Bantahan Abu Salafy Atas Artikel Blog muwahiid.wordpress.com:
Siapakah Wahhabi? (1)
Mengapa Mereka Enggan Disebut Wahhâbi?
Sering kita dengar atau baca, kebanyakan penganut sekte bentukan Muhammad ibn Abdil Wahhâb merasa begitu gusar disebut sebagai kaum Wahhâbi alias bermadzhab Wahhâbi, seperti yang ditampakkan juga oleh seorang Misionaris Wahhabiyah bernama -Al-Ustadz Ruwaifi’ bin Sulaimi Lc -(lihat tulisannya dibawah dan disini)-, sementara kalimat/istilah/penyebutan itu tidak mengandung konotasi pujian atau celaan. Ia bukan celaan, andai mereka mengku bahwa apa yang mereka anut itu adalah sebuah mazhab. Sebab sebuah mazhab yang ditegakkan di atas dalil-dalil yang shahihah tidak akan dicemari dengan nama baru yang disandangnya atau penamaan baru yang disematkan orang kepadanya!
Saya benar-benar terheran-heran terhadap para muqallidin (yang hanya pandai bertaqlid buta, tanpa kefahaman, namun tidak pernah mau mengakuinya) yang tak henti-hentinya menampakkan kegusaran mereka dan mengeluhkan bahwa istilah Wahhâbi itu sengaja digelindingkan “musuh-musuh da’wah” dengan konotasi mengejek, sementara itu perlu mereka sadari bahwa penamaan itu di luar area pertikaian. Ini yang pertama.
Kedua, berapa banyak ulama Wahhâbi sendiri menerima dengan lapang dada penamaan itu. Mereka tidak malu-malu atau enggan menyebut diri mereka sebagai Wahhâbi, bahkan sebagian mereka menulis buku atau risalah bertemakan Akidah Wahhâbiyah. Itu semua tidak semestinya dirisaukan.
Di antara ulama Wahhâbi yang menggunakan istilah atau menamakan aliran/mazhab mereka dengan nama Wahhâbi adalah Sulaiman ibn Sahmân, dan sebelumnya Muhammad ibn Abdil Lathîf. Baca kitab ad-Durar as Saniyyah,8/433, serta masih banyak lainnya. Demikian juga para pembela Wahhâbi, seperti Syeikh Hamid al Faqi, Muhammad Rasyid Ridha, Abdullah al Qashîmi, Sulaiman ad Dukhayyil, Ahmad ibn Hajar Abu Thâmi, Mas’ud an Nadawi, Ibrahim ibn Ubaid –penulis kitab at Tadzkirah- dan banyak lagi selain mereka. Mereka semua menggunakan istilah atau nama tersebut untuk merujuk kepada aliran yang dibawa Muhammad ibn Abdil Wahhâb at Tamimi an Najdi. Kendati Syeikh Hamid al Faqi terkesan meragukan i’tikad baik mereka yang menggunakan nama itu dan ia mengusulkan lebih tepatnya ajakan Muhammad ibn Abdil Wahhâb itu dinamai dengan Da’wah Muhammadiyah mengingat nama pendirinya adalah Muhammad bukan Abdul Wahhâb! Dan sikap ini diikuti oleh sebagian Misinioris dan jugu da’wah serta aktifis sekte ini, seperti Shaleh ibn Fauzân ketika ia mengecam Abu Zuhrah dan lainnya.
Tuntutan Syeikh Fauzân dan Hamid al Faqi agar nama Wahhâbi dijauhkan dari penggunaan dan sebagai gantinya nama Da’wah Muhammadiyah mengingat pendiri sekte ini adalah Muhammad adalah tuntutan yang aneh bin ajaib, dengan satu alasan yang sederhana, yaitu bahwa kebanyakan mazhab-mazhab yang ada di kalangan kaum Muslimin tidak dinisbatkan kepada nama pendirinya, akan tetapi dinisbatkan kepada nama ayah-ayah atau kakek-kakek mereka.
Mazhab Hanbali misalnya, dinisbatkan kepada kakek Imam Ahmad, sebab nama beliau adalah Ahmad ibn Muhammad ibn Hanbal. Sementara itu syeikh Fauzân dan al Faqi serta para penganut Wahhâbi tidak sediktpun memprotes penamaan tersebut, mereka tidak mengatakan bahwa mazhab Imam Ahmad itu seharusnya dinamakan dengan nama Mazhab Ahmadi!
