas, bukan melaknat.., tahukah anda resikonya melaknat sesama muslim? semoga Allah SWT mengampuni hambanya yang jahil !
Tolong dikaji masalah taat kepada penguasa yang zhalim terutama dalam bab Imarah Shahih Muslim
Karena hadits tsb ddipakai oleh salafy untuk membela habisan pengauasa yang zhalim
Tolong dikaji dari sisi sanad dan matannya, karena kesimpulan saya hadits yang mewajibkan taat pada penguasa yang zhalim agak ganjil
Assalamu’alaikum pak kyai abu salafy,
wah makin bagus aja kajian dari pak kyai ini, saya sudah baca di blognya abu jauza, dia coba untuk menjawab tapi sudah dipatahkan lagi dalilnya oleh pak kyai, kasihan dia. Oh iya saya baca juga dia mengakui bahwa kemampuan nahwu & shorfnya masih belum cukup baik, masih salah baca tapi kok sudah buka kitab-kitab rijalul hadits. Berlagak pula lagi. saya minta izin copy paste artikel-artikel pak kyai ke blog saya ya
____________
Abu salafy:
Silahkan mas demi dakwah dan pencerahan!
untuk Abu Hanifah
anda tinggal di mana?Indonesia apa Malayasia?kayaknya anda gak pernah tahu dunia luar? mbo ya sekali-kali lihat dunia luar donk! biar ga asal ngomong!
Buat Abu salafy
kalo menurut saya apabila anda masih merasa penasaran dengan apa2 yang disusun oleh syaikh Albani, datanglah ke Jakarta, temuin ustadz Abdul Hakim, Ust Yazid saya jamin semua uneg-uneg yang selalu anda tulis di blog anda akan terjawab! karena kalo anda harus nemuin murid-murid syaikh Albani saya rasa anda mungkin tak akan berani!!! Biar anda gak menghabiskan umur anda dengan sia-sia hanya dengan selalu mencaci maki syaikh muhammad Abdul Wahhab, Syaikh Albani, Syaikh Bin Baz, dll. saya kasihan dengan anda, kayaknya umur anda habis terbuang sia-sia hanya untuk menggibah orang, mending kalo orangnya masih ada anda masih bisa minta maaf, nah kalo orangnya semuanya sudah meninggal? giman anda cara minta maaf? sekarang mending anda cari ilmu yang shohih, sesuai dengan tuntunan nabi shollallohu ‘alaihi wasallam, terus amalkan dengan sungguh-sungguh, saya yakin anda akan mendapatkan kebahagiaan. untuk mengkritik seseorang kita yang mengkritik harus tahu diri dong?sudah segimana keilmuan kita, sehingga dengan seenaknya ngomong si fulan, fulan. apa lagi yang anda omongkan rata-rata orang yang keilmuannya mungkin anda tidak akan nyampe maaf “telapak kaki” orang-orang yang anda kritik, mending kalo anda mengkritik dengan sopan, menurut saya anda sudah sampe mencaci maki, cepatlah bertaubat sebelum ajal datang menjemput. daging ulama itu beracun saya yakin kalo anda tidak segera berhenti dari apa yang anda lakukan sekarang, esok lusa anda akan menerima balasan dari Alloh ‘Azza wa Jalla
Cepatlah bertaubat! Cepatlah bertaubat! Cepatlah bertaubat! Cepatlah bertaubat! Cepatlah bertaubat!
mohon maaf apabila ada kata-kata yang kurang berkenan
Wallohu a’lam
Assalamu’alaikum warohmatullohi wabarokatuh.
Saudaraku Abu Umar yang dirachmati Alloh, kiranya apa yang dilakukan oleh saudara kita Abu Hanifah ( Abu Salafy ) atau mereka-2 yang sepaham dengannya merupakan salah satu bentuk da’wah ( kebajikan dalam agama ) yang tidak semua orang bisa melakukannya karena keterbatasan ilmu, dll. Karena di dunia maya juga banyak sekali situs-2 yang sepaham / sealiran dengan syaikh muhammad Abdul Wahhab, Syaikh Albani, Syaikh Bin Baz, syaikh Utsaimin, dll, yang memang sebagian dari materi yang disajikan membahas tentang bid’ah dan musyrik yang akhirnya memponis saudara muslim lainnya yang mengerjakannya ( maulidan / tahlilan / istighosah / tawassul / ziaroh qubur / wiridan – do’a bersama setelah sholat fardhlu, dll ) di cap bid’ah – musyrik yang ujung-ujungnya kufur dan yang senama dengannya. Bukankah ini lebih dari cacian – hinaan – dan ejekan terhadap saudara muslim lainnya. Kita tidak boleh dgn mudah memponis / memusyrikkan orang kecuali nyata / dhohir kemusyrikkannya. Bukalah hati dan pikiran kita …….. jangan diiringi nafsu belaka. Dan mereka bahkan juga mengatakan dan memponis Imam Ghozali rahimahulloh, Iman Abu Al Hasan Asy’ari , Abu .. Al Maturidi SESAT, na’dzubillah min dzalik. Padahal mereka ini hanyalah golongan / ‘ulama kemudian yang lahirnya jauh beberapa ratus tahun belakangan, ‘kedalaman ‘ilmunya jauh dibanding para pendahulu mereka, bahkan sebagian pengarang kitab maulid mereka adalah para AL MUHADDITS / AL – HAFIDZ, yang hidup jauh sebelum pendiri WAHABI itu lahir, seandainya mereka salah tentulah sudah di betulkan / di hujjah oleh pada Muhadditsin atau pada ‘ulama pada masa itu, bukannya oleh mereka yang lahir kemudian dengan ke’ilmuan yang tak bisa dibandingkan dengan mereka, ……. Bukalah hati dan pikiran kita ……………………………………., Lihat sejarah syaikh Muhammad Abdul Wahhab, semasa hidupnya sang kakak yang lebih ‘alim dan orang tuanya juga sudah berusaha untuk menegur dan mengingatkan akan kekeliruannya, namun hidayah Alloh belum menyertainya. Lihat sejarah ……. paham apa / ulama mana yang meratakan quburan para sahabat , tabi’in dengan tanah, bahkan hampir-2 Makam Rosululloh dan makam Ibrahim pun akan mereka ratakan dengan tanah, masya Alloh … Buka hati dan pikiran kita………………. Lihat sejarah di tahun 1800 an, pembunuhan dan pembantaian kaum muslimin syiah di Irak daN JUGA Yaman, dasar apa mereka membunuh kaum / saudara muslim nya sendiri ? ….. kalau bukan gara-2 fatwa sesat yang sedikit-sedikit bilang syirik, hingga menghalalkan darah saudaranya sendiri dalam agama ( ISLAM ), buka hati dan pikiran kita ………………………., Liat di Arab Saudi …………. sejarah membuktikan kekuasaan Ibn Saud diperoleh dengan apa ….. apa musyawarah …. demokrasi … bukan keduanya… tapi kudeta yang didukung oleh Inggris, siapa dibelakangnya yaa… orang-2 wahabi, padahal di dalam fatwa-fatwanya mereka melarang kudeta / pemberontakan di negara ( pemerintahan ) yang pemimpinnya masih mendirikan sholat dan belum melihat kekafiran yang nyata padanya,,… padahal sebelumnya AL – HARAMAIN dipegang oleh salah satu AHLUL BAITS, Liat ….. kenyataan sekarang di Makkah dan Madinah khususnya di kuburan ( baqi, ma’la , dll ) orang mendo’akan saudaranya yang di dalam kubur agar mendapat rachmat dari Alloh, malah di usir / dilarang dan dibilang HARAM….. adakah ajaran Rasululloh dan sahabat yang demikian ? ………………… katanya mau menegakkan ajaran Rasululloh,… yang mana ,
Liat pula bagaimana penghargaan dan penghormatan mereka kepada Baginda NABI BESAR MUHAMMAD shollollohu alaihi wasallam, rumah tempat kelahiran beliau sengaja dibiarkan dan tak terawat ….. tapi rumah rajanya / syeikh nya juh sekali berbeda keadaannya …… apakah ini diajarkan Rasululloh ? …. Orang komunis saja bisa menghargai dan memelihara peninggalan-2 para pimpinannya, apalagi orang muslim tentunya, Buka HATI dan PIKIRAN kita ………………………………………………….
Sekarang … coba anda masuk ke web site Anak Abdulloh bin BAAZ. dia juga mengkritisi dan koreksi terhadapt fatwa-2 orang tuanya ( ABDULLOH BIN BAAZ ), alhamdulillah sedikit ada pencerahan terhadap salah satu keturunan BIN BAAZ, semoga Alloh selalu memberikan hidayah-Nya terhadap orang yang mau membuka hati dan pikirannya. Amien.
Demikian saudaraku Abu Umar, sekali lagi saya memohon ma’af kepadamu sekiranya ada kata-2 yang kurang berkenan dihatimu.
Dan untuk saudaraku Abu Hanifah / Abu Salafy tetaplah berda’wah melalui jalur ini. ( selain yang lainnya ).
Astaghfirulloh, lii walil mu’minina wal mu’minat … 11 x
Wassalamu’alaikum warohmatullohi wabarokatuh.
NB : web site / blog Murtadin Indonesia atau yang sejenis tolong di waspadai
Abu Hanifah (Mudah-mudahan mendapat petunjuk dari Alloh)
Anda kalo belum cukup ilmu agama jangan coba-coba bicara masalah agama. Agama adalah apa yang Alloh Firmankan,di katakan, dilakukan, didiamkan oleh Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam, kemudian di praktekkan oleh para shohabat, dan diikuti oleh para ulama, itulah yang dinamakan manhaj. bagaimana kita cara beragama?untuk lebih jelasnya lihat di radiorodja.com. tapi harus dengan fikiran yang jernih tanpa, jangan dibaca dengan hawa nafsu dan fanatis guru or madzhab. wallohu a’lam
Assalamu’alaikum
Lek Abu Salafy,,,,,terus maju dengan hujjah yang nyata, kalau bisa hilangkan celaan dan kata kasar…salut ketelitian antum tentang sanad hadist maudhu yang menjadi shohih lighoiri diatas , setelah ana cek ternyata memang sanadnya sama…atau kang jauza yang salah nukil kali ya…..?
seharusnya sanad yang shohih lighoiri tersebut atas harusnya maudhu’ juga , karena semua orang yang terlibat maudhu’ diatas, juga ada di Shohih lighoirihi…
Semoga diskusi ini semakin mencerahkan….