Begitu juga dengan Mazhab Syafi’i, ia dinisbatkan kepada Syafi’ -kakek keempat Imam Syafi’i -sebab nama lengkap beliau adalah Muhammad ibn Idris ibn Abbas ibn Utsman ibn Syafi’. Lalu mengapa mereka tidak memprotesnya dengan mengatakan penamaan itu tidak benar, sebab nama pendiri mazhab itu adalah Muhammad, jadi penamaan yang tepat adalah Mazhab Muhammadi!
Begitu juga dengan Mazhab Hanafi, ia dinisbatkan kepada Abu Hanifah, sementara Hanifah itu sendiri bukan nama pendirinya, nama pendirinya adalah Nu’mân ibn Tsabit.
Hal yang sama kita jumpai dalam penamaan Mazhab Teoloqi/Kalam Asy’ari, para penganut mazhab tersebut dipanggil dengan nama Asyâ’irah (bentuk jamak Asy’ari) dengan dinisbatkan kepada Abu al Hasan al Asy’ari, sementaa nama Asy’ar adalah nama kakek Abu al Hasan yang kesekian sejak masa jahilah sebelum kedatangan Islam yang menjadi moyang bani Asya’irah, yaitu Asy’ar ibn Adad ibn Zaid ibn Yasyjab ibn Arîb ibn Zaid ibn kahlan ibn Saba’. Dapat kita perhatikan bahwa antara Abu al Hasan –pendiri mazhab- dan Asy’ar terdapat puluhan ayah… begitu pula dengan Mazhab Ibadhiyah –salah satu sekte Khawarij yang masih eksis hingga sekarang- ia dinisbatkan kepada Abdullah ibn Ibâdh…. Dan begitu seterusnya. Anda tidak akan menemukan sebuah mazhab yang dinamai dengan nama pendirinya kecuali sangat sedikit sekali, seperti Mazhab Maliki yang dinisbatkan kepada Imam Malik ibn Anas, atau Mazhab Zaidiyah yang dinisbatkan kepada Imam Zaid ibn Ali ibn Husain ibn Ali ibn Abi Thalib ra. atau Mazhab Ja’fariyah yang dinisbatkan kepada Imam Ja’far ibn Muhammad ibn Ali ibn Husain ibn Abi Thalib ra. (imam keenam mereka).
Jadi ringkas kata, mereka yang menisbatkan Mazhab Syeikh Muhammad ibn Abdil Wahhâbi dengan menyebut Mazhab Wahhâbi tidak lebih dekat kepada kebenaran dibanding mereka yang menamakan para pengkiut Imam Ahmad ibn Muhammad ibn Hanbal dengan nama al- Hanabilah (bentuk jamak kata Hanbali)!!
Selain itu, sering kita saksikan bahwa para Wahhâbiyun dengan seenaknya sendiri menyebut kelompok-kelompok tertentu dengan sebutan dan gelar dengan kesan kental mengejek, seperti al Jâmiyyîn, Al Bâziyyîn, al Quthbiyyîn, al Bannaiyyîn, al Albâniyyîn, al-Sururiyyin dan lain-lain.
Bahkan yang mengherankan ialah ternyata Shaleh ibn Fazân –yang keberatan digunakannya istilah Wahhabi- ternyata dengan serampangan menggunakan istilah Surûriyah untuk pengikut Muhammad ibn Surûr ibn Nâyif ibn Zainal Âbidîn. Mengapa ia tidak menamainya dengan nama Muhammadiyah/Muhammadi mengingat pendirinya/pimpinan kelompok itu bernama Muhammad dan bukan Surûr?!!
Namun, apa hendak dikata, kaum Wahhâbiyah tidak pernah ingin dibatasi dengan aturan main dan etika dalam berkomunikasi! Apa yang mau mereka lakukan, ya mereka lakukan, jangan ada yang menanyakan mengapa? “Dia tidak ditanya tentang apa yang diperbuat-Nya dan merekalah yang akan ditanyai.” (QS.21[Al Anbiyâ’];23)
Atau jangan-jangan keberatan mereka atas penamaan/penisbatan itu sebenarnya bersifat politis dan demi kepentingan “Da’wah Pemurnian Tauhidi ala mereka”, agar kaum awam tidak lagi mengingat potret kelam pendiri sekte Mazhab ini yang akrab dengan doktrin pengafiran dan pencucuran darah-darah suci kaum Muslimin lain selain pengikut mazhabnya, sebab kalau mereka menyadari hal itu pasti mereka akan merasa jijik terhadapnya! Bisa jadi itulah alasan hakiki dibalik keberatan itu, namum kami tidak ingin bersepekulasi atau sû’dzdzan, mungkin ada alasan lain yang luhur. Wallahu A’lam.
*************************************************************************************
Siapakah Wahhabi?
Penulis: Al-Ustadz Ruwaifi’ bin Sulaimi Lc
Selubung Makar di Balik Julukan Wahhabi
Di negeri kita bahkan hampir di seluruh dunia Islam, ada sebuah fenomena ‘timpang’ dan penilaian ‘miring’ terhadap dakwah tauhid yang dilakukan Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab At-Tamimi An-Najdi rahimahullahu[1]. Julukan Wahhabi pun dimunculkan, tak lain tujuannya adalah untuk menjauhkan umat darinya. Dari manakah julukan itu? Siapa pelopornya? Dan apa rahasia di balik itu semua …?
Dan ternyata, memunculkan istilah ‘Wahhabi’ sebagai julukan bagi pengikut dakwah Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab, merupakan trik sukses mereka untuk menghempaskan kepercayaan umat kepada dakwah tauhid tersebut. Padahal, istilah ‘Wahhabi’ itu sendiri merupakan penisbatan yang tidak sesuai dengan kaidah bahasa Arab. Asy-Syaikh Abdul ‘Aziz bin Baz berkata: “Penisbatan (Wahhabi -pen) tersebut tidak sesuai dengan kaidah bahasa Arab. Semestinya bentuk penisbatannya adalah ‘Muhammadiyyah’, karena sang pengemban dan pelaku dakwah tersebut adalah Muhammad, bukan ayahnya yang bernama Abdul Wahhab.” (Lihat Imam wa Amir wa Da’watun Likullil ‘Ushur, hal. 162) Tak cukup sampai di situ. Fitnah, tuduhan dusta, isu negatif dan sejenisnya menjadi sejoli bagi julukan keji tersebut. Tak ayal, yang lahir adalah ‘potret’ buruk dan keji tentang dakwah Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab, yang tak sesuai dengan realitanya. Sehingga istilah Wahhabi nyaris menjadi momok dan monster yang mengerikan bagi umat. Fenomena timpang ini, menuntut kita untuk jeli dalam menerima informasi. Terlebih ketika narasumbernya adalah orang kafir, munafik, atau ahlul bid’ah. Agar kita tidak dijadikan bulan-bulanan oleh kejamnya informasi orang-orang yang tidak bertanggung jawab itu. Meluruskan Tuduhan Miring tentang Wahhabi [1].
Abu Salafy berkata:
Lihatlah kenaifan cara berfikir pimpinan tertinggi Seke Wahhabiyah Ben Baz di atas. dan apa yang kami tulis rasanya sudah cukup untuk membuktikan kenaifan dan kesalahannya.
Dan untuk meraih simpati Umat Islam, ia mengaitkan kesinisan terhadap Wahhabyiah adalah hasil trik sukses musuh-musuh Islam! Bukan karena doqma-doqma konyol Sekte Wahhabiyah sendiri!
DIarsipkan di bawah: Aqidah, Kenaifan Kaum Wahhabi, Manhaj, Menjawab Blog Wahabi/Salafy, Wahhabi Versus Ulama Islam
Buat Pengunjung blog kami yang ingin menulis huruf arab anda bisa memanfa'atkan "Keyboard Arab Online" silahkan pilih mana yang cocok,


pak abu jangan repot-repot, mereka pasti malu kalao disebut wahabiyah sebab memang itu merk memalukan ndak kualitas, jadi biar ditoleh orang ya pakai merk lain aja salafiyan kek atau lainnya.