Sekalian minta tolong dibahas hadist fadhilah yasin, yang katanya “salafy” sanadnya dhoif semua…?
jazakallah
MAUDHU’
jalan Nu’aim bin Hammad:
Telah menceritakan kepada kami ‘Amru bin Al-Haarits,
dari Sa’iid bin Abi Hilaal,
dari Marwaan bin ‘Utmaan,
dari ‘Umaarah bin ‘Aamir,
dari Ummu Ath-Thufail – istri Ubay –
SHAHIH LIGHOIRIHI
Ismaa’iil bin ‘Abdillah:
Telah menceritakan kepada kami Nu’aim bin Hammaad
dan Yahya bin Sulaimaan, mereka berdua berkata:
Telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah bin Wahb,
dari ‘Amr bin Al-Haarits,
dari Sa’iid bin Abi Hilaal telah menceritakannya:
Bahwasannya Marwaan bin ‘Utsmaan telah menceritakannya,
dari ‘Umaarah bin ‘Aamir,
dari Ummu Ath-Thufail istri Ubay bin Ka’b
Abu Al Jauza telah menulis bantahan terhadap makalah antum di atas: http://abul-jauzaa.blogspot.com/2009/11/kedudukan-hadis-nabi-saw-melihat-allah.html
@Abu Jahmiy
Mas bantahan abu jauza tersebut lebih banyak ditujukan kepada J Algar (Secondprince) dan oleh yang bersangkutan artikel Abu Jaua sudah dibantah lagi, kemudian abu jauza membantah lagi dan dibantah lagi oleh J Algar…
kedua bantahan atas abu jauza perlu anda baca juga lihat tautan ini:
Bantahan Terhadap Salafy : Hadis Dhaif Nabi SAW Melihat Allah SWT Dalam Sebaik-baik Bentuk
http://secondprince.wordpress.com/2009/11/12/bantahan-terhadap-salafy-hadis-dhaif-nabi-saw-melihat-allah-swt-dalam-sebaik-baik-bentuk/
dan
Kekacauan Salafy Dalam Membela Hadis “Nabi SAW Melihat Allah SWT Dalam Sebaik-baik Bentuk”.
http://secondprince.wordpress.com/2009/11/17/kekacauan-salafy-dalam-membela-hadis-%E2%80%9Cnabi-saw-melihat-allah-swt-dalam-sebaik-baik-bentuk%E2%80%9D/
@abu jahmiy
abu jauza sudah KEOK sama second prince sudah BUNGKAM tidak kowar-kowar lagi soal itu…!
http://secondprince.wordpress.com/category/kritik-salafy/
kaihan deh anak2 bangsa yg kurang paham agamanya mabuk dengan propaganda wahabi, ini kejadian yg sungguh sedih pada generasi indonesia umumnya yg sejak kecil kuang didikan agama. apalagi yg tdk paham sejarah perjalanan tokoh aliran agama. Akan mudah tertipu apalagi dgn dunia yg penuh dgn propaganda, salut buat Abu Salafy telanjangi para wahabi smoga mereka kembali pada ajaran yg hakiki…wassalam
Assalamu ‘alaikum
Terorisme yang menamakan islam jelas sangat merugikan islam itu sendiri di samping juga merupakan perbuatan yang merusak dan terkutuk.
Alhamdulillah Ustadz luqman salah satu ustadz ahlussunnah sangat perduli untuk menjelaskan dan membantah faham menyimpang ini.
Kami memohon bantuan kepada blogger untuk menyebarkan yang berikut ini. Mudah-mudahan bermanfaat buat kebaikan kita semua.
klik yang berikut : http://abasalma.wordpress.com/2009/11/17/agar-tidak-menjadi-teroris/
@abu Salma M F
pak kyai tulisan ente ora nyambung babar blas….
teroris-teroris tersebut mau ente terima atau tidak, mereka semua di ilhami oleh pemikiran wahabi ala Ibnu Abdul Wahab yang sejarahnya banyak menyebar teror baik teror fisik kepada umat Islam juga teror pemikiran…
kedua mereka juga di ilhami oleh pemikiran IBNU TAIMIAH si begawan pemikiran teror dengan banyaknya fatwa-fatwa yang haus darah…
oh ya saya juga ingin tahu komen anda terhadap tulisan diatas
bismillah
walhamdulillah
washsholatu wassalaamu ‘ala rosulillah
dengan segala rahmat Alloh mudah-mudahan pemilik blog ini segera bertobat atas segala kesalahan yang telah ia lakukan dengan selalu mencaci maki para ulama
walhamdulillah
wallahu a’lam
apa semua yang disebut ulama pasti bener….terus kenapa ulama dari wahabi, NU, Syiah pada perang sekarang ???
Atau yang anda anggap ulama cuma syekh2nya wahabi doang….
Memangnya anda ga pernah hitung sudah berapa juta kali dedengkotmya wahabi mencela n memaki ulama2 islam hanya krn berbeda pandangan dgn wahabism…..???
@abu umar
buaknnya wahabi/salafy yang harus bertobat nasuha… atas dosa2nya yang mengkafirkan, mensyirikkan, membid’ahkan, mensesatkan umat islam yang muwahid?
ngaca mas sebelum berkomen!
Tulisan Abu Jauza juga di bantah oleh J Algar bagi yang ngikuti dialog ini seharusnya embaca bantahan ini pula:
Bantahan Terhadap Salafy : Hadis Dhaif Nabi SAW Melihat Allah SWT Dalam Sebaik-baik Bentuk
http://secondprince.wordpress.com/2009/11/12/bantahan-terhadap-salafy-hadis-dhaif-nabi-saw-melihat-allah-swt-dalam-sebaik-baik-bentuk/
dan
Kekacauan Salafy Dalam Membela Hadis “Nabi SAW Melihat Allah SWT Dalam Sebaik-baik Bentuk”.
http://secondprince.wordpress.com/2009/11/17/kekacauan-salafy-dalam-membela-hadis-%E2%80%9Cnabi-saw-melihat-allah-swt-dalam-sebaik-baik-bentuk%E2%80%9D/
Rekan-rekan semua…
Mbok ya santun sedikit kalau menulis komentar, baik yang pro dan kontra. Usahakan menulis yang ilmiah, dan sumber yang jelas. Sumbernya dari buku asli atau cuma dari maktabah syamilah. Soalnya sekarang lagi jaman “mendadak ustadz”, cuma berbekal maktabah syamilah udah berlagak seperti ulama yang punya ratusan kitab. Kalau sumbernya dari maktabah syamilah yang cantumkan jangan malu atau gengsi, biar bisa dicek sama-sama. Karena termasuk keberkahan menisbatkan ilmu pada sumbernya.
walah pak abu salafy ini gimana yach. tuh di alqur,an aja dah ada keterangan kita akan melihatNYA…? bantahan akh abul jauzaa itu udah mantap kok n to the ponit, jelas, blum lagi ustadz2 nyang laen seperti ustadz umar assewed.. masih mau ngritik syaik al bani yang boleh dikatakan muhaddits dunia…. lancang sekali antum ini, cobalah merenung sekali2 gimana ntar kalo sengaja salah ngomongin orang (masih mending g sengaja). pak… lebih baek sampeyan tobat toh…mudah2 antum dibukakan hati juga diberi hidayah dari Allah azzawajalla aminnn.. see u
@abu jufri
baca bantahan abu salafy yang bener
terus ditambah baca bantahan SP atas tulisan Abu Jauza ini
http://secondprince.wordpress.com/2009/11/12/bantahan-terhadap-salafy-hadis-dhaif-nabi-saw-melihat-allah-swt-dalam-sebaik-baik-bentuk/
http://secondprince.wordpress.com/2009/11/17/kekacauan-salafy-dalam-membela-hadis-%E2%80%9Cnabi-saw-melihat-allah-swt-dalam-sebaik-baik-bentuk%E2%80%9D/
setelah itu anda bertobatlah atas kesalahan-kesalahan yang mentaklidi imam-imam salafy/wahabi anda yang melecehkan ALLAH SWT dengan memposturisasi Allah SWT !
betul…betul…betul… sekarang dunia udah canggih manusia bisa menilai mana yang haq dan bathil mana yang hawa dan mana yang sunnah udah jelas tinggal kita membaca dan jangan terfokus satu orang yang belum tentu benar baik menurut dia belum tentu baik menurut tinjaun alquran dan sunnah dan firman nya tidaklah dia (muhammad) berkata selain yang diturunkan allah. yaitu wahyu jadi kita tinggal menelaah siapa abu ini tidak lain dalah musuh ahlusunnah yaitu syiah laknatullah
klo anda tidak percaya coba anda ikuti blok syiah ini memang jeli untuk mengelabui maupun NU , muhammadiah mareka terkecoh oleh abu ini memang pandai dia ini memakai perawi hadis habis membuang nya seenak dia saja ,,
klo anda juga tidak percaya coba anda tanyakan tentang sahabat nabi dia mengatakan sahabat murtad kecuali yang 4 manu mungkin sahabat murtad siapa yang menyampaikan ilmu dan mengajarkan alqur”an kepada kita dan menyeebar kan agama ini kita berlindung kepada allah atas tuduhan abu gosok ini yang akan menempati pintu -pintu jahanam ………
wahai saudara ku sahabat nabi tak terhitung jumlah nya masa dia mengatakan semua murtad kecuali 4 ga masuk akal kan dan siapakah ahlusunnah ..? cobalah anda mencari nya belajar lah kita karna agama ini telah terhina karna perbuatan kita ………..
memang kita perlu waspada dengan gaya – gaya mencaci maki para ulama ahlul hadis yang dilakukan oleh orang-orang seperti akhuna abu salafi ini.
Akh/ Ukh Ipin…
Orang yang melawan wahaby/ salafy itu bukan cuma orang syiah saja, bahkan sesama wahaby saja saling berantem…
so jika antum berilmu berikan hujjah jangan melaknat, ingat melaknat itu dosa akh, dan akan kembali kepada si pelaknat jika laknat itu salah…
Akh Abu Salafy insyaAllah Ahlussunnah yang menghormati semua sahabat dan Ahlul bait, mungkin ada sedikit pernyataan untuk antum renungkan :
1. Kesalahan syiah adalah karena mereka menghina/ tidak menghormati sahabat..
2. Dan Kesalahan khawarij karena mereka tidak menghormati ahlul bait, dan maaf ini mirip dengan ssalafy saat ini.
3. Dan Ahlussunnah (termasuk blog ini) menghormati keduanya (sahabat dan ahlul bait)
Untuk artikel di atas bagus, memang kalo dicermati kerancuan kosep hadits salafi ini adalah pada pembagian haditsnya, di mana mereka hanya membagi hadist menjadi dua :
1. Sahih
2. Palsu (dha’if)
Padahal para muhadditsin sudah membaginya menjadi beberapa bagian, dan syaikh albani juga mendapat banyak kritik dari para muhadditsin karena kontradiksinya..