mas-mas wahhabiyah…. (eh ma’ap ya kan nggak boleh pakai sebutan itu) mestinya kalian itu malu punya alim ulama kok dangkal seperti Ibnu Baz yang pakai bawa-bawa kaidah bahasa arab segala.Baca aja ulasan tuntas end lugas pak abu salafy di atas!
kalau urusan pak ustas ruwaifi’ buat saya jangan terlalu serius diurusin, lah wong imimnya (Ibnu Baz)aja asal ngomong apalagi wahaby gadungan yang hanya bergelas LC alias LULUSAN CIMANDE, Ya suruh aja pamer pencak silat.
saya mau tanya di sini saja ustadz, sebab kalau langsung di situs pak ustadz sering diabaikan dan tidak ditanggapi.
begini ustadz,apa sih hakikat Da’wah asy Syekh Muhammad bin Abdiul Wahhab itu sehingga ustadz mengatakan bahwa sering kali ada tuduhan miring tentang da’wah beliau Tak cukup sampai di situ. Fitnah, tuduhan dusta, isu negatif dan sejenisnya menjadi sejoli bagi julukan keji tersebut, “Tak ayal, yang lahir adalah ‘potret’ buruk dan keji tentang dakwah Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab, yang tak sesuai dengan realitanya. Sehingga istilah Wahhabi nyaris menjadi momok dan monster yang mengerikan bagi umat”.
ustadz siapa sebenarnya yang ustadz maksudkan dengan:Terlebih ketika narasumbernya adalah orang kafir, munafik, atau ahlul bid’ah.?
Apakah seluruh musuh asy Syeikh Muhammad bin Abdil wahhab itu kafir? munafik? atau ahli bid’ah?
lala kalau begitu dari siapa kita harus menerima informasi tentang sejarah kelahiran dan perkembangan da’wah asy Syeikh Muhammad bin Abdil wahhab? Apa harus dari para pengikutnya saja? idak boleh dari ulama Islam selain pengikutnya?
tolomh dijawab ustadz, biar kita semua puas dengan ketarangan ustadz.
Wasalam, maap kalau kurang sopan.
yang jadi masalah itu..ulama wahabi banyak membuat fatwa dimana jika fatwa itu tidak dipatuhi maka orang yang tidak mematuhi itu dikatakan kafir..
maaf klo slh….
INI BLOG PALING BURUK, ULAMA DIHINAKAN, SEMENTARA ORANG BODOH DIJADIKAN PANUTAN (ULAMA), AKIBAT TULISAN ANTUM JADI BANYAK ORANG YANG MENGHUJAT ULAMA BESAR. WAHAI PARA PEMBACA SADARLAH ..! PENULIS BUKANLAH ULAMA, SEHINGGA ANTUM SEMUA MENJADI MERENDAHKAN ULAMA AKIBAT TULISANNYA.
Abu Salafy:
kami harap Anda tidak melenceng dari tulisan kami. tolong dikritik kalau ada yang tidak disetuji.
Umumnya kaum intelektual dan ulama Sunnî – penganut 4 mazhab ‘resmi’ Hanafi, Syafi’i, Maliki dan Hanbali– menganggap kaum Wahhabi, termasuk pendirinya, sebagai orang-orang yang berpikir sangat linier, literer sambil menolak metafoar [majâz], sangat denotatif dalam memahami ayat-ayat Al-Qur’ân maupun hadis. Mereka menganggap mazhab selain sebagai sesat dan menyesatkan dengan berpatokan pada hadis: ‘Kullu bid’ah dhalâlah wa kullu dhalâlah fî n-nâr’, ’semua inovasi itu sesat dan semua yang sesat itu masuk neraka.’ Kata ‘bid’ah’ yang mereka tuduhkan hanyalah euphemism, kata pelembut, untuk ‘kafir’, dan menganggap berziarah ke kubur termasuk kubur Nabi, tawassul, baca qunût, talqîn. tahlîl, istighâtsah berzikir berjamaah, membaca burdah yang berupa puji-pujian pada Nabi yang biasa dilakukan kaum Muslimin adalah sebagai bid’ah, dan pelakunya akan masuk neraka, alias kafir.
Oleh karena itu, tempat-tempat bersejarah Islam seperti rumah tempat lahir Nabi, rumah Ummul Mu’minîn Khadîjah, tempat tinggal Nabi dihancurkan. Kalau tidak diprotes kaum Muslimin sedunia, kuburan Nabi pun sudah diratakan dengan tanah.