Semoga kita bisa belajar dan berguru dengan baik.. Wallahu a’lam..
kpd ibnu saud :
setau sy kritikan syiah terhadap sahabat semua dibareng dg hujah, sebaiknya anda mengkritisi hujah yg disampaikan oleh syiah, bukan hanya statmen saja.
@ Thalib Ilmi: Saya sudah mengomentari bantahan SP tersebut dan saya sudah memberikan keterangan bahwa yg benar Abdurrahman bin ‘A`isy itu adalah shahabi, sehingga haditsnya tidak mudhtharib. Silahkan lihat komentar saya di artikel tersebut (itupun kalau sudah dimoderasi oleh SP).
daripada menabung dosa dengan mencela ulama’
lebih baik kita banyak tobat dan istighfar…demi kebaikan kita jg..
…Rasulullah dan para Sahabat pun pasti marah kalo baca isi blog ini….
blog yg penuh cacian…makian…umpatan…fitnah..dll
kalo memang abu salafy sudah merasa lebih hebat dari syaikh albani…bin baz,…ibnu taimiyyah….apa antum punya kitab yg bisa dijadikan rujukan umat muslim di dunia seperti mereka ??
…ingat…usia semakin berkurang….!!!
@pria idaman
saya sudah baca dan ikuti diskusi anda dengan SP, disini:
http://secondprince.wordpress.com/2009/11/17/kekacauan-salafy-dalam-membela-hadis-%E2%80%9Cnabi-saw-melihat-allah-swt-dalam-sebaik-baik-bentuk%E2%80%9D/#comments
tapi menurut saya anda kurang to the point dalam pembuktian soal itu… dan terkesan berputar-putar…
permintaan SP tentang pembuktian (Abdurrahman bin ‘A`isy itu adalah shahabi,) belum anda jawab secara langsung tapi masih berputar-putar (ma’af itu pendapat saya)
saya akan ikuti diskusi anda dengan SP sampai tuntas!
antum menulis syaikh nashiruddin al albabi? begitukah ahlaknya orang islam? astagfirullaaah.
___________
abu salafy
Terima kasih atas koreksinya, sesungguhnya itu kesalahan mengetik bukan kesengajaan, Allah SWT mengetahui hal itu.
selanjutnya tak lupa kami ucapkan ma’af !
@pria idaman
sekedar info mas, sdr SP telah menurunkan artikel yang khusus membahas bahwa Abdurrahman bin ‘A`isy bukan sahabat..
saya ingin tahu komentar/sanggahan saudara disana
http://secondprince.wordpress.com/2009/12/03/apakah-abdurrahman-bin-%E2%80%98aaisy-al-hadhrami-seorang-sahabat-nabi-saw/
@ saud
anda in kurang paham aja tentang blok abu salafi ini dan anda tidak akan mengerti sebelum anda tahu apa itu salafy kita berlindung dari amal yang jelek karna itu datang nya dari syaitan….
wahai saudara ku siapa yang menjelekkan ulama terdahulu dan termasuk para sahabat coba anda tanya sendri gimana pendapatmu tentang muawiyah dan ali ra pastilah abu salafy menjelekkan muawiyah padahal beliau juga termasuk sahabat toh
belajarlah akhi dunia sudah canggih jangan sampai anda menduga-duga sehingga anda jadi taqlik buta nantinya semoga pintu hidayah terbuka untuk saudara amin..
@upin
mas upin apa dasar anda bahwa semua sahabt itu baik?
apa anda akan membandingakan antara sayyidina ali dan muawiyah pemimpin kelompok bughot/ pemberontak yang mengajak orang ke neraka, sebagaimana disabdakan rasulullah saw dalam hadis bukhori, terus orang yang mengajak ke neraka apakah akan masuk surga?
apakah anda akan membela orang yang mengajak ke neraka?
dibawah ini hadis riwayat Bukhori yang saya ambil dari situs wahaby/salafy tentang sabda nabi saw bahwa golongan muawiyah adalah golongan pengajak ke neraka (bahkan muawiyah adalah pemimpin kelompok pengajak ke neraka ini)
حدثنا مسدد قال حدثنا عبد العزيز بن مختار قال حدثنا خالد الحذاء عن عكرمة قال لي ابن عباس ولابنه علي انطلقا إلى أبي سعيد
فاسمعا من حديثه فانطلقنا فإذا هو في حائط يصلحه فأخذ رداءه فاحتبى ثم أنشأ يحدثنا حتى أتى ذكر بناء المسجد فقال كنا نحمل لبنة لبنة وعمار لبنتين لبنتين فرآه النبي صلى الله عليه وسلم فينفض التراب عنه ويقول ويح عمار تقتله الفئة الباغية يدعوهم إلى الجنة ويدعونه إلى النار قال يقول عمار أعوذ بالله من الفتن
Sumber Hadis: SHAHIH BUKHARI, KITAB الصلاة BAB التعاون في بناء المسجد
http://hadith.al-islam.com/Display/Display.asp?Doc=9&ID=27624&SearchText=%E6%ED%CD%20%DA%E3%C7%D1%20%CA%DE%CA%E1%E5%20%DD%C6%C9%20%C7%E1%C8%C7%DB%ED%C9%20%ED%CF%DA%E6%E5%E3%20%C7%E1%ED%20%C7%E1%CC%E4%E5%20%E6%ED%CF%DA%E6%E4%E5%E3%20%C7%E1%ED%20%C7%E1%E4%C7%D1&SearchType=root&Scope=all&Offset=0&SearchLev
@ akhi saifullah a
anda menanyakan atas dasar apa saya menyatakan semua sahabat itu baik dan hanya berberapa aja yang ga murtad
dan saya mendapatkan ilmu tentu dengan belajar dan belajar dan membaca kitab para ulama bagaimana kedudukan sahabat dan siapa saja yang murtad apakah anda membacanya saya harap tidak sekian
@mas upin
saya berkomentar atas tulisan anda ini
dengan dasar itu dan sebagaimana diyakini oleh salafy khususnya bahwa semua sahabat adalah baik/adil termasuk muawiyah kan? maka saya berkomentar.
saya tidak menyebut-nyebut soal sahabat murtad dan tidak pula tau komen anda tentang sahabat murtad…. komen saya sebatas komen anda diatas
saya hanya mempersoalkan muawiyah yang se-akan2 anda sejajarkan dengan Sahabat Ali bin Thalib ra sebagaimana kata anda: padahal beliau juga termasuk sahabat toh makanya saya berkomentar berdasarkan apa anda berpendapat seperti itu? padahal hadis bukhori yang saya sebutkan muawiyah bin abi sufyan adalah pemimpin fi’ah (golongan) yang mengajak orang ke neraka? lalu apakah orang yang mengajak ke neraka akan masuk surga akhi?
saran saya sebagimana apa yang anda tulis:
@pria idaman…..
tafadhol akh.. bagaimana SP mau ngakuin yah? yah tensin dong, gelarnya ntar bisa jadi down, turun peringkat jadi TP (Third Prince). hehe.
@abu jufri
mas rupanya anda tidak tahu kalo SP menurunkan artikel khusus membantah soal itu, sekalian membantah tuntas argumen teman anda -pri idaman- dan salafiyun/wahabiyun….
lebih afdol anda dan teman anda itu berkomentar disana
http://secondprince.wordpress.com/2009/12/03/apakah-abdurrahman-bin-‘aaisy-al-hadhrami-seorang-sahabat-nabi-saw/
gimana?
Saudaraku Abu Salafy
kemaren saya posting untuk tanggapi koment Abu Umar kok di delete, padahal saya dukung ANDA
wassalam
_____________
abu salafy:
komen yang mana mas tidak ada komen yang kami delete, baru hari ini (11/12/09) kami berkesempatan mengeluarkan beberapa komen, setelah lama tidak aktif, sementara sebagian komen yang perlu kami jawab masih kami pending!
coba anda lihat kembali komen anda itu mungkin sudah kami keluarkan.
@hudaibi
pak ,… seharusnya Si SP (syiah perince) itu nurunin artikel imamnya juga.kitab2 yang sangat bermasalah. coba turunkan artikel tentang keblingeran imam syiah kayak khumaini,qummi,dll.. mengapa cuma yang bertolak belakang aja dia mau nurunin artikelnya? ya jelas untuk membela mahzaabnya bukan? emang dasar tu sp kalo ditanya mahzabnya dia jawab BUKAN SYI’AH lucu bukan??? TAQIYAH lagi… tuh orang yang jadi idola ente yach?? wah wah syi’ah sekarang tambah berani n nekadz karena mereka membawa ajarannya tuk taqiyah, pantesan yang masih awam cepat sekali percaya jadi banyak pndukungnya n lama2 bisa jadi mahzab agama setan ini (syiah) merajalela di Indonesia dengan kepala Preman setan bertubuh manusia JAlaluddin RAhmat dan antek2nya seperti blog ini juga lainnya. Jd berhati2lah kalian yang belum mengetahui akidah salaf, ikutilah atsar yang sahih dari salaf dan turun temurun dan berdoalah agar dijauhkan dari akidah sesat termasuk akidah agama setan (syiah) ini.
@Abu Jufri
Mas abu jufri terus terang tutur bahasa anda jauh berbeda dengan SP, apa bahasa kasar dan tidak sopan itu bahasa orang yang mengaku salafy pengikut salaf2 saleh? apakah begitu para salaf saleh bertutur kata?
anda seharusnya jika ingin membantah SP ya datang ke blog nya sana, bukan ngomel2 disini.
saya sekedar memberi anda info bahwa argumen teman anda itu telah dibantah SP dalam artikel khusus (tentang Abdurrahman bin ‘A`isy bukan sahabat..) kok anda malah ngomel2 begitu
Selain dari itu, ternyata tuduhan2 dan fitnah salafy tentang syiah telah dipatahkan oleh SP, bukankah begitu kawan?
Ustad anda Abu Jauza menurunkan artikel yang menjiplak Al Bani dengan tuduhan bahwa Al Musawi berdusta.. eh ternyata dibuktikan oleh SP bahwa ALBANI SENDIRILAH YANG BERDUSTA, sementara itu muqollid Al Bani Ustad Abu Jauza terpaksa KO tidak dapat membela Syekhnya Al Bani. silahkan ikuti diskusinya disini
http://secondprince.wordpress.com/2009/11/22/mengungkap-kebodohan-dan-kedustaan-syaikh-al-albani-dan-pengikutnya-abul-jauzaa-tuduhan-dusta-terhadap-syaikh-al-musawi/
soal SP mau syiah, Salafy, Wahabi, Aswaja, Ibadhi atau apapun namanya yang kita lihat adalah HUJJAH DAN DALIL NYA MAS? bukankah begitu sobat?!