Abu Salafy:
kami harap Anda tidak melenceng dari tulisan kami. tolong dikritik kalau ada yang tidak disetuji.
SEMUA ORANG YANG PUNYA ADAB KEPADA ULAMA JELAS TIDAK SETUJU, COBA LIHAT AKIBAT ULAH ANTUM, ULAMA BESAR DIBILANG DANGKAL, SIBUTA DARI GUA HANTU DLL. HARUSNYA KITA-KITA YANG MASIH BELAJAR INI ANTUM AJARI CARA MEMULIAKAN ULAMA, WALAUPUN ULAMA TERSEBUT MENURUT ANTUM ISTIHADNYA ADA YANG SALAH. JELASKAN KESALAHANNYA DENGAN DALIL DAN DUKUNGAN PENDAPAT ULAMA YANG LAIN TANPA MENJADIKAN RENDAH ULAMA TERSEBUT. BAIKNYA ANTUM SADAR DENGAN ULAH ANTUM INI, KARENA ANTUM LIHAT SENDIRI DAMPAKNYA KEPADA YANG LAIN
Abu Salafy:
Disamping Islam menyanjung tinggi kedudukan ulama, Islam juga mengecam ulama su’ yang kerjanya cuma menyesatkan umat.
SEKARANG ANA MAU TANYA “SIAPA ULAMA ANTUM” ? KARENA ISLAM SESEORANG TERGANTUNG SIAPA ULAMANYA. ATAU ANTUM YANG MEMANG MERASA SUDAH JADI ULAMA, BERANI MENGADILI ULAMA-ULAMA BESAR.
Abu Salafy:
Samtai aja pak.
INI PERKARA AGAMA MAS JANGAN DIANGGAP REMEH, SEKARANG SIAPA YANG MENYESATKAN UMAT, ULAMA ATAU ANTUM ?, PERTANYAAN ANA BELUM DIJAWAB, SIAPA ULAMA ANTUM ? DIKAWATIRKAN ULAMA SU’ SEPERTI YANG ANTUM BILANG SENDIRI. PESAN ANA KALAU MENGADILI ULAMA HARUS DIDAMPINGI MINIMAL PENDAPAT ULAMA JUGA SELAIN DALIL-DALIL YANG SAHIH, JANGAN MAIN HAKIM SENDIRI, KECUALI KALAU ANTUM MERASA SUDAH JADI ULAMA, TENTUNYA ULAMA SU’
Abu Salafy:
Apa bukti dan dalil yang kami sebutkan dirasa belum cukup? Mengapa? Apa dikarenakan tidak menguntungkan kaum Wahhabiyah?
setelah baca tulisan di atas jadi ngerti aku rahasia mengapa ya konco-konco dewe wahhabiyyun paling malu disebut wahaby…. berlagak menyalahkan dari sisi penggunaan kebahasaan Arab, eh gak taunya kerena takut nama anak abd.wahhab yang “HARUM” itu nempel ke dahinya… selain itu jadi ketahuan deh mutu penggede mereka yang sering dibangga-banggakan BIN BAAZ ternyata segitu aja analisanya…. dangkal banget kaya anak baru ingusan… jadi saya bayangkan gimana ya kalau ngadapin ulama Ahlusunnah sekelas Sayyid Al maliki, baru dihajar abu salafy aja dah kelenger…
Mohon Untuk dipelajari kembali siapa asy Syekh Muhammad bin Abdul Wahhab, beliau termasuk Mujjahid yang memiliki segi keilmuan yang tinggi, kepada para pembaca yang budiman, jangan terpengaruh dengan tulisan di blog ini, ada baiknya kita semua kembali membaca sejarah ttg sy Syekh Muhammad bin Abdul Wahhab, mengenal lebih dkeat profilenya, berikut saya coba informasikan artikel dan audio yang terkait dengan profil asy Syekh Muhammad bin Abdul Wahhab, silakan download di : http://al-ilmu.net/kajian-islami-online/download/filesdl/LAIN-LAIN/Artikel-artikel%20dalam%20CHM/SyaikhMuhamad
dan http://ikhwanmuslim.or.id/?content=tokohfull&id=16
semoga bermanfaat …
asww. temen2 mohon
1. tahan diri unruk tidak memakai kata2 kasar, dan sikap2 tidak ilmiah dalam menghadapi salafy wahaby.