wahai saudara ku yang lagi mencari kebenaran dalam agama ini saya hanya memberi saran sebelum anda menuduh ataupun membenci pelajarilah agama yang mulia ini sesungguh hati dan semua amal akan dipertanggung jawabkan diakhirat kelak
seandainya kita tidak tahu lebih baik diam jangan percaya dulu dengan istilah cari dalil baru kita yakin jangan yakin dulu baru cari dalil agar kita terhindar dari taqlig buta akhi,,
apa itu aqidah salaf…? ingat lah wahai saudaraku yang benar itu cuma satu dan musuh alhaq itu banyak walau pun abu salafy ini tberupaya menyesatkan kita dari tauhid maka marilah kita intropeksi masing2 agar kesadaran ini muncul,
abu salafy ini identitas ga jelas entah dia muslim munafik atau misionaris kufar klau memang berani masuk FB biar kita bisa tahu dan bisa langsung bertanya bukan..?
ingat lah akhi klau kita mengaku aqidah ahlulsunnah maka cari tahu apa itu ahlusunnah klau kita mengaku mazhab syafi’i pelajarilah sirahnya…
syafi’i bukan sufi akhi ataupun nu atau pun hizbi beliau adalah ulama SALAF yang terkenal membela hadist rasullullah SAw.
@abu salfy(GOSOK)
Sungguh sebuah malapetaka ketika aib seorang muslim dicela dan dibuka. Terlebih lagi beliau adalah seorang ulama besar yang sangat berjasa terhadap kaum muslimin pada umumnya dan para thulabul ilmi pd khususnya. Ok, anggaplah beliau memiliki kesalahan dalam berijtihad. Tapi dalam konteks ini, syaikh adalah seorang mujtahid yang bilamana ijtihadnya beliau benar maka mendapatkan 2 pahala namun bila beliau salah maka mendapatkan 1 pahala. Lain halnya dengan kita terlebih antum ya pembuat blog. Kalo antum salah dalam berijtihad maka bukan pahala didapat tapi dosa diraih. Karena siapalah antum? Apa kapasitas antum? Pantaskah antum disejajarkan dengan para ulama yang notabene mereka jg seorang mujtahid.
Saran ana, lebih baik antum koreksi diri antum apakah sudah mapan dalam keilmuan dan tidak perlu mengoreksi kesalahan ulama terlebih lagi beliau seorang ulama besar. Bertobatlah ya akhil karim dari hal sedemikian.
saya baca , lawan2 SP tidak berani masuk ke arena pembahasan pokok, hanya berkoar2 diluar masalah dan ngalor-ngidul. dimohon yg tidk mampu menjawab dg ilmiah harap mundur saja sebagai pembaca yg baik . silahkan………..
Assalamu ‘alaikum
Saya orang awam tapi kalo baca komentar-2 di blog ini dengan macam-macam dalil & argumen tapi kok
ujung-2nya kata-kata kotor, marah-2, caci maki,fitnah,olok-olok dan hujatan,apakah disini tempat ajang memanjakan dan mengumbar hawa napsu? mana akhlakul karimahnya ? mana akhlak Rasulnya? katanya pada ngaku ahlul sunah. He saya paling ahli sunah, saya paling saleh,saya paling pinter, saya paling bener, saya sdh baca kitab ini kitab itu dll… yg lain kafir lu, bid’ah lu, bodoh lu,neraka lu. Sama persis para koruptor,” he ganyang koruptor, tangkap koruptor,seret koruptor” eee… diem-2 dia sendiri embahnya koruptor.
Wahai saudaraku ingatkah kalopun ada bisa beribadah dg baik dan benar itu karena karunia Allah, kalopun anda memiliki ilmu yg banyak itu karena karunia Allah. Maka pergunakan nikmat Allah ini dengan baik dan benar. Jangan jadikan agama untuk bahan olok-olok dan hujatan.
Wassalam
wahai saudara ku yang dalam thalibil ilmi mari lah kita tinggal perdebatan dengan abu salafy ini sesungguhnya itu lebih baik dari pada kita saling mencaci apalagi kita sesama muslim marilah kita berdakwah pada tempat nya tatap muka atau jelas siapa dia ataupun kita.
abu salafy bukan lah orang yang berilmu ataupun seorang da’i dia hanya memecah umat. ajaran apa yang dia bawa apalagi disini banyak muslim yang awam saya khawatir akan menimbulkan kemudharatan yang lebih besar
ingat saudaraku allah tidak melihat rupa, suku, atau harta kita tapi allah melihat hati dan amal kita barang siapa yang mencitai allah dan rasul nya itu lah orang yang beruntung
jangan kita jadikan tandingan agama ini apabila sampai dalil dan mareka tidak menerimanya itu adalah urusan mareka dengan allah kita hanya menyampaikanya dan kita tidak wajib menhakiminya biarlah allah yang mengecap mareka ahlul bida’ah kufar, syirik karna agama ini jelas seperti siang dan malam
intropeksi lah wahai saudara ku ilmu kita baru seberapa dengan lantang kita berkata atau pun bangga kita lah yang benar yang berhak menyampaikan dakwah adalah ulama wahai saudara ku walaupun mareka salah dalam berijtjihjad jjjjjmjareka tetap mjenjdapat jkjanj pahala dan benar dapat 2 pahala dan dibandingkan dengan kita apa yang kita dapatkan dosa akhi karna kita ini hanya manusia yang angkuh ilmu baru dikit berkoar-koar takut lah akhi azab allah sungguh pedih ini adalah nmasalah besar butuh orang alim tempat kita rujuk bukan abu salafy ini status ga jelas.
semoga dapat di pahami allahua’lam
kalau sudah begini no coment ! kenapa sesama islam jadi begini ? tapi saya melihat dari semua ini ada tujuan untuk membenarkan bi’ah dhalalah dari salah satu pihak…….