2. sebarkan pada kalangan intelektual untuk sgera memikirkan masalah “salafy wahaby ” ini, untuk mengkaji secara jelas apakah mereka benar atau salah. Dan kalau benar salafy wahaby salah, sikap bagaimana yang tepat: sehingga tidak merugikan kaum muslimin.
ya beginilah wahabi si “ABU POKOKNYA” tidak konsisiten dan hipokrit. menjuluki orang lain seenak udel seperti contoh diatas.
# mereka menjuluki sururiyyun padahal nama pendirinya Muhammad bin surur (kenapa wahabi nggak menyebu Muhammadi?)
# Mereka menyebut Quthubiyyun, padahal nama pendirinya Sayid Quthub, (kenapa wahabi tidak menyebut Sayyidun?)
kalo semua pendiri madzhab yang bernama Muhammasd disebut Muhammadi maka akan banyak aliran bernama Muhammadi apa nggak tambah binung?
ya inilah wahabi asal asbun dan “POKOKNYA”
kenapa mereka ngotot nggak mau disebu “Wahabi”? Mungkin malu karena Imamnya si ibnu Abdul wahab itu, adalah banyak membantai umat Islam yang dituduh syirik dan kafir !!
PANTESAN PARA PENGIKUT WAHABI NGGAK BERANI MENGOMENTARI ARTIKEL INI KARENA KEDOK DAN KEMUNAFIKANNYA TERBUKA!
Trims banget pak abu atas pencerahannya!
Mau tau siapa sebenarnya Ibin Abdul Wahab si pendiri sekte nyeleneh wahabi, Tentang Ajarannya dan kejahatan-kejahatan yang pernah dilakukannya?.
silahkan membuka dan membaca tautan dibawah ini. Allahu Musta’an
1. Saudi Wahabi, Kerajaan Yang Didirikan dengan Penghianatan dan Kebengisan
http://qitori.wordpress.com/2007/09/12/kerajaan-yang-didirikan-dengan-pengkhianatan-dan-kebengisan/
2. Skandal Ibnu Abdul Wahab Dan Mata-mata Inggris
http://qitori.wordpress.com/2007/09/10/skandal-ibn-abdul-wahhab-dengan-mata-mata-inggeris/
3. Wahabi Salafy Mengusung Tauhid Atau Kedangkalan Pemikiran?
http://qitori.wordpress.com/2007/12/04/wahabi-salafy-tauhid-atau-kedangkalan-pemikiran/
4. Salafiyah: Mengapa Harus Keras Dan garang Terhadap Sesama Muslim?
http://qitori.wordpress.com/2007/11/15/salafiyah-mengapa-harus-keras-dan-garang-terhadap-sesama-muslim/
5. Wahabisme; Mengusung Monoteisme Atau Egotisme? (bag 1)
http://qitori.wordpress.com/2007/11/15/wahabisme-mengusung-monoteisme-atau-egotisme-bag1/
6. Wahabisme Pemahaman Agama yang sakit
http://qitori.wordpress.com/2007/10/26/wahhabisme-%e2%80%93-pemahaman-agama-yang-sakit/
Terima kasih atas tulisan ini. Saya sangat terkesan. Jawabun muskit. Untuk pengikut wahabi yg merasa kontra, silakan sanggah tulisan diatas. Budayakan diskusi yg sehat, mengarah pada topik yang dibicarakan.
setelah saya cek situsnya kok isinya fitnah thok mas…..???
setali tiga uang dengan abusalafy, jakfary, ressay… RAFIDHAH TULEN.
rafidhah paling benci dengan salafy wahaby, karena tidak ada kaum yang paling keras dan paling terdepan menasehati kaum muslimin dari bahaya rafidhah kecuali salafy wahaby.
dan kelak mereka (salafy wahaby) akan berada dibarisan terdepan menghadapi dajjal yang dibelakangya berdiri orang2 yahudi dan rafidhah…
perlu dalil mas…???
Abu Salafy:
Ya akhi wawan, tolong sebutkan barang sekali saja kalau imam Wahhabi dan gerombolang penyamun Arab baduwi yang dipimpinnya dan dipinpin penerusnya pernah memerangi kaum kafir; nashrani dan Yahudi… kaum wahabi sejak awal keberadaannya hanya bisanya memerangi kaum Muslimin… ini bukti sejarah… jadi mana munmgkin kalau nanti mereka akan memerangi Dajjal… paling=paling ya berperang membantu Zionis Israel seperti yang sekarang ditampakkan Raja Suadi, para emir bejatnya dan ulama Wahabi/Salafi Saudi… demo mmebela palestina saja diharamkan!! Apa itu bukan bukti kalau Wahabi itu antek-antek Zionis Israel????!!!
Jadi, jangan sok paling pejuang memberantas Dajjal!!!
Bantahan yang jitu! Jalan terus, Abu Salafy!
Abu Salafy:
Terima kasih atas dukungannya. Semoga Anda termasuk pembela kebenaran.
Firdaus: “asy Syekh Muhammad bin Abdul Wahhab, beliau termasuk Mujjahid yang memiliki segi keilmuan yang tinggi”
Orang pintar dan luas ilmunya itu banyak mas… Di dunia non-muslim saja banyak orang yang hebat dan cerdas tapi nyeleneh, contohnya: Hitler, Lenin, bahkan ilmuwan sekelas Karl Marx.
Keluasan ilmu tidak mencerminkan kebenaran. Tapi kefasihan dalam filsafat ilmu serta nalar dan akal yang cerdas akan menentukan kaitan keluasan ilmu yang dimilikinya dengan kebenaran yang teruji.
Luasnya ilmu Abdul Wahhab perlu diuji dulu mas. Mana buktinya? Buktinya yaitu negeri Saudi dan Thaliban yang kaku dan menjadi perusak di dunia ini.
Mungkin AS bersikukuh melindungi Israel, salah satunya kuatir situs2 purbakala 3 agama dihancurkan oleh kaum Wahhabi Takfiriyyah. Gereja2 dihancurkan, Temple2 di Israel dibumihanguskan dengan alasan tempat2 kafir.
Islam itu menyebar dengan cara yang lembut dan penuh toleran. Kalau Rasulullah mengajarkan Islam dengan cara Wahhabi, niscaya umat Islam sekarang sudah musnah. Islam datang ke Indonesia pun bukan oleh Wahhabi. Jadi, jangan berusaha menjadi pahlawan kesiangan dengan dalih memurnikan ajaran Islam. Bullshit itu… tau??!?!
Abu Salafy kok ga nanggapi pertanyaan Ibu Sriningsih?
Bingung ya?
assalamu ‘alaikum.
buat abu salafy, Hadaakallah.
seorang ahli ilmu jika meluruskan orang lain maka dengan ilmu. dan tidak cukup dengan ilmunya saja, tapi juga harus dibarengi dengan akhlak yang baik dan penyampaian ilmu itu dengan hikmah. cobalah kita semua berkaca bagaimana 4 imam madzhab dalam membantah kepada pihak lain yang dianggap bertentangan dan melenceng dari aqidah ahlussunnah waljama’ah. semoga kita semua bisa berkaca dari beliau2 imam 4 madzhab rohimahumullah. yang mana didalam perkataan beliau2 rohimahumullah didalam membantah lawan bicaranya deng perkataan yang sopan dan beradab dan penyampaian ilmu dengan hikmah.
senoga kita semua mau kembali meniru cara2 4 imam madzhab rohimahumullah dalam menyampaikan ilmu dan membantah lawan bicara.
Taqobbalallahu minna wa minkum
Wassalamu ‘alaikum warohmatullahi wabarokatuh
_______________________
Abu Salafy:
Terima kasih atas nasihatnya ustadz.
Insya Allah dalam kesempatan yang akan datang kami akan sajikan “akhlak mulia” para masyaikh Salafiyah Wahabiyah dalam berda’wah dan dalam menegur ulama lain, dengan mengangkat kasus Syeikh Albani.
Nantikan!
jujur setelah banyak mengetahui wahabism hati terdalam saya telah mengatakan bahwa sekte ini terlihat keras diluar tetapi buruk sekali hakikatnya….
hanya kerasnya hati saya yg menyebabkan sy hanya mencari pembenaran akan ajaran wahabi