Salam,
@Fuad
kembali kepembahasan awal, bagi para Salafy soal tuhan berbentuk menempati ruang,berpindah tempat,dll yg serupa dengan karakter mahluk adalah masalah AQIDAH,jd dengan cara apapun akan dibela mati matian,bahkan dengan mengesampingkan aqal atau dengan hadits yg tidak sahih sekalipun, inilah yg membedakan mereka dgn Ahlu Sunnah.
Jadi karena taqlid butanya kepada syaikh2 mujasimah-nya seperti Ibn Taymiahn, Bin Baz,dll mereka gak bakalan berani ngebahas pokok permasalahan, tapi mengeluarkan jurus caci maki,fitnah, dll persis seperti orang nasrani yg meyakini tuhannya berbentuk walaupun aqal sehat menolaknya
Jadi, sekali lagi ini AQIDAH bung,..dengan cara apapun akan mereka bela
“Barang siapa yang telah Alloh sesatkan, maka tak ada seorang pun yang mampu memberi petunjuk.”
“Orang yang sombong adalah orang yang merendahkan manusia dan menolak kebenaran.”
@hudaibi
ups kasar yah omongan ane. btw kan ane g ngomongin ngelantur tpi emang bicara yang sebenarnya tentang agama syiah seperti apa.. jadi santai wae akhi, emang mesti ada dalil.. btw ente bisa g kasih dalil pada ane tentang tahlilan, maulid, haul, minta berkah kuburan,melafaskan niat ketika shalat..dlll. jadi itu dulu pertanyaanya, bagi yang kesinggung degan ucapan ane jangan didenger tapi diperiksa apa yang disinggung ane bener ape kagak oc.
Lagi-lagi si wahabi ini mengalihkan pembicaraan kalo udah kalah arrgumennya…..Wahabi oohhh Salafy…….
@abu jufri
soal bicara anda kasar atau tidak saya rileks saja mas, soalnya kekasaran bicara anda di banding syekh albani, bin baz dan syekh salafy/wahabi lainnya masih termasuk halus menurut saya! jadi saya santai saja…
terus soal komen anda diatas… Lagi2 omongan anda nggak nyambung.. abis maki2 syi’ah dan SP sekarang ngomong tahlilan dsb….
kalo ente memang punya ilmu yang mumpuni pertama ente perlu membela Abu jauza yang dikuliti sama SP, juga Albani yang dibongkar kebohongannya sementara Abu Jauza sudah keok bin KO, coba bantah artikel SP ini sekalian bela Abu Jauza:
http://secondprince.wordpress.com/2009/11/22/mengungkap-kebodohan-dan-kedustaan-syaikh-al-albani-dan-pengikutnya-abul-jauzaa-tuduhan-dusta-terhadap-syaikh-al-musawi/
kedua kalo mau bicara syiah ya silahkan datang ke blog syi’ah sana, saya juga pingin liat sampen bisa nggak ngedepi syiah… kalo Abu Jauza saja keok apalagi sampean…
coba nt hadir diskusi di blog syiah ini
http://jakfari.wordpress.com/
percuma kalo koar2 disini salah alamat mas
_________________
soal agama syiah, agama salafy, mau khawarij, ibadhi, aswaja… nu, md… itu sih terserah siapa yang mau beli…. saya cuman mau liat kehandalan anda melumpuhkan mereka.. asal ngomong memang gampang bukankah begitu sobar?
@Upin dan Ipin
Kok saya baca comment2 anda pada g nyambung ama pembahasan diatas????
saran aja, jawab dengan jawaban yg ilmiah ya akhi!!!
@upin n abu jufri
mending anda tanggapi tulisan abusalafi,
klu hak katakan hak bathil katakan bathil,jgn ngelantur
singkatnya hadits tsb yg jd pegangan anda punya shekh sahih tdk menurut ilmu anda?
salam pak hudaibi..
weh..weh..weh.. ente katanya kan beramal mesti pake dalil… nah pertanyaan ane nyambung kagak…? tahlilan kan ente lakuin.. maulid, dll… omong2 soal jawaban ane kasar ente bilang lebih kasar omongan ulama salafy, waduh ente harus berfikir 1000x lipat yah tentang ucapana ente mereka adalah pewaris nabi,ulama2 ahlusunnah memberantas bid’ah menghidupkan sunnah. Akh abul jauza dan haula syiah dan usatidz2 lainya ente bilang keok dengan “serangan” DAlih eh “dalil” yang kalian bantah???hehehe jauhhh atuh mang g kerasa tuh dibantah apa lagi ilmiah dalil dari ahlusuunah..wong kalian kalo mau “bantah”pake dalih ato dalil dhaif atao maudhu, jauuuuuuuuuh om.. emang ane agak kasar dan keliru waktu itu sebaiknya tidak tertulis dikoment karena memang ajaran salaf tidak boleh melaknat seorang muslim walaupun dia berakidah rafidha ato sufi extreme. tentang mau koment ke blog syiah kalo ane tergantung lagi mod ato ngak soalnya ane di warnet juga maenya juga ada gawean jadi kalo menurut ane mesti dikomentar ya ane koment. omong2 emang ini bukan blog SYIAH(campur seh g 100% nampaknya)…?? lho kok g sadar yah…?